Anda di halaman 1dari 13

PERBANDINGAN HASIL PEMERIKSAAN MASA PEMBEKUAN

DARAH (CLOTTING TIME) METODE SLIDE DENGAN METODE


TABUNG (MODIFIKASI LEE DAN WHITE)
(COMPARISON THE CLOTTING TIME EXAMINATION
RESULTS BETWEEN SLIDE METHOD AND TUBE METHOD
(LEE AND WHITE MODIFICATION))
NAMA : EVA LUVIRIANI
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi Surakarta
Jl. Letjen Sutoyo, Mojosongo Surakarta 57127 Telp. (0271) 852518
Fax. (0271) 853275, Homepage : www.setiabudi.ac.id, e-mail :
info@setiabudi.ac.id
INTISARI
Luviriani,
Eva.,
Pramudianti,
M.I.D.,
Pramonodjati,
F.
2014.
Perbandingan Hasil Pemeriksaan Masa Pembekuan Darah (Clotting
Time) Metode Slide dengan Metode Tabung (Modifikasi Lee dan White).
Program Studi D-IV Analis Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Setia Budi.
Masa pembekuan atau clotting time (CT) adalah lamanya waktu yang
diperlukan darah untuk membeku. Metode yang paling banyak digunakan dan
dianggap paling baik adalah metode tabung (modifikasi Lee dan White). Metode
slide lebih banyak digunakan di laboratorium dengan alasan sampel yang
dibutuhkan lebih sedikit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan
hasil pemeriksaan clotting time metode slide dengan metode tabung (modifikasi
Lee dan White).
Penelitian menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan
pendekatan cross sectional, dilakukakan pada bulan April 2014 menggunakan
44 sampel dengan populasi sebanyak 50 orang.
Didapatkan hasil dari uji Paired samples t-test dengan nilai sig. (2-tailed)
0,000 < 0,025, artinya bahwa rata-rata hasil pemeriksaan clotting time yang
ditentukan dengan metode slide dan metode tabung berbeda bermakna yaitu
untuk metode slide sebesar 4,27 + 0,91 menit dan metode tabung sebesar
12,38 + 1,23 menit. Penulis memberikan saran kepada tenaga laboratorium
agar dapat mempertimbangkan metode mana yang paling baik dengan
memperhatikan kekurangan dan kelebihan dari masing-masing metode, selain
itu diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pemeriksaan masa pembekuan
darah metode tabung dengan activated partial tromboplastin time (aPTT).
Kata Kunci : Masa pembekuan darah (clotting time), metode slide, metode
tabung.

ABSTRACT
Luviriani, Eva., Pramudianti, M.I.D., Pramonodjati, F. 2014. Comparison
the clotting time examination results between slide method and tube
method (Lee and White Modification). D-IV Technical Laboratory Study
Programme, Faculty of Health Sciences, Setia Budi University.
Period of clotting or clotting time (CT) is the length of time (duration) for
blood to clot. The method mostly used and considered as best method is tube
method (Lee and White modification). Slide method is commonly use in
laboratory which takes fewer samples being the reason. The purpose of this
research knows the differences the results of the clotting time between slide
methods and tube methods.
The Research used analytic observational research design through cross
sectional approach, used 44 samples by way of 50 peoples.
The test results obtaine from the Paired samples t-test with sig. 0.000 <
0.025, It means that the average clotting time examination results as
determined by the of slide method and different tube method means that for
slide methods of 4,27 + 0,91 minutes and tube method amounted to 12,38 +
1,23 minutes. The author gives advice to laboratory personel in order to
consider which method is best by giving attention to the advantages and
disadvantages of each method, in addition to the necessary further research on
the tube methods of the blood clotting time through activated partial
thromboplastin tube time (aPTT).
Keywords : clotting time, slide method, tube method

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masa pembekuan atau clotting
time (CT) adalah lamanya waktu yang
diperlukan darah untuk membeku.
Dalam tes ini hasilya menjadi ukuran
aktivitas faktor-faktor pembekuan
darah, terutama faktor-faktor yang
membentuk tromboplastin dan faktor
yang
berasal
dari
trombosit

(Gandasoebrata, 2001). Penurunan


masa pembekuan terjadi pada
penyakit
thromboplebitis,
infark
miokard
(serangan
jantung),
emboli
pulmonal
(penyakit
paru-paru),
penggunaan obat barbiturat,
kontrasepsi hormonal wanita,
vitamin K, digitalis (obat
jantung), diuretik (obat yang
berfungsi mengeluarkan air

jika
ada
pembengkakan),
sedangkan
perpanjangan
masa pembekuan terjadi pada
penderita
penyakit
hati,
kekurangan faktor pembekuan
darah, leukemia, dan gagal
jantung kongestif (Sutedjo,
2009).
Estrogen
dapat
meningkatkan
koagulabilitas
(daya
beku)
darah,
meningkatkan
faktor
pembekuan yaitu Faktor II, VII,
IX dan X dalam darah serta
menurunkan antitrombin III
(Marks et al., 2000).
Menurut
Gandasoebrata
(2001) metode pemeriksaan clotting
time yaitu metode tabung (modifikasi
Lee dan White), metode tabung kapiler
(menurut Duke), dan metode slide.
Pemeriksaan
clotting
time
dengan menggunakan darah
lengkap
sebenarnya
satu
pemeriksaan yang kasar tetapi
diharapkan mampu mewakili
proses
pembekuaan
yang
terjadi di dalam tubuh secara
in vitro sehingga diantara
pemeriksaan
yang
menggunakan darah lengkap
metode yang paling banyak
digunakan
dan
dianggap
paling baik adalah metode
tabung (modifikasi Lee dan
White).
Meskipun
cara
tersebut dianggap paling baik,
tetapi
masih
banyak
laboratorium
yang
tidak
menggunakan
dan
lebih
memilih metode slide dengan
alasan
sampel
yang
dibutuhkan
sedikit
yaitu
sebanyak 2 tetes darah,
prosedur pemeriksaan yang
sederhana
sehingga
membutuhkan waktu yang
sedikit dibandingkan dengan

metode
tabung
yang
menggunakan
sampel
sebanyak 4 ml darah dan
prosedur pemeriksaan yang
kompleks
sehingga
membutuhkan waktu yang
lama. Oleh karena itu penulis
tertarik
untuk
melakukan
penelitian
tentang
Perbandingan
Hasil
Pemeriksaan Masa Pembekuan
Darah (clotting time) Metode
Slide dengan Metode Tabung
(Modifikasi Lee dan White).

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini


adalah
untuk
mengetahui
perbedaan hasil pemeriksaan
clotting time metode slide
dengan
metode
tabung
(modifikasi Lee dan White).
Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat
sebagai
bahan
dalam
menambah ilmu pengetahuan
di
bidang
kesehatan
khususnya yang berhubungan
dengan metode pemeriksaan
clotting time di laboratorium,
sehingga bisa lebih baik dalam
menentukan
metode
pemeriksaan yang tepat dan
memberi
pertimbangan
kepada tenaga laboratorium
dalam memilih metode yang
paling baik, praktis, dan biaya
terjangkau
sehingga

didapatkan hasil yang dapat


dipercaya.
Hipotesis
Berdasarkan
landasan
teori, maka hipotesis dalam
penelitian ini yaitu tidak
terdapat
perbedaan
hasil
pemeriksaan
masa
pembekuan antara metode
slide dengan metode tabung
(modifikasi Lee dan White).
TINJAUAN PUSTAKA
Darah
Dalam keadaan fisiologik,
darah selalu berada dalam
pembuluh
darah
sehingga
dapat menjalankan fungsinya
sebagai pembawa oksigen
(oxygen carrier), mekanisme
pertahanan tubuh terhadap
infeksi,
dan
mekanisme
hemostasis. Darah terdiri atas
2 komponen utama, yaitu
plasma darah dan butir-butir
darah
(blood
corpuscles).
Butir-butir
darah (blood
corpuscles)
terdiri
atas
eritrosit atau sel darah merah
(SDM) red blood cell (RBC),
leukosit atau sel darah putih
(SDP) white blood cell
(WBC), dan trombosit atau
butir pembeku platelet.
Plasma
darah
dikurangi
protein
pembekuan
darah
disebut serum (Bakta, 2006).
Sel Pembeku (Tombosit)
Fungsi utama trombosit
adalah membentuk sumbat
mekanis
yang
merupakan

respons hemostatik normal


terhadap
cedera
vaskuler.
Tanpa trombosit, dapat terjadi
kebocoran
darah
secara
spontan melalui pembuluh
halus. Fungsi trombosit ada
tiga yaitu perlekatan (adhesi),
penggumpalan (agregasi), dan
reaksi
pelepasan,
juga
terdapat
amplifikasi
(penguatan).
Imobilisasi
trombosit di tempat cedera
vaskuler
mensyaratkan
interaksi spesifik trombosit
dengan
dinding
pembuluh
darah (adhesi) dan antar
trombosit
(agregasi)
(Hoffbrand dan Moss, 2011).
Hemostasis
Hemostasis ialah suatu
fungsi tubuh yang bertujuan
untuk
mempertahankan
keenceran darah sehingga
darah tetap mengalir dalam
pembuluh darah dan menutup
kerusakan dinding pembuluh
darah sehingga mengurangi
kehilangan darah pada saat
terjadinya
kerusakan
pembuluh darah. Hemostasis
melibatkan sistem vaskuler,
sistem
trombosit,
sistem
koagulasi,
dan
sistem
fibrinolisis (Bakta, 2006).
Pemeriksaan
hemostasis
dilakukan
untuk
skrening,
diagnosa dan monitor terapi
gangguan koagulasi. Untuk
memastikan diagnosis dan
terapi gangguan hemostasis
yang
tepat
dan
berkesinambungan, diperlukan
presisi dan akurasi jangka
panjang
yang
konsisten.
Pemeriksaan
hemostasis

meliputi pemeriksaan khusus


dan penyaring. Yang termasuk
pemeriksaan penyaring yaitu
masa
pembekuan,
masa
perdarahan, hitung trombosit,
PT, dan aPTT (Pramudianti,
2011).
Pembekuan Darah
Pembekuan
darah
(koagulasi)
adalah
suatu
proses kimiawi protein-protein
plasma
yang
berinteraksi
untuk
mengubah
molekul
protein plasma besar yang
larut, yaitu fibrinogen menjadi
gel stabil yang tidak larut
disebut fibrin (Sacher dan
McPherson, 2000). Aktifitas
jaringan,
peningkatan
trombosit, peningkatan faktorfaktor koagulasi, dehidrasi,
perubahan asam-basa tubuh
dan
antigen-antigen
yang
bekerja
pada
pembekuan
darah
akan
meningkatkan
aktifitas koagulasi baik jalur
intrinsik maupun ekstrinsik
(Prihadi, 2007).
Terdapat tiga kelompok
dalam
faktor
pembekuan
darah,
yaitu
kelompok
fibrinogen,
kelompok
prothrombin, dan kelompok
kontak. Kelompok fibrinogen
terdiri dari Faktor I, V, VIII, dan
XIII.
Kelompok prothrombin
terdiri dari Faktor II, VII, IX, dan
X.
Kelompok kontak terdiri
dari Faktor XI, XII, prekalikrein,
dan HMWK (Kiswari, 2014).
Pembekuan terjadi melalui
tiga langkah utama. Pertama,
sebagai
respon
terhadap
rupturnya pembuluh darah
atau kerusakan sel darah itu

sendiri dan terjadi rangkaian


reaksi kimiawi kompleks yang
dapat dikelompokkan menjadi
jalur ekstrinsik dan intrinsik.
Pada rangkaian reaksi ini
melibatkan
banyak
faktor
pembekuan
yang
hasil
akhirnya
adalah
aktivator
prothrombin. Kedua, aktivator
prothrombin
yang
mengkatalisis
pengubahan
prothrombin menjadi trombin.
Selanjutnya,
trombin
akan
bekerja sebagai enzim untuk
mengubah fibrinogen menjadi
benang fibrin yang merangkai
trombosit, sel darah, dan
plasma
untuk
membentuk
bekuan
(Sacher
dan
McPherson, 2000;Sofro, 2012).
Pemeriksaan Masa
Pembekuan Darah
(Clotting Time)
Clotting time adalah lamanya
waktu yang diperlukan darah untuk
membeku secara in vitro (Pramudianti,
2011). Dalam tes ini hasilya menjadi
ukuran
aktivitas
faktor-faktor
pembekuan darah, terutama faktorfaktor yang membentuk tromboplastin
dan faktor yang berasal dari trombosit
(Gandasoebrata, 2001).
Metode Tabung (Modifikasi
Lee dan White)
Metode
tabung
menggunakan
4
tabung
masing-masing terisi 1 ml
darah
lengkap,
kemudian
tabung
perlahan-lahan
dimiringkan setiap 30 detik
supaya darah bersentuhan
dengan
dinding
tabung
sekaligus
melihat
sudah
terjadinya gumpalan padat
5

(Sacher
dan
McPherson,
2000). Masa pembekuan darah
itu ialah masa pembekuan
rata-rata dari tabung kedua,
ketiga dan keempat. Masa
pembekuan
itu
dilaporkan
dengan dibulatkan sampai
setengah menit. Nilai normal
untuk
metode
tabung
(modifikasi Lee dan White)
adalah
9

15
menit
(Gandasoebrata, 2001).
Pemeriksaan
waktu
pembekuan saat ini jarang
dilakukan,
dan
telah
digantikan
dengan
aPTT.
Sensitivitas PT dan aPTT
dengan
adanya
defisiensi
faktor pembekuan tergantung
cara pemeriksaan dan derajat
pemanjangan, serta adanya
defisiensi faktor pembekuan
dapat
berbeda
bermakna
antar
reagen.
Sumber
kesalahan pencampuran darah
dengan tromboplastin jaringan
meliputi pungsi vena yang
tidak berhasil baik, busa
dalam semprit atau tabung,
menggoyang-goyangkan
tabung yang tidak sedang
diperiksa, semprit atau tabung
kotor, serta pemakaian obat
yang mempengaruhi hasil.
Semakin
lebar
tabung,
semakin
lama
waktu
pembekuan
(Pramudianti,
2011). Penetapan masa pembekuan
dengan menggunakan darah lengkap
sebenarnya satu tes yang kasar,
membutuhkan waktu yang lama,
ketelitian yang buruk dan sensitif
hanya
pada
defisiensi
faktor
pembekuan yang berat, tapi diantara
tes-tes yang mengggunakan darah
lengkap cara ini dianggap yang terbaik
(Gandasoebrata, 2001).

Metode Slide
Cara ini sangat kasar dan hanya
boleh dipakai dalam keadaan darurat
jika cara tabung atau cara dengan
kapiler tidak dapat dilakukan. Cara ini
menggunakan darah yang diteteskan
pada object glass yang kering dan
bersih sebanyak 2 tetesan
besar berdiameter 5 mm
secara terpisah dan setiap 30
detik
darah
diangkat
menggunakan lidi dan dicatat
waktu saat terlihat adanya
benang fibrin, setelah itu
dilakukan hal yang sama pada
tetesan yang kedua secara
bersamaan.
Kemudian
hentikan stopwatch setelah
terlihat adanya benang fibrin
pada tetesan kedua. Waktu
pembekuan
adalah
saat
adanya benang fibrin dalam
tetes
darah
yang
kedua
terhitung mulai dari darah
masuk ke semprit, nilai normal
untuk metode slide adalah 2-6 menit.
Sumber kesalahan terjadi pada
pencampuran darah dengan
tromboplastin jaringan yang
meliputi pungsi vena yang
tidak berhasil baik, busa
dalam semprit, object glass
yang basah dan kotor, serta
pemakaian obat yang dapat
mempengaruhi
hasil
(Gandasoebrata, 2001).
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini
menggunakan
desain
penelitian
analitik
observasional
dengan
pendekatan cross sectional
yang
membedakan
hasil
pemeriksaan
masa
pembekuan darah (clotting
6

time) metode slide dengan


metode tabung (modifikasi
Lee
dan
White)
dengan
metode consecutive sampling
yaitu
untuk
menentukan
sampel dari populasi yang
mempunyai ciri-ciri tertentu
sampai jumlah (kuota) yang
diinginkan terpenuhi (Siswanto
et al., 2013).
Penelitian
dilakukan
di
Laboratorium
Hematologi
Universitas
Setia
Budi
Surakarta pada bulan April
2014.
Populasi
dalam
penelitian
ini
adalah
mahasiswa
D-IV
transfer
semester
8
dan
reguler
semester 6 bidang studi Analis
Kesehatan
Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Setia
Budi Surakarta. Berdasarkan
perhitungan Isaac dan Michael
didapatkan jumlah sampel
sebanyak
44
orang
dari
populasi sebanyak 50 orang.
Kriteria
Inklusi
dalam
penelitian ini yaitu laki-laki
dan perempuan usia 21 45
tahun.
Sedangkan
kriteria
eksklusi dalam penelitian ini
yaitu
menggunakan
kontrasepsi
hormonal
wanita,vitamin
K,
obat
jantung, obat diuretik, dan
obat-obatan antikoagulan.
Definisi Operasional
Pemeriksaan
masa
pembekuan darah (clotting
time) merupakan pemeriksaan
untuk melihat berapa lama
diperlukan
darah
untuk
membeku yang digunakan
untuk
mengukur
aktivitas

faktor-faktor
pembekuan
darah, terutama faktor-faktor
yang
membentuk
tromboplastin dan faktor yang
berasal
dari
trombosit.
Pemeriksaan
clotting
time
dapat
diukur
dengan
menggunakan
skala
rasio
dalam satuan menit.
Metode slide merupakan
salah
satu
metode
pemeriksaan
clotting
time
dengan menggunakan darah
yang diteteskan pada object
glass
dan
dicatat
waktu
sampai
terbentuk
fibrin.
Pemeriksaan
clotting
time
metode slide diukur dengan
menggunakan
skala
rasio
dalam satuan menit.
Metode tabung (modifikasi
Lee dan White) merupakan
metode pemeriksaan clotting
time dengan mengukur waktu
yang diperlukan oleh darah
lengkap untuk membeku di
dalam tabung. Metode ini
menggunakan
4
tabung
masing-masing terisi 1 ml
darah lengkap dan tabung
perlahan-lahan
dimiringkan
setiap 30 detik supaya darah
bersentuhan dengan dinding
tabung
sekaligus
melihat
sudah terjadinya pembekuan.
Pemeriksaan
clotting
time
metode tabung diukur dengan
menggunakan
skala
rasio
dalam satuan menit.
Teknik analisis data pada
penelitian ini menggunakan
model statistik dengan dengan
bantuan program komputer.
Teknik ini menggunakan uji
Kappa
untuk
mengetahui
kesesuaian
data
yang
diperoleh,
setelah
itu

dilakukan uji normalitas data


sebesar 4,27 + 0,91 dengan nilai
minimum 3,0 menit dan maksimum
menggunakan uji kolmogorov6,0 menit. Clotting time pada metode
smirnov.
Apabila
data
tabung menunjukkan nilai rata-rata
terdistribusi
normal
maka
12,38 + 1,23 dengan nilai minimum
dilakukan uji Paired samples t9,5 menit dan maksimun 14,0 menit.
test, tetapi apabila data tidak
terdistribusi
normal
maka
Tabel 3. Deskripsi Hasil Penelitian Clotting
dilakukan uji Wilcoxon two
Time
related sample.
Hasil
uji
Mean
SD
Min
Maks
Data
Paired
samples
t-test
(menit) (menit) (menit) (menit)
dinyatakan berbeda bermakna
Slide
4,27
0,91
3,0
6,0
Tabung
12,38
1,23
9,5
14,0
apabila nilai sig. (2-tailed) <
0,025 dan tidak berbeda
Uji Normalitas Data
bermakna apabila nilai sig. (2tailed) > 0,025 dengan CI
Tabel 4. Uji Normalitas Data
(Confidence Interval) sebesar
Metode
p-value
Kesimpulan
95%.
HASIL PENELITIAN
Data pada tabel 1 dan 2 didapat
nilai koefisien Kappa antara peneliti,
analis 1, analis 2, dan analis 3 adalah >
0,75 maka dapat disimpulkan bahwa
terdapat kesesuaian persepsi yang baik
(excellent) antara peneliti dengan
analis lainnya.
Tabel 1. Hasil Uji Kappa Metode Slide
Koefisien
Kategori
Kesimpulan
Kappa
Peneliti*
0,908
Kesesuaian
Analis 1
persepsi baik
Peneliti*
0,863
Kesesuaian
Analis 2
persepsi baik
Peneliti*
0,953
Kesesuaian
Analis 3
persepsi baik
Tabel 2. Hasil Uji Kappa Metode Tabung
(Modifikasi Lee dan White)
Koefisien
Kategori
Kesimpulan
Kappa
Peneliti*
0,920
Kesesuaian
Analis 1
persepsi baik
Peneliti*
1,000
Kesesuaian
Analis 2
persepsi baik
Peneliti*
0,830
Kesesuaian
Analis 3
persepsi baik

Tabel 3 memperlihatkan bahwa


rata-rata hasil penelitian clotting time
dengan menggunakan metode slide

Slide
Tabung

0,089
0,230

Normal
Normal

Dari data uji One-Sample


Kolmogorov-Smirnov
diperoleh
signifikasi p-value slide dan tabung
masing-masing 0,089 dan 0,230. Pvalue untuk metode slide dan tabung
> 0,05. Hal ini dapat disimpulkan
bahwa data tersebut mengikuti
distribusi normal, sehingga dapat
dilakukan analisis Paired samples ttest.
Analisis Data Paired Samples T-Test
Didapatkan nilai sig. (2-tailed)
pada uji Paired samples t-test sebesar
0,000 < 0,025. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa rata-rata hasil
pemeriksaan clotting time yang
ditentukan dengan metode slide dan
metode tabung berbeda bermakna.
PEMBAHASAN
Didapatkan hasil dari uji Paired
samples t-test dengan nilai sig. (2tailed) 0,000 < 0,025, artinya bahwa
rata-rata hasil pemeriksaan clotting
time yang ditentukan dengan metode

slide dan metode tabung berbeda


bermakna. Metode slide menghasilkan
rata-rata waktu pemeriksaan lebih
pendek dibandingkan dengan rata-rata
waktu pemeriksaan dengan metode
tabung karena pemeriksaan pada
metode slide prinsipnya adalah
melihat waktu sampai terbentuknya
benang fibrin pada tetesan darah yang
berkontak pada dinding kaca slide,
sedangkan pada pemeriksaan clotting
time menggunakan metode tabung
prinsipnya adalah mengukur waktu
yang diperlukan oleh darah lengkap
untuk terbentuknya bekuan padat di
dalam tabung, waktu yang diperlukan
darah lengkap sebanyak 1 ml untuk
membeku dalam tabung tentunya akan
membutuhkan waktu yang lebih lama
dibandingkan dengan waktu yang
diperlukan
sampai
terbentuknya
benang fibrin pada satu tetes darah.
Namun secara klinis kedua metode
tersebut tidak berbeda karena rata-rata
hasil pemeriksaan kedua metode
masih masuk dalam range normal
yaitu untuk metode slide sebesar 4,27
+ 0,91 menit dan metode tabung
sebesar 12,38 + 1,23 menit dengan nilai
rujukan untuk metode slide sebesar 2-6
menit dan metode tabung sebesar 9-15

menit.
Dilihat dari rata-rata hasil
pemeriksaan masing-masing metode
secara klinis yang tidak berbeda maka
dapat dijadikan pertimbangan kepada
tenaga laboratorium dalam melakukan
pemeriksaan clotting time dengan
memperhatikan
kekurangan
dan
kelebihan dari masing-masing metode
serta memilih metode mana yang
memiliki kemungkinan kesalahan
lebih sedikit, mudah dilakukan, dan
biaya
yang
terjangkau
untuk
mendapatkan hasil yang dapat
dipercaya sehingga tidak berdampak
pada penanganan pasien.

Metode slide dalam pemeriksaan


clotting time menggunakan sampel
sebanyak 2 tetes darah vena dan
membutuhkan waktu yang tidak lama
untuk menunggu sampai terbentuknya
fibrin, namun metode ini sangat kasar
dan hanya boleh dipakai dalam
keadaan darurat apabila metode
tabung tidak dapat dilakukan. Untuk
metode tabung dilakukan dengan
menggunakan sampel sebanyak 4 ml
darah dan membutuhkan waktu yang
lama untuk menunggu sampai darah
dalam tabung terjadi bekuan padat,
sumber kesalahan terjadi pada
pencampuran darah dengan
tromboplastin
jaringan
meliputi pungsi vena yang
tidak berhasil baik, busa
dalam semprit atau tabung,
menggoyang-goyangkan
tabung yang tidak sedang
diperiksa, semprit atau tabung
kotor, serta pemakaian obat
yang mempengaruhi hasil.
Semakin
lebar
tabung,
semakin
lama
waktu
pembekuan, oleh karena itu
harus dilakukan secara hatihati dan tertib. Metode tabung
merupakan
tes
kasar,
membutuhkan waktu yang lama,
ketelitian yang buruk dan sensitif
hanya
pada
defisiensi
faktor
pembekuan yang berat, tetapi
diharapkan mampu mewakili
proses
pembekuaan
yang
terjadi di dalam tubuh secara
in vitro sehingga diantara
pemeriksaan
yang
menggunakan darah lengkap
metode ini dianggap yang terbaik
(Pramudianti
2011;Gandasoebrata, 2001).
Pembekuan darah pada jalur
initrinsik dipicu oleh adanya kontak
darah dengan permukaan yang
abnormal, misalnya pada tabung reaksi
9

dengan permukaan yang bermuatan


negatif seperti kaca dan kaolin.
Setelah darah berkontak dengan
dinding kaca maka akan terjadi
aktivasi faktor pembekuan XII dan
trombosit
membentuk
fibrin
(Wirawan,
2011).
Pemeriksaan
clotting time metode slide dan tabung
merupakan cara yang dilakukan untuk
memicu aktitivasi faktor-faktor yang
membentuk tromboplastin serta faktor
yang berasal dari trombosit yang
terdapat
pada
jalur
intrinsik
(Gandasoebrata, 2001). Pemeriksaan
yang berguna untuk melihat aktivitas
faktor jalur intrinsik tidak hanya dapat
dilakukan
dengan
pemeriksaan
clotting time tetapi dapat juga
dilakukakan dengan pemeriksaan Aptt.
Rekomendasi
lebih
baik
menggunakan APTT manual
dibandingkan clotting time,
sebab waktu pemeriksaan Aptt
lebih cepat, lebih sensitif, dan
mempunyai
reprodusibilitas
yang lebih baik dibanding
clotting time karena faktor kontak
(Faktor XII) dapat diaktifkan lebih
jauh dengan penambahan zat-zat
seperti kaolin dalam bentuk aktif.
Pemeriksaan Aptt
berguna untuk
mendeteksi kelainan kadar dan fungsi
faktor-faktor koagulasi jalur intrinsik
seperti prekallikrein, HMWK, Faktor
XII, Faktor XI, Faktor IX, Faktor VIII
dan aktifitas jalur bersama seperti
Faktor X, Faktor V, protrombin dan
fibrinogen, serta adanya inhibitor
(Pramudianti, 2011;Wirawan, 2011).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan

Kesimpulan dari penilitian ini


yaitu rata-rata hasil pemeriksaan masa
pembekuan darah yang ditentukan
dengan metode slide dan metode
tabung berbeda bermakna.
Saran
Berdasarkan kesimpulan yang
diperoleh, penulis memberikan saran
kepada tenaga laboratorium agar dapat
mempertimbangkan metode mana
yang paling baik dalam melakukan
pemeriksaan clotting time dengan
memperhatikan metode mana yang
paling baik, praktis, dan biaya
terjangkau dari masing-masing
metode untuk menghasilkan hasil yang
dapat dipercaya sehingga tidak
berdampak pada penanganan pasien,
selain itu diperlukan penelitian lebih
lanjut mengenai pemeriksaan masa
pembekuan darah metode tabung
dengan
pemeriksaan
skrining
pembekuan lainnya yang berfungsi
untuk mengukur aktifitas pembekuan
darah di jalur intrinsik dan jalur
bersama seperti activated partial
tromboplastin time (aPTT).
DAFTAR PUSTAKA
Bakta, I.M. 2006. Hematologi
Klinik Ringkas. Jakarta :
EGC.
Faranita, T., Trisnawati,Y., dan
Lubis, M. 2011. Gangguan
Koagulasi Pada Sepsis.
Sari Pediatri, 13 (3) : 226
232.
Gandasoebrata.
2001.
Penuntun
Laboratorium
Klinik.
Jakarta
:
Dian
Rakyat.
Hoffbrand, A.V., dan Moss,
P.A.H.
2011.
Kapita
Selekta Hematologi, edisi
10

6. Terjemahan oleh Brahm


U. Pendit, Liana Setiawan,
Anggraini
Iriani.
2013.
Jakarta : EGC.
Kee, J.L.F. 1994. Buku Saku
Pemeriksaan Laboratorium
dan Diagnostik dengan
Implikasi
Keperawatan.
Terjemahan oleh Easter
Nurses. 1997. Jakarta :
EGC.
Kiswari, R. 2014. Hematologi
dan Transfusi. Jakarta :
Erlangga.
Kosasih,
E.N.
1984.
Pemeriksaan Laboratorium
Klinik
Beberapa
Dasar
Teoritik Serta Tafsiran Hasil
Pemeriksaan. Bandung :
Alumni.
Kresno, S.B. 1988. Pengantar
Hematologi
dan
Imunohematologi. Jakarta :
FKUI.
Malahayati.
2010.
Solusi
Murah Untuk Cantik Sehat
Energik. Yogyakarta : Great
Publisher.
Marks, D.B., Marks, A.D., dan
Smith, C.M. 2000. Biokimia
Kedokteran Dasar Sebuah
Pendekatan
Klinis.
Terjemahan oleh Brahm U.
Pendit. 2000. Jakarta : EGC.
Nazir,
M.
1983.
Metode
Penelitian, edisi 1. Jakarta :
Ghalia Indonesia.
Pearce, E.C. 2013. Anatomi
dan
Fisiologi
Untuk
Paramedis. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama.
Pramudianti,
M.I.D.
2011.
Pemeriksaan Hemostasis
dan Praanalitik. Makalah
disajikan dalam Workshop
Hematologi PIT X PDS

PATKLIN.
Pontianak,
22
September.
Prihadi, H. 2007. Pengaruh
Waktu Aktifitas Fisik Ringan
Terhadap
Beda
Rerata
Waktu Pembekuan dalam
Sistem Koagulasi. Karya
Tulis Ilmiah. Semarang :
Fakultas
Kedokteran,
Universitas
Diponegoro
Semarang.
Sacher, R.A., dan McPherson,
R.A. 2000. Tinjauan Klinis
Hasil
Pemeriksaan
Laboratorium, edisi 11.
Terjemahan oleh Brahm U.
Pendit, Dewi Wulandari.
2004. Jakarta : EGC.
Santoso, S. 2005. Mengetahui
Berbagai Masalah Statistik
dengan SPSS Versi 11.5.
Jakarta
:
Elex
Media
Komputindo.
Siswanto., Susila, dan Suyanto.
2013.
Metodologi
Penelitian Kesehatan dan
Kedokteran. Yogyakarta :
Bursa Ilmu.
Smith, S.A. 2009. The Cell
Based
Model
of
Coagulation. Journal of
Veterinary Emergency and
Critical Care, 19(1) : 3-10.
Sofro, A.S.M. 2012. Darah.
Yogyakarta
:
Pustaka
Pelajar
Suliarni.
2002.
Aktivitas
Faktor VII Pada Sepsis.
Tesis. Medan : Fakultas
Kedokteran,
Universitas
Sumatera Utara.
Sutedjo, AY. 2009. Mengenal
Penyakit
Melalui
Hasil
Pemeriksaan Laboratorium.
Yogyakarta : Amara Books.
Tahono., Sidharta, B.R.A, dan
Pramudianti, M.I.D. 2012.

11

Buku
Ajar
Flebotomi.
Surakarta : UNS
Waterbury, L. 2001. Buku Saku
Hematologi,
Edisi
3.
Terjemahan
oleh
Sugi
Suhandi. 1998. Jakarta :
EGC.
Wirawan,
R.
2011.
Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi. Jakarta : FKUI.

Yuniwati C. 2012. Pengaruh Peran


Petugas Kesehatan Terhadap
Kesiapan Wanita Menopause
Dalam Menghadapi Keluhan
Menopause Di Rumah Sakit
Umum Daerah dr Zainoel Abidin
Provinsi Banda Aceh. Tesis.
Medan
:
Fakultas
Kesehatan
Masyarakat,
Universitas
Sumatera
Utara.

12