Anda di halaman 1dari 15

Ciloteh Lapau antara Dialektika dan Dinamika Minangkabau

CILOTEH LAPAU ANTARA DIALEKTIKA DAN


DINAMIKA MINANGKABAU
Oleh : H.Mas’oed Abidin

WILAYAH MINANGKABAU
Masyarakat Minangkabau adalah salah satu suku bangsa di
antara puluhan suku bangsa yang membentuk bangsa Indonesia.
Masyarakat Minangkabau hidup di sekitar wilayah Sumatera
Bagian Tengah, atau yang dalam Tambo Minangkabau
disebutkan wilayah Minangkabau itu meliputi kawasan, “… dari
Sikilang Aia Bangih sampai ka Taratak Aia Itam. Dari Sipisok-
pisok pisau anyuik sampai ka Sialang Balantak basi. Dari Riak
nan Badabua sampai ke Durian ditakiak (ditakuak) Rajo”,
(artinya, dari Sikilang Air Bangis sampai ke Taratak Air Hitam,
dari Sipisok-pisok Pisau Hanyut sampai ke Sialang Belantak Besi,
dari Riak yang berdebur sampai ke Durian Ditekuk Raja).
Orang Minangkabau menamakan tumpah darahnya dengan
Alam Minangkabau, yang secara geografis wilayahnya berpusat
di selingkar Gunung Merapi, di Sumatera Barat. Wilayah itu
meluas menjadi Luhak dan Rantau. Wilayah Luhak terletak di
nagari-nagari yang berada di sekitar Gunung Merapi, sedangkan
wilayah Rantau berada di luarnya, yaitu di sekitar wilayah pantai
bagian Barat dan Timur Minangkabau.
Dalam Tambo dikisahkan bahwa Alam Minangkabau
mempunyai tiga buah Luhak yang disebut dengan Luhak Nan
Tigo (Luhak yang Tiga). Terbagi kepada Luhak Tanah Datar,
Luhak Agam dan Luhak Lima Puluh Kota. Dari Luhak tersebut,
kemudian berkembang menjadi Luhak Kubang Tigobaleh, yang
terletak di sekitar Gunung Talang, Kabupaten Solok sekarang.
Wilayah Rantau terletak di luar Luhak-luhak tadi. Semula
rantau adalah tempat mencarikan hidup para penduduk,
terutama dalam bidang perdagangan. Wilayah rantau, berubah
menjadi tempat menetap turun temurun dari para perantau
Minangkabau. Terjadilah pembauran dan pemesraan (asimilasi)
antara nan datang mencengkam hinggap bersitumpu. Kemudian

1 H Mas’oed Abidin
berkembang menjadi bagian dari pusat pemerintahan di
Minangkabau dulu, yakni Kerajaan Pagaruyuang, yang
mempunyai Basa Ampek Balai, berninik bermamak, berdatuk
dan berpenghulu. Berlakukah pula di wilayah rantau itu, adat
istiadat Minangkabau.
ISTILAH MINANGKABAU
Minangkabau lebih dikenal sebagai satu bentuk pusat
kebudayaan dengan masyarakatnya yang berstatus matrilineal –
atau keturunan menurut garis keibuan Hubungan kekerabatan
ini, adalah perpaduan dan pemesraan1 antara istiadat (urf) dan
syariat agama Islam. Garis matrilineal yang dianut adalah, bahwa
anak yang dilahirkan bernasab kepada ayahnya, bersuku kepada
ibunya, dan bersako terhadap mamaknya. Hubungan
kekerabatan seperti ini, mungkin tidak ada duanya di Indonesia.
Sistim kekerabatan Minangkabau satu hal yang nyata, dan
masih berlaku, walau perubahan terjadi di masa global ini.
Kekuatan yang mengikat sistim kekerabatan Minangkabau,
terlihat dari berbagai arah dan sudut pandang. Berpengaruh
pada semua sisi kehidupan masyarakat Minangkabau.
Kekuatan kekerabatan itu misalnya, berpengaruh kuat pada
aspek jiwa dagang masyarakatnya, mobilitas penduduknya,
dengan kesukaan merantau ke negeri lain untuk mencari ilmu,
mencari rezeki. Sistim kekerabatan sedemikian itu pula, yang
telah mendorong lajunya mobilitas horizontal dalam bentuk
imigrasi, dan mobilitas vertical yang menuju kepada peningkatan
kualitas.
JALINAN BAHASA DAN KEPERCAYAAN DI MINANGKABAU
Dari sisi kebudayaan dan berbagai hubungan perilaku,
terbentuk hubungan jalin berkelindan antara Bahasa dan
Kepercayaan orang Minangkabau. Pembauran dengan makna
asimilasi2 adalah pemesraan antara dua unsur atau lebih dalam
suatu wadah tertentu. Unsur yang satu menjadi bagian dari
unsur yang lain, saling isi mengisi timbal balik. Salah satu bentuk
pemesraan itu adalah bahasa dan kepercayaan dalam wadah
kesusasteraan di Minangkabau.
Penjiwaan dari kehidupan keseharian masyarakat
Minangkabau, terasa ada pemesraan antara Bahasa dan

2
Ciloteh Lapau antara Dialektika dan Dinamika Minangkabau

Kepercayaan rakyat di Minangkabau. Perasaan itu terbawa


kemana saja. Ada di ranah, dan terpakai di rantau. Di mana
bumi dipijak di sana adat dipakai. Kaidah hidup ini adalah
satu keniscayaan yang lahir dari keyakinan dari generasi
berbudaya Minangkabau, di mana saja.
Kata "percaya" berarti pendapat, itikad, kepastian dan
keyakinan. Kepercayaan diartikan sebagai kebenaran yang
diperoleh pikiran. Keyakinan adalah suatu kebenaran yang
diperoleh jiwa, dikuatkan oleh pikiran. Kebenaran agama adalah
keyakinan. Selanjutnya, kebenaran ilmu pengetahuan, filsafat
dan intelektual adalah kepercayaan.3 Masalah kepercayaan
adalah masalah manusia yang banyak berkaitan dengan
kehidupannya.
Sejarah kehidupan awal dari masyarakat manusia memberi
pengetahuan kepada kita bahwa tiada suatu bangsapun yang
hidup atau kelompok manusia yang tinggal pada suatu tempat
yang tidak mengenal kepercayaan sebagai satu naluriah hidup
yang vital. Kepercayaan timbul bersama dorongan-dorongan lain
sebagai perlengkapan hidup manusia umumnya, seperti
dorongan rohaniah manusia, yang selalu mengajar mereka
untuk berbuat dan menyelesaikannya.
Dorongan-dorongan dari dalam jiwa itu berkembang tiada
hentinnya (dinamis) pada setiap masalah demi masalah yang
tidak akan henti-hentinya dalam hidup manusia. Naluri juga
diartikan dengan dorongan hati atau keinginan yang berasal dari
pembawaan yang menggerakkan untuk berbuat sesuatu.4 Naluri
itu dapat pula disebut instink atau fitrah.
Dorongan hati manusia dibedakan antara yang bersifat
perasaan biologis dan yang bersifat perasaan rohaniah. Dengan
demikian, berkepercayaan adalah salah satu dari perasaan
rohaniah yang dapat juga disebut "perasaan keagamaan".5 Maka
dorongan-dorongan atau perasaan-perasaan yang bersifat
biologis seperti dorongan untuk makan, mempertahankan diri,
dan melangsungkan keturunan adalah keperluan jasmani.
Selanjutnya kepercayaan adalah naluri atau dorongan hati
secara fitrah lebih mutlak daripada yang lainnya.
Agama adalah tuntunan dan tuntutan hidup yang dapat
membebaskan manusia dari kekacauan dan ketakutan.6 Dalam

3 H Mas’oed Abidin
agama ada suatu ikatan antara manusia dengan kekuatan gaib.
Agama dimaknai dengan aturan yang mengikat manusia
atau ad-din atau syari’at (syarak). Kata religious dalam bahasa
Latin berarti "mengikat". Perilaku manusia terikat dengan
pengabdian kepada kekuatan besar yang maha dahsyat atau
kekuatan ghaib, baik dalam bentuk kultus maupun dalam sikap
hidup keagamaan.
Sumber utama kepercayaan atau rasa keagamaan ini adalah
fitrah manusia yang merupakan anugerah Ilahi, dan melengkapi
batin manusia melakukan kegiatan hidup sebagai makhluk yang
lemah. Betapapun bersahajanya manusia ternyata kepercayaan
membentuk tuntutan naluriahnya. Kepercayaan adalah salah
satu dari kekuatan yang mengendalikan perasaan manusia.
Kepercayaan menuntut adanya bentuk perbuatan nyata
(amal) pada semua tindakan manusia. Pada tingkat ini dapat
dirasa hubungan agama dengan kesadaran manusia ada
keterikatan erat dengan tenaga di luar diri manusia itu, yang
membuat alam nyata manusia, atau syarak mangato adaik
mamakaikan.
Fungsi naluri dari kepercayaan manusia kepada tenaga gaib
itu membentuk keharusan menyatakan diri menjadi pengabdi
dengan rasa rohaniah lahir dalam bentuk penghayatan pada
berbagai tindakan dan ucapan. Tidak ada suatu macam agama
yang tidak dimulai dengan kepercayaan. Di dalam agama Islam,
dasar keagamaan disimpulkan atas enam pokok yang disebut
dengan Rukun Iman, yaitu mempecayai adanya Allah, Malaikat,
Kitab Suci, Pesuruh Tuhan, Hari Kemudian, dan mempercayai
adanya kadar Tuan atas yang baik atau yang buruk.7
Mengikuti pola rasa rohaniah manusia, maka
berkepercayaan atau beragama adalah keperluan manusia yang
harus dipenuhi, disamping keperluan pokok lainnya yang bersifat
naluri. Kepercayaan bermula dalam tingkat penerimaan dari ilmu
pengetahuan. Keyakinan berada pada taraf intensitas dari
kepercayaan. Keyakinan selanjutnya meminta keharusan untuk
melakukan aktivitas, sedangkan pada kepercayaan belum
mempunyai keharusan untuk itu. Kepercayaan (syarak) itulah
yang berasimilasi dengan bahasa dalam kesusasteraan
Minangkabau.

4
Ciloteh Lapau antara Dialektika dan Dinamika Minangkabau

ASIMILASI ANTARA TUTUR BAHASA DAN KEPERCAYAAN


Pemesraan antara bahasa dan kepercayaan, telah
memperkaya Kesusasteraan Minangkabau, terutama
kesusasteraan lama atau khazanah kesusasteraan lisannya.
Kesusasteraan Minangkabau sesungguhnya mempunyai
pengertian yang dalam, yaitu "hasil bahasa Minangkabau yang
indah".
Titik berat kesusasteraan Minangkabau bersifat lisan,
terungkap dalam puisi dan prosa berirama. Tidak sedikit
khazanah kesusateraan Minangkabau telah ditulis dalam tulisan-
tulisan lama memakai huruf arab melayu. Pemakaian huruf
hijaiyah tersebut dalam mengungkapkan kosa kata melayu,
adalah bagian dari pemesraan antara bahasa dan kepercayaan
masyarakat Minangkabau yang beragama Islam.
Kesusasteraan tidak hanya sekadar hasil seni bahasa
belaka. Kesusateraan adalah juga hasil pemikiran, hasil
pengalaman, hasil merasa, bahkan hasil dari kehidupan
seseorang atau masyarakat dan lingkungannya. Kesusateraan
adalah pula hasil bertuitur kata, berciloteh dengan sadar,
bukan dengan mimpi. Hasil sastera dapat disimak dalam
kehidupan masyarakat pada suatu waktu, menjadi kebudayaan
satu suku bangsa atau suatu bangsa. Salah satu aspek yang
amat berpengaruh membentuk kehidupan masyarakat adalah
hubungannya dengan sesama, dan hubungannya dengan
Penciptanya. Hubungan-hubungan itu tampak nyata di dalam
bentuk kesusasteraan.
Kesusasteraan Minangkabau juga memberi jawaban
pengaruh hubungan itu. Seperti tersua dalam ungkapan, “ Kanan
jalan ka Kurai, sasimpang jalan ka Ampek Angkek. Kok iyo
pangulu ganti lantai, kok bapijak jan manjongkek. Adaik taluak
timbunan kapa, Adaik lurah timbunan aie. Kok bukik timbunan
angin, biaso gunuang timbunan kabuik. Adaik pamimpin tahan
upek.” 8
Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, selalu
diperhatikan antara dua kekuatan, yang satu secara lahiriah
sikap dalam diri insan bernyawa, dan yang kedua adalah
kekuatan keyakinan theis (agama) yang mengatur nyawa itu.

5 H Mas’oed Abidin
Kesusasteraan lahir dan dibentuk oleh dua unsur, yakni
unsur nyawa yang memiliki rasa dan periksa, dan unsur agama
yang membimbing rasa dan periksa itu. Budaya kehidupan yang
dibimbing oleh keyakinan agama, melahirkan sikap malu.
Budaya malu, membentuk masyarakatnya hidup dengan kehati-
hatian, serta ingat dan hemat dalam bertindak. Selanjutnya
sikap-sikap budaya seperti ini menumbuhkan dinamika dalam
kehidupan. Tampak jelas dalam cara bertutur, berciloteh sampai
ke lapau-lapau ataupun di surau-surau.
JIWA BAHASA DI MINANGKABAU
Keindahan akan tercipta, ketika hasrat timbul untuk
mengembalikan keindahan yang abadi dengan ajaran agama dan
keagungan nama Ilahi, ke dalam bentuk-bentuk karya sastera.
Asimilasi antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan
Minangkabau terasa kental sekali. Mempersoalkan hubungan
yang mesra antara bahasa sastera dan kepercayaan kepada
kekuasaan Allah Subhanu wa Ta’ala, menjadikan karya sastera
itu indah abadi.
Menggali mutiara milik bangsa yang kaya dengan
pemesraan antara agama dan adat istiadat etnik, yang akan
memperkuat ke tunggal-ikaan dari puncak-puncak kebudayaan
bangsa Indonesia. Mutiara terpendam yang dapat diselami
adalah bahwa kesusasteraan yang hakiki membentuk
keperibadian satu bangsa, amat terkait dengan keyakinan
pencipta sastera dan pendukungnya, yang keduanya mengabdi
kepada Ilahi.
Kesusasteraan Minangkabau adalah pengasimilasian antara
bahasa dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam
satu ungkapan, adaik basandi syarak, menjadi kekuatan besar
untuk meraih keberhasilan di setiap masa. Pengasimilasian
antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan sudah
tercipta. Kepercayaan adalah fungsi jiwa manusia, dan kemajuan
ilmu pengetahuan, telah membawa perubahan-perubahan
terhadap jiwa manusia yang kompleks, namun satu keniscayaan
belaka bahwa konsepsi kehidupan manusia tergantung pada
alat-alat yang ada pada manusia itu sendiri.9
Pada masyarakat Minangkabau, fungsi jiwa dibangun oleh
kepercayaan kepada Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha

6
Ciloteh Lapau antara Dialektika dan Dinamika Minangkabau

Esa itu tampak nyata dalam setiap aspek kehidupan


kebudayannya dan riak kehidupan sasteranya. Terutama dalam
sastera bertutur dan berciloteh.
Sifat umum masyarakat tradisional Minangkabau di masa ini
masih terasa, dan sukar untuk melepaskan kepercayaan dalam
kehidupan tradisi mereka. Pada dasarnya manusia itu bersifat
konservatif. Sukar melepaskan perhiasan hidup lama, ingin
menyimpan pusaka lama. Di antara pusaka lama itu, banyak di
antara kita yang ingin memeliharanya dalam keasliannya".10
Pengukuhan adat bersendi syariat menjadi sangat penting.
Jika hal ini dapat tetap ujud dan terpelihara baik, akan banyak
manfaatnya menyalurkan nilai-nilai yang berharga dari satu
budaya daerah, hasil masa lampau ke dalam kebudayaan
Indonesia modern. Menggali khazanah kebudayaan lama
Minangkabau, yang banyak tersimpan di dalam bahasa lisan,
serta dan menaikkannya ke atas permukaan kehidupan, menjadi
bahasa tulisan, niscaya akan memberi sumbangan besar di
dalam memupuk kebudayaan nasional, sesuai dengan
keperibadian bangsa Indonesia.
Untuk melakukan kompilasi dari nilai-nilai pusaka
Minangkabau yang menjadi mutiara kehidupan berbudaya
dengan adat bersendi syari’at, perlu dilakukan observasi yang
dipertajam untuk menapak Minangkabau yang kuat di masa
depan. Menuntut keharusan pula adanya penelitian historis,
terutama diarahkan kepada penyelidikan bentuk-bentuk sastera
lisan yang banyak terdapat dalam kehidupan masyrakat
Minangkabau, seperti pidato-pidato adat yang masih dihayati
dalam kehidupan nyata, serta sopan santun dan karifan dalam
berciloteh baik di lapau ataau di surau.
Memang amat sukar untuk menentukan berapa jumlah
pendukung kesusasteraan lisan Minangkabau itu. Berapa banyak
yang masih tersisa di dalam khazanah golongan terkemuka
dalam adat atau penghulu (ninik mamak) Serta berapa banyak
yang sudah diidentifikasi kembali oleh golongan cerdik pandai,
suluah bendang di nagari,atau mereka yang dapat dianggap
mengetahui bentuk-bentuk kesusasteraan lisan itu.
Berlakunya adaik istiadat nan salingka nagari, telah
memberi warna perlakuan peribadi dan masyarakatnya, di dalam

7 H Mas’oed Abidin
berinteraksi sesama. Adat istiadat yang menjadi kebiasaan pada
setiap nagari dan luhak, menjadi kekayaan amat berharga,
terutama di nagari-nagari yang masih menjaga nilai-nilai utama
yang luhur. Termasuk di dalam berciloteh bersama di lapau dan
di mana saja.
PERILAKU BERBUDAYA DAN BERAKHLAK DALAM PENGGUNAAN BAHASA

Perilaku berbudaya dan berakhlak masih dihayati dalam


keseharian mereka, disebabkan tetap berlakunya ketentuan
syariat agama Islam dengan kuat. Dan terjaganya dengan baik
fungsi-fungsi urang ampek jinih dalam lingkungan kekerabatan
di nagari-nagari.
Faktor penghayatan lahiriah dalam melaksanakan adat
bersendi syariat, akan lebih banyak berbicara daripada konsep-
konsep yang bersifat teoritis. Kearah ini kompilasi harus
mengarah.
Kehidupan bermasyarakat di Sumatra Barat sudah lama
direkat oleh kentalnya hubungan kebersamaan (ta’awun) di
dalam tataran budaya berat sepikul ringan sejinjing sebagai
perwujudan nyata nilai-nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi
Kitabullah (ABS-SBK).
Tataran budaya sedemikian telah terbukti dalam masa
sangat panjang mampu memberikan dorongan-dorongan
beralasan (motivasi) bagi semua gerak perubahan (reformasi)
dari satu generasi ke generasi berikut di Ranah Bundo ini.
Bahkan telah pula terbukti menjadi modal sangat besar untuk
meraih kemajuan di berbagai bidang pembangunan di daerah
dan nagari, di dusun dan taratak. Serta memberikan sumbangan
yang tidak kecil dalam mewujudkan persatuan bangsa dan
kesatuan wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta
ini.
Adat Minangkabau yang disebut sebagai adat lama pusaka
usang, artinya adatnya bukan baru dibuat atau baru disusun, tapi
adat itu memang sudah lama dengan sifatnya yang luhur.
Kemudian pusakanya yang usang berarti suatu peninggalan lama
dari nenek moyang yang diwariskan kepada yang hidup
sekarang. Dari palajaran adat dikatakan bahwa nenek moyang
orang Minang membagi adat itu atas empat kategori, yakni :

8
Ciloteh Lapau antara Dialektika dan Dinamika Minangkabau

Adat nan sabananyo adat (Adat yang sebenarnya adat), Adat


nan diadatkan (Adat yang diadatkan), Adat nan taradat (Adat
yang teradat) dan Adat Istiadat.
Dari empat bagian adat tersebut ada adat yang berbuhul
mati dan ada adat yang berbuhul sentak. Berbuhul mati artinya
tidak dapat dibuka atau dicabut, sedangkan yang berbuhul
sentak artinya dapat dibuka atau dicabut. Adat yang berbuhul
mati adalah adat yang sebenarnya adat yang tak akan berubah
disebut tak lekang oleh panas, tak lapuk karena hujan, karena
dia adalah undang-undang alam (natuurwet), natural law dan
sunnatullah. Keyakinan bahwa Yang Maha Kuasa menciptakan
alam raya dengan aturan nyata. Tak pernah berubah selamanya.
Contoh nyata adat api menghanguskan, adat air membasahi. Tak
pernah pula di antara keduanya yang bertukar peran atau
bertimbang.
Adat nan Diadatkan yakni adat yang digariskan oleh nenek
moyang orang Minang, seperti tokoh legendaris Datuk
Katumanggungan dan Datuk Parpatih nan Sabatang misalnya
aturan-aturan yang dibuat orang dahulu dalam sistem
kekerabatan menurut garis ibu (matrilineal). Pusaka turun ke
kemenakan (maksudnya pusaka tinggi-sako dan pusako). Aturan
nikah kawin (eksogami dan matrilokal), yang dalam fatwa adat
disebut “sigai mencari enau. Enau tetap, sigai beranjak.
Tepatan tinggal, bawaan kembali, suarang babagi, sekutu
dibalah, kerbau tegak kubangan tinggal. Nikah dengan si
perempuan, kawin dengan ninik mamak, sumando pada
korong kampung”.
Adat nan teradat adalah hasil mufakat di dalam kaum, suku
atau nagari tentang sesuatu masalah. Misalnya mufakat turun ke
sawah, upacara nikah kawin dan lompat pagar (antar nagari),
cara atau tata tertib penobatan Penghulu (Datuk), aturan
sangsako, dan sebagainya.
Sedangkan yang dikatakan Adat istiadat adalah kebiasaaan
yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Misalnya adat istiadat
masuk puasa Ramadhan, Idul Fitri, kunjung berkunjung di hari
baik bulan baik, jalang menjalang ketika ada musibah, baralek
(pesta), membangun rumah gadang, menghela tonggak (tiang
rumah gadang) dan sebagainya. Pada dasarnya dalam empat

9 H Mas’oed Abidin
kategori adat itu hanya Adat nan sabana adat yang tak akan
berubah sedangkan yang lainnya dapat berubah dengan kata
mufakat.
Cuma saja pada kategori Adat nan diadatkan meski boleh
berubah, namun Adat nan diadatkan harus dilestarikan,
dipelihara dan dilindungi agar tetap seperti sedia kala seperti
adat Islami (adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,
Syarak mangato, adat mamakai, disebut juga adat sebatang
panjang). Sedangkan adat nan teradat dan adat istiadat lebih
bersifat adat nan salingka nagari (selingka nagari). Terlihatlah di
sini kearifan nenek moyang orang Minang bahwa dalam
menghadapi putaran zaman yang akan berubah di masa datang
maka adat Minang bersifat terbuka. Berubahlah apa yang
mestinya berubah, tapi ada yang tak akan berubah yakni Adat
nan sabana adat yang sunnatullah, wet alam yakni yang datang
dari Yang Maha Kuasa. Dalam adagium adat disebutkan : “sakali
aie gadang, sakali tapian baraliah” (sekali air bah datang,
sekali pula tepian berubah). Yang berubah itu adalah lokasi
tepian yang tadinya berlokasi di sebelah atas, kini beralih ke
sebelah bawah. Namun yang tepian tidak berubah, sementara
nilai dukung boleh berubah dengan kesepakatan bersama
melalui musyawarah.
Tutur kata dalam budaya di Minangkabau menjadi bagian
tak terelakkan di dalam mempertahankan budaya lama sekaligus
juga menggali dan menampilkan ajaran tradisional yang relevan
dengan tuntutan zaman yang sedang berubah. Ungkapan
tradisional itu dapat berarti pepatah, kato pusako, mamang,
pituah, andai-andai, dan lain-lain. Ungkapan tradisional tersebut
ada yang berbentuk pantun, seloka, gurindam, dan sebagainya
yang kadangkala dengan kalimat metafora sebagai bandingan
atau kebalikannya. Semuanya bernilai nasehat, hukum, arahan
dan ketentuan-ketentuan (norma). Tapi ungkapan semata ada
juga yang tidak bermuatan pepatah, pituah, dan lain-lain. Hanya
kata melereng (kiasan) semata.
Ungkapan-ungkapan tradisional di Minangkabau ribuan
banyaknya, berisi kearifan yang disindirkan, mencakup budi
pekerti, seperti “Nan kuriak iyolah kundi. Nan sirah iyolah
sago, Nan baiak iyolah budi, Nan indah iyolah bahaso”.

10
Ciloteh Lapau antara Dialektika dan Dinamika Minangkabau

Dalam ungkapan bahasa Indonesia berarti “yang kurik ialah


kundi, yang merah ialah saga, yang baik ialah budi, yang indah
ialah bahasa”. Para tetua leluhur orang Minangkabau telah
mengambil contoh pada buah kundi dan buah saga yang
warnanya kurik(rintik) dan merah yang sifatnya tetap tidak
berubah dalam warna merahnya dan kurik rintiknya. Ungkapan
tradisional ini mengiaskan bahwa budi baik dan keindahan
bahasa tidak boleh tanggal dari dari diri peribadi anak turunan
Minangkabau di manapun kita berada.
Sikap mulia akan menjadi buah tutur orang di mana saja.
Talangkang karando kaco / Badarai carano kendi / Itu nan
urang canggangkan./ Bacanggang karano baso / Bacarai
karano budi / Itu nan urang pantangkan. Bila di turukan di
dalam bahasa nasional Telengkang keranda kaca, berderai
cerana kendi, itu yang orang canggangkan, bercenggang karena
bahasa, bercerai karena budi, itu yang orang pantangkan. Fatwa
adat ini menasehatkan pandai-pandai menggunakan bahasa.
Karena ucapan berbahasa yang mungkin dinilai kasar atau tak
sepantasnyadapat berakibat persahabatan jadi bercanggang
atau berjarak.
Begitu pula halnya budi atau kelakuan (perangai) yang tak
senonoh dan tidak pantas, dapat berakibat persahabatan atau
hubungan pergaulan akan rusak dan bahkan perceraian satu
sama lain. Mengikat sebuah dinamika di dalam pergaulan tidak
semata ada pada alur tutur kata. Juga pada tindak laku
perbuatan. Di antaranya tepat janji. Tentang janji disebutkan
dalam tutur ungkapan yang amat berarti, bahwa “indak nan
taguah dari janji, indak nan kokoh dari buek” (tidak yang
teguh selain janji, tiada yang kokoh selain dari buatan).
Selalu dalam ciloteh seharian dinasehatkan supaya teguh
memegang janji, kokoh tak tergoyahkan terhadap apa yang
sudah dibuat dan disepakati. Di dalam ungkapan seharian
disebutkan ;
Nak luruih rantangkan tali
Nak mulia tapati janji
Nak kuek paham dikunci
Nak tinggi paelok budi
Nak kayo kuek mancari, dan sebagainya

11 H Mas’oed Abidin
(Supaya lurus rentangkan tali
Supaya mulia tepati janji
Supaya kuat paham dikunci
Supaya tinggi perbaiki budi
Supaya kaya kuatlah berusaha /mencari)
Disebalik itu dituntut dialektika Arif dan Bijak seperti ;
Diagak mako diagiah (buatlah perkiraan, baru dibagi)
Diukua mako dikabuang (memotong sesuatu atau
mengerat, membagi, hendaklah setelah diukur, tidak berlaku
sembrono memotong/membagi begitu saja . dianjurkan diukur
dulu).
Kemudian dalam satu ciloteh semestinya dipakai satu
kearifan dialektis, Malantiang manuju tampuak, Di ma buah ka
rareh, dan Mamahek manuju barih, Di ma lubang ka tabuak,
Barundiang manuju bana, Dima mufakat ka dibulati. Artinya
dalam bahasa nasional, “melempar menuju tampuak, kira-kira di
mana buah itu jatuhnya”, dan “memahat menurut baris, kira-kira
di mana lobang itu tembusnya”, atau “berunding berdasarkan
kebenaran, sehingga rundingan membuahkan mufakat bulat”.
Kearifan di dalam bertutur kata, baik itu di dalam ungkapan
di lingkungan beradat, di balairung, di surau, di mana saja, ada
satu kewajiban berhati-hati.
Ungkapan petatah petitih mengingatkan itu semua. “Gabak
dahulu makonya hujan, Cewang di langik tando akan paneh,
Ingek sabalun kanai, Kulimek sabalun habih”, atau “Ingek urang
nan di ateh, Nan di bawah kok datang malimpok, Bajalan
paliharo kaki, Bakato paliharo lidah”. Dapat dicermati dari
ungkapan berbahasa dan bertutur adabanyak mendapatkan
pelajaran dari alam takambang jadi guru. Di antaranya “
mendung dahulu baru akan hujan, cerah di langit tanda hari akan
panas”. Atau ungkapan selanjutnya, “ingatlah sebelum kena,
berhemat sebelum habis” sebagai satu dinamika kearifan.
Kemudian di dalamnya tertera pula nasehat, “ingat dan
waspadalah orang yang sedang berkuasa di atas, karena yang di
bawah dapat datang menimpa”, serta “kalau berjalan peliharalah
kaki, kalau berucap kata pelihara lidah”. Di sini dapat dirasakan
dilaektika dan dinamika berucap atau berceloteh itu.
Di samping dialektika ada dinamika kehidupan dengan

12
Ciloteh Lapau antara Dialektika dan Dinamika Minangkabau

mengedepankan kebersamaan seperti ungkapan, “Ka bukik


samo mandaki, Ka lurah samo manurun” (ke bukit sama
mendaki, ke kurah sama menurun), atau “Barek sapikua, Ringan
sajinjiang” (Berat sepikul, Ringan sejinjing), dan “Malompek
samo patah, Manyaruduak samo bungkuak” (Melompat sama
patah, Menyeruduk sama bungkuk), serta “Talungkuik samo
makan tanah, Tatilantang samo makan angin, Tarandam samo
basah, Tarapuang samo hanyuik” (Tertelungkup sama makan
tanah, Tertelentang sama makan angin, Terendam sama basah,
Terapung sama hanyut). Sebuah nilai keberadatan masyarakat
adat yang dapat menumbuhkan dinamika di tengah pergaulan
hidup.
Kehidupan masyarakat Sumatra Barat kedepan di Alaf Baru
abad ke duapuluh satu dan seterusnya ini, mesti memacu dirinya
dengan ajakan agar selalu menanam kebaikan-kebaikan yang
makruf. Ajakan tersebut mesti pula dipagari rapat-rapat dari hal-
hal yang merusak atau mungkarat. Di dalam diri masyarakatnya
semestinya ditanamkan kesadaran yang dapat menumbuhkan
harga diri dengan sikap mental mau berusaha dengan giat
bekerja (enterprising). Hal tersebut akan lebih mudah
terbanagunkan karena dialog yang santun, arif dan dinamis.
Pembangunan manusia Minangkabau sesungguhnya adalah
mencetak insan yang dapat menolong diri sendiri (independent)
serta mampu mereposisi kondisinya dalam mengatasi kemelut,
kemiskinan dan ketertinggalan di berbagai bidang.
Insya Allah masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat atau
di perantauan akan selalu mendapatkan hak asasinya yang
setara dengan kewajiban asasi yang telah ditunaikannya.
Sesungguhnya bimbingan aqidah bersendikan Kitabullah, atau
kebiasaan adat telah mengajarkan bahwa tidak pantas bagi
satu masyarakat yang hanya selalu menuntut hak tanpa dibebani
keharusan menunaikan kewajiban.
Martabat satu kaum akan hilang bila yang ada hanya
memiliki kewajiban-kewajiban tetapi tidak dapat menentukankan
hak apa-apa. Karena itu, hak asasi manusia tidak akan pernah
ujud tanpa di dahului oleh kewajiban asasi manusia. Hal ini
sangatlah penting ditanamkan kembali dalam upaya
mambangkik batang tarandam.

13 H Mas’oed Abidin
Kandungan Kitabullah mewajibkan kita untuk memelihara
hubungan yang langgeng dan akrab dengan karib, baik terhadap
tetangga maupun kerabat, sebagai kewajiban iman dan taqwa
kita kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Firman Allah di dalam
Kitabullah (Al Quran) menyebutkan, “ Sembahlah Allah, dan
janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak.
Berhubungan baiklah kepada karib kerabat. Berbuat ihsan
kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, dan
tetangga yang hampir, tetangga yang jauh, dan teman sejawat
serta terhadap orang-orang yang keputusan belanja diperjalanan
(yaitu orang-orang yang berjalan dijalan Allah) dan terhadap
pembantu-pembantu di rumah tanggamu. Sesungguhnya Allah
tidak suka terhadap orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri” (QS.4, An-Nisak ayat 36).
Menumbuhkan harga diri, dan memperbaiki nasib secara
keseluruhan dalam berbagai bidang, diyakini akan terwujud
melalui ikhtiar yang terus menerus, disertai akhlak sabar tanpa
kesombongan serta mampu melawan sikap mudah menyerah
dan tidak mudah berputus asa. Sikap jiwa masyarakat seperti ini
seringkali dapaat ditempa melalui dialog atau celoteh yang
penuh dialektika dan dinamis, di antaranya di surau dan di lapau
di Minangkabau, masa laloe. ***

14
1 Catatan Akhir
Di dalam buku "Webster`s New World Dictionary" dijelaskan bahwa kata asimilasi berasal dari
kata "assmilatus" (Latin), yang berarrti "to take up and make part of itself, or in self" atau sebagai
"absorb and incorporate" dan sebagai "digest" (mengambil dan menciptakan unsur menjadi sebagian dari
unsur lain, atau meresapkan lagi mempersatukan atau memcernakan), dalam Webster`s, New World
Dictionary of the American Language, Encyclopedie, Edition I,
2 E.Pino dan T.Wittermans dalam Kamusnya juga menulis arti asimilasi dengan "pencernaan,
persamaan dan pemesraan", (E.Pino and T.Wittermans, English-Indonesian Dictionary, J.B.Wolters,
Jakarta). Demikian pula dalam Kamus Indonesia Kecik susunan K.St.Harahap mengatakan asimilasi
sebagai "pemesraan" (E.St.Harahap, Kamus Indonesia Ketjik, IBOCO, Jakarta).
3 W.J.S.Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta 1985,
hal.676
4 Drs.Sidi Gazalba, Mesjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam, Pustaka Antara, Jakarta.
5 Jaka, Ringkasan Ilmu Mendidik 1, Mutiara, Jakarta, 1953, hal,42;
6 Drs.Mohd.Sjafaat, Mengapa Anda Beragama Islam, Wijaya, Jakarta, hal.2;
7 Al-Quran, Surat An Nisa`, ayat 146, dan Hadist, Riwayat Muslim;
8 Dalam bahasa Indonesia, “kanan jalan ke Kurai, sesimpang jalan ke Ampek Angkek. Jika
penghulu akan menjadi lantai, kalau berpijak jangan menjungkat (maknanya istiqamah). Adat teluk
timbunan kapal, adat lurah timbunan air. Kalau bukit timbunan angin, biasa gunung timbunan
kabut. Adat pemimpin tahan umpatan”. Hasil kesusateraan Minangkabau, yang mengungkapkan
kerilaku pemimpin agar tidak cepat patah hati, selalu konsisten ini, dinyatakan bersajak dengan
mengambil contoh kepada alam, sebagai satu kepercayaan yang kokoh terhadap sunnatullah.
9 Drs.Sidi Gazalba, Tebaran Pikiran dalam Rangkaian Ketuhanan Yang Maha Esa, Penerbit
Agus Salim, Jakarta, yang di dalamnya juga mengutip ucapan dari Prof.Dr.Sumantri Harjoprakoso,
bahwa kepercayaan adalah factor pembentuk kejiwaan manusia.
10 Mohammad Hatta, Kumpulan Karangan IV, Balai Buku Indonesia, Jakarta,