Anda di halaman 1dari 17

Suku Bugis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Suku Bugis

Raja Ali Haji, Jusuf Kalla, B.J. Habibie, Najib Tun Razak, Andi
Mallarangeng, Sophan Sophiaan.

Jumlah populasi

6,0 juta (sensus 2000)


Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan
Indonesia (sensus 2000)
Sulawesi
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Barat
Kalimantan
Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Sumatera
Riau
Jambi
Bangka Belitung
Kepulauan Riau
Jawa
Jakarta
Malaysia
Singapura (sensus 1990)
Bahasa

5.157.000
3.400.000
372.289
314.008
103.207
522.570
366.495
135.490
120.508
64.393
33.200
26.400
50.000
728.465
15.374

[1]

Bugis, Indonesia, Melayu, dan lain-lain


Agama
Islam
Kelompok etnis terdekat
Toraja, Mandar, Makassar

Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Penciri utama kelompok etnik ini
adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau
ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah
terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang Bugis. [2] Berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun 2000,
populasi orang Bugis sebanyak sekitar enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai
provinsi Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua,Kalimantan Timur, dan Kalimantan
Selatan. Orang Bugis juga banyak yang merantau ke mancanegara.
Daftar isi
[sembunyikan]

1 Sejarah

1.1 Awal Mula

1.2 Perkembangan

1.3 Masa Kerajaan

1.3.1 Kerajaan Bone

1.3.2 Kerajaan Makassar

1.3.3 Kerajaan Soppeng

1.3.4 Kerajaan Wajo

1.3.5 Konflik antar Kerajaan

1.4 Penyebaran Islam

1.5 Kolonialisme Belanda

1.6 Masa Kemerdekaan

2 Mata Pencaharian
o

2.1 Perompak

2.2 Serdadu Bayaran


3 Bugis Perantauan

3.1 Penyebab Merantau

3.2 Bugis di Kalimantan Timur

3.3 Bugis di Sumatera dan Semenanjung Malaysia


4 Referensi
5 Lihat pula

[sunting]Sejarah
[sunting]Awal

Mula

Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah
gelombang migrasi pertama dari daratan Asiatepatnya Yunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang
berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di
Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya,
maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau
pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu,
ayah dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak
termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman
folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La
Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk,
Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

[sunting]Perkembangan
Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini
kemudian mengembangkan kebudayaan,bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa

kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski
tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah
dengan Makassardan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten
yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar
adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah
KabupatenPolmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina
(yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene
Kepulauan)

[sunting]Masa

Kerajaan

[sunting]Kerajaan Bone
Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang
dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka
dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue.
Manurungnge ri Matajang dikenal juga dengan nama Mata Silompoe. Adapun ade' pitue terdiri dari matoa ta,
matoa tibojong, matoa tanete riattang, matoa tanete riawang, matoa macege, matoa ponceng. istilah matoa
kemudian menjadi arung. setelah Manurungnge ri Matajang, kerajaan Bone dipimpin oleh putranya yaitu La
Ummasa' Petta Panre Bessie. Kemudian kemanakan La Ummasa' anak dari adiknya yang menikah raja
Palakka lahirlah La Saliyu Kerrempelua. pada masa Arumpone (gelar raja bone) ketiga ini, secara massif Bone
semakin memperluas wilayahnya ke utara, selatan dan barat

[sunting]Kerajaan Makassar
Di abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone, dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial,
dimana orang saling memangsa laksana ikan. Kerajaan Makassar (Gowa) kemudian mendirikan kerajaan
pendamping, yaitu kerajaan Tallo. Tapi dalam perkembangannya kerajaan kembar ini (Gowa & Tallo) kembali
menyatu menjadi kerajaan Makassar (Gowa).

[sunting]Kerajaan Soppeng
Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal
dengan nama Manurungnge ri Goarie yang kemudian memerintah Soppeng ri Aja. dan kedua, seorang laki-laki
yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng ri Lau. Akhirnya dua
kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng.

[sunting]Kerajaan Wajo
Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai arah yang berkumpul di sekitar danau
Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri
lampulung. Sepeninggal beliau, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang juga

memiliki kemampuan supranatural. Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina (Pammana)
beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan Cinnotabbi. Selama lima generasi, kerajaan ini
bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo. Kerajaan pra-wajo yakni Cinnongtabi dipimpin oleh masing-masing : La
Paukke Arung Cinnotabi I, We Panangngareng Arung Cinnotabi II, We Tenrisui Arung Cinnotabi III, La Patiroi
Arung Cinnotabi IV. setelahnya, kedua putranya menjabat sekaligus sebagai Arung Cinnotabi V yakni La
Tenribali dan La Tenritippe. Setelah mengalami masa krisis, sisa-sisa pejabat kerajaan Cinnotabi dan rakyatnya
bersepakat memilih La Tenribali sebagai raja mereka dan mendirikan kerajaan baru yaitu Wajo. adapun rajanya
bergelar Batara Wajo. Wajo dipimpin oleh, La Tenribali Batara Wajo I (bekas arung cinnotabi V), kemudian La
Mataesso Batara Wajo II dan La Pateddungi Batara Wajo III. Pada masanya, terjadi lagi krisis bahkan Batara
Wajo III dibunuh. kekosongan kekuasaan menyebabkan lahirnya perjanjian La Paddeppa yang berisi hak-hak
kemerdekaan Wajo. setelahnya, gelar raja Wajo bukan lagi Batara Wajo akan tetapi Arung Matowa Wajo
hingga adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia @arm

[sunting]Konflik antar Kerajaan


Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan Soppeng serta Wajo mulai muncul,
maka terjadi konflik perbatasan dalam menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone
memperluas wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba. Sementara, di utara, Bone
bertemu Luwu di Sungai Walennae. Sedang Wajo, perlahan juga melakukan perluasan wilayah. Sementara
Soppeng memperluas ke arah barat sampai di Barru. Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone
dan merampas payung kerajaan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka. Sungai Walennae
adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone. Untuk mempertahankan
posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng.
Berikutnya wilayah Luwu semakin tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun
penggabungan. Wajo kemudian bergesek dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa daerah
Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi hegemoni Gowa, Kerajaan Bone, Wajo dan
Soppeng membuat aliansi yang disebut "tellumpoccoe".

[sunting]Penyebaran

Islam

Pada awal abad ke-17, datang penyiar agama Islam dari Minangkabau atas perintah Sultan Iskandar
Muda dari Aceh. Mereka adalah Abdul Makmur (Datuk ri Bandang) yang mengislamkan Gowa dan Tallo,
Suleiman (Datuk Patimang) menyebarkan Islam di Luwu, dan Nurdin Ariyani (Datuk ri Tiro) yang menyiarkan
Islam di Bulukumba.[3]

[sunting]Kolonialisme

Belanda

Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara Gowa dengan VOC hingga terjadi beberapa
kali pertempuran. Sementara Arumpone ditahan di Gowa dan mengakibatkan terjadinya perlawanan yang
dipimpin La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka. Arung Palakka didukung oleh Turatea, kerajaaan kecil

Makassar yang berhianat pada kerajaan Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin didukung oleh menantunya La
Tenri Lai Tosengngeng Arung Matowa Wajo, Maradia Mandar, dan Datu Luwu. Perang yang dahsyat
mengakibatkan banyaknya korban di pihak Gowa & sekutunya. Kekalahan ini mengakibatkan
ditandatanganinya Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan Gowa. Pernikahan Lapatau dengan putri Datu
Luwu, Datu Soppeng, dan Somba Gowa adalah sebuah proses rekonsiliasi atas konflik di jazirah Sulawesi
Selatan. Setelah itu tidak adalagi perang yang besar sampai kemudian di tahun 1905-1906 setelah perlawanan
Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone dipadamkan, maka
masyarakat Makassar dan Bugis baru bisa betul-betul ditaklukkan Belanda. Kosongnya kepemimpinan lokal
mengakibatkan Belanda menerbitkan Korte Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan raja
sebagai pemulihan kondisi kerajaan yang sempat lowong setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi berdaulat,
tapi hanya sekedar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sampai kemudian
muncul Jepang menggeser Belanda hingga berdirinya NKRI.

[sunting]Masa

Kemerdekaan

Para raja-raja di Nusantara mendapat desakan oleh pemerintahan Orde Lama (Soekarno) untuk membubarkan
kerajaan mereka dan melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950-1960an, Indonesia khususnya Sulawesi
Selatan disibukkan dengan pemberontakan. Pemberontakan ini mengakibatkan banyak orang Bugis
meninggalkan kampung halamannya. Pada zaman Orde Baru, budaya periferi seperti budaya di Sulawesi
benar-benar dipinggirkan sehingga semakin terkikis. Sekarang generasi muda Makassar & Bugis adalah
generasi yang lebih banyak mengonsumsi budaya material sebagai akibat modernisasi, kehilangan jati diri
akibat pendidikan pola Orde Baru yang meminggirkan budaya mereka. Seiring dengan arus reformasi,
munculah wacana pemekaran. Daerah Mandar membentuk propinsi baru yaitu Sulawesi Barat. Kabupaten
Luwu terpecah tiga daerah tingkat dua. Sementara banyak kecamatan dan desa/kelurahan juga dimekarkan.
Namun sayangnya tanah tidak bertambah luas, malah semakin sempit akibat bertambahnya populasi dan
transmigrasi.

[sunting]Mata

Pencaharian

Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari
masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah
pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

[sunting]Perompak
Sejak Perjanjian Bongaya yang menyebabkan jatuhnya Makassar ke tangan kolonial Belanda, orang-orang
Bugis dianggap sebagai sekutu bebas pemerintahan Belanda yang berpusat di Batavia. Jasa yang diberikan
oleh Arung Palakka, seorang Bugis asal Bone kepada pemerintah Belanda, menyebabkan diperolehnya

kebebasan bergerak lebih besar kepada masyarakat Bugis. Namun kebebasan ini disalahagunakan Bugis
untuk menjadi perompak yang mengganggu jalur niaga Nusantara bagian timur.
Armada perompak Bugis merambah seluruh Kepulauan Indonesia. Mereka bercokol di dekat Samarinda dan
menolong sultan-sultan Kalimantan di pantai barat dalam perang-perang internal mereka. Perompak-perompak
ini menyusup ke Kesultanan Johor dan mengancam Belanda di benteng Malaka.[4]

[sunting]Serdadu

Bayaran

Selain sebagai perompak, karena jiwa merantau dan loyalitasnya terhadap persahabatan orang-orang Bugis
terkenal sebagai serdadu bayaran. Orang-orang Bugis sebelum konflik terbuka dengan Belanda mereka salah
satu serdadu Belanda yang setia. Mereka banyak membantu Belanda, yakni saat
pengejaran Trunojoyo di Jawa Timur, penaklukan pedalaman Minangkabau melawan pasukanPaderi, serta
membantu orang-orang Eropa ketika melawan Ayuthaya di Thailand.[5] Orang-orang Bugis juga terlibat dalam
perebutan kekuasaan dan menjadi serdadu bayaran Kesultanan Johor, ketika terjadi perebutan kekuasaan
melawan para pengelana Minangkabau pimpinan Raja Kecil.

[sunting]Bugis

Perantauan

Kepiawaian suku Bugis dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun
hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran
kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk
setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka [rujukan?].

[sunting]Penyebab

Merantau

Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan
19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis
bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan
kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.

[sunting]Bugis

di Kalimantan Timur

Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap
isi perjanjian Bongaja, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda
dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah Kesultanan Kutai, yaitu
rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan
orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.
Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung
melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai

dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama
di dalam menghadapi musuh.
Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi
daerah ini menimbulkan kesulitan di dalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan
banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

[sunting]Bugis

di Sumatera dan Semenanjung Malaysia

Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan
Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta
meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam
perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor yang merupakan
keturunan Makassar.

[sunting]Referensi
1.

^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of


Southeast Asian Studies. 16 Maret 2003. ISBN 9812302123.

2.

^ http://www.rajaalihaji.com/id/article.php?a=YURIL3c%3D= Situs Raja Ali Haji

3.

^ Naim, Mochtar. Merantau.

4.

^ Vlekke, Bernard H.M.. Nusantara Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
hlm. 263.

5.

^ Vlekke, Bernard H.M.. Nusantara Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
hlm. 200.

[sunting]Lihat

pula

Melayu-Bugis

Demografi Indonesia

Daftar tokoh Bugis

Adat dan Kebudayaan Suku Bugis Di Sulawesi Selatan


2:13 AM ADMIN 1 COMMENT

Suku Bugis atau to Ugi adalah salah satu suku di antara sekian banyak suku di Indonesia. Mereka bermukim di
Pulau Sulawesi bagian selatan. Namun dalam perkembangannya, saat ini komunitas Bugis telah menyebar luas ke
seluruh Nusantara.
Penyebaran Suku Bugis di seluruh Tanah Air disebabkan mata pencaharian orangorang bugis umumnya adalah
nelayan dan pedagang. Sebagian dari mereka yang lebih suka merantau adalah berdagang dan berusaha
(massompe) di negeri orang lain. Hal lain juga disebabkan adanya faktor historis orang-orang Bugis itu sendiri di
masa lalu.
Orang Bugis zaman dulu menganggap nenek moyang mereka adalah pribumi yang telah didatangi titisan langsung
dari dunia atas yang turun (manurung) atau dari dunia bawah yang naik (tompo) untuk membawa norma dan
aturan sosial ke bumi (Pelras, The Bugis, 2006).
Umumnya orang-orang Bugis sangat meyakini akan hal to manurung, tidak terjadi banyak perbedaan pendapat
tentang sejarah ini. Sehingga setiap orang yang merupakan etnis Bugis, tentu mengetahui asal-usul keberadaan
komunitasnya. Kata Bugis berasal dari kata to ugi, yang berarti orang Bugis.
Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (bukan negara Cina, tapi yang terdapat di jazirah
Sulawesi Selatan tepatnya Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La
Sattumpugi menamakan dirinya, mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau
orang-orang/pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara
Lattu, ayahanda dari Sawerigading.
Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak, termasuk La Galigo yang
membuat karya sastra terbesar. Sawerigading Opunna Ware (Yang Dipertuan Di Ware) adalah kisah yang tertuang
dalam karya sastra La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi

masyarakat Luwuk Banggai, Kaili, Gorontalo, dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton (Sumber :
id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bugis).
Peradaban awal orangorang Bugis banyak dipengaruhi juga oleh kehidupan tokoh-tokohnya yang hidup di masa itu,
dan diceritakan dalam karya sastra terbesar di dunia yang termuat di dalam La Galigo atau sure galigo dengan
jumlah kurang lebih 9000 halaman folio dan juga tulisan yang berkaitan dengan silsilah keluarga bangsawan, daerah
kerajaan, catatan harian, dan catatan lain baik yang berhubungan adat (ade) dan kebudayaankebudayaan di masa
itu yang tertuang dalam Lontara. Tokohtokoh yang diceritakan dalam La Galigo, di antaranya ialah Sawerigading,
We Opu Sengngeng (Ibu Sawerigading), We Tenriabeng (Ibu We Cudai), We Cudai (Istri Sawerigading), dan La
Galigo(Anak Sawerigading dan We Cudai).
Tokohtokoh inilah yang diceritakan dalam Sure Galigo sebagai pembentukan awal peradaban Bugis pada
umumnya. Sedangkan di dalam Lontara itu berisi silsilah keluarga bangsawan dan keturunanketurunannya, serta
nasihatnasihat bijak sebagai penuntun orang-orang bugis dalam mengarungi kehidupan ini. Isinya lebih cenderung
pada pesan yang mengatur norma sosial, bagaimana berhubungan dengan sesama baik yang berlaku pada
masyarakat setempat maupun bila orang Bugis pergi merantau di negeri orang.
Konsep Ade (Adat) dan Spiritualitas (Agama)
Konsep ade (adat) merupakan tema sentral dalam teksteks hukum dan sejarah orang Bugis. Namun, istilah ade itu
hanyalah pengganti istilahistilah lama yang terdapat di dalam teks-teks zaman pra-Islam, kontrak-kontrak sosial,
serta perjanjian yang berasal dari zaman itu. Masyarakat tradisional Bugis mengacu kepada konsep pangadereng
atau adat istiadat, berupa serangkaian norma yang terkait satu sama lain.
Selain konsep ade secara umum yang terdapat di dalam konsep pangadereng, terdapat pula bicara (norma
hukum), rapang (norma keteladanan dalam kehidupan bermasyarakat), wari (norma yang mengatur stratifikasi
masyarakat), dan sara (syariat Islam) (Mattulada, Kebudayaan Bugis Makassar : 275-7; La Toa). Tokoh-tokoh yang
dikenal oleh masyarakat Bugis seperti Sawerigading, We Cudai, La Galigo, We Tenriabeng, We Opu Sengngeng,
dan lain-lain merupakan tokohtokoh yang hidup di zaman pra-Islam.
Tokohtokoh tersebut diyakini memiliki hubungan yang sangat erat dengan dewadewa di kahyangan. Bahkan
diceritakan dalam La Galigo bahwa saudara kembar dari Sawerigading yaitu We Tenriabeng menjadi penguasa di
kahyangan. Sehingga konsep ade (adat) serta kontrak-kontrak sosial, serta spiritualitas yang terjadi di kala itu
mengacu kepada kehidupan dewa-dewa yang diyakini. Adanya upacara-upacara penyajian kepada leluhur, sesaji
pada penguasa laut, sesaji pada pohon yang dianggap keramat, dan kepada roh-roh setempat menunjukkan bahwa
apa yang diyakini oleh masyarakat tradisional Bugis di masa itu memang masih menganut kepercayaan pendahulupendahulu mereka.
Namun, setelah diterimanya Islam dalam masyarakat Bugis, banyak terjadi perubahanperubahan terutama pada
tingkat ade (adat) dan spiritualitas. Upacaraupacara penyajian, kepercayaan akan roh-roh, pohon yang
dikeramatkan hampir sebagian besar tidak lagi melaksanakannya karena bertentangan dengan pengamalan hukum
Islam. Pengaruh Islam ini sangat kuat dalam budaya masyarakat bugis, bahkan turun-temurun orangorang bugis
hingga saat ini semua menganut agama Islam.
Pengamalan ajaran Islam oleh mayoritas masyarakat Bugis menganut pada paham mazhab Syafii, serta adat
istiadat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan syariat Islam itu sendiri. Budaya dan adat istiadat yang banyak
dipengaruhi oleh budaya Islam tampak pada acara-acara pernikahan, ritual bayi yang baru lahir (aqiqah),
pembacaan surat yasin dan tahlil kepada orang yang meninggal, serta menunaikan kewajiban haji bagi mereka yang
berkemampuan untuk melaksanakannya.

Faktor-faktor yang menyebabkan masuknya Islam pada masyarakat Bugis kala itu juga melalui jalur perdagangan
dan pertarungan kekuasaan kerajaan-kerajaan besar kala itu. Setelah kalangan bangsawan Bugis banyak yang
memeluk agama Islam, maka seiring dengan waktu akhirnya agama Islam bisa diterima seluruh masyarakat Bugis.
Penerapan syariat Islam ini juga dilakukan oleh raja-raja Bone, di antaranya napatau matanna tikka Sultan
Alimuddin Idris Matindroe Ri Naga Ulng, La Madaremmeng, dan Andi Mappanyukki.
Konsepkonsep ajaran Islam ini banyak ditemukan persamaannya dalam tulisan-tulisan Lontara. Konsep norma dan
aturan yang mengatur hubungan sesama manusia, kasih sayang, dan saling menghargai, serta saling mengingatkan
juga terdapat dalam Lontara. Hal ini juga memiliki kesamaan dalam prinsip hubungan sesama manusia pada ajaran
agama Islam.
Budayabudaya Bugis sesungguhnya yang diterapkan dalam kehidupan seharihari mengajarkan halhal yang
berhubungan dengan akhlak sesama, seperti mengucapkan tabe (permisi) sambil berbungkuk setengah badan bila
lewat di depan sekumpulan orang-orang tua yang sedang bercerita, mengucapkan iy (dalam bahasa Jawa nggih),
jika menjawab pertanyaan sebelum mengutarakan alasan, ramah, dan menghargai orang yang lebih tua serta
menyayangi yang muda. Inilah di antaranya ajaranajaran suku Bugis sesungguhnya yang termuat dalam Lontara
yang harus direalisasikan dalam kehidupan seharihari oleh masyarakat Bugis.
Manusia Bugis
Sejarah orangorang Bugis memang sangat panjang, di dalam teksteks sejarah seperti karya sastra La Galigo dan
Lontara diceritakan baik awal mula peradaban orangorang Bugis, masa kerajaankerajaan, budaya dan
spritualitas, adat istiadat, serta silsilah keluarga bangsawan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya dan adat istiadat ini
harus selalu dipertahankan sebagai bentuk warisan dari nenek moyang orangorang Bugis yang tentunya sarat nilainilai positif.
Namun saat ini ditemukan juga banyak pergeseran nilai yang terjadi baik dalam memahami maupun melaksanakan
konsep dan prinsip-prinsip ade (adat) dan budaya masyarakat Bugis yang sesungguhnya. Budaya siri yang
seharusnya dipegang teguh dan ditegakkan dalam nilainilai positif, kini sudah pudar. Dalam kehidupan manusia
BugisMakassar, siri merupakan unsur yang prinsipil dalam diri mereka. Tidak ada satu nilai pun yang paling
berharga untuk dibela dan dipertahankan di muka bumi selain siri.
Bagi Manusia Bugis-Makassar, siri adalah jiwa mereka, harga diri mereka, dan martabat mereka. Sebab itu, untuk
menegakkan dan membela siri yang dianggap tercemar atau dicemarkan oleh orang lain, maka manusia BugisMakassar bersedia mengorbankan apa saja, termasuk jiwanya yang paling berharga demi tegaknya siri dalam
kehidupan mereka.(Hamid Abdullah, Manusia Bugis-Makassar .37).
Di zaman ini, siri tidak lagi diartikan sebagai sesuatu yang berharga dan harus dipertahankan. Pada prakteknya siri
dijadikan suatu legitimasi dalam melakukan tindakantindakan yang anarkis, kekerasan, dan tidak bertanggung
jawab. Padahal nilai siri adalah nilai sakral masyarakat bugis, budaya siri harus dipertahankan pada koridor ade
(adat) dan ajaran agama Islam dalam mengamalkannya.
Karena itulah merupakan interpretasi manusia Bugis yang sesungguhnya. Sehingga jika dilihat secara utuh,
sesungguhnya seorang manusia bugis ialah manusia yang sarat akan prinsip dan nilainilai ade (adat) dan ajaran
agama Islam di dalam menjalankan kehidupannya, serta sifat pangadereng (adat istiadat) melekat pada pribadi
mereka.
Mereka yang mampu memegang teguh prinsipprinsip tersebut adalah cerminan dari seorang manusia Bugis yang
turun dari dunia atas (to manurung) untuk memberikan keteladan dalam membawa norma dan aturan sosial di bumi.

Penulis: Alumnus Asrama Mahasiswa Kaltim Mangkaliat Jogjakarta, Anggota Forum Komunikasi Mahasiswa Bone
Yogyakarta (FKMB-Y) dan kuliah di Institut Sains & Teknologi AKPRIND Jogjakarta. Tinggal di Balikpapan.

SEJARAH ORANG BUGIS

Orang bugis memiliki berbagai ciri yang sangat menarik. Mereka adalah contoh
yang jarang terdapat di wilayah nusantara. Mereka mampu mendirikan kerajaan-kerajaan yang sama
sekali tidak mengandung pengaruh India. Dan tanpa mendirikan kota sebagai pusat aktivitas mereka.
Orang bugis juga memiliki kesastraan baik itu lisan maupun tulisan. Berbagai sastra tulis berkembang
seiring dengan tradisi sastra lisan, hingga kini masih tetap dibaca dan disalin ulang. Perpaduan antara
tradisi sastra lisan dan tulis itu kemudian menghasilkan salah satu Epos Sastra Terbesar didunia Yakni La
Galigo yang naskahnya lebih panjang dari Epos Mahabharata.

Selanjutnya sejak abad ke 17 Masehi, Setelah menganut agama islam Orang bugis
bersama orang aceh dan minang kabau dari Sumatra, Orang melayu di Sumatra, Dayak di Kalimantan,
Orang Sunda dijawa Barat, Madura di jawa timur dicap sebagai Orang nusantara yang paling kuat
identitas

Keislamannya.

Bagi orang bugis menjadikan islam sebagai Integral dan esensial dari adat istiadat budaya mereka.
Meskipun demikian pada saat yang sama berbagai kepercayaan peninggalan pra-islam tetap mereka
pertahankan sampai abad ke 20 salah satu peninggalan dari jaman pra islam itu yang mungkin paling
menarik adalah Tradisi Para Bissu (Pendeta Waria).
Bagi suku-suku lain disekitarnya orang bugis dikenal sebagai orang yang berkarakter keras dan sangat
menjunjung tinggi kehormatan. Bila perlu demi kehormatan mereka orang bugis bersedia melakukan
tindak kekerasan walaupun nyawa taruhannya. Namun demikian dibalik sifat keras tersebut orang bugis
juga dikenal sebagai orang yang ramah dan sangat menghargai orang lain serta sangat tinggi rasa

kesetiakawanannya.
Orang eropa yang pertama kali menginjakkan kaki di tanah bugis adalah orang Potugis. Para pedagang
eropa itu mula-mula mendarat dipesisir barat sulawesi selatan pada tahun 1530. akan tetapi pedangan
portugis yang berpangkalan dimalaka baru menjalin hubungan kerjasama dalam bidang perdagangan
secara teratur pada tahun 1559
ASAL

USUL

ORANG

BUGIS

Asal usul orang bugis hingga kini masih tidak jelas dan tidak pasti berbeda dengan wilayah Indonesia.
Bagian barat Sulawesi selatan tidak memiliki monument (hindu atau budha) atau prasasti baik itu dari
batu maupun dari logam, yang memungkinkan dibuatnya suatu kerangka acuan yang cukup memadai
untuk menelusuri sejarah orang bugis Sejak abad sebelum masehi hingga kemasa ketika sumber-sumber
tertulis barat cukup banyak tersedia. Sumber tertulis setempat yang dapat diandalkan hanya berisi
informasi abad ke 15 dan sesudahnya,
KRONIK

BUGIS

Hampir semua kerajaan bugis dan seluruh daerah bawahannya hingga ketika paling bawah memiliki
kronik sendiri. Mulai dari kerajaan paling besar dan berkuasa sampai dengan kerajaan paling terkecil
akan tetap hanya sedikit dari kronik yang memandang seluruh wilayah di sekitarnya sebagai suatu
kesatuan. Naskah itu yang dibuat baik orang makassar maupun orang bugis yang disebut lontara oleh
orang bugis berisi catatan rincian mengenai silsilah keluarga bangsawan, wilayah kerajaan, catatan
harian, serta berbagai macam informasi lain seperti daftar kerajaan-kerajaan atau daerah-daerah
bawahan, naskah perjanjian dan jalinan kerjasama antar kerjaan dan semuanya disimpan dalam istana
atau rumah para bangsawan

Lontara Bugis

SIKLUS

LA

GALIGO

Naskah La Galigo bercerita tentang ratusan keturunan dewa yang hidup


pada suatu masa selama 6 (enam) generasi turun temurun, Pada berbagai kerajaan di sulawesi selatan
dan daerah pulau-pulau disekitarnya. Naskah bersyair tersebut ditulis dalam bahasa bugis kuno dengan
gaya bahasa sastra tinggi. Hingga memasuki abad ke 20 Masehi naskah la galigo secara luas diyakini oleh
masyarakat bugis sebagai suatu alkitab yang sacral dan tidak boleh dibaca tanpa didahului upacara ritual
tertentu.
Hingga kini versi lengkap siklus la galigo belum ditemukan dari naskah-naskah yang masih ada. Banyak
diantaranya hanya berisi penggalan-penggalan cerita yang dimulai dan diakhiri dengan tiba-tiba atau
hanya berisi sebagian kecil dari cerita dari episode yang kadang-kadang tidak bersambung. Namun
demikian banyak sastrawan bugis dan orang awam didaerah-daerah tertentu yang mengetahui sebagian
besar

dalam

cerita

siklus

tersebut

mereka

memperolehnya

dari

tradisi

lisan.

Siklus la galigo telah melalui proses penyusunan secara bertahap sebelum pada akhirnya menjadi sebuah
karya besar. Mula-mula hanya garis besar latar dan jalan cerita saja yang diciptakan, termaksud silsilah
para

tokoh

utamanya.

Untuk mengkaji sastra bugis itu para ilmuan beruntung dapat mengandalkan hasil jerih payah ilmuan
asal belanda R.A. Kern yang menerbitkan catalog lengkap mengenai seluruh naskah la galigo yang kini
tersimpan di perpustakaan-perpustakaan eropa dan perpustakaan Matthes di makassar. Dari 113 Naskah
yang ada yang terdiri atas 31.500 Halaman R.A Kern Menyaring dan membuat ringkasan setebal 1356
Halaman

yang

merincikan

Ratusan

Tokoh

yang

terdapat

dalam

seluruh

cerita.

La Galigo merupakan epos terbesar didunia dan epos tersebut lebih panjangan dari Epos Mahabharata.
Naskah la galigo terpanjang yaitu dikarang pada pertengahan abad ke 19 atas tanggung jawab seorang
perempuan raja bugis yang bernama I Colli Pujie Arung Tanete naskah setebal 2851 Halaman polio
tersebut diperkirakan mengandung sepertiga dari pokok cerita seluruhnya.
HIPOTESIS

REKONSTRUKSI

PRASEJARAH

BUGIS

Sejak awal mungkin 50.000 tahun yang lalu sulawesi selatan sebagaimana daerah lain dipulau asia
tenggara telah dihuni manusia yang sezaman dengan manusia wajak di jawa mereka mungkin tidak
terlalu beda dengan penghuni Australia pada masa itu di asia tenggara, mereka mengalami proses

penghalusan

bentuk

wajah

dan

tengkorak

kepala

meski

memiliki

Fenotipe

Australoid.

Pada permulaan abad ke 20, penjelajah asal swiss yakni Paul Sarasin dan sepupuhnya Fritz Sarasin
mengemukakan sebuah hipotesis bahwa toale (Manusia Penhuni hutan) sekelompok kecil manusia yang
hidup diberbagai gua dipegunungan Lamocong (Bone bagian selatan) adalah keturunan langsung dari
manusia penghuni gua pra sejarah dan ada hubungannya dengan manusia Veddah di srilangka
CARA

HIDUP

DAN

KEBUDAYAAN

AWAL

BUGIS

Kehidupan sehari-hari orang bugis pada hamper seluruh millennium


pertama masehi mungkin tidak terlalu jauh berbeda dengan cara hidup orang toraja pada permulaan
abad ke 20. mereka hidup bertebaran dalam berbagai kelompok di sepanjang tepi sungai, dipinggirin
danau, di pinggiran pantai dan tinggal dalam rumah-rumah panggung. Sebagai pelengkap beras dan
tumbuhan lading lain. Merekapun menangkap ikan dan mengumpulkan kerang. Orang bugis dikenal
sebagai pelauk ulung dengan menggunakan Phinisi mereka mengarungi samudra dengan gagah
beraninya disamping itu pula orang bugis sangat pandai dalam bertani dan berladang. Bertenun kain
adalah

salah

satu

keterampilan

nenek

moyang

orang

bugis.

Orang bugis pada masa awal itu kemungkinan besar juga mengayau kepala untuk dipersembahkan acara
ritual pertanian dan kesuburan tanah. Pada umumnya orang bugis mengubur mayat-mayat yang sudah
meninggal, meski ada pula mayat yang di benamkan (danau atau laut) atau disimpan di pepohonan.
Situs-situs megalitikum yang pernah nenek moyang mereka mungkin merupakan saksi kegiatan
penguburan ganda atau penguburan sekunder. Kepercayaan mereka masih berupa penyembahan arwah
leluhur. Terhadap para arwah itu sesajen-sesajen dipersembahkan lewat perantara dukun.
BUDAYA

BENDAWI

Pakaian

Gambaran tentang tokoh-tokoh dalam La galigo dapat

diperoleh dengan melihat pakaian yang dikenakan Pengantin Bangsawan tinggi masa itu, yang selalu
meniru-niru adapt kebiasaan masa lalu pria dan wanita mengenakan sarung hingga mata kaki (sampu
,yang dinamakan unrai bagi perempuan), menyerupai awi yang kini digunakan pengantin laki-laki. Pada
perempuan sarung tersebut dililit dengan sebuah ikat pinggan logam. Sedangkan pada pria, sarung di lilit
dengan sabuk tenunan dan diselipkan sebuah senjata tajam atau badik (gajang)
Rumah

Adat

Baik para bangsawan dan rakyat biasa tinggal dirumah panggung, namun istana
(langkana atau sao kuta bagi dewa-dewa) sama dengan rumah biasa, namun ukuranya lebih besar dengan
panjang sekurang-kurang nya 12 Tiang dan lebar 9 Tiang. Rumah tersebut memiliki tanda khusus untuk
menunjukkan derajat penghuninya.
Tarian

Dan

Hiburan

Rakyat

Tarian yang sering digunakan untuk menjamu tamu


kadang-kadang menarikan tari maluku (sere maloku) . namun tidak disebutkan adanya pembacaan
naskah secara berirama (masureselleng) yang sangat popular dilakukan pada acara-acara seperti itu di
lingkungan bangsawan hingga abad ke 20.
Hiburan utama adalah sabung ayam atau adu perkelahian ayam (masaung) hamper disetiap istana
dibawah pohon cempa (ri awa cempa) berdiri gelanggang atau arena sabung ayam ber atap tapi tidak
berdinding.
Hiburan rakyat lainnya adalah raga sebuah permainan kaum pria dalam suatu lingkaran yang
memainkan bola rotan anyaman yang menyerupai bola takraw. Bola tersebut tidak dibolehkan
menyentuh tanah atau tersentuh tangan. Pemenangnya adalah pemain yang paling lama memainkan bola
dengan kaki atau badannya (selain tangan) dan dapat menendang bolanya paling tinggi ke udarah.
PERANG
Boleh dikatankan perang dalam taraf tertentu merupakan hiburan bagi kaum lelaki. Juga merupakan
medan untuk menguji kejantanan para pemberani (to warani). Alat yang digunakan dalam peperangan

adalah Sumpit (seppu) dengan anak panah beracun, Tombak (bessi), pedang pendek (alameng), senjata
penikam atau badik (gajang)

Perlengkapan Perang Orang Bugis


MASYARAKAT

LA

GALIGO

Masyarakat yang digambarkan dalam epos La Galigo tampak sangat hirarkis. Datu, sang penguasa orang
yang paling terkemuka dalam kerajaan. Dialah yang menjaga keseimbangan lingkungan , baik itu
lingkungan alam maupun lingkungan social, dan merupakan pewaris keturunan dewa dimuka bumi.
Sebenarnya bukan hanya datu tetapi seluruh bangsawan dalam tingkatan tertentu ikut memegang status
keramat, karena mereka semua dianggap sebagai keturunan dewata. Mereka semua dipercaya memiliki
darah

putih

(dara

takku)

Dalam dunia bugis kuno kalangan biasa yang berdarah merah dipandang memiliki perbedaan
Fundamental dari bangsawan berdarah putih yang membawa esensi kedewataan kemuka bumi.
Referensi

Buku

: Manusia

Bugis

Catatan : Hanya satu yang tidak terdapat dalam manusia bugis yaitu Orang Bugis
adalah pelaut Ulung yang dimana pada buku manusia bugis membantah bahwa itu
adalah kepercayaan yang salah buat orang bugis. Tapi saya pribadi yang menulis
Bugis-Ku akan tetap mempercayai bahwa Nenek Monyang Orang Bugis adalah Pelaut
Ulung.
Dikutip dari BUGIS-KU

Diposkan oleh NURHASIM di 10:01