Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Posterior Cruciate Ligament (PCL) merupakan ligamen yang saling
bersilangan dengan Anterior Cruciate Ligament (ACL) yang menghubungkan dan
memberikan ikatan antara tulang femur dengan tulang tibia. Sama seperti Anterior
Cruciate Ligament (ACL), Posterior Cruciate Ligament (PCL) juga memungkinkan
mengalami cedera.
Menurut statistik, 20% dari total keseluruhan cedera pada lutut, melibatkan
ligamen ini. Menurut data tahun 2010, ditemukan 463 kasus cedera Posterior
Cruciate Ligament (PCL). Dari total cedera, sebagian besar penderitanya berkisar
antara usia 18 - 44 tahun. Pengkajian awal mengenai kisaran usia pederita kasus
cedera ini, dikarenakan pada usia tersebut, orang masih sangat aktif dalam aktivitas
fisik maupun menggeluti salah satu cabang olahraga tertentu. Cedera ini sering dipicu
saat lutut mengalami benturan dari arah depan saat posisi lutut dalam keadaan fleksi
(menekuk). Contohnya, seperti saat lutut membentur dashboard pada beberapa kasus
kecelakaan di jalan raya. Kasus ini juga sering terjadi pada cabang olahraga fullbody
contact seperti American Football. Umumnya, penderita cedera ligamen ini
mengalami sensasi popping atau sensasi letusan pada lutut

B. TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas dengan Diagnosa
Medik "Posterior Curicate Ligament" di ruangan Instalasi Kamar Operasi RSPAD
Gatot Subroto.

BAB II
1

KONSEP DASAR POSTERIOR CURICATE LIGAMENTUM

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI


Secara anatomis knee joint dibentuk oleh

Posterior
Curicate
Ligament

tibia bagian proximal,femur bagian distal dan


patella. knee joint terdiri dari tiga bagian
persendian,

medial dan lateral antara condyle

femur dan tibia serta persendian intermediate


antara patela dan femur. Femur distal terdiri dari
medial condyle dan lateral condyle, femoral
trochlear

groove

dan

intercondylar

notcth.

Ligamen tersebut melewati anterior,medial dan distal sendi dari femur ke tibia. ligamen
berputar atas diri membentuk spiral sedikit luar (lateral), melewati bawah ligamentum
transverse meniscal diujung tibialisnya. beberapa fasikula mungkin menyatu dengan
perlekatan anterior dengan meniskus lateral. Ikatan tibialis lebih lebar dan lebih kuatdari
perlekatan femoralis.
1. Ligamentum Intra Capsular
Ligamentum cruciata adalah dua ligamentum intra capsular yang sangat kuat,
saling menyilang didalam rongga sendi. Ligamentum ini terdiri dari dua bagian yaitu
posterior dan anterior sesuai dengan perlekatannya pada tibiae. Ligamentum ini
penting karena merupakan pengikat utama antara femur dan tibiae.
2. Anterior Cruciate Ligament
ACL istilah cruciate berasal dari kata crux yang artinya(menyilang) dan
crucial (sangat penting).Cruciate ligament saling bersilangan satu sama yang lain.
menyerupai huruf X . ACL adalahstabelizer untuk knee joint pada aktivitas pivot.
ACL mula berkembang pada minggu ke 14 usia gestasi, berukuran sebesar jari kita
dan panjangnya rata-rata 38mm dan lebar rata-rata 10mm, dan dapat menahan tekanan
seberat 500 pon sekitar 226kg.

Ligamentum ini melekat pada area intercondylaris anterior tibiae dan berjalan
kearah atas, kebelakang dan lateral untuk melekat pada bagian posterior permukaan
medial condylus lateralis femoris.Ligamentum ini akan mengendur bila lutut ditekuk
dan akan menegang bila lutut diluruskan sempurna. Ini tidak hanya mencegah anterior
translasi dari tibia pada femur tetapi juga memungkinkan untuk helicoid biasa
tindakan lutut, sehingga mencegah kemungkinan untuk patologi meniscal. Ini terdiri
dari dua bundel, sebuah bundel anteromedial, yang ketat di fleksi, dan bundel
posterolateral, yang lebih cembung dan ketat dalam ekstensi.
Suplai vaskuler ACL berasal dari arteri geniculate middle, sertadari difusi
melalui sheath sinovial nya . persarafan dari ACL terdiri dari mechanoreceptors
berasal dari saraf tibialis dan memberikan kontribusi untuk proprioseptifnya,
serabut rasa nyeri dalam ACL yang hampir tidak ada,ini menjelaskan mengapa ada
rasa sakit yang minimal setelah rupture ACL akut sebelum pengembangan
hemarthrosis yang menyakitkan.

3. Posterior Cruciate Ligament


3

Ligamentum cruciatum posterior melekat pada area intercondylaris posterior


dan berjalan kearah atas , depan dan medial, untuk dilekatkan pada bagian anterior
permukaan lateral condylus medialis femoris. Serat-serat anterior akan mengendur
bila lutut sedang ekstensi, namun akanmenjadi tegang bila sendi lutut dalam keadaan
fleksi. Serat-serat posterior akan menjadi tegang dalam keadaan ekstensi.
Ligamentum cruciatum posterior berfungsi untuk mencegah femur ke anterior
terhadap tibiae. Bila sendi lutut dalam keadaan fleksi , ligamentum cruciatum
posterior akan mencegah tibiae tertarik ke posterior.
Ligamentum Extracapsular
a. Ligamentum Patellae
Melekat (diatas) pada tepi bawah patella dan pada bagian bawah melekat pada
tuberositas tibiae. Ligamentum patellae ini sebenarnyamerupakan lanjutan dari bagian
pusat tendon bersama m. quadriceps femoris. Dipisahkan dari membran synovial
sendi oleh bantalan lemak intra patella dan dipisahkan dari tibia oleh sebuah bursa
yang kecil. Bursa intra patellaris superficialis memisahkan ligamentum ini dari kulit.
b. Ligamentum Collaterale fibulare
Ligamentum ini menyerupai tali dan melekat di bagian atas pada condylus lateralis
dan dibagian bawah melekat pada capitulum fibulae.Ligamentum ini dipisahkan dari
capsul sendi melalui jaringan lemak dan tendon m. popliteus dan juga dipisahkan dari
meniscus lateralis melalui bursa m. popliteius.
c. Ligamentum Collaterale Tibiae
Ligamentum ini berbentuk seperti pita pipih yang melebar dan melekat dibagian atas
pada condylus medialis femoris dan pada bagian bawah melekat pada margo
infraglenoidalis tibiae. Ligamentum ini menembus dinding capsul sendi dan sebagian
melekat pada meniscus medialis. Di bagian bawah pada margo infraglenoidalis,
ligamentum ini menutupi tendon m. semimembranosus dan a. inferior medialis genu.
d. Ligamentum Popliteum Obliquum
Merupakan ligamentum yang kuat, terletak pada bagian posterior dari sendi lutut,
letaknya membentang secara oblique ke medial dan bawah sebagian dari ligamentum
ini berjalan menurun pada dinding capsul dan fascia m. popliteus dan sebagian lagi
membelok ke atas menutupi tendon m. semimembranosus.
e. Ligamentum Transversum Genu
Ligamentum ini terletak membentang paling depan pada dua meniscus,terdiri dari
jaringan

connective,

kadang-kadang

ligamentum

ini

tertinggal

perkembangannya, sehingga sering tidak dijumpai pada sebagian orang.


4

dalam

Cartilago Semilunaris (Meniscus)


Cartilago semilunaris adalah lamella fibrocartilago berbentuk C,yang pada
potongan melintang berbentuk segitiga. Batas perifernya tebal dan cembung, melekat
pada bursa. Batas dalamnya cekung dan membentuk tepian bebas . Permukaan atasnya
cekung dan berhubungan langsung dengan condylus femoris.Fungsi meniscus ini adalah
memperdalam fascies articularis condylustibialis untuk menerima condylus femoris yang
cekung.Cartilago Semilunaris

Medialis Bentuknya hampir semi sirkular dan bagian

belakang jauh lebih lebar dari pada bagian depannya. Cornu anterior melekat pada area
intercondylaris anterior tibiae dan berhubungan dengan cartilage semilunaris lateralis
melalui beberapa serat yang disebut ligamentum transversum. Cornu posterior melekat
pada area intercondylaris posteriortibiae. Batas bagian perifernya melekat pada simpai
dan ligamentum collaterale sendi. Dan karena perlekatan inilah cartilago semilunaris
relative tetap.

Cartilago Semilunaris Lateralis


Bentuknya hampir sirkular dan melebar secara merata. Cornu anterior melekat
pada area intercondylaris anterior, tepat di depan eminentia intercondylaris. Cornu
posterior melekat pada area intercondylaris posterior, tepat di belakang eminentia
intercondylaris. Seberkas jaringan fibrosa biasanya keluar dari cornu posterior dan
mengikuti ligamentum cruciatum posterior ke condylus medialis femoris. Batas perifer
cartilage

dipisahkan

dari

ligamentum

collaterale

laterale

oleh

tendon

m.

popliteus,sebagian kecil dari tendon melekat pada cartilago ini. Akibat susunan yang
demikian ini cartilago semilunaris lateralis kurang terfiksasi pada tempatnya bila di
bandingkan dengan cartilago semilunaris medialis.
Capsula Articularis
Capsula articularis terletak pada permukaan posterior dari tendon m. quadriceps
femoris dan didepan menutupi patella menuju permukan anterior dari femur diatas
tubrositas sendi. Kemudian capsula ini berlanjut sebagai loose membran yang dipisahkan
oleh jaringan lemak yang tebal dari ligamentum patellae dan dari bagian tengah dari
retinacula patellae menuju bagian atas tepi dari dua meniscus dan ke bawah melekat pada
ligamentum cruciatum anterior. Selanjutnya capsula articularis ini menutupi kedua
ligamentun cruciatum pada sendi lutut sebagai suatu lembaran dan melintasi tepi posterior
ligamentum cruciatum posterior. Dari tepi medial dan lateral dari fascies articularis
5

membentuk dua tonjolan , lipatan synovial, plica alares yang terkumpul pada bagian
bawah. Kesemuanya hal ini membentuk suatu synovial villi
Plica synovialis patellaris, membentang pada bagian belakang yang mengarah
pada bidang sagital menuju cavum sendi dan melekat pada bagian paling bawah dari tepi
fossa intercondyloidea femoris. Plica ini merupakan lipatan sagital yang lebar pada
synovial membran.
Lipatan ini membagi cavum sendi menjadi dua bagian , berhubungan dengan dua
pasang condylus femoris dan tibiae. Lipatan capsul sendi pada bagian samping berjalan
dekat pinggir tulang rawan.

Sehingga regio epicondylus tetap bebas. Kapsul sendi

kemudian menutupi permukaan cartilago, dan bagian permukaan anterior dari femur
tidak ditutupi oleh cartilago. Pada tibia capsul sendi ini melekat mengelilingi margo
infraglenoidalis, sedikit bagian bawah dari permukaan cartilago, selanjutnya berjalan
kebawah tepi dari masing-masing meniscus.

Bursa Anterior
1. Bursa supra patellaris terletak di bawah m. quadriceps femoris dan berhubungan erat
dengan rongga sendi.
2. Bursa Prepatellaris terletak pada jaringan subcutan diantara kulit dan bagian depan
belahan bawah patella dan bagian atas ligamentum patellae
3. Bursa infrapatellaris superficialis terletak pada jaringan subcutan diantara kulit dan
bagian depan belahan bawah ligamentum patellae
4. Bursa Infapatellaris Profunda terletak di antara permukaan posteriordari ligamentum
patellae dan permukaan anterior tibiae. Bursa ini terpisah dari cavum sendi melalui
jaringan lemak dan hubungan antara keduanya ini jarang terjadi.

Bursa Posterior
1. Recessus Subpopliteus ditemukan sehubungan dengan tendon m. popliteus dan
berhubungan dengan rongga sendi.
2. Bursa M. Semimembranosus ditemukan

sehubungan

semimembranosus dan sering berhubungan dengan rongga sendi


3. Empat bursa lainnya ditemukan sehubungan dengan;
a. Tendon insertio m. biceps femoris.

dengan

insertiom.

b. Tendon m. sartorius , m. gracilis dan m. semitendinosus sewaktu berjalan ke


insertionya pada tibia.
c. Di bawah caput lateral origo m. Gastrocnemius.
d. Di bawah caput medial origo m. Gastrocnemius

Persarafan Sendi Lutut


Persarafan pada sendi lutut adalah melalui cabang-cabang dari nervus yang
mensarafi otot-otot di sekitar sendi dan berfungsi untuk mengatur pergerakan pada sendi
lutut. Sehingga sendi lutut disarafi oleh ;
1.
2.
3.
4.

N. Femoralis
N. Obturatorius
N. Peroneus communis
N. Tibialis

Suplai Darah
Suplai darah pada sendi lutut berasal dari anastomose pembuluh darah disekitar
sendi ini. Dimana sendi lutut menerima darah dari descending genicular arteri femoralis,
cabang-cabang genicular arteri popliteal dan cabang descending arteri circumflexia
femoralis dan cabang ascending arteri tibialis anterior. Aliran vena pada sendi lutut
mengikuti perjalanan arteri untuk kemudian akan memasuki vena femoralis.
Sistem Limfe
System limfe pada sendi lutut terutama terdapat pada perbatasan fascia
subcutaneous. Kemudian selanjutnya akan bergabung dengan lymph node sub inguinal
superficialis. Sebagian lagi aliran limfe ini akan memasuki lymph node popliteal, dimana
aliran limfe berjalan sepanjang vena femoralis menuju deep inguinal lymph node.

Fisiologi
Dari ligamen lutut, cruciates adalah yang paling penting dalam menyediakan
pengekangan pasif untuk anterior = posterior gerakanlutut. Jika salah satu atau kedua
cruciates terganggu, biomekanik selama kegiatan jalan mungkin terganggu. Fungsi utama
dari ACL adalah untuk mencegah translasi anterior dari tibia, dalam ekstensi penuh,ACL
menyerap 75% muatan anterior dan 85% antara 30 dan 90 fleksi. Selain itu, Fungsi lain
7

ACL termasuk melawan rotasi internal tibia dan varus /valgus angulasi dari tibia dengan
adanya cedera ligamen kolateral, hilangnya ACL menyebabkan penurunan magnitude
pada coupled rotasi selama fleksi, dan lutut yang tidak stabil. Kekuatan tarik ACL sekitar
2200N tetapi berubah dengan usia dan beban berulang.

B. DEFINISI
Ligamen Krusiata Posterior (Posterior
Curicate Ligamnet / PCL) adalah salah satu
dariligamen krusiata yang menghubungkan
tulang paha (femur) dengan tulang kering
(tibia) di dalam sendi lutut. Ligamne ini
saling bersilangan dengan ligament krusiata
anterior di tengah sendi. Fungsi utama PCL
adalah mencegah pergeseran mundur tibia
terhadap tulang paha. Ligamen ini juga
membantu mencegah hiperekstensi gerakan memutar tibia. Cedera pada PCL
menyebabkan ketidakstabilan lutut, dimana tibia cenderung untuk merosot mundur ketika
lutut ditekuk 90o.
Posterior Cruciate Ligament (PCL) merupakan ligamen yang saling bersilangan
dengan Anterior Cruciate Ligament (ACL) yang menghubungkan dan memberikan ikatan
antara tulang femur dengan tulang tibia. Sama seperti Anterior Cruciate Ligament (ACL),
Posterior Cruciate Ligament (PCL) juga memungkinkan mengalami cedera.
Menurut statistik, 20% dari total keseluruhan cedera pada lutut, melibatkan
ligamen ini. Menurut data tahun 2010, ditemukan 463 kasus cedera Posterior Cruciate
Ligament (PCL). Dari total cedera, sebagian besar penderitanya berkisar antara usia 18 44 tahun. Pengkajian awal mengenai kisaran usia pederita kasus cedera ini, dikarenakan
pada usia tersebut, orang masih sangat aktif dalam aktivitas fisik maupun menggeluti
salah satu cabang olahraga tertentu. Cedera ini sering dipicu saat lutut mengalami
benturan dari arah depan saat posisi lutut dalam keadaan fleksi (menekuk). Contohnya,
seperti saat lutut membentur dashboard pada beberapa kasus kecelakaan di jalan raya.
Kasus ini juga sering terjadi pada cabang olahraga fullbody contact seperti American
8

Football. Umumnya, penderita cedera ligamen ini mengalami sensasi popping atau
sensasi letusan pada lutut
Cedera Posterior

Crucite

Ligament (PCL)

ditandai

oleh

beberapa

symptoms, antara lain :


a.
b.
c.
d.

Pembengkakan (pada kasus cedera menengah hingga parah).


Nyeri pada lutut.
Lutut terasa goyah (kehilangan kekuatan dan fungsi).
Keterbatasan pada saat berjalan dan menopang berat badan.

C. ETIOLOGI
Diperkirakan bahwa 70&% persen dari cedera acl terjadi melalui mekanisme non
kontak sementara 30% persen adalah hasil dari kontak langsung dengan pemain lain atau
object. Mekanisme cedera sering dikaitkan dengan perlambatan diikuti dengan
pemotongan, berputar atau side stepping maneuver , pendaratan canggung atau out of
control play

Beberapa studi telah menunjukkan bahwa atlet wanita memiliki insiden yang lebih
tinggi cedera acl dari atlet laki-laki di olahraga tertentu, telah diusulkan bahwa ini adalah
9

karena perbedaan kondisi fisik, kekuatan otot, dan kontrol neuromuskular. Penyebab lain
dari hipotesis ini adalah perbedaan kelamin yang berkaitan dengan tingkat cedera acl
yang termasuk keselarasan pelvis dan ekstremitas bawah (kaki), peningkatan kelemahan
ligamen, dan efek estrogen pada sifat ligamen.
Jatuh dari tangga atau hilang satu langkah di tangga adalahkemungkinan penyebab
lainnya. Seperti bagian tubuh lain, ACL menjadi lemah dengan usia. Jadi robekan terjadi
lebih mudah pada orang tua dari usia 40%.

D. MANIFESTASI KLINIS
Pasien selalunya merasa atau mendengar bunyi pop di lutut pada saat cedera
yang sering terjadi saat mengganti arah, pemotongan,atau pendaratan dari melompat
(biasanya kombinasi hiperekstensi/poros). Ketidakstabilan mendadak di lutut. (Lutut
terasa goyah.) Gal ini bisa terjadi setelah lompatan atau perubahan arah atau setelah
pukulan langsungke sisi lutut. Nyeri di bagian luar dan belakang lutut.
Lutut bengkak dalam beberapa jam pertama dari cedera. Ini mungkin merupakan
tanda perdarahan dalam sendi. Pembengkakan yang terjadi tiba-tiba biasanya merupakan
tanda cedera lutut serius. Gerakan lutut terbatas karena pembengkakan dan atau rasa sakit.
Kebanyakan cedera pada ACL dapat didiagnosis melalui anamneae yang cermat
menekankan mekanisme kejadian cedera ditambah dengan pemeriksaan fisik yang sesuai.
Pastikan anamnesa mencakup mekanisme kejadian cedera sekarang dan kejadian
sebelumnya jika ada.

E. KLASIFIKASI
Beberapa ahli mengelompokkan cedera Posterior Cruciate Ligament (PCL) ke
dalam beberapa kelompok berdasarkan kondisi ligamen sesaat setalah cedera terjadi,
yaitu :
a. Grade I : Cedera dimana ligamen hanya mengalami cedera sebagian. Biasanya
disebabkan karena tertarik dalam mengakomodasi gerakan.
b. Grade II : Cedera dimana ligament mengalami tarikan berlebihan sehingga lutut
kehilangan stabilitas akibat ligamen kendor.
10

c. Grade III : Cedera dimana ligament mengalami sobekan total sehingga lutut tidak
stabil.
d. Grade IV : Cedera dimana ligamen yang terlukan mengakibatkan cedera pada bagian
lutut lainnya, baik tulang, meniscus, ligamen, maupun otot.

F. PATOFISIOLOGI
ACL seperti semua ligament lain, terdiri dari tipe 1 kolagen.Ultrastruktur ligament
adalah sangat mirip dengan tendon, tetapi serat didalam ligament lebih bervariasi dan
memiliki isi elastin yang lebih tinggi. Ligamen menerima suplai darah dari lokasi
insersinya. Vaskularisasi dalam ligament adalah seragam, dan ligament masing-masing
berisi mechanoreceptors dan ujung saraf bebas yang diduga membantu dalam
menstabilkan sendi. Avulsi ligamen pada umumnya terjadi diantara lapisan fibrocartilage
tidak bermineral dan yang bermineral. Rupture ACL yang paling umum, adalah ruptur
midsubstan. Jenis ruptur ini terjadi terutama sewaktu ligamentum ditranseksi oleh
kondilus femoral lateral yang berputar.
ACL menerima suplai darah kaya, terutama dari arteri geniculate medial, sewaktu
ACL pecah, haemarthrosis biasanya berkembang dengan cepat. Namun, meskipun intraartikular lokasinya, ACL sebenarnya di extrasynovial.

G. PENATALAKSANAAN
Penanganan untuk ACL yang robek tergantung pada keperluan pasien. Contohnya
atlet yang muda akan terlibat dalam aktivitas olahraga dan perlu dioperasi supaya fungsi
dapat kembali. Bagi individu yang lebih tua, dengan aktivitas yang lebih sederhana
biasanya tidak perlu dioperasi dan kembali ke kehidupan yang sederhana.
Namun sering, setelah cedera 1-2 hari, pasien dapat jalan seperti biasa. Keadaan
ini bukan berarti ACL sudah sembuh. Pada perkembangannya pasien akan merasakan
bahwa lututnya tidak stabil, gampang goyang dan sering timbul nyeri. Dengan cedera
ACL pasien akan sulit sekali untuk dapat melakukan aktifitas high impact sports, seperti
main

bola, futsal, basket atau badminton. Sebagian besar cedera ACL memerlukan

tindakkan operasi Arthroscopy agar pasien dapat pulih seperti sedia kala. Standar operasi
Arthroscopy ACL Reconstruction yang dipakai adalah Arthroscopic ACL Double Bundle
11

Reconstruction. Tehnik ini telah dilakukan lebih dari 200 kali sejak tahun 2007. Tehnik
operasi ini sangat populer di USA,Eropa dan Jepang karena dengan tehnik ini, hasilnya
sangat memuaskan pasien. Saat ini tehnik operasi ini dipakai sebagai standard untuk
operasi cedera ACL atlet-atlet papan atas kelas dunia, misalnya Tiger Wood.
Setelah luka bedah disembuhkan oleh pasien maka akan menjadwalkan pertemuan
pertama mereka dengan seorang fisioterapis. Terapis fisik untuk mengembangkan rencana
untuk mengobati pasien. Tujuan utama awal untuk mengurangi pembengkakan dan
bekerja untuk mencegah pembentukan jaringan parut. Tujuan berikutnya adalah untuk
menyediakan berbagai gerak kembali, sekaligus memperkuat otot-otot yang mendukung
sendi lutut. Dengan berbagai peningkatan gerak dan kekuatan, terapis fisik rehabilitasi
mereka akhirnya kegiatan dengan panggung dan kontrol neuromuskular gerakan
fungsional yang sesuai dengan kebutuhan sehari-hari pasien. Ini harus mengikuti jalannya
akronim pada tahap awal pemulihan dari robek ACL.
Rekonstruksi berhasil ACL tergantung atas sejumlah faktor, termasuk teknik
operasi, rehabilitasi pasca bedah dan menghubungkan ketidakstabilan ligamen sekunder.
Hari ini, rekonstruksi ACL biasanya dilakukan dengan arthroscopic bantuan. Ahli bedah
memakai korupsi, untuk mengganti sobek ACL. Graft mungkin dari tempat lain
ekstremitas pasien dipelopori (autograft), dipanen dari mayat (allograft) atau mungkin
sintetis.
Prosedur ACL rekonstruksi biasanya tidak dilakukan sampai sedikit minggu
setelah luka sebagai studi sudah menunjukkan hasil yang diperbaiki kalau lutut sudah
pulih dari jawaban luka gawat adalah lutut mempunyai pemecahan bertambah, rasa sakit
dan pasien sudah. Selama prosedur, pasien dibius umum atau tulang belakang=epidural.
Arthroscopy membolehkan penentuan luka yang dihubungkan, yang biasanya diobati di
tempat sama (e.g., meniscal cabikan atau chondral trauma). Bagian di lutut di mana PCL
dan ACL terdapat, taktik, sering sempit dan di kasus itu diperlebar (notchplasty) untuk
memberi cangkokan akomodasi mendapat kembali dekat gerakan dan kekuatan
penuh.Lalu lewat kecil memisahkan aksesori torehan, terowongan dibor lewat tulang
kering (tulang kaki direndahkan) dan lewat tulang paha (tulang atas) di posisi sama
sebagai tempat pertalian ligamen asli. Graft diciptakan untuk bisa masuk di terowongan
ini. Graft dibereskan ke tulang paha dan tulang kering (sol bagian atas dan menurunkan

12

tulang kaki) oleh jenis alat. Pernah mendapatkan, korupsi diperiksa untuk ketegangan
kulit.
Penyembuhan beristirahat selama - atau 4 hari yang pertama, usaha ditujukan di
minimizing bengkak dan mendirikan kembali quadriceps fungsi. Selama kali ini
peninggian lutut, kaki dan pergelangan kaki ditekankan. Perpindahan sering menambah
darah mengalir kembali dari ekstremitas (e.g. pompa pergelangan kaki) .Tongkat
dibiasakan dengan arah jalan-jalan menurut perintah dokter. Tekanan atas gaya berjalan
biasa tanpa limping. Wear nyaman shoes, Stay dalam tingkat nada aman anda gerakan
sebagai ditujukan oleh dokter anda

International Knee Documentation Committee;


a. Level I

: loncatan, berputar, dan lompat tinggi

b. Level II

: kerja berat, olahraga berat

c. Level III : perkerjaan keras, olahraga ringan


d. Level IV : aktivitas yang tak banyak bergerak dan tanpa olahraga
Pengobatan tanpa operasi mungkin dapat dipertimbangakan bagi pasien yang
mengambil bagian di aktivitas di level III dan IV. Atlet muda harus dipertimbangkan
untuk operasi untuk mencegah ketidakstabilan berulang.
Terapi Operasi
Pembentukan ligament kebanyakan ACL yang robek tidak boleh di jahit dan
disambung semula. Untuk membolehkan reparasi dari ACL untuk restorasi stabilitas lutut
adalah rekonstruksi dari ligament tersebut. Ligament tersebut akandi ganti dengan graft
jaringan ligament. Graft tersebut akan menjadi dasar untuk ligament yang baru untuk
tumbuh.Graft tersebut diambil dari beberapa sumber. Selalunya dari tendon patella, yang
merupakan sambungan kneecap dan shinbone. Tendon hamstring pada posterior pada
juga sering digunakan. Kadang tendon kuadrisep yang insersinya dari kneecap ke paha
dapat digunakan. Graft dari kadever (allograft) juga dapat digunakan. Penyembuhan
semula mengambil masa sekurang-kurangnya 1bulan sebelum atlit dapat berolahraga
setelah operasi. Tindakan operasi untuk rekonstruktif ACL dapat digunakan dengan
artroscopi dengan insisi yang kecil. Operasi artroskopi kurang invasife. Kelebihan dari
artroskopi adalah kerana kurang invasife,kurang nyeri, masa rawat inap lebih pendek dan
13

penyembuhan lebih cepat. Selain rekonstruktif ACL adalah terapi yang dikombinasi untuk
kerusakan ligament, selalunya tidak dilakukan segera. Keterlambatan ini memberi waktu
proses inflamasi untuk berjalan, dan memberi kelonggaran bagi pergerakan untuk belaku
sebelum operasi. rekonstruktif ACL terlalu awal dapat meningkatkan resiko artofibrosis
atau parut terjadi pada sendi dan bisa meningkatkan resikokehilangan pergerakan
Terapi Tanpa Operasi
ACL yang robek tidak akan sembuh sendiri dan harus dioperasi. Namun terapi
tanpa operasi efektif kepada pasien yang sudah tua dengan aktivitas kehidupan yang
sederhana. Jika stabilitas pada lutut intak, indikasinya adalah tanpa operasi. Bracing. Alat
ini dapat memproteksi lutut dari ketidakstabilan. Selanjutnya bias diteruskan dengan
pemakaian tongkat yang dapat mengurangi beban pada kaki. Terapi Fisikal, apabila
oedem berkurang, rehabilitasi akan bermula.Olahraga yang spesifik dapat restorasi fungsi
pada lutut dan menguatkan otot kaki yang memberi sokongan padanya.Berikut lima
langkah ini setiap hari seorang pasien untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan serta
untuk lebih mempersiapkan proses penyembuhan mereka bersama-sama. Sekitar satu atau
dua minggu setelah operasi, pasien akanmulai fisioterapi. Terapis fisik melakukan
evaluasi awal yang terdiri dari isu-isu substantif, dan pemeriksaan fisual dan fisik dari
lutut yang sama. Dengan formasi ini, seorang fisioterapis, rehabilitasi khusus rinci
kebutuhan setiap pasien. Jadwal dan rehabilitasi Expectations As kerusakan yang
perkiraan tanggal pemulihan tergantung pada banyak faktor, termasuk usia pasien,
besarnya kerugian, keberhasilan dan tipe operasi, etos kerja selama rehabilitasi, seni
terapis dan perhatian terhadap detail, dan secara keseluruhan kesehatan dan kondisi
pasien. Satu pasien, rata-rata, dari operasi ACL tradisional, akan mulai jogging ringan
sekitar empat bulan setelah operasi dengan kekuatan dan mobilitas tidak sepenuhnya
pulih sampai sekitar enam sampai sembilan bulan setelah operasi. Kebanyakan dokter
menyarankan pasien tidak kembali ke aktifitas fisik mereka lebih agresif sampai
penyembuhan tulang telah memenangkan setidaknya 90% kekuatan kaki suara. Ada
operasi yang lebih canggih yang atlet dapat di tanah dalam waktu sekitar enam bulan.
Pilihan ini adalah untuk atlet yang serius dan hanya seorang dokter harus dikonsultasikan
sebelum penelitian dari jenis cedera dapat alternative.
Rehabilitasi

14

Penggunaan olahraga closed-chain adalah untuk membantu pergerakan dari awal


dan untuk jangka waktu yang panjang. Protocol terapi dibagi empat menurut Shelbourne
and Nitz.
1. Fase I
2. Fase II

: Titik sebelum operasi dan memenuhi ROM yang maksimal.


: ( 0-2 minggu)target adalah mencapai ektensi penuh, control tendon

kuadrisep dan mengurangi bengkak dan target flexi hingga 90 derajat.


3. Fase III : (3-5minggu) mempertahankan ektensi penuh dan meninggkatkan flexi
ROM yang maksimal. Menaik tangga dan sepeda bisa digunakan.
4. Fase IV : ( 6 minggu) menambah kekuatan dan kelincahan, progresif sampai kembali
berolahraga.Kembali berolahraga tanpa aktivitas mungkin mengambil 6-9 bulan dan
sebaiknya di pantau oleh ahli bedah dan terapi fisik.
H. KOMPLIKASI
Komplikasi/resiko graft kegagalan karena luka kambuh, risiko infeksi luka,
operasi menyebabkan radang sendi, otot melemah dan kekurangan daya gerakan (ROM).
Jika nyeri, bertambah, karena inflamasi, drainase atau pertambahan pendarahan di lutut.
Konsul spesialis jika timbul gejala tersebut.

BAB III
TINJAUAN KASUS
15

ASUHAN KEPERAWATAN INSTALASI KAMAR OPERASI


Nama
:
No RM
:
Jenis kelamin :

Umur
:
Tgl Lahir :
Laki-laki

Perempuan
PENGKAJIAN

A. PRE OPERASI
1. Keadaan Umum :
Compos Mentis
Apatis
Delirium
2. Tanda Tanda Vital :
- TD : .mmHg
- RR : .x/menit
3. Pernafasan
Spontan
Cemas
Tenang
Canula
Tidak Ada Respon
4. Penilaian Nyeri
Lokasi
Derajat
0
1
2
3
4

Somnolen
Soporo
Coma

GCS: E ....... V....... M ...........


Reaksi pupil: ................. / .............

- Nadi : ..x/menit
- TB/BB :

- Suhu :

O2 : . 1/menit

10

Keterangan :
0
: Tidak Nyeri
4-7 : Nyeri Sedang
1-3 : Nyeri Ringan
8-10 : Nyeri Berat
5. Integritas Kulit
Tidak
Utuh
6. Sign In
Tidak
Ya
7. Marker Area Operasi
Tidak
Ya
ASUHAN KEPERAWATAN INSTALASI KAMAR OPERASI
Nama
:
No RM
:
Jenis kelamin :

Umur
:
Tgl Lahir :
Laki-laki

Perempuan
PENGKAJIAN

B. INTRA OPERASI
Anastesi Mulai : .....S/D.
Jenis Pembiusan
Tanda-Tanda Vital

Pembedahan : ...S/D...

Spinal / Regional
TD : . MmHg

Ga/Umum

RR : . X/Menit

Pernafasan

Lokal

S : . c

BB : . Kg

Spontan

Ventilator

Canula

O2 : .. x/ Menit
16

N : . X/Menit

Posisi canul infuse

Tangan

Kaki

Posisi Operasi

Supinasi

Jenis Operasi

Steril

Catheter Urine

Ya

Cairan Infuse

Jenis .

Transfuse

Golongan darah : Jumlah . cc

Pronasi

Arteri Line
Miring

Lithotomi

Bersih

Kotor

Tidak

Nomor :

Ket :

Jumlah . cc

IWL (insensible water loos) Jumlah .


Antiseptic Kulit

Betadine 7,5%

Betadine 10%

Time Out

Ya

Tidak

Insisi Kulit

Mediana

Pranmedial

Electrosurgical

Ya

Tidak

Bipolar

Alkohol

Microsil

Monopolar

Volume :
Pemeriksaan Kulit Sebelum Operasi
Pemeriksaan Kulit Sesudah Operasi

Bersih

Kotor

(Sudah Tercukur)

(Belum Tercukur)

Utuh

Menggelembung / Bengkak

Monitor Anastesi

Ya

Tidak

Stand By

Mesin Anastesi

Ya

Tidak

Stand By

Thorniquet

Ya

Tidak

Lokasi Thorniquet

Tangan

Kaki

Pemakaian Implant

Ya

Tidak

Irigasi Luka

Ya

Tidak

Cairan

NaCl

H 2O2

Penilaian Nyeri

P :

Lokasi . Jenis ..

Q :
R :
S :
T :
0
8

1
9

2
10

Keterangan :
0

: Tidak Nyeri

1-3

: Nyeri Ringan

4-7

:Nyeri Sedang

8-10 :Nyeri Berat


Tampon
17

Jumlah kasa yang dipakai sebelum operasi:.........................................


Jumlah kassa yang dipakai setelah operasi: .........................................
Jumlah jarum sebelum operasi: .........................................
Jumlah jarum sesudah operasi: .........................................
Bisturi sebelum operasi:.................................................Ukuran............................
Bisturi sesudah operasi...................................................Ukuran...........................
Roll kassa sebelum operasi.....................
Roll kassa sesudah operasi......................
Jumlah depper sebelum operasi:.......................
Jumlah depper sesudah operasi..........................
Diperiksa oleh.....................
Instrumen lengkap:
Sign out:

ya

ya

tidak

tidak

Indikator alat yang disterilkan


Internal:

Bagus
Tidak

External:

Bagus
Tidak

ASUHAN KEPERAWATAN INSTALASI KAMAR OPERASI


Nama
:
No RM
:
Jenis kelamin :

Umur
:
Tgl Lahir :
Laki-laki

Perempuan
PENGKAJIAN

C. POST OPERASI
1. Kesadaran
2. Pernafasan
3. Tanda-tanda Vital
4. Penilaian Nyeri
5.

CM

Delirium

Apatis

Somnolen

Soporo Coma

Coma

Spontan

Canula

tenang

TD :.. mmHg,

N : .. x/menit

S : C

RR :..x/menit,

BB/TB :

SpO2 :..

Lokasi

Derajat

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

18

Cemas

Keterangan : 0

: tidak nyeri

2-3 : nyeri ringan


4-7 : nyeri sedang
8-10 : nyeri hebat
6. Perdarahan

Jumlah. CC

7. Transfusi

Gol Darah..

Jumlah.

8. Cairan infuse

Jenis..

Jumlah.

9. Ekstermitas

Hangat

Dingin

10. Mukosa Mulut

Lembab

Dingin

11. Turgor Kulit

Elastis

Tidak Elastis

12. Sirkulasi

Merah muda

Sianosi

13. Urine

jumlah.

14. Catheter Urine

Ya

Tidak

15. Obat-obatan yang diberikan :

ANALISA DATA
Nama

: Tn. Fery Dariswan

Usia

: 38 tahun

No RM

: 44-54-65

Tanggal Pengkajian

: 30 januari 2015

NO
DATA
PRE OPERASI
1
DATA SUBJEKTIF:

Klien mengatakan cemas

menjelang operasi
Klien mengatakan ini merupakan
opersi pertama

DATA OBJEKTIF :

Klien tampak cemas menjelang


19

MASALAH

ETIOLOGI

Cemas

Tindakan pembedahan

operasi
Klien tampak gelisah
Klien tampak tegang
Kesadaran klien compos metis
Klien dalam posisi supinasi

INTRA OPERATIF
DATA SUBJEKTIF:

klien tidak dapat dikaji karena

Resiko

Berada di ruangan yang

hipotermi

dingin

Nyeri

Insisi pembedahan

dalam narkose umum


DATA OBJEKTIF :

Klien tampak dalam narkose


umum
Klien tampak sianiosis
Kulit teraba dingin
Suhu ruangan 19o C
TTV TD : 120/70 mmHg
N : 80x/menit
RR : 12x/menit
S : 36o C
sPo2 : 99%

POST OPERATIF
DATA SUBJEKTIF:

Klien mengatakan nyeri pada

lutut sebelah kiri


Klien mengatakan sulit
menggerakan kaki kirinya

DATA OBJEKTIF :

Klien tampak menahan sakit di

bagian operasi
Skala nyeri 5
Kesadaran klien apatis

20

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama

: Tn. Fery Dariswan

Usia

: 38 Tahun

No RM

: 44-54-65

Tanggal Pengkajian

: 30 januari 2015

No.

DIAGNOSA

Dx
1 PREOPERATIF
2

Cemas b.d Tindakan Pembedahan


INTRAOPERATIF
Resiko Hipotermi b.d Berada di
ruangan yang dingin

Tanggal

Tanggal

Tanda

Ditemukan

Teratasi

Tangan

30/01/2015

30/01/2015

30/01/2015

30/01/2015

POST OPERATIF
Nyeri b.d Insisi Pembedahan

21

INTERVENSI KEPERAWATAN
Nama

: Tn. Fery Dariswan

Usia

No RM

: 44-54-65

Tanggal Pengkajian : 30 januari 2015

NO

INTERVENSI
INTERVENSI DAN
TUJUAN / KH
RASIONAL

DIAGNOSA
KEPERAWATAN

PRE OPERASI
1. Cemas
b.d
Pembedahan

: 38 Tahun

Tindakan Setelah dilakukan tindakan1) Ukur tanda tanda vital


R : untuk mengetahui
selama 1 x 15 menit,
keadaan pasien
diharapkan
cemas
berkurang, dengan Kriteria2) Berikan pasien dengan
Hasil :

Pasien

tenang
TTV
dalam

normal
Ekpresi wajah tenang
Pasien tampak rileks

merasa

lebih
batas

posisi yang nyaman


R : posisi nyaman untuk
mengurangi

kecemasan

pasien

3) Beri kesempatan pasien


untuk

mengungkapkan

rasa cemasnya
R : dapat mengurangi
22

beban pikiran pasien


4) Ciptakan suasana yang
tenang
R : lingkungan tenang
dan

nyaman

mengurangi

dapat
kecmasan

klien
5) Anjurkan untuk teknik
relaksasi nafas dalam
R : agar pasien menjadi
lebih tenang.
INTRA OPERASI
2 Resiko hipotermi b.d berada Setelah dilakukan tindakan 1) Pantau suhu klien setiap
di ruangan yang dingin

selama 1 x 30 menit,

2 jam

diharapkan resiko hipotermi

R : perubahan suhu yang

dalam teratasi, dengan

signifikan

membantu

Kriteria Hasil :

dalam

pemberian

intervensi.

suhu 36-370C
tidak pucat/sianosis
akral hangat

2) Berikan selimut hangat


R : pemberian selimut
tambahan

dapat

mengurangi

evaporasi

dan radiasi sehingga suhu


tubuh

dapat

dipertahankan.
3) Pantau

suhu

ruangan

operasi
R

menjaga

suhu

lingkungan tetap konstan


sehingga tidak terjadin
pertukaran antara suhu
tubuh dan suhu ruangan
23

4) Pantau kondisi klien dari


kedinginan
R : untuk melihat adanya
perubahan kondisi klien
terutama penurunan suh
5) Ganti selimut yang basah
setelah operasi selesai
R : apabila selimut tidak
diganti,

kondisi

suhu

klien tidak stabil


POST OPERASI
3 Nyeri b.d insisi pembedahan

Setelah dilakukan tindakan 1) Kaji skala nyeri


keperawatan selama 1 x 30

R : mengetahui daerah

menit diharapkan nyeri

nyeri,

dapat dicegah dengan KH :

nyeri dirasakan, factor

Adanya penurunan

pencetus, berat ringannya

intensitas nyeri

nyeri yang dirasakan

kapan

Ketidaknyamanan akibat
nyeri berkurang

kualitas,

2) Ajarkan tehnik relaksasi

Tidak menunjukkan

nafas dalam pada klien

tanda-tanda fisik dan

R : untuk mengajarkan

perilaku dalam nyeri

klien apabila nyeri timbul

akut
3) Batasi pergerakan klien
selelah operasi
R : jika klien banyak
gerak, nyeri akan makin
bertambah
4) Berikan sentuhan pada
klien
R
24

sentuhan

dapat

membuat klien menjadi


tenang
5) Kolaborasi

dalam

pemberian obat analgetik


R : untuk mengurangi
rasa nyeri

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Nama

: Tn. Fery Dariswan

Usia

No RM

: 44-54-65

Tanggal Pengkajian : 30 januari 2015

25

: 38 Tahun

NO

TANGGAL

IMPLEMENTASI

TANDA

DX
WAKTU
PRE OPERASI
1.
30 /01/ 2015

KEPERAWATAN

TANGAN

1) Mengukur tanda tanda vital


Hasil TTV :
TD : 120/70 mmHg
S : 360C
N : 80x/menit
RR : 24x/menit
2) Memberikan

pasien

dengan

posisi

yang

nyaman
Hasil : klien operasi dengan posisi supinasi
( terlentang)
3) Memberikan

kesempatan

pasien

untuk

mengungkapkan rasa cemasnya


Hasil : sebelum operasi, klien mengatakan
sangat cemas
4) Menciptakan suasana yang tenang
Hasil : lingkungan ruangan klien sangat
tenang dan nyaman
5) Menganjurkan untuk teknik relaksasi nafas
dalam
Hasil : klien melakukan tehnik nafas dalam
untuk mengurangi cemas
INTRA OPERASI
2.

30 /01/ 2015

1) Memantau suhu klien setiap 2 jam


Hasil : suhu klien 360C
2) Memberikan selimut hangat
Hasil : ketika di operasi, klien diselimuti
dengan selimut yang hangat
3) Memantau suhu ruangan operasi
Hasil : suhu ruangan operasi 190C
4) Memantau kondisi klien dari kedinginan
Hasil : klien tampak pucat dan akral dingin
5) Mengganti selimut yang basah setelah operasi
selesai
Hasil : setelah operasi selesai, selimut
26

klien diganti dengan selimut yang baru


atau kering

POST OPERASI
3.

30 /01/ 2015

1) Mengkaji skala nyeri


Hasil : skala nyeri klien 6 (sedang)
2) Mengajarkan klien tehnik relaksasi nafas
dalam pada klien
Hasil

:setelah

diajarkan

tehnik

operasi

selesai,

klien

nafas

dalam

untuk

menghilangkan nyeri karena anastesi sudah


habis

3) Membatasi pergerakan klien


Hasil : klien ikat tangannya karena setelah
anastesi habis, klien berontak
4) Memberikan sentuhan pada klien
Hasil : perawat memberikan sentuhan pada
klien agar klien merasa lebih tenang
5) Kolaborasi dalam pemberian obat analgetik
Hasil : obat diberikan melalui injeksi

27

EVALUASI KEPERAWATAN
Nama

: Tn. Fery Dariswan

Usia

No RM

: 44-54-65

Tanggal Pengkajian : 30 januari 2015

NO

TANGGAL

DX
WAKTU
PRE OPERASI

EVALUASI

28

: 38 Tahun

TANDA
TANGAN

1.

30 januari 2015 S :

Klien mengatakan sudah tenang

Klien mengatakan cemas berkurang

Klien tampak tenang

Klien tampak rileks

Klien tampak berdoa sebelum operasi

O:

dimulai

Hasil TTV
TD : 120/70 mmHg
N : 80x/menit
RR : 24x/menit
S : 360C

A : Masalah cemas teratasi

2.

P : Intervensi dihentikan
30 januari 2015 S :

Klien tidak bisa dikaji karena dalam


narkose umum

O:

Klien tampak pucat

Akral tampak dingin

Suhu ruangan 21 0C

A : masalah hipotermi teratasi sebagian


P : intervensi dilanjutkan

29

3.

30 januari 2015 S :

Klien mengatakan nyeri sedikit berkurang

Skala nyeri klien 4

Hasil TTV

O:

TD : 110/80 mmHg
N : 84x/menit
RR : 20x/menit
S : 36,60C
A: masalah nyeri teratasi sebagian
P: intervensi dilanjutkan di ruang perawatan

DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Orthopaedic Surgeons, 2009. ACL Injury: Does It Require Surgery.
Available from: http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00297
Canale,. Beaty. Campbell's Operative Orthopaedics, 11th ed,2007;145-147
Cruciate ligament. Clin Sports Med 1993; 12:637670.
DeLee, Jesse C., David Drez Jr., and Mark D. Miller, eds. DeLee & Drez's, 2010. orthopaedic
sports

medicine

principles

and

practice.

3rd

ed.

Vol.

2.

Philadelphia:

Saunders/Elsevier.Availablefrom:http://www.orthopaedia.com/display/Main/Anterior
+cruciate+ligament+injuries+of+the+knee
30

Duquin TR, Wind WM, Fineberg MS, Smolinski RJ, Buyea CM. Current trends in anterior
cruciate ligament reconstruction. J Knee Surg. Jan 2009;22(1):7-12
Finalli. G C.The Multiple Ligament Injured Knee, A Practical Guide To Management,
2003;2-15
Garrick, J. G. (Ed.). 2004. Orthopaedic Knowledge Update: Sports Medicine (3rd ed.).
Rosemont, IL: American Academy of Orthopaedic Surgeons. Available from:
http://www.orthopaedia.com/display/Main/Anterior+cruciate+ligament+injuries+of+t
he+knee
Healthwise Incorporated. 2011. Anterior Cruciate Ligament (ACL) Injuries. Webmed.
Available from: http://www.webmd.com/a-to-z-guides/anterior-cruciate-ligament-aclinjuries-topic-overview
Jon C. Thompson, Anatomy of Leg/knee, Netters concise orthopaedic anatomy, 2010; 9:
297-303.
Kennedy JC, Alexander IJ, Hayes KC. Nerve supply of the human knee and its functional
importance. Am J Sports Med 1982; 10:329335.
Kennedy JC, Alexander IJ, Hayes KC. Nerve supply of the human knee and its functional
importance. Am J Sports Med. Nov-Dec 1982;10(6):329-35
Klaud Miller , 2000. Acute Knee And Chronic Ligament Injuries. Available from:
http://www.jockdoc.ws/subs/kneeligament.htm
Lyon, Daniel. The Complete Book of Pilates for Men. Harper Collins (2005)
Maguire J., 2012 Anterior Cruciate Ligament Pathology. Townsville Orthopaedics and Sports
Surgery,

Australia.

Medscape.

Available

from:

http://emedicine.medscape.com/article/307161-overview#showall
Smith BA, Livesay GA, Woo SL. Biology and biomechanics of the anterior
Souryal T.O. ACL Injury, ACL Tear, ACL Surgery. Texas Sports Medicine And Orthopaedic
Group. Available from: http://www.txsportsmed.com/emedicineacl.php

31