Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH RESEPTIR

FUNGI

Kelompok 8
Anggota:

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

PENDAHULUAN
Dermatophytosis, secara awam dikatakan sebagai penyakit kulit yang
disebabkan oleh jamur, tanpa harus mengetahui spesies jamur kulit tersebut.
Dermatophytosis pada hewan kecil (anjing dan kucing) umumnya zoonotik dan
sangat tinggi penularannya. Penanganan penyakit ini cukup sulit karena sering
terjadi reinfeksi disamping membutuhkan waktu dan biaya tinggi. Para dokter
hewan kadangkala terkecoh dalam mendiagnosa penyakit kulit jamur ini,
seringkali terdeteksi hanya sebagai penyakit kulit biasa.
Pada umumya jamur yang hidup sebagai saprofit menguntungkan bagi
kehidupan manusia misalnya sebagai dekomposer yang dapat menghancurkan
sisa-sisa tumbuhan ataupun hewan yang berupa senyawa yang kompleks menjadi
senyawa sederhana, dan kemudian dikembalikan ke dalam tanah sehingga dapat
meningkatkan kesuburan tanah. Jamur saprofit juga penting dalam industri
fermentasi minsalnya dalam pembuatan bir, roti, tempe, dan juga digunakan
dalam memproduksi asam-asam organik, obat-obatan, vitamin, dan anti biotika
seperti penisilin, ampisilin, griseovulfin. Selain itu jamur saprofit juga banyak
yang dikonsumsi olah manusia minsalnya jamur merang, jamur tiram, jamur
kuping. Sedangkan jamur yang hidup sebagai parasit umumnya merugikan karena
dapat menyebabkan berbagai penyakit pada tumbuhan, hewan dan manusia.
Patogenesis dermatofitosis tergantung pada faktor lingkungan, antara lain
iklim yang panas, hygiene lingkungan, sumber penularan, penggunaan obatobatan steroid, antibiotik dan sitostatika, imunogenitas dan kemampuan invasi
organisme, lokasi infeksi serta respon imun dari pasien. Makalah ini terfokus
membahas pada epidemiologi, tanda-tanda klinis dan pengobatan pada kucing dan
anjing yang terkena dermatophytosis. Meskipun penyakit ini bersifat zoonotik,
namun penyakit ini dapat diobati dan disembuhkan.
Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam
mengidentifikasi penyakit yang disebabkan oleh fungi berdasarkan gejala klinis
yang ditampilkan dan pengobatannya sehingga dapat memberikan tindakan
pengobatan yang tepat terhadap pasien.
TINJAUAN PUSTAKA
Dermatofitosis merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh kapang
yang tergolong dalam kelompok dermatofita, dan pada hewan lebih dikenal
dengan penyakit ringworm. Kapang atau cendawan merupakan salah satu jenis
parasit yang terdiri atas genus Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton.
Berbagai spesies dari tiga genus kapang ini dapat menginfeksi kulit, bulu/rambut
dan kuku/tanduk dalam berbagai intensitas infeksi. Hampir semua jenis hewan
dapat diserangnya, dan penyakit ini secara ekonomis sangat penting (Djenuddin,
2005). Secara umum penyakit yang disebabkan oleh kapang ini menginfeksi
hewan domestik, khususnya hewan ternak, anjing, kucing, hewan peliharaan kecil
seperti hamster dan kelinci percobaan bahkan semua mamalia dan burung.
Penyebaran penyakit ini dapat terjadi secara kontak langsung dengan lesi pada

tubuh hewan, yaitu kontak dengan kulit atau bulu yang terkontaminasi ringworm
maupun secara tidak langsung melalui spora dalam lingkungan tempat tinggal
hewan. Kapang mengambil keuntungan dari hewan dengan mengurangi kapasitas
kekebalan tubuh atau sistem imum hewan (Feline 2005).
Dalam tubuh inang, kapang ini biasanya ditemukan terbatas pada bagian
luar dari tubuh, misalnya pada bagian keratin dari stratum korneum kulit, kuku,
dan rambut. Kapang ini bersifat tidak ganas, tidak dapat tumbuh dalam jaringan
hidup maupun pada bagian tubuh yang mengalami peradangan secara intens
(Carter dan Cole 1990; Olivares 2003). Pada hewan kesayangan, dermatofitosis
dapat menginfeksi kulit, rambut, atau kuku. Pada anjing, sekitar 70% penderita
ringworm disebabkan kapang Microsporum canis, 20% oleh M. gypseum, dan
10% oleh Trichophyton mentagrophytes (Spakers et al. 1993; Kahn dan Line
2007; Vermout et al. 2008). Penyakit ini hampir ditemukan pada semua jenis
hewan peliharaan. Anjing semua umur dapat terinfeksi kapang dermatofita.
Namun, kejadian lebih banyak ditemukan pada anak anjing. Selain umur, faktor
lainnya termasuk status nutrisi yang jelek dan menejemen pemeliharaan yang
buruk serta tidak diisolasinya hewan penderita, akan meningkatkan kejadian
penyakit. Mortalitas penyakit rendah, namun demikian kerugian ekonomis dapat
terjadi karena kerusakan kulit dan rambut atau bobot badan turun karena hewan
menjadi tidak tenang serta adanya risiko zoonosis yang ditimbulkan oleh M. canis
(Olivares 2003; Kotnik 2007).
Dalam pengamatan klinis, dermatofitosis dicurigai pada hewan dengan lesi
yang terdiri dari kombinasi alopecia, erythema, papula, serta scaly dan crusty.
Lesi klasik pada anjing dan kucing umumnya memiliki batasan dengan radang
aktif di pinggiran lesi, biasanya ditemukan pada bagian wajah atau anggota badan.
Ukuran dan lama terjadinya lesi, mungkin dapat mengakibatkan pengerasan kulit
atau penyembuhan yang terpusat. Lesi pada planum nasale, telapak kaki, dan
kuku kemungkinan dapat ditemukan, tetapi jarang dilaporkan. Diagnosis
dermatofitosis baik dengan metode konvensional dan molekuler perlu ditinjau
terutama yang khusus berkaitan dalam praktek dokter hewan. Tujuan utama dalam
mendiagnosis dermatofitosis adalah untuk membuktikan adanya invasi oleh
kapang dermatofita pada lapisan epidermis atau batang rambut. (Bond, 2010).
Penanganan penyakit ini cukup sulit karena sering terjadi reinfeksi dan
membutuhkan waktu dan biaya tinggi dalam penanganannya. Para dokter hewan
kadangkala terkecoh dalam mendiagnosa penyakit kulit jamur ini sehingga
terdeteksi sebagai penyakit kulit biasa. Infeksi oleh kapang ini dinamakan
ringworm (dermatophyte) karena diduga penyebabnya adalah worm dan karena
gejalanya dimulai dengan adanya peradangan pada permukaan kulit yang bila
dibiarkan akan meluas secara melingkar seperti cincin. Nama dermatofit
(dermatophyte) merupakan jenis kapang penyebab kerusakan di kulit karena zat
keratin yang terdapat di kulit diperlukan untuk pertumbuhannya (Palupi 1997).
Pada anjing ringworm yang sering disebabkan oleh kapang jenis Trichophyton sp.
dan Microsporum sp. karena Indonesia yang berada di daerah tropis dengan
kelembaban tinggi merupakan daerah yang cocok bagi tumbuhnya berbagai jenis
jamur. Bulu tebal dan panjang pada anjing menjadi predileksi yang cocok bagi
tumbuhnya jamur (Pohan 2007).
Gejala yang terlihat pada anjing sering terjadi kerusakan disertai kerontokan bulu
di seluruh muka, hidung dan telinga, perubahan yang tampak pada kulit berupa

lingkaran atau cincin dengan batas jelas dan umumnya dijumpai di daerah leher,
muka terutama sekitar mulut, pada kaki, dan perut bagian bawah. Selanjutnya
terjadi keropeng, lepuh dan kerak, dan dibagian keropeng biasanya bagian
tengahnya kurang aktif, sedangkan pertumbuhan aktif terdapat pada bulu berupa
kekusutan, rapuh dan akhirnya patah, ditemukan pula kegatalan (Riza 2009).
Candidiasis
Candidiasis adalah suatu penyakit infeksi pada kulit dan mukosa yang
disebabkan oleh jamur Candida. Candida adalah jenis fungi yang paling umum
ditemukan di rongga mulut dan merupakan flora normal (Silverman 2001).
Beberapa spesies dari Candida antara lain C. albicans, C. tropicalis, C.
parapsilosis dan C. kursei. Dari spesies di atas C. albicans merupakan spesies
yang paling sering dan umum menyebabkan infeksi di rongga mulut (Nolte 1982).
C. albicans dapat tumbuh pada media yang mengandung sumber karbon misalnya
glukosa dan nitrogen, biasanya digunakan ammonium atau nitrat, terkadang
memerlukan biotin (Farlane et al. 2002). Pada anjing dan manusia, penderita yang
paling beresiko adalah pasien yang menggunakan antibiotik yang dapat
menghancurkan bakteri menguntungkan yang dapat menghambat pertumbuhan C.
albicans. Selain itu ekologi tubuh dapat terganggu oleh kondisi lingkungan, diet,
stress, obat-obat chemotherapy, steroid dan obat-obat lainnya. Seperti semua ragi,
Candida tumbuh subur pada gula termasuk dari biji-bijian, pati karbohidrat
lainnya. Bakteri menguntungkan (Lactobacillus acidophilus) memetabolisme gula
sehingga menjaga pertumbuhan Candida dengan mengganggu supply
makanannya. Sedikitnya jumlah bakteri menguntungkan seperti Lactobacillus
acidophilus akan menghasilkan kondisi tinggi gula sehingga menguntungkan bagi
C. albicans (Poutinen 2007).
Mekanisme terjadinya candidiasis didukung oleh bahan-bahan polimerik
ekstra selular (mannoprotein) yang menutupi permukaan C. albicans yang
merupakan komponen penting untuk perlekatan pada mukosa mulut. C. albicans
menghasilkan proteinase yang dapat mendegradasi protein saliva termasuk
sekretori immunoglobulin A, laktoferin, musin dan keratin serta sitotoksis
terhadap sel inang. Batas-batas hidrolisis dapat terjadi pada pH 3.0-6.0 dan
melibatkan beberapa enzim lain seperti fosfolipase. Enzim ini menghancurkan
membran sel selanjutnya akan terjadi invasi fungi pada jaringan inang. Hifa
mampu tumbuh meluas pada permukaan sel inang (Farlane et al. 2002).
Sel-sel Candida akan menekan bakteri baik untuk bertahan hidup di
saluran pencernaan dan diet tinggi karbohidrat akan mempertahankan populasi
Candida. Sel-sel Candida memproduksi bahan kimia beracun yang dapat
membunuh bakteri baik sehingga merugikan tubuh. Limbah candida termasuk
toxic alcohol, aseton, hydrogen sulfide dan senyawa yang mempengaruhi otak
berkontribusi terhadap kelelahan dan gangguan sistem imun (Poutinen 2007).
Gejala candidiasis sering salah diagnosa sebagai alergi dengan manifestasi
kemerahan atau kerusakkan pada kulit kaki, wajah, bawah lengan, perut atau
daerah genital. Kejadian berulang atau infeksi pada telinga, mata, ginjal atau
traktus urogenital dapat disebabkan oleh pertumbuhan Candida yang sangat cepat.
Kondisi ini bisa disertai oleh infeksi sekunder. Selain kelelahan, lethargy,
imobiliti, nyeri sendi dan gelisah yang semuanya bisa disebabkan oleh toxin

jamur, pasien yang terinfeksi dapat mengalami gatal-gatal yang parah, yang
selanjutnya akan menggigit-gigit berkepanjangan, mengunyah dan terjadi
kerontokkan. Kulit anjing dapat berubah menjadi hitam, kering dan bersisik atau
muncul kerak berminyak di permukaan dan dimanapun terdapat Candida, bau
jamur yang tidak enak akan muncul (Poutinen 2007).

CONTOH KASUS
1. Seekor anjing betina cocker spaniel bernama Sasa dengan BB 35 kg.
Dibawa oleh pemiliknya datang ke dokter hewan dengan gejala bau pada
mulut, kemerahan disertai kebengkakan pada gusi, lidah, dan langit-langit
mulutnya, mengalami penurunan berat badan, rambutnya kusam,
berminyak, dan lengket. Hal ini terjadi pula pada bagian interdigit. Lesi
kulit multifokal, kulit kemerahan, sering menggaruk, bau tidak sedap, serta
terjadi hiperpigmentasi. Keluar discharge mukopurulen dari telinga
sebelah kanan. Adanya diare. Anjing ini alergi terhadap tetracycline.
Anamnesa: Anjing sehari-hari diberi makan nasi dalam jumlah banyak dan
sering diberi makanan manusia saat pemiliknya makan (table food).
Beberapa minggu belakangan, anjingnya tidak nafsu makan dan menurun
berat badannya.

Tata laksana terapi kasus 1 :


Anjing BB 35 kg. Diagnosa: Candidiasis salurah cerna dan kulit. Lama
pengobatan 31 hari (bertahap). Resep dibuat untuk pengobatan 2 minggu (14
hari). Dan diet rendah karbohidrat dan disiplin untuk tidak memberikan makanan
manusia.
Gejala
Klinis

Bau pada mulut,


kemerahan disertai
kebengkakan pada
gusi, lidah, dan
langit-langit
mulutnya.

Rambutnya
kusam,
berminyak, dan
lengket. Lesi kulit
multifokal, kulit
kemerahan,

Keluar discharge
mukopurulen dari
telinga sebelah
kanan dan adanya
diare (infeksi
sekunder)

Obat
Generik

Sistemik: Nystatin

Obat Paten

Mycostatin

Dosis dan
Perhitungan

Setiap ml
mengandung
100.000 unit. Dosis
= 100.000 unit setiap
6 jam. Jumlah:
100.000 x 4 x14 =
5.600.000 unit = 56
ml
6 jam

Interval

sering
menggaruk, bau
tidak sedap, serta
terjadi
hiperpigmentasi.
Topikal:
1.Ketoconazol
(salep).
2.Shampo
Chlorhexidin 2%
1.Nizoral
2.Shampo
Malaseb
1 tube salep
2. shampo 500 ml

1. Setiap 8 jam
2. Dua minggu
sekali
Gejala
Kemerahan dan
Flora pencernaan
Klinis
kembengkakan pada terganggu dan
rongga mulut dan
populasi candida
kulit
berlebih
Obat
Ketoprofen
Lactobacillus
Generik
acidopilus
Obat Paten Orudis
Pearls
Lactobacillus
acidopilus
probiotic
Dosis dan Dosis= 1 mg/kg x 35 1tablet/anjing/har
Perhitungan kg= 35 mg. Jumlah
i
penggunaan selama 5 Jumlah: 1 fls
hari: 35 x 1 x 5= 175
mg
Interval
24 jam
24 jam

Neomycin

Neomycin
Dosis= 10 mg/kg x
35 kg = 350 mg.
Jumlah: 350 x 3 x
14 =14.700 mg

8 jam
Imunosupresi

Echinacea extract
Imboost syrup

1 cth/anjing/hari
Jumlah: 1 fls

24 jam

Penulisan Resep

2. Seekor anjing betina Golden retriver bernama Cici dengan BB 20 kg,


Dibawa oleh pemiliknya datang ke dokter hewan dengan gejala lesi merah
dengan pola melingkar dan berbatas jelas, sering menggaruk, alopecia,
rambut kusam, hiperpigmentasi, kulit berminyak, berkerak, lemah dan
tidak nafsu makan.
Anamnesa: Anjing seminggu yang lalu dititipkan ke penitipan hewan.

Tata laksana teerapi kasus 2 : Anjing dengan BB 20 kg. Diagnosa: ringworm (M.
canis).
Gejala
Klinis

Obat
Generik

Obat Paten

Dosis dan
Perhitungan

Ada lesi merah


dengan pola
melingkar dan
berbatas jelas,
sering
menggaruk.
kulit
berminyak,
berkerak
Sistemik:
Ketoconazol
(PO)
Topikal:
1. Keratolitik
dan anti fungi
(asam salisilat)
2. Shampo
Chlorhexidin
2%
Mycoral

1.asam salisilat
2. Shampo
Malaseb
5 mg/kg x 20
kg = 100 mg
Jumlah: 100 x
2 x 7= 1400
mg
1 tube salep

Alopecia,
Gatal-gatal
rambut
dan
kusam,
kemerahan
hiperpigmenta
si

Imunosupresi

Vitamin E

Chlorheptadine
hydrochlorida

Echinacea
extract

Santa E

Pronicy

Imboost
syrup

50 U
Jumlah 50 x 2
x 7 =700 U

1,1 mg/kg x
20 kg = 22
mg
Jumlah= 22 x
1 x 7= 154
mg

1cth/anjing/
hari
Jumlah: 1 fls

Interval

2. shampo 500
ml
12 jam

12 jam

24 jam

24 jam

1. Setiap 8 jam
2. Dua minggu
sekali
Penulisan Resep

PEMBAHASAN
Terapi terhadap kandidiasis dapat dilakukan dengan pemberian agen
antifungi yang tersedia. Salah satunya adalah ketokonazol yang merupakan
antifungi golongan azol yang bekerja dengan menghambat enzim 14
dimethylase, suatu enzim sitokrom P450 pada jamur sehingga sintesa ergosterol
dihambat dan terjadi kerusakan membran sel pada jamur. Ketokonazol merupakan

10

salah satu agen anti fungi broad spectrum. Cara kerja dari ketokonazol meliputi
beberapa mekanisme, tetapi yang paling utama adalah dengan menghambat
sintesis ergosterol. Ketokonazol dalam pengobatan kandidiasis digunakan dalam
sediaan oral karena absorbsinya cukup baik. Selain itu juga digunakan secara
topical. Ketokonazol merupakan obat antifungi yang efektif untuk Candida
albicans. Walaupun begitu, pemakaian ketokonazol pada penderita gangguan
hepar tidak dianjurkan, karena bersifat hepatotoksik (Rex 2003).
Nystatin merupakan senyawa alami yang diisolasi dari tanah actinomycete,
Streptomycetes noursei termasuk dalam kelompok polyene dari antifungal agents.
Nystatin irreversible mengikat komponen sterol tertentu (ergosterol) dari
membrane sel fungi. Nystatin memiliki afinitas yang cukup tinggi terhadap
ergosterol yang membentuk membrane sel fungi dibandingkan dengan kolesterol
yang membentuk membrane sel hewan. Pemberian dalam konsentrasi rendah
nystatin akan bersifat fungistatik, pada konsentrasi tinggi nystatin sebagai
fungisidal. Nystatin aktif terhadap sebagian besar spesies Candida. Pada kasus 1
diberikan terapi tambahan yaitu pemberian probiotik Lactobacillus acidophilus.
Bakteri ini berguna dalam menjaga pertumbuhan jamur kandida agar tetap
seimbang. Pada manusia, Lactobacillus acidophilus ditemukan pada sistem
pencernaan, mulut, dan vagina. Bakteri Lactobacillus dapat mengurangi
perlekatan Kandida albikan pada sel epitel inang. Lactobacillus juga melepaskan
hidrogen peroksida dan asam laktat yang dapat menghambat proliferasi dan invasi
jamur Kandida albikan. Substansi bakteriocin yang diproduksi Lactobacillus
dapat menekan pertumbuhan dan mengurangi jumlah jamur Kandida.
Penegakan diagnosis dermatofitosis (Ringworm) pada umumnya dilakukan
secara klinis, dapat diperkuat dengan pemeriksaan mikroskopis, kultur, dan
pemeriksaan dengan lampu wood pada spesies tertentu. Dalam pelaksanaan terapi
kasus ini dianjurkan dilakukannya pencukuran area rambut yang menderita
dermatophytosis dengan tujuan untuk menghentikan penyebaran spora sehingga
penularan dapat dibatasi dan mempermudah pengobatan/penetrasi obat ke dalam
kulit secara topical. Pada terapi kasus 2 diberikan anti fungi broad spectrum
Ketokonazole PO dan obat anti fungi topikal. Penggunaan obat topikal akan lebih
efektif jika digunakan bersamaan, misalnya hewan dimandikan dengan shampoo
khusus dan juga diberikan obat topikal secara lokal pada lesio jamur. Oleh karena
itu pada terapi kasus 2 diberikan terapi tambahan shampoo Chlorhexidin 2% dan
digunakan setiap 2 kali dalam seminggu. Selain itu juga diberikan Imboost syrup
untuk menunjang imunitas pasien dan vitamin E untuk menunjang penyembuhan
kulit dan rambut pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Bond R. 2010. Superficial Veterinary Mycoses. Clinics in Dermatology (28) :
226236.
Carter GR, Cole JR. 1990. Diagnostis Prcedure in Veterinary Bakteriology and
Mycology. Fifth Edition. California. Academic Press.
Djenuddin G. 2005. Penyakit Kulit oleh Kapang Dermatofit (Ringworm) pada
Kelinci. Bogor (ID): Balai Penelitian Veteriner.

11

Farlane M et al. 2002. Essential of Microbiology for Dental Student. New York.
Oxfort.
Feline AB. 2005. Ringworm [Internet][Diunduh 7 Januari 2015] Tersedia pada:
http://www. Fabcats.org/ringworm for breeders.html.
Khan CM, Line S. 2007. The Merck / Merial Manual For Pet Health. Home
Edition. Merck & CO, INC. Whitehouse Station, NJ, USA. 266268 ; 504
505.
Koga T. Immune Surveillance against Dermatophytes Infection. In: Fidel
PL,Jr.,Huffnagle G.B, editors. Fungal Imunologi from Organ Perspective.
Netherlands: Springer; 2005. p. 4439.
Kotnik T. 2007. Dermatophytoses in Domestic Animals and Their Zoonotic
Potential. Slovenian Veterinary Research 44 (3) : 63-73.
Nolte AW.1982. Oral Microbilogy 4th.Boston. The C.V Mosby.
Olivares RAC. 2003. Ringworm Infection in Dogs and Cats. in Recent Advances
in Canine Infectious Diseases [Internet][Diunduh 7 Januari 2015] Tersedia
pada: www.ivis.org.
Palupi, E.A. 1997. Identifikasi Kapang Penyebab Ringworm pada Anjing-anjing
yang Dirawat di Pondok Pengayom Satwa Ragunan Jakarta Selatan
[Skripsi]. Jakarta (ID): Universitas Nasional Jakarta.
Pohan KA. 2007. Bahan Kuliah Mikologi. Yogyakarta (ID): Universitas Gajah
Mada.
Poutinen CJ. 2007. Canine Candida. The Whole Dog Journal. Belvoir Media
Group LLC
Rex JH, Arikan S. Antifungal agents. Di dalam : Murray PR, Baron EJ, Jorgensen
JH, Pfaller MA, Yolken RH, ed. Manual of clinical microbiology. Edisi ke
8. Washington DC : ASM Press, 2003 : 1860-1.
Riza ZA. 2009. Permasalahan dan Penanggulangan Ringworm pada Hewan.
Bogor (ID): Balai Penelitian Veteriner.
Silverman SJ.1996. Color Atlas of Oral Manifestations of AIDS 2nd. Boston. The
C.V Mosby.
Sparkes AH, Gruffydd-Jones TJ, Shaw SE, Wright AI, Stokes CR. 1993.
Epidemiological and diagnostic features of canine and feline
dermatophytosis in the United Kingdom from 1956 to 1991. Vet Rec
133:57-61.
Vermout S, Tabart J, Baldo A, Mathy A, Losson B, Mignon B. 2008, Pathogenesis
of Dermatophytosis. Mycopathologia 166 : 267-275.

12