Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam teknologi penambangan bawah tanah ada dua masalah pokok
yang menjadi kendala pada saat pelaksanaan, yaitu :

Segi Mekanika Batuan


Apakah sistem tambang bawah tanah yang akan diterapkan dapat
ditunjang oleh sistem penyanggaan terhadap bukaan-bukaan di dalam
tambang. Apakah masih menguntungkan untuk dilakukan penambangan
dengan menggunakan sisitem penyanggaan yang diperlukan.

Segi Ventilasi Tambang


Apakah pada kedalam tambang yang akan dihadapi masih
dimungkinkan untuk melakukan pengaturan udara agar penambangan
dapat dilaksanakan dengan suasana kerja dan lingkungan kerja yang
nyaman.

1.2. Maksud dan Tujuan


Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu
tugas dari mata kuliah Ventilasi Tambang Jurusan Teknik Pertambangan Institut
Sains & Teknologi TD.Pardede Medan.

1.3. Batasan Masalah


Sesuai dengan Judul yang dibuat maka Penulis membuat batasan atau
ruang lingkup pembahasan,adapun masalah yang dibahas ialah : Gambaran umum
Perencanaan ventilasi tambang
1.4. Metode Penulisan
Dalam pembuatan makalh ini Penulis menggunakan beberapa metode
penelitian antara lain menggunakan metode pendekatan deskripsi,yaitu dengan

melakukan mengambil data-data dari internet yang bisa menjadi nilai tambah
terhadap topik yang dibahas dan melaui studi perpustakaan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. PERENCANAAN VENTILASI TAMBANG DALAM
Pada tambang batu bara bawah tanah, diasumsikan bisa terjadi berbagai
jenis bencana/ kecelakaan yang sama sekali tidak terbayangkan pada industri lain.
Sebagai contoh misalnya; di Jepang pernah terjadi beberapa kali kecelakaan
tambang batu bara bawah tanah. Diantaranya yang paling mengerikan adalah
ledakan gas dan debu batu bara. Sudah barang tentu, penyebabnya adalah
keberadaan gas metan yang mencapai batas ledakan. Pada terowongan (pit)
tambang batubara bawah tanah, hal yang paling penting dari segi keamanan
adalah mengencerkan dan menyingkirkan gas metan CH 4 yang timbul dari lapisan
batu bara, dengan menggunakan sistem ventilasi. Oleh karena itu, perencanaan
ventilasi merupakan masalah khas tambang batu bara bawah tanah yang perlu
ditentukan dengan perencanaan yang sungguh-sungguh
Dalam rangka penentuan rencana pembuatan ventilasi tambang, sebaiknya
dipertimbangkan persyaratan-persyaratan seperti di bawah ini:

Konstruksinya harus dibuat sedemikian rupa, agar ventilasi yang


diperlukan untuk pengembangan pit kedepan, dapat dilakukan secara
ekonomis, dan konstruksinya dibuat dengan memiliki kelonggaran
(kelebihan) udara ventilasi secukupnya, untuk mengantisipasi
pertambahan atau perkembangan pit di kemudian hari, serta peningkatan
gas yang mungkin timbul akibat dari penambangan batubara.
Struktur yang diinginkan untuk metode ventilasi pada jenis ventilasi utama
adalah sistem diagonal . Sedangkan pembuatan vertical shaft, khusus
dilakukan terhadap kondisi penambangan bagian dalam. Selain itu, pada
tempat yang sulit dilakukan penggalian vertical shaft (misalnya tambang
batu bara dasar laut), diharapkan memiliki inclined shaft khusus dengan
penampang berbentuk lingkaran. Selain itu konstruksinya dibuat
sedemikian rupa agar tahanan ventilasi utama menjadi sekecil mungkin,
dan memungkinkan mengambil ventilasi cabang sebanyak mungkin dari
terowongan ini.
Dalam melaksanakan pengembangan pit dan penambangan serta dilihat
dari segi konstruksi pit, penting kiranya dibuat ventilasi pada permukaan
kerja. Sehingga penambangan batu bara dan penggalian maju menjadi
independen secara sempurna. Selain itu untuk daerahpenambangan yang
luas, diharapkan mempunyai sistem ventilasi, baik intake air maupun
exhaust air, yang terpisah dari daerah lain.
2

1. Penentuan Ventilasi Yang Diperlukan


Penentuan ventilasi yang diperlukan harus dilakukan dengan
mempertimbangkan hal-hal di atas. Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas,
hal-hal yang dapat menjadi referensi dalam perancangan ventilasi secara konkrit.
a. Jumlah udara masuk per ton produksi batu bara sehari.
Dari hasil aktual di tambang batu bara Jepang, per ton produksi batu bara
sehari adalah sekitar 1~8 (m3/min). Angka ini akan berbeda menurut jumlah
pancaran gas, tingkat pemusatan permuka kerja dan jumlah aliran cabang, dimana
pada pit bawah tanah yang jumlah pancaran gasnya banyak, angka ini umumnya
di atas 4 (m3/min). Dari contoh di lapangan batu bara Eropa dikatakan bahwa, pit
bawah tanah yang tidak ada masalah dari segi pancaran gas dan kondisi pit, angka
ini adalah 2 (m3/min), pit yang baru mulai konstruksi adalah 3(m 3/min) dan pit
yang mempunyai masalah dari segi kondisinya adalah sekitar 4 (m3/min).

b. Hal-hal yang ditentukan di dalam peraturan keselamatan tambang batu bara


mengenai udara pit bawah tanah adalah sebagai berikut, sebagai contoh;
Peraturan keselamatan tambang batu bara Jepang memberi koridor sbb;

Kandungan oksigen pada udara di dalam pit harus lebih besar dari
19% dan kandungan gas karbon diosida harus lebih kecil dari 1%.

Kandungan gas dapat terbakar di dalam exhaust air aliran cabang


utama serta di lokasi kerja harus lebih kecil dari 1,5% dan di dalam aliran
udara ditempat lalu lintas di dalam pit harus lebih kecil dari 2%.
Temperatur udara di lokasi kerja di dalam pit harus lebih rendah dari
o
37 C.
Jumlah udara ventilasi di mulut pit intake mengambil standar jumlah
udara maksimum untuk pekerja tambang yang bekerja dalam waktu
bersamaan di dalam pit selama satu hari, dan untuk tambang batu bara
kelas A harus dibuat lebih besar dari 3 m3 per menit per orang.
Kecepatan udara ventilasi harus lebih rendah dari 450 m/menit.
Kecuali pada vertical shaft dan terowongan khusus untuk ventilasi boleh
ditingkatkan sampai 600 m/menit.

2. Struktur Pit Dilihat Dari Segi Ventilasi.


a.

Sistem Terpusat dan Sistem Diagonal

Pada waktu pembangunan tambang batu bara, 2 buah inclined shaft atau
vertical shaft digali saling berdekatan, misalnya slope utama dan slope paralel,
heading utama dan heading paralel, intake shaft dan exhaust shaft, dimana salah
satunya dijadikan intake air dan satunya lagi return air, dan sampai pit
berkembang ke tahap tertentu.
ventilasi dilakukan melalui intake dan return airway ini. Metode
ventilasi dimana intake airway dan return airwaynya saling berdekatan
dinamakan ventilasi sistem terpusat.
Dengan berkembang dan meluasnya pit, airway menjadi semakin
panjang, dan tekanan ventilasi yang diperlukan juga semakin besar, sehingga pada
ventilasi sistem terpusat, tahanan ventilasinya membesar, dan selain itu, karena
intake dan return airway berdekatan, bersamaan dengan meningkatnya tekanan
ventilasi, angin bocor semakin meningkat, hingga jumlah angin efektif berkurang.
Oleh karena itu, biasanya ditempat yang terpisah jauh digali return airway baru,
sedangkan heading utama dan heading paralel yang digunakan selama ini,
keduanya dijadikan intake airway. Metode ventilasi yang intake dan return
airwaynya terpisah jauh seperti ini disebut ventilasi sistem diagonal.
Keunggulan ventilasi sistem diagonal antara lain adalah:
1). Pemanjangan airway utama dapat dikurangi drastis. Jadi tahanan
ventilasi dan biaya perawatan terowongan dapat berkurang.
2). Karena intake airway dan return airway tidak berdekatan, kebocoran
angin diantaranya berkurang, dan pintu ventilasi serta jembatan angin tidak
perlu banyak.
3). Seandainya terjadi bencana seperti ledakan di dalam pit, pemulihan
sistem ventilasi mudah dilakukan.
4). Karena mulut pit intake dan outtake terpisah jauh, tidak ada
kekhawatiran exhaust air bercampur masuk ke dalam intake air akibat
arah angin.
b. Pembagian Aliran Udara
Aliran cabang utama pada ventilasi pit bawah tanah, pecah menjadi
beberapa aliran cabang, kemudian setiap aliran cabang terbagi lagi untuk menyapu
permuka kerja dan menjadi exhaust air. Lama-lama aliran cabang exhaust air
lain juga berkumpul dan bergabung dengan exhaust air utama dan dibuang ke
luar pit. Berpecah dan mengalirnya aliran udara seperti ini disebut pembagian
aliran udara atau pencabangan aliran udara.
Pembagian aliran udara mempunyai efek sebagai berikut:
1). Tahanan ventilasi menjadi kecil karena pembagian, sehingga dengan
memakai kipas angin yang sama dapat dilakukan ventilasi udara lebih
banyak.

2). Dapat mengantarkan udara segar kesetiap permuka kerja disetiap blok.
3). Apabila di airway terjadi kerusakan seperti caving, pengaruhnya
dapat dibatasi pada satu blok saja.
4). Pengaruh bencana seperti kebakaran pit, semburan gas, swabakar dan
ledakan dapat dibatasi pada satu blok.
5). Dapat mengurangi kecepatan angin di terowongan utama.
6). Dapat mengantarkan udara bertemperatur relatif rendah hingga kedekat
permukaan kerja.
Semua hal diatas adalah nerupakan efek utama dari pembagian aliran
udara. Mengenai pembagian aliran udara, terutama untuk ventilasi di permuka
kerja penambangan, peraturan keselamatan tambang batu bara mengatur hal
sebagai berikut:

Pada tambang batu bara kelas A, exhaust air dari lokasi


penambangan batu bara sistem lorong panjang (long wall) atau gob tidak
boleh dilakukan ke lokasi penambangan lain. (Kecuali ada alasan khusus
dan mendapat izin dari kepala bagian pengawasan keselamatan tambang,
maka hal tersebut diperbolehkan).

Demikianlah, setiap permukaan kerja penambangan harus mempunyai


ventilasi yang berdiri sendiri. Bukan saja di permuka kerja penambangan, tetapi di
permuka kerja lubang majupun diharapkan menerapkan ventilasi independen
dengan mempertimbangkan gas yang muncul.
Metode pembagian aliran udara terdiri dari pembagian aliran alami dan
pembagian aliran proporsional. Pembagian aliran alami adalah metode pembagian
aliran secara alami tanpa menggunakan alat pembagi aliran ataupun kipas angin
pembantu. Sedangkan pembagian aliran proporsional adalah metode pengaturan
jumlah udara ventilasi dengan menggunakan peralatan seperti fan atau kipas
angin. Tergantung dari tahapan pembagiannya, pembagian aliran udara dapat
dibagi menjadi pembagian aliran primer, pembagian aliran sekunder dan
pembagian aliran permuka kerja, seperti terlihat pada gambar 19 berikut :

Pembagian Aliran Ventilasi


Hal penting yang berikutnya adalah bagaimana strukturnya harus dapat
mencegah kebocoran angin untuk meningkatkan jumlah angin efektif. Masalah ini
bukan saja untuk maksud menyingkirkan gas di lokasi kerja yang merupakan
tujuan utama, tetapi dilihat dari segi pencegahan swabakar dan ekonomi daya
ventilasi juga penting. Untuk mencapai tujuan tersebut, jaringan ventilasi
utamanya menggunakan sistem diagonal (mengenai sistem ini akan dijelaskan
kemudian) dengan menggali ventilation shaft di bagian dalam, sementara
sebagian cara efektif pada konstruksi panel digunakan sistem struktur ruang.
3. Ventilasi Utama
a. Jenis Ventilasi Utama
Ventilasi utama terdiri dari jenis-jenis berikut.
Penggolongan berdasarkan metode pembangkitan daya ventilasi,
terdiri dari : Ventilasi alami dan ventilasi mesin
Penggolongan berdasarkan tekanan ventilasi pada ventilasi mesin,
terdiri dari : Ventilasi tiup dan ventilasi sedot.
Penggolongan berdasarkan letak intake dan outtake airway, terdiri
dari : Ventilasi terpusat dan ventilasi diagonal
b. Ventilasi Alami
Setiap kenaikan atau penurunan temperatur sebesar 1oC, semua
jenis gas akan memuai atau menyusut sebesar 1/273 kali volumenya
pada 0oC. Dengan kata lain, berat per satuan volume akan bertambah
atau berkurang sebesar 1/273 kali.
Temperatur di permukaan (di luar pit) berubah secara drastis
tergantung dari musim (terutama di negara 4 musim). Dalam satu hari,
temperatur di luar pit juga mengalami perubahan kecil dari siang ke
malam. Tetapi, temperatur di dalam pit pada kedalaman tertentu hampir
tidak ada perubahan yang besar sepanjang 4 musim atau malam dan
siang. Temperatur di dalam pit yang panas buminya tidak tinggi, pada
musim panas lebih rendah daripada temperatur udara luar. Sehingga,
apabila terdapat perbedaan temperatur intake airway dan return airway
yang ketinggian mulut pit intake dan outtakenya berbeda, akan timbul
perbedaan kerapatan udara di dalam dan di luar pit atau udara di intake
airway dan return airway akibat temperatur, sehingga membangkitkan
daya ventilasi. Penyebab yang dapat membangkitkan daya ventilasi
adalah sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)

Perbedaan tinggi mulut pit intake dan outtake


Perbedaan tempetarur intake dan return airway
Perbedaan temperatur di dalam dan luar pit
Komposisi udara di dalam pit.
Tekanan atmosfir
6

Pada suatu pit yang mempunyai 2 buah mulut pit yang ketinggiannya
berbeda seperti gambar di bawah, dimana pada musim panas temperatur di dalam
pit lebih rendah dari pada temperatur luar.
Maka udara di dalam pit menjadi lebih berat dari pada udara di luar pit
yang sama-sama mempunyai tinggi L, sehingga mulut pit bawah menjadi
outtake/exhaust. Pada musim dingin terjadi kebalikannya.

Kondisi Ventilasi Alami


Dalam kasus ni, daya ventilasi dapat dinyatakan dengan rumus berikut:

h=

4,17
L(t ta )
1.000

dimana:
h = tekanan ventilasi (mmaq
L = perbedaan tinggi (m)
t = temperatur exhaust air (oC)
ta = temperatur udara luar (oC)

Ventilasi alami pada vertical shaft


L1
T1

L2 ..
t2 ..

Kedalaman kedua vertical shaft (m)


Temperatur kedua vertical shaft (oC)

H=

4,17
L L x (t ta ) L (t t )
2
1 2 1
1.000 2 1

Seandainya kedua vertical shaft berada pada level yang sama, maka L 1-L2
menjadi 0, sehingga rumus ini menjadi

4,17
L (t t )
1.000 1 2 1

Ventilasi alami terutama terjadi karena perbedaan temperatur di dalam dan


luar pit, maka ketika perbedaannya kedil pada musim semi dan gugur, daya
ventilasi semakin berkurang, bahkan kadang kala disuatu hari atau karena siang
dan malam aliran ventilasi berbalik, atau kadang-kadang sama sekali tidak
mengalir. Olah karena itu, selain tambang batu bara yang sama sekali tidak timbul
gas metan, tambang batu bara yang sedikit sekali saja timbul gas, ventilasi yang
dilakukan dengan metode ini berbahaya. Namun, karena pada ventilasi mesinpun,
daya ventilasi alami ini tetap bekerja, maka harus dipikirkan untuk
memanfaatkannya sedapat mungkin. Selain itu, apabila idak ada kipas angin
cadangan pada waktu kipas angin utama sedang diperbaiki, sedapat mungkin
perbaikan dilakukan pada musim panas atau dingin, yaitu ketika daya ventilasi
alami bekerja kuat.
3. Ventilasi Mesin
Metode yang menggunakan kipas angin untuk melakukan ventilasi dengan
menciptakan tekanan ventilasi (positif atau negatif) di mulut pit intake/outtake.
Pada metode ini, dipilih kipas angin yang paling sesuai dilihat dari jumlah udara
ventilasi yang diperlukan dan perbedaan tekanan ventilasi untuk mengalirkan
jumlah udara tersebut.
c. Ventilasi Sistem Tiup dan Ventilasi Sistem Sedot
Ventilasi sistem tiup adalah metode ventilasi yang membangkitkan tekanan
di mulut intake yang lebih tinggi (tekanan positif) dari pada tekanan atmosfir,
untuk meniup masuk udara dalam pit. Apabila kipas angin utama dijalankan
dengan metode ini gas metan akan terperangkap di dalam gob atau dinding batu
bara, sehingga senadainya kipas angin berhenti beroperasi, ada bahaya gas
tersebut mengalir ke dalam terowongan atau lokasi kerja dalam waktu bersamaan.
Selain itu, pada sistem ini pintu ventilasi harus dibuat di mulut pit intake,
sehingga menjadikannya sebagai terowongan transportasi akan merepotkan, dan
juga banyak kebocoran angin. Untuk meniadakan kelemahan ini, memang return
airway bisa dijadikan sebagai terowongan transportasi, namun ditinjau dari segi
keamanan terhadap fasilitas transportasi sebaiknya dihindari.
Kebalikan dari sistem tiup, maka pada sistem sedot, kipas angin
ditenpatkan di mulut pit outtake, membangkitkan tekanan yang lebih rendah

(tekanan negatif) dari pada tekanan atmosfir, untuk menyedot keluar udara dari
dalam pit. Karena tidak ada kelemahan seperti ventilasi tiup yang ditulis di depan
maka saat ini ventilasi di tambang batu bara menggunakan metode ini.
4. Teori Ventilasi
a. Tahanan Ventilasi
Pada waktu air lewat di dalam pipa besi, akan mengalami tahanan karena
jumlah aliran air, kecepatan, ukuran pipa besi dan sifat permukaan dalam pipa
besi. Sama seperti kasus air tersebut, aliran udara yang melewati terowongan juga
akan menerima tahanan yang berbeda menurut jumlah aliran udara, kecepatan,
ukuran terowongan, panjang terowongan, belokan dan bentuk keliling
terowongan. Namun, karena sifat cairan dan gas sangat berbeda, sifat tahanan
yang diterima juga akan berbeda.
Untuk melakukan ventilasi, harus diberikan daya ventilasi yang dapat
mengatasi tahanan ini. Tahanan ini disebut tahanan ventilasi, yang mana akan
mengalami perubahan karena kecepatan, jumlah aliran udara dan keadaan pit,
seperti berikut ini:

Seperti dapat dilihat pada rumus di depan, untuk terowongan yang


sama, tahanan ventilasi sebanding dengan kuadrat kecepatan aliran udara.
Artinya, kalau kecepatan menjadi 2 kali, tahanan menjadi 2 x 2 = 4 kali,
dan saat kecepatan menjadi 3 kali, tahanan menjadi 9 kali. Untuk
terowongan yang sama jumlah aliran udara sebanding dengan kecepatan
udara, sehingga untuk jumlah aliran udara juga dapat dikatakan hal yang
sama. Misalnya, pada suatu terowongan yang tiap menitnya dilewati 2.000
m3 udara, apabila jumlah aliran udaranya langsung dijadikan 4.000 m 3,
maka tahanan yang diterima menjadi 4 kali lipat.

Tahanan ventilasi sebanding dengan panjang airway


Tahanan ventilasi berbanding terbalik dengan luas penampang
terowongan dan berbanding lurus dengan panjang keliling penampang
terowongan. Jadi, apabila luas penampang terowongannya tertentu, maka
makin pendek panjang keliling, makin kecil tahanannya. Dengan
demikian, bentuk lingkaran atau yang mendekatinya merupakan bentuk
airway yang ideal.
Tahanan ventilasi tergantung dari bentuk permukaan dinding dalam
terowongan. Biasanya tahanan tersebut yang dinyatakan secara kuantitatif
disebut koefisien gesek terowongan.

5. Koefisien Gesek
Koefisien gesek berbeda menurut metode penyanggaan terowongan. Tabel
berikut adalah koefisien gesek untuk tiap jenis terowongan.
Koefisien Gesek Tiap Jenis Terowongan

Jenis terowongan
Tipe busur
Terowongan
telanjang
Penyangga kayu

Lapis batu bata


Lapis beton
Steels sets
Biasa
Banyak tonjolan
Biasa
Tidak beraturan

Permuka kerja
Seluruh Pit
Vertical shaft

Besar
0,00072

Kecil
0,00030

0,00130

0,00037

0,00237

0,00087

0,00424
0,00240

0,00154
0,00020

Rata-Rata
0,00055
0,00069
0,00140
0,00081
0,00207
0,00166
0,00414
0,00264
0,00222
0,00130

Tahanan Belokan
Tahanan ventilasi meningkat drastis dibelokan terowongan, ditempat yang
menyempit, serta pada tempat terjadinya tabrakan aliran udara. Tahanan yang
timbul dibelokan disebabkan oleh kerugian energi akibat aliran udara yang
berlebih. Mengenai hal ini, Petit dari Perancis telah mengukur tahanan belokan
dengan saluran kayu berbentu persegi panjang, dimana tahanan tersebut
dinyatakan dalam panjang saluran kayu yang lurus dengan penampang yang sama.
Hasilnya adalah seperti pada gambar kanan. Artinya, belokan tegak lurus akan
menimbulkan tahanan yang setara dengan 82,3 m terowongan lurus. Sedangkan,
apabila belokan dijadikan bentuk lingkaran, tahanannya menjadi hanya 7 m.

Gesekan Pada Bagian Belokan Terowongan


Rumus Perhitungan Tahanan Ventilasi
Untuk melakukan jumlah aliran udara yang sama, makin besar tahanan
ventilasi, diperlukan tekanan ventilasi yang makin besar. Untuk itu, tahanan
ventilasi dinyatakan dengan tekanan ventilasi.
Kalau hal-hal yang berhubungan dengan tahanan ventilasi seperti yang
diuraikan di atas dinyatakan dalam rumus, akan menjadi sebagai berikut.

K
h=

uL 2
v
a

10

h = tekanan ventilasi (mm air)


K = koefisien gesek terowongan (tabel, satuan: Kgs2/m4)
u = panjang keliling penampang terowongan (m)
L = Panjang terowongan (m)
a = Luas penampang terowongan (m2)
v = kecepatan angin (m/s)
Pada rumus di atas, kecepatan aliran adalah jumlah aliran dibagi luas

Q
a

penampang artinya v =
(Q = jumlah aliran). Dengan substitusi v ke dalam
rumus di atas, maka menjadi :

uLQ 2
K
a3

h=
Artinya, pada rumus yang tidak memasukkan kecepatan angin, tahanan
ventilasi berbanding terbalik dengan pangkat 3 luas penampang terowongan.
Rumus Umum Atkinson
Sebagai rumus umum ventilasi untuk menghitung penurunan tekanan
akibat gesekan pada waktu udara mengalir di dalam terowongan, ada rumus
umum Atkinson yang masih digunakan secara luas hingga kini. Rumus tersebut
adalah sebagai berikut:

hK

L.u.v 2
L.u.Q 2
K
a
a3

h = Penurunan tekanan akibat gesekan (mm air)


L = Panjang terowongan (m)
u = Panjang keliling penampang terowongan (m)
v = Kecepatan angin rata-rata (m/detik)
a = Luas penampang terowongan (m2)
Q = Jumlah angin (m3/detik)
K = Koefisien tahanan gesek terowongan
Tahanan Jenis
Rumus Atkinson merupakan konstanta yang ditentukan oleh kondisi
terowongan, dan disebut sebagai tahanan spesifik atau tahanan jenis terowongan
( R ). Karena nilai R mempunyai angka desimal yang sangat kecil, maka untuk
aplikasinya digunakan murgue dengan mengalikan 1.000. Jika M adalah murgue,
maka;

11

L.u
x1.000 (murgue) .......... .......(1)
3
a

M =
= R x 1.000 (murgue)

Sehingga rumus Atkinson menjadi seperti berikut:

K
H=

L.u.Q 2
M

xQ2.......... .........( 2)
3
1.000
a

Artinya, tahanan ventilasi (h) sebanding dengan kuadrat jumlah angin, dan
makin besar tahanan jenisnya makin besar pula tahanan ventilasinya.
Dewasa ini, perhitungan jaringan ventilasi hampir semuanya dilakukan
dengan komputer, namun apabila sebagai tahanan jenis yang menjadi dasar
perhitungan digunakan nilai tahanan jenis (M) yang dihitung dari persamaan (1),
adakalanya menimbulkan kesalahan pada hasil perhitungan, sehingga sebaiknya
dilakukan pengukuran langsung tahanan jenis dengan barometer tambang.
a) Penggabungan Tahanan Jenis
-Penggabungan seri
Andaikan Airway dengan tahanan jenis R1 dan airway dengan tahanan jenis
R2 saling dihubungkan secara seri seperti (a) pada gambar di sebelah kanan,
dimana ditengahnya sama sekali tidak ada cabang airway, baik memisah maupun
menggabung. Dalam hal ini, jumlah angin, V, dimanapun sama.
Penurunan tekanan yang terjadi di masing-masing airway adalah R 1V2 dan
R2V2. Seandainya 2 buah airway tersebut dianggap sebagai 1 buah airway dan
tahanan jenisnya R, maka
h = RV2
Seperti diuraikan di atas, karena
h = R1V2 + R2V2
Maka sudah pasti
R = R 1 + R2
Dengan cara yang sama, apabila beberapa airway dihubungkan secara seri,
dimana tahanan jenis masing-masing adalah R1, R2, R3, dst, dan tahanan jenis
keseluruhan adalah R, maka
R = R1 + R2 + R3 + .

12

- Penggabungan paralel
Andaikan 2 buah airway dengan tahanan jenis masing-masing R1 dan R2
saling dihubungkan secara paralel seperti (b) pada gambar di atas, dimana
ditengahnya sama sekali tidak ada cabang airway memisah maupun menggabung.
Apabila jumlah aliran pada masing-masing airway adalah V1 dan V2, maka
penurunan tekanan masing-masing adalah R1V12 dan R2V22. Namun, pnurunan
tekanan tersebut seharusnya sama. Apabila nilai penurunan tekanan adalah h,
maka
H = R1V12 = R2V22
Jadi

h
dan V
2
R
1

h
R
2

V1 =
Daya Ventilasi
Seperti diuraikan di depan, untuk melakukan ventilasi harus dibangkitkan
tekanan ventilasi yang cukup untuk mengatasi tahanan ventilasi. Daya teoritis
yang diperlukan untuk mengatasi tahanan tersebut dinamakan daya ventilasi (atau
daya penggerak udara), yang dapat dinyatakan dengan rumus berikut.

hQ
75

N=
N = daya penggerak udara (HP)
h = tekanan ventilasi (mm)
Q = jumlah angin ventilasi (m3/detik)
Kenyataannya, dengan mempertimbangkan efisiensi kipas angin serta
motor, dan perluasan pit dikemudian hari, daya yang diperlukan untuk operasi
kipas angin biasanya diambil 1,5 ~ 3 kali daya penggerak udara menurut
perhitungan diatas.
Metode yang paling efektif untuk menerobis kebuntuan ventilasi akibat
perluasan daerah penambangan, perpindahan daerah penambangan ke tempat

13

dalam dan peningkatan gas yang timbul adalah menggali ventilation shaft (vertical
shaft untuk ventilasi) dibagian yang sedalam mungkin. Dengan melakukan itu,
seringkali semua masalah yang berhubungan dengan f, L, v dan Da dapat
diselesaikan.
Salah satu metode konstruksi pit untuk mengurangi tahanan ventialasi
adalah intake dan return airway utama dibuat berpenampang besar, kemudian
memperbanyak ventilasi cabang. Dengan demikian, bukan saja akan mengurangu
tahanan ventilasi tetapi dapat menyuplai udara segar dan temperatur rendah ke
setiap blok, dan apabila ternyata terjadi bencana seperti kebakaran pit, dapat
mencegah perluasan daerah yang terkena.
Seperti telah dijelaskan di atas, tahanan ventilasi merupakan hal yang
sangat penting bagi jumlah udara ventilasi. Oleh karena itu, kita teruskan
permbahasan yang lebih rinci lagi.
Sekarang, andaikan ada terowongan berpenampang persegi panjang
dengan lebar b dan tinggi b/2, maka
u = 2b + b = 3b (1)
a = b x b/2 = b2/2 . (2)
Apabila (1) dan (2) disubstitusi ke dalam rumus umum Atkinson, maka

L.3b.Q 2
L.Q 2
hK
24K
b5
b6 / 8

Seperti diuraikan di depan, koefisien gesek terowongan berlapis beton


adalah dari koefisien gesek terowongan dengan steel sets, sehingga apabila
jumlah angin ventilasi dan panjang terowongannya sama, maka dapat dikatakan
terowongan lapis beton dengan lebar 1 secara ventilasi nilainya ekuivalen dengan
terowongan steel sets dengan lebar 1,15.
-Teori Kipas Angin
Kipas angin adalah mesin yang disekitar porosnya dipasangi sejumlah
sayap, dan dengan memutarnya memberikan gaya sentrifugal atau gaya dorong
kepada udara untuk membangkitkan angin. Teorinya sangat sulit, dan dalam
kesempatan ini akan diuraikan secara ringkas mengenai tahanan kipas angin dan 3
kaidah kipas angin.
a. Tahanan Kipas Angin
Pada waktu kipas angin berputar dan udara melewati kipas, timbul tahanan
karena gesekan dengan sayap dan pelat luar, serta tabrakan udara. Besar tahanan
ini berbeda menurut tipe serta kapasitas kipas angin, dimana kipas angin yang
tahanannya kecil berarti kipas angin yang efisien.
Tahanan kipas angin adalah tahanan yang sifatnya sama dengan tahanan
ventilasi di dalam pit. Sama seperti ketika melakukan ventilasi di dalam pit,
dimana tahanan pit tersebut dinyatakan dengan lubang ekuivalen (equivalent
14

orifice), maka tahanan kipas angin juga dinyatakan dengan equivalent orifice,
tetapi pada kipas angin disebut sebagai lubang lewat kipas angin (passage orifice
of fan).
b. 3 kaidah Kipas Angin
Diantara jumlah putaran, jumlah angin, perbedaan tekanan dan daya kipas
angin terdapat hubungan sebagai berikut. Hal ini dinamakan 3 kaidah kipas angin.
Kaidah ke 1
Perbedaan tekanan efektif kipas angin berbanding lurus dengan kuadrat
jumlah putaran
c. Kurva Karakteristik Kipas Angin
Untuk mengetahui sifat dan kemampuan kipas angin, hubungan antara
jumlah (kapasitas) ventilasi dan perbedaan tekanan efektif dicari melalui
pengukuran langsung, kemudian dinyatakan dalam grafik, yang disebut sebagai
kurva karakteristik kipas angin.
Untuk memperoleh kurva karakteristik, putaran kipas angin dijaga konstan
selanjutnya luas penampang jalan udara diubah-ubah dan dicari jumlah angin,
daya poros, tekanan angin dan efisiensi, untuk setiap luas penampang. Hubungan
tersebut digambarkan sebagai kurva pada grafik, dengan mengambil jumlah angin
sebagai sumbu datar, serta efisiensi, tekanan angin dan daya poros sebagai sumbu
tegak.
Gambar di bawah ini adalah satu contoh kurva karakteristik kipas angin.

Dari kurva karakteristik tersebut dapat diketahui, pada jumlah angin


berapa atau harus dibuat berap perbedaan tekanan efektifnya, agar kipas angin
tersebut bekerja pada efisiensi yang terbaik. Kurva karakteristik ini sangat penting
dalam manajemen kipas angin, dan diperlukan sekali pada waktu pemilihan kipas
angin, perubahan jumlah putaran, operasi gabungan dan perencanaan pembagian
aliran. Penjelasan mengenai operasi gabungan kipas angin utama tidak diberikan
disini.
Pf = tekanan negatif

= efisiensi PS = daya kuda poros

15

1.Perhitungan Ventilasi
a.Apabila memungkinkan penggabungan tahanan jenis
Apabila seluruh tahanan jenis airway yang menyusun jaringan terowongan
dapat dinyatakan dalam satu kesatuan jaringan airway, yaitu dengan
menggabungkan secara seri dan paralel, maka perhitungan jumlah angin menjadi
mudah. Yakni dapat dihitung dari h = RV2 (catatan: telah dijelaskan di depan).
b.Apabila diberikan kurva karakteristik kipas angin
Tekanan ventilasi alami PN boleh diasumsikan tidak berubah menurut
jumlah ventilasi. Namun, tekanan yang dibangkitkan kipas angin P F berubah besar
tergantung jumlah angin yang dihasilkan, sehingga tanpa mempertimbangkan hal
ini, tidak dapat diperoleh jumlah angin yang benar.
Untuk mencari jumlah angin dari kurva karakteristik kipas angin yang
diberikan, metode analisa grafik adalah cara yang mudah.

Pertama-tama, tekanan ventilasi alami diasumsikan nol. Pada gambar di


atas, kurva karakteristik kipas angin adalah I. Pada sumbu tegak grafik ini,
diambil kerugian tekanan (h) dan pada grafik digambarkan kurva II yang
menunjukkan hubungan h = RV2.
Kurva ini adalah setengah bagian sebelah kanan dari garis parabola dengan
sumbu tegak sebagai sumbu simetris. Seluruh jumlah angin yang diventilasikan
sama dengan jumlah angin yang dihasilkan oleh kipas angin, dan takanan yang
hilang karena vetilasi sama dengan tekanan yang dibangkitkan oleh kipas angin.
Sehingga, absis dari titik potong kurva I dan II merupakan seluruh jumlah angin,
V1, dan ordinat dari titik potong merupakan tekanan kipas angin, PRF1.
a.Rumus Dasar Perhitungan Ventilasi Yang Umum
Apabila jaringan airway di dalam pit tidak bisa disubstitusi oleh satu airway
yang nilainya setara, dengan memanfaatkan rumus umum penggabungan seri dan
paralel tahanan jenis, maka perhitungan jumlah angin menjadi repot. Dalam hal
ini dihitung dengan menggunakan komputer dan berikut ini akan dijelaskan pola
pikir dasar untuk melakukan itu.
Ada 3 hubungan yang menjadi dasar perhitungan jumlah angin pada setiap
airway di dalam jaringan sirkuit ventilasi yang diberikan, yaitu:

16

1.Kerugian tekanan terhadap airway manapun dapat dinyatakan oleh rumus


berikut.
H = RV2 (1)
Pertama-tama arah aliran udara pada setiap airway diasumsikan sembarang.
Apabila udara ternyata mengalir ke arah tersebut, V diberi tanda positif, dan
apabila udara mengalir ke arah yang berlawanan, V diberi tanda negatif, maka
rumus di atas dapat ditulis kembali sebagai berikut:
H = RV V (2)
1.Untuk titik hubung (pertemuan) airway manapun, seluruh jumlah aliran
udara yang mengalir menuju titik hubung sama dengan seluruh jumlah aliran
udara yang mengalir menjauhi titik tersebut. Artinya, disini berlaku persyaratan
kontinuitas. Andaikan jumlah aliran udara yang menuju dan meninggalkan satu
titik hubung adalah V1, V2, V3, .., dimana jumlah aliran udara yang menuju titik
hubung diberi tanda negatif, maka persyaratan kontiunitas dapat dinyatakan
dengan rumus berikut.
V1 + V2 + V3 + = 0 .. (3)
1.Untuk sirkuit manapun, jumlah matematis kerugian tekanan yang terjadi
di airway yang menyusunnya, sama dengan jumlah tekanan yang dibangkitkan
kipas angin yang berada di sirkuit tersebut dan ventilasi alami.
-Ventilasi Lokal
Tujuan utama ventilasi adalah mengamankan pit dengan mengirimkan udara
yang cukup ke lokasi kerja untuk menyingkirkan gas.
Diantara ventilasi permuka kerja, ada yang melakukan ventilasi dengan
membawa masuk intake air secara langsung, seperti ventilasi permuka kerja
penambangan, dan ada yang mengirimkan angin yang dibangkitkan oleh kipas
angin lokal, air jet dan lain-lain, dengan menggunakan saluran udara (air duct)
seperti pada ventilasi permuka kerja penggalian maju.
Ventilasi lokal termasuk ke dalam kelompok kedua, yang mana melakukan
ventilasi menggunakan kipas angin lokal, air jet dan lain-lain. Disini akan
diuraikan pokok-pokok umum mengenai ventilasi lokal dan ventilasi permuka
kerja penambangan batu bara.
a. Pokok Perhatian Terhadap Ventilasi Permuka Kerja
1. Ventilasi permuka kerja penambangan yang mempunyai
kemiringan, harus dilakukan dengan mengalirkan udara dari bagian
bawah ke bagian atas. (Mengenai hal ini, peraturan keselamatan
tambang batu bara Jepang menetapkan, bahwa di lokasi kerja
penambangan batu bara sistem lorong panjang pad atambang batu
bara kelas A, tidak diperbolehkan melakukan ventilasi mengarah ke

17

bawah. Kecuali ada alasan khusus seperti lapisan batu baranya


landai, dan mendapatkan izin dari kepala bagian pengawasan
keselamatan tambang).
2. Intake dan return airway permuka kerja penambangan dapat
mengalami penyempitan dengan majunya permuka kerja, sehingga
terowongan tersebut senantiasa harus dijaga pada ukuran yang
telah ditentukan.
3. Pada permuka kerja sistem mundur, ada kemungkinan gas pakat di
gob mengalir masuk ke bagian dangkal (up-dip) permuka kerja.
Oleh karena itu, ventilasi bagian dangkal terutama perlu hati-hati,
dan gas pekat diencerkan dengan air jet atau kipas angin lokal, atau
dihantar ke tempat yang aman di dalam return airway dengan
saluran udara.
4. Batuan ambruk dari atap (caving) dan batu kayu (petorified wood)
yang ada di permuka kerja dapat meningkatkan tahanan ventilasi
permuka kerja secara drastis, sehingga harus disingkirkan
secepatnya.

a.Jenis Metode Ventilasi Lokal


Sama seperti ventilasi utama, ada sistem tiup dan sistem sedot, namun untuk
penggalian maju pada prinsipnya harus menggunakan sistem tiup. Untuk
menyingkirkan gas yang timbul di permuka kerja penggalian maju, secepatnya
harus mengencerkan gas tersebut sampai ke taraf yang tidak bahaya. Gas dan
udara secara alamiah dapat bercampur karena efek difusi gas, sehingga kalau
kedua gas diaduk dengan ventilasi tiup, segera bercampur dan menjadi encer.
Tetapi, pada ventilasi sedot tidak terjadi pengadukan, sehingga gas diujung
permuka kerja tidak mudah disingkirkan.
Namun pada sistem tiup, exhaust air yang terdifusi keluar ke bagian depan
melalui seluruh terowongan, sehingga pada penggalian maju batuan terjadi
banyak suspensi serbuk batuan yang membuat buruk keadaan lingkungan. Oleh
karena itu, pada penggalian maju batuan yang sama sekali tidak timbul gas,
penggunaan sistem sedot membuat udara terowongan lebih bersih dan sehat
(perhatikan gambar).

Gambar . Ventilasi Permuka Kerja Penggalian Maju

18

Dilihat dari segi fasilitas peralatan, ventilasi lokal dapat dibagi menjadi
ventilasi brattice, air jet, saluran udara dan metode kipas angin lokal.
Ventilasi Brattice
Ini adalah metode ventilasi pada sebuah terowongan penggalian maju
dengan merentangkan papan kayu dan vinil, dimana satu sisi dijadikan intake dan
sisi lainnua sebagai exhaust. Di Jepang, pada zaman penambangan batu bara
sistem ruang dan pilar, ventilasi permuka kerja terutama dilakukan dengan
ventilasi brattice. Namun karena banyak kebocoran angin dan boros bahan papan
kayu, serta memakan tenaga dan waktu, maka saat ini tidak digunakan lagi.
(Perhatikan Gambar).

Gambar .Ventilasi Brattice


-Air jet
Ini adalah metode yang melakukan ventilasi melalui gaya yang dihasilkan
melalui penyemprotan udara kompresi dari nozel yang dipasang di dalam saluran
udara. Karena daya ventilasinya lemah, tidak bisa digunakan untuk ventilasi jarak
jauh, tetapi digunakan secara lokal pada penyingkiran gas di lokasi terjadi
ambrukan (caving). Namun, karena bisa menimbulkan listrik statik, penanganan
terhadapnya harus dilakukan dengan baik. (Perhatikan gambar berikut)

Gambar .Air Jet


1. Ventilasi Saluran Udara
19

Ini adalah metode yang melakukan ventilasi dengan memanfaatkan


perbedaan tekanan udara di dalam pit, dengan menggunakan saluran udara.
Pada waktu membuka pintu angin yang menghubungkan intake airway dan
return airway di dalam pit, yang dialiri udara ventilasi yang cukup banyak harus
dilakukan dengan tenaga yang lumayan besar, karena adanya perbedaan tekanan
di kedua terowongan. Seandainya pintu angin dilubangi dan kepadanya dipasangi
saluran udara, maka akan mengalir udara di dalam saluran udara. Ventilasi saluran
udara adalah ventilasi yang memanfaatkan fenomena ini untuk melakukan
ventilasi permuka kerja. Ventilasi saluran udara juga terdiri dari sistem tiup dan
sistem sedot (perhatikan gambar pada halaman berikut). Pada sistem tiup,
ventilasi dilakukan dengan memperpanjang saluran udara dari sisi intake air,
sedangkan pada sistem sedot ventilasi dilakukan dengan menghubungkan saluran
udara ke sisi return air. Untuk penggalian maju lebih cocok digunakan sistem tiup.
Ventilasi saluran udara mempunyai keunggulan sebagai berikut:
Karena memanfaatkan tekanan ventilasi pada ventilasi utama,
selama ventilasi utama tidak berhenti, ventilasi saluran udara
juga tidak berhenti.
Tidak menggunakan listrik dan udara kompresi seperti pada
kipas angin lokal. Terutama karena tidak ada peralatan listrik,
keamanannya terjamin.

Ventilasi Sistem Tiup Dan Sedot


Pada kipas angin lokal atau jet, ada resiko terjadi resirkulasi
udara tergantung posisi pemasangan atau jumlah angin.
Sedangkan pada ventilasi saluran udara sama sekali tidak ada
resirkulasi udara (mengenai resirkulasi udara akan diuraikan
di belakang).
Pada kipas angin lokal timbul bunyi bising selama operasi,
sehingga ada resiko terjadi kecelakaan lori batu bara atau hal
lain. Sedangkan ventilasi saluran udara sama sekali tidak
menimbulkan bunyi bising.
Apabila diperlukan jumlah angin ventilasi yang cukup
banyak, maka dengan menggunakan beberapa buah saluran
20

udara atau saluran udara berdiameter besar, dapat dilakukan


ventilasi dalam jumlah besar.
Sementara kelemahan ventilasi saluran udara adalah sebagai
berikut:
Apabila di dalam satu aliran cabang dilakukan ventilasi
saluran udara lebih dari dua secara seri, tahanan ventilasi akan
meningkat, sehingga jumlah udara ventilasi berkurang. Pada
prinsipnya, ventilasi saluran udara harus dilakukan secara
paralel.
Di daerah terujung ventilasi utama, perbedaan tekanan
ventilasi antara intake air dan exhaust air semakin kecil,
sehingga di daerah ujung yang gas timbulnya paling banyak,
pada umumnya akan kekurangan jumlah udara kalau
menggunakan ventilasi saluran udara.
Apablia intake airway dan return airway terpisah jauh,
ventilasi menjadi sulit karena saluran udara menjadi panjang.
Pada waktu membuka pintu angin diantara intake airway dan
return airway tempat saluran udara terpasang, ventilasi
saluran udara akan terhenti.
a.Metode Ventilasi Dengan Kipas Angin Lokal
Ini adalah metode ventilasi lokal yang melakukan ventilasi dengan
menyambung dan memperpanjang kipas angin lokal dan saluran udara. Saat ini,
untuk ventilasi lokal yang dilakukan di Jepang, metode ini menjadi cara paling
utama.

Gambar.: Metode Ventilasi Kipas Angin Lokal


Pada sistem sedot, debu yang timbul di permuka kerja dapat disedot ke
dalam saluran udara tanpa menyapu dulu terowongan di tengahnya, sehingga dari
segi lingkungan kerja lebih unggul daripada sistem tiup. Namun, sistem sedot
mempunyai kelemahan sebagai berikut:
Lingkup gerak aliran udara diujung saluran udara kecil, sehingga gas
yang timbul di permuka kerja sulit disingkirkan.
Karena perlu memperpanjang saluran udara sampai ke dekat
permuka kerja, menjadi gangguan kerja di permuka kerja, serta
21

saluran udara mudah mengalami kerusakan akibat peledakan atau


hal lain.
Saluran udara dari vinil sulit digunakan karena bisa mengempis.
Apabila konsentrasi gas dapat terbakar yang disingkirkan tinggi,
penggunaan kipas angin aksial menjadi berbahaya.
Karena kelemahan-kelemahan itu, hampir semua metode ventilasi kipas
angin menggunakan sistem tiup.
Di Jepang, sebagai kipas angin lokal, dahulu banyak digunakan mulai dari
yang kecil dengan daya 1 HP sampai tipe turbo atau tipe propeller dengan daya 5,
10, 20 HP. Namun akhir-akhir ini, kipas angin lokal tipe besar yang dapat
mengantisipasi penggalian maju yang jaraknya lumayan panjang juga sudah
digunakan.
Tenaga penggeraknya ada yang menggunakan tenaga listrik dan tenaga
pneumatik (udara kompresi). Sistem penggerak listrik mempunyai efisiensi yang
lebih baik, kebisingan juga rendah dan biaya tenaga penggerak juga murah
dibanding sistem pneumatik. Namun karena memakai tenaga listrik, dahulu
ditempat yang banyak gas, cenderung menghindari penggunaannya. Tetapi, karena
ada peningkatan manajemen terhadap gas dan peralatan keamanan, saat ini hampir
semuanya menggunakan sistem penggerak listrik.
Kondisi dimana udara yang sudah digunakan sekali (exhaust air) bercampur
masuk ke mulut ventilasi lokal dan aliran udara yang sama berulang-ulang
dialirkan, disebut resirkulasi udara. Apabila keadaan ini berlanjut terus, gas tidak
tersingkir dengan baik, makin lama konsentrasi gas meningkat dan terjadi keadaan
yang bahaya, sehingga harus diusahakan agar tidak terjadi resirkulasi udara.
Oleh karena itu, dalam penempatan kipas angin lokal harus diperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
1.Apabila letak kipas angin lokal tidak baik.Apabila letak kipas angin lokal
dekat ke return airway, dapat menjadi penyebab resirkulasi udara. Terutama pada
waktu mengoperasikan kembali kipas angin lokal yang sempat terhenti karena
suatu sebab, gas dapat mengalir balik ke posisi kipas angin lokal dan menjadi
penyebab timbulnya kecelakaan. Pada waktu meletakkan kipas angin, dipilih
tempat yang kondisi atap dan dindingnya baik serta tidak ada tetesan air, dan
mengambil tempat di sisi intake air dengan jarak yang cukup dari mulut return
airway, agar tidak terjadi resirkulasi udara.

22

1.Apabila kekurangan angin induk


Walaupun letak kipas angin sudah baik, kalau jumlah angin induk (intake
air) yang melewati posisi peletakan kipas angin lebih sedikit dari pada jumlah
angin yang dibangkitkan oleh kipas angin, akan terjadi resirkulasi udara. Selain
itu, adakalanya resirkulasi udara dapat terjadi karena kekurangan angin induk
yang disebabkan oleh ambruknya airway atau pembukaan pintu angin.
Mengenai hal ini, peraturan keselamatan tambang batu bara Jepang
menetapkan sebagai berikut:
Kipas angin lokal harus ditempatkan pada posisi dimana exhaust
air tidak tertarik masuk ke intake air, dan jumlah udara ventilasi
yang melalui posisi tersebut dibuat melebihi kapasitas kipas
angin yang dimaksud, agar tidak terjadi resirkulasi udara.
-Pengukuran
Di tambang batu bara perlu dilakukan berbagai macam pengukuran untuk
memeriksa apakah disetiap tempat di dalam pit telah dilakukan ventilasi udara
yang cukup, dengan maksud mendapatkan kesalahan ventilasi, atau untuk
mendapatkan bahan yang diperlukan untuk perencanaan ventilasi atau perbakan
ventilasi. Hal yang harus diukur antara lain adalah temperatur udara, kelembaban,
tekanan udara, kecepatan angin, jumlah angin, penurunan tekanan, tekanan kipas
angin, kadar gas, jumlah debu dan derajat kata. Disini akan dijelaskan mengenai
pengukuran tekanan udara, kecepatan angin, jumlah angin, penurunan tekanan dan
tekanan kipas angin yang secara langsung diperlukan untuk perencanaan ventilasi
atau perbaikan ventilasi.
a.Kecepatan angin
-Anemometer
Untuk mengukur kecepatan angin di dalam pit bawah tanah biasanya
menggunakan anemometer. Ini adalah kincir angin yang sangat ringan dan
gesekannya kecil, dimana baling-balingnya terbuat dari pelat aluminium dan
membentuk sudut 42-44o terhadap arah poros. Untuk mengukur kecepatan angin,
alat ini diletakkan di dalam aliran udara untuk memutar baling-baling, dimana
kecepatan angin atau jarak tempuh aliran udara per satuan waktu dapat diperoleh
dari jumlah putaran dalam waktu tertentu. Daerah kemampuan ukurnya adalah
0,5-10 m/s.
-Tabung pitot
Pada tabung pitot terdapat lubang ukur tekanan total di depan dan lubang
ukur tekanan statis di samping. Perbedaan kedua tekanan tersebut, yakni tekanan
dinamis, diukur dengan manometer tabung U, kemudian kecepatan angin
diperoleh dari persamaan di bawah.

23

P = w2/2g
P = tekanan dinamis
= berat jenis udara

w = kecepatan angin
g = percepatan gravitasi

1.Pengukuran kecepatan angin rendah


Kecepatan angin di bawah 1 m/s sulit diukur. Untuk itu ada anemometer
kawat panas yang memanfaatkan pelepasan panas dari kawat halus dan
anemometer termistor yang memanfaatkan koefisien temperatur tahanan semi
konduktor.
Untuk mengukur kecepatan angin rendah secara sederhana, maka pada dua
titik berjaral 5-10 m di dalam lorong angin diberi tanda titik start dan titik
pengukuran. Kemudian dengan stopwatch dilakukan pengukuran waktu yang
diperlukan oleh asap untuk melewati dua tanda tersebut, hingga diperoleh
kecepatan angin. Karena asap akan menyebar selama mengalir, maka bagian
tengah dari asap menyebar yang diukur.
a.Jumlah angin
Jumlah angin adalah perkalian kecepatan angin rata-rata dan luas
penampang. Pada umumnya, kecepatan angin terbesar terjadi di sekitar pusat
penampang terowongan. Oleh karena itu, apabila mengukur kecepatan angin
dengan anemometer, maka anemometer digerakkan sepanjang penampang dengan
kecepatan konstan untuk mengukur kecepatan angin rata-rata. Kemudian nilai
tersebut dikalikan dengan luas penampang terowongan yang diukur untuk
menghitung jumlah angin.
b.Perbedaan tekanan
Apabila tabung gelas ditekuk membentuk huruf U dan ke dalamnya
dimasukkan air atau cairan lain hanya setengah bagiannya, kemudian dua buah
tekanan yang hendak diukur masing-masing dihubungkan ke kedua ujung tabung
gelas dengan pipa, maka perbedaan tekanan dapat diukur sebagai perbedaan
ketinggian cairan. Apabila mau mengukur perbedaan tekanan yang kecil, cukup
dengan memiringkan tabung U. Dengan memiringkannya sebesar 0 o, sensitivitas
akan meningkat 1/sin 0 kali.
c.Tekanan udara
1.Barometer air raksa
Mengetahui tekanan udara melalui pengukuran tinggi kolom air raksa yang
terangkat oleh tekanan udara. 1 atmosfir adalah 760 mm Hg. Alat ini cocok untuk
pengukuran di tempat tetap (diam), tetapi tidak cocok digunakan dengan
membawanya di dalam pit bawah tanah.
2. Barometer aneloide
Wadah yang bagian dalamnya kedap dibuat dengan menempelkan 2
lembar logam tipis berbentuk lingkaran bergelombang. Dengan adanya perubahan
tekanan, wadah tersebut mengembang dan mengempis, dimana deformasi yang
24

kecil tersebut diperbesar secara mekanis untuk ditunjukkan dengan jarum. Kurang
memuaskan dari segi ketelitian, tetapi cocok untuk dibawa.
3.Altimeter untuk pesawat terbang
Telah dilaporkan penggunaan alat ini untuk pit bawah tanah. Cukup dapat
mencapai tujuan.
-Penurunan Tekanan
Melakukan pengukuran penurunan tekanan yang terjadi karena mengalirnya
udara di dalam lorong angin adalah hal yang sangat penting. Apabila pada 2 titik
pengukuran di dalam lorong angin diletakkan tabung tekanan statis Pitot dan di
tengah-tengahnya diletakkan tabung U, kemudian dihubungkan dengan pipa
(misalnya pipa karet), maka perbedaan tekanan yang tampak pada tabung U
adalah penurunan tekanan. Apabila 2 titik yang hendak diukur penurunan
tekanannya berjarak jauh, selang jarak tersebut dibagi menjadi beberapa bagian,
kemudian penurunan tekanannya diukur dan nilai penjumlahan untuk selang 2
titik tersebut boleh dianggap sebagai penurunan tekanan. Pada waktu melakukan
pengukuran mulai dari mulut pit udara masuk kemudian mengelilingi pit dan
sampai ke mulut pit udara buang, maka nilai penjumlahan penurunan tekanan
selama itu setara dengan jumlah tekanan kipas angin dan tekanan ventilasi alami
(perhatikan gambar di bawah).
Melakukan pengukuran nilai mutlak tekanan udara dengan menggunakan
barometer aneloide, kemudian dari perbedaan tekanan tersebut menghitung
penurunan tekanannya.

Gambar :Pengukuran Tekanan Ventilasi Antar 2 titik di dalam Terowongan

25

26