Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM TAKSONOMI AVERTEBRATA

PHYLUM ARTHROPODA, SUBPHYLUM CRUSTACEA

NAMA
NIM
ASISTEN
DOSEN

:
:
:
:

Dawam Suprayogi
14/372556/PBI/1271
Donan Satria Yudha, S.Si, M.Sc.
Drs. Tri Joko, M.Si.

PROGRAM PASCASARJANA
LABORATORIUM SISTEMATIKA HEWAN
FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

LATIHAN II
PHYLUM ARTHROPODA, SUBPHYLUM CRUSTACEA

I.

Pendahuluan

1.1.

Latar belakang
Lobster adalah hewan air yang termasuk dalam subphylum Crustacea. Dikenal

secara umum sebagai kelompok udang-udangan. Lobster laut hidup di daerah perairan yang
yang berbatu, berkarang, berlumpur dan berpasir. Habitat yang strategis bagi kelangsungan
hidupnya adalah batu karang yang mengandung banyak lubang sebagai refugee, sehingga
lobster dapat bersembunyi di dalamnya. Hampir semua perairan di dunia menjadi habitat
bagi lobster. Lobster termasuk hewan omnivora, dapat memakan ikan kecil, berbagai jenis
moluska kecil, crustacea kecil lain. Selain itu, lobster juga memakan algae dan tumbuhan
laut. Saat mencari makanan lobster berjalan di dasar perairan laut dengan menggunakan
kakikakinya serta menggunakan capit untuk menangkap mangsa.
Lobster merupakan salah satu hewan laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi selain
produk ikan. Lobster memiliki tubuh seperti udang namun berukuran lebih besar. Termasuk
di dalam anggota subphylum Crustacea adalah familia Palinuridae dan Scyllaridae.
Palinuridae dikenal sebagai spiny lobster dengan karapas yang dipenuhi duri-duri tajam.
Spiny lobster merupakan kelompok lobster yang banyak ditangkap dan dibudidayakan di
wilayah perairan selatan, termasuk di wilayah laut Indonesia. Sedangkan Scyllaridae dikenal
sebagai slipper lobsters dengan bentuk karapas yang pipih mendatar. Masing-masing lobster
memiliki ciri-ciri yang khas untuk dapat dikenali jenisnya. Sehingga perlu dipelajari lebih
lanjut karakter pembeda dari masing-masing jenis lobster.

1.2.

Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk:


a. Mengenal salah satu anggota Phylum Arthropoda, Subphylum Crustacea
b. Mempelajari ciri-ciri penting untuk identifikasi

II.

Metode Kerja

2.1.

Waktu dan tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada pukul 08.00 WIB, Hari Sabtu 15 November 2014, di
Laboratorium Sistematika Hewan, Universitas Gadjah Mada.

2.2.

Alat dan bahan

Pada praktikum ini menggunakan alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan, pengamatan
morfometri dilakukan menggunakan vernier caliper. Selanjutnya spesimen yang diletakkan
di atas kertas milimeter difoto dengan kamera digital. Spesimen yang digunakan adalah
awetan dari jenis Parribacus antarticus, Panulirus homarus, Panulirus longipes, Panulirus
versicolor, Panulirus ornatus, dan Panulirus penicilatus.
2.3

Prosedur kerja
Pada praktikum ini, praktikan mengamati karakteristik morfologi masing-masing

sampel. Karakteristik ini merupakan pembeda masing-masing jenis sampel. Selain


melakukan pengamatan karakter morfologi, dilakukan juga pengukuran panjang karapas,
panjang abdomen, dan panjang telson sebagai data morfometri sehingga didapatkan panjang
total dari masing-masing sampel lobster. Selanjutnya dilakukan penghitungan jumlah duriduri khusus yang terdapat pada karapas sampel anggora familia Palinuridae sebagai data
karakter meristik. Sampel yang telah diukur kemudian diletakkan di atas kertas milimeter
untuk difoto.
III.

Hasil dan Pembahasan

3.1

Dasar teori
Di perairan dunia, udang karang dijumpai mulai dari pantai timur Afrika, Jepang,

Indonesia, Australia, dan Selandia Baru (Holthuis, 1991). Di perairan Indonesia, Setyono
(2006) menjelaskan ada enam jenis udang karang bernilai ekonomis penting. Enam jenis
lobster termasuk dalam genus Panulirus, yaitu udang batu (Panulirus peniculatus), udang
raja (P. longipes), udang rejuna (P. versicolor), udang jarak (P. polyphagus), udang pantung
(P. homarus), dan udang ketangan (P. ornatus)
Morfologi dasar lobster tersusun atas dua bagian yaitu cephalothorax (merupakan
penyatuan kepala dan toraks) dengan alat gerak yang melekat, dan abdomen (perut hingga
ekor) dengan alat geraknya (Gambar 3.1). Sebanyak empat belas somit (segmen tubuh)
menyusun cephalothorax. Enam segmen pertama menyusun bagian kepala dan delapan
segmen lainnya menyusun bagian toraks. Antar masing-masing somit terlihat terpisah
dengan masing-masing somit terdapat organ (bisa berupa alat gerak) yang melekat. Organ
yang melekat pada masing-masing somit dapat berbeda. Pada somit pertama terdapat mata
yang umumnya bertangkai namun ada juga yang sesil. Somit kedua terdapat antennula yang
terdiri dari dua flagella. Ukuran flagella ini dapat digunakan sebagai karakter taksonomi.
2

Antenula biasa disebut juga dengan antena pertama. Pada somit ketiga terdapat antena yang
lebih panjang dari antenulla dan disebut juga dengan antena kedua. Antena ini berbentuk
seperti cambuk pada Familia Palinuridae. Pada Familia Scyllaridae, antena bertransformasi
menjadi bentuk lempengan tunggal. Somit keempat sampai kesembilan (somit ketiga
terakhir dari kepala, dan ketiga awal dari toraks) menyusun komponen mulut. Somit empat
terdapat mandibula yang kuat untuk memecah makanan padat. Somit lima dan enam masingmasing menyusun maksilula (maksila pertama) dan maksila (maksila kedua), kedua organ
ini berbentuk pipih. Somit tujuh hingga sembilan terdapat maksiliped, maksiliped pertama
berbentuk pipih seperti maksila dan maksiliped lainnya menyerupai bentuk kaki. Somit
sepuluh hingga empat belas terdapat lima pasang periopod (kaki). Periopod pertama dan
kadang juga yang kedua dan ketiga, memiliki capit pada ujungnya. Kaki pertama biasanya
merupakan kaki yang paling besar. Kaki yang tidak memiliki capit digunakan sebagai kaki
jalan (Holthuis, 1991).

Gambar 3.1 Segmentasi tubuh lobster (Holthuis, 1991)

Bagian dorsal cephalothorax dilapisi oleh karapas. Menutupi dari mata hingga somit
toraks yang terakhir. Dalam beberapa kelompok, bagian dari somite antennular terlihat
sebagai lempeng segitiga di bagian anterior dari karapas. Pada famili Palinuridae lempeng
ini disebut sebagai antennular plate. Pada lempeng antenula terdapat duri yang jumlah dan
susunannya merupakan karakter penting dalam taksonomi (Holthuis, 1991). Ukuran tubuh
lobster sangat bervariasi tergantung dari jenisnya. Anam dan Mostrada (2012) menjelaskan
bahwa secara umum pengukuran tubuh lobster dilakukan dengan mengukur panjang
karapas, panjang abdomen, dan panjang total (Gambar 3.2).

(a)

(b)

(b)

Gambar 3.2 Pengukuran tubuh lobster (a) Familia Palinuridae, (b) Familia Scyllaridae,
(Anam dan Mostrada, 2012)

Sebagian besar lobster hidup di air laut, hanya beberapa jenis yang hidup di air payau
dan air tawar. Lobster laut ditemukan di hampir semua lautan beriklim sedang dan tropis
(antara 65oLU dan 60oLS), namun yang paling banyak di daerah tropis. Lobster hidup mulai
dari zona intertidal sampai ke laut dalam. Banyak spesies lebih memilih tinggal di substrat
berbatu, tetapi yang lain ditemukan di dasar berlumpur atau berpasir sehingga mereka dapat
menggali liang untuk tinggal (Holthuis, 1991).
Kebanyakan lobster memiliki jenis kelamin yang terpisah, namun sebagian
didapatkan hermaprodit (Holthuis, 1991). Jenis kelamin ditentukan dari letak alat
kelaminnya, dimana alat kelamin jantan terletak di antara kaki jalan kelima, berbentuk
lancip, dan menonjol keluar atau pada ujung kaki kelima tidak terdapat percabangan.
Sementara, alat kelamin betina terletak di antara kaki jalan ketiga, berbentuk dua lancip atau
pada ujung kaki jalan kelima terdapat percabangan (Junaidi, et al. 2010). Lobster jantan
membuahi betina kadang dengan bantuan stylet kopulasi yang terletak pada somit abdomen
pertama. Pada beberapa spesies, spermatophor terlihat sebagai titik hitam transparan pada
sternum betina. Lobster betina yang sedang memproduksi telur, meletakkan telurnya di
pleopod di bawah perut. Setelah telur menetas larva akan melalui beberapa tahapan molting
hingga dewasa (Holthuis, 1991).
Sebagian besar lobster adalah omnivora dan scavenger. Beberapa spesies terlihat
menyukai umpan ikan mati pada perangkap lobster, tetapi spesies lain hampir tidak pernah
tertangkap dalam perangkap tersebut. Anggota Thalassinidea merupakan pemakan detritus
(Holthuis, 1991).

3.2

Hasil

3.2.1

Pengamatan morfometri lobster

No. Nama species


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Paribacus antarticus
Panulirus homarus
Panulirus longipes
Panulirus versicolor
Panulirus ornatus
Panulirus penicillatus

Panjang
karapaks
(cm)
5,7
7,4
5,4
7,9
8,1
8,6

Panjang
abdomen
(cm)
5,0
5,8
4,8
6,1
7,0
7,5

Panjang
telson
(cm)
1,7
2,6
2,5
3,5
3,7
3,6

Panjang
total
(cm)
12,4
15,8
12,7
17,5
18,8
19,7

3.2.1

Pengamatan morfologi dan meristik lobster

No. Nama species


1.
Paribacus antarticus

2.

Panulirus homarus

3.

Panulirus longipes

4.

Panulirus versicolor

Deskripsi morfologi dan meristik


Mata sesil dan tersembunyi
Tidak memiliki lempeng antenula
Antenna berbentuk segitiga dan seperti lempeng
Karapaks bagian lateral dikelilingi oleh duri
Antenulla ada 2 dan tidak bercabang
Diantara kaki jalan ke 2, ada duri namun tumpul
Pada kaki jalan ke 2 ada tonjolan hemipenis (jantan)
Eksopodi berkembang
Telson lebih membulat dibanding uropod
Duri uropod tumpul
Terdapat duri tumpul di tengah atas sepanjang karapaks
abdomen
Tubuh diliputi oleh silia
Memiliki 4 buah duri pada lempeng antenula, duri
bagian depan lebih panjang
Mata menonjol karena memiliki tangkai mata
Tanduk agak melengkung
Duri karapaks tajam
Lateral pleopod terdapat white spot
Antenulla birami, belang belang hitam
Letak cabang antenulla birami pada segmen ke 3
Eksopodit berkembang
Duri telson agak tumpul
Tak ada duri diantara kaki jalan ke 2
Terdapat 2 duri pada lempeng antenula dan letaknya
berdekatan
Bagian abdomen terdapat white spotpada abdomen
pertama dan terakhir di bagian lateral terdapat white
spot yang lebih jelas.
Antenulla birami, berwarna selang seling hitam putih,
atas putih bawah putih
Tanduk melengkung,
Kaki jalan ada white spot
Duri karapaks tajam
Duri telson tumpul
Diantara kaki jalan ke 2 terdapat sepasang duri
Bagian karapaks terdapat black spot
Memiliki 4 buah duri pada lempeng antenula, 2 depan
lebih panjang, 2 belakang terdapat blackspot
Tanduk melengkung kedepan
Mata menonjol
Terdapat garis hitam putih hitam disetiap segmen
Duri karapaks runcing
Kaki jalan berwarna hitam putih memanjang
Birami antenulla berwarna putih
Segmen antenula terdapat warna selang seling hitam
putih
6

5.

Panulirus ornatus

6.

Panulirus penicillatus

Tidak ada duri diantara kali jalan ke 2


Duri telson tumpul
Flagellum antenna berbentuk seperti cambuk
Warna tiap segmen abdomen seperti pasir
Terdapat 4 buah duri pada lempeng antenula, 2 depan
lebih panjang dan 2 belakang menjauh
Duri karapaks runcing
Tanduk melengkung
Kaki jalan terdapat white spot
Antenulla birami, berwarna hitam putih secara vertical
Disetiap segmen antenula terdapat warna putih
Pada kaki jalan ke 2 terdapat lubang genital (betina)
Tidak ada duri diantara kaki jalan ke 2
Ektopodi dan endopodi berkembang
Diantara dua tanduk terdapat yellow spot dan letaknya
berjauhan
Mata menonjol
Terdapat 4 buah duri pada lempeng antenula dan saling
berdekatan
Pangkal antenna bagian belakang lebih panjang
Tanduk melengkung ke depan
Antenulla birami berwarna agak merah disetiap segmen
Pada karapaks terdapat silia
Duri karapaks runcing
Periopod ada gradasi warna merah
Kaki jalan ke 2 ada percabangan
Warna abdomen di 3 segmen depan ada brown spot
Duri telson tajam
Segmen pertama pada abdomen terdapat white spot
Cheliped ke 3 terdapat lubang genital
Tidak ada duri diantara kaki jalan ke2
Eksopodi dan endopodi berkembang

Parribacus antarticus
C
A

B
A

Gambar 3.3 Parribacus antarticus


A: Mata, B: Antenulla, C: Antena Pipih

Panulirus homarus
C

A
B
A

Gambar 3.4 Panulirus homarus


A: Mata, B: Lempeng Antena, C: Antenulla Birami, D: Tanduk

Panulirus longipes

C
A
B

A
B

Gambar 3.5 Panulirus longipes


A: Mata, B: Lempeng Antena, C: Antenulla Birami, D: Tanduk

Panulirus versicolor

C
A
B

A
D

Gambar 3.6 Panulirus versicolor


A: Mata, B: Lempeng Antena, C: Antenulla Birami, D: Antena

Panulirus ornatus
D

B
C

A
B

Gambar 3.7 Panulirus ornatus


A: Mata, B: Lempeng Antena, C: Antenulla Birami, D: Tanduk

Panulirus penicillatus
D

A
C

Gambar 3.8 Panulirus penicilatus


A: Mata, B: Lempeng Antena, C: Antenulla Birami, D: Tanduk

3.3

Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan pengamatan pada anggota Subphylum Crustacea, yaitu

Parribacus antarticus dari familia Scyllaridae, Panulirus homarus, Panulirus longipes,


Panulirus versicolor, Panulirus ornatus, dan Panulirus penicilatus dari familia Palinuridae.
Parribacus antarticus (Gambar 3.3) hidup pada perairan dengan kedalaman antara
020 meter dengan dasar berpasir atau berkarang. Spesies ini hidup nokturnal dan kadang
berkelompok. Spesimen yang digunakan memiliki panjang karapas 5,7 cm dan panjang total
12,4 cm. Secara umum panjang karapas P. antarticus dapat mencapai kisaran antara 29
cm, dan panjang total sekitar 20 cm (Holthuis, 1991). Ciri yang sangat membedakan jenis
ini dengan spesimen lainnya adalah antenanya mereduksi dan berbentuk lempengan. Mata
pada jenis ini tidak bertangkai dan tersembunyi pada karapas. Pada sisi lateral terdapat duriduri di sepanjang tubuhnya.
Panulirus homarus hidup di perairan dangkal di antara batuan dengan kedalaman
maksimum 90 m. Namun, umum dijumpai pada kedalaman 15 meter pada dasar perairan
yang berbatu dan berombak. Spesies ini hidup nokturnal dan berkelompok (Holthuis, 1991).
Memiliki karapas bulat dengan panjang 5,4 cm, ditutupi dengan duri dengan berbagai
ukuran. Panjang total P. homarus 15,8 cm. Flagela antennulanya panjang dan tidak memiliki
rostrum. Memiliki antenulla birami dengan corak warna hitam. Memiliki mata dengan
tangkai mata. Memiliki empat buah duri pada lempeng antenula dengan duri bagian depan
lebih panjang. Pada lateral pleopod terdapat white spot.
Panulirus longipes hidup pada perairan jernih dengan kedalaman antara 118 meter
dan sering dijumpai pada kedalaman 12 meter. Habitatnya pada dasar perairan berbatu dan
berkarang. Hidup nokturnal soliter. Panjang karapas yang didapatkan adalah 5,4 cm dan
panjang totalnya 12,7 cm. Panjang total maksimal mencapai 31 cm, namun umumnya di
bawah 20 cm (Holthuis, 1991). Terdapat dua duri pada lempeng antenula yang letaknya
berdekatan. Memiliki antenulla birami dengan warna hitam putih. Memiliki mata dengan
tangkai mata. Pada kaki jalan terdapat white spot.
Panulirus versicolor hidup pada perairan dangkal dari lapisan sublitoral hingga
kedalaman 15 meter. Habitatnya adalah perairan dengan dasar berkarang, dan sering ditemui
perairan yang jernih. Hidup nokturnal dan soliter. Pada siang hari biasanya bersembunyi
pada bebaruan. Spesimen yang digunakan memiliki panjang karapas 7,9 cm dan panjang
total 17,5 cm. Panjang maksimal dapat mencapat 40 cm, namun biasanya ditemukan kurang
dari 30 cm (Holthuis, 1991). Memiliki mata dengan tangkai mata. Terdapat garis hitam putih
hitam disetiap segmen, dengan duri karapaks runcing. Kaki jalan berwarna hitam putih
10

memanjang. Antenulla birami berwarna putih, pada segmen antenula terdapat warna selang
seling hitam putih.
Panulirus ornatus hidup pada perairan dangkal antara 18 meter dan agak keruh
dengan dasar perairan berpasir atau berlumpur. Hidup soliter atau berpasangan, namun tidak
berkelompok besar. Merupakan anggota genus Panulirus yang berukuran besar. Spesimen
yang diamati memiliki ukuran panjang karapas 8,1 cm dan panjang total 18,8 cm. Panjang
total P. ornatus dapat mencapai 50 cm, namun umumnya ditemukan pada ukuran 30-35 cm
(Holthuis, 1991). Memiliki empat buah duri pada lempeng antenula. Dua buah duri bagian
depan lebih panjang, dan dua buah duri bagian belakang terdapat black spot. Kaki jalan
terdapat white spot. Memiliki antenulla birami yang berwarna hitam putih secara vertikal di
setiap segmen.
Panulirus penicillatus hidup pada perairan jernih dengan kedalaman 14 meter
dengan dasar berbatu. Bersifat soliter dan nokturnal. Panjang karapas spesimen adalah 8,6
cm dan panjang totalnya 19,7 cm. Panjang total maksimum hingga 40 cm (Holthuis, 1991).
Jantan umumnya lebih besar dibandingkan betina. Terdapat empat buah duri pada lempeng
antenulla yang saling berdekatan. Antenulla birami berwarna agak merah disetiap segmen.
Periopod juga memiliki gradasi warna merah. Warna abdomen di 3 segmen depan terdapat
brown spot.

IV.

Kesimpulan
Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa lobster adalah anggota Subfilum

Crustacea dengan ciri umum tubuh memiliki dua puluh segmen. Terbagi menjadi
cephalothorax (empat belas segmen) dan abdomen (enam segmen). Dari dua familia lobster
air laut yang di amati (Familia Palinuridae dan Familia Scyllaridae) memiliki ciri-ciri
spesifik yang dapat digunakan untuk identifikasi. Familia Scyllaridae memiliki antena yang
termodifikasi menjadi berbentuk pipih dan memiliki mata sesil. Familia Palinuridae
memiliki antena yang panjang menyerupai cambuk dan memiliki tangkai mata. Anggota
Familia Palinuridae memiliki duri pada lempeng antenula yang jumlah dan ukurannya
berbeda-beda. Semua spesimen yang diamati memiliki duri-duri pada karapaksnya sehingga
dikenal sebagai spiny lobster.

11

V.

Daftar Pustaka

Anam, R., Mostrada, E. 2012. Field Identification Guide to the Living Marine Resources of
Kenya. Rome, Italy.
Holthuis, L. B. 1991. FAO Species Catalogue: Vol. 13 Marine Lobsters of The World. Rome,
Italy.
Junaidi, M., Cokrowati, N., dan Abidin, Z. 2010. Aspek Reproduksi Lobster (Panulirus
sp.) di Perairan Teluk Ekas Pulau Lombok. Jurnal Kelautan 3(1): 29-36
Setyono, D. E. D. 2006. Budidaya Pembesaran Udang Karang (Panulirus spp.). Oseana
31(4): 39-48.

12