Anda di halaman 1dari 17

Bubut

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada saat sekarang ini, perkambangan ilmu pengetahuan dan teknologi
sudah sangat pesat. Sehingga membutuhkan tenaga ahli untuk dapat menggunakan ala
t-alat teknologi tersebut.
Praktikum pemesinan khususnya dalam pembubutan merupakan langkah awa
l untuk membuat mahasiswa agar dapat mengopersikannya alat industri. Karena tanp
a ada campur tangan menusia maka alat-alat tersebut tidak dapat beroperasi atau
bekerja dengan baik.
Jadi praktikum ini sebagai langkah awal untuk membawa kita pada duni
a ilmu pengetahuan dan teknologi dimana kita dapat melakukan berbagai pekerjaan
baik itu dalam dunia Industri maupun dalam lingkungan masyarakat.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Supaya mahasiswa dapat mengenal alat-alat yang digunakan dalam praktikum kh
ususnya dalam pembubutan.
2. Supaya mahasiswa dapat mengoperasikan alat bubut dengan baik .
3. Supaya mahasiswa mampu mengoperasikan mesin-mesin dengan baik dalam dunia k
erja.
1.3 Manfaat
Adapun manfaat yang akan dicapai dari praktikum ini adalah :
1. Mahasiswa dapat menerapkan dari teori yang telah dipelajari pada teknik pe
mesinan.
2. Mahasiswa dapat membuat ide-ide kreatif yang bisa berguna di masa yang aka
n datang.
3. Mahasiswa dapat modal dasar untuk masuk dalam dunia kerja.
4. Mahasiswa dapat menyalurkan imu yang didapat kepada orang lain.
1.4 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika dari laporan praktikum in adalah :
Bab I Pendahuluan
Terdiri dari latar belakang, tujuan, manfaat, dari pelaksanaan prakt
ikum pemesinan khususnya dalam bubut.
Bab II Teori Dasar.
Merupakan teori dasar dalam pelaksanaan pratikum pemesinan khususnya
dalam bubut.
Bab III Alat dan Bahan.
Menjelaskan alat-alat yang digunakan dan bahan yang dikerjakan pa
da praktikum pemesinan khususnya mesin bubut.
Bab IV Prosedur Kerja
Menjelaskan tentang bagaimana langkah-langkah dalam pembuatan ben
da kerja dalam praktikum pemesinan khususnya mesin bubut.
Bab V Pembahasan
Menjelaskan tentang perhitungan-perhitungan dalam praktikum pemes
inan khususnya mesin bubut.
Bab VI Kesimpulan dan Saran.
Berisikan tentang kesimpulan dari praktikum yang dilakukan dan sa
ran yang bersifat membangun untuk melaksanakan praktikum.

BAB II
TEORI DASAR
2.1 Mesin Bubut
Mesin ini biasanya digunakan untuk mengerjakan benda kerja yang berb
entuk selindris dengan sistem kerja tool bergerak kearah kanan dan kiri atau ber
gerak mendekati dan menjauhi operator. Sedangkan benda kerja berputar pada sumbu
dengan arah putaran searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam.
Gambar 2.1 Mesin Bubut.
2.2 Definisi Mesin Bubut
Mesin bubut adalah mesin perkakas yang terbuat dari bahan baja yang
berfungsi untuk membuat benda kerja dengan gerak utama berputar. Prinsip kerja m
esin bubut adalah benda kerja berputar searah jarum jam atau berlawanan arah jar
um jam dengan dengan melakukan gerak makan dan pahat bergerak ke arah kiri dan k
anan dengan melakukan gerak potong. Pekerjaan yang biasa dilakukan dengan mesin
bubut diantaranya adalah :
a). Bubut rata luar
b). Bubut rata dalam
c). Bubut tirus
d). Bubut bertingkat
e). Bubut rata permukaan
f). Bubut alur
g). Bubut ulir
h). Bubut kartel
i). Bor atau lubang
Gambar 2.2 Mesin Bubut.
2.3 Bagian- bagian Mesin Bubut
Adapun bagian-bagian dari mesin bubut adalah :
1.
Bed Mesin.
Bed mesin ini berfungsi untuk mendukung semua bagian utama yang terdapa
t pada mesin bubut
Gambar 2.3 Bed Mesin.
2.
Kepala Lepas.
Kepala lepas ini terletak disebelah kanan dan dipasang diatas bed. Kepa
la lepas ini berfungsi untuk menyangga benda kerja dengan bentuan senter, baik i
tu senter putar atau senter jalan.
Gambar 2.4 Kepala Lepas.
3.

Kepala Tetap.
Kepala tetap ini terletak disebelah kiri yang berbentuk sebuah kotak ya
ng sangat kuat. Kepala tetap ini berfungsi sebagai sumber pengerak dari chuck de
ngan bantuan roda gigi dan sabuk yang digerakkan oleh motor.
Gambar 2.5 Kepala Tetap.
4.
Eretan
Eretan berfungsi untuk mengerakkan pahat bubut yang bergerak sepanjang
landasan dengan cara otomatis atau manual kearah kiri maupun kanan.
Gambar 2.6 Eretan.
Bagian bagian dari eretan :
a). Eretan alas.
Eretan alas adalah eretan yang kedudukannya pada alas mesin dan bergerak sepanja

ng alas mesin bubut dengan gerakan ke kanan dan ke kiri


b). Eretan atas
Eretan atas adalah eretan yang terletak di atas eretan lintang yang sejajar deng
an eretan alas dan diikat dengan dua buah baut pengikat.
c). Eretan lintang.
Eretan lintang terletak di atas dan kedudukannya melintang terhadap alas mesin d
an bed. Gerakannya melintang yaitu menjauhi atau mendekati operator baik yang di
gunakan dengan manual maupun otomatis.

5.

Batang ulir penghantar


Betang ulir penghantar berfungsi untuk memindahkan gerak pemakanan pada
pembuatan ulir. Memenjang sepanjang landasan yang terpasang disamping apron.
6.

Poros pembawa.
Sebagai tambahan pada batang ulir pengantar, dipasang sebuah poros pemb
awa untuk mengerakan eretan bawah atau eretan lintang sewaktu pembubutan secara
otomatis.
7.

Tool post
Tool post berfungsi untuk menjepit benda kerja yang diberi tiga baut pe
ngunci pada empat bagian
Gambar 2.7 Toll Post.
2.4 Perlengkapan Mesin Bubut
Mesin bubut dilengkapi dengan beberapa perlengkapan yang berfungsi u
ntuk membantu dalam menngoperasikan mesin tersebut, diantaranya :
1.
Chuck (Pencekam).
Pencekan atau chuck berfungsi untuk menjepit benda kerja yang dikerjaka
n pada mesin bubut. Pencekam ada beberapa jenis, diantaranya :
a). Cekam rahang dua
Cekam rahang dua ini, daunnya dapat menjepit benda kerja bulat dan persegi empat
yang kecil.
b). Cekam rahang tiga
cekam rahang tiga ini, daunnya dapat menjepit benda kerja bulat dan persegi bera
turan yang habis dibagi tiga.
Gambar 2.8 Cekam Rahang Tiga.
c). Cekam rahang empat.
Cekam rahang empat ini, mempunyai empat rahang penjepit yang pada permukaannya a
da yang rata dan ada yang bergaris, hal ini bertujuan untuk mempercepat benda ke
rja yang sentris.
Gambar 2.9 Cekam Rahang Empat.
d). Cekam rata.
Gambar 2.10 Cekam Rahang Rata.
3.
Senter
Senter berfungsi untuk menyangga atau menahan benda kerja yang
erjakan.
Untuk senter bubut terdapat dalam beberapa jenis senter sesuai
an fungsinya diantaranya ialah:
a). Senter tetap.
Senter tetap biasanya digunakan untuk menahan benda keja yang kecil dan
dengan bantuan pelumas agar benda kerja bisa berputar dengan baik tanpa
yang kuat.
Gambar 2.11 Senter Tetap.

akan dik
bentuk d
panjang
getaran

b). Senter putar.


Senter jenis ini dibagian kepalanya dilengkapi dengan rol sehingga bisa berputar
dan bentuk senter ini juga berbeda-beda ada yang besar, sedang dan kecil.
Gambar 2.12 Senter Putar.
c). Senter pipa.
Senter ini biasanya digunakan untuk benda kerja yang berlobang besar dan sesuai
dengan bentuk senter tersebut.
Gambar 2.13 Senter Pipa.
4.

Pahat.
Pahat ialah alat yang digunakan untuk memotong atau menyayat dan memben
tuk benda kerja pada proses pembubutan.
Adapun jenis-jenis pahat yaitu :
a). Pahat potong.
b). Pahat alur.
c). Pahat serot.
d). Pahat serong 45o.
e). Pahat pisau kanan
f). Pahat lurus bulat
g). Pahat ulir luar
h). Pahat rata muka
i). Pahat rata bulat
Adapun bahan-bahan pahat bubut yang sering digunakan ialah antara la
in :
a). Alloy steel (Baja campuran yang mengandung tungsten)
b). Ceramic (tool)
c). Tool steel (baja karbon tinggi)
d). Intan (Diamond)
e). Baja kabon tinggi (HSS)
Gambar 2.14 Pahat Bubut.
5.

Penyangga.
Penyanggga berfungsi untuk menahan benda kerja yang panjang dan berdiam
eter besar yang dipasang pada bed mesin bubut dan diikat dengan beberapa buah ba
ut pengikat penyangga.
2.5 Elemen Dasar Mesin Bubut
Elemen dasar dari mesin bubut dapat dihitung dengan menggunakan rum
us yang telah ditentukan dengan kondisi pemotonngan sebagai berikut :
1.
Kecepatan potong (cutting)
: v
(m/m
in).
v = p . d . n / 1000 ;
(m/min).
dimana, d = (do + dm) / 2 ;
(mm).
2.
Kecepatan makan (feeding)
: vf
(mm/
min).
vf = f . n ;
(mm/min).
Semakin besar nilai n, maka nilai vf juga semakin besar.
3.
Kedalaman potong
: a
(mm).
dm / 2 ;
(mm).
a = do
4.
Waktu pemotongan (cutting time)
: tc
(min).
tc = lt / vf ;
(min)
dimana lt = panjang benda kerja.
5.
Kecepatan penghasil geram
: z
(cm3/
min).
z = f . a . v ;
(cm3/ min).
Tabel 2.1 Daftar kecepatan potong.

Bahan yang digunakan


Untuk pekerjaan

Unutk pemotongan
Bahan pendingin yang digunakan
Bor
Bubut
Sekrap
Frais

Kasar
Halus
Ulir
Mild steel
80
100
65
100

90
100.
35
Souble oil
H C steel
40
50
40
50

70

90
30
Souble oil
Cast iron
50
50
40
80

60
80
25
Tanpa coolent
Stanlees steel
65
65
50
90

80
95
30
Souble oil
Brass
160
190
100
300

150
200

60
Tanpa coolant
Capper
180
190
100
300

180
250
50
Souble oil
Bronse
65
65
50
100

90
100
25
Tanpa coolant
Aluminium
190
330
130
500

200
300
60
Terpeling koreses

Zink
100
130
100
250

150
200
45
Plastik
160
160
120
200

140
200
40
Tool steel
30
50
30
70

50
75
20
Souble oil
2.6 Penggunaan Toleransi

Toleransi adalah penyimpangan ukuran yang diizinkan pada pengerjaan


dengan menggunakan mesin, toleransi maksimun dam minimun.
Adapun jenis-jenis toleransi diantaranya sebagai berikut :
1.
Toleransi geometrik
Oleh kerena ketidak telitian dalam pengerjaan yang tidak dapat dihindar
i, suatu alat tidak dapat dibuat setepat ukuran yang diminta. Agar persyaratan d
apat dipenuhi ukuran yang sebenarnya diukur pada benda kerja boleh terletak dian
tara dua ukuran yang diizinkan. Perdedaan dua batas ukuran tersubut disebut telo
ransi.
2.

Toleransi konfigurasi permukaan


Kekasaran permukaan dari bagian-bagian mesin dan juga bekas pengerjaann
ya merupakan faktor yang sanngat penting untuk menjamin mutu bagian-bagian.
Tabel 2.2 Lambang sifat elemen yang diberi toleransi
Panjang dari sisi
yang pendek
Sifat yang diberi toleransi
simbol
Elemen tunggal

Kelurusan

Kedataran

Kebulatan

Keselindrisan
Elemen tunggal atau berhubungan

Profil Garis

Profil Permukaan

Elemen- elemen yang berhubungan


Toleransi oreintasi
Kesejajaran

Ketegaklurusan

Ketirusan

Toleransi lokasi
Posisi

2.7 Jenis-jenis Mesin Bubut


1. Mesin bubut standart
Gambar 2.15 Mesin Bubut Standart
a.
Hendel untuk membalikan arah perputaran utama
b. Tuas untuk mengerakkan paksi utama
c.
Poros potong bubut atau sekrup hantar
d. Tiga genggaman yang memusat sendiri
e.
Handel untuk kunci mur
f.
Pemegang pahat
g. Eretan atas
h. Sentar dalam kepala lepas
i.
Eretan melintang
j.
Alas mesin (landasan eretan)
k. Kepala lepas
m. Roda tangan untuk memindahkan kepala lepas
n. Tuas untuk mengatur jumlah perputaran poros catur awal
o. Tuas untuk poros catur awal
p. Roda tangan untuk memindahkan suport
q. Lemari kunci
r.
Tuas untuk menjalankan catur awal lewat poros catur awal
s.
Poros catur awal
2. Mesin bubut korsel.
Gambar 2.16 Mesin Bubut Kersel.
3.

Mesin bubut tugas berat.

Gambar 2.17 Mesin Bubut Tugas Berat.


4.

Mesin bubut terret vertical.

Gambar 2.18 Mesin Bubut Turret Vertical.


5. Mesin bubut otomat.
Gambar 2.19 Mesin Bubut Otomat.
6. Mesin bubut revolver.
Gambar 2.20 Mesin Bubut Revolver.
7. Mesin bubut turret horizontal otomatis.
Gambar 2.21 Mesin Bubut Turret Horizontal Otomatis.
8.

Mesin bubut kepala.

Gambar 2.22 Mesin Bubut Kepala.

BAB III
ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat.
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum pemesinana khususnya mesi
n bubut adalah :
1. Jangka sorong.
Digunakan untuk mengukur benda kerja baik untuk mengukur kedalaman, panjan
g dan diameter.
Gambar 3.1 Jangka Sorong.
2.

Kunci pas.
Digunakan untuk mengencangkan atau melonggarkan baut yang terdapat pada er
etan atau pada mesin bubut.
Gambar 3.2 Kunci Pas.
3.

Senter.
Digunakan untuk menyangga benda kerja pada saat melakukan pembubutan.

Gambar 3.3 Senter.


4.

Drill.
Digunakan untuk membuat lubang pada saat melakukan pembubutan.

Gambar 3.4 Drill.


5.

Pahat.
Digunakan untuk memotong benda kerja dalam melakukan pembubutan.
Gambar 3.5 Pahat.

6.

Senter Drill.
Digunakan untuk melubangi benda kerja pada awal pekerjaan yang akan dibubu
t dan tempat senter benda kerja.
Gambar 3.6 Center Drill.
7. Kunci chuck.
Digunakan untuk mengunci chuck atau membuka chuck pada saat melakukan pemb
ubutan.
Gambar 3.7 Kunci Chuck.
8. Kunci tool post.
Digunakan untuk mengencangkan atau melonggarkan tool post pada mesin bubut
.
Gambar 3.8 Kunci Tool Post.
3.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum mesin bubut adalah sebag
ai berikut :
1. Benda kerja I.
Bahan yang digunakan adalah Aluminium, dengan ukuran :
Panjang :
21 mm.
Diameter : 64 mm.
Gambar 3.9 Benda Kerja I.
2.

Benda Kerja II.


Bahan yang digunakan adalah Baja ST 37, dengan ukuran :
Panjang :
100 mm.
Diameter : 25,2 mm.
Gambar 3.102 Benda Kerja II.
3. Benda Kerja III.
Bahan yang digunakan adalah Baja ST 37, dengan ukuran :
Panjang :
24 mm.
Diameter : 51 mm.
Gambar 3.11 Benda Kerja III.
4.

Benda kerja IV.


Bahan yang digunakan adalah Baja ST 37, dengan ukuran :
Panjang : 119 mm.
Diameter : 16 mm.
Gambar 3.12 Banda Kerja IV.

BAB IV
PROSEDUR KERJA
4.1 Prosedur Umum
1. Alat bdan bahan yang akan digunakan dipersiapkan.
2. Gambar benda kerja yang akan dikerjakan diamati.
3. Benda kerja diukur dengan menggunakan jangka sorong.
4. Mesin diaktifkan.
a.
Tombol utama dinyalakan.
b. Putar kontak kearah ON (pada mesin bubut).
c.
Kemudian tombol ditekan untuk mengaktifkan mesin bubut.

4.2 Prosedur Benda Kerja I


1. Benda kerja dijepit dengan menggunakan chuck yang telah terpasang pa
da mesin bubut, dengan permukaan A menghadap kerluar.
Gambar 4.1 Posis Benda Kerja I.
2. Kemudian chuck dikiunci dengan menggunakan kunci chuck.
3. Kemudian tool holder dipasang pada tool post sebagai tempat pahat.
4. Pahat dipasang pada tool holder dan dikunci dengan menggunakan kunci
kombinasi 8 mm.
5. Kemudian senter dipasang pada kepala lepas.
6. Kemudian ditentukan senter pahat atau titik pusat, agar tidak ada sis
a benda kerja pada saat pembubutan rata muka.
7. Kemudian atur posisi pahat sesuai dengan keinginan operator, kemudian
dikunci dengan menggunakan kunci tool post.
8. Benda kerja dibubut dengan melakukan bubut rata muka dengan cara :
a). Pahat digerakkan menuju benda kerja.
b). Kemudian chuck panel pemutar ditekan ke bawah, maka chuck dan b
enda kerja akan berputar berlawanan arah jarum jam.
c). Kemudian dilakukan bubut rata muka dengan menggurangi bagian de
pan benda kerja.
d). Pahat digerakkan maju dengan menggunakan pemutar eretan melinta
ng.
9. Pembubutan rata muka dilakukan pada kedua bagian benda kerja hingga p
anjang benda kerja sesuai dengan ukuran yang diminta yaitu 17+0,25 mm.
10. Setelah dilakukan kedua permukaan benda kerja rata, kemudian dilakukan
pengedrillan dengan cara :
a). Senter putar diganti dengan senter drill.
b). Kemudian benda kerja dibuat lubang denga kedalam 3 mm.
c). Kemudian senter drill diganti dengan menggunakan mata drill 12
mm.
d). Kemudian dilakukan pengedrillan sehingga benda kerja tembus.
e). Kemudian diganti dengan mata drill 15 mm.
f). Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan drill 20 mm.
11. Kemudian dilakukan bubut dalam dengan menggunakan pahat bubut dalam.
4.3 Prosedur Benda Kerja II
1. Benda kerja dijepit dengan menggunakan chuck yang telah terpasang pa
da mesin bubut, dengan permukaan A menghadap kerluar.
Gambar 4.2 Posisi Benda Kerja II.
2. Kemudian chuck dikiunci dengan menggunakan kunci chuck.
3. Kemudian tool holder dipasang pada tool post sebagai tempat pahat.
4. Pahat dipasang pada tool holder dan dikunci dengan menggunakan kunci
kombinasi 8 mm.
5. Kemudian senter dipasang pada kepala lepas.
6. Kemudian ditentukan senter pahat atau titik pusat, agar tidak ada sis
a benda kerja pada saat pembubutan rata muka.
7. Kemudian atur posisi pahat sesuai dengan keinginan operator, kemudian
dikunci dengan menggunakan kunci tool post.
8. Benda kerja dibubut dengan melakukan bubut rata muka dengan cara :
a). Pahat digerakkan menuju benda kerja.
b). Kemudian chuck panel pemutar ditekan ke bawah, maka chuck dan b
enda kerja akan berputar berlawanan arah jarum jam.
c). Kemudian dilakukan bubut rata muka dengan menggurangi bagian de
pan benda kerja.
d). Pahat digerakkan maju dengan menggunakan pemutar eretan melinta
ng.
9. Kemudian dilakukan bubut memanjang hingga diameter bendda kerja menja
di 24 mm dengan panjang 45 mm.
10. Kemudian pada permukaan A dibuat lubang dengan menggunakan senter dril

l.
11. Kemudian benda kerja dilepas dari chuck.
12. Benda kerja dijepit kembali dengan sisi B berada diluar.
Gambar 4.3 Posisi Benda Kerja II Sisi B Keluar.
13. Kemudian dilakukan bubut rata muka pada permukaan B sehingga panjang b
enda kerja menjadi 95 mm.
14. Kemudian dilakukan bubut memanjang sepanjang 10 mm dengan diameter 13
mm.
15. Kemudian eretan lintang diubah menjadi kemiringan 80.
16. Kemudian benda kerja dibubut tirus sepanjang 40 mm dengan kemiringan 8
0.
17. Kemudian benda kerja dilepas.
18. Benda kerja dijepit denagn chuck dengan sisi a berada diluar.
19. Bedna kerja didrill dengan menggunakan mata drill 12 mm hingga benda k
erja tembus.
20. Kemudian ujung sisi A dibuat radius dengan R2.
21. Kemudian benda kerja dilepas dari chuck.
4.4 Prosedur Benda Kerja III
1. Benda kerja dijepit dengan menggunakan chuck yang telah terpasang pa
da mesin bubut, dengan permukaan A menghadap kerluar.
Gambar 4.4 Posisi Benda Kerja III.
2. Kemudian chuck dikiunci dengan menggunakan kunci chuck.
3. Kemudian tool holder dipasang pada tool post sebagai tempat pahat.
4. Pahat dipasang pada tool holder dan dikunci dengan menggunakan kunci
kombinasi 8 mm.
5. Kemudian senter dipasang pada kepala lepas.
6. Kemudian ditentukan senter pahat atau titik pusat, agar tidak ada sis
a benda kerja pada saat pembubutan rata muka.
7. Kemudian atur posisi pahat sesuai dengan keinginan operator, kemudian
dikunci dengan menggunakan kunci tool post.
8. Benda kerja dibubut dengan melakukan bubut rata muka dengan cara :
a). Pahat digerakkan menuju benda kerja.
b). Kemudian chuck panel pemutar ditekan ke bawah, maka chuck dan b
enda kerja akan berputar berlawanan arah jarum jam.
c). Kemudian dilakukan bubut rata muka dengan menggurangi bagian de
pan benda kerja.
d). Pahat digerakkan maju dengan menggunakan pemutar eretan melinta
ng.
9. Benda kerja didrill dengan menggunakan senter drill.
10. Dilanjutkan dengan menggunakan mata drill 15 mm hingga tembus.
11. Kemudian sisi A dichemper 1x45o.
12. Kemudian posisi benda kerja diubah dengan sisi B berada diluar.
13. Kemudian dilakukan bubut rata muka pada sisi B hingg panjang benda ker
ja menjadi 20 mm.
14. Kemudian dilakukan bubut dalam dengan menggunakan pahat bubut dalam.
15. Kemudian lubang yang berdiameter 15 mm dibubut hingga berdiameter 25 m
m dengan kedalaman 10 mm.
16. Kemudian ujung benda kerja dichamper.
17. Bedna kerja dilepas.
18. Benda kerja dipasang pada mandrel dan dijepit pada chuck.
19. Benda kerja dibubut dengan kedalaman 6 mm dengan membentuk sudut 90o.
20. Benda kerja dilepas dari chuck dan diukur.
4.5 Prosedur Kerja IV
1. Benda kerja dijepit dengan menggunakan chuck yang telah terpasang pa
da mesin bubut, dengan permukaan A menghadap kerluar.
Gambar 4.5 Posisi Benda Kerja IV.

2. Kemudian chuck dikiunci dengan menggunakan kunci chuck.


3. Kemudian tool holder dipasang pada tool post sebagai tempat pahat.
4. Pahat dipasang pada tool holder dan dikunci dengan menggunakan kunci
kombinasi 8 mm.
5. Kemudian senter dipasang pada kepala lepas.
6. Kemudian ditentukan senter pahat atau titik pusat, agar tidak ada sis
a benda kerja pada saat pembubutan rata muka.
7. Kemudian atur posisi pahat sesuai dengan keinginan operator, kemudian
dikunci dengan menggunakan kunci tool post.
8. Benda kerja dibubut dengan melakukan bubut rata muka dengan cara :
a). Pahat digerakkan menuju benda kerja.
b). Kemudian chuck panel pemutar ditekan ke bawah, maka chuck dan b
enda kerja akan berputar berlawanan arah jarum jam.
c). Kemudian dilakukan bubut rata muka dengan menggurangi bagian de
pan benda kerja.
d). Pahat digerakkan maju dengan menggunakan pemutar eretan melinta
ng.
9. Lepas benda kerja dan diperpanjang.
10. Benda kerja dijepit dibantu dengan senter putar
11. Dilakukan bubut memanjang sepanjang 109 mm dengan diameter 8 mm.
12. Kemudian dilakukan bubut memanjang sepanjang 15 mm dengan diameter 6 m
m.
13. Benda kerja dilepas.
14. Benda kerja diubah posisinya dengan permukaan B berada diluar.
15. Pada ujung benda kerja dibuat ulir M6 dengan ukuran 1 picth.
16. Banda kerja dilepas.
17. Benda kerja diukur dengan menggunakan jangka sorong.

BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Benda Kerja I
Diketahui :
Panjang benda kerja : 21,02 mm.
Panjang yang ditentukan : 17+0,25 mm
Diameter awal benda kerja ( do): 61,2 mm
Diameter akhir benda kerja (dm): 52,4 mm
Ditanya:
a). Kedalamam potong ?
b). Panjang benda kerja yang dibuang (x) ?
Penyelesaian :
a). Kedalamam potong (a)
a = (do - dm ) / 2
52,4 ) / 2
a = ( 61,2
a = (8,8)/2

a =4,4 mm.
b). Panjang benda kerja yang dibuang (x).
x = panjang benda kerja
panjang yang ditentukan
= 21,02 17 = 4,02 mm.
5.2 Benda Kerja II
Diketahiu :
Panjang benda kerja : 100 mm.
Panjang benda kerja yang ditentukan : 95 mm
Diameter benda kerja : 25,1 mm.
Diameter yang ditentukan : 23 mm
Ditanya :
a). Panjang benda kerja yang dibuang (x) ?
b). Kedalaman potong?
Penyelesaian :
a). Panjang benda kerja yang dibuang (x) .
x = panjang benda kerja
panjang yang ditentukan
= 100 95 = 5 mm.
b). Kedalaman potong .
a = (do - dm ) / 2
a = ( 25,1 23 ) / 2
a = (2,1)/2
a =1,05 mm.
5.3 Analisa
Ketika melakukan pembubutan terlebih dahulu dipelajari gambar benda
kerja agar tidak terjadi kesalahan dalam membubut. Untuk membubut benda kerja ya
ng panjang hendaklan dibuat lubang sedikit sebagai dudukan senter agar benda ker
ja sesuai dengan yang diharapkan.
Pada saat melakukan pembubutan beri batas toleransi yang bertujuan u
ntuk langkah finishing. Dalam membubut hendaknya mata tool yang digunakan dalam
keadaan tajam, sehingga hasil bubutan halus dan rata. Sebelum melakukan pembubut
an hendaknya diperiksa terlebih dahulu apa benda kerja telah terjepit dengan kua
t, atau apa pahat telah terjepit dengan kuat agar tidak terjadi kecelakaan kerja
pada saat melakukan pembubutan.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Menghitung kecepatan potong pada saat akan melakukan pembubutan sang
at penting, agar benda kerja selesai sesuai dengan waktunya.
2. Mengetahui kedalaman potong pada saat melakukan pembubutan sangat pen
ting, agar operator mengetahui berapa ketebalan bend akerja yang akan dibubut.
3. Benda kerja akan kasar apabila pahat yang digunakan tidak tajam.
6.2 Saran
1. Kunci benda kerja dengan kuat sebelum melakukan pembubutan.
2. Dalam melakukan pembubutan jangan gegabah agar benda kerja sesuai den
gan yang diinginkan.
3. Gunakan sebaik mungkin waktu yang diberikan, agar benda kerja selesai

sesuai dengan waktunya.

Anda mungkin juga menyukai