Anda di halaman 1dari 11

Teknik Pendingin

Nama

: Aulia Zakia Husna

NRP

: 1110311023

Teknik Mesin
Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan nasional Veteran Jakarta
2014

A. Sejarah Teknik Pendinginan


Sejarah teknik pendinginan berkembang sejalan dengan perkembangan peradaban
manusia di wilayah sub-tropik. Secara alamiah, manusia yang tinggal di wilayah subtropik menyadari bahwa bahan pangan yang mudah rusak ternyata dapat disimpan
lebih lama dan lebih baik pada saat musim dingin dibandingkan dengan pada saat
musim panas.

Kesadaran inilah yang memandu manusia pada saat itu mulai

memanfaatkan es alam untuk memperpanjang masa simpan bahan pangan yang


mudah rusak.
Penggunaan es alam ini bahkan masih dilakukan hingga abad ke-20, dan bahkan
menurut catatan IIR (Intenational Institute of Refrigeration) hingga awal abad ke-20
penggunaan es alam masih lebih banyak dibandingkan es buatan. Es alam adalah es
yang dihasilkan tanpa peralatan refrigerasi, baik yang diperoleh dari sungai atau danau
yang membeku pada musim dingin atau yang sengaja dibekukan secara alamiah akibat
radiasi termal dari permukaan air ke langit.
Di wilayah dengan kelembaban udara yang rendah, seperti Timur Tengah, sejarah
pendinginan dimulai dengan pendinginan evaporatif, yaitu dengan menggantungkan
tikar basah di depan pintu yang terbuka untuk mengurangi panasnya udara dalam
ruangan. Pada abad ke-15, Leonardo da Vinci telah merancang suatu mesin pendingin
evaporatif ukuran besar. Konon, mesin ini dipersembahkan untuk Beatrice dEste, istri
Duke of Milan (Pita, 1981). Mesin ini mempunyai roda besar, yang diletakkan di luar
istana, dan digerakkan oleh air (sekali-sekali dibantu oleh budak) dengan katup-katup
yang terbuka-tutup secara otomatis untuk menarik udara ke dalam drum di tengah
roda. Udara yang telah dibersihkan di dalam roda dipaksa keluar melalui pipa kecil dan
dialirkan ke dalam ruangan
Perkembangan teknik pendinginan selanjutnya masih terjadi secara tidak sengaja, yaitu
penggunaan larutan air-garam untuk mendapatkan suhu yang lebih rendah. Menurut
catatan Ibn Abi Usaibia, seorang penulis Arab, penggunaan larutan air-garam ini sudah
dilakukan di India sekitar abad ke-4. Garam yang digunakan pada larutan tersebut

adalah potasium nitrat, sebagaimana dicatat oleh seorang dokter Italia bernama Zimara
pada tahun 1530 dan dokter Spanyol bernama Blas Villafranca pada tahun 1550.
Fenomena pencampuran garam pada salju untuk mendapatkan suhu lebih rendah baru
dapat dijelaskan oleh Battista Porta pada tahun 1589 dan Trancredo pada tahun 1607.
Pada awal abad ke-18, William Cullen (1710-1790) menemukan terjadinya penurunan
suhu pada saat ethyl ether menguap. Cullen, bahkan, pada tahun 1755 berhasil
mendapatkan sedikit es dengan cara menguapkan air di labu uap. Murid dan penerus
Cullen, yaitu seorang Scotland yang bernama Joseph Black (1728-1799) berhasil
menjelaskan pengertian panas dan suhu, sehingga sering dianggap sebagai penemu
kalorimetri. Bidang ini akhirnya dikembangkan dengan sangat baik oleh para ilmuwan
Perancis, seperti Pierre Simon de Laplace (1749-1827), Pierre Dulong (1785-1838),
Alexis Petit (1791-1820), Nicolas Clment-Desormes (1778-1841) dan Victor Regnault
(1810-1878).
B. Perkembangan Mesin Pendingin Sistem Kompresi Uap
Tulisan Sadi Carnot (1796-1832), seorang Perancis, yang
sangat terkenal pada tahun 1824 menjadi inspirasi bagi
banyak penelitian yang dilakukan mengenai berbagai konsep
termodinamika dan sistem pendinginan, termasuk James
Prescot Joule (Inggris, 1818-1889), Julios von Mayer (Jerman,
1814-1878), Herman von Helmholtz (Jerman, 1821-1894),
Rudolph Clausius (Jerman, 1822-1888), Ludwig Boltzmann
(Austria, 1844-1906), dan William Thomson (Lord Kelvin,
Inggris, 1824-1907).

Gambar Sadi Carnot

Penemuan-penemuan di atas menjadi awal yang sangat


berharga dalam sejarah penemuan mesin-mesin pendinginan
dan zat-zat pendinginnya. Perkembangan ini dimulai dengan
mesin pendingin mekanis, setelah seorang Amerika bernama
Oliver

Evans

(1755-1819)

mampu

menjelaskan

siklus

refrigerasi kompresi uap. Pada tahun 1835, seorang Amerika


lainnya yang bekerja di Inggris yaitu Jacob Perkins (17661849) berhasil mendapatkan paten untuk mesin pendingin

Siklus

Refrigerari

temuannya yang bekerja berdasarkan siklus kompresi uap Kompresi Uap


tersebut.

Fluida kerja (refrigeran) yang digunakan Perkins pada mesin pendinginnya tersebut
adalah ethyl ether. James Harrison (1816-1893), seorang Skotlandia yang pindah ke
Australia, berhasil membuat mesin pendingin yang dapat bekerja dengan baik pada
skala industrial. Mesin tersebut dipatenkan oleh Harrison pada tahun 1855, 1856, dan
1857. Mesin pendingin Harrison, yang diproduksi di Inggris, masih menggunakan ethyl
ether sebagai fluida kerja, dan mampu menghasilkan es maupun larutan pendingin
(refrigeran sekunder).
Dengan ditemukannya mesin pendingin sistem kompresi uap, terjadi perkembangan
yang cepat dalam penemuan zat-zat pendingin (refrigeran). Charles Tellier (18281913), seorang Perancis, memperkenalkan penggunaan dimethyl ehter sebagai
refigeran. Pada tahun 1862, Tellier juga meneliti penggunaan amonia (NH3) sebagai
refrigeran, meskipun penggunaannya secara luas pada skala industrial baru dapat
dilakukan oleh seorang Jerman Carl von Linde (1842-1934). Refrigeran amonia masih
banyak digunakan hingga sekarang, khususnya pada industri pembekuan pangan.
Thaddeus Lowe (1832-1913) mulai menggunakan karbon-dioksida (CO2) sebagai
refrigeran. Meskipun sempat ditinggalkan, penggunaan karbon-dioksida belakangan ini

kembali dikembangkan sebagai refrigeran yang ramah lingkungan. Sulfur-dioksida


(SO2) pertama kali digunakan sebagai refrigeran oleh ahli fisika Swiss Raoul Pierre
Pictet (1846-1929), tetapi akhirnya tidak digunakan lagi sesaat sebelum perang dunia
II. Metil-klorida (Ch3Cl) juga digunakan oleh orang Perancis C. Vincent sebagai
refrigeran pada tahun 1878, meskipun akhirnya hilang dari peredaran pada tahnun
1960-an.
Didasarkan pada hasil penelitian Swarts yang dilakukan selama kurun 1893-1907 di
Ghent, suatu tim peneliti Frigidaire Corporation di Amerika, yang dipimpin oleh Thomas
Midgley berhasil mengembangkan refrigeran fluoro-carbon pertama pada tahun 1930.
Refrigeran fluoro-carbon dianggap sebagai refrigeran yang aman karena tidak bersifat
toksik dan tidak mudah terbakar. Refrigeran CFC (chloro-fluoro-carbon) pertama, yaitu
R12 (CF2Cl2) mulai dilepas ke pasar pada tahun 1931, diikuti dengan refrigeran HCFC
(hidro-chloro-fluoro-carbon) pertama, yaitu R22 (CHF2Cl) pada tahun 1934. Pada
tahun 1961, campuran azeotropik pertama, yaitu R502 (R22/R115), diperkenalkan ke
pasar sebagai refrigeran.
Refrigeran CFC, khususnya R12, dianggap sebagai zat yang sangat istimewa sebagai
fluida kerja mesin pendingin sistem kompresi uap, hingga pemenang Nobel dari
Amerika (F.S. Rowland dan M.J. Molina) mempublikasikan hasil penelitiannya pada
tahun 1974. Rowland dan Molina menyimpulkan bahwa klorin yang dilepaskan oleh zat
halogenasi hidrokarbon menyebabkan terjadinya perusakan lapisan ozon di angkasa.
Untuk menganggapi temuan ini, pada tahun 1987 telah disepakati Protokol Montreal
mengenai pelarangan penggunaan zat-zat yang bersifat merusak lapisan ozon.
Refrigeran CFC dan HCFC termasuk pada kategori zat perusak ozon, sehingga
penggunaannya sebagai refrigeran juga dilarang.

Sebagai gantinya, disarankan

penggunaan HFC (hidro-fluoro-carbon), yaitu refrigeran yang dihalogenasi tapi tidak


diklorinasi.

Akan tetapi, refrigeran HFC, baik yang murni (R134a) maupun

campurannya (R410A, R407A, R404A, dll), juga menimbulkan efek lingkungan yaitu
pemanasan global. Pada Protokol Kyoto, yang ditanda-tangani pada 11 Desember
1997, refrigeran HFC termasuk zat yang dilarang peredarannya karena menyebabkan

pemanasan global. Indonesia, sebagai negara yang ikut meratifikasi Protokol Montreal
maupun Protokol Kyoto, berkewajiban untuk melaksanakan setiap fasal dalam protokol
yang disepakati tersebut.
Perkembangan lain dalam sistem kompresi uap adalah
pada komponen peralatannya.

Pada awalnya mesin

pendingin sistem kompresi uap menggunakan kompresor


dengan piston yang besar dan lambat, tetapi sejak akhir
abad ke-19 berubah menjadi lebih ringan dan cepat. Pada
tahun

1934

A.

Lysholm

berhasil

mengembangkan

kompresor ulir dengan rotor ganda di Swedia, sedangkan


pada tahun 1967 B. Zimmern mengembangkan kompresor

Kompresor

ulir rotor tunggal di Perancis.


Kompresor scroll sebenarnya telah dipatenkan oleh seorang Perancis bernama Leon
Creux pada tahun 1905, tetapi baru dapat dikembangkan pada tahun 1970-an.
Kompresor sentrifugal dikembangkan atas dasar penelitian seorang Perancis bernama
Auguste Rateau tahun 1890 dan orang Amerika bernama Willis Carrier tahun 1911.
Kompresor hermetik dikembangkan untuk mengatasi kebocoran refrigeran oleh Father
Audiffren pada tahun 1905 di Perancis, dan digunakan sangat banyak saat ini.
C. Perkembangan Sistem Pendingin Lainnya
Perkembangan sistem pendingin selain sistem kompresi uap dipicu oleh kemajuan
yang dicapai dalam bidang termodinamika yang sangat pesat pada abad ke-19.
Kemajuan ini dimulai dari penelitian mengenai gas oleh ahli fisika Inggris Boyle, disusul
oleh Edme Mariotte (1620-1684), Jacques Charles (1746-1823) dan Louis Joseph GayLussac (1778-1850), hingga penelitian mengenai mesin uap yang dilakukan oleh orang
Skotlandia bernama James Watt (1736-1819). Ilmuwan Perancis Sadi Carnot (17961832)

akhirnya

mempublikasikan

hasil

Termodinamika Kedua pada tahun 1824.

karyanya

yang

menjadi

inti

Hukum

Berbagai penelitian mengenai teknik

pendinginan sangat banyak dilakukan sebagai dampak dari kemajuan termodinamika


ini.

Disamping mesin pendingin sistem kompresi uap, sebagaimana dijelaskan di atas,


berbagai sistem pendingin lain juga ditemukan selama abad ke-19.

Salah satu

diantaranya adalah sistem pendingin siklus gas yang muncul akibat penemuan mesin
udara siklus terbuka oleh John Gorrie (1803-1855), seorang dokter Amerika. Gorrie
mematenkan penemuan tersebut setelah berhasil mendiningkan brine ke suhu -7 oC
pada tahun 1850 dan 1851. Alexander Kirk (1830-1892) berhasil mengembangkan
mesin siklus tertutup yang dapat mendinginkan hingga suhu -13 oC pada tahun 1864.
Mesin ini didasarkan pada motor udara panas yang dikembangkan oleh pastor
Skotlandia Robert Stirling pada tahun 1837.

Pada tahun 1834, Ahli fisika Perancis Jean Charles Peltier


(1785-1845) menemukan bahwa aliran arus searah yang
melalui

jembatan

dua

logam

dapat

menyebabkan

pendinginan pada salah satu logam dan pemanasan pada


logam lainnya. Sampai tahun 1940-an, sistem termoelektrik
hanya dianggap sebagai keingin-tahuan ilmiah, hingga
berkembangnya pengetahuan mengenai semi-konduktor.
Akan tetapi, hingga sekarang penggunaan sistem pendingin
termoelektrik secara komersial relatif sangat kecil.

Termoelectric cooling
Salah satu sistem pendingin yang berkembang dengan baik, disamping sistem
kompresi uap, adalah sistem absorbsi. Mesin pendingin sistem absorbsi kontinyu yang
pertama ditemukan pada tahun 1859 oleh seorang Perancis bernama Ferdinand Carr
(1824-1900). Mesin temuan Carr ini menggunakan air sebagai absorber dan amonia
sebagai refrigeran. Sistem absorbsi tak-kontinyu sebenarnya lebih dulu dikembangkan
(hasil temuan saudara Ferdinand Carr yang bernama Edmond Carr pada tahun
1866), tetapi tidak terlalu berhasil. Pada tahun 1913, seorang Jerman bernama

Edmund Altenkirch berhasil mempelajari dan menjelaskan sifat termodinamik sistem ini
dengan rinci. Pada tahun 1940-an, sistem absorbsi dengan litium-bromida sebagai
absorber dan air sebagai refrigeran berhasil dikembangkan di Amerika, sebagai
modifikasi dari sistem yang dikembangkan oleh Carr. Sistem absorbsi litium-bromidaair ini banyak digunakan dalam bidang pengkondisian udara.
D. Aplikasi Teknik Pendinginan
Refrigerasi (pendinginan) adalah suatu sistem yang mengambil panas dari suatu benda
atau ruangan yang bersuhu lebih rendah dari lingkungan alamiahnya. Bangsa Romawi
dan Cina mengambil es dan salju untuk digunakan sebagai penyejuk udara saat musim
panas. Bangsa Mesir meletakkan bejana air di atap rumah pada malam hari untuk
mendinginkannya. Terlihat bahwa usaha untuk mendinginkan bahan atau udara telah
ada sejak dahulu. Peradaban yang maju membuat teknik pendinginan semakin
berkembang

Terdapat dua bidang pendinginan yang saling terkait


dalam

pendinginan

yaitu

bidang

refrigerasi

dan

pengkondisian udara. Aplikasi teknik pendinginan


dapat dijumpai di berbagai bidang. Di bidang industri,
pengkondisian udara digunakan untuk mendapatkan
suhu dan kelembaban yang nyaman bagi pekerja.
AC untuk tranportasi
Beberapa

sistem

dirancang

untuk

mendapatkan

kondisi udara dimana debu hampir tidak ada (ruang


steril)

seperti

pada

industri

elektronika.

Industri

percetakan perlu udara dengan tingkat kelembaban


tertentu sehingga kertas tidak menggumpal dan tinta
cepat kering. Kelembaban yang tinggi juga dapat
menyebabkan terjadinya korsleting. Perkantoran dan
perumahan saat ini umum menggunakan AC untuk
menambah kenyamanan ruangan.

AC untuk Gimnaisum

Di negara sub-tropis, pengkondisian juga meliputi


pemanasan ruangan saat musim dingin. Keinginan
manusia untuk berkendara dengan nyaman membuat
sistem pendinginan juga dijumpai di mobil dan
kendaran angkutan lainnya. Industri pertanian saat ini
umum menggunakan sistem cold chain untuk menjaga
mutu

produk.

Sistem

pendinginan

ini

biasanya

digunakan untuk produk yang mudah busuk dan


banyak mengandung air, seperti daging, sayur dan
buah. Untuk mendapatkan umur simpan yang lebih Pendinginan buah
lama, pembekuan digunakan untuk membekukan
produk.
Produk yang dibekukan dapat kembali ke keadaan
semula umumnya dengan perlakuan panas. Di tokotoko, bahan pertanian ini juga ditampilkan pada rak
berpendingin Pendinginan juga dikenal dalam proses
pengolahan

makanan.

Es

krim,

dibuat

dengan

membekukan susu setelah proses pasteurisasi dan


pencampuran dilakukan.
Produk pangan lain yang membutukan pendinginan

Ice cream

antara lain susu, keju, jus buah. Industri roti juga


menggunakan pendinginan untuk menyimpan adonan
roti sehingga roti lebih cepat disajikan dan mengurangi
kerugian toko roti karena adanya adonan yang tidak
dibakar.

Industri

kimia

menggunakan

teknik

pendinginan untuk memisahkan gas, pengembunan


gas, penghilangan kalor reaksi, pemisahan zat dari
campurannya dan untuk menjaga tekanan. Teknik
pendinginan juga digunakan pada bidang lainnya
seperti konstruksi, pembuatan es batu, dan arena
olahraga

Produk
supermarket

horitultura

di

E. Tantangan Industri Pendinginan dan Pembekuan Pangan


Teknik refrigerasi adalah teknik pengambilan panas dari suatu benda atau ruangan
yang bersuhu lebih rendah dari lingkungan alamiahnya. Teknik refrigerasi merupakan
penerapan termodinamika dan perpindahan panas/massa, yang termasuk dalam
cakupan bidang konversi energi. Salah satu jenis mesin refrigerasi yang umum
digunakan pada zaman sekarang adalah jenis kompresi uap. Mesin pendingin jenis ini
bekerja secara mekanik dan perpindahan panas dilakukan dengan memanfaatkan sifat
refrigeran yang berubah dari fase cair ke fase gas (uap) kemudian ke fase cair kembali
secara berulang.
Proses pendinginan merupakan proses yang populer untuk
penyimpanan

produk-produk

pertanian.

Dengan

menurunkan suhu suatu produk, aktivitas enzim dan


mikroba yang ada akan berkurang, sehingga penurunan
mutu atau kerusakan dapat dihambat. Pada buah-buahan
atau sayur-sayuran, pengendalian proses pendinginan
merupakan faktor kritis karena dapat menyebabkan chilling
injury bila dibawah suhu tertentu. Pembekuan merupakan
pendinginan sampai titik beku air dengan tujuan yang
Chilling injury

sama. Pada umumnya produk beku akan mempunyai


ketahanan yang lebih lama, namun tidak semua produk
pertanian cocok dengan proses ini.

Daftar pustaka
o

Pita, E.G., 1981, Air Conditioning Principles and Systems An Energy


Approach, John Wiley & Sons, Inc.

Stoecker, W.F., and Jones, J.W., 1987, Refrigeration and Air conditioning,
2nd ed., McGraw-Hill International Edition, Singapore

Tambunan, A.H., Teknik Pendinginan (diktat kuliah)

IIR Thematic File, A Brief History of Refrigeration,


http://www.iifiir.org/2endossiers_dossiers_histoire.htm#_ftn