Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan HNP


Di Ruang Saraf RSUD Dr. Soetomo Surabaya

OLEH
SUBHAN

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
AIRLANGGA
SURABAYA
2001

Herniated Nucleus Pulposus (HNP )


Pengertian
Kelemahan pada anulus fibrosus bagian lateral pada diskus vertebra dan
ligamen longitudinal posterior menjadi tipis, yang mengakibatkan penekanan pada
syaraf spinal
Faktor resiko

Tubuh kurus.

Menggunakan sepatu tumit tinggi.

Kondisi kesehatan fisik yang jelek.

Mengangkat beban yang berlebihan posisi badan tidak siap.

Kegemukan.

Kehamilan.

Etiologi

Keadaan akut, injuri pada ligamen, otot dan degenerasi spinal

ini akan

menyebabkan nyeri pada punggung (Low Back Pain).

Degenerasi pada tulang belakang normal pada proses ketuaan, akselerasi trauma,
penggunaan yang berlebihan dan lama, tidak pernah melakukan aktifitas.

Nyeri punggung akibat spasme otot sehubungan dengan stress.

Pengalaman masing-masing orang tentang persepsi nyeri punggung berbeda.

Pathofisiologi
Trauma pada tulang punggung / kesalahan posisi ( body aligment )

1. Herniasi pada tulang belakang.


2. Sprain ligamen
3. Spasme otot
4. Osteoporosis
5. Kompresi fraktur

Gejala nyeri pinggang bawah.


( Low back pain )
Manifestasi klinik :
1. Nyeri pinggang akut 4 minggu.
2. Nyeri pada saat berjalan, mem-bengkak.
3. Parestesia pada extremitas bawah.
4. Perubahan sensori
5. Ditunjang pemeriksaan klinis, foto Rontgen tulang belakang.
a) Nyeri punggung secara umum sama dengan nyeri leher (cervical)
b) Nyeri punggung biasanya disebabkan :

HNP (Hernia Nucleus Pulposus).

Ketegangan otot (Sprain).

Injuri pada diskus vertebralis akibat dari hiperfleksi atau strain otot.

Spasme otot.

Perubahan degeneratif (osteoartritis).

Osteoporosis.

Spondilolysis atau terbukanya vertebra.

Kompresi fraktur ------- trauma, osteoporosis akibat kanker.

Scoliosis.

c) Nyeri secara terus menerus dalam 3 bulan, kejadiannya berulang ----- termasuk
kronis.
d) Nyeri juga dirasakan saat bersin, batuk atau diregangkan.

e) Nyeri biasanya pada L 4-5 atau L 5 - S - 1.


f) Tertekannya syaraf sciatik spinalis.
Manifestasi klinik

Nyeri punggung dalam 4 minggu dengan pengobatan yang spesifik.

Bila mengeluh nyeri punggung > 4 minggu terus menerus merupakan penyakit
yang serius.

Dirasakan nyeri pada punggung dan bila berjalan nampak kaku.

Pada riwayat kesehatan dapat dilihat :


Fraktur, tumor, infeksi atau penyakit serius lain.
Gangguan di luar nyeri punggung.
Nyeri belakang yang tidak spesifik.

Diagnostik

Tidak ada test laboratorium yang spesifik.

Rontgent foto punggung anterior, posterior dan lateral.

CT Scaning.

MRI ( Magnetic Resonance Imaging )

Peragaan myelogram

Elektro myelografi

Penatalaksanaan klinis
1. Konservatif pada kasus akut.
2. Dilakukan tindakakan selama 4 minggu.
3. Bila tidak ada perubahan dalam 4 minggu lakukan pengkajian ulang.
Intervensi non farmakologis :
1. Mampu mengontrol gejala dan menggunakan kompres panas atau dingin untuk
periode tertentu.
2. Dapat menggunakan korset, traksi, masage, diatermi, ultrasound, biofeedback dan
transcutaneus elektrical nerve stimulation (TENS)
3. Membatasi aktivitas selama 3 bulan
4. Latihan bertahap untuk meningkatkan toleransi aktivitas, misalnya ; berjalan,
berenang, jogging.

5. Memperhatikan posisi tubuh pada saat berdiri, duduk, istirahat punggung tetap
tersangga dalam posisi yang baik.
Intervensi Farmakologis
1. Menggunakan obat analgetika lokal
2. Analgetika
3. Obat relaksan otot
Khusus untuk prosedur operasi

Laminectomy

Laminotomy

Diskectomy

Komplikasi
Postlaminektomy syndrome.

Aplikasi proses keperawatan


Pengkajian
Data yang didapatkan tergantung pada tempat, severity, keadaan akut atau
kronis, efek dari kerusakan struktur, dan jumlah akar syaraf yang mengalami
kompresi.
Aktivitas & Istirahat
Subyektif

Riwayat okupasi saat mengangkat benda berat, duduk,

mengendarai mobil dalam jangka waktu lama.


Keinginan untuk tidur pada bed board/papan matras yang keras
Penurunan ROM dari ekstremitas pada satu sisi
Ketidakmampuan beraktivitas
Obyektif

: Atropi otot pada sisi yang terkena


Kesulitan berjalan

Eliminasi
Subyektif

: Konstipasi, kesulitan defekasi


Inkontinensia urine/retensi

Integritas Ego
Subyektif

: Kecemasan terhadap paralisis


Ketakutan terhadap beban finansial

Obyektif

: Ansietas, depresi, penolakan terhadap keluarga

Neorosensory
Subyektif

: Tingling, numbness, kelemahan lengan dan kaki

Obyektif

: Penurunan refleks tendon ; kelemahan otot, hipotoni


Spasme dari otot paravertebral
Penurunan persepsi nyeri (sensori)

Rasa Nyaman/Nyeri
Subyektif

: Nyeri seperti nyeri tersayat, yang dicetuskan karena batuk, bersin,


mengangkat, defekasi, fleksi bahu.
Keterbatasan aktivitas

Obyektif

: Kesukaran berdiri, berjalan, elevasi hip pada area afected

Nyeri tekan
Rasa Aman
Subyektif

: Riwayat masalah pada punggung

Kebutuhan Belajar
Subyektif

: Gaya hidup yang overaktif

PRIORITAS KEPERAWATAN
1. Menurunkan stress spinal, spasme otot dan nyeri
2. Mengembalikan fungsi secara optimal
3. Mendukung pasien/keluarga dalam menjalani proses rehabilitasi
4. Memberi informasi tentang kondisi/prognosis dan kebutuhan pengobatan
Gangguan pergerakan fisik se-hubungan nyeri akibat terjadi herniasi pada tulang
belakang.

INTERVENSI
RASIONAL
Membantu klien untuk menentukan batas Pengetahuan terhadap skala nyeri untuk
dapat melakukan tindakan sesuai dengan

nyeri dengan skala 1 - 10.

intensitas nyeri.

Mengajarkan tehnik untuk

menu-runkan

ambang nyeri.

Tehnik relaksasi,

Mengajarkan metode relaksasi.

dapat menurunkan ambang rasa nyeri.

Mengatur pernapasan.

Obat dapat menghambat reseptor nyeri yang

Menggunakan obat analgetika sejarang


mungkin.

Mengkaji respon klien terhadap gambaran


nyeri-nya.

Mengkaji tanda vital.

mengatur pernapasan

ada di otak.
Respon nyeri klien dapat diperlihatkan
melalui respon verbal dan non verbal.
Perubahan tanda vital dapat digunakan
sebagai

indikator

adanya

perubahan

intensitas nyeri.

Membatasi pergerakan klien.

Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada


syaraf tulang belakang dan mengurangi nyeri
Untuk menjaga posisi tulang punggung tidak

Mengalasi tempat tidur klien dengan alas berubah.


yang keras (tripleks)

Potensial cedera berulang

sehubungan dengan kurangnya pengetahuan terhadap

kondisi, prognosis dan pengobatan.


Berikan penjelasan tentang proses dan prognosis, Menjelaskan dan memberikan pengertian
pembatasan aktivitas ; contoh tidak melakukan tentang perubahan gaya hidup, hal tersebut
olah raga berat.

dapat meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien dapat memilih sesuai dengan
gaya hidupnya.

Berikan informasi tentang latihan tubuh yang Mengurangi resiko kambuh kembali.
harus dilakukan, berdiri, duduk dan menggunakan
sepatu tinggi.
Diskusi pengobatan dan efek samping, contoh Mengurangi resiko kompilikasi atau injuri .
obat

yang

dapat

menurunkan

rasa

nyeri.

(analgetika, relaksan otot).


Anjurkan klien untuk menggunakan alas yang Hal ini dapat mengurangi ketegangan otot,
keras, bantal kecil di bawah leher, tidur dengan sehingga membentuk posisi tulang punggung
lutut fleksi dengan posisi terlentang.

normal

dan

mencegah

hiper

extensi

punggung.
Kolaborasi dengan petugas kesehatan (ahli gizi) Diet
Diskusi dengan klien tentang diet.

tinggi

serat

dapat

mengurangi

konstipasi, kalori rendah mengurangi BB


sehingga dapat menuruknan tekanan tulang
belakang.

Cemas sehubungan dengan perubahan status kesehatan.


Kaji tingkat cemas klien, bagaimana klien memecahkan Mengidentifikasi
masalah dan koping apa yang digunakan.

kekuatan

dan

keterampilan klien dalam memecahkan


masalah.

Berikan informasi akurat dan jawab setiap pertanyaan Memberi

kesempatan

klien

untuk

klien.

mengambil keputusan sesuai dengan


pengetahuannya.

Memberikan

kesempatan

pada

klien

untuk Hal tersebut dapat memberikan pada

mengekspresikan perasaannya.

klien

untuk

mengungkapkan

perasaannya dengan informasi yang


akurat untuk meningkatkan koping
sesuai dengan situasi.
Tingkatkan lingkungan yang terbuka dan aman sehingga
klien lebih mudah men-diskusikan tentang penyakit dan Merasakan
perasaannya.

perasaan

diterima

dan

mening-katkan rasa dihargai.

Pertahankan kontak yang sering dengan klien, berbicara Memberi jaminan kepada klien bahwa
dengan

memberi

sentuhan

terapeutik

jika dia tidak sendiri dan tidak merasa

memungkinkan.

ditolak.

Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan dan beri Mengurangi

rasa

cemas

terhadap

kesempatan untuk bertanya.

penanganan yang tidak diketahui.

Evaluasi status psikologis dan tanda vital.

Untuk

menilai

sejauh

mana

perkembangan dari intervensi yang


diberikan.
Menganjurkan klien berdoa dan menjalankan kewajiban
sembahyang.

Untuk pemenuhan rasa aman dan


nyaman serta perasaan perlindungan
dari Tuhan.

Gangguan Eliminasi tinja (konstipasi) sehubungan dengan kurangnya aktifitas


(immobilisasi)

Auskultasi bising usus, catat lokasi dan karakteristik.

Bising

usus

menandakan

usus

berfungsi normal.
Observasi distensi abdomen bila bising usus menurun Peristaltik menghilang pada distensi
atau tidak ada.

abdomen / meningkat bila terjadi


gangguan usus.

10

Catat frekwensi, karakteristik dan banyaknya tinja.

Mengidentifikasi derajat gangguan dan


tingkat perbaikan.

Anjurkan untuk makan tinggi serat, banyak minum dan


makan buah-buahan.

Makanan tinggi serat menjasdikan tinja


lunak,

Kolaborasi :

banyak minum mengurangi

penyerapan pada tinja.

Pemberian laksatif supositoria.


Merangsang

peristaltik

sehingga

memudahkan pengeluaran tinja.


Potensial kurang volume cairan sehubungan dengan kurangnya masukkan melalui oral
Ukur dan catat pemasukkan dan pengeluaran.

Dokumentasi yang akurat membantu mengidentifikasi kehilangan cairan atau memenuhi


kebutuhan cairan dan mempengaruhi tindakan
selanjutnya.

Monitor vital sign


Hipotensi, tachikardi, peningkatan respirasi
merupakan indikasi kekurangan cairan.
Catat keluhan mual, muntah.
Pada post operasi resiko tinggi untuk terjadi
mual, muntah akibat pengaruh anaestesi.
Kaji balutan luka, drainage secara teratur.

Keluarnya darah yang berlebihan dapat


menyebabkan hipovelemia, kolaps sirkulasi.

Kolaborasi :

Monitor cairan parentral

Penurunan

volume cairan petensial untuk

terjadinya dehidrasi, kolaps kardiovaskuler


tidak seimbangnya cairan dan elektrolit.

Berikan anti emetik sesuai program.

Untuk mengurangi rasa mual akibat pengaruh


dari anaestesi.

Monitor laboratorium ; Hb, Hct

Anemia, Hct rendah terjadi akibat kehilangan


cairan pada saat operasi

11

Potensial infeksi sehubungan dengan adanya luka di daerah punggung thorak 11 - L 2.

Kaji keadaan luka (kontinyuitas dari kulit) Untuk mengetahui tanda-tanda infeksi
terhadap adanya : edema, rubor, dolor, fungsio
laesa.
Anjurkan klien untuk tidak memegang bagian Meminimalkan terjadinya kontaminasi .
yang luka.
Merawat luka dengan menggunakan tehnik Mencegah kontaminasi dan kemungkinan
aseptik dan antiseptik

infeksi silang.

Kolaborasi :
Pemeriksaan darah : leukosit

Leukosit yang meningkat berarti terjadi


infeksi.

Pemberian obat-obatan : antibiotika

Untuk mecegah kelanjutan terjadinya infeksi

Persiapan untuk operasi sesuai indikasi

Mempercepat proses penyembuhan luka dan


pencegahan peningkatan infeksi.

Gangguan aktifitas fisik sehubungan dengan kelemahan kaki dan kecemasan post
operasi

Mengkaji kekuatan motorik kaki klien.

Mengevaluasi status sensori motorik klien untuk


menyesuaikan dengan latihan yang akan diberikan
menghindari injuri.

Menjelaskan pada klien tentang pergerakan


tubuh secara anatomis untuk menjaga Klien akan dapat diajak bekerja sama dalam
stamina
Membantu pergerakan secara bertahap

melakukan latihan pergerakan.

12

secara pasif kemudian meningkat yang Gerakan bertahap untuk mencegah peregangan
dilakukan secara aktif.

mendadak dan perlukaan pada otot

Memasang korset penyangga badan setiap Untuk menghindari trauma dan menahan penekanan
akan melakukan latihan

pada tulang punggung.

Kolaborasi

Membantu perencanaan klien dan imple-mentasi

Unit Rehabilitasi Medis, fisiotherapis

program latihan dan mengidentifikasi perkembangan


fungsi tubuh serta kemandirian klien.

13

Daftar Pustaka
American Callege Of Surgeons. 1997. Advced Trauma Life Suport (ATLS) for
Doctors, Edition 6, Amerika Serikat.
Dolan T. Joant. 1991. Critical Care Nursing Clinical Management Through The
Nursing Proces, New York. Amerika Serikat, FA Davis Company.
Philadephia.
Doenges E. Marilyn. Et

All. 1987. Nursing Care Plans,

Philadephia.
Thedore.R, (1993) Ilmu Bedah, EGC Jakarta

Edition 2, Company

14
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Nama

Dx medis :
Tanggal

DIAGNOSA

Jam

KEPERAWATAN
Gangguan pergerakan fisik

TU J UAN
Nyeri berkurang dan dapat diatasi, dalam

se-hubungan

waktu

nyeri akibat

15

menit

setelah

diberikan

terjadi herniasi pada tulang

tindakan.

belakang.

Klien dapat menggunakan skala nyeri 1 -

Kriteria :

melakukan tindakan sesuai dengan intensitas

batas nyeri dengan skala 1 - 10.

kemampuan.
memelihara

Tehnik relaksasi,

Mengajarkan metode relaksasi.

menurunkan ambang rasa nyeri.

obat

analgetika

mengatur pernapasan dapat

Obat dapat menghambat reseptor nyeri yang ada


di otak.

sejarang mungkin.

mende-monstrasikan

tehnik un-tuk memulai aktivitas sesuai


mampu

ambang nyeri.

Menggunakan

Klien dapat istirahat dan tidur.


mampu

Mengajarkan tehnik untuk menu-runkan

Mengatur pernapasan.

Klien tidak mengeluh nyeri.

Klien

RASIONAL
Pengetahuan terhadap skala nyeri untuk dapat
nyeri.

10

Klien

INTERVENSI
Membantu klien untuk menentukan

dan

Mengkaji

respon

klien

gambaran nyeri-nya.
Mengkaji tanda vital.

terhadap
Respon nyeri klien dapat diperlihatkan melalui
respon verbal dan non verbal.
Perubahan tanda vital dapat digunakan sebagai

meningkatkan fungsi anggota tubuh.

indikator adanya perubahan intensitas nyeri.


Membatasi pergerakan klien.

Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada


syaraf tulang belakang dan mengurangi nyeri
Untuk menjaga posisi tulang punggung tidak

15
Mengalasi tempat tidur klien dengan
alas yang keras (tripleks)
Potensial cedera berulang

Setelah

dalam

Berikan penjelasan tentang proses dan

Menjelaskan dan memberikan pengertian tentang

sehubungan

waktu 45 menit klien memahami kondisi

prognosis, pembatasan aktivitas ; contoh

perubahan

prognosis dan pengobatan.

tidak melakukan olah raga berat.

meningkatkan pengetahuan klien se-hingga klien

kurangnya

dengan
pengetahuan

tindakan

keperawat-an

berubah.

terhadap kondisi, prognosis


dan pengobatan.

gaya

hidup,

hal

tersebut

dapat

dapat memilih sesuai dengan gaya hidupnya.


Kriteria :

Berikan informasi tentang latihan tubuh

Klien berpartisipasi dalam pengobatan.

yang harus dilakukan, berdiri, duduk dan

Mengurangi resiko kambuh kembali.

menggunakan sepatu tinggi.


Diskusi pengobatan dan efek samping,
contoh obat yang dapat menurunkan rasa

Mengurangi resiko kompilikasi atau injuri .

nyeri. (analgetika, relaksan otot).


Anjurkan klien untuk menggunakan alas
yang keras, bantal kecil di bawah leher,
tidur dengan lutut fleksi dengan posisi

Hal ini dapat mengurangi ketegangan otot,

terlentang.

sehingga membentuk posisi tulang punggung


normal dan mencegah hiper extensi punggung.

Kolaborasi dengan petugas kesehatan (ahli


gizi) Diskusi dengan klien tentang diet.

Diet tinggi serat dapat mengurangi konstipasi,


kalori rendah mengurangi BB sehingga dapat
menuruknan tekanan tulang belakang.

Cemas sehubungan dengan

Dalam waktu 30 menit setelah diberikan

Kaji tingkat cemas klien, bagaimana klien

Mengidentifikasi

perubahan status kesehatan.

tindakan

memecahkan masalah dan koping apa yang

klien dalam memecahkan masalah.

klien

da-pat

mengurangi

kekuatan

dan

keterampilan

16
kecemasan

digunakan.

Kriteria :
Klien tampak

Memberi kesempatan klien untuk mengambil


rileks dan mampu Berikan informasi akurat dan jawab setiap

mengungkapkan rasa cemasnya.


Klien

mampu

keputusan sesuai dengan pengetahuannya.

pertanyaan klien.

meng-identifikasi

Hal tersebut dapat memberikan pada klien untuk

koping yang efektif.


Klien mampu menyusun rencana untuk
mengubah gaya hidup.

Memberikan kesempatan pada klien untuk


mengekspresikan perasaannya.

mengungkapkan perasaannya dengan informasi


yang akurat untuk meningkatkan koping sesuai
dengan situasi.

Klien dapat mengalihkan perasaan


cemasnya de-ngan cara yang kon-

Merasakan perasaan diterima dan mening-katkan

struktif seperti membaca, berceritra,

rasa dihargai.

mendengarkan ra-dio dan lain-lain.


Tanda vital nadi, perna-pasan, suhu
dan tekanan darah dalam batas normal.
N = 60 - 80 x/mt

Tingkatkan lingkungan yang terbuka dan


aman sehingga klien lebih mudah mendiskusikan

tentang

penyakit

dan

perasaannya.

sendiri dan tidak merasa ditolak.

P = 16 - 24 x/mt
S = 26 - 37,5 C

Pertahankan kontak yang sering dengan

TD = 100/70 sd 140/90 mmHg.

klien, berbicara dengan memberi sentuhan


terapeutik jika memungkinkan.
Jelaskan

setiap

Memberi jaminan kepada klien bahwa dia tidak

tindakan

yang

akan

Mengurangi rasa cemas terhadap penanganan


yang tidak diketahui.

dilakukan dan beri kesempatan untuk


bertanya.
Evaluasi status psikologis dan tanda vital.

Untuk menilai sejauh mana perkembangan dari


intervensi yang diberikan.

17

Menganjurkan

klien

berdoa

dan

menjalankan kewajiban sembahyang.


Gangguan eliminasi tinja

Klien dapat buang air besar dengan lancar

Auskultasi bising usus, catat lokasi dan

(konstipasi)

dalam waktu 1 hari setelah diberikan

karakteristik.

sehubungan

dengan kurangnya aktifitas

tindakan

Untuk pemenuhan rasa aman dan nyaman serta


perasaan perlindungan dari Tuhan.
Bising usus menandakan usus berfungsi normal.
Peristaltik menghilang pada distensi abdomen /

(immobilisasi)

Observasi distensi abdomen bila bising usus


Kriteria :

meningkat bila terjadi gangguan usus.

menurun atau tidak ada.

Perut tidak kembung.

Mengidentifikasi derajat gangguan dan tingkat

Tinja lunak

perbaikan.
Catat

B.a.b teratur 1 x sehari


Bising usus normal (+)

3 - 4 kali

dalam 1 menit.

frekwensi,

karakteristik

dan

banyaknya tinja.

Makanan tinggi serat menjasdikan tinja lunak,


banyak minum mengurangi penyerapan pada

Anjurkan untuk makan tinggi serat, banyak

tinja.

minum dan makan buah-buahan.


Merangsang peristaltik sehingga memudahkan
Kolaborasi :

pengeluaran tinja.

Pemberian laksatif supositoria.


Potensial

kurang

volume

cairan sehubungan dengan


kurangnya
melalui oral

Kebutuhan cairan terpenuhi selama usus

Ukur

dan

belum berfungsi.

pengeluaran.

catat

masukkan

pemasukkan

dan

Dokumentasi yang akurat membantu mengidentifikasi kehilangan cairan atau memenuhi


kebutuhan cairan dan mempengaruhi tindakan

Kriteria :

selanjutnya.

Tanda vital dalam batas normal.


Turgor kulit normal.

Monitor vital sign

Hipotensi,

tachikardi,

peningkatan

respirasi

18
Membran mukosa lembab.

merupakan indikasi kekurangan cairan.

Produksi urine output seimbang


Catat keluhan mual, muntah.

Pada post operasi resiko tinggi untuk terjadi


mual, muntah akibat pengaruh anaestesi.

Kaji balutan luka, drainage secara teratur.


Kolaborasi :

Monitor cairan parentral

Keluarnya

darah

yang

berlebihan

dapat

menyebabkan hipovelemia, kolaps sirkulasi.


Penurunan

volume cairan petensial untuk

terjadinya dehidrasi, kolaps kardiovaskuler tidak


seimbangnya cairan dan elektrolit.

Berikan anti emetik sesuai program.

Monitor laboratorium ; Hb, Hct

Untuk mengurangi rasa mual akibat pengaruh


dari anaestesi.
Anemia, Hct rendah terjadi akibat kehilangan

Potensial

infeksi

Infeksi tidak terjadi.

sehubungan dengan adanya

Kaji keadaan luka (kontinyuitas dari kulit)

cairan pada saat operasi


Untuk mengetahui tanda-tanda infeksi

terhadap adanya : edema, rubor, dolor,

luka di daerah punggung

Kriteria :

thorak 11 - L 2.

Penyembuhan luka sem-purna


Tidak ada tanda infeksi.
Bagian yang luka dapat berfungsi
seperti semula

fungsio laesa.
Anjurkan klien untuk tidak memegang

Meminimalkan terjadinya kontaminasi .

bagian yang luka.


Merawat luka dengan menggunakan tehnik

Mencegah kontaminasi dan kemungkinan infeksi

19
aseptik dan antiseptik

silang.

Kolaborasi :
Pemeriksaan darah : leukosit

Leukosit yang meningkat berarti terjadi infeksi.


Untuk mecegah kelanjutan terjadinya infeksi

Pemberian obat-obatan : antibiotika


Persiapan untuk operasi sesuai indikasi

Gangguan

aktifitas

sehubungan
kelemahan

fisik
dengan

kaki

kecemasan post operasi.

dan

Setelah

diberikan

penjelasan

dan

Mengkaji kekuatan motorik kaki klien.

Mempercepat proses penyembuhan luka dan


pencegahan peningkatan infeksi.
Mengevaluasi status sensori motorik klien untuk

demonstrasi gerakan selama 30 menit

menyesuaikan

klien dapat :

diberikan menghindari injuri.

mengikuti gerakan yang diajarkan.

Kriteria :

Klien

dapat

melakukan

Melakukan latihan tanpa ragu secara


pasif dan aktif.

latihan

yang

akan

Menjelaskan pada klien tentang pergerakan


tubuh secara anatomis untuk menjaga

Klien akan dapat diajak bekerja sama dalam

stamina

melakukan latihan pergerakan.

gerakan

sesuai anatomis.

dengan

Membantu

pergerakan

secara

bertahap

secara pasif kemudian meningkat yang

Gerakan bertahap untuk mencegah peregangan

dilakukan secara aktif.

mendadak dan perlukaan pada otot

Memasang korset penyangga badan setiap

Untuk

akan melakukan latihan

penekanan pada tulang punggung.

Kolaborasi

Membantu perencanaan klien dan imple-mentasi

menghindari

trauma

dan

menahan

20
Unit Rehabilitasi Medis, fisiotherapis

program

latihan

dan

mengidentifikasi

perkembangan fungsi tubuh serta kemandirian


klien.