Anda di halaman 1dari 8

1.

Definisi
Penyakit Lepra adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh
mikroorganisme intraseluler atau kuman Mycobacterium leprae (M.leprae)
yang pertama kali menyerang saraf tepi dan selanjutnya menyerang kulit serta
organ tubuh lainnya. Penyakit kusta dapat mengakibatkan kecacatan tubuh
serta menimbulkan masalah psikososial akibat masih adanya stigma dan
persepsi masyarakat yang jelek pada penderitanya (Jopling, 1996).

2. Epidemiologi
Sampai saat ini epidemiologi penyakit Lepra belum sepenuhnya
diketahui secara pasti. Penyakit Lepra tersebar di seluruh dunia terutama di
daerah tropis dan subtropis. Dapat menyerang semua umur, frekuensi
tertinggi pada kelompok umur antara 30-50 tahun dan lebih sering mengenai
laki-laki daripada wanita.
Menurut laporan resmi yang diterima WHO, dari 115 negara, prevalensi
penyakit Lepra pada tahun 2013 mencapai 189.018 kasus , sedangkan jumlah
kasus baru terdeteksi selama 2012 adalah 232.857.

3. Etiologi
Kuman penyebab penyakit lepra adalah Mycobacterium leprae yang
ditemukan oleh GH Armauer Hansen, seorang sarjana dari Norwegia pada
tahun 1873. Kuman ini bersifat tahan asam, berbentuk batang dengan ukuran
1-8 mikron dan lebar 0,2 - 0,5 mikron, biasanya berkelompok dan ada yang
tersebar satu-satu, hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin dan
tidak dapat dikultur dalam media buatan.
Sumber penularan penyakit kusta adalah penderita tipe lepromatosa yang
belum mendapatkan pengobatan. Cara penularannya diduga melalui aspirasi
dari percik ludah yang mengandung kuman dan/atau kontak kulit. Masa
inkubasi berkisar antara enam bulan sampai puluhan tahun, biasanya 3-5
tahun.

4. Diagnosis
Untuk menetapkan diagnosis penyakit kusta/lepra perlu dicari tandatanda utama atau tanda kardinal, yaitu:
A. Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa.

Kelainan

kulit/lesi

yang

dapat

berbentuk

bercak

keputihan

(hypopigmentasi) atau kemerahan (erithematous) yang mati rasa


(anaesthesia).
B. Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf.
Gangguan fungsi saraf tepi ini biasanya akibat dari peradangan kronis
pada saraf tepi (neuritis perifer). Adapun gangguan-gangguan fungsi saraf
tepi berupa:
a. Gangguan fungsi sensoris: mati rasa.
b. Gangguan fungsi motoris: kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan
(paralise).
c. Gangguan fungsi otonom: kulit kering.
C. Ditemukannya M. leprae pada pemeriksaan bakteriologis.

5. Klasifikasi dan manifestasi klinis


Setelah seseorang didiagnosis menderita kusta, maka untuk tahap
selanjutnya harus ditetapkan tipe atau klasifikasinya. Penyakit kusta dapat
diklasifikasikan berdasarkan manifestasi klinis (jumlah lesi, jumlah saraf
yang terganggu), hasil pemeriksaan bakteriologi, pemeriksaan histopatologi
dan pemeriksaan imunologi.
Klasifikasi ini bertujuan untuk:
A. Menentukan rejimen pengobatan, prognosis dan komplikasi.
B. Perencanaan operasional, seperti menemukan pasien-pasien yang
menularkan dan memiliki nilai epidemiologi yang tinggi sebagai
target utama pengobatan.
C. Identifikasi pasien yang kemungkinan besar akan menderita cacat.
Terdapat banyak jenis klasifikasi penyakit kusta diantaranya adalah
klasifikasi Madrid, klasifikasi Ridley-Jopling, klasifikasi India dan klasifikasi
menurut WHO.
a. Klasifikasi Internasional: klasifikasi Madrid (1953)
Pada klasifikasi ini penyakit kusta dibagi atas Indeterminate (I),
Tuberculoid (T), Borderline-Dimorphous (B), Lepromatous (L). Klasifikasi
ini merupakan klasifikasi paling sederhana berdasarkan manifestasi klinis,
pemeriksaan

bakteriologis,

dan

pemeriksaan

histopatologi,

sesuai

rekomendasi dari International Leprosy Association di Madrid tahun 1953.


b. Klasifikasi Ridley-Jopling (1966)

Pada klasifikasi ini penyakit kusta adalah suatu spektrum klinis mulai
dari daya kekebalan tubuhnya rendah pada suatu sisi sampai mereka yang
memiliki kekebalan yang tinggi terhadap M.leprae di sisi yang lainnya.
Kekebalan seluler (cell mediated imunity = CMI) seseorang yang akan
menentukan apakah dia akan menderita kusta apabila individu tersebut
mendapat infeksi M.leprae dan tipe kusta yang akan dideritanya pada
spektrum penyakit kusta. Sistem klasifikasi ini banyak digunakan pada
penelitian penyakit kusta, karena bisa menjelaskan hubungan antara interaksi
kuman dengan respon imunologi seseorang, terutama respon imun seluler
spesifik.
Kelima tipe kusta menurut Ridley-Jopling adalah tipe Lepromatous (LL),
tipe Borderline Lepromatous (BL), tipe Mid-Borderline (BB), tipe Borderline
Tuberculoid (BT), dan tipe Tuberculoid (T).
c. Klasfikasi menurut WHO
Pada tahun 1982, WHO mengembangkan klasifikasi untuk
memudahkan pengobatan di lapangan. Dalam klasifikasi ini seluruh
penderita kusta hanya dibagi menjadi 2 tipe yaitu tipe Pausibasiler (PB) dan
tipe Multibasiler (MB). Sampai saat ini Departemen Kesehatan Indonesia
menerapkan klasifikasi menurut WHO sebagai pedoman pengobatan
penderita kusta. Dasar dari klasifikasi ini berdasarkan manifestasi klinis dan
hasil pemeriksaan bakteriologi.
Tabel 1. Pedoman utama dalam menentukan klasifikasi/tipe penyakit
kusta menurut WHO (1982)

Tanda Utama
Pausibasiler (PB)
Bercak kusta
Berjumlah 1-5
Penebalan saraf tepi yang Hanya satu syaraf
disertai

dengan

gangguan

fungsi (gangguan fungsi bisa


berupa kurang/mati rasa atau
kelemahan

otot

yang

dipersarafi oleh saraf yang


bersangkutan.

Multibasiler (MB)
Berjumlah lebih dari 5
Lebih dari satu syaraf

Pemeriksaan bakteriologi

Tidak dijumpai basil Dijumpai


tahan

asam

basil

tahan

(BTA asam (BTA positif)

negatif)
Tabel 2. Tanda lain yang dapat dipertimbangkan dalam penentuan
klasifikasi menurut WHO (1982) pada penderita kusta

Kelainan kulit dan hasil


Pausibasiler
pemeriksaan
(PB)
1. Bercak (makula) mati rasa
a. Ukuran
Kecil dan besar
b. Distribusi
Unilateral atau bilateral
Asimetris
c. Konsistensi
Kering dan kasar
d. Batas
Tegas
e. Kehilangan rasa Selalu ada dan tegas
pada bercak
f. Kehilangan

Multibasiler (MB)
Kecil-kecil
Bilateral
Simetris
Halus, berkilat
Kurang tegas
Biasanya tidak jelas, jika
ada, terjadi pada yang

Selalu ada dan jelas

sudah lanjut
Biasanya tidak jelas, jika

kemampuan

ada, terjadi pada yang

berkeringat,

sudah lanjut.

rambut

rontok

pada bercak
2. Infiltrat
a. Kulit

Tidak ada

Ada,

kadang-kadang

b. Membran

Tidak pernah ada

tidak ada
Ada,
kadang-kadang

mukosa
c. Ciri-ciri

Central healing

d. Nodulus
e. Deformitas

Tidak ada
Terjadi dini

tidak ada
- Punched out lession
- Madarosis
- Ginekomasti
- Hidung pelana
- Suara sengau
Kadang-kadang ada
Biasanya asimetris

Tipe PB

Tipe MB

6. Pemeriksaan Lesi (berdasarkan manajemen penangan lepra


di pelayanan primer)
a.
b.
c.
d.

Memeriksa pada ruangan yang cukup cahaya/terang


Memeriksa di seluruh bagian tubuh
Menanyakan kapan lesi/bercak muncul
Menanyakan apakah lesi pernah diobati
e. Tes sensasi saraf

7. Pemeriksaan Serologi
Tes serologi merupakan tes diagnostik penunjang yang paling banyak
dilakukan saat ini. Selain untuk penunjang diagnostik klinis penyakit kusta,
tes serologi juga dipergunakan untuk diagnosis infeksi M. leprae sebelum
timbul manifestasi klinis. Uji laboratorium ini diperlukan untuk menentukan
adanya antibodi spesifik terhadap M. leprae di dalam darah. Dengan
diagnosis yang tepat, apalagi jika dilakukan sebelum timbul manifestasi klinis
lepra diharapkan dapat mencegah penularan penyakit sedini mungkin.
Pemeriksaan serologis kusta yang kini banyak dilakukan cukup banyak
manfaatnya, khususnya dalam segi seroepidemiologi kusta di daerah
endemik. Selain itu pemeriksaan ini dapat membantu diagnosis kusta pada
keadaan yang meragukan karena tanda-tanda klinis dan bakteriologis tidak
jelas. Karena yang diperiksa adalah antibodi spesifik terhadap basil kusta
maka bila ditemukan antibodi dalam titer yang cukup tinggi pada seseorang
maka patutlah dicurigai orang tersebut telah terinfeksi oleh M.leprae. Pada

kusta subklinis seseorang tampak sehat tanpa adanya penyakit kusta namun di
dalam darahnya ditemukan antibodi spesifik terhadap basil kusta dalam kadar
yang cukup tinggi
Beberapa jenis pemeriksaan serologi kusta yang banyak digunakan,
antara lain:
A. Uji FLA-ABS (Fluorescent leprosy Antibodi-Absorption test)
Uji ini menggunakan antigen bakteri M. leprae secara utuh yang telah
dilabel dengan zat fluoresensi. Hasil uji ini memberikan sensitivitas yang
tinggi namun spesivisitasnya agak kurang karena adanya reaksi silang dengan
antigen dari mikrobakteri lain.
B. Radio Immunoassay (RIA)
Uji ini menggunakan antigen dari M. leprae yang dibiakkan dalam tubuh
Armadillo yang diberi label radio aktif.
C. Uji MLPA (Mycobacterium leprae particle agglutination)
Uji ini berdasarkan reaksi aglutinasi antara antigen sintetik PGL-1
dengan antibodi dalam serum. Uji MLPA merupakan uji yang praktis untuk
dilakukan di lapangan, terutama untuk keperluan skrining kasus seropositif.
D. Antibodi monoklonal (Mab) epitop MLO4 dari protein 35-kDa
M.leprae menggunakan M. leprae sonicate (MLS) yang spesifik dan
sensitif untuk serodiagnosis kusta. Protein 35-kDa M. leprae adalah suatu
target spesifik dan yang utama dari respon imun seluler terhadap M. leprae,
merangsang proliferasi sel T dan sekresi interferon gamma pada pasien kusta
dan kontak.
E. Uji ELISA (Enzyme Linked Immuno-Assay)
Dalam bidang penyakit kusta, uji ELISA dapat dipakai untuk mengukur
kadar antibodi terhadap basil kusta. Untuk menentukan nilai ambang (cut
off) dari hasil uji ELISA ini, biasanya ditentukan setelah mengetahui nilai
setara individu yang sakit kusta dan yang tidak sakit kusta.

8. Terapi
Berdasarkan standart dari WHO, untuk terapi dari penyakit Lepra adalah
Multidrug Therapy (MDT), yang merupakan kombinasi dari rifampicin,
clofazimine dan dapsone untuk pasien lepra MB, dan rifampicin dan dapsone
untukpasien lepra PB leprosy. Sebelum melakukan terapi pada pasien Lepra,
hal-hal yang harus diperhatikan, antara lain :

a. Diagnosis dibuat berdasarkan ditemukannya hilangnya sensasi (anestesi)


pada satu atau lebih dari jumlah lesi.
b. Menentukan jumlah lesi pada seluruh tubuh pasien. Apabila jumlahnya 15, dikategorikan sebagai Pausibasiler (PB). Dan apabila lebih dari 5,
dikategorikan sebagai Multibasiler (MB).
Aturan terapi (untuk orang dewasa)
PB
(6 blister packs)
- Rifampicin 600 mg 1x per bulan pada hari pertama
- Dapsone 100 mg (setiap hari)
MB
(12 blister packs)
- Rifampicin 600 mg 1x per bulan pada hari pertama
- Clofazimine 300 mg 1x perbulan pada hari pertama
- Clofazimine 50 mg dan dapsone 100 mg setiap hari
Untuk terapi pada anak-anak : setengah dari dosis terapi dewasa

9. Komplikasi
Di dunia, lepra mungkin penyebab tersering kerusakan pada
organ tangan.Trauma dan infeksi kronik sekunder dapat menyebabkan
hilangnya jari jemari ataupunekstremitas bagian distal. Juga sering terjadi
kebutaan.

10.Prognosis
Dengan adanya obat-obat kombinasi (MDT), pengobatan mejadi lebih
sederhana dan lebih singkat, serta prognosis menjadi lebih baik. Jika sudah
ada kontraktur dan ulkus kronik, prognosis menjadi kurang baik