Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Kandidiasi adalah suatu infeksi jamur yang disebabkan oleh candida.

Candida merupakan mikroflora normal pada rongga mulut, mikroorganisme ini


mencapai 40-60% dari populasi (1). Walaupun demikian, jamur tersebut dapat
menjadi pathogen dalam kondisi tertentu atau pada orang-orang yang memiliki
penyakit-penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh sehingga menimbulkan
suatu penyakit misalnya, sring ditemukan pada penderita AIDS (2).
Candida albicans pada rongga mulut merupakan spesies yang paling sering
menimbulkan penyakit. Secara klinis dapat ditemukan berbagai penampilan
berupa lesi putih atau lesi eritematus. (1). Pada keadaan akut, kandidiasis dapat
menimbulkan keluhan seperti rasa terbakar (burning sensation), rasa sakit
biasanya pada lidah, mukosa bukal atau labial, dan serostomia(3).
Terjadinya kandidiasis dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama
penggunaan protesa, serostomia (sjogran syndrome), penggunaan antibiotik atau
kortikosteroid, penyakit keganasan (neoplasma), penggunaan radio terpi,
defisiensi nutrisi, daan penderitaimmunosupresi (AIDS) (1).
Berdasarkan pemeriksaan klinis, kandidiasis dapat diklasifikasikan
menjadi lima tipe, yaitu akut pseudomembran kandidiasis (thrus), akut atrofik
kandidiasis, kronik atrofik kandidisis denture stomatitis, kronis hiperplastik
kandidiasis, dan angular cheillitis (4).
Kronik atrofik kandidiasis merupakan kondisi inflamasi yang terjadi
karena penggunaan gigi tiruan. Sering terlihat pada palatum dan mukosa dibawah
gigi tiruan, dan mempunyai tanda khas berupa erythema berbatas jelas dan gejala
1

seperti terbakar. (5,6). Kronik atrofik kandidiasis ditemui pada 24-60% pemakai
gigi tiruan dan sering terjadi pada wanita (7,8). Terjadinya kronik atrofik
kandidiasis pada pemakai gigi tiruan sering disertai dengan terjadinya angular
cheilitis yang merupakan inflamasi yang terjadi di commissures (angles) bibir (9).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah definisi exostosis?
2. Bagaimana epidemiologi exostosis?
3. Apa saja etiologi exostosis?
4. Bagaimana gejala dan gambaran klinis exostosis?
5. Bagaimana pemeriksaan exostosis?
6. Bagaimana tatalaksana exostosis?
7. Apa saja komplikasi dari exostosis?
8. Apa saja diagnosis banding dari exostosis?
9. Apa saja pencegahan dari exostosis?
10. Bagaimana prognosis dari exostosis?
1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas akhir diskusi
kelompok dan mengetahui tentang exostosis dari definisi, etiologi, epidemiologi,
gejala dan gambaran klinis, pemeriksaan, tatalaksana, komplikasi, diagnosis
banding, pencegahan, dan prognosis.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Definisi
Ekostosis merupakan pertumbuhan benigna jaringan tulang yang menonjol

keluar dari permukaan tulang. Berasal dari bahasa Yunani yang berarti ex- keluar
dan osteon bermakna tulang. Exostosis bisa menyebabkan sakit mulai dari ringan
sampai berat, tergantung letak dan bentuknya. Exostosis bukal tidak berpotensi
menjadi ganas.1,2

Eksostosis adalah pembesaran tulang yang padat, ditutupi oleh mukosa


yang tipis dengan vaskularisasi yang buruk dan pertumbuhannya lambat.1,2
Eksostosis adalah pertumbuhan benigna jaringan tulang yang menonjol
keluar dari permukaan tulang. Pertumbuhan hiperplastik yang jinak pada lapisan
tulang dengan tampilan halus dan menonjol dari permukaan tulang, terdiri dari
tulang trabekular dan kortikal yang mature.3

2.2

Epidemiologi
Eksostosis sering terjadi pada orang dewasa dimana lebih banyak terjadi

pada pria dibandingkan wanita.3Sekitar 1 dari 1000 orang dewasa yang terkena. 4
Eksostosis terjadi pada kelompok umur 35-65 tahun dengan insiden tertinggi pada
umur 60 tahun.4,6 Eksostosis pada maksila lebih sering terjadi daripada mandibula
dengan perbandingan sebesar 5,1 : 1.6
2.3

Etiologi
Penyebab dari eksostosis sampai saat ini belum diketahui secara pasti,

tetapi pada beberapa orang di turunkan secara autosomal dominan. Faktor genetik,
faktor lingkungan juga telah terlibat sebagai faktor penyebab (skin graf,
perawatan gigi, bruxism). Penyebab eksostosis sebenarnya bisa muktifaktoral.10
2.4

Gambaran dan Gejala Klinis

Gambaran dan gejala klinis yang terdapat pada penderita exoxtosis yaitu:2,7,8
a. Asimptomatik

b. Ditutupi oleh mukosa yang biasanya lebih tipis dari mukosa pada

umumnya
c. Mukosa permukaanya keras, dan berwarna putih sampai merah muda
pucat.
d. Bentuknya bisa single, multilokuler, oval, irreguler, shape
e. Pembesaran tulang yang keras dan tidak dapat digerakkan, yang biasanya
di temukan di garis tengah palatum atau dipermukaan lingual mandibula,
dan regio premolar.
f. Ketika dipalpasi konsistensi keras (rock-hard)
g. Terkadang pasien mengalami gangguan fonetik
h. Keterbatasan dalam pengunyahan dan gerakan lidah

2.5

Pemeriksaan

a. Pemeriksaan Klinis2,9
Anamnesa : keluhan utama
Pemeriksaan ekstraoral : wajah dan bibir simetris, kelenjar getah bening

tidak sakit, tidak teraba.


Pemeriksaan intraoral :
melihat kondisi jaringan lunak, memperhatikan apakah terdapat
undercut tulang dengan palpasi, gingiva tampak merah.
melihat kondisi jaringan lunak dan keras; untuk mengetahui tinggi,
lebar dan bentuk tulang alveolar secara umum.
palpasi untuk mengetahui terdapat undercut tulang dan posisi dari

struktur anatomi jaringan sekitar (syaraf), kondisi tulang alveolar.


Pada pemeriksaan klinis ditemukan : radang, permukaan mukosa tidak rata

(ada penonjolan)
b. Pemeriksaan Penunjang9

Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan pemeriksaan radiografi


berupa :

Panoramik : digunakan untuk menilai kondisi dari tulang

rahang, mengetahui keseluruhan dari tulang alveolar, dan melihat adanya


sisa akar gigi atau kelainan patologi lain.
Periapikal
Cephalogram : digunakan untuk melihat hubungan skeletal anteroposterior dan tinggi tulang alveolar bagian anterior
Pemeriksaan penunjang lain yang dapat digunakan adalah pemeriksaan
histopatologi anatomi (HPA). Pemeriksaan ini dilakukakan untuk melihat
jaringan yang melapisi eksostosis dan untuk melihat keadaan tulang dan
osteosit.3,10
2.6

Tatalaksana

a.

Alveolektomi
Alveolektomi adalah suatu tindakan pengambilan tulang untuk memperbaiki

alveolar ridge dengan pemotongan dan penghalusan tulang. 10


Tahapan bedah konvensional alveoktomi :10
1.

Anastesi lokal

2.

Insisi

3.

Pembukaan flap

4.

Pemotongan dan penghalusan tulang

5.

Penjahitan dengan suture

6.

Kontrol 1 minggu untuk membuka jahitan, amati penyembuhan, lihat


apakah ada komplikasi/ ketidaknyamanan dari pasien
6

7.

Instruksi pasca perawatan dengan menghindari makanan yang keras dan


berkumur dengan clorhexidine gluconate 0,2%

b.

Alveoloplasti
Suatu tindakan bedah untuk membentuk prosessus alveolaris sehingga dapat

memberikan dukungan yang baik bagi gigi tiruan yang akan dipasang.
Tujuannya adalah11
1. Untuk membentuk prosesus alveolaris post operasi
2. Memperbaiki abnormalitas dan deformitas alveolar ridge sehingga
memudahkan dalanm adapati gigi tiruan
3. Membuang bagian ridge prosesus alveolaris yang tajam atau menonjol
4. Memperbaiki prognatisme maksila sehingga didapatkan estetik yang baik
pada gigi tiruan.

Indikasi Alveoplasti11

Pada prosesus alveolaris dijumpai adanya undercut, cortical plate yang


tajam, puncak ridge tidak teratur, tuberositas tulang, sehingga mengganggu
dalam proses pembuatan dan adaptasi gigi tiruan

Adanya torus palatinus maupun torus mandibularis yang besar

Kontraindikasi Alveoplasti11

Pada pasien yang masih muda, karena sifat tulang masih sangat elastis
maka proses resorbsi tulang lebih cepat dibandingkan dengan pasien usia
tua

Pada pasien yang jarang melepas GT karena rasa malu, sehingga jaringan
pendukung GT jadi kurang sehat, karena selalu tertekan dan jarang
dibersihkan -> proses resorbsi dan proliferasi tulang terhambat

Jika bentuk prosesus alveolaris tidak rata tetapi tidak mengganggu


adaptasi GT baik dalam hal pemasangan, retensi, maupun stabilitas.

2.7

Komplikasi
Exostosis dapat mengakibatkan beberapa komplikasi apabila tidak segera

ditangani yaitu :3
1. Dapat mengganggu pada saat pembuatan denture

2.

Jika besar, dapat mengganggu fungsi fonetik karena mengalangi lidah apabila

3.

terdapat di lingual.
Dapat mengakibatkan iritasi gingiva bila mengunyah terlalu keras atau
terkena makanan tajam karena gingiva yang tipis.

2.8

Diagnosis Banding

Diagnosis banding dari eksostosis yaitu:6


a. Multiple odontogenic keratocystic :
a. Persamaan : terjadi pembesaran tulang
b. Perbedaan : pembengkakan, ada parastesi di bibir bawah
b. Osteomyelitis
a. Persamaan : terjadi pada tulang dan nyeri
8

b. Perbedaan : terjadi infeksi bakteri


c. Salah satu gejala Gardners syndrome
Urine penderita mengandung hydroxyproline
d. Chronic multiple sclerosing osteomyelitis
Adanya infeksi bakteri ke dalam tulang, adanya infeksi pulpa
2.9 Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakukan pada kasus eksostosis yaitu:12
a. Segala tindakan harus didahului dengan panduan radiografi

sehingga

segala kemungkinan dapat dipersiapkan


b. Pada daerah edentolus, radiografi digunakan untuk mengidentifikasi
adanya radiks adanya radiks atau gigi impaksi beserta anatomis lain yang
terkait
c. Teknik ekstraksi yang tepat dengan tekanan yang tepat akan mengurangi
resiko terjadinya komplikasi yang akan menyulitkan perawatan prosto
d. Setelah dicabut,soket seharusnya ditekan dengan menggunakan jari supaya
menutup dan menghindari terjadinya lare-soket
e. Tulang yang tajam,atau kalkulus atau debris seharusnya dihalangkan
selama masa penjahitan
f. Saat akar gigi fraktur, radiks tersebut harus dangkal dengan minimal
manipulasi
g. Gingiva inflimasi harus direduksi
2.10 Prognosis
Prognosis dari eksostosis baik apabila setelah pelaksanaan tindakan bedah
preprostodontik

dilakukan

kontrol

berkala

untuk

mengetahui

proses

penyembuhan, menjaga agar tidak terjadi komplikasi yang tidak diinginkan dan
evaluasi kedaan jaringan dan kondisi pasien. Jika hasilnya baik, dapat segera
dilakukan pembuatan gigi tiruan pada pasien, untuk menungjang prognosis yang
lebih baik.4

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

10

3.2 Saran
Kami harap mahasiswa PSKG dapat memahami sepenuhnya isi dari
makalah ini, dapat membuat ilmu tersebut bermanfaat dan menjadi sarana
pembelajaran untuk bekal ilmu dimasa depan sebagai tenaga kesehatan yaitu
dokter gigi.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Rocca JP, Raybaud H, Merigo E, Vescovi P, and Fornaini C. YAG Laser: A


new Technical Approach to Remove Torus Palatinus and Torus
Mandibularis. Hindawi Publishing Corporation Case Reports in Dentistry.

2.
3.

Parma. Italy: 2012;1-4


Fragiskos, Fragiskos D. 2007. Oral Surgery. Jerman: Springer. hal.256
Kurtzman GM, Silverstein LH & Shatz PC. A technique for surgical

4.

mandibular exostosis removal. Compendium. 2006;27(10):520-525


Jainkittivong A. Bucal and Palatal Exostosis: Prevalence and concurrence

5.

with tori. Oral Surgery Oral Med Oral Pathology. 2000; 90(1): 48-53
Haring, Joen Lannucu. Case study: A 44-year-old female visited a dentist for
routine checkup. Orl examination revealed bony masses. RDH magazine.
2000 ; 20 (3)

11

6.

Blaggana A. Surgical Management Of An Atypical Case Of Multiple


Mandibular Exostoses : A Case Report. Journal of Bioengineering. India.

7.

2011. 5(1); p.1-7


Langlais Robert P, Craig S, Miller. Kelaianan rongga mulut hyang lazim.

8.

EGC. Jakarta. Indonesia. 2000. Hal. 78-79


Birnbaum Warren, stephen M.D. Diagnosis kelainan dalam mulut. Jakarta.

9.

Indonesia. EGC. 2010. Hal 300


Riawan, Lucky. Bedah Prostetik. Bandung. FKG UNPAD, 2003

10.

Rocca J.P, H. Raybaud, E.Merigo, P. Vescovi, and C. Fornaini. Er:YAG


Laser: A New Technical Approach to Remove Torus Palatinus and
TorusMandibularis. Case Reports in Dentistry. Hindawi Publishing
Corporation. Perancis. 2012. p. 1-4.

11.

Aditya G. Alveoloplasti Sebagai Tindakan Bedah Preprostodontik. Jurnal


Kedokteran Trisakti. 1999;18(1):27-32

12.

Balaji S M. texbook of oral & maxillofacial surgary. 2009

12

Anda mungkin juga menyukai