Anda di halaman 1dari 3

a.

Vitamin C sebagai antioksidan


Radikal bebas yang juga di sebut Reactive Oxygen Species (ROS) yang terbentuk akibat
stres oksidatif adalah molekul oksigen yang mempunyai elektron yang tidak berpasangan
pada orbit luarnya. Oksigen yang mempunyai 1 elektron yang tidak berpasangan di orbit
luarnya di sebut singlet oxygen.
ROS dapat terbentuk secara endogen atau fisiologis sebagai produk metabolisme normal
dan peroksidasi lipid misalnya ketika leukosit memfagosit mikro organisme dan membentuk
radikal super oksida yang kemudian di rubah menjadi H 2O2 oleh enzim mieloperoksidase
sehingga terjadi degradasi bakteri secara oksidasi dan auto oksidasi spontan pada membran
sel sedangkan secara eksogen ROS berasal dari radiasi ultra violet, polutan lingkungan, zat
kimia, radio aktif dan obat obatan. Sifat toksik ROS dapat menyebabkan kerusakan DNA,
RNA, protein dan membran sel.
Kulit adalah organ yang secara konstan terpapar ROS karena permukaan kulit selalu
berkontak dengan oksigen dan merupakan target utama radiasi sinar ultra violet. Adanya
faktor eksogen dan endogen yang menganggu fungsi sawar kulit menimbulkan ke tidak
seimbangan antara faktor pro oksidan dan anti oksidan yang akan menyebabkan cedera
oksidatif. Berbagai penelitian membuktikan bahwa stres oksidatif merupakan salah satu
faktor utama yang berperan pada patologi kulit secara umum dan patogenesis berbagai
penyakit kulit.
Tabel macammacam spesies oksigen reaktif (ROS) :
Radikal
O2 superoksida
OH Radikal hidroksil
HO2
Radikal
hidroperoksil
L
Radikal lipid
LO2
Radikal lipid
peroksil
NO2 Nitrogen dioksida
NO Nitrit oksida
RS Radikal Thiyl
P
Radikal protein

Non radikal
H2O2 hidrogen peroksida
1
O2 singlet oksigen
LOOH
lipid
hidroperosidase
Fe=O kompleks bei
oksigen
HOCl hipoklorid

Untuk mengatasi bahaya yang timbul akibat ROS, tubuh mengembangkan mekanisme
perlindungan untuk mencegah pembentukan ROS dan peroksidasi lipid maupun memperbaiki
kerusakan yang terjadi termasuk kulit. Sistem anti oksidan kulit meliputi komponen
enzimatik/endogen (Dismutase superoksida (SOD), katalase, glutation peroksidase,
ubiquinol, glutation, melatonin, histidin, asam urat dan laktoferin) dan nonenzimatik (mikro
nutrien seperti vitamin C, E, B karoten; anti oksidan alamiah yang berasal dari tanaman
(fitokimia) seperti ekstrak rosemary; senyawa kimia seperti obat-obatan dan senyawa
sintetik).
Vitamin C, antioksidan yang paling banyak terdapat pada kulit manusia, membentuk
kelompok yang kompleks dari antioksidan enzimatik dan non-enzimatik yang berdampingan
untuk melindungi kulit dari reactive oxygen species (ROS). Vitamin C larut dalam air, ini
berfungsi dalam cairan kompartemen sel4. Saat kulit terpapar sinar Ultra Violet (UV), ROS
seperti ion superoksida, peroksida dan oksigen tunggal dihasilkan. Vitamin C melindungi
kulit dari stres oksidatif melalui serangkaian donasi elektron untuk menetralkan radikalradikal bebas. Oksidasi vitamin C secara relatif tidak reaktif. Selanjutnya, hal tersebut
dikonversikan kembali ke vitamin C melalui enzim dehidro ascorbic acid reduktase dalam
bentuk glutation. Paparan sinar UV menurunkan availabilitas dari vitamin C pada kulit.
b. Sinar UV, Reactive Oxygen Species (ROS), dan kerusakan kulit
Seperti yang telah disebutkan di atas, paparan sinar UV pada kulit menghasilkan ROS.
Radikal ini memiliki potensi untuk memulai rantai atau reaksi yang menghancurkan sel-sel.
Efek berbahaya dari ROS muncul sebagai pengganti kimia langsung dari DNA sel, membran
sel, dan sel-sel protein, termasuk kolagen.
Stres oksidatif juga memicu sel tertentu saat termediasi oleh faktor-faktor transkripsi
seperti activator protien-1 (AP-1) yang meningkatkan produksi matrix metalloprotienase
(MMP), memacu penghancuran kolagen. Stres oksidatif menginduksi nuclear transcription
factor kappa B (NFkB). Produk ini merupakan mediator yang berkontribusi pada inflamasi
dan penuaan kulit. ROS juga meningkatkan kadar mRNA elastin pada fibroblas kulit. Ini
dapat menjelaskan perubahan elastisitas yang terjadi pada penuaan kulit akibat paparan sinar.
Antioksidan perlu untuk menetralisir ROS yang terbentuk oleh paparan UV. Hal ini
penting untuk dicatat bahwa vitamin C sama-sama efektif melawan UVB (290-320 nm) dan
UVA (320-400 nm). Vitamin C tidak mengabsorbsi sinar UV, tetapi mendesak efek UV-

protektif melalui netralisasi radikal-radikal bebas, yang mana efek ini tidak bisa didapatkan
melalui pemakaian tabir surya.