Anda di halaman 1dari 33

1

KONSEP DASAR
CEPHALOPELVIC DISPROPORTION
A. Definisi
Disproporsi sefalopelvik adalah keadaan yang menggambarkan ketidaksesuaian antara
kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar melalui vagina.
Disproporsi sefalopelvik disebabkan oleh panggul sempit, janin yang besar ataupun
kombinasi keduanya.
B. Ukuran Panggul
1. Pintu Atas Panggul
Pintu atas panggul dibentuk oleh promontorium corpus vertebra sacrum,
linea innominata, serta pinggir atas simfisis. Konjugata diagonalis adalah jarak
dari pinggir bawah simfisis ke promontorium, Secara klinis, konjugata diagonalis
dapat diukur dengan memasukkan jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan
menyusur naik ke seluruh permukaan anterior sacrum, promontorium teraba
sebagai penonjolan tulang. Dengan jari tetap menempel pada promontorium,
tangan di vagina diangkat sampai menyentuh arcus pubis dan ditandai dengan jari
telunjuk tangan kiri. Jarak antara ujung jari pada promontorium sampai titik yang
ditandai oleh jari telunjuk merupakan panjang konjugata diagonalis.
Konjugata vera yaitu jarak dari pinggir atas simfisis ke promontorium yang
dihitung dengan mengurangi konjugata diagonalis 1,5 cm, panjangnya lebih
kurang 11 cm. Konjugata obstetrika merupakan konjugata yang paling penting
yaitu jarak antara bagian tengah dalam simfisis dengan promontorium, Selisih
2.

antara konjugata vera dengan konjugata obstetrika sedikit sekali.


Panggul Tengah (Pelvic Cavity)
Ruang panggul ini memiliki ukuran yang paling luas. Pengukuran klinis
panggul tengah tidak dapat diperoleh secara langsung. Terdapat penyempitan
setinggi spina isciadika, sehingga bermakna penting pada distosia setelah kepala
engagement. Jarak antara kedua spina ini yang biasa disebut distansia
interspinarum merupakan jarak panggul terkecil yaitu sebesar 10,5 cm. Diameter
anteroposterior setinggi spina isciadica berukuran 11,5 cm. Diameter sagital
posterior, jarak antara sacrum dengan garis diameter interspinarum berukuran 4,5
cm.

3.

Pintu Bawah Panggul


Pintu bawah panggul bukanlah suatu bidang datar namun terdiri dari dua
segitiga dengan dasar yang sama yaitu garis yang menghubungkan tuber
isciadikum kiri dan kanan. Pintu bawah panggul yang dapat diperoleh melalui
pengukuran klinis adalah jarak antara kedua tuberositas iscii atau distansia

tuberum (10,5 cm), jarak dari ujung sacrum ke tengah-tengah distensia tuberum
atau diameter sagitalis posterior (7,5 cm), dan jarak antara pinggir bawah simpisis
ke ujung sacrum (11,5 cm).
C. Panggul Sempit
Distosia adalah persalinan yang sulit dan ditandai oleh terlalu lambatnya
kemajuan persalinan. Distosia dapat disebabkan oleh kelainan pada servik, uterus,
janin, tulang panggul ibu atau obstruksi lain di jalan lahir. Kelainan ini oleh ACOG
dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Kelainan kekuatan (power) yaitu kontraktilitas uterus dan upaya ekspulsif ibu.
a. Kelainan his : inersia uteri / kelemahan his.
b. kekuatan mengejan yang kurang misalnya pada hernia atau sesak nafas.
2. Kelainan yang melibatkan janin (passenger), misalnya letak lintang, letak dahi,
3.

hidrosefalus.
Kelainan jalan lahir (passage), misalnya panggul sempit, tumor yang
mempersempit jalan lahir.
Panggul dengan ukuran normal tidak akan mengalami kesukaran kelahiran

pervaginam pada janin dengan berat badan yang normal. Ukuran panggul dapat
menjadi lebih kecil karena pengaruh gizi, lingkungan atau hal lain sehingga
menimbulkan kesulitan pada persalinan pervaginam. Panggul sempit yang penting
pada obstetric bukan sempit secara anatomis namun panggul sempit secara fungsional
artinya perbandingan antara kepala dan panggul. Selain panggul sempit dengan
ukuran yang kurang dari normal, juga terdapat panggul sempit lainnya. Panggul ini
digolongkan menjadi empat, yaitu:
1. Kelainan karena gangguan pertumbuhan intrauterine: panggul Naegele, panggul
Robert, split pelvis, panggul asimilasi.
2. Kelainan karena kelainan tulang dan/ sendi: rakitis, osteomalasia, neoplasma,
fraktur, atrofi, nekrosis, penyakit pada sendi sakroiliaka dan sendi sakrokoksigea.
3. Kelainan panggul karena kelainan tulang belakang: kifosis, skoliosis,
spondilolistesis.
4. Kelainan panggul karena kelainan pada kaki: koksitis, luksasio koksa, atrofi atau
kelumpuhan satu kaki.
Setiap penyempitan pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas
panggul dapat menyebabkan distosia saat persalinan. penyempitan dapat terjadi pada
pintu atas panggul, pintu tengah panggul, pintu bawah panggul, atau panggul yang
menyempit seluruhnya.
1.

Penyempitan pintu atas panggul


Pintu atas panggul dianggap sempit apabila diameter anterioposterior
terpendeknya (konjugata vera) kurang dari 10 cm atau apabila diameter
transversal terbesarnya kurang dari 12 cm. Diameter anteroposterior pintu atas
panggul sering diperkirakan dengan mengukur konjugata diagonal secara manual
yang biasanya lebih panjang 1,5 cm. Dengan demikian, penyempitan pintu atas

panggul biasanya didefinisikan sebagai konjugata diagonal yang kurang dari 11,5
cm.3 Mengert (1948) dan Kaltreider (1952) membuktikan bahwa kesulitan
persalinan meningkat pada diameter anteroposterior kurang dari 10 cm atau
diameter transversal kurang dari 12 cm. Distosia akan lebih berat pada
kesempitan kedua diameter dibandingkan sempit hanya pada salah satu diameter.
Diameter biparietal janin berukuran 9,5-9,8 cm, sehingga sangat sulit bagi
janin bila melewati pintu atas panggul dengan diameter anteroposterior kurang
dari 10 cm. Wanita dengan tubuh kecil kemungkinan memiliki ukuran panggul
yang kecil, namun juga memiliki kemungkinan janin kecil. Dari penelitian Thoms
pada 362 nullipara diperoleh rerata berat badan anak lebih rendah (280 gram)
pada wanita dengan panggul sempit dibandingkan wanita dengan panggul sedang
atau luas. Pada panggul sempit ada kemungkinan kepala tertahan oleh pintu atas
panggul, sehingga gaya yang ditimbulkan oleh kontraksi uterus secara langsung
menekan bagian selaput ketuban yang menutupi serviks. Akibatnya ketuban dapat
pecah pada pembukaan kecil dan terdapat resiko prolapsus funikuli. Setelah
selaput ketuban pecah, tidak terdapat tekanan kepala terhadap serviks dan segmen
bawah rahim sehingga kontraksi menjadi inefektif dan pembukaan berjalan
lambat atau tidak sama sekali. Jadi, pembukaan yang berlangsung lambat dapat
menjadi prognosa buruk pada wanita dengan pintu atas panggul sempit.
Pada nulipara normal aterm, bagian terbawah janin biasanya sudah masuk
dalam rongga panggul sebelum persalinan. Adanya penyempitan pintu atas
panggul menyebabkan kepala janin megapung bebas di atas pintu panggul
sehingga dapat menyebabkan presentasi janin berubah. Pada wanita dengan
panggul sempit terdapat presentasi wajah dan bahu tiga kali lebih sering dan
prolaps tali pusat empat sampai enam kali lebih sering dibandingkan wanita
dengan panggul normal atau luas.
2.

Penyempitan panggul tengah


Dengan sacrum melengkung sempurna, dinding-dinding panggul tidak
berkonvergensi, foramen isciadikum cukup luas, dan spina isciadika tidak
menonjol ke dalam, dapat diharapkan bahwa panggul tengah tidak akan
menyebabkan rintangan bagi lewatnya kepala janin. Penyempitan pintu tengah
panggul lebih sering dibandingkan pintu atas panggul.Hal ini menyebabkan
terhentunya kepala janin pada bidang transversal sehingga perlu tindakan forceps
tengah atau seksio sesarea. Penyempitan pintu tengah panggul belum dapat
didefinisikan secara pasti seperti penyempitan pada pintu atas panggul.
Kemungkinan penyempitan pintu tengah panggul apabila diameter interspinarum
ditambah diameter sagitalis posterior panggul tangah adalah 13,5 cm atau kurang.
Ukuran terpenting yang hanya dapat ditetapkan secara pasti dengan pelvimetri
roentgenologik ialah distansia interspinarum. Apabila ukuran ini kurang dari 9,5

cm, perlu diwaspadai kemungkinan kesukaran persalinan apalagi bila diikuti


3.

dengan ukuran diameter sagitalis posterior pendek.


Penyempitan Pintu Bawah Panggul
Pintu bawah panggul bukan suatu bidang datar melainkan dua segitiga
dengan diameter intertuberosum sebagai dasar keduanya. Penyempitan pintu
bawah panggul terjadi bila diameter distantia intertuberosum berjarak 8 cm atau
kurang. Penyempitan pintu bawah panggul biasanya disertai oleh penyempitan
pintu tengah panggul.
Disproporsi kepala janin dengan pintu bawah panggul tidak terlalu besar
dalam menimbulkan distosia berat. Hal ini berperan penting dalam menimbulkan
robekan perineum. Hal ini disebabkan arkus pubis yang sempit, kurang dari 900
sehingga oksiput tidak dapat keluar tepat di bawah simfisis pubis, melainkan
menuju ramus iskiopubik sehingga perineum teregang dan mudah terjadi
robekan.

D. Perkiraan Kapasitas Panggul Sempit


Perkiraan panggul sempit dapat diperoleh dari pemeriksaan umum dan
anamnesa. Misalnya pada tuberculosis vertebra, poliomyelitis, kifosis. Pada wanita
dengan tinggi badan yang kurang dari normal ada kemungkinan memiliki kapasitas
panggul sempit, namun bukan berarti seorang wanita dengan tinggi badan yang
normal tidak dapat memiliki panggul sempit. Dari anamnesa persalinan terdahulu juga
dapat diperkirakan kapasitas panggul. Apabila pada persalinan terdahulu berjalan
lancar dengan bayi berat badan normal, kemungkinan panggul sempit adalah kecil.
Pengukuran panggul (pelvimetri) merupakan salah satu cara untuk
memperoleh keterangan tentang keadaan panggul. Melalui pelvimetri dalam dengan
tangan dapat diperoleh ukuran kasar pintu atas dan tengah panggul serta memberi
gambaran jelas pintu bawah panggul. Adapun pelvimetri luar tidak memiliki banyak
arti. Pelvimetri radiologis dapat memberi gambaran yang jelas dan mempunyai tingkat
ketelitian yang tidak dapat dicapai secara klinis. Pemeriksaan ini dapat memberikan
pengukuran yang tepat dua diameter penting yang tidak mungkin didapatkan dengan
pemeriksaan klinis yaitu diameter transversal pintu atas dan diameter antar spina
iskhiadika. Tetapi pemeriksaan ini memiliki bahaya pajanan radiasi terutama bagi
janin sehingga jarang dilakukan. Pelvimetri dengan CT scan dapat mengurangi
pajanan radiasi, tingkat keakuratan lebih baik dibandingkan radiologis, lebih mudah,
namun biayanya mahal. Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan dengan MRI
dengan keuntungan antara lain tidak ada radiasi, pengukuran panggul akurat,
pencitraan janin yang lengkap. Pemeriksaan ini jarang dilakukan karena biaya yang
mahal. Dari pelvimetri dengan pencitraan dapat ditentukan jenis panggul, ukuran
pangul yang sebenarnya, luas bidang panggul, kapasitas panggul, serta daya
akomodasi yaitu volume dari bayi yang terbesar yang masih dapat dilahirkan spontan.

Pada kehamilan yang aterm dengan presentasi kepala dapat dilakukan


pemeriksaan dengan metode Osborn dan metode Muller Munro Kerr. Pada metode
Osborn, satu tangan menekan kepala janin dari atas kearah rongga panggul dan tangan
yang lain diletakkan pada kepala untuk menentukan apakah kepala menonjol di atas
simfisis atau tidak. Metode Muller Munro Kerr dilakukan dengan satu tangan
memegang kepala janin dan menekan kepala ke arah rongga panggul, sedang dua jari
tangan yang lain masuk ke vagina untuk menentukan seberapa jauh kepala mengikuti
tekanan tersebut dan ibu jari yang masuk ke vagina memeriksa dari luar hubungan
antara kepala dan simfisis.
E. Janin yang besar
Normal berat neonatus pada umumnya 4000gram dan jarang ada yang
melebihi 5000gram. Berat badan neonatus lebih dari 4000gram dinamakan bayi besar.
Frekuensi berat badan lahir lebih dari 4000gram adalah 5,3%, dan berat badan lahir
yang melihi 4500gram adalah 0,4%. Biasanya untuk berat janin 4000-5000 gram pada
panggul normal tidak terdapat kesulitan dalam proses melahirkan. Factor keturunan
memegang peranan penting sehingga dapat terjadi bayi besar. Janin besar biasanya juga
dapat dijumpai pada ibu yang mengalami diabetes mellitus, postmaturitas, dan pada
grande multipara. Selain itu, yang dapat menyebabkan bayi besar adalah ibu hamil
yang makan banyak, hal tersebut masih diragukan.
Untuk menentukan besarnya janin secara klinis bukanlah merupakan suatu hal
yang mudah. Kadang-kadang bayi besar baru dapat kita ketahui apabila selama proses
melahirkan tidak terdapat kemajuan sama sekali pada proses persalinan normal dan
biasanya disertai oleh keadaan his yang tidak kuat. Untuk kasus seperti ini sangat
dibutuhkan pemeriksaan yang teliti untuk mengetahui apakah terjadi sefalopelvik
disproporsi. Selain itu, penggunaan alat ultrasonic juga dapat mengukur secara teliti
apabila terdapat bayi dengan tubuh besar dan kepala besar.
Pada panggul normal, biasanya tidak menimbulkan terjadinya kesulitan dalam
proses melahirkan janin yang beratnya kurang dari 4500gram. Kesulitan dalam
persalinan biasanya terjadi karena kepala janin besar atau kepala keras yang biasanya
terjadi pada postmaturitas tidak dapat memasuki pntu atas panggul, atau karena bahu
yang lebar sulit melalui rongga panggul. Bahu yang lebar selain dapat ditemukan pada
janin yang memiliki berat badan lebih juga dapat dijumpai pada anensefalus. Janin
dapat meninggal selama proses persalinan dapat terjadi karena terjadinya asfiksia
dikarenakan selama proses kelahiran kepala anak sudah lahir, akan tetapi karena
lebarnya bahu mengakibatkan terjadinya macet dalam melahirkan bagian janin yang
lain. Sedangkan penarikan kepala janin yang terlalu kuat ke bawah dapat
mengakibatkan

terjadinya

sternokleidomastoideus.

cedera

pada

nervus

brakhialis

dan

muskulus

F. Penanganan
1. Persalinan Percobaan
Setelah dilakukan penilaian ukuran panggul serta hubungan antara kepala
janin dan panggul dapat diperkirakan bahwa persalinan dapat berlangsung per
vaginan dengan selamat dapat dilakukan persalinan percobaan. Cara ini
merupakan tes terhadap kekuatan his, daya akomodasi, termasuk moulage karena
faktor tersebut tidak dapar diketahui sebelum persalinan.
Persalinan percobaan hanya dilakukan pada letak belakang kepala, tidak
bisa pada letak sungsang, letak dahi, letak muka, atau kelainan letak lainnya.
Ketentuan lainnya adalah umur keamilan tidak boleh lebih dari 42 mingu karena
kepala janin bertambah besar sehingga sukar terjadi moulage dan ada
kemungkinan disfungsi plasenta janin yang akan menjadi penyulit persalinan
percobaan.
Pada janin yang besar kesulitan dalam melahirkan bahu tidak akan selalu
dapat diduga sebelumnya. Apabila dalam proses kelahiran kepala bayi sudah
keluar sedangkan dalam melahirkan bahu sulit, sebaiknya dilakukan episiotomy
medioateral yang cukup luas, kemudian hidung dan mulut janin dibersihkan,
kepala ditarik curam kebawah dengan hati-hati dan tentunya dengan kekuatan
terukur. Bila hal tersebut tidak berhasil, dapat dilakukan pemutaran badan bayi di
dalam rongga panggul, sehingga menjadi bahu depan dimana sebelumnya
merupakan bahu belakang dan lahir dibawah simfisis. Bila cara tersebut masih
juga belum berhasil, penolong memasukkan tangannya kedalam vagina, dan
berusaha melahirkan janin dengan menggerakkan dimuka dadanya. Untuk
melahirkan lengan kiri, penolong menggunakan tangan kanannya, dan sebaliknya.
Kemudian bahu depan diputar ke diameter miring dari panggul untuk melahirkan
bahu depan.
Persalinan percobaan ada dua macam yaitu trial of labour dan test of labour.
Trial of labour serupa dengan persalinan percobaan di atas, sedangkan test of
labour sebenarnya adalah fase akhir dari trial of labour karena baru dimulai pada
pembukaan lengkap dan berakhir 2 jam kemudian. Saat ini test of labour jarang
digunakan karena biasanya pembukaan tidak lengkap pada persalinan dengan
pangul sempit dan terdapat kematian anak yang tinggi pada cara ini.
Keberhasilan persalinan percobaan adalah anak dapat lahir sontan per
vaginam atau dibantu ekstraksi dengan keadaan ibu dan anak baik. Persalinan
percobaan dihentikan apabila pembukaan tidak atau kurang sekali kemajuannnya,
keadaan ibu atau anak kurang baik, ada lingkaran bandl, setelah pembukaan
lengkap dan ketuban pecah kepala tidak masuk PAP dalam 2 jam meskipun his
2.

baik, serta pada forceps yang gagal. Pada keadaan ini dilakukan seksio sesarea.
Seksio Sesarea
Seksio sesarea elektif dilakukan pada kesempitan panggul berat dengan
kehamilan aterm, atau disproporsi sephalopelvik yang nyata. Seksio juga dapat

dilakukan pada kesempitan panggul ringan apabila ada komplikasi seperti


primigravida tua dan kelainan letak janin yang tak dapat diperbaiki. Seksio sesarea
sekunder (sesudah persalinan selama beberapa waktu) dilakukan karena peralinan
perobaan dianggap gagal atau ada indikasi untuk menyelesaikan persalinan selekas
3.

mungkin sedangkan syarat persalinan per vaginam belum dipenuhi.


Simfisiotomi
Tindakan ini dilakukan dengan memisahkan panggul kiri dan kanan pada

4.

simfisis. Tindakan ini sudah tidak dilakukan lagi.


Kraniotomi dan Kleidotomi
Pada janin yang telah mati dapat dilakukan kraniotomi atau kleidotomi.
Apabila panggul sangat sempit sehingga janin tetap tidak dapat dilahirkan, maka
dilakukan seksio sesarea.

G. Diagnosa Keperawatan
1.
Nyeri akut berhubungan dengan kesulitan dalam persalinan, intervensi medik
2.
Kelelahan berhubungan dengan persalinan yang lama
3.
Kecemasan berhubungan dengan kesulitan dalam persalinan, kurang
4.

pengetahuan tentang pola persalinan normal


Resiko kurang volume cairan berhubungan dengan perdarahan sekunder dari

atony uterus
5.
Resiko infeksi berhubungan dengan rupture membrane
6. Resiko kerusakan integritas jaringan; ibu dan bayi berhubungan dengan kesulitan
dalam persalinan
H. Intervensi
Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Nyeri akut berhubungan
dengan kesulitan dalam
persalinan, intervensi medik
DS:
- Laporan secara verbal
DO:
- Posisi untuk menahan
nyeri
- Tingkah laku berhati-hati
- Gangguan tidur (mata
sayu, tampak capek, sulit
atau gerakan kacau,
menyeringai)
- Terfokus pada diri sendiri
- Fokus menyempit
(penurunan persepsi
waktu, kerusakan proses
berpikir, penurunan
interaksi dengan orang
dan lingkungan)
- Tingkah laku distraksi,
contoh : jalan-jalan,
menemui orang lain
dan/atau aktivitas,

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
NOC :
NIC :
- Pain Level,
Managemen nyeri
- pain control,
1. Lakukan pengkajian nyeri
- comfort level
secara komprehensif termasuk
Setelah dilakukan
lokasi, karakteristik, durasi,
tinfakan keperawatan
frekuensi, kualitas dan faktor
selama . Pasien tidak
presipitasi
mengalami nyeri, dengan 2. Observasi reaksi nonverbal
kriteria hasil:
dari ketidaknyamanan
- Mampu mengontrol
3. Bantu pasien dan keluarga
nyeri (tahu penyebab
untuk mencari dan
nyeri, mampu
menemukan dukungan
menggunakan tehnik
4. Kontrol lingkungan yang
nonfarmakologi untuk
dapat mempengaruhi nyeri
mengurangi nyeri,
seperti suhu ruangan,
mencari bantuan)
pencahayaan dan kebisingan
- Melaporkan bahwa
5. Kurangi faktor presipitasi
nyeri berkurang
nyeri
dengan menggunakan 6. Kaji tipe dan sumber nyeri
manajemen nyeri
untuk menentukan intervensi
- Mampu mengenali
7. Ajarkan tentang teknik non
nyeri (skala,
farmakologi: napas dala,
intensitas, frekuensi
relaksasi, distraksi, kompres
dan tanda nyeri)
hangat/ dingin

aktivitas berulang-ulang)
- Respon autonom (seperti
diaphoresis, perubahan
tekanan darah, perubahan
nafas, nadi dan dilatasi
pupil)
- Perubahan autonomic
dalam tonus otot
(mungkin dalam rentang
dari lemah ke kaku)

Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang
Tanda vital dalam
rentang normal
Tidak mengalami
gangguan tidur

- Tingkah laku ekspresif


(contoh : gelisah,
merintih, menangis,
waspada, iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan dalam nafsu
makan dan minum
Kelelahan berhubungan
dengan persalinan yang
lama.
DS:
Gangguan
konsentrasi
Tidak tertarik pada
lingkungan
Meningkatnya
komplain fisik
Kelelahan
Secara verbal
menyatakan kurang
energi
DO:
- Penurunan kemampuan
- Ketidakmampuan
mempertahankan rutinitas
- Ketidakmampuan
mendapatkan energi
sesudah tidur
- Kurang energi
- Ketidakmampuan untuk
mempertahankan aktivitas
fisik

8.
9.
10.

11.

NOC:
- Activity Tollerance
- Energy Conservation
- Nutritional Status:
Energy
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama . kelelahan
pasien teratasi dengan
kriteria hasil:
- Kemampuan aktivitas
adekuat
- Mempertahankan
nutrisi adekuat
- Keseimbangan
aktivitas dan istirahat
- Menggunakan tehnik
energi konservasi
- Mempertahankan
interaksi sosial
- Mengidentifikasi
faktor-faktor fisik dan
psikologis yang
menyebabkan
kelelahan
- Mempertahankan
kemampuan untuk
konsentrasi

Berikan analgetik untuk


mengurangi nyeri: ...
Tingkatkan istirahat
Berikan informasi tentang
nyeri seperti penyebab nyeri,
berapa lama nyeri akan
berkurang dan antisipasi
ketidaknyamanan dari
prosedur
Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali

NIC :
Energy Management
1.
Monitor respon
kardiorespirasi terhadap
aktivitas (takikardi, disritmia,
dispneu, diaphoresis, pucat,
tekanan hemodinamik dan
jumlah respirasi)
2.
Monitor dan catat pola dan
jumlah tidur pasien
3.
Monitor lokasi
ketidaknyamanan atau nyeri
selama bergerak dan aktivitas
4.
Monitor intake nutrisi
5.
Monitor pemberian dan
efek samping obat depresi
6.
Instruksikan pada pasien
untuk mencatat tanda-tanda
dan gejala kelelahan
7.
Ajarkan tehnik dan
manajemen aktivitas untuk
mencegah kelelahan
8.
Jelaskan pada pasien
hubungan kelelahan dengan
proses penyakit
9.
Kolaborasi dengan ahli gizi
tentang cara meningkatkan
intake makanan tinggi energi
10.
Dorong pasien dan keluarga
mengekspresikan perasaannya
11.
Catat aktivitas yang dapat
meningkatkan kelelahan
12.
Anjurkan pasien melakukan
yang meningkatkan relaksasi
(membaca, mendengarkan
musik)
13.
Tingkatkan pembatasan
bedrest dan aktivitas

14.

Kecemasan berhubungan
dengan kesulitan dalam
persalinan, kurang
pengetahuan tentang pola
persalinan normal
DO/DS:
- Insomnia
- Kontak mata kurang
- Kurang istirahat
- Berfokus pada diri sendiri
- Iritabilitas
- Takut
- Nyeri perut
- Penurunan TD dan denyut
nadi
- Diare, mual, kelelahan
- Gangguan tidur
- Gemetar
- Anoreksia, mulut kering
- Peningkatan TD, denyut
nadi, RR
- Kesulitan bernafas
- Bingung
- Bloking dalam
pembicaraan
- Sulit berkonsentrasi

Resiko kurang volume


cairan berhubungan dengan
perdarahan sekunder dari
atony uterus

NOC :
- Kontrol kecemasan
- Koping
Setelah dilakukan asuhan
selama klien
kecemasan teratasi dgn
kriteria hasil:
Klien
mampu
mengidentifikasi dan
mengungkapkan
gejala cemas
Mengide
ntifikasi,
mengungkapkan dan
menunjukkan tehnik
untuk
mengontol
cemas
Vital
sign
dalam
batas
normal
Postur
tubuh, ekspresi wajah,
bahasa tubuh dan
tingkat
aktivitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan

Batasi stimulasi lingkungan


untuk memfasilitasi relaksasi

NIC :
Anxiety Reduction (penurunan
kecemasan)
1.
Gunakan pendekatan yang
menenangkan
2.
Nyatakan dengan jelas
harapan terhadap pelaku pasien
3.
Jelaskan semua prosedur
dan apa yang dirasakan selama
prosedur
4.
Temani pasien untuk
memberikan keamanan dan
mengurangi takut
5.
Berikan informasi faktual
mengenai diagnosis, tindakan
prognosis
6.
Libatkan keluarga untuk
mendampingi klien
7.
Instruksikan pada pasien
untuk menggunakan tehnik
relaksasi
8.
Dengarkan dengan penuh
perhatian
9.
Identifikasi tingkat
kecemasan
10.
Bantu pasien mengenal
situasi yang menimbulkan
kecemasan
11.
Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
12.
Kelola pemberian obat anti
cemas:........

NOC:
NIC :
- Fluid balance
Fluid managemen
- Hydration
1. Pertahankan catatan intake dan
Setelah
dilakukan
output yang akurat
tindakan
keperawatan 2. Monitor status hidrasi
selama.. pasien tidak
(kelembaban membran mukosa,
mengalami
kurang
nadi adekuat, tekanan darah
volume cairan dengan
ortostatik), jika diperlukan
kriteria hasil:
3. Monitor hasil lab yang sesuai
- Mempertahankan
dengan retensi cairan (BUN,
urine output sesuai
Hmt, osmolalitas urin, albumin,
dengan usia dan BB,
total protein )
BJ urine normal,
4. Monitor vital sign setiap
- Tekanan darah, nadi,
15menit 1 jam

10

suhu tubuh dalam


batas normal
Tidak ada tanda tanda
dehidrasi, Elastisitas
turgor kulit baik,
membran mukosa
lembab, tidak ada rasa
haus yang berlebihan
Orientasi terhadap
waktu dan tempat baik
Jumlah dan irama
pernapasan dalam
batas normal
Elektrolit, Hb, Hmt
dalam batas normal
pH urin dalam batas
normal
Intake oral dan
intravena adekuat

Resiko infeksi berhubungan NOC :


- Immune Status
dengan rupture membrane
- Knowledge : Infection
control
- Risk control
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama pasien tidak
mengalami infeksi dengan
kriteria hasil:
- Klien bebas dari tanda
dan gejala infeksi
- Menunjukkan
kemampuan untuk
mencegah timbulnya
infeksi
- Jumlah leukosit dalam
batas normal
- Menunjukkan perilaku
hidup sehat
- Status imun,
gastrointestinal,
genitourinaria dalam
batas normal

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Kolaborasi pemberian cairan IV


Monitor status nutrisi
Berikan cairan oral
Berikan penggantian nasogatrik
sesuai output (50 100cc/jam)
Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
Kolaborasi dokter jika tanda
cairan berlebih muncul meburuk
Atur kemungkinan tranfusi
Persiapan untuk tranfusi
Pasang kateter jika perlu
Monitor intake dan urin output
setiap 8 jam

Bleeding reduction : postpartume


uterus

NIC :
1. Pertahankan teknik aseptif
2. Batasi pengunjung bila perlu
3. Cuci tangan setiap sebelum dan
sesudah tindakan keperawatan
4. Gunakan baju, sarung tangan
sebagai alat pelindung
5. Ganti letak IV perifer dan
dressing sesuai dengan
petunjuk umum
6. Gunakan kateter intermiten
untuk menurunkan infeksi
kandung kencing
7. Tingkatkan intake nutrisi
8. Berikan terapi
antibiotik:.................................
9. Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
10. Pertahankan teknik isolasi k/p
11. Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
12. Monitor adanya luka
13. Dorong masukan cairan
14. Dorong istirahat
15. Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
16. Kaji suhu badan pada pasien
neutropenia setiap 4 jam

11

Resiko kerusakan integritas


jaringan; ibu dan bayi
berhubungan dengan
kesulitan dalam persalinan

NOC:
NIC :
- Tissue integrity : skin
Pressure ulcer prevention
and mucous
Wound care
membranes
1. Anjurkan
pasien
untuk
- Wound healing :
menggunakan pakaian yang
primary and secondary
longgar
intention
2. Jaga kulit agar tetap bersih
Setelah dilakukan
dan kering
tindakan keperawatan
3. Mobilisasi pasien (ubah posisi
selama . Pasien tidak
pasien) setiap dua jam sekali
mengalami kerusakan
4. Monitor kulit akan adanya
integritas jaringan
kemerahan
dengan kriteria hasil:
5. Oleskan
lotion
atau
- Perfusi jaringan
minyak/baby oil pada daerah
normal
yang tertekan
- Tidak ada tanda-tanda
6. Monitor
aktivitas
dan
infeksi
mobilisasi pasien
- Ketebalan dan tekstur
7. Monitor status nutrisi pasien
jaringan normal
8. Memandikan pasien dengan
- Menunjukkan
sabun dan air hangat
pemahaman
dalam
9. Kaji lingkungan dan peralatan
proses perbaikan kulit
yang menyebabkan tekanan
dan
mencegah 10. Observasi luka : lokasi,
terjadinya
cidera
dimensi, kedalaman luka,
berulang
karakteristik,warna
cairan,
- Menunjukkan
granulasi, jaringan nekrotik,
terjadinya
proses
tanda-tanda infeksi lokal,
penyembuhan luka
formasi traktus
11. Ajarkan pada keluarga tentang
luka dan perawatan luka
12. Kolaborasi
ahli
gizi
pemberian diet TKTP, vitamin
13. Cegah kontaminasi feses dan
urin
14. Lakukan tehnik perawatan
luka dengan steril
15. Berikan
posisi
yang
mengurangi tekanan pada luka
16. Hindari kerutan pada tempat
tidur

12

PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS


PERIODE POST PARTUM

Data Demografi
Nama Klien

: Ny. NH

Umur Klien

: 21 tahun

Alamat

: Jl.Veteran, Banjarmasin

Status Perkawinan

: Kawin

Agama

: Islam

Suku

: Banjar

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Diagnosa Medik

: P1A1 Post SC a/i CPD

Tgl. Masuk RS

: 24 7 - 2012

No. RM

: 64 59 71

Tgl . Pengkajian

: 25 7 - 2012

Nama suami : Tn.Y

Keluhan Utama Saat Ini


Klien mengungkapkan nyeri pada perut daerah bekas operasi dan juga masih susah
untuk bergerak.
Riwayat Kesehatan Sekarang
Sejak 1 hari sebelum masuk RS klien mengeluhkan rasa mules-mules mulai malam jam
20,00 wita (tgl 23 Juli 2012). Besoknya (24 Juli 2012) klien memeriksakan dirinya ke
PKM Cempaka Putih. Didapatkan hasil pemeriksaan pembukaan 2 cm. Melihat kondisi
klien ( Tinggi Badan 140 cm), dan diduga CPD, kemudian klien dirujuk ke RSU Ulin

13

bagian Poli Kandungan. Di RS, klien diperiksa dengan hasil pembukaan 5 cm. dilakukan
pengukuran panggul didapatkan hasil panggul sempit. Oleh dokter, klien direncanakan
dilakukan operasi SC. Operasi dilakukan tanggal 24 Juli 2012 Pk.16.15 sd 17.45 wita.
Setelah Post Op selanjutnya klien dirawat di Ruang Cempaka (Nifas) RSU Ulin
Banjarmasin.

Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien mengungkapkan dalam keluarga pasien tidak ada yang mempunyai riwayat
penyakit hypertensi, diabetes, dan penyakit jantung.
Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas
A. Riwayat Kehamilan
G2.P 0 A1

HPL

HPMT : 30-09-2011
ANC

: 07-07-2012

Usia kehamilan

: 42-43 mgg

: Selama hamil, klien rajin memeriksakan kehamilannya setiap bulan sejak


umur kehamilan 2 bulan di puskesms terdekat. Memeriksakan ke dokter
Sp.OG pernah 1 kali untuk USG.

Keluhan : tidak ada keluhan selama kehamilan


Pengukuran Pelvimetri (24 juli 2012, poli kandungan)
Promotorium teraba,

LD : 10,5, spina ischiadika tidak menonjol, dinding

samping sejajar, sacrum cekung, kesan panggul sempit ringan.


NO

Jenis
Kelamin

1.

Abortus
(Uk.5 mg)

2.

Sekarang
( 2012)

Cara
lahir

Tempat
persalinan
dan
penolong

Spontan -

BB
lahir

Komplikasi Keadaan
selama
saat ini
proses
persalinan
-

Riwayat Ginekologi
Menarche

: 13 tahun, lama 7 hari, siklus 28 hari.

Pap Smear

: belum pernah melakukan pemeriksaan papsmear

Penyakit Ginekologi : tidak pernah mengalami penyakit ginekologi

Umur

Th
2011

14

B. Riwayat Persalinan dan Kelahiran Saat Ini


Lamanya persalinan

: 1,5 jam (pk.16.15-pk.17.45)

Posisi fetus

: presentasi kepala dan janin memanjang

Tipe kelahiran

: Sectio Caesaria

Penggunaan analgesik/ anastesi

: Anestesi spinal

Masalah selama persalinan

: CPD

( Laporan SC terlampir )
Data Bayi Saat Ini
Bayi dilahirkan secara SC,tanggal 24 Juli 2012 Pk.16.35 dengan :
Jenis kelamin

: Perempuan

BB/PB

: 2900 gram / 50 cm

Apgar Score

: 8 - 9 10

Kondisi Umum

: Anus + , tidak ada kelainan pada bayi

Keadaan Psikologis Ibu


Klien mengungkapkan merasa senang dan lega bahwa anaknya telah lahir dengan
sehat dan sesuai dengan yang diharapkan oleh keluarganya.
C. Masa Nifas
Pemeriksaan Fisik ( Post Op )
1. Penampilan Umum
BB

: 58 kg

: Klien tampak lemah


TB

: 140 cm

TTV : TD 120/80 mmHg; Nadi 80 kali/menit; RR 20 kali/menit; Suhu 36,7 C


2. Kulit, Rambut, Kuku
Kulit normal warna putih kecoklatan, rambut tampak sehat tidak rontok, kuku
normal tidak tampak sianosis.
3. Kepala dan leher
Konjungtiva tidak anemis, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan
pembesaran kelenjar tiroid pada leher.
4. Telinga
Liang telinga bersih, tampak selaput gendang telinga normal.
5. Mulut, Tenggorokan, hidung
Tidak ada sariawan, mukosa bibir tampak lembab, tidak ada peradangan pada
tenggorokan.
6. Thoraks dan paru-paru
Inspeksi : bentuk dada simetris,
Palpasi : vokal fremitus simetris kiri-kanan, expansi paru seimbang
Auskultasi : tidak ada ronkhi / wheezing

15

7.

Payudara
Tampak mulai menegang, putting susu menonjol, hyperpigmentasi pada areola
mammae, ASI belum keluar, tidak ada bendungan ASI. Ibu mengatakan payudaranya
mulai terasa kencang

8.

Jantung
Ictus cordis tidak terlihat, PMI intercosta 5 midclavicula, S1S2 normal

9.

Abdomen
TFU 2 jari bawah pusat, kontraksi uterus baik. Terrdapat luka post operasi SC ditutup
kasa steril, tidak ada tanda-tanda infeksi, kasa terlihat bersih dan kering.

10. Genetalia
Terpasang dower catheter pada uretra, lochea berwarna kemerahan (lochea rubra),
jumlah satu pembalut penuh, pengeluaran tidak aktif.
11. Anus dan rectum
Tidak terdapat hemmoroid
12. Musculuskeletal
Klien post operasi hari perawatan ke 1, mobilisasi klien diperbolehkan miring
kanan /kiri. Tetapi pasien terlihat lebih banyak telentang di atas tempat tidur.
Riwayat Kesehatan
1. Pola persepsi kesehatan pemeliharaan kesehatan
Klien menganggap kesehatan itu penting, terlebih saat dirinya hamil, klien rutin
mengontrolkan kehamilannya di puskesmas. Upaya pencegahan terhadap masalah
kesehatan klien biasanya berobat ke puskesmas. Saat ini klien sudah melahirkan, klien
mengatakan tidak ada pantangan makanan. Klien mengatakan belum mengetahui
manfaat mobilisasi dini.
2. Pola nutrisi metabolisme
Kebiasaan makan 3xsehari jenis nasi biasa, ikan, sayur. Tidak ada alergi makanan.
Kebiasaan minum 7-8 gelas/hr. Saat ini klien belum makan, hanya minum sedikit sedkit
saja.
3. Pola eliminasi
Bab : Klien belum ada bab. Bab terakhir tgl 24-07-2012 pk.07.00 wita
Bak : Klien memakai DC, Urine bewarna kuning jernih, jumlah 200 cc (pk.06.00
-09.00)
4. Pola aktivitas dan latihan
Saat ini klien menjalani hari perawatan ke-1 post operasi, aktivitas terbatas di atas
tempat tidur. Klien hanya diperbolehkan miring kanan/kiri. Hanya saja klien tampak
lebih banyak telentang diatas tempat tidur. Klien dibantu dalam merubah posisi karena
belum mampu melakukannya sendiri. Klien mengatakan merasa takut bergerak karena

16

merasa nyeri apabila ada pergerakan. Selain itu juga klien mengatakan tidak tahu untuk
apa dirinya disuruh harus miring kanan/kiri. Klien tampak sering bertanya mengenai
manfaat pergerakan.

5. Pola istirahat tidur


Kebiasaan tidur malam pk.22.00 sd pk.05.00 wita, tidur siang 1 jam sehari.
Saat ini klien mengatakan sering terbangun saat tidur karena merasa nyeri daerah luka
post op SC di perut.
6. Pola persepsi kognitif
Klien mengungkapkan nyeri pada luka post operasi SC di daerah abdomen bagian
bawah, nyeri seperti luka di sayat-sayat, skala yang ditunjuk klien yaitu skala 3 (dari
skala 0-4), nyeri dirasakan terus menerus. Pasien tampak menyeringai kesakitan dan
memegangi perut saat dibantu dalam posisi miring.
7. Pola persepsi terhadap diri
Klien menganggap dirinya dan suami sudah siap menjadi orang tua, karena ini adalah
kehamilan yang direncanakan. Klien berharap cepat pulih dari post op agar bisa lebih
fokus mengurus bayinya.
8. Pola hubungan peran
Klien sekarang mempunyai peran sebagai ibu (orang tua). Klien menyatakan
kesiapannya dengan suami dalam menanti kelahiran anaknya. Perlengkapan pakaian dan
kebutuhan bayi lainnya sudah disiapkan dan dibawa dari rumah. Klien tampak mencoba
menyusui bayinya meski masih terlihat kaku dan ASI belum keluar. Selama dirawat,
klien tampak ditemani suami, suami terlihat membantu dalam mengurus isteri dan
anaknya (ibu dan bayi rawat gabung).
9. Pola seksualitas reproduksi
Klien mengungkapkan ingin menambah keturunan lagi setelah anaknya sudah umur
lima tahun nanti.
10. Pola stress-koping
Klien merasa senang dan bersyukur sudah melahirkan bayinya dengan selamat dan
sehat. Namun saat post op ini, masalah bagi klien adalah klien mengatakan merasa takut
bergerak meskipun klien sudah diperbolehkan miring kiri/kanan. Koping yang
digunakan klien terlihat lebih banyak telentang di TT.
11. Pola kepercayaan nilai-nilai
Selama dirawat klien hanya berdoa di tempat tidur saja.
Profil Keluarga
Pendukung keluarga

: suami dan keluarga

17

Jumlah anak

: 1 orang dengan kelahiran sekarang

Tipe rumah dan komunitas

: semi permanen

Pekerjaan

: swasta

Tingkat pendidikan

: SMA

Tingkat sosial ekonomi

: menengah ke bawah

Riwayat dan Rencana Keluarga Berencana


Klien mengungkapkan setelah kelahiran ini ingin menggunakan alat kontrasepsi
suntik 3 bulan
Pemeriksaan Laboratorium atau Hasil Pemeriksaan Diagnostik Lainnya
Tanggal dan jenis
pemeriksaan
Tgl. 24 7 2012

Hasil pemeriksaan

Nilai normal

Interpretasi

( Post Op)

Pk.22.06.41
Hemoglobin

8,3 gr/dl

12,00 16,00 gr/dl

Leukosit

15,3 ribu/UL

4,0 10,5 ribu/UL

Eritrosit

3,12 juta/UL

3,90 5,50 juta/UL

26,9 vol%

37,00 47,00 vol%

231 ribu/UL

150 450 ribu/UL

13,8 %

11,5 14,7 %

88 mg/dl

200 mg/dl

Hematokrit
Trombosit
RDW-CV
GDS

Terapi Medis yang Diberikan


Tanggal
25 7 - 2012

Jenis terapi
D5 : RL
Transamin
Ceftriaxone
Ketorolac
Alinamin F
Vit C

Rute terapi
i.v
i.v
i.v
i.v
i.v
i.v

Dosis
2:2
3 x 500 mg
2 x 1 gr
3 x 30 mg
3x
3 x 300mg

Indikasi terapi
Antiperdarahan
Antibiotik
Analgetik
Mengaktifkan pristaltik
Vitamin

18

Analisa Data
Data
DS:
-

Kemungkinan Penyebab
agen cidera fisik (luka post)

Masalah
Nyeri akut

Kx mengatakan nyeri
pada luka post op SC
pada perut bagian
bawah
Nyeri dirasakan terus
menerus seperti di
sayat.
Skala nyeri yang di
tunjuk klien yaitu
skala 3 (skala 0-4)

DO :
-

Terdapat luka post op


di bagian abdomen
bawah tertutup kassa
steril
- Pasien tampak
menyeringai
kesakitan dan
memegangi perut saat
miring.
- Tanda Vital :
TD 120/80 mmHg
Nadi 80x/mt;
RR 20 x/mt
Suhu 36,7 C
DS :
Kurang pengetahuan
- Kx mengatakan masih tentang kegunaan mobilisasi
merasa takut bergerak
miring kanan-kiri
- Kx lebih banyak
terlentang di atas
tempat tidur.
- Kx dibantu dalam
perubahan posisi
miring kiri-kanan
DS :
- Ibu mengatakan
payudara mulai terasa
kencang
DO :
- Payudara tampak
menegang, puting
susu menonjol,
hiperpigmentasi pada
areola mammae, ASI
belum keluar
- Kx tampak mencoba
menyusui bayinya
meski tampak kaku

DS :

Hambatan mobilitas di
tempat tidur

Kesiapan meningkatkan
pemberian ASI

Kesiapan meningkatkan

19

DO :
-

Kx mengatakan
merasa senang
sekarang menjadi ibu

menjadi orang tua

Kx sering menyusui
bayinya
Selama dirawat kx
ditemani suami,
suaminya terlihat
membantu dalam
mengurus bayinya
Perlengkapan pakaian
dan kebutuhan bayi
lainnya sudah
disiapkan dan dibawa
dari rumah

DS :
Ibu mengatakan
adanya luka operasi
diperut.
DO :
Lekosit 15,3 ribu/UL
Terdapat luka operasi
Post operasi hari 1.

Pertahanan tubuh primer


yang tidak adekuat (luka
post operasi SC)

Resiko infeksi

Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik (luka post)
2. Hambatan mobilitas di tempat tidur berhubungan dengan Kurang pengetahuan
tentang kegunaan mobilisasi
3. Resiko infeksi berhubungan dengan Pertahanan tubuh primer yang tidak adekuat
(luka post operasi SC)
4. Kesiapan meningkatkan pemberian ASI
5. Kesiapan meningkatkan menjadi orang tua

20

Rencana, Implementasi, Evaluasi


Tgl

Jam

Diagnosa keperawatan

25/07/2

09.00

Nyeri akut berhubungan dengan

012

Tujuan

Intervensi

NOC :

Implementasi

Evaluasi

NIC :

agen cedera fisik (luka post op),

- Pain Level,

Managemen nyeri

ditandai dengan :

- pain control,

1. Lakukan pengkajian nyeri secara

- comfort level

komprehensif termasuk lokasi,

karakteristik, durasi skala, frekuensi,

masih nyeri di daerah luka post

karakteristik, durasi, frekuensi,

dan factor presipitasi


2. Mengobservasi reaksi non verbal dari

op di perut bagian bawah, nyeri

- Kx mengatakan nyeri pada luka


post op SC pada perut bagian

Setelah

bawah

keperawatan selama 3 x 24 jam,

- Nyeri dirasakan terus menerus


seperti di sayat.

- Skala nyeri yang di tunjuk klien


yaitu skala 3 (skala 0-4)

- Terdapat luka post op di bagian


abdomen bawah tertutup kassa
steril

- Pasien tampak menyeringai


kesakitan dan memegangi perut
saat miring.

- Tanda Vital :
TD 120/80 mmHg
Nadi 80x/mt;
RR 20 x/mt

nyeri

dilakukan

tindakan

terkontrol/teradaptasi

dengan kriteria hasil:


- Mampu

1. Melakukan pengkajian nyeri secara

kualitas dan faktor presipitasi


2. Observasi reaksi nonverbal dari

nyeri
tehnik

nonfarmakologi

untuk

mengurangi

nyeri,

3. Kurangi faktor presipitasi nyeri


dengan tehnik fiksasi

mencari

bahwa

berkurang
menggunakan

nyeri
dengan

manajemen

nyeri, dengan skala nyeri 0-1

normal

dengan benar dan tidak longgar


4. Mengajarkan tehnik non farmakologi

Suhu 36 7 C
- Tidak mengalami gangguan
tidur dan tampak rileks

seperti di sayat dengan skala 3


(skala 0-4), nyeri dirasakan
terus menerus.

4. Ajarkan

tentang

ke -1 tertutup kassa steril, klien


tampak menyeringai dan

dalam

secara

merubah posisi.

ketika

TD: 120/80 mmhg,

dan

menghembuskan
melalui

mulut

non

merasakan nyeri; melibatkan keluarga

Nadi 82 kali/menit, RR 20

farmakologi: tehnik relaksasi dan

dalam tehnik distraksi dengan cara

kali/ menit, suhu 36,9 0C

distraksi

memberikan

pijatan

A : Masalah belum teratasi

lembut .
5. Meningkatkan istirahat klien dengan

P : Intervensi dilanjutkan :

5. Tingkatkan istirahat

teknik

O : Terdapat luka post op hari

memegangi abdomen saat

sentuhan

dan

memanajemen waktu tindakan ke klien


dan

S : Klien mengungkapkan

yaitu dengan tehnik menarik nafas


perlahan

(dari skala 0-4)


- Tanda vital dalam rentang

ketidaknyamanan misalnya menilai dari

memasangkan gurita ke abdomen klien

bantuan)
- Melaporkan

lokasi,

dengan tehnik fiksasi yaitu dengan

(tahu penyebab nyeri, mampu


menggunakan

termasuk

ekspresi klien ketika merasakan nyeri


3. Mengurangi
factor presipitasinyeri

ketidaknyamanan/nyeri

mengontrol

komprehensif

Jam 13.00 WITA

menganjurkan

keluarga

1. Observasi reaksi nonverbal


dari ketidaknyamanan/nyeri.

untuk

membatasi kunjungan tamu.


2. Kurangi faktor presipitasi
6. Berkolaborasi dengan cara memberikan
6. Berkolaborasi dalam pemberian
nyeri dengan tehnik fiksasi
analgetik ketorolac 30 mg (1 ampul)

21
analgetik
7. Monitor vital sign tiap 4 jam

Tgl
25/07

Jam
09.00

/2012

Diagnosa keperawatan

Tujuan

secara intra vena.


3. Berkolaborasi
dalam
7. Memonitor vital sign tiap 4 jam (tensi,
pemberian analgetik
nadi, respirasi dan suhu).
4. Monitor vital sign tiap 4 jam

Intervensi

Implementasi

1. Beri pendkes tentang pentingnya

1. Memberi pendkes tentang pentingnya

Inisiatif perubahan posisi setelah

mobilisasi untuk mempercepat

mobilisasi dini untuk mempercepat

kegunaan mobilisasi d.d :

dilakukan intervensi keperawatan

proses pemulihan

proses pemulihan, Beritahu klien

sudah paham akan

- Klien mengatakan masih merasa

mobilisasi fisik di tempat tidur

2. Ajarkan tentang teknik mobilisasi

mobilisasi awal boleh miring

manfaat mobilisasi dan

takut bergerak miring kanan/kiri.

meningkat dengan criteria :

3. Bantu klien melakukan mobilisasi

kanan/kiri setelah 6 jam post op.

mau melakukan

- Klien tampak lebih banyak

4. Evaluasi keadaan umum dan TTV

Boleh duduk setelah 24 jam post op,

pergerakan sesuai yang

untuk klien sekitar boleh duduk

dianjurkan

Hambatan mobilitas di tempat tidur

NOC :

b.d kurang pengetahuan tentang

telentang di atas TT
- Klien dibantu dalam pengubahan

Klien meningkat dalam


aktivitas fisik

posisi untuk miring kanan/kiri

sesudah melakukan mobilisasi.

Mengerti tujuan dari

Evaluasi

pk.17.00-18.00

peningkatan mobilitas

2. Mengajarkan cara merubah posisi

kiri dan miring kanan


bergantian

3. Membantu klien merubah posisi dari


telentang ke miring kiri.

25-7-

09.00

Diagnosa keperawatan
Resiko infeksi berhubungan

Tujuan
NOC :

Intervensi
NIC :

TTV : TD 120/80
mmhg, N.82x/mt

4. Melakukan evaluasi keadaan umum

Jam

S : Klien mengatakan

O : Klien tampak miring

miring kanan/kiri

Tgl

Pk. 13.00 wita

RR.20x/mt T.36,9 C

klien dan TTV sesudah melakukan

A : Masalah teratasi

mobilisasi

P : Hentikan intervensi

Implementasi

Evaluasi
Pk. 13.00 wita

22
2012

dengan pertahanan tubuh primer


yang tidak adekuat (luka post
operasi SC) ditandai dengan :
-

- Knowledge

Infection

1.

control
- Risk control
tindakan

2.

1.

Memberi

penjelasan

nutrisi untuk meningkatkan daya

pentingnya

makan

tahan tubuh dan kesembuhan luka

TKTP

Anjurkan untuk meningkatkan

kesembuhan luka

untuk

operasi diperut.

keperawatan selama 3x24 jam

asupan nutrisi yang bergizi dan

- Lekosit 15,3 ribu/UL

pasien tidak mengalami infeksi

tekankan pentingnya pemberian

makan

- Terdapat luka operasi

dengan kriteria hasil:

makan per oral yang adekuat.

(banyak

Klien bebas dari tanda dan

Beri

ikan,telur,kacang kacangan)

penkes

kebersihan

gejala infeksi
Menunjukkan kemampuan

untuk

luka

bantu

3.

yang

mengkonsumsi

bergizi
protein :

Menjelaskan cara untuk menjaga


luka jangan sampai kena basah
/kotor

4.

Pertahankan terapi IV Line

infeksi

5.

Lakukan perawatan luka aseptik

4.

setelah hari ketiga post op


Observasi pengeluaran lochea

7.

Ajarkan

pasien dan keluarga

tanda dan gejala infeksi


pemberian

akan berusaha melakukan


O : Luka post op hari ke-1,
tertutup kassa kering steril,
kasa tampak bersih
A : Masalah resiko infeksi
tidak terjadi
P : Lanjutkan intervensi

Meneruskan

terapi

nutrisi

parenteral : Infus RL : D5% (1 :1)

6.

Kolaborasi

pantangan dalam makan,

Luka belum didressing

personal hygine

untuk mencegah timbulnya

8.

makanan

S : Klien mengatakan tidak ada

sesuai anjuran

2. Menganjurkan untuk memperbanyak

menjaga

dan

diet

mempercepat

Setelah

3.

tentang

dengan

Ibu mengatakan adanya luka

Post operasi hari 1

dilakukan

Beri penkes tentang pentingnya

5.

Meneruskan pemberian obat :


Inj.Ceftriaxon 2x1 gr
Inj.Alinamin F 3x1 amp

obat

Inj.Vitamin C 3 x 300 mg

antibiotika dan roborantia

Tgl
25.07

Jam
09.00

Diagnosa keperawatan

Tujuan

Intervensi

Kesiapan meningkatkan

NOC

NIC : Breastfeeding assistance

pemberian ASI ditandai dgn :

Breastfeeding maintenance

1. Lakukan kontak segera ibu-bayi untuk

Implementasi

Evaluasi
Pkl. 13.00 wita

1. Melakukan kontak ibu-bayi

S : ibu mengatakan ASI mulai

23
2012

-Ibu mengatakan payudara mulai

Setelah dilakukan 3 kali intervensi

menyusui, 2 jam setelah melahirkan


2. Monitor kemampuan mengisap bayi
3. Beritahukan ibu saat menyusui 8-10

terasa kencang,Payudara

keperawatan ibu dan bayi dapat

tampak menegang, puting susu

meningkatkan pemberian ASI

menonjol, hiperpigmentasi pada

ditandai dgn :

areola mammae, ASI belum

1. Mampu menguasai teknik

perlu.
4. Observasi bayi saat menyusui (posisi,

menjaga puting susu tetap

ketetapan mulut bayi dan kemampuan

keluar.
-Ibu tampak mencoba menyusui
bayinya meski tampak kaku

kali dalam 24 jam, dampingi bila

lembut

mengisap)
5. Monitor bayi pada saat pada saat

2. Mengenali tanda penurunan

mengisap puting susu (latch on skill)


6. Anjurkan ibu agar menyusui pada

suplai ASI
3. Mengenali tanda sumbatan
saluran susu
4. Mengenali tanda mastitis
5. Memperhatikan
kesinambungan pemberian

sedikit keluar, payudara

kemudian).

terasa

2. Memonitor kemampuan
mengisap bayi

3. Mengobservasi bayi saat

berusaha menyusui.
O : ibu tampak sering
menyusui, mengerti tanda

bayi

bayi mau menyusui,

4. Pendkes tentang berapa kali


menyusui dlm 24 jam,
menyusui secara bergantian

payudara
8. Ajari ibu posisi menyusui yg bnar
9. Mendukung
ibu
untuk
tetap

menyusui yang benar, tanda

susu dan tanda terjadinya mastitis

kencang,menegang,ibu

menyusui dan latch on skill

kedua payudaranya
7. Lakukan dan ajarkan ibu perawatan

memberikan ASI
10. Beri tahu ibu tanda sumbatan saluran

ASI

pada pagi harinya (8 jam

pada payudara, posisi

Kemampuan bayi
mengisap bagus
A: masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi

bayi mau menyusu.

5. Melakukan dan mengajarkan


perawatan payudara

6. Mendukung ibu untuk tetap


memberikan ASI

Tgl

Jam

25-72012

09.00

Diagnosa keperawatan

Tujuan

Intervensi

Kesiapan meningkatkan menjadi

NOC

NIC : Parent Education

orangtua ditandai dengan :

Knowledge Infant Care

1.

1. Ibu sering menyusui bayinya.

Setelah dilakukan 2X intervensi

2. Ibu mengatakan senang

keperawatan, kesiapan menjadi

menjadi ibu

orangtua meningkat, ditandai :

2.

Kaji tingkat pengetahuan dan

Implementasi

Evaluasi
Pk.13.00

Mengkaji riwayat pengetahuan dan

S : Ibu mengatakan sudah

kemampuan orang tua untuk

kemampuan orangtua untuk belajar

menyusukan bayinya,

belajar merawat bayi

merawat bayi

perasaan senang

Ajarkan orang tua untuk merawat

1.

2.

Mengajarkan orang tua cara merawat

O : ibu masih tampak kaku saat

24
3. Selama dirawat suami selalu

- Tekhnik menyusui benar

mendampingi

- Tali pusat terawat

4. Perlengkapan bayi sudah

- Bayi tampak sehat

ASI dan makanan tambahan

disiapkan dari

- Bayi ditempatkan pada tempat

selama 1 tahun pertama

rumah.

yang aman

bayi baru lahir


3.

4.

bayi baru lahir

Beri informasi tentang pemberian

3.

menyusukan bayinya

Member informasi tentang

A : masalah teratasi sebagian

pemberian ASI

P : Lanjutkan intervensi

Motivasi orang tua untuk

- Bayi tetap kering dari basah

memeluk, menggendong,

- Bayi tidur-aktivitas teratur

mengelus, berbicara dengan


bayinya
5.

Motivasi orang tua untuk bermain


dengan bayinya

6.

Beri pujian terhadap kemampuan


orang tua merawat bayinya

7. Bantu orang tua mengenali tanda


nonverbal keinginan bayi (popok
basah, lapar)

TINDAKAN KEPERAWATAN DAN CATATAN PERKEMBANGAN


NO
DX

TGL/ JAM

TINDAKAN

TT

TGL/ JAM

CATATAN PERKEMBANGAN
( S OAP)

25
26/7/2012
Jam 09

00

1. Mengobservasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan/


nyeri
2. Mengurangi factor presipitasi nyeri dengan tehnik fiksasi

26/7/2012
Jam 13

cara

memberikan

S : Klien mengungkapkan nyeri berkurang dari yang kemarin, skala


yang ditunjukkan skala 2 (0-4)
O : - Masih terdapat luka post operasi hari ke- 2 tertutup kassa steril,

yaitu memasangkan gurita ke bagian abdomen dengan


benar dan tidak longgar.
3. Berkolaborasi dengan

00

- Klien mulai bisa bergerak dengan rileks hanya terkadang tampak


menyeringai kesakitan saat merubah posisi,

analgetik

- TTV : TD 120/80 mmhg, nadi 82 kali/mnt,

ketorolac 30 mg (1 ampul) secara intra vena


4. Memonitor vital sign (tensi, nadi, respirasi dan suhu)

RR 20 kali/mnt, suhu 36,9

A : Masalah teratasi sebagian


P : Intervensi dilanjutkan :
1.
2.
3.

Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan/ nyeri.


Bantu dalam pemberian tehnik fiksasi
Kolaborasi dalam pemberian analgetic ketorolac 30 mg/1

ampul
4. Monitor vital sign (tensi, nadi, respirasi)

No.
Dx Kep

Waktu
Tgl/jam

Tindakan

TT

Waktu
Tgl/jam

Catatan Perkembangan
(SOAP)

TT

26

III

26/07/

1. Melakukan vulva hygiene pada klien

2012
Pk.09.00

26/07/

sekalian melepas DC
2. Mengobservasi pengeluaran lochea

2012

disekitar lukanya, hanya merasa nyeri daerah

Pk.13.00

luka operasi

3. Mengajarkan pasien dan keluarga


4.

S : Klien mengatakan tidak ada merasa gatal

O : terdapat lochea rubra, pengeluaran tidak

mengenali tanda dan gejala infeksi

aktif, pembalut diganti.

Meneruskan pemberian obat :

Luka post op hari ke-2, tertutup kassa kering

Inj.Ceftriaxon 2x1 gr

steril, kasa tampak bersih


Luka belum didressing
A : Masalah resiko infeksi tidak terjadi
P : Lanjutkan intervensi

No.

Waktu

Dx Kep

Tgl/jam

Tindakan

TT

Waktu

Catatan Perkembangan

Tgl/jam

(SOAP)

TT

27
26/07/
IV

2012
Pk.09.00

1. Mengobservasi bayi saat menyusui (posisi,


ketetapan

mulut

bayi

dan

kemampuan

mengisap)
2. Monitor bayi pada saat pada saat mengisap

26/07/

S : ibu mengatakan ASI sudah mulai banyak keluar

2012

dan mulai tidak kaku lagi menyusui bayinya.

Pk.13.00
O : ibu tampak sering menyusui dan terlihat tidak

puting susu (latch on skill)


3. Anjurkan ibu agar menyusui pada kedua

canggung lagi menyusui bayinya

payudaranya
4. Mengajari ibu posisi menyusui yang benar.
5. Memberi tahu ibu tanda sumbatan saluran susu

A: Kesiapan pemberian ASI meningkat

dan

tanda

terjadinyamastitis

serta

pencegahan dan penanggulanggannya

P: Lanjutkan intervensi :

cara

bila

Mendukung ibu/orangtua untuk terus


memberikan ASI eksklusif

terjadi

No.

Waktu

Dx

Tgl/jam

Tindakan

TT

Waktu

Catatan Perkembangan

Tgl/jam

(SOAP)

TT

28

Kep
26/07/
V

1. Mengajarkan orang tua untuk merawat bayi baru

26/07/

2012

lahir misal bagaimana merawat dan mencegah

2012

S : Ibu mengatakan sudah sering menyusukan bayinya.

Pk.10.00

ruam popok

Pk.13.00

O : Posisi ibu dalam menyusui terlihat benar

2. Memberi motivasi orang tua untuk memeluk,


menggendong,

mengelus,

berbicara

Bayi tampak sehat, terlihat tidur dengan nyenyak

dengan

dalam box bayi.

bayinya
3. Memotivasi

A : Kesiapan menjadi orang tua meningkat


orang tua untuk bermain dengan

P : Lanjutkan intervensi:

bayinya

1. Memberi motivasi orang tua dalam merawat

4. Memberi pujian terhadap kemampuan orang tua

bayinya

merawat bayinya

2. Menyediakan informasi bagi orangtua tentang

5. Membantu orang tua mengenali tanda nonverbal

hal yang ingin diketahui tentang perawatan

keinginan bayi (popok basah. lapar)

NO

TGL/

TINDAKAN

bayi baru lahir.

TT

TGL/ JAM

CATATAN PERKEMBANGAN

29

DX

JAM

( S OAP)
S : KLien mengungkapkan nyeri berkurang dan hanya

27/7/2012

1. Mengobservasi

reaksi

non

verbal

dari

Jam 09.00

ketidaknyamanan/ nyeri
2. Mengurangi factor presipitasi nyeri dengan tehnik

27/7/2012

muncul sewaktu-waktu saja, skala yang di tunjuk klien


skala 1 (skala 0-1)

Jam 13.00

ke bagian

O : Luka post operasi hari ke-3, panjang luka operasi 10

abdomen dengan benar dan tidak longgar.


3. Berkolaborasi dengan cara memberikan analgetik

cm, keadaan luka baik tidak ada perembesan luka.


Klien tampak rileks ketika merubah posisi dari tidur ke

ketorolac 30 mg (1 ampul) secara intra vena


4. Memonitor vital sign (tensi, nadi, respirasi dan suhu)

posisi duduk
TTV : TD 120/70 mmhg, nadi 84

fiksasi

yaitu

memasangkan

gurita

20 kali/menit, suhu 36,7


A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan

No.
Dx
Kep

Waktu
Tgl/jam

Tindakan

TT

kali/menit, RR

C.

Waktu

Catatan Perkembangan

Tgl/jam

(SOAP)

TT

30

.
III

27/07/2012 1.
Pk.09.00

Melakukan
perawatan luka post op hari ke-3 secara
aseptik dan mengganti balutan dengan plester
anti air

2.

Pk.12.00

di RS saja
O : Luka sudah didresing dan dibalut plester
anti air, keadaan luka baik tidak ada

Mengobservasi
pengeluaran lochea

3. Memberi penkes untuk menjaga kebersihan


genital dengan rajin membersihkan (vulva
hygiene) dan mengganti pembalut
4. Memberitahu waktu follow up untuk
mengontrol lukanya pada tempat pelayanan
kesehatan

27/07/2012 S : Pasien mengatakan nanti akan kontrol ulang

perembesan luka, tidak ada tanda tanda


infeksi
A : Masalah resiko infeksi tidak terjadi
P : Klien diperbolehkan pulang hari ini
Intervensi diteruskan rawat jalan

31

Rencana Pendidikan Kesehatan


NO
1.

AREA
Kerja

RENCANA TINDAKAN
Klien dianjurkan sementara untuk melakukan pekerjaan yang
ringan seperti pekerjaan rumah tangga. Memberikan informasi
bahwa selama 3 minggu post partum belum diperbolehkan
melakukan aktivitas terlalu berat seperti mengangkat barang
yang berat.

2.

Istirahat

Mengajarkan kepada ibu agar beristirahat dengan cukup saat


bayi tertidur, hal ini sangat baik untuk memulihkan kondisi ibu
walaupun ibu tidak mempunyai masalah istirahat tidur.

3.

Latihan

Klien dianjurkan latihan mobilisasi miring kiri miring kanan


sejak + 6 jam sesudah operasi, 24 jam sesudah operasi boleh
duduk.

4.

Hygiene

Mengajarkan pada ibu untuk selalu membersihkan daerah


vagina(vulva hygiene) sesudah BAB/BAK dengan larutan
dettol dengan arah depan ke belakang dan dikeringkan dengan
handuk yang bersih.

5.

Koitus

6.

Kontrasepsi

Menjelaskan kepada ibu untuk menggunakan alat kontrasepsi


sesuai dengan kondisi ibu saat ini (ibu menyusui bayinya) dan
dianjurkan

untuk

berkonsultasi

kembali

dengan

bidan/perawat/dokter dalam pemilihan alat kontrasepsi yang


tepat.
7.

Follow-up

Menganjurkan ibu untuk control ulang 1 minggu setelah keluar


Rumah Sakit ke pelayanan kesehatan terdekat.

8.

Lain-lain

Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori


tinggi protein dan tidak berpantang kecuali ada riwayat alergi.

Lampiran
Laporan Operasi Sectio Caesaria : tgl 24/7/2012 jam.16.15 WITA s/d 17.45 WITA

32

1. KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) dan Inform consent, terpasang infuse, catheter,
antibiotic profilaksis
Pasien tidur terlentang dalam pengaruh SAB
Desinfeksi lapangan operasi dan dipersempit dengan duk steril
Insisi mid line + 10 cm sampai dengan cavum abdomen terbuka
Pada eksplorasi didapatkan :
Uterus gravid aterm
AP d/s dalam batas normal
6. Diputuskan dilakukan LSCS :
Dibuat bladder flap
Insisi SBR + 2 cm diperlebar secara tumpul
Selaput ketuban di pecahkan (warna jernih)
Bayi dilahirkan dengan melaksir kepala
Lahir bayi perempuan, BBL 2900 gram, PB 50 cm, apgar score 8-9-10
Placenta lahir dengan tarikan ringan
SBR di jahit sudut, 2 lapis jelujur festoon
Reperitonealisasi
Cuci cavum abdomen
7. Lapangan operasi ditutup lapis demi lapis
8. Operasi selesai
2.
3.
4.
5.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Ackley, J Betty. Gail B Ladwig. Nursing Diagnosis Handbook Ninth Edition.


USA. Mosby Elsevier. 2010

2.

Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran


Bandung. Obstetri Patologi. Bandung: Elstar. 1982

3.

Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran


Bandung. Obstetri Fisiologi. Bandung: Elemen, 1983.

4.

Cunningham FG, Gant FN, Leveno KJ, dkk. Obstetri Williams. Edisi 21.
Jakarta: EGC, 2005.

5.

Israr YA, Irwan M, Lestari, dkk. Arrest of Decent- Cephalopelvc Disproportion


(CPD). 2008. [Online] Hyperlink: http://72.14.235.132/search?
q=cache:RqVXzDPzkgIJ:yayanakhyar.wordpress.com/2008/09/05/arrest-ofdecent-cephalopelvic-disproportion-cpd/+
-pelvic+disproportion&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id, 20 Mei 2009.

33

6.

Lowe, N.K. The Dystocia Epidemic in Nulliparous Women. School of Nursing


Oregon
Health & Science University. 2005. [Online] Hyperlink:
http://196.33.159.102/1961%20VOL%20XXXV
%20JulDec/Articles/10%20October/3.5%20A%20CLINICAL
%20CLASSIFICATION%20OF%20CEPHALO-PELVIC
%20DISPROPORTION.%20C.J.T.%20Craig.pdf, 10 Mei 2009.

7.

Saifuddin AB. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Edisi Keempat.


Jakarta: BP-SP, 2008.

8.

Winkjosastro H. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga. Jakarta: YBP-SP, 2007.

9.

Marion Johnson, et al , NOC and NIC Lingkagesto NANDA I and clinical


conditions supporting critical reasoning and quality care, Elsevier mosby,
Maryland, USA, 2012

10.

Nanda I . Alih bahasa : Made Suwarti, et al : Diagnosis Keperawatan Definisi dan


Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC, 2012

11.

NIC, editor Gloria MB et al ,Nursing Interventions Classification, fifth Edition,


Elsevier mosby, St Louis, USA, 2008

12.

NOC, editor Sue Moorhead, et al, Nursing Outcome Classifcation, fourth edition,
Elsevier mosby, St Louis, USA, 2008