Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan jumlah penduduk
terpadat keempat setelah China, India, dan Amerika Serikat. Menurut data
kependudukan Bada Pusat Statistik melalui sensus penduduk tahun 2010, jumlah
penduduk Indonesia yaitu sebanyak 237.641.326 jiwa. Dengan jumlah penduduk
yang tinggi dan terus mengalami peningkatan, kebutuhan penduduk untuk
melakukan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain pun akan semakin tinggi.
Kejadian ini mengakibatkan kebutuhan sarana dan prasarana transportasi dituntut
dapat mengatasi massalah yang dihadapi sebagai salah satu solusi untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. Sebagai negara yang memiliki beragam bentuk topografi seperti
banyaknya pegunungan dan sungai, daerah yang satu dengan lainnya banyak
terpisahkan oleh lembah-lembah dan sungai-sungai. Dengan kondisi seperti itu maka
diperlukan penghubung antar daerah sebagai prasarana penghubung transportasi
sehingga memudahkan lalu lintas untuk melakukan berbagai kebutuhan kegiatan,
seperti kegiatan untuk kepentingan perekonomian, pendidikan, pembangunan, dan
pemerintahan. Transportasi sangat penting pula bagi hubungan antar daerah untuk
kepentingan pemerintahan, pertukaran kebudayaan, dan lain sebagainya. Terputusnya
suatu daerah dari pemerintah pusat atau daerah lainnya akan menghambat kemajuan
daerah. Salah satu solusi yang diberikan sebagai penghubung transportasi darat antar
daerah adalah konstruksi jembatan.
Jembatan merupakan suatu struktur yang dibangun untuk menyeberangi
jurang atau rintangan seperti sungai, rel kereta ataupun jalan raya. Sedangkan
menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 tentang
Jalan, yang dimaksud jembatan adalah jalan yang terletak di atas permukaan air
dan/atau di atas permukaan tanah. Dengan adanya jembatan memungkinkan
penyeberangannya berjalan di atas rintangan tersebut. Jembatan bisa dibangun
dengan bentang panjang maupun dengan bentang realtif pendek sesuai dengan lebar
rintangan tersebut. Tipe jembatan pun dapat dipilih dengan berbagai macam model

dan jenis sesuai dengan kebutuhan, baik dari segi kegunaannya maupun dari segi
nilai estetikanya.
Perkembangan teknologi saat ini memungkinkan untuk membangun berbagai
jenis konstruksi jembatan, yang pelaksanaannya menyesuaikan dengan kebutuhan
kondisi setempat. Konstruksi jembatan terdiri dari beberapa tipe, terutama
bangunan/struktur bagian atasnya, sehingga perencana harus dapat menerapkan salah
satu tipe jembatan yang paling sesuai dengan keadaan topografi lokasinya. Dalam
merencanakan suatu jembatan perlu masukan dari berbagai disiplin ilmu, agar dapat
memperkecil kemungkinan kegagalan dalam perencanaan maupun pelaksanaan
sehingga jembatan yang dirancang harus cukup stabil ,nyaman, ekonomis serta
mempunyai nilai estetika. Tipe dan jenis jembatan pun semakin banyak macamnya
disesuaikan dengan sisi artistik dan kekuatan jembatan itu sendiri. Berbagai tipe
jembatan telah banyak dibangun, baik jembatan kayu, jembatan beton konvensional
sampai jembatan beton pre-stress maupun jembatan rangkan baja ataupun jembatan
komposit dari baja dan beton bahkan saat ini sudah banyak dibangun jembatan
gantung.
Dari sisi kekuatan, kenyamanan, ekonomis, dan artistik, jembatan rangka
baja banyak dipilih sebagai salah satu alternatif untuk jembatan bentang panjang.
Selain itu juga, pelaksanaan konstruksinya lebih mudah dari pada tipe jembatan lain
dan tidak membutuhkan pilar karena strukturnya memungkinkan untuk dibangun 1
pilar untuk bentang 60-100 m. Kelebihan-kelebihan lainnya dari penggunaan
jembatan rangka baja yaitu mutu bahan seragam sehingga dapat dicapai kekuatan
seragam, kekenyalan tinggi, lebih ekonomis karena bahan baja lebih murah dari pada
beton ataupun kayu dan rendahnya biaya pemasangan, elemen struktur dapat dibuat
di pabrik dan dapat dilakukan secara besar-besaran, membutuhkan ruang kerja yang
lebih sempit, dan ramah lingkungan karena dapat menggantikan posisi kayu sebagai
bahan konstruksi. Namun dari kelebihan-kelebihan tersebut, dalam perencanaan,
pembangunan, dan rehabilitasi perlu diperhatikan seefektif dan seefisien mungkin,
sehingga pembangunan jembatan dapat mencapai umur jembatan yang direncanakan
serta praktis dalam pelaksanaan konstruksinya namun tetap kokoh dari sisi
kekuatannya.

Oleh karena itu, melalui Kompetisi Jembatan Indonesia ke-10 ini, diharapkan
dapat memunculkan inovasi-inovasi baru dalam perkembangan teknologi jembatan
rangka baja yang kokoh, ringan, dan awet serta dapat berguna bagi peningkatan
pembangunan bangsa Indonesia. Selain itu dengan adanya kompetisi ini, akan
menumbuhkan bakat-bakat inovatif dari setiap elemen teknik sipil agar dapat
berkarya dan berkontribusi dalam pembangunan nasional khususnya daerah Jawa
Timur.

1.2. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari penyusunan proposal desain jembatan baja ini
adalah:
1. Bagaimana merancang struktur jembatan rangka baja yang kokoh, ringan, dan
awet.
2. Bagaimanakah metode pelaksanaan konstruksi jembatan rangka baja yang paling
efisien dan efektif sesuai dengan kriteria dan ketentuan yang berlaku dalam
kompetisi.
3. Berapakah biaya yang dibutuhkan dalam konstruksi jembatan rangka baja ini.

1.3. Batasan Masalah


Dalam mendesain jembatan rangka baja, berdasarkan rumusan masalah di
atas dibutuhkan batasan masalah sebagai berikut:
1. Struktur jembatan ini menggunakan material baja dengan profil......
2. Tipe jembatan yang digunakan adalah jembatan baja jalan raya.
3. Alat sambung yang digunakan adalah baut dan plat baja.
4. Lantai jembatan menggunakan bahan multipleks tebal = 12 mm.
5. Peraturan yang kami gunakan antara lain:
RSNI T-3-2005 tentang Perencanaan Struktur Baja untuk Jembatan.
RSNI T-02-2005 yang membahas tentang standar pembebanan untuk jembatan.
PPPJJR (Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya) tahun

1987.
AISC LRFD (Manual of Structural Steel Construction)

1.4. Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan proposal desain jembatan baja
ini adalah:

1. Mampu merancang struktur jembatan rangka baja yang sesuai dengan tema
Kompetisi Jembatan Indonesia ke-10 2014 ini,yaitu jembatan yang kokoh,
ringan, dan awet.
2. Mendapatkan metode pelaksanaan konstruksi jembatan rangka baja yang paling
efektif dan efisien sesuai dengan kriteria dan ketentuan yang berlaku dalam
kompetisi.
3. Memperoleh besarnya rencana anggaran biaya (RAB) dalam konstruksi
jembatan rangka baja.