Anda di halaman 1dari 81

JAWABAN PEMERINTAH

ATAS
PEMANDANGAN UMUM FRAKSI-FRAKSI DPR RI
TERHADAP
RUU TENTANG APBN 2015 BESERTA
NOTA KEUANGANNYA

Rapat Paripurna DPR RI, 21 Agustus 2014


REPUBLIK INDONESIA

Saudara Ketua dan Para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik


Indonesia yang terhormat,
Hadirin yang berbahagia,
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,

Pertama-tama, marilah kita memanjatkan puji dan syukur kepada sang


pencipta, karena atas limpahan rahmat dan karunia Allah S.W.T, Tuhan Yang
Maha Esa, kita diberikan kesehatan dan kekuatan untuk dapat melaksanakan
tugas kenegaraan dalam rangka tanggapan Pemerintah terhadap pemandangan
umum fraksi-fraksi atas RUU APBN 2015 beserta Nota Keuangannya.
Selanjutnya, perkenankanlah kami, atas nama Pemerintah, menyampaikan
terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua fraksi di
DPR RI atas seluruh pandangan dan masukan terhadap berbagai substansi yang
tertuang dalam RUU tentang APBN Tahun 2015 beserta Nota Keuangannya, yang
telah disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 15 Agustus
2014 yang lalu. Semua itu, tentunya menjadi masukan bagi Pemerintah, serta
menjadi bahan dalam proses pembahasan lebih lanjut mengenai RUU tentang
APBN Tahun 2015.
Saudara Ketua dan Para Anggota Dewan yang terhormat,
Dapat kami sampaikan bahwa, seperti dilakukan dalam proses transisi
pemerintahan pada periode sebelumnya, RAPBN tahun 2015 yang disusun oleh
Pemerintah sekarang masih bersifat baseline, yang substansi utamanya diarahkan
untuk mempertahankan pemenuhan kebutuhan pokok penyelenggaraan
pemerintahan dan kesinambungan program pembangunan nasional. Hal ini
disebabkan oleh Nota Keuangan dan RAPBN tahun 2015 disusun oleh
pemerintahan yang mengemban amanah sampai dengan Oktober 2014, agar roda
pemerintahan dan pembangunan dapat stabil berjalan di awal Pemerintah baru
hasil Pemilu tahun 2014. Selain itu, baseline budget juga didasarkan pada
penyusunan besaran pendapatan dan belanja negara, serta pembiayaan anggaran
yang tidak banyak mengalami perubahan kebijakan, guna memberikan ruang
gerak pada pemerintah baru untuk menambahkan insiatif atau kebijakan baru
yang sejalan dengan rencana kerja yang akan dilakukan dalam lima tahun ke
depan.
Harus diakui bahwa, tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan fiskal
saat ini dan ke depan adalah ruang gerak fiskal (fiscal space) yang belum
memadai, karena harus diutamakan belanja yang wajib disediakan oleh
1

Pemerintah sesuai dengan amanat konstitusi dan kebijakan, seperti subsidi,


bunga utang, belanja pegawai, dan transfer ke daerah. Di samping itu, dalam
RAPBN tahun 2015 ini juga, Pemerintah harus mulai memenuhi alokasi dana desa
secara bertahap sesuai ketentuan peraturan perundangan.
Dengan posisi baseline budget tersebut, maka menurut kami, Pemerintah
baru hasil Pemilu tahun 2014 mempunyai ruang gerak dan inisiatif yang lebih
banyak untuk melakukan perubahan terhadap hasil penetapan RAPBN 2015 pada
periode sekarang. Insiatif dan kebijakan baru dapat sepenuhnya dilakukan oleh
Pemerintah baru pada awal tahun 2015, baik penyesuaian besaran-besaran dalam
APBN 2015, maupun penambahan program-program baru yang menjadi visi-misi
Presiden dan Wakil Presiden terpilih.
Dengan mengambil ruang gerak dan insiatif yang lebih luas pada awal
tahun 2015, Pemerintah baru dapat mulai memasukkan program-program baru
visi-misi Presiden dan Wakil Presiden tepilih yang akan dituangkan dalam
RPJMN 2015-2019, serta diimplementasikan dalam perubahan APBN tahun 2015,
yang dapat dilakukan sejak awal tahun 2015. Dengan strategi tersebut, kami yakin
langkah tersebut akan lebih efektif, dan Pemerintah sekarang dapat
mengantarkan proses transisi kepemerintahan menjadi lebih seimbang dan nyata.
Sejalan dengan Rencana Pembangunan jangka Panjang, RAPBN tahun
2015 disusun dengan mengacu pada RKP tahun 2015 yang disusun berdasarkan
tema Melanjutkan Reformasi Pembangunan bagi Percepatan
Pembangunan Ekonomi yang Berkeadilan.
Indikator ekonomi makro tahun 2015 yang dipakai sebagai dasar
penyusunan RAPBN tahun 2015 diperhitungkan dengan outlook ekonomi tahun
2014 serta proyeksi kondisi perekonomian di tahun 2015. Menurut kami, langkahlangkah kebijakan dan inisiatif baru yang dilakukan diakhir tahun 2014 serta awal
tahun 2015 akan dapat merubah proyeksi indikator ekonomi makro yang akan
ditetapkan dalam APBN Tahun 2015.
Demikian juga sasaran target pendapatan Negara, alokasi belanja Negara,
serta Defisit APBN Tahun 2015 dimungkinkan untuk dilakukan perubahan di awal
tahun 2015 sehingga menampung langkah kebijakan Pemerintahan ke depan.
Dalam proposal RAPBN tahun 2015, Pemerintah telah menyampaikan
target pendapatan Negara, baik dari Perpajakan maupun bukan pajak secara lebih
realistis dengan ditopang langkah-langkah kebijakan pendukungnya. Di sisi
Perpajakan, penggalian potensi perpajakan terus dilakukan, terutama dari sektorsektor yang strategis dan bernilai ekonomi, sejalan dengan langkah ekstensifikasi
dan intensifikasi perpajakan. Perbaikan-perbaikan administrasi perpajakan juga
terus dilakukan, dengan didukung penambahan sumber daya manusia yang
berkualitas. Di bidang PNBP, optimalisasi PNBP dari Sumber Daya Alam terus
2

dilakukan dengan tetap menjaga ketahanan SDA untuk generasi mendatang.


Perbaikan regulasi juga dilakukan di bidang PNBP, baik Undang-undang maupun
peraturan di bawahnya yang ditujukan untuk memperbaiki pengelolaan PNBP
serta meningkatkan sumber penerimaan ke depan.
Di bidang belanja Negara, dalam RAPBN tahun 2015 dijaga untuk dapat
mempertahankan program-program pembangunan yang sudah berjalan dengan
baik, kelancaran kegiatan pemerintahan, serta kesinambungan perimbangan
keuangan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Namun seperti
yang kami sampaikan di atas, kami menilai masih terbuka ruang gerak yang dapat
diambil pemerintah baru pada awal tahun 2015 untuk melakukan perubahan dan
tambahan kebijakan dan alokasi anggaran baru, baik melalui belanja pemerintah
pusat maupun transfer ke daerah.
Saudara Ketua dan Para Anggota Dewan yang terhormat,
Kini, perkenankanlah kami menyampaikan tanggapan sebagian terhadap
berbagai hal yang telah disampaikan oleh para juru bicara masing-masing fraksi
dalam Dewan Perwakilan Rakyat, yaitu anggota yang terhormat Sdr. H.
Heriyanto, SE, M.M mewakili Fraksi Partai Demokrat; Sdr. Drs. Roem
Kono mewakili Fraksi Partai Golongan Karya; Sdr. Sayed Muhammad
Muliady, SH mewakili Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan;
Sdr. Ir. H. Yudi Widiana Adia, M.Si mewakili Fraksi Partai Keadilan
Sejahtera; Sdr. Ir. A. Riski Sadig mewakili Fraksi Partai Amanat
Nasional; Sdr. Capt. H. Epyardi Asda, M.Mar mewakili Fraksi Partai
Persatuan Pembangunan; Sdri. Hj. Chusnunia Chalim, M.Si mewakili
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa; Sdr. Ir. Sadar Subagyo mewakili
Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya; dan Sdr. Ir. Nurdin
Tampubolon mewakili Partai Hati Nurani Rakyat.
Perlu kami sampaikan bahwa tanggapan lengkap Pemerintah terhadap
Pemandangan Umum DPR-RI akan kami sampaikan dalam lampiran, yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari tanggapan yang kami sampaikan ini.
Saudara Ketua dan Para Anggota Dewan yang terhormat
Menjawab pertanyaan dari Fraksi Partai Golkar, Fraksi Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera,
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, dan Fraksi Partai Gerindra, terkait
pertumbuhan ekonomi tahun 2015, kiranya dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pemerintah perlu menjaga laju pertumbuhan ekonomi pada batas-batas yang
tidak menimbulkan tekanan yang mengancam stabilitas ekonomi. Dengan
demikian, pertumbuhan 5,6 persen merupakan tingkat pertumbuhan yang cukup
realistis dan konservatif dengan memperhatikan berbagai faktor yang ada, baik

eksternal maupun internal serta dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi sebagai
landasan yang solid bagi terciptanya pertumbuhan yang berkelanjutan.
Dari sisi eksternal, berdasarkan World Economic Outlook 2014, kinerja
ekonomi global memang diperkirakan mengalami perbaikan, khususnya di
negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa.
Namun, masih terdapat risiko yang perlu diwaspadai, yaitu: (1) terkait kinerja
ekonomi Tiongkok sebagai salah satu mitra dagang terbesar Indonesia, yang
selanjutnya akan berpotensi menjadi kendala dalam mendorong laju
pertumbuhan ekspor Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi; (2) perkembangan
harga komoditas internasional yang cukup fluktuatif dengan tren yang masih
menunjukkan pelemahan; (3) implikasi berlanjutnya normalisasi kebijakan
moneter di Amerika Serikat seiring dengan penguatan kinerja perekonomiannya;
Dari sisi internal, kebijakan menjaga stabilitas ekonomi domestik saat ini
menjadi fokus dari kebijakan ekonomi makro, khususnya dalam rangka
memperbaiki posisi keseimbangan eksternal Indonesia, yakni neraca transaksi
berjalan yang mengalami defisit dalam beberapa tahun terakhir yang imbasnya
juga pada pergerakan nilai tukar Rupiah. Oleh karena itu, stance kebijakan makro
Indonesia baik fiskal maupun moneter cenderung lebih konservatif dan berhatihati (prudent). Stabilitas ekonomi mutlak perlu dijaga, mengingat hal tersebut
akan memberikan landasan yang solid serta menjadi prasyarat (necessary
condition) bagi pertumbuhan yang berimbang dan berkelanjutan (balanced and
sustainable growth).
Saudara Ketua dan Para Anggota Dewan yang terhormat
Menanggapi pernyataan dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa,
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, dan Fraksi Partai Persatuan
Pembangunan mengenai tax ratio Indonesia yang masih belum optimal,
sehingga diharapkan dapat ditingkatkan pada level 13-16 persen, dapat kami
sampaikan penjelasan sebagai berikut.
Pemerintah menyadari bahwa potensi penerimaan perpajakan di Indonesia
masih cukup besar. Untuk itu Pemerintah sependapat dengan anggota Dewan
Yang Terhormat untuk melakukan upaya-upaya optimalisasi penerimaan
perpajakan yang dapat mendorong meningkatnya tax ratio Indonesia. Dari tahun
ke tahun, Pemerintah terus berupaya untuk mengoptimalkan penerimaan
perpajakan dengan melakukan berbagai kebijakan, terutama melalui perluasan
basis pajak dan perbaikan administrasi perpajakan.
Sementara itu, terkait dengan besaran tax ratio sebesar 12,32 persen yang
diajukan Pemerintah dalam RAPBN Tahun 2015, kami berpendapat bahwa
penyusunan angka tersebut telah mempertimbangkan dengan kemampuan dan
kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Dengan mempertimbangkan adanya
4

tekanan yang cukup kuat pada sektor-sektor tertentu pada tahun 2015, kami
berpendapat bahwa target penerimaan perpajakan pada tahun 2015 dirasa sudah
cukup optimal. Ke depan, Pemerintah akan tetap berupaya untuk meningkatkan
penerimaan perpajakan sehingga angka tax ratio dapat ditingkatkan secara
berkesinambungan.
Saudara Ketua dan Para Anggota Dewan yang terhormat
Menjawab pertanyaan dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan, Fraksi Gerindra, dan Fraksi Partai Persatuan
Pembangunan mengenai pemenuhan anggaran kesehatan sebesar minimal 5
persen dari APBN di luar gaji, dapat dijelaskan bahwa Pemerintah terus berupaya
untuk meningkatkan anggaran kesehatan dan terus meningkatkan efektivitas
penggunaan anggaran secara lebih fokus dan tepat sasaran. Jumlah anggaran
kesehatan dalam RAPBN tahun 2015 adalah sebesar Rp68,1 triliun, yang tidak
hanya dialokasikan melalui Kementerian Kesehatan, namun juga pada kegiatan
lain di bidang kesehatan, diantaranya Badan Pengawas Obat dan Makanan, Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Askes PNS dan tunjangan
kesehatan Veteran, serta DAK.
Pemanfaatan anggaran kesehatan tersebut digunakan untuk mendorong
upaya optimalisasi pembangunan kesehatan dalam mencapai target-target yang
ditetapkan, serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui
pendekatan preventif dan kuratif. Sementara itu, Pemerintah akan melanjutkan
dan meningkatkan kualitas pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
Kesehatan, termasuk kewajiban terhadap penerima bantuan iuran Jaminan
Kesehatan Nasional.
Saudara Ketua dan Para Anggota Dewan yang terhormat
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan
Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) agar kebijakan anggaran
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mendapatkan prioritas yang tinggi, besaran
iuran PBI agar perlu dikaji ulang agar layak dan memadai, serta persiapan
beroperasinya BPJS Ketenagakerjaan dapat kami sampaikan hal-hal sebagai
berikut.
Pemerintah menyadari dan berkomitmen untuk terus meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat, terutama untuk masyarakat
miskin dan tidak mampu melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Berbagai upaya yang telah dan
akan terus dilakukan pemerintah diantaranya adalah dengan meningkatkan
jumlah fasilitas layanan kesehatan untuk peserta PBI dengan menambah jumlah
5

Puskesmas dan ruang rawat inap kelas III di rumah sakit-rumah sakit
pemerintah, termasuk di daerah perbatasan dan pulau-pulau kecil terluar yang
berpenduduk, serta memperluas jaringan pelayanan kesehatan JKN dengan
rumah sakit-rumah sakit swasta. Hal ini perlu dilakukan agar ketersediaan
fasilitas kesehatan untuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat miskin dan
tidak mampu tersebut dapat mencukupi.
Selanjutnya, terkait dengan besaran premi PBI JKN, Pemerintah juga tetap
memperhatikan kesesuaian antara anggaran yang disediakan dengan layanan
yang diberikan. Dalam RAPBN 2015, alokasi anggaran untuk PBI JKN sebesar
Rp19,9 triliun bagi 86,4 juta jiwa PBI peserta JKN cukup memadai dengan
mempertimbangkan pengaruhnya terhadap ketahanan fiskal, khususnya untuk
RAPBN tahun 2015 dan keseimbangan dengan besaran iuran jaminan kesehatan
bagi non PBI agar tidak menjadi masalah sosial dalam penerapannya.
Berdasarkan hal tersebut, Pemerintah tidak menutup kemungkinan untuk
melakukan penyesuaian anggaran PBI tersebut apabila alokasi anggaran yang
disediakan dipandang masih belum memadai untuk pemberian pelayanan
kesehatan yang optimal. Namun demikian, penyesuaian besaran premi PBI harus
dilakukan setelah dilakukan evaluasi secara menyeluruh.
Selanjutnya, terkait dengan mulai beroperasinya BPJS ketenagakerjaan
pada bulan Juli tahun 2015 dapat pula kami sampaikan penjelasan sebagai
berikut.
Pada tanggal 1 Juli 2015 BPJS Ketenagakerjaan akan menyelenggarakan 4
program, yaitu: (1) jaminan kecelakaan kerja (JKK); (2) jaminan hari tua (JHT);
(3) jaminan pensiun (JP); dan (4) jaminan kematian (JKM) yang dulunya
diselenggarakan oleh PT Jamsostek. Saat ini, PT Jamsostek telah berubah
menjadi BPJS Ketenagakerjaan dan PT Jamsostek telah dinyatakan bubar tanpa
likuidasi. Semua aset dan liabilitas serta hak dan kewajiban hukum PT Jamsostek
menjadi aset dan liabilitas serta hak dan kewajiban hukum BPJS
Ketenagakerjaan, serta semua pegawainya menjadi pegawai BPJS
Ketenagakerjaan. Keempat program tersebut akan diselenggarakan bagi seluruh
pekerja, yang dilaksanakan secara bertahap.
Saudara Ketua dan Para Anggota Dewan yang terhormat
Mengenai strategi dan kebijakan pelaksanaan anggaran, Pemerintah
sependapat dengan Fraksi Partai Demokrat dan Fraksi Partai Persatuan
Pembangunan, bahwa kebijakan yang bersifat ekspansif harus diimbangi
dengan optimalisasi penyerapan anggaran, sehingga memberikan dampak
multiplier yang tinggi bagi perekonomian nasional. Permasalahan penyerapan ini
juga disampaikan Fraksi PAN dan Fraksi PKB. Pemerintah sepenuhnya
menyadari permasalahan penyerapan anggaran yang belum optimal dan pola
penyerapan yang cenderung tinggi di akhir tahun, menyebabkan efektivitas dan
6

daya dorong belanja dalam APBN terhadap perekonomian menjadi tidak


maksimal. Sebagaimana kita ketahui bersama, selama ini kebijakan belanja
ekspansif telah dilakukan dalam batas-batas yang aman, termasuk di tahun 2015
dengan defisit anggaran direncanakan sebesar 2,32 persen dari PDB. Di sisi lain,
realisasi penyerapan anggaran belanja Pemerintah Pusat dalam tiga tahun
terakhir relatif berfluktuasi, berkisar 95 persen hingga 97,3 persen terhadap pagu
di APBNP.
Permasalahan penyerapan anggaran disebabkan oleh berbagai aspek, baik
struktural, institusional, maupun kultural, dimana upaya percepatannya perlu
dibarengi dengan perbaikan tata kelola belanja negara. Untuk itu, masalahmasalah penyerapan anggaran tersebut telah secara bertahap diatasi antara lain
melalui perbaikan: (1) aspek regulasi di bidang pelaksanaan anggaran, agar
tercipta penyerapan anggaran yang optimal dan tidak cenderung menumpuk di
akhir tahun; (2) aspek kelembagaan, melalui pembinaan, sosialisasi dan
bimbingan atas tata cara pengelolaan keuangan kepada seluruh satker di lingkup
K/L; dan (3) aspek inovasi, terkait perbaikan kualitas belanja melalui inisiatif
spending review, dimana fokus belanja diarahkan pada pengukuran-pengukuran
efisiensi dan efektivitas belanja yang dilakukan oleh masing-masing satker.
Selain itu, untuk mengoptimalkan tingkat realisasi penyerapan anggaran
pada K/L, Pemerintah telah dan akan mengambil beberapa langkah strategis, baik
melalui pendekatan fleksibilitas dalam pelaksanaan anggaran maupun melalui
upaya mengurangi jalur birokrasi. Langkah-langkah yang telah dan akan
ditempuh tersebut, di antaranya adalah dengan (a) membentuk Tim Evaluasi dan
Pengawasan Penyerapan Anggaran (TEPPA); (b) mengupayakan percepatan
implementasi Undang-Undang Nomor 2 tahun 2012 tentang pengadaan tanah
bagi pembangunan untuk kepentingan umum; dan (c) melaksanakan reward and
punishment melalui pemberian penghargaan bagi K/L yang dapat
mengoptimalkan anggarannya, dan pemotongan anggaran bagi K/L yang kinerja
anggarannya tidak tercapai dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Melalui upaya-upaya tersebut, diharapkan dampak APBN terhadap
perekonomian khususnya sektor riil dapat dirasakan, sehingga fungsi APBN
khususnya belanja Negara bukan hanya tercermin dalam fungsi alokasi namun
juga fungsi stabilitasi dan distribusi. Terkait dengan penurunan tingkat
kemiskinan, fungsi distribusi belanja terus ditingkatkan melalui perbaikan
kebijakan belanja yang difokuskan kepada masyarakat miskin seperti subsidi dan
bantuan sosial.
Saudara Ketua dan Para Anggota Dewan yang terhormat
Pemerintah sependapat dengan pandangan dari Fraksi PDI Perjuangan,
Fraksi Partai Golongan Karya, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera dan

Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa yang menghendaki agar subsidi yang


diberikan lebih tepat sasaran. Pada prinsipnya penyediaan anggaran subsidi
dalam RAPBN 2015 diarahkan untuk mempertahankan kesejahteraan rakyat,
meringankan beban masyarakat dalam memperoleh kebutuhan dasar dengan
menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, dan menjaga agar produsen mampu
menghasilkan produk kebutuhan masyarakat dengan harga yang terjangkau.
Sampai saat ini, Pemerintah masih konsisten untuk mengalokasikan subsidi,
khususnya untuk rakyat miskin dan petani yang memang layak dan tepat
menerimanya. Sejalan dengan itu, Pemerintah akan berupaya mengendalikan
subsidi secara bertahap, antara lain melalui penataan ulang sistem penyaluran
subsidi agar makin adil dan tepat sasaran melalui sistem seleksi yang ketat dan
basis data yang transparan.
Dalam rangka mengendalikan belanja subsidi energi, Pemerintah telah
mengupayakan dan menyempurnakan berbagai kebijakan khususnya yang terkait
dengan subsidi BBM dan subsidi listrik antara lain melalui: (i) penyesuaian harga
BBM bersubsidi; (ii) peningkatan pengendalian konsumsi BBM bersubsidi, antara
lain melalui pelarangan BBM bersubsidi untuk kendaraan dinas, sektor
perkebunan dan pertambangan; (iii) kebijakan pemanfaatan bahan bakar nabati
dan pemakaian bahan bakar gas untuk transportasi terus ditingkatkan baik dari
sisi regulasi maupun aspek teknis; (iv) peningkatan pengawasan penyaluran BBM
bersubsidi bekerjasama dengan pemerintah daerah dan aparat hukum yang
berwenang, serta penggunaan teknologi tertentu untuk meningkatkan
pengawasan penggunaan BBM bersubsidi; dan, (v) penghapusan subsidi listrik
untuk pelanggan pada berbagai kelompok tarif tertentu secara bertahap sehingga
lebih tepat sasaran.
Sementara itu, untuk subsidi non energi terdapat beberapa kebijakan yang
dilakukan antara lain: (i) subsidi pangan (subsidi raskin) ada pengaturan kembali
jumlah Rumah Tangga Sasaran (RTS) berdasarkan basis data terpadu yang
dikeluarkan oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
(TNP2K), (ii) subsidi pupuk dengan penyempurnaan Rencana Definitif
Kebutuhan Kelompok (RDKK), dan (iii) subsidi benih yang dialokasikan
berdasarkan Daftar Usulan Pembeli Benih Bersubsidi (DUPBB).
Saudara Ketua dan Para Anggota Dewan yang terhormat
Menjawab pertanyaan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi
Kebangkitan Bangsa, dan Fraksi Partai Gerindra berkaitan dengan alokasi
Dana Desa yang belum memadai dan perlu ditingkatkan dalam RAPBN 2015.
Perkembangan desentralisasi fiskal yang dinamis telah menjadikan desa
menjadi berkembang dalam berbagai bentuk, sehingga perlu dilindungi dan
diberdayakan agar menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis. Kondisi tersebut

diharapkan dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan


pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur, dan
sejahtera. Atas dasar itu, pada tahun 2014 Pemerintah bersama-sama dengan
DPR telah menetapkan UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. UU tersebut
antara lain ditujukan untuk meningkatkan pelayanan publik bagi warga
masyarakat desa guna mempercepat perwujudan kesejahteraan umum,
memajukan perekonomian masyarakat desa serta mengatasi kesenjangan
pembangunan nasional, dan memperkuat masyarakat desa sebagai subjek
pembangunan.
Sesuai ketentuan pasal 72 Undang-Undang No.6 Tahun 2014 Tentang
Desa, pendapatan desa yang bersumber dari alokasi APBN, atau Dana Desa,
bersumber dari belanja pusat dengan mengefektifkan program yang berbasis desa
secara merata dan berkeadilan. Besaran alokasi anggaran yang peruntukannya
langsung ke desa ditentukan 10 persen dari dan diluar dana transfer ke daerah (on
top) secara bertahap. Berkaitan dengan hal tersebut, Dana Desa yang mulai
dialokasikan dalam RAPBN tahun 2015 sebagai tahun pertama dan tahun transisi,
dilakukan selain dengan mempertimbangkan kemampuan APBN dan kemampuan
fiskal nasional, juga mempertimbangkan kesiapan kabupaten/kota dalam
melakukan pembinaan dan pengawasan, serta kesiapan desa dalam melaksanakan
penggunaan dana desa. Untuk itu, pada tahap awal. Dana Desa dialokasikan
sebesar Rp9,1 triliun, yang bersumber dari realokasi anggaran PNPM dari
beberapa kementerian negara/lembaga.
Pengalihan anggaran PNPM ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa
selama ini program tersebut cukup efektif untuk meningkatkan pembangunan
dan pemberdayaan masyarakat desa, dengan melibatkan masyarakat desa dalam
proses perencanaan dan pelaksanaan, serta didukung dengan pola pendampingan
teknis pelaksanaan kegiatan dari kementerian negara/lembaga teknis yang
terkait. Selain itu, dalam tahun 2015 juga diperlukan adanya dana pendukung
pada kementerian negara/lembaga teknis untuk melakukan pendampingan
kepada perangkat desa dalam melakukan perencanaan, penganggaran program
dan kegiatan, serta pengelolaan keuangan desa.
Selain Dana Desa yang bersumber dari APBN, setiap desa juga mendapat
alokasi dana yang bersumber dari APBD kabupaten/kota berupa: (a) Bagi hasil
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) Kabupaten/Kota paling sedikit 10
persen; (b) Alokasi Dana Desa (ADD) paling sedikit 10 persen dari dana
perimbangan yang diterima kabupaten/kota setelah dikurangi Dana Alokasi
Khusus; dan (c) Bantuan keuangan dari APBD provinsi dan APBD
kabupaten/kota. Dapat kami sampaikan juga bahwa, pendapatan desa juga
bersumber dari: (a) pendapatan asli Desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset,
swadaya dan partisipasi, gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli Desa; (b)

hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga; dan (c) lain-lain
pendapatan Desa yang sah.
Dengan demikian, secara keseluruhan sumber dana yang tersedia untuk
desa baik dari APBN dan APBD, relatif memadai setiap tahunnya untuk
melaksanakan kewenangan desa.
Saudara Ketua dan Para Anggota Dewan yang terhormat
Terhadap pandangan Fraksi Partai Golongan Karya, Fraksi Partai
Demokrat, dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengenai kebijakan
defisit anggaran, dapat disampaikan tanggapan sebagai berikut.
Kebijakan defisit anggaran pada RAPBN tahun 2015 diarahkan untuk
memperkuat stimulus fiskal dalam rangka percepatan pertumbuhan ekonomi
yang berkelanjutan dan berkeadilan dengan tetap mengendalikan risiko dan
menjaga kesinambungan fiskal. Langkah-langkah yang akan dilakukan untuk
mengendalikan risiko dan menjaga kesinambungan fiskal diantaranya, (1)
mengendalikan defisit sesuai ketentuan UU, (2) pengendalian rasio utang
terhadap PDB, dan (3) mengendalikan risiko fiskal dalam batas aman.
Selanjutnya, untuk menjaga kesinambungan fiskal jangka menengah,
Pemerintah konsisten untuk menjaga defisit kumulatif APBN dan APBD di bawah
ambang batas 3 persen terhadap PDB, agar Indonesia dapat terhindar dari krisis
utang seperti yang melanda beberapa negara Uni Eropa sebagai akibat kekurang
disiplinan dalam pengelolaan fiskalnya.
Menanggapi pandangan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera untuk
lebih memprioritaskan penerbitan sukuk negara dengan underlying proyek
(project based sukuk), Pemerintah sependapat dengan pandangan tersebut.
Untuk itu, pada RAPBN tahun 2015 akan memanfaatkan instrumen project based
sukuk sebesar Rp7,5 triliun, antara lain untuk membiayai pembangunan jalan di
beberapa propinsi/kabupaten/kota, pembangunan proyek Railway Electrification
and Double-Double Tracking of Java Main Line Project Phase I, serta
pembangunan revitalisasi asrama haji, kantor urusan agama (KUA), dan
perguruan tinggi Islam negeri. Untuk tahun mendatang, Pemerintah berusaha
agar pendanaan proyek melalui project based sukuk dapat semakin meningkat.
Saudara Ketua dan Para Anggota Dewan yang terhormat,
Demikianlah tanggapan Pemerintah atas Pemandangan Umum DPR RI
berkenaan dengan RUU tentang APBN Tahun 2015 beserta Nota Keuangannya.
Akhirnya, atas nama Pemerintah, kami menyambut baik persetujuan
Anggota Dewan yang terhormat untuk membahas RUU APBN 2015 beserta

10

Nota Keuangannya dalam tahap berikutnya. Atas dasar prinsip kemitraan dan
tanggung jawab bersama dalam mengemban amanat rakyat, maka kami percaya
bahwa kewajiban konstitusional yang diamanatkan kepada Pemerintah dan
Dewan ini dapat diselesaikan secara tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah
ditetapkan.
Kita berdoa kepada Allah S.W.T, Tuhan Yang Maha Esa, agar kita
senantiasa diberi kekuatan dan kemampuan dalam menjalankan dan
menyelesaikan tugas dan tanggung jawab kepada negara ini.
Sekian dan terima kasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Jakarta, Agustus 2014
A.N. PEMERINTAH
MENTERI KEUANGAN

MUHAMAD CHATIB BASRI

11

LAMPIRAN

A. PEREKONOMIAN GLOBAL
DASAR EKONOMI MAKRO

DAN

DOMESTIK,

SERTA

ASUMSI

Menanggapi pandangan Fraksi Partai Demokrat mengenai ruang gerak fiskal


bagi pemerintahan baru, kiranya dapat kami sampaikan bahwa strategi yang
ditempuh dalam perumusan kebijakan fiskal diarahkan untuk memperkuat stimulus
fiskal guna mendorong upaya akselerasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan
sekaligus perbaikan pemerataan hasil-hasil pembangunan nasional agar memenuhi
aspek keadilan dengan tetap mengendalikan risiko dan menjaga kesinambungan
fiskal. Secara umum formulasi kebijakan fiskal dalam tahun 2015 bersifat baseline
mengingat tahun 2015 merupakan tahun transisi kepemerintahan sehingga lebih
difokuskan untuk memperhitungkan kebutuhan pokok dan menjaga
terselenggaranya pelayanan publik secara optimal.Belanja wajib tahun 2015 memang
harus diakui masih cukup besar. Belanja wajib tersebut mencakup antara lain
belanja pegawai, anggaran pendidikan, pembayaran bunga utang, subsidi, dan
transfer ke daerah. Tahun 2015 merupakan momentum untuk melakukan reformasi
sektor fiskal.Dengan strategi tersebut, hal itu diyakini dapat memberikan ruang
gerak/fleksibilitas
yang
memadai
kepada
Pemerintah
baru
dalam
mengimplementasikan platform-nya.
Terkait dengan pandangan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan mengenai
daya saing perkonomian, kiranya dapat dijelaskan bahwa terdapat beberapa faktor
yang mempengaruhi daya saing suatu negara di kancah perekonomian global, antara
lain institusi, infrastruktur, ekonomi makro, pendidikan, efisiensi pasar barang,
pasar tenaga kerja, dan teknologi. Meskipun peringkat daya saing Indonesia masih
berada di bawah beberapa negara Asia, tetapi kenaikan peringkat di tahun ini cukup
signifikan. Peringkat daya saing Indonesia (World Economic Forum) meningkat 12
poin, dari peringkat 50 pada tahun 2012-2013 menjadi peringkat 38 pada tahun
2013-2014, yang merupakan peningkatan tertinggi selama ini. Daya saing Indonesia
kini lebih tinggi dari rata-rata daya saing negara-negara kategori efficiency-driven
economy, atau negara dengan pendapatan perkapita US$3.000-US$8.999.
Selain itu, perspektif dan minat investor asing terhadap kegiatan investasi di
Indonesia juga cukup baik. Pada tahun 2013, pertumbuhan investasi langsung di
Indonesia mencapai 27,3 persen. Tingginya minat investasi di Indonesia juga
tercermin pada beberapa hasil survei yang dilakukan oleh lembaga
internasional.Japan Bank for International Cooperation (JBIC) pada akhir tahun
2013 mengeluarkan hasil suvei yang menempatkan Indonesia sebagai peringkat
pertama tujuan investasi bagi perusahaan asal Jepang. Selain itu, The Economist
melansir data yang menyebutkan bahwa pada tahun 2013, Indonesia merupakan
negara tujuan investasi ketiga terbaik setelah Tiongkok dan India. Hal tersebut,

-L.1-

tentunya menggambarkan progres yang semakin baik dari kinerja perekonomian


Indonesia, dan harus dapat dipertahankan, bahkan ditingkatkan dengan dukungan
kelembagaan, infrastruktur, dan sumber daya manusia, terutama di masa persaingan
yang semakin ketat dengan kondisi perekonomian global yang belum sepenuhnya
pulih.
Kami mengucapkan terima kasih atas pandangan dan masukan dari Fraksi Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, dan
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa terkait dengan pertumbuhan ekonomi yang
berkualitas, pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan. Pemerintah sependapat
bahwa pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat seharusnya diikuti dengan
peningkatan kesejahteraan masyarakat, yang selain tercermin dari peningkatan
pendapatan, juga terlihat dari penurunan angka kemiskinan dan pengangguran.
Pada prinsipnya, Pemerintah merumuskan target tingkat pengangguran dan
kemiskinan dalam dimensi jangka panjang, jangka menengah, maupun jangka
pendek sebagaimana tertuang dalam RPJPN, RPJMN, dan RKP. Sementara itu,
berbagai faktor dan pertimbangan yang digunakan Pemerintah dalam menentukan
target pengangguran dan kemiskinan di antaranya dinamika perekonomian, baik
global maupun domestik, kinerja pertumbuhan ekonomi dan stabilisasi ekonomi,
serta dinamika pembangunan nasional, khususnya dari sisi ketersediaan sumbersumber pembiayaan pembangunan nasional. Selama ini, Pemerintah cenderung
mengambil sikap moderat dalam menentukan target pengangguran dan kemiskinan
agar lebih realistis.
Namun, Pemerintah selama ini terus berupaya melakukan berbagai terobosan
kebijakan dan langkah-langkah inovatif dalam rangka menurunkan angka
pengangguran dan kemiskinan. Berbagai upaya kebijakan dan langkah Pemerintah
terbukti telah berhasil menurunkan tingkat pengangguran dan kemiskinan dalam
sepuluh tahun terakhir secara konsisten dan berkesinambungan. Pada tahun 2005
misalnya, tingkat pengangguran terbuka masih sebesar 11,24 persen dan terus
menurun secara konsisten menjadi 6,25 persen pada tahun 2013. Pada bulan
Februari 2014, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kembali turun menjadi 5,71
persen. Sejalan dengan penurunan TPT, tingkat kemiskinan juga cenderung terus
turun. Pada tahun 2005, tingkat kemiskinan masih sebesar 15,97 persen (35,10 juta
orang) dan pada 2013 turun menjadi 11,46 persen (17,92 juta orang). Data
kemiskinan per Maret 2014 tercatat kembali turun menjadi 11,25 persen (28,28 juta
orang).
Pada tahun 2015, Pemerintah akan berupaya menurunkan tingkat pengangguran
dan angka kemiskinan melalui berbagai program dan kebijakan strategis. Kebijakan

-L.2-

dalam rangka penurunan pengangguran di antaranya berupa peningkatan belanja


modal dalam APBN, penguatan proyek pembangunan yang bersifat padat karya,
dukungan untuk penciptaan industri kreatif dan pemberdayaan masyarakat, serta
percepatan pembangunan infrastruktur dalam kerangka Masterplan Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Sementara itu, berbagai program dan langkah untuk menurunkan angka kemiskinan
di antaranya adalah penguatan alokasi belanja produktif untuk penanggulangan
kemiskinan, pemberian subsidi, bantuan sosial, program perlindungan sosial,
program pemberdayaan masyarakat, dukungan keuangan untuk masyarakat
berpenghasilan rendah baik dalam bentuk dana penjaminan kredit/pembiayaan bagi
usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) dan koperasi, serta dukungan bantuan tunai
bersyarat. Selain itu, dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan,
Pemerintah sejak tahun 2011 juga telah mensinergikan dua strategi pembangunan
utama yaitu Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia (MP3EI) dan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan
Kemiskinan Indonesia (MP3KI).
Pemerintah pada tahun 2015 juga mulai memberlakukan UU Nomor 6 Tahun 2014
tentang Desa sebagai upaya konkret untuk lebih memberdayakan desa dalam
pembangunan nasional, sekaligus mempercepat penurunan kemiskinan di pedesaan,
mengingat konsentrasi kemiskinan berada di perdesaan. Pemerintah sejak 1 Januari
2014 juga mulai mengimplementasikan program perlindungan sosial melalui Sistem
Jaminan Sosial Nasional (SJSN) kesehatan untuk memberikan jaminan kesehatan
kepada masyarakat bawah. Sementara itu, SJSN Program Ketenagakerajaan yang
menyelenggarakan jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan pensiun,
dan jaminan hari tua ditargetkan mulai beroperasi paling lambat pertengahan tahun
2015.
Terkait dengan ketimpangan dalam distribusi pendapatan, pada tahun 2015
Pemerintah akan melakukan berbagai kebijakan seperti perluasan akses dalam
rangka pemenuhan hak dasar masyarakat, seperti akses kesehatan, pendidikan,
perumahan, listrik, air, dan perluasan infrastruktur dasar untuk penguatan
pelayanan kepada masyarakat. Sementara itu, untuk menurunkan ketimpangan
antarwilayah, Pemerintah akan melakukan berbagai cara seperti pengembangan
kawasan strategis sebagai pusat
pertumbuhan ekonomi seperti kawasan
pembangunan ekonomi terpadu (Kapet), kawasan ekonomi khusus, dan kawasan
perdagangan bebas dan pelabuhan bebas,serta penguatan pembangunan
infrastruktur khususnya terkait komunikasi dan transportasi, termasuk penguatan
infrastruktur untuk peningkatan konektivitas dan pelayanan masyarakat dan
penyempurnaan kebijakan dalam alokasi dana transfer ke daerah.

-L.3-

Menjawab pertanyaan dari Fraksi Partai Golkar, Fraksi Partai Demokrasi


Indonesia Perjuangan, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi Partai
Kebangkitan Bangsa, dan Fraksi Partai Gerindra, terkait pertumbuhan
ekonomi tahun 2015, kiranya dapat dijelaskan sebagai berikut. Pemerintah perlu
menjaga laju pertumbuhan ekonomi pada batas-batas yang tidak menimbulkan
tekanan yang mengancam stabilitas ekonomi. Dengan demikian, pertumbuhan 5,6
persen merupakan tingkat pertumbuhan yang cukup realistis dan konservatif dengan
memperhatikan berbagai faktor yang ada, baik eksternal maupun internal serta
dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi sebagai landasan yang solid bagi
terciptanya pertumbuhan yang berkelanjutan.
Dari sisi eksternal, berdasarkan World Economic Outlook 2014, kinerja ekonomi
global memang diperkirakan mengalami perbaikan, khususnya di negara-negara
maju seperti Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa. Namun, masih terdapat
risiko yang perlu diwaspadai, terutama terkait kinerja ekonomi Tiongkok yang
merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Saat ini, porsi ekspor
Indonesia ke Tiongkok sekitar 13 persen dari total ekspor ke seluruh dunia. Dalam
dua tahun terakhir, kinerja ekspor Indonesia ke Tiongkok dalam tren yang menurun,
bahkan pada Semester I 2014, nilai ekspor kita ke Tiongkok tumbuh negatif sekitar
11 persen (ytd). Perkembangan harga komoditas internasional yang cukup fluktuatif
dengan tren yang masih menunjukkan pelemahan belakangan ini juga merupakan
risiko lain yang perlu diwaspadai terkait prospek kinerja ekspor Indonesia.
Selain itu, kondisi global yang masih perlu diwaspadai adalah implikasi berlanjutnya
normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat seiring dengan penguatan kinerja
perekonomiannya. Setelah kebijakan tapering off di tahun 2015, the Fed
diperkirakan akan mendorong peningkatan suku bunga Fed Fund Rate. Kebijakan
tersebut diperkirakan akan menyebabkan capital reversal dari emerging markets ke
Amerika Serikat. Hal tersebut akan menyebabkan tekanan likuiditas, yang pada
gilirannya dapat mengganggu kinerja ekonomi di emerging markets tersebut. Pada
gilirannya, perbaikan pertumbuhan ekonomi dan permintaan global secara relatif
masih akan tertahan. Lebih jauh lagi, risiko tekanan ekonomi dunia dan mitra
dagang utama masih merupakan faktor kendala dalam mendorong laju
pertumbuhan ekspor Indonesia ke tingkat yang tinggi.
Dari sisi internal, harus dipahami pula bahwa kebijakan menjaga stabilitas ekonomi
domestik saat ini menjadi fokus dari kebijakan ekonomi makro, khususnya dalam
rangka memperbaiki posisi keseimbangan eksternal Indonesia, yakni neraca
transaksi berjalan yang mengalami defisit dalam beberapa tahun terakhir yang
imbasnya juga pada pergerakan nilai tukar Rupiah. Harus diakui pula bahwa dalam

-L.4-

jangka pendek, demand management merupakan pilihan yang terbaik mengingat


perbaikan di sisi supply membutuhkan waktu yang relatif lebih lama.Oleh karena
itu,stance kebijakan makro Indonesia baik fiskal maupun moneter cenderung lebih
konservatif dan berhati-hati (prudent). Stabilitas ekonomi mutlak perlu dijaga,
mengingat hal tersebut akan memberikan landasan yang solid serta menjadi
prasyarat (necessary condition) bagi pertumbuhan yang berimbang dan
berkelanjutan (balanced and sustainable growth).
Menanggapi pandangan dari Fraksi Partai Golongan Karya, Fraksi Partai
Kebangkitan Bangsa, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,
Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, dan
Fraksi Partai Gerindra terkait dengan asumsi nilai tukar rupiah, dapat dijelaskan
sebagai berikut. Pemerintah sependapat bahwa volatilitas nilai rupiah perlu dijaga
agar bergerak pada level yang stabil sehingga dapat mendukung dan mendorong
stabilitas perekonomian nasional dan menjaga daya saing ekonomi Indonesia.
Pergerakan nilai tukar rupiah ke depan masih akan dipengaruhi oleh beberapa faktor
fundamental dan non-fundamental, antara lain:
(1) kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat mengurangi stimulus ekonomi
(tapering off) serta potensi meningkatnya suku bunga acuan the Fed yang akan
mendorong terjadinya arus modal keluar (flight to quality) sehingga
memberikan dampak pada tajamnya fluktuasi mata uang dunia terhadap dolar
AS, termasuk Rupiah;
(2) kekhawatiran investor terhadap perkembangan ekonomi yang melanda negaranegara emerging markets terutama di Tiongkok, Brazil, dan India (BRICS) telah
berdampak pada aktivitas transaksi perekonomian di pasar internasional; dan
(3) gejolak harga minyak dunia yang diakibatkan gejolak geopolitik beberapa negara
produsen seperti di kawasan Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa Tengah, serta
Amerika Selatan berpotensi menimbulkan dampak lanjutan terhadap risiko
volatilitas nilai tukar rupiah dan meningkatnya laju inflasi.
Pemerintah juga akan melanjutkan program dan kebijakan ekonomi dalam rangka
menjaga kestabilan nilai tukar rupiah dan neraca transaksi berjalan serta menjaga
pencapaian dan peningkatan pertumbuhan ekonomi, antara lain melalui kebijakan:
(1) perbaikan defisit transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah terhadap dolar antara
lain melalui kebijakan untuk mendorong ekspor, mengurangi impor (terutama
impor migas), serta pengembangan sumber energi alternatif;
(2) kebijakan untuk menjaga dan meningkatkan daya beli masyarakat, menjaga
gejolak harga dan mengendalikan laju inflasi, antara lain dengan penerapan
kebijakan harga referensi untuk menggantikan sistem kuota; dan
-L.5-

(3) kebijakan meningkatkan investasi, melanjutkan percepatan renegosiasi kontrak


karya pertambangan, serta mempercepat pelaksanaan proyek-proyek
infrastruktur strategis.
Untuk menjaga nilai tukar rupiah pada level yang stabil, Pemerintah terus
meningkatkan sinergi dan koordinasi dengan Bank Indonesia sebagai langkah
antisipasi dalam menjaga volatilitas nilai tukar rupiah. Penguatan kebijakan, baik
mikro maupun makro prudensial terhadap arus modal asing yang masuk, ditujukan
untuk mengurangi risiko pembalikan modal asing (sudden capital reversal) dan
menjaga agar pergerakan nilai tukar rupiah tetap sejalan dengan pergerakan mata
uang di kawasan Asia. Melalui sinergi dan harmonisasi kebijakan fiskal, moneter,
dan sektor riil diharapkan dapat tercipta iklim yang kondusif untuk mengantisipasi
krisis pada sektor keuangan, menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, mengendalikan
laju inflasi, dan menjaga stabilitas pasar keuangan nasional. Selain itu, upaya
pendalaman pasar keuangan (financial deepening) serta penguatan akses ke sektor
keuangan (financial inclusion) akan terus dilaksanakan guna memperkuat basis
perekonomian nasional serta mendorong upaya peningkatan alternatif sumber
pembiayaan nasional. Meskipun berpotensi mengalami tekanan, nilai tukar rupiah
diperkiraan masih akan bergerak pada level fundamental saat ini, dengan
pergerakan rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sepanjang tahun 2015
pada kisaran Rp11.900 per dolar AS.
Menanggapi pertanyaan dari Fraksi Partai Golongan Karya, Fraksi Partai
Kebangkitan Bangsa, Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya, Fraksi
Partai Hati Nurani Rakyat, dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera terkait
dengan besaran asumsi laju inflasi tahun 2015 sebesar 4,4 persen serta
permasalahan inflasi dan potensi tekanan kenaikan inflasi yang bersumber dari
gejolak harga bahan pangan dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pada prinsipnya, Pemerintah sependapat bahwa target pertumbuhan ekonomi yang
tinggi harus disertai dengan upaya menjaga agar laju inflasi berada pada level yang
rendah dan stabil. Laju inflasi yang rendah dan stabil memiliki peranan yang sangat
penting untuk menciptakan stabilitas perekonomian nasional, serta mendukung
upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, dalam jangka panjang, laju
inflasi nasional yang rendah dan stabil dapat mendorong perekonomian nasional
untuk konvergen dengan negara-negara di kawasan, sehingga ke depan diharapkan
agar perekonomian nasional dapat lebih kompetitif.
Berdasarkan data historis, perkembangan laju inflasi nasional beberapa tahun
terakhir tidak dapat dilepaskan dari pengaruh fluktuasi harga komoditas bahan
pangan dan energi yang terjadi di pasar internasional. Transmisi tersebut didorong

-L.6-

oleh perkembangan harga komoditas energi di pasar internasional yang semakin


meningkat. Peningkatan harga komoditas energi tersebut pada gilirannya
mendorong peningkatan harga komoditas bahan pangan, mengingat inovasi
teknologi diarahkan untuk mengkonversi komoditas bahan pangan sebagai sumber
energi alternatif (bio-fuel). Pada kondisi yang lain, peningkatan produksi bahan
pangan belum dapat memenuhi peningkatan jumlah permintaan, sehingga
menimbulkan kesenjangan (output gap). Kesenjangan tersebut seringkali juga
diperparah oleh gangguan produksi yang disebabkan karena beberapa kendala
alamiah seperti bencana alam, perubahan iklim, dan faktor di luar kendali manusia
lainnya.
Guna mendukung komitmen untuk mengendalikan laju inflasi yang didorong oleh
gejolak harga bahan pangan, beberapa kebijakan Pemerintah antara lain:
(1) penyediaan alokasi anggaran serta percepatan pelaksanaan program
pembangunan dalam upaya untuk meningkatkan produksi dan pasokan bahan
pangan serta pembangunan infrastruktur guna mendukung interkoneksi wilayah
dalam rangka memperlancar kelancaran arus distribusi bahan kebutuhan pokok
masyarakat;
(2) peningkatan produktivitas pertanian melalui peningkatan sarana dan prasarana
produksi, inisiatif dan riset pengembangan, komunikasi dan informasi iklim,
pendampingan dan penyuluhan petani, serta pengendalian terpadu
hama/organisme pengganggu tanaman (OPT);
(3) pemberdayaan peran aktif lembaga penyangga pangan nasional dalam upaya
memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, serta bekerja sama dengan BUMN,
BUMD, dan sektor swasta melalui skema pelaksanaan corporate social
responsibility (CSR) di daerah;
(4) penegakan aturan guna mencegah/mengurangi upaya konversi lahan beririgasi
teknis dari peruntukan pertanian ke non-pertanian serta percepatan upaya
pencetakan lahan sawah baru di beberapa daerah, seperti di wilayah Maluku,
Papua, Sumatra dan Kalimantan;
(5) peningkatan kerja sama dengan aparat penegak hukum, Polri dan Kejaksaan
Agung, untuk menindak dan menjatuhkan sanksi yang tegas terhadap aksi
spekulasi dan penimbunan barang yang dapat menimbulkan keresahan
masyarakat dan mengganggu sistem distribusi nasional;
(6) penyediaan layanan informasi harga pangan yang terintegrasi sehingga
mengurangi potensi asymmetric information sehingga masyarakat dapat
mengetahui secara pasti tentang perkembangan harga dan ketersediaan barang
kebutuhan pokok sehingga dapat menahan ekspektasi harga yang berlebihan di
masyarakat;

-L.7-

(7) diseminasi kebijakan dan edukasi kepada masyarakat dalam rangka


pengendalian ekspektasi inflasi masyarakat, serta menetapkan sasaran inflasi
dalam rangka inflation targeting framework (ITF) guna mengendalikan inflasi
masyarakat dalam jangka menengah;
(8) pelaksanaan kerja sama regional dan bilateral dalam rangka pengembangan dan
peningkatan bahan pangan (antara lain melalui Inisiatif Cadangan Beras
ASEAN+3/ASEAN+3 Emergency Rice Reserve-APTERR).
Terkait dengan sinergi kebijakan fiskal, moneter dan sektor riil, dapat dijelaskan
bahwa Pemerintah dan BI terus berupaya untuk meningkatkan koordinasi dalam
mengendalikan inflasi, baik di tingkat pusat maupun daerah (TPI dan Pokjanas
TPID). Melalui sinergi kebijakan tersebut diharapkan agar pengendalian inflasi
menjadi lebih efektif dan diarahkan untuk dapat mengatasi kendala struktural yang
ada. Semakin meningkatnya kesadaran dan peran aktif daerah dalam pengendalian
inflasi, serta ketegasan dalam mengambil langkah-langkah strategis mengendalikan
kenaikan harga-harga barang dan jasa serta menjaga ketersediaan pasokan bahan
pangan, juga diharapkan membantu pengendalian laju inflasi nasional.
Dengan memperhatikan perkembangan laju inflasi beberapa tahun terakhir dan
semakin stabilnya perkembangan harga komoditas bahan pangan dan energi, serta
relatif terbatasnya kebijakan di bidang harga (administered prices) maka laju inflasi
tahun 2015 diperkirakan sebesar 4,4 persen, mendekati titik tengah rentang sasaran
inflasi yang ditetapkan, 4 persen 1 persen.
Menanggapi pandangan dari Fraksi Partai Golkar, Fraksi Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, dan Fraksi
Partai Hanura terkait dengan asumsi suku bunga Surat Perbendaharaan Negara 3
bulan dapat kami sampaikan tanggapan sebagai berikut. Pemerintah sependapat
dengan pandangan Dewan yang terhormat bahwa semakin tinggi asumsi suku bunga
SPN 3 bulan akan berpengaruh pada semakin meningkatnya beban bunga yang
harus ditanggung oleh Pemerintah. Namun, perlu kami sampaikan juga bahwa
besarnya tingkat suku bunga SPN 3 bulan lebih ditentukan oleh kondisi pasar
seperti yang tercermin dalam besarnya permintaan dan penawaran pada saat proses
pelelangan. Selain itu, persepsi pasar terkait fundamental perekonomian Indonesia
juga cukup menentukan besaran suku bunga SPN 3 bulan tersebut.
Hingga Agustus 2014, realisasi rata rata tingkat suku bunga SPN 3 bulan tahun 2014
mencapai 5,7 persen. Dengan memperhatikan bahwa pada tahun 2015 diperkirakan
masih akan terdapat tekanan yang bersumber dari risiko meningkatnya suku bunga
Fed Fund Rate (FFR) di Amerika Serikat, diperkirakan masih akan terjadi
peningkatan tingkat suku bunga obligasi domestik di tahun yang akan datang.

-L.8-

Meskipun demikian, Pemerintah akan terus bekerja sama dengan otoritas moneter
terutama dalam menjaga persepsi positif pasar melalui berbagai upaya menjaga
stabilitas dan perbaikan fundamental ekonomi. Upaya pendalaman pasar keuangan
melalui berbagai strategi kebijakan seperti financial inclusion dan financial
deepening diharapkan akan berdampak positif bagi peningkatan sumber
pembiayaan dalam negeri dan selanjutnya menjadi insentif penurunan suku bunga
dalam negeri. Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, rata-rata suku bunga
SPN 3 bulan pada tahun 2015 diperkirakan akan berada pada kisaran 6,2 persen.
Menanggapi pandangan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera dan Fraksi
Partai Kebangkitan Bangsa terkait dengan harga minyak mentah (ICP) dapat
kami sampaikan bahwa Pemerintah sepakat asumsi harga minyak mentah harus
didasarkan pada hasil analisis dan mempertimbangkan variabel-variabel yang dapat
mempengaruhi fluktuasi harga minyak mentah dunia. Berkenaan dengan hal
tersebut, dalam menentukan asumsi harga minyak mentah RAPBN 2015,
Pemerintah telah mempertimbangkan berbagai variabel fundamental, sebagai
berikut:
(a) penawaran dan permintaan minyak mentah (faktor fundamental harga), dengan
melihat perkembangan pasokan minyak mentah dari negara-negara OPEC (Timur
Tengah), Amerika Selatan, Amerika, Rusia dan sekitarnya, dan kawasan Laut Utara
serta permintaan minyak mentah dari negara-negara OECD dan non-OECD;
(b) kondisi ekonomi global dengan memperhatikan perkembangan pertumbuhan
ekonomi di Amerika dan negara-negara Eropa; dan (c) kondisi geopolitik dengan
mempertimbangkan kondisi negara-negara produsen minyak yang sedang dilanda
konflik keamanan (peperangan) seperti Suriah dan Iran.
Selain faktor-faktor fundamental dan non-fundamental tersebut, hal lain yang harus
diperhatikan adalah kemungkinan adanya spekulasi harga minyak yang dilakukan
oleh pihak-pihak yang ingin memperoleh keuntungan, mengingat minyak mentah
merupakan komoditi ekonomi yang sangat liquid dan strategis dalam
perekonomian. Untuk itu, mekanisme lindung nilai dipandang sebagai salah satu
upaya yang dapat dipertimbangkan oleh Pemerintah untuk meminimalkan dampak
fluktuasi harga minyak mentah internasional terhadap harga minyak mentah
Indonesia. Namun, strategi lindung nilai terhadap harga ICP masih perlu dikaji dari
sisi biaya dan manfaat, payung hukum dan akuntabilitas apabila kebijakan lindung
nilai tersebut menimbulkan kerugian.
Selanjutnya, Pemerintah terus mencermati dinamika pergerakan harga minyak
dunia dan kecenderungannya ke depan, serta mempertimbangkan perkiraan harga
minyak oleh berbagai lembaga/institusi internasional.Dengan demikian, asumsi

-L.9-

harga minyak mentah Indonesia tahun 2015 sebesar US$105 per barel dinilai cukup
realistis.
Sehubungan dengan pandangan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi Partai Hanura, dan
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa terkait lifting minyak mentah dapat kami
sampaikan bahwa Pemerintah sepakat target lifting minyak mentah tahun 2015
harus dihitung secara realistis dan perlu dilakukan upaya serius untuk mencapai
target tersebut. Usulan target lifting minyak mentah sebesar 845 ribu barel per hari
dalam RAPBN tahun 2015 telah mempertimbangkan dan memperhitungkan potensipotensi serta kendala dalam operasional produksi. Pemerintah akan serius dan
bekerja keras untuk mempercepat berproduksinya lapangan Cepu. Pada tahun 2015,
dari lapangan Cepu diperkirakan akan terdapat tambahan produksi minyak mentah
sebesar 165 MBOPD. Pemerintah juga secara kontinyu akan menjalankan program
dan penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) di lapangan-lapangan
existing untuk mengoptimalkan tingkat produksi dari lapangan-lapangan minyak
tersebut. Beberapa pilot project dalam implementasi EOR telah dilakukan pada
lapangan migas PT Chevron Pacific Indonesia (CPI), PT Pertamina EP, dan PT
Medco E&P Indonesia. Teknologi EOR yang digunakan untuk mempertahankan laju
produksi lapangan migas tersebut meliputi penggunaan chemical compound
(senyawa kimia/surfactant), water injection, dan steam injection.
Selain upaya-upaya teknis, Pemerintah juga akan secara konsisten dan terpadu
menyempurnakan kebijakan dan regulasi di sektor kegiatan usaha hulu migas untuk
memberikan kepastian hukum dan memperbaiki iklim investasi yang lebih kondusif
guna mendorong investasi di sektor migas. Dengan masuknya investasi di sektor
migas, diharapkan dapat lebih meningkatkan kegiatan survei (seismik) dan
eksplorasi migas untuk menemukan cadangan-cadangan migas yang baru.Salah satu
regulasi yang sedang disiapkan penyempurnaannya oleh Pemerintah adalah
masukan pasal-pasal dalam revisi UU No. 22 Tahun 2001 tentang Migas.
Pemerintah juga sependapat dengan anggota Dewan mengenai perlunya dilakukan
audit kinerja terhadap SKK Migas dan kontraktor migas. Pada tahun 2014,
Pemerintah telah meminta BPKP untuk melakukan audit dengan tujuan tertentu
terhadap SKK Migas terkait dengan lifting dan cost recovery. Selain itu, Pemerintah
juga berpandangan bahwa pengawasan terhadap produksi dan lifting perlu
dilakukan secara manual dengan menempatkan pengawas di lapangan maupun
pengawasan menggunakan sistem informasi online. Dengan demikian diharapkan
kebocoran produksi dan lifting dapat dideteksi secara dini dan diambil langkahlangkah antisipasi secara cepat dan tepat. Untuk itu, Pemerintah bersama SKK

-L.10-

Migas saat ini sedang membangun mengembangkan sistem informasi migas yang
terintegrasi untuk memonitor produksi dan lifting migas nasional secara real time.
Menanggapi pendapat Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa mengenai lifting gas bumi, kiranya dapat
dijelaskan bahwa Pemerintah juga sangat menaruh perhatian terhadap peningkatan
produksi gas sebagai salah satu sumber energi alternatif dan sumber penerimaan
negara. Mengingat produksi minyak bumi yang cenderung menurun, kegiatan hulu
minyak dan gas bumi Indonesia telah mengalami transformasi dari era minyak
menuju era gas. Hasil eksplorasi lapangan-lapangan migas pada tahun-tahun
terakhir lebih banyak menemukan cadangan gas bumi. Secara kumulatif, tren
penurunan produksi minyak terkompensasi dengan peningkatan produksi gas bumi
yang dilakukan dengan memperhatikan terjaminnya kebutuhan gas dalam negeri
yang semakin meningkat. Peningkatan penggunaan gas dalam negeri merupakan
prioritas kebijakan Pemerintah terutama untuk bahan baku pupuk, pembangkit
listrik, industri dan masyarakat lainnya dalam rangka mendukung penguatan
perekonomian nasional secara keseluruhan.
Dalam rangka meningkatkan produksi gas nasional, Pemerintah akan berupaya
secara serius dan maksimal untuk mempercepat realisasi produksi pada beberapa
lapangan gas baru seperti South Mahakam 3 dan Bekapai Redevelopment Phase 2B
pada tahun 2015. Pemerintah sependapat bahwa produksi gas nasional tidak hanya
semata-mata untuk penerimaan negara dengan diekspor, tetapi tetap harus
memperhitungkan pemenuhan kebutuhan domestik bagi industri, PT. PLN, dan
rumah tangga. Pemerintah telah dan sedang mengupayakan agar produksi gas yang
saat ini diekspor dapat dialihkan untuk kebutuhan dalam negeri. Selain itu, untuk
memperkuat supply bagi kebutuhan gas di dalam negeri, produksi yang dihasilkan
dari lapangan-lapangan gas yang baru akan digunakan untuk memasok kebutuhan
gas domestik.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Golkar terkait neraca perdagangan, kiranya
dapat kami sampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir kondisi neraca
perdagangan mengalami tekanan yang bersumber pada defisit neraca migas,
khususnya akibat peningkatan kebutuhan dalam negeri untuk mendukung aktivitas
ekonomi dan konsumsi. Di sisi lain, pada saat yang bersamaan kapasitas produksi
migas dalam negeri mengalami penurunan produktivitas akibat usia yang semakin
tua. Meski demikian, kinerja neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus.
Di samping itu, tekanan neraca perdagangan pada saat ini juga dipengaruhi oleh
dampak pelemahan ekonomi global. Akibat pelemahan ekonomi global dan
permintaan dunia, surplus pada neraca nonmigas semakin menyusut dan tidak

-L.11-

mampu menutupi defisit neraca migas. Perkembangan kinerja neraca migas juga
tidak dapat lepas dari karakteristik ekspor Indonesia yang masih didominasi produk
primer (bahan tambang dan hasil pertanian) yang relatif bernilai tambah rendah dan
rentan pada perubahan harga. Di samping itu, kapasitas produksi nasional yang
masih terbatas saat ini perlu terus ditingkatkan.
Dengan pertimbangan faktor-faktor tersebut, Pemerintah akan terus menjalankan
beberapa strategi dasar, yaitu terus meningkatkan kapasitas produksi nasional ke
depan, mengarahkan perekonomian pada sektor-sektor yang lebih produktif dan
bernilai tambah tinggi, dan pada saat yang sama terus menjaga stabilitas ekonomi,
baik dari sisi inflasi, maupun dari sisi nilai tukar. Di sisi ekspor, Pemerintah akan
mendorong peningkatan ekspor untuk produk non-migas yang bernilai tambah
tinggi serta mendorong ekspor jasa yang lebih kompetitif di pasar internasional.
Strategi tersebut juga diimbangi dengan arah kebijakan pembangunan industri yang
mampu mengurangi ketergantungan pada produk-produk impor melalui substitusi
dengan produk dalam negeri, termasuk impor bahan baku dan barang modal. Di
samping itu, peningkatan efektivitas pengamanan perdagangan, lebih diarahkan
untuk mendorong efisiensi dan daya saing sisi produksi, serta tidak menyebabkan
timbulnya rente ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dunia yang secara umum
diperkirakan akan meningkat di tahun 2015 juga memberi harapan positif bagi
membaiknya kinerja ekspor domestik.
B. PENDAPATAN NEGARA
Menanggapi pernyataan Fraksi Partai Demokrat, Fraksi Partai Golkar, dan
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera terkait kebijakan perluasan basis pajak dan
perluasan wajib pajak orang pribadi (WP OP) dapat disampaikan bahwa Pemerintah
sependapat dengan anggota Dewan yang terhormat untuk terus melanjutkan
kebijakan perluasan basis pajak, mengingat masih besarnya potensi pajak dalam
perekonomian.
Dalam tahun 2015, Pemerintah akan melakukan kebijakan perluasan basis pajak
melalui perbaikan regulasi, penggalian potensi pajak berdasarkan sektor usaha, dan
penggalian potensi pajak WP OP. Penyempurnaan peraturan perpajakan dilakukan
agar Pemerintah dapat menyesuaikan peraturan perpajakan dengan perkembangan
perekonomian terkini sehingga diharapkan akan tercipta objek-objek pajak baru
sebagai penyumbang penerimaan perpajakan. Selanjutnya, dalam rangka melakukan
penggalian potensi pajak berdasarkan sektor usaha, Pemerintah akan
mengintensifkan penggalian pada sektor-sektor ekonomi nontradable (misalnya
sektor properti, jasa keuangan, dan perdagangan) dan sektor-sektor di bidang

-L.12-

sumber daya alam dan perkebunan. Selain itu, Pemerintah akan menggali potensi
pajak secara langsung dari beberapa transaksi ekonomi strategis melalui
pengembangan sistem online dengan institusi yang mengadministrasikan transaksi
ekonomi strategis tersebut. Khusus untuk WP OP, Pemerintah akan melakukan
upaya perluasan basis pajak melalui ekstensifikasi WP OP berpendapatan tinggi dan
menengah ke atas dengan memperhatikan sektor ekonomi dan perkembangan
wilayah yang potensial. Upaya perluasan basis pajak tersebut akan didukung oleh
peningkatan infrastruktur administrasi perpajakan serta peningkatan kualitas dan
kuantitas SDM. Melalui berbagai upaya tersebut diharapkan mampu memperluas
basis perpajakan nasional sehingga mampu meningkatkan penerimaan pajak.
Menanggapi pernyataan dari Fraksi Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia
dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera bahwa rencana penerimaan perpajakan
pada tahun 2015 masih belum memperlihatkan upaya maksimal (extra effort)
karena hanya tumbuh sebesar pertumbuhan alamiahnya, dapat diberikan penjelasan
sebagai berikut. Penerimaan perpajakan pada RAPBN 2015 ditargetkan mencapai
Rp1.370,8 triliun, meningkat Rp124,7 triliun atau 10,0 persen bila dibandingkan
dengan target penerimaan perpajakan pada APBNP tahun 2014. Penetapan target
penerimaan perpajakan didasarkan pada perkembangan perekonomian tahun 2014
dan proyeksi perekonomian tahun 2015. Melambatnya perekonomian nasional pada
semester I tahun 2014 dan pertumbuhan PDB yang relatif moderat pada tahun 2015
yang dipengaruhi menurunnya kegiatan ekspor impor serta relatif rendahnya harga
komoditas akan berdampak terhadap target pertumbuhan penerimaan perpajakan.
Namun, Pemerintah terus berupaya untuk mengoptimalkan penerimaan perpajakan
melalui langkah-langkah kebijakan ekstensifikasi, intensifikasi dan penggalian
potensi. Sekilas angka pertumbuhan tersebut memang hanya sebesar angka
pertumbuhan alamiahnya, sehingga belum mencerminkan adanya upaya maksimal
dalam penghimpunan pajak. Namun, apabila dicermati lebih jauh dengan
mempertimbangkan struktur PDB Indonesia yang masih didominasi oleh sektor
usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), maka pertumbuhan penerimaan
perpajakan pada tahun 2015 masih tergolong cukup tinggi. Hal tersebut mengingat
sektor UMKM yang memberikan kontribusi sekitar 59 persen terhadap total PDB
Indonesia (data tahun 2012), masih didominasi oleh sektor informal yang masih sulit
terjangkau oleh sistem perpajakan Indonesia.
Pemerintah menyadari bahwa penggalian potensi penerimaan perpajakan pada
sektor informal menjadi suatu tantangan dalam upaya meningkatkan penerimaan
perpajakan pada tahun-tahun mendatang. Untuk itu, Pemerintah akan tetap
melakukan berbagai langkah kebijakan untuk memperbaiki sistem perpajakan, baik
dari sisi administrasi maupun regulasi, agar dapat menjangkau sektor informal.

-L.13-

Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengoptimalkan pelaksanaan Peraturan


Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari
Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto
Tertentu. Peraturan tersebut mempermudah pemajakan bagi sektor informal dan
usaha kecil, dengan jalan menerapkan pajak yang sifatnya final dengan tarif 1 persen
bagi wajib pajak dengan omzet tertentu.
Terlepas dari permasalahan belum terjangkaunya sektor informal dalam sistem
perpajakan Indonesia, Pemerintah menyadari bahwa potensi penerimaan
perpajakan masih sangat besar untuk digali. Untuk itu, Pemerintah mengharapkan
dukungan sepenuhnya dari anggota Dewan yang terhormat dan seluruh elemen
masyarakat, agar langkah-langkah kebijakan optimalisasi penerimaan perpajakan
dapat dilakukan secara maksimal.
Menanggapi pernyataan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengenai
pembebanan PPnBM antara konsumen berpenghasilan tinggi dan rendah, serta
mengenai ekstensifikasi objek PPnBM dimaksimalkan pengenaannya kepada
masyarakat berpenghasilan tinggi, dapat disampaikan penjelasan sebagai berikut.
Pemerintah sependapat dengan anggota Dewan yang terhormat untuk lebih
mengoptimalkan instrumen PPnBM dalam rangka memperoleh keseimbangan
pembebanan pajak antara konsumen yang berpenghasilan tinggi dan yang
berpenghasilan rendah. Untuk mendukung hal tersebut, Pemerintah telah
melakukan evaluasi terhadap kebijakan PPnBM dengan mengeluarkan barang yang
sudah dianggap tidak mewah, meningkatkan tarif, dan memperluas cakupan barang
yang dianggap mewah sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 64/PMK.011/2014 yang menetapkan kenaikan tarif PPnBM kendaraan
bermotor yang tergolong mewah (sedan/station wagon 3.000 cc untuk motor bakar
cetus api dan 2.500 cc untuk motor bakar nyala kompresi) dari 75 persen menjadi
125 persen mulai 17 April 2014.
Selain itu, Pemerintah juga sependapat dengan pernyataan anggota Dewan yang
terhormat bahwa ekstensifikasi perlu dilakukan untuk menambah jenis barang yang
dikenai PPnBM. Pertimbangan yang digunakan untuk menambah objek PPnBM
yang baru antara lain adalah barang tersebut hanya dikonsumsi oleh masyarakat
berpenghasilan tinggi dan sebagian besar merupakan produk impor.
Efektivitas pengenaan PPnBM juga harus ditingkatkan untuk mengurangi
penyelundupan. Pemberian label/stiker seperti yang sudah digunakan untuk
pemungutan cukai dapat dipertimbangkan untuk diterapkan dalam pemungutan
PPnBM.

-L.14-

Menanggapi pertanyaaan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi Partai


Kebangkitan Bangsa, dan Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat mengenai
penghapusan mafia perpajakan, meningkatkan tax compliance, menurunkan tingkat
tax evasion, mengantisipasi kebocoran penerimaan perpajakan, dan fungsi kontrol
pengawasan internal dalam pengelolaan keuangan negara, dapat disampaikan
penjelasan sebagai berikut.
Pemerintah terus berupaya melakukan extra effort, di antaranya melalui
pemberantasan mafia perpajakan, dengan melakukan: (a) sistem whistle blowing
yang efektif; (b) melakukan rotasi yang menyeluruh bagi tenaga fungsional
pemeriksa pajak guna mencegah terjadinya penyimpangan; (c) memperbaiki kualitas
pemeriksaan untuk mengurangi jumlah sengketa pajak; (d) meningkatkan peran
Komite Pengawas Perpajakan guna meningkatkan efektivitas pengawasan terhadap
kepatuhan internal; serta (e) melakukan pengujian kepatuhan internal secara
tematik. Selain itu, Pemerintah terus menerus melakukan pengawasan internal
untuk meningkatkan kedisiplinan dan kepatuhan aparat terhadap kode etik
pelaksanaan tugas. Pegawai pajak yang melanggar kode etik tersebut akan dikenakan
sanksi moral dan atau hukuman disiplin yang mengacu Peraturan Pemerintah
Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Selain itu, dalam upaya meningkatkan tax compliance, Pemerintah telah melakukan
berbagai langkah di antaranya dengan meningkatkan pengawasan terhadap
kepatuhan WP dalam menyampaikan SPT Tahunan PPh, termasuk dengan
pemberian himbauan terhadap WP yang belum menyampaikan SPT tahunan PPh,
serta memberikan bimbingan/konsultasi. Langkah lainnya yang dilakukan adalah
melalui peningkatan pengawasan pembayaran masa, pengawasan dan penggalian
potensi melalui kegiatan mapping, profiling, benchmarking, pengawasan WP sektor
tertentu yang potensial, serta pemanfaatan pertukaran data (feeding) antar unit
terkait.
Sementara itu, dalam upaya menurunkan tingkat tax evasion melalui transfer
pricing, Pemerintah telah melakukan beberapa langkah di antaranya melalui:
(a) pembentukan unit khusus yang melakukan penanganan transfer pricing;
(b) pemberian diklat khusus mengenai transfer pricing kepada para pemeriksa,
account representative, Kepala KPP Madya, KPP Khusus, dan Large Tax Office
(LTO); (c) peningkatan kuantitas penanganan transfer pricing melalui pemberian
kewajiban kepada setiap KPP di lingkungan Kanwil DJP WP Besar, KPP di
lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus, dan KPP Madya di seluruh Indonesia untuk
melakukan pemeriksaan khusus transfer pricing minimal 4 WP setiap KPP, serta
mewajibkan setiap Kanwil DJP yang berada di wilayah Jakarta untuk melakukan
pemeriksaan simultan terhadap perusahaan-perusahaan yang berada di bawah satu

-L.15-

grup, minimal 1 grup untuk setiap Kanwil; (d) peningkatan kualitas penanganan
transfer pricing yang dilakukan dalam bentuk pemberian bimbingan kepada setiap
level penanganan masalah transfer pricing, yaitu di tingkatan analisis risiko,
pemeriksaan, keberatan dan banding, serta penyediaan sarana pendukung dalam
penanganan transfer pricing (pengadaan database pembanding dan industrial
report dari perusahaan penyedia commercial database); dan (e) melakukan
penyempurnaan format SPT terkait pelaporan transaksi afiliasi, sehingga WP lebih
transparan dalam melaporkan transaksi afiliasinya.
Dalam upaya mengantisipasi kebocoran, Pemerintah telah mengambil kebijakan
teknis yaitu: (a) mengoptimalkan mekanisme whistle blowing system dalam rangka
mengefektifkan pengawasan internal, dan (b) memaksimalkan peran unit
pengawasan kepatuhan internal DJP.
Terkait fungsi kontrol pengawasan internal dalam pengelolaan keuangan negara,
Pemerintah akan terus melakukan upaya peningkatan kontrol dan pengawasan
internal dalam rangka meminimalkan kebocoran dan meningkatkan penerimaan
negara, baik dari sektor pajak maupun non pajak. Upaya tersebut dilakukan dengan
mengidentifikasi aspek-aspek pengendalian intern yang masih lemah untuk
selanjutnya diperbaiki oleh setiap manjemen yang bertanggung jawab terhadap
pengelolaan penerimaan negara. Selain itu, Pemerintah juga terus mengintensifkan
pengawasan intern melalui audit kepatuhan dan audit kinerja oleh aparat
pengawasan intern masing-masing kementerian negara/lembaga, terutama pada
proses bisnis yang rawan terhadap kebocoran. Sesuai dengan amanat Peraturan
Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008, aparat pengawasan internal Pemerintah telah
membentuk asosiasi profesi dalam bidang pengawasan intern Pemerintah. Melalui
asosiasi tersebut Pemerintah berharap gerak langkah pengawasan intern akan lebih
professional dan seragam dalam menjalankan peran untuk melakukan pengawasan
terhadap pengelolaan keuangan negara.
Menanggapi pernyataan dari Fraksi Partai Amanat Nasional dan Fraksi
Partai Persatuan Pembangunan mengenai langkah-langkah terobosan
optimalisasi perpajakan dapat disampaikan penjelasan sebagai berikut. Pemerintah
sependapat dengan anggota Dewan yang terhormat untuk melakukan langkahlangkah terobosan optimalisasi penerimaan perpajakan. Terkait hal tersebut,
Pemerintah telah dan akan melakukan langkah-langkah optimalisasi perpajakan
antara lain dengan: (a) meningkatkan penggalian potensi pajak wajib pajak orang
pribadi (WP OP) dengan sasaran orang pribadi golongan pendapatan tinggi dan
menengah atas; (b) mengintensifkan penggalian sektor ekonomi non-tradable
(misalnya properti, jasa keuangan, dan perdagangan) serta kegiatan ekonomi di
bidang sumber daya alam dan perkebunan; (c) menyempurnakan sistem

-L.16-

administrasi perpajakan untuk meningkatkan kepatuhan WP dengan


mengembangkan sistem administrasi berbasis IT seperti e-filing untuk SPT PPh dan
e-invoice untuk PPN; (d) menggali potensi pajak secara langsung dari beberapa
transaksi ekonomi strategis melalui pengembangan sistem online dengan institusi
yang mengadministrasikan transaksi ekonomi strategis tersebut; (e) meningkatkan
efektivitas pemeriksaan dan penagihan melalui pemeriksaan yang berorientasi pada
pemeriksaan khusus bagi WP strategis dan implementasi model compliance risk
management (CRM); (f) meningkatkan sinergi dengan kepolisian dan kejaksaan
dalam pelaksanaan law enforcement di bidang perpajakan; (g) memperbaiki
regulasi yang memperluas basis pajak untuk meningkatkan penerimaan pajak; dan
(h) meningkatkan infrastruktur administrasi perpajakan dan kualitas serta kuantitas
SDM.
Sementara itu, di bidang kepabeanan dan cukai, Pemerintah akan melakukan
kebijakan antara lain: (a) menggalakkan pemberitahuan dini lewat skema pranotifikasi; (b) mendorong peralihan pengiriman pemberitahuan impor barang (PIB)
dan dokumen pelengkap pabean impor secara tunggal (single submission);
(c) mengembangkan sistem layanan dan pengawasan
yang berjenjang dan
terotomasi berdasarkan manajemen risiko terpusat di kawasan berikat; (d)
meluncurkan integrated monitoring room untuk pengawasan kawasan berikat di
dua belas kantor pelayanan; (e) meningkatkan akurasi penetapan nilai pabean,
klasifikasi barang, dan pemeriksaan fisik; (f) meningkatkan konfirmasi surat
keterangan asal dalam rangka skema free trade area; (g) meningkatkan akurasi
penelitian jumlah dan jenis barang ekspor; (h) meningkatkan pengawasan modus
antar pulau dan modus switching jenis barang ekspor; (i) optimalisasi operasi
pengawasan terpadu, patroli laut, dan patroli darat; serta (j) melakukan joint audit
dengan Direktorat Jenderal Pajak; (k) mendesain risk engine cukai terintegrasi yang
handal, meliputi penentuan fokus strategis dan area risiko, identifikasi risiko pada
tiap area risiko, menganalisis dan memprediksi risiko, dan formulasi risk engine; (l)
mendesain database cukai terpusat, melalui identifikasi data untuk manajemen
risiko, memilih data untuk disimpan di database, mengembangkan pemetaan data,
formulasi mekanisme update, dan otomasi database; dan (m) penyesuaian besaran
tarif cukai.
Menjawab pandangan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengenai
kenaikan target pendapatan dari bagian laba BUMN tahun 2015 yang hanya sebesar
Rp1 triliun dari APBNP 2014 dapat disampaikan penjelasan sebagai berikut.
Kenaikan target pendapatan bagian laba BUMN 2015 pada dasarnya sudah
mempertimbangkan segala potensi yang mungkin diusahakan oleh BUMN. Kenaikan
tersebut sudah cukup memadai mengingat kondisi perekonomian nasional dan

-L.17-

global yang diperkirakan di tahun 2015 masih menunjukkan perkembangan kurang


baik. Di samping itu, penetapan target penerimaan negara dari dividen BUMN juga
dilakukan berdasarkan langkah-langkah optimalisasi penerimaan dengan tetap
memperhatikan kebutuhan pendanaan perusahaan. Dalam hal ini, penentuan
dividen dilakukan dengan tetap mempertimbangkan kemampuan BUMN dalam
mendanai investasi yang menguntungkan dalam rangka menjaga keberlangsungan
usaha. Hal tersebut juga diharapkan dalam jangka menengah akan memberikan
dampak peningkatan keuntungan yang akan menyumbangkan dividen yang lebih
besar di tahun-tahun berikutnya.
Peningkatan laba BUMN tersebut juga sudah memperhitungkan extra effort sebagai
berikut:
a. Adanya investasi yang dilakukan BUMN untuk meningkatkan kemampuan dan
daya saing BUMN dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA) 2015.
b. Dalam rangka penerapan Global Regulatory Framework for More Resilient
Banks and Banking System (Basel III), Bank Indonesia menetapkan Peraturan
Bank Indonesia Nomor 15/2/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal
Minimum Bank Umum dimana Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum
atau Capital Adequacy Ratio (CAR) ditetapkan 8% s.d 14%, sesuai dengan profil
risikonya. Dengan demikian BUMN Perbankan perlu meningkatkan
permodalannya agar tetap dapat melakukan ekspansi kredit.
c. Harga pasar komoditas sektor pertambangan dan perkebunan sedang mengalami
penurunan sehingga mempengaruhi besaran laba usaha BUMN Pertambangan
dan Perkebunan.
d. Beberapa BUMN yang labanya cukup signifikan namun tidak ditargetkan
menyetorkan dividen antara lain: (a) PT PLN dengan proyeksi meraih laba bersih
namun masih mengalami akumulasi kerugian akibat rugi selisih kurs pada tahun
2013; dan (b) PT Taspen, terkait dengan UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang
SJSN.
Terhadap target laba BUMN dalam RAPBN 2015 sebesar Rp41 triliun, akan
diupayakan pemenuhannya dengan cara meningkatkan pay-out-ratio pada BUMN
yang memiliki tingkat likuiditas yang baik dengan tetap mempertimbangkan aspek
kebutuhan investasi BUMN.

-L.18-

Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah juga terus berupaya untuk melakukan
pembenahan dan restrukturisasi BUMN secara efektif dan berkelanjutan dan
mengarahkannya menjadi korporasi modern dan world class company. Pemerintah,
dalam hal ini Kementerian BUMN, telah melaksanakan pembenahan dan
restrukturisasi BUMN. Arah kebijakan utama terkait dengan pembenahan dan
restrukturisasi BUMN adalah rightsizing. Rightsizing adalah kebijakan untuk
melakukan restrukturisasi BUMN menuju jumlah yang ideal berdasarkan 2 prinsip
utama yaitu (a) perlu tidaknya kepemilikan negara mayoritas dipertahankan pada
BUMN tertentu dan (b) jenis tindakan yang akan dilakukan. Skenario pelaksanaan
rightsizing BUMN tahun 20122014 adalah rightsizing sektor kertas, percetakan,
dan penerbitan, sektor perkebunan, sektor kehutanan, sektor pertambangan, sektor
farmasi, sektor pengerukan, dan sektor aneka industri sehingga jumlah BUMN pada
akhir tahun 2012 menjadi sekitar 116 BUMN. Pada tahun 2013, akan dilakukan
rightsizing pada sektor kebandarudaraan, sektor angkutan darat dan kereta api,
sektor pertanian, sektor perdagangan, sektor energi, sektor konstruksi dan konsultan
konstruksi, sektor logistik, dan sektor jasa penilai sehingga jumlah BUMN akan
menjadi sekitar 105 BUMN. Selanjutnya, pada tahun 2014, akan dilakukan
rightsizing pada sektor pertahanan, sektor industri berbasis teknologi, sektor dok
dan perkapalan, sektor baja dan konstruksi baja, sektor asuransi, dan sektor
konstruksi sehingga jumlah BUMN pada akhir tahun 2014 diperkirakan akan
menjadi sekitar 95 BUMN.
Sehubungan dengan pandangan umum dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera
terkait dengan optimalisasi PNBP SDA Non Migas serta pandangan Fraksi Partai
Kebangkitan Bangsa terkait dengan PNBP SDA Perikanan, dapat kami sampaikan
bahwa Pemerintah terus melakukan langkah-langkah untuk meningkatkan PNBP
SDA, baik migas maupun nonmigas. Optimalisasi PNBP SDA nonmigas dilakukan
melalui langkah-langkah sebagai berikut:
PNBP SDA Pertambangan Mineral dan Batu Bara
1. Intensifikasi dan ekstensifikasi PNBP SDA Pertambangan Mineral dan Batubara
dilakukan melalui:
Review PP No. 9 Tahun 2012 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis PNBP yang
berlaku pada Kementerian ESDM;
Renegosiasi Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan
Batubara (PKP2B);
Melakukan kerja sama dengan instansi terkait dalam rangka mengatasi
permasalahan pengelolaan PNBP Minerba. Hal tersebut merupakan hasil
kajian Sistem Pengelolaan PNBP Minerba oleh KPK.

-L.19-

2. Meningkatkan pengawasan dengan melakukan pemeriksaan terhadap Wajib


Bayar.
PNBP SDA Kehutanan
Untuk optimalisasi penerimaan dari SDA kehutanan, Pemerintah tetap berkomitmen
bahwa hal tersebut diupayakan dengan tidak mengganggu kelestarian hutan,
sehingga upaya peningkatan penerimaan tidak dikaitkan dengan peningkatan
produksi hasil hutan. Namun, peningkatan penerimaan diupayakan melalui
(a) penerimaan dari jasa penggunaan kawasan hutan; (b) melakukan pengembangan
sistem penatausahaan hasil hutan (PUHH) berbasis teknologi informasi (TI) yang
dapat diakses di Kementerian Kehutanan, Dinas Kehutanan Provinsi, Dinas
Kehutanan Kabupaten/Kota serta para pemegang IUPHHK-HA-HT; dan
(c) senantiasa melakukan ekstensifikasi dan intensifikasi PNBP yang berasal dari
sumber daya alam kehutanan melalui inventarisasi potensi jenis PNBP yang
memungkinkan untuk dipungut serta melakukan review atas rasionalitas besaran
tarif jenis PNBP sektor Kehutanan dengan mempertimbangkan faktor kelestarian
alam.
PNBP SDA Perikanan
Upaya untuk meningkatkan penerimaan SDA perikanan akan terus dilakukan,
namun dengan pertimbangan tetap menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan
laut dan kedaulatan wilayah laut nasional. Perlu kami sampaikan pula bahwa,
penerimaan dari SDA perikanan yang disetor ke APBN adalah PNBP yang dikenakan
bukan kepada semua kapal tangkap ikan, tetapi hanya dikenakan kepada kapal
diatas 30 gross tonnage (GT). Sementara itu, kapal-kapal tangkap ikan yang di
bawah 30 GT menjadi wewenang pemerintah daerah.
Kebijakan-kebijakan yang ditempuh dalam rangka optimalisasi PNBP perikanan
adalah (a) meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana pelayanan, serta
peningkatan jaminan usaha sektor kelautan dan perikanan; (b) meningkatkan
pelayanan dan penertiban perizinan usaha di bidang perikanan serta pengawasan
sumber daya kelautan dan perikanan; (c) meningkatkan daya saing armada
perikanan nasional; (d) melakukan penyesuaian harga patokan ikan (HPI) secara
periodik sehingga sesuai dengan kondisi terkini; dan (e) terus melakukan reviu
terhadap jenis dan tarif atas jenis PNBP untuk menampung potensi PNBP yang ada
dan melakukan penyesuaian tarif PNBP dengan kondisi terkini dan mendorong
kepastian bagi wajib bayar/pengguna jasa sektor kelautan dan perikanan.
Sehubungan dengan pandangan anggota dewan dari Fraksi Partai Kebangkitan
Bangsa dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera terkait dengan cost recovery
dapat kami sampaikan bahwa Pemerintah serius untuk mengendalikan cost recovery

-L.20-

baik dari sisi penyempurnaan regulasi maupun dari sisi peningkatan pengawasan
terhadap pembebanan biaya operasi oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
Pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah No. 79 tahun 2010 tentang
Biaya Operasi Yang Dapat Dikembalikan dan Perlakukan Pajak Penghasilan Di
Bidang Usaha Hulu Migas, sehingga memberikan kejelasan dan ketegasan mengenai
jenis biaya operasi yang dapat dibebankan sebagai cost recovery. Pengaturan
mengenai pembebanan jenis biaya operasi tersebut juga memberikan kepastian
mengenai perhitungan pajak penghasilan dari sektor migas. Pengendalian cost
recovery juga terus dilakukan oleh SKK Migas selaku pelaksana dan pengawas
kegiatan usaha hulu migas melalui monitoring dan evaluasi terhadap Work Program
& Budget (WP&B) KKKS pada awal, pelaksanaan (current), dan post audit.
Selain oleh SKK Migas, audit terhadap cost recovery juga dilakukan oleh auditor
Pemerintah (BPKP dan DJP) dan auditor BPK RI dalam rangka menilai kepatuhan
KKKS dalam pelaksanaan Kontrak Kerja Sama dan perhitungan penerimaan bagian
negara dari sektor migas, yaitu PNBP migas dan PPh migas.
Pemerintah menyadari bahwa pengendalian dan pengawasan terhadap cost recovery
harus dilakukan secara konsisten dan terus menerus, seperti update negative list,
dan peningkatan governance perusahaan. Namun, pengendalian dan pengawasan
tersebut harus dilakukan secara cermat dan hati-hati agar tidak memberikan
dampak yang negatif terhadap investasi di sektor hulu migas. Penentuan besaran
cost recovery memiliki sensitivitas terhadap investasi di sektor hulu migas karena
dapat mempengaruhi pendanaan untuk kegiatan survei, eksplorasi, dan eksploitasi
migas dalam rangka penemuan cadangan-cadangan baru dan pengembangan
lapangan untuk peningkatan produksi migas di masa yang akan datang.
Terkait dengan efisiensi cost recovery dapat kami jelaskan sebagai berikut. Dalam
mengupayakan efisiensi cost recovery, Pemerintah tetap akan berpedoman pada
peraturan yang ada yakni PP Nomor 79 tahun 2010 tentang Biaya Operasi yang
Dapat Dikembalikan dan Perlakuan PPh di Bidang Usaha Hulu Migas. Namun,
Pemerintah juga tetap mempertimbangkan kondisi terkini sektor hulu migas. Saat
ini, secara umum menghadapi kondisi natural declining dimana dibutuhkan biaya
yang tinggi dalam menghasilkan produksi migas. Biaya-biaya untuk eksplorasi juga
telah diberikan guna mendukung upaya peningkatan produksi dan meningkatkan
efisiensi cost recovery, terutama melalui pembebasan bea masuk atas barang modal
yang diimpor untuk mendukung kegiatan eksplorasi migas. Sementara itu, terhadap
penurunan penerimaan negara dari sektor migas perlu menjadi perhatian semua
stakeholder terkait agar segala hambatan, khususnya dalam upaya peningkatan

-L.21-

produksi, dapat diminimalisir dan diikuti dengan efisiensi produksi, serta penerapan
transparansi dan tata kelola yang baik dalam industri migas.
Pemerintah terus berkomitmen untuk mendorong peningkatan produksi migas
melalui pemberian fasilitas fiskal dan non fiskal. Kebijakan insentif fiskal dilakukan
melalui pemberian fasilitas bebas bea impor dan PPN impor bagi barang modal
untuk kegiatan eksplorasi hulu migas. Di samping itu, Pemerintah juga telah
menerbitkan Inpres Nomor 2 Tahun 2012 tentang Peningkatan Produksi Minyak
Mentah Nasional yang memberikan pedoman untuk mengambil langkah-langkah
yang diperlukan secara terkoordinasi dan terintegrasi sesuai tugas, fungsi, dan
kewenangan kementerian negara/lembaga masing-masing untuk mencapai produksi
minyak bumi nasional.
Terkait penerimaan royalti, Pemerintah sependapat dengan pandangan anggota
Dewan bahwa dibutuhkan pembenahan yang serius untuk meningkatkan PNBP.
Pembenahan tersebut telah dan akan terus dilaksanakan guna memberikan manfaat
yang optimal bagi perekonomian nasional dan penerimaan negara. Upaya
optimalisasi penerimaan dari SDA terutama dari penerimaan royalti batubara secara
intensif terus dilakukan. Saat ini beberapa instansi terkait telah bekerjasama dengan
aparat penegak hukum, baik Kepolisian maupun KPK untuk melakukan penagihan
atas tunggakan pembayaan royalti beberapa pengusaha tambang. Upaya tersebut
disamping akan menaikkan penerimaan dari PNBP SDA, juga akan meningkatkan
penerimaan perpajakan atas kegiatan tambang.
Terhadap pandangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera yang menilai adanya
penurunan penerimaan PNBP SDA tahun 2015 sebesar Rp5 triliun dari APBNP 2014
dapat kami sampaikan bahwa hal tersebut berkaitan dengan adanya penurunan
penerimaan SDA gas sebagai akibat dari adanya perubahan alokasi pasokan gas dari
ekspor ke domestik, yang telah menyebabkan lebih rendahnya gross revenue gas
untuk tahun 2015 dibandingkan dengan gross revenue gas untuk tahun 2014. Selain
itu, penurunan gross revenue juga disebabkan oleh adanya perbedaan harga gas
yang cukup signifikan antara harga gas untuk tujuan ekspor sebesar rata-rata
berkisar $13/MMBTU karena dipengaruhi oleh asumsi harga minyak mentah
$105/barel dibandingkan dengan harga gas untuk tujuan domestik yang rata-rata
mencapai $6/MMBTU.
Menanggapi pernyataan dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa agar penetapan
ICP berdampak positif bagi penerimaan negara dapat kami sampaikan bahwa
penetapan ICP saat ini didasarkan pada perkembangan terkini atas harga minyak
mentah di pasaran internasional dan informasi terkait dengan proyeksi beberapa
publikasi internasional. Proyeksi dari publikasi tersebut memperhitungkan beberapa
-L.22-

variabel yang mempengaruhi perkembangan harga minyak mentah dunia ke depan.


Variabel-variabel tersebut mencakup di antaranya supply-demand harga minyak
mentah, kondisi geopolitis, dan kondisi perekonomian dunia. Selanjutnya, harga ICP
yang ditetapkan dengan mempertimbangkan variabel-variabel tersebut, digunakan
untuk memperhitungkan penerimaan dari kegiatan hulu migas.
Sehubungan dengan pandangan umum dari Fraksi Partai Amanat Nasional,
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan, dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera terkait optimalisasi PNBP
Lainnya, dapat kami sampaikan bahwa saat ini pemerintah telah menerapkan sistim
informasi PNBP online (SIMPONI). Penerapan sistem ini tidak hanya
mempermudah masyarakat dalam melakukan pembayaran PNBP, tetapi juga dapat
dijadikan database PNBP yang dapat dipergunakan Pemerintah untuk
mengidentifikasi dan memonitor para pembayar PNBP. Kebijakan-kebijakan yang
dilakukan Pemerintah dalam rangka optimalisasi PNBP lainnya adalah sebagai
berikut:
1. Intensifikasi PNBP
Menyempurnakan ketentuan perundangan pengelolaan PNBP, termasuk akan
merevisi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP.
Melakukan sosialisasi kepada seluruh stakeholders agar PNBP dikelola sesuai
peraturan perundangan yang berlaku.
Meminta K/L untuk menyetorkan seluruh PNBP ke kas negara.
Melakukan penertiban sistem pengelolaan PNBP dengan membangun Sistem
Informasi
PNBP
Online
dalam
rangka
menciptakan
sistem
pengadministrasian penerimaan negara yang modern.
Meningkatkan peran Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) dan BPKP
dalam pemeriksaan di bidang PNBP termasuk audit optimalisasi penerimaan
negara.
Percepatan penyelesaian PP tentang jenis dan tarif PNBP yang berlaku pada
Kementerian Negara/Lembaga.
Penyederhanaan prosedur pelayanan PNBP oleh KL
Melakukan monitoring dan evaluasi pengelolaan PNBP pada K/L, untuk
mengetahui masalah dan kemudian dicarikan solusi agar pengelolaan PNBP
lebih optimal.
2. Ekstensifikasi PNBP
Meminta K/L yang belum mempunyai dasar hukum pemungutan tarif untuk
segera mengusulkan PP tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis PNBP kepada
Menteri Keuangan.

-L.23-

Meminta K/L yang sudah mempunyai PP tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis
PNBP untuk menginventarisir kembali seluruh potensi jenis PNBP dan
menempatkannya dalam PP
Mengevaluasi jenis dan besaran tarif atas jenis PNBP yang sudah tidak
relevan.
Menanggapi penyataan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, pada
dasarnya Pemerintah sepakat dengan pernyataan dari anggota Dewan bahwa review
dan reformulasi tarif harus dilakukan untuk mengoptimalkan PNBP. Saat ini,
Pemerintah sedang merevisi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP.
Revisi tersebut dilakukan untuk disesuaikan dengan perkembangan situasi aktual
dan untuk menghadapi tantangan-tantangan di masa depan. Pemerintah
berpendapat revisi tersebut merupakan langkah yang paling tepat untuk
mengharmonisasikan dan menyesuaikan regulasi PNBP serta dalam rangka
mengantisipasi kebijakan PNBP ke depan. Di samping itu, Pemerintah juga akan
terus mereviu dan menyempurnakan peraturan pemerintah di bidang PNBP untuk
disesuaikan
dengan
perekembangan
situasi
terkini,
sekaligus
untuk
menyempurnakan mekanisme penagihan, penyetoran, dan tertib administrasi
PNBP. Saat ini revisi RUU PNBP tersebut telah dilaksanakan harmonisasi peraturan
perundangan-undangan dan telah diserahkan kepada Sekretariat Negara untuk
dimintakan paraf kepada pimpinan kementerian terkait.

Terkait pandangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengenai optimalisasi


pendapatan BLU dapat Pemerintah sampaikan bahwa pendapatan BLU pada tahun
2015 sebesar Rp22 triliun sudah mengalami kenaikan sebesar 1,4 triliun bila
dibandingkan dengan target tahun 2014. Peningkatan target penerimaan BLU tahun
2015 tersebut antara lain dipengaruhi oleh perkiraan peningkatan volume layanan
pada Satker BLU. Namun, apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2013, target
penerimaan BLU 2015 tersebut mengalami penurunan. Hal tersebut dikarenakan
terdapat 7 Satker BLU Perguruan Tinggi Negeri yang berubah status menjadi badan
hukum, sehingga target penerimaannya tidak diperhitungkan dalam target
penerimaan BLU tahun 2015. Selain itu, mulai tahun 2013 Pemerintah melakukan
kebijakan moratorium pembentukan Satker BLU baru dalam rangka mengevaluasi
kebijakan pengelolaan BLU.
Menanggapi pertanyaan Fraksi Partai Amanat Nasional mengenai
keseimbangan antara meningkatkan PNBP dengan ketahanan energi dapat kami
sampaikan bahwa untuk kegiatan usaha terkait dengan komoditi energi, Pemerintah
disamping berupaya untuk meningkatkan penerimaan juga mewajibkan adanya
pemenuhan kewajiban kebutuhan dalam negeri melalui DMO (domestic market

-L.24-

obligation) dengan tujuan untuk memberikan jaminan supply pasar dalam negeri
atas kebutuhan energi (minyak mentah, gas bumi, dan batubara).
Pemerintah memahami bahwa peningkatan kegiatan eksploitasi sumber daya alam
terutama yang sifat non renewable akan mengancam ketahanan energi pada masa
mendatang. Untuk itu, memang perlu untuk dipertimbangkan adanya upaya untuk
melakukan pembatasan terutama ekpor atas beberapa komoditi energi. Hal tersebut
juga dimaksudkan sebagai upaya untuk lebih mengedepankan terjaminya kebutuhan
dalam negeri dan upaya untuk melindungi kelestarian lingkungan mengingat bahwa
kegiatan eksplotasi di sektor energi terkait erat dengan kawasan hutan.
C. BELANJA PEMERINTAH PUSAT
Menanggapi pertanyaan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan mengenai
capaian program prioritas yang telah berhasil dicapai beserta tantangan dan
hambatannya, Pemerintah dapat disampaikan penjelasan untuk beberapa bidang
sebagai berikut.
Pendidikan Nasional
Hingga berakhirnya pelaksanaan RPJMN 2010-2014, Pemerintah telah berhasil
meningkatkan taraf pendidikan penduduk. Hal ini tercermin dari meningkatnya
rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas, yang semula 7,7 tahun
(2009) meningkat menjadi 8,1 tahun (2012). Selain itu, jumlah siswa untuk jenjang
SD/MI/sederajat meningkat dari 30.542 ribu pada tahun 2009 menjadi 31.009 ribu
pada tahun 2013. Namun demikian, upaya yang telah dilakukan belum sepenuhnya
menghilangkan kesenjangan partisipasi pendidikan antarkelompok masyarakat.
Selain itu, masih terdapat kesenjangan kualitas antar satuan pendidikan. Faktorfaktor yang menyebabkan kualitas masih rendah, antara lain adalah lingkungan dan
budaya sekolah belum terbangun dengan baik, fasilitas pendidikan (laboratorium,
perpustakaan) yang mendukung proses belajar mengajar yang berkualitas belum
tersedia merata serta kompetensi guru pendidikan menengah yang masih belum
mumpuni. Selanjutnya tingginya angka pengangguran lulusan Sekolah Menengah
Kejuruan menunjukkan bahwa pengetahuan dan keterampilan lulusan belum
sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Oleh karena itu , tantangan yang
dihadapi adalah meningkatkan kemampuan kognitif, karakter, dan soft-skills
lulusan, dan peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan menengah sesuai dengan
kebutuhan pembangunan dan lapangan pekerjaan.

-L.25-

Ketahanan Pangan
Tantangan yang dihadapi oleh Pemerintah adalah pertambahan jumlah penduduk,
tingkat pendapatan, dan berkembangnya kelas menengah, diperkirakan akan
meningkatkan permintaan bahan pangan yang cukup besar dan beragam serta
kualitas yang semakin tinggi. Sementara produksi pangan sebagian besar masih
dilakukan oleh petani kecil dengan lahan olahan yang sempit dan kebutuhan non
pertanian. Selanjutnya, ketersediaan pangan berpengaruh terhadap gejolak harga
pangan dan inflasi, sementara inflasi mempengaruhi aksesibilitas pangan
masyarakat. Hal ini diperparah oleh dampak iklim ekstrim serta bencana alam yang
dialami oleh petani akan mempengaruhi ketersediaan pangan masyarakat. Untuk itu
Pemerintah mengambil langkah strategi antara lain: (1) peningkatan produksi padi
dan sumber pangan protein dari dalam negeri; (2) peningkatan kelancaran distribusi
dan penguatan stok pangan dalam negeri; dan (3) perbaikan kualitas konsumsi
pangan dan gizi masyarakat. Selain itu, usaha Pemerintah untuk mengahadapi
tantangan stabilitas harga pangan antara lain dengan melakukan pemantauan
perkembangan fluktuasi harga pangan pokok dan peningkatan peranan Perum
Bulog serta pengaturan impor ekspor bahan pangan untuk stabilisasi harga pangan
tanpa mengganggu produksi.
Pertahanan Keamanan
Pada tahun 2015, moderenisasi alutsista TNI merupakan salah satu kebijakan yang
diambil oleh Pemerintah. Hal ini berdampak meningkatnya daya penggentar militer
Indonesia yang tercermin dari menurunnya intensitas upaya gangguan kewibawaan
dan kedaulatan NKRI. Konsekuensi dari peningkatan kekuatan militer tersebut
adalah penyediaan anggaran pemeliharaan dan perawatan alutsista yang harus
dialokasikan pembiayaannya. Hal ini merupakan salah satu tantangan bagi
Pemerintah. Selain itu, tantangan lain yang dihadapi Pemerintah adalah
kesejahteraan prajurit TNI yang harus diperhatikan untuk meningkatkan
profesionalisme prajurit TNI. Konsepsi kesejahteraan prajurit TNI dikelompokkan
dalam empat komponen, yaitu pendapatan minimal, perumahan, kesehatan dan
purna tugas.
Kesehatan
Salah satu program prioritas Pemerintah adalah pengembangan jaminan kesehatan
nasional. Pada tahun 2013, penduduk yang tercakup dalam sistem jaminan
kesehatan nasional diperkirakan mencapai 64,58 persen. Hal ini akan terus
ditingkatkan dengan dilaksanakannya skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di
bawah pengelolaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Tantangan utama dari program ini adalah mengembangkan mekanisme peningkatan

-L.26-

kepesertaan khususnya non-penerima upah yang biasanya cukup sulit dilakukan


tanpa insentif.
Selain JKN, tantangan yang dihadapi Pemerintah dalam bidang kesehatan adalah
terbatasnya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan
primer, sekunder, dan tersier terutama pada daerah perdesaan, terpencil, sangat
terpencil, tertinggal, perbatasan, dan kepulauan. Selain itu kendala geografis juga
menyebabkan keterbatasan akses pelayanan kesehatan di berbagai daerah. Oleh
karena itu Pemerintah membentuk sistem kendali mutu dan meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan primer melalui pemenuhan standar pelayanan kesehatan di
puskesmas dan jaringannya.
Menanggapi masukan dari Fraksi Partai Hanura mengenai kebijakan yang
mendukung percepatan pembangunan infrastruktur, pada dasarnya Pemerintah
telah melakukan upaya-upaya dan terus berusaha melakukan terobosan percepatan
pembangunan infrastruktur dalam peningkatan kedaulatan pangan, ketahanan
energi dan biaya logistik. Dalam periode RPJMN II, kebijakan umum tentang
pangan, energi dan logistik pencapaian pembangunan infrastruktur irigasi dalam
rangka mendukung ketahanan pangan nasional sampai dengan pertengahan tahun
2013 telah dilakukan peningkatan luas layanan jaringan irigasi seluas 858,4 ribu
hektar, rehabilitasi jaringan irigasi seluas 3,2 juta hektar, serta operasi dan
pemeliharaan jaringan irigasi yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat rata-rata
pertahun seluas 1,8 juta hektar. Selain itu, juga telah dilakukan
peningkatan/rehabilitasi jaringan rawa seluas 1,6 juta hektar serta operasi dan
pemeliharaan jaringan rawa rata-rata pertahun seluas 642,8 ribu hektar.
Sementara untuk mendukung ketahanan energi telah dilakukan kegiatan
pembangunan antara lain: (1) pembangunan jaringan distribusi gas bumi untuk
rumah tangga sebesar lebih dari 66 ribu sambungan rumah; (2) pembangunan
infrastruktur gas untuk transportasi yang meliputi pembangunan 8 unit SPBG
(stasiun pengisian bahan bakar gas) di Palembang dan Surabaya, pembagian
konverter kit sekitar 3.500 unit, dan rencana pengembangan mobile refueling unit
(MRU) sebanyak 4 unit. Sementara itu kapasitas pembangkit listrik telah
ditingkatkan sebesar 18.799 MW sehingga kapasitas terpasang pembangkit tenaga
listrik nasional menjadi sebesar 46.428 MW pada tahun 2013, jaringan transmisi
tenaga listrik telah ditambah sepanjang 7.302 km menjadi 38.896 km di tahun 2013,
jaringan distribusi tenaga listrik ditingkatkan sepanjang 154.202 km menjadi
761.957 km pada tahun 2013. Pemerintah juga telah melakukan peningkatan
anggaran yang difokuskan untuk infrastruktur konektivitas dan bidang-bidang lain.
Pelaksanaan kegiatan di bidang konektivitas nasional diharapkan dapat menurunkan
biaya logistik, yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing produksi dalam

-L.27-

negeri. Beberapa hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2013 antara lain:
meningkatnya kemantapan jalan nasional, pembangunan dan peningkatan kondisi
jalur kereta api, pembangunan dan rehabilitasi bandara, serta pembangunan dan
peningkatan pelabuhan.
Selanjutnya, menanggapi pertanyaan mengenai infrastruktur, pada prinsipnya
Pemerintah sepakat dengan pandangan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera
terkait dengan peningkatan alokasi belanja modal, khususnya belanja infrastruktur
dalam mendorong perekonomian. Pemerintah sangat menyadari akan pentingnya
peran infrastruktur tersebut. Namun, kemampuan keuangan negara dalam
mewujudkan infrastruktur yang menjangkau seluruh wilayah dan dapat dinikmati
oleh seluruh golongan masyarakat masih relatif terbatas, disamping kebijakan
bahwa RAPBN tahun 2015 adalah baseline budget. Upaya perbaikan struktur dan
postur keuangan terus diupayakan, antara lain dengan meningkatkan porsi belanja
modal dan infrastruktur pemerintah, serta mendorong keterlibatan BUMN dan
pihak swasta dalam penyediaan infrastruktur (Skema Public Private PartnershipPPP).
Pemerintah tetap secara konsisten terus berkomitmen untuk meningkatkan belanja
produktif melalui belanja infrastruktur. Alokasi anggaran pada belanja modal antara
lain akan difokuskan pada pembangunan infrastruktur yang mempunyai daya
dorong kuat dan multiplier yang tinggi terhadap pertumbuhan dan aktivitas
ekonomi seperti listrik, jalan, dan pelabuhan. Pembangunan infrastruktur antara
lain untuk: pengembangan infrastruktur pada 6 (enam) koridor ekonomi berupa
pembangunan infrastruktur dasar dan perbaikan kesejahteraan rakyat;
pembangunan infrastruktur pertanian untuk mendukung pencapaian program
ketahanan pangan; serta pembangunan infrastruktur energi dan komunikasi.
Melalui kebijakan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia (MP3EI), Pemerintah telah berkomitmen untuk mengurangi kesenjangan
infrastruktur antar wilayah dengan memprioritaskan antara lain program domestic
connectivity, ketahanan pangan dan energi.
Pemerintah juga sependapat dengan pandangan Fraksi Partai Keadilan
Sejahtera untuk memprioritaskan dan mengalokasikan anggaran transportasi
masal yang terintegrasi, terkoneksi dan user friendly untuk moda transportasi kereta
api, angkutan laut dan udara, serta meningkatkan kinerja dalam pembangunan
infrastruktur sektor transportasi. Pemerintah dalam hal ini Kementerian
Perhubungan terus berusaha meningkatkan pelayanan transportasi berbasis
transportasi masal yang terintegrasi, terkoneksi, dan user friendly melalui
kebijakan-kebijakan antara lain sebagai berikut:

-L.28-

a.

Penambahan kapasitas mass transit yaitu Bus Rapid Transit (BRT) di kota
metropolitan dan kota-kota besar.
b. Pengembangan dan pembangunan bandara baru dalam coverage area
(jangkauan pelayanan) untuk mengatasi kepadatan arus penumpang.
c. Sistem intra dan suprastruktur bandara termasuk IT dan control system
bandara.
d. Penambahan armada dalam negeri untuk mengangkut barang dalam negeri
untuk ekspor dan impor
e. Peremajaan kapal-kapal tua dengan scrapping/pembangunan kapal baru di
galangan kapal Indonesia.
f. Pembangunan 2 pelabuhan hub internasional pada sisi barat (Alki 1) dan sisi
timur (Alki 3) : Pelabuhan Kuala Tanjung dan Pelabuhan Bitung.
g. Penambahan fasilitas perkeretaapian; jalur kereta api, gerbong lokomotif,
gerbong kereta, gerbong barang, gerbong kereta kota.
Mengenai masalah eksekusi atau penyerapan belanja modal yang rendah dapat
disampaikan bahwa Pemerintah telah mengambil beberapa langkah strategis untuk
mengoptimalkan tingkat realisasi penyerapan anggaran pada Kementerian
Negara/Lembaga, dengan pendekatan fleksibilitas dalam pelaksanaan anggaran dan
mengurangi jalur birokrasi. Secara umum, permasalahan penyerapan ini antara lain
dipengaruhi oleh: (1) kendala dalam proses pengadaan tanah; (2) kehati-hatian
pejabat/pegawai yang terkait dalam pengelolaan keuangan atau kegiatan; dan (3)
dokumen pelaksanaan anggaran yang tidak lengkap sehingga perlu proses revisi.
Secara teknis, Pemerintah telah dan akan terus melakukan upaya terobosan untuk
percepatan peningkatan penyerapan anggaran dengan langkah-langkah yang
meliputi antara lain: (1) penyempurnaan mekanisme pengadaan barang dan jasa;
(2) penyempurnaan mekanisme pelaksanaan anggaran; (3) penyederhanaan
prosedur revisi anggaran; (4) percepatan penagihan kegiatan proyek oleh pihak
kontraktor; (5) penyederhanaan format DIPA untuk meningkatkan fleksibilitas bagi
K/L dalam pelaksanaan anggaran; serta (6) pengintegrasian database RKA-KL dan
DIPA sehingga mempercepat penerbitan DIPA.
Dapat disampaikan pula, pendorong pertumbuhan (investasi pemerintah) bukan
hanya tercermin dari anggaran belanja modal, mengingat terdapat bagian jenis
belanja lainnya yang berkarakteristik modal, seperti: belanja barang yang diserahkan
kepada masyarakat/pemerintah daerah, anggaran PNPM, serta investasi yang
bersifat penanaman modal.
Selanjutnya, pemerintah sependapat dengan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

-L.29-

mengenai peningkatan pengalokasian belanja modal dalam rangka pembangunan


infrastruktur pertanian. Dapat dijelaskan bahwa pemerintah telah berupaya untuk
meningkatkan pengalokasian belanja modal yang antara lain digunakan untuk:
percepatan pencetakan sawah, peningkatan dan rehabilitasi jaringan irigasi tersier
dan ditingkat usaha tani, perluasan areal hortikultura/perkebunan/peternakan, serta
perluasan areal kedelai di lahan baru. Selain itu dalam rangka mendukung program
ketahanan pangan dengan target surplus beras 10 juta ton per tahun, Pemerintah
melalui Kementerian Pekerjaan Umum terus berupaya meningkatkan alokasi belanja
modal untuk kegiatan pembangunan infrastruktur bidang pertanian melalui
pembangunan/peningkatan jaringan irigasi, waduk, dan bangunan penampung air
lainnya.
Terkait dengan infrastruktur kelautan dalam kerangka industrial maritime chain
yang komprehensif kiranya dapat dijelaskan bahwa Pemerintah mendukung
pengembangan perekonomian berbasis bahari secara serius dan terintegrasi baik
hulu maupun hilirnya yang mencakup industri perikanan, transportasi,
pertambangan laut, industri produk olahan hasil laut, wisata bahari, riset maritim
dan lainnya sehingga akan dapat menjadi pusat pertumbuhan baru yang potensial
mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Sejalan
dengan hal tersebut, sesuai dengan RKP Tahun 2015 arah kebijakan dan strategi
Pemerintah untuk mendukung pembangunan di bidang kelautan antara lain sebagai
berikut:
1.

Pengelolaan pulau-pulau kecil, terutama pulau-pulau kecil terluar/ terdepan.


Arah kebijakan dan strategi yang akan dilakukan mencakup : (a) pemenuhan
kebutuhan infrastruktur dasar, seperti listrik dan air bersih di pulau-pulau kecil
terluar berpenduduk dan (b) mengembangkan kerjasama lintas instansi
terkait/antar pemda setempat dalam mendukung eksistensi NKRI di pulaupulau terdepan/terdepan yang berpenduduk dan tidak berpenduduk;
2. Peningkatan tata kelola dan pengamanan wilayah juridiksi serta batas laut
Indonesia. Arah kebijakan dan strategi difokuskan pada: (a) penyusunan
Roadmap Pembangunan Kelautan dan Rencana Aksi Nasional Kelautan
Indonesia 2015-2019 serta peningkatan koordinasi lintas instansi dalam
pelaksanaan pembangunan kelautan; (b) penyelesaian tata batas laut yang
belum tuntas dengan negara tetangga, melalui perundingan perbatasan; (c)
penyelesaian pembakuan nama pulau-pulau ke PBB melalui identifikasi potensi,
pemetaan dan penamaan pulau-pulau kecil; (d) memperkuat dan
mengembangkan kerjasama regional maupun internasional dalam pengelolaan
dan konservasi wilayah laut, seperti program Coral Triangle Initiative (CTI),
Sulu Sulawesi Marine Ecoregion (SSME) dan lainnya; serta (e) penyusunan
-L.30-

zonasi wilayah pesisir di beberapa provinsi/kab/kota dan penyusunan peraturan


terkait penataan ruang laut;
3. Peningkatan pengawasan pemanfaatan sumber daya kelautan dan pengendalian
kegiatan ilegal. Arah kebijakan dan strategi difokuskan pada: (a) peningkatan
sarana prasarana, cakupan pengawasan, jumlah hari operasi, dan peningkatan
kapasitas kelembagaan pengawasan sumber daya kelautan; (b) peningkatan
koordinasi lintas intansi dalam pengawasan wilayah laut dan pengamanan
wilayah dari pemanfaatan sumber daya kelautan yang merusak; (c)
mengintensifkan penegakan hukum dan pengendalian illegal fishing serta
kegiatan yang merusak di laut; dan (d) Peningkatan peran serta masyarakat
dalam pengawasan pemanfaatan sumber daya kelautan dari kegiatan yang
merusak sumber daya laut;
4. Penguatan konektivitas laut dan industri maritim. Arah kebijakan dan strategi
difokuskan pada: (a) pembangunan pelabuhan perintis dan prasarana
pendukungnya dalam kerangka penguatan konektifitas dengan media laut; (b)
penambahan armada dan moda transportasi perintis di wilayah-wilayah remote
dan potensial; (c) penambahan rute dan frekuensi transportasi perintis; dan (d)
penguatan kemampuan industri maritim;
5. Peningkatan pemanfaatan bioresources kelautan, pengelolaan pesisir dan
konservasi perairan. Arah kebijakan dan strategi difokuskan pada: (a)
menyempurnakan dan melengkapi sistem perijinan dan investasi di pulau-pulau
kecil; (b) pembangunan sarana dan prasarana pendukung pengembangan
ekonomi pulau kecil dan kawasan konservasi; (c) penyusunan tata ruang dan
zonasi terutama di kawasan konservasi dan pulau-pulau yang akan
dikembangkan, termasuk penataan zonasi yang tepat,
sejalan dengan
kepentingan pengembangan perikanan laut; (d) meningkatkan data dan
informasi terkait dengan ketersediaan dan kondisi sumber daya kelautan
lainnya seperti energi laut, keanekaraman hayati untuk pemanfaatan dalam
skala ekonomi: (e) penambahan luasan kawasan konservasi; dan (f) rehabilitasi
kawasan pesisir yang rusak, pengendalian bencana alam dan mitigasi dampak
perubahan iklim, penanaman vegetasi pantai termasuk mangrove, peningkatan
kesiapan dan ketahanan desa pesisir dalam menghadapi dampak bencana dan
perubahan iklim, serta pengurangan pencemaran wilayah pesisir dan laut.
Menanggapi pertanyaan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan mengenai
minimnya inovasi Pemerintah dalam mengatasi masalah ketertinggalan
infrastruktur dibandingkan dengan negara lain, Pemerintah menyadari infrastruktur
menjadi prasyarat pokok keunggulan ekonomi suatu negara. Laporan dari WEF
(World Economic Forum) menilai bahwa daya saing infrastruktur Indonesia

-L.31-

menurun dari urutan 89 dari 125 negara pada tahun 2005 menjadi 96 dari 134
negara pada tahun 2009. Namun demikian, daya saing tersebut akhirnya mengalami
peningkatan yang cukup signifikan menjadi urutan 82 dari 148 negara pada tahun
2013. Kenaikan peringkat daya saing infrastruktur terutama disebabkan peningkatan
yang cukup signifikan pada sektor transportasi dan telekomunikasi. Untuk
infrastruktur jalan mengalami peningkatan dari urutan ke 105 pada tahun 2009
menjadi urutan ke 78 pada tahun 2013. Sedangkan pelabuhan dari urutan ke 104
pada tahun 2009 menjadi urutan ke 89 pada tahun 2013. Pada sektor
telekomunikasi dari urutan ke 100 pada tahun 2009 menjadi urutan ke 62 pada
tahun 2013. Perbaikan peringkat infrastruktur transportasi tersebut karena selama
kurun waktu tersebut, pemerintah berusaha meningkatkan investasi untuk
pembangunan transportasi. Sedangkan infrastruktur telekomunikasi lebih banyak
didorong oleh dunia usaha yang sangat responsif terhadap deregulasi dan liberalisasi
sektor telekomunikasi sehingga tidak banyak anggaran pemerintah yang
dialokasikan.
Salah satu kendala bagi pembangunan infrastruktur adalah masalah pendanaan.
Terkait hal ini dapat disampaikan bahwa pendanaan pembangunan infrastruktur
tidak hanya bersumber dari APBN, tetapi juga dilakukan melalui skema pendanaan
BUMN dan Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS). Beberapa kebijakan akan
dilakukan terkait dengan skema KPS di bidang infrastruktur untuk mengurangi celah
pembiayaan infrastruktur yang tidak dapat tertutupi oleh anggaran Pemerintah,
antara lain: (1) Pembukaan peluang usaha bagi badan usaha secara kompetitif, tidak
diskriminatif, dan transparan; (2) Penyiapan proyek KPS bankable; (3) Peningkatan
kapasitas dukungan viability gap fund (VGF) dan jaminan Pemerintah serta
lembaga pembiayaan; dan (4) Penyederhanaan dan harmonisasi regulasi terkait
penyediaan infrastruktur melalui skema KPS.
Sebagai langkah lanjut, Pemerintah telah menawarkan banyak proyek-proyek
infrastruktur untuk dapat dibiayai swasta melalui skema KPS. Pemerintah pun telah
mengembangkan berbagai macam kebijakan guna mendukung pelaksanaan
pembangunan infrastruktur dengan skema KPS dan memastikan implementasinya
sesuai dengan prinsip transparansi, akuntabilitas dan kompetisi. Pemerintah juga
telah memberikan dukungan terhadap skema KPS dalam bentuk dukungan fiskal
dan/atau non fiskal, diantaranya adalah pemberian Jaminan Pemerintah yang
diberikan dengan mekanisme single window policy melalui Badan Usaha
Penjaminan Infrastruktur.
Ke depan, untuk terus mendorong pembangunan infrastruktur, Pemerintah tetap
konsisten dan terus meningkatkan komitmen dalam mendukung pengembangan

-L.32-

KPS di Indonesia dengan melakukan penguatan dan percepatan eksekusi proyek


KPS, di antaranya melalui (1) Pemberian dukungan Pemerintah yang efektif dan
efisien (Land Fund berupa Land Capping, Dana Bergulir Pengadaan Tanah dan
Land Acquisition, Penyaluran dana infrastruktur melalui PT SMI dan PT IIF,
Fasilitas penyiapan proyek melalui PT SMI dan PIP, serta VGF; (2) Pemberian
jaminan Pemerintah yang tepat (memperkuat kapasitas penjaminan PT PII sebagai
eksekutor single window policy dalam penjaminan infrastruktur); dan (3)
Penguatan sinergi dan kapasitas kelembagaan.
Menanggapi saran Fraksi Partai Keadilan Sejahtera agar dilakukan upaya
peningkatan kinerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan
dalam merealisasikan pembangunan berbagai infrastruktur, peningkatan kinerja
Kementerian Perumahan Rakyat dalam penyediaan rumah rakyat, serta kebijakan
terintegrasi antar semua stakeholder yang mengelola Tenaga Kerja Indonesia (TKI),
dapat disampaikan bahwa Pemerintah sependapat dengan saran tersebut. Untuk hal
tersebut, dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut.
Terkait kinerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan,
Pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan kinerja kedua kementerian tersebut
dalam merealisasikan pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur yang
terdiri dari konektivitas, ketahanan energi, sumber daya air, perumahan dan
permukiman, serta pengembangan kerjasama Pemerintah dan swasta, terus
ditingkatkan untuk menunjang pembangunan di segala bidang. Arah kebijakan
pembangunan infrastruktur pada tahun 2015 diprioritaskan pada: (1) memperkuat
penguatan konektivitas nasional; (2) meningkatkan ketersedian infrastruktur
pelayanan dasar termasuk ketersediaan hunian dan air bersih; serta (3)
meningkatkan ketahanan air.
Sementara itu, peningkatan kinerja Kementerian Perumahan Rakyat dalam
penyediaan perumahan untuk rakyat, dilakukan melalui optimalisasi anggaran
Rp4,6 triliun pada RAPBN 2015, untuk pelaksanaan program-program Kementerian
Perumahan Rakyat. Anggaran tersebut antara lain digunakan untuk melaksanakan
program pengembangan perumahan dan kawasan permukiman. Dalam rangka
penataan perumahan dan kawasan permukiman, sasaran umum yang ingin dicapai
adalah meningkatnya layanan perumahan bagi seluruh penduduk, terutama
masyarakat berpenghasilan rendah. Pada tahun 2015, angka backlog perumahan
diharapkan dapat berkurang menjadi 11,5 juta rumah tangga. Selain itu, rumah
tangga yang menempati rumah tidak layak huni juga diharapkan berkurang menjadi
3,26 juta rumah tangga. Secara spesifik, sasaran yang ingin dicapai pada tahun 2015
antara lain:

-L.33-

1. Meningkatnya fasilitasi penyediaan hunian layak huni untuk masyarakat


berpenghasilan rendah sebanyak 20.000 unit.
2. Pembangunan Rusunawa untuk masyarakat berpenghasilan rendah sebanyak 120
twin block.
3. Meningkatnya fasilitasi peningkatan kualitas hunian sebanyak 64.850 unit.
Program Kementerian Perumahan Rakyat yang berkaitan langsung dengan
penyediaan rumah untuk rakyat, dijabarkan dalam program pengembangan
perumahan dan kawasan permukiman yaitu:
1. Pembangunan rumah layak huni melalui pasar formal maupun secara swadaya
masyarakat, baik untuk pembangunan baru maupun peningkatan kualitas.
2. Pembangunan rumah susun (rusun) baik sewa maupun milik.
3. Pembangunan rumah khusus dan pasca bencana.
Selanjutnya, kebijakan terintegrasi antar semua stakeholder yang mengelola TKI
dilakukan dengan membangun kemitraan antara Pemerintah dan dunia
usaha/industri. Lemahnya alur informasi dan komunikasi antara berbagai
penyelenggara pelatihan, baik antar Pemerintah maupun antara swasta dengan
industri, memerlukan koordinasi yang intensif. Selain itu, belum adanya lembaga
yang mampu melakukan fungsi koordinasi penyelenggaraan pelatihan secara
menyeluruh. Berkaitan dengan hal tersebut, program kemitraan merupakan
program yang efektif dalam mencetak tenaga kerja kompeten sesuai dengan
kebutuhan industri (demand driven). Melalui program kemitraan, calon pekerja
yang memperoleh pelatihan dan lulus uji kompetensi, dapat langsung ditempatkan
di perusahaan/industri. Kemitraan tersebut diharapkan dapat mendorong lembaga
pelatihan Pemerintah dalam menyesuaikan standar yang ditetapkan oleh industri.
Sementara itu, terkait perlindungan terhadap Warga Negara Indonesia (WNI) di luar
negeri, berbagai langkah strategis dilakukan melalui pencegahan deteksi dini dan
langkah cepat tanggap perlindungan WNI di luar negeri. Upaya pencegahan yang
dilakukan telah berhasil menurunkan jumlah kasus yang ditangani daripada tahun
sebelumnya. Sepanjang tahun 2004-2013, dari 17.979 total kasus WNI, sebanyak
9.942 kasus atau 55.30 persen telah diselesaikan. Tantangan utama dalam ranah
tersebut meliputi: (1) masih perlunya peningkatan keberpihakan diplomasi
Indonesia terhadap perlindungan WNI/Badan Hukum Indonesia (BHI) di luar
negeri; (2) pembagian tugas yang lebih jelas antar institusi terkait seperti
Kementerian Luar Negeri, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Badan
Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI); (3)
koordinasi antar pemangku kepentingan termasuk pelibatan aktor non Pemerintah;
serta (4) upaya diplomasi untuk mendorong lahirnya perjanjian bilateral dengan
-L.34-

negara penerima tenaga kerja Indonesia yang dapat menjadi payung perlindungan
hukum guna menjamin hak-hak TKI di negara tujuan.
Berkaitan dengan anggaran pendidikan, Pemerintah sependapat terhadap
pandangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi Partai Persatuan
Pembangunan, dan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan agar
peningkatan anggaran pendidikan harus mampu mendorong peningkatan kualitas
pendidikan. Oleh karena itu, kebijakan dalam tahun 2015 akan diarahkan untuk
mendukung prioritas pembangunan pendidikan, antara lain: Pertama, peningkatan
kualitas wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun, dengan memberikan
perhatian yang lebih besar pada kelompok miskin, anak-anak yang tinggal di wilayah
perdesaan dan daerah terpencil, terluar, dan tertinggal (3T), agar meningkatkan
pemerataan kesempatan belajar. Kedua, peningkatan kualitas dan relevansi
pendidikan menengah dan pendidikan tinggi terhadap dunia kerja. Ketiga,
peningkatan akses pendidikan dengan pembangunan sekolah-sekolah satu atap
terutama di daerah 3T dan daerah padat penduduk, serta rehabilitasi ruang kelas
yang rusak, sehingga kualitas infrastruktur pendidikan meningkat. Keempat,
peningkatan profesionalisme dan
pembenahan distribusi guru dan tenaga
kependidikan. Disamping itu, Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap
peningkatan pendidikan agama melalui peningkatan kemampuan guru, peningkatan
kapasitas dan fasilitas penyelenggara pendidikan, serta pengembangan metodologi
pembelajaran pendidikan agama yang efektif, sehingga dapat meningkatkan
pemahaman peserta didik terhadap ajaran agama dan nilai akhlak mulia serta budi
pekerti.
Dengan dukungan anggaran pendidikan yang semakin meningkat dan berbagai
upaya yang ditempuh Pemerintah tersebut diharapkan dapat meningkatkan taraf
pendidikan penduduk yang dicerminkan dengan rata-rata lama sekolah penduduk
usia 15 tahun keatas menjadi 8,37 tahun dan angka melek aksara kelompok usia yang
sama menjadi 94,5 persen. Di samping itu, juga diharapkan target angka partisipasi
murni (APM) SD/MI dapat mencapai sekitar 90,63 persen, APM SMP/MTs sekitar
80,79 persen, APM SMA/SMK/MA sekitar 58,18 persen, dan angka partisipasi kasar
(APK) pendidikan tinggi sekitar 29,68 persen. Selain itu, juga diharapkan target
SMA/SMK yang memiliki sarana dan prasarana sesuai standar nasional pendidikan
(SNP) masing-masing dapat mencapai sekitar 75 persen, jumlah guru yang
berkualifikasi S1/D-IV masing-masing mencapai sekitar 1,0 juta guru SD, 504 ribu
guru SMP dan 251 ribu guru SMA, serta jumlah dosen program sarjana yang
berkualifikasi minimal S2 sekitar 150 ribu dosen dan dosen program pascasarjana
yang berkualifikasi minimal S3 sekitar 29,5 ribu dosen.

-L.35-

Menjawab pertanyaan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengenai


pemenuhan kekuatan dasar yang diperlukan (MEF), serta pemeliharaan dan
perawatan alutsista kiranya dapat dijelaskan bahwa pembangunan pertahanan
diarahkan dalam rangka mewujudkan kekuatan pokok pertahanan militer, melalui
rancangan pemenuhan kekuatan pokok minimum (minimum essential force/MEF)
yang dibangun dalam 3 (tiga) Renstra yaitu dari 2010-2024. Sesuai dengan Renstra
tersebut, fokus pembangunan pertahanan negara diarahkan untuk mewujudkan
standar penangkalan melalui peningkatan profesionalisme sumber daya manusia
dilengkapi dengan Alutsista TNI yang modern dan berbasis produksi dalam negeri.
Pembangunan pertahanan negara merupakan bagian dari pembangunan nasional
yang dibiayai dari APBN. Alokasi anggaran Kementerian Pertahanan tahun 20102015 secara nominal mengalami kenaikan dari sebesar Rp42,9 triliun dalam APBNP
tahun 2010 menjadi sebesar Rp95,0 triliun dalam RAPBN tahun 2015, dimana
anggaran untuk pemenuhan pendanaan percepatan MEF tahap I (2010-2014)
mencapai Rp57,0 triliun.
Upaya pemenuhan kekuatan pertahanan minimal (MEF) yang didukung industri
pertahanan nasional telah berhasil mendatangkan dan membangun sejumlah
alutsista TNI yang modern dan memiliki daya penggentar tinggi. Peran industri
pertahanan nasional juga terlihat semakin nyata dalam pemenuhan sebagian
kebutuhan MEF seperti pesawat udara CN 295, CN 235 Maritime Patrol Aircraft,
berbagai helikopter, berbagai persenjataan, dan panser Anoa. Pada tahun 2015,
sejumlah peralatan modern akan mewarnai alat utama sistem senjata berteknologi
tinggi seperti kapal selam dimana pembangunan kapal selam ketiga sudah dapat
dilakukan di Indonesia dan seluruhnya dilakukan oleh tenaga-tenaga Indonesia.
Pada posisi ini, daya penggentar militer Indonesia meningkat cukup signifikan dan
semakin diperhitungkan oleh kekuatan militer asing. Indikasinya adalah dalam
beberapa tahun terakhir, upaya-upaya gangguan kewibawaan dan kedaulatan NKRI
semakin menurun intensitasnya. Konsekuensi dari peningkatan kekuatan militer
tersebut adalah penyediaan anggaran pemeliharaan dan perawatan alutsistanya.
Selain itu, lahirnya Undang-Undang Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri
Pertahanan turut mewarnai langkah-langkah kebijakan pemenuhan Alutsista TNI.
Industri pertahanan nasional kedepannya akan lebih diberdayakan baik melalui
inisiatif pengembangan mandiri maupun program kerja sama
transfer of
technology dengan negara lain.
Menjawab pertanyaan dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Fraksi
Gerindra dan Fraksi Hanura mengenai anggaran sektor pertanian, kelautan dan

-L.36-

perikanan untuk mencapai ketahanan pangan kiranya dapat dijelaskan bahwa


alokasi anggaran Kementerian Pertanian dalam kurun waktu 2010-2015 terus
meningkat, yaitu dari Rp8,9 triliun dalam APBNP 2010 menjadi Rp15,8 triliun
dalam RAPBN tahun 2015. Demikian pula untuk sektor kelautan dan perikanan.
Anggaran Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam kurun waktu 2010-2015 terus
mengalami peningkatan yaitu dari Rp3,4 triliun dalam APBNP 2010 menjadi Rp6,4
triliun dalam RAPBN 2015.
Sektor pertanian masih tetap memegang peran yang strategis sebagai penggerak
perekonomian nasional yang didukung dengan telah disusunnya dokumen strategi
induk pembangunan pertanian (SIPP) periode 2014-2045 sebagai bagian dari
pelaksanaan amanat konstitusi untuk mewujudkan Indonesia yang Bermartabat,
Mandiri, Maju, Adil dan Makmur. SIPP tersebut merupakan kesinambungan dari
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025.
Terkait dengan swasembada pangan, dalam tahun 2010-2014 strategi dan kebijakan
pembangunan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada, yaitu diarahkan
untuk memenuhi pencapaian produksi komoditas utama seperti beras, jagung,
kedelai, gula dan daging dimana target swasembada beras berkelanjutan diubah
menjadi surplus beras. Upaya pemenuhan kebutuhan pangan tersebut merupakan
salah satu peran strategis sektor pertanian dan merupakan tugas yang tidak ringan,
mengingat jumlah penduduk Indonesia yang terus bertambah.
Sektor pertanian berperan penting dalam perekonomian dan memiliki peran
strategis melalui kontribusi yang nyata pada pembentukan kapital, penyediaan
bahan pangan, bahan baku industri, pakan dan bio energi, penyerap tenaga kerja,
sumber devisa negara, sumber pendapatan, serta pelestarian lingkungan melalui
praktek usaha tani yang ramah lingkungan. Dalam membangun pertanian, anggaran
Pemerintah yang terbatas harus dimanfaatkan secara tepat sasaran guna
menggerakkan partisipasi masyarakat dan swasta. Selain itu perlu dilakukan
refocusing dan efisiensi anggaran ke arah kegiatan yang berdampak pada
pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional, pengentasan kemiskinan dan
pengurangan pengangguran.
Mengingat rencana kerja tahun 2015 merupakan estafet pelaksanaan pembangunan
pertanian pada RPJMN 2010-2014 serta merupakan tahun pertama pelaksanaan
RPJMN 2015-2019, maka rancangan program, kegiatan dan penganggaran tahun
2015 diarahkan untuk menyelesaikan dan melanjutkan kegiatan 2014, menjawab
isu-isu terkini 2015 dan meletakkan kerangka dasar program dan kegiatan sampai

-L.37-

tahun 2019. Jumlah alokasi anggaran yang relatif tidak meningkat tajam tersebut
karena tahun 2015 ini adalah baseline budget.
Untuk itu, anggaran Kementerian Pertanian tahun 2015 dikonsentrasikan pada
kegiatan-kegiatan yang menjadi faktor pengungkit bagi pencapaian sasaran
pembangunan nasional. Pembangunan pertanian akan fokus pada pengembangan
komoditas di lokasi kawasan andalan. Pendekatan kawasan dibangun dengan
mengembangkan kawasan yang sudah ada maupun mengembangkan kawasan baru.
Pengembangan kawasan diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
kawasan secara terpadu dan multiyears. Pendekatan kawasan ini juga dilakukan
dalam rangka mendukung koridor pengembangan ekonomi Indonesia (KPEI) yaitu
pengembangan sentra kelapa sawit dan karet di koridor Sumatera dan koridor
Kalimantan, industry pangan di koridor pulau Jawa, sentra padi, singkong, jagung
dan kakao di koridor Sulawesi, sentra jagung di koridor Bali-Nusa Tenggara serta
sentra pangan dan perkebunan di koridor Papua-Maluku. Selama lima tahun ke
depan, dalam membangun pertanian di Indonesia, Kementerian Pertanian
mencanangkan empat sasaran strategis yaitu: (1) peningkatan ketahanan pangan; (2)
pengembangan ekspor dan substitusi impor produk pertanian; (3) pengembangan
penyediaan bahan baku bio industri dan bio energi; dan (4) peningkatan
kesejahteraan petani.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Fraksi
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) agar kebijakan anggaran Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN) mendapatkan prioritas yang tinggi, besaran iuran PBI
agar perlu dikaji ulang agar layak dan memadai, serta persiapan beroperasinya BPJS
Ketenagakerjaan dapat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut. Pemerintah
menyadari dan berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan bagi masyarakat terutama untuk masyarakat miskin dan tidak mampu
melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebagaimana diamanatkan
dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial. Berbagai upaya yang telah dan akan terus dilakukan Pemerintah
diantaranya adalah dengan meningkatkan jumlah fasilitas layanan kesehatan untuk
peserta PBI dengan menambah jumlah Puskesmas dan ruang rawat inap kelas III di
rumah sakit-rumah sakit Pemerintah, termasuk di daerah perbatasan dan pulaupulau kecil terluar yang berpenduduk, serta memperluas jaringan pelayanan
kesehatan JKN dengan rumah sakit-rumah sakit swasta. Hal ini perlu dilakukan agar
ketersediaan fasilitas kesehatan (supply side) untuk pelayanan kesehatan kepada
masyarakat miskin dan tidak mampu tersebut dapat mencukupi.

-L.38-

Selanjutnya, terkait dengan besaran premi PBI peserta JKN, Pemerintah juga tetap
memperhatikan kesesuaian antara anggaran yang disediakan dengan layanan yang
diberikan. Dalam RAPBN 2015, alokasi anggaran untuk PBI JKN sebesar Rp 19,9
triliun bagi 86,4 juta jiwa PBI peserta JKN cukup memadai dengan
mempertimbangkan pengaruhnya terhadap ketahanan fiskal, khususnya untuk
RAPBN 2015 dan keseimbangan dengan besaran iuran jaminan kesehatan bagi non
PBI agar tidak menjadi masalah sosial dalam penerapannya. Berdasarkan hal
tersebut, Pemerintah tidak menutup kemungkinan untuk melakukan penyesuaian
anggaran PBI tersebut apabila alokasi anggaran yang disediakan dipandang masih
belum memadai untuk pemberian pelayanan kesehatan yang optimal.
Namun demikian, penyesuaian besaran iuran PBI harus dilakukan setelah dilakukan
evaluasi secara menyeluruh sesuai dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 111
Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013
tentang Jaminan Kesehatan dan kebutuhan untuk memperbaiki penyelenggaraan
program jaminan kesehatan itu sendiri. Melalui evaluasi menyeluruh ini, akan
diketahui apakah iuran PBI dan bahkan iuran kelompok peserta yang lain sudah
memadai. Selain hal tersebut, Pemerintah juga terus melakukan evaluasi terhadap
pelaksanaan SJSN Kesehatan, baik terhadap fasilitas kesehatan (Puskesmas, Klinik
Kesehatan dan lain sebagainya) maupun Rumah Sakit Pemerintah.
Selanjutnya, terkait dengan mulai beroperasinya BPJS ketenagakerjaan pada bulan
Juli tahun 2015 dapat pula kami sampaikan penjelasan sebagai berikut.
Pada tanggal 1 Juli 2015 BPJS Ketenagakerjaan akan menyelenggarakan 4 program,
yaitu: (1) jaminan kecelakaan kerja (JKK); (2) jaminan hari tua (JHT); (3) jaminan
pensiun (JP); dan (4) jaminan kematian (JKM) yang dulunya diselenggarakan oleh
PT Jamsostek. Saat ini, PT Jamsostek telah berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan
dan PT Jamsostek telah dinyatakan bubar tanpa likuidasi dan semua aset dan
liabilitas serta hak dan kewajiban hukum PT Jamsostek menjadi aset dan liabilitas
serta hak dan kewajiban hukum BPJS Ketenagakerjaan, serta semua pegawainya
menjadi pegawai BPJS Ketenagakerjaan. Keempat program tersebut akan
diselenggarakan bagi seluruh pekerja, yang dilaksanakan secara bertahap.
Kepesertaan wajib dalam program tersebut akan meliputi peserta penerima upah,
baik pekerja yang bekerja pada penyelenggara negara maupun bukan penyelenggara
negara, serta peserta bukan penerima upah, seperti antara lain pekerja di luar
hubungan kerja atau pekerja mandiri.
Dengan berdirinya BPJS Ketenagakerjaan tersebut, Pemerintah sebagai pemberi
kerja juga berkewajiban untuk mendaftarkan seluruh pegawainya (Penerima
Penghasilan dari Pemerintah) sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Untuk itu,

-L.39-

dalam RAPBN tahun 2015, Pemerintah telah mengalokasikan cadangan anggaran


untuk membayar iuran jaminan kecelakaan kerja (JKK), jaminan kematian (JKM),
dan jaminan hari tua (JHT) bagi penerima penghasilan dari Pemerintah. Selain itu,
pada tahun 2013 Pemerintah juga telah melakukan Penyertaan Modal Negara
kepada kedua Badan penyelenggara program jaminan sosial tersebut yakni BPJS
Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan masing-masing sebesar Rp500,0 miliar
sebagai modal awal berdirinya kedua lembaga tersebut. Dengan demikian, secara
kelembagaan, BPJS Ketenagakerjaan telah siap untuk memulai dilaksanakannya ke
empat program jaminan sosial tersebut di atas.
Mengenai strategi dan kebijakan pelaksanaan anggaran, Pemerintah sependapat
dengan Fraksi Partai Demokrat dan Fraksi Partai Persatuan
Pembangunan, bahwa kebijakan yang bersifat ekspansif harus diimbangi dengan
optimalisasi penyerapan anggaran, sehingga memberikan dampak multiplier yang
positif bagi perekonomian nasional. Pemerintah sepenuhnya menyadari
permasalahan penyerapan anggaran yang tidak optimal dan pola penyerapan yang
cenderung besar di akhir tahun, menyebabkan efektivitas dan daya dorong belanja
dalam APBN terhadap perekonomian menjadi tidak maksimal. Sebagaimana kita
ketahui bersama, selama ini kebijakan belanja eskpansif telah diterapkan, meskipun
tetap dalam batas yang aman, sebagaimana tahun 2015, direncanakan defisit sebesar
2,32 % dari PDB. Namun, realisasi penyerapan anggaran belanja Pemerintah Pusat
dalam tiga tahun terakhir relatif berfluktuasi, antara 94,5% sampai dengan 97,3%
dari APBNP nya.
Pemerintah menyadari permasalahan penyerapan sebagai salah satu permasalahan
utama dalam pelaksanaan anggaran. Berbagai upaya
terus dilakukan oleh
Pemerintah untuk mendorong tingkat penyerapan yang optimal. Upaya tersebut
dilakukan secara komprehensif mulai dari aspek regulasi dan perhatian terhadap
aspek implementasi, antara lain :
1. Penggunaan Sistem Perbendaharan dan Anggaran Negara (SPAN) dalam
pelaksanaan APBN.
2. Melakukan monitoring dan evaluasi secara sistematis terhadap rencana
penyerapan anggaran.
3. Meningkatkan sinergi antara pengelola keuangan K/L (perencanaan,
pelaksanaaan, dan pertanggungjawaban anggaran ).
4. Meningkatkan koordinasi dengan stakeholder (K/L, LKPP, dan Kementerian
Keuangan)
5. Mengoptimalkan peran perencanaan dalam eksekusi belanja melalui sistem
monitoring dan evaluasi yang dapat dijadikan alat untuk monitoring dan
evaluasi penyerapan anggaran.

-L.40-

6. Pelaksanaan proses pengadaan yang dilakukan sebelum tahun anggaran dimulai


(pre-procurement), dimana pelelangan pengadaan barang/ jasa yang
dilaksanakan sebelum tahun anggaran dimulai setelah RKA-K/L disetujui oleh
DPR.
7. Penyempurnaan sistem pengadaan antara lain melalui peningkatan penggunaan
e-procurement dan penambahan unit layanan pengadaan di masing-masing
instansi
8. Menyempurnakan berbagai kebijakan di bidang pembayaran agar lebih cepat,
mudah namun tetap mempertimbangkan akuntabilitas.
9. Dilakukan penajaman monev dengan melakukan evaluasi terhadap kinerja
pelaksanaan anggaran per triwulan dan dilakukan per K/L dengan fokus
permasalahan yang spesifik terjadi di K/L tersebut.
Selanjutnya, terkait pandangan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan,
Fraksi Partai Amanat Nasional, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa dan
Fraksi Partai Demokrat mengenai permasalahan penyerapan anggaran belanja,
dapat disampaikan bahwa permasalahan penyerapan anggaran disebabkan oleh
berbagai aspek struktural, institutional, dan kultural yang perlu dibarengi dengan
perbaikan tata kelola belanja negara. Masalah-masalah penyerapan anggaran secara
menyeluruh telah secara bertahap diatasi antara lain melalui: (1) aspek regulasi,
di bidang pelaksanaan anggaran, agar tercipta penyerapan anggaran yang optimal
dan tidak cenderung menumpuk di akhir tahun, melalui penetapan norma waktu
penyelesaian tagihan, batas minimal Uang Persediaan yang dapat
dipertanggungjawabkan, dan sebagainya sebagaimana yang tertuang dalam PMK
No. 190/PMK.05/2012 tentang Tata Cara Pembayaran dalam rangka Pelaksanaan
APBN, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.05/2012 tentang Perjalanan
Dinas Dalam Negeri Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap,
dan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan nomor PER-22/PB/2013 tentang
Ketentuan Lebih Lanjut Pelaksanaan Perjalanan Dinas Dalam Negeri Bagi Pejabat
Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap; (2) aspek kelembagaan,
melalui pembinaan, sosialisasi dan bimbingan atas tata cara pengelolaan keuangan
kepada seluruh satker di lingkup Kementerian Negara/Lembaga sehingga kapasitas
kelembagaan dapat mendukung tercapainya target anggaran; (3) aspek inovasi,
terkait perbaikan kualitas belanja melalui inisiatif spending review, dimana fokus
belanja diarahkan pada pengukuran-pengukuran efisiensi dan efektivitas belanja
yang dilakukan oleh masing-masing satker.
Melalui upaya pada ketiga aspek tersebut diharapkan dampak APBN terhadap
perekonomian khususnya sektor riil dapat dirasakan, sehingga fungsi APBN bukan
hanya tercermin dalam fungsi alokasi namun juga fungsi stabilitasi dan distribusi.

-L.41-

Terkait dengan penurunan tingkat kemiskinan, fungsi distribusi APBN terus


ditingkatkan melalui perbaikan regulasi di bidang perpajakan dan perbaikan
kebijakan belanja yang difokuskan kepada masyarakat miskin seperti subsidi dan
bantuan sosial. Dengan demikian diharapkan belanja negara linier dengan upaya
penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran.
Selain itu, untuk mengoptimalkan tingkat realisasi penyerapan anggaran pada K/L,
Pemerintah telah dan akan mengambil beberapa langkah strategis, baik melalui
pendekatan fleksibilitas dalam pelaksanaan anggaran maupun melalui upaya
mengurangi jalur birokrasi. Langkah-langkah yang telah dan akan ditempuh
tersebut, di antaranya adalah dengan:
a. Membentuk Tim Evaluasi dan Pengawasan Penyerapan Anggaran (TEPPA) yang
terdiri dari unsur UKP4, Kementerian Keuangan, dan BPKP, yang bertugas untuk
melakukan monitoring dan evaluasi serta pengawasan atas penyerapan anggaran
pada Kementerian Negara/Lembaga dan Daerah.
b. Melaksanakan rapat koordinasi triwulanan antara Kementerian Keuangan dan
K/L yang bertujuan untuk melakukan evaluasi atas penyerapan anggaran dan
memberikan solusi atas hambatan-hambatan yang ada dalam penyerapan
anggaran.
c. Mengupayakan percepatan implementasi Undang-Undang Nomor 2 tahun 2012,
Perpres Nomor 71 Tahun 2012, dan PMK Nomor 13/PMK.02/2013 tentang
pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum, yang diharapkan
dapat mengatasi permasalahan-permasalahan terkait pengadaan tanah dalam
proses pembangunan.
d. Mensosialisasikan kepada K/L untuk menyusun rencana penyerapan anggaran
(disbursement plan) yang sistematis.
e. Meningkatkan kualitas perencanaan kegiatan dan penganggarannya, baik yang
dilakukan oleh K/L maupun pemerintah daerah, sehingga dapat menghindari
revisi anggaran/kegiatan yang dalam prakteknya membutuhkan waktu yang tentu
saja dapat mempengaruhi realisasi penyerapan anggaran.
f. Mempercepat proses pembayaran terhadap pekerjaan yang telah selesai/termin
yang telah terpenuhi dengan mengimplementasikan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 170/PMK.05/2010 tentang Penyelesaian Tagihan atas Beban APBN pada
Satuan Kerja.
g. Melaksanakan spending review dengan tujuan untuk me-review kualitas belanja
dari sisi efisiensi dan efektivitas, sehingga diharapkan mampu meningkatkan
kualitas belanja negara, baik dalam perencanaan maupun pelaksanaannya.
h. Mendorong K/L dan pemerintah daerah untuk segera mengimplementasikan
sistem pengendalian intern Pemerintah (SPIP) sesuai dengan PP Nomor 60 tahun

-L.42-

2008 tentang SPIP, serta melakukan identifikasi dan penilaian terhadap risiko
atas setiap kegiatan sehingga risiko yang timbul dapat dihindari atau
diminimalkan.
Terkait dengan pandangan Fraksi Partai Amanat Nasional mengenai sistem
penganggaran terintegrasi, dapat disampaikan bahwa pada tahun 2014 Pemerintah
melakukan melakukan evaluasi atas perubahan proses bisnis penganggaran dan
perbaikan atas proses penyusunan RKA-K/L melalui penerbitan PMK Nomor
136/PMK.02/2014 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana kerja dan
Anggaran Kementerian Negara/Lembaga. Dengan adanya PMK tersebut, Aparat
Pengawas Internal Pemerintah (APIP) K/L memiliki peran besar untuk memperkuat
governance dan akuntabilitas atas proses perencanaan pada masing-masing unit
kerja di lingkungannya. Adapun tujuan pengaturan tersebut antara lain:
(1) standardisasi format dan dokumen yang digunakan dalam penyusunan RKA-K/L,
dokumen penelaahan, lembar persetujuan Komisi DPR, dan dokumen hasil
penelaahan RKA-K/L, dan (2) penyesuaian proses bisnis berkaitan dengan proses
validasi, penelaahan RKA-K/L (antara tatap muka dan on-line), proses persetujuan
(approval), dan penetapan DHP RKA-K/L. Selain itu, dapat disampaikan bahwa
dalam rangka penyederhanaan proses penelaahan RKA-K/L, telah dikembangkan
penelaahan RKA-K/L secara on-line dan penerapannya dilaksanakan secara
bertahap. Untuk TA 2015, telah ditetapkan sebanyak 43 K/L yang akan
melaksanakan penelaahan RKA-K/L secara online.
Disamping itu, saat ini Pemerintah sedang melaksanakan piloting Sistem
Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN), yakni sistem yang mengintegrasikan
sistem
perbendaharaan
dan
anggaran
negara
sampai
dengan
pertanggungjawabannya. Implementasi Integrated Financial Management System
dimaksud akan segera dilakukan secara penuh. SPAN bukan saja mengintegrasikan
keseluruhan fase keuangan negara mulai dari penganggaran, pencairan dan
pertanggungjawaban, namun juga telah menyederhanakan proses bisnis sehingga
lebih efisien, cepat, transparan dan akuntabel. Data dapat diambil secara cepat,
namun valid dengan sistem informasi yang terintegrasi. Penyederhanaan proses
bisnis dapat mendorong percepatan pelaksanaan anggaran yang pada gilirannya
diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perbaikan tingkat penyerapan
anggaran. Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah nomor 45 Tahun
2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan
Peraturan Menteri Keuangan nomor 190/PMK.05/2012 tentang Tata Cara
Pembayaran dalam Rangka Pelaksanaan APBN. Kedua peraturan tersebut telah
mengatur sistem pengelolaan keuangan negara yang sangat sederhana, fleksibel
namun tetap mengedepankan akuntabilitas dan governance yang baik.

-L.43-

Pemerintah terus mendorong K/L untuk melaksanakan langkah-langkah strategis


dalam rangka mempercepat penyerapan anggaran, diantaranya:
1. Proses pelelangan pengadaan barang/ jasa yang dilaksanakan sebelum tahun
anggaran dimulai setelah RKA-K/L disetujui oleh DPR.
2. Identifikasi dan perencanaan pengadaan barang/jasa di awal tahun anggaran
untuk memastikan agar pembayaran kegiatan dimaksud tidak menumpuk di
akhir tahun anggaran.
3. Percepatan pengadaan barang/jasa yang bernilai s.d. 200 juta karena dilakukan
dengan penunjukan langsung, sesuai dengan Perpres 70 tahun 2012.
4. Percepatan pengadaan barang/jasa yang bernilai 200 juta s.d. 5 milyar karena
dilakukan dengan lelang sederhana, sesuai dengan Perpres 70 tahun 2012.
Menanggapi pandangan Partai Persatuan Pembangunan mengenai realisasi
penyerapan anggaran dan upaya penghematan anggaran , dapat disampaikan bahwa
realisasi penyerapan anggaran belanja Pemerintah Pusat relatif berfluktuasi. Upaya
Pemerintah untuk memaksimalkan penyerapan anggaran dilakukan melalui
pemberian penghargaan bagi K/L yang dapat mengoptimalkan anggarannya. Bagi
K/L seperti ini, Pemerintah memberikan penghargaan berupa tambahan alokasi
sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2012 tentang
pemberian Penghargaan Pengenaan Sanksi atas Pelaksanaan Belanja
Kementerian/Negara.
Terkait pertanyaan dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
mengenai realokasi program belanja K/L, Pemerintah menyadari bahwa ruang gerak
fiskal untuk menunjang pelaksanaan berbagai program pembangunan masih relatif
terbatas, sebagai konsekuensi dari masih tingginya proporsi belanja yang bersifat
wajib (terutama subsidi, belanja pegawai, dan pembayaran bunga utang) dan adanya
pengkaplingan anggaran belanja oleh peraturan perundang-undangan untuk bidangbidang tertentu. Pada tahun 2015, proporsi untuk subsidi dan pembayaran bunga
utang sendiri direncanakan masing-masing sebesar 31,4 persen dan 11,2 persen dari
total belanja Pemerintah Pusat yang sebesar Rp1.379,9 triliun.
Namun demikian, Pemerintah telah mempertimbangkan ruang gerak bagi
pemerintahan baru untuk melaksanakan program-program kerja yang direncanakan.
Hal ini dapat dilihat dalam penyusunan anggaran belanja K/L tahun 2015, dimana
Pemerintah menggunakan pendekatan antara lain: (1) bersifat baseline budget, yaitu
hanya memperhitungkan kebutuhan pokok penyelenggaraan pemerintahan dan
pelayanan kepada masyarakat, tingkat output (service delivery) yang sama dengan
tahun anggaran 2014, dan tetap mengacu pada Rencana Kerja Pembangunan Jangka
Panjang (RPJP), sehingga diharapkan memberi ruang gerak bagi pemerintahan baru

-L.44-

hasil Pemilu 2014, untuk melaksanakan program/kegiatan sesuai dengan platform


yang direncanakan; (2) menampung anggaran program/kegiatan/output prioritas
nasional yang bersifat baseline; serta (3) meningkatkan penajaman kualitas belanja
K/L dari sisi efektifitas dan efisiensi alokasi, termasuk penyempurnaan rumusan
kinerja (outcome, output, dan indikator kinerja). Review dan realokasi program
sangat dimungkinkan untuk menciptakan ruang fiskal baru, melalui refocusing dan
mengurangi belanja-belanja yang kurang produktif.
Pemerintah sependapat dengan pandangan Fraksi Partai Hanura mengenai
perlunya meningkatkan efisiensi di dalam pengeluaran belanja negara terutama yang
berasal dari belanja rutin pegawai yang setiap tahun mengalami kenaikan.
Dapat kami sampaikan bahwa belanja pegawai merupakan jenis belanja mengikat
(nondiscretionary spending), yang wajib disediakan anggarannya oleh pemerintah
sebagai tanggung jawab pemberi kerja. Belanja pegawai tersebut terutama
digunakan untuk belanja gaji dan tunjangan serta kontribusi sosial bagi PNS dan
pensiunan. Oleh karena itu, belanja pegawai merupakan belanja yang bersifat
strategis guna menunjang kelangsungan kegiatan pemerintahan, dan menjamin
kelangsungan pelayanan publik bagi masyarakat.
Peningkatan belanja pegawai dari tahun ke tahun, utamanya disebabkan adanya
upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui reformasi
birokrasi dan tatakelola pemerintahan. Salah satu fokus utama pelaksanaannya
adalah melalui peningkatan profesionalisme aparatur negara dan tata pemerintahan
yang penuh integritas, akuntabel, taat kepada hukum, dan transparan. Disamping
itu, peningkatan alokasi belanja pegawai juga disebabkan oleh dampak kenaikan
belanja pensiun yang setiap tahun semakin meningkat seiring dengan bertambahnya
jumlah penerima pensiun. Pemerintah sependapat dengan Anggota Dewan bahwa
anggaran belanja pegawai harus optimal dan efisien. Untuk itu, dalam rangka
efisiensi anggaran belanja pegawai, Pemerintah sedang melakukan penataan kembali
jumlah kebutuhan PNS yang tepat (rightsizing) berdasarkan analisis jabatan dan
beban kerja. Untuk itu, sistem seleksi rekrutmen CPNS akan dilakukan dengan
menggunakan sistem computer assisted test (CAT) secara terpusat dengan
bekerjasama dengan konsorsium perguruan tinggi negeri (PTN) serta melibatkan
masyarakat dalam pengawasan, dengan lebih obyektif, transparan dan bebas, dalam
upaya menjaring pegawai yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan.
Sementara itu, terkait program-program yang tidak mendorong pertumbuhan
ekonomi dapat kami sampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah
telah melakukan langkah-langkah kebijakan untuk meningkatkan kualitas belanja

-L.45-

negara (quality of spending) dengan lebih memperhatikan efisiensi, dan ketepatan


alokasi, serta memperhitungkan pengaruhnya terhadap perekonomian melalui:
Pertama, mengedepankan alokasi belanja yang mendukung pembiayaan bagi
kegiatan-kegiatan pembangunan infrastruktur yang dapat meningkatkan
pertumbuhan ekonomi (pro growth), menciptakan kesempatan kerja (pro job),
mengentaskan kemiskinan (pro poor), dan mendukung pembangunan yang inklusif,
berkelanjutan dan ramah lingkungan (pro environment).
Kedua, mengurangi pendanaan bagi kegiatan-kegiatan yang bersifat konsumtif,
dengan antara lain membatasi belanja barang (biaya perjalanan dinas, kegiatan rapat
kerja, workshop, seminar, dan kegiatan yang sejenis), serta menekan biaya kegiatan
pendukung pencapaian sasaran suatu program (biaya manajemen, monitoring,
sosialisasi, safeguarding).
Ketiga, merancang ulang (redesign) kebijakan subsidi, diantaranya dengan merubah
sistem subsidi dari subsidi harga menjadi subsidi yang lebih tepat sasaran (targeted
subsidy), mempertajam sasaran penerima subsidi melalui sistem seleksi yang ketat
dan basis data yang transparan, serta menata ulang sistem penyaluran subsidi yang
lebih akuntabel, predictable, dan makin tepat sasaran.
Keempat, menghindarkan meningkatnya pengeluaran mandatory spending, yaitu
kewajiban pengeluaran yang ditetapkan (dikunci) dalam suatu peraturan
perundang-undangan yang tidak diamanatkan dalam konstitusi dan bertentangan
dengan kaidah pengelolaan keuangan negara.
Kelima, memperluas pelaksanaan reformasi birokrasi, diantaranya melalui penataan
organisasi, penyempurnaan proses bisnis, pelaksanaan kontrak kinerja, peningkatan
kualitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) dalam rangka menciptakan
birokrasi yang efisien dan efektif, serta pemberian remunerasi yang layak.
Keenam, menerapkan sistem reward dan punishment dalam pelaksanaan anggaran
secara konsisten, antara lain dengan memberikan penghargaan bagi K/L dan daerah
yang dapat mencapai sasaran yang ditetapkan dengan biaya yang lebih hemat untuk
pencapaian sasaran program yang lebih besar dan sebaliknya, memberi sanksi bagi
K/L dan atau daerah yang tidak mampu mencapai sasaran yang sudah ditetapkan
tanpa alasan yang dapat dipertangungjawabkan.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) agar Belanja
Pemerintah Pusat didesain lebih progresif untuk peningkatan kesejahteraan rakyat
dan mendorong pembangunan ekonomi nasional, dapat kami sampaikan beberapa
hal sebagai berikut. Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah telah berupaya
meningkatkan komponen belanja yang mempunyai dampak multiplier yang lebih

-L.46-

besar pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, antara lain melalui


pembangunan infrastruktur yang dapat meningkatkan
produktivitas dan
menurunkan biaya produksi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan daya saing
pelaku usaha, yang pada gilirannya akan menarik investor untuk berinvestasi di
Indonesia.
Selama ini, kebijakan perencanaan anggaran belanja Pemerintah Pusat dirancang
untuk menjaga keseimbangan antara upaya untuk meningkatkan peranannya dalam
memberikan stimulasi pada pertumbuhan ekonomi dengan upaya untuk tetap
menjaga stabilitas, dan memperkuat fundamental ekonomi makro. Meskipun defisit
anggaran relatif rendah, namun ekspansi dan stimulasi terhadap perekonomian
tetap dapat dilakukan Pemerintah melalui peningkatan kualitas belanja dengan
memfokuskan pada belanja yang produktif.
Kemudian, terkait dengan anggaran fungsi pelayanan umum yang harus dibenahi
secara serius agar lebih efisien dan memberikan dampak kepada masyrakat secara
luas, dapat kami sampaikan bahwa Pemerintah telah dan terus akan melakukan
langkah-langkah kebijakan untuk meningkatkan kualitas belanja negara (quality of
spending) sekaligus untuk membuka ruang fiskal baru, ditempuh antara lain dengan
lebih memperhatikan efisiensi, dan ketepatan alokasi, serta memperhitungkan
pengaruhnya terhadap perekonomian. Dalam rangka meningkatkan kualitas belanja
(quality of spending) tersebut, serta merekonstruksi komposisi belanja, maka akan
dilanjutkan langkah-langkah kebijakan sebagai berikut: (1) mengedepankan alokasi
belanja untuk pembangunan infrastruktur; (2) implementasi flat policy bagi belanja
operasional; (3) merancang ulang (redesign) kebijakan subsidi; (4) menghindarkan
meningkatnya pengeluaran mandatory spending; (5) memperluas pelaksanaan
reformasi birokrasi; dan (6) menerapkan sistem reward dan punishment dalam
pengalokasian anggaran secara konsisten.
Menanggapai pernyataan dari Fraksi PDI-P dan Fraksi PKS agar pembiayaan
atas kegiatan SKK Migas dilakukan melalui mekanisme APBN, bersama ini dapat
kami sampaikan penjelasan sebagai berikut. Sumber pembiayaan kegiatan
operasional SKK Migas sampai dengan saat ini (tahun 2014) didanai dengan
menggunakan sebagian PNBP hasil penerimaan atas pungutan jasa dalam kegiatan
hulu migas secara langsung (off budget), dan jika terdapat kelebihan penerimaannya
maka kelebihan tersebut disetorkan ke kas negara. Namun, untuk tahun 2015 dan
seterusnya guna menjaga governance dan akuntabilitas sebagaimana rekomendasi
BPK, maka penggunaan dana PNBP tersebut perlu dicatatkan terlebih dahulu dalam
mekanisme APBN (on budget). Untuk hal tersebut, perlu dilakukan revisi atas
peraturan perundangan tentang migas. Selanjutnya, dapat disampaikan bahwa

-L.47-

untuk pembiayaan kegiatan operasional SKK Migas tahun 2015, telah dicadangkan
dalam RAPBN 2015 yang menjadi bagian dari belanja pemerintah pusat.
Sehubungan dengan pertanyaan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengenai
Pembayaran Bunga Utang, dapat kami sampaikan penjelasan sebagai berikut.
Pembayaran Bunga Utang merupakan konsekuensi yang harus dipenuhi oleh
Pemerintah sebagai akibat dari pengadaan/penerbitan utang yang baru ataupun
utang yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya, baik yang bersumber dari
dalam negeri maupun luar negeri. Dalam RAPBN 2015, Pembayaran Bunga Utang
direncanakan sebesar Rp154,0 triliun. Meskipun Pembayaran Bunga Utang secara
nominal terlihat meningkat, akan tetapi secara rasio Pembayaran Bunga Utang
terhadap alokasi belanja Pemerintah Pusat mengalami kecenderungan penurunan
yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir, yaitu dari sebesar 12,67 persen
terhadap realisasi APBNP tahun 2010 menjadi 11,2 persen terhadap RAPBN tahun
2015. Penurunan rasio tersebut utamanya disebabkan oleh pengelolaan utang yang
dilakukan dengan penuh kehati-hatian (prudent), termasuk ketepatan waktu dan
ketepatan jumlah pembayaran kewajiban/bunga utang, penerbitan SBN dengan
pemilihan tenor pendek. Di samping itu, perbaikan rating Indonesia dari level Ba1
menjadi Baa3 dengan outlook stable pada tahun 2013 menunjukkan kepercayaan
pasar akan prospek perekonomian Indonesia yang lebih baik dan penurunan imbal
hasil (yield) penerbitan SBN yang cukup signifikan. Pemerintah berupaya
mengendalikan beban bunga utang antara lain melalui restrukturisasi utang (debt
switching dan buyback SBN yang memiliki tingkat kupon yang tinggi yang ditujukan
untuk mengurangi jumlah biaya yang akan ditanggung Pemerintah), pemilihan seri
dan waktu yang tepat dalam melakukan penarikan/penerbitan utang, dan
mengutamakan pembiayaan luar negeri dari kreditur multilateral dan bilateral yang
berbunga relatif rendah.
Dapat pula disampaikan bahwa Pembayaran Bunga Utang setiap tahunnya
mengalami fluktuasi. Hal ini disebabkan oleh penyesuaian yang harus dilakukan
terkait dengan jadwal Pembayaran Bunga Utang dan realisasi asumsi makro
ekonomi yang mempengaruhinya, seperti nilai tukar mata uang rupiah terhadap
mata uang asing utamanya dolar AS dan tingkat bunga referensi yang digunakan.
Terkait dengan penerbitan SBN neto, hal tersebut dalam jangka pendek sangat
ditentukan oleh kesepakatan penetapan besaran defisit antara DPR RI dengan
Pemerintah, dan ketersediaan sumber-sumber pembiayaan nonutang. Oleh karena
itu, sepanjang DPR RI dan Pemerintah menyepakati pembiayaan utang untuk
menutup defisit APBN dan asumsi ekonomi makro yang mempengaruhi
berfluktuasi, maka Pembayaran Bunga Utang akan ikut mengalami perubahan.

-L.48-

Berkaitan dengan pertanyaan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengenai


penyelesaian obligasi rekapitalisasi, dapat dijelaskan sebagai berikut. Penerbitan
obligasi rekap adalah kebijakan yang dilakukan dalam rangka penyelamatan
perekonomian nasional saat krisis keuangan melanda Indonesia mulai pertengahan
tahun 1997. Penerbitan obligasi rekap kepada bank rekap dilakukan untuk
menyehatkan kondisi permodalan perbankan. Sebagai gantinya, Pemerintah
memperoleh aset dan kepemilikan (ekuitas) pada bank rekap. Aset dan ekuitas
tersebut saat itu dikelola oleh BPPN dan sebagian telah dijual untuk menambah
penerimaan APBN.
Dasar hukum penerbitan Surat Utang atau Obligasi Negara dalam rangka Program
Rekapitulasi Bank Umum adalah Peraturan Pemerintah nomor 84 tahun 1998
tentang Program Rekapitalisasi Bank Umum yang ditetapkan pada tanggal 31
Desember 1998 dan berlaku surut sejak tanggal 9 Desember 1998 (PP 84/1998).
Dalam pasal 7 PP dimaksud memuat bahwa pembiayaan atas penyertaan modal
Negara pada Bank Umum dalam rangka program Rekapitulasi Bank Umum
dibebankan kepada APBN. Selain itu, dalam ketentuan Pasal 8 PP 84/1998
disebutkan bahwa dalam rangka pembiayaan atas penyertaan modal Negara pada
Bank Umum, Menteri Keuangan berwenang menerbitkan Surat Utang.
Selanjutnya, berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang SUN,
dalam ketentuan peralihan Pasal 20 disebutkan bahwa Surat Utang atau Obligasi
Negara yang diterbitkan berdasarkan PP No. 84 Tahun 1998 dinyatakan sah dan
tetap berlaku sampai dengan saat jatuh tempo. Konsekuensi dari ketentuan
dimaksud adalah berlakunya ketentuan dalam Pasal 8 ayat (2) UU No. 24 Tahun
2002 yang menyebutkan bahwa Pemerintah wajib membayar bunga dan pokok SUN
pada saat jatuh tempo.
Perlu disampaikan pula bahwa, obligasi yang dulunya merupakan Obligasi Rekap
kini telah dimiliki tidak hanya oleh Bank dan/atau Institusi penerima Obligasi Rekap
saja. Mengingat pemegang Obligasi Rekap pada saat ini tidak hanya bank/institusi
penerima Obligasi rekap saja, maka upaya yang ditempuh untuk menyelesaikan
Obligasi Rekap dimaksud diharapkan tidak menimbulkan market disruption di
pasar keuangan (market friendly). Adapun upaya-upaya yang telah dan akan
dilakukan Pemerintah untuk mengurangi Obligasi Rekap tersebut antara lain
program penukaran Obligasi (debt switch) maupun pelunasan sebelum jatuh tempo
(cash buyback) yang dilakukan sekaligus dalam rangka peningkatan likuiditas SUN.
Penyelesaian yang bersifat sepihak dan tidak market friendly akan menimbulkan
market disruption dan dapat merusak reputasi Pemerintah di pasar keuangan,
terutama kepercayaan investor pada kredibilitas Indonesia. Hal ini dapat berimbas

-L.49-

pada sulitnya Pemerintah untuk mengakses kembali pendanaan di pasar keuangan.


Oleh karena itu, penting bagi Pemerintah untuk menjaga risiko reputasi ini.
Berkenaan dengan pertanyaan dari Fraksi Partai Amanat Nasional maupun
Fraksi Partai Gerindra mengenai keterbatasan ruang fiskal, dapat kami
sampaikan sebagai berikut. Sebagaimana diketahui, Pembayaran Bunga Utang
timbul sebagai akibat dari pengadaan/ penerbitan utang yang baru ataupun utang
yang telah dilakukan Pemerintah pada tahun-tahun sebelumnya yang dipergunakan
untuk menutup defisit APBN dengan besaran pembiayaan yang disepakati antara
DPR RI dengan Pemerintah. Adapun utang yang diterbitkan dapat bersumber dari
dalam negeri maupun luar negeri.
Sebagai upaya mengurangi beban APBN baik pada saat ini maupun pada masa
mendatang, Pemerintah senantiasa mengutamakan sumber pembiayaan nonutang
untuk menutup defisit, diantaranya: penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan
hasil pengelolaan asset. Namun demikian, seiring dengan semakin terbatasnya
sumber pembiayaan nonutang, maka kekurangan pembiayaan defisit akan ditutup
melalui sumber-sumber pembiayaan dari utang. Pemilihan sumber pembiayaan dari
utang dilakukan secara transparan dan akuntabel dengan senantiasa
mempertimbangkan biaya, risiko dan kapasitas fiskal Pemerintah. Berdasarkan hal
tersebut, yang menjadi pertimbangan Pemerintah adalah bahwa Pembayaran Bunga
Utang masih dalam batas kemampuan ekonomi, akuntabel dan senantiasa
diupayakan untuk tidak menimbulkan tekanan yang berlebihan terhadap APBN.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Gerindra mengenai defisit anggaran
RAPBN 2015 yang akan dibiayai dengan pembiayaan yang bersumber dari dalam
negeri dan pembiayaan luar negeri, sementara hutang tersebut habis dibakar di
jalanan hanya untuk menutup subsidi BBM, Pemerintah sependapat dengan
pandangan anggota Dewan bahwa Pemerintah perlu melakukan restrukturisasi
secara tuntas terhadap pola subsidi energi sehingga di masa yang akan datang tidak
akan lagi membebani APBN. Hal ini sesuai dengan roadmap arah kebijakan subsidi
jangka menengah yang ingin mengurangi beban subsidi dan lebih mengarahkan
pada subsidi yang lebih tepat sasaran, antara lain dengan: (i) upaya diversifikasi
energi dan konversi dari BBM ke energi lainnya yang tersedia di Indonesia;
(ii) pengendalian impor BBM harus menjadi prioritas serta pengelolaan energi
secara berkesinambungan; dan (iii) pengurangan subsidi energi secara bertahap.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Amanat Nasional, Fraksi Partai
Hanura, dan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan mengenai tingginya
alokasi subsidi energi dalam RAPBN 2015, Pemerintah sependapat dengan

-L.50-

pandangan anggota Dewan bahwa Pemerintah perlu melakukan pengendalian


anggaran subsidi energi, baik subsidi BBM maupun subsidi listrik.
Persoalan mendasar dalam subsidi energi dipengaruhi oleh faktor eksternal yang
sulit dikendalikan, yaitu harga minyak internasional dan nilai tukar rupiah. Faktor
eksternal tersebut cenderung bergejolak seiring dengan volatilitas harga minyak
internasional dan perubahan kurs. Perubahan harga minyak dan kurs tersebut akan
meningkatkan anggaran belanja subsidi yang cukup signifikan sehingga berpotensi
membebani APBN.
Sejalan dengan hal tersebut pemerintah telah berupaya untuk mengendalikan
subsidi BBM yang diarahkan bukan hanya untuk meminimalisasi risiko fiskal tetapi
juga diharapkan agar mampu mendorong munculnya pengembangan energi
alternatif, konservasi lingkungan, meminimalisasi pelebaran defisit current account
serta terpenuhinya aspek keadilan. Beberapa kebijakan yang telah ditempuh antara
lain melalui program konversi, pembatasan, penyesuaian harga, serta upaya
pengembangan energi alternatif antara lain: panas bumi, bio etanol, tenaga surya,
dan air.
Dalam tahun 2015 Pemerintah akan melakukan beberapa kebijakan untuk
mengendalikan anggaran subsidi BBM antara lain: (i) meningkatkan efisiensi
anggaran subsidi BBM dengan alokasi yang lebih tepat sasaran; (ii) mengurangi
penggunaan konsumsi BBM bersubsidi secara bertahap; (iii) melanjutkan
pengendalian BBM bersubsidi (Permen ESDM No. 1/2013); (iv) melanjutkan
program konversi BBM ke BBG terutama untuk angkutan umum di kota-kota besar;
(v) mendukung pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) antara lain
melalui konversi biofuel dan gas; (vi) meningkatkan dan mengembangkan
pembangunan jaringan gas kota untuk rumah tangga; (vii) meningkatkan pemakaian
bahan bakar nabati (BBN); (viii) meningkatkan pengawasan penyaluran BBM
bersubsidi antara lain melalui penggunaan teknologi (a.l. RFID /Radio Frequency
Identification); dan (ix) meningkatkan peranan Pemda dalam pengendalian dan
pengawasan BBM bersubsidi; serta (x) mengendalikan subsidi dalam rangka
menjaga ketahanan fiskal.
Sementara itu terkait pengendalian subsidi listrik, dalam tahun 2015 Pemerintah
akan melakukan berbagai kebijakan, yakni: (i) meningkatkan efisiensi anggaran
subsidi listrik dan ketepatan target sasaran; (ii) meningkatkan rasio elektrifikasi; (iii)
menurunkan susut jaringan; (iv) menurunkan komposisi pemakaian BBM dalam
pembangkit tenaga listrik; (v) meningkatkan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga
panas Bumi (PLTP); (vi) meningkatkan pemakaian gas dan energi baru dan
terbarukan (EBT) untuk mengurangi BBM; (vii) mengembangkan energi tenaga

-L.51-

surya khususnya di pulau-pulau terdepan yang berbatasan dengan negara lain dan
mensubstitusi PLTD di daerah-daerah terisolasi; (viii) melakukan pengawasan
terhadap kegiatan investasi pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan; dan (ix)
melakukan transisi formulasi perhitungan subsidi listrik, dari cost plus margin
menjadi performance based regulatory untuk meningkatkan akuntabilitas
pemberian subsidi dan efisiensi PT PLN (Persero).
Dengan berbagai kebijakan tersebut, anggaran subsidi energi diharapkan dapat
dikendalikan pada tingkat yang aman sehingga APBN lebih terjaga dan sustainable.
Pemerintah sependapat dengan pandangan dari Fraksi Partai Keadilan
Sejahtera yang menghendaki agar Pemerintah ke depan harus serius
merealisasikan program ketahanan dan kedaulatan pangan dengan alokasi anggaran
yang memadai. Dalam RAPBN 2015, Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk
subsidi pupuk sebesar Rp35,7 triliun. Jumlah tersebut lebih tinggi Rp14,7 triliun bila
dibandingkan pagunya dalam APBNP tahun 2014 sebesar Rp21,0 triliun. Penyediaan
anggaran subsidi pupuk tersebut ditujukan dalam rangka mendukung program
ketahanan pangan nasional dan membantu petani mendapatkan pupuk dengan
harga terjangkau.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengenai kuota
subsidi energi, diversifikasi energi, dan kebijakan subsidi BBM terkait supply-side
management dan demand-side management, dapat disampaikan penjelasan sebagai
berikut. Pemerintah berupaya agar anggaran subsidi energi dapat dikendalikan pada
kondisi yang manageable melalui efisiensi anggaran subsidi dan diversifikasi energi
melalui pengembangan energi baru terbarukan (misalnya: Bahan Bakar Nabati
(BBN) dan Bahan Bakar Gas (BBG)). Pemerintah menyadari bahwa pola subsidi
BBM yang ada pada saat ini, masih perlu terus disempurnakan agar subsidi BBM
lebih dapat dinikmati oleh masyarakat yang kurang mampu. Untuk itu, dari sisi
supply, volume konsumsi BBM bersubsidi perlu dikendalikan dan dikurangi secara
bertahap. Dalam kaitan ini, Pemerintah telah dan sedang melakukan beberapa upaya
agar volume konsumsi BBM bersubsidi dapat dikurangi, antara lain dengan
mengurangi volume minyak tanah bersubsidi melalui program konversi minyak
tanah (mitan) bersubsidi ke LPG tabung 3 Kg. Program konversi mitan ke LPG
tabung 3 Kg, di satu sisi, dapat lebih tepat sasaran karena dapat dinikmati oleh
masyarakat kurang mampu, di sisi lain juga menghasilkan penghematan atas beban
belanja subsidi.
Di samping itu, Pemerintah juga melakukan pengendalian konsumsi BBM bersubsidi
dengan diterbitkannya Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2013, antara lain
melarang kendaraan dinas, sektor perkebunan, dan sektor pertambangan

-L.52-

menggunakan BBM bersubsidi. Pemerintah terus berusaha agar Permen ESDM


tersebut dapat berjalan efektif sehingga volume konsumsi BBM bersubsidi yang
disalurkan ke masyarakat dapat lebih tepat sasaran dan tepat jumlah.
Sementara itu, kebijakan lain yang akan ditempuh oleh Pemerintah untuk
menurunkan volume konsumsi BBM bersubsidi adalah dengan mengoptimalkan
penggunaan energi alternatif untuk menggantikan BBM, seperti bahan bakar nabati
(BBN), batubara, dan panas bumi.
Dari demand-side management, Pemerintah sependapat dengan pandangan
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera bahwa peningkatan jumlah kendaraan
bermotor, baik kendaraan pribadi, transportasi umum, dan layanan umum
mempunyai implikasi negatif terhadap belanja subsidi BBM. Untuk itu, Pemerintah
masih melakukan review pengendalian volume BBM bersubsidi melalui pengaturan
jenis kategori kendaraan yang menggunakan BBM bersubsidi, dan wilayah (lokasi
geografis) secara bertahap. Dengan pengendalian volume konsumsi BBM bersubsidi
dari supply-side management dan demand-side management ini, Pemerintah
berharap volume konsumsi BBM bersubsidi dapat diturunkan, dan beban belanja
subsidi energi dapat dikurangi.
Pemerintah juga sependapat dengan pandangan Fraksi Partai Keadilan
Sejahtera mengenai pengamanan pasokan gas untuk PT PLN (Persero),
meningkatkan efisiensi subsidi listrik, dan menurunkan losses jaringan transmisi
dan distribusi nasional. Kebijakan tersebut telah dan akan terus dilakukan
Pemerintah dalam rangka mengendalikan anggaran subsidi listrik.
Pemerintah sependapat dengan pandangan dari Fraksi PDI Perjuangan,
FraksiPartai Golongan Karya, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera dan
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa yang menghendaki agar subsidi yang
diberikan lebih tepat sasaran. Pada prinsipnya penyediaan anggaran subsidi dalam
RAPBN 2015 diarahkan untuk mempertahankan kesejahteraan rakyat, meringankan
beban masyarakat dalam memperoleh kebutuhan dasar dengan menjaga stabilitas
harga kebutuhan pokok, dan menjaga agar produsen mampu menghasilkan produk
kebutuhan masyarakat dengan harga yang terjangkau. Sampai saat ini, Pemerintah
masih konsisten untuk mengalokasikan subsidi, khususnya untuk rakyat miskin dan
petani yang memang layak dan tepat menerimanya. Sejalan dengan itu, Pemerintah
akan berupaya mengendalikan subsidi secara bertahap, antara lain melalui penataan
ulang sistem penyaluran subsidi agar makin adil dan tepat sasaran melalui sistem
seleksi yang ketat dan basis data yang transparan.
Dalam rangka mengendalikan belanja subsidi energi, Pemerintah telah
mengupayakan dan menyempurnakan berbagai kebijakan khususnya yang terkait

-L.53-

dengan subsidi BBM dan subsidi listrik antara lain melalui: (i) penyesuaian harga
BBM bersubsidi; (ii) peningkatan pengendalian konsumsi BBM bersubsidi, antara
lain melalui pelarangan BBM bersubsidi untuk kendaraan dinas, sektor perkebunan
dan pertambangan; (iii) kebijakan pemanfaatan bahan bakar nabati dan pemakaian
bahan bakar gas untuk transportasi terus ditingkatkan baik dari sisi regulasi maupun
aspek teknis; (iv) peningkatan pengawasan penyaluran BBM bersubsidi bekerjasama
dengan pemerintah daerah dan aparat hukum yang berwenang, serta penggunaan
teknologi tertentu untuk meningkatkan pengawasan penggunaan BBM bersubsidi;
dan, (v) penghapusan subsidi listrik untuk pelanggan pada berbagai kelompok tarif
tertentu secara bertahap sehingga lebih tepat sasaran.
Sementara itu, untuk subsidi non energi terdapat beberapa kebijakan yang dilakukan
antara lain: (i) subsidi pangan (subsidi raskin) ada pengaturan kembali jumlah
Rumah Tangga Sasaran (RTS) berdasarkan basis data terpadu yang dikeluarkan oleh
Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), (ii) subsidi pupuk
dengan penyempurnaan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), dan (iii)
subsidi benih yang dialokasikan berdasarkan Daftar Usulan Pembeli Benih
Bersubsidi (DUPBB).

D. DESENTRALISASI
DAERAH

FISKAL

DAN

PENGELOLAAN

KEUANGAN

Menjawab pertanyaan Fraksi Partai Golkar, Fraksi Kebangkitan Bangsa,


dan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, berkaitan dengan masih
kecil/rendahnya dan persentase yang ideal antara belanja Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah Transfer ke Daerah dan Dana Desa, dan perlunya dukungan
akurasi data dan penetapan alokasi dan penyaluran Transfer ke Daerah dan Dana
Desa secara tepat waktu, dapat disampaikan sebagai berikut.
Kebijakan dana transfer Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah dalam rangka
mendukung otonomi daerah dan desentralisasi fiskal dilaksanakan berdasarkan
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah serta keputusan bersama antara
Pemerintah dengan DPR RI. Di samping itu, pengalokasian besaran transfer ke
daerah juga dilakukan dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara dan
pencapaian target-target dan prioritas nasional.
Kami dapat memahami keinginan yang terhormat anggota DPR RI untuk
meningkatkan alokasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa yang lebih besar kepada
Pemerintah Daerah. Namun, dengan anggaran yang tersedia, untuk melaksanakan

-L.54-

hal tersebut masih memerlukan pertimbangan mengingat masih adanya kebutuhan


untuk
jenis
belanja
lainnya
baik
untuk
mendanai
belanja
pegawai/barang/jasa/modal kementerian negara/lembaga. Di tengah kondisi
infrastruktur masih memerlukan perbaikan, Pemerintah masih merasa perlu
mengalokasikan dana yang cukup besar untuk hal ini. Selain itu, pengeluaran belanja
subsidi untuk masyarakat dan kelompok tertentu serta pembayaran bunga utang
juga memerlukan dana yang relatif besar.
Dalam rangka penyusunan RAPBN TA 2015, Pemerintah tetap berupaya untuk
menjaga keseimbangan pendanaan antara Belanja Pemerintah Pusat dengan Belanja
Transfer ke Daerah dan Dana Desa. Anggaran Transfer ke Daerah dan Dana Desa
secara nominal mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Jika Anggaran Transfer
ke Daerah pada tahun 2010 masih sebesar Rp344,7 triliun, maka pada tahun 2015
meningkat sekitar 86 persen menjadi Rp640,0 triliun. Dari jumlah alokasi Transfer
ke Daerah dan Dana Desa tersebut, sebesar 79,6 persen merupakan alokasi Dana
Perimbangan yang meliputi DAU, DAK, dan DBH, sedangkan sisanya sebesar 20,4
persen merupakan alokasi Dana Otonomi Khusus, Dana Keistimewaan DIY, Dana
Transfer Lainnya, serta Dana Desa.
Sementara itu, upaya untuk menyelenggarakan pengelolaan keuangan yang semakin
baik dilakukan secara simultan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah.
Dari sisi Pemerintah Pusat, agar diperoleh data yang akurat untuk perhitungan
Transfer ke Daerah, dilakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang dalam
penyediaan data. Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang No. 33
Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah, dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang
Dana Perimbangan, maka dalam rangka penyaluran Dana Transfer ke Daerah,
Pemerintah telah memperbaiki pola penyaluran Dana Transfer ke Daerah, dengan
diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 183/PMK.07/2013
tentang Pelaksanaan Penyaluran dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke
Daerah. Berdasarkan PMK tersebut, maka penyaluran Anggaran Transfer ke Daerah
dilakukan dengan pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara ke Rekening
Kas Umum Daerah. PMK tersebut juga telah mengatur bahwa penyaluran jenis
Anggaran Transfer ke Daerah dilakukan secara periodik dengan jadwal dan besaran
penyaluran yang ditentukan, serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh Daerah
terkait dengan penggunaan dan penyerapan dana Transfer di Daerah. Dari sisi
Pemerintah Daerah, penyelesaian perda APBD secara tepat waktu akan membantu
penyalurannya. Dorongan agar Perda APBD tepat waktu telah dikaitkan dengan
mekanisme penyaluran DAK, dimana Pemerintah menetapkan bahwa penyaluran
DAK Tahap I hanya diberikan kepada daerah yang telah menyelesaikan Perda APBD.

-L.55-

Kemudian, untuk mendorong peningkatan kualitas pengelolaan keuangan daerah,


Pemerintah telah melakukan perbaikan sistem penganggaran, pelaksanaan, dan
pertanggungjawaban keuangan daerah yang didukung dengan perbaikan kapasitas
SDM Pemerintah Daerah. Perbaikan sistem tersebut antara lain dilakukan melalui
penyempurnaan berbagai peraturan perundangan yang terkait dengan pengelolaan
keuangan, seperti penyempurnaan standar akuntansi pemerintah dan ketentuan
mengenai pengadaan barang dan jasa. Sementara itu, untuk meningkatkan kapasitas
SDM di daerah baik hard competence maupun soft competence dilakukan
bimbingan teknis, sosialisasi, dan pola pelatihan bagi pengelola keuangan daerah
melalui Kursus Keuangan Daerah (KKD) dan Kursus Keuangan Daerah Khusus
Penatausahaan/Akuntansi Keuangan Daerah (KKDK) bekerja sama dengan
perguruan tinggi, yaitu Universitas Indonesia, STAN, Universitas Andalas,
Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Sam Ratulangi, dan
Universitas Hasanuddin.
Menjawab pertanyaan Fraksi Keadilan Sejahtera, berkaitan dengan harus
adanya upaya-upaya sistematis agar peningkatan Transfer ke Daerah tidak hanya
habis untuk belanja pegawai dan belanja untuk birokrasi lainnya, dapat disampaikan
sebagai berikut.
Pemerintah sependapat dengan pandangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera
bahwa perlu ada upaya-upaya sistematis agar peningkatan transfer daerah tidak
hanya habis untuk belanja pegawai dan belanja untuk birokrasi lainnya. Kebijakan
dalam penghitungan DAU 2015 dilakukan dengan memberikan porsi pagu Celah
Fiskal (CF) yang lebih besar dalam perhitungan DAU atau dengan kata lain
melakukan pembatasan (pegging) pagu Alokasi Dasar (AD) terhadap pagu DAU
nasional. Porsi AD terhadap pagu DAU nasional diupayakan kurang dari 50%
terhadap belanja gaji PNSD, hal ini sejalan dengan prinsip hard budget constraint.
Selain itu Pemerintah juga telah mengambil langkah-langkah, yaitu moratorium
penerimaan PNS dan meniadakan Alokasi Dasar dalam formula perhitungan DAU
dalam rancangan revisi UU Nomor 33 Tahun 2014 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Dengan penghilangan alokasi
dasar tersebut, pengalokasian DAU tidak lagi dikaitkan secara langsung dengan
belanja PNSD.
Menjawab pertanyaan dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
mengenai pengalihan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan ke DAK, dapat
kami sampaikan bahwa proses pengalihan kegiatan dana dekonsentrasi dan tugas
pembantuan yang merupakan urusan daerah ke kegiatan DAK yang sejalan dengan
pengaturan dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 Pasal 108 Ayat (1) dan (2), secara
bertahap sudah dilakukan sejak tahun 2008.

-L.56-

Pengalihan bagian anggaran K/L yang membiayai urusan daerah ke DAK sejak tahun
2008 sampai dengan tahun 2013 yang mencapai Rp6,5 triliun. Pada Tahun 2008
anggaran yang dialihkan berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Rp1,7 triliun, Kementerian Kesehatan Rp0,5 triliun, Kementerian Pekerjaan Umum
Rp2,0 triliun, serta BKKBN dan Kementerian Kehutanan masing-masing Rp0,1
triliun. Selanjutnya pada tahun 2009 dialihkan anggaran dari Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian
Pembangunan Daerah Tertinggal masing-masing Rp1,0 triliun, Rp0,05 triliun, dan
Rp0,09 triliun. Pada tahun 2010 juga dialihkan bagian anggaran dari Kementerian
Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, dan Kementarian Pembangunan
Daerah Tertinggal, masing-masing sebesar Rp0,275 triliun, Rp0,2 triliun, dan Rp0,1
triliun. Sementara itu pada tahun 2013 juga dialihkan anggaran dari Kementerian
Pertanian sebesar Rp0,417 triliun ke DAK. Pada proses pengalihan untuk tahun
anggaran 2014, Pemerintah telah melakukan identifikasi pada berbagai anggaran
dekonsentrasi/tugas pembantuan yang masih mendanai urusan Daerah pada 33
K/L. Dari hasil identifikasi tersebut tidak ada lagi anggaran dekonsentrasi/tugas
pembantuan yang dialihkan menjadi DAK karena sebagian besar anggaran
dekonsentrasi/tugas pembantuan sudah tidak lagi mendanai urusan daerah.
Selain pengalihan anggaran K/L yang membiayai urusan daerah ke DAK, juga
dialihkan bagian anggaran dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu
Dana Tambahan Penghasilan Guru PNSD sejak tahun 2009, Dana Tunjangan Profesi
Guru PNSD sejak tahun 2010, dan Bantuan Operasional Sekolah sejak tahun 2011.
Beberapa kendala yang dihadapi terkait dengan pengalihan dana dekonsentrasi dan
Tugas Pembantuan ke DAK adalah sebagai berikut:
a. Aturan Pembagian urusan yang dianggap kurang jelas (PP No. 38/2007) bagi
Kementerian Negara/Lembaga dan DPR Komisi terkait serta pemangku
kepentingan lainnya.
b. Adanya kekhawatiran beberapa pihak akan kurang efektifnya pengalihan karena
adanya indikasi Pemerintah Daerah tidak menjalankan program kerja sesuai
rencana yang menjadi target/prioritas KL serta menjadi prioritas nasional,
dimana hal tersebut terkait dengan kontrak kinerja Kementerian
Negara/lembaga yang bersangkutan.
c. Adanya kewajiban cost sharing pada DAK yang kemungkinan memberatkan kas
daerah (APBD).
d. Selain itu peraturan perundangan yang mengatur bahwa DAK merupakan
kegiatan fisik juga menjadi penghambat pengalihan dana dekonsentrasi karena
sebagian dana dekonsentrasi bersifat non fisik.

-L.57-

Selanjutnya, untuk menjaga agar tidak ada lagi urusan-urusan daerah yang masih
didanai oleh K/L melalui mekanisme dekonsentrasi/tugas pembantuan, maka saat
ini Pemerintah telah mengajukan RUU Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah
sebagai pengganti UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Dalam RUU tersebut diatur larangan
dan pemberian sanksi kepada K/L yang masih mendanai urusan daerah. Dengan
penerapan sanksi tersebut diharapkan proses pengalihan tersebut berjalan lebih
efektif.
Menjawab pertanyaan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi Kebangkitan
Bangsa, dan Fraksi Partai Gerindra berkaitan dengan alokasi Dana Desa yang
sangat tidak memadai dan perlu ditingkatkan dalam RAPBN 2015, serta
implementasi pelaksanaan Dana Desa bisa dilakukan secara baik dan agar tidak
terjadi penyimpangan dimana Dana Desa tersebut ditujukan untuk dapat
mendorong kemandirian desa dan kesejahteraan masyarakat desa pada umumnya.
Perkembangan desentralisasi fiskal yang dinamis telah menjadikan desa menjadi
berkembang dalam berbagai bentuk sehingga perlu dilindungi dan diberdayakan
agar menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis. Kondisi tersebut diharapkan
dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan pemerintahan dan
pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Atas dasar itu,
pada tahun 2014 Pemerintah bersama-sama dengan DPR telah menetapkan UU
Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. UU tersebut antara lain ditujukan untuk
meningkatkan pelayanan publik bagi warga masyarakat desa guna mempercepat
perwujudan kesejahteraan umum, memajukan perekonomian masyarakat desa serta
mengatasi kesenjangan pembangunan nasional, dan memperkuat masyarakat desa
sebagai subjek pembangunan.
Dapat kami sampaikan bahwa, alokasi Dana Desa yang bersumber dari APBN
merupakan belanja pusat dengan mengefektifkan program yang berbasis desa secara
merata dan berkeadilan. Besaran alokasi anggaran yg peruntukannya langsung ke
desa ditentukan 10% dari dan diluar dana transfer ke daerah (on top) secara
bertahap. Berkaitan dengan hal tersebut, Dana Desa mulai dialokasian dalam
RAPBN Tahun Anggaran 2015 sebagai tahun pertama dan tahun transisi
pengalokasian dengan mempertimbangkan kemampuan APBN dan kesesuaian
belanja Kementerian Negara/Lembaga yang berbasis desa dengan tetap
memperhatikan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program yang direalokasikan.
Alokasi Dana Desa yang bersumber dari RAPBN dalam tahun 2015 adalah sebesar
Rp9,1 triliun.

-L.58-

Dalam tahap awal masa transisi pelaksanaan UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa,
alokasi Dana Desa sebesar Rp9,1 triliun merupakan pola PNPM Mandiri yang
berasal dari pengalihan Program/Kegiatan K/L dari Kementerian Dalam Negeri dan
Kementerian Pekerjaan Umum, dimana dokumen yang digunakan dalam proses
identifikasi tersebut adalah dokumen Kesepakatan Tiga Pihak dan Renja K/L TA
2015, karena pada tahap Pagu Indikatif belum terdapat dokumen RKA-K/L.
Pengalihan anggaran PNPM Mandiri tersebut, dilakukan dengan pertimbangan
bahwa selama ini program tersebut cukup efektif untuk meningkatkan
pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa, dengan melibatkan masyarakat
desa dalam proses perencanaan dan pelaksanaan, serta didukung dengan pola
pendampingan teknis pelaksanaan kegiatan dari K/L teknis terkait. Untuk itu
pelaksanaan Dana Desa dalam RAPBN 2015 akan mengadopsi pola PNPM Mandiri
tersebut. Dalam RAPBN 2015 juga diperlukan adanya dana pendukung pada K/L
teknis terkait untuk melakukan pendampingan kepada perangkat desa dalam
melakukan perencanaan, penganggaran program dan kegiatan, dan pengelolaan
keuangan desa, termasuk pelaksanaan pelaporan kegiatan. Diharapkan apabila
perangkat desa dan masyarakat desa sudah mempunyai kesiapan yang memadai,
baik dari sisi pengelolaan keuangan dan kegiatan yang mencakup aspek
perencanaan, penganggaran program/kegiatan, pelaksanaan kegiatan, pelaporan
dan pertanggungjawaban, maupun dari sisi kelembagaan, alokasi Dana Desa dapat
dinaikkan secara bertahap sesuai dengan kemampuan fiskal nasional sehingga dapat
memenuhi amanat UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Selain Dana Desa yang bersumber dari APBN, setiap desa juga mendapat alokasi
dana yang bersumber dari APBD kabupaten/kota berupa: a). Bagian hasil Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) Kabupaten/Kota paling sedikit 10%; b).
Alokasi Dana Desa (ADD) paling sedikit 10% dari dana perimbangan yang diterima
kabupaten/kota setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus; dan c). Bantuan keuangan
dari APBD provinsi dan APBD kabupaten/kota. Dapat kami sampaikan juga bahwa,
Dana Desa juga bersumber dari; a) pendapatan asli Desa terdiri atas hasil usaha,
hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli
Desa; b) hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga; dan c) lainlain pendapatan Desa yang sah. Dengan demikian, secara keseluruhan sumber dana
yang tersedia untuk desa baik dari APBN dan APBD, relatif memadai setiap
tahunnya untuk melaksanakan kewenangan desa.
Dalam rangka implementasi pelaksanaan Dana Desa agar bisa dilakukan secara baik
dan tidak terjadi penyimpangan dan sesuai dengan amanat UU Nomor 6 Tahun 2014
tentang Desa, Pemerintah telah menerbitkan 2 (dua) Peraturan Pemerintah, yaitu:
a) PP Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang

-L.59-

Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yang mengatur antara lain:


pembentukan/penggabungan desa, kewenangan desa, penghasilan kepala dan
perangkat desa, pengelolaan keuangan dan kekayaan desa; dan b) PP Nomor 60
Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari APBN, yang berisi tentang
proses penganggaran dana Desa dalam APBN; proses penghitungan alokasi dana
Desa oleh Pemerintah dan kabupaten/kota; proses penyaluran dana Desa terkait
mekanisme penyalurannya; proses pelaporan dari kabupaten/kota kepada
Pemerintah dan Desa kepada kabupaten/kota; dan proses monitoring dan evaluasi
terhadap penggunaan Dana Desa.
Saat ini, Pemerintah juga sedang menyiapkan Peraturan Menteri Keuangan dan
Peraturan Menteri Dalam Negeri sebagai pedoman pelaksanaan dari 2 (dua)
Peraturan Pemerintah tersebut. Peraturan Menteri Keuangan akan mengatur
mengenai tata cara penganggaran, pengalokasian, penyaluran, penggunaan, serta
pemantauan dan evaluasi Dana Desa, sedangkan Peraturan Menteri Dalam Negeri
antara lain akan mengatur mengenai pengelolaan keuangan desa, baik bersumber
dari APBN, APBD maupun sumber pendapatan desa lainnya. Untuk memastikan
agar pelaksanaan Dana Desa dapat berjalan dengan baik, Kementerian Dalam Negeri
akan menetapkan prioritas penggunaan Dana Desa, K/L teknis akan menyusun
pedoman umum dengan mengacu pada priorotas penggunaan Dana Desa, dan
Bupati/Walikota membuat pedoman teknis tentang kegiatan yang didanai dari Dana
Desa. Di samping itu, kementerian negara/lembaga terkait akan melakukan program
pendampingan guna memastikan pelaksanaan Dana Desa tepat target dan sasaran.
Dengan telah diterbitkannya 2 (dua) Peraturan Pemerintah serta penyusunan
rancangan Peraturan Menteri Keuangan dan Peraturan Menteri Dalam Negeri
dimaksud, diharapkan implementasi pelaksanaan Dana Desa bisa dilakukan secara
baik dan agar tidak terjadi penyimpangan sehingga dapat mendorong potensi dan
kemandirian desa, serta meningkatkan pelayanan publik guna mempercepat
kesejahteraan masyarakat desa pada umumnya.
E. PEMBIAYAAN DEFISIT ANGGARAN, PENGELOLAAN UTANG, DAN
RISIKO FISKAL
Terkait dengan permintaan dari Fraksi Partai Golongan Karya yang meminta
ketegasan Pemerintah agar berupaya dalam penyelesaian segala bentuk dan jenis
piutang terutama yang telah jatuh tempo kiranya dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pemerintah selama ini telah senantiasa melakukan upaya-upaya untuk
menyelesaikan piutang negara yang telah jatuh tempo. Sebagai contoh, dalam rangka
penyelesaian Piutang Negara yang berasal dari Naskah Perjanjian Penerusan

-L.60-

Pinjaman (NPPP)/Subsidiary Loan Agreement (SLA) dan Perjanjian Pinjaman


Rekening Dana Investasi (RDI), Pemerintah telah melakukan beberapa langkah
sebagai berikut:
1. Penagihan
Penagihan dilakukan sebulan sebelum jatuh tempo dengan melakukan
rekonsiliasi bersama terlebih dahulu terkait jumlah kewajiban pokok dan
kewajiban yang jatuh tempo. Apabila tidak dibayar maka akan dikenakan denda
keterlambatan. Khusus untuk pinjaman daerah yang perjanjian pinjamannya
telah mencantumkan sanksi DAU/DBH, sesuai dengan Peraturan Menteri
Keuangan (PMK) No. 47/PMK.07/2011 tentang Tata Cara Penyelesaian
Tunggakan Pinjaman Pemerintah Daerah Kepada Pemerintah melalui Sanksi
Pemotongan Dana Alokasi Umum dan/atau Dana Bagi Hasil, maka akan
dilakukan pemotongan DAU/DBH apabila terjadi tunggakan sampai dua kali
jatuh tempo.
2. Penyelesaian Piutang Negara
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2005 tentang Tata Cara
Penghapusan Piutang Negara/Daerah dan dan Peraturan Pemerintah Nomor 44
Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausahaan Modal Negara
pada BUMN dan PT, optimalisasi penyelesaian piutang negara dapat dilakukan
melalui:
a. penjadwalan kembali pembayaran utang pokok, bunga, denda, dan/atau
ongkosongkos lainnya;
b. perubahan persyaratan utang; dan/atau
c. penghapusan.
Selanjutnya Pemerintah juga telah menerbitkan beberapa Peraturan Menteri
Keuangan (PMK) untuk mengatur lebih lanjut skema penyelesaian piutang negara
kepada:
1) BUMN/PT

: PMK 17/PMK.05/2007 tentang Penyelesaian Piutang


Negara yang Bersumber dari Naskah Perjanjian
Penerusan Pinjaman dan Perjanjian Pinjaman
Rekening Dana Investasi pada Badan Usaha Milik
Negara/Perseroan Terbatas;

2) Pemerintah Daerah : PMK 153/PMK.05/2008 tentang Penyelesaian Piutang


Negara yang Bersumber dari Penerusan Pinjaman Luar
Negeri, Rekening Dana Investasi, dan Rekening
Pembangunan Daerah pada Pemerintah Daerah;

-L.61-

3) PDAM

: PMK 120/PMK.05/2008 sebagaimana telah diganti


dengan PMK 114/PMK.05/2013 tentang Penyelesaian
Piutang Negara yang Bersumber dari Penerusan
Pinjaman Luar Negeri, Rekening Dana Investasi, dan
Rekening Pembangunan Daerah pada Perusahaan
Daerah Air Minum.

Dalam rangka optimalisasi penyelesaian piutang negara pada BUMN melalui


mekanisme restrukturisasi, Kementerian Keuangan telah melakukan langkahlangkah berikut:
1) Bersama dengan Kementerian BUMN membuat MoU dengan ruang lingkup:
a. Percepatan penyelesaian piutang negara dalam bentuk:
- Peningkatan kerjasama tim penyelesaian piutang negara pada BUMN;
- Pertukaran informasi kondisi bisnis dan keuangan BUMN;
- Tindak lanjut penyelesaian piutang negara pada BUMN;
- Penyusunan kebijakan/peraturan yang diperlukan.
b. Melakukan kerjasama dengan pihak lain, antara lain: Lembaga Auditor
Pemeriksa (BPKP), Kejaksaan, BPK, dll.
c. Melakukan perencanaan, monitoring, dan evaluasi.
d. Melakukan penilaian kinerja dan Key Performance Index (KPI) yang akan
dimonitor oleh Kementerian BUMN selaku pemegang saham.
2) Untuk menjaga governance dan mitigasi risiko terhadap pilihan skema
restrukturisasi, dilakukan penilaian oleh pihak independen.
3. Konversi Piutang Negara menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN)
pada BUMN
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2005 tentang Tata Cara
Penyertaan dan Penatausahaan Modal Negara pada Usaha Milik Negara dan
Perseroan Terbatas serta Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.05/2007
tentang Penyelesaian Piutang Negara yang Bersumber dari Naskah Perjanjian
Penerusan Pinjaman dan Perjanjian Pinjaman Rekening Dana Investasi pada
Badan Usaha Milik Negara/Perseroan Terbatas, pengalihan piutang menjadi
Penyertaan Modal Pemerintah dilakukan melalui Peraturan Pemerintah setelah
mendapat persetujuan DPR.
4. Konversi Utang menjadi Investasi (debt swap to investment) pada
Pemerintah Daerah dan PDAM
Terhadap tunggakan non pokok Pemerintah Daerah dan PDAM diberlakukan debt
swap to investment, yaitu mewajibkan pemerintah daerah membangun

-L.62-

infrastruktur senilai tunggakan non pokok yang dihapus tersebut. Jenis


infrastruktur yang diperkenankan adalah infrastruktur di bidang pendidikan,
kesehatan, jalan dan irigasi, dan air.
5. Penyerahan kepada PUPN
Sebagaimana yang telah diatur dalam PP Nomor 14 Tahun 2005 maka apabila
telah dilakukan optimalisasi penagihan dan piutang tersebut tidak dapat
diselesaikan maka piutang Negara dapat diserahkan kepada PUPN (Panitia
Urusan Piutang Negara) untuk dilakukan penagihan atau bahkan penyitaan.
Terkait penyelesaian piutang negara pada PDAM sebagai tindak lanjut PMK
114/PMK.05/2012 tentang Penyelesaian Piutang Negara yang Bersumber dari
Penerusan Pinjaman Luar Negeri, Rekening Dana Investasi dan Rekening
Pembangunan Daerah pada PDAM, telah diserahkan ke PUPN penyelesaian atas
utang 28 PDAM yang tidak masuk dalam program restrukturisasi.
Selanjutnya terkait dengan penyelesaian piutang yang telah diserahkan
pengurusannya kepada Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN), dapat disampaikan
bahwa penyelesaian Piutang Negara yang dilakukan oleh Pemerintah dilaksanakan
berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor
49 Tahun 1960 tentang Panitia Urusan Piutang Negara.
PUPN dalam melaksanakan penyelesaian Piutang Negara dapat melakukan 2 (dua)
cara, yaitu cara eksekusi dan non eksekusi. Adapun yang termasuk dalam cara
eksekusi adalah melalui mekanisme penyitaan dan pelelangan atas barang jaminan
dan/atau harta kekayaan lain dari Penanggung Hutang (debitor)/Penjamin Hutang,
sedangkan yang termasuk ke dalam cara non eksekusi adalah melalui mekanisme
penebusan barang jaminan milik Penjamin Hutang, penjualan barang jaminan milik
Penanggung Hutang (debitur) di luar lelang, dan pemberian keringanan hutang.
Dalam rangka mempercepat penyelesaian Piutang Negara tersebut, perlu adanya
crash program/percepatan penyelesaian Piutang Negara khususnya piutang
terhadap Penanggung Hutang/debitor UMKM yang memungkinkan adanya
pemberiaan keringanan hutang kepada debitur tersebut. Untuk melakukan crash
program tersebut telah dirumuskan Pasal 27 Rancangan Undang-Undang APBN
Tahun 2015 untuk menjadi dasar hukum.
Berkenaan dengan permintaan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa agar
Pemerintah berhati-hati dan cermat dalam memilih komposisi pembiayaan yang
dilakukan, dan permintaan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan mengenai
perlunya mengurangi peranan utang luar negeri untuk menutup defisit anggaran
dapat kami jelaskan sebagai berikut. Sejalan dengan ditempuhnya kebijakan yang
ekspansif pada tahun 2015, maka akan berdampak terjadinya defisit anggaran.
Kebijakan defisit merupakan representasi dari kebijakan ekspansif pemerintah
-L.63-

dalam rangka menstimulasi perekonomian untuk mengakselerasi pertumbuhan


ekonomi yang berkelanjutan, pengurangan pengangguran dan kemiskinan yang pada
gilirannya dapat mendorong peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat. Berkenaan
dengan hal tersebut esensi kebijakan defisit merupakan solusi untuk tetap menjaga
agar peran APBN sebagai instrumen fiskal untuk menstimulasi perekonomian dapat
berfungsi secara optimal ditengah keterbatasan anggaran (budget constrains).
Sejalan dengan hal tersebut maka diperlukan pembiayaan untuk menutup defisit
anggaran namun dalam pengadaan sumber pembiayaan tetap dikelola secara
prudent dan senantiasa mempertimbangkan kesinambungan fiskal.
Kebijakan umum pembiayaan utang akan ditempuh oleh Pemerintah pada tahun
2015 antara lain: (i) pengendalian rasio utang terhadap PDB; (ii) mengutamakan
pembiayaan utang yang bersumber dari dalam negeri; (iii) mengarahkan
pemanfaatan utang untuk kegiatan produktif antara lain melalui penerbitan sukuk
yang berbasis proyek; (iv) memanfaatakan pinjaman luar negeri secara selektif,
terutama untuk bidang infrastruktur dan energi, dan mempertahankan kebijakan
negative net flow; (v) mengoptimalkan peran serta masyarakat (financial inclusion)
dan melakukan pendalaman pasar SBN domestik, (vi) melakukan pengelolaan utang
secara aktif dalam kerangka asset liabilities management (ALM). Sementara itu
pokok-pokok kebijakan umum pembiayaan non utang antara lain : (i) penggunaan
SAL sebagai sumber pembiayaan dan fiscal buffer untuk mengantisipasi
kemungkinan terjadinya krisis, (ii) pengalokasian PMN kepada BUMN untuk
percepatan pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas usaha BUMN,
(iii) pengalokasian dana PMN kepada organisasi/ lembaga keuangan internasional
dan badan usaha lain yang ditujukan untuk memenuhi kewajiban Indonesia sebagai
anggota dan mempertahankan persentase kepemilikan modal, (iv) pengalokasian
dana bergulir untuk penyediaan fasilitas pembiayaan dalam rangka memenuhi
ketersediaan rumuah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan
untuk memberikan stimulus bagi KUMKM berupa penguatan modal, (v)
melanjutkan program dana pengembangan pendidikan nasional.
Dalam rangka mengantisipasi volatilitas perkembangan pasar SBN dalam negeri dan
faktor risiko sewaktu-waktu terjadinya sudden reversal secara tiba-tiba, Pemerintah
sudah melakukan upaya-upaya preventif antara lain: (i) meningkatkan fleksibilitas
dalam rangka mengantisipasi terjadinya sudden reversal antara lain dengan
pengembangan instrumen protokol pengelolaan krisis (crisis management
protocolCMP); (ii) meningkatkan fleksibilitas penggunaan SAL sebagai fiscal buffer
untuk menstabilisasi pasar SBN melalui pencantuman dalam UU APBN sehingga
mempunyai landasan hukum yang kuat; (iii) mengendalikan kerentanan fiskal dalam
batas yang terkendali (fiscal vulnerability) antara lain DSR, Debt Ratio terhadap

-L.64-

pendapatan dalam negeri, menjaga komposisi utang dalam batas aman; dan (iv)
memprioritaskan pengembangan pasar perdana SBN domestik, pengembangan
pasar sekunder SBN, serta pengembangan instrumen SBN.
Sementara itu untuk mengahadapi faktor risiko dari luar maka Pemerintah
mengupayakan antara lain: (a) mengendalikan pinjaman luar negeri melalui
kebijakan negative net flow secara konsisten; (b) komitmen pinjaman kegiatan
(project loan) baru diarahkan untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan
energi serta membiayai pembelian barang yang belum dapat diproduksi di dalam
negeri dalam rangka alih teknologi; dan (c) meningkatkan kualitas persiapan
kegiatan dan pengadaan pinjaman luar negeri.
Terkait pemenuhan pembiayaan utang yang bersumber dari domestik, kiranya dapat
dijelaskan bahwa Pemerintah sependapat dengan pendapat dari Fraksi Partai
Gerakan Indonesia Raya dan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan.
Upaya yang dilakukan Pemerintah dalam mendukung kebijakan tersebut adalah
mengupayakan agar porsi pembiayaan utang dari dalam negeri lebih dominan dari
waktu ke waktu. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong upaya pencapaian
kemandirian bangsa dengan mengoptimalkan potensi dalam negeri, dan untuk
meningkatkan pengelolaan makro ekonomi yang sehat dengan memaksimalkan
partisipasi investor dalam negeri, termasuk untuk mendorong program financial
inclusion.
Mengenai pandangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera terkait dengan
pemanfaatan instrumen sukuk negara untuk membiayai proyek-proyek pemerintah
serta untuk meningkatkan country ownership kiranya dapat dijelaskan bahwa sukuk
berbasis proyek atau sukuk proyek dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pertama,
sukuk yang diterbitkan dengan menggunakan DIPA proyek sebagai underlying asset
atau project underlying; dan kedua, sukuk yang diterbitkan untuk mendanai proyek
baru dalam APBN atau project financing. Pemerintah telah mulai menerbitkan
sukuk dengan skema underlying project pada tahun 2012. Untuk tahun 2013,
Pemerintah telah menerbitkan SBSN berbasis proyek (project financing sukuk)
sebesar Rp800 miliar untuk membiayai proyek infrastruktur transportasi, yakni
proyek pembangunan jalur ganda (double track) Lintas CirebonKroya.Untuk tahun
2014, jumlah penerbitan SBSN berbasis proyek meningkat menjadi Rp1.571,0 miliar
yang digunakan untuk membiayai kelanjutan pembangunan jalur ganda (double
track) lintas CirebonKroya sebesar Rp745,0 miliar, pembangunan railway
electrification and double-double tracking of Java main line project sebesar
Rp626,0 miliar, dan untuk proyek revitalisasi asrama haji sebesar Rp200,0 miliar.
Untuk tahun 2015, Pemerintah merencanakan untuk menerbitkan SBSN berbasis
proyek sebesar Rp7.459,8 miliar untuk membiayai berbagai proyek pembangunan di

-L.65-

tiga kementerian yaitu Kementerian Pekerjaan Umum Rp3.535,3 miliar,


Kementerian Perhubungan Rp2.924,5 miliar, dan Kementerian Agama Rp1.000,0
miliar.
Sementara itu, terkait dengan pandangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera
mengenai penyelesaiaan obligasi rekap dapat dijelaskan sebagai berikut. Penerbitan
obligasi rekap adalah kebijakan yang dilakukan dalam rangka penyelamatan
perekonomian nasional saat krisis keuangan melanda Indonesia mulai pertengahan
tahun 1997. Penerbitan obligasi rekap kepada bank rekap dilakukan untuk
menyehatkan kondisi permodalan perbankan. Sebagai gantinya, Pemerintah
memperoleh aset dari dan kepemilikan (ekuitas) pada bank rekap. Aset dan ekuitas
tersebut saat itu dikelola oleh BPPN dan sebagian telah dijual untuk menambah
penerimaan APBN. Dasar hukum penerbitan Surat Utang atau Obligasi Negara
dalam rangka Program Rekapitulasi Bank Umum adalah Peraturan Pemerintah
nomor 84 tahun 1998 tentang Program Rekapitalisasi Bank Umum yang ditetapkan
pada tanggal 31 Desember 1998 dan berlaku surut sejak tanggal 9 Desember 1998
(PP 84/1998). Dalam pasal 7 PP dimaksud memuat bahwa pembiayaan atas
penyertaan modal Negara pada Bank Umum dalam rangka program Rekapitulasi
Bank Umum dibebankan kepada APBN. Selain itu, dalam ketentuan Pasal 8 PP
84/1998 disebutkan bahwa dalam rangka pembiayaan atas penyertaan modal
Negara pada Bank Umum, Menteri Keuangan berwenang menerbitkan Surat Utang.
Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang SUN,
dalam ketentuan peralihan Pasal 20 disebutkan bahwa Surat Utang atau Obligasi
Negara yang diterbitkan berdasarkan PP No. 84 Tahun 1998 dinyatakan sah dan
tetap berlaku sampai dengan saat jatuh tempo. Konsekuensi dari ketentuan
dimaksud adalah berlakunya ketentuan dalam Pasal 8 ayat (2) UU No. 24 Tahun
2002 yang menyebutkan bahwa Pemerintah wajib membayar bunga dan pokok SUN
pada saat jatuh tempo. Dengan demikian, pembayaran bunga dan pokok obligasi
rekap tetap dilakukan oleh Pemerintah hingga jatuh tempo agar tidak bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Selain itu obligasi rekap merupakan bagian dari SBN yang dapat diperdagangkan
sehingga saat ini telah dimiliki oleh berbagai investor. Oleh karena itu, penyelesaian
beban akibat outstanding obligasi rekap yang masih ada perlu memperhatikan
dampaknya agar tidak menyebabkan default atas utang Pemerintah. Penyelesaian
yang bersifat sepihak dan tidak market friendly akan menimbulkan market
disruption dan dapat merusak reputasi Pemerintah di pasar keuangan, terutama
kepercayaan investor pada kredibilitas Indonesia. Hal ini dapat berimbas pada
sulitnya Pemerintah untuk mengakses kembali pendanaan di pasar keuangan. Oleh
karena itu penting bagi Pemerintah untuk menjaga risiko reputasi ini. Adapun

-L.66-

upaya-upaya yang telah dan akan dilakukan Pemerintah untuk mengurangi Obligasi
Rekap tersebut antara lain program penukaran Obligasi (debt switch) maupun
pelunasan sebelum jatuh tempo (cash buyback) yang dilakukan sekaligus dalam
rangka peningkatan likuiditas SUN.
Pemerintah sependapat dengan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera yang meminta
agar Pemerintah menjaga kesinambungan pembiayaan dalam negeri dan
mengoptimalkan hasil pengelolaan aset dan investasi serta piutang-piutang negara
yang bermasalah agar dapat menjadi penerimaan negara. Pemerintah senantiasa
berupaya agar porsi pembiayaan dalam negeri lebih dominan dari waktu ke waktu.
Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong upaya pencapaian kemandirian bangsa
dengan mengoptimalkan potensi dalam negeri, dan dalam rangka meningkatkan
pengelolaan makro ekonomi yang sehat dengan memaksimalkan partisipasi investor
dalam negeri.
Selain itu Pemerintah juga telah berupaya untuk melakukan optimalisasi sumbersumber pembiayaan dalam negeri, antara lain: (1) Hasil Pengelolaan Aset, melalui
optimalisasi pengelolaan aset yang ada sesuai dengan kebijakan pengelolaan aset
yang berlaku saat ini sekaligus secara simultan mengupayakan berbagai penyelesaian
yang ada melalui koordinasi dengan pihak-pihak terkait khususnya Badan
Pertanahan Nasional, serta penyusunan ketentuan pengelolaan aset yang baru dalam
rangka mengakomodir perkembangan yang ada, (2) Piutang Negara yang berasal
dari Naskah Perjanjian Penerusan Pinjaman (NPPP)/Subsidiary Loan Agreement
(SLA) dan Perjanjian Pinjaman Rekening Dana Investasi (RDI), melalui penagihan,
penyelesaian piutang negara, konversi piutang negara menjadi PMN BUMN,
konversi utang menjadi investasi pada Pemerintah Daerah dan PDAM, dan
penyerahan pengurusan piutang kepada PUPN, (3) Piutang negara yang telah
diserahkan pengurusannya melalui PUPN, melalui mekanisme penyitaan dan
pelelangan atas barang jaminan, penebusan barang jaminan milik penjamin hutang,
penjualan barang jaminan milik penanggung hutang di luar lelang, dan pemberian
keringanan hutang.
Terkait pandangan Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat yang tidak menyetujui
terhadap penetapan defisit pada setiap penyusunan postur APBN termasuk RAPBN
2015, kiranya dapat dijelaskan sebagai berikut. Sesuai dengan amanat UndangUndang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Keuangan Negara, APBN disusun sesuai
dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan negara dan kemampuan dalam
menghimpun pendapatan negara. Dalam menyusun RAPBN setiap tahun,
Pemerintah selalu berupaya untuk mengoptimalkan pendapatan dan meningkatkan
efisiensi di dalam pengeluaran negara, termasuk belanja pegawai. Namun,
Pemerintah menyadari bahwa kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan negara

-L.67-

lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan dalam menghimpun pendapatan


negara sehingga timbul defisit RAPBN yang tidak bisa dihindari.
Serangkaian langkah kebijakan yang dilakukan Pemerintah untuk mengoptimalkan
pendapatan negara antara lain: (1) kebijakan perpajakan melalui penyempurnaan
peraturan perundang-undangan perpajakan, ekstensifikasi, dan intensifikasi
perpajakan, serta penggalian potensi penerimaan perpajakan secara sektoral; (2)
kebijakan di bidang kepabeanan dilakukan antara lain dengan menggalakkan
pemberitahuan dini lewat skema pranotifikasi, mendorong peralihan pengiriman
pemberitahuan impor barang, dan dokumen pelengkap pabean impor secara
tunggal; (3) kebijakan di bidang cukai lebih diarahkan kepada manajemen risiko dan
perbaikan sistem; serta (4) kebijakan di bidang PNBP akan ditempuh melalui
optimalisasi penerimaan SDA migas melalui peningkatan produksi migas dan
pencapaian target lifting migas.
Sementara itu, terkait efisiensi belanja negara, terutama belanja pegawai dapat kami
sampaikan bahwa belanja pegawai merupakan jenis belanja mengikat
(nondiscretionary spending), yang bersifat strategis guna menunjang kelangsungan
kegiatan pemerintahan, dan menjamin kelangsungan pelayanan publik bagi
masyarakat.
Peningkatan belanja pegawai dari tahun ke tahun, utamanya disebabkan adanya
upaya Pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui reformasi
birokrasi dan tatakelola pemerintahan. Salah satu fokus utama pelaksanaannya
adalah melalui peningkatan profesionalisme aparatur negara dan tata pemerintahan
yang penuh integritas, akuntabel, taat kepada hukum, dan transparan. Disamping
itu, peningkatan alokasi belanja pegawai juga disebabkan oleh dampak kenaikan
belanja pensiun yang setiap tahun semakin meningkat seiring dengan bertambahnya
jumlah penerima pensiun. Pemerintah sependapat dengan Anggota Dewan bahwa
anggaran belanja pegawai harus optimal dan efisien. Untuk itu, dalam rangka
efisiensi anggaran belanja pegawai, Pemerintah sedang melakukan penataan kembali
jumlah kebutuhan PNS yang tepat (rightsizing) berdasarkan analisis jabatan dan
beban kerja. Untuk itu, sistem seleksi rekrutmen CPNS akan dilakukan dengan
menggunakan sistem computer assisted test (CAT) secara terpusat dengan
bekerjasama dengan konsorsium perguruan tinggi negeri (PTN) serta melibatkan
masyarakat dalam pengawasan, dengan lebih obyektif, transparan dan bebas, dalam
upaya menjaring pegawai yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan.
Sementara itu, terkait program-program yang tidak mendorong pertumbuhan
ekonomi dapat kami sampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah
telah melakukan langkah-langkah kebijakan untuk meningkatkan kualitas belanja
negara (quality of spending) dengan lebih memperhatikan efisiensi, dan ketepatan
alokasi, serta memperhitungkan pengaruhnya terhadap perekonomian.

-L.68-