Anda di halaman 1dari 132

FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS PERTUMBUHAN

RAMBUT PADA KELINCI DARI SEDIAAN HAIR TONIC


EKSTRAK DAUN SELEDRI (Apium graveolens Linn)

KARYA TULIS ILMIAH

Oleh:
FATHIA MAHMUDAH
723901S.10.027

AKADEMI FARMASI SAMARINDA


SAMARINDA
2013

FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS PERTUMBUHAN


RAMBUT PADA KELINCI DARI SEDIAAN HAIR TONIC
EKSTRAK DAUN SELEDRI (Apium graveolens Linn)

KARYA TULIS ILMIAH


Diajukan untuk memenuhi salah satusyarat dalam menyelesaikan pendidikan
Program D-III Farmasi pada Akademi Farmasi Samarinda

Oleh:
FATHIA MAHMUDAH
723901S.10.027

AKADEMI FARMASI SAMARINDA


SAMARINDA
2013

f,

ILMAH

PENGT,SAHAN KARYA TULIS

FORMULASI DAh[ UJI AKTTVITAS PERTUMBUIIAN RAMBUT PADA

KELINCI DARI IAIR TONIC EKSTRAK DAT]N SELEDRI


(Apium graveolms

Linn)

Oleh:

T.ATHIA MAHMUDAH
723901S.10.027

Diportahankan dihadapan Paniti"a Penguji Kerya Tulis Ilmia=h


Program D-III Farmasi AkademiFarmasiSamarinda
Pada T*nggal '. 22 Juli 2013

Penguji:
1. Husnul

IIIP:
2,

-1il-

lYamida, S.Si., M.Si., Apt

1977A6072005120$2

Arsyilrlbrahiu, S,$i,, M,Si, Apt


IYIP : 197 40820200801 1010

3, Sapd, S-Si
NIDN: 1111078503

Mengetahut,
Akademi Farmasi Samarinda

ffiq
r103107701

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Barang siapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu,


niscaya dengan hal itu Allah jalankan dia diantara
jalan-jalan surga (Hadits Riwayat Abu Dawud)

Tak ada rahasia untuk menggapai sukses. Sukses itu dapat terjadi
karena persiapan, kerja keras dan mau belajar dari kegagalan
(Collin Powel).

Semakin sedikit memikirkan kegagalan, maka


semakin banyak peluang menuju keberhasilan,,.

Ku persembahkan untuk:
Kedua orang tuayang selalu memberi nasehat penuh makna dan juga adikku .
Kalian menjadi alasan dan semangat terbesar, serta keluarga kecil yang selalu bisa
membuatku tersenyum.
Sahabat-sahabatku, Ai, Dian, Lisa, Gusti, Dedi, Riswan, Sandy, Nata, Bagas, Yuda yang
selama 3 tahun terakhir menjadi rumah kedua bagiku, yang selalu bisa memberikan
kritik, saran dan juga pengalaman menyenangkan persahabatan yang penuh tawa.

iii

PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:


Nama

: Fathia Mahmudah

NIM

: 723901S.10.027

Judul Penelitian

: Formulasi dan Uji Aktivitas Pertumbuhan


Rambut Pada Kelinci dari Sediaan Hair
Tonic

Ekstrak

Daun

Seledri

(Apium

graveolens L.)
menyatakan bahwa dalam KTI ini tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk memperoleh gelar akademik di suatu Perguruan tinggi
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau
pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali
yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam
daftar pustaka.

Samarinda, Juli 2013

Fathia Mahmudah

iv

PRAKATA
Allhamdullilah Puji dan syukur kepada Allah SWT, karena dengan
bimbingan dan karunia-Nya Karya Tulis Ilmiah (KTI) dengan judul Formulasi
dan Uji Aktivitas Pertumbuhan Rambut Pada Kelinci dari Sedian Hair Tonic
Ekstrak Daun Seledri (Apium graveolens Linn) dapat diselesaikan tepat pada
waktunya. Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini juga tidak lepas dari
bimbingan dan arahan dari berbagai pihak yang terkait. Sehubungan dengan hal
tersebut di atas, maka pada kesempatan ini tak lupa penulis menyampaikan
ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak Supomo, S.Si., M.Si., Apt selaku Direktur Akademi Farmasi
Samarinda.
2. Bapak Sapri, S.Si., selaku Pembimbing I yang telah banyak mengarahkan dan
membimbing penulis dalam penelitian dan penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
Serta untuk semua saran dan masukan-masukan yang memotivasi.
3. Bapak Arsyik Ibrahim, S.Si., M.Si., Apt selaku dosen penguji yang telah
bersedian memberikan saran-saran membangun kepada penulis dalam
penelitian ini.
4. Ibu Husnul Warnida, S.Si., M.Si., Apt selaku dosen penguji

yang telah

memberikan kritik dan saran membangun untuk penelitian ini.


5. Ibu Yullia Sukawaty, S.Far., Apt selaku Pembimbing II yang telah
mengarahkan, membimbing dan memotivasi penulis dalam penelitian dan
penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

6. Kedua Orang tua dan Keluarga besar atas segala doa dan dukungannya.
7. Sahabat-sahabatku Ainur Risqi W.R.P, Dhian Maya Andhini, Lisa Apriyanti, I
Gusti Bagus, Riswan Takdir, Dedi Irawan, Sandy Pramana, Satrio Alam
Bagaskoro dan Pranata Atma Darma yang selalu memberikan dukungan,
saran, dan kritikan membangun pada berbagai hal.
8. Mas Ari Saptowo, Amd.Far selaku laboran Laboratorium Terpadu II.
9. Mba Santi, Amd.Far selaku laboran Laboratorium Terpadu I.
10. Bapak Idupiansyah yang telah membantu dalam penyediaan literatur.
11. Bapak dan Ibu dosen serta staf tata usaha kampus Akademi Farmasi
Samarinda.
12. Teman-teman Akademi Farmasi Samarinda angkatan 2010 yang telah melalui
semua hal bersama dari awal hingga akhir selama perkuliahan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan Karya Tulis
Ilmiah ini masih terdapat kekurangan ataupun kesalahan, untuk itu kritikan dan
saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan Karya
Tulis Ilmiah ini. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca khususnya mahasiswa Akademi Farmasi Samarinda.

Samarinda, Juli 2013

Penulis

vi

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian mengenai formulasi dan uji aktivitas pertumbuhan
rambut pada kelinci dari sediaa hair tonic ekstrak daun seledri (Apium graveolens
Linn). Secara turun temurun seledri telah digunakan sebagai penumbuh
rambut.Pada penelitian ini ingin mengetahui apakah ekstrak daun seledri dapat
diformulasikan menjadi sediaanhair tonic yang memenuhi persyaratan stabilitas
fisik serta mengetahui konsentrasi yang optimum bagi pertumbuhan rambut
kelinci.Uji aktivitas pertumbuhan rambut dilakukan dengan pengaplikasian hair
tonic pada kelinci yang dicukur bulunya. Uji persyaratan fisik meliputi uji
oganoleptis, uji pH dan uji viskositas.Pengamatan dilakukan selama 3 minggu,
dan pengukuran pertumbuhan rambut dengan penimbangan rambut yang telah
tumbuh dilakukan pada hari ke21. Data hasil pengukuran pertumbuhan rambut
diuji statistik dengan metode uji ANOVA.
Sampel yang digunakan adalah daun seledri yang diperoleh dari petani seledri
di Kelurahan Handil Bakti, Kecamatan Palaran, Samarinda. Simplisia daun seledri
diekstraksi dengan campuran etanol 96% dan air (63:37) lalu ekstrak konsentrasi
5%, 10% dan 15% diformulasikan dalam bentuk sediaan hair tonic. Sediaan hair
tonic ekstrak daun seledri mempunyai warna, bau dan kehomogenitasan yang
stabil selama penyimpanan. pH sediaan hair tonic ekstrak daun seledri mengalami
sedikit penurunan selama penyimpanan namun tetap memenuhi persyaratan pH
kulit kepala. Viskositas sediaan hair tonic sebesar 3,54-4,60 cP. Rata-rata
panjang rambut pada minggu ke3 adalah 0,867 cm (kontrol negatif); 1,196 cm
(kontrol normal); 2,487 cm (kontrol positif); 1,621 cm (Formula A); 2,472 cm
(Formula B) dan 1,738 cm (Formula C). Rata-rata berat rambut pada minggu ke3
adalah 0,1 g (kontrol normal); 0,143 g (kontrol negatif); 0,3 g (kontrol positif);
0,156 g (Formula A); 0,296 g (Formula B); 0,176 g (Formula C).
Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa hair tonic ekstrak daun seledri
konsentrasi 5%, 10% dan 15% dapat menstimulasi aktivitas pertumbuhan rambut
kelinci. Formulasi dengan konsentrasi ekstrak 10% (Formula B) mempunyai ratarata panjang rambut 2,472 cm dan berat rambut 0,296 g merupakan konsentrasi
optimum dalam menstimulasi aktivitas pertumbuhan rambut. Hasil analisa uji
Mann-Whitney menunjukkan nilai p>0,05 sehingga formulasi dengan ekstrak
10% mempunyai aktivitas pertumbuhan yang sama dengan hair tonic Regrou.
Kata kunci: daun seledri, hair tonic, rambut, formula, stabilitas fisik.

vii

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ ii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ......................................................................... iii
PERNYATAAN ..................................................................................................... iv
PRAKATA ...............................................................................................................v
ABSTRAK ............................................................................................................ vii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ viii
DAFTAR TABEL .................................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xiii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................1
B. Rumusan Masalah.......................................................................................3
C. Hipotesis .....................................................................................................3
D. Tujuan Penelitian ........................................................................................4
E. Manfaat Penelitian ......................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanaman Seledri (Apium graveolens L.) ....................................................5
1. Taksonomi Tanaman ..............................................................................5
2. Nama Daerah ..........................................................................................5
3. Nama Asing............................................................................................6
4. Morfologi Tanaman ...............................................................................6
5. Kandungan Kimia ..................................................................................7
6. Kegunaan................................................................................................8
B. Kandungan Senyawa Metabolit Sekunder ..................................................8
1.

Alakoid ..................................................................................................8

2.

Flavonoid ...............................................................................................9
viii

3.

Tanin......................................................................................................9

4.

Saponin ................................................................................................10

C. Rambut......................................................................................................10
D. Kerontokan Rambut ..................................................................................15
E. Hair Tonic .................................................................................................18
F. Preformulasi Sediaan Hair Tonic..............................................................23
G. Stabilitas Sediaan ......................................................................................30
1. Definisi Stabilitas .................................................................................30
2. Parameter Uji .......................................................................................31
H. Ekstrak .....................................................................................................33
1. Definisi Ekstrak dan Ekstraksi .............................................................33
2. Pembagian Ekstrak ...............................................................................33
3. Metode Pembuatan Ekstrak Secara Maserasi ......................................34
BAB III METODE PENELITIAN
A. Obyek Penelitian .......................................................................................36
B. Sampel dan Teknik Sampling ...................................................................36
C. Variabel Penelitian....................................................................................37
D. Teknik Pengumpulan Data .......................................................................38
1.

Bahan, Alat dan Hewan Percobaan .....................................................38

2.

Prosedur Penelitian ..............................................................................39


a. Determinasi tanaman .....................................................................39
b. Penyiapan simplisia daun seledri ..................................................39
c. Ekstraksi daun seledri....................................................................39
d. Karakterisasi ekstrak daun seledri .................................................40
e. Skrining fitokimia ekstrak daun seledri ........................................42
f. Penyiapan hewan uji......................................................................41
g. Formulasi sediaan hair tonic .........................................................42
h. Cara pembuatan hair tonic ............................................................42
i. Evaluasi sediaan hair tonic ...........................................................46
j. Pengujian aktivitas pertumbuhan rambut ......................................47

E. Analisis Data .............................................................................................48


ix

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Determinasi Tanaman ..............................................................................50
B. Penyiapan Simplisia Daun Seledri ...........................................................50
C. Ekstraksi Simplisia Daun Seledri.............................................................51
D. Karakterisasi Ekstrak Daun Seledri .........................................................52
E. Skrining Fitokimia Ekstrak Daun Seledri ................................................54
F. Formulasi Sediaan Hair Tonic ................................................................55
G. Evaluasi Sediaan Hair Tonic ...................................................................57
H. Uji Aktivitas Hair Tonic terhadap Pertumbuhan Rambut ......................61
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ...................................................................................................68
B. Saran .........................................................................................................69
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................70
LAMPIRAN ...........................................................................................................74
RIWAYAT HIDUP ..............................................................................................117

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1

Formulasi sediaan Hair Tonic .......................................................

45

Tabel 2

Kelompok perlakuan uji aktivitas pertumbuahan rambut .............

48

Tabel 3

Persentase susut pengeringan daun dan rendemen ekstrak seledri

52

Tabel 4

Hasil karakterisasi ekstrak daun seledri ........................................

52

Tabel 5

Hasil identifikasi metabolit sekunder ekstrak daun seledri ...........

54

Tabel 6

Hasil pengamatan organoleptis sediaan hair tonic selama 3 minggu


penyimpanan ................................................................................. 57

Tabel 7

Hasil pengukuran pH sediaan hair tonic selama 3 minggu


penyimpanan .................................................................................

58

Hasil pengukuran viskositas sediaan hair tonic setelah 3 minggu


penyimpanan .................................................................................

60

Tabel 8

Tabel 9

Panjang dan berat rambut kelinci setelah pengolesan hair tonic ekstrak
daun seledri pada minggu ketiga ................................................... 63

xi

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1

Tanaman seledri ......................................................................... 5

Gambar 2

Struktur kimia apiin................................................................... 7

Gambar 3

Struktur kimia apigenin ............................................................. 7

Gambar 4

Struktur kimia alkohol................................................................ 23

Gambar 5

Struktur kimia propilen glikol .................................................... 24

Gambar 6

Stuktur kimia asam askorbat ..................................................... 25

Gambar 7

Struktur kimia metil paraben ...................................................... 26

Gambar 8

Struktur kimia menthol ............................................................. 27

Gambar 9Struktur kimia Minoxidil.................................................................. 28


Gambar 10

Viskometer Ostwald .................................................................. 32

xii

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1

Determinasi tanaman seledri ....................................................... 74

Lampiran 2

Perhitungan kadar etanol pada campuran pelarut ......................... 75

Lampiran 3

Perhitungan susut pengeringan daun seledri ............................... 77

Lampiran 4

Perhitungan rendemen ekstrak daun seledri ................................ 78

Lampiran 5

Proses maserasi simplisia daun seledri ........................................ 79

Lampiran 6

Ekstrak kental daun seledri .......................................................... 80

Lampiran 7

Perhitungan susut pengeringan ekstrak daun seledri .................... 81

Lampiran 8

Perhitungan berat jenis ekstrak cair daun seledri ......................... 82

Lampiran 9

Perhitungan senyawa yang larut dalam air ................................... 83

Lampiran 10 Perhitungan senyawa yang larut dalam etanol ............................. 84


Lampiran 11 Hasil skrining fitokimia ekstrak daun seledri ............................... 85
Lampiran 12 Pengamatan organoleptis hair tonic minggu ke1 ........................ 86
Lampiran 13 Pengamatan organoleptis hair tonic minggu ke2 ........................ 87
Lampiran 14 Pengamatan organoleptis hair tonic minggu ke3 ........................ 88
Lampiran 15 Pengukuran pH sediaan hair tonic............................................... 89
Lampiran 16 Pengukuran viskositas sediaan hair tonic..................................... 90
Lampiran 17 Perhitungan viskositas .................................................................. 91
Lampiran 18 Pertumbuhan rambut kelinci minggu ke1 ..................................... 95
Lampiran 19 Pertumbuhan rambut kelinci minggu ke2 ..................................... 97
Lampiran 20 Pertumbuhan rambut kelinci minggu ke3 ..................................... 99
Lampiran 21 Pengukuran panjang rambut kelinci ............................................. 101
Lampiran 22 Hasil perhitungan berat rambut kelinci ........................................ 102
Lampiran 23 Hasil perhitungan panjang rambut kelinci .................................... 103

xiii

Lampiran 24 Hasil analisa data pH sediaan hair tonic selama 3 minggu .......... 104
Lampiran 25 Hasil analisa data viskositas sediaan hair tonic setelah 3
minggu ......................................................................................... 106
Lampiran 26 Hasil analisa data panjang rambut kelinci minggu ke3 ................ 109
Lampiran 27 Hasil analisa data berat rambut kelinci minggu ke3 ..................... 113

xiv

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rambut yang terdapat pada hampir seluruh permukaan tubuh memiliki
peranan yang penting bagi manusia. Pada pria dan wanita rambut mempunyai
peran sangat penting bagi penampilan. Tidak jarang kepercayaan diri seseorang
dapat meningkat dengan rambut yang indah. Kerontokan rambut sampai
menimbulkan kebotakan menjadi masalah yang cukup mengkhawatirkan.
Kerontokan
(kebotakan).

rambut
Hal

yang

yang

abnormal

mempengaruhi

dapat

menyebabkan

terjadinya

alopecia

kerontokan

rambut

diantaranya adalah kurangnya nutrisi bagi pertumbuhan rambut seperti air,


protein, vitamin A, vitamin C, vitamin B, vitamin E dan zat besi (Priskila,
2012). Seledri mengandung semua nutrisi penting yang pertumbuhan rambut,
terutama protein dan air yang sangat dibutuhkan oleh rambut.
Pemecahan masalah kerontokan rambut ataupun masalah rambut lainnya
telah dilakukan dengan penggunaan berbagai produk kosmetika. Produk
kosmetika untuk mengatasi alopecia yang beredar di pasaran masih berasal
dari

zat

sintetis

seperti

Minoxidil.

Namun,

penggunaan

Minoxidil

memungkinkan timbulnya efek samping seperti alergi kulit, sakit kepala,


vertigo, edema sampai hipotensi (Messenger dan Rundegen, 2004). Sejalan
dengan hal tersebut, konsep hidup back to nature mulai diminati dan didukung
pula dengan melimpahnya kekayaan alam di Indonesia. Pemanfaatan herba

alam sebagai penumbuh rambut telah turun temurun dilakukan di Indonesia,


salah satunya adalah penggunaan seledri (Dalimartha, 2000).
Apium graveolens L. atau lebih dikenal dengan seledri merupakan tanaman
yang telah banyak digunakan terutama sebagai bahan lalapan dan penyedap
masakan. Secara turun temurun, daun seledri telah banyak digunakan sebagai
obat reumatik, mata kering, hipertensi, bronchitis, batuk, menurunkan kadar
kolesterol serta menyuburkan rambut (Dalimartha, 2000). Pada penelitian
sebelumnya telah diketahui ekstrak daun seledri memiliki efek menyuburkan
rambut yang optimal pada konsentrasi 10%

dalam sediaan krim (Juriana,

Yanti, 2009). Ekstrak daun seledri dengan konsentrasi 10% dalam sediaan
mikroemulsi ternyata juga mempunyai kemampuan menstimulasi pertumbuhan
rambut (Tambunan, 2012).
Pengembangan formulasi ekstrak daun seledri dalam bentuk sediaan sebagai
penumbuh rambut masih sangat terbatas, terutama pengembangan sediaan hair
tonic. Sediaan kosmetika berupa hair tonic merupakan sediaan yang mudah
digunakan serta tidak menimbulkan rasa lengket dan tidak membentuk lapisan
tipis yang dapat menimbulkan ketombe yang mungkin dapat diakibatkan oleh
penggunaan krim atau gel pada kulit kepala.
Berdasarkan latar belakang di atas, dilakukan penelitian formulasi dan uji
aktivitas pertumbuhan rambut pada kelinci dari sediaan hair tonic ekstrak daun
seledri (Apium graveolens L.). Fomulasi sediaan hair tonic ini menggunakan
konsentrasi ekstrak yang berbeda. Sediaan hair tonic

dengan berbagai

konsentrasi ini akan diuji pula perbedaan aktivitasnya sebagai penumbuh


rambut untuk mengetahui formulasi yang aktivitasnya optimal.

A. Rumusan Masalah
1. Berapa persentase rendemen ekstrak daun seledri (Apium graveolens Linn.)?
2. Bagaimana karakterisasi ekstrak daun seledri (Apium graveolens Linn.)?
3. Apa saja metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak daun seledri
(Apium graveolens Linn)?
4. Apakah ekstrak daun seledri dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan
hair tonic?
5. Apakah sediaan hair tonic yang mengandung ekstrak daun seledri
konsentrasi 5%, 10% dan 15% memenuhi persyaratan stabilitas fisik?
6. Berapakah konsentrasi ekstrak daun seledri yang mempunyai aktivitas
optimum sebagai penumbuh rambut pada kelinci?

B. Hipotesis
Ekstrak daun seledri (Apium graveolens L.) dapat diformulasikan dalam
bentuk sediaan hair tonic dengan konsentrasi 5%, 10% dan 15% yang
memenuhi persyaratan stabilitas fisik serta konsentrasi ekstrak daun seledri
sebesar 10% pada sediaan hair tonic mempunyai aktivitas optimum sebagai
penumbuh rambut pada kelinci.

C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui persentase rendemen ekstrak daun seledri (Apium graveolens
Linn.).
2. Mengetahui karakterisasi ekstrak daun seledri (Apium graveolens Linn.).
3. Mengetahui metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak daun seledri
(Apium graveolens Linn.).
4. Mengetahui cara memformulasi ekstrak daun seledri dalam bentuk sediaan
hair tonic.
5. Mengetahui stabilitas fisik dari sediaan hair tonic yang mengandung ekstrak
daun seledri konsentrasi 5%, 10% dan 15%.
6. Mengetahui konsentrasi ekstrak daun seledri yang mempunyai aktivitas
optimum sebagai penumbuh rambut pada kelinci.

D. Manfaat Penelitian
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi
peneliti serta Mahasiswa/i Akademi Farmasi Samarinda mengenai aktivitas
pertumbuhan rambut serta formulasi sediaan hair tonic dari ekstrak daun
seledri.
2. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi dalam
pengembangan dan penggunaan daun seledri bagi penelitian selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman Seledri
1. Taksonomi Tanaman

Gambar 1. Tanaman Seledri


Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Umbellales

Famili

: Apiaceae

Genus

: Apium

Spesies

: Apium graveolens L.

2. Nama daerah
Jawa: Saladri; Sunda: seledri, selderi, seleri, sadri, saderi, daun sop, daun
soh (Dalimartha, 2000)

3. Nama Asing
Inggris: Celery fruit, apium, wild celery; Perancis: Cleri, fruto de celery;
Italia: selinon ; Jerman: Selleriefruchte, selleriesamen; Portugis: Aipo,
Salsao; Cina: Han qin, qin cai; Spanyol: Fruto de apio (BPOM RI, 2010).
4. Morfologi Tanaman
Seledri memerlukan cuaca yang lembap namun juga dapat ditanam di
dataran rendah. Hanya saja ukuran batangnya menjadi lebih kecil dan
digunakan untuk penyedap masakan. Seledri terdiri dari tiga jenis, yaitu
seledri daun, seledri potongan dan seledri berumbi. Seledri yang banyak
ditanam di Indonesia adalah seledri daun.
Seledri tumbuh tegak dengan tinggi sekitar 50 cm dengan bau aromatik
yang khas. Batang persegi, beralur, beruas, tidak berambut, bercabang
banyak, berwarna hijau pucat. Daun majemuk menyirip ganjil dengan anak
daun 3-7 helai. Anak daun bertangkai yang panjangnya 1-2,7 cm, helaian
daun tipis dan rapuh, pangkal daun dan ujung runcing, tepi beringgit,
panjang 2-7,5 cm, lebar 2-5 cm, pertulangan menyirip, berwarna hijau
keputih-putihan. Bunga majemuk berbentuk payung, 8-12 buah, kecil-kecil
berwarna putih, mekar secara bertahap. Buahnya buah kotak, berbentuk
kerucut, panjang 1-1,5 mm, berwarna hijau kekuningan (Budi, 2008).
Daun warna hijau, hijau kecoklatan sampai hijau kekuningan. Bau
aromatik khas, rasa agak asin, agak pedas dan menimbulkan rasa tebal di
lidah. Daun majemuk, bentuk belah ketupat miring, panjang 2-7,5 cm dan
lebar 2-5 cm, pangkal dan ujung anak daun runcing, panjang ibu tangkai

daun sampai 2,5 cm, terputar, beralur membujur, panjang tangkai anak daun
1-2,7 cm (BPOM RI, 2010)
5. Kandungan Kimia
Apium graveolens L. mengandung minyak atsiri, limonene, p-simol, terpineol, -santalol, -pinen, -kariofilen, flavonoid, apiin, apigenin,
isokuersitrin, kumarin, asparagin, bergapten, isopimpinelin, apiumetin,
santotoksin, saponin, tannin 1%, sedanolida, asam sedanoat, manitol,
kalsium, fosfor, besi, protein, glisidol, vitamin (A, B, C dan K) (BPOM RI,
2010). Apiin dan apigenin merupakan senyawa utama pada seledri.
Apigenin (4,5,7-trihidroksiflavon) bila terikat dengan gula dan menjadi
glikosida maka akan terbentuk apiin (apigenin-7-apioglikosid). Apigenin
termasuk golongan flavonoid dan apiin termasuk golongan glikosida
(Braun, 2007).

Gambar 2. Struktur kimia Apiin (Markham, 1988)

Gambar 3. Struktur kimia Apigenin (Markham, 1988)

Dalam 100 gram herba seledri mengandung air sebanyak 93 ml, protein
0,9 g, lemak 0,1 g, karbohidrat 4 g, serat 0,9 g, kalsium 50 mg, besi 1 mg,
fosfor 40 mg, yodium 150 mg, kalium 400 mg, magnesium 85 mg, vitamin
A 130 IU, vitamin C 15 mg, riboflavin 0,05 mg, tiamin 0,03 mg dan
nikotinamid 0,4 mg (Dalimartha, 2010)
6. Kegunaan
Apium graveolens L. secara turun temurun digunakan sebagai obat
reumatik gout, mata kering (xeroftalmia), tekanan darah tinggi (hipertensi),
bronchitis, batuk, kolik, psoriasis, menurunkan kadar kolesterol dan
menyuburkan rambut (Dalimartha, 2010)

A. Kandungan Senyawa Metabolit Sekunder


1. Alkaloid
Alkaloid merupakan golongan utama tumbuhan sekunder yang
terbesar. Tidak ada satupun istilah alkaloid yang memuaskan tetapi
pada umumnya alkaloid mencakup senyawa yang bersifat basa yang
mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan,
sebagai bagian dari sistem siklik. Alkaloid mempunyai kegiatan fisiologi
yang menonjol, jadi digunakan secara luas dalam bidang pengobatan.
Alkaloid biasanya tak berwarna, sering kali bersifat optis aktif,
kebanyakan berbentuk kristal tetapi hanya sedikit yang berupa cairan
(misalnya nikotina) pada suhu kamar. Fungsi alkaloid dalam tumbuhan
masih sangat kabur, meski pun masing-masing senyawa telah dinyatakan

terlibat sebagai pengatur tumbuh, pengahalau atau penarik serangga


(Harborne, 1987).
2. Flavonoid
Senyawa flavonoid adalah senyawa yang mengandung C15 terdiri atas
dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh tiga satuan karbon
(Markham, 1988). Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai
deretan senyawa C6-C3-C6. Artinya, kerangka karbonnya terdiri atas dua
gugus C6 disambungkan oleh rantai alifatik tiga-karbon (Markham,
1988).
Flavonoid umumnya terdapat dalam tumbuhan, terikat pada gula
sebagai glikosida. Aglikon flavonoid mungkin saja terdapat dalam
beberapa bentuk kombinasi glikosida dalam satu tumbuhan, sehingga
dalam menganalisis flavonoid biasanya lebih baik bila kita memeriksa
aglikon yang terdapat dalam ekstrak tumbuhan yang telah dihidrolisis dari
pada mengamati bentuk glikosidanya yang rumit (Harborne, 1987).
3. Tanin
Tanin

terdapat

luas

pada

tumbuhan

berpembuluh,

dalam

Angiospermae terdapat khusus di jaringan kayu. Tanin dapat bereaksi


dengan protein membentuk kopolimer mantap yang tidak larut dalam air.
Dalam industri, tanin adalah senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang
mampu mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai
karena kemampuannya menyambung silang protein (Harbone, 1987).

10

Di dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim


sitoplasma, tetapi bila jaringan rusak, misalnya bila hewan memakannya
maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein
lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan hewan. Pada kenyataannya,
sebagian besar tumbuhan yang banyak bertanin dihindari oleh hewan
pemakan tumbuhan karena rasanya yang sepat (Harborne, 1987).
4. Saponin
Saponin mula-mula diberi nama demikian karena sifatnya yang khas
menyerupai sabun (bahasa latin sapo = sabun). Saponin adalah senyawa
aktif permukaan yang kuat yang menimbulkan busa jika dikocok dalam
air dan dapat menyebabakan hemolisis sel darah merah. Uji saponin yang
sederhana ialah dengan mengocok ekstrak alkohol-air dari tumbuhan
dalam tabung reaksi, maka akan terbentuk busa yang bertahan lama pada
permukaan cairan. Saponin juga dapat diperiksa dalam ekstrak kasar
berdasarkan kemampuannya menghemolisis sel darah (Harborne, 1987).

B. Rambut
Rambut mempunyai peran dalam proteksi terhadap lingkungan yang
merugikan, antara lain suhu dingin atau panas, dan sinar ultraviolet. Selain itu,
rambut juga berfungsi melindungi kulit terhadap pengaruh-pengaruh buruk;
misalnya alis mata melindungi mata agar keringat tidak mengalir ke mata,
sedangkan bulu hidung menyaring udara. Rambut juga berfungi sebagai

11

pengatur suhu, pendorong penguapan keringat, dan sebagai indra peraba yang
sensitif (Harahap, 2000).
Menurut ilmu yang mempelajari tentang rambut atau trichologi, ada dua
jenis rambut manusia, yaitu rambut terminal yang umumnya rambut kasar
(misalnya rambut kepala, alis, rambut ketiak, rambut kelamin) dan rambut
vellus yang berupa rambut halus pada pipi, dahi, punggung dan lengan.
Namun, pada dasarnya semua rambut tumbuh dari akar rambut yang jenisnya
sama, maka rambut vellus dapat menjadi rambut terminal (Mitsui, 1993)
Secara anatomi, rambut terdiri dari batang rambut yang merupakan bagian
yang berada di atas permukaan kulit dan akar rambut yang tertanam pada
dermis. Akar rambut terdiri dari dua bagian yaitu bulbus dan papil. Bulbus
disebut juga umbi rambut akan ikut bila dicabut, sedangkan papil atau bibit
rambut akan tertinggal bila rambut dicabut (Soedibyo dan Dalimartha, 1998).
Setiap akar rambut dikelilingi oleh pembuluh darah dan kelenjar lemak yang
dinamakan kelenjar sebasea. Darah yang berasal dari pembuluh darah secara
terus menerus akan mensuplai oksigen dan makanan seperti protein, vitamin
dan mineral. Setiap folikel rambut dilekatkan dengan otot penegak rambut
yang disebut musculus erector pili. Otot ini akan mengerut bila kedinginan atau
ketakutan sehingga dapat menyebabkan rambut bisa berdiri (Mitsui, 1993;
Soedibyo dan Dalimartha, 1998)
Batang rambut adalah bagian rambut yang berada di permukaan kulit. Setiap
batang rambut terdiri dari tiga lapisan yang masing-masing mempunyai fungsi
tersendiri yaitu:

12

a. Kutikula, merupakan lapisan paling luar yang keras karena mengandung


keratin. Lapisan ini berguna untuk melindungi rambut terhadap teriknya
matahari maupun pengaruh dari lain dari luar.
b. Korteks, merupakan lapisan kedua yang mengandung pigmen melanin
sehingga rambut mempunyai warna.
c. Medula atau

sumsum rambut, merupakan lapisan ketiga dan paling

dalam. Lapisan ini terdiri dari lapisan sel kubus yang berisi keratohialin,
badan lemak dan rongga udara (Soedibyo dan Dalimartha, 1998).
Pertumbuhan rambut mengikuti suatu siklus yang meliputi:
a. Fase Anagenik
Fase anagenik adalah fase awal pertumbuhan aktif rambut. Rambut
yang terdapat dalam fase ini pada kulit kepala normal dengan rambut
sehat dapat mencapai usia 2-6 tahun. Lebih kurang 85% keseluruhan
rambut pada kulit kepala pada suatu saat akan terdapat dalam fase ini.
Kecepatan tumbuh dan lamanya fase ini menentukan panjangnya rambut
maksimum seseorang (Depkes RI, 1985b).
Pada fase ini terdapat beberapa tahap proses perkembangan. Tahap
I-V disebut tahap pronagen dan tahap VI disebut tahap metanagen. Pada
tahap I sel-sel dermal papilla bertambah besar dan menunjukkan
peningkatan sintesis RNA. Pada tahap II bagian folikel berkembang ke
bawah menutupi dermal papilla. Pada tahap III, folikel mencapai panjang
maksimum. Pada tahap IV, mulai terbentuk melanin dimana rambut
sudah mulai terbentuk tetapi belum disertai selubung akar internal. Pada

13

tahap V, ujung rambut telah muncul dari selubung internal. Pada tahap
VI dimulai segera setelah rambut muncul pada permukaan kulit dan
berlangsung hingga mencapai masa katagen. Kecepatan tumbuh dan
lamanya fase ini menentukan panjang maksimum rambut. berdasarkan
variasi kedua ciri ini rambut seseorang dapat tumbuh lebih lebat atau
lebih panjang dibandingkan dengan yang lain. (Rook and Dawber, 1991).
b. Fase Katagenik
Fase katagenik merupakan fase perkembangan/fase transisi rambut
yang kedua. Pertumbuhan rambut dalam folikel akan berhenti dan
sekelompok sel akan membentuk massa seperti tongkat dalam papila.
Rambut tidak mengalami pertumbuhan lebih lanjut. Lama masa katagen
normal adalah sekitar 2-3 minggu (Depkes RI, 1985b).
Fase katagenik diawali dengan berkurangnya mitosis hingga berhenti
dalam beberapa hari. Sejak mitosis berhenti, bagian yang terletak lebih
rendah dari folikel memendek dan selubung jaringan menjadi menebal
dan mengerut. Sel-sel pada selubung akar eksternal membentuk kantung
pada dasar akar rambut yang berfungsi sebagai tempat sel-sel benih
folikel (Rook and Dawber, 1991).
c. Fase Telogenik
Fase telogenik merupakan fase perkembangan rambut yang terakhir,
rambut mengalami istirahat. Folikel rambut akan mengkerut dan rambut
yang terbentuk akan tertahan di tempat oleh massa seperti tongkat.

14

Fase telogenik dapat berlangsung singkat atau lama tergantung dari


kondisi kesehatan seseorang. Setelah periode istirahat dalam fase ini,
folikel rambut mulai tumbuh lagi ke bawah yang akhirnya mencapai
panjang sebelumnya dan mendorong melintas melalui jaringan pembuluh
darah. Rambut baru mulai tumbuh yang akhirnya melampaui rambut
yang tua sehingga dalam beberapa hari Nampak dua rambut dalam
folikel yang sama. Setelah itu rambut tua akan rontok (Depkes RI,
1985b).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan rambut adalah:


a. Hormon
Hormon yang berperan adalah androgen, estrogen dan tiroksin.
Hormon androgen mempercepat pertumbuhan rambut, tetapi pada
penderita alopecia androgenic hormone, androgen bahkan mempercepat
waktu pertumbuhan rambut anagen. Pada wanita hormon estrogen dapat
memperlambat pertumbuhan rambut tetapi mempercepat fase anagen.
Hormon tiroksin dapat mempercepat fase anagen (Djuanda dkk, 2010)
b. Nutrisi
Air merupakan nutrisi yang penting karena hampir seperempat dari
berat rambut terdiri dari air. Kelembaban akibat adanya air menyebabkan
rambut menjadi lembut. Selain itu ada juga beberapa zat yang penting
agar dapat memiliki rambut yang sehat bercahaya yaitu protein,

15

Vitamin A, Vitamin E, Vitamin B kompleks, Vitamin C , yodium, zat


besi dan sistein (Djuanda dkk, 2010).
c. Kehamilan
Pada kehamilan muda, yaitu tiga bulan pertama, jumlah rambut
telogen masih dalam batas normal, tetapi pada kehamilan tua menurun
sampai 10% (Djuanda dkk, 2010).
d. Masa balig
Pada masa ini terjadi peningkatan kadar hormon seks. Ini
berakibat pertumbuhan rambut ketiak dan rambut kemaluan, tetapi
rambut kepala justru akan rontok (Djuanda dkk, 2010).
e. Kelahiran
Dalam masa 3 bulan setelah melahirkan folikel-folikel rambut kepala
sang ibu dengan cepat beralih ke fase telogen, sehingga selama masa ini
dijumpai nilai telogen 35% (Djuanda dkk, 2010)
f. Vaskularisasi
Vaskularisasi dapat mempengaruhi pertumbuhan rambut, namun
bukan merupakan penyebab primer dari gangguan pertumbuhan rambut,
karena destruksi bagian 2/3 bawah folikel sudah berlangsung sebelum
susunan pembuluh darah mengalami perubahan (Djuanda dkk, 2010)

C. Kerontokan Rambut
Kerontokan rambut adalah kehilangan rambut terminal dalam bentuk
apapun dan dimanapun asal mula terjadinya yang berkisar lebih dari 100 helai

16

per hari. Menurut beberapa buku, jumlah rambut yang rontok normalnya setiap
hari rata-rata 40-100 helai. Apabila jumlah rambut yang rontok setiap harinya
melebihi 100 helai, maka kerontokan itu sudah tidak normal (Retno dan Fatma,
2007). Dapat terjadi difus atau lokal. Kelainan setempat dapat berupa unifokal
atau multifokal. Bila kerontokan ini berlanjut dapat terjadi alopesia
(kebotakan).
Kerontokan rambut dapat terjadi normal atau tidak normal, tergantung dari
banyaknya helai rambut yang rontok setiap harinya. Angka yang menyatakan
banyaknya helai rambut yang rontok setiap hari disebut angka kerontokan
rambut disingkat angka kerontokan. Pada seseorang yang sehat dengan kulit
kepala bersih-sehat dan terawat, angka kerontokan berkisar 0-40 (Departemen
Kesehatan RI 1985b).
Kerontokan rambut sangat dipengaruhi oleh faal kulit kepala. Faal kulit
kepala dipengaruhi faal tubuh dan faktor lingkungan.
1.

Faal tubuh
Gangguan faal tubuh yang kemungkinan besar dapat mempengaruhi
faal kulit kepala antara lain: penyakit infeksi seperti influenza, tifus,
berbagai penyakit demam, tuberculosis, setelah pneumonia atau sifilis
tingkat tertentu, gangguan saraf pusat, diabetes melitus, akibat
penggunaan obat atau keracunan logam tertentu seperti talium, arsen,
timbal atau raksa (Djuanda dkk, 2010)
Selain itu perlu juga diperhitungkan kemungkinan faktor genetik
yang merupakan bakat bawaan, yang melalui faal tubuh ikut

17

mempengaruhi faal kulit kepala sebagai unsur utama dalam kebotakan


tipe alopesia areata, terutama pada pria (Djuanda dkk, 2010).
2.

Faktor lingkungan
Secara lokal topikal dapat mempengaruhi faal kulit kepala. Faktor
lingkungan meliputi: perubahan cuaca yang ekstrim, terlalu panas atau
terlalu dingin, sengatan surya, sinar-X dan radioaktif, pelekatan dan
infeksi jasadrenik, iritasi zat kimia, atau penutupan dan penekanan
rambut berikut kulit kepala seperti pemakaian kudung, topi dan helm.
Jika faktor lingkungan ini terjadi terus menerus, kulit kepala akan
mengalami degenerasi kronik pada sel-sel epidermis, kulit kepala akan
menjadi kasar, terjadi pigmenisasi dan gangguan keratinasi, akhirnya
terjadi kerontokan rambut (Depkes RI, 1985b)

Secara umum, kerontokan rambut atau alopesia yang disebabkan oleh trauma
mekanis dapat dibagi menjadi 3 tipe, yaitu trauma, tekanan, dan tarikan.

1.

Alopesia traumatik
Kerontokan rambut sampai alopesia akibat trauma memilki daerah
yang berbatas tegas dan merupakan penyebab tersering alopesia
sikatrisial (Rosmailis dkk, 2008).

2. Alopesia karena tekanan


Tekanan yang lama, misalnya pada pasien yang berbaring lama
dapat menyebabkan iskemia, nekrosis, dan ulserasi di kulit kepala.
Keadaan ini mengakibatkan kerontokan rambut yang berkembang

18

menjadi alopesia sikatrisial yang umumnya bersifat irreversibel


(Rosmailis dkk, 2008).
3. Alopesia karena tarikan
Tarikan kronis dapat menyebabkan atrofi folikel rambut disertai
inflamasi folikular dan rambut yang patah mengakibatkan kerontokan
rambut sampai alopesia setempat. Keadaan ini dapat dijumpai pada
gadis-gadis remaja dengan kuncir ekor kuda yang kencang, pemudapemuda sich dan anak-anak Afro-Karabia dengan kuncir-kuncir kecil di
rambut serta pada keadaan trikotilomania (Rosmailis dkk, 2008).

D. Hair Tonic
Kosmetika perawatan kulit kepala dan rambut yang digunakan setelah
keramas atau kulit kepala dalam keadaan bersih disebut hair tonic. Hair tonic
diharapkan dapat memperlancar sirkulasi darah pada daerah kulit kepala serta
memperbaiki sekresi kelenjar sebum sehingga dapat merangsang pertumbuhan
rambut. Hair tonic sebagian besar mengandung pengstimulan kelenjar sebum,
rubifasien dan antiseptik. Cara penggunaannya, hair tonic diteteskan pada kulit
kepala, kemudian dipijit-pijit sehingga cairan meresap dan merata. Manfaat
hair tonic, antara lain (Depkes RI, 1985b)
1. Merangsang pertumbuhan rambut
2. Mencegah kerontokan rambut
Bahan utama yang terdapat dalam sediaan hair tonic ada dua, yaitu zat
pelarut dan zat berkhasiat.

19

1. Zat pelarut yang umum digunakan untuk sediaan bentuk larutan adalah
air, alkohol dan gliserin. Kadar alkohol hendaknya serendah mungkin.
Kadar alkohol yang relatif tinggi dapat melarutkan kompleks proteinasam lemak rambut, dapat menyebabkan terputusnya struktur protein.
Gliserin selain sebagai pelarut juga sebagai zat bermanfaat terutama
untuk pelicin dan emolien. Kadar gliserin 2-5% sudah dapat dianggap
cukup untuk memberikan efek pelicin dan emolien (Depkes RI, 1985b).
2. Zat manfaat berfungsi berkisar sesuai efek berikut : daya pembersih,
menghilangkan atau mencegah ketombe, memperbaiki sirkulasi darah
kulit kepala, memperbaiki dan memulihkan sekresi kelenjar sebum dan
merangsang pertumbuhan rambut. Berdasarkan efeknya, zat manfaat
diklasifikasikan menjadi :
a. Kounteriritan
Penggunaan

kounteriritan

dalam

sediaan

perangsang

pertumbuhan rambut didasarkan atas azas bahwa, pada tingkat


kemampuannya tubuh umumnya akan selalu berupaya dalam
perlindungan dirinya untuk menghilangkan iritasi yang ditimbulkan
oleh keaktifan kounteriritan

dengan meningkat aktivitas faalnya

pada jaringan yang teriritasi. Akibatnya sirkulasi darah pada daerah


tersebut lancar, metabolisme menjadi lebih aktif dan pembelahan sel
dipercepat (Depkes RI, 1985b)
Yang patut diperhatikan adalah keaktifan kounteriritan dapat
terjadi bertingkat-tingkat sesuai dengan jenis dan kadarnya. Dalam

20

hal ini, yang diharapkan sediaan perangsang pertumbuhan rambut


hanya pada tingkat keefektifan ringan, terutama dibatasi hingga efek
hipertemia dan hyperplasia, hanya melecetkan sel epidermis. Jika
jenis dan kadar kounteriritan yang digunakan tidak sesuai,
kemungkinan besar dapat menyebabkan iritasi kulit yang lebih parah
(Depkes RI, 1985b).
Kounteriritan yang lazim digunakan meliputi : asam format, asam
salisilat, histamin, kantaridina, kapsikum (tingtur cabe), kimia-HCl,
pirogalol, dan resorcin (Depkes RI, 1985b).
Selain itu, beberapa kounteriritan yang tersebut di atas,
penggunaannya tidak boleh melebihi batas kadar yang telah
ditetapkan, asam salisilat 0,2%, pirogalol 5%, resorsin 5%, tingtur
kapsikum 1% (Depkes RI, 1985b)
b. Vasodilator
Vasodilator dapat melebarkan pembuluh darah, sehingga aliran
darah meningkat dan faal tubuh menjadi lebih aktif, metabolisme
meningkat dan pembelahan sel dapat dipercepat. Azas ini diharapkan
akan terjadi jika vasodilator digunakan topikal pada kulit kepala.
Pengaruh vasodilator dalam sediaan perangsang pertumbuhan
rambut untuk merangsang pertumbuhan rambut (Depkes RI, 1985b).
Sediaan yang mengandung vasodilator tidak termasuk sediaan
kosmetika; vasodilator yang lazim digunakan antara lain pilokarpina
(Depkes RI, 1985b).

21

c. Stimulan kelenjar sebum


Sekelompok zat, zat alam maupun zat sintetik, dengan aneka jenis
dan efek farmakologi dalam kosmetika dinyatakan sebagai zat yang
dapat mempengaruhi sekresi kelenjar sebum, dapat digunakan untuk
merangsang pertumbuhan rambut. Kelompok zat ini meliputi : asam
salisilat, belerang, etanol, garam kinina, garam pilokarpina,
kolesterol, lesitin, metil linoleat, resorsin, resorsin asetat, tingtur
jaborandus, dan tingtur kina (Depkes RI, 1985b).
Penggunaan zat tersebut di atas dalam sediaan perangsang
pertumbuhan rambut hendaknya dibatasi hanya pada zat yang
tergolong bahan kosmetika (Depkes RI, 1985b).
d. Zat kondisioner rambut
Manfaat zat ini untuk memperbaiki kondisi rambut, merangsang
pertumbuhan rambut dan mencegah kerontokan rambut. Kelompok
zat ini meliputi; alantoin, asam pantotenat, azulen, biotin, kamomil,
konfrei, minyak kecambah, pantotenol, polipeptida, vitamin E,
vitamin F (Depkes RI, 1985b).
Vitamin F adalah campuran beberapa jenis asam poli tak jenuh,
terutama asam linoleat, asam linolenat dan asam arakidonat.
Berdasarkan ikatan tak jenuhnya vitamin F bersifat oksidabel dan
mudah membentuk peoksida. Untuk menghindarinya, vitamin F
sering dikombinasikan dengan vitamin E.

22

Asam pantotenat umumnya digunakan dengan kadar hingga lebih


kurang 1% dan pH diatur antara 4-7, untuk menghindari terjadinya
hidrolisa yang tidak diinginkan (Depkes RI, 1985b).
Azulen dapat digunakan hingga batas kadar maksimum lebih
kurang 0,01-0,02%. Alantoin dapat digunakan dengan kadar
maksimum lebih kurang 0,2% (Depkes RI, 1985b).
e. Hormon
Dalam konteks mekanisme aktivitas hormon kelamin pada
jaringan aktivitas sistem endokrin dalam fungsi faal tubuh normal,
hormon kelamin dapat mempengaruhi aktivitas kelenjar sebum dan
keratinisasi, sedangkan hormon wanita (estrogen) menunjukkan efek
penghambat (Depkes RI, 1985b)
Di samping itu ada yang menyatakan bahwa hormon wanita
adalah yang memegang peranan dalam merangsang keratinisasi dan
meningkatkan aktivitas kelenjar sebum yang dapat menyebabkan
terangsangnya pertumbuhan rambut. Berdasarkan pendapat ini,
estradiol, stilbestrol, atau heksestrol acapkali dijumpai dalam sediaan
perangsang pertumbuhan rambut. Di Indonesia penggunaan hormon
dalam sediaan kosmetika dilarang (Depkes RI, 1985b)
f. Antiseptikum
Di antara antiseptikum yang paling lazim digunakan dalam
sediaan perangsang pertumbuhan rambut adalah derivat fenol atau
senyawa ammonium kwartener. Fenolnya sendiri tidak pernah

23

digunakan, karena terlalu toksik dan iritasinya nyata. Derivate fenol


yang lazim digunakan meliputi : p-amil fenol, asam salisilat, o-fenil
fenol,

o-kloro-o-fenol,

p-kloro-m-kresol,

p-kloro-m-ksilenol,

klorotimol (Depkes RI, 1985b).


Senyawa

ammonium

kwartener

umumnya

lebih

baik

dibandingkan dengan derivat fenol, karena spektrum aktivitasnya


lebih luas, yang meliputi bakteri dan jamur. Yang paling lazim
digunakan

meliputi:

laurilisokuinolinum

alkidimetil
bromid,

benzilamonium
setilpiridimiun

klorida,
klorida,

setiltrimetilamonium bromid, N-soya-N-etilmorfolinum etosulfat.


Umumnya,
maksimum

antiseptikum

digunakan

dengan

batas

kadar

kurang dari 1%, kecuali

resorcin

batas kadar

maksimumnya 5%. Dalam kadar yang lebih tinggi, beberapa


antiseptikum dapat menyebabkan reaksi iritasi (Depkes RI, 1985b)

E. Preformulasi Sediaan Hair Tonic


1.

Bahan tambahan
a. Etanol

Gambar 4. Struktur kimia alkohol (Rowe, 2006).

Pemerian etanol berupa cairan tidak berwarna, mudah menguap,


jernih, dan berbau khas. Etanol mudah campur dengan air dan praktis
bercampur dengan semua pelarut organik (Rowe, 2006). Sama seperti

24

air, etanol dengan cepat menyerap ke dalam kulit manusia dengan


kecepatan sekitar 1 mg/cm2/jam (William, 2003).
Etanol banyak digunakan pada formulasi farmasetik dan kosmetik,
meskipun etanol paling utama digunakan sebagai pelarut, etanol juga
dikembangkan sebagai antimikroba. Pada sediaan topikal, etanol juga
digunakan sebagai peningkat penetrasi dan desinfektan. Etanol sebagai
pelarut pada sediaan topikal adalah sebesar 60-90% (Rowe, 2006).
Etanol sebagai pelarut mempunyai kemampuan untuk mengekstraksi
lipid dari stratum korneum (Williams, 2003). Ekstraksi lipid
menyebabkan membran menjadi lebih permeabel dan memungkinkan
terjadinya peningkatan penetrasi (Lachenmeier, 2008).
Etanol sebagai pengawet direkomendasikan sebesar 15% pada
larutan asam dan 17,5% pada sediaan netral atau basa (Block, 2001).
Efek antimikroba dari etanol didasarkan atas proses denaturasi protein
(Lachenmeier, 2008).
b. Propilen glikol

Gambar 5. Struktur kimia propilen glikol (Rowe, 2006)

Pemerian propilen glikol berupa cairan jernih, tidak berwarna,


manis, kental, praktis tidak berbau dan bersifat higroskopis. Senyawa
ini dapat bercampur dengan air. Kegunaan propilen glikol adalah
sebagai kosolven dan stabilizer. Konsentrasi penggunaannya berkisar

25

antara 5-80% pada formulasi larutan topikal dengan kegunaan sebagai


pelarut (Rowe, 2006).
Penggunaan propilen glikol secara luas pada sediaan topikal,
kosmetik, dan berbagai jenis hand and body lotions. Pada sediaan
tertentu, jumlah propilen glikol yang digunakan dapat mencapai 70%.
Propilen glikol bahkan menjadi basis tunggal dalam pada beberapa
antiperspirant. Selain itu, propilen glikol juga mempunyai kemampuan
sebagai peningkat penetrasi (Fisher, 2008).
Propilen glikol lebih banyak digunakan dibandingkan gliserin pada
sediaan kosmetik karena propilen glikol mempunyai penetrasi yang
lebih baik terhadap stratum korneum. Hal tersebut mungkin
dikarenakan propilen glikol lebih larut dalam lemak dibandingkan
gliserin. Selain itu, propilen glikol lebih murah dibandingkan gliserin
dan juga lebih sedikit mengakibatkan iritasi (Fisher, 2008).
c. Asam askorbat

Gambar 6. Struktur kimia asam askorbat (Rowe, 2006)

Pemerian asam askorbat berupa hablur atau serbuk berwarna putih


atau putih kekuningan, non higrokopis, tidak berbau, berasa asam. Bila
terkena cahaya lambat laun menjadi berwarna gelap. Asam askorbat
larut dalam 3,5 bagian air, 25 bagian etanol 95%, tidak larut dalam

26

kloroform dan gliserin. Asam askorbat biasa digunakan sebagai


antioksidan dalam formulasi sediaan farmasi berair dengan konsentrasi
0,01-0,1% (Rowe, 2006).
Asam askorbat dalam sediaan farmasi biasa digunakan sebagai
antioksidan. Antioksidan yang paling sering digunakan dalam preparat
air adalah natrium sulfit, natrium bisulfit, asam hipofosforus dan asam
askorbat (Ansel, 1989). Kemampuan asam askorbat sebagai antioksidan
didasarkan pada kemampuannya untuk mendonorkan electron untuk
menetralisasi radikal bebas (Alam dkk, 2009). Antioksidan pada
sediaan topikal mencegah terjadinya oksidasi dari komponen lipid yang
memicu terjadinya bau tengik (Fisher, 2008).
d. Metil paraben

Gambar 7. Struktur kimia metil paraben (Rowe, 2006)

Nipagin atau metil paraben merupakan serbuk kristal putih atau tidak
berwarna dan tidak berbau. Larut dalam etanol dan propilen glikol,
sedikit larut dalam air. Memiliki aktivitas sebagai pengawet
antimikroba untuk sediaan kosmetik, makanan dan sediaan farmasi.
Campuran paraben digunakan untuk mendapatkan pengawet yang
efektif. Konsentrasi yang digunakan untuk sediaan topikal adalah 0,020,3% (Rowe, 2006).

27

Metil

paraben

yang merupakan salah

satu

ester

dari p-

hidroksibenzoat merupakan pengawet yang secara umum banyak


digunakan karena mendekati persyaratan ideal pengawet (Balsam,
1970). Metil paraben dari golongan paraben mempunyai kemampuan
sebagai antimikroba spektrum luas meskipun lebih efektif terhadap
jamur dan kapang. Selain itu, aman digunakan (relatif tidak mengiritasi
dan tidak beracun) dan stabil pada pH yang terdapat dalam kosmetik
(Fisher, 2008).
e. Menthol

Gambar 8. Struktur kimia menthol (Rowe, 2006)

Menthol digunakan pada makanan, sediaan topikal, larutan


pembersih mulut dan pasta gigi dengan memberikan rasa segar dan
sensasi dingin saat kontak dengan kulit atau membran mulut (Anonim,
2002). Pemerian menthol ialah serbuk kristal tidak berwarna dengan
bau dan rasa khas. Kegunaan menthol ialah sebagai pemberi sensasi
dingin pada sediaan topikal dan juga untuk memberi bau. Menthol
sangat mudah larut dalam etanol dan dapat juga digunakan sebagai
peningkat penetrasi ke kulit. Pada sediaan kosmetik, penggunaannya
berkisar 0,1-2,0 % (Rowe, 2006)

28

f. Air suling
Air murni yang diperoleh dengan cara penyulingan disebut air
suling, sehingga lebih bebas dari kotoran maupun mikroba. Air murni
digunakan dalam sediaan-sediaan yang membutuhkan air, terkecuali
untuk parenteral, air suling harus disterilkan terlebih dahulu (Rowe,
2006).
2. Bahan berkhasiat Minoxidil

Gambar 9. Struktur Kimia Minoxidil (Sweetman, 2009)


Pemerian dari minoxidil adalah kristal putih yang larut dalam alkohol
dan propilen glikol, sedikit larut dalam air, praktis tidak larut dalam
aseton, kloroform dan etil asetat (Sweetman, 2009). Minoxidil sebenarnya
merupakan vasodilator yang digunakan pada pengobatan hipertensi.
Penggunaan secara oral dalam jangka waktu 2 bulan atau lebih dapat
menyebabkan terjadi hipertrikosis. Larutan minoxidil 2% telah dipasarkan
pada tahun 1986 dan larutan minoxidil 5% tersedia pada tahun 1993
sebagai pengobatan untuk masalah kebotakan rambut. Topikal minoxidil
diketahui memperpendek masa telogen, memperpanjang masa anagen dan
menambah ukuran folikel rambut meskipun mekanismenya tidak diketahui
secara pasti (Messenger dan Rundegen, 2004).

29

Beberapa contoh formula standar hair tonic adalah:


1. Flick, W. E (2001)
Simplified Hair Tonic Preparation
Raw Materials:
Mackpro WWP (Wheatgermamidopropyl) Dimethylamine
Hydroxymethylcellulose
Mackstat DM (DMDM Hydantoin)
Menthol crystal
Ethyl alcohol
PEG-8
Mackamide AME-75 (Acetamide MEA)
Water, Dye, Fragrance

2. Allen, L.V (2002)


R/ Minoxidil 5% and Finasteride 0,1% Topical Liquid
Minoxidil

5g

Finasteride

100 mg

Propylen glycol

20 ml

Etanol 95%

70 ml

Purified water

ad 100 ml

Wt%
3,0
0,4
0,3
0,2
14,0
4,0
1,0
q.s to 100

30

3. Williams, D.F and W.H Schmitt (1996)

Panthotenol
-Biothin
Vitamin E nicotinate
Methyl nicotinate
Allantoin
Vitamin E Acetate
Camphor
Menthol
-Bisoprolol
Carbomer 940
Carbomer 934
Polyquaternium-11 20%
Triethanolamine
Oleth-20
Nonoxynol-9
Capric/caprylic triglyceride
Propylene glycol
Ethanol B96
Colour
Perfume
Methyl paraben
2-bromo-2-nitro-1,3 propanadiol
Deionised water

A
1
0,02
0,2
0,1
0,4
0,45
3
4
25
q.s
q.s
0,03
to 100

B
1,5
0,4
0,3
0,3
0,25
1
3
5
q.s
q.s
0,1
0,04

C
0,25
0,05
0,05
0,01
0,05
50
q.s
q.s
-

F. Stabilitas Sediaan
1. Definisi Stabilitas
Stabilitas didefinisikan sebagai kemampuan suatu produk obat atau
kosmetik untuk bertahan dalam spesifikasi yang diterapkan sepanjang
periosde penyimpanan dan penggunaan untuk menjamin identitas, kekuatan,
kualitas dan kemurnian produk. Sediaan kosmetik yang stabil didefinisikan
sebagai suatu sediaan yang masih berada dalam batas yang dapat diterima
selama periode waktu penyimpanan dan penggunaan, dimana sifat dan
karakteristik sama dengan yang dimilikinya selama dibuat.

31

Kestidakstabilan fisika dari sediaan ditandai dengan adanya pemucatan


warna atau munculnya warna, timbul bau, perubahan atau pemisahan fase,
pecahnya emulsi, pengendapan suspensi atau caking, perubahan konsistensi,
pertumbuhan kristal, terbentuknya gas dan perubahan fisik lainnya
(Djajadisastra, 2004).
2. Parameter Uji
Parameter-parameter yang digunakan dalam uji kestabilan fisik hair tonic
adalah:
a. Oganoleptis atau penampilan fisik
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengamati adanya perubahan fisik
pada sediaan, yaitu timbulnya bau, perubahan warna dan kemungkinan
timbulnya endapan.
b. Sifat aliran (viskositas)
Secara umum viskositas berpengaruh pada kestabilan sediaan.
Pengukuran viskositas sediaan menggunakan viskometer Ostwald.
Prinsip dari alat ini adalah sejumlah tertentu cairan dimasukkan melalui
tabung B kemudian dihisap hingga cairan melewati bagian A dan
melewati batas a. Cairan kemudian dibiarkan mengalir dari batas a
sampai batas b dan waktu yang diperlukan untuk mengalir dihitung
menggunakan stopwatch (Hadkar, 2008).

32

Gambar 10. Viskometer Ostwald (Hadkar, 2008)


Jika dua cairan berbeda dibandingkan dengan menggunakan
viskometer yang sama, volume dari cairan yang mengalir sepanjang
tanda a dan b adalah konstan. Bila volume kedua cairan yang masuk
ke dalam bagian C sama, maka secara praktis nilai h sama bagi kedua
cairan. Selain itu, nilai l juga konstan, sehingga dapat digunakan
persamaan:

dimana, 1 = viskositas air (cP)


2 = viskositas zat cair yang dicari (cP)
1 = massa jenis air (g/ml)
2 = massa jenis zat cair yang dicari (g/ml)
t1 = waktu alir air (detik)
t2 = waktu alir zat yang dicari (detik)
c. Pemeriksaan pH
Sediaan sebaiknya memiliki pH yang sesuai dengan pH sediaan
kosmetik untuk kulit kepala yaitu sekitar 3,9-9,5 (Mita, 2009).
sediaan harus disesuaikan agar tidak mengiritasi kulit kepala.

pH

33

G. Ekstrak
1. Definisi Ekstrak dan Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan zat yang dapat larut dari bahan yang
tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia yang disari mengandung zat
aktif yang dapat larut dan zat yang tidak dapat larut seperti serat,
karbohidrat, protein dan lain-lain. Secara umum penyarian akan bertambah
baik apabila simplisia yang bersentuhan semakin luas.
Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair yang diperoleh dengan
mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati ataupun hewani
menggunakan pelarut yang sesuai (Depkes RI, 1979a).
2. Pembagian Ekstrak
Menurut Voigt (1995) berdasarkan atas sifatnya, ekstrak dapat
dikelompokan menjadi 4 golongan yaitu:
a. Ekstrak encer (Extractum tennue)sediaan ini memiliki konsentrasi seperti
madu dan dapat dituang.
b. Ekstrak kental (Extractum spissum) sediaan ini dilihat dalam keadaan
dingin dan tidak dapat diulang, kandungan airnya berjumlah sampai 30%.
c. Ekstrak kering (Extractum siccum) sediaan ini memiliki konsentrasi
kering dan mudah digosokkan, melalui penguapan cairan pengekstraksi
dan pengeringan, sisanya akan terbentuk suatu produk yang sebaliknya
memiliki kandungan lembab tidak lebih dari 5%.
d. Ekstrak cair (Extractum fluidum) adalah sediaan cair simplisia nabati,
yang mengandung etanol sebagai pelarut atau sebagai pengawet.

34

3. Metode Pembuatan Ekstraks secara Maserasi


Maserasi merupakan proses ekstraksi simplisia menggunakan pelarut
dengan beberapa kali pengocokan dan pengadukan pada temperatur ruangan
disebut maserasi. Jika dilakukan pengadukan kontinu disebut maserasi
kinetik, sedangkan remaserasi berarti dilakukan pengulangan atau
penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama dan
seterusnya (Depkes RIe, 2000). Cairan penyari akan menembus dinding sel
dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan
terlarutdan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di
dalam sel dengan di luar sel. Cairan penyari yang digunakan dapat berupa
air, etanol, air-etanol atau pelarut lain. Bila cairan penyari digunakan air
maka untuk mencegah timbulnya kapang dapat ditambahkan bahan
pengawet, yang diberikan pada awal penyarian (Depkes RIc, 1986).
Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat
aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang
mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin,
stirak dan lain-lain. Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara
pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan.
Kerugian cara maserasi adalah pengerjaanya lama dan penyariannya kurang
sempurna (Depkes RIc, 1986)
Maserasi umumnya dilakukan dengan memasukkan satu bagian serbuk
kering simplisia ke dalam maserator, tambahkan 10 bagian pelarut. Rendam
selama 6 jam pertama sambil sesekali diaduk, kemudian didiamkan selama

35

18 jam. Pisahkan maserat dengan cara pengendapan, sentrifugasi, dekantasi


atau filtrasi. Proses penyarian diulangi sekurang-kurangnya dua kali dengan
jenis dan jumlah pelarut yang sama. Semua maserat dikumpulkan kemudian
diuapkan dengan vakum atau penguap tekanan rendah hingga diperoleh
ekstrak kental (Depkes RIf, 2008).

BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental yaitu percobaan
yang bertujuan untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang timbul akibat
dari adanya perlakuan tertentu. Penelitian yang dilakukan mengenai pengujian
aktivitas penumbuh rambut dari ekstrak daun seledri dengan konsentrasi 5%, 10%
dan 15% dan diformulasikan dalam bentuk sediaan hair tonic. Tahap penelitian
ini dimulai dengan determinasi tanaman, pengumpulan dan pengolahan seledri,
pembuatan ekstrak,karakterisasi ekstrak, skrining fitokimia ekstrak, proses
adaptasi hewan uji, pembuatan sediaan dan pengujian sifat fisik hair tonic serta
pengujian aktivitas penumbuh rambut.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Terpadu I dan Laboratorium Terpadu
II Akademi Farmasi Samarinda.

A. Obyek Penelitian
Obyek yang diteliti adalah aktivitas ekstrak daun seledri dengan konsentrasi
5%, 10% dan 15% dalam sediaan hair tonic untuk menumbuhkan rambut.
Seledri yang digunakan adalah jenis seledri daun (Apium graveolens
L.var.secalinum Alef.). Bagian yang digunakan adalah daun seledri.
Pengujian dilakukan terhadap bagian punggung kelinci yang telah dicukur
bulunya.

36

37

B. Sampel dan Teknik Sampling


Sampel yang digunakan adalah bagian daun segar dari seledri (Apium
graveolens L.) yang diperoleh dari petani seledri di Kelurahan Handil Bakti,
Kecamatan Palaran, Samarinda. Seledri yang sudah dipanen dibersihkan dan
diambil bagian daunnya untuk selanjutnya diolah menjadi ekstrak kental.
Berat kering sampel daun seledri yang digunakan 260,0 gram.
Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling yaitu
pengambilan sampel sesuai dengan pertimbangan tertentu dari peneliti.
Pertimbangan tersebut adalah jenis seledri, daerah asal pengambilan seledri
serta umur seledri yang digunakan sebagai sampel.

C. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas pada penelitian ini adalah tiga konsentrasi berbeda dari
ekstrak daun seledri pada sediaan hair tonic. Tiga konsentrasi berbeda
tersebut adalah konsentrasi 5%, 10% dan 15% dari ekstrak kental daun
seledri yang kemudian dibuat ke dalam bentuk sediaan hair tonic.
2. Variabel terikat pada penelitian ini adalah pertumbuhan rambut pada
kelinci. Pertumbuhan rambut diketahui dengan menimbang berat rambut
dan mengukur panjang rambut kelinci hasil pencukuran pada hari ke21
sejak pemberian sediaan hair tonic.
3. Variabel yang perlu dikendalikan berupa variabel kontrol adalah jenis
seledri, tempat pengambilan seledri sebagai sampel dan jenis hewan uji.
Jenis seledri yang digunakan hanya terbatas pada jenis seledri daun (Apium

38

graveolens L.) yang diambil bagian daunnya sedangkan seledri yang


digunakan diambil dari satu petani pada satu daerah sehingga
meminimalisir kemungkinan terjadinya pengaruh pada variabel terikat.
Jenis hewan uji yang digunakan berasal dari satu jenis yang sama yaitu
kelinci jantan New Zealand dengan jenis kelamin, umur dan berat badan
yang sama.

D. Teknik Pengumpulan Data


1. Bahan, Alat dan Hewan Percobaan
a. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah daun seledri, hair tonic
Minoxidil 2% (Regrou), krim depilatori (Veet), kloroform, etanol 96%
(teknis), etanol 95%, propilen glikol, asam askorbat, metil paraben,
menthol, akuades, serbuk Mg, asam klorida, amil alkohol, besi (III)
klorida, kalium iodida, iodium, merkuri (II) klorida, bismuth nitrat dan
asam nitrat.
b. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah grinder
(Namyang King), pH meter (ATC), viskometer Ostwald (Pyrex), neraca
analitik (Ohaus), jangka sorong (Tricle Brand), alat-alat gelas (Pyrex,
Iwaki), penangas uap dan desikator.

39

c. Hewan Percobaan
Hewan uji yang digunakan adalah kelinci jenis New Zealand jantan
dengan umur 3,5 bulan dengan berat badan rata-rata 1,5 kg.
2. Prosedur Penelitian
a. Determinasi tanaman
Determinasi tanaman dilakukan terlebih dahulu sebelum dilakukan
penelitian untuk memastikan jenis dan kebenaran simplisia. Determinasi
dilakukan di Laboratorium Fisiologi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman Samarinda.
b. Penyiapan simplisia daun seledri
Dilakukan pengumpulan seledri, kemudian dipotong dan diambil
bagian daunnya. Daun dicuci kemudian ditempatkan pada nampan.
Pengeringan dilakukan dengan diangin-anginkan sampai kering. Setelah
simplisia dikeringkan, simplisia dihaluskan dengan menggunakan
grinder.
c. Ekstraksi daun seledri
Ekstraksi menggunakan cara maserasi. Cairan penyari yang digunakan
adalah campuran etanol 96% dan air (63:37) (Djatmiko, 2009). Sejumlah
260,0 gram serbuk kering daun seledri dimasukkan ke dalam maserator
lalu ditambahkan 2.600 ml campuran cairan penyari. Sampel direndam
selama 6 jam pertama sambil sesekali diaduk, kemudian didiamkan
selama 18 jam. Maserat dipisahkan dengan cara pengendapan. Proses
penyarian diulangi sekurang-kurangnya dua kali dengan jenis dan jumlah

40

pelarut yang sama. Semua maserat dikumpulkan kemudian diuapkan


hingga diperoleh ekstrak kental.
d. Karakterisasi ekstrak daun seledri
1) Pemeriksaan organoleptis
Pemeriksaan organoleptis terhadap ekstrak meliputi pemeriksaan
bentuk, warna, bau dan rasa (Depkes RI, 2000e).
2) Pemeriksaan pH
Pemeriksaan pH dilakukan menggunakan kertas pH universal.
Kertas pH universal dimasukkan ke dalam ekstrak kental kemudian
didiamkan beberapa saat dan perubahan warna kertas pH yang
dihasilkan dibandingkan dengan warna indikator pH.
3) Penetapan susut pengeringan
Pengukuran susut pengeringan dilakukan dengan cara botol
timbang tertutup dipanaskan pada suhu 105C selama 30 menit,
didiamkan dalam desikator selama 10 menit dan ditimbang. Tahapan
tersebut diulangi hingga botol timbang bertutup tara. Kemudian, 1-2
gram ekstrak ditimbang seksama dalam botol timbang tertutup.
Ekstrak dalam botol timbang diratakan dengan menggoyangkan
botol. Botol dimasukkan ke dalam oven, tutupnya dibuka, ekstrak
dikeringkan pada suhu 105C hingga bobot tetap (Depkes RI, 2000e).

41

4) Penetapan berat jenis


Piknometer kosong dan bersih terlebih dahulu dikaliberasi dengan
menetapkan bobot piknometer dan bobot air pada suhu 25C. ekstrak
cair dimasukkan ke dalam piknometer kosong dan suhu diatur hingga
suhu 25C, kemudian piknometer ditimbang. Kurangkan bobot
piknometer kosong dari bobot piknometer yang telah diiisi. Berat
jenis ekstrak cair adalah hasil yang diperoleh dengan membagi bobot
ekstrak dengan bobot air, dalam piknometer pada suhu 25C (Depkes
RI, 2000e).
5) Penetapan kadar senyawa yang larut dalam air
Maserasi sejumlah 5,0 gram ekstrak selama 24 jam dengan 100 ml
air-kloroform (2,5 ml kloroform dalam air suling sampai 1 liter),
menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6
jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. Saring, uapkan
20 ml filtrat hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang
telah ditara. Panaskan residu pada suhu 105C hingga bobot tetap.
Hitung kadar dalam persen senyawa yang larut dalam air, dihitung
terhadap ekstrak awal (Depkes RI, 2000e).
6) Penetapan kadar senyawa yang larut dalam etanol
Maserasi sejumlah 5,0 gram ekstrak selama 24 jam dengan 100 ml
etanol 95%, menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali
dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18
jam. Saring cepat dengan menghindarkan penguapan etanol,

42

kemudian uapkan 20 ml filtrat hingga kering dalam cawan dangkal


berdasar rata yang telah ditara. Panaskan residu pada suhu 105C
hingga bobot tetap. Hitung kadar dalam persen senyawa yang larut
dalam etanol 95%, dihitung terhadap ekstrak awal (Depkes RI,
2000e).
e. Skrining fitokimia ekstrak daun seledri
1) Uji Alkaloid (Depkes RId, 1989)
Serbuk simplisia ditimbang 0,5 gram kemudian ditambahkan 1 ml
asam klorida 2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan di atas tangas air
selama 2 menit, dinginkan dan disaring. Filtrat dipakai untuk
percobaan berikut:
a) Pereaksi Mayer
(1) Tiga tetes ekstrak daun seledri dimasukkan ke dalam tabung
reaksi.
(2) Ditambahkan dua tetes pereaksi Mayer.
(3) Bila terbentuk endapan putih atau kuning menunjukkan
adanya senyawa alkaloid.
b) Pereaksi Bouchardat
(1) Tiga tetes ekstrak daun seledri dimasukkan ke dalam tabung
reaksi.
(2) Ditambahkan dua tetes pereaksi Bouchardat.
(3) Bila terbentuk endapan coklat sampai hitam menunjukkan
adanya senyawa alkaloid.

43

c) Pereaksi Dragendrof
(1) Tiga tetes ekstrak daun seledri dimasukkan ke dalam tabung
reaksi.
(2) Ditambahkan dua tetes pereaksi Dragendrof.
(3) Bila terbentuk endapan jingga sampai merah coklat
menunjukkan adanya senyawa alkaloid.
Bila sedikitnya 2 dari 3 pereaksi di atas positif maka sampel
mengandung alkaloid.
2) Uji Flavonoid (Depkes RId, 1989)
Sebanyak 10 g serbuk simplisia kemudian ditambDFahkan 100
ml air panas, didihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan
panas. Filtrat yang diperoleh kemudian diambil 5 ml lalu tambahkan
0,1 g serbuk Mg dan 1 ml HCl pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok
dan dibiarkan memisah.
a) Sepuluh tetes ekstrak daun seledri dimasukkan ke dalam tabung
reaksi
b) Ditambahkan 2 tetes asam klorida pekat
c) Ditambahkan serbuk magnesium
d) Ditambahkan amil alkohol
e) Bila terbentuk warna kuning, orange, atau merah pada lapisan
amil alkohol memberikan indikasi adanya flavonoid.

44

3) Uji Saponin (Depkes RId, 1989)


a) Sebanyak 0,5 g ekstrak daun seledri dimasukkan ke dalam tabung
reaksi
b) Ditambahkan air panas secukupnya, dikocok selama 15 menit
c) Terbentuk busa, ditambahkan 1 tetes asam klorida 2N.
d) Bila terbentuk busa permanen memberikan indikasi adanya
saponin.
4) Uji Tanin (Depkes RId, 1989)
Sebanyak 0,5 g sampel disari dengan 10 ml air suling, disaring
lalu fitratnya diencerkan dengan air suling sampai tidak berwarna.
Diambil 2 ml larutan lalu ditambahkan 1 sampai 2 tetes pereaksi
besi (III) klorida .
a) Tiga tetes ekstrak daun seledri dimasukkan ke dalam tabung
reaksi
b) Ditambahkan 2 tetes larutan besi (III) klorida 1%
c) Bila terbentuk warna biru tua atau hijau kehitaman memberikan
indikasi adanya tanin.
f. Penyiapan hewan uji
Kelinci yang akan digunakan pada pengujian terlebih dahulu
disiapkan dan dikondisikan selama 2 minggu sebelum pengujian.
Penyiapan hewan uji ini dilakukan agar hewan uji dapat beradaptasi
dengan lingkungan baru, mengontrol kesehatan dan menyeragamkan
makanannya.

45

g. Formulasi sediaan hair tonic


Tabel 1. Formulasi Sediaan Hair Tonic
Konsentrasi (%) b/v
Bahan

Kontrol
Negatif
-

Formula
A
5

Formula
B
10

Formula
C
15

14
30
0,1

14
30
0,1

14
30
0,1

14
30
0,1

Metil paraben

0,1

0,1

0,1

0,1

Menthol
Air suling

0,2
55,6

0,2
50,6

0,2
45,6

0,2
40,6

Ekstrak daun
seledri
Etanol 95%
Propilen glikol
Asam askorbat

h. Cara Pembuatan hair tonic


1) Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan.
2) Dilarutkan 0,1 g asam askorbat di dalam beaker glass dengan
sejumlah air suling yang digunakan.
3) Dilarutkan 0,1 g metil paraben dengan 14 ml etanol 95% di dalam
beaker glass, diaduk hingga larut.
4) Dimasukkan 0,2 g menthol ke dalam campuran no.(3),diaduk hingga
homogen. Lalu ditambahkan propilen glikol 30 ml sedikit demi
sedikit. Diaduk homogen.
5) Dicampurkan ekstrak daun seledri ke dalam larutan no.(4). Diaduk
hingga homogen dengan menggunakan magnetic stirrer dengan
kecepatan 1500 rpm.

46

6) Larutan no.(2) dicampurkan ke dalam larutan no.(5) sedikit demi


sedikit. Diaduk hingga homogen menggunakan magnetic stirrer.
i. Evaluasi sediaan hair tonic
1) Pengamatan organoleptis
Sediaan diamati bau, warna dan kemungkinan timbulnya endapan
selama penyimpanan.
2) Pengukuran pH
Uji pH dilakukan dengan menggunakan pH meter. Pengukuran
dengan pH meter dimulai dengan kalibrasi alat. Kalibrasi
menggunakan dapar standar pH 4 dan 7. Kemudian elektroda
dicelupkan dalam sediaan dan dicatat nilai pH yang muncul di layar.
Pengukuran dilakukan pada suhu ruangan. pH sediaan hair tonic
sebaiknya berkisar antara 3,9-9,5 sesuai dengan pH untuk sediaan
yang digunakan pada kulit kepala.
3) Pengukuran viskositas
Pengukuran

viskositas

sediaan

menggunakan

viskometer

Ostwald. Sediaan sebanyak 50 ml dimasukkan melalui tabung B


kemudian dihisap hingga cairan melewati bagian A dan melewati
batas a. Cairan kemudian dibiarkan mengalir dari batas a sampai
batas b. Waktu yang diperlukan sediaan untuk mengalir dihitung
menggunakan stopwatch. Pengukuran viskositas diulang masingmasing 3 kali untuk setiap sediaan.

47

Waktu yang diperlukan sediaan untuk mengalir kemudian dihitung


viskositasnya menggunakan rumus:

j. Pengujian aktivitas pertumbuhan rambut


Kelinci yang digunakan sebagai hewan uji sebanyak 3 ekor. Kelinci
yang akan digunakan sebagai hewan uji dicukur bulunya dengan
menggunakan alat cukur, setelah rambutnya agak pendek, kemudian
dioleskan dengan krim depilatori (krim Veet) selama 3-5 menit. Setelah
itu, bilas dengan air hingga rambut rontok. Punggung kelinci yang telah
dihilangkan bulunya dibagi menjadi 4 daerah pengujian dengan luas
masing-masing 3x3 cm2 untuk tiap daerah uji dengan menggunakan
spidol. Jarak antara daerah uji sekitar 1 cm. Kelinci didiamkan selama
24 jam kemudian sediaan uji dioleskan. Sediaan uji dioleskan sebanyak 1
ml setiap pagi dan malam hari selama 3 minggu berturut-turut.
Kelinci I

: Daerah pengujian kontrol normal, Formula A1, B1 dan


C1.

Kelinci II

: Daerah pengujian kontrol negatif Formula A2, B2 dan


C2.

Kelinci III

: Daerah pengujian kontrol positif Formula A3, B3 dan


C3.

48

Tabel 2. Kelompok perlakuan uji aktivitas pertumbuhan rambut


Daerah Pengujian
Kontrol normal
Kontrol negatif
Kontrol positif
Formula A1, A2, A3
Formula B1, B2, B3
Formula C1, C2, C3

Perlakuan
Tidak dioleskan sediaan hair tonic
Dioleskan sediaan hair tonic yang tidak
mengandung zat berkhasiat
Dioleskan sediaan hair tonic Minoxidil
2%
Dioleskan sediaan hair tonic ekstrak daun
seledri 5%
Dioleskan sediaan hair tonic ekstrak daun
seledri 10%
Dioleskan sediaan hair tonic ekstrak daun
seledri 15%

Pengamatan pertumbuhan rambut pada tiap daerah dilakukan setelah


21 hari. Kelinci terlebih dahulu dibius dengan menggunakan kloroform
sebelum rambut dicabut dan dicukur. Setelah kelinci kehilangan
kesadaran, bulu kelinci dicabut 3 helai dari tiap daerah uji lalu
pencukuran dilakukan menggunakan pisau khusus dengan hati-hati agar
tidak melukai kulit kelinci. Rambut yang dicabut kemudian diukur
dengan jangka sorong sedangkan rambut hasil pencukuran ditimbang
beratnya menggunakan neraca analitik.

E. Analisis Data
Data yang dikumpulkan berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data
kuantitatif diperoleh dari hasil pengukuran panjang dan penimbangan berat
rambut dari hasil uji aktivitas pertumbuhan rambut, pengukuran pH sediaan
dan pengukuran viskositas. Sedangkan untuk data kualitatif diperoleh dari
pengamatan organoleptis sediaan. Hasil pengukuran panjang dan berat rambut,

49

serta hasil pengukuran viskositas diuji statistik dengan metode uji ANOVA
(jika distribusi data normal) atau uji Kruskal Wallis (jika distribusi data tidak
normal) yang dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil pengukuran pH
diuji statistik dengan metode uji Repeated ANOVA (jika data berdistribusi
normal) atau uji Friedman (jika distribusi data tidak normal). Uji statistik
menggunakan program SPSS versi 20.0.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Determinasi Tanaman
Tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah Apium graveolens L.
yang telah dinyatakan berdasarkan hasil determinasi di Laboratorium
Fisiologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Mulawarman Samarinda. Hasil determinasi tanaman menunjukkan bahwa
sampel yang digunakan adalah seledri (Apium graveolens L.) dari genus
Apium dan famili Apiaceae.
B. Penyiapan Simplisia Daun Seledri
Seledri diperoleh langsung dari petani seledri sehingga sampel yang
digunakan seragam dan mengurangi kemungkinan hasil yang bervariasi
akibat penggunaan sampel yang tidak seragam. Sampel daun seledri yang
digunakan adalah daun dari seledri yang segar serta pada umur tanaman yang
cukup untuk dipanen (1-2 bulan). Daun segar yang telah dicuci dan ditiriskan
kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan hingga kering. Daun
segar yang digunakan sebanyak 5.300 g kemudian saat kering menyusut
hingga menjadi 260,85 gram. Susut pengeringan pada simplisia daun seledri
sebesar 4,5% yang ditetapkan dengan metode gravimetri. Susut pengeringan
ini menyatakan bahwa sisa air yang terdapat pada simplisia kering hanya
4,5% sesuai dengan persyaratan yaitu <5%. Bila kandungan air dalam
simplisia masih besar, maka dapat mengakibatkan tumbuhnya jamur sehingga
mutu simplisia turun dan tidak memenuhi syarat.

50

51

C. Ekstraksi Simplisia Daun Seledri


Daun seledri yang telah menjadi simplisia kemudian diekstraksi secara
maserasi menggunakan pelarut campuran etanol 96% dan air (63:37).
Penggunaan campuran pelarut ini didasarkan oleh penelitian sebelumnya oleh
Mohammad Djatmiko (2009) mengenai optimasi pembuatan simplisia,
ekstrak dan granul herba seledri (Apium graveolens L.) sehingga diharapkan
proses ekstraksi pada penelitian ini akan memperoleh hasil yang maksimal.
Pelarut berupa campuran etanol 96% dan air dengan perbandingan 63:37
mempunyai kadar etanol sebesar 62,2%.
Proses ekstraksi yang digunakan adalah maserasi. Keuntungan proses
maserasi adalah cara dan peralatan mudah dilakukan dengan alat-alat
sederhana. Selain itu, maserasi memungkinkan semua simplisia kontak
dengan cairan penyari. Maserasi yang merupakan ekstraksi cara dingin cocok
untuk tekstur daun seledri yang lunak serta mempertahankan agar kandungan
dalam seledri tidak rusak oleh panas.
Simplisia daun seledri yang telah kering dihaluskan kemudian direndam
dengan cairan penyari selama 6 jam sambil sesekali diaduk kemudian
didiamkan selama 18 jam untuk diendapkan dan diambil maseratnya. Maserat
berupa ekstrak cair ini kemudian diuapkan cairan penyarinya hingga
diperoleh ekstrak kental daun seledri. Proses penghalusan simplisia kering
dilakukan untuk memperkecil ukuran simplisia sehingga luas permukaan
yang kontak dengan cairan penyari lebih luas dan proses penarikan
kandungan kimia yang terdapat di dalam simplisia lebih optimal. Pengadukan

52

yang dilakukan sesekali secara teratur juga membantu agar semua bagian
simplisia terendam dan kontak dengan cairan penyari merata. Ekstrak kental
yang diperoleh dari 260,0 g simplisia dengan 2.600 ml campuran cairan
penyari adalah sebesar 198,07 g, sehingga rendemen yang diperoleh sebesar
76,18%. Ekstrak kental daun seledri yang diperoleh berwarna

hijau

kecoklatan dan agak berminyak. Ekstrak kental kemudian diformulasikan


menjadi sediaan hair tonic.
Tabel 3. Persentase susut pengeringan daun dan rendemen ekstrak seledri
Susut
Berat
Rendemen
No
Sampel
pengeringan
(gram)
ekstrak (%)
daun (%)
1.
Daun Segar
5.300
4,5
2.
Daun Kering
260,85
76,18
3.
Ekstrak Kental
198,07
-

D. Karakterisasi Ekstrak Daun Seledri


Penetapan karakterisasi pada ekstrak daun seledri perlu dilakukan untuk
memberikan informasi spesifikasi kimia (jenis dan kadar) sehingga dapat
menjamin mutu ekstrak yang digunakan.
Tabel 4. Hasil Karakterisasi Ekstrak Daun Seledri
No
Jenis Karakterisasi
1. Pengamatan Organoleptis
a. Bentuk
b. Warna
c. Bau
d. Rasa
2. Pengukuran pH
3. Penetapan berat jenis
4. Penetapan susut pengeringan
5. Penetapan kadar senyawa yang larut dalam air
6. Penetapan kadar senyawa yang larut dalam
etanol

Hasil
Kental berminyak
Hijau kecoklatan
Khas aromatik
Pahit
5
1,047 g/ml
31%
42,5%
16,13%

53

Pengamatan organoleptis ekstrak daun seledri menunjukkan bahwa ekstrak


berbentuk kental berminyak, berwarna hijau kecoklatan dengan rasa pahit dan
aroma khas seledri. Ekstrak menjadi berminyak mengkilat kemungkinan
disebabkan adanya kandungan lemak pada seledri. Bau khas aromatik yang
timbul disebabkan banyaknya kandungan atsiri pada seledri. Rasa pahit serta
kelat ekstrak ditimbulkan oleh adanya kandungan alkaloid dan tanin yang
terkandung dalam seledri. Pengamatan organoleptis ini dapat memberikan
pengenalan awal yang sederhanan seobyektif mungkin.
Pengukuran pH dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat
keasaman ekstrak yang akan mempengaruhi nilai pH sediaan setelah ekstrak
dicampurkan. Pemeriksaan ekstrak menunjukkan bahwa pH ekstrak daun
seledri sebesar 5. Hasil pengukuran berat jenis ekstrak menunjukkan adalah
sebesar 1,047 g/ml. Berat jenis ekstrak perlu diketahui karena berkaitan
dengan berat jenis sediaan hair tonic yang dibuat dan mempengaruhi
viskositas sediaan.
Penetapan susut pengeringan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar
senyawa yang hilang pada proses pemanasan. Ekstrak daun seledri
mempunyai

susut

pengeringan

sebesar

31%.

Semakin

kecil

susut

pengeringan, maka semakin sedikit senyawa yang hilang dan semakin baik
mutu ekstrak. Penetapan kadar senyawa yang larut dalam air dan dalam
etanol dilakukan untuk memberikan gambaran awal jumlah kandungan
senyawa. Hasil penetapan kadar senyawa yang larut dalam air sebesar 42,5%
sedangkan kadar senyawa yang larut dalam etanol sebesar 16,13%. Hal ini

54

menunjukkan bahwa senyawa yang larut dalam air lebih banyak bila
dibandingkan senyawa yang larut dalam etanol, karena senyawa yang
terdapat dalam seledri seperti alkaloid, flavanoid, tanin dan saponin melarut
dalam pelarut polar yaitu air.
E. Skrining Fitokimia Ekstrak Daun Seledri
Pengujian golongan metabolit sekunder dilakukan untuk mengetahui
adanya kandungan metabolit sekunder pada sampel bahan alam.
Tabel 5. Hasil identifikasi metabolit sekunder ekstrak daun seledri
Warna
Warna Hasil
No
Uji
Kesimpulan
Pembanding
Pengujian
1 Alkaloid
a. Mayer
Endapan putih
Endapan
atau kuning
kehitaman
b. Bouchardat Endapan coklat
Endapan hitam
+
sampai hitam
c. Dragendorf Endapan jingga
Endapan jingga
+
sampai merah
coklat
2 Flavonoid
Lapisan kuning,
Lapisan orange
orange atau
pada amil
+
merah pada amil alkohol
alkohol
3 Saponin
Berbusa
Berbusa
+
4 Tanin
Warna biru tua
Hijau kehitaman
atau hijau
+
kehitaman
Keterangan : (+) = Ada
(-) = Tidak Ada

Hasil uji alkaloid pada ekstrak daun seledri dinyatakan positif karena dari
3 uji yang dilakukan untuk golongan alkaloid, 2 pengujian (uji Bouchardat
dan Dragendorf) dinyatakan positif. Hasil uji flavonid, saponin dan tanin pun
dinyatakan positif, sehingga pada ekstrak daun seledri diketahui mengandung

55

golongan alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Hasil positif terhadap


alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin dari ekstrak daun seledri dipengaruhi
oleh kelarutan golongan metabolit sekunder tersebut pada pelarut yang
digunakan selama ekstraksi. Alkaloid, flavonoid tanin dan saponin terlarut
dalam pelarut polar. Hal ini sesuai dengan pelarut yang digunakan pada
ekstraksi daun seledri yaitu campuran etanol 96% dengan air (63:37).
Campuran etanol 96% dan air tersebut merupakan campuran pelarut yang
polar karena kadar etanol hanya sebesar 62,2% , sehingga metabolit sekunder
tersebut tersari dalam ekstrak dan teridentifikasi saat skrining fitokimia.
Hasil identifikasi golongan metabolit sekunder pada penelitian ini
mempunyai hasil yang sama dengan hasil uji metabolit sekunder pada
beberapa penelitian sebelumnya meskipun cairan penyari yang digunakan
berbeda-beda. Penelitian yang dilakukan oleh Nadinah (2008) menggunakan
etanol 70% sebagai cairan penyari, Zamri (2008) menggunakan etanol 95%,
sedangkan Juriana dan Yanti (2009) menggunakan air sebagai penyari.
F. Formulasi Sediaan Hair Tonic
Sediaan hair tonic dipilih karena sediaan ini lebih mudah digunakan,tidak
lengket, proses penyerapan oleh kulit kepala baik serta tidak menimbulkan
bekas tipis seperti yang bisa timbul pada penggunaan krim ataupun gel.
Konsentrasi ekstrak daun seledri pada setiap formulasi dibuat bervariasi yaitu
5%, 10% dan 15%. Konsentrasi ini dipilih berdasarkan beberapa penelitian
sebelumnya oleh Jurianan dan Yanti (2009) pada sediaan krim dan penelitian
oleh Tambunan (2012) pada sediaan mikroemulsi. Hasil yang diperoleh dari

56

kedua penelitian tersebut membuktikan bahwa pada konsentrasi 10%


mempunyai kemampuan optimum menstimulasi pertumbuhan dan kesuburan
rambut.
Pada pembuatan sediaan hair tonic dari ekstrak daun seledri diperlukan
bahan-bahan tambahan yaitu etanol 95%, propilen glikol, metil paraben,
asam

askorbat, menthol, serta akuades. Etanol 95% digunakan sebagai

pelarut metil paraben, menthol serta sebagai co-solvent bagi ekstrak seledri
yang sulit larut jika hanya menggunakan air. Etanol juga dapat meningkatkan
penetrasi ke dalam kulit. Propilen glikol terutama digunakan untuk
meningkatkan kelarutan dari bahan-bahan yang terdapat dalam formulasi.
Meskipun etanol 95% telah membantu kelarutan dari ekstrak kental yang
digunakan, propilen glikol juga digunakan untuk meningkatkan kelarutan
ekstrak kental agar terlarut sempurna.

Selain itu, propilen glikol juga

membantu mengontrol viskositas sediaan dengan mempertahankan larutan


tetap di kulit kepala sehingga kontak dengan kulit kepala lebih lama dan
sediaan berpenetrasi lebih optimum. Metil paraben digunakan sebagai
pengawet karena kandungan air yang cukup besar dapat digunakan sebagai
media pertumbuhan mikroba. Asam askorbat sesuai digunakan sebagai
antioksidan pada sediaan berbasis air untuk mencegah proses oksidasi yang
mungkin terjadi pada sediaan. Menthol selain digunakan untuk memberikan
sensasi dingin pada kulit kepala juga digunakan untuk memberikan bau yang
segar serta dapat meningkatkan penetrasi ke kulit. Menthol meningkatkan
kelarutan dengan mengubah sifat penghalang dari stratum korneum. Menthol

57

lebih memudahkan pendistribusian ke dalam ruang interseluler dari stratum


korneum dan mungkin menyebabkan gangguan struktur lemak, sehingga
meningkatkan permeasi obat.
G. Evaluasi Sediaan Hair Tonic
1. Pengamatan organoleptis
Pengamatan organoleptis meliputi bau, warna dan kemungkinan
timbulnya endapan selama 3 minggu penyimpanan.

Minggu

Tabel 6. Hasil pengamatan organoleptis sediaan hair tonic selama


3 minggu penyimpanan
Sediaan Hair
Tonic
Kontrol negatif
Formula A
I

Formula B
Formula C
Kontrol negatif
Formula A

II

Formula B
Formula C
Kontrol negatif
Formula A

III

Formula B
Formula C

Warna

Bau

Homogenitas

Jernih
Coklat
keruh
Coklat
kekuningan
Coklat
pekat
Jernih
Coklat
keruh
Coklat
kekuningan
Coklat
pekat
Jernih
Coklat
keruh
Coklat
kekuningan
Coklat
pekat

Aroma khas
Aroma lemah
khas seledri
Aroma kuat khas
ekstrak seledri
Aroma kuat khas
ekstrak seledri
Aroma khas
Aroma lemah
khas seledri
Aroma kuat khas
ekstrak seledri
Aroma kuat khas
ekstrak seledri
Aroma khas
Aroma lemah
khas seledri
Aroma kuat khas
ekstrak seledri
Aroma kuat khas
ekstrak seledri

Homogen
Homogen
Homogen
Homogen
Homogen
Homogen
Homogen
Homogen
Homogen
Homogen
Homogen
Homogen

58

Dari hasil pengamatan keempat sediaan, terlihat bahwa sediaan stabil


dari segi warna, bau dan kehomogenitasan selama penyimpanan. Semakin
bsesar konsentrasi ekstrak yang terkandung dalam sediaan, maka warna
sediaan menjadi semakin pekat dan bau khas esktrak daun seledri pun akan
semakin kuat. Kestabilan warna, bau dan homogenitas sediaan dapat
dipengaruhi oleh penambahan asam askorbat sebagai antioksidan.
Antioksidan membantu mencegah terjadinya reaksi oksidasi pada sediaan
akibat paparan cahaya dan kemungkinan terdapatnya oksigen dalam cairan
pembawa. Oksidasi dapat menyebabkan terjadinya penambahan warna,
adanya endapan atau suatu perubahan bau (Ansel, 1989).
2. Pengukuran pH
Pengukuran pH dilakukan setiap satu minggu selama 3 minggu
berturut-turut.
Tabel 7. Hasil pengukuran pH sediaan hair tonic selama 3 minggu
penyimpanan
Sediaan Hair
pH
tonic
Minggu 1
Minggu 2
Minggu 3
4,0
3,8
3,0
Kontrol Negatif
5,1
5,0
4,8
Formula A
5,1
5,0
4,8
Formula B
5,1
5,0
4,8
Formula C

pH sediaan hair tonic

disesuaikan dengan pH sediaan yang biasa

digunakan pada kepala yaitu berkisar 3,9-9,5 (Mita, 2009). pH yang terlalu
asam ataupun terlalu basa dapat mengakibatkan iritasi. pH sediaan setiap
minggu mengalami penurunan meskipun tidak terlalu signifikan.
Penurunan pH yang tidak signifikan setiap minggu diketahui dengan

59

menggunakan uji statistik Friedman. Hasil uji Friedman menunjukkan


nilai sig>0,05 yang berarti penurunan pH dari minggu 1 hingga minggu 3
tidak mempunyai perbedaan yang signifikan.
Penurunan pH yang terjadi kemungkinan disebabkan adanya hidrolisis
dari sediaan yang melepaskan sejumlah ion hidrogen. Ion hidrogen dapat
semakin menyebabkan penurunan pH. Pada proses penyimpanan,
hidrolisis yang berlebihan seharusnya bisa dikontrol dengan penggunaan
antioksidan dan pengawet. Pengawet yang dipilih harus mempunyai
aktivitas antibakteri optimum pada pH sediaan hair tonic. pH hair tonic
yang diperoleh pada awal pembuatan adalah antara 4,0-5,1. Pada formulasi
sediaan, digunakan metil paraben dengan pH optimum aktivitas antibakteri
sebesar 4-8. Pemilihan metil paraben kurang tepat bila didasarkan pada pH
sediaan sehingga seharusnya digunakan pengawet lain yang memenuhi
rentang pH sediaan contohnya natrium benzoat yang memiliki pH
optimum 2-5 (Rowe, 2006). Pemilihan pengawet seharusnya dilakukan
setelah pengukuran pH sediaan sehingga dapat diketahui pengawet yang
tepat. Penggunaan pengawet yang tidak sesuai dengan pH sediaan
mengakibatkan kurang optimalnya kemampuan untuk mempertahankan
pH sediaan sehingga

mikroba dapat tumbuh. Pertumbuhan mikroba

menyebabkan penurunan pH karena selama perkembangbiakan mikroba


sering terjadi produksi asam (Radji, 2011).
Kontrol negatif, formula A, formula B dan formula C memiliki pH
yang sesuai dengan pH sediaan yang digunakan pada kepala, meskipun

60

sediaan kontrol negatif memiliki pH yang lebih asam bila dibandingkan


dengan ketiga formula lainnya. pH sediaan kontrol negatif yang lebih asam
ini mengakibatkan kulit kelinci menjadi kemerahan saat sediaan dioleskan
tetapi hanya terjadi sekitar 1-2 hari pengolesan. Kemerahan yang timbul
hilang setelah beberapa hari dan rambut tetap tumbuh.
3. Pengukuran viskositas
Tabel 8. Hasil pengukuran viskositas sediaan hair tonic setelah 3 minggu
penyimpanan
Kecepatan Alir
rata-rata
(detik)
Kontrol Negatif
1,0060,000
52,990,906
Formula A
1,0130,000
55,300,220
Formula B
1,0150,000
58,931,058
Formula C
1,0200,000
67,660,148
Keterangan : *= berbeda bermakna (p<0,05)
Sediaan Hair
Tonic

Massa Jenis
rata-rata (g/ml)

Viskositas
rata-rata
(cP)
3,550,061*
3,730,015*
3,980,075*
4,600,010*

Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa viskositas sediaan hair tonic


makin meningkat dengan bertambahnya konsentasi ekstrak daun seledri
yang digunakan. Meskipun konsentrasi etanol dan propilen glikol yang
digunakan sama pada masing-masing sediaan tetapi tidak sama pada
konsentrasi ekstrak daun seledri. Kenaikan viskositas seiring kenaikan
konsentrasi ekstrak karena kenaikan konsentrasi ekstrak menyebabkan
makin banyak partikel zat terlarut tiap satuan volume sehingga viskositas
meningkat. Ekstrak dengan bobot jenis 1,047 g/ml mempunyai nilai yang
lebih besar daripada bobot jenis kontrol negatif yaitu 1,006 g/ml sehingga
dengan penambahan ekstrak yang semakin besar, viskositas sediaan juga
akan semakin meningkat. Viskositas sediaan selain dipengaruhi oleh

61

konsentrasi ekstrak yang digunakan, juga dipengaruhi oleh viskositas dari


bahan tambahan seperti air, etanol dan propilen glikol.
Perhitungan data viskositas sediaan dengan menggunakan uji KruskalWallis menunjukkan perbedaan yang bermakna dari viskositas masingmaing

sediaan.

Perbedaan

bermakna

tersebut

diketahui

dengan

menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan


bahwa setiap kelompok sediaan mempunyai perbedaan yang bermakna
terhadap kelompok lain yang berarti nilai viskositas masing-masing
sediaan berbeda signifikan.
Nilai viskositas etanol adalah 1,20 cP dan propilen glikol 58,1 cP.
Sedangkan viskositas air sebagai standar pada perhitungan viskositas
adalah 1 cP (Rowe, 2006). Hasil pengukuran viskositas sediaan hair tonic
menunjukkan nilai antara 3,54-4,60 cP. Viskositas sediaan yang dibuat
memiliki nilai yang lebih besar dari air dan etanol tetapi jauh lebih kecil
dari viskositas propilen glikol. Hal ini disebabkan bahan-bahan
tersebut

telah

dicampur

sehingga

terjadi

perubahan

viskositas

dibandingkan dengan viskositas masing-masing bahan.


H. Uji Aktivitas Sediaan Hair Tonic terhadap Pertumbuhan Rambut
Pengujian aktivitas pertumbuhan rambut ekstrak daun seledri dilakukan
terhadap kelinci dengan jenis, berat dan umur yang seragam. Pada penelitian
ini, metode yang digunakan untuk mengevaluasi keefektifan hair tonic
adalah modifikasi metode Tanaka et al (1980). Pengujian dilakukan selama 3
minggu dengan pemberian sediaan uji setiap hari berturut-turut pada pagi dan

62

malam hari. Sediaan uji yang dioleskan pada kelinci terdiri dari enam sediaan
berbeda yaitu kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif serta formulasi
A, formula B dan formula C. Khusus sediaan hair tonic formula A, B dan C
dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali sehingga untuk setiap formulasi
dilakukan pengolesan pada 3 daerah uji yang berbeda pada kelinci.
Pengulangan ini dilakukan untuk meningkatkan kepastian hasil yang akan
diperoleh dari pengujian.
Pengamatan hasil dilakukan setelah 3 minggu pengujian. Pengamatan
hanya dilakukan setelah 3 minggu pengujian karena pertumbuhan rambut
normal berkisar 1/3 milimeter perhari atau sekitar 1 cm perbulan, sehingga
sekitar 3 minggu panjang rambut yang tumbuh lebih mudah diamati dan
diukur (Rostamailis dkk, 2008). Selain itu, dari sisi kode etik hewan,
dikhawatirkan akan menimbulkan

rasa sakit dan resiko yang besar bila

pengamatan dilakukan setiap minggu. Proses pencabutan rambut dan


pencukuran rambut diawali dengan pembiusan beresiko hewan mati sehingga
pengamatan dilakukan hanya pada akhir waktu pengujian.
Pengamatan dilakukan dengan mengukur panjang rambut kelinci dan
menimbang berat rambut kelinci yang tumbuh pada setiap daerah uji.
Pengukuran panjang rambut dapat digunakan untuk menyatakan kemampuan
hair tonic ekstrak daun seledri dalam menstimulasi panjang rambut kelinci.
Penimbangan berat rambut dapat dijadikan parameter untuk mengetahui
pengaruh hair tonic ekstrak daun seledri terhadap kelebatan rambut pada
kelinci. Pengukuran panjang rambut dilakukan dengan mencabut 3 helai

63

rambut pada masing-masing daerah uji kemudian panjang rambut diukur


menggunakan jangka sorong.
Tabel 9. Panjang dan Berat Rambut Kelinci Setelah Pengolesan Hair Tonic
Ekstrak Daun Seledri Pada Minggu Ketiga
Panjang Rambut Kelinci
Berat Rambut Kelinci
(cm)
(gram)
Kelompok Uji
Rata-rata
Rata-rata
Pengulangan
Rata-rata
Pengulangan
Akhir
Kontrol
0,867
0,100
normal
Kontrol
1,196
0,143
negative
Kontrol positif
2,487
0,300
Formula A1
1,6170,015
0,150
A
A2
1,6260,005 1,6210,005*
0,170
0,1560,011*
A3
1,6170,015
0,150
Formula B1
2,4700,010
0,300
B
B2
2,4700,010 2,4720,004
0,300
0,2960,005
B3
2,4770,005
0,290
Formula C1
1,7330,005
0,180
C
C2
1,7460,005 1,7380,006*
0,180
0,1760,005*
C3
1,7400,010
0,170
Keterangan : *= berbeda bermakna dengan kontrol (p<0,05)

Pada minggu pertama pertumbuhan rambut kelinci belum jelas terlihat.


Hal ini diduga karena setiap kelompok uji masih melakukan adaptasi. Proses
adaptasi ini merupakan bagian dari beberapa tahap perkembangan rambut
(masa anagen) yang kemudian akan disusul dengan masa katagen. Rambut
mulai nampak tumbuh di permukaan kulit pada tahap VI masa anagen. Tahap
ini kemudian berlangsung sampai masa katagen, dimana masa katagen
berlangsung 2-3 minggu. Hal ini yang menyebabkan pada minggu kedua
pengujian, rambut yang tumbuh telah jelas terlihat dan perbedaan di antara
kelompok uji makin terlihat. Pada kontrol normal rambut yang tumbuh masih

64

sangat pendek dengan warna dan tekstur rambut sama dengan rambut kelinci
yang tidak dicukur. Sedangkan di daerah uji kontrol negatif, kontrol positif,
formulasi A, B dan C memperlihatkan warna yang lebih hitam dan tekstur
rambut lebih tebal dibandingkan rambut kelinci normal pada bagian lain
tubuh kelinci yang tidak dicukur.
Pada minggu ketiga, pertumbuhan panjang rambut terlihat sangat jelas
dengan warna rambut yang lebih hitam dan tebal dibandingkan dengan
rambut kelinci normal. Perhitungan statistik panjang dan berat rambut kelinci
pada minggu ketiga menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal dan
tidak homogen, sehingga perhitungan dengan uji ANOVA tidak dapat
dilanjutkan dan perhitungan harus dilanjutkan dengan uji Kruskal-Wallis.
Pada uji Kruskal-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna
(p<0,05). Untuk mengetahui perbedaan bermakna tersebut maka dilanjutkan
dengan uji Mann-Whitney. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa
kelompok yang mempunyai perbedaan bermakna adalah formula A dengan
kontrol normal, kontrol negatif dan kontrol positif, formula B dengan kontrol
normal dan kontrol negatif serta formula C dengan kontrol normal, kontrol
negatif dan kontrol positif. Hasil tersebut menunjukkan bahwa formula B
dengan kontrol positif tidak mempunyai perbedaan bermakna (p>0,05) yang
berarti kemampuan formula B sama dengan kontrol positif (Regrou) dalam
aktivitas pertumbuhan rambut.
Berdasarkan hasil pengukuran panjang dan penimbangan berat rambut
kelinci pada minggu ketiga dapat terlihat jelas bahwa hair tonic ekstrak daun

65

seledri 5%, 10% dan 15% memiliki kemampuan menstimulasi pertumbuhan


rambut bila dibandingkan dengan kontrol normal. Meskipun berdasarkan
hasil perhitungan statistik hanya hair tonic ekstrak daun seledri konsentrasi
10% (formula B) yang mempunyai aktivitas sama dengan hair tonic Regrou
(kontrol positif).

Hasil pengamatan tersebut menunjukkan pula bahwa

konsentrasi ekstrak daun seledri pada sediaan hair tonic

yang optimum

menstimulasi pertumbuhan rambut adalah konsentrasi 10%. Kenaikan


konsentrasi ekstrak daun seledri tidak berbanding lurus dengan hasil
pengukuran panjang dan penimbangan berat rambut kelinci. Hasil
pengukuran rambut terpanjang dan penimbangan berat rambut terberat tidak
terdapat pada hair tonic dengan konsentrasi tertinggi (formula C) tetapi
terdapat pada konsentrasi 10% (formula B). Hal ini dapat disebabkan dari
hasil sediaan yang dibuat dan diujikan ke kelinci. Hair tonic formula C terlalu
kental sehingga tidak dapat optimum terserap ke dalam kulit kelinci.
Kekentalan sediaan dipengaruhi oleh viskositas sediaan yang berbeda
signifikan dari masing-masing sediaan berdasarkan uji statistik. Kekentalan
ini disebabkan konsentrasi ekstrak daun seledri yang tinggi. Sedangkan hair
tonic formula B tidak terlalu kental sehingga cukup lama untuk bertahan di
kulit kelinci tetapi tetap dapat terserap seluruhnya ke dalam kulit.
Pada kontrol negatif, hasil pertumbuhan panjang dan berat rambut kelinci
lebih besar dibandingkan dengan kontrol normal. Hal ini dapat disebabkan
oleh bahan-bahan tambahan seperti alkohol, propilen glikol dan aquadest.
Alkohol

dapat

menstimulasi

kelenjar

sebum

sehingga

membantu

66

pembentukan folikel rambut. Selain itu alkohol juga membersihkan kulit


kepala dari kotoran lemak yang tidak dapat dihilangkan oleh air dan alkohol
dapat memperlebar pembuluh darah di kulit kepala sehingga mengantarkan
suplai oksigen yang cukup untuk pertumbuhan rambut. Alkohol dan propilen
glikol membantu meningkatkan permeabilitas kulit kepala terhadap air karena
air sulit untuk menembus stratum korneum. Air merupakan nutrisi yang
penting bagi pertumbuhan rambut karena berat rambut adalah air
(Soedibyo dan Dalimartha, 1998).
Panjang rambut dan berat rambut kelinci pada kontrol normal merupakan
yang terendah. Panjang rambut kelinci dengan kontrol normal sesuai dengan
panjang pertumbuhan rambut normal yaitu sekitar 1 cm setiap bulan. Panjang
rambut kelinci kontrol normal tidak diberikan perlakuan dan stimulansi
sehingga bila dibandingkan dengan kelompok uji lain akan menunjukkan
panjang rambut yang cukup berbeda. Pertumbuhan rambut normal sangat
dipengaruhi oleh lama dan kecepatan tumbuh rambut selama fase anagen dan
katagen. Perbedaan perlakuan selama fase ini dapat mengakibatkan perbedaan
panjang dan kelebatan rambut. Berdasarkan hal tersebut, maka diberikan
perlakuan dan stimulan kepada kelompok uji kontrol negatif, kontrol positif,
formula A, formula B dan formula C. Akibat dari perbedaan perlakuan
terhadap kelompok uji maka terlihat jelas perbedaan panjang dan berat
rambut dari kelompok uji kontrol normal dibandingkan kelompok uji lain.
Ekstrak daun seledri berdasarkan pengalaman di masyarakat memang telah
digunakan sebagai penumbuh dan penyubur rambut. Daun seledri memiliki

67

kandungan zat cukup lengkap yang dibutuhkan oleh rambut. Kandungan


apiin dan apigenin yang besar dalam daun seledri mengakibatkan vasodilatasi
pembuluh darah (Pramono, 2006). Apiin merupakan glikosida flavonoid yang
mengalami hidrolisis sehingga menjadi aglikon apigenin. Pelebaran
pembuluh darah di rambut memungkinkan tercukupinya suplai darah yang
lancar untuk proses pertumbuhan rambut. Kandungan asam aminonya
membantu dalam pembentukan protein. Protein merupakan zat utama
pembangun rambut dengan jumlah sekitar 98%, kemudian mineral dan air
sebagai penyusun rambut. Sedangkan perpaduan asam amino, vitamin,
mineral dan kandungan lainnya dalam daun seledri mendorong pertumbuhan
sel-sel rambut yang rusak (Juriana, 2009).
Kandungan metabolit sekunder dalam daun seledri juga berperan dalam
merangsang pertumbuhan rambut. Penelitian yang dilakukan oleh Pitman,
dilaporkan bahwa alkaloid merupakan senyawa yang mampu menstimulasi
pertumbuhan rambut pada kasus klinik alopecia (kebotakan) (Juriana, 2009).
Flavonoid mempunyai aktivitas sebagai bakterisid dan anti virus yang dapat
menekan pertumbuhan bakteri dan virus sehingga dapat mempercepat
pertumbuhan rambut dan mencegah kerontokan. Saponin mempunyai
kemampuan untuk membentuk busa yang berarti mampu membersihkan kulit
dari kotoran serta sifatmya sebagai kounteriritan akibatnya terjadi
peningkatan sirkulasi darah perifer sehingga meningkatkan pertumbuhan
rambut.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang formulasi dan uji aktivitas
pertumbuhan rambut pada kelinci dari sediaan hair tonic ekstrak daun seledri,
maka dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut:
1. Persentase rendemen ekstrak daun seledri adalah 76,18%.
2. Karakterisasi ekstrak daun seledri yaitu ekstrak kental berminyak
berwarna hijau kecoklatan, dengan bau khas aromatic dan rasa yang pahit.
pH ekstrak sebesar 5, berat jenis sebesar 1,047 g/ml, susut pengeringan
sebesar 31%, kadar senyawa yang larut dalam air sebesar 42,5% dan
kadar senyawa yang larut dalam etanol sebesar 16,13%.
3. Metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak daun seledri adalah
golongan alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin.
4. Ekstrak daun seledri (Apium graveolens L.) dapat diformulasikan dalam
bentuk sediaan hair tonic.
5. Sediaan hair tonic ekstrak daun seledri konsentrasi 5%, 10% dan 15%
memenuhi persyaratan stabilitas fisik meliputi pengamatan organoleptis,
pengukuran pH dan pengukuran viskositas.
6. Konsentrasi ekstrak daun seledri sebesar 10% memberikan aktivitas
pertumbuhan rambut kelinci yang optimum.

68

69

B. Saran
Pada penelitian dan pengembangan selanjutnya sebaiknya dilakukan
penelitian lebih lanjut yaitu:
1. Mengembangkan

formulasi,

cara

penyimpanan

hair

tonic

serta

memperpanjang lama pengujian stabilitas fisik untuk memperoleh sediaan


yang stabil pada penyimpanan jangka panjang.
2. Meneliti lebih lanjut mengenai tingkat iritasi dengan menggunakan uji
iritasi terhadap sediaan hair tonic sehingga dapat meningkatkan tingkat
keamanan pada kulit kepala.

DAFTAR PUSTAKA
Alam, M., Hayes B.G., Rebecca C.T. 2009. Cosmetic Dermatology. China:
Saunders Elsivier. Hal. 13.
Allen, L.V. 2002. The Art, Science and Technology of Pharmaceutical
Coumponding. Washington DC: American Pharmaceutical Association.
Hal.261
Anonim. 2002. Menthol. North Carolina: Lorillard Tobacco Company Research
Department.
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: Penerbit UI.
Hal.158
Badan POM RI. 2010. Acuan Sediaan Herbal. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan
Makanan RI. Hal.37-38
Balsam, M.S., Edward S. 1970. Cosmetic Science and Technology Second
Edition. USA: William Interscience. Hal. 393
Block, S.S. 2001. Disinfection, Sterilization and Preservation. USA: Lippincott
Williams & Wilkins. Hal.1276.
Budi, S. 2008. Ragam dan Khasiat Tanaman Obat. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Braun,L., Marc C. 2007. Herbs and Natural Suplements: An Evidence-Based
GuideI. Australia: Elsevier.
Departemen Kesehatan RI. 1979a. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
Departemen Kesehatan RI. 1985b. Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI. Hal.252-259
Departemen Kesehatan RI. 1986c. Sediaan Galenik. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI. Hal.10-11
Departemen Kesehatan RI. 1989d. Materia Medika Indonesia Edisi IV. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI. Hal. 549-553.
Departemen Kesehatan RI. 2000e. Parameter Standar Umum Ekstrak Tanaman
Obat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal.10-11
Departemen Kesehatan RI. 2008f. Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI . Hal.174
Dalimartha, S. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.
Hal.171-177

70

71

Djajadisastra, J. 2004. Cosmetic Stability. Seminar Setengah Hari HIKI. Depok:


Departemen Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Indonesia.
Djuanda, A., Hamzah, M., Aisah, S. 2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed.
Ke-5. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Fisher, A., Joseph F. 2008. Contact Dermatitis Sixth Edition. Ontario: BC Dekker.
Hal. 274-275, 288, 291.
Flick, E.W. 2001. Cosmetic and Toiletry Formulations Second Edition Vol. 8.
New York: William Andrew Publishing. Hal. 172.
Hadkar, U.B. 2008. Physical Pharmacy. Mumbai: Nirali Prakhasan. Hal. 138-139
Harahap, M. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung: Penerbit ITB. Hal. 94, 102,
155, 234-238.
Juriana dan Yanti. 2009. Pengaruh Pemberian Krim Ekstrak Air Daun Seledri
(Apium graveolens Linn.) Sebagai Stimulan Pertumbuhan Rambut Tikus
Putih (Rattus norvegius L.) Jantan Galur Sprague Dawley. Jurnal Bahan
Alam Indonesia ISSN 1412-2B55 Vol.7.
Lachenmeier, D.W. 2008. Safety Evaluation of Topical Applications of Ethanol
On The Skin and Inside The oral Cavity. Journal of Occupational Medicine
and Toxicology.
Markham, K.R. 1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Bandung: Penerbit ITB.
Hal.1
Martin, A., Swarbick, J., Cammarata, A. 1983. Farmasi Fisik. Jilid II edisi ke-3
terj. dari Physical Pharmacy oleh Joshita. Jakarta: UI Press. Hal. 786
Messenger, A.g., dan Rundegren,J. 2004. Minoxidil: Mechanism of Action on
Hair Growth. British Journal of Dermatology.
Mita,S.R., Rusmiati,D., Kusuma, S.A.F. 2009. Pengembangan Ekstrak Etanol
Kubis (Brassica oleracea var. Capitata l. ) Asal Kabupaten Bandung Barat
dalam Bentuk Sampo Antiketombe terhadap Jamur Malassezia furfur.
Laporan Akhir Penelitian Peneliti Muda. Bandung : Fakultas Farmasi
UNPAD.
Mitsui, T. 1993. New Cosmetic Science. Amsterdam : Elsivier Science B.V.
Hal.615
Mursito,B. 2011. Ramuan Tradisional untuk Gangguan Ginjal. Penebar swadaya ;
Jakarta.

72

Nadinah. 2008. Kinetika Inhibisi Ekstrak Etanol Seledri dan Fraksinya Terhadap
Enzim Xantin Oksidase Serta Penentuan Senyawa Aktifnya. Tesis. Bogor:
ITB
Priskila, V. 2012. Uji Stabilitas Fisik dan Uji Aktivitas Pertumbuhan Rambut
Tikus Putih Jantan dari Sediaan Hair Tonic yang Mengandung Ekstrak Air
Bonggol Pisang Kepok (Musa balbisiana). Skripsi. Depok: Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia.
Retno, I.T dan Fatma Latifah. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik.
2007. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal.36
Rowe, R.C., Sheskey, P. J., Owen, S. C. 2006. Handbook of Pharmaceutical
Exipiens 5th Edition. London: American Pharmaceutical Association. Hal.18,
48, 466, 459 624, 802.
Rosiana, H. 2009. Analisis Viskositas. Jakarta: Rineka Cipta.
Rosmailis dkk. 2008. Tata Kecantikan Rambut. Jakarta: Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan. Hal. 21
Rook, A and R. Dawber. 1991. Disease of The Hair and Scalp. London:
Blackwell Scientific Pub. Hal.8-11, 14, 26-28.
Rukmana, R. 1995. Bertanam Seledri. Yogyakarta: Kanisius. Hal.18
Soedibyo,M., Dalimartha., S. 1998. Perawatan Rambut dengan Tumbuhan Obat
dan Diet Suplemen. Jakarta : Swadaya
Sweetman.S.C. 2009. Martindale The Complete Drug Reference 36th Edition.
London: Pharmaceutical Press. Hal.1342
Tambunan, L.R. 2012. Uji Stabilitas Mikroemulsi Ekstrak Daun Seledri dan
Mikroemulsi Ekstrak Daun Urang Aring dan Efektivitasnya Terhadap
Pertumbuhan Rambut Tikus Jantan Spraque Dawley. Skripsi. Depok:
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia.
Tanaka., M. Saito., M. Tabata. 1980. Bioassay of Crude Drugs For Hair Tonic
Promoting Activity in Mice by A New Simple Method. Journal of Medicinal
Plant Research.
Tjitro, S., Adriana, A.G., Gatut, P. 2000. Studi Perilaku Korosi Tembaga dengan
Variasi Konsentrasi Asam Askorbat dalam Lingkungan Air yang
Mengandung Klorida dan Sulfat. Jurnal Teknik Mesin Vol.2 No.1
Voigt,R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Edisi Kelima. Jogjakarta:
Gadjah Mada University Press. Hal.577-578

73

Williams. D.F., W.H Schmitt. 1996. Cosmetic andTechnology of The Cosmetic


and Toiletries Industry. UK: Chapman & Hall. Hal. 71.
Williams, A. 2003. Transdermal
Pharmaceutical Press. Hal. 94-95.

and

Topical

Drug

Delivery.

USA:

Zamri,R.J. 2008. Validasi Metode Penentuan Kadar Apigenin Dalam Ekstrak


Seledri Dengan Kromatografi Cair Konerja Tinggi. Skripsi. Bogor: Fakultas
MIPA Institut Pertanian Bogor.

74

Lampiran 1. Determinasi Tanaman Seledri

75

Lampiran 2. Perhitungan Kadar Etanol Pada Campuran Pelarut


Tabel etanol 96% pada FI Edisi IV:
%v/v
96%

%b/b
93,85%

BJ (g/ml)
0,8053

Bobot etanol 96%

= 63 ml X 0,8053 g/ml = 50,73 g

Bobot alkohol absolute

= 93,85% x 50,73 g = 47,61 g

Bobot campuran pelarut = 37 g (air) + 47,61 g (etanol 96%) = 87,73 g

Rumus yang digunakan untuk menghitung kadar etanol pada campuran etanol
96% dan air (63:37) adalah:
(B1 X K1) + (B2 X K2) = (B3 X K3)
Keterangan :
B = bobot (g)
K = konsentrasi (%b/b)

K = (50,73 g X 93,85%b/b) + (37 g X 0%b/b) = (87,73 g X K)


K = (50,73 X 93,85%) / 87,73% b/b
K = 54,26% b/b

76

Oleh karena 54,26% b/b tidak terdapat pada Farmakope Indonesia, maka dicari
dahulu interpolasinya.
BJ
0,9050

0,9060

% b/b
54,5
0,24
54,26 + 0,40
0,16
54,1

% v/v
62,5
-

0,5

62

Perbandingan

: 0,24/0,40 = 3/5

Bobot jenis etanol 54,26% b/b

: 0,9050 + (3/5 x 0,0010) = 0,9056

% v/v etanol 54,26% b/b : 62,5 (3/5 x 0,5) = 62,2% v/v

Jadi, bobot campuran etanol 96% dan air (63:37) adalah 62,2 % v/v

77

Lampiran 3. Perhitungan Susut Pengeringan Daun Seledri


Berat sebelum pemanasan

=2g

Berat akhir

= 1,91 g

Susut pengeringan (%) =

2 1,91
2

X 100% = 4,5 %

X 100%

78

Lampiran 4. Perhitungan Rendemen Ekstrak Daun Seledri


Berat simplisia yang diekstraksi

= 260 g

Berat ekstrak yang diperoleh

= 198,07 g

Rendemen (%) =

198,07
260

X 100% = 76,18%

X 100%

79

Lampiran 5. Proses Maserasi Simplisia Daun Seledri

80

Lampiran 6. Ekstrak Kental Daun Seledri

81

Lampiran 7. Perhitungan Susut Pengeringan Ekstrak Daun Seledri


Susut pengeringan (%) =

2 1,38
2

X 100% = 31 %

X 100%

82

Lampiran 8. Perhitungan Berat Jenis Ekstrak Cair Daun Seledri


Berat jenis () =
Keterangan :

20
10

= berat jenis (g/ml)


W2= berat piknometer dan cairan X (gram)
W1= berat piknometer dan air (gram)
W0= berat piknometer kosong (gram)

48,16 20,95

47,29 20,95

27,57
26,34

= 1,047 g/ml
Jadi, berat jenis ekstrak cair daun seledri adalah 1,047 g/ml.

83

Lampiran 9. Perhitungan Kadar Senyawa Yang Larut Dalam Air


Berat cawan kosong (W0)

= 77,13 g

Berat cawan dan air (W1)

= 95,49 g

Berat cawan dan residu (W2) = 84,95 g


Kadar senyawa larut dalam air (%) =
=
=

W 2W 1
10

X 100%

X 100%

84,95 g77,13 g

95,49 77,13

X 100% = 42,5%

84

Lampiran 10. Perhitungan Kadar Senyawa Yang Larut Dalam Etanol


Berat cawan kosong (W0)

= 89,76 g

Berat cawan dan air (W1)

= 105,81 g

Berat cawan dan residu (W2) = 92,35 g


Kadar senyawa larut dalam air (%) =
=
=

W 2W 1
10

X 100%

X 100%

92,35 g89,76 g

105,81 89,76

X 100% = 16,13%

85

Lampiran 11. Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Daun Seledri

A
Keterangan

: A = Hasil uji Mayer (Alkaloid)


B = Hasil uji Bouchardat (Alkaloid)
C = Hasil uji Dragendorf (Alkaloid)
D = Hasil uji Flavonoid
E = Hasil uji Saponin
F = Hasil uji Tanin

86

Lampiran 12. Pengamatan Organoleptis Hair Tonic Minggu ke1

Kontrol
Negatif

Formula
A

Formula
B

Formula
C

87

Lampiran 13. Pengamatan Organoleptis Hair Tonic Minggu ke2

Kontrol
Negatif

Formula
A

Formula
B

Formula
C

88

Lampiran 14.Pengamatan Organoleptis Hair Tonic Minggu ke3

Kontrol
Negatif

Formula
A

Formula
B

Formula
C

89

Lampiran 15. Pengukuran pH Sediaan Hair Tonic

90

Lampiran 16. Pengukuran Viskositas Sediaan Hair Tonic

91

Lampiran 17. Perhitungan Viskositas


1) Berat jenis sediaan

=
Keterangan :

20
10

= berat jenis (g/ml)


W2= berat piknometer dan cairan X (gram)
W1= berat piknometer dan air (gram)
W0= berat piknometer kosong (gram)

a. Kontrol negatif

48,45 23,72

48,30 23,72

24,73
24,58

= 1,006 g/ml

b. Formula A

48,65 23,83

48,30 23,83

24,91
24,58

= 1,013 g/ml

c. Formula B

44,17 20,51

43,87 20,51

23,66
23,36

= 1,014 g/ml

d. Formula C

46,03 20,23

48,30 20,23

25,80
25,27

= 1,020 g/ml

92

2) Viskositas sediaan

Keterangan:

1 = viskositas air (cP)


2 = viskositas zat cair yang dicari (cP)
1 = massa jenis air (g/ml)
2 = massa jenis zat cair yang dicari (g/ml)
t1 = waktu alir air (detik)
t2 = waktu alir zat yang dicari (detik)

a. Kontrol negatif
Pengulangan I : 2 = 1,006 g/ml x 52,83 detik

x 1 cP

1 g/ml x 15 detik
= 3,54 cP
Pengulangan II: 2 = 1,006 g/ml x 53,97 detik

x 1 cP

1 g/ml x 15 detik
= 3,62 cP
Pengulangan III : 2 = 1,006 g/ml x 52,18 detik

x 1 cP

1 g/ml x 15 detik
= 3,50 cP
b. Formula A
Pengulangan I : 2 = 1,013 g/ml x 55,3 detik

x 1 cP

1 g/ml x 15 detik
= 3,74 cP
Pengulangan II : 2 = 1,013 g/ml x 55,52 detik
1 g/ml x 15 detik
= 3,75 cP

x 1 cP

93

Pengulangan III : 2 = 1,013 g/ml x 55,08 detik

x 1 cP

1 g/ml x 15 detik
= 3,72 cP
c. Formula B
Pengulangan I :

2 = 1,015 g/ml x 58,13 detik

x 1 cP

1 g/ml x 15 detik
= 3,93 cP
Pengulangan II :

2 = 1,015 g/ml x 58,52 detik

x 1 cP

1 g/ml x 15 detik
= 3,96 cP
Pengulangan III : 2 = 1,015 g/ml x 60,14 detik

x 1 cP

1 g/ml x 15 detik
= 4,07 cP
d. Formula C
Pengulangan I :

2 = 1,020 g/ml x 67,70 detik

x 1 cP

1 g/ml x 15 detik
= 4,60 cP
Pengulangan II :

2 = 1,020 g/ml x 67,50 detik

x 1 cP

1 g/ml x 15 detik
= 4,59 cP
Pengulangan III : 2 = 1,020 g/ml x 67,79 detik
1 g/ml x 15 detik
= 4,61 cP

x 1 cP

94

(sambungan Perhitungan Viskositas)


Sediaan Hair Tonic

Kontrol
Negatif

Formula A

Formula B

Formula C

I
II
III
Ratarata
SD
I
II
III
Ratarata
SD
I
II
III
Ratarata
SD
I
II
III
Ratarata
SD

Massa jenis
(g/ml)
1,006
1,006
1,006

Kecepatan alir
(detik)
52,83
53,97
52,18

Viskositas
(cP)
3,54
3,62
3,50

1,006

52,99

3,55*

0,00
1,013
1,013
1,013

0,906
55,30
55,52
55,08

0,061
3,74
3,75
3,72

1,013

55,30

3,73*

0,00
1,015
1,015
1,015

0,220
58,13
58,52
60,14

0,015
3,93
3,96
4,07

1,015

58,93

3,98*

0,00
1,020
1,020
1,020

1,058
67,70
67,50
67,79

0,075
4,60
4,59
4,61

1,020

67,66

4,60*

0,00

0,148

0,010

95

Lampiran 18. Pertumbuhan Rambut Kelinci Minggu ke1

(N)

(-)

(A)

(A)

96

(Sambungan Lampiran Pertumbuhan Rambut Kelinci Minggu ke1)

(A)

(+)

(B)

Keterangan : (N) = Daerah Uji Kontrol Normal


(-) = Daerah Uji Kontrol Negatif
(+)= Daerah Uji Kontrol Positif
(A)= Daerah Uji Formula A
(B)= Daerah Uji Formula B
(C)= Daerah Uji Formula C

(C)

97

Lampiran 19. Pertumbuhan Rambut Kelinci Minggu ke2

(N)

(-)

(A)

(A)

98

(Sambungan Lampiran Pertumbuhan Rambut Kelinci Minggu ke2)

(A)
(+)

(B)

Keterangan : (N) = Daerah Uji Kontrol Normal


(-) = Daerah Uji Kontrol Negatif
(+)= Daerah Uji Kontrol Positif
(A)= Daerah Uji Formula A
(B)= Daerah Uji Formula B
(C)= Daerah Uji Formula C

(C)

99

Lampiran 20. Pertumbuhan Rambut Kelinci Minggu ke3

(N)

(-)

(A)

(A)

100

(Sambungan Lampiran Pertumbuhan Rambut Kelinci Minggu ke3)

(+)

(A)

(B)
(C)

Keterangan : (N) = Daerah Uji Kontrol Normal


(-) = Daerah Uji Kontrol Negatif
(+)= Daerah Uji Kontrol Positif
(A)= Daerah Uji Formula A
(B)= Daerah Uji Formula B
(C)= Daerah Uji Formula C

101

Lampiran 21. Pengukuran Panjang Rambut Kelinci

Keterangan : Normal
(-)
(+)
(A)
(B)
(C)

= Panjang Rambut Kelinci


= Panjang Rambut Kelinci
= Panjang Rambut Kelinci
= Panjang Rambut Kelinci
= Panjang Rambut Kelinci
= Panjang Rambut Kelinci

Kontrol Normal
Kontrol Negatif
Kontrol Positif
Formula A
Formula B
Formula C

102

Lampiran 22. Hasil Perhitungan Berat Rambut Kelinci


Kelompok Uji
Kontrol normal
Kontrol negatif
Kontrol posiitif
Formula A

Formula B

Formula C

A1
A2
A3
B1
B2
B3
C1
C2
C3

Berat Rambut
(gram)
0,100
0,143
0,300
0,150
0,170
0,150
0,300
0,300
0,290
0,180
0,180
0,170

Rata-rata Berat
Rambut (gram)
0,100
0,143
0,300
0,156

0,296

0,176

103

Lampiran 23. Hasil Perhitungan Panjang Rambut Kelinci


Kelompok
Kontrol normal

Kontrol negatif

Kontrol positif

Formula A

A1

A2

A3

Formula B

B1

B2

B3

Formula C

C1

C2

C3

Helaian
Rambut

Panjang rambut
(cm)

1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3

0,9
0,9
0,8
1,19
1,21
1,19
2,48
2,49
2,48
1,63
1,62
1,60
1,63
1,62
1,63
1,60
1,62
1,63
2,48
2,46
2,47
2,46
2,48
2,47
2,47
2,48
2,48
1,73
1,74
1,73
1,75
1,74
1,75
1,74
1,73
1,75

Rata-rata Panjang
Rambut (cm)
0,867

1,196

2,483

1,621

2,472

1,738

104

Lampiran 24. Hasil Analisis Data pH Sediaan Hair Tonic Selama 3 Minggu
a. Uji distribusi normalitas data (uji Shapiro Wilk)
Tujuan

Mengetahui distribusi normalitas pH sediaan hair


tonic sebagai syarat uji Repeated ANOVA

Hipotesa

Ho = distribusi pH sediaan hair tonic normal


H1= distribusi pH sediaan hair tonic normal tidak
normal

Kriteria

Hasil

Ho ditolak jika nila sigfinikansi (p) < 0,05

Tests of Normality
a

Kolmogorov-Smirnov
Statistic

Df

Shapiro-Wilk

Sig.

Statistic

df

Sig.

pH minggu 1

.441

.630

.001

pH minggu 2

.441

.630

.001

pH minggu 3

.441

.630

.001

a. Lilliefors Significance Correction

Kesimpulan

Ho ditolak sehingga data pH sediaan hair tonic selama


3 minggu tidak berdistribusi normal

b. Uji Friedman
Tujuan
:

Mengetahui adanya perbedaan bermakna dari pH


sediaan hair tonic selama 3 minggu

Hipotesa

Ho = tidak terdapat perbedaan bermakna dari pH


sediaan hair tonic selama 3 minggu
H1= terdapat perbedaan bermakna dari dari pH sediaan
hair tonic selama 3 minggu

Kriteria

Hasil

Ho ditolak jika nila sigfinikansi (p) < 0,05

105

Test Statistics
N

Chi-Square

8.000

df

Asymp. Sig.

.018

a. Friedman Test

Kesimpulan

Ho ditolak berarti terdapat perbedaan bermakna dari


pH sediaan hair tonic selama 3 minggu

c. Analisis Post Hoc


Hipotesa

Ho = tidak terdapat perbedaan bermakna dari pH


sediaan hair tonic selama 3 minggu
H1= terdapat perbedaan bermakna dari pH sediaan
hair tonic selama 3 minggu

Pengambilan keputusan:
Jika nilai signifikansi 0,05 maka Ho diterima
Jika nilai signifikansi <0,05 maka Ho ditolak

Test Statistics
pH minggu 2 -

pH minggu 3 -

pH minggu 3 -

pH minggu 1

pH minggu 1

pH minggu 2

-1.890

Asymp. Sig. (2-tailed)

.059

-1.890

.059

-1.890

.059

a. Wilcoxon Signed Ranks Test


b. Based on positive ranks.

Kesimpulan

Ho diterima berarti terdapat perbedaan bermakna dari


pH sediaan hair tonic selama 3 minggu

106

Lampiran 25. Hasil Analisis Data Viskositas Sediaan Hair Tonic setelah 3
minggu
a. Uji distribusi normalitas data (uji Shapiro Wilk)
Tujuan

Mengetahui distribusi normalitas rata-rata viskositas


sediaan hair tonic setelah 3 minggu sebagai syarat uji
ANOVA

Hipotesa

Ho = distribusi rata-rata viskositas sediaan hair tonic


normal
H1= distribusi rata-rata sediaan hair tonic normal
tidak normal

Kriteria

Hasil

Ho ditolak jika nila sigfinikansi (p) < 0,05

Tests of Normality
a

Sediaan_hair_tonic

Kolmogorov-Smirnov
Statistic

Kontrol negatif

df

Shapiro-Wilk

Sig.

Statistic

df

Sig.

.253

.964

.637

Viskositas Formula A

.253

.964

.637

(cP)

Formula B

.308

.902

.391

Formula C

.175

1.000

1.000

a. Lilliefors Significance Correction

Kesimpulan

Ho diterima sehingga data rata-rata viskositas sediaan


hair tonic setelah 3 minggu normal

b. Uji homogenitas dan variansi data


Tujuan

Mengetahui homogenitas rata-rata viskositas sediaan


hair tonic setelah 3 minggu sebagai syarat uji
ANOVA

Hipotesa

Ho = distribusi rata-rata viskositas sediaan hair tonic


setelah 3 minggu homogen

107

H1= distribusi rata-rata viskositas sediaan hair tonic


setelah 3 minggu tidak homogen
Kriteria

Hasil

Ho ditolak jika nila sigfinikansi (p) < 0,05

Test of Homogeneity of Variances


Viskositas (cP)
Levene Statistic

df1

4.257

Kesimpulan

df2
3

Sig.
8

.045

Ho ditolak maka data viskositas sediaan hair tonic


setelah 3 minggu tidak homogen.

c. Uji Kruskall-Wallis
Tujuan

Mengetahui adanya perbedaan bermakna dari rata-rata


viskositas sediaan hair tonic setelah 3 minggu

Hipotesa

Ho = tidak terdapat perbedaan bermakna rata-rata


viskositas sediaan hair tonic setelah 3 minggu
H1= terdapat perbedaan bermakna dari rata-rata ratarata viskositas sediaan hair tonic setelah 3
minggu

Kriteria

Hasil

Ho ditolak jika nila sigfinikansi (p) < 0,05

a,b

Test Statistics

Viskositas (cP)
Chi-Square
Df
Asymp. Sig.
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable:
Sediaan_hair_tonic

10.385
3
.016

108

Kesimpulan

Ho ditolak berarti terdapat perbedaan bermakna dari


rata-rata viskositas sediaan hair tonic setelah 3
minggu

d. Uji Mann-Whitney
Hipotesa

Ho = tidak terdapat perbedaan bermakna dari rata-rata


viskositas sediaan hair tonic setelah 3 minggu
H1= terdapat perbedaan bermakna dari rata-rata
viskositas sediaan hair tonic setelah 3 minggu

Pengambilan keputusan:
Jika nilai signifikansi 0,05 maka Ho diterima
Jika nilai signifikansi <0,05 maka Ho ditolak
Kelompok
Kontrol Negatif

Kelompok
Formula A
Formula B
Formula C
Kontrol Negatif
Formula B
Formula C
Kontrol Negatif
Formula A
Formula C
Kontrol Negatif
Formula A
Formula B

Formula A

Formula B

Formula C

Kesimpulan

Asymp. Sig (2-tailed)


0,050
0,050
0,050
0,050
0,050
0,050
0,050
0,050
0,050
0,050
0,050
0,050

Nilai sig = 0,05 yang berarti terdapat perbedaan


bermakna viskositas antara semua sediaan hair tonic
setelah 3 minggu.

109

Lampiran 26. Hasil Analisis Data Panjang Rambut Kelinci Minggu ke3
a. Uji distribusi normalitas data (uji Shapiro Wilk)
Tujuan

Mengetahui distribusi normalitas rata-rata panjang


rambut kelinci masing-masing kelompok uji pada
minggu ke3 sebagai syarat uji ANOVA

Hipotesa

Ho = distribusi rata-rata panjang rambut normal


H1= distribusi rata-rata panjang rambut tidak normal

Kriteria

Hasil

Ho ditolak jika nila sigfinikansi (p) < 0,05

Tests of Normality
Kelompok_Uji

Kolmogorov-Smirnov
Statistic

Panjang rambut
kelinci(cm)

df

Sig.

Shapiro-Wilk
Statistic

df

Sig.

Kontrol normal

.385

.000

.750

.000

Kontrol Negatif

.385

.000

.750

.000

Kontrol Positif

.385

.000

.750

.000

Formula A

.245

.039

.825

.039

Formula B

.269

.025

.808

.025

Formula C

.209

.037

.823

.037

Kesimpulan

Ho ditolak sehingga data rata-tara panjang rambut


kelinci pada minggu ke3 tidak berdistribusi normal

110

b. Uji homogenitas dan variansi data


Tujuan

Mengetahui homogenitas rata-rata panjang rambut


kelinci masing-masing kelompok uji pada minggu
ke3 sebagai syarat uji ANOVA

Hipotesa

Ho = distribusi rata-rata panjang rambut homogen


H1= distribusi rata-rata panjang rambut tidak homogen

Kriteria

Hasil

Ho ditolak jika nila sigfinikansi (p) < 0,05

Test of Homogeneity of Variances


Panjang rambut kelinci(cm)
Levene Statistic
16.276

Kesimpulan

df1

df2
5

Sig.
30

.000

Ho ditolak maka data rata-rata panjang rambut kelinci


pada minggu ke3 tidak homogen.

c. Uji Kruskall-Wallis
Tujuan

Mengetahui adanya perbedaan bermakna dari rata-rata


panjang rambut kelinci masing-masing kelompok
minggu ke3

Hipotesa

Ho = tidak terdapat perbedaan bermakna dari rata-rata


panjang

rambut

kelinci

masing-masing

kelompok minggu ke3


H1= terdapat perbedaan bermakna dari rata-rata
panjang

rambut

kelinci

masing-masing

kelompok minggu ke3


Kriteria

Ho ditolak jika nila sigfinikansi (p) < 0,05

111

Hasil

a,b

Test Statistics

Panjang rambut
kelinci(cm)
Chi-Square

33.247

Df

Asymp. Sig.

Kesimpulan

.000

Ho ditolak berarti terdapat perbedaan bermakna dari


rata-rata panjang rambut kelinci masing-masing
kelompok minggu ke3

d. Uji Mann-Whitney
Hipotesa

Ho = tidak terdapat perbedaan bermakna dari rata-rata


panjang

rambut

kelinci

masing-masing

kelompok minggu ke3


H1= terdapat perbedaan bermakna dari rata-rata
panjang

rambut

kelompok minggu ke3

Pengambilan keputusan:
Jika nilai signifikansi 0,05 maka Ho diterima
Jika nilai signifikansi <0,05 maka Ho ditolak

kelinci

masing-masing

112

Kelompok
Kontrol Normal

Kelompok
Kontrol negatif
Kontrol Positif
Formula A
Formula B
Formula C
Kontrol Normal
Kontrol Positif
Formula A
Formula B
Formula C
Kontrol Normal
Kontrol Negatif
Formula A
Formula B
Formula C
Kontrol Normal
Kontrol Negatif
Kontrol Positif
Formula B
Formula C
Kontrol Normal
Kontrol Negatif
Kontrol Positif
Formula A
Formula C
Kontrol Normal
Kontrol Negatif
Kontrol Positif
Formula A
Formula B

Kontrol Negatif

Kontrol Positif

Formula A

Formula B

Formula C

Kesimpulan

Asymp. Sig (2-tailed)


0,043
0,043
0,010
0,010
0,011
0,043
0,043
0,010
0,010
0,011
0,043
0,043
0,010
0,058*
0,010
0,010
0,010
0,010
0,000
0,000
0,010
0,010
0,058*
0,000
0,000
0,011
0,011
0,010
0,000
0,000

Tanda * menunjukkan nila sig 0,05 yang berarti tidak


terdapat
tersebut.

perbedaan

bermakna

antara

kelompok

113

Lampiran 27. Hasil Analisis Data Berat Rambut Kelinci Hari ke21
a. Uji distribusi normalitas data (uji Shapiro Wilk)
Tujuan

Mengetahui distribusi normalitas rata-rata berat


rambut kelinci masing-masing kelompok uji pada
minggu ke3 sebagai syarat uji ANOVA

Hipotesa

Ho = distribusi rata-rata berat rambut normal


H1= distribusi rata-rata berat rambut tidak normal

Kriteria

Hasil

Ho ditolak jika nila sigfinikansi (p) < 0,05

a,b,c

Tests of Normality

Kelompok_uji

Kolmogorov-Smirnov
Statistic

Berat rambut
kelinci

df

Shapiro-Wilk

Sig.

Statistic

df

Sig.

Formulasi A

.385

.750

.000

Formulasi B

.385

.750

.000

Formulasi C

.385

.750

.000

a. Berat rambut kelinci is constant when Kelompok_uji = Kontrol normal. It has been omitted.
b. Berat rambut kelinci is constant when Kelompok_uji = Kontrol negatif. It has been omitted.
c. Berat rambut kelinci is constant when Kelompok_uji = Kontrol Positif. It has been omitted.
d. Lilliefors Significance Correction

Kesimpulan

Ho ditolak sehingga data rata-rata berat rambut kelinci


pada minggu ke3 tidak berdistribusi normal

114

b. Uji homogenitas dan variansi data


Tujuan

Mengetahui homogenitas rata-rata berat rambut


kelinci masing-masing kelompok uji pada minggu
ke3 sebagai syarat uji ANOVA

Hipotesa

Ho = distribusi rata-rata panjang rambut homogen


H1= distribusi rata-rata panjang rambut tidak homogen

Kriteria

Hasil

Ho ditolak jika nila sigfinikansi (p) < 0,05

Test of Homogeneity of Variances


Berat rambut kelinci
Levene Statistic
10.667

Kesimpulan

df1

df2
5

Sig.
12

.000

Ho ditolak maka data rata-rata berat rambut kelinci


pada minggu ke3 tidak homogen.

c. Uji Kruskall-Wallis
Tujuan

Mengetahui adanya perbedaan bermakna dari rata-rata


berat rambut kelinci masing-masing kelompok minggu
ke3

Hipotesa

Ho = tidak terdapat perbedaan bermakna dari rata-rata


berat rambut kelinci masing-masing kelompok
minggu ke3
H1= terdapat perbedaan bermakna dari rata-rata berat
rambut

kelinci

masing-masing

minggu ke3
Kriteria

Ho ditolak jika nila sigfinikansi (p) < 0,05

kelompok

115

Hasil

a,b

Test Statistics

Berat rambut
kelinci
Chi-Square

16.593

Df

Asymp. Sig.

.005

a. Kruskal Wallis Test


b. Grouping Variable:
Kelompok_uji

Kesimpulan

Ho ditolak berarti terdapat perbedaan bermakna dari


rata-rata

berat

rambut

kelinci

masing-masing

kelompok minggu ke3

d. Uji Mann-Whitney
Hipotesa

Ho = tidak terdapat perbedaan bermakna dari rata-rata


berat rambut kelinci masing-masing kelompok
minggu ke3
H1= terdapat perbedaan bermakna dari rata-rata berat
rambut

kelinci

masing-masing

minggu ke3

Pengambilan keputusan:
Jika nilai signifikansi 0,05 maka Ho diterima
Jika nilai signifikansi <0,05 maka Ho ditolak

kelompok

116

Kelompok
Kontrol Normal

Kelompok
Kontrol negatif
Kontrol Positif
Formula A
Formula B
Formula C
Kontrol Normal
Kontrol Positif
Formula A
Formula B
Formula C
Kontrol Normal
Kontrol Negatif
Formula A
Formula B
Formula C
Kontrol Normal
Kontrol Negatif
Kontrol Positif
Formula B
Formula C
Kontrol Normal
Kontrol Negatif
Kontrol Positif
Formula A
Formula C
Kontrol Normal
Kontrol Negatif
Kontrol Positif
Formula A
Formula B

Kontrol Negatif

Kontrol Positif

Formula A

Formula B

Formula C

Kesimpulan

Asymp. Sig (2-tailed)


0,025
0,025
0,034
0,034
0,034
0,025
0,034
0,034
0,034
0,034
0,025
0,034
0,034
0,114*
0,034
0,034
0,034
0,034
0,034
0,043
0,034
0,034
0,114*
0,034
0,043
0,034
0,034
0,034
0,043
0,043

Tanda * menunjukkan nila sig 0,05 yang berarti tidak


terdapat
tersebut.

perbedaan

bermakna

antara

kelompok

117

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Fathia Mahmudah yang dilahirkan di Negara tanggal 9


Februari 1992. Penulis merupakan anak pertama dari Bapak Asariusni dan Ibu
Orhani.
Penulis menempuh pendidikan resmi pertama di TK Enggang Putih pada tahun
1997 dan ditamatkan pada tahun 1998. Penulis melanjutkan pendidikan di SDN
033 Samarinda dan tamat pada tahun 2004. Selanjutnya penulis melanjutkan
pendidikan ke SMP N 4 Samarinda dan ditamatkan pada tahun 2007. Pendidikan
kefarmasian kemudian dimulai pada tahun yang sama di SMK Farmasi ISFI
Banjarmasin selama 3 tahun dan tamat pada tahun 2010. Penulis melanjutkan
jenjang pendidikan kefarmasian di Akademi Farmasi Samarinda dari tahun 2010
hingga 2013.
Penulis pernah melaksanakan praktek kerja lapangan di RS A.W Sjahrnie
Samarinda, Puskesmas Sempaja Samarinda dan Apotek Sentra Medika Samarinda
pada tahun 2013. Penulis menyelesaikan pendidikan di Akademi Farmasi
Samarinda dengan melaksanakan Tugas Akhir dengan Judul Karya Tulis Ilmiah
Formulasi dan Uji Aktivitas Pertumbuhan Rambut Pada Kelinci dari
Sediaan Hair Tonic Ekstrak Daun Seledri (Apium graveloens L.)

Anda mungkin juga menyukai