Anda di halaman 1dari 15

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA
LOW BACK PAIN
1. DEFENISI
Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), yang termasuk ke
dalam Low back pain atau yang biasa disingkat dengan LBP adalah:1,2,3
a. Lumbar Spinal Pain, nyeri di daerah yang dibatasi: superior oleh garis
transversal imajiner yang melalui ujung prosesus spinosus dari vertebra
thorakal terakhir, inferior oleh garis transversal imajiner yang melalui ujung
prosesus spinosus dari vertebra sakralis pertama dan lateral oleh garis vertikal
tangensial terhadap batas lateral spina lumbalis.
b. Sacral Spinal Pain, nyeri di daerah yang dibatasi superior oleh garis
transversal imajiner yang melalui ujung prosesus spinosus vertebra sakralis
pertama, inferior oleh garis transversal imajiner yang melalui sendi
sakrokoksigeal posterior dan lateral oleh garis imajiner melalui spina iliaka
superior posterior dan inferior.
c. Lumbosacral Pain, nyeri di daerah 1/3 bawah daerah lumbar spinal pain dan
1/3 atas daerah sacral spinal pain.
2. EPIDEMIOLOGI
LBP banyak terjadi di negara maju yang mengenai lebih dari 70% populasi dewasa.
Prevalensi LBP yang terjadi lebih dari dua minggu mencakup 14% kasus dan 95%
nya memiliki etiologi nonspesifik, jarang yang berat dan biasanya sembuh dengan
sendirinya. Di Australia LBP menjadi peringkat pertama kasus muskuloskeletal yang
ada di praktek umum dan urutan ketujuh untuk penyebab seseorang mencari
pertolongan kesehatan.3
3. ETIOLOGI
Banyak hal yang dapat menyebabkan LBP, baik secara posisi anatomis maupun
karena proses patologinya.1 Beberapa hal yang dapat menyebabkan low back pain
adalah:5
a. Kelainan Tulang Punggung (Spine) Sejak Lahir
Keadaan ini lebih dikenal dengan istilah Hemi Vertebrae. Kelainan-kelainan kondisi
tulang vertebra tersebut dapat berupa tulang vertebra hanya setengah bagian karena
tidak lengkap pada saat lahir. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya low back pain
yang disertai dengan skoliosis ringan.
i. Penyakit Spondylisthesis

Pada spondylisthesis merupakan kelainan pembentukan korpus vertebrae, dimana


arkus vertebrae tidak bertemu dengan korpus vertebrae. Walaupun kejadian ini terjadi
sewaktu bayi, namun ketika berumur 35 tahun baru menimbulkan nyeri akibat
kelinan-kelainan degeneratif. Nyeri pinggang ini berkurang atau hilang bila penderita
duduk atau tidur dan akan bertambah, bila penderita itu berdiri atau berjalan. Gejala
klinis dari penyakit ini adalah:
1). Penderita memiliki rongga badan lebih pendek dari semestinya. Antara dada dan
panggul terlihat pendek.
2). Pada punggung terdapat penonjolan processus spinosus vertebra yang
menimbulkan skoliosis ringan.
3). Nyeri pada bagian punggung dan meluas hingga ke ekstremitas bawah.
4). Pemeriksaan X-ray menunjukan adanya dislokasi, ukuran antara ujung spina dan
garis depan corpus pada vertebra yang mengalami kelainan lebih panjang dari garis
spina corpus vertebrae yang terletak diatasnya.
ii. Penyakit Kissing Spine
Penyakit ini disebabkan karena dua tau lebih processus spinosus bersentuhan. Keadan
ini bisa menimbulkan gejala dan tidak. Gejala yang ditimbulkan adalah low back pain.
Penyakit ini hanya bisa diketahui dengan pemeriksaan X-ray dengan posisi lateral.
iii.
Sacralisasi Vertebrae Lumbal Ke V
Penyakit ini disebabkan karena processus transversus dari vertebra lumbal ke V
melekat atau menyentuh os sacrum dan/atau os ileum.
b. Low Back Pain karena Trauma
Trauma dan gangguan mekanis merupakan penyebab utama LBP. Pada orang-orang
yang tidak biasa melakukan pekerjaan otot atau melakukan aktivitas dengan beban
yang berat dapat menderita nyeri pinggang bawah yang akut.
Gerakan bagian punggung belakang yang kurang baik dapat menyebabkan kekakuan
dan spasme yang tiba-tiba pada otot punggung, mengakibatkan terjadinya trauma
punggung sehingga menimbulkan nyeri. Kekakuan otot cenderung dapat sembuh
dengan sendirinya dalam jangka waktu tertentu. Namun pada kasus-kasus yang berat
memerlukan pertolongan medis agar tidak mengakibatkan gangguan yang lebih lanjut.
Secara patologis anatomis, pada low back pain yang disebabkan karena trauma, dapat
ditemukan beberapa keadaan, seperti:
i. Perubahan pada sendi Sacro-Iliaca
Gejala yang timbul akibat perubahan sendi sacro-iliaca adalah rasa nyeri pada os
sacrum akibat adanya penekanan. Nyeri dapat bertambah saat batuk dan saat posisi
supine. Pada pemerikasaan, lassague symptom positif dan pergerakan kaki pada hip
joint terbatas.
ii.

Perubahan pada sendi Lumba Sacral

Trauma dapat menyebabkan perubahan antara vertebra lumbal V dan sacrum, dan
dapat menyebabkan robekan ligamen atau fascia. Keadaan ini dapat menimbulkan
nyeri yang hebat di atas vertebra lumbal V atau sacral I dan dapat menyebabkan
keterbatasan gerak.
c. Low Back Pain karena Perubahan Jaringan
Kelompok penyakit ini disebabkan karena terdapat perubahan jaringan pada tempat
yang mengalami sakit. Perubahan jaringan tersebut tidak hanya pada daerah
punggung bagian bawah, tetapi terdapat juga disepanjang punggung dan anggota
bagian tubuh lain.
Beberapa jenis penyakit dengan keluhan LBP yang disebabakan oleh perubahan
jaringan antara lain:
i. Osteoartritis (Spondylosis Deformans)
Dengan bertambahnya usia seseorang maka kelenturan otot-ototnya juga menjadi
berkurang sehingga sangat memudahkan terjadinya kekakuan pada otot atau sendi.
Selain itu juga terjadi penyempitan dari ruang antar tulang vetebra yang menyebabkan
tulang belakang menjadi tidak fleksibel seperti saat usia muda. Hal ini dapat
menyebabkan nyeri pada tulang belakang hingga ke pinggang.
ii. Penyakit Fibrositis
Penyakit ini juga dikenal dengan Reumatism Muskuler. Penyakit ini ditandai dengan
nyeri dan pegal di otot, khususnya di leher dan bahu. Rasa nyeri memberat saat
beraktivitas, sikap tidur yang buruk dan kelelahan (Dieppe, 1995 dalam Idyan, 2008).
iii.
Penyakit Infeksi
Infeksi pada sendi terbagi atas dua jenis, yaitu infeksi akut yang disebabkan oleh
bakteri dan infeksi kronis, disebabkan oleh bakteri tuberkulosis. Infeksi kronis
ditandai dengan pembengkakan sendi, nyeri berat dan akut, demam serta kelemahan.
d. Low Back Pain karena Pengaruh Gaya Berat
Gaya berat tubuh, terutama dalam posisi berdiri, duduk dan berjalan dapat
mengakibatkan rasa nyeri pada punggung dan dapat menimbulkan komplikasi pada
bagian tubuh yang lain, misalnya genu valgum, genu varum, coxa valgum dan
sebagainya. Beberapa pekerjaan yang mengaharuskan berdiri dan duduk dalam waktu
yang lama juga dapat mengakibatkan terjadinya LBP.
Kehamilan dan obesitas merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya
LBP akibat pengaruh gaya berat. Hal ini disebabkan terjadinya penekanan pada tulang
belakang akibat penumpukan lemak, kelainan postur tubuh dan kelemahan otot.
Tabel ringkasan etiologi dari LBP6

Otot: mengarah pada semua otot pada vertebra lumbalis, fasia: mengarah pada fasia
thorakolumbal, ligamen: mengarah pada ligamen intervertebralis dan iliolumbalis,
tulang: mengarah pada semua bagian dari vertebra lumbalis dan sakrum, sendi:
mengarah pada sendi lumbar zygapophysial dan sakroiliaka, dan diskus: mengarah
pada diskus intervertebralis.6
4. KLASIFIKASI
Berdasarkan lama dari perjalanan penyakitnya, IASP membagi LBP menjadi:1,2,3,4
a. Acute low back pain, telah dirasakan selama kurang dari tiga bulan.
b. Sub-acute low back pain, dirasakan 5-7 minggu tapi tidak lebih dari 12
minggu.
c. Chronic low back pain, telah dirasakan lebih dari tiga bulan.
5. MANIFESTASI KLINIS DAN FAKTOR RESIKO6
Faktor resiko nyeri pinggang meliputi usia, jenis kelamin, berat badan, etnis,
merokok, pekerjaan, paparan getaran, angkat beban yang berat yang berulang-ulang,
membungkuk, duduk lama, geometri kanal lumbal spinal dan faktor psikososial. Sifat
dan karakteristik nyeri yang dirasakan pada penderita LBP bermacam-macam seperti
nyeri terbakar, nyeri tertusuk, nyeri tajam, nyeri tumpul hingga terjadi kelemahan
pada tungkai. Nyeri ini terdapat pada daerah lumbal bawah, disertai penjalaran ke
daerah-daerah lain, antara lain sakroiliaka, koksigeus, bokong, kebawah lateral atau
posterior paha, tungkai, dan kaki.
6. DIAGNOSIS2
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang. Dari anamnesis harus ditelusuri riwayat nyerinya, trauma sebelumnya,
setelah melakukan aktifitas fisik tertentu, penjalaran, faktor yang memperberat dan
memperingan keluhan.
Pemeriksaan fisik dimulai dari inspeksi cara berjalan, berdiri, duduk dan vertebrae
apakah terdapat gibus,kifosis, lordosis atau deformitas. Setelah itu vertebrae dipalpasi
ada atau tidaknya nyeri, deformitas, gibus dan spasme otot.

Pemeriksaan neurologik dilakukan untuk mengetahui apakah keluhan nyeri


disebabkan oleh gangguan neurologik atau tidak, dilakukan pemeriksaan motorik,
sensorik dan refleks. Dilakukan juga tes-tes seperti:
- Tes laseg dan kontralaseg
- Tes patrick dan kontrapatrick
- Tes naffziger
7. DIAGNOSIS BANDING2
Tabel yang menunjukkan diagnosis banding dari LBP

8. PEMERIKSAAN PENUNJANG2
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan laboratorium dan
pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan radiologi yang paling baik dilakukan adalah MRI
yang dapat mengevaluasi jaringan lunak seperti medulla spinalis dengan baik.
9. TATALAKSANA1,2,6
a. LBP akut
LBP akut dapat diobati dengan pemberian :
- Analgetik baik steroid maupun non steroid.
- Muscle relaksan.
- Narkotik agen.
b. LBP kronik
Pada kronik LBP tujuan terapi adalah mengurangi nyeri, meningkatkan
kualitas hidup dan meningkatkan fungsi. Tatalaksana pada LBP kronik sangat
luas dan bervariasi tergantung dari etiologi yang mendasarinya. Jika

etiologinya diketahui maka pengobatan adalah dengan mengobati penyakit


dasarnya, apabila tidak diketahui maka dilakukan pengobatan simptomatis
saja. Ada beberapa kategori pengobatan yang dilakukan pada LBP kronik,
yaitu:
-

Latihan fisik yang dapat dilakukan bervariasi contohnya streching

dan strengthning serta fisioterapi.


Obat-obatan, dapat diberikan obat-obat penghilang nyeri baik
narcotik dan non narcotik. NSAID juga dapat membantu dalam
mengontrol nyeri dan proses inflamasi. Pemberian muscle relaksan
juga dapat membantu dan meningkatkan efek sinergi obat lainnya.
Pemberian antidepresan dan antikejang terkait dengan nyeri terkait

dengan sarafnya.
Prosedur pembedahan mulai dari injeksi invasif sampai pembedahan

untuk memasukkan implant yang mengurangi nyeri.


Tatalaksana tambahan seperti akupuntur, jarum kering,, terapi nutrisi,
magnet dan lainya.

10. PROGNOSIS
Biasanya pasien sembuh rata-rata dalam 7 minggu. Tetapi sering dijumpai episode
nyeri berulang. Dan sebanyak 80% pasien mengalami keterbatasan dalam derajat
tertentu selama 12 bulan, mungkin hanya 10-15% yang mengalami disabilitas berat.
Status pasien setelah 2 bulan terapi merupakan indikator untuk meramalkan status
pasien pada bulan ke-12.1
Penentuan faktor risiko dapat juga memperkirakan perkembangan perjalanan penyakit
low back pain ke arah kronisitas.1

ILUSTRASI KASUS

Seorang pasien laki-laki berumur 48 tahun datang ke poliklinik Neurologi RSUP M. Djamil
Padang. Masuk pada tanggal 17 januari 2014 dengan :

Keluhan Utama :
Nyeri pinggang kanan.

Riwayat Penyakit Sekarang:

Nyeri pinggang kanan sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Nyeri dirasakan
menyalar ke tungkai kanan, punggung kaki kanan. Nyeri seperti disentrum, meningkat
jika paisen batuk dan mengedan, berkurang jika pasien berbaring terlentang. Nyeri ini
menyebabkan pasien kesulitan untuk bergerak dan nyeri bila berjalan sehingga pasien
lebih banyak berbaring.

Keluhan disertai adanya rasa baal mulai dari pinggang bawah, menjalar sampai paha
samping dan punggung kaki kanan.

Kelemahan anggota gerak tidak ada

Keluhan BAK, BAB tidak ada

Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien belum pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.

Pasien tidak pernah mendapat trauma ditulang belakang

Pasien tidak pernah menderita penyakit kanker

Pasien tidak pernah menderita batuk-batuk lama atau makan obat 6 bulan sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit kanker.

Riw ayat Pekerjaan dan Kebiasaan:


Pasien adalah seorang supir, aktifitas fisik kurang, mengendarai mobil truk antar
provesi kurang lebih 5 tahun, merokok (+)

Pemeriksaan Fisik
Status Generalis :
Keadaan umum

: sedang

Kesadaran

: komposmentis kooperatif ( E4M6V5)

Tekanan darah

: 130/80 mmHg

Nadi

: 80 x / menit

Nafas

: 20x/menit

Suhu

: 36,9oC

Status Internus :
KGB :

Leher, aksila dan inguinal tidak membesar

Leher :

JVP 5-2 CmH20

Thorak :

Paru

Inspeksi

simetris kiri dan kanan

Palpasi : fremitus normal kiri sama dengan kanan


Perkusi

sonor

Auskultasi

vesikuler, ronchi (-), wheezing (-)

Jantung

: Inspeksi

iktus tidak terlihat

Palpasi

iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V

Perkusi

batas-batas jantung dalam batas normal

Auskultasi
Abdomen

Inspeksi

irama teratur, bising (-)

Tidak tampak membuncit

Palpasi :

Hepar dan lien tidak teraba, ballotement (-)

Perkusi

Timpani

Auskultasi

Bising usus (+) Normal

Inspeksi

Deformitas (-), Gibbus (-), Tanda radang (-)

Palpasi :

Nyeri tekan di L4,L5 (+)

Corpus Vertebrae :

Status Neurologis :
1. GCS 15 : E4 M6 V5
2. Tanda rangsangan meningeal :
- Kaku kuduk (-)
- Brudzinsky I (-)
- Brudzinsky II (-)
- Kernig (-)
3. Tanda peningkatan tekanan intrakranial :
- muntah proyektil (-)
- sakit kepala progresif (-)

4. Nn Kranialis :
-NI

- N II :

penciuman baik
reflek cahaya +/+

- N III, IV, VI :

pupil bulat, diameter 3 mm, gerakan bola mata bebas ke segala arah

-NV :

bisa membuka mulut, menggerakkan rahang ke kiri dan ke kanan

- N VII:

bisa menutup mata, mengangkat alis : simetris

- N VIII

fungsi pendengaran baik, nistagmus tidak ada

- N IX, X

arcus faring simetris, uvula di tengah, refleks muntah (+), perasaan 1/3

lidah baik
- N XI :

bisa mengangkat bahu dan bisa melihat kiri dan kanan

- N XII:

deviasi lidah tidak ada

5.

Motorik :

555 555
555 555

Tungkai Kanan

Tes Laseque (+),30

Tes Cross lasec ( +)

Tes Patrick(+)

Tes Valsava (+),

Tes Kontrapatrick(+)

Dorsofleksi ibu jari (L5) : terganggu

Sensorik

- Parastesi sesuai dermatom L4- L5


7.

Tes Bragard(+)

Tes Nafzifer (+)

Ektensi Lutut (L3-L4) : terganggu

6.

Tes sicard (+)

Fungsi otonom : Neurogenik Bladder (-)

Defekasi baik

8.

Refleks fisiologis :

Biseps

: ++/++
KPR

1.

Triseps

: ++/++

: ++/++
APR

Reflek patologis :
Babinsky

: -/-

Gordon

: -/-

Chaddock

: -/-

Oppenheim

: -/-

Pemeriksaan Laboratorium

Hb

: 17,3 gr/dl

Ht

: 52%

Leukosit

: 11.300 uL

Trombosit

: 330.000

GDR

: 104

Ureum

: 41 mg/dl

Kratinin

: 1,3 mmol/dl

Natrium

: 142 mg/dl

Kalium

Cl

: 104 mmol/dl

Asam Urat

: 5,9

GDP

: 86 mg/dl

GD2jam PP

: 107 mg/dl

: 4,2 mmol/dl

: +/++

Protein total

: 6.8 g/dl

Albumin

: 4,3g/dl

Globin

: 2,5 g/dl

Kolesterol T : 246 mg/dl

LDL

: 163 mg/dl

HDL

: 32 mg/dl

Trigliserida

: 253 mg/dl

Diagnosis Kerja :

Diagnosis Klinis

Ischialgia Dextra

Diagnosis Topik

Radiks L4-L5

Diagnosis Etiologi

suspect Hernia Nucleus pulposus

Diagnosis Sekunder :

Dislipidemia

Diagnosis Diagnosis :

Diagnosis Klinis

Ischialgia Dextra

Diagnosis Topik

Radiks L4-L5

Diagnosis Etiologi

suspect Spondilosis

Diagnosis Sekunder :

Rencana Pemeriksaan Tambahan :

Dislipidemia

Rontgen foto Lumbosakral

MRI

Terapi :
Umum :
Bed rest
Diet MB RG 2100 kkal per hari
Khusus :
Meloxicam 2 X 15 mg ( peroral)
Ranitidin

2X 50 mg (peroral)

Coditam(codein +paracetamol) 2x1 ( peroral)


Neurodex 1x1 tablet (peroral)

Pemeriksaan Penunjang
Rontgen Lumbosacral AP dan Lateral
Hasil sesuai gambaran Spondilosis Lumbo sacral

DISKUSI

Telah dilaporkan kasus seorang pasien laki-laki, umur 61 tahun yang datang ke poli
Neurologi RSUP Dr M.Djamil Padang dengan diagnosis klinis Ischialgia dextra e.c suspect
Hernia Nucleus pulposus.
Dari anamnesis didapatkan bahwa n Nyeri pinggang kanan sejak 1 minggu sebelum masuk
rumah sakit. Nyeri dirasakan menyalar ke tungkai kana, punggung kaki kanan. Nyeri seperti
disentrum, meningkat jika paisen batuk dan mengedan, berkurang jika pasien berbaring
terlentang.Nyeri ini menyebabkan pasien kesulitan untuk bergerak dan nyeri bila berjalan
sehingga pasien lebih banyak berbaring.

Keluhan disertai adanya rasa baal mulai dari

pinggang bawah, menjalar sampai paha samping dan punggu kaki kanan .
Pemeriksaan fisik menunjukkan pasien merasakan nyeri di pinggang kanan. Hasil positif
ditemukan pada test Laseque, cross lasec, valsava, sicard, bragard, Patrick dan Kontra
Patrick. Berdasarkan gejala dan tanda klinis tersebut pasien ini cenderung didiagnosa sebagai
ischialgia dextra yang terjadi pada nervus ischiadikus. Untuk memastikan diagnosis perlu
dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu foto polos lumbosakral atau MRI sebagai standar
pasti untuk penegakkan diagnosis.
Nyeri pinggang dapat diatasi dengan istirahat dan pemberian obat-obatan. Istirahat secara
umum atau lokal banyak memberikan manfaat. Tirah baring pada alas keras dimaksudkan
untuk mencegah melengkungnya tulang punggung. Pada terapi medikamentosa : Meloxicam
2 X 15 mg ( peroral), Ranitidin

2X 50 mg (peroral), Coditam(codein +paracetamol) 2x1

( peroral), Neurodex 1x1 tablet (peroral).

DAFTAR PUSTAKA
1. Bogduk N. Evidence-Based Clinical Guidelines for the Management of Acute
Low Back Pain. The National Muskuloskeletal Medicine Initiative. 1999.
2. Van Tulder MW, Koes BW. Low back pain and sciatica. Clin Evid 2001;6:864-83.
3. Lynn March, et all. Acute Low Back Pain. Australian Acute Musculoskeletal Pain
Guidelines Group. 2002. Page 25-60.
4. NASS. Acute low back pain. North American Spine Society Public Education
Series. 2009.
5. Rahnitta. Fisioterapi LBP. Universitas Sumatera Utara. 2002.
6. Yuliana. Low Back Pain. CDK 185 :270-273.