Anda di halaman 1dari 33

Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di

Minangkabau

GERAKAN PADERI DAN MATA RANTAI


GERAKAN PEMBARUAN PEMIKIRAN ISLAM
DI MINANGKABAU
Oleh : H. Mas’oed Abidin

Gerakan pembaruan di dalam kehidupan beradat dan beragama di

Minangkabau, dapat dikatakan satu gerakan pembaruan oleh para

ulama zuama, yakni para cendekiawan yang hidup dengan latar

belakang kehidupan adat Minangkabau yang kuat, dan kemudian

menuntut mendalami ilmu pengetahuan agama Islam ke negeri-negeri

sumber ilmu, sampai ke Mekah al Mukarramah, yang kemudian diwarisi

sambung bersambung membentuk rantai sejarah yang panjang, dan

bekelanjutan terus ke abad-abad sesudahnya.

Masuknya Islam dan sejarah perkembangannya di Minangkabau

sejajar dengan sejarah pertumbuhan kota-kota dagang di rantau

Minang. Awal abad ke-7 M atau abad I Hijriah rantau timur

Minangkabau telah menerima dakwah Islam.1

Dari Berbagai Sisi dan Penjuru

Masuknya Islam ke rantau timur di masa itu tidak terlepas dari

persaingan perdagangan dan pengaruh kerajaan-kerajaan, seperti

melemahnya kekuasaan Sriwijaya, dan lahirnya kerajaan Islam Perlak

dengan sultan pertamanya Syekh Maulana Abdul Aziz Syah yang

menganut Islam (840 M).

Berkembangnya Malaka dan Samudera Pasai menjadi kota dagang

dan kerajaan Islam (1400 M), dan kalahnya Sriwijaya melawan

1 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

Majapahit, sejak tahun 1477 M itu, pantai timur ranah Minang di bawah

kendali Majapahit hingga meninggalnya Hayam Wuruk, dan di masa itu

kerajaan Pagarruyung di Minangkabau diperintah oleh keturunan

Kertanegara dan Dara Petak, putri dari Minang, yaitu Adityawarman.

Ketika itu, rantau Alam Minang sudah mulai didominasi pemeluk

Islam, walau Adityawarman masih memeluk Budha, dan dinastinya

berkuasa hingga 1581 M. Namun pernah tercatat 1411 M, raja-raja

turunan Adityawarman sudah memeluk Islam dan mereka berguru

kepada Tuanku Maulana Malik Ibrahim. Kekuasaan kerajaan hanya

sebatas simbol kekuasaan dan lambang persatuan.2

Setelah Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabatang

meninggal, raja melimpahkan kekuasaannya kepada raja-raja muda,

atau penghulu di rantau.

Raja berdaulat dengan tiga kekuasaan serangkai Rajo Tigo Selo, di

Pagarruyung, di Luhak Tanah Datar, yang terdiri dari Rajo Alam, Rajo

Adat, dan Rajo Ibadat yang mempunyai daerah kedudukan masing-

masing di Buo dan di Sumpur Kudus. Tiga serangkai kekuasaan ini

diperkuat oleh dewan menteri Basa Ampek Balai, yang terdiri dari

Bandaharo dari Sungai Tarab, Tuan Kadi dari Padang Ganting,

Mangkudum dari Suruaso, Indomo dari Sumanik, dan diperkuat lagi

oleh Tuan Gadang dari Batipuh dalam urusan pertahanan.

Pada masa itu telah terjadi penyesuaian antara Islam dengan adat

setempat, seperti adaik mananti, syarak mandaki. Namun kegiatan

yang erat dengan budaya Hindu-Budha masih akrab dalam masyarakat

Minang kala itu.3

2 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

Dakwah Persuasif

Kedatangan Syekh Burhanuddin (Pono), yang berguru kepada Syekh

Abdurrauf Singkili di Aceh, dan kemudian mengembangkan Islam di

Minangkabau dengan membuka surau atau sekolah agama seperti di

Ulakan Pariaman, dan di Kapeh Kapeh Pandai Sikek, Padangpanjang,

mulai melakukan gerakan pemurnian Islam dari pengaruh budaya

Hindu-Budha, serta menghapuskan kebiasaan-kebiasaan anak nagari

seperti minum tuak, menyabung ayam atau berkaul ke tempat

keramat.

Istana Pagarruyung juga menjadi sasaran dakwahnya dan ia

berhasil. Keberhasilan itu membuat dia dikenal sebagai ulama besar di

Minang. Murid beliau mulai banyak dari darek atau dari Luhak nan Tigo.

Semasa itu, sudah terjadi juga persilangan paham antara penghulu

dalam hal setuju dan yang menentang ulama zuama, ulama cerdik

pandai yang pulang dari berguru dan melakukan pemurnian terhadap

kebiasaan adat yang salah menurut syarak. Lambat laun, kesepakatan

damai tercipta antara para Penghulu, Tuanku dan Alim Ulama Minang,

untuk saling mengakui kedudukan ulama dengan penghulu, sehingga

ulama menjadi suluah bendang dalam nagari, tidak menjadi bawahan

dari Penghulu seperti kedudukan panungkek, dan manti, dubalang.

Semenjak itu lahir beberapa ungkapan petatah-petitih, syarak

mandaki adaik manurun4, adaik nan lazim syarak nan kawi 5, syarak

babuhue mati adaik babuhue sintak6, syarak balinduang adaik

bapaneh7, syarak mangato adaik mamakai8, syarak ba tilanjang adaik

ba sisampieng9.

3 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

Gerakan Paderi adalah Gerakan Pembaruan dan

Pemurnian

Gerakan pembaruan tatanan masyarakat Minangkabau dalam

beradat dengan ketentuan syarak di masa kedua ini, sejak masuknya

Islam ke Minangkabau mulai empat abad sebelumnya. Selanjutnya,

gerakan pembaruan dan pemurnian oleh ulama zuama, yakni kaum

ulama dan cerdik pandai suluh benderang di dalam nagari, di abad 18

dan 19 itu, yang kemudian menjadi gerakan Paderi (1802-1837) di

Minangkabau, dan sekitarnya, adalah mata rantai dari gerakan

pembaruan pemikiran berlatar belakang pendidikan-pendidikan yang

dilalui para pembaru penggerak pergerakan tersebut.

Karenanya dapat disebut bahwa gerakan ini lahir tidak didorong

oleh keinginan perebutan kekuasaan kerajaan, atau gerakan balas

dendam yang menghabisi lawan-lawan yang tidak sesuai atau tidak

disenangi sampai musnah, akan tetapi lebih bertujuan kepada

berkehendak lahirnya perubahan tata pergaulan di dalam

masyarakatnya yang beradat dengan agama (syarak), atau

melaksanakan ajaran syarak (agama Islam) di dalam adat istiadatnya,

di ranah Minangkabau.

Gerakan Paderi di awal abad kedelapan belas, bermula dengan

pulangnya tiga serangkai ulama zuama Minangkabau (1802), terdiri

dari Haji Miskin di Pandai Sikek, Luhak Agam, Haji Abdur Rahman, di

Piobang, Luhak Limopuluah, dan Haji Muhammad Arief, di Sumanik,

Luhak nan Tuo, Tanah Datar, yang juga dikenal bergelar Tuanku Lintau,

4 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

berawal dengan penyadaran semangat beragama Islam di dalam

kehidupan beradat di Minangkabau.

Gerakan Kembali ke Syariat yang dilaksanakan di bawah bimbingan

Tuanku Nan Tuo, yang kemudian berlanjut kepada murid-muridnya

dalam Gerakan Paderi di bawah pimpinan Tuanku Nan Renceh di

Kamang, dan sambung bersambung menjadi mata rantai gerakan

menyeluruh dalam wilayah yang luas, di bawah pimpinan Tuanku Imam

Bonjol, sesungguhnya tidak menentang dan menghapuskan hukum

waris berdasarkan garis ibu, atau menghapuskan lembaga kaum adat

yang sudah jauh menyimpang dari syarak di Minangkabau, atau perang

pengembagan ajaran agama Islam secara paksa kenegeri di sekitar.

Namun, masa 100 tahun penjajahan Belanda ketika itu, memberi

pengaruh yang tidak kurang pentingnya. Sehingga warna budaya di

Minangkabau terutama, berbentuk segi tiga dengan sisi yang tidak

sama panjang antara budaya adat, budaya agama, dan budaya barat

yang mulai memasuki tatanan kehidupan masyarakat adat dan budaya

di Minangkabau, Riau, Mandahiling dan tanah Batak, yang

sesungguhnya menjunjung tinggi budaya timur, bukan kultur barat.

Ada satu benang merah yang jelas tampak dipunyai para ulama

zuama pejuang, adalah alim ulama dan cerdik pandai (intelektual,

cendekiawan) yang menjadi suluh benderang di negeri, sesungguhnya

adalah kalangan kaum terpelajar muslim di zamanya, yang berpikiran

maju dan rasional sesuai bimbingan syarak, agama Islam yang

dianutnya, bertolak belakang dengan anutan penjajahan semasa itu.

5 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

Para ulama zuama Gerakan Paderi ini memiliki perasaan dan

semangat untuk membebaskan kaumnya yang beradat dan beragama

Islam dari belenggu keterbelakangan dan kejumudan, paling tidak

sejak tiga abad sebelumnya. Keterkekangan dianggap sebagai sebab

utama ketakberdayaan bangsanya yang dicap inlander di depan

bangsa asing kolonialisme. Dengan membangun kembali cara pandang

dan sikap keberagamaan, kondisi menyedihkan itu dapat diperbaiki.

Kendati berbeda dalam metodologi dan pendekatan, para ulama

zuama tersebut memiliki kesamaan dalam menyikapi kondisi kaumnya,

yang beradat dan beragama Islam. Kesamaan pandangan itu adalah

bahwa hanya pembebasan diri (self-liberating) yang dapat

mengeluarkan mereka dari kondisi itu.

Pembebasan itu adalah perlawanan terhadap kolonialisme secara

fisik, baik pada bungkus adat istiadat yang berlaku, dimulai dengan

membuka pintu ijtihad seluas-luasnya secara teoritis, dan mengaji

ulang tradisi dan khazanah (turats) syarak (agama Islam) yang

semestinya diterapkan di dalam kehidupan beradat, khususnya di

Minangkabau. Dalam menerapkan gagasan-gagasan perubahan itu,

para ulama zuama atau para tuanku sangat dipengaruhi latar belakang

pendidikan, ekonomi, dan tingkat kedudukan sosial mereka.

Inilah yang kemudian memunculkan banyaknya kecenderungan

pemisahan dalam pengotakan kaum dan aliran pemikiran, serta

jalannya perjuangan gerakan pembaruan itu.

Gerakan pembaharuan yang dilaksanakan oleh mereka, sejak

Tuanku nan Tuo, Tuanku nan Renceh, dan Tuanku Imam Bonjol, lebih

6 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

menguatkan harta pusaka, yang dimaksud adalah pusaka tinggi itu,

dimanfaatkan untuk kesejahteraan kaum, dan oleh karena itu, harta

pusaka dimaksud diturunkan kepada kemenakan, dan ditempatkan

pada pengawasan garis perempuan. Namun mengenai harta

pencaharian, kedua gerakan itu sependapat harus diwariskan kepada

anak.

Tuanku Imam Bonjol, sadar bahwa setelah utusan anak

kemenakannya mempelajari hukum Islam ke tanah Mekah,

menyatakan pembagian tugas yang nyata antara adat dan syarak

atau agama. Bahwa masalah adat dikembalikan kepada Basa dan

Penghulu, sedangkan masalah agama diserahkan kepada Tuanku atau

malin. Inilah doktrin ajaran adat basandi syarak, syarak basandi

Kitabullah.

Sumpah Satie (= Janji Setia) Bukik Marapalam

Sulit mencari bukti tertulis, kepastian waktu dan tempat, serta


siapa pelaku utama peristiwa dan pencetusan ide piagam sumpah
satie (sumpah sakti) Bukik Marapalam, dan diyakini oleh masyarakat
Minangkabau telah terjadi dan disepakati oleh para pemuka adat dan
ulama di puncak bukit itu masa perkembangan Islam di Minangkabau.
Konsensus itu di dasari sifat egaliter masyarakat Minang, dan
keyakinan bahwa piagam itu berisi sumpah satie (janji setia) yang
menyatakan konsessus pertama antara kaum adat dan ulama, yang
menyatakan “adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” (adat
bersendi agama Islam, Islam bersendi Kitabullah, yakni Al Quran).
Ada beberapa pendapat tentang waktu terjadinya Sumpah Satie
Bukik Marapalam, di antaranya menyebutkan di masa awal gerakan
Paderi (1803-1809), terkait strategisnya tempat dan posisi puncak
Bukit Marapalam. Gagasan piagam ini dilakukan, untuk menghindari
banyaknya korban yang akan jatuh antara kelompok yang bertikai,

7 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

baik dari kalangan ulama zuama Tuanku Lintau dan kaum adat atas
inisiatif Datuk Bandaro yang kemudian mendatangi Datuk Samik, dan
kemudian di sampaikan kepada Datuk Surirajo Maharajo di Pariangan,
dan akhirnya antara kaum adat dan ulama zuama disepakati satu
piagam, Sumpah Satie Bukik Marapalam yaitu “adaik basandi syarak,
syarak basandi Kitabullah”.
Kesepakatan ini, tidak didapat tahun pasti terjadinya. Jika
pandangan ini yang menjadi rujukannya, maka peranan Tuanku Lintau
dan Datuk Bandaro (yang juga disebut pengikut gerakan Paderi), dapat
dianggap sebagai yang menggagas, mengatur pertemuan, dan
mengeluarga piagam sumpah satie “adaik basandi syarak, syarak
basandi Kitabullah” ini. Semenjak piagam itu, ketegangan antara kaum
adat dan para ulama zuama mulai mereda, akan tetapi pertentangan
masih terasa antara para datuk dari Nagari Saruaso dan Batipuh.
Di samping itu, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa Piagam
Sumpah Satie Bukik Marapalam masa Perang Paderi II, ketika Belanda
kembali memerangi kaum Paderi setelah Belanda dapat memadamkan
Perang Diponegoro.
Gerakan Paderi dilanjutkan oleh Tuanku nan Tuo, Tuanku nan
Renceh, Tuanku Kubu Sanang, Tuanku Koto Ambalau, Tuanku di Lubuk
Aur, Tuanku di Ladang Laweh dan Tuanku Imam Bonjol yang berujung
dengan perlawaanan terhadap penjajahan Belanda (1821-1837).
Dalam Perang Paderi II ini, pihak Belanda berhasil memecah
kekuatan bangsa di Minangkabau, dan sekitarnya dengan politik adu
domba, antara kaum adat dan agama, sehingga dapat merebut
benteng pertahanan Paderi di puncak Bukit Marapalam, di Lintau,
Agustus 1831, dan kemudian berturut-turut menguasai banteng Paderi
di Talawi, Bukit Kamang, dan kekuatan Tuanku Nan Renceh, serta
kalahnya kaum Paderi di Agam, pada akhir Juni 1832..
Perang Paderi II (1821-1837) ini, telah menyadarkan seluruh
masyarakat Minang dan sekitarnya, bahwa pihak Belanda berhasil
mengadu domba dengan menimbulkan konflik antara kalangan ulama
zuama, dengan kaum adat, yang berakibat hilangnya kepercayaan satu
sama lainnya dan melemahnya kekuatan masyarakat di Minangkabau.
Namun sebelum Bukik Marapalam jatuh ke tangan Belanda, antara

8 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

kaum adat dan agama telah berunding yang menghasilkan sumpah


satie, lahirnya piagam Marapalam yang menyepakati adaik basandi
syarak, syarak basandi Kitabullah di ranah Minangkabau. Dalam
peristiwa ini, nama Tuanku Lintau kembali disebut sebagai
pemprakarsa.
Masih ada pendapat yang menyatakan bahwa sumpah satie Bukik
Marapalam terjadi di akhir perang Paderi, setelah kekalahan Paderi dari
tentara Belanda. Belanda mulai merubah tatanan sosial masyarakat
dengan mengangkat Penghulu Bersurat (besluit) untuk mudahnya
urusan pemungutan pajak bagi kepentingan kolonial. Nagari-nagari
yang tadinya adalah otonom di Minangkabau, setelah perang itu
menjadi wilayah Administratif Pemerintahan Hindia Belanda.
Kekhawatiran masyarakat Minang terhadap Belanda sebagai
bangsa penjajah yang kafir (tidak beragama Islam), dengan perubahan
struktur pemangku adat yang diberi besluit ini, akan dapat berakibat
menjauhkan masyarakat Minangkabau dari nilai-nilai adat dan agama
Islam yang dianut mereka. Sebagai upaya menguatkan kembali jalinan
kesatuan kaum adat dan ulama zuama di dalam kesatuan adat
Minangkabau telah menjadi penyebab lahirnya piagam sumpah satie
Bukik Marapalam ini.
Ketiadapastian tanggal peristiwa ini, membuka peluang sebesarnya
untuk melakukan penelitian sejarah dan nilai-nilai yang dikandung
dalam setiap peristiwa dalam gerakan Paderi, dan sebelumnya, juga
tentang hubungan antara variabel adat dan agama dewasa ini, yang
serta merta juga berkembang untuk kasus-kasus di luar dan dalam
masyarakat Minangkabau sepanjang waktu.10
Di samping itu, ada pula pandangan tentang peristiwa kemunculan
piagam sumpah satie itu telah terjadi pada masa Syekh Burhanuddin
menyebarkan Islam di tengah-tengah kuatnya pengaruh adat di alam
Minang. Pengembangan Islam secara bersahabat (evolusi) menyiratkan
bahwa di masa dakwahnya Syekh Burhanuddin, telah berlaku
consensus di tengah masyarakat, yaitu “adaik basandi syarak, syarak
basandi adaik”. Kenyataan social di tengah kehidupan masyarakat
Minang di nagari, membuktikan bahwa aliran Sattariyah, yang erat
kaitannya dengan Syekh Burhanuddin, telah berkembang sampai ke

9 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

pedalaman Minang, di Nagari Andaleh, yaitu Marabukit, yang berada di


kaki Bukit Marapalam.
Azwar Datuk Mangiang pernah mewawancarai Inyiak Canduang
(penulis buku “Perdamaian Adat dan Syarak”) pada akhir tahun 1966,
di Pekan Kamis, Candung, dan menuliskan dalam makalah “Piagam
sumpah satie Bukik Marapalam”, bahwa peristiwa sumpah satie itu
telah terjadi sekitar tahun 1644 Masehi (M), jauh sebelum gerakan
Paderi berkembang di alam Minangkabau.

SARI PATI SUMPAH SATIE BUKIT MARAPALAM


(MENURUT CATATAN INYIAK CANDUANG)
Agama Islam mula-mula datang ke Minangkabau dengan melalui
daerah Pesisir (rantau), disambut dengan tangan terbuka oleh
Penghulu-Penghulu dalam Luhak nan Tigo Lareh nan Duo.
Sesudah Islam berkembang di Alam Minangkabau terjadilah
perselisihan antara Kaum Adat dengan Alim Ulama, disebabkan ada
sebagian dari pamaianan kaum adat yang tidak disetujui oleh Alim
Ulama seperti basalung barabab, manyabung, bajudi, badusun
bagalanggang, basorak basorai dan lain-lain. Dan sebagian apa yang
diharuskan oleh agama tidak dapat dibenarkan menurut adat seperti
perkawinan sepasukuan.
Untuk memelihara persatuan dalam nagari, diusahakan oleh
orang pandai-pandai dan terkemuka mencari air nan janih sayak nan
landai guna terwujudnya perdamaian antara Penghulu dan Alim Ulama.
Nan di atas ke bawah-bawah nan di bawah ke atas-atas, masing-
masing surut salangkah. Kaum adat meninggalkan pamainan yang
bertentangan dengan agama seperti manyabung, berjudi dan
sebagainya.
Dan Alim Ulama membenarkan pula ketentuan adat yang tidak
berlawanan dengan agama seperti melarang perkawinan sepasukuan
dan lain-lain, sehingga dapatlah kata sepakat: “Bulat boleh
digolongkan picak boleh dilayangkan”.
Buat mengikrarkan dan ma-ambalaui kebulatan itu, diadakanlah
pertemuan besar di atas Bukit Marapalam (antara Lintau dan Tanjung

10 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

Sungayang) yang dihadiri oleh Penghulu-Penghulu dan Alim Ulama


serta orang-orang terkemuka dalam Luhak nan Tigo Lareh nan Duo.
Dibantai kerbau, dagingnya dilapah darahnya dikacau, tanduk
ditanamkan, ditapung batu dilicak pinang, diikat dengan Alfatihah dan
dibacakan doa selamat. Dalam pertemuan besar itulah diikrarkan
bersama-sama dan menjunjung tinggi kebulatan yang telah dibuat oleh
orang-orang pandai dan para terkemuka, yaitu:

 Penghulu rajo dalam nagari, kato badanga, pangaja baturuik,


manjua jauh manggantung tinggi.

 Alim Ulama suluh bendang dalam nagari, air nan janih sayak nan
lancar tempat batanyo di Panghulu.
Dalam pelaksanaannya, Alim Ulama memfatwakan dan Panghulu
mamarintahkan.
Di sinan ditanamlah Rajo Adat di Buo dan Rajo ibadat di Sumpur
Kudus.
Dikarang sumpah jo satie, yaitu: “Siapa yang melanggar
kebulatan ini dimakan bisokewi di atas dunia , ke atas indak bapucuk,
ke bawah indak baurat, di tangah dilarik kumbang, di akhirat dimakan
kutuk kalam Allah.
Di sinan ditetapkan pepatah adat nan berbunyi: “Adat bapaneh
syarak balindung”, artinya: “Adat adalah tubuh dan syarak adalah jiwa
di Alam Minangkabau. Dan pepatah adat nan berbunyi: “Syarak
mangato adat mamakai”.
Itulah sari pati sumpah satie (Piagam) Bukit Marapalam nan kita
terima turun temurun sampai kini. Dan hambo terima dahulunya dari
tiga orang tuo, yaitu:
1. Tuangku Lareh Kapau nan Tuo (sebelum Tuangku Lareh yang
terakhir).
2. Ninik dari mintuo hambo di Ampang Gadang.
3. Angku Candung nan Tuo.
Bukti-bukti yang bersua dalam pelaksanaan, yang bahasa
Penghulu memerintahkan menjalankan fatwa Ulama seperti berzakat,

11 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

berpuasa, bersunat rasul dan sebagainya, yang sulit dapat dikerjakan


kalau tidak diiringi fatwah Ulama itu dengan perintah Penghulu sebagai
rajo dalam nagari.
Pada akhir abad ke-sembilan belas dan lai hambo dapati bahwa
sesuatu perkara yang terjadi dalam nagari dihukum oleh Penghulu.
Sebelum Penghulu menjatuhkan hukuman malamnya mendatangi
Ulama yang dinamakan waktu itu dengan “Bamuti” (mungkin asalnya
bermufti) untuk minta nasihat dan bermusyawarah tentang hukum
yang akan dijatuhkan (waktu itu tempat “bamuti” adalah Angku
Candung nan basurau di Baruhbalai). Dan begitu juga ditiap nagari di
Minangkabau sampai ada peraturan baru oleh Belanda yang perkara
diadili oleh Tuangku Lareh, kemudian Magistraad dan kemudian sekali
Landraad.
Kaum penjajah (Belanda) sangat kuatir kepada persatuan adat
dan agama. Maka diusahakannya memecahkan dengan mendekati
Penghulu dan menjauhi Alim Ulama.
Tambo-tambo adat yang dipinjam, katanya untuk dipelajari,
tetapi sebenarnya untuk dihabiskan, guna mengaburkan sejarah yang
sebenarnya, termasuk sejarah Bukit Marapalam ini.
Demikianlah hambo wasiatkan untuk dipedomani oleh anak cucu
hambo kemudian hari di Candung khususnya dan di Minangkabau
umumnya, karena sudah terdengar orang-orang yang hendak
mencoba memisahkan antara adat dan agama di Minangkabau.
Wabilahitaufieq.
Candung, 7 Juni
1964
26 Muharam 1384.
Dto
Syekh Suleiman Ar
Rasuly

Mata Rantai Gerakan Pembaru abad 20, di Sumatera

Barat

12 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

Pada awal abad ke-20, di Sumatera Barat ditandai dengan periode


yang penuh pergolakan sosial dan intelektual. Di awali dengan
pulangnya tiga ulama Minangkabau selepas menuntut ilmu di Mekah,
yang membawa modernisasi Islam ajaran Muhammad Abduh dan
Jamaluddin al-Afghani dari Mesir, yaitu Muhammad Djamil Djambek
atau Inyik Djambek (1860-1947) 11, M. Thaib Umar (1874-1920),
Abdullah Ahmad (1878-1933).12
Gerakan ini tidak hanya dimotivasi oleh gerakan pembaruan yang
sudah berkembang di Mesir dan beberapa Negara Arab, tapi juga oleh
dorongan rivalitas terhadap golongan berpendidikan Barat yang cara
material dan sosial terlihat lebih bergengsi. Tahapan kemajuan
pemikiran di Ranah Minang, dalam menerapkan (syarak) agama di
tengah kehidupan masyarakat adat Minangkabau, adalah pertanda
tumbuhnya kemerdekaan berfikir di kalangan para intelektual, ulama
zuama seperti Hadji Agus Salim (1884-1954), seiring perkembangan
abad “liberal age”13, yang mengarus masuk ke Indonesia, termasuk
ranah Minangkabau.
Pembaruan Islam di Minangkabau bukan semata terbatas pada
kegiatan serta pemikiran saja, tetapi menemukan kembali ajaran atau
prinsip dasar Islam yang berlaku abadi yang dapat mengatasi ruang
dan waktu. Sementara itu usaha-usaha pembaruan yang praktis, baik
dalam bentuk sekolah dan madrasah-madrasah atau pun kerajinan
desa, mulai bermunculan. Kaum pembaru pemikiran Islam berusaha
mengembalikan ajaran dasar agama Islam dengan menghilangkan
segala macam tambahan yang datang kemudian dalam din, agama,
dan dengan melepaskan penganut Islam dari jumud, kebekuan dalam
masalah dunia.
Mereka berusaha memecahkan tembok tambahan dan jumud itu,
agar dapat menemu kembali isi dan inti ajaran Islam yang
sesungguhnya, yang menurut keyakinannya menjadi cahaya yang
dapat menyinari alam ini. Kaum pembaru berkeyakinan bahwa bab al-
ijtihad, masih tetap terbuka; mereka menolak taqlid. Ijtihad membawa
kaum pembaru untuk lebih memperhatikan pendapat.
Keinginan untuk keluar dari situasi yang dianggap tidak sesuai
dengan gagasan-gagasan yang ideal menghadapkan Minangkabau

13 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

pada pilihan-pilihan yang kadang-kadang saling bertentangan. Model


barat mungkin baik, tetapi dapat berarti ancaman pada dasar-dasar
agama dan adat. Perubahan yang sesuai dengan ajaran Islam yang
ortodoks, memang merupakan pemecahan.
Tetapi bagaimana pula dengan lembaga adat yang telah mendarah
daging dalam kehidupan masyarakat Minangkabau? Dan, apa pula
contoh yang bisa diikuti?
Namun parameter adat sangat terbatas dan bias menutup jalan ke
dunia maju dan mungkin pula menghadapkan diri pada masalah dosa
dan tidak berdosa, soal batil dan haq.

Peranan Guru dan Murid


Berpuluh-puluh buku polemik, baik dalam bahasa Arab maupun
bahasa Melayu mulai banyak diterbitkan, dan berbagai majalah, surat
kabar yang mewartakan hal-hal yang berupa pergolakan pemikiran,
dan aliran-aliran dalam pemahaman mazhab dalam syari’at Islam,
mulai banyak bermunculan, dan pengamalan dalam adat sesuI
panduan syarak, agama Islam sangat ramai dibicarakan. Salah seorang
pelopor gerakan pembaruan di Minangkabau yang menyebarkan
pikiran-pikirannya dari Mekah pada awal abad ke-20 adalah Syekh
Ahmad Khatib EL Minangkabawy (1855).14
Syekh Ahmad Khatib adalah turunan dari seorang hakim gerakan
Paderi yang sangat anti penjajahan Belanda. Ia dilahirkan di Bukittinggi
pada tahun 1855 oleh ibu bernama Limbak Urai, yang adalah saudara
dari Muhammad Shaleh Datuk Bagindo, Laras, Kepala Nagari Ampek
Angkek yang berasal dari Koto Tuo Balaigurah, Kecamatan Ampek
Angkek Candung. Ayahnya adalah Abdullatief Khatib Nagari,
saudara dari Datuk Rangkayo Mangkuto, Laras, Kepala Nagari
Kotogadang, Kecamatan IV Koto, di seberang ngarai Bukittinggi. Baik
dari pihak ibu ataupun pihak ayahnya, Ahmad Khatib adalah anak
terpandang, dari kalangan keluarga yang mempunyai latar belakang
agama dan adat yang kuat, anak dan kemenakan dari dua orang
tuanku Laras dari Ampek dan Ampek Angkek. Ditenggarai, bahwa ayah
dan ibu Ahmad Khatib dipertemukan dalam pernikahan berbeda nagari
ini, karena sama-sama memiliki kedudukan yang tinggi dalam adat,

14 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

dari keluarga tuanku laras, dan latar belakang pejuang Paderi, dari
keluarga Pakih Saghir dan Tuanku nan Tuo. Sejak kecilnya Ahmad
Khatib mendapat pendidikan pada sekolah rendah yang didirikan
Belanda di kota kelahirannya. Ia meninggalkan kampung halamannya
pergi ke Mekah pada tahun 1871 dibawa oleh ayahnya. Sampai dia
menamatkan pendidikan, dan menikah pada 1879 dengan seorang
putri Mekah Siti Khadijah, anak dari Syekh Shaleh al-Kurdi, maka Syekh
Ahmad Khatib mulai mengajar dikediamannya di Mekah tidak pernah
kembali ke daerah asalnya. Syekh Ahmad Khatib, mencapai derajat
kedudukan yang tertinggi dalam mengajarkan agama sebagai imam
dari Mazhab Syafei di Masjidil Haram, di Mekah. Sebagai imam dari
Mazhab Syafe’i, ia tidak melarang murid-muridnya untuk mempelajari
tulisan Muhammad Abduh, seorang pembaru dalam pemikiran Islam di
Mesir.
Syekh Ahmad Khatib sangat terkenal dalam menolak dua macam
kebiasaan di Minangkabau, yakni peraturan-peraturan adat tentang
warisan dan tarekat Naqsyahbandiyah yang dipraktekkan pada masa
itu. Kedua masalah itu terus menerus dibahasnya, diluruskan dan yang
tidak sejalan dengan syari’at Islam ditentangnya.
Pemahaman dan pendalaman dari Syekh Ahmad Khatib el
Minangkabawy ini, kemudian dilanjutkan oleh gerakan pembaruan di
Minangkabau, melalui tabligh, diskusi, dan muzakarah ulama dan
zu’ama, penerbitan brosur dan surat-kabar pergerakan, pendirian
sekolah-sekolah seperti madrasah-madrasah Sumatera Thawalib, dan
Diniyah Puteri, sampai ke nagari-nagari di Minangkabau, sehingga
menjadi pelopor pergerakan merebut kemerdekaan Republik
Indonesia.
Dalam beberapa karya Ahmad Khatib menunjukkan bahwa barang
siapa masih mematuhi lembaga-lembaga “kafir”, adalah kafir dan akan
masuk neraka. Kemudian, semua harta benda yang diperoleh menurut
hukum waris kepada kemenakan, menurut pendapat Ahmad Khatib
harus dianggap sebagai harta rampasan.
Pemikiran-pemikiran yang disampaikan Ahmad Khatib memicu
pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau. Di pihak lain perlawanan
yang berarti terhadap pemikiran Ahmad Khatib datang dari kalangan

15 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

Islam tradisi yang adakalanya disebut kaum tua. Kecamannya


mengenai tarekat, telah dijawab oleh Syekh Muhamamad Saat bin
Tanta’ dari Mungkar dan Syekh Khatib Ali di Padang jang menerbitkan
beberapa tulisan tentang itu. Kecamannya dalam harta warisan,
menumbuhkan kesadaran banyak orang Minangkabau memahami,
bahwa tidak dapat disesuaikan hukum waris matrilineal dengan hukum
agama.
Di antara guru agama banyak juga yang tidak dapat menyetujui
pendirian Ahmad Khatib, yang dianggap tidak kenal damai. Walaupun
pikiran-pikiran itu mendapat tantangan dari kaum adat, maupun
muridnya yang tidak menyetujui pemikiran demikian, namun
perbedaan pendapat ini telah melahirkan hasrat untuk lebih
berkembang, menghidupkan kembali kesadaran untuk pengenalan
kembali diri sendiri, yaitu kesadaran untuk meninggalkan
keterbelakangan.
Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawy menyebarkan pikiran-
pikirannya dari Mekah melalui tulisan-tulisannya di majalah atau buku-
buku agama Islam, dan melalui murid-murid yang belajar kepadanya.
Dengan cara itu, beliau memelihara hubungan dengan daerah asalnya
Minangkabau, melalui murid-muridnya yang menunaikan ibadah haji ke
Mekah, dan yang belajar padanya, dan menjadi guru di daerah asalnya
masing-masing. Murid-muridnya kemudian menjadi penggerak
pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau, seperti Syekh
Muhammad Djamil Djambek (1860 – 1947), Haji Abdul Karim
Amarullah atau Inyik Rasul (1879-1945)15, dan Haji Abdullah
Ahmad (1878 – 1933)16.
Ulama zuama murid Ahmad Khatib, mulai mengetengahkan pemikiran,
manakala Islam bermaksud tetap memuaskan pengikutnya, maka
harus terjadi suatu pembaruan. Setiap periode dalam sejarah
peradaban manusia, melahirkan pembaruan pemikiran agama yang
bertujuan memperbaiki pola penghidupan umatnya. Cita-cita itu
ditemukan kembali dalam agama. Cara berpikir seorang beragama
Islam bertolak dari anggapan keyakinan, bahwa Islam itu tidak
mungkin memusuhi kebudayaan. Dengan kemajuan cara berpikir orang
berusaha menemukan kembali cita-citanya dalam Islam. Timbul

16 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

pertanyaan, apakah di dalam Islam ada unsur yang menyangkut


kepada cita-cita persamaan, kebangsaan, hasrat untuk maju dan
rasionalisme. Keunggulan dari Syekh Ahmad Khatib dalam memberikan
pelajaran kepada muridnya, selalu menghindari sikap taqlid.

Merentang Nusantara dan Tanah Semenanjung


Seorang pembaru lainnya adalah Syekh Taher Djalaluddin

(1869-1956), pada masa mudanya dipanggil Muhammad Taher bin

Syekh Muhamad, lahir di Ampek Angkek, Bukittinggi, tahun 1869, anak

dari Syekh Cangking, cucu dari Faqih Saghir yang bergelar Syekh

Djalaluddin Ahmad Tuanku Sami’, pelopor kembali ke ajaran syariat

bersama Tuanku Nan Tuo. Syekh Taher Djalaluddin adalah saudara

sepupu dari Ahmad Khatib Al Minangkabawy, karena ibunya adik

beradik, pelanjut generasi terakhir keluarga Paderi.

Syekh Taher Djalaluddin, berangkat ke Mekah 1880, dan menuntut

ilmu selama 15 tahun, kemudian meneruskan ke Al Azhar, di Mesir

(1895-1898), dan kembali ke Mekah mengajar sampai tahun 1900.

Beliau sangat ahli di bidang ilmu falak, dan tempat berguru Syekh

Muhammad Djamil Djambek. Mulai tahun 1900 itu, Syekh Taher

Djalaluddin menetap di Malaya, pernah diangkat menjadi Mufti

Kerajaan Perak. Eratnya hubungan Syekh Taher Djalaluddin dengan

perguruan tinggi Al-Azhar di Kairo, dia tambahkan al-Azhari di belakang

namanya.

Syekh Taher Djalaluddin merupakan seorang tertua sebagai pelopor

dari ajaran Ahmad Khatib di Minangkabau dan tanah Melayu.

Bahkan ia juga dianggap sebagai guru oleh kalangan pembaru di

Minangkabau. Pengaruh Syekh Taher Djalaluddin tersebar pada murid-

17 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

muridnya melalui majalah Al-Imam dan melalui sekolah yang

didirikannya di Singapura bersama Raja Ali Haji bin Ahmad pada tahun

1908. Sekolah ini bernama Al-Iqbal al-Islamiyah, yang menjadi

model Sekolah Adabiyah yang didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad di

Padang pada tahun 1908.

Majalah Bulanan Al-Imam memuat artikel tentang pengetahuan

popular, komentar kejadian penting di dunia, terutama dunia Islam,

dan masalah-masalah agama, bahkan mendorong umat Islam betapa

pentingnya memiliki sebuah Negara yang merdeka dan tidak dijajah.

Majalah ini mendorong agar umat Islam mencapai kemajuan dan

berkompetisi dengan dunia barat. Al-Iman sering mengutip pendapat

dari Mohammad Abduh yang dikemukakan majalah Al-Mannar di Mesir.

Majalah ini memakai bahasa Melayu dengan tulisan Arab Melayu

atau tulisan Jawi, dan disebarkan di Indonesia meliputi tanah Jawa

(Betawi, Jakarta, Cianjur, Semarang, dan Surabaya), Kalimantan (di

Pontianak dan Sambas), Sulawesi (di Makassar). Di Padang, Haji

Abdullah Ahmad mencontoh bentuk dan moto Al-Iman pada majalah

yang diterbitkannya di Padang bernama Al-Munir. Banyak masalah

yang dibicarakan pada Al-Iman mendapat tempat pada Al-Munir.

Syekh Taher baru dapat pulang ke Minangkabau pada tahun 1923

dan tahun 1927, namun ketika itu dia ditangkap dan ditahan oleh

Pemerintah Belanda selama enam bulan, dituduh memfitnah dan

menentang penjajahan melalui artikel-artikelnya di dalam majalah Al

Iman itu. Setelah bebas Syekh Taher meninggalkan kampung

halamannya dan tidak pernah kembali lagi ke daerah asalnya. Syekh

18 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

Taher Djalaluddin meninggal dunia pada tahun 1956 di Kuala Kangsar,

Perak, Malaya.

Tak kurang penting timbulnya pergolakan-pergolakan kecil di

beberapa tempat, biasanya membayangkan dinamika masyarakat

adat dan agama di dalam membangun masyarakat di Minangkabau

yang sedang mengalami perubahan, menumbuhkan keinginan baru

untuk melakukan proses pemeriksaan kembali terhadap nilai-nilai

kultur yang dipunyai. Ketika arah pembangunan dan perobahan sosial

sedang terjadi, menuju suasana merebut kemerdekaan dan menjelang

proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, setelah berakhirnya

penindasan panjang 350 tahun dijajah Belanda, dan beralihnya

kekuasaan kepada Dai Nippon, maka merebut kemerdekaan menjadi

wajib.

Fatwa para ulama dan zuama ikut membentuk dinamika sejarah

dan pemikiran Islam di ranah Minangkabau bergerak cepat, sejak

empat puluh tahun sebelumnya juga telah digerakkan oleh para ulama

zuama dengan basis ilmu pengetahuan agama dan adat istiadat, serta

bahasan-bahasan perkembangan politik di Mesir dan Turki masa itu,

ikut mendorong kepada pencarian model yang sesuai dengan yang

haq, dan menuntut sikap beragama yang rasional, serta menumbuh

kembangkan semangat kemerdekaan dalam berbangsa dan bernegara.

Gerakan pembaruan ulama zuama di awal abad ke 20 di tanah

Melayu dan ranah Minangkabau ini, berawal dengan kepulangan para

penuntut ilmu dari Makkah el Mukarramah, yang umumnya adalah

murid dari Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawiy, telah ikut

19 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

memberikan sumbangan bagi pencerahan pemahaman dan

pengamalan syari’at Islam, dan mendorong bagi munculnya

perdebatan-perdebatan umum yang diikuti para ulama, kaum

terpelajar, dan ahli-ahli adat, dan ikut pula membukakan kesempatan

bagi lahirnya berbagai jenis perkumpulan yang bertujuan

memperdalam ilmu agama dan adat istiadat, serta mendorong

tumbuhnya pendidikan Islam, madrasah-madrasah samapai ke nagari-

nagari, dan berdiri pula berjenis organisasi pergerakan, seperti

Tarbiyah Islamiyah, Adabiyyah, Muhammadiyah, dan meluas sampai ke

semenanjung Malaya, dibawa oleh Syekh Taher Jalaluddin yang

lebih banyak melaksanakan dakwahnya di tanah semenjanjung itu.

Kekuatan Dakwah Tabligh dan Pendidikan

Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860 – 1947)17, adalah

adalah satu dari tiga ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra

Barat di awal abad ke-20, dilahirkan di Bukittinggi, terkenal sebagai

ahli ilmu falak terkemuka. Nama Syekh Muhammad Djamil Djambek

lebih dikenal dengan sebutan Inyik Syekh Muhammad Djamil

Djambek atau Inyik Djambek, dilahirkan dari keluarga bangsawan.

Dia juga merupakan keturunan penghulu. Ayahnya bernama Saleh

Datuk Maleka, seorang kepala nagari Kurai, sedangkan ibunya

berasal dari Sunda.

Muhammad Djamil mendapatkan pendidikan dasarnya di Sekolah

Rendah yang khusus mempersiapkan pelajar untuk masuk ke sekolah

guru (Kweekschool). Sampai umur 22 tahun ia berada dalam kehidupan

parewa, satu golongan orang muda-muda yang tidak mau

20 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

mengganggu kehidupan keluarga, pergaulan luas di antara kaum

parewa berlainan kampung dan saling harga menghargai, walau ketika

itu kehidupan parewa masih senang berjudi, menyabung ayam, namun

mereka ahli dalam pencak dan silat. Semenjak berumur 22 tahun,

Mohammad Djamil mulai tertarik pada pelajaran agama dan bahasa

Arab. Ia belajar pada surau di Koto Mambang, Pariaman dan di Batipuh

Baruh. Ayahnya membawanya ke Mekah pada tahun 1896 dan

bermukim di sana selama 9 tahun lamanya mempelajari soal-soal

agama. Guru-gurunya di Mekah, antara lain,adalah Taher Djalaluddin,

Syekh Bafaddhal, Syekh Serawak dan Syekh Ahmad Khatib. Ketika itu

dia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau.

Dari semua ilmu yang pernah didalami yang pada akhirnya

membuatnya terkenal adalah tentang ilmu falak, dan belajar dengan

Syekh Taher Djalaluddin. Di akhir masa studinya di Makkah, beliau

sempat mengajarkan ilmu falak, yang menjadi bidang spesialisasi

beliau, kepada masyarakat Sumatera dan Jawi yang bermukim di

Mekah. Keahliannya di bidang ilmu falak mendapat pengakuan luas di

Mekah. Oleh sebab itu, ketika masih berada di tanah suci, Syekh

Muhammad Djamil Djambek pun mengajarkan ilmunya itu kepada para

penuntut ilmu dari Minangkabau yang belajar di Mekah. Seperti,

Ibrahim Musa Parabek (pendiri perguruan Tawalib Parabek) serta

Syekh Abdullah (pendiri perguruan Tawalib Padang Panjang).

Pada tahun 1903, dia kembali ke tanah air. Sekembalinya dari

Mekah, Mohammad Djamil mulai memberikan pelajaran agama secara

tradisional Karena beliau memelihara dengan rapi dan teratur jambang

21 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

dan jenggotnya, maka muridnya mulai menyebutnya dengan Syekh

Muhammad Djamil Djambek, atau Inyik Djambek. Murid-muridnya

kebanyakan terdiri dari para kalipah tarekat. Setelah beberapa lama,

Syekh Muhammad Djambek berpikir melakukan kegiatan alternatif.

Hatinya memang lebih condong untuk memberikan pengetahuannya,

walaupun tidak melalui lembaga atau organisasi. Dia begitu tertarik

pada usaha meningkatkan keimanan seseorang. Kemudian ia

meninggalkan Bukittinggi dan kembali menjalani kehidupan parewa di

Kamang, sebuah nagari pusat pembaruan Islam di bawah Tuanku nan

Renceh pada abad ke-19. Hingga kemudian dia mendirikan dua buah

surau, yakni Surau Tengah Sawah dan Surau Kamang. Keduanya

dikenal sebagai Surau tempat mengaji dengan Inyik Djambek. Di

Kamang pula ia mulai menyebarkan pengetahuan agama untuk

meningkatkan iman.

Akhirnya, ia sampai pada pemikiran, bahwa sebagian besar anak

nagari tidak melaksanakan ajaran agama dengan sempurna bukan

karena kurang keimanan dan ketaqwaannya, tetapi karena

pengetahuan mereka kurang tentang ajaran Islam itu sendiri. Ia

mengecam masyarakat yang masih gandrung pada ajaran tarekat. Ia

mendekati ninik mamak dan membicarakan berbagai masalah

masyarakat. Islam sesuai dengan tuntutan zaman dan keadaan. Islam

juga berarti kemajuan, agama Islam tidak menghambat usaha mencari

ilmu pengetahuan, perkembangan kehidupan dunia, dan menghormati

kedudukan perempuan.

22 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

Islam adalah agama universal, yang dasar ajarannya telah

diungkapkan oleh para nabi, yang diutus kepada semua bangsa (QS.

10;47;2: 164; 35:24; 40:78). Tugas mereka diselesaikan oleh Nabi

Muhammad saw, rasul utusan terakhir untuk seluruh umat manusia.

Bersama dengan temannya, murid juga dari Ahmad Khatib al

Minangkabawy yakni H.Abdullah Ahmad, yang kemudian menjadi salah

seorang di antara para ulama dan zuama, pemimpin kaum pembaru di

Minangkabau, pendiri Sumatera Thawalib, yang berawal dari pengajian

di Masjid Zuama, Jembatan Besi, Padangpanjang, dan kemudian

mendirikan pula Persatuan Guru Agama Islam (PGAI), di Jati, Padang,

telah mengembangkan ajaran gurunya melalui pendidikan dan

pencerahan tradisi ilmu dan mendorong pula para muridnya untuk

mempergunakan akal yang sesungguhnya adalah kurnia Allah.

Jika kepercayaan hanya tumbuh semata-mata karena penerimaan

atas wibawa guru semata, maka kepercayaan itu tidak ada harganya,

dan itulah yang membuka pintu taqlid.

Peperangan melawan penjajahan asing tidak semata-mata dengan

menggunakan senjata, bedil dan kelewang, tetapi pencerdasan anak

kemenakan dengan memberikan senjata tradisi ilmu.

Menghapus khurafat dan bid’ah

Cita-cita pikiran untuk memajukan umat dengan agama Islam yang

demikian, hanya dapat dicapai melalui pengamalan syariat, yang

terbagi kepada tauhid dan ibadat. Dalam ibadah, semuanya terlarang,

kecuali yang disuruh. Jadi cara-cara beribadah telah diperintahkan. Di

23 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

tradisi-tradisi baru yang tidak ada perintahnya, maka tidak dapat

diterima sebagai ibadah, dan disebut bid’ah. Di dalam kegiatan

pemurnian agama, kaum pembaru menentang berbagai bid’ah yang

dibedakan atas dua jenis, yaitu bid’ah menurut hukum (syar’iyah) dan

dalam pemakaian bahasa (lughawiyah).

Bid’ah syar’iyah tidak dapat dibiarkan berlaku, karena itu perlu

diteliti dalam segala hal, apakah yang lazim dilakukan sehari-hari di

bidang agama, dengan menggunakan akal dan berpegang kepada

salah satu tiang hukum (Quran, Sunnah, Ijma’, Qiyas). Di samping itu

ada pula bid’ah dalam soal kepercayaan (bid’ah pada I’tikad),

sebagaimana ada pula bid’ah pada amalan, seperti mengucapkan

niyah. Di dalam bid’ah lughawiyah dimasukkan, misalnya, mempelajari

tatabahasa, mendirikan sekolah-sekolah agama, pembangunan-

pembangunan menara, karena semuanya dipandang sebagai alat

bantu yang disesuaikan dengan zaman untuk memenuhui perintah

nabi, seperti ‘carilah ilmu’. Islam pada masa kemajuan tidak harus

berkembang sejajar dengan perkembangan inteletual, sebab ada hal

yang dilarang dan disuruh, dalam batas halal dan haram, serta amat

ma’ruf dan nahyun ‘anil munkar, sebagai sifat asli dari agama Islam.

Agama juga mengatur hal yang bersangkutan dengan dunia. Masalah

ini ada yang mengandung ciri ‘ubudiyah, dalam arti berdasarkan

perintah dan bagian dari din Allah, sedangkan cara mengamalkannya

bersifat duniawi. Umpamanya perintah memelihara anak yatim,

menghormati orang tua, membersihkan gigi, yang pelaksanaannya

sebagian besar terletak pada pilihan individu.

24 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

Kemudian sampai pula kepada persoalan yang lebih sensitive,

sampai dimanakah kebebasan yang dimiliki memilih alternatif?

Persoalan politik dan kemudian menyebarkan nasionalisme anti

kolonial menuju Indonesia Raya tidak terlepas dari pergolakan

intelektual ini. Tidak saja masalah fikh, tetapi juga masalah tauhid

harus dihadapi dengan pikiran yang terbuka.

Perbedaan yang fundamental antara inovasi yang menyalahi hukum

hakiki, yang bersumber Quran dan Hadits, dan pembaruan sebagai

akibat dari peralihan zaman, harus dibedakan dengan tegas.

Para pelopor pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau berasal

dari segala bidang profesi, di antaranya kalangan ulama (Haji Rasul),

kalangan pedagang (H. Abdullah Ahmad), dan pada umumnya berhasil

melepas dirinya dari tradisi yang ada, seperti Syekh Djamil Djambek,

Haji Rasul, Haji Abdullah Ahmad dan Ibrahim Musa Parabek, di masa

hidupnya dipandang sebagai ulama besar, tempat memulangkan

segala persoalan agama dan kemasyarakatan pada umumnya.

Gerakan pembaruan pemikiran di bidang agama yang paling banyak

terdengar di Sumatra Barat. Adakalanya mereka dinamakan kaum

modernist atau disebut juga kaum muda. Salah seorang di antara

kaum pembaru itu adalah H.Abdullah Ahmad berkali-kali berkata,

bahwa di setiap bidang boleh mempergunakan akal, yang sebenarnya

adalah kurnia Tuhan, kecuali bidang agama. Jika kepercayaan tetap

merupakan penerimaan saja atas wibawa guru- atau taqlid, maka

kepercayaan itu tidak ada gunanya. Orang berakal harus pujaannya

Allah dan untuk itu dipelajarinya akar-akar hukum (ushul al-fiqh).

25 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

Untuk mengenalkan semua inti ajaran agama Islam ini kepada

masyarakat luas diperlukan gerakan penyampaian berbentuk tabligh.

Para ulama zuama, seperti Inyik Djambek memilih mengamalkan

ilmunya secara langsung kepada masyarakat, dan mengajarkan ilmu

tentang ketauhidan dan mengaji dengan cara bertabligh, di

Surau Tangah Sawah Bukittinggi, dan menjadi Surau Inyik Djambek,

sampai sekarang. Syekh Muhammad Djamil Djambek berkesimpulan

bahwa ajaran agama Islam itu sebaiknya disampaikan melalui tabligh

dan ceramah-ceramah (wirid-wirid) yang dihadiri oleh masyarakat

banyak. Perhatiannya ditujukan untuk meningkatkan iman seseorang.

Ia mendapat simpati dari tokoh-tokoh ninik mamak dan kalangan guru

Kweekschool. Bahkan ia mengadakan dialog dengan orang non Islam

dan orang Cina. Sifatnya yang populer ialah ia bersahabat dengan

orang yang tidak menyetujui fahamnya, sehingga pada tahun 1908 ia

mendirikan pusat kegiatan keagamaan untuk mempelajari agama yang

dikenal dengan nama Surau Inyiak Djambek di Tengah Sawah,

Bukttinggi. Suraunya merupakan tempat pertemuan bagi organisasi-

organisasi Islam.

Kiprahnya mampu memberikan warna baru di bidang kegiatan

keagamaan di Sumatra Barat. Mengutip Ensiklopedi Islam, Syekh

Muhammad Djambek juga dikenal sebagai ulama yang pertama kali

memperkenalkan cara bertablig di muka umum. Demikian pula

kebiasaan membaca riwayat dari kitab berbahasa Arab, digantinya

dengan tablig yang menceritakan peristiwa tersebut dalam bahasa

Melayu, sehingga dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat.

26 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

Termasuk juga tradisi membaca kitab, digantinya dengan membahas

masalah kehidupan sehari-hari, dalam satu tradisi ilmu. Semua itu

dilakukan karena agama diperuntukkan bagi siapa saja yang dapat

memahaminya. Ia pun dikenal sebagai ulama yang lebih bergiat di

aktivitas tablig dan ceramah, yang kemudian diikuti oleh para pembaru

lainnya di ranah Minangkabau.

Seiring perjalanan waktu, sikap dan pandangan terhadap tarekat

mulai berubah. Syekh Muhammad Djambek kini tidak lagi tertarik pada

tarekat. Pada awal tahun 1905, ketika diadakan pertemuan ulama

guna membahas keabsahan tarekat yang berlangsung di Bukit

Surungan, Padang Panjang, Syekh Muhammad berada di pihak yang

menentang tarekat. Dia "berhadapan" dengan Syekh Bayang dan Haji

Abbas yang membela tarekat. Kemudian dia menulis buku mengenai

kritik terhadap tarekat berjudul Penerangan Tentang Asal Usul

Thariqatu al-Naksyabandiyyah dan Segala yang Berhubungan dengan

Dia, terdiri atas dua jilid. Salah satu penjelasan dalam buku itu, yakni

tarekat Naksyabandiyyah diciptakan oleh orang dari Persia dan India.

Syekh Muhammad Djambek menyebut orang-orang dari kedua

negeri itu penuh takhayul dan khurafat yang makin lama makin jauh

dari ajaran Islam. Buku lain yang ditulisnya berjudul Memahami

Tasawuf dan Tarekat dimaksudkan sebagai upaya mewujudkan

pembaruan pemikiran Islam. Akan tetapi secara umum dia bersikap

tidak ingin bermusuhan dengan adat istiadat Minangkabau.

Tahun 1929, Syekh Muhammad Djambek mendirikan organisasi

bernama Persatuan Kebangsaan Minangkabau dengan tujuan untuk

27 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

memelihara, menghargai, dan mencintai adat istiadat setempat. Di

samping juga untuk memelihara dan mengusahakan agar Islam

terhindar dari bahaya yang dapat merusaknya.

Selain itu, dia juga turut menghadiri kongres pertama Majelis Tinggi

Kerapatan Adat Alam Minangkabau tahun 1939. Yang tak kalah

pentingnya dalam perjalanan dakwahnya, pada masa pendudukan

Jepang, Syekh Muhammad Djambek mendirikan Majelis Islam Tinggi

(MIT) berpusat di Bukittinggi.

Pada 30 Desember 1947 (18 Shafar 1366 H), Inyik Djambek wafat,

meninggalkan pusaka besar, wirid tsulasa (setiap hari Selasa), yang

tetap hidup sampai sekarang. Beliau di makamkan di samping

Surau Inyik Djambek di Tengah Sawah Bukittinggi, dalam usia 87

tahun.

Beberapa bulan setelah itu, 26 Januari 1948 (14 Rabi’ul awal 1366

H), teman akrab Inyik Djambek dalam berdakwah, yakni Inyik Syekh

Daud Rasyidy (terkenal dengan sebutan Inyik Daud, ayah Buya Datuk

Palimo Kayo), meninggal dunia pula di Surau Inyik Djambek di Tangah

Sawah ini, ketika mengimami shalat maghrib, dan besoknya

dikuburkan di samping makamnya Inyik Djambek.

Itulah sebabnya sampai sekarang ini, kita dapati makam kembar di

samping surau Inyik Djambek ini.

Beberapa Rangkuman

Bila kita mengamati dari perkembangan budaya di Minangkabau,


sesungguhnya gerakan pembaruan pemikiran syarak dan adat di ranah
Minang, terlihat bahwa peredaran masa sejarah social budaya

28 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

Minangkabau, selalu mengalami perubahan dalam kurun waktu 50


hingga 100 tahun, dengan orientasi membangun nagari, dan ranah.
1. Setiap muncul perubahan atau gerakan reformasi, sering
sekali berakibat kepada makin berkurangnya peran penghulu
adat, dan melemahnya pagar-pagar adat, termasuk ulama
zuama, alim ulama cerdik pandai suluh bendang di nagari.
2. Sampai akhir penjajah Belanda, masyarakat adat tampaknya
berorientasi pada tiga pola sosial budaya. Tradisional adat,
Islam dan barat. Namun traidisi adat kian menciut
sehubungan golongan Islam modernis lebih menyesuaikan
diri pada pola budaya barat seperti yang telah berlaku pada
beberapa daerah belahan dunia, seperti di Mesir dan Timur
Tengah saat ini.
3. Mulai pendudukan Jepang golongan orientasi barat mulai
kehilangan arah ketika mereka melihat bahwa bangsa timur
ternyata tidak kalah hebat dari barat. Sebagai bangsa
mereka kembali menoleh ke pusaka nenek moyangnya, adat
kebiasaan dan kekuatan nilai-nilai luhur yang ditinggalkan.
4. Pada awal kemerdekaan, dan bahkan pada masa reformasi
kini, ada kecenderungan untuk tugas dan kewajiban
penjagaan dan pengamalan syarak (agama Islam) kepada
umumnya dikembalikan kepada pemerintahan negara
melalui penerbitan perda-perda tentang adat, sehingga
kelihatan bahwa masyarakat adat kehilangan kearifan dan
kewenangan di dalam menetapkan tindakan sesuai dengan
hak konstutusional adat mereka. Dengan demikian berakibat
pada peran elit golongan ulama dan pemuka adat yang
selama ini sangat penting mengangkat harkat bangsa mulai
mengendor.
5. Reaksi terhadap kebijaksaan pemerintah pusat yang
sentralistik, sungguh telah menyadarkan seluruh komponen
elit politik Minangkabau di kampung dan di rantau untuk
menampilkan identitas dirinya yang Minangkabau, dengan
melahirkan pemikiran-pemikiran baru, pentingnya kompilasi

29 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

adat dan syarak di Minangkabau, di masa ini dan masa


datang.

Padang, 5 Pebruari 2008 M/ 27 Muharram 1429 H

DAFTAR BACAAN DAN SUMBER INFORMASI


A. Navis. “Bukit Marapalam”. Padang: Universitas Andalas, 1991.
Andi Asoka. “Sumpah Satie Bukit Marapalam, Antara Mitos dan
Realitas” (merupakan bab IV dari laporan Penelitian “Sejarah
Perpaduan Antara Adat dan Syarak di Sumatera Barat, kerjasama
Fakultas Sastra Unand dengan Pemda Tingkat I Sumatera Barat, 1991).
Andi Asoka, Zulqaiyim, Sabar. “Stratifikasi Sosial Minangkabau Pra
Kolonial”. Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas, 1991/1992.
Azwar Datuk Mangiang. “Piagam sumpah satie Bukik Marapalam”.
Makalah Seminar. Arsip pribadi tertanggal 16 Juli 1991.
Christine Dobbin. Kebangkitan Islam dalam Ekonomi Petani yang
Sedang Berubah, Sumatera Tengah 1784-1847. Jakarta: INIS, 1992.
Damsar. “Implementasi Kritis Adat Basandi Syara`, Syara` Basandi
Kitabullah di Tengah Masyarakat Majemuk di Sumatera Barat: Suatu
Tinjauan Sosiologis”.
Hamka. Islam dan Adat Minangkabau. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
H.B.M. Letter. “Proses Bersenyawanya Adat dan Syarak di
Minangkabau”. Padang, Universitas Andalas, 1991.
Mochtar Naim. Merantau, Pola Migrasi Suku Minangkabau. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 1984.
Muhammad Radjab. Sistem Kekerabatan di Minangkabau. Padang:
Center for Minangkabau Studies Press, 1969.
Ratno Lukito. Pergumulan Antara Hukum Islam dan Adat di Indonesia.
Jakarta: INIS, 1998.
Syafnir Abunain. ”Sumpah Satie di Bukit Marapalam, Perpaduan Antara
Adat dengan Syarak”. Padang: Universitas Andalas, 1991.

30 H. Mas’oed Abidin
Gerakan Paderi dan Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam di
Minangkabau

Syaifullah SA.”Implementasi Kritis Adat Basandi Syara`, Syara` Basandi


Kitabullah di Tengah Masyarakat Majemuk di Sumatera Barat (Tinjauan
Sosial Budaya)”.
Makalah Seminar dan Lokakarya Agama dan Civil Society oleh PUSAKA
Padang tanggal 21 Juni 2003.
Zaiyardam Zubir. “Sumpah Satie Bukit Marapalam: Tinjauan Terhadap
Pengetahuan Sejarah Masyarakat”, Makalah pada Seminar Sehari
Sumpah Satie Bukit Marapalam dan Perpaduan Adat dengan Agama di
Minangkabau. Padang: Universitas Andalas, 31 Juli 1991.

31 H. Mas’oed Abidin
1
Catatan Akhir
J.C. van Vanleur dalam bukunya Indonesian Trade & Socety (1955) menyatakan bahwa pada
permulaan tahun 674 AD Pantai Barat Sumatera telah dihuni koloni Arab, dan ketika itu
Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang telah menyebarkan agama Hindu ke Nusantara
dari abad ke-7 hingga ke-13 M.
2
Mochtar Naim, Merantau Pola Migrasi Suku Minangkabau (1984)
3
L.C. Westenenk dalam Opstellen over Minangkabau
4
Syarak mendaki adat menurun, artinya agama datang dari pesisir dan adat turun dari darek
(luhak nan tigo) .
5
Adat yang lazim dipakai, dan syarak (agama) yang qawiy (= kawi) atau kuat karena seseuai
dengan weahyu Allah SWT, atau berlandaskan Kitabullah.
6
Syarak atau hukum agam berbuhul mati, sesuai kitabullah dan adat berbuhul sintak yakni
dapat ber ubah sesuai dengan keadaan dan perkembangan masa.
7
Syarak berlindung di bawah Kitabullah, dan adat berjalan menurut keadaannya, maka syarak
adalah batang tubuh dan adat adalah kulit.
8
Syarak mengata maka adat akan mengerjakan
9
Syarak bertelanjang, artinya menetapkan sesuai dengan yang telah diputuskan oleh wahyu
Allah, tetap berlaku hingga kiamat, sementara adat basisampiang dan ditentukan oleh
keadaannya.
10
Misalnya karya Hamka (terbit pada pertengahan 1946) “Islam dan Adat Minangkabau”; karya
Ratno Lukito (1998) tentang Pergumulan Antara Hukum Islam dan Adat di Indonesia; sejumlah
karya C. Snouck Hurgronje; Taufik Abdullah; penelitian dan seminar yang didanai oleh
Pemerintah Daerah (Pemda) Tingkat I Sumatera Barat bekerja sama dengan Fakultas Sastra
Universitas Andalas Padang tahun 1991.
11Syekh Djamil Djambek dilahirkan di Bukittinggi pada tahun 1860 , anak dari Muhammad Saleh

Datuk Maleka, Kepala Nagari Kurai. Ibunya berasal dari Betawi. Syekh Djamil Djambek
meninggal tahun 1947 di Bukittinggi.
12
Untuk mengetahui biografi menarik lebih lanjut tentang tokoh-tokoh ini, lihat Tamar Djaja,
Pustaka Indonesia: Riwayat Hidup Orang-Orang Besar Tanah Air. Bulan Bintang Jakarta, 1966.
13
Hourani, Albert (1983); Arabic Thought in the Liberal Age 1798-1939. Cambridge University
Press.
14
Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942,Jakarta, LP3ES, 1980, hal.38
15
Haji Rasul lahir di Sungai Batang, Maninjau, tahun 1879, anak seorang ulama Syekh
Muhammad Amarullah gelar Tuanku Kisai. Pada 1894, pergi ke Mekah, belajar selama 7 tahun.
Sekembali dari Mekah, diberi gelar Tuanku Syekh Nan Mudo. Kemudian kembali bermukim di
Mekah sampai tahun 1906, memberi pelajaran di Mekah, di antara murid-muridnya termasuk
Ibrahim Musa dari Parabek, yang menjadi seorang pendukung terpenting dari pembaruan
pemikiran Islam di Minangkabau. Haji Rasul meninggal di jakarta 2 Juni 1945
16
Haji Abdullah Ahmad lahir di Padang Panjang pada tahun 1878, anak dari Haji Ahmad, seorang
ulama dan pedagang. Ibunya berasal dari Bengkulu, masih trah dari pengikut pejuang Sentot
Ali Basyah.
17 Syekh Djamil Djambek dilahirkan di Bukittinggi pada tahun 1860. Terdapat perbedaan

pencatatan dalam Syekh Ahmad Khatib, ditulis Drs.Akhira Nazwar, Pustaka Panjimas, Jakarta,
Cet.I, Juli 1983, hal.53 disebut tahun 1983. Tetapi dalam Riwayat Hidup dan Perjuangan Dua
Puluh Ulama Besar Sumatera Barat, Padang, Islamic Center Suimatera Barat, 1981,hal.55,
dicatata tanggal dan tahun kelahiran Inyik Djambek 13 Sya’ban 1279 H./1862 M Sebenarnya
yang tepat adalah 4 Januari 1863 M, tulis DrsEdwar dkk. Mengutip Ensiklopedi Islam Indonesia
(EII), Jakarta Djambatan, 2002, Cet.2 ed. Revisi, hal.520-521,Syekh Djamil Djambek lahir 1860,
dan meninggal 30 Desember 1947/18 Sfafar 1366 H, di Bukittinggi, dalam usia 87 tahun.