Anda di halaman 1dari 14

1.

Komplikasi thypoid
2. Farmakologi thypoid (dosis )
. Kloramfenikol. Dosis yang diberikan adalah 4 x 500 mg perhari, dapat diberikan
secara oral atau intravena, sampai 7 hari bebas panas2. Tiamfenikol. Dosis yang
diberikan 4 x 500 mg per hari.3. Kortimoksazol. Dosis 2 x 2 tablet (satu tablet
mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim)4. Ampisilin dan
amoksilin. Dosis berkisar 50-150 mg/kg BB, selama 2 minggu5. Sefalosporin
Generasi Ketiga. dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc, diberikan selama jam perinfus sekali sehari, selama 3-5 hari
6. Golongan Fluorokuinolon Norfloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 14 hari
Siprofloksasin : dosis 2 x 500 mg/hari selama 6 hari Ofloksasin : dosis 2 x 400
mg/hari selama 7 hari Pefloksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari
Fleroksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari7. Kombinasi obat antibiotik. Hanya
diindikasikan pada keadaan tertentu seperti: Tifoid toksik, peritonitis atau perforasi,
syok septik, karena telah terbukti sering ditemukan dua macam organisme dalam
kultur darah selain kuman Salmonella typhi. (Widiastuti S, 2001)
3. Mie instan berpengaruh pada thypoid atau tidak ?
4. Proses keperawatan
Pengkajian
3.1.1 Identitas klien
Nama dan umur untuk panggilan dan membedakan klien yang satu dengan yang lain. Dapat
terjadi pada anak laki-laki dan perempuan, kelompok umur yang terbanyak adalah diatas
umur lima tahun (ngastiyah 1997:155). Faktor yang mendukung terjadinya Thyous
abdominalis adalah iklim tropis social ekonomi yang rendah sanitasi lingkungan yang kurang.
3.1.2

Keluhan utama
Pada pasien typus abdominalis keluhan utamanya adalah demam.

3.1.3

Riwayat penyakit sekarang


Demam yang baik turun remiten, demam dan mengigil lebih dari satu minggu.

3.1.4 Riwayat penyakit dahulu


Tidak didapatkan penyakit sebelumnya.
3.1.5 Riwayat penyakit keluarga
Keluarga ada yang karier
3.1.6 Riwayat psiko social dan spritual
Kelemahan dan gangguan interaksi sosial karena bedrest serta terjadi kecemasan

3.1.7 riwayat imunisasi


Tanyakan pada keluarga apakah anak mendapat imunisasi lengkap.
-

Usia <7 hari anak mendapat imunisasi hepatitis B

Usia 1 bulan anak mendapat imunisasi BCG dan Polio I

Usia 2 bulan anak mendapat imunisasi DPT/HB I dan Polio 2

Usia 3 bulan anak mendapat imunisasi DPT/HB II dan Polio 3

Usia 4 bulan anak mendapat imunisasi DPT/HB III dan Polio 4


Usia 9 bulan anak mendapat imunisasi campak
3.1.8 Riwayat tumbuh kembang
antenatal : ibu tidak perna sakit selama masa kehamilan dan selalu memeriksakan
kehamilannya rutin yaitu pada trimester 1 dan 2 tiap 1 bulan 1x dan trimester 3 yaitu 2x tiap
bulan
Natal

:bayi dilahirkan secara spontan dan aterm/ cukup bulan dan dilahirkan di bidan.

postnatal :setelah kelahiran bayi tidak mengalami gangguan apapun dan terkadang hanya
sakit batuk pilek biaasa.

3.1.9 Activity daily life


1. Nutrisi
Pada klien dengan tyhus abdominalis didapatkan rasa mual, muntah anoreksia kemungkinan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
2. Eleminasi
Didapatkan konstipasi dan diare
3. Aktifitas
Badan klien lemah dan klien dianjurkan untuk istirahat dengan tirah baring sehingga terjadi
keterbatasan aktifitas.
4. Istirahat tidur
Klien gelisah dan mengalami kesulitan untuk tidur karena adanya peningkatan suhu tubuh
5. Persona hygiene
- Klien diajurkan bedres sehingga mengalami gangguan perawatan diri.
- Perlu kaji kebiasaan klien dalam personal hygiene, seperti tidak mencuci tangan sebelum
makan dan jajan disembarang tempat.

2.PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan umum
Kesadaran

Suhu

Umumnya apatis sampai samnolen


Adanya peningkatan suhu (36.50_37.50)

Nadi

Denyut nadi lemah dan bersifat dicrotik akan tetapi jika terjadi

resiko komplikasi (perdarahan usus) nadi meningkat atau cepat dan kecil. (100-120 x/menit)
Pernafasan

Pernafasan semakin cepat dengan gambaran bronchitis kataral (15-

Terjadi peningkatan TD utamanya pada stadium dua.

30 x/menit)
TD
2. Pemeriksaan fisik
Kepala

Mata

: kelopak mata cekung, pucat, dialtasi pupil, konjungtifa pucat kadang di dapat

anemia ringan.
Mulut

: Mukosa bibir kering, pecah-pecah, bau mulut tak sedap. Terdapat beslag

lidah dengan tanda-tanda lidah tampak kering dilatasi selaput tebal dibagian ujung dan tepi
lidah nampak kemerahan, lidah tremor jarang terjadi.
Thorak

:Jantung dan paruh tidak ada kelainan kecuali jika ada komplikasi. Pada

daerah perangsang ditemukan resiola spot.


Abdomen

: I : Terdapat meteorismus, , dan terdapat rosiola thyposa

P : adanya nyeri tekan, adanya pembesaran hepar dan limpah


P : distensi abdomen,
A : bising usus meningkat
.
Ekstrimitas

: Terdapat rosiola dibagian fleksus lengan atas.

3. Pemeriksaan penunjang
1.. DL
2. Widal
Didapatkan anemia ringan, salmonella thyposa dapat ditemukan dalam darah
pemeriksaan widal tidak selalu positif.
.
3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Peningkatan suhu tubuh (hypertermia) b/d proses infeksi salmonella typhi.

2.

Resiko tinggi kurang cairan b/d pemasukan cairan kurang, kehilangan cairan berlebihan
melalui muntah dan diare.

3. Resiko tinggi ganguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake
yang tidak adekuat, mual muntah, anoreksia.
4. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari hari (ADL) b/d kelemahan, immobilisasi.
5. Ketakutan b/d hospitalisasi, tidak mengenal sumber ketakutan, krisis lingkungan.
RENCANA TINDAKAN/RASIONAL
DX 1. Peningkatan suhu tubuh (hypertermia) b/d proses infeksi salmonella typhi.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x24 jam diharapkan Klien menunjukkan
suhu tubuh dalam batas normal.
Kriteria hasil:
K : klien mengetahui tentang penyebab hipertermi
A : klien mau melakukan teknik untuk mengurangi panas
P : klien mampu melakukan teknik untuk mengurangi panas
P:

anak tidak rewel


- Suhu tubuh 36,5 37,5 C ( bayi ) , suhu tubuh 36 37,5C(anak)
- Frekuensi pernafasan : Bayi ; 30-60 x/mnt, anak ; 15-30 x/mnt.
- Frekuensi nadi : Bayi ; 120-140 x/mnt, anak ; 100-120 x/mnt.
Intervensi
Mandiri:

Rasional

Observasi suhu, N, TD, RR

tiap 2-3 jam

Sebagai

pengawasan

terhadap

adanya perubahan keadaan umum


pasien

sehingga

dapat

diakukan

penanganan dan perawatan secara


cepat dan tepat.

Catat intake dan output cairan dlm 24

jam

Mengetahui keseimbangan cairan


dalam tubuh pasien untuk membuat
perencanaan kebutuhan cairan yang

masuk.
Kaji sejauh mana pengetahuan
keluarga
hypertermia

dan

pasien

tentang

Mengetahui kebutuhan infomasi dari


pasien dan keluarga mengenai

perawatan pasien dengan hypertemia.

Jelaskan upaya upaya untuk

mengatasi hypertermia dan bantu

membantu menurunkan suhu tubuh

klien/keluarga dlm upaya tersebut:

pasien

o Tirah baring dan kurangi aktifitas

o Pakaian tipis dan menyerap keringat

Penanganan

perawatan

dan

untuk megurangi keluhan dan gejala

o Lingkungan tenang, sirkulasi cukup.


Anjurkan

meningkatkan

pengobatan yang tepat diperlukan

o Ganti pakaian, seprei bila basah

serta

kenyamanan pasien.

o Banyak minum
o Beri kompres hangat

Upaya upaya tersebut dapat

penyakit pasien sehingga kebutuhan

klien/klg

untuk pasien akan kenyamanan terpenuhi


melaporkan bila tubuh terasa panas
dan keluhan lain.

Antipiretik dan pemberian cairan


menurunkan suhu tubuh pasien serta

Kolaborasi:

pemeriksaan kultur darah membantu

Kolaborasi pengobatan: antipiretik, penegakan diagnosis typhoid.

cairan dan pemeriksaan kultur darah.


DX 2. Resiko tinggi kurang cairan b/d pemasukan cairan kurang, kehilangan berlebihan
melalui muntah dan diare.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan kebutuhan
cairan terpenuhi secara adekuat dengan
Kriteria hasil:
K : klien mengetahui tentang penyebab kekurangan cairan
A : klien bersedia untuk meningkatkan asupan cairan
P : klien mau minum
P : Tidak ada manifestasi dehidrasi, input dan output seimbang.
-turgor kulit baik - pasien mau minum dan makan
Intervensi
Mandiri:

Rasional

Awasi

masukan

dan

keluaran,

Memberikan informasi tentang kebutuhan

bandingkan dengan BB harian. Catat cairan/elektrolit yang hilang.


kehilangan melalui usus, contoh muntah
dan diare.
Indikator volume sirkulasi/perfusi.

Kaji tanda vital, nadi perifer, pengisian


kapiler,

turgor

kulit

dan

membran

mukosa
.
Menunjukkan

Kolaborasi:

Awasi nilai laboratorium: HB, HT, Na mengidentifikasi


albumin.

protein

akibat

hidrasi

retensi
muntah

dan

natrium/kadar
dan

diare

berlebihan.
Memberikan cairan dan penggantian
Berikan cairan seperti glukosa dan elektrolit.
Ringer laktat.

DX 3. Resiko tinggi ggn pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d
intake yang tidak adekuat, mual muntah, anoreksia.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x24 jam diharapkan Klien dapat
menunjukkan dan atau mempertahankan BB yang normal.
1) Kriteria hasil :
K : klien mengetahui pentingnya tentang asupan nutrisi
A : klien bersedia untuk meningkatkan asupan nutrisi
P : klien mau makan
P:
-

Adanya minat / selera makan.

Porsi makan sesuai kebutuhan.

BB dipertahankan sesuai usia.

BB dinaikkan sesuai usia.

tidak ada mual dan muntah.

Intervensi
Mandiri:

Rasional

Awasi pemasukan diet/jumlah kalori.

Makan banyak sulit untuk mengatur bila

Berikan porsi kecil tapi sering dan pasien anoreksi, anoreksi juga paling buruk
tawarkan makan pagi dengan porsi selama siang hari, membuat masukan
paling besar.

makanan yang sulit pada sore hari.

Berikan perawatan mulut sebelum

makan.

meningkatkan nafsu makan.

Anjurkan makan dlm posisi duduk

tegak.

Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan


dapat meningkatkan pemasukan.

Dorong
minuman

pemasukan
karbonat

jeruk,

sari
dan

Bahan ini merupakan ekstra kalori dan

permen dapat lebih mudah dicerna/ditoleran bila

sepanjang hari.

makanan lain tidak.

Kolaborasi:

Menghilangkan rasa tak enak dapat

Berguna dalam membuat program diet


untuk memenuhi kebutuhan klien.

Konsul ahli diet, dukungan tim nutrisi


untuk

memberikan

diet

kebutuhan klien.
Awasi glukosa darah.

sesuai

Hiperglikemia/hipoglikemia dapat terjadi


pada klien dengan anoreksi.
Antiemetik diberikan jam sebelum makan

Berikan obat sesuai indikasi: antasida, dapat menurunkan mual dan meningkatkan
antiemetik, vitamin B kompleks.

toleransi pada makanan.


Antasida bekerja pada asam gaster dapat
menurunkan
Vitamin

kekurangan

iritasi/resiko
kompleks
dan

perdarahan.
memperbaiki

membantu

proses

penyembuhan.
5. Epidemologi thypoid
Demam tifoid terjadi di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang yang
kondisi sanitasi buruk. Demam tifoid adalah endemik di Asia, Afrika, Amerika Latin,
Karibia, dan Oceania, tetapi 80% kasus berasal dari Bangladesh, Cina, India,
Indonesia, Laos, Nepal, Pakistan, atau Vietnam. Di negara-negara tersebut, tipus
demam paling sering terjadi pada daerah tertinggal. Demam tifoid menginfeksi sekitar

21,6 juta orang atau angka kejadian 3,6 per 1.000 penduduk dan membunuh 200.000
orang setiap tahun.
Di Amerika Serikat, sebagian besar kasus demam tifoid terjadi pada wisatawan
internasional. Insiden tahunan rata-rata demam tifoid per juta wisatawan dari 19992006 oleh daerah atau wilayah keberangkatan adalah sebagai berikut: Kanada 0,
Belahan Barat di luar Kanada / Amerika Serikat 1,3, Afrika 7,6, Asia 10,5, India
89 (122 tahun 2006) atau Jumlah (untuk semua negara kecuali Kanada / Amerika
Serikat) 2,2
Dengan terapi antibiotik yang cepat dan tepat, demam tifoid adalah penyakit yang
biasanya jangka pendek demam membutuhkan rata-rata 6 hari rawat inap. Diobati, ia
memiliki beberapa gejala sisa jangka panjang dan risiko 0,2% dari kematian [17]
demam tifoid yang tidak diobati adalah penyakit yang mengancam jiwa durasi
beberapa minggu dengan morbiditas jangka panjang sering melibatkan sistem saraf
pusat.. Angka kematian di Amerika Serikat pada era pra-antibiotik adalah 9% -13%.
Demam tifoid tidak memiliki predileksi rasial. Lima puluh empat persen kasus
demam tifoid di Amerika Serikat dilaporkan antara 1999 dan 2006 pria yang sering
mengalami. Kasus tipus yang paling banyak melibatkan anak usia sekolah dan dewasa
muda. Namun, kejadian benar di antara anak yang sangat muda dan bayi dianggap
lebih tinggi. Presentasi dalam kelompok usia mungkin atipikal, mulai dari penyakit
demam ringan sampai kejang parah, dan infeksi S typhi mungkin tidak dikenali. Ini
dapat menjelaskan laporan yang saling bertentangan dalam literatur bahwa kelompok
ini memiliki baik tingkat yang sangat tinggi atau sangat rendah morbiditas dan
mortalitas
6. Pemeriksaan penunjang thypoid dan interpretasi
a. Pemeriksaan Darah Perifer Lengkap
Dapat ditemukan leukopeni, dapat pula leukositosis atau kadar leukosit normal.
Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder.
b. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh.
Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan penanganan khusus
c. Pemeriksaan Uji Widal
Uji Widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri
Salmonella typhi. Uji Widal dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutinin
dalam serum penderita Demam Tifoid. Akibat adanya infeksi oleh Salmonella
typhi maka penderita membuat antibodi (aglutinin) yaitu:
Aglutinin O: karena rangsangan antigen O yang berasal dari tubuh bakteri
Aglutinin H: karena rangsangan antigen H yang berasal dari flagela bakteri
Aglutinin Vi: karena rangsangan antigen Vi yang berasal dari simpai
bakter.
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglitinin O dan H yang digunakan
untuk diagnosis Demam Tifoid. Semakin tinggi titernya semakin besar
kemungkinan menderita Demam Tifoid. (Widiastuti Samekto, 2001)

Beberapa pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan untuk diagnosis demam tifoid :
1. Bakteriologi
a.

Biakan pada perbenihan diferensial

Perbenihan EMB, McConkey, atau deoksikolat memungkinkan deteksi secara cepat bakteri
non laktosa fermentation (bukan hanya Salmonella, tapi juga Shigella, Proteus, Serratia,
Pseudomonas, dan lain lain). Sedangkan organisme gram positif sedikit dihambat.
Perbenihan bismut sulfit memungkinkan deteksi S.typhi dengan cepat, karena terbentuk
koloni-koloni hitam akibat dihasilkan H2S. Banyak Salmonella menghasilkan H2S.

Gambar3. Biakan Salmonella typhosa

b.

Biakan pada perbenihan selektif

Bahan ditanam pada lempeng agar SS (Salmonella-Shigella). Agar enterik Hektoen, atau agar
deoksikolat sitrat merupakan tempat Salmonella dan Shigella akan tumbuh subur, melebihi
organisme Enterobacteriaceae lainnya.
c.

Biakan pada perbenihan diperkaya

Bahan (biasanya tinja) diletakkan dalam kaldu selenit F atau kaldu Tetrationat; keduanya
menghambat bakteri usus normal dan memungkinkan perkembangbiakan Salmonella. Setelah
pengeraman selama 1-2 hari, biakan ini ditanam pada perbenihan diferinsial dan selektif.
Kultur yang digunakan pada pemeriksaan Salmonella typhi yaitu :
1)

Kultur aspirasi sumsum tulang

Kultur aspirasi sumsum tulang merupakan gold standar untuk diagnosis pasti demam tifoid.
Kultur aspirasi sumsum tulang tepat untuk pasien yang sebelumnya telah diobati, long
history of illnes dan hasil kultur darah negatif. Kultur sumsum tulang positif pada 80%-95%
pasien demam tifoid bahkan pada pasien pasien yang telah menerima antibiotik selama
beberapa hari.
2)

Kultur feces

Kultur feces dapat dilakukan untuk isolasi Salmonella typhi dan bermanfaat untuk diagnosis
carrier tifoid.
3)

Kultur darah

Kultur darah positif pada 60-80% pasien Tyfoid. Sensitivitas kultur darah lebih tinggi pada
minggu pertama dan sensitivitasnya meningkat sesuai dengan volume darah yang dikultur.
Sensitivitas kultur darah dapat menurun karena penggunaan antibiotik sebelum isolasi,
namun hal ini dapt diminimalisasi dengan menggunakan sistem kultur darah otomatis seperti
BacT Alert, Bactec 9050 dengan menggunakan media kultur (botol kultur) yang dilengkapi
dengan resin untuk mengikat antibiotik.
Beberapa penyebab kegagalan dalam mengisolasi kuman Salmonella typhi adalah:
1.

Keterbatasan media di laboratorium

2.

Konsumsi antibiotik

3.

Volume spesimen yang dikultur

4.

Waktu pengambilan sampel (positifitas tertinggi adalah demam 7-10 hari)

2. Pemeriksaan Serologi
Demam tifoid menginduksi respon imun humoral baik sistemik maupun lokal tetapi respon
imun ini tidak dapat memproteksi dengan lengkap terhadap kekambuhan dan reinfeksi.

Beberapa pemerikasaan serologi diantaranya:


a.

Test Widal ( Test Aglutinasi Pengenceran Tabung)

Uji widal merupakan suatu metode serologi baku dan rutin digunakan sejak tahun
1896.Prinsip uji widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi aglutinin dalam serum
penderita yang telah mengalami pengenceran yang berbeda-beda terhadap antigen somatik
(O) dan flagella (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga terjadi aglutinasi.
Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam
serum. Pemerikasaan widal mendeteksi antibodi aglutinasi terhadap antigen O dan H,
Biasanya antibodi O muncul pada hari ke 6-8 dan H pada hari ke 10-12 setelah onset
penyakit.
Agutinin serum meningkat dengan cepat selama minggu kedua dan ketiga pada infeksi
Salmonella. Sekurang-kurangnya diperlukan dua bahan serum, yang diperoleh dalam waktu
27-10 hari untuk membuktikan adanya kenaikan titer antibodi. Serum yang tidak dikenal
diencerkan berturut-turut (dua kali lipat) lalu dites terhadap antigen Salmonella.
Hasilnya ditafsirkan sebagai berikut
1.

Titer O yang tinggi atau kenaikan titer O ( 1: 160) adanya infeksi aktif

2.

Titer H yang tinggi ( 1:160) penderita pernah divaksinasi atau pernah terkena infeksi.

Mekanismenya :
Biasanya dipergunakan suspensi H dan O kuman salmonella typhi. Pada pemeriksaan ini
serum penderita diencerkan (mulai dari 1:10, 1:20, 1:40, 1:80, 1:160, 1:320 dan seterusnya),
tiap-tiap pengenceran diambill sedikit (0,3 ml) dan dipindahkan kedalam tabung-tabung kecil
khusus. Kemudian pada masing-masing tabung ditambahkan suspensi kuman yang telah
disiapkan sebanyak 0,3 ml pula. Tabung kontrol diisi dengan air garam faal dan suspensi
kuman tanpa serum penderita. Tabung kontrol dipakai untuk mengetahui apakah kuman tidak
menggumpal dengan sendirinya. Lalu tabung-tabung ini dieramkan selama 12-24 jam akan
terjadi gumpalan aglutinasi suspensi H dan aglutinasi seperti pasir (berbutir) pada aglutinasi
O. Pada aglutinasi H hasilnya dapat dilihat dalam waktu 2 jam. Jika dieramkan pada suhu
55C. Hasil pemeriksaan ini dinyatakan sebagai titer antibodi.

Titer antibodi yang rendah terhadap salmonella dapat tampak pada darah penderita yang
belum pernah menderita sakit atau mendapat vaksinasi, titer ini disebut titer normal. Reaksi
anamnestik lebih sering terjadi pada agglutinin H dari pada aglutinin O. Bukti serelogis yang
paling dapat dipercaya pada infeksi Salmonella ialah kenaikan titer agglutinin O antara titer
pada minggu pertama dibandingkan titer pada minggu kedua atau minggu-minggu
selanjutnya pada masa sakit. Meskipun demikian tidak adanya respon antibodi tidak
menghilangkan kemungkinan adanya penyakit demam tifoid sebab kemungkinan penderita
tidak dapat membuat antibodi cukup banyak sampai kadarnya dapat diukur

b.

TUBEX TF (mendeteksi antibodi IgM tehadap antigen O LPS Salmonella typhi)

Tes TUBEX merupakan tes aglutinasi kompetitif semi kuantitatif yang sederhana dan cepat
(kurang lebih 2 menit) dengan menggunakan partikel yang berwarna untuk meningkatkan
sensitivitas. Spesifisitas ditingkatkan dengan menggunakan partikel yang berwarna untuk
meningkatkan sensitivitas. Spesifisitas ditingkatkan dengan menggunakan antigen O yang
benar-benar spesifik yang hanya ditemukan pada Salmonella serogroup D. Tes ini sangat
akurat dalam diagnosis infeksi akut karena hanya mendeteksi adanya antibodi IgM dan tidak
mendeteksi antibodi IgG dalam waktu beberapa menit. Walaupun belum banyak penelitian
yang menggunakan tes TUBEX ini, beberapa peneliti terdahulu menyimpulkan bahwa tes ini
mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik daripada uji Widal.
Prinsip pemeriksaan :
Metode pemeriksaan yang digunakan adalah Inhibition Magnetic Binding Immunoassay
(IMBI). Antibodi IgM terhadap antigen O9 LPS dideteksi melalui kemampuannya untuk
menghambat interaksi antara kedua tipe partikel reagen yaitu indikator mikrosfer lateks yang
disensitisasi dengan antibodi monoklonal anti O (reagen berwarna biru) dan mikrosfer
magnetik yang disensitisasi dengan LPS Salmonella typhi (reagen berwarna coklat). Setelah
sedimentasi partikel dengan kekuatan magnetik, konsentrasi partikel indikator yang tersisa
dalam cairan menunjukkan daya inhibisi.
Tingkat inhibisi yang dihasilkan adalah setara dengan konsentrasi antibodi IgM Salmonella
typhi dalam sampel. Hasil dibaca secara visual dengan membandingkan warna akhir reaksi
terhadap skala warna.

Prosedur Pemeriksaan dengan TUBEX TF


Intrepetasi Hasil
Skala
<2

Interpretasi
Negatif

Bouderline

4-5
>6

Positif
Positif

Keterangan
Tidak menunjukkan infeksi demam tifoid
Pengukuran tidak dapat disimpulkan.
Lakukan pengambilan darah ulang 3-5 hari
kemudian
Indikasi demam tifoid
Indikasi kuat infeksi demam tifoid

Pemeriksaan TUBEX sangat sensitif dan spesifik untuk deteksi demam tifoid. Hal ini
disebabkan karena penggunaan antigen O LPS yang memiliki sifat sifat sebagai berikut :
1)

Immunodominan dan kuat

2) Antigen O (LPS secara umum) bersifat thymus independent type 1, imunogenik pada
bayi (antigen Vi dan H kurang imunogenik), dan merupakan mitogen yang sangat kuat
terhadap sel B
3) Antigen O dapat menstimulasi sel sel B tanpa bantuan sel T (tidak seperti antigen
antigen protein) sehingga respon anti O dapat terdeteksi lebih cepat.
4)
LPS dapat menimbulkan respon antibodi yang kuat dan cepat melalui aktivasi sel B via
reseptor sel B dan reseptor lain (Toll like receptor 4)
5)
Spesifisitas yang tinggi (>90%) karena antigen O yang sangat jarang ditemukan baik
dialam maupun diantara mikroorganisme.
c.

Typidot ( Mendeteksi Antibody IgG dan IgM terhadap antigen 50 kD Salmonella typhi)

d.

Typidot M (mendeteksi antibodi IgM terhadap antigen 50 kD Salmonella typhi)

e.

Dipstick test (mendeteksi antibody IgM terhadap antigen LPS Salmonella typhi)

Tubex TF, Typidot, Typidot M, dan Dipstick test merupakan cara pemeriksaan serologi yang
baru dikembangkan.

7. Sebutkan tipe dan karakteristik dari bakteri salmonella thypi beserta gambarnya !
8. Apakah riwayat thypoid sebelumnya mempengaruhi thypoid sekarang ?(pada
skenario)
9. Bagaimana mekanisme hipermetabolisme pada pasien thypoid?
10. Pemeriksaan penunjang yang digunakan untuk mendeteksi thypoid dini