Anda di halaman 1dari 15

Abses Peritonsil

Sufrianus Brian Rantesalu


102010231
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Terusan Arjuna No.6, Jakarta 11510
Email: ryan.brian@rocketmail.com
Pendahuluan
Nyeri tenggorok dan demam yang disertai dengan terbatasnya gerakan membuka mulut dan
leher, harus dicurigai kemungkinan disebabkan oleh abses leher dalam.
Abses leher dalam terbentuk di dalam ruang potensial diantara fasia leher dalam sebagai
akibat penjalaran infeksi dari berbagai sumber, seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal,
telinga tengah, dan leher. Gejala dan tanda klinik biasanya berupa nyeri dan pembengkakan di ruang
leher dalam yang terlibat.
Kebanyakan kuman penyebab adalah golongan Streptococcus, Staphylococcus, kuman
anaerob Bacteroides atau kuman campuran. Abses leher dalam dapat berupa abses peritonsil, abses
retrofaring, abses parafaring, abses submandibula, dan angina Ludovici (Ludwigs angina), tetapi
pada pembahasan ini, penulis akan membahas lebih dalam mengenai abses peritonsil.1

Pembahasan
Anamnesis
Informasi dari pasien sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosis abses peritonsil.
Adanya riwayat pasien mengalami nyeri pada kerongkongan adalah salah satu yang mendukung
terjadinya abses peritonsil. Riwayat adanya faringitis akut yang disertai tonsillitis dan rasa kurang
nyaman pada pharyngeal uni lateral. Keluhan utama pada organ faring dapat berupa:
a. Nyeri tenggorok
Keluhan ini dapat hilang timbul atau menetap. Apakah nyeri tenggorok ini disertai
demam, batuk, serak, dan tenggorok terasa kering. Apakah pasien merokok dan berapa
jumlah batang rokok yang dikonsumsi dalam satu hari.
b. Nyeri menelan (Odinofagia)
Nyeri menelan merupakan rasa nyeri di tenggorok waktu gerakan menelan. Apakah
rasa nyeri ini dirasakan sampai telinga.
c. Rasa banyak dahak di tenggorokan
Adanya dahak di tenggorok merupakan keluhan yang sering timbul akibat adanya
inflamasi di hidung dan faring. Apakah dahak ini berupa lendir saja, nanah, atau
bercampur darah. Dahak ini dapat turun dan keluar bila dibatukkan atau terasa turun di
tenggorok.
d. Sulit menelan (Disfagia)
Pada pasien dengan keluhan sulit menelan perlu ditanyakan sudah berapa lama hal
tersebut terjadi dan jenis makanan cair atau padat. Apakah disertai muntah dan berat
badan menurun dengan cepat.
e. Rasa ada yang menyumbat atau mengganjal
Rasa sumbatan ditenggorok dapat ditanyakan sudah berapa lama menderita hal
tersebut dan tempatnya terdapat dimana.2
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan tonsil, ada pembengkakan unilateral, karena jarang kedua tonsil terinfeksi
pada waktu bersamaan. Bila keduanya terinfeksi maka yang kedua akan membengkak setelah tonsil
yang satu membaik. Bila terjadi pembengkakan secara bersamaan, gejala sleep apnea dan obstruksi
jalan nafas akan lebih berat. Pada pemeriksaan fisik penderita dapat menunjukkan tanda-tanda
dehidrasi dan pembengkakan serta nyeri kelenjar servikal/ servikal adenopati. Disaat abses sudah
timbul, biasanya akan tampak pembengkakan pada daerah peritonsilar yang terlibat disertai
pembesaran pilar-pilar tonsil atau palatum molle yang terkena.
Tonsil sendiri pada umumnya tertutup oleh jaringan sekitarnya yang membengkak atau

tertutup oleh mukopus. Timbul pembengkakan pada uvula yang mengakibatkan terdorongnya uvula
pada sisi yang berlawanan. Paling sering abses peritonsil pada bagian supratonsil atau di belakang
tonsil, penyebaran pus kearah inferior dapat menimbulkan pembengkakan supraglotis dan obstruksi
jalan nafas. Pada keadaan ini penderita akan tampak cemas dan sangat ketakutan.
Abses peritonsil yang terjadi pada kutub inferior tidak menunjukkan gejala yang sama
dengan pada kutub superior. Umumnya uvula tampak normal dan tidak bergeser, tonsil dan daerah
peritonsil superior tampak berukuran normal hanya ditandai dengan kemerahan.3
Pemeriksaan Penunjang
Prosedur diagnosis dengan melakukan Aspirasi jarum (needle aspiration). Tempat aspirasi
dibius/ dianestesi menggunakan lidocain dengan epinephrine dan jarum besar (berukuran 16-18)
yang biasa menempel pada syringe berukuran 10cc. Aspirasi material yang bernanah (purulent)
merupakan tanda khas dan material dapat dikirim untuk dibiakkan.
Pada penderita abses peritonsil perlu dilakukan pemeriksaan:
a.

Hitung darah lengkap (complete blood count), pengukuran kadar elektrolit (electrolyte level
measurement), dan kultur darah (blood cultures)

b.

Tes Monospot (antibody heterophile) perlu dilakukan pada pasien dengan tonsillitis dan
bilateral cervical lymphadenopathy. Jika hasilnya positif, penderita memerlukan evaluasi/
penilaian hepatosplenomegali. Liver function tests perlu dilakukan pada penderita dengan
hepatomegali

c.

Throat culture atau throat swab and culture: diperlukan untuk identifikasi organisme
yang infeksius. Hasilnya dapat digunakan untuk pemilihan antibiotik yang tepat dan efektif
untuk mencegah timbulnya resistensi antibiotic

d.

Plain radiographs: pandangan jaringan lunak lateral (Lateral soft tissue views) dari
nasopharynx dan oropharynx dapat membantu dokter dalam menyingkirkan diagnosis abses
retropharyngeal

e.

Computerized tomography (CT scan); biasanya tampak kumpulan cairan hypodense di apex
tonsil yang terinfeksi (the affected tonsil), dengan peripheral rim enhancement

f.

Ultrasound, contohnya: intraoral ultrasonografi4

Diagnosis Kerja
Abses peritonsil adalah akumulasi pus lokal di jaringan peritonsil yang terbentuk sebagai
akibat dari tonsilitis supuratif. Abses terbentuk pada kelompok kelenjar ludah di fosa supratonsilar,
yang dikenal sebagai kelenjar Weber. Sarang akumulasi pus terletak antara kapsul tonsil palatina
dan otot-otot konstriktor faring. Pilar anterior dan posterior, torus tubarius superior, dan sinus

piriformis inferior membentuk ruang potensial peritonsil. Karena terdiri dari jaringan ikat longgar,
infeksi parah pada daerah ini dapat mengakibatkan pembentukan materi purulen. Peradangan
progresif dan pus dapat secara langsung mengenai palatum, dinding faring lateral, dan, dasar lidah.5
Abses peritonsil dapat terjadi pada umur 10-60 tahun, namun paling sering terjadi pada
umur 20-40 tahun. Pada anak-anak jarang terjadi kecuali pada mereka yang menurun system
immunnya, tapi infeksi bisa menyebabkan obstruksi jalan napas yang signifikan pada anak-anak.
Infeksi ini memiliki proporsi yang sama antara laki-laki dan perempuan. Angka kejadian abses
peritonsil juga tidak dipengaruhi oleh ras.
Abses peritonsil biasanya merupakan komplikasi dari tonsilitis akut. Edema akibat inflamasi
dapat mengakibatkan kesulitan menelan. Dehidrasi sekunder sering terjadi akibat pasien
menghindari menelan makanan dan cairan. Perluasan abses dapat menyebabkan peradangan ke
dalam kompartemen fasia yang berdekatan dengan kepala dan leher, sehingga berpotensi
menyebabkan obstruksi jalan napas.5

Gambar 1. Abses peritonsil


Diagnosis Banding
1. Abses Retrofaring
Penyakit ini biasanya ditemukan pada anak yang berusia di bawah 5 tahun. Hal ini
terjadi karena pada usia tersebut ruang retrofaring masih berisi kelenjar limfa, masingmasing 2-5 buah pada sisi kanan dan kiri. Kelenjar ini menampung aliran limfa dari hidung,
sinus paranasal, nasofaring, faring, tuba Eustachius, dan telinga tengah. Pada usia di atas 6
tahun kelenjar limfa akan mengalami atrofi1
Etiologi
Keadaan yang dapat menyebabkan terjadinya abses ruang retrofaring ialah (1)

Infeksi saluran napas atas yang menyebabkan limfaadenitis retrofaring. (2) Trauma dinding
belakang faring oleh benda asing seperti tulang ikan atau tindakan medis, seperti
adenoidektomi, intubasi endotrakea dan endoskopi. (3) Tuberkulosis vertebra servikalis
bagian atas (abses dingin)
Gejala dan tanda
Gejala utama abses retrofaring ialah rasa nyeri dan sukar menelan. Pada anak kecil,
rasa nyeri menyebabkan anak menangis terus (rewel) dan tidak mau makan atau minum.
Juga terdapat demam, leher kaku dan nyeri. Dapat timbul sesak napas karena sumbatan jalan
napas, terutama di hipofaring. Bila proses peradangan berlanjut sampai mengenai laring
dapat timbul stridor. Sumbatan oleh abses juga dapat mengganggu resonansi suara sehingga
terjadi perubahan suara.
Pada dinding belakang faring tampak benjolan, biasanya unilateral. Mukosa terlihat
bengkak dan hiperemis.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya riwayat infeksi saluran napas bagian atas
atau trauma, gejala dan tanda klinik serta pemeriksaan penunjang foto Rontgen jaringan
lunak leher lateral. Pada foto Rontgen akan tampak pelebaran ruang retrofaring lebih dari 7
mm pada anak dan dewasa serta pelebaran retrotrakeal lebih dari 14 mm pada anak dan
lebihdari 22 mm pada orang dewasa. Selain itu juga dapat terlihat berkurangnya lordosis
vertebra servikal.1
2. Abses Parafaring
Abses parafaring yaitu peradangan yang disertai pembentukan pus pada ruang
parafaring. Ruang parafaring dapat mengalami infeksi secara langsung akibat tusukan saat
tonsilektomi, limfogen dan hematogen
Etiologi
Ruang parafaring dapat mengalami infeksi dengan cara 1) Langsung, yaitu akibat
tusukan jarum pada saat melakukan tonsilektomi dengan analgesia. Peradangan terjadi
karena ujung jarum suntik yang telah terkontaminasi kuman, menembus lapisan otot tipis
(m. kontriktor faring superior) yang memisahkan ruang parafaring dari fosa tonsilaris. 2)
Proses supurasi kelenjar limfa leher bagian dalam, gigi, tonsil, faring, hidung, sinus
paranasal, mastoid, dan vertebra servikal dapat merupakan sumber infeksi untuk terjadinya

abses ruang parafaring. 3) Penjalaran infeksi dari ruang peritonsil, retrofaring, atau
submandibula
Gejala dan tanda
Gejala dan tanda yang utama ialah trismus, indurasi, atau pembengkakan di sekitar
angulus mandibula, demam tinggi, dan pembengkakan dinding lateral faring, sehingga
menonjol kea rah medial.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, gejala, dan tanda klinik. Bila
meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang berupa foto Rontgen jaringan lunak AP
atau CT scan1

3. Abses Submandibula
Ruang submandibula terdiri dari ruang sublingual dan ruang submaksila. Ruang
sublingual dipisahkan dari ruang submaksila oleh otot milohioid.
Ruang submaksila selanjutnya dibagi lagi atas ruang submental dan ruang
submaksila (lateral) oleh otot digastrikus anterior.
Namun ada pembagian lain yang tidak menyertakan ruang sublingual ke dalam ruang
submandibula, dan membagi ruang submandibula atas ruang submental dan ruang
submaksila saja. Abses dapat terbentuk di ruag submandibula atau salah satu komponennya
sebagai kelanjutan infeksi dari daerah kepala leher.
Etiologi
Infeksi dapat bersumber dari gigi, dasar mulut, faring, kelenjar liur, atau kelenjar
limfa submandibula. Mungkin juga sebagian kelanjutan infeksi ruang leher dalam lain.
Kuman penyebab biasanya campuran kuman aerob dan anaerob.
Gejala dan tanda
Terdapat demam dan nyeri leher disertai pembengkakan di bawah mandibula dan
atau di bawah lidah, mungkin berfluktuasi. Trismus sering ditemukan.1
4. Angina Ludovici
Angina Ludovici ialah infeksi ruang submandibula berupa selulitis dengan tanda

khas berupa pembenkakan seluruh ruang submandibula, tidak membentuk abses, sehingga
keras pada perabaan submandibula
Etiologi
Sumber infeksi seringkali berasal dari gigi atau dasar mulut, oleh kuman aerob dan
anaerob.
Gejala dan tanda
Terdapat nyeri tenggorok dan leher, disertai pembengkakan di daerah submandibula
yang tampak hiperemis dan keras pada perabaan. Dasar mulut membengkak, dapat
mendorong lidah ke atas belakang, sehingga menimbulkan sesak napas, karena sumbatan
jalan napas.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat sakit gigi, mengorek, atau cabut gigi. Pada
Pseudo Angina Ludovici dapat terjadi fluktuasi.1
Etiologi
Abses peritonsil terjadi sebagai akibat komplikasi tonsillitis akut atau infeksi yang
bersumber dari kelenjar mucus Weber di kutub atas tonsil. Biasanya kuman penyebabnya sama
dengan kuman penyebab tonsillitis. Biasanya unilateral dan lebih sering pada anak-anak yang lebih
tua dan dewasa muda.5
Abses peritonsiler disebabkan oleh organism yang bersifat aerob maupun yang bersifat
anaerob. Organisme aerob yang paling sering menyebabkan abses peritonsiler adalah
Streptococcus pyogenes (Group A Beta-hemolitik streptococcus), Staphylococcus aureus, dan
Haemophilus influenza, sedangkan organism anaerob yang berperan adalah Fusobacterium.
Prevotella, Porphyromonas, Fusobacterium, dan Peptostreptococcus spp. Untuk kebanyakan abses
peritonsiler diduga disebabkan karena kombinasi antara organism aerobik dan anaerobik.6
Patofisiologi
Patofisiologi abses peritonsil belum diketahui secara pasti. Namun teori yang paling banyak
diterima adalah perkembangan dari episode tonsillitis eksudatif ke peritonsilitis dan kemudian
terjadi proses pembentukan abses.
Daerah superior dan lateral fosa tonsilaris merupakan jaringan ikat longgar, oleh karena itu
infiltrasi supurasi ke ruang potensial peritonsil tersering menempati daerah ini. Pada stadium

permulaan (stadium infiltrate), terjadi proses pembengkakan dan tampak permukaan peritonsil
hiperemis. Bila proses berlanjut, terjadi supurasi sehingga daerah tersebut lebih lunak.
Pembengkakan peritonsil akan mendorong tonsil dan uvula ke arah kontralateral (arah yang sehat).
Bila proses berlangsung terus, peradangan jaringan di sekitarnya akan menyebabkan iritasi pada m.
pterigoid interna sehingga timbul trismus. Abses dapat pecah spontan, mungkin dapat terjadi
aspirasi ke paru.
Teori lain menyatakan abses peritonsil di kelenjar Weber. Kelenjar ludah minor ini
ditemukan di ruang peritonsil dan diperkirakan berfungsi membantu pembersihan debris dari
amandel. Kemungkinan, obstruksi kelenjar Weber akibat infeksi, nekrosis jaringan dan proses
pembentukan abses, mengakibatkan terjadinya abses peritonsil.1
Gejala Klinis
Pasien abses peritonsil biasanya datang ke klinik dengan keluhan utama nyeri menelan
(odinofagia). Selain itu pasien juga mengeluhkan demam, lemah, lesu serta nyeri kepala. Pada kasus
yang agak berat, terdapat sulit menelan (disfagia), nyeri alih ke telinga pada sisi terbentuknya abses
peritonsil, saliva yang meningkat, serta trismus. Pembengkakan peritonsil mengganggu artikulasi
sehingga pasien sulit berbicara dan mengakibatkan suara gumam (hot potato voice).
Inspeksi terperinci pada daerah yang membengkak mungkin sulit karena ketidakmampuan
pasien membuka mulut. Pemeriksaan mulut dengan menggunakan spatula lidah menyebabkan
pasien merasa tidak nyaman dan ada rasa ingin muntah. Diagnosis sering hampir pasti dapat
ditegakkan bila pemeriksa melihat pembengkakan peritonsil yang luas, mendorong uvula melewati
garis tengah, dengan edema dari palatum molle. Tonsil sendiri dapat terlihat bengkak, hiperemis,
dan mungkin banyak detritus. Tonsil juga dapat terdorong ke arah medial, depan, ataupun bawah.1

Gambar 2. Gambaran inflamasi tonsil (gambar kiri) dan abses peritonsil (gambar kanan)
Epidemiologi
Abses peritonsil sering mengenai orang dewasa pada usia 20 sampai 40 tahun. Pada anak

jarang terjadi, kecuali yang mengalami gangguan penyakit kekebalan tubuh, tetapi pada anak
infeksi dapat menyebabkan gangguan obstruksi jalan nafas. Persentase efek gangguan jalan nafas
sama pada anak laki-laki dan perempuan.
Pada umumnya infeksi dibagian kepala leher terjadi pada orang dewasa. Insiden abses
peritonsil di AS terjadi 30 per 100.000 orang/ tahun. Di Irlandia Utara dilaporkan 1 per 10.000
pasien pertahun, dengan rata-rata usia 26,4 tahun.1
Penatalaksanaan
Meskipun fakta menunjukkan bahwa abses peritonsil merupakan komplikasi tersering dari
tonsillitis akut, penatalaksanaan dari abses peritonsil masih controversial. Penatalaksanaan yang
umum dikenal untuk abses peritonsil adalah insisi, drainase dan terapi antibiotika, diikuti oleh
tonsilektomi beberapa minggu kemudian.
Dikutip dari Badran, Herzon menyatakan bahwa aspirasi jarum saja dapat digunakan sebagai
drainase prosedur pembedahan awal karena tingkat resolusi dengan teknik ini adalah 94-96%. Pada
54% kasus abses peritonsil, penanganannya menggunakan teknik insisi dan drainase, 32%
digunakan jarum aspirasi, dan 14% dilakukan tonsilektomi. Sebelum jaman antibiotika dikenal pada
akhir 1930-an dan awal 1940-an, beberapa tipe pembedahan telah digunakan pada sebagian besar
infeksi abses peritonsil.7
a. Terapi antibiotika
Salah satu faktor yang masih merupakan kontroversi dalam penanganan abses
peritonsil adalah pemilihan terapi antibiotika sebelum dan sesudah pembedahan. Antibiotika
pada gejala awal diberikan dalam dosis tinggi disertai obat simptomatik, kumur-kumur
dengan cairan hangat dan kompres hangat pada leher (mengendurkan tegangan otot).
Dengan mengutamakan pemeriksaan kultur dan sensitifitas, pemberian terapi
antibiotika ditunjukkan pada jenis bakteri mana yang lebih banyak muncul. Penisilin dan
sefalosporin (generasi pertama, kedua, atau ketiga) biasanya merupakan obat pilihan.
Penisilin dalam dosis tinggi sebagai obat pilihan diberikan dengan mempertimbangkan
kontra indikasi seperti alergi atau timbulnya kemungkinan adanya reaksi koagulasi
organisme.
Penisilin dapat digunakan pada penderita abses peritonsil yang diperkirakan
disebabkan oleh kuman Staphylococcus. Metronidazol merupakan antimikroba yang sangat
baik untuk infeksi anaerob. Tetrasiklin merupakan antibiotika alternatif yang sangat baik
bagi orang dewasa, meskipun klindamisin saat ini dipertimbangkan sebagai antibiotik
pilihan untuk menangani bakteri yang memproduksi beta laktamase. Penting untuk dicatat
bahwa memberikan antibiotika intravena pada penderita abses peritonsil yang dirawat inap
belakangan ini sudah kurang umum digunakan.7

b. Insisi dan drainase


Abses peritonsil merupakan suatu indikasi tindakan yang juga disebut intraoral
drainase. Tujuan utama tindakan ini adalah mendapatkan drainase abses yang adekuat dan
terlokalisir secara cepat. Lokasi insisi biasanya dapat diidentifikasi pada pembengkakan di
daerah pilar-pilar tonsil atau dipalpasi pada daerah paling berfluktuasi.
Teknik insisi, pada penderita yang memerlukan anastesi umum, posisi penderita saat
tindakan adalah kepala lebih rendah (trendelenberg) menggunakan ETT (Endotrakeal tube).
Anestesi topical dapat berupa xylocaine spray atau menggunakan lidokain 4-5% atau
tetrakain 2% untuk mencegah keterlibatan jaringan tonsil yang lain. Lokasi insisi biasanya
dapat diidentifikasi pada pembengkakan di daerah pilar-pilar tonsil atau dipalpasi pada
daerah yang paling fluktuatif, pada titik yang terletak dua pertiga dari garis khayal yang
dibuat antara dasar uvula dengan molar terakhir, pada pertengahan garis horizontal antara
pertengahan basis uvula dan M3 atas, pada pertemuan garis vertikal melalui titik potong
pinggir medial pilar anterior dengan lidah dengan garis horizontal melalui basis uvula, pada
pertemuan garis vertikal melalui pinggir medial M3 bawah dengan garis horizontal melalui
basis uvula.
Insisi diperdalam dengan klem dan pus yang keluar langsung dihisap dengan
menggunakan alat penghisap. Tindakan ini (menghisap pus) penting dilakukan untuk
mencegah aspirasi yang dapat mengakibatkan timbulnya pneumonitis. Biasanya bila insisi
yang dibuat tidak cukup dalam, harus lebih dibuka lagi dan diperbesar. Setelah cukup
banyak pus yang keluar dan lubang insisi yang cukup besar, penderita kemudian disuruh
berkumur dengan antiseptic dan diberi terapi antibiotika.7

Gambar 3. Teknik insisi

Drainase dengan aspirasi jarum, model terapi abses peritonsil yang digunakan
sampai saat ini, pertama insisi dan drainase serta yang kedua tonsilektomi. Saat ini ada

beberapa penelitian yang mendiskusikan tentang aspirasi menggunakan jarum sebagai salah
satu terapi bedah pada abses peritonsil. Beberapa keuntungan dari evaluasi penatalaksanaan
aspirasi jarum dibanding insisi dan drainase adalah:

Mudah untuk dilakukan, sederhana, aman, dan murah

Dapat digunakan untuk konfirmasi diagnosis dengan trauma minimal (yang biasanya
dapat dilakukan sebelum insisi dan drainase)

Dapat ditoleransi (ditahan) oleh penderita/ tidak menakutkan

Tidak/ kurang mencederai struktur jaringan sekitar

Lebih memudahkan untuk mengumpulkan spesimen/ pus guna pemeriksaan


mikroskopis dan tes kultur/ sensitifitas

Memberikan penyembuhan segera, mengurangi kesakitan

Mencegah prosedur bedah dan anestesi umum

Merupakan prosedur yang dapat dipercaya untuk abses peritonsil

Kerugian terapi dengan drainase dengan aspirasi jarum adalah:

Bila pus terkumpul kembali dapat menyebabkan infeksi yang berulang

Tidak dapat melakukan pembersihan kantung pus secara maksimal

Pus yang tersisa tidak maksimal keluar sehingga dapat menyebabkan proses
penyembuhan lama7

Gambar 4. Tindakan aspirasi abses peritonsil

c. Tonsilektomi
Tindakan pembedahan pada abses peritonsil merupakan topik yang kontroversial
sejak beberapa abad. Filosofi dari tindakan tonsilektomi pada abses peritonsil adalah karena
berdasarkan pemikiran bahwa kekambuhan pada penderita abses peritonsil terjadi cukup
banyak sehingga tindakan pengangkatan kedua tonsil ini dilakukan untuk memastikan tidak
terjadinya kekambuhan.
Waktu pelaksanaan tonsilektomi sebagai terapi abses peritonsil, bervariasi:

Tonsilektomi a chaud: dilakukan segera/ bersamaan dengan drainase abses

Tonsilektomi a tiede: dilakukan 3-4 hari setelah insisi dan drainase

Tonsilektomi a froid: dilakukan 4-6 minggu setelah drainase

Tonsilektomi merupakan penanganan yang terbaik untuk mencegah rekurensi abses


peritonsil. Pada masa lalu, orang berpendapat operasi harus dilakukan 2-3 minggu setelah
infeksi akut berkurang. Tetapi setalah 2-3 minggu, menimbulkan bekas luka yang terdapat
pada kapsul tonsil, sehingga tindakan operasi sulit dan menimbulkan perdarahan serta sisa
tonsil.
Saat ini tampaknya dibenarkan bahwa tonsilektomi pada abses peritonsil dilakukan
dalam anestesi umum, melalui tonsilektomi secara diseksi dan dalam perlindungan terapi
antibiotika adalah suatu operasi yang memberikan resiko yang sama dengan tonsilektomi
abses pada fase tenang (cold tonsillectomy).
Beberapa keuntungan dari tonsilektomi segera pada abses peritonsil adalah:

Penanganan penderita dilakukan dalam satu tahap pada saat sakit

Memberikan drainase pus yang lengkap

Mengurangi kesulitan tonsilektomi selang waktu yang kadang-kadang timbul

Mengurangi waktu perawatan (bila penderita dirawat inap di rumah sakit)

Mengurangi rasa sakit dengan segera dan menghilangkan perasaan tidak enak
mengalami prosedur yang lain (insisi dan drainase)

Beberapa kerugian tindakan tonsilektomi segera pada abses peritonsi adalah:

Dapat terjadinya perdarahan pada saat tindakan tonsilektomi

Dapat terjadi thrombosis, sinus kavernosus, aspirasi paru, dan meningitis

Indikasi tonsilektomi segera, yaitu:

Abses peritonsil yang tidak dapat diinsisi dan drainase karena trismus atau abses
yang berlokasi di kutub bawah

Abses peritonsil yang meluas dari hipofaring ke daerah parafaring, dengan resiko
meluas ke daerah leher dalam

Penderita dengan DM yang memerlukan toleransi terhadap terapi berbagai


antibiotika

Penderita diatas 50 tahun dengan tonsil-tonsil yang melekat karena abses akan
sangat mudah meluas ke daerah leher dalam7

Gambar 5. Tonsilektomi
Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi ialah:
a.

Abses pecah spontan, mengakibatkan perdarahan, aspirasi paru, atau piema

b.

Penjalaran infeksi dan abses ke daerah parafaring, sehingga terjadi abses parafaring.
Kemudian dapat terjadi penjalaran ke mediastinum menimbulkan mediastinitis

c.

Bila terjadi penjalaran ke daerah intracranial; dapat mengakibatkan thrombus sinus


kavernosus, meningitis, dan abses otak. Sejumlah komplikasi klinis lainnya dapat terjadi
jika diagnosis abses peritonsil diabaikan. Beratnya komplikasi tergantung dari kecepatan
progression penyakit. Untuk itulah diperlukan penanganan dan intervensi sejak dini.1

Prognosis
Abses peritonsil merupakan penyakit yang jarang menyebabkan kematian kecuali jika
terjadi komplikasi berupa abses pecah spontan dan menyebabkan aspirasi ke paru. Selain itu
komplikasi ke intracranial juga dapat membahayakan nyawa pasien. Abses peritonsil hampir selalu
berulang bila tidak diikuti dengan tonsilektomi, maka perlu dilakukan tonsilektomi pada pasien
abses peritonsil. Tonsilektomi sebaiknya dilakukan pada saat peradangan telah mereda, biasanya
terdapat jaringan fibrosa dan granulasi pada saat operasi.1

Kesimpulan
Abses peritonsil merupakan kumpulan atau timbunan nanah (pus) yang terlokalisir/ terbatas
pada jaringan peritonsilar yang terbentuk sebagai hasil dari supuratif tonsilitis.
Gejala klinis meliputi odinofagia (nyeri menelan) yang hebat, biasanya pada sisi yang sama
juga dan nyeri telinga (otalgia), muntah (regurgitasi), mulut berbau, banyak ludah (hipersalivasi),
suara sengau, dan kadang-kadang sukar membuka mulut (trismus), Abses peritonsil hampir selalu
berulang bila tidak diikuti dengan tonsilektomi.

Daftar Pustaka
1. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku ajar ilmu kesehatan telinga,
hidung, tenggorok, dan kepala. Jakarta: FKUI; 2007
2. Abses peritonsil. Diunduh dari: http://arossibueahoras.com/2011/04/abses-peritonsil.html.
pada tanggal 26 Maret 2013
3. Ming CF. Effycacy of three theraupetic methods for peritonsillar abscess. Journal of Chinese
Clinical Medicine; 2006
4. Abidin, Taufik. Abses Peritonsiler. Mataram: Fakultas Kedokteran Universitas Mataram;
2006
5. Adrianto, Petrus. Penyakit telinga, hidung dan tenggorokan. Jakarta: EGC; 2003
6. Adams GL. Penyakit-penyakit nasofaring dan orofaring . Jakarta:EGC; 2001
7. Braude DA, Shalit M. A novel approach to enchance visualization during drainage of
peritonsillar abscess. The Journal of Emergency Medicine; 2007