Anda di halaman 1dari 17

Askep Rhinitis Alergi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional
dibagi atas mukosa pernapasan (mukosa respiratori) dan mukosa hidung
(mukosa olfaktori). Mukosa pernapasan terdapat pada sebagian besar pada
rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu
(pseudo stratified columnar ephitelium) yang mempunyai silia dan diantaranya
terdapat sel-sel goblet. Alergi hidung adalah keadaan atopi yang aling sering
dijumpai, menyerang 20% dari populasi anak-anak dan dewasa muda di
Amerika Utara dan Eropa Barat. Di tempat lain, alergi hidung dan penyakit
atopi lainnya kelihatannya lebih rendah, terutama pada negara-negara yang
kurang berkembang. Penderita Rhinitis alergika akan mengalami hidung
tersumbat berat, sekresi hidung yang berlebihan atau rhinore, dan bersin yang
terjadi berulang cepat.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah sistem imun dan hematologi
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui tentang penyakit rhinitis
2. Mengetahui perjalanan penyakit rhinitis
3. Mengetahui komplikasi rhinitis
4. Mengetahui asuhan keperawatan penyakit rhinitis

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 KONSEP PENYAKIT
a. Definisi
Rhinitis alergi Adalah istilah umum yang digunakan untuk menunjukkan
setiap reaksi alergi mukosa hidung, dapat terjadi bertahun-tahun atau
musiman. (Dorland,2002 )

Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang disebabkan oleh reaksi


alergi pada pasien-pasien yang memiliki atopi, yang sebelumnya sudah
tersensitisasi atau terpapar dengan allergen (zat/materi yang menyebabkan
timbulnya alergi) yang sama serta meliputi mekanisme pelepasan mediator
kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan allergen yang serupa (Von
Pirquet, 1986)
Rhinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala-gejala bersinbersin, keluarnya cairan dari hidung, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa
hidung terpapar dengan allergen yang mekanisme ini diperantarai oleh IgE
(WHO ARIA tahun 2001).
Rhinitis adalah istilah untuk peradangan mukosa. Menurut sifatnya dapat
dibedakan menjadi dua:
- Rhinitis akut (coryza, commond cold) merupakan peradangan membran
mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang disebabkan oleh suatu virus
dan bakteri. Penyakit ini dapat mengenai hampir setiap orang pada suatu
waktu dan sering kali terjadi pada musim dingin dengan insidensi tertinggi
pada awal musim hujan dan musim semi.
- Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang
disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena alergi, atau karena rinitis
vasomotor.
b. Etiologi
Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua tahap
sensitisasi yang diikuti oleh reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari dua fase
yaitu

Immediate Phase Allergic Reaction, Berlangsung sejak kontak dengan


allergen hingga 1 jam setelahnya
Late Phase Allergic Reaction, Reaksi yang berlangsung pada dua hingga
empat jam dengan puncak 6-8 jam setelah pemaparan dan dapat berlangsung
hingga 24 jam.
Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas :
Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya
debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur
Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya
susu, telur, coklat, ikan dan udang

Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya


penisilin atau sengatan lebah
Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan
mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan
Dengan masuknya allergen ke dalam tubuh, reaksi alergi dibagi menjadi tiga
tahap besar :
1. Respon Primer, terjadi eliminasi dan pemakanan antigen, reaksi non
spesifik
2. Respon Sekunder, reaksi yang terjadi spesifik, yang membangkitkan system
humoral, system selular saja atau bisa membangkitkan kedua system terebut,
jika antigen berhasil dihilangkan maka berhenti pada tahap ini, jika antigen
masih ada, karena defek dari ketiga mekanisme system tersebut maka
berlanjut ke respon tersier
3. Respon Tersier , Reaksi imunologik yang tidak meguntungkan
Gejala Klinis
Gejala klinis yang khas adalah terdapatnya serangan bersin yang berulangulang terutama pada pagi hari, atau bila terdapat kontak dengan sejumlah
debu. Sebenarnya bersin adalah mekanisme normal dari hidung untuk
membersihkan diri dari benda asing, tetapi jika bersin sudah lebih dari lima
kali dalam satu kali serangan maka dapat diduga ini adalah gejala rhinitis
alergi. Gejala lainnya adalah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak.
Hidung tersumbat, mata gatal dan kadang-kadang disertai dengan keluarnya
air mata. Beberapa gejala lain yang tidak khas adalah allergic shiner bayangan
gelap di bawah mata yang disebut. allergic salute Gerakan mengosok-gosokan
hidung pada anak- anak
allergi crease, timbulnya garis pada bagian depan hidung.
c. Macam-Macam Rinitis alergi
Berdasarkan waktunya, Rhinitis Alergi dapat di golongkan menjadi:
1. Rinitis alergi musiman (Hay Fever)
Biasanya terjadi pada musim semi. Umumnya disebabkan kontak dengan
allergen dari luar rumah, seperti benang sari dari tumbuhan yang
menggunakan angin untuk penyerbukannya, debu dan polusi udara atau asap.
Gejala:
Hidung, langit-langit mulut, tenggorokan bagian belakang dan mata terasa
gatal, baik secara tiba-tiba maupun secara berangsur-angsur. Biasanya akan
diikuti dengan mata berair, bersin-bersin dan hidung meler. Beberapa
3

penderita mengeluh sakit kepala, batuk dan mengi (bengek); menjadi mudah
tersinggung dan deperesi; kehilangan nafsu makan dan mengalami gangguan
tidur. Terjadi peradangan pada kelopak mata bagian dalam dan pada bagian
putih mata (konjungtivitis). Lapisan hidung membengkak dan berwarna merah
kebiruan,

menyebabkan

hidung

meler

dan

hidung

tersumbat.

Pengobatan
Pengobatan awal untuk rinitis alergika musiman adalah antihistamin.
Pemberian antihistamin kadang disertai dengan dekongestan (misalnya
pseudoephedrine

atau

fenilpropanolaminn)

untuk

melegakan

hidung

tersumbat. Pemakaian dekongestan pada penderita tekanan darah tinggi harus


diawasi secara ketat. Bisa juga diberikan obat semprot hidung natrium
kromolin; efeknya terbatas pada hidung dan tenggorokan bagian belakang.
Jika pemberian antihistamin dan kromolin tidak dapat mengendalikan gejalagejala, maka diberikan obat semprot kortikosteroid. Jika obat semprot
kortikosteroid masih juga tidak mampu meringankan gejala, maka diberikan
kortikosteroid per-oral selama kurang dari 10 hari.
2. Rinitis alergi yang terjadi terus menerus (perennial)
Disebabkan bukan karena musim tertentu ( serangan yang terjadi sepanjang
masa (tahunan)) diakibatkan karena kontak dengan allergen yang sering
berada di rumah misalnya kutu debu rumah, bulu binatang peliharaan serta
bau-bauan yang menyengat
Gejala
Hidung, langit-langit mulut, tenggorokan bagian belakang dan mata terasa
gatal, baik secara tiba-tiba maupun secara berangsur-angsur. Biasanya akan
diikuti dengan mata berair, bersin-bersin dan hidung meler. Beberapa
penderita mengeluh sakit kepala, batuk dan mengi (bengek); menjadi mudah
tersinggung dan deperesi; kehilangan nafsu makan dan mengalami gangguan
tidur. Jarang terjadi konjungtivitis. Lapisan hidung membengkak dan berwarna
merah kebiruan, menyebabkan hidung meler dan hidung tersumbat. Hidung
tersumbat bisa menyebabkan terjadinya penyumbatan tuba eustakius di
telinga, sehingga terjadi gangguan pendengaran, terutama pada anak-anak.
Bisa timbul komplikasi berupa sinusitis (infeksi sinus) dan polip hidung.
Pengobatan
Pengobatan awal untuk rinitis alergika musiman adalah antihistamin.
4

Pemberian antihistamin kadang disertai dengan dekongestan (misalnya


pseudoefedrin atau fenilpropanolaminn) untuk melegakan hidung tersumbat.
Pemakaian dekongestan pada penderita tekanan darah tinggi harus diawasi
secara ketat. Bisa juga diberikan obat semprot hidung natrium kromolin;
efeknya terbatas pada hidung dan tenggorokan bagian belakang. Jika
pemberian antihistamin dan kromolin tidak dapat mengendalikan gejalagejala, maka diberikan obat semprot kortikosteroid; tidak dianjurkan untuk
memberikan kortikosteroid per-oral (melalui mulut). Obat tetes atau obat
semprot hidung yang mengandung dekongestan dan bisa diperoleh tanpa resep
dokter, sebaiknya digunakan tidak terlalu lama karena bisa memperburuk atau
memperpanjang peradangan hidung. Kadang perlu dilakukan pembedahan
untuk membuang polip atau pengobatan terhadap infeksi sinus. Seseorang
dapat mengalami rhinitis kombinasi antara dua jenis tersebut. Masih ada satu
lagi jenis rhinitis alergi, yaitu : Rhinitis alergi occupational adalah Rhinitis
yang terkait dengan pekerjaan. Paparan allergen didapat di tempat bekerja.
Biasanya dialami oleh orang yang bekerja dekat dengan binatang. (Sheikh,
2008)
Rhinitis Non Alergi
Pengertian
Rhinitis non allergi disebabkan oleh : infeksi saluran napas (rhinitis viral dan
rhinitis bakterial, masuknya benda asing kedalam hidung, deformitas
struktural, neoplasma, dan massa, penggunaan kronik dekongestan nasal,
penggunaan kontrasepsi oral, kokain dan anti hipertensif.
Gejala
Kongesti nasal
Rabas nasal (purulent dengan rhinitis bakterialis)
Gatal pada nasal
Bersin-bersin
Sakit kepala
Terapi Medik
Pemberian antihistamin
Dekongestan
Kortikosteroid topikal
Natrium kromolin

Berdasarkan penyebabnya, rhinitis non alergi di golongkan sebagai berikut :


Rinitis vasomotor
Pengertian
Rhinitis vasomotor adalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa
hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis.(www.
Google.com). Rinitis vasomotor mempunyai gejala yang mirip dengan rinitis
alergisehingga sulit untuk dibedakan.
Pengobatan
Pengobatan Rinitis Vasomotor bervariasi, tergantung kepada faktor penyebab
dan gejala yang menonjol. Secara garis besar, pengobatan dibagi dalam:
1. Menghindari penyebab / pencetus ( Avoidance therapy )
2. Pengobatan konservatif ( Farmakoterapi ) :
Dekongestan atau obat simpatomimetik digunakan untuk mengurangi
keluhan

hidung

tersumbat.

Contohnya:

Pseudoephedrine

dan

Phenylpropanolamine (oral) serta Phenylephrine dan Oxymetazoline (semprot


hidung ).
Anti histamin : paling baik untuk golongan rinore.
Kortikosteroid topikal mengurangi keluhan hidung tersumbat, rinore dan
bersin-bersin dengan menekan respon inflamasi lokal yang disebabkan oleh
mediator vasoaktif. Biasanya digunakan paling sedikit selama 1 atau 2 minggu
sebelum dicapai hasil yang memuaskan. Contoh steroid topikal : Budesonide,
Fluticasone, Flunisolide atau Beclomethasone
Anti kolinergik juga efektif pada pasien dengan rinore sebagai keluhan
utamanya.Contoh : Ipratropium bromide ( nasal spray )
3. Terapi operatif ( dilakukan bila pengobatan konservatif gagal ) :
Kauterisasi konka yang hipertrofi dengan larutan AgNO3 25% atau
triklorasetat pekat ( chemical cautery ) maupun secara elektrik (electrical
cautery). Diatermi submukosa konka inferior (submucosal diathermy of the
inferior turbinate )
Bedah beku konka inferior ( cryosurgery )
Reseksi konka parsial atau total (partial or total turbinate resection)
Turbinektomi dengan laser ( laser turbinectomy )
Neurektomi n. vidianus ( vidian neurectomy )
Rinitis Medikamentosa

Pengertian
Rhinitis medikamentosa adalah suatu kelainan hidung berupa gangguan
respon normal vasomotor sebagai akibat pemakaian vasokonstriktor topical
(obat tetes hidung atau obat semprot hidung) dalam waktu lama dan
berlebihan, sehingga menyebabkan sumbatan hidung yang menetap. Dapat
dikatakan hal ini disebabkan oleh pemakaian obat yang berlebihan (Drug
Abuse).
Gejala dan Tanda
Penderita mengeluh hidungnya tersumbat terus menerus dan berair. Pada
pemeriksaan konka dengan secret hidung yang berlebihan. Apabila diuji
dengan adrenalin, adema konka tidak berkurang.
Terapi
1. Hentikan pemakaian obat tetes dan semprot hidung.
2. Untuk mengatasi sunbatan berulang, beri kortikosteroit secara penurunan
bertahab dengan menurunkan dosis 5 mg setiap hari.(misalnya hari 1: 40 mg,
hari 2: 35 mg dan seterusnya).
3. Obat dekongestan oral (biasanya mengandung pseudoefredin). Apabila
dengan cara ini tak ada perbaikan setelah 3 minggu pasien dirujuk ke dokter
THT.
Rhinitis Atrofi
Pengertian
Rhinitis Atrofi adalah satu penyakit infeksi hidung kronik dengan tanda
adanya atrofi progesif tulang dan mukosa konka. Secara klinis, mukosa hidung
menghasilkan secret kental dan cepat mengering, sehingga terbentuk krusta
berbau busuk. Sering mengenai masyarakat dengan tingkat social ekonomi
lemah dan lingkungan buruk. Lebih sering mengenai wanita, terutama pada
usia pubertas.
Etiologi
Belum jelas, beberapa hal yang dianggap sebagai penyebabnya seperti infeksi
oleh kuman spesifik, yaitu spesies Klebsiella, yang sering Klebsiella ozanae,
kemudian stafilokok, sreptokok, Pseudomonas aeruginosa, defisiensi Fe,
defisiensi vitamin A, sinusitis kronik, kelainan hormonal, dan penyakit
kolagen. Mungkin berhubungan dengan trauma atau terapi radiasi.
Tanda dan Gejala
1. Bersin berulang-ulang, terutama setelah bangun tidur pada pagi hari
(umumnya bersin lebih dari 6 kali).
7

2. Hidung tersumbat.
3. Hidung meler. Cairan yang keluar dari hidung meler yang disebabkan alergi
biasanya bening dan encer, tetapi dapat menjadi kental dan putih keruh atau
kekuning-kuningan jika berkembang menjadi infeksi hidung atau infeksi
sinus.
4. Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan
tenggorok.
5. Badan menjadi lemah dan tak bersemangat.
d. Pathofisiologi
Tepung sari yang dihirup, spora jamur, dan antigen hewan di endapkan pada
mukosa hidung. Alergen yang larut dalam air berdifusi ke dalam epitel, dan
pada individu individu yang kecenderungan atopik secara genetik, memulai
produksi imunoglobulin lokal (Ig ) E. Pelepasan mediator sel mast yang baru,
dan selanjutnya, penarikan neutrofil, eosinofil, basofil, serta limfosit
bertanggung jawab atas terjadinya reaksi awal dan reaksi fase lambat terhadap
alergen hirupan. Reaksi ini menghasilkan mukus, edema, radang, gatal, dan
vasodilatasi. Peradangan yang lambat dapat turut serta menyebabkan
hiperresponsivitas hidung terhadap rangsangan nonspesifik suatu pengaruh
persiapan. (Behrman, 2000).
e. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan allergen
penyebab
b. Pengobatan, penggunaan obat antihistamin H-1 adalah obat yang sering
dipakai sebagai lini pertama pengobatan rhinitis alergi atau dengan kombinasi
dekongestan oral. Obat Kortikosteroid dipilih jika gejala utama sumbatan
hidung akibat repon fase lambat tidak berhasil diatasi oleh obat lain
c. Tindakan Operasi (konkotomi) dilakukan jika tidak berhasil dengan cara
diatas
d. Penggunaan Imunoterapi.
Hindari kontak & eliminasi, Keduanya merupakan terapi paling ideal.Hindari
kontak dengan alergen penyebab, sedangkan eliminasi untuk alergen ingestan
(alergi makanan).
Simptomatik : Terapi medikamentosa yaitu antihistamin, dekongestan dan
kortikosteroid
Antihistamin

Antihistamin yang sering digunakan adalah antihistamin oral. Antihistamin


oral dibagi menjadi dua yaitu generasi pertama (nonselektif) dikenal juga
sebagai antihistamin sedatif serta generasi kedua (selektif) dikenal juga
sebagai antihistamin nonsedatif.
Efek sedative antihistamin sangat cocok digunakan untuk pasien yang
mengalami gangguan tidur karena rhinitis alergi yang dideritanya. Selain itu
efek samping yang biasa ditimbulkan oleh obat golongan antihistamin adalah
efek antikolinergik seperti mulut kering, susah buang air kecil dan konstipasi.
Penggunaan obat ini perlu diperhatikan untuk pasien yang mengalami
kenaikan tekanan intraokuler, hipertiroidisme, dan penyakit kardiovaskular.
Antihistamin sangat efektif bila digunakan 1 sampai 2 jam sebelum terpapar
allergen. Penggunaan antihistamin harus selalu diperhatikan terutama
mengenai

efek

sampingnya.

Antihistamin

generasi

kedua

memang

memberikan efek sedative yang sangat kecil namun secara ekonomi lebih
mahal.
Dekongestan
Dekongestan topical dan sistemik merupakan simpatomimetik agen yang
beraksi pada reseptor adrenergic pada mukosa nasal, memproduksi
vasokonstriksi. Topikal dekongestan biasanya digunakan melalui sediaan tetes
atau spray. Penggunaan dekongestan jenis ini hanya sedikit atau sama sekali
tidak diabsorbsi secara sistemik (Dipiro, 2005). Penggunaan obat ini dalam
jangka waktu yang lama dapat menimbulkan rhinitis medikamentosa (rhinitis
karena penggunaan obat-obatan). Selain itu efek samping yang dapat
ditimbulkan topical dekongestan antara lain rasa terbakar, bersin, dan kering
pada mukosa hidung. Untuk itu penggunaan obat ini memerlukan konseling
bagi pasien.
Sistemik dekongestan onsetnya tidak secepat dekongestan topical. Namun
durasinya biasanya bisa lebih panjang. Agen yang biasa digunakan adalah
pseudoefedrin. Pseudoefedrin dapat menyebabkan stimulasi sistem saraf pusat
walaupun digunakan pada dosis terapinya (Dipiro, 2005). Obat ini harus hatihati digunakan untuk pasien-pasien tertentu seperti penderita hipertensi. Saat
ini telah ada produk kombinasi antara antihistamin dan dekongestan.
Kombinasi ini rasional karena mekanismenya berbeda.
Nasal Steroid

Merupakan obat pilihan untuk rhinitis tipe perennial, dan dapat digunakan
untuk rhinitis seasonal. Nasal steroid diketahui memiliki efek samping yang
sedikit.
Obat yang biasa digunakan lainnya antara lain sodium kromolin, dan
ipatropium bromida.
Operatif : Konkotomi merupakan tindakan memotong konka nasi inferior
yang mengalami hipertrofi berat. Lakukan setelah kita gagal mengecilkan
konka nasi inferior menggunakan kauterisasi yang memakai AgNO3 25% atau
triklor asetat.
Imunoterapi : Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi. Desensitasi dan
hiposensitasi membentuk blocking antibody. Keduanya untuk alergi inhalan
yang gejalanya berat, berlangsung lama dan hasil pengobatan lain belum
memuaskan. Netralisasi tidak membentuk blocking antibody dan untuk alergi
ingestan.
2.2 Komplikasi
Polip hidung. Rinitis alergi dapat menyebabkan atau menimbulkan
kekambuhan polip hidung.
Otitis media. Rinitis alergi dapat menyebabkan otitis media yang sering
residif dan terutama kita temukan pada pasien anak-anak.
Sinusitis kronik
Otitis media dan sinusitis kronik bukanlah akibat langsung dari rinitis alergi
melainkan adanya sumbatan pada hidung sehingga menghambat drainase.
2.3 Discharge planning
Instruksikan pasien yang allergik untuk menghindari allergen atau iritan spt
(debu, asap tembakau, asap, bau, tepung, sprei)
Sejukkan membran mukosa dengan menggunakan sprey nasal salin.
Melunakkan sekresi yang mengering dan menghiangkan iritan.
Ajarkan tekhnik penggunaan obat-obatan spt sprei dan serosol.
Anjurkan menghembuskan hidung sebelum pemberian obat apapun thd
hidung
BAB III
ISI
Asuhan Keperawatan Pada Penderita Rhinitis Alergi
3.1. Pengkajian
Identitas
Nama:
jenis kelamin:
umur :

10

bangsa :
keluhan utama
Bersin-bersin, hidung mengeluarkan sekret, hidung tersumbat, dan hidung
gatal
Riwayat peyakit dahulu
Pernahkan pasien menderita penyakit THT sebelumnya.
Riwayat keluarga
Apakah keluarga adanya yang menderita penyakit yang di alami pasien
Pemeriksaan fisik :
Inspeksi : permukaan hidung terdapat sekret mukoid
Palpasi : nyeri, karena adanya inflamasi
Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan nasoendoskopi
Pemeriksaan sitologi hidung
Hitung eosinofil pada darah tepi
Uji kulit allergen penyebab
3.2. Diagnosa
1. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi /adanya secret
yang mengental
2. Pertukaran gas, kerusakan dapat dihubungkan dengan gangguan suplai
oksigen (obstruksi jalan napas oleh sekresi).
3. Peningkatan suhu tubuh dari suhu tubuh normal
4. Ketidaknyamanan pasien sehubungan dengan hidung yang meler
5. Rasa nyeri di kepala
6. Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan tentang penyakit dan
prosedur tindakan medis
7. Gangguan pola istirahat berhubungan dengan penyumbatan pada hidung
8. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
9. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
10. Gangguan konsep diri berhubungan dengan rhinore
3.3. Intervensi
1. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi /adnya secret
yang mengental.
Tujuan : Jalan nafas efektif setelah secret dikeluarkan
Kriteria :
a. Klien tidak bernafas lagi melalui mulut
b. Jalan nafas kembali normal terutama hidung
Intervensi Rasional
a. Kaji penumpukan secret yang ada
b. Observasi tanda-tanda vital.
Kolaborasi dengan team medis
a. Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya
b. Mengetahui perkembangan klien sebelum dilakukan operasi

11

c. Kerjasama untuk menghilangkan obat yang dikonsumsi


2. Pertukaran gas, kerusakan dapat dihubungkan dengan gangguan suplai
oksigen (obstruksi jalan napas oleh sekresi).
Tujuan : Suplai oksigen terpenuhi
Kriteria :
- Klien tidak kesulitan bernafas lagi
- Jalan nafas kembali normal sekresi berkurang atau tidak ada
Intervensi Rasional
a.Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan. Catat penggunaan otot aksesori,
napas bibir,ketidakmampuan bicara/berbincang.
b. Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang
mudah untuk bernapas.
c. Dorong mengeluarkan sputum; penghisapan bila diindikasikan a. Berguna
dalam evaluasi derajat distres pernapasan
b. Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi
c. Encer, bahkan bisa menjadi kental adalah sumber ganguan suplai oksigen.
3. Peningkatan suhu tubuh dari suhu tubuh normal
Tujuan : Suhu tubuh normal
Kriteria :
- Suhu badan klien sudah normal
Intervensi Rasional
a.Kaji Suhu tubuh pasien,
b. Berikan kompres
c. Kolaborasi dengan tim medis a. kondisi pasien yang tidak demam
menunjukkan bawa
kondisi tubuh yang mulai membaik
b. Untuk menurunkan suhu tubuh
c.Pemberian Obat penurunan panas.
4. Ketidaknyamanan pasien sehubungan dengan hidung yang meler
Tujuan : Pasien merasa nyaman
Tujuan : Hidung klien sudah tidak meler/tidak ada mukus
Kriteria

- klien sudah merasa nyaman


Intervensi Rasional
a. Kaji jumlah mukus, bentuk dan warna
b. Anjurkan pasien mengeluarkan mucus,
c. Anjurkan pasien untuk membersihkan hidung a. Melihat tingkat keparahan
penyakit
b. Mengurangi mukus dalam hidung agar bisa bernafas dengan nyaman
c.Hidung bersih
5. Rasa nyeri di kepala
Tujuan : Mengurangi rasa nyeri di kepala

12

Kriteria :
a. Klien tidak merasa nyeri
b. Klien mengetahui cara pemijatan refleksi
Intervensi Rasional
a. Kaji Skala nyeri
b. Memberikan pijatan refleksi di kepala
c. Anjurkan pasien untuk beristirahat
a. Mengetahui tingkatan sakit
b. Merasakan kenyamanan
c. Mengembalikan kondisi yang baik pada tubuh
6. Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan tentang penyakit dan
prosedur tindakan medis
Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang
Kriteria

- Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya


- Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta
pengobatannya.
Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat kecemasan klien
2. Berikan kenyamanan dan ketentaman pada klien :
- Temani klien
- Perlihatkan rasa empati( datang dengan menyentuh klien )
3. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya perlahan,
tenang seta gunakan kalimat yang jelas, singkat mudah dimengerti
4. Singkirkan stimulasi yang berlebihan misalnya :
- Tempatkan klien diruangan yang lebih tenang
- Batasi kontak dengan orang lain /klien lain yang kemungkinan mengalami
kecemasan
5. Observasi tanda-tanda vital.
6. Bila perlu , kolaborasi dengan tim medis 1. Menentukan tindakan
selanjutnya
2. Memudahkan penerimaan klien terhadap informasi yang diberikan
3. Meningkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan terapi untuk penyakit
tersebut sehingga klien lebih kooperatif
4. Dengan menghilangkan stimulus yang mencemaskan akan meningkatkan
ketenangan klien.
5. Mengetahui perkembangan klien secara dini.
6. Obat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien
7. Gangguan pola istirahat berhubungan dengan penyumbatan pada hidung
Tujuan : klien dapat istirahat dan tidur dengan nyaman
Kriteria

- Klien tidur 6-8 jam sehari


Intervensi Rasional
13

a. Kaji kebutuhan tidur klien.


b. ciptakan suasana yang nyaman.
c. Anjurkan klien bernafas lewat mulut
d. Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat a. Mengetahui permasalahan
klien dalam pemenuhan kebutuhan istirahat tidur
b. Agar klien dapat tidur dengan tenang
c. Pernafasan tidak terganggu.
d. Pernafasan dapat efektif kembali lewat hidung
8. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Intervensi Rasional
a. Kaji Berat badan pasien, makanan yang dimakan.
b. Berikan makan porsi kecil tapi sering.
c. Anjarkan pasien tentang pola makan yang sehat dan bergizi
d. Kolaborasi dengan ahli gizi a. Anoreksia karena ketidaknyamanan akibat
sputum
b. Menambah tenaga pasien
c. Pasien mengetahui makanan yang perlu di konsumsi
d. Nutrisi terpenuhi
9. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan : Membantu pasien dalam aktivitas
Kriteria

- Klien sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa


Intervensi Rasional
a. Kaji kegiatan pasien
b. Anjurkan Pasien untuk istirahat
c. Berikan bantuan bila pasien tidak bias melakukan kegiatannya
a. Pasien bisa melakukan aktivitas seperti biasa
b. Mengembalikan kondisi pasien menjadi fit
c. Aktivitas pasien berjalan lancar
10. Gangguan konsep diri berhubungan dengan rhinore
Tujuan : Hidung klien sudah tidak meler/tidak ada mukus
Kriteria

- klien sudah merasa nyaman


Intervensi Rasional
a. Dorong individu untuk bertanya mengenai masalah, penanganan,
perkembangan dan prognosis kesehatan
b. ajarkan individu menegenai sumber komunitas yang tersedia, jika
dibutuhkan (misalnya : pusat kesehatan mental)
c. dorong individu untuk mengekspresikan

perasaannya,

khususnya

bagaimana individu merasakan, memikirkan, atau memandang dirinya a.

14

memberikan

minat

dan

perhatian,

memberikan

kesempatan

untuk

memperbaiakikesalahan konsep
b. pendekatan secara komperhensif dapat membantu memenuhi kebutuhan
pasienuntuk memelihara tingkah laku koping
c. dapat membantu meningkatkan tingkat kepercayaan diri, memperbaiki
harga diri, mrnurunkan pikiran terus menerus terhadap perubahan dan
meningkatkan perasaan terhadap pengendalian diri
3.4. Implementasi
1. Mendorong individu untuk bertanya mengenai masalah, penanganan,
perkembangan dan prognosis kesehatan
2. Mengatur kelembapan ruangan untuk mencegah pertumbuhan jamur
3. Menjauhkan hewan berbulu dari pasien alergi, namun hal ini sering tidak
dipatuhi terutama oleh pecinta binatang
4. Membersihkan kasur secara rutin
5. Lapisi bantal, kasur, dan tempat tidur springbed dengan plastik atau vinil.
6. Ganti kasur atau bantal kapuk atau kulit dengan kasur atau bantal busa.
7. Bersihkan tempat tidur secara teratur. Cuci sarung bantal, sprei, dan selimut
dengan air hangat.
8. Bersihkan karpet dengan vacuum cleaner dan pel lantai secara teratur. Jika
perlu, jangan gunakan karpet di dalam kamar tidur.
9. Minimalkan atau bersihkan benda-benda yang bisa menjadi tempat
berkumpulnya debu di rumah.
Perawatan
a) Jika ada peradangan di hidung, perlakuan pilihan formulir ini untuk nonalergi rhinitis adalah sengau corticosteroid sprays.
b) Jika ada banyak pilek, ipratropium sengau semprot dapat menyediakan
bantuan terhadap gejala ini di non-alergi rhinitis.
c) Jika hidung tersumbat adalah masalah besar, decongestant tablet atau sprays
dapat digunakan, tetapi sprays tidak boleh digunakan untuk waktu lama,
d) Baru-baru ini, sebuah antihistamine sengau semprot telah bermanfaat dalam
melegakan gejala non-alergi rhinitis.
e) Dengan belajar tentang penyebab dan gejala dari berbagai bentuk rhinitis,
Anda akan dapat lebih baik untuk mengidentifikasi gejala dan memicuAnda
allergist / immunologist dapat membantu dengan membuat diagnosa yang
akurat dan mengembangkan rencana perawatan yang efektif untuk Anda.
3.5. Evaluasi
1. Mengetahui tentang penyakitnya

15

2. Sudah bisa bernafas melalui hidung dengan normal


3. Bisa tidur dengan nyenyak
4. Kebutuhan nutrisi sudah terpenuhi
5. Rasa nyeri berkurang
6. Mengutarakan penyakitnya tentang perubahan penampilan
7. Kondisi telah membaik, suhu tubuh normal
8. Bisa melakukan aktivitas seperti biasa
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada membran mukosa di
hidung. (Dipiro, 2005 ) Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung.
( Dorland, 2002 )
Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas :
Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya
debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur
Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya
susu, telur, coklat, ikan dan udang
Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya
penisilin atau sengatan lebah
Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan
mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan
4.2. Saran
penyusun sangat membutuhkan saran, demi meningkatkan kwalitas dan mutu
makalah yang kami buat dilain waktu. Sehingga penyusun dapat memberikan
informasi yang lebih berguna untuk penyusun khususnya dan pembaca
umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
-Behrman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.1 Edisi 15. Jakarta:
EGC
-Behrman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.2 Edisi 18. Jakarta:
EGC
-Dorland, WA. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta:
EGC
-Hassan, rusepno dkk. 1985. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 2. Jakarta: Info
Medika
-Junadi, purnawan dkk. 1982. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media
16

Aesculapius
-Long, barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Bandung: Yayasan IAPK
Pajajaran
-Mansjoer, arif dkk. 1993. Kapita Selekta Kedokteran Jilid.1 Edisi 3. jakarta :
Media

Aesculapius

- Price, silvya A. 1995. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit


Edisi 4. Jakarta : EGC
-Smeltzer, suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
- Soepardi, efiaty arsyad. 1997. Telinga-Hidung-Tenggorok. Jakarta : fakultas
kedokteran universitas indonesia
- www.google.com
http://hendy-kumpulanaskep.blogspot.com/

17