Anda di halaman 1dari 4

Kata-kata terpidana dan ahli waris sudah tegas dinyatakan dalam isi

pasal tersebut. Sehingga pasal 263 KUHAP harus dibaca adanya terpidana.
Kata-kata adanya terpidana, maka haruslah ditafsirkan memerintahkan
kepada terpidana untuk menjalani putusan kasasi terlebih dahulu barulah
kemudian mengajukan Peninjauan Kembali. Dengan demikian, maka pihak
merasa keberatan terhadap putusan kasasi dapat mengajukan Peninjauan
Kembali yang harus dihadiri kedua belah pihak. Kejadian tidak adanya
terpidana dan dapat diajukan oleh ahli waris mengingatkan kita dalam kasus
Peninjauan Kembali oleh Tommy Soeharto. ahli waris Tommy Soeharto
mengajukan Peninjauan Kembali padahal Tommy Soeharto telah kabur.
Mahkamah Agung kemudian mengabulkan Peninjauan Kembali Tommy
Soeharto. Sehingga kritik disampaikan ke Mahkamah Agung.1

Menurut M. yahya Harahap2 Memang benar di dalam KUHAP tidak


terdapat pejelasan apa yang dimaksud dengan Ahli Waris, oleh karena itu
maka dibutuhkan suatu penafsiran hukum atas masalah ini. Akan tetapi
terlihat bahwa dalam melakukan penafsiran hukum tersebut Majelis
1 http://hukum.kompasiana.com/2013/08/29/menafsirkanputusan-sujiono-timan--587391.html, diakses pada 16
November 2014, pukul 10.00 WIB

2 http://indekshukum.org/annotation/detail/450b0174-5348-1348ceb2-303233323431.html

peninjauan kembali melakukan lompatan konklusi/kesimpulan (jumping to


conclusion). Lompatan kesimpulan ini terlihat ketika Majelis peninjauan
kembali mengutip pendapat M. Yahya Harahap yang menyatakan bahwa hak
Ahli Waris untuk mengajukan peninjauan kembali bukanlah hak substitusi
namun merupakan hak orisinil. Dari pendapat ini Majelis peninjauan kembali
kemudian langsung mengambil kesimpulan bahwa dengan demikian maka
berarti baik terpidana maupun Ahli Warisnya sama-sama memiliki hak untuk
mengajukan peninjauan kembali tanpa mempersoalkan apakah terpidana
masih hidup atau tidak.
Ada beberapa alasan menanggapi kesimpulan tersebut merupakan
kesimpulan yang melompat. Pertama, M. Yahya Harahap sebagaimana
dikutip Majelis sebenarnya tidak sedang membahas apa yang dimaksud
dengan Ahli Waris dalam konteks Pasal 263 (1) tersebut, namun seperti
terlihat dari kutipan tersebut membahas apakah hak pengajuan peninjauan
kembali oleh Ahli Waris diperoleh dari hak substitusi yang diberikan oleh
terpidana (pewaris) atau bukan (hak orisinil). Jika jawabannya adalah yang
pertama, maka berarti Ahli Waris hanya dapat mengajukan peninjauan
kembali jika Terpidana sebelumnya memberikan kuasa kepadanya untuk
mengajukan peninjauan kembali. Sementara itu jika ia adalah hak orisinil,
maka Ahli Waris dapat mengajukan peninjauan kembali terlepas dari apakah
sebelumnya Terpidana memberikan kuasa kepadanya (ahli waris/para ahli
waris) untuk mengajukan penunjauan kembali atau tidak. Atas permasalahan

ini maka M. Yahya Harahap berpendapat bahwa hak Ahli Waris untuk
mengajukan peninjauan kembali bukan lah hak substitusi namun hak orisinil.
Pendapat M. Yahya Harahap tersebut sebenarnya memiliki relevansi
serta sejalan dengan pertimbangan Majelis PK dipoint sebelumnya, yang
menyatakan bahwa Ahli Waris yang dimaksud dalam Pasal 263 (1) ini
bukanlah dalam pengertian waris-mewaris harta benda (atau hak penulis)
namun ditujukan untuk pada orang-orang (selain Terpidana itu sendiri) yang
mempunyai hak untuk mengajukan peninjauan kembali juga. Jika
penggunaan kata ahli waris dalam Pasal 263 (1) tersebut dimaksudkan
dalam pengertian waris-mewaris harta benda (atau suatu hak), maka
perpindahan hak tersebut akan terjadi sesuai dengan hukum pewarisan, yang
artinya tidak semua ahli waris akan memperoleh hak peninjauan kembali
yang sebelumnya ada pada Terpidana tersebut namun hanya ahli waris yang
memang secara khusus memperoleh/diwarisi hak tersebut saja. Atau, jika hak
tersebut tidak diberikan pada salah seorang ahli waris namun pada beberapa
ahli waris, maka masing-masing ahli waris tidak dapat menggunakan hak
peninjauan kembali tersebut kecuali dengan persetujuan para ahli waris yang
juga memperoleh hak tersebut.
Atas kerumitan ini maka Majelis peninjauan kembali sangat tepat
ketika menyatakan bahwa konteks penggunaan kata Ahli Waris tidak lah
dimaksudkan dalam pengertian waris mewaris, namun untuk menunjukan
pihak-pihak mana saja selain terpidana yang (akan) memiliki hak untuk
mengajukan peninjauan kembali. Maka, tentu apa yang dimaksud dengan

ahli waris dalam Pasal 263 ayat (1) ini khususnya dalam kaitannya dengan
pertanyaan apakah hak peninjauan kembali dari (para) ahli waris baru dapat
digunakan setelah Terpidana meninggal atau dapat digunakan saat Terpidana
masih hidup belum lah terjawab.
Oleh karenanya ketika Majelis peninjauan kembali menyimpulkan bahwa
Ahli Waris dapat mengajukan peninjauan kembali, sebelum Terpidana
meninggal adalah kesimpulan yang melompat (jumping to conclusion) atau
setidaknya belum memiliki basis argumentasi yang kuat. Kedua, Majelis
peninjauan kembali mengaburkan adanya perbedaan antara keluarga dan
Ahli Waris padahal dalam KUHAP kedua istilah tersebut sama-sama
digunakan dalam beberapa ketentuan yang berbeda. Jika dilihat lebih
komperhensif sebenarnya KUHAP menggunakan dua istilah/term yang
berbeda dalam beberapa ketentuannya terkait pemberian suatu hak kepada
pihak selain Terpidana itu sendiri, yang bisa jadi penggunaan istilah yang
berbeda tersebut memiliki arti serta maksud dan tujuan yang berbeda.
Kedua istilah tersebut yaitu Ahli Waris dan Keluarga. Penggunaan istilah
Ahli Waris dalam KUHAP digunakan pada 4 ketentuan, yaitu Pasal 95 ayat
(2), 95 ayat (3), Pasal 263 Ayat (1), dan Pasal 268 ayat (2).

Anda mungkin juga menyukai