Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Infeksi menular seksual (IMS) adalah penyakit yang penularannya terutama melalui
hubungan seksual (HUS). Meskipun demikian, penularan infeksi tidak selalu melalui hubungan
kelamin karena dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan alat-alat penderita, seperti:
handuk, selimut, termometer, dll sehingga kelainan yang timbul tidak terbatas pada daerah
genital saja, bisa juga ditemukan pada daerah ekstra genital. Selain itu, ciri dari IMS adalah
orang-orang yang belum pernah melakukan hubungan kelamin atau yang tidak promiskus dapat
tertular dan sebagian penderita adalah korban keadaan di luar kemampuan mereka, dalam arti
sudah berusaha sepenuhnya untuk tidak terjangkit tetapi kenyataannya masih juga terjangkit.
IMS dapat disebebabkan oleh invasi bakteri, ektoparasit, jamur, protozoa, dan virus yang
menular baik secara genito-genital, oro-genital, dan ano-genital pada pasangan berlainan jenis
ataupun pada pasangan sesama jenis.
Kondiloma akuminata (ConA) adalah IMS yang disebabkan oleh virus, yaitu
Humanpapilloma virus (HPV) ditandai dengan adanya kelainan berupa fibroepitelioma2 dan
pertumbuhan epitel yang berlebihan pada kulit dan mukosa.3 Bentuk lesi yang paling sederhana
adalah kutil, kemudian lesi papillary biasanya sering ditemukan di daerah genitalia, anal, dan
perineum, dapat juga menginfeksi konjugtiva, hidung, mulut, laring, dan trakeo-bronkial. Perlu
dicatat bahwa degenerasi kearah keganasan dapat terjadi sehingga diagnosis ditegakkan melalui
kesan klinis dan biopsi. . Pengembangan tes amplifikasi asam-nukleat menandai era baru dalam
prosedur diagnostik yang sensitif untuk IMS. Sayangnya, tes ini tidak tersedia secara komersial
atau terlalu mahal untuk populasi yang paling membutuhkan. Banyak modalitas pengobatan yang
berguna bagi lesi kecil, metode immunoassay tidak efektif karena hanya menunjukkan adanya
infeksi dan tidak bisa memprediksi perjalanan penyakit. Untuk lesi besar atau yang dikenal
dengan lesi Buschke-Lowenstein, hanya bisa dihilangkan dengan pembedahan. ConA merupakan
faktor predisposing terjadinya kehamilan ektopik, komplikasi selama kehamilan dan persalinan

hingga menyebabkan transmisi transvertikal pada janin. Penderita juga dapat mengalami
kemandulan dan meningkatkan resiko terkena HIV.
Gejala yang asimtomatis dan adanya stigma di masyarakat, membuat para penderita enggan
mencari perawatan kesehatan, sehingga banyak infeksi yang tidak terdiagnosis dan banyak
kejadian ConA yang tidak tercatat di instalasi-instalasi kesehatan. Epidemiologi IMS di dunia
berbeda-beda karena dipengaruhi oleh pola perilaku seksual (dimoderatori oleh perilaku
perlindungan), penyebaran patogen dan durasi penularan (dimoderatori oleh akses terhadap
penobatan yang efektif), demografi, dan kondisi sosial. Terbatasnya akses terhadap diagnosis dan
pengobatan berkontribusi terhadap penularan infeksi di negara-negara berkembang, yang
menjadi penyebab kedua morbiditas pada wanita reprodukif. The World Bank, memperkirakan
penyakit pelvic inflammatory disease (PID) atau dalam bahasa Indonesia radang pinggul
menyebabkan 94% morbiditas pada penderita IMS dan termasuk juga HIV. WHO
memperkirakan kejadian IMS di dunia 340 juta orang disembuhkan pada tahun 1999, angka ini
lebih besar 250 juta orang dari tahun 1990.
Meskipun tidak diikutsertakan pada program surveillance, penyebaran virus IMS adalah
umum, terlepas dari tingkat perkembangan ekonomi konsisten dengan tidak adanya intervensi
kesehatan masyarakat yang efektif. Peningkatan standar hidup di masyarakat saat ini, telah
menyebabkan infeksi pada masa anak-anak yang lebih sedikit.
virus herpes simpleks tipe 1 ( HSV - 1 ) , cytomegalovirus , dan hepatitis A dan virus B , yang
mengarah ke kolam yang lebih besar dari orang dewasa muda rentan berisiko akuisisi
seksual gangguan ini . Infeksi primer pada usia yang lebih tua risiko penyakit yang lebih
parah klinis dan , pada kehamilan , transmisi keturunan dengan konsekuensi sering serius

Lebih dari 100 jenis HPV telah diidentifikasi, sedikitnya sepertiga melibatkan daerah anogenital. Jenis HPV seperti tipe 6 dan 11 yang menyebabkan kutil ano-genital jinak (kondiloma
akuminata) dikelompokkan menjadi HPV dengan resiko rendah (non-onkogenik), sedangkan
jenis HPV seperti tipe 16, 18, 31, dan 45 yang kadang-kadang menyebabkan kanker
dikelompokkan menjadi HPV dengan resiko tinggi (onkogenik). Suatu penilitian cohort di US
yang melibatkan wanita pada umur 18-35 tahun mencari perawatan ginekologi secara rutin, 32%
dari kejadian untuk resiko tinggi HPV di ukur dengan PCR.

prevalensi infeksi HPV terdeteksi oleh sirkulasi antibodi secara substansial lebih tinggi pada
wanita dibandingkan pria meskipun pria di lebih perilaku risiko . Temuan ini menunjukkan
difference.51,52 seks biologis dimediasi

Kondiloma akuminata menjadi penyakit IMS yang sering dikeluhkan pada populasi orang
dewasa, dengan 10% memiliki bukti klinis. Lebih dari separuh wanita yang aktif melakukan
hubungan seksual terbukti rentan terhadap penyebaran HPV. Namun, sedikit yang diketahui
tentang epidemiologi kondiloma akuminata pada populasi anak-anak. Diantara anak-anak yang
datang ke klinik penyakit kulit dan kelamin, 14,2% didiagnosis menderita kondiloma dengan.
Wanita lebih sering terkena daripada laki-laki, dengan ratio 3:1.4 Risiko penularan dari ibu ke
anak diperkirakan 1 antara 80 dan 1 antara 1500. Selama kehamilan, ConA dapat berproliferasi
dengan cepat karena perubahan imunitas dan peningkatan suplai darah.5 Di Amerika, ConA
terjadi pada 5,5 juta orang setiap tahun. Infeksi yang paling sering terjadi pada daerah anorektal,
penderita adalah pria homoseksual, sering juga pada pria biseksual dan heteroseksual dan wanita.
Pada pasien dengan HIV positif, prevalensi HPV adalah 30%, perjalanan HPV tidak jelas pada
tetapi dapat dipengaruhi oleh tingkat keparahan immunocompromise dan terapi menggunakan
antiretroviral pada pasien HIV positif.
Di RSUD Sanglah Denpasar, kondiloma akuminata termasuk ke dalam 5 besar penyakit kulit
yang paling sering.