Anda di halaman 1dari 38

SHAMPO PENYUBUR RAMBUT

(Makalah 1 Revisi)

Diajukan utuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Formulasi


Kosmetika II

Oleh :
Nur Aji, S. Farm., Apt
NPM. 5413220025

PROGRAM MAGISTER FARMASI


FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaiakan makalah dengan judul SHAMPO

PENYUBUR RAMBUT.
Meskipun banyak rintangan dan hambatan yang penulis alami dalam proses
pengerjaannya, tapi penulis berhasil menyelesaikannya dengan baik.
Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata
kuliah Formulasi Kosmetika II : ibu Prof. Dr. Teti Indrawati, MS. Apt, dan bapak Dr.
rer. nat. Deni Rahmat, Apt, yang telah membantu penulis dalam mengerjakan tugas
ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa yang
juga sudah memberi kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam
pembuatan karya ini.
Tentunya ada hal-hal yang ingin penulis berikan kepada institusi dan
masyarakat dari hasil karya ini. Karena itu penulis berharap semoga makalah ini
dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi kita bersama.

Jakarta, Oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI...

Hal.
i
ii

BAB I PENDAHULUAN...

1.1.
1.2.
1.3.
1.4.

Latar Belakang..
Rumusan Masalah.
Manfaat Makalah..
Tujuan Makalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...


2.1.
2.2.

Anatomi Rambut.
Shampo
2.2.1. Bahan Baku Pembuatan Shampo
2.2.1.1. Deterjen sintetik/ Cleansing agent..
2.2.1.2. Pendispersi Garam Kalsium
2.2.1.3. Foam Booster..
2.2.1.4. Preserpative.
2.2.1.5. Perfume

2.2.1.6. Coloring Agent


2.2.1.7. Thickening agent.
2.2.1.8. Humectant

2.2.1.9. Conditioning agent .


2.2.1.10.Anti Ketombe
2.2.1.11.Antistatic Agent.
2.2.1.12.Botanical extrac.
2.2.1.13.Chelating agent/ Sequestran..
2.2.1.14.Antioksidan
2.2.1.15.Ultraviolet absorben
2.2.2. Evaluasi Shampo...
2.2.2.1. Evaluasi
Sediaan
Fisik.
2.2.2.2. Evaluasi

2.3.

Stabilitas

Dipercepat.
2.2.2.3. Evaluasi Keamanan
Shampo Penyubur Rambut..
2.3.1. Praformulasi Shampo Penyubur Rambut ..

ii

2
2
2
3
3
7
8
8
9
10
10
10
10
11
11
11
11
11
12
12
12
13
13
13

2.3.2. Monografi bahan baku.


2.3.3. Prosedur Pembuatan.
2.3.4. Pengemasan .
BAB III PEMBAHASAN...

15
15
16
19
19
22
22

BAB IV PENUTUP.....
4.1.
4.2.

Kesimpulan...
Saran.

DAFTAR PUSTAKA..

iii

23
32
32
32
33

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Di era yang industrialis dengan adanya kemajuan ilmu dan teknologi sudah
seharusnya diciptakan suatu proses pengembangan terhadap bahan baku yang
sudah ada sehingga dapatdimamfaatkan secara komersil. Indonesia merupakan
negara yang kaya akan bahan baku baik pangan maupun nonpangan. Setiap bahan
baku yang ada mempunyai peluang untuk dijadikan produk yang memiliki nilai
tambah yang lebih tinggi dari yang sebelumnya. Sumber bahan baku tersebut
banyak digunakan untuk keperluan di bidang idustri kosmetik, photografi,
farmasi, bahan pemberi cita rasa,wangi-wangian dan lain lain. Proses pengolahan
bahan baku tersebut salah satunya dengan cara mengkonversi menjadi produk
yang diinginkan baik secara kimia maupun fisik.
Shampo adalah produk perawatan rambut yang digunakan untuk
menghilangkan minyak, debu, serpihan kulit, ketombe dan kotoran lain dari
rambut. Shampo merupakan salah satu jenis kosmetik yang telah banyak dikenal
dan digunakan sebagai salah satu produk pembersih rambut. Shampo merupakan
produk yang paling banyak digunakan baik dikalangan pria maupun wanita. Pada
zaman dahulu di Indonesia shampo dibuat dari kulit ari dan jerami padi. Kulit ari
dan jerami dibakar dalam abu dan ditambahkan bahan alkali dan dicampur dengan
air sehingga membentuk bubur. Shampo inibisa membersihkan rambut tetapi
membuat rambut menjadi sangat kering. Tidak heran lagi kalau orang-orang
sering mengoleskan minyak kelapa untuk melembabkan rambut yang kering
tersebut. Namun sekarang dengan ilmu dan teknologi yang semakin tinggi produk
shampo dikonversi sedemikian rupa sehingga dihasilkan produk yang berkualitas.
Rambut merupakan mahkota yang ada pada setiap orang. Oleh karena itu
banyak orang-orang yang mengeluh apabila terjadi kerusakan pada rambut.
Semakin banyak masalah yang timbul dirambut seseorang semakin menuntut
industri untuk memproduksi produk shampo sesuai jenis kulit rambut seseorang.
Seperti shampo anti ketobe, shampo yang mengatasi rambut rontok dan lain lain

sebagainya. Tuntutan itu membuat produsen semakin teliti dalam mengkonversi


bahan-bahan baku apa saja yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah yang
terjadi pada rambut dan kulit rambut. Selain itu proses pembuatan shampo ini
tidak lepas dari campuran bahan-bahan kimia yang menambah daya guna dari
shampo itu sendiri. Mengingat banyaknya masyarakat yang menggunakan
shampo, sangat perlu diperhatikan kualitas bahan baku yang akan digunakan
yakni dalam segi komposisi dan bahan yang terkandung dalam shampo. Hal ini
bertujuan untuk menghasilkan shampo yang berkualitas dan bermutu.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah : bagaimana formula shampoo
yang baik untuk penyubur rambut ?
1.3. Manfaat Makalah
Manfaat dari makalah ini adalah diperoleh gambaran formula shampoo untuk
penyubur rambut.
1.4. Tujuan Makalah
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah : dapat disusun suatu formula
shampoo penyubur rambut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Anatomi Rambut
Rambut merupakan salah satu dari adneksa yang tumbih berasal dari kulit.

Rambut tumbuh dari akar rambut yang adal dalam lapisan dermis kulit dan melalui
saluran folikel rambut keluar dari kulit. Bagian yang keluar dari kulit dinamakan
batang rambut [1].
Ilmu tentang rambut (trichology) membagi rambut manusia kedalam dua
jenis yaitu [1]:
1. Rambut terminal, yang umumnya kasar, misalnya rambut kepala, alis, rambut
ketiak, dan rambut alat kelamin.
2. Rambut vellus, berupa rambut halus pada pipi, dahi, punggung dan lengan
Tetapi pada dasarnya semua rambut dari akar rambut yang jenisnya sama,
maka rambit vellus dapat berubah menjadi rambut terminal. Pada pria dewasa
misalnya kadang kadang rambut vellus di atas bibir dan didagu berubah menjadi
rambut terminal berupa kumis dan janggut kasar. Sementara rambut vellus dapat juga
menggantikan rambut terminal, misalnya padaorang yang kepalanya botak, rambut
kepala yang tadinya panjang dan kasar diganti dengan rambut vellus yang halus[1].
Rambut dapat dibedakan menjadi bagian-bagian sebagai berikut: Folikel
Rambut, yaitu suatu tonjolan epidermis ke dalam berupa tabung yang meliputi: 1).
Akar rambut (folliculus pili), yaitu bagian rambut yang tertanam secara miring dalam
kulit. 2). Umbi rambut (bulbus pili), yaitu pelebaran bagian terbawah akar rambut.
Bagian terbawah umbi rambut adalah matriks rambut, yaitu daerah yang terdiri dari
sel-sel yang membelah dengan cepat dan berperan dalam pembentukan batang
rambut. Dasar umbi rambut yang melekuk ini mencakup gumpalan jaringan ikat,
pembuluh darah dan saraf yang berguna untuk 16drene makanan kepada matriks
rambut [2].
Selain itu, folikel rambut juga menyelubungi akar rambut, mulai dari
permukaan kulit sampai di bagian terbawah umbi rambut. Pada selubung ini dapat
dibedakan 16drene yang berasal dari dermis dan 16drene yang berasal dari epidermis
[2]

.
Unsur dari epidermis terdiri dari kandung akar luar dan kandung akar dalam.

Kandung akar luar terdiri atas sel bening, dan baru mulai berdiferensiasi pada daerah

ismus tanpa membentuk stratum granulosum. Kandung akar dalam terdiri atas 3
bagian yaitu: lapisan Henle,lapisan Huxley, dan kutikula kandung akar dalam [2].
Batang Rambut, yaitu bagian rambut yang berada diatas permukaan kulit.
Batang rambut keluar dari kulit secara miring. Batang rambut terdiri atas 3 bagian,
yaitu kutikula (selaput rambut), yang terdiri dari 6-10 lapis sel tanduk dan tersusun
seperti genteng atap; korteks (kulit rambut), terdiri atas serabut polipeptida yang
memanjang dan saling berdekatan; dan medulla (sumsum rambut), yang terdiri atas
3-4 lapis sel kubus yang berisi keratohialin, badan lemak, dan rongga udara [2].
Otot Penegak Rambut (muskulus arector pili), merupakan otot polos yang
berasal dari batas dermo-epidermis dan melekat di bagian bawah kandung rambut.
Otot-otot ini dipersarafi oleh saraf-saraf 17drenergic dan berperan untuk
menegakkan rambut bila kedinginan serta sewaktu mengalami tekanan emosional [2].

Gambar 2.1 Penampang Batang dan Folikel Rambut [4]

Batang Rambut

Gambar 2.2. Penampang Batang Rambut [4]


Medula: merupakan bagian tengah rambut yang longgar terdiri atas 2-3 lapis
sel kubis mengerut sama lain dipisahkan oleh ruang berisi udara dan bulu halus
pendek jenis bulu roma. Sebagai rambut kepala dan rambut pirang tidak mempunyai
medula, sel-selnya sering mengandung pigmen, keratin sel-sel medula termasuk
keratin lunak [3].
Korteks: merupakan bagian utama rambut yang terdiri atas beberapa lapis
sel gepeng dan panjang berbentuk gelondong membentuk keratin keras. Fibril
keratin tersusun sejajar, sedangkan granula pigmen terdapat di dalam dan diantara
sel-selnya. Rambut hitam mengandung pigmen teroksidasi udara yang terkumpul di
dalam ruang antara sel korteks dan mengubah warna rambut [3].
Kutikula: terdapat pada permukaan selapis sel tipis dan jernih. Kutikula
tidak berinti kecuali yang terdapat pada akar rambut, sel-selnya tersusun seperti
genteng atap dengan ujung menghadap ke atas. Penampang melintang rambut
beragam sesuai dengan ras, rambut lurus bangsa mongol, eskimo, dan indian amerika
tampak bundar pada potongan melintang, rambut berombak pada beberapa bangsa
kaukasia, afrika dan irian penampangnya lonjong [3].
Folikel rambut
Merupakan selubung yang terdiri atas sarung jaringan ikat bagian luar (sarung akar
dermis) yang berasal dari dermis dan sarung akar epitel bagian dalam berasal dari
epidermis. Folikel yang mengembung membentuk bulbus rambut dan berhubungan
dengan papilla tempat persatuan akar rambut dan selubungnya [3].
Sarung akar asal dermis:

a. lapisan paling luar: berkas serat kolagen kasar yang memanjang sesuai
dengan lapisan retikulum dermis.
b. lapisan tengah: lebih tebal sesuai dengan lapisan papila dermis. Lapisan ini
padat sel dan mengandung serat jaringan ikat halus yang tersusun melingkar.
c. lapisan dalam: berupa sabuk homogen sempit yang disebut glassy membran
basal di bawah epidermis
Sarung akar asal epidermis (epitel) mempunyai lapisan luar yang menyambung
dengan lapis-lapis dalam epidermis yang sesuai dengan lapis-lapis permukaan yang
sudah berkembang. Sarung akar rambut luar mempunyai selapis sel poligonal yang
menyerupai sel-sel stratum spinosum epidermis. Sarung akar rambut dalam, sarung
berzat tanduk membungkus[3].
Akar rambut yang sedang tumbuh dan menghasilkan keratin lunak yang juga
ditemukan pada epidermis. Sarung ini tidak tampak lagi diatas muara kelenjar
sebasea dalam folikel [3].
Pertumbuhan rambut: terjadi sebagai hasil mitosis sel-sel matriks yang
berasal dari epidermis dan belum berdiferensiasi yang terletak di atas sekitar puncak
papila rambut. Sel-sel pada dasar folikel akan menjadi sarung akar rambut luar.
Sel-sel matriks rambut: merupakan stratum malpigi epidermis yang akhirnya
menjadi sel-sel berzat tanduk. Pada epidermis bahan keratin lunak terjadi terusmenerus. Rambut mempunyai masa pertumbuhan tertentu, untuk rambut kepala 0-3
tahun, sedangkan bulu mata 3-4 bulan [3].
Akar rambut lepas dari matriks dan rambut rontok tertarik keluar setelah
istirahat folikel memasuki masa pertumbuhan dan berhubungan dengan papil baru
selanjutnya rambut-rambut baru tumbuh dari folikel yang terbentuk tersebut [3].
Fungsi rambut:
1. Sebagai pelindung, pada muara lubang telinga/hidung terhadap benda-benda

yang masuk serta melindungi kulit terhadap sinar ultraviolet dan panas.
2. Mengatur suhu: pengaturan panas dengan cara bulu badan menyimpan panas.
3. Pembuangan keringat dan air: karena permukaan yang lebih luas, rambut

akan membantu penguapan keringat.


4. Sebagai alat perasa: rambut membesar rangsangan sentuhan terhadap kulit.

2.2.

Shampo
Shampo merupakan salahsatu jenis kosmetik pembersih rambut dan kulit

kepala.kosmetik ini bertujuan membersihkan kulit kepala dari berbagaimacam


kotoran dalam debu, minyak, sel- sel kulit mati dan sebagainya secara menyeluruh
dan aman
yaitu [1] :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

[5]

. Untuk maksud tersebut shampoo harus memenuhi beberapa syarat,

Dapat membersihkan kulit dengan baik (sifat deterjen)


Memiliki sifat membasahi (wetting)
Memiliki sifat mengemulsi (emulsifying agent)
Memiliki sifat dapat membusa (foaming)
Dapat membersihkan dan menyehatkan kulit kepala
Mudah dicuci dan dibilas kembali
Membuat rambut mudah disisr dan mudah dipola
Membuat rambut lebih cemerlang
Mungkin perlu mengandung bahan aktif untuk mengatasi penyakit pada

kulit kepala dan rambut (medicated shampoo)


10. Aman untuk dipakai, tidak mengiritasi mata dan tidak toksik,
11. Menyebabkan bauharum.
Dari segi bentuk dikenal 4 (empat) macam shampoo yaitu :
a. Shampo Cair Jernih
b. Shamp dalam bentuk krim
c. Shampo dalam bentuk gel
d. Dan shampoo dalam bentuk kering

Tabel 2.1 Formula dasar[6]


Fungsi
Cleansing agent
Foam booster
Preservatipe
Perfume
Color (Lar. 0.1%)
Aditive
Solvent

Bahan, Nama INCI


Sodium lauril sulfate
Coconut Diethanolamide
2-Bromo-2-Nitropropana-1,3-Diol
Parfum
CI19140
Disodium EDTA
Water

2.2.1. Bahan Baku Pembuatan Shampo


2.2.1.1. Deterjen sintetik/ Cleansing agent

Kadar (%)
12- 20
2- 5
0,001-0,005
0,1- 0,3
0,1- 0,5
0,1- 0,5
78,65- 85,69

Kecenderungan dari shampoo sabun untuk membentuk garam yang tidak larut
karena adanya gugus karboksilat terikat pada ujung rantai panjang hidrokarbon.
Dengan menghilangkan gugus ini,m bayak surfaktan yang mencegah pembusaan dan
pembersihan negatif dari sabun yang telah dikembangkan.
Deterjen

sintetik

secara

normal,

diklasifikasikan

berdasarkan

gugus

hidrofiliknya[1] .

Anionik
Bagian hidrofilik dari surfaktan anionic membawa muatan negatif dalam larutan.
Deterjen ini umumnya lebih bagus dari kelas alin dalam istilah pembusaannya,
pembersihandan hasil akhir. Beberapa anggota kelas ini; Alkil benzen sulfonat;
alkil sulfat primer; alkohol sulfat kedua; alkil benzen polioksietilen sulfonat;
monogliserida tersulfat; alkohol eter sulfat; Sarkosina; sulfasuksinat; igepon;
Maypon.

Kationik
Deterjen kationik dipertimbangkan kurang terkenal dari anionic. Dengan gugus
ini, bagian hidrofilik dari senyawa ini bermuatan positif, biasanya adalah garam
ammonium kuartener.Kationik adalah deterjen yang umumnyakurang aksinya,
kasar untuk kulit dan mata, dan lebih mahal. Satu keuntungan bahwa kationik
memiliki aktivitas bakterisida. Beberapa tipe kationik adalah distearil dimesik,
ammonium

klorida,

dilauril

dimetil

ammonium

klorida,

diiso

butyl

penoksietoksi etil dimetil benzil ammonium klorida, cetil trimetril ammonium


bromida, N-cetil piridin bromida dan benzetonium klorida.
Ketika anionic dan kationik dikombinasikan, sering sifat yang paling
banyak/buruk dari keduanya dihasilkan. Anionik kehilangan sifat pembusaannya
dan kationik kehilangan aktivitas bakterisidnya yang mungkin telah dimiliki.

Amfoter
Meskipun

kationik

dan

anionic

tidak

bercampur,

mungkin

untuk

mengkombinasikan gugus pembentuk anion dengan gugus pembentuk kation


dalam molekul deterjen yang sama dan memperoleh produk yang berguna. Ini
disebut deterjen amfoterik (amfofilik) atau zwitter ion.

Non ionic

Kelas kedua yang paling luas digunakan dari deterjen sintetik adalah nonionic.
Non ionic busanya rendah, bagaimanapun telah dibatasi penggunaannya sebagai
komponen utama formula. Non ionic mempunyai ketahanan yang sangat baik
terhadap air sadah, juga air laut, sama efektifnya dalam larutan alkali/basa, dan
umumnya lembut pada kulit.

Kombinasi sabun-deterjen sintetik


Kebanyakan shampoo didasarkan pada kombinasi formula sabun dan deterjen
sintetik, kekurangan air sadah dari sabun dapat diatasi secara baik dan sifat
kosmetik dari shampoo yang dihasilkan adalah modifikasi dari kombinasi ini.

2.2.1.2. Pendispersi Garam Kalsium[1],[6]


Tujuan dari produk ini adalah untuk mencegah pengendapan sabun kalsium
dan perlekatanatau rambut yang lepek yang disebabkan oleh bahan ini. Aksi ini
menyebabkan peningkatan busa. Bahan pendispersi garam kalsium adalah secara
khusus penting pada sabun shampoo. Tapi bahan inijuga digunakan dengan alkil aril
sulfonat dan sarkosida. Diantara bahan-bahan ini adalah Igenon T, produk asam
lemak alylolamine terkondensasi, alkil polioksietilen fenol, dan bahan etylen oksida
terkondensasi non ionik lainnya.
2.2.1.3. Foam Booster[6]
Foam booster adalah bahan yang berfungsi untuk menambah busa. Sering
disebut juga foam stabilizer. Cara kerjanya menyebabkan busa tidak mudah pecah.
Sehingga memberi kesan busa yang bayak. Digunakan derivate dietanol amida. Ada
dua macam yaitu sintetis dan natural. Yang sintetis dibuat dari asam lemak yang
direaksikan dengan amin sehingga membentuk amida. Hasil yang lebih murni
dibandingkan dengan yang natural.
2.2.1.4. Preserpative[6]
Ada masalah yang muncul dalam melindungi shampoo dari keburukan oleh
aksi bakteriatau jamur. Larutan atau bahan dari pemilihan pengawet yang tepat dari
daftar yang mungkin termasuk formaldehid, etanol, metil, propil, butyl
hidroksibenzoat, fenil merkuri asetat, fenil merkuri nitrat, Alkil anisol, alkil kresol,
zat tambahan amida, dan beberapa zat seperti parfum menunjukkan beberapa
Aktivitas antibakteri.

Menurut Bryce & Smart, shampoo komersial yang tersedia sering mengandung
jumlah yang besar dari bakteri gram negatif. Garam fenil merkuri dan formaldehid
kadang-kadang digunakan, walaupun kestabilan keduanya tidak cukup. Bryce &
Smart merekomendasikan penggunaan 2-bromo-2 nitropropan-1,3 diol.
2.2.1.5. Perfume[6]
Parfum adalah pewangi. Dalam shampoo disamping memberikan aroma segar
dan menarik, parfum juga merupakan suatu ciri khas dari sebuah merek. Ada sediaan
kosmetika yang tidak diberikan parfum untuk tujuan penggunaan tertentu, yaitu
sebagai kosmetika yang hipo alergenik.
2.2.1.6. Coloring Agent[6]
Hampir semua sediaan diberikan pewarna sebagai daya tarik. Bahkan jenis
shampoo opaque (keruh) ditambahkan pewarna putih. Pewarna yang diguanakan
dalam shampoo antara lain : CI 19140 kuning, CI 42090 biru, CI 15985 merah. Dan
selanjutnya warna yang di izinkan sesuai yang ditetapkan BPOM.
2.2.1.7. Thickening agent[6]
Kekentalan shampoo perlu ditentukan agar tidak terlalu kental dan tidak terlalu
encer. Terlalu encer memberikan kesan bahan yang terkandung kecil, hal ini
memberikan dampak psikologis pada konsumen seolah-olah bahan yang dibeli encer
dan terlalu banyak air. Dan jika terlalu kental bahan akan menjadi sulit dikeluarkan
dari botol. Untuk shampoo cair kekentalan yang baik adalah 1200- 1800 cps. Bahan
yang meningkatkan viskositas shampoo. Contoh : gom akasia, tragakan, CMC,
Methocel. Kekurangan : dapat membentuk lapisan film pada helai rambut.
2.2.1.8. Humectant[6]
Yaitu zat yang dapatmenarik air dari udara sekelilingnya. Apabila shampoo
mengandung humektan,

jika dibilas akan meninggalkan lapisan film tipis.

Misalnya : Lanolin, lechitin, cetil alcohol, oleyl alcohol.


2.2.1.9. Conditioning agent [6]
Merupakan bahan berlemak yang memudahkan rambut untuk disisir.
conditioning agent melapisi helai rambul menjadi halus dan mengkilap. Harus
mudah dibilas, tidak meninggalkan rasa berminyak (lengket) di rambut. Contoh
lanolin, minyak mineral, telur, polipeptida.

10

2.2.1.10.Anti Ketombe[6]
Ada banyak shampoo antiketombe di pasaran, kebanyakan didasarkan pada
bahan antimikroba dalam alam. Shampoo mengandung sejumlah kecil bahan efektif
ini, yang berhubungan dengan kulit kepala dalam waktu singkat. Agar menjadi
efektif bahan aktif ini harus bekerja di lingkungan minyak-air pada kulit kepala dan
berada di kulit kepala untuk melanjutkan aktivitasnya. Karena itu, mudah dimengerti
mengapa shampoo antiketombe tidak cukup keefektifannya. Senyawa antiketombe
tradisional termasuk belerang, asam salisilat, hexakloroform, resorsinol, dan tar.
2.2.1.11. Antistatic Agent[6]
Yaitu zat untuk menghilangkan muatan listrik pada rambut. Rambut bermuatan
listrik static. Antara helai rambut dan helai rambut lainnya yang saling tolakmenolak karena muatan yang sama. Akibatnya rambut yang masih bermuatan listrik
menjadi acak- acakan, tidak rapid an sulit diatur. Supaya rambut mudah diatur, rapi
muatan listrik itu harus di hilangkan dahulu.
2.2.1.12.Botanical extrac[6]
Beberapa ekstrak tumbuhan digunakan dalam shampoo, antara lain algae
extrac, aloe extrac, Chamomile extrac, dll.
2.2.1.13.Chelating agent/ Sequestran[6]
Untuk mencegah pembentukan kapur sabun, ada dua pertimbangan, yaitu
pembentukan sabun kalsium/magnesium tidak larut saat shampoo dicampur dengan
air sadah, dan pengendapan lapisan sabun kapur saat rambut bershampo dibilas
dengan air sadah. Pada kasus terakhir, batas-batas bagian shampoo mungkin dibilas
denagn sebanyak 25-50 bagian akhir. Bahan-bahan ini juga untuk mencegah
pengendapan garam kalsium dan karenanya menjadi sangat penting dalam shampoo
busa. Mengingat keefektifan

bahan pendispersi tergantung pada aktifitas

permukaannya, sequestrant memiliki efek kimia murni. Sequestrant menahan


kalsium dan ion logam polyvalent lainnya menjadi kompleks larut air yang stabil,
dan melalui cara ini mencegah pembentukan garam kalsium yang tidak larut. Bahkan
penambahan sejumlah kecil ( 1%) dari sequestrant akan menjernihkan semua kabut
karena air yang kaya akan kalsium dari sabun shampo dan juga mencegah flokulasi
yang dapat terjadi pada botol oleh pelepasan garam kalsium.

11

2.2.1.14.Antioksidan[6]
Antioksidan yaitu untuk mencegah terjadinya oksidasi, oksidasi dapat
menyebabkan bau parfum berubah, warna menjadi pucat. Untuk menjaga stabilitas
dan tidak berubah maka perlu ditambahkan antioksidan pada shampoo seperti
vitamin E, vitamin E asetat.

2.2.1.15.Ultraviolet absorben[6]
Merupakan zat yang dapat menyerap sinar UV, pada shampo dengan botol
transparan mudah ditembus sinar, apalagi shampo dipajang dishow case toko yang
terkena langsung sinar matahari. Sebagai bahan ultraviolet absorbent dalam shampo
adalah uvnul D 50 (Benzophenon 2) dan bhenzophenon 5.
2.2.2. Evaluasi Shampo
2.2.2.1. Evaluasi Sediaan Fisik[7]
Organoleptis[7]
Analisis organoleptis dilakukan dengan mengamati perubahan-perubahan
bentuk, bau, dan warna sediaan sampo. Pengamatan dilakukan setiap minggu selama
8 minggu penyimpanan.
Pengukuran Drajat Keasaman (pH) [7]
Pengukuran pH sediaan sampo dilakukan dengan menggunakan pH meter
digital, dengan cara terlebih dahulu diencerkan dengan air suling dengan
perbandingan 1 : 10. Elektroda pada pH meter digital dicelupkan ke dal am larutan
sampai menunjukkan angka yang stabil. Pengukuran dilakukan seminggu sekali
selama 8 minggu penyimpanan.
Viskositas dan Sifat Alir[7]
Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan alat Brookfield.
Caranya adalah dengan menempatkan sediaan sampo antiketombe yang akan
diperiksa dalam gelas piala (200 mL), kemudian diletakkan dibawah alat
viskometer Brookfield model LV dengan tongkat pemutar (spindel) yang sesuai.
Spindel dimasukkan ke dalam sediaan sampai terendam. Pengukuran dilakukan
setiap minggu selama 8 minggu penyimpanan.
Pengukuran Tinggi Busa[7]

12

Sediaan sampo dibuat larutannya 1% dalam air. Kemudian dimasukkan


kedalam gelas ukur bertutup, dan dikocok selama 20 detik dengan cara membalikkan
gelas ukur secara beraturan. Kemudian diukur tinggi busa yang terbentuk.
Pengukuran dilakukan setiap minggu selama 8 minggu penyimpanan.
Pengukuran Tegangan Permukaan[7]
Pengukuran Tegangan Permukaan sediaan sampo dilakukan dengan menggunakan
alat Stalagnometer (metode berat tetes), sebagai berikut :
a. Menentukan kerapatan air (sebagai standar) dan kerapatan sediaan sampo

menggunakan Piknometer.
b. Memasukkan air ke dalam Stalagnometer.
c. Memasukkan Stalagnometer ke dalam termostat pada temperatur sebesar 250C.

d. Menghitung jumlah tetesan yang jatuh dari Stalagnometer.


e. Pengukuran dilakukan setiap minggu selama 8 minggu penyimpanan.
Penentuan Aktivitas Pertumbuhan Rambut[9]
Cukur rambut pada punggung kelinci sampai bersih. Bagi menjadi empat
bagian/kotak persegi dengan sisi 2,5 cm. Pencukuran rambut dan pembagian
punggung kelinci adalah sebagai berikut :
Kotak 1 : ekstrak tumbuhan konsentrasi a
Kotak 2 : ekstrak tumbuhan konsentrasi b
Kotak 3 : kontrol negatif
Kotak 4 : kontrol positif
Oleskan bahan uji (kontrol negatif, kontrol positif, dan ekstrak tumbuhan pada
setiap kotak 2 kali sehari pagi dan sore. Setiap

pengolesan sebanyak 0,5 ml

menggunkana spuit tanpa jarum).


Amati pertumbuhan rambut hewan uji pada hari ke 9 dan 18, dengan cara
mencabut dan mengukur panjang rambut hewan uji.

Pencabutan secara acak

sebanyak kurang lebih 20 helai setiap bagian, kemudian pilih yang terpanjang.
Data statistik panjang rambut kelinci per hari : Panjang rambut hari ke 18
panjang rambut hari ke 9

2.2.2.2. Evaluasi Stabilitas Dipercepat[8]


Pengujian stabilitas fisika sahmpo dilakukan pada suhu penyimpanan 42 oC,
suhu kamar dan suhu 402oC. tujuan dilakukan pengujian stabilitas fisik adalah

13

untuk mengetahui apakah terjadi perubahan pada stabilitas fisik sediaan disimpad
selama disimpan 12 minggu pada suhu yang berbeda- beda. Parameter kestabilan
yang diukur adalah homogenitas, warna, baud an pH, tiap 2 minggu selama 12
minggu. Sementara parameter viskositas diperiksa pada minggu ke -0 dan minggu ke
12.
2.2.2.3. Evaluasi Keamanan [7]
Uji Tempel (Patch Test) [7]
Uji keamanan sediaan sampo dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan
sampo pada kulit punggung kelinci, bulu dilokasi tersebut dikerok seluas lebih
kurang 25 cm. Sediaan sampo yang akan diuji dibuat menjadi larutan 2% dalam air,
kemudian baru dioleskan ke lokasi lekatan. Lokasi lekatan dibiarkan terbuka selama
24 jam, dan reaksi kulit yang terjadi diamati. Pengamatan dilakukan setiap hari
selama 3 hari berturut-turut.
Uji Iritasi terhadap Mata[7]
Sebagai binatang percobaan digunakan mata kelinci, dan sebagai sediaan uji
adalah larutan sediaan sampo 10% dalam air. Sebanyak 0,1 mL sediaan yang telah
diencerkan, diteteskan ke dalam salah satu kelopak mata kelinci dan kelopak mata
yang satunya lagi digunakan sebagai kontrol. Pengamatan dilakukan dengan
pertolongan lampu senter selama 1 7 hari setelah penetesan, meliputi reaksireaksi
yang terjadi pada kornea, iris, dan konjungtiva mata.
Reaksi yang terjadi pada kornea, terlihat dengan adanya kekeruhan pada iris
dan berubahnya ukuran pupil atau bahkan adanya pendarahan pada iris. Sedangkan
reaksi yang terjadi pada konjungtiva adalah timbulnya kemerahan, pembengkakan,
dan penutupan kelopak mata.

2.3.

Shampo Penyubur Rambut


Shampo penyubur rambut merupakan shampoo dengan tambahan bahan aktif

untuk mengurangi Hair loss yang sering dikenal sebagai androgenetic alopecia atau
juga dikenal sebagai kebotakan. Dua factor yang menentukan dalam hal kebotakan
terutama pada pria adalah factor genetika dan androgen. Faktor genetic sangat luas
hal kaitannya dengan kebotakan, folikel rambut terminal yang aktif pada kepala
menjadi sensitive terhadap androgen setelah beberapa waktu. Setiap folikel rambut

14

terminal siklusnya diatur oleh genetic. Ketika pemprograman terhenti, pengaruh


androgen dihidrotestoteron menjadi besar folikel rambut terminal yang selanjutnya
bertransformasi menjadi folikel rambut vellus yang kecil.[13]
Hair Loss
Androgenic alopecia adalah penyebab paling umum kehilangan rambut dan
menipis pada manusia. Varian muncul baik pada pria maupun wanita. Androgenic
alopecia juga terjadi pada simpanse dan orangutan. Pada manusia, kondisi ini juga
biasa dikenal sebagai pola kebotakan laki-laki. Pada pola kebotakan klasik, rambut
hilang dalam pola yang jelas, dimulai diatas kedua pelipis. Rambut juga
mengencerkan di puncak kepala. [12]
Androgen adalah penting untuk perkembangan seksual yang normal laki-laki
sebelum kelahiran dan selama masa pubertas. Androgen juga memiliki fungsi
penting lainnya dalam pria dan wanita, seperti mengatur pertumbuhan rambut dan
dorongan seksual. Kebotakan pola pria disebabkan oleh sensitivitas genetik folikel
rambut menjadi DHT. Hormon ini menyebabkan folikel untuk mengecilkan atau
miniaturirasi. Pada gilirannya, ini lebih pendek jangka hidup mereka dan
mencegah mereka dari memproduksi rambut secara normal. [12]
Baru-baru ini teori yang ada telah ditantang dengan alasan bahwa sementara
androgen yang bersangkutan bertanggung jawab untuk pertumbuhan rambut pada
wajah dan seluruh tubuh pria, rambut rontok hanya terjadi di bagian atas kulit
kepala. Sebagai contoh, telah menyarankan bahwa alopesia androgenik adalah
konsekuensi dari efek anabolik dari androgen seperti perubahan hormon
menyebabkan perubahan struktural dalam kulit dan kulit kepala yang pada gilirannya
menyebabkan hilangnya rambut. [12]
Banyak penelitian menyangkut komponen genetik kebotakan pola pria, atau
androgenic alopecia (AGA). Penelitian menunjukkan bahwa beberapa gen yang
terlibat dalam kerentanan terhadap prematur kebotakan pola pria adalah X-linked,
yang berarti terkait dengan gen pada kromosom-X. Gen lain yang tidak berhubungan
dengan seks juga terlibat, namun. Pria yang ayahnya memiliki rambut rontok
berpengalaman adalah 2,5 kali lebih mungkin mengalami rambut rontok sendiri,
terlepas dari sisi ibu keluarga. [12]

15

Pria dengan androgenic alopecia biasanya memiliki tingkat yang lebih tinggi
5-alpha-reductase, rendahnya tingkat testosteron total, tingkat yang lebih tinggi
terikat / testosteron bebas, dan tingkat tinggi androgen bebas total termasuk DHT. 5alpha-reductase bertanggung jawab untuk mengubah testosteron bebas menjadi
DHT. Gen-gen selama 5-alpha-reductase dikenal . Enzim yang hadir terutama di
kulit kepala dan prostat. Tingkat 5-alpha-reductase adalah salah satu faktor dalam
menentukan kadar DHT di kulit kepala. [12]
Obat-obat yang mengganggu dengan 5-alpha-reductase (seperti finasteride,
yang menghambat jenis isoform 2 dominan) telah disetujui oleh FDA sebagai
pengobatan untuk rambut rontok. Seks hormon binding globulin (SHBG), yang
bertanggung jawab untuk mengikat testosteron dan mencegah bioavailabilitas dan
konversi ke DHT, biasanya lebih rendah pada individu dengan DHT tinggi. SHBG
yang menurunkan regulasi oleh insulin. [12]
Peningkatan kadar insulin Pertumbuhan Faktor-1 (IGF-1) telah berhubungan
dengan titik botak. Tingginya kadar insulin mungkin tampaknya link antara sindrom
metabolik dan kebotakan. Rendahnya tingkat SHBG pada pria dan wanita yang tidak
hamil juga berkorelasi dengan intoleransi glukosa dan risiko diabetes, meskipun
korelasi ini menghilang selama kehamilan. [12]
Seiring bertambahnya usia, risiko memiliki rambut rontok terlihat meningkat
sehingga pada usia 20 tahun, 20% orang memiliki setidaknya beberapa kerontokan
rambut terlihat dan pada usia 50, 50% orang memiliki setidaknya beberapa
kerontokan rambut terlihat. Counterintuitively, proses penuaan yang sama diikuti
oleh penurunan sama linier dalam 1) Testosteron serum, 2) DHT dan 5-alpha
reduktase, dan 3) 3AAG (penanda perifer metabolisme DHT) dan peningkatan linear
sama serupa pada SHBG. Selanjutnya, tingkat reseptor androgen juga telah terbukti
menurunkan di kulit kepala dengan usia. [12]
Penurunan androgen, reseptor androgen dan peningkatan seiring dalam
SHBG merupakan paradoks dengan peningkatan rambut rontok dengan usia sebagai
Testosteron dan metabolisme DHT perifer diperkirakan mempercepat rambut rontok
dan SHBG diperkirakan melindungi terhadap kerontokan rambut. Rasio T / SHBG,
DHT / SHBG menurun sebanyak sekitar 80% pada usia 80 sehingga efek usia pada

16

hormon adalah sebagai dramatis karena pada rambut rontok dan sekitar perubahan
diharapkan dari antiandrogen seperti finasteride. [12]
Rekonsiliasi paradoks ini belum dilakukan dan mungkin memerlukan
pemahaman yang lebih baik dari reseptor androgen pada kulit, dan menguraikan
mekanisme rambut rontok dan memperoleh pemahaman yang lebih baik dari
sumber-sumber hormon di dalam darah yaitu, kulit, jaringan hati, adiposa dll Yang
menarik, meskipun testosteron bebas menurun secara drastis pada usia 80, tingkat
masih dua kali lipat dengan wanita usia 20 dan adalah mungkin bahwa minimum
yang dibutuhkan dosis testosteron untuk mempertahankan rambut rontok di bawah
ini. [12]
Satu teori, dikemukakan oleh Muscarella dan Cunningham, menunjukkan
kebotakan terjadi pada pria melalui seleksi seksual sebagai sinyal ditingkatkan
penuaan dan kematangan sosial, dimana agresi dan mengambil risiko penurunan dan
memelihara perilaku meningkat. Ini mungkin menyampaikan seorang laki-laki
dengan status sosial yang ditingkatkan tetapi mengurangi ancaman fisik, yang dapat
meningkatkan kemampuan untuk mengamankan mitra reproduksi dan meningkatkan
keturunan menjadi dewasa. [12]
Dalam sebuah studi oleh Muscarella dan Cunnhingham, pria dan wanita
dilihat enam model pria dengan berbagai tingkat rambut wajah (jenggot dan kumis
atau tidak ada) dan rambut kranial (kepala penuh rambut, surut dan botak). Peserta
dinilai setiap kombinasi pada 32 kata sifat yang berhubungan dengan persepsi sosial.
Pria dengan rambut wajah dan mereka dengan rambut botak atau mundur dinilai
sebagai yang lebih tua dari mereka yang dicukur bersih atau memiliki kepala penuh
rambut. Jenggot dan kepala penuh rambut terlihat sebagai lebih agresif dan kurang
sosial matang, dan kebotakan dikaitkan dengan kematangan sosial lebih. Sebuah
tinjauan persepsi sosial kebotakan pola pria telah disediakan oleh Henss (2001).[12]
2.3.1. Praformulasi Shampo Penyubur Rambut
Berikut adalah formula sampo penyubur rambut yang penulis rancang, dapat
dilihat pada Tabel 2.3.
Tabe 2.3.Formula shampoo cair
NO

Bahan

Jml. %

17

Fungsi

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Cocamide DEA
Polydimethylsiloxane
Methyl paraben
Prophyl paraben
Minyak Tanjung
Sodium Laureth Sulfate
Tetrasodium EDTA
CMC- Na
Retinoida
Minoxidil
Air

4
1
0,15
0,05
QS
10
0,1
3
0,1
3
ad 100

Foam Booster
Conditioner
Pengawet
Pengawet
Parfum
Cleansing Agent
Chelating Agent
Thickening Agent
Zat Aktif
Zat Aktif
Pelarut

2.3.2. Monografi bahan baku


Cocamide DEA
Cocamido DEA atau cocamide dietanolamine, merupakan dietanolamin yang dibuat dengan
mereaksikan asam lemak dari coconut oil dengan dietanolamin. Pemerian cairan kental
berwarna kuning larut dalam air, titik leleh < 10 oC. Titik didih : 169- 275 oC, pH 9 (dalam
1 % larutan).
Polydimethylsiloxane
Appearance Clear, colorless, viscous, and oily liquid; Physical state Liquid. Form Liquid.
Odor Odorless or slight odor; Melting point/freezing point -58 F (-50 C); Initial boiling
point and boiling range > 600.8 F (> 316 C); Flash point 384.80 F (196.00 C) (closed
cup); Upper/lower flammability or explosive limits; Vapor pressure < 5 mm Hg; Solubility
in water Insoluble and immiscible. Partition coefficient (n-octanol/water) 2.6 - 4.25; Density
0.94 g/cm3; Kinematic viscosity 1000 mm2/s; Molecular formula (C2H6OSi)n; Molecular
weight 71.8 - 547.1 kg/mol; Solubility (other) Immiscible with alcohol; miscible with
chloroform and with ether; Specific gravity 0.967.
Methyl paraben
Sinonim : Solbrol M, Tegosept M, Nipagin M.
Rumus empirik : C8H8O3
Berat molekul : 152,15
Fungsi : antimikroba untuk sediaan topikal 0,02%-0,3%
Pemerian : kristal putih, tidak berbau, panas
Kelarutan : etanol 1:2, gliserin 1:60, air 1:400,
OTT : besi, mengalami hidrolisis dengan basa lemah dan asam kuat.
Prophyl paraben
Warna: Putih, Rasa: Tidak berasa, Bau: Tidak berbau, Pemerian: Serbuk hablur putih,
Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air, larut dalam 3,5 bagian etanol(95%)P, dalam 3
bagian aseton P, dalam 140 bagian gliserol P, dandalam 40 bagian minyak lemak, muda larut
dalam larutan alkali, Titik didih: 95 oC 98oC, Bobot jenis: 180,21 g/molh.Stabilitas: Lebih
mudah terurai dengan adanya udara dari luar.
Sodium Laureth Sulfate
Nama IUPAC : Sodium dodecyl sulfate

18

Nama lain : Sodium monododecyl sulfate; Sodium lauryl sulfate; Sodium monolauryl
sulfate; Sodium dodecanesulfate; dodecyl alcohol, hydrogen sulfate, sodium salt; n-dodecyl
sulfate sodium; Sulfuric acid monododecyl ester sodium salt;
Rumus molekul NaC12H25SO4
Massa molar

288.38 g mol1

Densitas

1.01 g/cm

Titik lebur

206 C

Larut dalam air.


Tetrasodium EDTA
About TETRASODIUM EDTA: EDTA (ethylenediaminetetraacetic acid) is a chelating
agent, used to sequester and decrease the reactivity of metal ions that may be present in a
product.
Function(s): Chelating Agent
Synoym(s):

EDETATE

TETRASODIUM

SODIUM;

SALT;

(CARBOXYMETHYL)

ETHYLENEDIAMINETETRAACETIC

GLYCINE,

N,N

TETRASODIUM

ACID

1,2ETHANEDIYLBIS
SALT;

GLYCINE,

[N

N,N'-1,2-

ETHANEDIYLBIS [N- (CARBOXYMETHYL) -, TETRASODIUM SALT; N,N'-1,2ETHANEDIYL BIS [N- (CARBOXYMETHYL) GLYCINE, TETRASODIUM SALT;
N,N'-1,2-ETHANEDIYLBIS [N- (CARBOXYMETHYL) - TETRASODIUM SALT
GLYCINE;

N,N'-1,2-ETHANEDIYLBIS

TETRASODIUM

SALT;

TETRAHYDRATE;

SODIUM

TETRASODIUM

[N- (CARBOXYMETHYL)
EDETATE;
EDETATE;

GLYCINE]

TETRASODIUM
TETRASODIUM

EDE

TATE

EDETATE

DIHYDRATE
White crystalline powder. Solubility in water 1030 g/L, Melting Point >300, Density 6.9
g/cm3. Stability : Stable under normal temperatures and pressures.. Incompatibilities :
Strong oxidizing agents.
CMC-Na
Warna

: putih sampai krem

Rasa

: Tidak berasa

Bau

: Tidak berbau

Pemerian

: Serbuk/granul

Kelarutan

: Mudah terdispersi dalam air (dalam berbagai suhu), praktis tidak larut

dalam aseton, etanol, eter dan toluen


Titik lebur

: 2270 dalam keadaan terbakar 2520 C

Pka/Pkb

: 430

19

Bobot jenis

: 0,78 g /cm3

pH larutan

: 7 sampai 9

Stabilitas

: Bersifat stabil meskipun bahan yang tidak higroskopik dalam bentuk

larutan stabil pada pH 2 10, secara umum stabilitas dalam larutan berkisar pada pH 7-9
Inkompatibilitas

: Tidak bercampur dengan asam kuat, logam seperti Alumunium

presipitas terjadi pada pH<2 dan ketka tercampur dengan etanol (95%) P Na-CMC dapat
membentuk kompleks dengan gelatin dan pectin
Fungsi : pengental
Retinoida
Perian kristalin padat, kelarutan 0,5 mg/ml dalam etanol, Freezing/Melting Point: 174 deg C
( 345.20F), Solubility in water: Insolubl, Molecular Formula: C20H28O2, Molecular
Weight: 300.44. Stabilitas : Stable at normal temperatures in tightly closed containers under
an inert atmosphere. Light sensitive. Inkomapatabiliti dengan senyawa pengoksidasi kuat.

Minoxidil
Sinonim : 6-(1-Piperidinyl)pyrimidine2-4-diamine 3-oxide; 2,3-Dihydro-3-hydroxy-2imino-6-(1-piperidinyl)-4-pyrimidinamine; 2,4-Diamino-6-piperidinopyrimidine 3-N-oxide;
2,4-Diamino-6-piperidinopyrimidine 3-oxide; 2,4-Pyrimidinediamine, 6-(1-piperidinyl)-, 3oxide; 6-Amino-1,2-dihydro-1-hydroxy-2-imino-4-piperidinopyrimidine; 6-Piperidino-2,4diaminopyrimidine 3-oxide. Pemerian serbuk putih, tidak berbau, BM 209.25 g/mole, titik
didih terurai pada temperature: 259C (498.2F) - 261 oC, titik leleh 248C (478.4F),
Kelarutan dalam air dan alkohol

Air
Air yang dibebaskan sesempurna mungkin dari zat anorganik ( mineral ) dibuat dengan
penukar ion yang cocok.
Pemerian

Berupa cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau.

Kelarutan

Bercampur dengan larutan polar.

Fungsi

Pelarut

2.3.3. Prosedur Pembuatan


a.
Gunakan Homomixer
b.
Larutkan Cleansing Agent dan foam booster ke dalam air,
Aduk dan panaskan hingga70- 75 oC
c.
Setelah larut dinginkan

20

d.
e.

Tambahkan zat pengawet dan zat tambahan lainnya


Masukan parfum dan aduk

2.3.4. Pengemasan
Kemasan : tertutup rapat tidak tembus cahaya.

21

BAB III
PEMBAHASAN

Tabel 3.1. Perbandingan Formula Shampo Cair


Bahan
Texapon cair

F1[7]
10

Konsentrasi %
F2[11]
F3

Fungsi
Cleansing agent/ surfactant

Karakteristik Bahan
Texapon

NSO,

Natriumlaurylethersulfat-Lsung

(konserviert);

Form:

liquid;

Colour:

colourless;

27%
Odour:

odourless; Melting point / melting range: Floatpoint > 0C (DIN


ISO 3016-94); Density: 0,9-1,1 g/cc; Solubility in / Miscibility
with, Water unlimited miscible; pH-value: 6,4 - 7,5; Viskosity:
(dynamic) < 200 mPas
Cocamide DEA

Foam Booster

Cocamido DEA atau cocamide dietanolamine, merupakan


dietanolamin yang dibuat dengan mereaksikan asam lemak dari
coconut oil dengan dietanolamin. Pemerian cairan kental
berwarna kuning larut dalam air, titik leleh < 10 oC. Titik didih :

CAB-30

Foam Booster

169- 275 oC, pH 9 (dalam 1 % larutan).


INCI name: Cocamidopropyl Betaine; Lauroamidopropyl
Betaine ; 1, Good compatibility with anionic, cationic, nonionic
and other amphoteric surfactants; 2, Good softness, rich and
stable foam; 3, Perfect decontamination, conditioning, antistatic

23

performance, good adjustment of


Viscosity; 4, It retains stable within a wide range of PH values,
and low irritation to skin and eye; 5, Added in shampoo, it is
matched with other active matter, and brings forth obvious
conditioning and thickening effects.
The recommended dosage is:
1) 2-12% in shampoo and bubble bath.
2) 1-2% in the cosmetics.
Appearance,25: White to yellowish clear liquid
Active matter, %: 302
Sodium chloride, %: 6.0 max.
Polydimethylsiloxane

Conditioner

Ph value (25, 5% Am.aq.sol): 5.0-7.0


Appearance Clear, colorless, viscous, and oily liquid; Physical
state Liquid. Form Liquid. Odor Odorless or slight odor;
Melting point/freezing point -58 F (-50 C); Initial boiling
point and boiling range > 600.8 F (> 316 C); Flash point
384.80 F (196.00 C) (closed cup); Upper/lower flammability
or explosive limits; Vapor pressure < 5 mm Hg; Solubility in
water Insoluble and immiscible. Partition coefficient (noctanol/water)

2.6 - 4.25; Density 0.94 g/cm3; Kinematic

viscosity 1000 mm2/s; Molecular formula (C2H6OSi)n;


Molecular weight 71.8 - 547.1 kg/mol; Solubility (other)
24

Immiscible with alcohol; miscible with chloroform and with


EDTA- Na2
Methyl paraben

0,1
0,15

0,15

Chelating Agent

ether; Specific gravity 0.967.


Kristalin serbuk berwarna putih. Titik leleh diatas 220 oC.

Preservative

mudah larut dalam air.


Sinonim : Solbrol M, Tegosept M, Nipagin M., Rumus empirik :
C8H8O3, Berat molekul : 152,15, Fungsi : antimikroba untuk
sediaan topikal 0,02%-0,3%, Pemerian : kristal putih, tidak
berbau, panas, Kelarutan : etanol 1:2, gliserin 1:60, air 1:400,
OTT : besi, mengalami hidrolisis dengan basa lemah dan asam

Prophyl paraben

0,05

0,2

0,05

Preservative

kuat.
Warna: Putih, Rasa: Tidak berasa, Bau: Tidak berbau, Pemerian:
Serbuk hablur putih, Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air,
larut dalam 3,5 bagian etanol(95%)P, dalam 3 bagian aseton P,
dalam 140 bagian gliserol P, dandalam 40 bagian minyak lemak,
muda larut dalam larutan alkali, Titik didih: 95 oC 98oC, Bobot
jenis: 180,21 g/molh.Stabilitas: Lebih mudah terurai dengan

NaCl

3,3

Thickener

adanya udara dari luar.


Nama sinonim : Sodium Chliride; Fungsi : Tablet, kapsul
diluent, agen tonisitas; Pemerian : Kristal putih atau serbuk

Minyak Tanjung
Air

QS
Ad

Ad 100

QS
Ad 100

Parfume
Solubilizer

100

tidak berwarna, berasa asin; pH : 6,7- 7,3; Titik leleh : 1413 oC


Air yang dibebaskan sesempurna mungkin dari zat anorganik
( mineral ) dibuat dengan penukar ion yang cocok.

25

Pemerian : Berupa cairan jernih, tidak berwarna, tidak


berbau. Kelarutan : Bercampur dengan larutan polar. Fungsi :
Sodium Laureth Sulfate

10

Tetrasodium EDTA

10

0,1

Cleansing agent/ surfactant

Chelating Agent

Pelarut
Nama IUPAC : Sodium dodecyl sulfate
Massa molar

288.38 g mol1

Densitas

1.01 g/cm

Titik lebur

206 C

Larut dalam air.


About
TETRASODIUM

EDTA:

EDTA

(ethylenediaminetetraacetic acid) is a chelating agent, used to


sequester and decrease the reactivity of metal ions that may be
present in a product.
Function(s): Chelating Agent
White crystalline powder. Solubility in water 1030 g/L, Melting
Point >300, Density 6.9 g/cm3. Stability : Stable under normal
temperatures and pressures.. Incompatibilities : Strong oxidizing
Citric Acid

Qs

Chelating Agent

agents.
Pemerian hablur bening tidak berwarna atau serbuk hablur
granul sampai halus, putih, tidak berbau atau praktis tidak
berbau, rasa sangat asam, bentuk hidrat mekar dalam udara
kering. Kelarutan sangat mudah larut dalam air, mudah larut
dalam etanol, sukar larut dalam ester.20
Kegunaan dalam bidang farmasi : Sequistering agent 0,3-2,0 %;

26

larutan buffer 0,1-2,0 %; penimbul rasa pada sediaan cair 0,32,0 %. Penyimpanan dalam wadah tertutup rapat. Pada
temperatur kamar, asam sitrat berbentuk serbuk kristal berwarna
CMC-Na

Thickening Agent

putih.
Warna : putih sampai krem, Rasa : Tidak berasaBau : Tidak
berbau; Pemerian : Serbuk/granul; Kelarutan : Mudah
terdispersi dalam air (dalam berbagai suhu), praktis tidak larut
dalam aseton, etanol, eter dan toluene; Titik lebur: 2270 dalam
keadaan terbakar 2520 C; Pka/Pkb: 430; Bobot jenis: 0,78 g
/cm3; pH larutan: 7 sampai 9, Stabilitas: Bersifat stabil
meskipun bahan yang tidak higroskopik dalam bentuk larutan
stabil pada pH 2 10, secara umum stabilitas dalam larutan
berkisar pada pH 7-9, Inkompatibilitas : Tidak bercampur
dengan asam kuat, logam seperti Alumunium presipitas terjadi
pada pH<2 dan ketka tercampur dengan etanol (95%) P NaCMC dapat membentuk kompleks dengan gelatin dan pectin,

Menthol

0,25

Fragrance

Fungsi : pengental
Description.The U. S. P. describes menthol as forming
"colorless, acicular or prismatic crystals, having a strong and
pure odor of peppermint, and a warm, aromatic taste, followed
by a sensation of cold when air is drawn into the mouth.
Menthol is only slightly soluble in water, but imparts to the

27

latter its odor and taste. It is freely soluble in alcohol, ether,


chloroform, carbon disulphide, or glacial acetic acid. It melts at
43 C. (109.4 F.) to a colorless liquid, boils at 212 C. (413.6
F.), and volatilizes slowly at the ordinary temperature. When it
is triturated with about an equal weight of camphor, thymol, or
chloral hydrate, the mixture becomes liquid. Its alcoholic
solution is neutral to litmus paper, and deviates polarized light to
the left"(U. S. P.). Chemically, menthol is a secondary alcohol
of the formula C6H3(OH)CH3C3H7.H6, or hexa-hydro-oxypara-cymene, yielding, upon oxidation, a mobile, dextrorotatory fluid (menthone, C10H18O), which is a ketone, and
bears the same relation to menthol as Japan camphor does to
borneol (see Camphora). Reversedly, menthol may be obtained
from menthone by reduction with metallic sodium. The
hydrocarbon (menthene, C10H18) is obtained by heating
Retinoida

0,1

Active Ingradient

menthol with zinc chloride, or other dehydrating agents.


Perian kristalin padat, kelarutan 0,5 mg/ml dalam etanol,
Freezing/Melting Point: 174 deg C ( 345.20F), Solubility in
water: Insolubl, Molecular Formula: C20H28O2, Molecular
Weight: 300.44. Stabilitas : Stable at normal temperatures in
tightly closed containers under an inert atmosphere. Light
sensitive. Inkomapatabiliti dengan senyawa pengoksidasi kuat.

28

Minoxidil

Active Ingradient

Sinonim : 6-(1-Piperidinyl)pyrimidine2-4-diamine 3-oxide; 2,3Dihydro-3-hydroxy-2-imino-6-(1-piperidinyl)-4pyrimidinamine;


oxide;

2,4-Diamino-6-piperidinopyrimidine

2,4-Diamino-6-piperidinopyrimidine

3-oxide;

3-N2,4-

Pyrimidinediamine, 6-(1-piperidinyl)-, 3-oxide; 6-Amino-1,2dihydro-1-hydroxy-2-imino-4-piperidinopyrimidine;

6-

Piperidino-2,4-diaminopyrimidine 3-oxide. Pemerian serbuk


putih, tidak berbau, BM 209.25 g/mole, titik didih terurai pada
temperature: 259C (498.2F) - 261 oC, titik leleh 248C
(478.4F), Kelarutan dalam air dan alkohol
Keterangan :
F1 : Formula literature 7 Formula 0
F2 : Formula dari literatur 11 formula 0
F3 : Formula Penulis

29

Tabel 3.2 Karakteristik Shampo Cair


Formul

Karakteristik

a
F1[7]

Karakteristik sabun hasil formulasi yaitu warna jernih, Kental, Aroma

F2 [11]

Bunga tanjung
shampo dengan tekstur cair yang sedikit kental sehingga mudah dituang.

F3

Shampo formula berwarna, aroma khas menthol.


Perkiraan karakteristik sabun yaitu warna bening/ keruh kekuningan dan
konsistensi kental, aroma khas bunga tanjung.
Berdasarkan Formula 1 data tersebut dapat diketahui hasil formulasi sediaan

sampo yang dibuat berbentuk larutan kental sediaan sampo berwarna transparan.
minyak tanjung ke dalam formula menyebabkan adanya bau khas pewangi bunga
tanjung pada sediaan sampo. Berdasarkan stabilitas dapat diketahui bahwa sediaan
tidak mengalami perubahan warna dan tetap beraroma bunga tanjung, selama 8
minggu penyimpanan tetap stabil berwarna bening. Hal ini disebabkan karena
adanya zat pengawet pada sediaan sampo yang dapat mencegah penguraian bahanbahan komponen penyusun formula sehingga pertumbuhan mikroorganisme dapat
dihambat oleh zat pengawet tersebut. Pada Formula 1

dapat diketahui, bahwa

kestabilan tinggi busa sediaan sampo selama waktu penyimpanan cukup stabil,
walaupun mengalami naik turun tinggi busa tetapi tidak signifikan. Persyaratan pH
dalam pustaka yaitu berkisar antara 3,9 9,5 dan nilai pH sampo yang terbaik berada
dalam rentang 6 7. Semua sediaan sampo yang diuji memiliki pH rata-rata antara
5,3444 7,3667. Hal ini berarti sediaan sampo yang dibuat telah memenuhi
persyaratan pH sampo. Sampo yang diuji pada formula 1 memiliki viskositas ratarata antara 25,8889 81,1852 poise. Walaupun tidak ada batasan rentang viskositas
dalam sampo, namun kekentalan sampo merupakan hal yang penting, supaya sampo
dapat dituang dengan baik. Pada formula 1 bahwa kestabilan tegangan permukaan
sediaan sampo selama waktu penyimpanan cukup stabil, walaupun mengalami naik
turun tegangan permukaan tetapi tidak signifikan. Hal ini disebabkan karena dalam
formula sampo ditambahkan sodium laureth sulfat yang berfungsi sebagai surfaktan
dan pengemulsi yang dapat menurunkan tegangan permukaan sediaan sampo
menjadi stabil.

30

Hasil pembuatan shampo pada formula 2 didapatkan shampo dengan tekstur


cair yang sedikit kental sehingga mudah dituang. Hasil pengamatan organoleptis
shampo dengan tekstur cair yang sedikit kental sehingga mudah dituang. Shampo
formula berwarna, aroma khas menthol. Selama 4 minggu penyimpanan tidak
mengalami perubahan bentuk, warna, dan bau, artinya sediaan tidak memisah dan
tetap homogen. Hal ini disebabkan karena formula sampo yang dibuat mengandung
surfaktan. Selain sebagai zat pembersih, surfaktan juga berguna sebagai zat
pengemulsi untuk menstabilkan bentuk sediaan shampo.
Pengukuran pH bertujuan untuk mengamati adanya perubahan pH yang
mungkin terjadi. pH berhubungan dengan stabilitas zat aktif, efektifitas pengawet
dan keadaan kulit. Pengukuran pH dilakukan pada rentang waktu 4 minggu. Hasil
pengukuran pH sediaan shampo antiketombe menunjukan pH 7 dan pada
penyimpanan selama 4 minggu tidak terjadi perubahan pH sediaan untuk formula 2.
Penambahan asam sitrat membuat pH sampo menjadi netral, dan pengaruh
penambahan ekstrak seledri pada sediaan shampo tidak menunjukan perubahan pH
yang artinya ekstrak seledri bersifat stabil dalam penyimpanan.
Hasil dari uji kemampuan membusa menunjukan bahwa adanya peningkatan
daya pembusa. Pengujian viskositas bertujuan untuk mengetahui kekentalan sediaan
shampo antiketombe. Viskositas tersebut diuji dengan menggunakan Viskometer
Brookfield model DV-E, menggunakan spindel 62 dan kecepatan 20 rpm.
Pengamatan viskositas dilakukan selama 4 minggu pada minggu 1 dan 4
menunjukkan adanya penurunan nilai viskositas yang signifikan pada tiap formula
shampo antara minggu ke-1 dengan minggu ke-4. Penurunan viskositas ini
kemungkinan disebabkan karena pemilihan bahan pengental yang kurang tepat pada
formulasi shampo sehingga shampo kurang stabil pada penyimpanan.
Untuk formula 3 merupakan formula penulis yng disusun berdasarkan
formula 1 dan 2 dengan penambahan- penambahan zat aktif untuk mmenyuburkan
rambut. Dimana zat aktif yang digunakan adalah retinoid dan minoksidil.

BAB IV
PENUTUP

31

4.1. Kesimpulan
Formula shampoo cair yang dibuat adalah untuk penyubur rambut dengan
zat tambahan sintetik yaitu retinoid dan minoksidil. Pada formula yang penulis
tulis adalah menggunakan lauryl sulfate dengan foam booster adalah Cocamid
DEA, dan tambahan Polydimethylsiloxane sebagai kodisioner.
4.2. Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi
pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya diharapka agar formula yang
penulis susun agar dapat diformulasikan dan di uji karakteristik serta afikasinya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para
pembaca yang budiman pada umumnya.

Daftar Pustaka

32

1. Tranggono, RI, dan Latifah, F. Buku Pengantar Ilmu Pengetahuan Kosmetik. PT.
Gramedia. Jakarta. 2007. Hal.33-34.
2.

_______.Kerontokan
Rambut.
Tersedia
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31211/4/Chapter%20II.pdf.
Diakses pada [16 Oktober 2014].

3.

Tia. 2002. Sistem Integument (Makalah). Hal. 3-4.

4.

_______.Perawatan
Kulit
Kepala
dan
Rambut.
Tersedia
:
http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._KESEJAHTERAAN_KELUA
RGA/197501282001122-SUCIATI/rambut.pdf. Diakses pada [16 Oktober 2014]

5. Muliyawan, D. dan Suriana, N. A-Z Tentang Kosmetik. Penerbit PT Eleksmedia


Komputindo. Jakarta. 2002
6. Saputra, Sam.J. 2009. Formula Dasar Kosmetika. Jakarta: Grandi Academi
Press. Hal. 6-10.
7. Mitra, S.R. 2009. Pengembangan Ekstrak Etanol Kubis (Brassica oleracea var.
Capitata l. ) Asal Kabupaten Bandung Barat dalam Bentuk Sampo Antiketombe
terhadap Jamur Malassezia furfur. Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.
Bandung. Hal.
8. Tania, Inggrid. 2012. Formulasi, Uji Stabilitas Fisik dan Uji Manfaat Shampoo
Mikroemulsi Minyak Biji Mimba pada Ketombe Drajat Ringan Sedang. Fakultas
MIPA UI Jurusan Herbal. Depok.. Hal. 67
9. Nugraha, LSA. 2011. Uji Kecepatan Pertumbuhan Rambut [makalah]. Tersedia :
http://september.ucoz.com/farmakologi/UJI_KECEPATAN_PERTUMBUHAN_
RAMBUT.pdf. diakses pada [16 oktober 2014]
10. Rohman S, Apriana. 2011. Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Shampoo[Makalah].
Fakultas Farmasi Universitas Ahmad DahlanYogyakarta
11. Mahatrani, Nimas. 2012. Formulasi Shampo Antiketombe Ekstrak Etanol Seledri
(Apium graveolens L) dan Aktivitasnya Terhadap Jamur Pityrosporum ovale.
Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Puwokerto. ISSN 1693-3591.
12. Anjani. 2012. Androgenic Alopecia, Penyebab Kerontokan Rambut. Tersedia:
http://www.mitrakesehatan.com/androgenic-alopecia-penyebab-kerontokanrambut.html. Diakses Pada [17 Oktober 2014].

33

13. Scharader, Karlheinz dan Andreas Domsch. 2005.Cosmeticology Theory &


Practice. Verlah fur Chemische Industrie. German.

TANYA JAWAB

1. Apa tipe shampoo anda ? (Mbak Dewia)


Jawab : tipe shampoo yang saya formulasikan adalah tipe emulsi dikarenakan
ada fase minyak dan air dan karena zat aktif nya larut dalam minyak jadi
dibuatlah emulsi.

34

2. Apa tujuan dari formulasi krim shampoo dan gel shampoo ? (Mbak Rika)
Jawab : Formula shampoo krim & gel ditujukan agar penetrasi zat aktif lebih
lama.
3. Jika shampoo anda merupakan tipe emulsi surfaktan yang mana yang digunakan
! (Pak Andri)
Jawab : surfaktan yang digunakan adalah teksapon yang sekaligus sebagai
cleansing agent.
4. Bagaimana mekanisme kerja zat aktif saudara ! (Pak Subur Widodo)
Jawab : Vitamin A berperan dalam mempercepat pertumbuhan sel folikel
rambut. Dan minoksidil merupakan vasodilator pembuluh darah sehingga
memperlancar aliran darah menuju folikel rambut sehingga nutrisi dan oksigen
ke arah sel folikel rambut semakin banyak. Dan kedua zat aktif tersebut sudah
dipatenkan dalam US Patent.
5. Kenapa shampoo cair harus menggunakan pengental ? (Pak Deni)
Jawab : pengental dalam shampoo agar tidak mudah tumpah atau meluber ketika
dituangkan.

35

Anda mungkin juga menyukai