Anda di halaman 1dari 14

Pengertian Formaldehid

Formaldehid (disebut juga metanal), dengan rumus kimia H2CO merupakan senyawa
sederhana dari gugus aldehid yang paling sederhana, bentuknya gas, tidak berwarna, berbau
menyengat pada keadaan gas, lebih ringan dari udara, (density uap = 1,067 gr/cm2).
Formaldehid larut dalam air dengan cepat oleh karena itu fasa gas dan fasa cair formaldehid
dapat berpolimerisasi dengan cepat pada temperatur normal (Wikipedia, 2008). Formaldehid
bisa dihasilkan dari membakar bahan yang mengandung karbon. Dalam atmosfir bumi,
formaldehid dihasilkan dari aksi cahaya matahari dan oksigen terhadap metana dan
hidrokarbon lain yang ada di atmosfer.
Formaldehid dalam kadar kecil sekali juga dihasilkan sebagai metabolit kebanyakan
organisme, termasuk manusia. Formaldehid dalam udara bebas berada dalam wujud gas, tapi
bisa larut dalam air (biasanya dijual dalam bentuk larutan dengan kadar 37%40% menggunakan merk dagang formalin atau formol). Dalam air, formaldehid mengalami
polimerisasi, sedikit sekali yang ada dalam bentuk monomer H2CO.
Dalam industri, formaldehid kebanyakan dipakai dalam produksi polimer dan berbagai bahan
kimia. Kalau digabungkan dengan fenol, urea, atau melamin, formaldehid menghasilkan resin
termoset yang keras. Resin ini dipakai untuk lem permanen, misalnya yang dipakai untuk
kayu lapis/tripleks atau karpet. Sebagai formalin, larutan senyawa kimia ini sering digunakan
sebagai insektisida, serta bahan baku pabrik-pabrik resin plastik dan bahan peledak.
Kegunaan lain dari formalin antara lain:
a. Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea
b. Bahan untuk pembuatan produk parfum
c. Bahan pembuatan sutra sintetis dan zat pewarna
d. Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku
e. Pembasmi lalat dan serangga penggangu lainnya
Jenis-jenis Proses

Proses pembuatan formalin dari metanol dan udara dapat dilakukan dengan tiga proses yaitu
proses hidrokarbon, proses silver catalyst, dan proses metal oxide catalyst. Ketiga proses ini
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
1. Proses Hidrokarbon
Proses hidrokarbon ini adalah proses yang dikembangkan pada awal perkembangan industri
formaldehid. Proses ini merupakan proses oksidasi langsung dari hidrokarbon yang lebih
tinggi. Biasanya bahan baku yang digunakan adalah etilen dengan katalis asam borat atau
asam phospat atau garamnya dari campuran clay atau tanah diatoma. Proses ini
mempunyai kelemahan, yang merupakan alasan mengapa proses ini tidak dikembangkan
lagi, yaitu dihasilkan beberapa hasil samping yang terbentuk bersama-sama formaldehid,
antara lain asetaldehid, propane, dan asam-asam organik. Sehingga tentu saja diperlukan
pemurnian untuk mendapatkan formaldehid dengan kemurnian tertentu. Dengan demikian
proses menjadi mahal dan hasilnya kurang memuaskan (Mc Ketta, 1992).
2. Proses Silver Catalyst
Proses ini menggunakan katalis perak dengan reaktor fixed bed multitube. Katalis ini
berbentuk kristal-kristal perak atau spherical yang ditumpuk pada tube. Katalis ini
mempunyai umur sekitar 812 bulan dan mudah teracuni oleh sulfur dan beberapa logam dari
golongan transisi. Reaksi yang terjadi adalah:
a. Oksidasi

b. Dehidrogenasi

Katalis perak dalam reaksi ini berfungsi untuk mengarahkan reaksi pada formaldehid. Proses
oksidasi metanol dengan katalis perak banyak digunakan dalam pabrik secara komersial
karena katalis perak (Ag) memiliki beberapa kelebihan, yaitu:

1. Katalis dapat diregenerasi.


2. Proses berlangsung pada tekanan rendah.
3. Produk yang dihasilkan stabil karena kandungan metanol cukup.
4. Mampu menghasilkan produk formalin 3755 %.

3. Proses Metal Oxide Catalyst


Proses ini mula-mula menggunakan katalis Vanadium Penta Oksida yang diikuti dengan
katalis Oksida besi dan oksida molibdenum yang direaksikan dengan oksigen. Jenis katalis
metal oxide mempunyai umur efektif 1218 bulan. Proses pembuatan formaldehid
menggunakan metanol dan udara dengan katalis oksidasi besi-molibdenum. Proses ini
beroperasi pada suhu 250400 0C, dan tekanan 11,5 atm. Metanol direaksikan dengan udara
dengan bantuan katalis oksidasi besi-molibdenum dalam sebuah reaktor fixed bed multitube.
Konversi yang diperoleh mencapai 95% dengan yield formaldehid 94,4% (Mc Ketta,1992).
Dasar reaksi:
Reaksi utama

Reaksi samping

Kelebihan dari penggunaan katalis logam adalah:


1. Katalis tidak mudah teracuni
2. Proses berlangsung pada tekanan rendah

3. Yield lebih besar dari 90 %


4. Hasil samping yang diperoleh sedikit
5. Selektivitas 98%
Kekurangan dari katalis logam adalah
1. Formalin yang dihasilkan kurang stabil karena kandungan metanol pada gas hasil
sedikit.
2. Membutuhkan lebih banyak scrubber dan kondensor karena banyaknya udara yang
dipergunakan.
http://masriantoch4n1490.wordpress.com/2012/02/02/prarancangan-pabrik-formalin-darimetanol-dan-udara-proses-silver-catalyst/

Proses Pembuatan Formalin


oleh hutanhujan pada 5 Januari 2012
Formaldehid merupakan bahan yang sering digunakan dalam industri kimia sehingga
produksi formaldehid berkembang pesat sejak sekade pertama abad 20. Perkembangan ini
salah satunya karena formaldehid dapat dibuat dengan proses yang relatif sederhana dan
dengan biaya yang relatif murah.
Sifatsifat yang membuat formaldehid bernilai disebabkan oleh reaktifitas kimianya yang
tinggi, warna, kestabilan dan kemurniannya. Sebagian besar formaldehid digunakan dalam
industri adhesive sintesis, diantaranya adalah sebagai bahan baku utama untuk produksi
adhesive yang digunakan untuk plywood.
a. Persiapan bahan baku pembuatan formalin
Metanol cair dengan temperatur 30C dipompa dari metanol tank dan dipanaskan di
preheater (MP) sampai temperatur 65C lalu dimasukkan dalam vaporizer (VP). Di dalam
vaporizer terjadi perubahan fase dari cair menjadi gas dengan suhu dalam vaporizer 65

75C. Metanol gas dari vaporizer dipanaskan lagi dengan super heater (SH) di bagian atas
vaporizer sampai suhu 95C dan langsung dimasukkan ke mix gas (MG).
Udara dihisap melalui air filter (penyaring udara) dengan blower. Setelah dipanaskan dengan
pemanas udara sampai suhu 110C lalu dimasukkan ke dalam mix gas (MG). Steam masuk
melalui steam filter pada suhu 140 oC ke mix gas (MG).
b. Proses Reaksi
Udara, steam dan metanol gas bercampur rata di mix gas pada suhu 140 oC lalu masuk ke
reaktor (RE) dengan melewati mix gas filter (MGF) untuk menjaga agar tidak ada tetes-tetes
cairan (kondensat) masuk ke reaktor.
Pada saat start operation, temperatur katalis dinaikkan oleh heater sebagai pemanas awal
sampai suhu 400450C, setelah itu heater dimatikan sehingga suhu katalis naik dengan
sendirinya sampai suhu operasi yang diinginkan karena adanya reaksi eksoterm. Di dalam
reaktor terjadi reaksi pembuatan gas formaldehid dengan bantuan katalis perak pada suhu
operasi 650700C. Reaksi yang terjadi sebagai berikut:
1. Reaksi oksidasi metanol
CH3OH + O2 > CH2O + H2O

-37 kcal/mol

2.Dehidrogenasi metanol
CH3OH > CH2O + H2

+21 kcal/mol

Gas formaldehide yang terbentuk kemudian di-spray dengan larutan crude formalin 44%
dengan temperature 80 oC untuk menurunkan suhu gas formaldehid sampai dibawah 250 oC.
Spray crude formalin ini juga dapat menyebabkan terjadinya reaksi samping yaitu
terbentuknya paraform dan asam format (formic acid). Reaksi samping yang terjadi di dalam
reaktor yaitu:
1. Reaksi pembentukan paraform (methylen glycol)
CH2O + H2O

> HOCH2OH (methylen glycol)

atau polymer dapat ditulis :


n CH2O + H2O -> HO(CH2O)n H
2. Reaksi pembentukan asam format (formic acid)
2 CH2O + H2O -> HCOOH + CH3OH
(asam format)

(methanol)

c. Proses Absorbsi
Gas formaldehide dari reaktor (RE) dialirkan ke bagian bawah packed tower . Gas ini
dikontakkan dengan larutan formalin 44% suhu 40 oC yang dialirkan dari atas menara dengan
bantuan distributor cairan agar larutan formalin yang digunakan tersebar secara merata
didalam packed tower dan membasahi seluruh permukaan raschig ring sehingga penyerapan
maksimal.
Hasil penyerapan di packed tower berupa formalin cair masuk ke control tank (CT).
Sisa gas yang belum terserap di packed tower masuk ke dalam bubble cap tower yang akan
diserap oleh pure water dari atas menara. Sisa dari penyerapan itu yang masih lolos nantinya
dibakar di flare stack yang sebelumnya melewati demister. Hasil penyerapan dari bubble cap
tower masuk ke control tank (CT).
d. Proses pendinginan
Larutan crude formalin pada control tank (CT) temperaturnya 80C, karena temperaturnya
masih relatif tinggi maka didinginkan lagi dengan dilewatkan cooler (CO). Cooler yang
digunakan yaitu frame and plate dengan temperatur keluar 40C. Selain itu agar formalin
yang terbentuk sempurna, setelah melewati cooler larutan tersebut masuk ke crude formalin
filter (CF) baru masuk ke crude formalin tank . Kadar formalin di crude formalin tank (T-03)
sekitar 43-44%.
e.Proses pengenceran
Untuk memperoleh formalin dengan kondisi standar yang digunakan oleh PT. PAI yaitu
formalin dengan kadar 37,3% maka formalin dari crude formalin tank diencerkan dengan

menggunakan pure water di mixing tank . Setelah terbentuk larutan formalin 37,3% disimpan
dalam tangki penyimpanan.
http://hutanhujan.wordpress.com/2012/01/05/proses-pembuatan-formalin/
PROSES PEMBUATAN FORMALDEHYDE
Proses pembuatan formaldehide dengan oksidasi metanol dibagi menjadi 3 tahap:

1. Persiapan bahan baku

2. Pembentukan produk

3. Pemurnian produk

A. Persiapan Bahan Baku

Tahap penyiapan bahan baku bertujuan untuk:

a. Menguapkan dan memanaskan umpan metanol sehingga sesuai dengan kondisi reaktor.

b. Memanaskan umpan udara sehingga sesuai dengan kondisi reaktor.

c. Menaikan tekanan umpan metanol dan udara sehinnga sesuai dengan kondisi reaktor.

1. Metanol

Bahan baku metanol diambil dari tangki penyimpanan pada kondisi cair dengan tekanan 1
atm dan suhu 30 c. Metanol dinaikan tekanannya dan dialirkan dengan pompa menuju mixer
untuk dicampur dengan aliran Recycle dari kolom distilasi pada kondisi cair.
Dari mixer metanol dialirkan ke vaparizer untuk merubah dari fase cair menuju fase gas
dengan pemanasan steam. Dari vaporizer metanol dialirkan ke heat exchanger untuk
menaikan
suhu gas metanol yang bertujuan menurunkan beban dari furnace. pemanas yang digunakan

adalah pemanas produk reaktor yang akan diturunkan suhunya. Kemudian metanol dialirkan
ke

furnace

untuk

dipanaskan

sampai

kondisi

reaktor

yaitu

2.

560

C.

Oksigen

Bahan baku udara diambil dari lingkungan dan masuk ke filter untuk menyaring partikulatpartikulat yang ada dalam udara. Di blower udara dinaikan tekanannya. Bersama-sama
metanol

B.

udara

masuk

ke

furnace

untuk

Pembentukan

di

panaskan

menjadi

560

C.

Produk

Tahap ini bertujuan untuk mereaksikan metanol dengan oksigen membentuk Formaldehide
dalam reaktor fixed bed multitube. Reaksi oksidasi metanol menghasilkan formaldehide
berlangsung dalam fase gas pada suhu 560 C - 620 C dan Tekanannya 1,2 atm.

Reaksi berlangsung secara non- Adiabatis dan non-Ishotermal karena reaksinya adalah
eksotermis sehinnga diperlukan pendingin untuk menjaga temperatur reaktor agar sesuai
dengan kondisi operasi dari reaktor yaitu 560 C - 620 C dan tekanan 1,2 atm.
Metanol dan udara masuk reaktor pada suhu 560 C. pada reaksi pembentukan formaldehide
ini digunakan katalis perak (Ag) untuk mencapai konversi 65,1 % dengan yield pembentukan
formaldehide

sebesar

C.

%.

Pemurnian

Tahap

ini

1.

CO2,

2.

89,1

Memisahkan
Memisahkan

Larutan

Produk

bertujuan
N2,

untuk

dan

O2

dari

produk

formaldehide

dari

metanol

untuk

keluaran
diambil

:
reaktor.
produknya.

3. Mengambil Metanol untuk direcycle


Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal, atau formalin), merupakan aldehida
dengan rumus kimia H2CO, yang berbentuknya gas, atau cair yang dikenal sebagai formalin,
atau padatan yang dikenal sebagai paraformaldehyde atau trioxane. Formaldehida awalnya
disintesis oleh kimiawan Rusia Aleksandr Butlerov tahun 1859, tapi diidentifikasi oleh
Hoffman tahun 1867.
Pada umumnya, formaldehida terbentuk akibat reasi oksidasi katalitik pada metanol. Oleh
sebab itu, formaldehida bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang mengandung karbon dan
terkandung dalam asap pada kebakaran hutan, knalpot mobil, dan asap tembakau. Dalam
atmosfer bumi, formaldehida dihasilkan dari aksi cahaya matahari dan oksigen terhadap
metana dan hidrokarbon lain yang ada di atmosfer. Formaldehida dalam kadar kecil sekali
juga dihasilkan sebagai metabolit kebanyakan organisme, termasuk manusia.
Daftar isi

1 Sifat

2 Produksi

3 Kegunaan
o 3.1 Daftar kegunaan formalin
o 3.2 Penggunaan Formalin yang salah

4 Pengaruh terhadap badan


o 4.1 Pertolongan pertama bila terjadi keracunan akut

5 Pranala luar

Sifat
Meskipun dalam udara bebas formaldehida berada dalam wujud gas, tetapi bisa larut dalam
air (biasanya dijual dalam kadar larutan 37% menggunakan merk dagang 'formalin' atau
'formol' ). Dalam air, formaldehida mengalami polimerisasi dan sedikit sekali yang ada dalam
bentuk monomer H2CO. Umumnya, larutan ini mengandung beberapa persen metanol untuk
membatasi polimerisasinya. Formalin adalah larutan formaldehida dalam air, dengan kadar
antara 10%-40%.
Meskipun formaldehida menampilkan sifat kimiawi seperti pada umumnya aldehida,
senyawa ini lebih reaktif daripada aldehida lainnya. Formaldehida merupakan elektrofil, bisa
dipakai dalam reaksi substitusi aromatik elektrofilik dan sanyawa aromatik serta bisa
mengalami reaksi adisi elektrofilik dan alkena. Dalam keberadaan katalis basa, formaldehida
bisa mengalami reaksi Cannizzaro, menghasilkan asam format dan metanol.
Formaldehida bisa membentuk trimer siklik,

1,3,5-trioksana atau polimer linier

polioksimetilena. Formasi zat ini menjadikan sifat-sifat gas formaldehida berbeda dari sifat
gas ideal, terutama pada tekanan tinggi atau udara dingin.
Formaldehida bisa dioksidasi oleh oksigen atmosfer menjadi asam format, karena itu larutan
formaldehida harus ditutup serta diisolasi supaya tidak kemasukan udara.
S

Secara industri, formaldehida dibuat dari oksidasi katalitik metanol. Katalis yang paling
sering dipakai adalah logam perak atau campuran oksida besi dan molibdenum serta
vanadium. Dalam sistem oksida besi yang lebih sering dipakai (proses Formox), reaksi
metanol dan oksigen terjadi pada 250 C dan menghasilkan formaldehida, berdasarkan
persamaan kimia
2 CH3OH + O2 2 H2CO + 2 H2O.
Katalis yang menggunakan perak biasanya dijalankan dalam temperatur yang lebih tinggi,
kira-kira 650 C. dalam keadaan ini, akan ada dua reaksi kimia sekaligus yang menghasilkan
formaldehida: satu seperti yang di atas, sedangkan satu lagi adalah reaksi dehidrogenasi
CH3OH H2CO + H2.
Bila formaldehida ini dioksidasi kembali, akan menghasilkan asam format yang sering ada
dalam larutan formaldehida dalam kadar ppm.
Di dalam skala yang lebih kecil, formalin bisa juga dihasilkan dari konversi etanol, yang
secara komersial tidak menguntungkan.
Kegunaan
Formaldehida dapat digunakan untuk membasmi sebagian besar bakteri, sehingga sering
digunakan sebagai disinfektan dan juga sebagai bahan pengawet. Sebagai disinfektan,
Formaldehida dikenal juga dengan nama formalin dan dimanfaatkan sebagai pembersih;
lantai, kapal, gudang dan pakaian.
Formaldehida juga dipakai sebagai pengawet dalam vaksinasi. Dalam bidang medis, larutan
formaldehida dipakai untuk mengeringkan kulit, misalnya mengangkat kutil. Larutan dari
formaldehida sering dipakai dalam membalsem untuk mematikan bakteri serta untuk
sementara mengawetkan bangkai.
Dalam industri, formaldehida kebanyakan dipakai dalam produksi polimer dan rupa-rupa
bahan kimia. Jika digabungkan dengan fenol, urea, atau melamina, formaldehida
menghasilkan resin termoset yang keras. Resin ini dipakai untuk lem permanen, misalnya
yang dipakai untuk kayulapis/tripleks atau karpet. Juga dalam bentuk busa-nya sebagai

insulasi. Lebih dari 50% produksi formaldehida dihabiskan untuk produksi resin
formaldehida.
Untuk mensintesis bahan-bahan kimia, formaldehida dipakai untuk produksi alkohol
polifungsional seperti pentaeritritol, yang dipakai untuk membuat cat bahan peledak. Turunan
formaldehida yang lain adalah metilena difenil diisosianat, komponen penting dalam cat dan
busa poliuretana, serta heksametilena tetramina, yang dipakai dalam resin fenol-formaldehida
untuk membuat RDX (bahan peledak).
Sebagai formalin, larutan senyawa kimia ini sering digunakan sebagai insektisida serta bahan
baku pabrik-pabrik resin plastik dan bahan peledak.
Daftar kegunaan formalin

Pengawet mayat

Pembasmi lalat dan serangga pengganggu lainnya.

Bahan pembuatan sutra sintetis, zat pewarna, cermin, kaca

Pengeras lapisan gelatin dan kertas dalam dunia Fotografi.

Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea.

Bahan untuk pembuatan produk parfum.

Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku.

Pencegah korosi untuk sumur minyak

Dalam konsentrasi yang sangat kecil (kurang dari 1%), Formalin digunakan sebagai
pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih barang rumah tangga,
cairan pencuci piring, pelembut kulit, perawatan sepatu, shampoo mobil, lilin, pasta
gigi, dan pembersih karpet.

Penggunaan Formalin yang salah


Melalui sejumlah survei dan pemeriksaan laboratorium, ditemukan sejumlah produk pangan
yang menggunakan formalin sebagai pengawet. Praktek yang salah seperti ini dilakukan oleh
produsen atau pengelola pangan yang tidak bertanggung jawab. Beberapa contoh prduk yang
sering diketahui mengandung formalin misalnya
1. Ikan segar : Ikan basah yang warnanya putih bersih, kenyal, insangnya berwarna
merah tua (bukan merah segar), awet sampai beberapa hari dan tidak mudah busuk.
2. Ayam potong : Ayam yang sudah dipotong berwarna putih bersih, awet dan tidak
mudah busuk.
3. Mie basah : Mie basah yang awet sampai beberapa hari dan tidak mudah basi
dibandingkan dengan yang tidak mengandung formalin.
4. Tahu : Tahu yang bentuknya sangat bagus, kenyal, tidak mudah hancur awet beberapa
hari dan tidak mudah basi.
Pengaruh terhadap badan
Karena resin formaldehida dipakai dalam bahan konstruksi seperti kayu lapis/tripleks, karpet,
dan busa semprot dan isolasi, serta karena resin ini melepaskan formaldehida pelan-pelan,
formaldehida merupakan salah satu polutan dalam ruangan yang sering ditemukan. Apabila
kadar di udara lebih dari 0,1 mg/kg, formaldehida yang terhisap bisa menyebabkan iritasi
kepala dan membran mukosa, yang menyebabkan keluarnya air mata, pusing, teggorokan
serasa terbakar, serta kegerahan.
Jika terpapar formaldehida dalam jumlah banyak, misalnya terminum, bisa menyebabkan
kematian. Dalam tubuh manusia, formaldehida dikonversi menjadi asam format yang
meningkatkan keasaman darah, tarikan napas menjadi pendek dan sering, hipotermia, juga
koma, atau sampai kepada kematiannya.
Di dalam tubuh, formaldehida bisa menimbulkan terikatnya DNA oleh protein, sehingga
mengganggu ekspresi genetik yang normal. Binatang percobaan yang menghisap
formaldehida terus-terusan terserang kanker dalam hidung dan tenggorokannya, sama juga
dengan yang dialami oleh para pegawai pemotongan papan artikel. Tapi, ada studi yang

menunjukkan apabila formaldehida dalam kadar yang lebih sedikit, seperti yang digunakan
dalam bangunan, tidak menimbulkan pengaruh karsinogenik terhadap makhluk hidup yang
terpapar zat tersebut.
Pertolongan pertama bila terjadi keracunan akut
Pertolongan tergantung pada konsentrasi cairan dan gejala yang dialami korban. Sebelum ke
rumah sakit, berikan arang aktif (norit) bila tersedia. Jangan melakukan rangsangan agar
korban muntah, karena akan menimbulkan risiko trauma korosif pada saluran cerna atas. Di
rumah sakit biasanya tim medis akan melakukan bilas lambung (gastric lavage), memberikan
arang aktif (walaupun pemberian arang aktif akan mengganggu penglihatan pada saat
endoskopi). Endoskopi adalah tindakan untuk mendiagnosis terjadinya trauma esofagus dan
saluran cerna. Untuk meningkatkan eliminasi formalin dari tubuh dapat dilakukan
hemodialisis (cuci darah). Tindakan ini diperlukan bila korban menunjukkan tanda-tanda
asidosis metabolik berat
http://id.wikipedia.org/wiki/Formaldehida

Beri Nilai