Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

ILMU THT-KL
LARINGITIS AKUT

Oleh:
Lalu Khairul Nazmi

NIM 201320401011138

Rani Puji Rahayu

NIM 201320401011144

Pembimbing:
dr. Heru Agus S . Sp.THT-KL

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
RUMAH SAKIT UMUM HAJI SURABAYA
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
karunia, rahmat kesehatan dan keselamatan kepada penulis sehingga mampu
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktu. Makalah Laringitis Akut ini dibuat
untuk memenuhi tugas di Departemen Ilmu Penyakit THT-KL Rumah Sakit
Umum Haji Surabaya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Heru Agus S . Sp.THT-KL
selaku dokter pembimbing dan teman-teman yang telah mendukung dalam
penulisan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih memiliki
kekurangan. Oleh sebab itu, penulis menerima kritik dan saran yang membangun
guna menyempurnakan makalah ini. Akhir kata, penulis berharap agar makalah ini
memberi manfaat kepada semua pihak.

Surabaya, 25 Juni 2014

Penyusun

ii

LEMBAR PENGESAHAN
REFERAT ILMU PENYAKIT THT
LARINGITIS AKUT

Surabaya, 25 Juni 2014

dr. Heru Agus S . Sp.THT-KL

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...

KATA PENGANTAR ............................................................................

ii

LEMBAR PENGESAHAN .....................................................................

iii

DAFTAR ISI.............................................................................................

iv

DAFTAR GAMBAR....

BAB 1 PENDAHULUAN.........................................................................

1.1 Latar Belakang...

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA................................................................. 3


2.1. Definisi.

2.2. Anatomi

2.3. Fisiologi

2.4. Etiologi.. 6
2.5. Patofisiologi... 7
2.6. Gejala Klinis.. 7
2.7. Pemeriksaan Penunjang. 9
2.8. Diagnosis... 9
2.9. Diagnosis Banding. 10
2.10. Penatalaksanaan 10
2.11. Prognosis.. 12
BAB 3 KESIMPULAN .............................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 15

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

2.1 Laring 3
2.2 Struktur Anatomi Laring 5

BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Laryngitis akut merupakan penyakit umum pada anak-anak, laryngitis
mempunyai onset yang cepat dan biasanya sembuh sendiri. Bila laryngitis
berlangsung lebih dari 3 minggu maka disebut laryngitis kronik. Laryngitis
didefinisikan sebagai proses inflamasi yang melibatkan laring dan dapat
disebabklan oleh berbagai proses baik infeksi maupun non-infeksi. Laryngitis
sering juga disebut dengan croup.1
Biasanya laringits akut menyerang pada individu yang berusia 18-40
tahun. Anak-anak tidak termasuk dalam kategori studi tersebut, dan termasuk
dalam observasi laringitis akut dimana usianya 3 tahun diatasnya. Laryngitis akut
pada umunya merupakan kelanjutan dari rinofaringitis akut (common cold) atau
merupakan manifestasi dari radang saluran nafas bagian atas. Pada anak laryngitis
akut dapat menimbulkan sumbatan saluran nafas, sedangkan pada orang dewasa
tidak secepat pada anak.1.2
Laryngitis akut biasanya sembuh sendiri dan diobati dengan terapi
konservatif, morbiditas dan mortalitas tidak dapat diperhitungkan, pasien dengan
laryngitis akut yang dikarenakan infeksi daripada yang disebabkan trauma vocal
pada akhirnya dapat melukai plika vocalis. Ketidaksempurnaan produksi suara
pada pasien dengan laryngitis akut dapat diakibatkan oleh penggunaan kekuatan
aduksi yang besar atau tekanan untuk mengimbangi penutupan yang tidak
vi

sempurna dari glottis selama episode laryngitis akut dimana laringitis akut
memiliki onset yang cepat dan biasanya semuh sendiri jika pasien memiliki gejala
laringitis lebih dari 3 minggu, keadaan ini diklasifikasikan sebagai laringitis
kronik. Etilogi laringitis akut dapat berupa penyalahgunaan suara, pemaparan
dengan agen yang berbahaya atau agen infeksius lainnya yang menyebabkan
infeksi traktus rsepirasi bagian atas. Agen infeksius paling banyak adalah virus,
akan tetap kadang-kadang juga disebabkan oleh bakteri.1
Maka dari itu biasanya laryngitis akut dapat sembuh spontan dalam
beberapa hari. Serak dapat menetap bila sekresi normal belum pulih. Beberapa
pasien

cenderung

menderita

afonia

fungsional

setelah

laryngitis

akut.

Pemeriksaan tindak lanjut menunjukkan laring yang normal, akan tetapi hampir
tanpa suara. Rujukan kepada ahli patologi suara akan dapat mengatasi keadaan
tersebut.1

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
vii

Laringitis akut adalah radang akut laring yang disebabkan oleh virus dan
bakteri yang berlangsung kurang dari 3 minggu dan pada umumnya disebabkan
oleh infeksi virus influenza(tipe A dan B), parainfluenza (tipe 1,2,3), rhinovirus
dan

adenovirus. Penyebab lain adalah

Haemofilus influenzae, Branhamella

catarrhalis, Streptococcus pyogenes, Staphylococcusaureus dan Streptococcus


pneumoniae.
A. Anatomi
Laring merupakan bagian terbawah dari saluran nafasbagian atas. 1
Berikut ini akan ditampilkan laring secara anatomi.

Gambar 1. Laring

Bentuk laring menyerupai limas segitiga terpancung dengan bagian atas


lebih terpancung dan bagian atas lebih besar daripada bagian bawah. Batas atas
laring adalah aditus laring sedangkan batas kaudal kartilago krikoid.1
Struktur kerangka laring terdiri dari satu tulang (os hioid) dan beberapa
tulang rawan, baik yang berpasangan ataupun tidak.5
viii

Komponen utama pada struktur laring adalah kartilago tiroid yang


berbentuk seperti perisai dan kartilago krikoid. Os hioid terletak disebelah
superior dengan bentuk huruf U dan dapat dipalapsi pada leher depan serta lewat
mulut pada dinding faring lateral. Dibagian bawah os hioid ini bergantung
ligamentum tirohioid yang terdiri dari dua sayap / alae kartilago tiroid. Sementara
itu kartilago krikoidea mudah teraba dibawah kulit yang melekat pada kartilago
tiroidea lewat kartilago krikotiroid yang berbentuk bulat penuh. Pada permukaan
superior lamina terletak pasangan kartilago aritinoid yang berbentuk piramid
bersisi tiga. Pada masing-masing kartilago aritinoid ini mempunyai dua buah
prosesus yakni prosessus vokalisanterior dan prosessus muskularis lateralis. Pada
prossesus vokalis akan membentuk 2/5 bagian belakang dari korda vokalis
sedangakan ligamentum vokalis membentuk bagian membranosa atau bagian pita
suara yang dapat bergetar. Ujung bebas dan permukaan superior korda vokalis
suara membentuk glotis. Untuk lebih jelas dapat dilihat gambar struktur anatomi
laring pada gambar. Kartilago epiglotika merupakan struktur garis tengah tunggal
yang berbentuk seperti bola pimpong yang berfungsi mendorong makanan yang
ditelan kesamping jalan nafas laring.
Selain itu juga teradapat dua pasang kartilago kecil didalam laring yang
mana tidak mempunyai fungsi yakni kartilago kornikulata dan kuneiformis.5

ix

Gambar 2. Struktur Anatomi Laring


Gerakan laring dilakukan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan intrisik.
Otot ekstinsik bekerja pada laring secara keseluruhan yang terdiri dari otot
ekstrinsik suprahioid (m.digastrikus, m.geniohioid, m.stilohioid dan m.milohioid)
yang berfungsi menarik laring ke atas. otot ekstinsik infrahioid (m.sternihioid,
m.omohioid, m.tirohioid). Otot intrisik laring menyebabkan gerakan antara
berbagai struktur laring sendiri, seperti otot vokalis dan tiroaritenoid yang
membentuk tonjolan pada korda vokalis dan berperan

dalam membentuk

teganagan korda vokalis, otot krikotiroid berfungsimenarik kartilago tiroid


kedepan, meregang dan menegangkan korda vokalis.5
Laring disarafi oleh cabang-cabang nervus vagus yakni nervus laringeus
superior dan nervus laringeus inferior (n.laringeusrekurens). Kedua saraf ini
merupakan campuran saraf motorik dan sensorik. Perdarahan pada laring terdiri
dari dua cabang yakni arteri laringeus superior danateri laringeus inferior yang
kemudian akan bergabung dengan vena tiroid superiordan inferior.1.2
B. FISIOLOGI

Laring berfungsi sebagai proteksi, batuk, respirasi, sirkulasi, respirasi,


sirkulasi, menelan, emosi dan fonasi. Fungsi laringuntuk proteksi adalah untuk
mencegah agar makanan dan benda asing masuk kedalam trakea dengan jalan
menutup aditus laring dan rima glotis yang secara bersamaan. Benda asing yang
telah masuk ke dalam trakea dan sekret yang berasal dari paru juga dapat
dikeluarkan lewat reflek batuk. Fungsi respirasi laring dengan mengatur mengatur
besar kecilnya rima glotis. Dengan terjadinya perubahan tekanan udara maka
didalam traktus trakeo-bronkial akan dapat mempengaruhi sirkulasi darah tubuh.
Oleh karena itu laring juga mempunyai fungsi sebagai alat pengatur sirkulasi
darah. Fungsi laring dalam proses menelan mempunyaitiga mekanisme yaitu
gerakan laring bagian bawah keatas, menutup aditus laringeus, serta mendorong
bolus makanan turun ke hipofaring dan tidak mungkinmasuk kedalam laring.
Laring mempunyai fungsi untuk mengekspresikan emosi seperti berteriak,
mengeluh, menangis dan lain-lain yang berkaitan dengan fungsinya untuk fonasi
dengan membuat suara serta mementukan tinggi rendahnya nada.1
D. ETIOLOGI1
1. Laringitis akut ini dapat terjadi dari kelanjutan infeksi saluran nafas seperti
influenza

ataucommon cold. infeksi virus

parainfluenza
adalah

(tipe 1,2,3),

rhinovirusdan

influenza(tipe A dan B),


adenovirus. Penyebab lain

Haemofilus influenzae, Branhamella catarrhalis, Streptococcus

pyogenes, Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumoniae.


2. Penyakit ini dapat terjadi karena perubahan musim /cuaca
3. Pemakaian suara yang berlebihan
4. Trauma

xi

5. Bahan kimia
6. Merokok dan minum-minum alcohol
7. Alergi 1.2.6
E. PATOFISIOLOGI
Hampir semua penyebab inflamasi ini adalah virus. Invasi bakteri
mungkin sekunder. Laringitis biasanya disertai rinitis atau nasofaringitis. Awitan
infeksi mungkin berkaitan dengan pemajanan terhadapperubahan suhu mendadak,
defisiensi diet, malnutrisi, dan tidak ada immunitas. Laringitis umum terjadi pada
musim dingin dan mudah ditularkan. Ini terjadi seiring dengan menurunnya daya
tahan tubuh dari host serta prevalensi virus yang meningkat. Laringitis ini
biasanya didahului oleh faringitis dan infeksi saluran nafas bagian atas lainnya.
Hal ini akan mengakibatkan iritasi mukosa saluran nafas atas dan merangsang
kelenjar mucus untuk memproduksi mucus secara berlebihan sehingga
menyumbat saluran nafas. Kondisi tersebut akan merangsang terjadinya batuk
hebat yang bisa menyebabkan iritasi pada laring. Dan memacu terjadinya
inflamasi pada laring tersebut. Inflamasi ini akan menyebabkan nyeri akibat
pengeluaran mediator kimia darah yang jika berlebihan akan merangsang
peningkatan suhu tubuh.8
F. GEJALA KLINIS
1. Gejala lokal seperti suara parau dimana digambarkanpasien sebagai suara
yang kasar atau suara yang susah keluar atau suara dengan nada lebih
rendah dari suara yang biasa / normal dimana terjadi gangguan getaran
serta ketegangan dalam pendekatan kedua pita suara kiri dan kanan

xii

sehingga menimbulkan suara menjada parau bahkan sampai tidakbersuara


sama sekali (afoni).
2. Sesak nafas dan stridor
3. Nyeri tenggorokan seperti nyeri ketika menalan atauberbicara.
4. Gejala radang umum seperti demam, malaise
5. Batuk kering yang lama kelamaan disertai dengan dahak kental
6. Gejala commmon coldseperti bersin-bersin, nyeri tenggorok hingga sulit
menelan, sumbatan hidung (nasal congestion), nyeri kepala, batuk dan
demam dengan temperatur yang tidak mengalami peningkatan dari 38
derajat celsius.
7. Gejala

influenza

seperti bersin-bersin, nyeri tenggorok hingga

sulitmenelan, sumbatan hidung (nasal congestion), nyeri kepala, batuk,


peningkatan suhu yang sangat berarti yakni lebih dari 38 derajat celsius,
dan adanya rasa lemah, lemas yang disertai dengan nyeri diseluruh tubuh .
8. Pada pemeriksaan fisik akan tampak mukasa laring yang hiperemis,
membengkak terutama dibagian atas dan bawah pita suara dan juga
didapatkan tanda radang akut dihidung atau sinus paranasal atau paru
9. Obstruksi jalan nafas apabila ada udem laring diikuti udem subglotis yang
terjadi dalam beberapa jam dan biasanya sering terjadi pada anak berupa
anak menjadi gelisah,

air hunger,sesak semakin bertambah berat,

pemeriksaan fisik akan ditemukan retraksi suprasternal dan epigastrium


yang dapat menyebabkan keadaan darurat medik yang dapat mengancam
jiwa anak.7.9.10
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

xiii

1. Foto rontgen leher AP : bisa tampak pembengkakan jaringan subglotis


(Steeple sign). Tanda ini ditemukan pada 50% kasus.
2. Pemeriksaan laboratorium : gambaran darah dapat normal. Jika disertai
infeksi sekunder, leukosit dapat meningkat.
3. Pada pemeriksaan laringoskopi indirek akan ditemukan mukosa laring
yang sangat sembab, hiperemis dan tanpa membran serta tampak
pembengkakan subglotis yaitu pembengkakan jaringan ikat pada konus
elastikus yang akan tampak dibawah pita suara.2.11
H. DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang. Pada pemriksaan fisik, dapat ditemukan suara serak,
faring yang meradang dan frekuensi pernafasana dan denyut jantung yang
meningkat,disertai pernafasan cuping hidung, retraksi suprasternal, infrasternal
dan intercostal sertas stridor yang terus menerus, dan anak bisa sampai megapmegap (air hunger). Bila terjadi sumbatan total jalan nafas maka didapatkan
hipoksia dan saturasi oksigen yang rendah. Bila hipoksia terjadi, anak akan
menjadi gelisah dan tidak dapat beristirahat, atau dapat terjadi penurunan
kesadaran atau bahkan bisa tampak erlihat sianosis pada anak. Kegelisahan dan
tangisan dari anak dapat memperburk stridor akibat dari penekanan dunamik dari
saluran nafas yang tersumbat. Dari penelitian didapatkan bahwa frekuensi
pernafasan merupakan indikator yang paling baik untuk menunjukkan keadaan
hipoksemia pada seseorang. Pada ausultasi suara pernafasan daapt terdengar
normal tanpa adanya suara nafas tambahan kecuali perambatan dari stridor.
Kadang-kadang juga ditemukan adanya mengi (whezing) yang menandakan

xiv

adanya penyempitan dari saluran pernafasan bisa dari bronkitis, atau asma yang
sudah ada sebelumnya.2.7.10
I. DIAGNOSA BANDING
1. Benda asing pada laring
2. Faringitis
3. Bronkiolitis
4. Bronkitis
5. Pnemonia 2.10
J. PENATALAKSANAAN
Umumnya penderita penyakit ini tidak perlu masuk rumah sakit, namun
ada indikasi masuk rumah sakit apabila :
Usia penderita dibawah 3 tahun
Tampak toksik, sianosis, dehidrasi atau axhausted
Diagnosis penderita masih belum jelas
Perawatan dirumah kurang memadai
Terapi:
1. Istirahat berbicara dan bersuara selama 2-3 hari
2. Jika pasien sesak dapat diberikan O22 l/ menit
3. Istirahat
4. Menghirup uap hangat dan dapat ditetesi minyak atsiri / minyak mint bila
ada muncul sumbatan dihidung atau penggunaan larutan garam fisiologis
(saline 0,9 %) yang dikemas dalam bentuk semprotan hidung atau nasal
spray

xv

5. Medikamentosa : Parasetamol atau ibuprofen / antipiretik jika pasien ada


demam, bila ada gejala pain killer dapat diberikan obat anti nyeri /
analgetik, hidung tersumbat dapat diberikan dekongestan nasal seperti
fenilpropanolamin

(PPA), efedrin,

pseudoefedrin,

napasolin

dapat

diberikan dalam bentuk oral ataupun spray.Pemberianantibiotika yang


adekuat yakni : ampisilin 100 mg/kgBB/hari, intravena, terbagi 4 dosis
atau kloramfenikol : 50 mg/kgBB/hari, intra vena, terbagi dalam 4 dosis
atau sefalosporin generasi 3 (cefotaksim atau ceftriakson) lalu dapat
diberikan kortikosteroid intravena berupa deksametason dengan dosis 0,5
mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis, diberikan selama 1-2 hari.
6. Pengisapan lendir dari tenggorok atau laring, bila penatalaksanaan ini
tidak berhasil maka dapat dilakukan endotrakeal atau trakeostomi bila
sudah terjadi obstruksi jalan nafas.
7. Pencegahan : Jangan merokok, hindari asap rokok karena rokok akan
membuat tenggorokan kering dan mengakibatkan iritasi pada pita suara,
minum banyak air karena cairan akan membantu menjaga agar lendir yang
terdapat pada tenggorokan tidak terlalu banyak dan

mudah untuk

dibersihkan, batasi penggunaan alkohol dan kafein untuk mencegah


tenggorokan kering. jangan berdehem untuk membersihkan tenggorokan
karena berdehem akan menyebabkan terjadinya vibrasiabnormal pada pita
suara, meningkatkan

pembengkakan

dan berdehem juga

menyebabkan tenggorokan memproduksi lebih banyak lendir.1.2.7


K. PROGNOSIS

xvi

akan

Prognosis untuk penderita laringitis akut ini umumnya baik dan


pemulihannya selama satu minggu. Namun pada anak khususnya pada usia 1-3
tahun penyakit ini dapat menyebabkan udem laring dan udem subglotis sehingga
dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas dan bila hal ini terjadi dapat dilakukan
pemasangan endotrakeal atau trakeostom.6

BAB 3
KESIMPULAN

Laringitis akut merupakan kelainan pada laring yakni peradangan akut


pada laring yang biasanya kelanjutan dari penyakit rhinofaringitis atau common
cold. Penyakit ini pada orang dewasa merupakan penyakityang ringan saja namun
tidak bagi penderita anak kurang dari 3 tahun. Hal ini dikarenakan pada anak
dapat menimbulkan udem laring dan subglotis sehingga obstruksi jalan nafas yang
sangat berbahaya dalam waktu beberapa jam saja penderita akan mengalami
obstruksi total jalan nafas sementara itu pada orang dewasa tidak terjadi secepat
xvii

pada anak. Laringitis akut ini dapat terjadi dari kelanjutan infeksi saluran nafas
seperti influenza

ataucommon cold. infeksi virus

parainfluenza (tipe 1,2,3),

rhinovirusdan

influenza(tipe A dan B),

adenovirus. Penyebab lain adalah

Haemofilus influenzae, Branhamella catarrhalis, Streptococcus


Staphylococcus aureus

dan

Streptococcus pneumoniae.

pyogenes,

Penyakit ini dapat

terjadi karena perubahan musim / cuaca, pemakaian suara yang berlebihan,


trauma, bahan kimia, merokok dan minum-minum alkohol dan alergi. Adapun
gejala klinis yang sering kita temukan pada laringitis akut ini adalah suara parau
bahkan sampai hilangnya suara atau afoni, sesak nafas bahkan stridor, nyeri
tenggorokan, nyeri menelan dan berbicara, gejala common cold dan inflenza, dan
pada pemeriksaan fisik kita akan menemukan mukasa laring yang hiperemis,
membengkak terutama dibagian atas dan bawah pita suara dan juga didapatkan
tanda radang akut dihidung atau sinus paranasal atau paru. Obstruksi jalan nafas
akan ditemukan apabila ada udem laring diikuti udem subglotis yang terjadi
dalam beberapa jam dan biasanya sering terjadi pada anak berupa anak menjadi
gelisah, air hunger,sesak semakin bertambah berat, dan pada pemeriksaan fisik
akan ditemukan retraksi suprasternal dan epigastrium yang dapat menyebabkan
keadaan

darurat

medik

yang

dapat

mengancam

jiwa

anak.

Untuk

penatalaksaandari laringitis akut ini adalahpemberian antibiotik yang adekuat dan


kortikosteroid. Umumnya penderita laringitis akut tidak perlu dirawat dirumah
sakit namun ada indikasi dirawat dirumah sakit apabila penderitanya berumur
kurang dari setahun, tampak toksik, sianosis, dehidrasi atau axhausted, diagnosis
penderita masih belum jelas dan perawatan dirumah kurang memadai. Prognosis
untuk penderita laringitis akut ini umumnya baik dan pemulihannya selama satu

xviii

minggu. Namun pada anak khususnya pada usia 1-3 tahun penyakit ini dapat
menyebabkan udem laring dan udem subglotis sehingga dapat menimbulkan
obstruksi jalan nafas dan bila hal ini terjadi dapat dilakukan pemasangan
endotrakeal atau trakeostomi.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Hermani B,Kartosudiro S & Abdurrahman B, Buku Ajar Ilmu Kesehatan


Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher, edisi ke 5, Jakarta:FKUI,2003,190200

2.

Abdurrahman MH, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Edisi ke2,


Jakarta:FKUI,2003,931& Obat, Bandung:Mizan Media Utama,2006,13-20

3.

Anonim.

Laringitis

akut.

Diakses

dari

http://www.mercksource.com/pp/us/cns
hl dorlans splits,jps?pg=000111294.htm
4.

Jayanto KD, Gambaar Laring (laring picture)2008 diakses dari


http//kurniawanwijayanto.blogspots.com/2008/06/gambar-laring-larynx
picture.html
xix

5.

Cohen JL, Anatomi dan Fisiologi Laring. Dalam BOIES-Buku Ajar


Penyakit
THT.Edisi ke6.Jakarta:EGC,1997,369-76

6.

Anonim, Laringitis akut,2009, diakses dari


http://www.laringitisakut.com/pp/us/cns

7.

Kumar S, Disease of the Larinx in Fundamental Of Ear, Nose, & throath


Disease And Head-Neck Surgery, Calcutta,publisher Mohendra Nath
Paul,1996:391-99

8.

Jhon SD & Maves MD Surgical Anatomyof vthe Head andNeck. In


Byron-Head and Neck surgery Otolaryngology.ed3.Vol I,USA.Wilkins
Publisher,2001:9

9.

Puspitasari I, Flu atau Common cold dalam Cerdas Mengenali Penyakit

10.

Becker W, Nauman HH & Pfalt CR, Acute laryngitis inEar nose and
Throath
Desease, New york, Thieme medical publisher:1994:414-15

11. Anonim, Sindroma Croup and Laringitis, 2009, diakses dari http://google.com

xx