Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK

PERCOBAAN IV
PEMERIKSAAN KADAR BILIRUBIN
DISUSUN OLEH KELOMPOK 2E

10060311129

Rina Jayanti

10060311131

Dody Arnando

10060311132

Rian Trilaksana Putra

10060311133

Dias Rijaluddin Halim

Tanggal Praktikum

: 15 Oktober 2014

Tanggal Penyerahan : 22 Oktober 2014

Asisten Kelompok

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT A


PROGRAM STUDI FARMASI

DAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2014

PERCOBAAN IV
PEMERIKSAAN KADAR BILIRUBIN

I.

TUJUAN PRAKTIKUM
Dapat melakukan pemeriksaan fungsi hati melalui tes kombinasi
bilirubin
Dapat menginterpretasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh

II.

TEORI DASAR

A. Hati
Hepar atau hati adalah organ terbesar yang terletak di sebelah kanan atas
rongga abdomen. Pada kondisi hidup hati berwarna merah tua karena kaya akan
persediaan darah (Sloane, 2004). Hati terbagi atas dua lapisan utama :
1. Permukaan atas terbentuk cembung, terletak di bawah diafragma.
2. Permukaan bawah tidak rata dan memperlihatkan lekukan fisura
transfersus.
Permukaanya diliputi oleh peritoneum viserial, kecuali daerah kecil pada
permukaan posterior yang melekat langsung pada diafragma. Beberap ligamentum
yang merupakan lipatan peritoneum terdapat jaringan penyambung padat yang

dinamakan kapsula glisson, yang meliputi permukaan interior membentuk rangka


untuk cabang-cabang vena porta, arteri hepatika dan saluran empedu. Selain
merupakan organ yang mempunyai ukuran terbesar, hati juga mempunyai fungsi
yang banyak dan paling komplek. Hati merupakan pertahanan hidup dan berperan
pada hampir setiap fungsi metabolisme tubuh. Hati mempunyai kapasitas
cadangan yang besar dan fungsi jaringan untuk mempertahankan tubuh, hati juga
mempunyai kemampuan regenerasi yang mengagumkan. Kerusakan hati sebagian
pada kebanyakan kasus sel yang mati atau sakit, maka akan diganti dengan
jaringan hati yang baru.
Fungsi hati antara lain:
a. Mengubah zat makanan yang diabsorpsi dari usus dan yang disimpan
disuatu tempat dalam tubuh, dikeluarkan sesuai dengan pemakaian
b.

dalam jaringan.
Mengubah zat buangan dan bahan racun untuk disekresi dalam
empedu dan urin, membersihkan darah sebelum zat-zat toksin tersebut
mencapai organ tubuh yang peka misalnya otak fungsi, hal ini disebut

detoksikasi.
c. Menghasilkan

enzim

glikogenik

glukosa

menjadi

glikogen,

karbohidrat yang diabsorbsi sebagai glukosa disimpan dalam hati


sebagai glikogen. Glukosa dilepaskan sesuai dengan kebutuhan.
d. Sekresi empedu.
e. Pembentukan ureum, golongan asam amino diubah menjadi ureum
yang diekskresi melalui ginjal, rantai karbon yang yang tersisa
mengalami oksidase menjadi CO2 dan air. Sebagian asam amino akan
masuk sirkulasi sistemik dalam jumlah kecil, kadar asam amino yang
tinggi dalam peredaran darah dapat menjadi racun yang merusak
fungsi otak. Asam amino yang berjumlah 22 macam dipergunakan
dalam tubuh sebagai bahanbahan dasar pembangunan protein.
Beberapa asam amino ini tidak dapat dibuat dalam tubuh sehingga
harus diperoleh dari makanan dan disebut sebagai asam amino
esensial. Asam amino lainnya dapat diubah dari satu bentuk lain

dengan bantuan enzimenzim khusus dalam sel-sel tubuh, terutama


dalam sel hati.
f. Menyiapkan lemak untuk pemecahan terakhir asam karbonat dan air,
zat lemak yang dipadukan dengan lesitin akan membentuk fosfolipid,
kolesterol dibuat dihati dari asam asetat, sedangkan esternya
merupakan gabungan kolesterol dengan asam lemak. Lipoprotein
plasma yang mengangkut trigliserida juga dibuat dihati.( Syaifudin,
1999 )
Hati mempunyai multi fungsi yang berkaitan dengan metabolisme maka
gangguan faal hati dapat disebabkan oleh kelainan prahepatik, intra hepatik dan
post-hepatik. Kelainan prehepatik misalnya pada anemi hemolitik, kelainan
intrahepatik

atau

hepatoseluler

misalnya

pada

hepatitis,

cirrhosis

dan

karsinomahepatis. Sedangkan kelainan post hepatik karena adanya tumor


( Hardjono, 2003 ).
Hati mempunyai peranan yang sangat vital dalam proses metabolism dan
detoksifikasi dan eliminasi senyawa toksis. Meskipun adanya kerusakan pada hati
tidak dapat terlihat langsung efeknya, namun mengingat pentingnya peranan hati
maka untuk mendeteksi kerusakan hati perlu dilakukan pengujian di laboraturium.
Salah satu pengujian fungsi hati yang sederhana adalah pemeriksaan kadar
bilirubin.
B. Bilirubin
Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan heme dari
hemoglobin dalam proses pemecahan eritrosit oleh sel retikuloendotel. Disamping
itu sekitar 20% bilirubin berasal dari perombakan zat-zat lain. Sel retikuloendotel
membuat bilirubin tidak larut dalam air, bilirubin yang disekresikan dalam darah
harus diikatkan albumin untuk diangkut dalam plasmamenuju hati. Di dalam hati,
hepatosit melepaskan ikatan dan mengkonjugasinya dengan asam glukoronat
sehingga bersifat larut air, sehingga disebut bilirubin direk atau bilirubin
terkonjugasi. Proses konjugasi melibatkan enzim glukoroniltransferase, selain

dalam bentuk diglukoronida dapat juga dalam bentuk monoglukoronida atau


ikatan dengan glukosa, xylosa dan sulfat. Bilirubin terkonjugasi dikeluarkan
melalui proses energi kedalam sistem bilier. (Joy ce, 2007).
1. Macam dan sifat bilirubin :
a. Bilirubin terkonjugasi /direk
Bilirubin terkonjugasi /direk adalah bilirubin bebas yang bersifat larut
dalam air sehingga dalam pemeriksaan mudah bereaksi. Bilirubin
terkonjugasi (bilirubin glukoronida atau hepatobilirubin ) masuk ke saluran
empedu dan diekskresikan ke usus. Selanjutnya flora usus akan
mengubahnya menjadi urobilinogen. Bilirubin terkonjugasi bereaksi cepat
dengan asam sulfanilat yang terdiazotasi membentuk azobilirubin.
Peningkatan kadar bilirubin direk atau bilirubin terkonjugasi dapat
disebabkan oleh gangguan ekskresi bilirubin intrahepatik antara lain
Sindroma Dubin Johson dan Rotor, Recurrent (benign) intrahepatic
cholestasis, Nekrosis hepatoseluler, Obstruksi saluran empedu. Diagnosis
tersebut diperkuat dengan pemeriksaan urobilin dalam tinja dan urin
dengan hasil negatif.
b. Bilirubin tak terkonjugasi/ indirek
Bilirubin tak terkonjugasi (hematobilirubin) merupakan bilirubin bebas
yang terikat albumin, bilirubin yang sukar larut dalam air sehingga untuk
memudahkan bereaksi dalam pemeriksaan harus lebih dulu dicampur
dengan alkohol, kafein atau pelarut lain sebelum dapat bereaksi, karena itu
dinamakan bilirubin indirek. Peningkatan kadar bilirubin indirek
mempunyai arti dalam diagnosis penyakit bilirubinemia karena penyakit
jantung akibat gangguan dari delivery bilirubin ke dalam peredaran darah.
Pada keadaan ini disertai dengan tanda-tanda penyakit jantung, setelah
penyakit jantung diatasi maka kadar bilirubin akan normal kembali dan
harus dibedakan dengan chardiac chirrhosis yang tidak selalu disertai
bilirubinemia. Peningkatan yang lain terjadi pada bilirubinemia akibat
hemolisis atau eritropoesis yang tidak sempurna, biasanya ditandai dari

anemi hemolitik yaitu gambaran apusan darah tepi yang abnormal,umur


eritrosit yang pendek.
2. Metabolisme Bilirubin
Bilirubin merupakan suatu senyawa tetrapirol yang dapat larut
dalam lemak maupun air yang berasal dari pemecahan enzimatik gugus
heme dari berbagai heme protein seluruh tubuh. Sebagian besar ( kira- kira
80 % ) terbentuk dari proses katabolik hemoglobin, dalam proses
penghancuran eritrosit oleh RES di limpa, dan sumsum tulang. Disamping
itu sekitar 20 % dari bilirubin berasal dari sumber lain yaitu non heme
porfirin, prekusor pirol dan lisis eritrosit muda. Dalam keadaan fisiologis
pada manusia dewasa, eritrosit dihancurkan setiap jam. Dengan demikian
bila hemoglobin dihancurkan dalam tubuh, bagian protein globin dapat
dipakai kembali baik sebagai protein globin maupun dalam bentuk asamasam aminonya. (E. N. Kosasih, 2008).
Metabolisme bilirubin diawali dengan reaksi proses pemecahan
heme oleh enzim hemoksigenase yang mengubah biliverdin menjadi
bilirubin oleh enzimbilirubin reduksitase. Sel retikuloendotel membuat
bilirubin tak larut air, bilirubin yang sekresikan ke dalam darah diikat
albumin untuk diangkut dalam plasma. Hepatosit adalah sel yang dapat
melepaskan ikatan, dan mengkonjugasikannya dengan asam glukoronat
menjadi bersifat larut dalam air. Bilirubin yang larut dalam air masuk ke
dalam saluran empedu dan diekskresikan ke dalam usus . Didalam usus
oleh flora usus bilirubin diubah menjadi urobilinogen yang tak berwarna
dan larut air, urobilinogen mudah dioksidasi menjadi urobilirubin yang
berwarna. Sebagian terbesar dari urobilinogen keluar tubuh bersama tinja,
tetapi sebagian kecil diserap kembali oleh darah vena porta dikembalikan
ke hati. Urobilinogen yang demikian mengalami daur ulang, keluar lagi
melalui empedu. Ada sebagian kecil yang masuk dalam sirkulasi sistemik,
kemudian urobilinogen masuk ke ginjal dan diekskresi bersama urin
(Widman F.K,1995).
C. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Stabilitas Bilirubin Total

Dalam suatu pemeriksaan bilirubin total, sampel akan selalu berbubungan


langsung dengan faktor luar. Hal ini erat sekali terhadap kestabilan kadar sampel
yang akan diperiksa, sehingga dalam pemeriksaan tersebut harus memperhatikan
faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas kadar bilirubin total dalam serum
diantaranya yaitu:
1. Sinar
Stabilitas bilirubin dalam serum pada suhu kamar tidak stabil dan
mudah terjadi kerusakan terutama oleh sinar, baik sinar lampu ataupun
sinar matahari. Serum atau plasma heparin boleh digunakan, hindari
sampel yang hemolisis dan sinar matahari langsung. Sinar matahari
langsung dapat menyebabkan penurunan kadar bilirubin serum sampai
50% dalam satu jam, dan pengukuran bilirubin total hendaknya
dikerjakan dalam waktu dua hingga tiga jam setelah pengumpulan darah.
Bila dilakukan penyimpanan serum hendaknya disimpan di tempat yang
gelap, dan tabung atau botol yang berisi serum di bungkus dengan kertas
hitam atau aluminium foil untuk menjaga stabilitas serum dan disimpan
pada suhu yang rendah atau lemari pendingin. (Carl.E.Speicher, dkk,
1999).
2. Suhu Penyimpanan
Suhu merupakan faktor luar yang selalu berhubungan langsung
terhadap sampel, baik saat penyimpanan maupun saat pemeriksaan.
Pemeriksaan kadar bilirubin total sebaiknya diperiksa segera, tapi dalam
keaadaan tertentu pemeriksaan kadar bilirubin total bisa dilakukan
penyimpanan. Dengan penyimpanan yang benar stabilitas serum masih
stabil dalam waktu satu hari bila disimpan pada suhu 15 C-25C, empat
hari pada suhu 2C-8C, dan tiga bulan pada penyimpanan -20C .
Lamanya sampel kontak dengan faktor-faktor di atas berpengaruh terhadap
kadar bilirubin didalam sampel sehingga perlu upaya mengurangi pengaruh
tersebut serta mengoptimalkan kadar bilirubin total di dalam serum agar dapat
bereaksi dengan zat pereaksi secara sempurna, sedangkan reagen bilirubin total

akan tetap stabil berada pada suhu 2-8C dalam keadaan tertutup, terhindar dari
kontaminan dan sinar. Dalam hal ini dapat dimungkinkan bahwa penurunan kadar
bilirubin dipengaruhi oleh kenaikan suhu dan pengaruh sinar yang berintensitas
tinggi . (Marsetio Donosaputro,2000)
D. Metode Pemeriksaan Bilirubin Total
Bilirubin memiliki warna kuning yang dapat diukur langsung dengan
nmenggunakan spektroskopi yang sebelumnya telah diencerkan dengan larutan
fisiologis hingga warnanya sebanding denganlarutan kalium dikromat 0,01% yang
disebut icterus index. Namun karena kandungan serum selain bilirubin seperti
karoten, xantofil, dan hemoglobin juga memberikan kontribusi pada icterus index,
maka metode inihanya dapat digunakan pada bayi yang baru lahir sebelum berusia
satu bulan. Untuk usia diatas satu bulan diperlukan prosedur lain yaitu dengan
dikople dengan menggunakan zat warna dan diukur secara kolorimetri. Bilirubin
terkonjugasi yang larut air langsung direaksikan dengan asam sulfanilat (direct
bilirubin), dan bilirubin yang tak terkonjugasi dilarutkan dalam alcohol kemudian
dikople dengan reagen diazo (indirect bilirubin). Selanjutnya kadar bilirubin
terkonjugasi dan kadar bilirubin total akan dilaporkan.
Prosedur manual untuk pengukuran bilirubin yang banyak digunakan adalah
metode :
a. Metode Evelyn Malloy
Metode ini digunakan reagen Ehlirch diazo, dimana reagen ini bila
direaksikan dengan bilirubin direct dalam larutan berair akan membentuk
kompleks senyawa berwarna merah muda sampai ungu dalam waktu 1 menit,
sedangkan dalam larutan metil alcohol 50%, reagen Ehlirch diazo akan
bereaksi dengan bilirubin total membentuk warna merah muda sampai ungu
pada waktu penangguhan 30 menit.
b. Metode Jendrasik- Grof
Prinsip dari metode Jendrassik- Grof yaitu Bilirubin bereaksi dengan
DSA ( diazotized sulphanilic acid) dan membentuk senyawa azo yang

berwarna merah. Daya serap warna dari senyawa ini dapat langsung dilakukan
terhadap sampel bilirubin pada panjang gelombang 546 nm. Bilirubin
glukuronida yang larut dalam air dapat langsung bereaksi dengan DSA, namun
bilirubin yang terdapat di albumin yaitu bilirubin terkonjugasi hanya dapat
bereaksi jika ada akselerator.
Total bilirubin = bilirubin direk + bilirubin indirek.
c. Metode Pelarman & Lie
Pada metode ini menggunakan akselelatornya surfaktan, surfaktan ini
berfungsi untuk memisahkan bilirubin dengan albumin dan nantinya akan
menjadi bilirubin bebas.
Prinsip Reaksi
Bilirubin-Albumin +Surfaktan
Bilirubin bebas+ albumin

Asam Sulfanilat +Natrium nitrit


diazobenzensulfonat
p-diazobenzensulfonat +bilirubin

p-

azobilirubin

Reaksi Penetapan Kadar Bilirubin dengan Kolorimetri


Spektrofotometri Uv-Vis
Spektrofotometer adalah alat untuk menukur transmitan atau absorban
suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Spektrofotometer merupakan
gabungan dari alat optik dan elektronika serta sifat-sifat kimia fisiknya.
Dimana detector dapat mengukur intensitas cahaya yang dipancarkan secara
tidak langsung cahaya yang diabsorbsi. Tiap media akan menyerap cahaya
pada panjang gelombang tertentu tergantung pada senyawa atau warna yang
terbentuk. (Permanasari anna, 2011)

Spektrofotometri UV-Vis merupakan gabungan antara spektrofotometri


UV dan Visible. Alat ini menggunakan dua buah sumber cahaya yang berbeda,
yaitu sumber cahaya UV dan sumber cahaya Visible. Larutan yang dianalisis
diukur serapan sinar ultra violet atau sinar tampaknya. Konsentrasi larutan
yang dianalisis akan sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang
terapat dalam larutan tersebut.
Prinsip kerja
Spektrofotometri uv-vis mengacu pada hukum Lambert-Beer. Apabila
cahaya monokromatik melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya
tersebut akan diserap, sebagian dipantulkan dan sebagian lagi akan
dipancarkan.

Diagram Spektrofotometer UV-Vis

Persyaratan Suatu pengujian Secara Kualitatif dan Kuantitatif


Terdapat berbagai persyaratan yang harus dipenuhi dalam suatu
pengujian baik secara kualitatif ataupun kuantitatif. Syarat tersebut terdiri dari
spesifisitas, sensitivitas, presisi dan akurasi.
-

Akurasi adalah kemampuan metode untuk mengukur dan mendeteksi nilai


aktual atau nilai sebenarnya dari dalam sampel, akurasi merupakan ukuran

ketepatan atau kedekatan hasil pengujian dengan hasil yang sebenarnya.


Presisi adalah tingkat kesesuaian antara hasil pengujian individual dengan
hasil rata-rata pengujian berulang pada sampel yang homogen dengan
kondisi pengujian yang sama.

Sensitivitas atau kepekaan adalah kemampuan metode untuk mendeteksi

atau mengukur sampel dalam jumlah sekecil mungkin.


Spesifisitas adalah kemampuan metode untuk meendeteksi atau mengukur
sampel tertentu secara cermat dan seksama dengan adanya bahan atau
matriks lain.

III. ALAT DAN BAHAN

ALAT
Pipet 10 mL, 1,0 mL
Mikropipet 50 100 L
Tabung Reaksi
Spektrofotometer dengan gelombang
546 (546 nm 550 nm)

IV.

BAHAN
Serum
Surfaktan
Asam Sulfanilat
Natrium Nitrit
Aquadest
Kontrol

PROSEDUR PERCOBAAN
a. Pengukuran kadar bilirubin total
Sampel (serum) diambil sebesar 50 L menggunakan mikropipet

Dimasukan kedalam tabung reaksi


Ditambahkan akselerator sebanyak 1,0 ml menggunakan mikropipet

Dimasukan kedalam tabung reaksi

Ditambahkan reagen diazo 100 L menggunakan mikropipet.


Dimasukan kedalam tabung reaksi

Dicampurkan dan didiamkan (inkubasi) pada suhu kamar (18-30 oC) selama 10
menit

Dibaca absorbansi larutan uji menggunakan spektrofotometer


dengan panjang gelombang 546 nm
Dicatat hasil pengamatan
b.

Pengukuran Kadar Bilirubin Terkonjugasi


Sampel (serum) diambil sebesar 50 L menggunakan mikropipet
Dimasukan kedalam tabung reaksi

Ditambahkan aquadest sebanyak 1,0 ml menggunakan mikropipet


Dimasukan kedalam tabung reaksi

Ditambahkan reagen diazo 100 L menggunakan mikropipet


Dimasukan kedalam tabung reaksi

Dicampurkan dan didiamkan (inkubasi) pada suhu kamar (18-30o C) selama 10


menit

Dibaca absorbansi larutan uji menggunakan spektrofotometer


dengan panjang gelombang 546 nm

Dicatat hasil pengamatan

V. HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN


1. Hasil Pengamatan

Faktor Bilirubin Total

= 45
Absorbansi

Kadar Bilirubin Total


0,000

0,000

0,000

0,000

0,021

0,002

0,025

0,002

0,027

0,005

0,005

0,001

0,007

0,004

0,010
=5

0,002

Blanko

Uji

Faktor Bilirubin Direct

Kadar Bilirubin Direct

2. Perhitungan
a. Bilirubin Total

Bilirubin total = Absorbansi Uji x Uji

Kadar Bilirubin Total I


Kadar Bilirubin Total II
Kadar Bilirubin Total III
Kadar Bilirubin Total IV
Kadar Bilirubin Total V
Kadar Bilirubin Total VI

Rata-rata Kadar Bilirubin Total

= 0,021 x 45 = 0,945 mg/dL


= 0,025 x 45 = 1,125 mg/dL
= 0,027 x 45 = 1,215 mg/dL
= 0,005 x 45 = 0,225 mg/dL
= 0,007 x 45 = 0,315 mg/dL
= 0,010 x 45 = 0,450 mg/dL

= 0,7125mg/dL

b. Bilirubin Direk

Bilirubin total = Absorbansi Uji x Uji

Kadar Bilirubin Direk I


Kadar Bilirubin Direk II
Kadar Bilirubin Direk III
Kadar Bilirubin Direk IV
Kadar Bilirubin Direk V
Kadar Bilirubin Direk VI

Rata-rata Kadar Bilirubin Direk =

= 0,08 mg/dL

SD =

SDBilirubin total =

= 0,002 x 5 = 0,010 mg/dL


= 0,002 x 5 = 0,010 mg/dL
= 0,005 x 5 = 0,025 mg/dL
= 0,001 x 5 = 0,005 mg/dL
= 0,004 x 5 = 0,020 mg/dL
= 0,002 x 5 = 0,010 mg/dL

=
= 0,434
SDBilirubin Direk

=
= 0,071
RSD

RSDbilirubin total

= 60,9 %

x 100 %

RSDbilirubin direk

= 88,75 %

VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan uji pemeriksaan kadar bilirubin. Bilirubin
adalah Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan heme dari
hemoglobin dalam proses pemecahan eritrosit oleh sel retikuloendotel membuat
bilirubin tidak larut dalam air; bilirubin yang disekresikan dalam darah harus
diikatkan pada albumin untuk diangkut dalam plasma untuk menuju hati.(Joyce,
2007). Pemeriksaan bilirubin adalah salah satu pengujian seerhana untuk melihat
fungsi hati.
Pada pemeriksaan ini dilakukan penentuan kadar bilirubin total dan
bilirubin direk. Pemeriksaan bilirubin total merupakan pengukuran jumlah total
bilirubin dalam darah, meliputi bilirubin tak terkonjugasi dan terkonjugasi.
Bilirubin dibentuk dari pemecahan haem pada sistem retikuloendotelial. Bilirubin
akan terikat dengan albumin dan bersikulasi di dalam darah, kemudian
dikonjugasi dan disekresi oleh hati. Bilirubin terkonjugasi bersifat larut dalam air,
sehingga dapat ditemukan di dalam urin. Sementara, bilirubin tak terkonjugasi
tidak dapat larut di dalam air. (anonymous, 2013). Sedangkan Bilirubin Direk
adalah bilirubin bebas yang terdapat dalam hati dan tidak lagi berikatan dengan
albumin. Bilirubin ini akan dengan mudah berikatan dengan asam glukoronat
membentuk bilirubin glukorosida atau hepatobilirubin. Dari hati bilirubin ini
masuk kesaluran empedu dan dieksresikan ke usus. DI dalam usus, flora usus
akan mengubahnya menjadu urobilirubin untuk kemudian di buang keluar dari
tubuh melalui urin dan feses. Bilirubin direk bersifat larut dalam air. Dalam
keadaan normal, bilirubin direk ini tidak ditemukan dalam plasma darah.

Peningkatan kadar bilirubin direk menunjukkan adanya gangguan pada hati


(kerusakan sel hati) atau saluran empedu (batu atau tumor). (Anonymous, 2014)
Metode yang dapat digunakan dalam pemeriksaan kadar bilirubin ini
diantaranya ada metode evelyn-malloy, Jendrassik-Grof dan peralman & Lee.
Pada percobaan kali ini digunakan metode Peralman & lee. Pada metode ini
menggunakan akselelatornya surfaktan, surfaktan ini berfungsi untuk memisahkan
bilirubin dengan albumin dan nantinya akan menjadi bilirubin bebas. Prinsip dari
metode ini adalah pemisahan bilirubin yang terikat dengan albumin menjadi
bilirubin bebas dengan menggunakan akselelator surfaktan, akselelator ini
berfungsi untuk memantu melepaskan/ membebaskan bilirubin yang terikat
dengan protein (albumin) menjadi bilirubin bebas (bilirubin terkonjugasi).
Bilirubin terkonjugasi (bilirubin direk) selanjutnya langsung direaksikan dengan
asam sulfanilat dan natrium nitrit yang merupakan reaksi diazotasi. pada
praktikum ini zat warna diazo diperoleh dengan cara mereaksikan asam sulfanilat
dengan natrium nitrit yang akan membentuk -diazobenzensulfonat. Setelah
terbentuk -diazobenzensulfonat, maka -diazobenzensulfonat akan bereaksi
dengan billirubin yang terdapat pada sampel sehingga terbentuk azobilirubin yang
berwarna biru yang kemudian intensitas warnanya dapat diukur dengan
spektrofotometri. Pemeriksaan absorbansi dengan metode spektrofotometri ini
menggunakan panjang gelombang 546 nm.

Bilirubin-Albumin +Surfaktan

Bilirubin bebas+ albumin

Asam Sulfanilat +Natrium nitrit

p-diazobenzensulfonat

p-diazobenzensulfonat +bilirubin

azobilirubin

Pada pemeriksaan kadar bilirubin total ini, spesimen direaksikan dengan


akselelator surfaktan, kemudian ditambahkan reagen diazo kemudian di inkubasi
selama 10 menit pada suhu kamar kemudian diukur absorbansinya pada panjang
gelombang 546 nm.
Pada pemeriksaan kadar bilirubin direk, tidak digunakan akselelator
karena bilirubin direk ini adalah bilirubin bebas albumin atau bilirubin yang
terkonjugasi dan lebih larut air.sehingga spesimen hanya ditambahkan air
kemudian direaksika dengan reagen diazo, lalu di inkubasi selama 10 menit
kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang 546 nm.
Suhu dan waktu inkubasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
kesetimbangan reaksi oleh karena itu campuran harus dikocok dan di tunggu 10
menit pada suhu kamar (20-250C), pengocokan (pengocokan yang dilakukan
menggunakan pengocokan manual) berguna untuk menghomogenitas campuran
larutan sehingga reaksi yang terjadi dapat berjalan merata hingga diperoleh
kesetimbangan reaksinya dan 10 menit merupakan waktu inkubasi agar
tercapainya kesetimbangan reaksi.
Dari data pengamatan didapatkan rata-rata kadar bilirubin total dari 6 kali
percobaan adalah 0,7125 mg/dL. Hal ini menunjukkan bahwa kadar bilirubin
totalnya normal karena nilai normal bilirubin total adalah 0,1-1,2 mg/dL. Ratarata kadar bilirubin direk (terkonjugasi) adlah 0,08 mg/dL. Hal ini juga
menunjukkan hasil yang normal, karena nilai normal kadar bilirubin direk adalah
< 0,2 mg/dL.
Dari data pengamatan didapatkan nilai Standar deviasinya untuk kadar
bilirubin total sebesar 0,434 dan nilai simpangan baku relatifnya 60,9 %. Dan
untuk bilirubin direk didapatkan nilai Standar deviasinya sebesar 0,071 dan nilai
simpangan baku relatifnya 88,75 %. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa
simpangan baku relatif sampel tidak memenuhi persyaratan karena hasil
simpangan baku relatif yang baik adalah yang hasilnya < 2%. Hal ini terjadi
dikarenakan beberapa faktor-faktor diantarnya banyak faktor yang dapat

menyebabkan terjadinya kesalahan pengukuran diantaranya adalah kondisi orang


yang diambil sampelnya, waktu penyimpanan sampel, suhu ruangan, pembuatan
larutan standar/ larutan uji dilakukan oleh individu yang berbeda, kesalahan ketika
pengukuran absorbansi karena pengukuran dilakukan oleh individu yang berbeda
sehingga besar kemungkinan terjadi adanya perbedaan, dan kuvet yang kurang
bersih sehingga dapat mempengaruhi hasil absorbansi dari larutan uji. Sehingga
pemeriksaan pada praktikum ini tidak dapat dijadikan acuan untuk mendiagnosa
keadaan kadar bilirubin total dan direk sebenarnya pada orang yang diambil
sampel. Perlu dilakukan pengujian laboraturium dan beberapa pengujian kadar
bilirubin total dan direk untuk dapat memastikan keadaan kadar asam urat yang
sebenarnya.

VII. KESIMPULAN
1. Bilirubin adalah Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari
perombakan heme dari hemoglobin dalam proses pemecahan eritrosit oleh
sel retikuloendotel membuat bilirubin tidak larut dalam air; bilirubin yang
disekresikan dalam darah harus diikatkan pada albumin untuk diangkut
dalam plasma untuk menuju hati.
2. Pemeriksaan bilirubin total merupakan pengukuran jumlah total bilirubin
dalam darah, meliputi bilirubin tak terkonjugasi dan terkonjugasi.
3. Bilirubin Direk adalah bilirubin bebas yang terdapat dalam hati dan tidak
lagi berikatan dengan albumin dan lebih larut air.
4. Metode yang dapat digunakan dalam pemeriksaan kadar bilirubin ini
diantaranya ada metode evelyn-malloy, Jendrassik-Grof dan peralman &
Lee.
5. Digunakan akselerator diantaranya ada surfaktan, kafein benzoate asetat
dan methanol 50 %. Akselerator berfungsi untuk memisahkan bilirubin
dengan albumin dan nantinya akan menjadi bilirubin bebas.
6. Dari data pengamatan didapatkan rata-rata kadar bilirubin total dari 6 kali
percobaan adalah 0,7125 mg/dL. Hal ini menunjukkan bahwa kadar

bilirubin totalnya normal karena nilai normal bilirubin total adalah 0,1-1,2
mg/dL
7. Dari data pengamatan didapatkan

rata-rata kadar bilirubin direk

(terkonjugasi) adlah 0,08 mg/dL. Hal ini juga menunjukkan hasil yang
normal, karena nilai normal kadar bilirubin direk adalah < 0,2 mg/dL.
8. Dari data pengamatan didapatkan nilai Standar deviasinya untuk kadar
bilirubin total sebesar 0,434 dan nilai simpangan baku relatifnya 60,9 %.
Dan untuk bilirubin direk didapatkan nilai Standar deviasinya sebesar
0,071 dan nilai simpangan baku relatifnya 88,75 %. Sehingga simpangan
baku relatif sampel tidak memenuhi persyaratan karena hasil simpangan
baku relatif yang baik adalah yang hasilnya < 2%.
9. Pemeriksaan pada praktikum ini tidak dapat dijadikan acuan untuk
mendiagnosa keadaan kadar bilirubin total dan direk sebenarnya pada
orang yang diambil sampel. Perlu dilakukan pengujian laboraturium dan
beberapa pengujian kadar bilirubin untuk dapat memastikan keadaan kadar
asam urat yang sebenarnya.

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2013. Pemeriksaan Kadar Bilirubin Total. Diakses pada 27-10-2014.


Website : http://prodia.co.id/kimia/bilirubin-total.
Anonymous, 2014. Pengertian bilirubin .Diakses pada 27-10-2014. Website :
http://www.kamusq.com/2014/06/bilirubin-adalah-pengertian-dandefinisi.html#sthash.0qogOVWn.dpuf
Azwar, Saifuddin. (1999). Reliabilitas dan validitas: Seri pengukuran Psikologi.
Yogyakarta: Sigma Alpha.
EN Kosasih. 2008. Tafsiran Hasil Pemeriksaan Laboratorium Klinik. Jakarta :
Karisma Publising Group
Hardjono, H. dkk. 2003, Interpensi Hasil Test Laboratorium Diagnostik. Penerbit
Unhas (Lephas) Anggota IKAPI. Makassar

Joyce L. F. Kee. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik. Edisi


9. Penerbit EGC. Jakarta.
Permana sari, 2011 . Spektro UV Vis . Diakses pada tanggal 27-10-2014. Website
: http://annapermanasari.staf.upi.edu/files/2011/03/Spektro-UV-Vis.pdf
Widmann, Frances K. 1995. Tinjauan klinis atas hasil pemeriksaan laboratorium.
Ed. 9. Penerjemah: Siti Boedina Kresno; Ganda Soebrata, J. Latu. Jakarta :
EGC.

Anda mungkin juga menyukai