Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik, yang ditandai adanya atrofi progresif
pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta. Secara klinis mukosa hidung
menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering sehingga terbentuk krusta yang berbau
busuk.1,2,3,4,5,6,7,8,9
Penyakit ini sering ditemukan dikalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi
rendah dan lingkungan yang buruk, serta di negara sedang berkembang. Beberapa kepustakaan
menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita, terutama pada usia pubertas.
1,2,3,4,5,6,7

Gejala klinis rinitis atrofi biasanya berupa hidung tersumbat, gangguan penghidu
(anosmia), napas berbau, epistaksis, hidung terasa kering dan sakit kepala. Tanda klinis adalah
dijumpai rongga hidung yang dipenuhi krusta berwarna kuning kehijauan terutama pada dinding
lateral hidung.1,2,3,4,5,6,7
Etiologi mengenai penyakit rinitis atrofi ini masih dalam tahap penelitian, beberapa
pathogen penting yang berhubungan dengan penyakit ini adalah Coccobacillus, Bacillus
mucosus, Coccobacillus foetidus ozaenae, Diptheroid bacilli dan Klebsiella ozaenae. 1,2,3
Oleh karena etiologi yang belum pasti. Maka pengobatan belum ada yang baku.
Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab, selain menghilangkan gejalanya.
Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong dapat dilakukan
tindakan operasi.9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1

2.1. ANATOMI HIDUNG

Gambar 1. Anatomi hidung20


Secara anatomi hidung dibagi atas hidung luar dan hidung dalam.1,6,7
HIDUNG LUAR
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pangkal hidung (bridge)


Batang hidung (dorsum nasi)
Puncak hidung (tip)
Ala nasi
Kolumela
Lubang hidung (nares anterior)

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit,
jaringan ikat, dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan
lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari 1,6,7:
1. Os nasal
2

2. Processus frontalis os maxilla


3. Processus nasalis os frontal

Gambar 2. Tulang rawan pada hidung luar.1


Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di
bagian bawah hidung, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Sepasang kartilago nasalis lateralis superior


Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior ( kartilago ala mayor)
Beberapa pasang kartilago ala minor
Tepi anterior kartilago septum.

HIDUNG DALAM
Kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang yang dipisahkan oleh septum
nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Lubang masuk kavum nasi bagian
depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang
menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.
Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang nares
anterior disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar
sebasea dan rambut-rambut panjang disebut vibrise.1,6

Gambar 3. Dinding Lateral Hidung.1


Tiap kavum nasi mempunyai empat buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior
dan superior.
Dinding medial hidung adalah septum nasi. Septum nasi dibentuk oleh tulang dan tulang
rawan. Bagian tulang adalah :
1.
2.
3.
4.

Lamina perpendikularis os ethmoidalis


Os vomer
Krista nasalis os maxilla
Krista nasalis os palatina
Adapun bagian tulang rawan adalah :
1. Kartilago septum nasi ( lamina kuadrangularis)
2. Kolumela
Dinding lateral terdapat empat buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah adalah
konka inferior, yang lebih kecil adalah konka media dan yang lebih kecil lagi adalah konka
superior serta yang terkecil adalah konka suprema.1,7
Diantara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut
meatus. Berdasarkan letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior, medius dan superior.
Pada meatus inferior terdapat muara ( ostium) duktus nasolakrimalis. Pada meatus medius

terdapat muara sinus frontal, sinus maxilla dan sinus ethmoidalis anterior sedangkan pada meatus
superior terdapat muara sinus ethmoidalis posterior dan sinus sphenoidalis. 1,7
Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maxilla dan os
palatum. Dinding superior sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribriformis yang
memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung. Lamina kribriformis ini merupakan lempeng
tulang yang berasal dari os ethmoidalis. Tulang ini berlubang-lubang dan tempat masukna
serabut-serabut saraf olfaktorius. 1,7
SUPLAI DARAH
Cabang sfenopalatina dari arteri maxillaris interna menyuplai konka, meatus dan septum.
Cabang ethmoidalis anterior dan posterior dari arteri oftalmika menyuplai sinus frontalis dan
ethmoidalis serta atap hidung. Sedangkan sinus maxilla diperdarahi oleh cabang arteri labialis
superior dan cabang infraorbitalis serta alveolaris dari arteri maxillaris interna. 1,7
Vena-vena membentuk suatu pleksus kavernosus yang rapat dibawah membrana mukosa.
Pleksus ini terlihat nyata diatas konka media dan inferior serta bagian bawah septum yang
membentuk jaringan erektil. Drainase vena terutama melalui vena oftalmika, facialis anterior dan
sfenopalatina. 1,7

Gambar 4. Suplai darah pada hidung.1


PERSYARAFAN

Yang terlihat langsung adalah nervus olfaktorius untuk penghidu, divisi oftalmikus dan
maxillaris dari saraf trigeminus untuk impuls afferen sensorik lainnya. Syaraf facialis untuk
gerakan otot-otot pernafasan pada hidung luar dan sistem syaraf otonom. Kemudian ganglion
sfenopalatina, guna mengontrol diameter vena dan arteri hidung dan juga produksi mukus yang
dapat mengubah pengaturan hantaran, suhu dan kelembapan aliran udara.1,3

Gambar 5. Persarafan hidung.20


2.2 FISIOLOGI HIDUNG
Berdasarkan teori struktural, evolusioner dan fungsional adapun fungsi fisiologis hidung
dan sinus paranasal adalah :
1. Fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara, penyaring udara, humidifikasi,
penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik lokal.
2. Fungsi penghidu karena terdapat mukosa olfaktorius dan reservoir udara untuk
menampung stimulus penghidu.
3. Fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi udara, membantu proses bicara dan
mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang.
4. Fungsi statik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma
dan pelindung panas.

5. Refleks nasal seoerti iritasi mukosa hidung akan menyebabkan refleks bersin dan nafas
berhenti. 1,7

Gambar 6. Bagian bagian hidung20


2.3 RINITIS ATROFI
2.3.1

DEFINISI
Rinitis atrofi adalah penyakit hidung kronik yang ditandai dengan atrofi progresif dari

mukosa dan tulang konka disertai adanya sekret kental yang cepat mengering dan pembentukan
krusta yang berbau busuk. Rinitis atrofi disebut juga rinitis sika, rinitis krustosa atau ozaena.
1,4,5,6,7,9,10,13,14,

Gambar 7. Rinitis Atrofi pada pemeriksaan hidung.13


7

2.3.2

EPIDEMIOLOGI
Rinitis atrofi merupakan penyakit yang sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat

sosial ekonomi rendah dengan status higiene yang buruk dinegara yang sedang berkembang,
terutama didaerah subtropis yang bersuhu panas seperti Asia, Afrika, Eropa Timur, dan
Mediterania. Penyakit ini lebih sering mengenai wanita dengan perbandingan 3:1 dan pada usia
berkisar dari 15-39 tahun terutama usia pubertas. 1,4,5,6,7,9,10,13,14,15

2.3.3

ETIOLOGI
Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.

Akan tetapi terdapat beberapa teori yang dikemukakan, antara lain :


1. Infeksi kronik spesifik
Terutama kuman Klebsiella ozaena. Kuman ini menghentikan aktifitas silia normal pada
mukosa hidung manusia. Kuman lain adalah Stafilokokus, Streptokokus, Kokobasilus,
Pseudomonas aeruginosa, Bacillus mucosus, Diphteroid bacili, Cocobacillus foetidus
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

ozaena.
Defisiensi Fe
Defisiensi vit.A
Sinusitis kronik
Ketidakseimbangan hormon estrogen
Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun
Faktor herediter, yaitu diturunkan secara autosomal dominan
Trauma karena kecelakaan atau iatrogenik, yaitu efek lanjut dari pembedahan
Terapi radiasi pada hidung dan sinus paranasal, umumnya segera merusak pembuluh
darah dan kelenjar penghasil mukus. 3,4,5,6,7,10,12,13,15,18,19.

2.3.4

PATOLOGI DAN PATOGENESIS


Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasia epitel kolumnar bersilia menjadi epitel

skuamous atau atrofi dan fibrosis dari tunika propria. Terdapat pengurangan kelenjar alveolar
baik dalam jumlah maupun ukuran dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriol
terminal. Oleh karena itu, secara patologi rinitis atrofi dibagi menjadi dua tipe :
1. Tipe 1
8

Merupakan tipe paling sering (50-80 %) dari semua kasus. Dikarakteristikkan dengan
adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriol terminal akibat infeksi kronis akan
menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa, juga akan ditemui infiltrasi sel bulat
di submukosa. Pasien akan membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen.
2. Tipe II
Tipe ini terdapat pada 20-50% kasus dimana terdapat vasodilatasi dari kapiler sel endotel
dari kapiler yang berdilatasi mempunyai sitoplasma yang lebih dari normal dimana
menunjukkan reaksi alkaline phosphatase yang positif pada proses reabsorbsi tulang.
Pada tipe ini tidak dapat diterapi dengan estrogen karena akan malah memperburuk.
12,13,15,18

Metaplasia sel epitel torak bersilia menjadi epitel gepeng tak bersilia, akan menyebabkan
hilangnya kemampuan pembersihan debris hidung. Akibatnya, kelenjar mukosa mengalami atrofi
bahkan bisa menghilang, terbentuknya fibrosis epitel yang luas, fungsi surfaktan akan menjadi
abnormal. Derfisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunya ketahanan hidup
terhadap infeksi.8,9,10,11,12
Fungsi surfaktan yang abnormal berpengaruh terhadap frekuensi gerakan silia sehingga
akan membuat menumpuknya lender. Semakin tipis epitel (atrofi konka) akan membuat rongga
hidung semakin membesar, maka akan terjadi kekeringan serta pembentukan krusta lalu iritasi
mukosa semakin meluas. 8,9,10,11,12
Jika suplai darah tidak adekuat, maka akan terjadi nekrosis sel dan jaringan, mengalami
proses pembusukan apabila bercampur dengan toksin dari mikroorganisme akan menghasilkan
pus kehijauan yang berbau busuk yang mongering dengan cepat yang disebut krusta. Krusta
merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. Jika krusta terlepas akan
menyebabkan epistaksis. Selain atrofi dari mukosa, juga bisa terjadi atrofi dari mukosa olfaktoria
yang bisa menyebabkan penderita mengalami hiposmia atau anosmia. 8,9,10,11,12

2.3.5

GEJALA DAN TANDA KLINIS


Gejala klinis yang sering dikeluhkan oleh penderita rhinitis atrofi adalah hidung

tersumbat, gangguan penghidu (anosmia), sakit kepala, hidung terasa kering, adanya secret hijau
kental serta krusta (kerak) berwarna kuning kehijauan atau kadang-kadang berwarna hitam dan
berbau busuk.
9

Secara klinis, Sutomo dan Samsudin membagi rhinitis atrofi dalam tiga tingkatan, yaitu :
1. Tingkat 1
Atrofi mukosa hidung, mkosa tampak kemerahan dan berlendir, krusta sedikit.
2. Tingkat II
Atrofi mukosa hidung semakin jelas, mukosa makin kering, warna makin pudar,
krusta banyak, keluhan anosmia belum jelas.
3. Tingkat III
Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis, rongga hidung
tampak lebar sekali, dapat ditemukan krusta di nasofaring, terdapat anosmia yang
jelas. 3,4,5,6,7,10,12,13,15,18,19.
2.3.6

DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dengan menggunakan

rinoskopi anterior serta pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah rutin, foto rontgen dan
CT scan sinus paranasal, pemeriksaan Fe serum, uji mantoux dan foto thoraks PA apabila rhinitis
atrofi diduga berhubungan dengan tuberculosis, pemeriksaan histopatologi dan test serologi
untuk menyingkirkan sifilis.1,7,9,16.
Pada CT scan sinus paranasal, hilangnya Kompleks Osteo Meatal (KOM) akibat
destruksi bulla ethmoid dan processus uncinatus, hipoplasia dari sinus maxillaries, pembesaran
dari rongga hidung dengan destruksi dari dinding lateral hidung dan destruksi tulang konka
inferior dan konka media.8,16
2.3.7

DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis Banding rhinitis atrofi adalah sebagai berikut :
1. Rhinitis kronik tuberculosis
Tuberculosis pada hidung berbentuk noduler atau ulkus, terutama mengenai tulang
rawan septum dan dapat mengakibatkan perforasi. Pada pemeriksan klinis terdapat sekret
mukopurulen dan krusta sehingga menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Diagnosis
ditegakkan dengan ditemukannya Basil Tahan Asam (BTA) pada sekret hidung.
2. Rhinitis kronik lepra
Penyebab rhinitis lepra adalah Mycobacterium leprae. Lesi pada hidung sering terlihat
pada penyakit ini. Pasien mengeluhkan hidung tersumbat oleh karena pembentukan
krusta serta adanya bercak darah. Mukosa hidung pucat. Apabila infeksi berlanjut dapat
menyebabkan perforasi septum.
3. Rhinitis kronik sifilis

10

Penyebab rhinitis sifilis adalah kumah Treponema pallidum. Pada rhinitis kronik sifilis
yang primer dan sekunder gejalanya hanya adanya bercak pada mukosa. Sedangkan pada
rhinitis kronik tersier dapat ditemukan ulkus yang mengenai septum nasi dan dapat
mengakibatkan perforasi septum. Pada pemeriksaan klinis didapati sekret mukopurulen
yang berbau dan krusta. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan mikrobiologik
dan biopsi.5
2.3.8

KOMPLIKASI
Komplikasi rhinitis atrofi dapat berupa :
1. Perforasi septum
2. Faringitis
3. Sinusitis
4. Miasis hidung.5

2.3.9

PENATALAKSANAAN
Pada rhinitis atrofi terdapat dua macam pentalaksanaan, yaitu secara konservatif dan

pembedahan. Penatalaksanaan ini bertujuan untuk menghilangkan faktor etiologi dan


meminimalisir terbentuknya krusta atau menghilangkan gejala.3,4
a. Konservatif
1. Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman dengan dosis adekuat sampai
tanda-tanda infeksi hilang. Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada
pengobatan dengan Rifampisin oral 600 mg satu kali sehari selama 12 minggu.
2. Obat cuci hidung, untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret serta
menghilangkan bau, antara lain :

Betadine solution dalam 100 ml air hangat, atau campuran


NaCl
NH4Cl
NaHCO3 aaa 9
Aqua ad 300 cc
11

1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat.

Larutan garam dapur


Campuran :
Na bikarbonat 28,4 g
Na dibonat

28,4 g

NaCl

56,7 g

Dicampur 9 sendok makan air hangat. Larutan dihirup ke dalam rongga


hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat melalui
hidung dan air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut.
Dilakukan dua kali sehari.
3. Obat tetes hidung
Setelah krusta diangkat, diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk
membasahi mukosa, estradiol dalam minyak Arachis 10.000 u/ml, kamisetin anti
ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml diberikan tiga kali sehari,
masing-masing 3 tetes.
4. Vitamin A 3 x 10.000 u selama 2 minggu
5. Preparat Fe
6. Bila ada sinusitis, diobati hingga tuntas.
Sinha, Sardana dan Rjvanshi melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik
memberikan 80 % perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal
12

memberikan 93,3 % perbaikan pada periode yang sama. Ini membantu regenerasi epitel dan
jaringan kelenjar.3,4

b. Pembedahan
Pada kebanyakan kasus meskipun dengan terapi konservatif yang maksimal, pasien akan
selalu mengeluhkan krusta yang terbentuk dan bau dari rongga hidung yang muncul meskipun
seringkali melakukan terapi lanjutan. Untuk mencegah pasien bergantung pada terapi
medikamentosa sepanjang hidupnya perlu dilakukan terapi pembedahan
Secara umum terapi pembedahan terdiri dari 3 kategori antara lain : denervasi, reduksi
volume rongga hidung dan penutupan nasal. Tujuan terapi pembedahan adalah untuk
menyempitkan rongga hidung yang lapang, mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta,
regenerasi mukosa hidung dan meningkatkan vaskularisasi dari kavum nasi.
Beberapa teknik pembedahan yang dilakukan :
1. Youngs Operation

Prosedur ini adalah penutupan total salah satu rongga hidung dengan flap.
Tujuan operasi ini untuk mencegah efek kekeringan, mengurangi krusta dan
membuat mukosa dibawahnya tumbuh kembali. Tekanan negative yang timbul
pada lubang hidung yang tertutup menyebabkan vasodilatasi dari pembuluh darah
di sekitarnya. Teknik ini dilakukan dengan menaikkan flap intranasal 1 cm dari
cephalic ke lingkaran ala nasi. Flap ini akan menutup lubang hidung tepat di
tengahnya.
Kekurangan teknik ini adalah sulitnya membuat flap oleh karena flap mudah
robek atau timbulnya parut yang dapat menyebabkan stenosis vestibulum.
2. Modified Youngs Operation

13

Modifikasi teknik ini dilakukan oleh El Kholy. Prinsip teknik ini adalah menutup lubang
hidung dengan meninggalkan 3 mm daerah yang terbuka.

3. Launtenschlager Operation
Prinsip teknik ini dengan memobilisasi dinding medial antru dan bagian dari
ethmoidalis, kemudian dipindahkan ke lubang hidung.
Pada operasi ini, antrum maxilla dibuka dengan operasi Caldwell Luc. Dinding
medial antrum dimobilisasi kea rah medial dengan membuat potongan berbentuk
U dengan menggunakan bor, mukosa kavum nasi yang menjadi tipis ini dijaga
agar tidak sampai rusak. Kemudian tulang antrum medial dengan konka inferior
diluksasi ke arah medial dengan bertumpu pada area ethmoidalis.
4. Implantasi Submukosa
Implantasi submukosa dengan tulang rawan, tulang, dermofit, bahan sintesis seperti
Teflon, campuran triosite dan fibrin glue.
5. Wittmacks Operation
Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maxilla dengan tujuan membasahi mukosa
hidung.1,3,4,5,6
2.3.10 PROGNOSIS
Bila pengobatan konservatif adekuat yang cukup lama tidak menunjukkan perbaikan,
pasien dirujuk untuk dilakukan operasi penutupan lubang hidung. Prinsipnya mengistirahatkan
mukosa hidung pada nares anterior atau koana sehingga menjadi normal kembali selama 2 tahun
atau dapat dilakukan implantasi untuk menyempitkan rongga hidung. Dengan operasi diharapkan
terjadi perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. Rhinitis atrofi dapat menetap bertahun-tahun
dan ada kemungkinan untuk sembuh spontan pada usia pertengahan. 4,11,14

14

BAB III
KESIMPULAN

Rhinitis atrofi (ozaena) adalah penyakit infeksi hidung kronik, yang ditandai adanya
atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta.
Etiologi dan pathogenesis rhinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan
memuaskan. Beberapa pathogen penting yang berhubungan dengan penyakit ini adalah
Coccobacillus, Bacillus mucosus, Coccobacillus foetidus ozaenae, Diptheroid bacilli dan
Klebsiella ozaenae.
15

Apabila rhinitis atrofi tidak ditangani dengan cepat akan menimbulkan komplikasi,
seperti perforasi septum, faringitis, sinusitis dan miasis hidung.
Penatalaksanaan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk mengurangi
gejala. Penatalaksanaan dari rhinitis atrofi diberikan secara konservatif atau pembedahan,
tergantung keadaan penyakit dan beberapa faktor lain, seperti keadaan umum pasien, reaksi
pasien terhadap pengobatan dan lain-lain.

1.
2.
3.
4.

Rhinitis atrifi juga dapat menimbulkan komplikasi seperti :


Perforasi septum
Faringitis
Sinusitis
Miasis hidung.

Rhinitis atrofi dapat menetap bertahun-tahun dan ada kemungkinan untuk sembuh
spontan pada usia pertengahan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Hilger PA. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. Dalam : BOIES (ed), Buku Ajar
Penyakit THT. Edisi ke 6. Alih Bahasa : Wijaya. Jakarta : EGC, 1997 ; 173-222.
2. Colman R, Somogyi R. Basic Anatomi Review. In : Toronto Notes. First Edition.
McGraw-Hill Medical, 2008 ; OT3.
3. Lee KJ. Atrophic rhinitis (ozena). Dalam : Essential Otolaryngology. Head and Neck
Surgery. Eighth Edition. 2013; 705.
4. Ballantyne j, et.al. Athropic Rhinitis. In : Scott-Browns Disease of The Ear, Nose and
Throat. Fourth Edition. London : Buterworths Publisher, 1979 ; 175-180.

16

5. Bhargava KB, et.al. Athropic Rhinitis. In : A Short Textbook Of E.N.T. Diseases. For
Students and Practitioners. Mumbai : Fifth Edition, 1986 ; 190-191.
6. Soetjipto D, dkk. Sumbatan Hidung. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung
Tenggorok. Edisi ke 6. Jakarta : FKUI, 2007 ; 118-141.
7. Soetjipto D, Mangunkusumo E. Hidung. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga
Hidung Tenggorok. Edisi ke 5. Jakarta : FKUI, 2001 ; 91-95, 113.
8. Balasubramanian T. Athropic Rhinitis. 2010. Available from : http://Athropic-rhinitis-bydrbalu.htm/ (accessed 22 januari 2015).
9. Maqbool M. Chronic Rhinitis. In : Tetxtbook Of Ear, Nose and Throat Diseases. Sixth
Edition. New Delhi :EMCA House, 1993 ; 264-266
10. Cowan A, Ryan W. Athropic Rhinitis. Grand Rounds Presentation, UTMB, Dept. of
Otolaryngology, 2005. Available from : http://Athropic%20Rhinitis.html/ (Accessed 22
januari 2015).
11. Dokumentasi Berita Sains (2008-2013). Rhinitis Atrofi. Available from :
http://www.kesimpulan.com/2009/05/rinitis-atrofi.html?m=0 ( accessed 22 januari
2015 ).
12. Becker W, et.al. Athropic Rhinitis and Ozaena. In : Ear, Nose and Throat Diseases. A
pocket Reference. Second Edition. New York : Georg Thieme Verlag, 1994 ; 218-219.
13. Hawke M, et.al. The Nose. In : Diagnostic Handbook of Otorhinolaryngology. First
Edition. 1997 ; 114.
14. Kerr GA. Athropic Rhinitis. In : Scott-Browns Otolaryngology. Sixth Edition. Oxford :
Butterworth-Heinemann, 1997 ; 4/8/26 4/8/27.
15. Colman BH. Diseases of the nose, throat and ear. A handbook for students and
practitioners. London. 1987 ; 39-40.

17

16. Wishart G. The Disease Ozaena. The Canadian Medical, Toronto. Available from :
http://pubmedcentralcanada.ca/articlerender.cgi?accid=PMC1585203 (accessed 21
januari 2015)
17. Groves J, et.al. A synopsis of Otolaryngology. Fourth Edition. Bristol. Wright. 1985;
193-194.
18. Colman BH. Athropic Rhinitis. In : Disease of The Nose, Throat and ear, and Head and
Neck. Fourteenth Edition. Oxford : ELBS, 1996 ; 24-27.
19. Surgery Door ; Athropic Rhinitis Symptoms, Diagnosis and Treatment. Available from :
http://Athropic-Rhinitis-symptoms,diagnosis&treatment.html (accessed 23 januari 2015).
20. http://www.google.com/search?hl=anatomi+hidung.

18