Anda di halaman 1dari 23

BAB I

IDENTITAS PASEN
Nama
Usia
Jenis Kelamin
Status Perkawinan
Pendidikan
Agama
Pekerjaan
Alamat
I.

: Tn. S
: 18 Tahun
: Laki-laki
: Belum Menikah
: SMA
: Islam
: Tidak Bekerja
: KP. Jembatan. Penggilingan. Cakung. Jakarta Timur.

ANAMNESIS
Keluhan Utama

: Pasien datang dengan keluhan BAK berbuih, 4 hari


SMRS
Keluhan Tambahan : Mata Bengkak setisp bangun tidur, Lemas, Mual Muntah
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poli dengan untuk kontrol rutin. Pasien mengeluh BAK berbuih
sejak 1 minggu SMRS. Nyeri saat buang air kecil (-). Sebelumnya pada bulan agustus
2014 pasien datang dengan keluhan bengkak tubuh yang dialami 1 minggu sebelum
datang ke poli. Bengkak dirsakan timbul secara perlahan, bengkak pertama kali muncul
pada daerah wajah dan tampak pada saat bangun tidur. Pasien juga mengaku bengkak
menjalar ke tangan, perut dan terakhir menjalar sampai ke kaki. Bengkak dirasakan
semakin lama bertambah. Bengkak pada kaki jika ditekan bengkak membentuk
cekungan. Tidak ada demam. Badan terasa lemas dan nafsu makan menurun. Saat ini
pasien tidak mengeluhkan adanya demam. Mual-muntah (+). Nyeri pada dada (-). Nyeri
Perut (+). Riwayat kencing berpasir (-), BAK berbuih (+), BAK selalu tuntas (+), nyeri
pada saat BAK (-), BAK berdarah (-). BAB Tidak ada keluhan. Riwayat mengkonsumsi
obat-obatan yang rutin di konsumsi (-).
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah mengalami keluhan yang sama bengkak seluruh tubuh pada
bulan agustus tahun 2014.

Hipertensi (-)
Diabetes Melitus (-)
Penyakit Jantung (-)
Asma (-)
Alergi (-)
Riwayat sindroma Nefrotik (+)

Riwayat penyakit Keluarga


Ayah Hipertensi
Ibu tidak ada keluhan
Hiperglikemia, Asma, Jantung disangkal oleh keluarga pasien
Riwayat penyakit ginjal d keluarga di sangkal
Riwayat Alergi
Pasien tidak memiliki riwayat alergi apapun

Riwayat Psikososial

II.

Pasien tidak bekerja.


Makan dan minum kadang teratur

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Komposmentis
Status Gizi
:
BB
: 55 kg
BB Ketika sakit
: 49 kg
TB
: 170 cm
Kesimpulan
: Underweight
A TANDA VITAL
Tekanan Darah : 110/ 80 mmHg
Nadi
: 84x/menit
RR
: 20x/menit
Suhu
: 37.2C
B STATUS GENERALIS
Kepala
: Normochepal, rambut hitam
Mata
: Konjungtiva Anemis -/-, Sklera Ikterik -/-, Edema Palpera (-/-)

III.

Hidung
: Notmonasi, Septum Deviasi -/- , Epitaksis -/ Telinga
: Normotia (+) , Sekret -/ Mulut
: Bibir lembab, tidak ada perdarahan gusi (-)
C THORAX
Paru paru :
Inspeksi : Retraksi pada paru ka/ki -/ Palpasi
: Vocal Fremitus ka/ki sama
Perkusi : Suara sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler +/+, Wheezing -/-, Ronki -/ Jantung :
Inspeksi : Ictus Cordis tidak terlihat
Palpasi
: Ictus Cordis teraba di ICS 5 Linea Midclavicula
Perkusi :
Batas Atas
: ICS III Linea Parasternalis Dextra
Batas Kanan
: ICS IV Linea Parasternalis Dextra
Batas Kiri
: ICS V Linea Midclavicula Sinistra
Auskultasi : Bunyi Jantung I dan II Reguler, Murmur (-), Gallop (-)
Abdomen :
Inspeksi : Tampak Cembung
Palpasi
: Supel, hepar lien tidak teraba, Nyeri tekan (-)
Perkusi : Tympani pada seluruh lapangan abdomen
Auskultasi : BU (+) 7x/menit
Extremitas : Atas Bawah
Akral
: Hangat
Edema
: +/+
RCT < 2 detik
: < 2
RESUME
Pasien laki-laki 18 tahun dengan ke poli untuk kontrol rutin. Pasien mengeluh
BAK berbuih sejak 1 minggu SMRS. Nyeri saat BAK (-),Riwayat kencing
berpasir (-), BAK berbuih (+), BAK selalu tuntas (+). Nausea vomitus (+).
Nyeri Perut (+). Riwayat sindroma nefrotik sebelumnya (+). Edema palpebra

(+). Malaise (+).


Tekanan Darah
Nadi
RR
Suhu

: 110/ 80 mmHg
: 84x/menit
: 20x/menit
: 37.2C

Cholestrol LDL

H 265 mg/dL

Cholinesterase

H 14.187kU/L

Urinalisis
Albumin Urine
IV.

V.

4+

DAFTAR MASALAH
Sindroma Nerfrotik

ASSESMENT
Sindroma Nefrotik
S: BAK berbuih, Bengkak pada kelopah maa seiap bangun tidur. Riwayat
sindroma nefrotik sebelumnya.
O: Tekanan Darah

: 110/ 80 mmHg ; Nadi: 84x/menit; RR: 20x/menit;

Suhu: 37.2C. Edema +/+


A: Sindroma nefrotik
P:
Non-medikamentosa
Diet untuk pasien sindrom nefrotik adalah 35 kal/kgBB/hari, sebagian
besar terdiri dari karbohidrat. Kontrol proteinuria dapat memperbaiki

hipoalbuminemia dan mengurangi risiko komplikasi yang ditimbulkan.

Dianjurkan diet protein normal 0,8-1,0 g/kgBB/hari.


Medikamentosa
Kortikosteroid
ACE inhibitors dan angiotensin receptor blocker
OAINS
Siklofosfamid dan Klorambusil
Siklosporin A
Diuretik
Antikoagulan
Penurun Lemak
Antibiotik

VI.

HASIL LABORATORIUM

Tanggal

Test

Hasil

03/10/2014

Albumin

L 2.8

SGPT

20.30

Test Urin
Color

Yellow

Clarity

Slightly cloudy

pH

7.0

Spesific Gravity

L 1.010

Urobilinogen

<1

Bilirubin

Negative

Albumin Urine

2+

Glucose urine

Negative

Keton

Negative

Leukosyt esterase

1+

Nitrit

Negative

Blood urine

1+

Leukosit

Banyak

Eritrosit

3-6

Epitel

Positif

Krital urine

Negative

Bacterial

Cast

Positif
Granula 2-4

19/12/14

Cholestrol LDL

H 265 mg/dL

Cholinesterase

H 14.187kU/L

Urinalisis
Albumin Urine

HASIL EKG

4+

BAB II
PENDAHULUAN

Sindrom nefrotik merupakan salah satu manifestasi klinis glomerulonefritis yang


ditandai dengan edema anasarka, proteinuria masif 3,5 g/dl, hiperkolesterolemia, dan
lipiduria (Prodjosudjadi, 2007). Sindrom nefrotik selalu disebabkan oleh kelainan di
glomerolus. Pada sindrom nefrotik, albumin menembus kapiler glomerolus, sebuah
fenomena abnormal yang bisa disebabkan oleh kelainan pada muatan listrik di membran
basal glomerolus, perubahan biokimia di membran basal, atau deposit imun (Appel,
2006). Berdasarkan etiologinya, sindrom nefrotik dapat dibagi menjadi sindrom nefrotik
primer (idiopatik) yang berhubungan dengan kelainan primer glomerulus dengan sebab
tidak diketahui dan sindrom nefrotik sekunder yang disebabkan oleh penyakit tertentu
(Gunawan, 2006).
Kasus sindrom nefrotik cukup mudah ditemukan. Di Departemen Ilmu Kesehatan
Anak FKUI/RSCM Jakarta, sindrom nefrotik merupakan penyebab kunjungan sebagian
besar pasien di Poliklinik Khusus Nefrologi, dan merupakan penyebab tersering gagal
ginjal anak yang dirawat antara tahun 1995-2000 (Indoskripsi, 2008). Sindrom nefrotik
menarik untuk dipelajari berdasarkan fakta bahwa prognosis sindrom nefrotik sangat
berbeda bila dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Sekarang, semua tipe sindrom
nefrotik dapat diberi penatalaksanaan dengan hasil efektif, ditunjukkan dengan perbaikan
pada banyak kasus (Appel, 2006). Angka mortalitas dari sindrom nefrotik perubahan
minimal telah menurun dari 50% menjadi 5% dengan majunya terapi dan pemberian
steroid (Betz dan Sowden, 2002). Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran lebih dalam
mengenai suatu penyakit sangat penting untuk kemajuan di bidang kesehatan.

BAB III
SINDROM NEFROTIK

A.

Definisi Sindrom Nefrotik


Sindrom nefrotik adalah sekumpulan manifestasi klinis yang ditandai oleh proteinuria
masif (lebih dari 3,5 g/1,73 m 2 luas permukaan tubuh per hari), hipoalbuminemia (kurang
dari 3 g/dl), edema, hiperlipidemia, lipiduria, dan hiperkoagulabilitas (Gunawan, 2006).
Sindrom nefrotik selalu disebabkan oleh penyakit glomerolus dengan albuminuria berat (>3
3.5 g/hari) (Appel, 2006).

B.

Anatomi Mikroskopis Ginjal


Ginjal merupakan organ berbentuk seperti kacang yang terletak di kedua sisi kolumna
vertebralis. Pada umumnya, ginjal kanan lebih rendah dari ginjal kiri oleh karena adanya
hepar dan lebih dekat ke garis tengah tubuh. Kutub atasnya terletak setinggi vertebra
thorakalis XII, sedangkan kutub atas ginjal kiri terletak setinggi vertebra thorakalis XI
(Wilson, 2006).
Parenkim ginjal terdiri atas dua daerah khusus: korteks ginjal yang terletak di sebelah
luar dan tampak granuler, serta daerah bagian dalam yang berupa segitiga bergaris-garis
(piramid ginjal) yang secara kolektif disebut sebagai medula ginjal (Sherwood, 2001). Tiaptiap piramid dipisahkan oleh kolumna Bertini. Dasar piramid ini ditutup oleh korteks,
sedangkan puncaknya (papila marginalis) membentuk duktus papilaris Bellini masuk ke
dalam kaliks minor. Beberapa kaliks minor bersatu menjadi kaliks mayor, yang selanjutnya
bersatu menjadi pelvis renalis dan di pelvis renalis inilah keluar ureter (Wilson, 2006).
Setiap ginjal terdiri dari sekitar satu juta satuan fungsional (satuan terkecil yang mampu
membentuk urin) berukuran mikroskopik yang disebut nefron (Sherwood, 2001). Setiap
nefron terdiri dari kapsul Bowman dan kapiler glomerolus yang dilingkupinya, tubulus
kontortus proksimal, ansa Henle, tubulus kontortus distal yang mengosongkan diri ke tubulus
pengumpul (Wilson, 2006). Setiap ginjal memperoleh pasokan darah dari arteri renalis. Pada
saat memasuki ginjal, arteri renalis bercabang-cabgang hingga akhirnya menjadi arteriol
aferen dengan setiap pembuluh tersebut memperdarahi sebuah nefron (Sherwood, 2001;
Wilson, 2006).

C.

Faal Glomerolus
Glomerolus merupakan bagian dominan pada komponen vaskuler nefron (Sherwood,
2001). Fungsi terpenting dari glomerolus adalah membentuk ultrafiltrat yang dapat masuk ke
tubulus akibat tekanan hidrostatik kapiler yang lebih besar dibanding tekanan hidrostatik
intrakapiler dan tekanan koloid osmotik (Rauf, 2002).
Lapisan-lapisan pada membran glomerolus berfungsi sebagai saringan molekul yang
menahan sel darah merah dan protein plasma, tetapi melewatkan H 2O dan zat terlarut lain
yang ukuran molekulernya cukup kecil. Walaupun protein plasma tidak dapat difiltrasi karena
tidak dapat melewati pori-pori di atas, pori-pori tersebut sebenarnya cukup besar untuk
melewatkan albumin yang merupakan protein plasma terkecil. Namun, glikoprotein pada
membran basal glomerolus bermuatan sangat negatif sehingga akan menolak albumin dan
protein plasma lain yang juga bermuatan negatif. Sebagian penyakit yang ditandai oleh
adanya albuminuria diperkirakan disebabkan oleh gangguan muatan negatif di dalam
membran glomerolus, yang menyebabkan membran lebih permeabel terhadap albumin
walaupun ukuran pori-pori tidak berubah (Sherwood, 2002).
Dalam keadaan normal, ginjal menerima 20% sampai 25% dari curah jantung atau 1.2001.250 mL/menit (RBF) (Sherwood, 2001; Wilson, 2006). Bila hematokrit normal dianggap
45%, maka aliran plasma ginjal (RPF) sama dengan 660 mL/menit (Wilson, 2006). Dalam
keadaan normal, sekitar 20% plasma yang masuk ke glomerolus difiltrasi dengan tekanan
filtrasi netto 10 mmHg, menghasilkan laju filtrasi glomerolus rata-rata (GFR) 125 mL/menit
(Sherwood, 2001). Saat filtrat mengalir melalui tubulus, ditambahkan atau diambil berbagai
zat dari filtrat, sehingga akhirnya hanya sekitar 1,5 L/hari yang dieksresi sebagai urin
(Wilson, 2006).

D.

Etiologi
Etiologi sindrom nefrotik dapat dibagi menjadi (Prodjosudjadi, 2007):

a.

Glomerulonefritis primer dengan sebab tidak diketahui


(idiopatik) dengan berbagai macam kelainan histopatologi, meliputi:
o

Glomerulonefritis lesi minimal

Glomerulosklerosis fokal

Glomerulonefritis membranosa

Glomerulonefritis membranoproliferatif

Glomerulonefritis proliferatif lain

b.

Glomerulonefritis sekunder akibat:


Infeksi, seperti infeksi HIV, hapatitis virus B dan

C, sifilis, malaria, skistosoma, tuberkulosis, dan lepra.


Keganasan,

seperti

adenokarsinoma

paru,

payudara, kolon, limfoma Hodgkin, mieloma multipel, dan karsinoma ginjal.


Penyakit jaringan penghubung, seperti pada lupus

eritematosus sistemik, artritis reumatoid, MCTD (mixed connective tissue disease)


Efek obat dan toksin, seperti obat antiinflamasi

non-steroid, preparat emas, penisilinamin, probenesid, air raksa, kaptopril, dan heroin.
Lain-lain, meliputi diabetes melitus, amiloidosis,

pre-eklamsia, rejeksi alograf kronik, refluks vesikoureter, atau sengatan lebah.


Saat ini gangguan imunitas yang diperantarai oleh sel T diduga menjadi penyebab
sindrom nefrotik. Hal ini didukung oleh bukti adanya peningkatan konsentrasi neopterin
serum dan rasio neopterin/kreatinin urin serta peningkatan aktivasi sel T dalam darah perifer
pasien sindrom nefrotik yang mencerminkan kelainan imunitas yang diperantarai sel T
(Gunawan, 2006).

E.

Manifestasi Klinis

Proteinuria
Proteinuria disebabkan peningkatan permeabilitas kapiler terhadap protein akibat
kerusakan glomerolus. Dalam keadaan nomal membran basal glomerolus mempunyai
mekanisme penghalang untuk mencegah kebocoran protein. Mekanisme penghalang
pertama berdasarkan ukuran molekul (size barrier) dan yang kedua berdasarkan muatan
listrik (charge barrier). Pada sindrom nefrotik, kedua mekanisme tersebut ikut terganggu.
Selain itu, konfigurasi molekul protein juga menentukan lolos tidaknya protein melalui
membran basal glomerolus (Prodjosudjadi, 2007).
Derajat proteinuria tidak berhubungan langsung dengan keparahan kerusakan
glomerulus. Pada nefropati lesi minimal, proteinuria disebabkan terutama oleh hilangnya
charge selectivity sedangkan pada nefropati membranosa disebabkan terutama oleh
hilangnya size selectivity (Gunawan, 2006).

Hipoalbuminemia
Konsentrasi albumin plasma ditentukan oleh asupan protein, sintesis albumin hati,
dan kehilangan albumin melalui urin (Prodjosudjadi, 2007). Pada sindrom nefrotik,
hipoalbuminemia disebabkan oleh hilangnya albumin melalui urin dan peningkatan
katabolisme albumin di ginjal. Sintesis protein di hati biasanya meningkat sebagai usaha
kompensasi (namun tidak memadai untuk mengganti kehilangan albumin dalam urin),
tetapi mungkin normal atau menurun (Gunawan, 2006).

Edema
Edema pada sindrom nefrotik dapat diterangkan dengan teori underfill dan
overfill. Teori underfill menjelaskan bahwa hipoalbuminemia menyebabkan penurunan
tekanan onkotik plasma sehingga cairan bergeser dari intravaskuler ke jaringan
interstisium dan terjadi edema. Akibat penurunan tekanan onkotik plasma dan
bergesernya cairan plasma terjadi hipovolemia. Ginjal melakukan kompensasi dengan
meningkatkan retensi natrium dan air. Mekanisme kompensasi ini akan memperbaiki
volume intravaskuler, tetapi juga mengeksaserbasi terjadinya hipoalbuminemia sehingga
edema semakin berlanjut (Prodjosudjadi, 2007).

Namun, pada awal tahun 1940an, khususnya pada dua dekade terakhir, banyak
studi yang mendukung adanya konsep yang berlawanan dengan teori underfill. Meskipun
beberapa pasien dengan sindrom nefrotik lesi minimal memiliki volume plasma yang
endah, banyak pasien dengan sindrom nefrotik tidak memiliki manifestasi klinis seperti
yang diharapkn pada teori underfill (penurunan volume plasma, peningkatan sodiumretaining hormones, dan sebagainya) (Hamm dan Batuman, 2003).
Peneliti lain mengemukakan teori overfill. Teori ini menjelaskan bahawa retensi
natrium adalah defek renal utama. Retensi natrium oleh ginjal menyebabkan cairan
ekstravaskuler meningkat sehingga terjadi edema. Penurunan laju filtrasi glomerolus
akibat kerusakan ginjal akan menambah retensi natrium dan edema (Prodjosudjadi,
2007).
Beberapa penjelasan berusaha menggabungkan kedua teori ini, misalnya
disebutkan bahwa pembentukan edema merupakan proses dinamis. Didapatkan bahwa
volume plasma menurun secara bermakna pada saat pembentukan edema dan meningkat
selama fase diuresis (Gunawan, 2006).

Hiperlipidemi
Kadar kolesterol umumnya meningkat, sedangkan trigliserida bervariasi dari
normal sampai sedikit meninggi. Peningkatan kadar kolesterol disebabkan meningkatnya
LDL. Kadar trigliserid yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan VLDL. Selain itu
ditemukan pula peningkatan IDL (intermediate density lipoprotein) dan lipoprotein (Lp)a,
sedangkan HDL cenderung normal atau rendah (Prodjosudjadi, 2007).
Keadaan ini disebabkan peningkatan sintesis lipid di hepar dan penurunan
katabolisme di perifer (penurunan pengeluaran lipoprotein, VLDL, kilomikron dan
intermediate density lipoprotein dari darah). Peningkatan sintesis lipoprotein lipid
distimulasi oleh penurunan albumin serum dan penurunan tekanan onkotik (Gunawan,
2006).

Lipiduria
Lemak bebas (oval fat bodies) sering ditemukan pada sedimen urin. Sumber
lemak ini berasal dari filtrat lipoprotein melalui membran basalis glomerulus yang
permeabel (Gunawan, 2006).

Hiperkoagulabilitas
Keadaan ini disebabkan oleh hilangnya antitrombin (AT) III, protein S, C dan
plasminogen activating factor dalam urin dan meningkatnya faktor V, VII, VIII, X,
trombosit, fibrinogen, peningkatan agregasi trombosit, perubahan fungsi sel endotel serta
menurunnya faktor zimogen (faktor IX, XI) (Gunawan, 2006).

Metabolisme kalsium dan tulang


Vitamin D merupakan unsur penting dalam metabolisme kalsium dan tulang pada
manusia. Vitamin D yang terikat protein akan diekskresikan melalui urin sehingga
menyebabkan penurunan kadar plasma, sedangkan kadar vitamin D bebas tidak
mengalami gangguan. Karena fungsi ginjal pada sindrom nefrotik umumnya normal
maka osteomalasi atau hiperparatiroidisme yang tidak terkontrol jarang dijumpai. Pada
sindrom nefrotik juga terjadi kehilangan hormon tiroid yang terikat protein melalui urin
dan penurunan kadar tiroksin plasma. Tiroksin bebas dan thyroxine-stimulating hormone
tetap normal sehingga secara klinis tidak menimbulkan gangguan (Prodjosudjadi, 2007).

Kerentanan terhadap infeksi


Penurunan kadar imunoglobulin Ig G dan Ig A karena kehilangan lewat ginjal,
penurunan sintesis dan peningkatan katabolisme menyebabkan peningkatan kerentanan
terhadap infeksi bakteri berkapsul seperti Streptococcus pneumonia, Klebsiella, dan
Haemophilus. Pada sindrom nefrotik juga terjadi gangguan imunitas yang diperantarai sel
T. Sering terjadi bronkopneumoni dan peritonitis (Gunawan, 2006).

Gangguan fungsi ginjal


Pasien sindrom nefrotik mempunyai potensi untuk mengalami gagal ginjal akut
melalui berbagai mekanisme. Penurunan volume plasma dan/atau sepsis sering
menyebabkan timbulnya nekrosis tubular akut. Mekanisme lain yang diperkirakan

menjadi penyebab gagal ginjal akut adalah terjadinya edema internal yang menyebabkan
terjadinya kompresi pada tubulus ginjal (Prodjosudjadi, 2007).

Komplikasi lain pada sindrom nefrotik


Malnutrisi kalori protein dapat terjadi pada sindrom nefrotik dewasa terutama
apabila disertai proteinuria masif, asupan oral yang kurang, dan proses katabolisme yang
tinggi. Kemungkinan efek toksik obat yang terikat protein akan meningkat karena
hipoalbuminemia menyebabkan kadar obat bebas dalam plasma lebih tinggi. Hipertensi
tidak jarang ditemukan sebagai komplikasi sindrom nefrotik terutama dikaitkan dengan
retensi natrium dan air (Prodjosudjadi, 2007).

F.

Pemeriksaan
1.

Anamnesis

Perlu diperhatikan masalah penggunaan obat, kemungkinan berbagai infeksi, dan riwayat
penyakit sistemik lain (Prodjosudjadi, 2007).
2.

Pemeriksaan fisik

Terdapat edema anasarka. Tidak jarang mata tertutup akibat edema pada kelopak mata.
3.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan urin, meliputi protein urin, urinalisis, hamaturia, dipstick urin,


berat jenis urin, dan pemeriksaan sedimen. Volume biasanya kurang dari 400 ml/24
jam (fase oliguria) (Betz dan Sowden, 2002; Prodjosudjadi, 2007).

Pemeriksaan darah, meliputi kadar albumin dalam serum, kolesterol serum,


trigliserid, hemoglobin, hematokrit, laju endap darah (LED), dan elektrolit serum
(Betz dan Sowden, 2002; Prodjosudjadi, 2007).

Pemeriksaan serologik dan biopsi ginjal sering diperlukan untuk menegakkan


diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan penyebab sindrom nefrotik sekunder.
Pemeriksaan serologik sering tidak banyak memberikan informasi dan biayanya
mahal karena itu sebaiknya hanya dilakukan berdasarkan indikasi yang kuat
(Prodjosudjadi, 2007).

G.

Diagnosis
Diagnosis sindrom nefrotik dibuat berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan
laboratorium berupa proteinuria masif (>3,5 g/1,73 m2 luas permukaan tubuh/hari),
hipoalbuminemia (<3 g/dl), edema, hiperlipidemia, lipiduria dan hiperkoagulabilitas.
Pemeriksaan tambahan seperti venografi diperlukan untuk menegakkan diagnosis trombosis
vena yang dapat terjadi akibat hiperkoagulabilitas. Pada sindrom nefrotik primer untuk
menentukan jenis kelainan histopatologi ginjal yang menentukan prognosis dan respon
terhadap terapi, diperlukan biopsi ginjal (Gunawan, 2006).

H.

Penatalaksanaan
Pengobatan sindrom nefrotik terdiri dari pengobatan spesifik terhadap penyakit dasar
dan pengobatan non-spesifik untuk mengurangi proteinuria, mengontrol edema, dan
mengobati komplikasi.
1. Non-medikamentosa
Diet untuk pasien sindrom nefrotik adalah 35 kal/kgBB/hari, sebagian besar terdiri dari
karbohidrat. Kontrol proteinuria dapat memperbaiki hipoalbuminemia dan mengurangi
risiko komplikasi yang ditimbulkan. Dianjurkan diet protein normal 0,8-1,0 g/kgBB/hari.
Pada pasien dengan diet protein 0,6 g/kgBB/hari ditambah dengan jumlah gram protein
sesuai jumlah proteinuri hasilnya proteinuri berkurang, kadar albumin darah meningkat,
dan kadar fibrinogen menurun. Untuk mengurangi edema diberikan diet rendah garam (12 gram natrium/hari) disertai diuretik dan tirah baring.
2. Medikamentosa
Kortikosteroid
Nefropati lesi minimal dan nefropati membranosa adalah dua kelainan yang
memberikan respon terapi yang baik terhadap steroid. Peneliti lain menemukan bahwa
pada glomerulosklerosis fokal segmental sampai 40% pasien memberi respon yang
baik terhadap steroid dengan remisi lengkap. Pada kebanyakan pasien nefropati
membranosa idiopatik, dengan terapi simptomatik fungsi ginjalnya lebih baik untuk

jangka waktu lama dan dapat sembuh spontan. Oleh karena itu mereka pemakaian
glukokortikoid dan imunosupresan pada nefropati jenis ini tidak direkomendasikan.
Regimen penggunaan kortikosteroid pada sindrom nefrotik bermacam-macam, di
antaranya prednison 125 mg setiap 2 hari sekali selama 2 bulan kemudian dosis
dikurangi bertahap dan dihentikan setelah 1-2 bulan jika relaps, terapi dapat diulangi.
Regimen lain pada orang dewasa adalah prednison/prednisolon 1-1,5 mg/kg berat
badan/hari selama 4 minggu diikuti 1 mg/kg berat badan selang 1 hari selama 4
minggu. Sampai 90% pasien akan remisi bila terapi diteruskan sampai 20-24 minggu
namun 50% pasien akan mengalami kekambuhan setelah kortikosteroid dihentikan.
Pada anak-anak diberikan prednison 60 mg/m2 luas permukaan tubuh atau 2 mg/kg
berat badan/hari selama 4 minggu, diikuti 40 mg/m2 luas permukaan tubuh setiap 2
hari selama 4 minggu.
Respon klinis terhadap kortikosteroid dapat dibagi menjadi remisi lengkap, remisi
parsial dan resisten. Dikatakan remisi lengkap jika proteinuri minimal (<200 mg/24
jam), albumin serum >3 g/dl, kolesterol serum <300 mg/dl, diuresis lancar, dan edema
hilang. Remisi parsial jika proteinuri <3,5 g/hari, albumin serum >2,5 g/dl, kolesterol
serum <350 mg/dl, diuresis kurang lancar dan masih edema. Dikatakan resisten jika
klinis dan laboratoris tidak memperlihatkan perubahan atau perbaikan setelah
pengobatan 4 bulan dengan kortikosteroid. Pemberian kortikosteroid memberi remisi
lengkap pada 67% kasus sindrom nefrotik nefropati lesi minimal, remisi lengkap atau
parsial pada 50% sindrom nefrotik nefropati membranosa dan 20%-40% pada
glomerulosklerosis fokal segmental. Perlu diperhatikan efek samping pemakaian
kortikosteroid jangka lama di antaranya nekrosis aseptik, katarak, osteoporosis,
hipertensi, diabetes mellitus.

ACE inhibitors dan angiotensin receptor blocker


Pada pasien yang tidak responsif terhadap kortikosteroid, untuk mengurangi
proteinuri digunakan terapi simptomatik dengan angiotensin converting enzyme
inhibitor (ACEI), misalnya kaptopril atau enalapril dosis rendah, dan dosis
ditingkatkan setelah 2 minggu, atau obat antiinflamasi non-steroid (OAINS), misal
indometasin 3x50 mg. Angiotensin converting enzyme inhibitor mengurangi
ultrafiltrasi protein glomerulus dengan menurunkan tekanan intrakapiler glomerulus

dan memperbaiki size selective barrier glomerulus. Efek antiproteinurik obat ini
berlangsung lama (kurang lebih dua bulan setelah obat dihentikan). Angiotensin
receptor blocker (ARB) ternyata juga dapat memperbaiki proteinuri karena
menghambat inflamasi dan fibrosis interstisium, menghambat pelepasan sitokin, faktor
pertumbuhan, adhesi molekul akibat kerja angiotensin II lokal pada ginjal. Kombinasi
ACEI dan ARB dilaporkan memberi efek antiproteinuri lebih besar pada
glomerulonefritis primer dibandingkan pemakaian ACEI saja atau ARB saja.

OAINS
Obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) dapat digunakan pada pasien nefropati
membranosa dan glomerulosklerosis fokal segmental untuk menurunkan sintesis
prostaglandin. Hal ini menyebabkan vasokonstriksi ginjal, penurunan tekanan kapiler
glomerulus, area permukaan filtrasi dan mengurangi proteinuria sampai 75%. Selain
itu OAINS dapat mengurangi kadar fibrinogen, fibrin-related antigenic dan mencegah
agregasi trombosit. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa OAINS menyebabkan
penurunan progresif fungsi ginjal pada sebagian pasien. Obat ini tidak boleh diberikan
bila klirens kreatinin < 50 ml/menit.

Siklofosfamid dan Klorambusil


Pada pasien yang sering relaps dengan kortikosteroid atau resisten terhadap
kortikosteroid dapat digunakan terapi lain dengan siklofosfamid atau klorambusil.
Siklofosfamid memberi remisi yang lebih lama daripada kortikosteroid (75% selama 2
tahun) dengan dosis 2-3 mg/kgBB/hari selama 8 minggu. Efek samping siklofosfamid
adalah depresi sumsum tulang, infeksi, alopesia, sistitis hemoragik dan infertilitas bila
diberikan lebih dari 6 bulan. Klorambusil diberikan dengan dosis 0,1-0,2
mg/kgBB/hari selama 8 minggu. Efek samping klorambusil adalah azoospermia dan
agranulositosis.
Pada

nefropati

membranosa

idiopatik,

kombinasi

metilprednisolon

dan

klorambusil selama 6 bulan menginduksi remisi lebih awal dan dapat mempertahankan
fungsi ginjal dibandingkan dengan metilprednisolon sendiri, namun perbedaan ini
berkurang sesuai dengan waktu (dalam 4 tahun perbedaan ini tidak bermakna lagi).

Regimen yang digunakan adalah metilprednisolon 1 g/hari intravena 3 hari, lalu 0,4
mg/kg/hari peroral selama 27 hari diikuti klorambusil 0,2 mg/kg/hari 1 bulan
berselang seling. Alternatif lain terapi nefropati membranosa adalah siklofosfamid 2
mg/kg/hari ditambah 30 mg prednisolon tiap 2 hari selama beberapa bulan ( maksimal
6 bulan).

Siklosporin A
Siklosporin A dapat dicoba pada pasien yang relaps setelah diberi siklofosfamid
atau untuk memperpanjang masa remisi setelah pemberian kortikosteroid. Dosis 3-5
mg/kg/hari selama 6 bulan sampai 1 tahun (setelah 6 bulan dosis diturunkan 25%
setiap 2 bulan). Siklosporin A dapat juga digunakan dalam kombinasi dengan
prednisolon pada kasus sindrom nefrotik yang gagal dengan kombinasi terapi lain.
Efek samping obat ini adalah hiperplasi gingival, hipertrikosis, hiperurisemi,

hipertensi dan nefrotoksis


Diuretik
Untuk mengurangi edema diberikan diuretik (furosemid 40 mg/hari atau golongan
tiazid)

dengan

atau

tanpa

kombinasi

dengan

potassium

sparing

diuretic

(spironolakton). Bila resisten dengan furosemid oral dapat dikombinasi dengan tiazid,
metalazon, atau asetazolamid.
Pada pasien sindrom nefrotik dapat terjadi resistensi terhadap diuretik (500 mg
furosemid dan 200 mg spironolakton). Resistensi terhadap diuretik ini bersifat
multifaktorial. Diduga hipoalbuminemi menyebabkan berkurangnya transportasi obat
ke tempat kerjanya, sedangkan pengikatan oleh protein urin bukan merupakan
mekanisme utama resistensi ini. Pada pasien demikian dapat diberikan infus salt-poor
human albumin. Dikatakan terapi ini dapat meningkatkan volume plasma,
meningkatkan laju filtrasi glomerulus, aliran urin, dan ekskresi natrium. Namun
demikian infus albumin ini masih diragukan efektivitasnya karena albumin cepat
diekskresi lewat urin, selain itu dapat meningkatkan tekanan darah dan bahkan edema
paru pada pasien hipervolemi.

Antikoagulan

Risiko tromboemboli meningkat pada sindrom nefrotik dan perlu mendapat


penanganan. Walaupun pemberian jangka panjang masih kontroversial tetapi pada satu
studi terbukti memberikan keuntungan. Untuk mencegah penyulit hiperkoagulabilitas
yaitu tromboemboli yang terjadi pada kurang lebih 20% kasus sindroma nefrotik
(paling sering pada nefropati membranosa), digunakan dipiridamol (3 x 75 mg) atau
aspirin (100 mg/hari) sebagai anti agregasi trombosit dan deposisi fibrin/trombus.
Selain itu obat-obat ini dapat mengurangi secara bermakna penurunan fungsi ginjal
dan terjadinya gagal ginjal tahap akhir. Terapi ini diberikan selama pasien mengalami
proteinuri nefrotik, albumin <2 g/dl atau keduanya. Jika terjadi tromboemboli, harus
diberikan heparin intravena/infus selama 5 hari, diikuti pemberian warfarin oral
sampai 3 bulan atau setelah terjadi kesembuhan sindrom nefrotik. Pemberian heparin
dengan pantauan activated partial thromboplastin time (APTT) 1,5-2,5 kali kontrol
sedangkan efek warfarin dievaluasi dengan prothrombin time (PT) yang biasa
dinyatakan dengan International Normalized Ratio (INR) 2-3 kali normal.

Penurun Lemak
Dislipidemia pada sindrom nefrotik belum secara meyakinkan meningkatkan
risiko penyakit kardiovaskuler, tetapi bukti klinik dalam populasi menyokong
pendapat perlunya mengontrol keadaan ini. Obat penurun lemak golongan statin
seperti simvastatin, pravastatin, dan lovastatin dapat menurunkan kolesterol LDL,
trigliserid, dan meningkatkan kolesterol HDL.
Hiperlipidemi

dalam

jangka

panjang

meningkatkan

risiko

terjadinya

aterosklerosis dini. Untuk mengatasi hiperlipidemi dapat digunakan penghambat


hidroxymethyl glutaryl co-enzyme A (HMG Co-A) reductase yang efektif menurunkan
kolesterol plasma. Obat golongan ini dikatakan paling efektif dengan efek samping
minimal. Gemfibrozil, bezafibrat, klofibrat menurunkan secara bermakna kadar
trigliserid dan sedikit menurunkan kadar kolesterol. Klofibrat dapat toksis pada kadar
biasa karena kadar klofibrat bebas yang meningkat menyebabkan kerusakan otot dan
gagal ginjal akut. Probukol menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL,
tetapi efeknya minimal terhadap trigliserid. Asam nikotinat (niasin) dapat menurunkan
kolesterol dan lebih efektif jika dikombinasi dengan gemfibrozil. Kolestiramin dan

kolestipol efektif menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL, namun obat
ini tidak dianjurkan karena efeknya pada absorbsi vitamin D di usus yang
memperburuk defisiensi vitamin D pada sindroma nefrotik.

Antibiotik
Bila terjadi penyulit infeksi bakterial (pneumonia pneumokokal atau peritonitis)
diberikan antibiotik yang sesuai dan dapat disertai pemberian imunoglobulin G
intravena. Untuk mencegah infeksi digunakan vaksin pneumokokus. Pemakaian
imunosupresan menimbulkan masalah infeksi virus seperti campak, herpes.

Penyulit lain yang dapat terjadi di antaranya hipertensi, syok hipovolemik, gagal ginjal
akut, gagal ginjal kronik (setelah 5-15 tahun). Penanganan sama dengan penanganan pada
umumnya. Bila terjadi gagal ginjal kronik, selain hemodialisis, dapat dilakukan transplantasi
ginjal. Pada pasien glomerulo-sklerosis fokal segmental yang menjalani transplantasi ginjal,
15%-55% akan kembali terjadi sindrom nefrotik. Rekurensi mungkin disebabkan oleh
adanya faktor plasma (circulating factor) atau faktor-faktor yang meningkatkan
permeabilitas glomerulus. Imunoadsorpsi protein plasma A menurunkan ekskresi protein
urin pada pasien sindrom nefrotik karena glomerulosklerosis fokal segmental, nefropati
membranosa maupun sindrom nefrotik sekunder karena diabetes melitus. Diduga
imunoadsorpsi melepaskan faktor plasma yang mengubah hemodinamika atau faktor yang
meningkatkan permeabilitas glomerulus.

I. Prognosis
Mortalitas dan prognosis pasien dengan sindrom nefrotik bervariasi berdasarkan etiologi,
berat, luas kerusakan ginjal, usia anak, kondisi yang mendasari, dan responnya terhadap
pengobatan (Betz dan Sowden, 2002).

BAB III

PENUTUP

Sindrom nefrotik merupakan sekumpulan manifestasi klinis yang ditandai oleh


proteinuria

masif,

hipoalbuminemia,

edema,

hiperlipidemia,

lipiduria

dan

hiperkoagulabilitas yang disebabkan oleh kelainan primer glomerulus dengan etiologi


yang tidak diketahui atau berbagai penyakit tertentu. Pemahaman patogenesis dan
patofisiologi dapat dijadikan sebagai pedoman pengobatan pada sebagian besar pasien
sindrom nefrotik. Penatalaksanaan sindrom nefrotik meliputi terapi spesifik untuk
kelainan dasar ginjal atau penyakit penyebab, menghilangkan atau mengurangi
proteinuria, memperbaiki hipoalbuminemia serta mencegah dan mengatasi komplikasi.

DAFTAR PUSTAKA

Appel, G. B. 2006. Improved Outcomes in Nephrotic Syndrome. CCJM. 73: 161-166.


http://www.ccjm.org/content/73/2/161.full.pdf
Betz, C. L. dan Sowden, L. L. 2002. Keperawatan Pediatrik. Edisi 3. Jakarta, Penerbit Buku
Kedokteran EGC. pp: 335-336.
Gunawan,

C.

A.

2006.

Sindrom

Nefrotik

Patogenesis

dan

Penatalaksanaan.

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/18_150_SindromaNefrotikPatogenesis.pdf/18_150_
SindromaNefrotikPatogenesis.html (2 Mei 2009)
Hamm, L. L. dan Batuman, V. 2003. Edema in the Nephrotic Syndrome: New Aspect of an Old
Enigma. JASN. 14: 32883289. http://jasn.asnjournals.org/cgi/reprint/14/12/3288
Indoskripsi. 2008. Sindrom Nefrotik Idiopatik pada Anak. http://one.indoskripsi.com/judulskripsi-tugas-makalah/kedokteran/sindrom-nefrotik (2 Mei 2009)
Prodjosudjadi, W. 2007. Sindrom Nefrotik. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Ed:
Aru W. Sudoyo dkk. Jakarta, Balai Penerbit FKUI. pp: 547-549.
Rauf, S. 2002. Catatan Kuliah Nefrologi Anak. Makassar, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UH.
p: 4.
Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 2, Alih Bahasa: Brahm U.
Pendit. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. pp: 463-475.
Wilson, L. M. 2006. Anatomi dan Fisiologi Ginjal dan Saluran Kemih. Dalam: Patofisiologi
Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Volume 2. Ed: Sylvia A. Price dan Lorraine M.
Wilson. Alih Bahasa: Brahm U. Pendit, dkk. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
pp: 867-875.