Anda di halaman 1dari 42

Pengertian Sejarah

Pengertian

Sejarah

Sahabat

Pustakers,

Sejarah

adalah

sebuah

alat

ampuh

dalam

melanggengkan kekuasaan, lihatlah Soeharto mampu bertahan selama 32 tahun berkuasa di


Indonesia kerena mampu menguasai dan mengendalikan sejarah. Jadi sejarah itu amat penting
untuk dipelajari dan dipahami. Lalu apakah sebenarnya pengertian Sejarah?, para ahli telah
mngkaji dan mengeluarkan pendapatnya masing-masing tentang definisi sejarahtentu dengan
data dan fakta hasil penemuan para ahli ini.
Sejarah jika ditinjau dari sudut etimilogisnya, maka akan dapat didapat sebuah data, bahwa
kata SEJARAH itu berasal dari kata Asyajaratun bahasa Arab, yang berarti Pohon Silsilah. Sejarah
dalam bahasa Inggris adalah History yang berasal dari bahasa Yunani Istoria atau Historia,
Terdapat istilah klasik asal mula kata History atau istoria ini, Dalam terminologi Yunani saat itu
muncul istilah Historia Magistra Vitae atau Sejarah adalah Guru yang terbaik, maksudnya sejarah
itu merupakan sebuah pengalaman yang akan menjadikan kita bijaksana dan pintar artinya
sejarah itu membuat suatu bangsa menjadi arif bijaksana dan tidak akan mengulang kesalahankesalahan yang pernah dilakukan oleh para pendahulunya atau kesalahan pada masa lalu.

Sejarah secara sempit adalah sebuah peristiwa manusia yang bersumber dari realisasi diri,
kebebasan dan keputusan daya rohani. Sedangkan secara luas, sejarah adalah setiap peristiwa
(kejadian). Sejarah adalah catatan peristiwa masa lampau, studi tentang sebab dan akibat.
Sejarah kita adalah cerita hidup kita.
Sejarah sangat penting dalam kehidupan suatu bangsa karena:

Sejarah merupakan gambaran kehidupan masyarakat di masa lampau

Dengan sejarah kita dapat lebih mengetahui peristiwa/kejadian yang terjadi di masa

lampau
Peristiwa yang terjadi di masa lampau tersebut dapat dijadikan pedoman dan acuan dalam

kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di masa kini dan yang akan datang
Dengan sejarah kita tidak sekedar mengingat data-data dan fakta-fakta yang ada tetapi
lebih memaknainya dengan mengetahui mengapa peristiwa tersebut terjadi.

Sejarah Menurut Para Ahli

Herodotus : Sejarah tidak berkembang ke arah depan dengan tujuan pasti melainkan

bergerak seperti garis lingkaran yang tinggi rendahnya diakibatkan oleh keadaan manusia.
Ibnu Khaldun : Dalam bukunya yang berjudul Mukadimah, Ibnu Khldun mendefisikan
sejarah sebagai catatan tentang masyarakat umat manusia atau peradaban dunia dan

tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada watak masyarakat.


W.J.S. Poerwadarminta : Dalam bukunya berjudul Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Poerwadarminta mengutarakan 3 pengertian. Yaitu: Sejarah adalah kesustraan lama, silsilah,

dan asal-usul; Sejarah adalah kejadian dan perisiwa yang benar-benar terjadi pada masa

lampau; Sejarah adalah ilmu pengetahuan tentang masa lampau.


Moh. Ali : Dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia, Moh. ali menegaskan
bahwa kata sejarah mengandung arti sebagai berikut: Sejumlah perubahan-perubahan,
kejadian-kejadian, dan peristiwa dalam kenyataan disekitar kita.; Cerita tentang perubahan,
kejadian dan peristiwa yang merupakan realitas. Ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan,

kejadian, peristiwa yang merupakan realitas.


Taufik Abdullah : Menurutnya sejarah adalah kejadian masa lampau dan cerita tentang

kejadian itu.
Sartono Kartodirdjo : Gambaran perkembangan dan kehidupan kebudayaan manusia.

Kuntowijoyo : Sejarah menyuguhkan fakta secara diakronis, ideografis, unik, dan empiris.
Bersift diakronis karena berhubungan dengan waktu. Sejarah bersifat ideografis karena
sejarah menggambarkan, menceritakan sesuatu. Bersifat unik karena berisi hasil penelitian
tentang hal unik. Selain itu juga bersifat empiris artinya sejarah bersandar pada pengalaman
manusia yang sungguh-sungguh.

Kesimpulan Pengertian Sejarah


Seperti yang disinggung sebelumnya,

sejarah itu sangat urgent untuk di kaji, dipelihara dan

diluruskan, karena jika sejarah itu jatuh ketangan penguasa Jahat maka akibatnya fatal, sang
penguasa dapat memegang kekuasaan secara sewenang-wewang tentu saja dengan cara
mengendlikan dan mengarahkan sejarah sesuai dengan selera penguasa.
Tapi jika telah mengerti hakikat dari pengertian sejarah, maka niscaya sejarah itu akan berjalan
sesuai dengan hakikat dari sejarah itu sendiri.
Kesimpulan pengertian sejarah kita dapat definiskan sebagai berikut, Sejarah adalah ilmu yang
khusus mempelajari kejadian masa yang telah terjadi yang dilakukan oleh aktifitas manusia sesuai
dengan keadaan yang sebenarnya atau kejadian yang sebenarnya.
Okk Demikan sedikit artikel mengenai pengertin sejarah, semoga artikel ini memberikan informasi
yang bermanfaat bagi kita semua.

http://www.pustakasekolah.com/

Sejarah sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu, dan Seni

1. Sejarah sebagai Peristiwa


Dalam mempelajari sejarah, salah satu manfaat yang dapat kita peroleh
ialah manfaat pendidikan. Dari manfaat ini maka kita sering mendengar ucapan
Belajarlah dari sejarah atau Sejarah mengajarkan kepada kita atau
Perhatikanlah
pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh sejarah. Dengan demikian, persoalan
belajar dari sejarah ini menyangkut diktum Lhistorie se repete atau sejarah
berulang. Maka kita bertanya : Benarkah sejarah berulang?
Secara sepintas kita cenderung untuk menjawab dengan tegas tidak.
Dengan alasan bahwa tidak ada peristiwa yang dapat terjadi lagi. Perlawanan
Pattimura 1817; Perlawanan Kaum Paderi (1821-1838), Perlawanan
Diponegoro (1825-1830); Perlawanan Bali (1846-1905), Perlawanan Aceh
(1871-1904), dan perlawananperlawanan
daerah yang lain, demikian
juga Proklamasi 17 Agustus
1945 tidak akan terjadi lagi, tidak
akan terulang lagi. Semua ini sesuai
dengan diktum Geschiste ist einmalig
atau sejarah hanya terjadi sekali saja.
Jadi, sejarah sebagai peristiwa
yang tidak mungkin terulang lagi (einmalig
= terjadi sekali saja). Dengan
kata lain, sejarah sebagai peristiwa,
hanya sekali terjadi (einmalig).
2. Sejarah sebagai Kisah
Sejarah sebagai kisah adalah sejarah yang menyangkut penulisan peristiwa
tersebut oleh seseorang sesuai dengan konteks zamannya dan latar belakangnya.
Sejarah sebagai kisah dapat kisahkan atau ditulis lagi oleh siapa saja dan kapan
saja sehingga ada proses berkelanjutan.
Peristiwa-peristiwa seperti Perlawanan Pattimura 1817; Perlawanan Kaum
Paderi (1821-1838), Perlawanan Diponegoro (1825-1830); Perlawanan Bali
(1846-1905), Perlawanan Aceh (1871-1904), Proklamasi 17 Agustus 1945
dan sebagainya dapat berulang-kali ditulis kembali (dikisahkan) oleh penulis
sejarah (sejarawan) atau orang yang berminat pada sejarah, baik oleh angkatan
45, 50, 66, atau angkatan 2004. Hasil penulisannya berupa karya tulis, dapat
berwujud cerpen, buku atau dalam majalah, surat kabar, dan sebagainya.
Demikian juga kegiatan upacara peringatan Proklamasi 17 Agustus dapat

terulang-ulang di mana saja, oleh siapa saja, misalnya di sekolah oleh warga
sekolah, di kantor oleh warga kantor, di kampung oleh warga kampung dan
sebagainya, yang hingga tahun 2006 telah genap 61 tahun (HUT RI ke-61).
Jadi, peristiwanya hanya sekali (proses
tidak berkelanjutan = sejarah obyektif =
sejarah sebagai peristiwa), namun kisahnya/
peringatannya atau makna dari
peristiwa tersebut dapat berulang-ulang
(ada proses berkelanjutan = sejarah
subyektif = sejarah sebagai kisah).
3. Sejarah sebagai Ilmu
Berdasarkan uraian di atas kita ketahui bahwa sejarah mempunyai beberapa
pengertian, yaitu sebagai berikut.
a. Sejarah sebagai peristiwa adalah menyangkut peristiwanya itu sendiri, yang
sekali terjadi, sehingga tidak berulang.
b. Sejarah sebagai kisah adalah menyangkut penulisan kembali peristiwa
tersebut oleh seorang sejarawan/siapa saja yang berminat terhadap sejarah
lewat jejak-jejak masa lalu.
Selain sejarah sebagai peristiwa dan sebagai kisah, sejarah juga sebagai
ilmu. Untuk memahami tentang sejarah sebagai ilmu ; perlu kiranya mengetahui
apa ilmu itu dan apa kriterianya? Ada beberapa jalan untuk mencari pengetahuan,
antara lain sebagai berikut.
a. Dengan jalan mendengarkan cerita orang lain
Pengetahuan yang didapat dari mendengarkan cerita orang, belum sahih
jika belum ada bukti-bukti pengujiannya, sebab mungkin sekali cerita itu
hanya mengisi waktu luang.
b. Dengan jalan keterangan/penelitian
Pengetahuan yang berdasarkan keterangan, memberi dasar yang kuat, dan
kokoh akan pengetahuan kita.
c. Dengan jalan pengalaman sendiri
Pengetahuan berdasarkan pengalaman ada yang berdasarkan kenyataan yang
pasti; tetapi derajat kebenarannya tergantung akan ketajaman pengetahuan
kita.
Untuk membedakan pengetahuan yang didapat dari pengalaman dan penelitian
dapat diberikan beberapa contoh sebagai berikut.
Seorang petani menggunakan pupuk untuk tanamannya karena berdasarkan
pengalamannya, tanaman yang dipupuk memberikan hasil lebih baik daripada

tanaman yang tidak dipupuk. Pengetahuan tersebut berdasarkan pengalamannya


sendiri. Lain halnya seorang ahli tanaman, memberikan pupuk pada tanaman
berdasarkan penyelidikan/penelitian, bahwa tanaman itu memerlukan jenis
pupuk tertentu dan pada saat-saat tertentu sehingga hasilnya baik.
Kedua contoh tersebut di atas sama-sama pengetahuan untuk memupuk
tanaman. Pengetahuan yang didapat berdasarkan pengalaman, disebut pengetahuan
pengalaman atau sering disingkat pengalaman. Adapun pengetahuan
yang didapat berdasarkan penelitian disebut ilmu. Suatu pengetahuan disebut
ilmu jika memenuhi beberapa kriteria, yakni : (1) memiliki metode yang efisien,
(2) memiliki obyek yang definitif, (3) memiliki formulasi kebenaran yang umum,
(4) adanya penyusunan yang sistematis, dan (5) memiliki kebenaran yang objektif.
Dari uraian di atas mengenai ciri-ciri ilmu, bagaimanakah dengan sejarah?
Jelaslah bahwa sejarah juga termasuk ilmu tersendiri, karena memiliki persyaratan
sebagai ilmu, yakni:
a. Memiliki Tujuan
Ilmu memiliki tujuan sendiri untuk membedakan dengan ilmu yang lain.
Artinya, dengan memiliki tujuan, sesuatu ilmu akan dibatasi oleh objek material
atau sasaran yang jelas. Misalnya, objek ilmu kedokteran adalah manusia dan
masyarakat dengan sasaran pokok tubuh manusia (misalnya penyakit). Dengan
demikian fokus usahanya ialah usaha untuk menyembuhkan supaya manusia
menjadi sehat. Ilmu kedokteran juga bertujuan untuk memanfaatkan ilmu dan
teknologi kedokteran demi untuk menjaga kesehatan manusia dan masyarakat.
Sementara itu, objek kajian sejarah adalah kehidupan manusia masa lampau,
yang selanjutnya dapat dikaitkan dengan kehidupan masa sekarang dan masa
yang akan datang sebagai kontinuitas kehidupan. Sejarah memiliki ruang lingkup
yang jelas, yakni apa yang dipikirkan, dilakukan, dan dirasakan oleh manusia.
b. Memiliki Metode
Metode dalam arti yang luas adalah cara atau jalan untuk melakukan sesuatu
menurut aturan tertentu. Dengan menggunakan metode, maka seseorang dapat
melakukan kegiatan secara lebih terarah. Dengan demikian kegiatan tersebut
bersifat lebih praktis sehingga dapat mencapai hasil maksimal. Kumpulan
pengetahuan yang memiliki metode akan dapat tersusun secara lebih terarah,
lebih teratur serta lebih mudah dipelajari. Tanpa suatu metode, suatu pengetahuan
mengenai apa pun tidak dapat digolongkan ke dalam ilmu.
Sejarah memiliki metode tersendiri dalam kerangka penelitiannya, yakni
metode sejarah meliputi pengumpulan, mengadakan penilaian sumber (kritik),
penafsiran data dan penyajian dalam bentuk cerita sejarah (historiografi).

c. Pemikiran yang Rasional


Ilmu hanya dapat dipahami dengan akal pikiran yakni dengan menggunakan
penalaran yang sehat. Analisis yang dilakukan terhadap sejumlah pengetahuan
harus dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat diterima oleh aturan-aturan
logika untuk mencapai suatu kesimpulan. Proses penyimpulan itu disebut
penalaran.
Demikian pula dengan syariah apa yang disajikan dalam bentuk sejarah
diusahakan sejauh mungkin mendekati seperti peristiwanya. Hal ini dapat
dilakukan dengan analisis data secara ilmiah dengan menggunakan rasio.
d. Penyusunan yang Sistematis
Penyusunan secara sistematis memungkinkan pengetahuan yang diteliti
saling berkaitan dengan bidang ilmu lain sehingga merupakan suatu kesatuan
yang saling berhubungan satu sama lain. Dengan demikian, berbagai pengetahuan
tersebut tidak saling bertentangan melainkan dapat runtut dan konsisten.
Jadi, yang dimaksud dengan ilmu bukan hanya sekedar kumpulan pengetahuan
yang terkumpul menjadi satu.
Penyusunan secara sistematis pengetahuan sejarah mulai dari langkah yang
pertama (pengumpulan sumber) sampai dengan yang terakhir (penulisan sejarah
sebagai kisah).
e. Kebenaran Bersifat Objektif
Pengetahuan ilmiah dapat dikomunikasikan dengan orang lain dan
kebenarannya dapat diterima oleh orang lain juga, karena sesuai dengan
kenyataan (objektif). Sejarah sepanjang menyangkut tentang fakta adalah objektif.
Oleh karena fakta sejarah adalah objektif, maka penulisannya harus berdasarkan
fakta tersebut. Dengan demikian, sejarah memiliki kebenaran objektif.
Dengan kriteria seperti tersebut di atas, maka jelas bahwa sejarah dapat
dimasukkan dalam ilmu tersendiri. Jadi ilmu sejarah memperoleh kedudukan
sebagai ilmu setelah pelbagai peristiwa sejarah itu disoroti sebagai suatu
permasalahan dengan cara menganalisis hubungan sebab akibat sedemikian
rupa, sehingga dapat ditemukan hukum-hukum sejarah tertentu yang menjadi
patokan bagi terjadinya peristiwa.
f. Sejarah sebagai Seni
Satu pertanyaan yang terbersit dalam pemikiran kita setelah kita mengetahui
bahwa sejarah merupakan ilmu tersendiri karena berbagai kriteria yang
dimilikinya, yaitu mengapa sejarah juga sebagai seni?
Apabila seseorang menulis (sejarah sebagai kisah), berdasarkan jejak-jejak
masa lampau yang berupa sumber-sumber yang telah diseleksi secara ilmiah,

maka sumber itu merupakan sumber lepas dan belum dianggap sejarah. Hasil
penelitian terhadap sumber-sumber itu barulah menjadi bahan-bahan dalam
penyusunan penulisan sejarah sebagai kisah. Bahan-bahan lepas, daftar atau
deretan angka-angka tahun serta catatan-catatan peristiwa itu semuanya baru
merupakan kronik, dan bukan sejarah. Semuanya baru bisa dikatakan sejarah
setelah dirangkai, disusun oleh seorang sejarawan atau peminat sejarah dengan
menggunakan metode sejarah. Dengan demikian jelas bahwa, meskipun
seseorang menulis suatu kisah/sejarah berdasarkan sumber-sumber yang sama
belum tentu hasilnya akan sama. Perbedaan itu bukan dalam data, atau pun
sumbernya, tetapi penafsirannya dan penyimpulannya. Sebab latar belakang
penulis juga ikut mewarnainya, seperti pendidikan, falsafah hidupnya, dan
pengalaman, begitu juga penuturannya.
Jadi meskipun sejarah disusun berdasarkan bahan-bahan secara ilmiah, tetapi
penyajiannya menyangkut soal keindahan bahasa, dan seni penulisan; maka
kita cenderung untuk menyimpulkan bahwa sejarah termasuk juga sebagai karya
seni, tetapi yang benar-benar seni juga tidak, sebab proses penelitiannya
dilakukan secara ilmiah.
Dengan demikian jelaslah bahwa dalam proses penelitiannya sumber sejarah
bersifat ilmiah, tetapi dalam taraf penulisannya sejarah bersifat seni.
https://bahanajarguru.wordpress.com

Sejarah Sebagai Peristiwa


Sejarah Sebagai Peristiwa Apa yang terjadi pada masa lalu merupakan fakta sejarah atau
kenyataan sejarah. Kenyataan tersebut dapat menjadi peristiwa sejarah. Dengan demikian,
sejarah sebagai peristiwa ialah kejadian, kenyataan, dan aktualitas. Kenyataan tersebut telah
berlangsung pada masa lalu. Sejarah menjadi sesuatu yang objektif karena merupakan kenyataan
yang benar-benar terjadi. Kehidupan manusia bersifat multidimensi, artinya kehidupan yang dapat
dilihat dari berbagai aspek.
Aspek-aspek tersebut yaitu ekonomi, politik, sosial budaya, dan lain-lain. Kenyataan sejarah dapat
berupa aspek-aspek kehidupan manusia. Objektivitas sejarah dapat dibuktikan berdasarkan
sumber sejarah yang ditemukan. Apabila suatu peristiwa sejarah itu diceritakan tetapi tidak ada

sumbernya, maka sejarah itu tidak menjadi objektif. Jadi, peristiwa tersebut bukan kenyataan
sejarah.
Peristiwa sejarah dapat dilihat dalam hubungan sebab akibat, baik yang bersifat internal maupun
eksternal dari peristiwa itu. Internal disebabkan faktor yang ada dalam peristiwa itu sendiri,
misalkan lahirnya pergerakan nasional di Indonesia pada awal abad ke-20 disebabkan oleh
lahirnya kaum terpelajar sebagai dampak dari politik pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah
kolonial Belanda melalui politik etis. Secara eksternal pergerakan kebangsaan di Indonesia lahir
disebabkan oleh kemenangan perang oleh Jepang terhadap Rusia 1904/1905.
Sebab biasanya merupakan syarat utama bagi timbulnya suatu akibat. Syarat tersebut bisa berupa
kondisi tertentu. Sebab suatu peristiwa bisa bersifat tunggal atau sebab utama, bisa pula bersifat
multisebab atau lebih dari satu. Sebagai contoh, peristiwa perang terjadi disebabkan oleh konflik
militer yang tidak dapat diselesaikan oleh dua negara yang bersengkata. Perang dapat pula
disebabkan oleh multisebab, bukan hanya konflik militer tetapi disebabkan oleh aspek-aspek
lainnya misalnya konflik perbatasan, kepentingan ekonomi, kepentingan politik dalam negeri, dan
sebagainya.
Dalam

sejarah

umat

manusia,

peristiwa

sejarah

dapat

merupakan

suatu

perubahan

kehidupan. Sebab sejarah pada hakikatnya merupakan sebuah perubahan. Sejarah mempelajari
aktivitas manusia dalam konteks waktu. Dengan melihat aspek waktu tersebut, akan terlihat
perubahan dalam kehidupan manusia. Perubahan kehidupan tersebut dapat berupa aspek politik,
ekonomi, sosial, dan budaya. Aspek-aspek tersebut memiliki hubungan yang saling terkait. Suatu
peristiwa ekonomi bisa disebabkan oleh aspek politik, sosial, dan budaya, juga sebaliknya.
Peristiwa politik biasanya peristiwa kehidupan manusia yang berkaitan dengan kekuasaan.
Kekuasaan dapat berhubungan dengan penguasa, negara, pemerintahan, keputusan-keputusan
pemerintah, partai politik, undang-undang, keterlibatan masyarakat dalam politik misalnya pemilu,
dan lain-lain. Penguasa bisa seorang raja, presiden, atau pemimpin partai. Terdapat pula orangorang tertentu yang bukan penguasa tetapi memiliki pengaruh terhadap kekuasaan, yang biasanya
orang-orang tersebut dikategorikan sebagai orang-orang besar, misalkan seorang tokoh
masyarakat yang memiliki kharisma di mata masyarakatnya.
Peran seorang penguasa dapat menjadi suatu peristiwa politik, misalnya peran yang dilakukan
olehDaendels ketika menjadi Gubernur Jenderal di Indonesia. Salah satu tindakan dari keputusan
politiknya yang sangat penting bagi sejarah Indonesia ialah pembuatan Jalan Raya yang
terbentang dari ujung barat Pulau Jawa yaitu Anyer sampai dengan ujung timur Pulau Jawa yaitu
Panarukan. Pembuatan jalan raya ini berawal dari keputusan politik Daendels yang bertugas
mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris, tetapi kemudian berakibat pada aspek-aspek
lainnya. Pembangunan jalan raya sebagai suatu sebab, dapat berakibat pada aspek-aspek lain
yang tidak lagi merupakan peristiwa politik. Aspek-aspek lain tersebut misalnya pertumbuhan
kota-kota di Jawa Barat yang dilalui jalan raya. Kota-kota tersebut misalnya Bogor, Cianjur,
Bandung, Sumedang, dan kota-kota lainnya. Di antara kota-kota tersebut dibangun jalur ekonomi,
karena jalan tersebut berfungsi sebagai sarana transportasi bagi barang-barang yang dihasilkan
oleh daerah tersebut. Di dalam kota-kota tersebut memungkinkan tumbuhnya kegiatan ekonomi
masyarakat, masyarakat mudah berinteraksi secara ekonomi karena terdapat sarana transportasi,
sehingga kegiatan perdagangan antarmasyarakat semakin meluas.

Bahkan secara sosial dapat menimbulkan suatu kegiatan usaha jasa, misalnya jasa pengangkutan
barang yang menggunakan gerobak kuda. Berdasarkan contoh di atas, dapatlah dilihat bahwa
peristiwa politik dapat menjadi sebab terhadap peristiwa-peristiwa lainnya seperti peristiwa
ekonomi dan sosial. Selain peran individu dalam politik, peran kelompok juga dapat menjadi
peristiwa politik. Misalkan, peristiwa peran yang dilakukan oleh partai politik dalam kampanye.
Partai politik merupakan kumpulan individu-individu yang berkumpul untuk mencapai tujuantujuan politiknya, yang biasanya akan mereka perjuangkan nanti di parlemen. Kegiatan kampanye
merupakan bagian dari kegiatan pemilu. Kegiatan pemilu dapat memperlihatkan bagaimana
individuindividu itu berperilaku. Dalam kegiatan kampanye, partai-partai berlombalomba dengan
berbagai jargon yang mereka ungkapkan untuk meraih massa.
Kegiatan kampanye sebagai peristiwa politik dapat menjadi sebab bagi peristiwa-peristiwa lainnya.
Misalnya apabila kampanye itu dilakukan tidak dengan tertib dan tumbuhnya fanatisme yang
berlebihan di kalangan pengikut atau massa partai politik, dapat berakibat lahirnya peristiwa
konflik sosial atau kerusuhan. Selain berakibat secara sosial, kampanye dapat pula berakibat pada
kegiatan ekonomi. Misalnya setiap partai politik memiliki identitasnya masing-masing. Identitas
tersebut dapat dilihat pada bendera dan kaos yang digunakan oleh massanya. Untuk kegiatan
kampanye, identitas tersebut harus digunakan, dan membutuhkan jumlah yang cukup banyak.
Pemenuhan identitas tersebut tidak mungkin dilakukan oleh partai itu sendiri, sebab partai lebih
berkonsentrasi pada kegiatan politik. Akibatnya, tumbuhlah para pengusaha atau penjual bendera
dan kaos partai politik. Terjadi perdagangan bendera dan kaos partai dalam jumlah yang lebih
besar. Bagi sekelompok pedagang atau pengusaha, ini merupakan peristiwa ekonomi yang sangat
menguntungkan.
Partai politik dalam melakukan kampanye biasanya dilakukan di lapangan yang terbuka luas dan
membutuhkan kerumunan massa yang cukup besar. Bagi sekelompok pedagang makanan,
khususnya pedagang kecil, kerumunan massa ini merupakan potensi untuk mencari konsumen
dalam rangka menjual dagangannya. Dalam kegiatan kampanye ini ternyata terjadi peristiwa
ekonomi, yaitu terjadinya transaksi dagang antara pedagang makanan yang menjajakan di tempat
berlangsungnya kampanye dengan massa pendukung partai. Dalam sejarah Indonesia, peristiwaperistiwa politik tersebut dapat dilihat dari kegiatan Pemilihan Umum (Pemilu) yang pertama pada
tahun 1955 sampai dengan pemilu terakhir pada tahun 2003. Bagi mereka yang mengalaminya
pelaksanaan pemilu, dapat melihat secara langsung dari lingkungan terdekat atau lingkungan
sekitarnya bagaimana perubahan yang terjadi dalam masyarakat pada saat pemilu berlangsung,
apakah masyarakat terkonsentrasi sepenuhnya pada kegiatan politik, atau adakah kegiatan
ekonomi masyarakat dalam rangka pemilu, atau kegiatan-kegiatan lainnya di luar kegiatan yang
bersifat politik.

http://www.pustakasekolah.com/

2. Sejarah Sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu dan Seni


a. Sejarah Sebagai Peristiwa dan Kisah
Sejarah dapat dipahami dari 2 aspek, yaitu :
1. Sejarah sebagai peristiwa atau realitas (Ihistoir realite) karena peristiwa sejarah atau kejadian
sejarah itu benar-benaada dan terjadi pada masa lampau.
2. Sejarah sebagai kisah sejarah (Lhistoir recite). Dalam pengertian ini sejarah dipandang sebagai kisah
dari peristiwa-peristiwa masa lampau.
Sartono kartodirdjo, membagi sejarah menjadi dua, yaitu :
1. Sejarah dalam arti objektif merupakan kejadian atau peristiwa sejarah yang tidak dapat terulang
lagi.
2. Sejarah dalam arti subjektif adalah suatu kontruksi (bangunan) yang disusun oleh penulis sebagai
suatu uraian cerita (kisah). Kisah tersebut merupakan suatu kesatuan rangkaian dari fakta-fakta yang
saling berkaitan.
Tidak semua peristiwa yang terjadi pada masa lampau digolongkan sebagai suatu peristiwa sejarah.
Peristiwa yang dapat digolongkan sebagai suatu peristiwa sejarah memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Peristiwa tersebut Unik
Peristiwa sejarah merupakan suatu peristiwa yang unik, sebab hanya sejkali terjadi (once) atau dalam
bahasa Jerman disebut dengan einmaligh.
2. Peristiwa Tersebut Besar Pengaruhnya
Peristiwa atau kejadian pada masa lampau mempunyai pengaruh yang besar pada masanya atau pada
masa-masa selanjutnya. Contoh, peristiwa pembacaan proklmasi kemerdekaan, sumpah pemuda, dsb.
b. Sejarah Sebagai Ilmu dan Seni
1. Sejarah sebagai Ilmu
Sejarah sebagai ilmu memiliki ciri-ciri sebagai berikut ;
a. Empiris
Empiris berasal dari bahasa Yunani empeiria yang berarti pengalaman. Sejarah sangat bergantung pada
pengalaman manusia. Pengalaman tersebut direkam dalam dokumen dan peninggalan sejarah lainnya,
kemudian diteliti oleh sejarawah untuk menemukan fakta.
b. Memiliki Objek
Kata Objek berasal dari Latin objectus artinya yang dihadapan, sasaran, tujuan. Objek yang dipelajari
oleh sejarah sebagai ilmu adalah manusia dan masyarakat yang menekankanpda sudut pandang waktu.

c. Memiliki Teori
Dalam bahasaYunani theoria berarti renungan. Sama seperti ilmu sosia lainnya, sejarah mempunyai
teori yang berisi kumpulan kaidah-kaidah pokok suatu ilmu, seperti: teori sosiologi, teori nasionalisme,
teori konflik sosial, dsb.
d. Memiliki Metode
Methodos (Bahasa Yunani) berarti cara. Dalam rangka penelitian, sejarah mempunyai metodologi
penelitian sendiri yang menjadi patokan-patokan tradisi ilmiah yang senantiasa dihayati.
2. Sejarah sebagai Seni
Sejarah sebagai seni, memerlukan :
a. Instuisi
Sejarawan memerlukan instuisi atau ilham, yaitu pemahaman langsung dan insting selama masa
penelitian berlangsung. Dalam hal ini cara kerja sejarawan sama dengan seniman.
b. Imajinasi
Dalam melakukan pekerjaannya seorang sejarawan harus dapat membayangkan apa yang sebenarnya
terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang terjadi seudah itu. Contohnya : Sejarah Sagaranten,
harus membayangkan keadaan geografis kota Sagaranten.
c. Emosi
Dalam penulisan sejarah harus ada keterlibatan emosi, dalam hal ini penulis sejarah harus mempunyai
empati yang tinggi (empatheia = perasaan) untuk menyatukan perasaan dengan objeknya, seolah-olah
mengalami sendiri.
d. Gaya Bahasa
Dalam penulisan sejarah gaya bahasa yang digunakan harus lugas atau tidak berbelit-belit, sehingga
kisah sejarah akan mudah dipahami oleh pembaca.
Sejarah sebagai seni memiliki kelemahan-kelemahan sebagai berikut :
a. BerkurangnyaKetetapan dan Objektivitas
Accuracy (ketepatan) dan objektivitas sangat diperlukan dalam penulisan sejarah. Penulisan sejarah
berdasarkan fakta, sedangkan seni merupakan hasil imajinasi.
b. Penulisan Sejarah akan Terbatas
Penulisan sejarah yang terlalu dekat dengan seni akan terbatas kepada objek-objek yang dapat
dideskripsikan . Penulisan sejarah akan penuh dengan gambaran tentang perang dan biografi yang
penuh sanjungan.

https://adeirawan74.wordpress.com

2. Sejarah sebagai Kisah


Membicarakan sejarah sebagai kisah berarti berbicara sejarah sebagai sebuah cerita dalam berbagai bentuk,
baik narasi maupun tafsiran dari suatu peristiwa sejarah. Kisah ini pun dapat berupa tulis atau lisan. Secara
tulisan, kisah sejarah ini dapat dilihat dalam bentuk tertulis seperti pada buku, majalah atau surat kabar. Secara
lisan, kisah dapat diambil dari ceramah, percakapan atau pelajaran di sekolah. Sejarah merupakan suatu kisah
yang diceritakan dalam berbagai bentuk, baik narasi maupun tafsiran dari suatu kejadian. Secara tulisan kisah ini
akan didapat dalam bentuk tulisan di buku, majalah atau surat kabar. Secara lisan, kisah didapat dari ceramah,
percakapan atau pelajaran di sekolah.
Oleh karena sejarah di sini bersifat kisah atau cerita maka isi kisahnya pun berbeda bergantung kepada siapa
yang menyampaikannya, kepentingan, serta latar belakang si penyampai kisah bersangkutan. Kisah yang
dituturkan berbeda karena setiap orang akan memberikan tafsiran yang berbeda tentang peristiwa yang
dilihatnya. Dengan demikian, akan cukup bijaksana apabila sejarah dikisahkan itu disertai pula oleh uraian
mengenai sifat-sifat orang yang menyampaikan sejarah.
Contoh sejarah sebagai kisah adalah kisah mengenai Sultan Iskandar Muda dalam Hikayat Aceh. Dalam hikayat
ini diceritakan cukup detail mengenai masa kecil Iskandar Muda hingga ia memerintah Kerajaan Aceh dengan
cukup bijaksana. Di sini kita melihat sosok positif dari sultan tersebut karena yang menulis hikayat pun adalah
orang dalam Aceh. Dengan demikian sejarah sebagai kisah subjektif sifatnya. Contoh lain adalah kitabkitab yang
ditulis oleh para pujangga istana di Jawa seperti Negarakretagama, Pararaton, Kidung Sundayana, Carita
Parahyangan, dan lain-lain.
http://mengerjakantugas.blogspot.com/

c. Sejarah sebagai ilmu


Ilmu pengetahuan sejarah seperti halnya ilmu pengetahuan lainnya, mulai
berkembang pada abad ke-19. Sejarah berusaha untuk mencari hukum-hukum yang
mengendalikan kehidupan manusia dan juga mencari penyebab terjadinya
perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat.
Sejarah sebagai ilmu adalah ilmu yang menyelidiki dan meneliti kejadian-kejadian
atau peristiwa-peristiwa yang dialami oleh manusia dimasa lampau dengan
menggunakan metode ilmiah. Sejarah memenuhi syarat sebagai ilmu karena dalam
penelitian sejarah ada metode, objek sistematika.
Sebagai ilmu sejarah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Empiris
Ilmu sejarah termasuk ilmu-ilmu empiris. Berasal dari kata Yunani empiro yang
berarti perjalanan manusia. Pengalaman manusia tersebut direkam dalam dokumen
dan peninggalan-peninggalan sejarah, lalu diteliti oleh sejarawan untuk menemukan
fakta. Fakta-fakta itu kemudian diinterpretasikan dan dilakukan penulisan sejarah.
Jadi sejarah sangat beruntung pada pengalaman manusia.
2) Memiliki objek
Kata objek berasal dari bahasa latin objectus yang berarti dihadapan, sasaran,
tujuan. Setiap ilmu memiliki tujuan dan objek material atau sasaran yang jelas untuk

membedakan dengan ilmu yang lain. Objek sejarah adalah manusia dan
masyarakat, tetapi sasaran lebih ditekankan pada manusia dalam sudut pandang
waktu.
3) Memiliki teori
Dalam bahasa yunani theoria yang berarti renungan. Sejarah mempunyai teori yang
berisi kumpulan kaidah pokok suatu ilmu. Contoh tentang nasionalisme, teori
geopolitik, teori konflik sosial (Karl Mark).
4) Memiliki metode
Berasal dari bahasa Yunani methodes yang berarti cara. Dalam melakukan
penelitian sejarah mempunyai metode tersendiri dengan menggunakan pengamatan
disertai bukti-bukti untuk membuat kesimpulan
Sejarah sebagai ilmu, mempelajari sepanjang kehidupan manusia, tetapi tidak
semua peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau dapat digolongkan sebagai
peristiwa bersejarah. Peristiwa yang dapat digolongkan sebagai peristiwa bersejarah
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a) Peristiwa tersebut unik
Peristiwa sejarah merupakan peristiwa yang unik, karena setiap peristiwa sejarah
hanya satu kali terjadi (once) atau dalam bahasa Jerman disebut einmailgh. Oleh
karena itu, dan tidak akan pernah ada peristiwa sejarah yang berulang dan setiap
peristiwa akan berbeda dengan peristiwa sebelumnya baik jenis peristiwa, pelaku,
waktu ataupun tempatnya.
b) Peristiwa tersebut besar pengaruhnya
Suatu peristiwa dianggap bersejarah apabila peristiwa besar pengaruhnya pada
masanya dan masa berikutnya.

http://redikayulanto.blogspot.com/

Sejarah Sebagai Seni


Gambar tari anoman
di prambanan
Tokoh penganjur sejarah sebagai seni adalah George Macauly Travelyan. Menurut Travelyan
menulis sebuah kisah peristiwa sejarah tidaklah mudah karena memerlukan imajinasi dan seni.
Dalam seni dibutuhkan intuisi, emosi, dan gaya bahasa. Sejarah dapat juga dilihat sebagai seni.
Seperti halnya seni, sejarah juga membutuhkan intuisi, imajinasi, emosi, dan gaya bahasa.
Intuisi dibutuhkan sejarawan terutama yang berkaitan dengan pemahaman langsung selama
penelitian. Setiap langkah yang harus dikerjakan oleh sejarawan memerlukan kepandaian dalam

memutuskan apa yang harus dilakukan. Seringkali untuk memilih suatu penjelasan, bukanlah
perangkat ilmu yang berjalan tetapi intuisi. Demikian halnya ketika harus menggambarkan suatu
peristiwa atau berupa deskripsi, sejarawan sering tidak sanggup melanjutkan tulisannya. Dalam
keadaan seperti itu, sebenarnya yang diperlukan adalah intuisi. Namun, meskipun
mengandalkan intuisi, sejarawan harus tetap berdasarkan data yang dimilikinya.
Sejarawan juga membutuhkan imajinasi, misalnya membayangkan apa yang sebenarnya terjadi,
apa yang sedang terjadi, pada suatu periode yang ditelitinya. Imajinasi yang digunakan tentunya
bukanlah imajinasi liar melainkan berdasarkan keterangan atau data yang mendukung. Misalnya
seorang sejarawan akan menulis priyayi awal abad ke-20. Ia harus memiliki gambaran, mungkin
priyayi itu anak cucu kaum bangsawan atau raja yang turun statusnya karena sebab-sebab
alamiah atau politis. Imajinasi seorang sejarawan juga harus jalan jika ia ingin memahami
perlawanan Sultan Palembang yang berada di luar ibu kota pada abad ke-19. Sejarawan dituntut
untuk dapat membayangkan sungai dan hutan yang mungkin jadi tempat baik untuk
bersembunyi (Kuntowijoyo 2001:70).
Demikian halnya dengan emosi. Dalam penulisan sejarah terdapat pula keterlibatan emosi. Di
sini penulis sejarah perlu memiliki empati yang menyatukan dirinya dengan objek yang diteliti.
Pada penulisan sejarah zaman Romantik yaitu pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19,
sejarah dianggap sebagai cabang sastra. Akibatnya, menulis sejarah disamakan dengan menulis
sastra, artinya menulis sejarah harus dengan keterlibatan emosional. Orang yang membaca
sejarah penaklukan Meksiko, jatuhnya Romawi, pelayaran orang Inggris ke Amerika, harus
dibuat seolah-olah hadir dan menyaksikan sendiri peristiwa itu. Penulisnya harus berempati,
menyatukan perasaan dengan objeknya. Diharapkan sejarawan dapat menghadirkan objeknya
seolah-olah pembacanya mengalami sendiri peristiwa itu (Kuntowijoyo 2001:70-71).
Unsur lain yang tidak kalah pentingnya adalah gaya bahasa. Dalam penulisan sejarah,
sejarawan harus menggunakan gaya bahasa yang tidak berbelit-belit, tidak berbunga-bunga,
tidak membosankan, komunikatif dan mudah dipahami. Khususnya dalam menghidupkan suatu
kisah di masa lalu. Di sini yang diperlukan adalah kemampuan menulis secara terperinci (detail).
Berbeda dengan karya sastra, dalam penulisan sejarah harus berusaha memberikan informasi
yang lengkap dan jelas. Serta menghindari subjektivitas dan mengedepankan obyektivitas
berdasarkan penggunaan metode penelitian yang tepat.
Namun, sejarah sebagai seni memiliki beberapa kekurangan yaitu sejarah sebagai seni akan
kehilangan ketepatan dan obyektivitasnya. Alasannya, seni merupakan hasil imajinasi.
Sementara ketepatan dan obyektivitas merupakan hal yang diperlukan dalam penulisan sejarah.
Ketepatan berarti adanya kesesuaian antara fakta dan penulisan sejarah. Sedangkan
obyektivitas berarti tidak ada pandangan yang individual. Kedua hal ini menimbulkan
kepercayaan orang pada sejarawan dan memberikan kesan penguasaan sejarawan atas detail
tulisan sejarah. Namun, kesan akan kedua hal itu akan hilang jika sejarah menjadi seni karena
sejarah berdasarkan fakta dan seni merupakan hasil imajinasi. Sejarah yang terlalu dekat seni
pun dapat dianggap telah memalsukan fakta.

Referensi :

Abdullah, Taufik. 2001. Nasionalisme & Sejarah. Bandung: Satya Historika.

Alfian, Ibrahim (eds.). 1992. Dari Babad dan Hikayat sampai Sejarah Kritis. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.

Ali. R. Moh. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. diterbitkan pertama kali 1963 oleh Bharata
Jakarta. Yogyakarta: LKIS.

Ankersmit, F.R. 1987. Refleksi tentang Sejarah. Jakarta: Gramedia.

Danandjaya, James. 1991. Folklor Indonesia. Jakarta: Grafiti.

Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.

Kuntowidjoyo. 2001. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang.

Febriyanti, Rosiana.2013. Metode Pembelajaran Sejarah Republika 16 Maret

Gardiner, Juliet (ed). 1988. What is History Today...?. Hongkong: Macmillan Education.

Gottschalk, Louis. 1986. Mengerti Sejarah. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Hassan, Hamid.S. 2010. Pendidikan Sejarah: Kemana dan Bagaimana? dalam Jurnal Pendidikan
Sejarah AGSI. Jakarta: Asosiasi Guru Sejarah Indonesia & Institut Sejarah Sosial Indonesia.

Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.

Kuntowijoyo. 2001. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang.

Munajat, Ade. 2004. Sejarah 1. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Resink, G.J. 2012. Bukan 350 Tahun Dijajah. Depok: Komunitas Bambu.

Sjamsudin, Helius. 2012. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Soedjatmoko (ed). 1995. Historiografi Indonesia. Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Swantoro, P. 2002. Dari Buku ke Buku. Jakarta: KPG & Tembi.

SEJARAH SEBAGAI ILMU

2.1 Pengertian Sejarah Sebagai Ilmu


Dalam perkembangannya, sejerah mempunyai beberapa fungsi. Diantaranya adalah
sejarah sebagai peristiwa, sejarah sebagai seni, dan sejarah sebagai ilmu. Sejarah juga
mempunyai peranan dalam perkembangan suatu negara atau daerah. Banyak negara atau
daerah yang besar karena menghargai sejarah masa lalunya.
Salah satunya adalah Indonesia, masyarakat Indonesia selalu mengenang dan
menghargai jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan dan mengukir
sejarah besar dalam perjalanan negara Republik Indonesia. Hal ini terbukti dengan
diperingatinya tanggal-tanggal penting yang berkaitan dengan pejuangan para pahlawan
untuk merebut kemerdekaan dari para penjajah. Seperti diadakannya upacara hari
Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus, mengibarkan bendera merah-putih bagi
setiap masyarakat Indonesia menjelang hari kemerdekaan, diadakannya upacara bendera

setiap hari senin di sekolah-sekolah seluruh Indonesia, digunakannya sejarah sebagai salah
satu mata pelajaran di lembaga pendidikan di seluruh Indonesia.
Seiring dengan bekembangnya zaman, berkembang pulalah ilmu pengetahuan dan
sains. Pengetahuan sejarah sudah mulai mencangkup kondisi pada jenjang sosial tertentu.
Pada perkembangan inilah sejarah sebagai ilmu pengetahuan mulai dibahas dan
dibuktikan keabsahannya. Hal ini sesuai dengan yang telah diungkapkan oleh
Shuderman(2012) ilmu sejarah berusaha mencari hukum-hukum yang
mengendalikan manusia dan kehidupannya dan juga mencari penyebab timbulnya perubahanperubahan dalam kehidupan manusia. Sejarah sebagai cabang ilmu pengetahuan hendaknya
dibahas dan dibuktikan secara keilmuan (ilmiah). Untuk mencari keabsahannya tersebut
muncul metode dalam sejarah. Munculnya metode dalam sejarah inilah yang membuat
sejarah mempunyai funsi sebagai ilmu. Banyak ahli sejarah yang mendefinisikan sejarah

sebagai ilmu, dari berbagai definisi tersebut, diantaranya yang telah diungkapkan oleh
Shuderman(2012) yaitu.
Sejarah sebagai ilmu adalah suatu susunan pengetahuan (abody of Knowledge) tentang
peristiwa dan cerita yangterjadi di masyarakat manusia pada masa lampau yang disusun
secara sistematis dan metodis berdasarkan asas-asas, prosedur dan metode serta teknik ilmiah
yang diakui oleh para pakar sejarah.
Jadi, definisi sejarah sebagai ilmu sesuai pernyataan dari Shuderman adalah
pengetahuan tentang suatu kejadian masa lalu yang disusun secara berurutan dan metode
berdasarkan asas,prosedur dan teknik ilmiah yang diakui oleh para sejarawan.
2.2 Alasan Sejarah Dijadikan Sebagai Ilmu
Suatu hal dapat dikatakan sebagai ilmu apabila hal tersebut memenuhi syarat umum
yaitu objek, tujuan, metodelogi dan sistematika. Sesuatu dikatakan memiliki objek, jika ilmu
itu memiliki sasaran atau tujuan penelitian. Ilmu yang memiliki tujuan adalah ilmu yang
mengantarkan kepada tujuan tertentu seperti biologi, biologi adalah ilmu yang memepelajari
tentang mahluk hidup. Itu berarti biologi bertujuan mengajarkan tentang mahluk hidup dan
segala aspek-aspeknya .Ilmu yang memiliki metodelogi adalah ilmu yang memiliki cara
dalam mengembangkan materi-materi yang dibahas seperti pengalaman dan sebagainya.
Sedangkan ilmu yang sistematika adalah ilmu yang secara berurutan atau kronologinya jelas
sedang membahas atau mempelajari suatu hal.
Sedangkan sejarah dikatakan sebagai ilmu, jika memiliki syarat yaitu empiris,
memiliki objek, memiliki teori, generalisasi dan memiliki metode. Berikut ini penjabaran dari
aspek tersebut :
2.2.1 Sejarah Itu Empiris
Sejarah itu empiris mempunyai arti pengalaman, ini sesuai dengan ungkapan
Kuntowijoyo (2013:46), empiris berasal dari kata Empeiria Yunani yaitu pengalaman.
Mengapa sejarah itu empiris? Sejarah berasal dari pengalaman yang masih tercatat oleh
memori kita. Pengalaman yang tadi telah diamati dituangkan dalam bentuk tulisan. Tulisantulisan itulah yang diteliti keabsahannya oleh sejarawan untuk menentukan fakta. Fakta itu
ditafsirkan secara berbeda-beda. Jika suatu ilmu alam memiliki objek yang pasti. Sedangkan
sejarah menjadikan bukti sebagai objeknya. Letak perbedaan ilmu alam dan sejarah dilihat
dari bagaimana mereka mangamati objeknya bukan dari cara kerjanya.
Jika dalam ilmu alam mereka bisa mengulang-ulang percobaan tentang suatu hal, akan
tetapi dalam sejarah, hal itu tidak bisa dilakukan, karena sejarah itu hanya terjadi satu kali
karena bersifat pengalaman, seperti pada saat proklamasi. Kejadian ini tidak bisa terjadi
kembali dan diulang-ulang untuk diteliti. Hal ini yang menjadi sebab muncul pebedaan
pendapat dari para sejarawan dalam mendiskripsikan suatu peristiwa tersebut. Karena
kebenaran dalam sejarah hanya ada pada peristiwa itu semdiri.
2.2.2 Sejarah Memiliki Objek

Berbeda dari sosiologi, antropologi, dan ilmu sosial lainnya. Sejarah mempelajari
manusia yang dikejar oleh waktu. Jika lebih dikhususkan, objek penelitian sejarah memang
manusia. Akan tetapi waktu sangat berperan penting dalam proses pembelajaran sejarah.
Kebanyakan sejarawan bingung bagaimana menentukan waktu pas terjadinya sejarah
tersebut. Kebanyakan ilmuwan hanya mengira-ngira waktu terdekat sejarah itu terjadi.
Karena informasi yang mereka dapatkan sangat minim dan peristiwa tersebut tidak bisa
terulang kembali.
2.2.3 Sejarah Memiliki Teori
Seiring dengan munculnya banyak filsafat sejarah di muka bumi. Tentu saja, hal ini
juga memicu munculnya teori-teori tentang sejarah.teori yang terdapat dalam sejarah ini
berbeda-beda antara negara yang satu dengan yang lain, contohnya saja di Amerika yang
beroriantasi pragmatis sedangkan di Belanda mempunyai tradisi kontinental yang lebih
kontemplatif. Ini semua sesuai dengan yang diungkapkan oleh Kuntowijoyo (2013:48) di
universitas-universitas Amerika yang berorientasi pragmatis, tidak diajarkan teori sejarah
yang bersifat filosof. Sebaliknya, di negara Belanda mempunyai tradisi kontinental yang
lebih kontemplatif, teori sejarah yang bersifat filosof yang diajarkan.
2.2.4 Sejarah Mempunyai Generalisasi
Generalisasi sejarah memiliki arti seperti yang diungkapkan Kuntowijoyo dalam
bukunya pengantar ilmu sejarah. Kuntowijoyo (2013:48)
Generalisasi, dari bahasa latin generalis yang berarti umum. Sama dengan ilmu lain
sejarah juga menarik kesimpulan-kesimpulan umum. Hanya saja perlu diingat kalau ilmuilmu lain bersifat nomotetis, sejarah itu pada dasarnya bersifat ideografis. Kalau sosiologi
membicarakan masyarakat di pojok jalan atau antropologi membicarakan pluralisme amerika,
mereka dituntut untuk menarik kesimpulan-kesimpulan umum yang berlaku dimana-mana
dan dapat dianggap sebagai kebenaran umum.

Generalisasi dalam hal sejarah disini mempunyai arti koreksi dari kesimpulan ilmu
pengetahuan lain yang kurang akurat. Banyak kejadian atau ilmu yang belum mempunyai
jawaban pasti, akan tetapi setelah menyangkut pautkan dengan sejarah akhirnya ditemukan
jawaban yang pasti.

2.2.5 Sejarah Mempunyai Metode


Dalam perkembangannya ternnyata sejarah memiliki metode yang digunakan dalam
penelitian-penelitian, seperti yang dipaparkan oleh Bailey(dalam Hamid&Majid, 2011:41).
...Teknik penelitian atau alat yang dipergunakan untuk mengumpulakan data, sedangkan

metodologi adalah falsafah tentang proses penelitaian yang di dalamnya mencakup asumsiasumsi, nilai-nilai, standar atau kriteria yang digunakan utuk menafsirkan data dan mencari
kesimpulan. Jadi dengan adanya metode yang digunakan dalam sejarah inilah akan
mempermudah sejarawan untuk mengumpulkan data dari suatu kejadian.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
3.1.1 definisi sejarah sebagai ilmu adalah pengetahuan tentang suatu kejadian masa lalu yang
disusun secara berurutan dan metode berdasarkan asas,prosedur dan teknik ilmiah yang
diakui oleh para sejarawan.
3.1.2 Alasan sejarah dijadikan sebagai ilmu karena sejarah memiliki syarat sebagai ilmu,
yaitu empiris, memiliki objek, memiliki teori, generalisasi dan memiliki metode.

DAFTAR RUJUKAN
Hamid, A.R dan Madjid, M.S. 2011. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
Kuntowijoyo. 2013. Pengangtar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Frederick, W.H dan Soeroto, S. 1984. Pemahaman Sejarah Indonesia. Jakarta: LP3ES.
Windscale, H. 2012. Pengertian dan Definisi Sejarah Menurut Para Ahli. (Online). http://kaiser-ofhistory.blogspot.com/2012/10/pengertian-dan-definisi-sejarah-menurut.html. Diakses tanggal
18 September 2013.
Shuderman, Y. S. 2012. Sejarah sebagai
ilmu. (Online ).http://akrabsenada.blogspot.com/2012/02/sejarah-sebagai-ilmu.html. Diakses
tanggal 18 september 2013.
http://pendsejarah.blogspot.com/

Sejarah Sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu dan Seni


1. Sejarah sebagai peristiwa.
Sejarah sebagai peristiwa adalah kejadian, kenyataan, aktualitas yang sebenarnya telah terjadi atau
berlangsung pada masa lalu. Disebut sejarah sebagai objek

2. Sejarah sebagai Kisah


Sejarah sebagai kisah adalah cerita berupa narasi yang disusun berdasarkan pendapat seseorang,
memori, kesan atau tafsiran manusia terhadap suatu peristiwa yang terjadi pada masa lampau.
Disebut sejarah sebagai subyek yang artinya sejarah tersebut telah mendapatkan penafsiran dari
penyusunan cerita sejarah. Dalam hal ini sejarawan mempunyai peran sebagai The Man Behind the Gun,
artinya mereka menyusun cerita sejarah berdasarkan jejak-jejak sejarah (sejarah sebagai peristiwa) namun
tetap dipengaruhi oleh sudut pandang sejarawan itu sendiri.

3. Sejarah sebagai Ilmu


Sejarah sebagai ilmu adalah suatu susunan pengetahuan tentang peristiwa dan cerita yang terjadi di
dalam masyarakat manusia pada masa lalu yang disusun secara sistematis dan menggunakan metode
yang didasarkan atas asas-asas, prosedur dan metode serta teknik ilmiah yang diakui oleh para pakar
sejarah.
Syarat pokok sejarah disebut sebagai ilmu adalah:
a). Obyek yang definitif
b). Adanya formulasi kebenaran yang dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya
c). Metode yang efisien
d). Menggunakan sistem penyusunan tertentu

4. Sejarah sebagai Seni


Sejarah sebagai seni merupakan cara bagaimana membuat pembaca sejarah tertarik atas informasi
kejadian masa lalu yang disajikan karena unsur keindahan yang disertakan di dalam menyajikan informasi
sejarah di masa lalu sehingga akan mencapai sasaran penyampaian informasi sejarah. Sejarah berperan
sebagai seni sangat terkait sekali dengan cara penulisan sejarah itu sendiri.

N
o

Sebagai

Deskripsi

1.

Peristiwa

Sbg fkta yg benar terjadi, kejadian yg sudah tiada lg,


bukan mitos

2.

Kisah

Hsil krya/cpta org yg mnuliskan (dmen behind dpen), jd


sumber

3.

Ilmu

Tidak kurang tdk lbh (Burry), bukan crta tp cbg IP (York


Powell)

4.

Seni

Pengetahuan rasa yg memerlukan paham yg dlm


(Dithley) #I2GE

#I2GE itu yg diperlukan sejarah sbg seni, yakni:


1.

Intuisi/ilham

2.

Imajinatif

3.

Gaya Bahasa

4.

Emosi

http://edukasi-pelajar.blogspot.com/

SEJARAH SEBAGAI ILMU


Ismaun menyatakan bahwa sejarah sebagai ilmu adalah suatu susunan pengetahuan (a body of
knowledge) tentang peristiwa dan cerita yang terjadi di dalam masyarakat manusia pada masa lampau
yang disusun secara sistematis dan metodis berdasarkan asas-asas, prosedur, dan metode serta teknik
ilmiah yang diakui oleh para sejarawan. Sejarah sebagai ilmu mempelajari sejarah sebagai aktualitas

dan mengadakan penelitian serta pengkajian tentang peristiwa dan cerita sejarah. Sejarah sebagai ilmu
ialah suatu disiplin, cabang pengetahuan tentang masa lalu, yang berusaha menuturkan dan
mewariskan pengetahuan mengenai masa lalu suatu masyarakat tertentu.

Menurut Ismaun, sejarah sebagai ilmu meliputi:


1) Metode khusus sejarawan untuk merekonsruksi secara kritis, analitis dan imajinatif peristiwa yang
benar-benar terjadi pada masa yang lampau berdasarkan bukti-bukti peninggalan, data, tulisan, dan
rekaman
2) Pernyataan, pendapat dan pandangan sejarawan yang diungkapkan berdasarkan dokumen, text-book
atau kisah-kisah tentang peristiwa yang benar-benar terjadi pada waktu yang lalu.

Kuntowijoyo mengatakan beberapa ciri atau karakteristik sejarah sebagai ilmu, yaitu:
a. Memiliki objek,
yakni perubahan atau perkembangan aktivitas manusia. Karena objeknya terkait dengan manusia, maka
sejarah sering dimasukkan ke dalam kelompok ilmu humaniora. Objek sejarah adalah aktivitas manusia
dalam dimensi waktu. Jadi waktu menjadi unsur yang penting dalam sejarah. Kalau fisika membahas
waktu fisik, maka sejarah bicara waktu manusia. Waktu dalam pandangan sejarah tidak bisa lepas dari
manusia, terutama waktu lampau.
b. Memiliki metode.
Untuk menjelaskan perkembangan atau perubahan itu secara benar, perlu ada metode. Dalam penelitian
untuk mencari kebenaran sejarah, ada metode tersendiri yang disebut dengan metode sejarah.
Penggunaan metode sejarah mengharuskan seseorang untuk lebih hatihati. Dengan metode sejarah
seseorang tidak boleh menarik kesimpulan yang terlalu berani, tetapi sewajarnya saja.
c. Mempunyai generalisasi.
Generalisasi itu biasanya menjadi kesimpulan umum. Begitu juga sejarah ada kesimpulan umum. Tetapi,
kesimpulan untuk ilmu-ilmu lain bersifat nomotetis, sementara sejarah bersifat idiografis. Kesimpulan
umum suatu ilmu (bukan sejarah) biasanya diakui kebenarannya di mana-mana (kebenaran umum).
Tetapi kesimpulan sejarah bisa menjadi koreksi kesimpulan ilmu lain. Kesimpulan umum dalam sejarah
lebih mendekati pola-pola atau kecenderungan dari suatu peristiwa sehingga dari kecenderungan bisa
dilihat bagaimana di tempat lain atau bagaimana yang akan datang. Itulah generalisasi dalam sejarah.
d. Bersifat pengalaman.
Maksudnya sejarah melakukan kajian apa atau peristiwa yang sungguh terjadi di masa lampau. Sejarah
akan sangat tergantung pengalaman dan aktivitas nyata manusia. Pengalaman itulah yang direkam
dalam dokumen. Dokumen-dokumen itulah yang diteliti oleh para sejarawan untuk menemukan fakta.
Fakta-fakta ini yang kemudian diinterpretasikan, barulah muncul tulisan sejarah.
e. Memiliki teori.
Teori ini berisi satu kumpulan tentang kaidah-kaidah pokok suatu ilmu. Dalam filsafat disebut dengan
epistemologi. Sejarah memiliki tradisi yang panjang, jauh lebih panjang daripada ilmu-ilmu sosial yang
lain. Dalam setiap tradisi itu terdapat teori sejarah.

Menurut Gilbert J Garraghan bahwa ilmu sejarah terbagi menjadi tiga, seperti terlihat pada bagan di
bawah ini:

Sedangkan Muhammad Yamin dalam Ismaun mengemukakan sembilan sendi sejarah sebagai
ilmu, yaitu:
a. Ilmu Pengetahuan.
Sendi pertama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah suatu ilmu pengetahuan sebagai
petumbuhan hikmah kebijaksanaan (rationalism) manusia. Dengan perkataan lain, sejarah itu adalah
suatu sistem ilmu pengetahuan, yakni sebagai daya cipta manusia untuk mencapai hasrat ingin tahu
serta perumusan sejumlah pendapat yang tersusun sekitar suatu pokok permasalahan tertentu dan
sehubungan dengan itu tak dapat dilepaskan sifatnya sebagai ilmu tentang berlakunya hukum sebab
dan akibat atau kausalitas.
b. Hasil Penyelidikan.
Sejarah sebagai cabang imu pengetahuan disusun menurut hasil-hasil penyelidikan (investigation,
research) yang dilakukan dalam masyarakat manusia. Jadi, penyelidikan adalah penyaluran hasrat ingin
tahu oleh manusia dalam taraf keilmuan. Penyaluran sampai pada taraf setinggi itu disertai oleh
keyakinan bahwa ada sebab bagi setiap akibat, bahwa setiap gejala yang tampak dapat dicari
penjelasannya secara ilmiah berdasarkan hasil penelitian dan pemikiran.
c. Bahan Penyelidikan.
Ilmu sejarah ialah hasil penelitian dengan menggunakan bahan-bahan penyelidikan sebagai kenyataan.
Semua disebut sumber sejarah, baik berupa benda, dokumen tertulis, maupun tradisi lisan.
d. Cerita.
Sendi cerita yang berupa pelaporan tentang kejadian pada zaman yang lampau. Untuk membedakan
cerita biasa dengan dongeng, sejarah dalam pengertian ilmiah harus menunjukkan hubungan antara
satu gejala dengan gejala lain secara kronologis. Cerita adalah anasir subjektif, tetapi anasir ini
menghubungkan dengan bahan sejarah yang objektif secara rapih.
e. Kejadian.
Yang diselidiki atau diriwayatkan dalam pengertian sejarah ialah kejadian dalam masyarakat manusia
pada zaman lampau. Kejadian itu meliputi sekumpulan masyarakat dan keadaan-keadaan yang
berpengaruh. Semuanya itu ialah objek sejarah yang harus diseleksi dan diteliti. Kejadian ialah hal-hal
yang terjadi. Muhammad Yamin menyatakan bahwa rangkaian kejadian itu mempunyai hubungan timbal
balik satu sama lain, ada kausalitasnya.

f. Masyarakat Manusia.
Kejadian pada zaman yang lampau itu berlaku dalam masyarakat manusia, yakni gejala, perbuatan, dan
keadaan masyarakat manusia dalam ruang dan waktu yang menjadi objek sejarah. Muhammad Yamin
dalam hal ini menegaskan pembatasannya dengan mengutif ucapan Ernst Bernheim bahwa Nur der
Mensch ist Object der Geschiktswissenshart (Hanya manusialah yang menjadi objek sejarah)
g. Waktu yang Lampau.
Sejarah menyelidiki kejadian-kejadian pada zaman atau waktu yang lampau. Sedangkan gejala-gejala
masyarakat pada waktu sekarang dan tinjauan kemungkinan pada waktu yang akan datang menjadi
bidang objek ilmu politik dan futurologi. Jikalau batas-batas waktu dalam tiga babakan dahulu, kini dan
nanti kita hilangkan, maka sang waktu menjadi tidak berpangkal dan tidak berujung. Begitulah
penentuan waktu itu penting sekali sebagai batas tinjauan dan ruang gerak kita guna memudahkan
pemahaman masalah bagaimana tonggak-tonggak dalam perjalanan sejarah itu.
h. Tanggal dan Tarikh.
Waktu yang telah lampau adalah demikian jauh dan lamanya, sehingga sukar mengirakannya. Apabila
sang waktu itu bermula atau berpangkal. Masa lampau itu tak pernah putus dari rangkaian masa kini
dan masa nanti, sehingga waktu dalam perjalanan sejarah adalah suatu kontinuitas. Oleh karena itulah,
untuk memudahkan ingatan manusia dalam mempelajari sejarah perlu ditentukan batas awal dan
akhirnya setiap babakan dengan satuan waktu sebagai petunjuk kejadian: tahun, bulan, tanggal/hari,
jam dan detik, windu, dasawarsa atau dekade, abad, millennium atupun usia relatif.
i. Penafsiran atau Syarat Khusus.
Penyelidikan sejarah secara ilmiah dibatasi oleh cara meninjau yang dinamakan juga menafsirkan
keadaan-keadaan yang telah berlalu. Cara menafsirkan itu kita namakan tafsiran atau interpretasi
sejarah, yang menentukan warna atau corak sejarah manakah atau apakah yang terbentuk sebagai hasil
penyelidikan yang telah dilakukan. Misalnya Sejarah Dunia, Sejarah Nasional, Sejarah Kesenian, Sejarah
Pendidikan, dan sebagainya. Selain itu ideologi atau paham tertentu dapat menentukan corak sejarah.
Misalnya, penafsiran sejarah menurut paham Liberalisme, paham Marxisme dan menurut paham
Pancasila. Cara penafsiran dari sudut pandang ilmu tertentu atau ideologi tertentu
merupakan syarat khusus dalam rangkaian sendi sejarah. Demikianlah syarat-syarat atau sembilan
sendi yang merupakan kerangka dan isi pokok yang membentuk pengertian sejarah sebagai ilmu
pengetahuan menurut rumusan dan penjelasan Muhammad Yamin.
Kesembilan sendi-sendi yang disebutkan oleh Muhammad Yamin dapat dibagi dan dimasukan ke dalam
empat bagian dalil atau definisi yang dapat digambarkan sebagai berikut:

http://ssbelajar.blogspot.com/

HAKIKAT DAN RUANG LINGKUP ILMU SEJARAH


A. Pengertian Sejarah
Secara etimologi, kata sejarah berasal dari bahasa Arab syajarah (syajaratun)
artinya pohon. Di Indonesia sejarah dapat berarti silsilah, asal-usul, riwayat, dan
jika dibuat skema menyerupai pohon lengkap dengan cabang, ranting, dan daun.
Di dalam kata sejarah tersimpan makna pertumbuhan atau silsilah.
Pada masa sekarang ini, untuk kepentingan tertentu kita memerlukan keterangan
riwayat hidup. Kata riwayat kurang lebih berarti laporan atau cerita tentang
kejadian.
Sedangkan kata hikayat (yang dekat dengan kata sejarah), artinya cerita tentang
kehidupan, yaitu yang menjadikan manusia sebagai objeknya, disebut juga biografi
(bios = hidup, graven = menulis). Jadi, cerita yang berkisar mengenai kehidupan
penulis yang ditulis oleh diri sendiri atau pelakunya sendiri disebut autobiografi.
Dalam bahasa Arab kata kisah yang umumnya menunjuk ke masa lampau,
justru lebih mengandung cerita yang benar-benar terjadi pada masa lampau,
yakni sejarah. Di dalam bahasa-bahasa nusantara ada beberapa kata yang kurang
lebih mengandung arti sejarah ialah babad, yang berasal dari bahasa Jawa
tambo, bahasa Minangkabau tutui teteek, bahasa Roti pustaka atau cerita.
Barangkali kata babad ada hubungannya dengan kata babad bahasa Jawa
dalam arti memangkas. Hasil pembabadan ialah suasana terang, dengan
demikian babad dalam arti sejarah bertugas untuk menerangkan suatu keadaan.
Untuk lebih memahami secara lebih mendalam, maka mari kita simak
pengertian sejarah di negara lain. Perkataan sejarah dalam bahasa Belanda ialah
geschiedenis (dari kata geschieden = terjadi). Sedangkan dalam bahasa Inggris
sejarah disebut history, (berasal dari bahasa Yunani historia yang berarti apa
yang diketahui dari hasil penyelidikan atau ilmu. Sejarah berarti peristiwa yang
terjadi dalam masyarakat manusia di masa lampau.
Selanjutnya, mari kita perhatikan beberapa pendapat mengenai pengertian
sejarah yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Dengan penyajian beberapa
definisi sejarah dari beberapa ahli, dapat dijadikan bahan perbandingan menuju
ke arah pengertian sejarah yang sempurna dan benar, serta memiliki kesadaran
sejarah yang mendalam.

Beberapa definisi sejarah yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain
sebagai berikut.
1. Roeslan Abdulgani, mengemukakan bahwa sejarah ialah ilmu yang
meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan
masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau beserta kejadian-kejadiannya;
dengan maksud untuk menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya, untuk
dijadikan perbendaharaan-pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan
masa sekarang serta arah progres masa depan.
Ilmu sejarah ibarat penglihatan tiga dimensi; pertama penglihatan ke masa
silam, kedua ke masa sekarang, dan ketiga ke masa yang akan datang. Atau
dengan kata lain, dalam penyelidikan masa silam tidak dapat melepaskan
diri dari kenyataan-kenyataan masa sekarang yang sedang dihadapi, dan
sedikit banyak tidak dapat kita melepaskan diri dari perspektif masa depan.
2. Moh. Yamin, SH, memberikan definisi sejarah ialah suatu ilmu pengetahuan
yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat
dibuktikan dengan kenyataan.
3. Thomas Carlyle, memberikan definisi sejarah adalah peristiwa masa
lampau yang mempelajari biografi orang-orang terkenal. Mereka, adalah
penyelamat pada zamannya. Mereka merupakan orang-orang besar yang
pernah dicatat sebagai peletak dasar sejarah.
4. Herodotus, ahli sejarah pertama dunia berkebangsaan Yunani, yang
mendapat julukan: The Father of History atau Bapak Sejarah. Menurut
Herodotus sejarah tidak berkembang ke arah depan dengan tujuan yang
pasti, melainkan bergerak seperti garis lingkaran yang tinggi rendahnya
diakibatkan oleh keadaan manusia.
5. Ibnu Khaldun, mendefinisikan sejarah sebagai catatan tentang masyarakat
umat manusia atau peradaban dunia, tentang perubahan-perubahan yang
terjadi pada watak masyarakat itu.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa tokoh di atas
tidaklah sama dalam hal isi, taraf dan tujuannya. Namun, dapat diambil beberapa
unsur pokoknya, yakni adanya peristiwa, kisah, dan ilmu sejarah. Dalam hal ini,
R. Moh. Ali menyimpulkan definisi sejarah sebagai berikut.
1. Sejarah yaitu ilmu yang menyelidiki perkembangan peristiwa dan
kejadiankejadian
di masa lampau.
2. Sejarah yaitu kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa yang berhubungan
dengan manusia, yakni menyangkut perubahan yang nyata di dalam kehidupan

manusia.
3. Sejarah yaitu cerita yang tersusun secara sistematis (teratur dan rapi).
Dari definisi Moh. Ali ini dapat dipahami bahwa sejarah menyangkut seluruh
perubahan dan perkembangan kehidupan manusia. Dengan demikian jelas juga
bahwa yang mempunyai sejarah hanyalah manusia.
Untuk mengungkap kehidupan manusia masa lampau, sejarah telah
memformulasikan dalam enam pertanyaan, yakni sebagai berikut.
1. What (apa), yang menunjuk kepada
peristiwa yang terjadi pada masa
lampau.
2. Who (siapa), yang menunjuk tentang
tokoh atau orang yang terlibat dalam
peristiwa.
3. When (kapan), menunjuk waktu terjadinya peristiwa tersebut.
4. Where (di mana), menunjuk kepada tempat peristiwa terjadi.
5. How (bagaimana), menunjuk kepada proses terjadinya peristiwa tersebut.
6. Why (mengapa), menunjuk kepada keterkaitan sebab akibat peristiwa
tersebut.
https://bahanajarguru.wordpress.com

SEJARAH SEBAGAI PERISTIWA, KISAH, ILMU, DAN SENI

Sejarah sebagai peristiwa


Sejarah adalah peristiwa yg terjadi pada masa lampau sejarah sebagai peristiwa
merupakan sejarah sebagaimana terjadinya (historie realite). Tidak semua peristiwa
di masalalu dianggap sebagai sejarah. Sutu peristiwa dianggap sebagai peristiwa
jika peristiwa itu dapat dikaitkan dengan peristiwa yg lain sebagai bagian dari proses
atau dinamika dalam suatu konteks historis. Antara peristiwa-peristiwa itu terdapat
hubungan sebab akibat. Penyebab merupakan hal yg menyebabkan suatu peristiwa
dapat terjadi
Kesinambungan antara peristiwa yg satu ke peristiwa yg lain dalam hubungan sebab
akibat terdapat dalam konteks waktu,pelaku,dan tempat
Sejarah sebagai peristiwa
Pada dasarnya adalah objektif ojektivitas sejarah sebagai peristiwa pada fakta yg
berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yg benar-benar terjadi.

Sejarah sebagai kisah


Ada kemungkinan sejarah sebagai kisah bersifat subjektif subjektivitasnya terletak
pada bagaimana sejarah tersebut diturunkan atau duceritakan oleh seseorang
Factor kepentingan terlihat dari cara seseorang menuturkan kisah sejarahnya.
Factor kelompok social yg dimiliki si penutur ejarah juga dapat mempengaruhi cara
penulisan sejarah.
Sejarah sebagai ilmu
Sejarah sebagai ilmu positif berawal dari anjuran Leopold von Ranke kepada para
sejarawan untuk menulis apa yg sesungguhnya terjadi.dengan menulis apa yg
terjadi,sejarah akan menjadi objektif.
Sejarah dapat dilihat sebagai ilmu dengan karakteristik tertentu.sejarah termasuk
dalam ilmu manusia yg dalam perjalanan waktu di pecah menjadi ilmu social dan
ilmu kemanusiaan.
Sejarah termasuk ilmu empiris,Karenna itu lah sejarah sangat bergantung pada
pengalaman manusia.
Karena sejarah berbicara tentang manusia,biasanya sejarah di masukkan dalam
ilmu kemanusiaan.akan tetapi,sejarah berbeda dengan antropologi dan
sosiologi.sejarah membicarakan manusia dari segi waktu. Dalam waktu. Ada 4 hal
yg perlu diperhatikan.yakni perkembangan,kesinambungan,pengulangan,dan
perubahan artinya sejarah melihat perkembangan masyarakat dari satu bentuk
kebentuk yg lain.
Sejarah juga melihat kesinambungan yg terjadi dalam suatu masyarakat.sejarah
juga melihat pengulangan peristiwa yg terjadi pada masa lampau.sejrah juga melihat
perubahan yg terjadi di dalam masyarakat yg biasanya disebabkan oleh pengaruh
dari luar.
Dalam maneliti objeknya,sejarah berpegang dengan teorinya sendiri.selain
mempunyai teori,sejarah juga mempunyai generalisasi seperti ilmu lain,sejarah juga
menarik kesimpulan-kesimpulan umum.sering kali generalisasi sejarah merupakan
koreksi atas kesimpulan-kesimpulan ilmu lain.untuk itu sejarah juga mempunyai
metode sendiri,berbeda dengan hokum ilmu-ilmu social yg terlalu bersifat
mekanis.metode sejarah bersifat terbuka dan hanya tunduk pada fakta.
Sejarah juga seperti ilmu-ilmu lain yg membutuhkn riset,penulisan yg baik,penalaran
yg teratur,dan sistematika ygruntut,serta konsep yang jelas.
Sejarah sebagai seni
Sejarah juga dapat di lihat sebagai seni.sebagaimana seni,sejarah juga
bmembutuhkan intuisi,emosi,dan gaya bahasa.
Dalam melihat sejarah sebagai seni yg akan memakai intuisi.sejarawan harus dapat
membayangkan apa yg sebenarnya sedang terjadi dan apa yg terjadi sesudahnya.
Sejarah sebagai seni mempunyai beberapa kekurangan.pertama,sejarah sebagai
seni akan kehilangan ketepatan dan objektivitasnya Karenna seni merupakan hasil
imajinasi,kwtepatan dan objektivitas sangat perlu dalam penulisan sejarah.ketepatan
berarti kesesuaian antara fakta dgn tulisan sejarah,objektivitas berarti tidak ada
pandangan yg individual.kedua sejarah akan terbatas.
Sejarah juga memberikan sumbangan terhadappenulisan sejarahseni memberikan
karakteristik yg dapat menggambarkan watak orang dalam biografi kolektif.

http://sejarah-interaktif.blogspot.com/

SEJARAH SEBAGAI KISAH


R. Moh. Ali dalam Ismaun menyatakan sejarah sebagai kisah ialah cerita berupa narasi yang disusun
dari memori, kesan atau tafsiran manusia terhadap kejadiankejadian atau peristiwa yang terjadi atau
berlangsung pada waktu yang lampau. Sejarah sebagai kisah merupakan hasil rekonstruksi dari
suatu peristiwa oleh para sejarawan.
Menurut Ismaun bagi orang kebanyakan, sejarah yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari adalah
sejarah sebagai cerita. Secara tertulis cerita sejarah dapat dibaca dalam buku-buku sejarah baik
bukubuku pelajaran, karya ilmiah atau buku-buku sejarah, untuk perguruan tinggi, majalah dan suratsurat kabar. Sejarah lisan dapat didengarkan dari narasi, ceramah, percakapan-percakapan, penyajian
pelajaran sejarah di sekolah-sekolah atau kuliah-kuliah diperguruan tinggi dan dari siaran radio atau
televisi. Juga dapat menyaksikan dalam sandiwara dan film.
Sejarah sebagai kisah dapat diulang-ulang, ditulis oleh siapa saja, dan kapan saja. Untuk mewujudkan
sejarah sebagai kisah, diperlukan suatu proses rekonstruksi dengan metode sejarah. Hal ini terkait
dengan sejarah sebagai ilmu. Sejarah sebagai ilmu sudah tentu memiliki objek, tujuan dan memiliki
metode. Sebagai ilmu sejarah juga bersifat empiris dan tetap berupaya menjaga objektivitasnya,
sekalipun tidak dapat sepenuhnya menghilangkan subjektivitasnya.
Sejarah sebagai kisah ialah ceritera berupa narasi yang disusun dari memori, kesan atau tafsiran
manusia terhadap kejadian atau peristiwa yang terjadi atau berlangsung pada waktu lampau atau
sejarah serba subjek. Berbeda dengan sejarah sebagai peristiwa atau kenyataan sejarah sifatnya
objektif. Sedangkan sejarah sebagai kisah dapat menjadi subjektif, karena sejarah sebagai kisah adalah
sejarah sebagaimana dituturkan, diceritakan oleh seseorang.
Sejarah sebagai kisah dapat berbentuk lisan dan tulisan. Bentuk lisan misalnya penuturan secara lisan
baik yang dilakukan oleh sesorang maupun sekelompok tentang peristiwa yang telah terjadi. Bentuk
tulisan sejarah sebagai kisah dapat berupa catatan-catatan atau buku-buku sejarah yang menceritakan
tentang kejadian yang telah terjadi. Ada kebiasaan pada orang-orang tertentu mencatat dalam buku
hariannya tentang peristiwa-peristiwa penting. Misalnya, seorang pejuang perempuan RA Kartini,
mencatat bagaimana langkah-langkah yang lakukan dia untuk meningkatkan emansipasi perempuan
Indonesia.

http://ssbelajar.blogspot.com/

SEJARAH SEBAGAI SUATU ILMU


2.1

Pengertian Sejarah

Jika kita membahasa suatu hal, pengertian pertama yang dapat kita tarik dan rumuskan adalah
pengertian secara etimologis atau urat kata. Pengertian ini adalah pengertian yang didapat
dari berbagai istilah asing dan juga kata asing yang menjadi sumbernya. Berdasarkan aspek
etimologis sejarah dapat kita kaji dari 4 bahasa asing yaitu :

Jika kita lhat dari bahasa inggris sejarah tersebut berasal dari
kata History yang artinya Masa Lampau , catatan , cerita, peristiwa
Di jerman digunakan kata Geschicht yang berarti Telah terjadi ,
Belanda mengartikann kata Gischedinisch sebagai Kejadian, Peristiwa
Istilah sejarah yang kita gunakan hingga saat ini adalah kata yang berasal
dari bahasa Arab, yaitu dari kata syajara dan syajarah. Syajara berarti terjadi
dan syajarah berarti pohon yang kemudian diartikan silsilah. Syajarah dalam arti
silsilah berkaitan dengan babad, tarikh, mitos, dan legenda. Jadi dapat kita tarik
kesimpulan bahwa kata sejarah yang berasal dari kata arab berarti masa lampau

Namun selain pengartian secara etimologis masih ada beberapa ahli yang merumuskan
pengertian sejarah seperti yang telah tercantum di dalam suatu artikel yang
berjudulPengertian Sejarah yang ditulis oleh Wiyanto Dwijo Hardjono, S.Pd. Ahli sejarah
tersebut antara lain adalah

Dr. R. Ruslan Abdul Gani : Sejarah adalah merupakan cabang ilmu


pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistema
tic perkembangan masyarakat serta manusia di masa lampau beserta kejadian

kejadian.
Prof. Dr. H. Muh. Yamin : Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun

atas hasil penyelidikan bberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan
kenyataan ( fakta-fakta ).
Patrick Gardiner : Sejarah merupakan suatu ilmu yang mempelajari apayang

telah diperbuat manusia.


W.H. Walsh : Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang menitik beratkan
pada pencatatan yang berarti dan

penting bagi manusia.


JV. Bryce : Sejarah adalah catatan dari apa yang dipikirkan, dikatakan, dan

diperbuat oleh manusia.


R. Moh. Ali : Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang menitik beratkan
pada pencatatan yang berarti dan penting bagi manusia.

Berdasarkan pengertian sejarah baik secara etimologis maupun dari para ahli maka kita dapat
mengetahui bahwa sejarah itu adalah

Kejadian-kejadian, pereistiwa seluruhnya yang berhubungan dengan manusia,


benda yang secara menyebabkan perubahan dalam kehidupan manusia.
Peristiwa yang tersusun secara sistematis melalui penelitian
Ilmu yang mempelajari perkembangn peristiwa atau kejadian pada masa
lampau

Jadi dapat disimpulkan bahwa sejarah itu adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari segala
peristiwa atau kejadian masa lampau dalam kehidupan manusia.
2.2

Karakteristik Sejarah

Selain memiliki ciri-ciri sebagai ilmu, sejarah (sebagai kisah) juga memiliki karakter tersendiri.
Karakteristik ini memandang dan menganalisis sesuatu berdasarkan sifat, waktu, dan sifat
faktanya. Karakteristik sejarah yang paling mendasar seperti yang diuraikan dalam Materi
Penyuluhan Workshop Penelitian dan Pengembangan Kabudayaan yang ditulis oleh A.
Sobana Hardjasaputra adalah:
1. Sifat Peristiwa
Sifat peristiwa sejarah menyangkut hakekat dan makna peristiwa serta
keunikan peristiwa.

Hakekat dan Makna Peristiwa

Seperti telah disebutkan, obyek sejarah sebagai ilmu adalah peristiwa. Akan tetapi, tidak
segala peristiwa termasuk ke dalam lingkup sejarah (sebagai kisah). Peristiwa yang menjadi
obyek kajian ilmu sejarah hanya peristiwa yang menyangkut kehidupan manusia secara
langsung, dan memiliki signifikansi (arti/makna penting) serta besar pengaruhnya terhadap
kehidupan manusia secara luas. Hal itu berarti, sejarah adalah ilmu tentang manusia, tepatnya
ilmu tentang pengalaman dan kiprah manusia di masa lampau.

Keunikan Peristiwa

Selain hakekat dan makna peristiwa, studi sejarah juga ditujukan pada keunikan peristiwa.
Keunikan itu mungkin menyangkut individu, isnstitusi, situasi, bahkan mungkin juga ide.
Keunikan unsur-unsur peristiwa itu menjadi bahan pertanyaan, mengapa? (why?). Oleh karena
itu, keunikan peristiwa merupakan salah satu alasan bagi pemilihan topik penelitian sejarah.
Contoh peristiwa unik antara lain:

Kedudukan bupati zaman Hindia Belanda (1808-1942).


Pada zaman Hindia Belanda, sejak masa pemerintahan Gubernur Jenderal H.W. Daendels
(1808-1811), bupati dijadikan pegawai pemerintah kolonial. Namun kedudukannya sebagai
bupati dalam arti kepala pemerintahan kabupaten dan pemimpin tradisional terus berlangsung.
Berarti bupati waktu itu memiliki kedudukan rangkap yang bersifat unik.
1.

Perspektif Waktu

Penelitian dan penulisan sejarah mengacu pada periodisasi (pembabakan waktu). Peristiwa
yang dikaji harus jelas ruang-lingkup temporalnya.
1.

Sifat Fakta

Penulisan sejarah harus berdasarkan fakta. Fakta sejarah adalah hasil seleksi atas sifat fakta
(kuat atau lemah). Berarti tidak setiap fakta adalah fakta sejarah.

2.3

Fungsi Sejarah

Fungsi umum sejarah adalah sebagai sumber pengetahuan. Sejarah (sebagai kisah) merupakan
media untuk mengetahui masa lampau, yaitu mengetahui peristiwa-peristiwa penting dengan
berbagai pemasalahannya. Peristiwa-peristiwa yang menjadi obyek sejarah syarat dengan
pengalaman penting manusia yang penting artinya sebagai pelajaran. Atas dasar itulah lahirnya
motto atau slogan mengenai sejarah, seperti Sejarah adalah obor kebenaran, Sejarah
pedoman untuk membangun masa depan, Belajarlah dari sejarah, dll. Bung Karno (alm.)
berpesan Jangan sekali-kali melupakan sejarah (JASMERAH).
Dalam fungsi umum itu terkandung fungsi khusus sejarah, yaitu fungsi sejarah secara lebih
luas. Fungsi khusus sejarah terbagi atas fungsi intrinsic (fungsi hakiki, fungsi yang melekat
pada dirinya) dan fungsi ekstrinsik (fungsi ke luar dirinya).
1. Fungsi Intrinsik
Ada beberapa fungsi intrinsik sejarah. Akan tetapi, fungsi intrinsik sejarah yang paling utama
adalah sebagai media untuk mengetahui masa lampau dan sebagai ilmu.
1.

Fungsi Ekstrinsik

Sama halnya dengan ilmu-ilmu lain, sejarah sebagai ilmu memiliki fungsi ekstrinsik. Fungsi
sejarah yang penting untuk dipahami adalah fungsi edukatif. Fungsi edukatif sejarah mencakup
:

Pendidikan nalar (penalaran)

Mempelajari sejarah secara kritis, atau menulis sejarah secara ilmiah, akan mendorong
meningkatkan daya nalar orang yang bersangkutan. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal,
antara lain: Pertama, sejarah sebagai ilmu menjelaskan latar belakang terjadinya suatu
peristiwa. Ternyata penyebab terjadinya suatu peristiwa tidak hanya satu faktor, melainkan
beberapa faktor yang saling berkaitan (kekuatan sejarah). Contoh, terjadinya Peristiwa G 30
S/PKI 1965. Berarti sejarah mendidik orang berpikir plurikausal (multidimensional)
(multidimensional), bukan berpikir monokausal. Kedua, sejarah sangat memperhatikan waktu
(kronologis-diakronis). Berarti sejarah mendidik kita memiliki daya nalar untuk memperhatikan
waktu dalam menjalani kehidupan (wal ashri). Ketiga, sejarah harus ditulis berdasarkan fakta.
Akan tetapi tidak setiap sumber memuat fakta, dan tidak setiap fakta adalah fakta sejarah.
Berarti sejarah mendidik kita untuk memiliki daya nalar yang dilandasi oleh sikap kritis.

Pendidikan moral
Sejarah syarat dengan pendidikan moral, karena sejarah mengungkap peristiwa yang pada
dasarnya memuat dua sifat, yaitu baik dan buruk, benar dan salah, berhak dan tidak berhak,
cinta dan benci, dan lain-lain.

Pendidikan kebijakan/kebijaksanaan

Peristiwa atau masalah tertentu, baik secara tersurat maupun tersirat menunjukkan adanya
kebijakan atau kebijaksanaan. Kebijakan/kebijaksanaan di masa lampau sangat mungkin dapat

dijadikan bahan acuan dalam menghadapi kehidupan di masa kini. Berarti sejarah memiliki
fungsi pragmatis.

Pendidikan politik

Sejarah mengandung pendidikan politik, karena peristiwa tertentu menyangkut tindakan


politik atau kegiatan bersifat politik.

Pendidikan mengenai perubahan

Sejarah adalah proses yang menyangkut perubahan. Pada dasarnya kehidupan manusia terus
berubah, walaupun kadar perubahan dari waktu ke waktu tidak sama. Perubahan itu terjadi
karena disengaja atau tidak disengaja.

Pendidikan mengenai masa depan

Dengan mempelajari sejarah secara baik dilandasi oleh sikap kritis, akan dapat memprediksi,
bagaimana kira-kira kehidupan di masa depan. (Sejarah pedoman untuk membangun masa
depan).

Sejarah sebagai ilmu bantu

Fungsi edukatif sejarah juga ditunjukkan oleh sejarah sebagai ilmu bantu. Sejarah sebagai
pengetahuan dan ilmu dapat membantu menjelaskan permasalahan yang dikaji oleh ilmu-ilmu
lain (antropologi, sosiologi, ekonomi, politik, hukum, dll.).
2.4

Pencabangan Sejarah

Berdasarkan artikel yang berjudul sejarah di id.wikipedia.org ilmu sejarah dapat dibagi
menjadi kronologi, historiografi, genealogi, paleografi, dan kliometrik.

Kronologi adalah istilah yang artinya diambil dari bahasa Yunani chronos yang
artinya waktu dan -logi yang artinya ilmu maka disimpulkan kronologi adalah ilmu
yang mempelajari waktu atau sebuah kejadian pada waktu tertentu. Adapun
kronologi digunakan dan bermanfaat pada sebuah kejadian baik kriminal maupun

nonkriminal. Kronologi sering diajarkan pada badan badan hukum untuk


mengetahui kapan dan persisnya suatu kejadian atau tindak pidana terjadi
Paleografi (Yunani palais, kuno dan graphein, menulis)
adalah ilmu yang meneliti perkembangan bentuk tulisan atau tulisan kuno.

Paleografi dalam banyak kasus merupakan prasyaratan untuk mendalami filologi


atau ilmu kebukuan.
Kliometrik yang kadang disebut sejara ekonomi yang baru adalah aplikasi
sistemik dari teori-teori, dan teknik ekonomi serta ilmu-ilmu matematika yang lain

yang digunakan untuk mempelajari sejarah.


Historiografi adalah adalah ilmu yang meneliti dan mengurai informasi sejarah
berdasarkan sistem kepercayaan dan filsafat. Walau tentunya terdapat beberapa
bias (pendapat subjektif) yang hakiki dalam semua penelitian yang bersifat
historis (salah satu yang paling besar di antaranya adalah subjektivitas nasional),

sejarah dapat dipelajari dari sudut pandang ideologis, misalnya: historiografi


Marxisme.
Genealogi (bahasa Yunani: , genea, keturunan dan , logos,
pengetahuan) adalah kajian tentang keluarga dan penelusuran jalur keturunan
serta sejarahnya. Ahli genealogi menggunakan berita dari mulut ke mulut, catatan
sejarah, analisis genetik, serta rekaman lain untuk mendapatkan informasi
mengenai suatu keluarga dan menunjukkan kekerabatan dan silsilah dari
anggota-anggotanya. Hasilnya sering ditampilkan dalam bentuk bagan (disebut

bagan silsilah) atau ditulis dalam bentuk narasi.


2.5 Teori dan Pandangan Ahli tentang Sejarah
Salah satu kutipan yang paling terkenal mengenai sejarah dan pentingnya kita belajar
mengenai sejarah ditulis oleh seorang filsuf dari Spanyol, George Santayana. Katanya: Mereka
yang tidak mengenal masa lalunya, dikutuk untuk mengulanginya.
Filsuf dari Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel mengemukakan dalam pemikirannya tentang
sejarah: Inilah yang diajarkan oleh sejarah dan pengalaman: bahwa manusia dan
pemerintahan tidak pernah belajar apa pun dari sejarah atau prinsip-prinsip yang didapat
darinya. Kalimat ini diulang kembali oleh negarawan dari Inggris Raya, Winston Churchill,
katanya: Satu-satunya hal yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak benar-benar
belajar darinya. Winston Churchill, yang juga mantan jurnalis dan seorang penulis memoar
yang berpengaruh, pernah pula berkata Sejarah akan baik padaku, karena aku akan
menulisnya. Tetapi sepertinya, ia bukan secara literal merujuk pada karya tulisnya, tetapi
sekadar mengulang sebuah kutipan mengenai filsafat sejarah yang terkenal: Sejarah ditulis
oleh sang pemenang. Maksudnya, seringkali pemenang sebuah konflik kemanusiaan menjadi
lebih berkuasa dari taklukannya. Oleh karena itu, ia lebih mampu untuk meninggalkan jejak
sejarah dan pemelesetan fakta sejarah sesuai dengan apa yang mereka rasa benar.
Pandangan yang lain lagi menyatakan bahwa kekuatan sejarah sangatlah besar sehingga tidak
mungkin dapat diubah oleh usaha manusia. Atau, walaupun mungkin ada yang dapat mengubah
jalannya sejarah, orang-orang yang berkuasa biasanya terlalu dipusingkan oleh masalahnya
sendiri sehingga gagal melihat gambaran secara keseluruhan. Masih ada pandangan lain lagi
yang menyatakan bahwa sejarah tidak pernah berulang, karena setiap kejadian sejarah adalah
unik. Dalam hal ini, ada banyak faktor yang menyebabkan berlangsungnya suatu kejadian
sejarah; tidak mungkin seluruh faktor ini muncul dan terulang lagi. Maka, pengetahuan yang
telah dimiliki mengenai suatu kejadian di masa lampau tidak dapat secara sempurna
diterapkan untuk kejadian di masa sekarang. Tetapi banyak yang menganggap bahwa
pandangan ini tidak sepenuhnya benar, karena pelajaran sejarah tetap dapat dan harus diambil
dari setiap kejadian sejarah. Apabila sebuah kesimpulan umum dapat dengan seksama diambil
dari kejadian ini, maka kesimpulan ini dapat menjadi pelajaran yang penting. Misalnya: kinerja
respon darurat bencana alam dapat terus dan harus ditingkatkan; walaupun setiap kejadian
bencana alam memang, dengan sendirinya, unik.
BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan diatas dapat penulis simpulakan berbagai hal sebagai berikut yaitu :

Sejarah itu adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa atau
kejadian masa lampau dalam kehidupan manusia.
Selain memiliki ciri-ciri sebagai ilmu, sejarah (sebagai kisah) juga memiliki
karakter tersendiri. Karakteristik ini memandang dan menganalisis sesuatu

berdasarkan sifat, waktu, dan sifat faktanya.


Fungsi umum sejarah adalah sebagai sumber pengetahuan. Sedangkan fungsi

khusus sejarah terbagi atas fungsi intrinsic (fungsi hakiki, fungsi yang melekat
pada dirinya) dan fungsi ekstrinsik (fungsi ke luar dirinya).
Ilmu sejarah dapat dibagi menjadi kronologi, historiografi, genealogi,

paleografi, dan kliometrik.


Pandangan dan teori dari para ahli dapat disimpulkan yaitu kita harus bisa
belajar drioi sejarah dan tidak sekali-sekali melupakannya.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, T. dan A. Surjomihardjo. 1985. Ilmu Sejarah dan Historiografi; Arah dan
Perspektif. Jakarta: Gramedia.
Gazalba, S. 1981. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Bhratara.
Hardjasaputra A. Sobana. 2008. Meode Pneleitian Sejarah di dalam Materi
Penyuluhan Workshop Penelitian dan Pengembangan Kabudayaan. BPSBP:Bandung
Hardjono, Wiyanto Dwijo ,S.Pd. 2011. Pengertian sejarah termuat di
situshttp://mustwiebagoes.blogspot.com/2008/02/pengertian-sejarah.html. Diakses 13
Maret 2011
Hariyono. 1995. Mempelajari Sejarah Secara Efektif. Jakarta: Pustaka Jaya.
Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang.

Sejarah Sebagai Ilmu


Sejarah Sebagai Ilmu Sejarah sebagai ilmu dapat kita lihat dari berbagai ciri. Pertama, sejarah merupakan ilmu
empiris. Empiris berasal dari bahasa Yunani empeiria yang berarti pengalaman. Sejarah sangat tergantung pada
pengalaman manusia. Pengalaman manusia tersebut terekam baik dalam bentuk artefak-artefak maupun
dokumen-dokumen. Artefak-artefak dan dokumen-dokumen yang merupakan data tersebut diteliti oleh sejarawan
untuk menemukan fakta. Faktafakta tersebut diinterpretasi/ditafsirkan. Berdasarkan dari interpretasi atas faktafakta tersebut dibuat dalam bentuk tulisan sejarah, misalnya Bung Karno dan Bung Hatta membacakan
Proklamasi sebagai data dan kita menafsirkannya menjadi fakta dimana Indonesia merdeka pada tanggal 17
Agustus 1945. Berikutnya adalah sejarah memiliki objek. Objek berasal dari bahasa Latin objectus yang berarti di
hadapan, sasaran, tujuan. Sejarah biasanya dimasukkan dalam ilmu tentang manusia (humaniora) karena selain
objek yang diteliti adalah manusia, khususnya perubahan atau perkembangan manusia pada masa lalu,
metodologi yang digunakan juga berbeda dengan ilmu lain, misalnya antropologi. Apabila antropologi membahas
manusia pada masa sekarang, maka sejarah berkisah tentang manusia pada masa lalu. Oleh karena itu objek
lain dari sejarah adalah waktu. Waktu di sini adalah waktu manusia. Dengan demikian, soal asal mula selalu
menjadi bahasan utama sejarah, misalnya masuknya Islam di Indonesia apakah pada abad ke-8 atau ke-13
seharusnya tidak menjadi persoalan bagi sejarawan asalkan penjelasannya dapat diterima.
Ciri lain adalah sejarah mempunyai generalisasi. Generalisasi dari bahasa Latin generalis yang berarti umum.
Sama halnya dengan ilmu-ilmu lain, sejarah juga menarik kesimpulan-kesimpulan umum dari pengamatan yang

dilakukan. Antropologi, misalnya membahas pluralisme Amerika, maka mereka dituntut untuk menarik
kesimpulan-kesimpulan umum yang berlaku di mana-mana dan dapat dianggap sebagai kebenaran umum.
Namun, menurut Sartono Kartodirdjo (1992) bila kita berbicara tentang generalisasi dalam sejarah sebenarnya
merupakan suatu pertentangan arti dalam istilah (contradictio in terminis). Generalisasi menunjuk pada suatu
keteraturan, dalil atau hukum yang berlaku untuk beberapa kasus, sedangkan sejarah didefinisikan sebagai ilmu
yang mengungkapkan peristiwa dalam keunikannya dimana hal-hal unik itu menunjuk kepada sesuatu yang
sekali terjadi dan tidak terulang lagi. Yang jelas mengenai tempat dan waktu, situasi dan konteks tidak mungkin
diulang, hanya sekali itu saja terjadi. Hal yang berulang dalam sejarah lazimnya berhubungan dengan pola
kelakuan manusia berdasarkan orientasi nilai, sistem sosial, kebutuhan ekonomis, sifat psikologis. Contoh
generalisasi dalam sejarah adalah Revolusi Industri menciptakan suatu kebutuhan akan sumber-sumber bahan
mentah, pasar-pasar baru, dan tempat-tempat penanaman modal yang membawa persaingan di antara bangsabangsa untuk mendapatkan kolonikoloni (Sjamsudin 2012: 34)
Sejarah dengan pendekatan ilmu sosial membuka kesempatan untuk mengungkapkan generalisasi yang hanya
dapat diekstrapolasikan dengan alatalat analitis ilmu-ilmu sosial. Misalnya dalam mengungkapkan suatu konflik
ditemukan berbagai fase gerakan sosial, antara lain mobilisasi, agitasi, akselerasi, polarisasi, dan akhirnya
tercetuslah kekerasan. Demikian pula dengan jalannya suatu revolusi mirip dengan revolusi lain dalam segi
formalnya, tetapi dalam segi substansinya setiap revolusi adalah unik (Kartodirdjo 1992:104)
Lalu sejarah mempunyai metode. Metode berasal dari bahasa Yunani methodos yang berarti cara. Menurut
Sartono Kartodirdjo (1992) metode adalah bagaimana orang memperoleh pengetahuan (how to know). Berkaitan
dengan ilmu sejarah, metode sejarah ialah bagaimana mengetahui sejarah. Seorang sejarawan yang ingin
mengetahui, misalnya sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ia akan menempuh secara sistematis
prosedur penelitian dengan menggunakan teknik-teknik tertentu pengumpulan bahan-bahan sejarah, baik dari
arsip-arsip dan perpustakaan-perpustakaan, maupun wawancara dengan tokoh-tokoh yang masih hidup
sehubungan dengan peristiwa bersejarah itu, atau dari orang-orang terdekat dengan tokoh-tokoh itu (misalnya
anggota keluarga atau sahabat) sehingga ia dapat menjaring informasi selengkap mungkin (Sjamsudin 2012: 12)
Selain ketrampilan teknis praktis dari metode ini, seorang sejarawan harus dilengkapi pula dengan pengetahuanpengetahuan metodologis, teoritis bahkan juga filsafat. Sejarawan harus mengetahui bagaimana ia
menggunakan ilmu metode itu pada tempat yang seharusnya. Ia harus mengetahui prosedur-prosedur apa yang
harus ditempuh dalam menjaring informasi; pertanyaanpertanyaan apa yang harus ditanyakan dan kemungkinan
jawaban apa yang akan diperoleh; mengapa dan bagaimana ia melakukan kritik terhadap sumbersumber yang
diperolehnya (Sjamsudin 2012: 12) Salah satu ciri penting suatu ilmu adalah teori. Teori berasal dari bahasa
Yunani theoria yang berarti renungan. Seperti ilmu lainnya, sejarah juga memiliki teori pengetahuan yang sering
disebut filsafat sejarah kritis. Teori dalam sejarah pada umumnya berisi satu kumpulan tentang kaidah pokok
suatu ilmu (Kuntowijoyo 2001:62). Menurut Lubasz (1963) yang dikutip oleh Sjamsudin (2012) teori dalam
sejarah, terutama dalam eksplanasi sejarah, pada umumnya digunakan untuk mengidentifikasi dan
mendefinisikan suatu keberadaan kolektif, untuk merekonstruksi suatu perangkat kepercayaan menurut suatu
analisis karakter kolektif, untuk menguji kebenaran dan ketepatan (verifikasi), penjelasan (eksplanasi) suatu
peristiwa kolektif. Teori adalah sangat esensial dalam kajian tentang segala (fenomena) pada masa lalu maupun
masa sekarang yang tidak terbuka untuk diamati secara langsung. Fenomena kolektif itu misalnya lembagalembaga, kelompok-kelompok, peristiwa-peristiwa kolektif (Sjamsudin 2012: 49.

Sejarah Sebagai Fakta Dan Peristiwa


Berita yang kita baca di suratkabar bukanlah kejadian melainkan berupa pernyataan tentang suatu kejadian atau
fakta. Kejadian yang telah terjadi sebagai sejarah dalam arti obyektif tidak dapat lagi diulang atau dialami
kembali. Namun, jejaknya sebagai memori dapat diungkapkan kembali (Kartodirdjo 1992:17). Sejarah sebagai

fakta dapat didefinisikan sebagai suatu unsur yang dijabarkan baik secara langsung maupun tidak langsung dari
dokumendokumen atau sumber sejarah setelah melalui serangkaian pengujian dan kritik. Dokumen-dokumen
atau sumber sejarah yang merupakan data tersebut diteliti oleh sejarawan untuk menemukan fakta. Fakta-fakta
tersebut diinterpretasi/ditafsirkan.
Fakta merupakan bahan utama yang digunakan sejarawan untuk menyusun suatu cerita atau menganalisis
sejarah. Pada hakikatnya fakta itu merupakan suatu konstruk yang dibuat oleh sejarawan sehingga mengandung
faktor subyektivitas (Kartodirdjo 1992:88). Ada fakta yang untuk jangka waktu lama masih belum mantap atau
masih lunak, misalnya tentang pembunuhan presiden Amerika Serikat J.F. Kennedy di tahun 60-an. Siapakah
pembunuhnya masih merupakan tanda tanya. Di samping itu ada banyak teori berbeda yang digunakan
berkenaan dengan pembunuhan tersebut. Selain itu ada pula fakta keras, antara lain Proklamasi Kemerdekaan
Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sejarawan memerlukan informasi berupa fakta sebanyak mungkin
sesuai dengan keperluan penelitian dan penulisan. Bagi sejarawan fakta-fakta itu dapat diibaratkan sebagai batu
bangunan kajian sejarah. Adalah sesuatu yang mustahil untuk memahami dunia ini tanpa fakta karena tanpa
adanya fakta-fakta itu kita tidak dapat mendapatkan gambaran tentang kejadian atau individu di masa lalu
(Sjamsudin 2012:17).
Sejarawan Amerika Carl L. Becker berpendapat bahwa fakta adalah sebuah simbol. Sebuah fakta yang
sederhana dapat berubah menjadi fakta yang sangat penting karena jaringan-jaringan yang terbentuk
mempunyai kaitan yang jauh lebih besar dan besar. Becker memberikan contoh tentang penyeberangan sungai
kecil yang bernama Rubicon yang berada di perbatasan antara Galia (sekarang Prancis) dan Italia. Sudah
banyak orang yang menyeberangi sungai kecil itu sepanjang masa. Namun, peristiwa penyeberangan oleh
orang-orang itu tidak pernah diangkat menjadi fakta sejarah. Ketika Julius Caesar (100-44 SM)
menyeberanginya pada 49 sebelum Masehi, barulah peristiwa itu menjadi fakta sejarah. Caesar merupakan
panglima tentara Romawi di Galia. Ia dipecat oleh Senat Romawi sebagai komandan. Caesar menolak
pemecatan itu dan bersama pasukannya ia kembali ke Roma dengan menyeberangi Sungai Rubicon. Caesar
lalu berhasil merebut Roma dan menyingkirkan lawan-lawannya hingga akhirnya menjadi penguasa emperium
Romawi. Tindakan Caesar menyeberangi Sungai Rubicon merupakan suatu keputusan yang menentukan
nasibnya di kemudian hari yang juga berkaitan dengan nasib lawan-lawannya para senator yang memecatnya.
Demikian juga nasib Republik Roma, rakyat dan emporium selanjutnya (Ankersmit 1987: 99; Sjamsudin
2012:19). Sejarah sebagai peristiwa dapat dipahami sebagai sesuatu yang terjadi di dalam kehidupan
masyarakat pada masa lampau. Di sini, pengertian sesuatu yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat
merupakan hal penting karena segala sesuatu yang terjadi yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan
masyarakat bukanlah sejarah.
Berikutnya, pengertian pada masa lampau sangat jelas bahwa sejarah merupakan peristiwa yang terjadi pada
masa lalu, bukan sekarang yang menurut R. Moh Ali disebut sejarah sebagai obyek. Namun, tidak semua
peristiwa yang terjadi pada masa lalu dianggap sebagai sejarah. Suatu peristiwa dianggap sebagai peristiwa
sejarah jika peristiwa itu dapat dikaitkan dengan peristiwa yang lain sebagai bagian dari proses dinamika dalam
konteks historis. Selain itu peristiwa-peristiwa tersebut perlu pula diseleksi untuk mendapatkan peristiwa yang
memang penting dan berguna.
Peristiwa yang dapat digolongkan sebagai peristiwa sejarah haruslah unik, terjadi sekali saja (eenmalig) dan
memiliki pengaruh yang besar pada masanya dan masa sesudahnya. Sejarah sebagai peristiwa tidak dapat kita
amati lagi karena kita tidak dapat lagi menyaksikan peristiwa tersebut. Misalnya peristiwa Proklamasi
Kemerdekaan 17 Agustus 1945 ketika itu Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan.
Sejarah Sebagai Cerita atau Kisah
Sejarah sebagai cerita atau kisah adalah peristiwa sejarah yang diceritakan atau dikisahkan kembali sebagai
hasil rekonstruksi ahli sejarah (sejarawan) terhadap sejarah sebagai peristiwa. Sejarah sebagai cerita
merupakan rekonstruksi dari suatu peristiwa baik yang dituliskan maupun diceritakan oleh seseorang sehingga
sejarah dapat berupa kisah yang berbentuk lisan dan tulisan.
Sejarah sebagai kisah merupakan peristiwa sejarah yang dikisahkan kembali atau diceritakan kembali sebagai
hasil konstruksi dari para ahli sejarah (sejarawan) terhadap sejarah sebagai peristiwa. Oleh R. Moh Ali (2005) hal
itu disebut sejarah sebagai serba subjek. Sehingga tidak tertutup kemungkinan sejarah sebagai kisah bersifat
subjektif. Subjektivitasnya ada pada bagaimana sejarah itu disampaikan, diceritakan oleh seseorang. Faktor
kepentingan dan latar belakang penulis sejarah itu juga mempengaruhi cara penulisan sejarah. Penulisan yang
dapat dipertanggungjawabkan harus melalui penafsiran yang mendekati kebenaran peristiwa yang terjadi.
Sementara itu untuk merekonstruksi kisah sejarah harus mengikuti metode analisis serta pendekatan tertentu.
Suatu peristiwa yang sama dapat saja dikisahkan dengan cara berbeda oleh dua orang atau lebih karena
mereka memiliki penafsiran yang berbeda. Misalnya ketika kita mewawancarai orang-orang yang pernah
mengalami atau melihat peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946 akan berbeda mengisahkannya antara satu
dengan yang lainnya. Apabila yang kita wawancarai adalah seorang prajurit yang terlibat pertempuran tersebut,
kemungkinan ia akan menceritakan peristiwa Bandung Lautan Api dalam perspektif dirinya sebagai seorang
tentara. Demikian halnya apabila yang kita wawancarai adalah seorang petani, dia akan menceritakan peristiwa
tersebut berbeda dengan sudut pandang prajurit.
Apabila kita mendengarkan seseorang menceritakan tentang peristiwa Bandung Lautan Api, maka itu termasuk
kategori kisah lisan. Namun, apabila kita ingin mengetahui peristiwa Bandung Lautan Api dengan membaca
bukubuku yang bercerita tentang Bandung Lautan Api, maka itu termasuk dalam kategori kisah tulisan.
Sejarah Sebagai Seni

Tokoh penganjur sejarah sebagai seni adalah George Macauly Travelyan. Menurut Travelyan menulis sebuah
kisah peristiwa sejarah tidaklah mudah karena memerlukan imajinasi dan seni. Dalam seni dibutuhkan intuisi,
emosi, dan gaya bahasa. Sejarah dapat juga dilihat sebagai seni. Seperti halnya seni, sejarah juga
membutuhkan intuisi, imajinasi, emosi, dan gaya bahasa. Intuisi dibutuhkan sejarawan terutama yang berkaitan
dengan pemahaman langsung selama penelitian. Setiap langkah yang harus dikerjakan oleh sejarawan
memerlukan kepandaian dalam memutuskan apa yang harus dilakukan. Seringkali untuk memilih suatu
penjelasan, bukanlah perangkat ilmu yang berjalan tetapi intuisi. Demikian halnya ketika harus menggambarkan
suatu peristiwa atau berupa deskripsi, sejarawan sering tidak sanggup melanjutkan tulisannya. Dalam keadaan
seperti itu, sebenarnya yang diperlukan adalah intuisi. Namun, meskipun mengandalkan intuisi, sejarawan harus
tetap berdasarkan data yang dimilikinya. Sejarawan juga membutuhkan imajinasi, misalnya membayangkan apa
yang sebenarnya terjadi, apa yang sedang terjadi, pada suatu periode yang ditelitinya. Imajinasi yang digunakan
tentunya bukanlah imajinasi liar melainkan berdasarkan keterangan atau data yang mendukung. Misalnya
seorang sejarawan akan menulis priyayi awal abad ke-20. Ia harus memiliki gambaran, mungkin priyayi itu anak
cucu kaum bangsawan atau raja yang turun statusnya karena sebab-sebab alamiah atau politis. Imajinasi
seorang sejarawan juga harus jalan jika ia ingin memahami perlawanan Sultan Palembang yang berada di luar
ibu kota pada abad ke-19. Sejarawan dituntut untuk dapat membayangkan sungai dan hutan yang mungkin jadi
tempat baik untuk bersembunyi (Kuntowijoyo 2001:70).
Demikian halnya dengan emosi. Dalam penulisan sejarah terdapat pula keterlibatan emosi. Di sini penulis
sejarah perlu memiliki empati yang menyatukan dirinya dengan objek yang diteliti. Pada penulisan sejarah
zaman Romantik yaitu pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, sejarah dianggap sebagai cabang sastra.
Akibatnya, menulis sejarah disamakan dengan menulis sastra, artinya menulis sejarah harus dengan keterlibatan
emosional. Orang yang membaca sejarah penaklukan Meksiko, jatuhnya Romawi, pelayaran orang Inggris ke
Amerika, harus dibuat seolah-olah hadir dan menyaksikan sendiri peristiwa itu. Penulisnya harus berempati,
menyatukan perasaan dengan objeknya. Diharapkan sejarawan dapat menghadirkan objeknya seolah-olah
pembacanya mengalami sendiri peristiwa itu (Kuntowijoyo 2001:70-71). Unsur lain yang tidak kalah pentingnya
adalah gaya bahasa. Dalam penulisan sejarah, sejarawan harus menggunakan gaya bahasa yang tidak berbelitbelit, tidak berbunga-bunga, tidak membosankan, komunikatif dan mudah dipahami. Khususnya dalam
menghidupkan suatu kisah di masa lalu. Di sini yang diperlukan adalah kemampuan menulis secara terperinci
(detail). Berbeda dengan karya sastra, dalam penulisan sejarah harus berusaha memberikan informasi yang
lengkap dan jelas. Serta menghindari subjektivitas dan mengedepankan obyektivitas berdasarkan penggunaan
metode penelitian yang tepat.
Namun, sejarah sebagai seni memiliki beberapa kekurangan yaitu sejarah sebagai seni akan kehilangan
ketepatan dan obyektivitasnya. Alasannya, seni merupakan hasil imajinasi. Sementara ketepatan dan
obyektivitas merupakan hal yang diperlukan dalam penulisan sejarah. Ketepatan berarti adanya kesesuaian
antara fakta dan penulisan sejarah. Sedangkan obyektivitas berarti tidak ada pandangan yang individual. Kedua
hal ini menimbulkan kepercayaan orang pada sejarawan dan memberikan kesan penguasaan sejarawan atas
detail tulisan sejarah. Namun, kesan akan kedua hal itu akan hilang jika sejarah menjadi seni karena sejarah
berdasarkan fakta dan seni merupakan hasil imajinasi. Sejarah yang terlalu dekat seni pun dapat dianggap telah
memalsukan fakta.[gs]
Fiksi dan Mitos Dalam Sejarah
Berkaitan dengan peristiwa di masa lalu muncul kesangsian apakah masa lalu itu pernah ada. Mungkin saja
masa lalu itu merupakan rekaan kita, hasil khayalan kita atau fiksi. Di sini bila kita menyangsikan adanya sesuatu
di masa silam, maka kita harus memiliki gambaran mengenai dunia yang disangsikan tersebut dan merumuskan
kesangsian itu. Selain itu juga kita harus menanyakan mengapa kita menyangsikannya. Filsuf Bertrand Russel
(1872-1970) menuliskan bahwa segala kenang-kenangan kita akan masa silam, ternyata diciptakan lima menit
yang lalu. Semua kenang-kenangan kita dan bahan historis serasi satu sama lain sehingga tampak seolah-olah
ada masa silam yang mendahului saat penciptaan itu (Ankersmit 1987:77) Di samping itu fiksi merupakan karya
rekaan yang melibatkan imajinasi dan merupakan bagian dari seni. Sejarah dapat juga disebut sebagai seni
karena sejarah berhubungan dengan penyimpulan dan penulisan suatu peristiwa sejarah yang berhubungan
dengan kaidah dan keindahan bahasa. Selain itu sejarah memerlukan intuisi atau ilham. Khususnya ketika
sejarawan memilih topik, selama penelitian dan dalam proses penulisan sejarah.
Namun, meskipun berhubungan dengan cerita, sejarah bukanlah sastra, terutama karya fiksi, karena berbeda
dengan karya sastra sebagai hasil subyektivitas sastrawan, sejarah harus berusaha memberikan informasi
selengkap dan sejelasnya dengan menghindari subyektivitas melalui penggunaan metode sejarah. Kita
mengenal adanya karya sastra (fiksi) yang berlatar belakang sejarah. Misalnya karya tetralogi Pramoedya
Ananta Toer, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca yang menggambarkan suasana
Indonesia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dalam karya-karyanya tersebut Pramoedya
menghubungkan antara sejarah (realitas) dengan sastra (fiksi). Berikutnya adalah mitos dalam sejarah. Mitos
merupakan bagian dari budaya sebagai bagian dari olah pikir manusia. Daya ingat manusia terbatas. Segala hal
yang menyenangkan dirinya tentu akan selalu diingat. Ingatan tersebut ditambah atau diperindah sesuka hati.
Apabila diceritakan kepada orang lain yaitu kepada anak cucu maka ingatan itu akan menjadi cerita yang indah.
Semakin lama, semakin indah cerita itu dan semakin jauh isi cerita dari kejadian yang sebenarnya. Ini yang
menjadi asal mula cerita-cerita kuno seperti mitos, legenda, dan saga (Ali 2005: 101)
Baik sejarah maupun mitos, keduanya menceritakan masa lalu tetapi sejarah dan mitos adalah dua hal berbeda.
Mitos berasal dari bahasa Yunani, mythos berarti dongeng. Oleh karena merupakan dongeng, mitos biasanya
menceritakan masa lalu dengan waktu yang tidak jelas serta kejadian yang tidak masuk akal. Sedangkan sejarah

memiliki waktu berlangsungnya suatu peristiwa dengan jelas serta kejadian yang rasional, terbukti secara
empirik dan dapat dimengerti.
Contoh mitos di Indonesia adalah kisah Kanjeng Ratu Kidul yang memiliki istana di dalam Laut Selatan dan
menjadi permaisuri raja-raja Jawa. Demikian halnya dengan kisah Ken Angrok dalam kitab Pararaton (Swantoro
2002:143). Sebenarnya mitos tidak hanya dikenal di Jawa, di wilayah-wilayah lain di Indonesia juga mengenal
mitos. Di Sumatera dikenal mitos raja Iskandar Zulkarnain turun di Bukit Siguntang, yang kemudian menurunkan
raja-raja. Demikian halnya di Sulawesi dikenal mitos To manurung yang kemudian juga menurunkan raja-raja.
Meskipun kisah dalam mitos di luar rasio manusia ada saja orang Indonesia yang mempercayainya dan
menyatakan bahwa itu merupakan peristiwa nyata, peristiwa faktual yang benar terjadi. Mereka menyatakan
bahwa mereka pernah melihat Kanjeng Ratu Kidul dengan mata kepala sendiri. Bagi mereka, Kanjeng Ratu
Kidul memang betul ada dan bukan mitos. Menurut Locher (1959) yang dikutip Swantoro, mitos pada umumnya
menunjuk wahana bahasa pada peristiwa-peristiwa yang yang dipandang oleh manusia sangat penting bagi
eksistensinya, yang memberi arti baginya pada masa sekarang, masa lalu, dan masa depan sekaligus (Swantoro
2002:143) Dalam sejarah Indonesia dikenal mitos mengenai penjajahan Indonesia oleh Belanda selama 350
tahun. Sejarawan G.J. Resink sejak awal mengatakan bahwa Indonesia tidak dijajah selama 350 tahun.
Demikian halnya dengan sejarawan Onghokham yang mengutuk pandangan ini. Menurutnya Belanda pada
awalnya datang untuk berdagang dan pada saat itu masih ada kekuasaan lokal yang berkuasa. Kolonialisme
yang terjadi di Indonesia tepatnya dimulai setelah VOC bangkrut dan wewenangnya diambil alih oleh pemerintah
Belanda. Sehingga jika dihitung tidak terbukti selama 350 tahun. Namun, hal ini sudah terlanjur ada dalam
ingatan bawah sadar masyarakat Indonesia dan muncul dalam buku-buku pelajaran. Hal inilah yang menurut
Onghokham disebut mitos. Meskipun mitos bukan sejarah tetapi mitos-mitos memiliki kegunaan sendiri. Seperti
yang telah diungkapkan sebelumnya, mitos merupakan bagian dari budaya. Mitos Dewi Sri, misalnya merupakan
bagian dari budaya agraris. Bagi Indonesia, mitos dapat menjadi kekuatan sejarah dan oleh karena itu layak
mendapat perhatian. Demikian halnya dengan mitos Ratu Adil yang mampu menggerakkan orang Jawa untuk
melawan Belanda (Kuntowijoyo 2001:143). Taufik Abdullah menuliskan bahwa mitos boleh juga dianggap
sebagai peristiwa sejarah yang harus selalu diingat dan diingatkan, sebagai pelajaran dan alat pemersatu.
Namun, Taufik Abdullah juga mengingatkan untuk tidak mencampuradukannya dengan sejarah dan ingatan.
Sejarah memang tidak ada dengan sendirinya. Sejarah adalah hasil dari sebuah usaha untuk merekam,
melukiskan, dan menerangkan peristiwa di masa lalu (Abdullah 2001:98).
Tema Kajian Ilmu Sejarah
Sejarah berhubungan dengan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu tema-tema kajian dalam ilmu sejarah
berdasarkan kategori tema yang biasa menggunakan konsep-konsep ilmu sosial dalam penelitian dan penulisan
sejarahnya. Konsep dari berbagai disiplin ilmu sosial digunakan untuk menganalisis peristiwa masa lalu sesuai
minat dan tema. Obyek kajian sejarah antara lain sejarah sosial, sejarah politik, sejarah mentalitas, sejarah
intelektual, sejarah ekonomi, sejarah agraria, sejarah kebudayaan, sejarah maritim, sejarah geografi, sejarah
militer, sejarah perempuan, sejarah diplomatik, sejarah pendidikan, sejarah ilmu pengetahuan.
Sejarah sosial merupakan setiap gejala sejarah yang memanifestasikan kehidupan sosial suatu komunitas atau
kelompok. Manifestasi kehidupan sosial itu beragam, seperti kehidupan keluarga beserta pendidikannya, gaya
hidup yang meliputi pakaian, perumahan, makanan, perawatan kesehatan, segala macam bentuk rekreasi
seperti permainan, kesenian, olah raga, peralatan, upacara. Ruang lingkup sejarah sosial sangat luas karena
hampir melingkupi segala aspek hidup manusia. Contoh jenis sejarah ini adalah karya Trevelyan, English Social
History yang memuat banyak aspek dalam masyarakat Inggris, seperti soal pakaian, makanan, rumah tangga
(Kartodirdjo 1992:50). Contoh lainnya adalah disertasi Prof. Sartono Kartodirdjo mengenai Pemberontakan
Petani Banten tahun 1888 (1966) di Universitas Amsterdam yang menyinggung masalah aspek, gejala dan
fenomena Ratu Adil dalam pemberontakan petani di Banten. Dalam disertasinya Prof. Sartono menyoroti sebuah
peristiwa kecil dengan aktor-aktor orang kecil, ulama lokal dan petani dengan memakai pendekatan yang
bercorak multidimensional.
Sejarah politik dalam historiografi Barat lazim disebut sebagai sejarah konvensional. Ciri yang menonjol dalam
sejarah ini adalah deskriptif naratif. Proses politik diungkapkan hanya satu dimensi yaitu dimensi politik saja,
aspek lain seperti ekonomi, sosial dan kultural kurang mendapat perhatian, sehingga berkesan datar dan kurang
memperhatikan relief (Kartodirdjo 1992: 46). Namun, pemaparan deskriptif-naratif pada sejarah politik gaya lama
digantikan sejarah politik baru dengan analisis kritis-ilmiah karena sejarah politik model baru telah mengunakan
pendekatan dari berbagai ilmu-ilmu sosial (Sjamsudin 2012:251). Kajian sejarah politik berhubungan dengan
struktur kepemimpinan, peranan elit, jaringan politik. Sejarah mentalitas memiliki cakupan yang luas. Garapan
utamanya adalah mentifact yang mencakup ide, ideologi, orientasi nilai, mitos, serta segala struktur
kesadarannya. Semua itu untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan faktor apa yang mendorong terjadinya
suatu peristiwa. Kata kunci untuk pertanyaan itu adalah ideologi, mitos, etos, jiwa, ide-ide, mentalitas, nilai-nilai.
Contoh dari karya sejarah mentalitas adalah Fire in the Mind of Men karya Billington yang mengembalikan
dahsyatnya revolusi-revolusi kepada semangat, ideologi, atau nilai-nilai yang memberi inspirasi serta membentuk
pola sikap yang radikal serta penuh dedikasi terhadap suatu ide (Kartodirdjo 1992:170)
Sejarah intelektual mempelajari ide-ide yang pernah berkembang dan berpengaruh dalam kehidupan
masyarakat. Ide-ide tersebut terdapat dalam filsafat, sejarah, kesusastraan, seni lukis, patung, arsitektur, musik.
Pendidikan. Seringkali kajian sejarah intelektual memiliki kemiripan dan saling tumpah tindih dengan sejarah
mentalitas karena keduanya bersumber pada mentifact, fakta kejiwaan atau mentalitas. Perbedaannya sejarah
intelektual mempelajari ide-ide sedangkan sejarah mentalitas mengkaji kepercayaan dan sikap-sikap rakyat
(Kartodirdjo 1992:170-171; Sjamsudin 2012:256). Kajian sejarah intelektual berupa kajian ideologi politik seperti
kapitalisme, liberalisme, komunisme, sosialisme. Sejarah ekonomi adalah cabang sejarah yang paling sesuai

dengan teknikteknik kuantitatif sehingga dianggap sebagai sains atau ilmu sosial. Substansi materi sejarah
ekonomi - produksi barang dan jasa, pekerjaan, penghasilan, harga dapat diukur (dihitung). Ada dua aliran
dalam sejarah ekonomi modern yaitu mazhab Prancis Annales dan sejarah ekonomi baru. Para pengikut aliran
Annales dalam melakukan pendekatan kuantitatif terhadap masa silam tidak ketat menggunakan data-data
kuantitatif dengan bantuan teori-teori dan modelmodel ekonomis. Tokoh terkemuka aliran Annales adalah
Fernand Braudel (1902-1985) yang menulis The Mediterranean and the Mediterranean World in the Age of Philip
II. Sedangkan penganut aliran sejarah ekonomi baru meneliti aspek-aspek ekonomi dengan bantuan teori-teori
yang sudah jauh berkembang (Sjamsudin 2012: 246-248) Sejarah agraria mencakup sejarah pertanian, sejarah
petani, sejarah pedesaan. Pada umumnya buku sejarah berisi dengan cerita tentang perang dan perebutan
kekuasaan, tindakan manusia yang penuh kekerasan dan kekejaman, kepahlawanan dan pengkhianatan.
Sedangkan uraian mengenai kehidupan sehari-hari jarang dimuat. Padahal sebagian besar umat manusia tidak
secara aktif terlibat dalam kejadian-kejadian besar. Orang kebanyakan tersebut hanya mengenal bekerja,
makan, dan tidur. Bagi mereka peristiwa yang penting adalah kelahiran, perkawinan, dan kematian. Sebelum
perkembangan industri, pertanian merupakan sumber pokok dari kehidupan mereka (Kartodirdjo 1992:183)
Sejarah kebudayaan melingkupi ruang lingkup yang luas. Semua bentuk manifestasi keberadaan manusia
berupa bukti atau saksi seperti artifact (fakta benda), mentifact (fakta mental-kejiwaan), dan sociofact (fakta atau
hubungan sosial) termasuk dalam kebudayaan. Semua perwujudan berupa struktur dan proses kegiatan
manusia menurut dimensi ideasional, etis, dan estetis adalah kebudayaan (Kartodirdjo 1992: 17, 176, 195, 199;
Sjamsudin 2012: 252). Contoh buku sejarah kebudayaan adalah Sejarah Pengantar Kebudayaan Indonesia
karya Dr. R. Sukmono.
Berdasarkan wilayah antara lain dikenal sejarah perkotaan, sejarah lokal, sejarah Indonesia, sejarah Asia
Tenggara, sejarah Asia, sejarah dunia. Tema-tema sejarah tersebut memiliki konsep-konsep tersendiri yang
membedakan antara yang satu dengan yang lainnya.[gs]
Tujuan Dan Makna Belajar Masa Lalu
Mempelajari sejarah adalah mempelajari masa lalu. Namun, bukan berarti mempelajari masa lalu tidak ada
gunanya. Seringkali kita mendengar ungkapan Belajarlah dari sejarah, Adanya kemiripan peristiwa sejarah yang
pernah terjadi pada masa lalu dengan peristiwa sejarah yang terjadi pada masa sesudahnya seharusnya
membuat kita lebih bijak dalam menyikapinya.
Di dalam kisah sejarah terdapat nilai-nilai atau makna tertentu. Misalnya upaya kerja keras, rela berkorban demi
nusa bangsa para tokoh sejarah. Dalam hal ini sejarah dapat memberikan inspirasi bagi kita. Berikutnya dalam
mempelajari sejarah kita memperoleh kesenangan berupa lawatan spiritual ke masa silam. Dengan membaca
buku sejarah, kita dapat melihat dan mengetahui berbagai peninggalan unik serta peradaban masa silam. Di sini
sejarah memberikan nilai guna kesenangan (rekreatif) bagi mereka yang mempelajarinya (Munajat 2004:5)
Sejarah tidak hanya memiliki nilai guna secara teoritis, tetapi juga memiliki kegunaan praktis. Kegunaan sejarah
secara praktis dapat dibagi dua yaitu tujuan secara intrinsik dan ekstrinsik. Secara intrinsik, sejarah berguna
untuk pengetahuan. Secara intrinsik ada empat guna sejarah yaitu sejarah sebagai ilmu, sejarah sebagai cara
mengetahui masa lampau, sejarah sebagai pernyataan pendapat, dan sejarah sebagai profesi (Kuntowijoyo
2001:20) Tujuan belajar sejarah juga berkaitan dengan pengembangan pengetahuan, pemahaman, wawasan
mengenai berbagai peristiwa yang terjadi baik di tanah air maupun di luar tanah air, pengembangan sikap
kebangsaan dan sikap toleransi. Secara ekstrinsik sejarah dapat digunakan sebagai liberal education yang
mempersiapkan pelajar secara filosofis. Di sini sejarah memiliki manfaat untuk pendidikan moral, pendidikan
penalaran, pendidikan politik, pendidikan kebijakan, pendidikan perubahan, pendidikan masa depan, pendidikan
keindahan. Sejarah dipelajari karena keinginan untuk meneladani moral yang dijunjung para tokoh, pelaku
sejarah dalam kisah sejarah. Ada pula yang mempelajari sejarah karena berhubungan dengan penalaran di
mana setiap peristiwa sejarah memiliki multidimensi baik berupa pendorong terjadinya peristiwa maupun proses
terjadinya peristiwa. Di lain sisi pemahaman atas peristiwa sejarah dimanfaatkan untuk kepentingan politik,
mengkaji suatu kebijakan, memahami perubahan, merancang atau merencanakan sesuatu untuk masa depan.
Bagi disiplin ilmu lain, misalnya ilmu sosial, sejarah dapat digunakan sebagai ilmu bantu untuk memahami suatu
kondisi sosial yang menjadi bagian dari suatu peristiwa di asa silam

http://www.katailmu.com/

d. Sejarah sebagai seni


Sejarah sebagai seni adalah imajinasi terhadap fakta-fakta sejarah sehingga
didapatkan gambaran kehidupan dimasa lampau. Tugas untuk menghidupkan

membalik kehidupan manusia dimasa lalu sangat mirip dengan seorang penulis
novel atau penyair. Namaun sejarawan harus sadar bahwa imajinasi hendaknya
ditata dan diatur secara hati-hati sekali agar dapat mendekati kebenaran. Sejarawan
harus merelakan dirinya untuk dibatasi oleh fakta dan sama sekali tidak dapat
menghindari atau menentang fakta. Elemen yang tedapat dalam sejarah tidak hanya
elemen ilmiah tetapi juga terdapat elemen seni. Dalam elemen seni, seorang
sejarawan memerlukan intuisi, imajinasi, emosi dan gaya bahasa.
1) Intuisi
Dalam sejarawan dalam menulis sejarah memerlukan intuisi atau ilham, yaitu
pemahaman langsung dan insting masa penelitian berlangsung.
2) Imajinasi
Seorang sejarawan harus dapat membahayakan apa yang sebenarnya terjadi, apa
yang sedang terjadi, dan apa yang terjadi sesudah itu. Contohnya dalam
menggambarkan perang Aceh, sejarawan harus mampu berimajinasi mengenai
partai, desa, istana, masjid dan bukit.
3) Emosi
Seorang penulis sejarah harus memiliki empati yang tinggi (dalam bahasa Yunani)
emphatheia berarti perasaan, untuk menyatukan perasaan dengan objeknya.
Sejarawan diharapkan dapat menghadirkan peristiwa sejarah, seolah-olah
mengalami sendiri peristiwa itu.
4) Gaya bahasa
Gaya bahasa yang baik adalah gaya bahasa yang luas, tidak berbelit-belit dan
sistematis. Dalam penggunaan gaya bahasa ini perlu diperhatikan pemakaian istilah
dan idiom yang terkait dengan suatu zaman dan berbeda dengan lainnya.
Contoh : Istilah siap pada masa revolusi kemerdekaan 1945 bermakna
kewaspadaan menghadapi bahaya-bahaya, pada masa orde baru istilah diamankan
berarti ditahan, dipenjarakan, dikucilkan, dan dibunuh.
Sejarah sebagai seni memiliki kelemahan-kelemahan sebagai berikut.
1) berkurangnya ketetapan dan objektivitas
Ketetapan (accuracy) dan objektivitas sangat diperlukan dalam penulisan sejarah.
Ketepatan berarti kesesuaian antara fakta dan tulisan sejarah. Penulisan sejarah
berdasarkan pada fakta sedangkan seni merupakan hasil imajinasi. Sejarah terlalu
dekat dengan seni sehingga dapat mengurangi ketepatan dan objektivitas.
2) Penulisan sejarah akan terbatas
Penulisan sejarah yang terlalu dekat dengan seni akan terbatas pada objek-objek
yang dapat dideskripsikan. Penulisan sejarah penuh gambarang tentang perang dan
biografi, sedangkan tema sejarah lain yang penting, seperti sejarah ekonomi dan
sejarah kuantitatif yang menggunakan angka-angka dan analisis tidak tertulis.

Anda mungkin juga menyukai