Anda di halaman 1dari 28

PENDAHULUAN

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik
sintetis maupun semi sintetis yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu bagi
mereka yang menggunakan dengan memasukkannya ke dalam tubuh manusia. Pengaruh
tersebut berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat , halusinasi atau
timbulnya khayalan-khayalan yang menyebabkan efek ketergantungan bagi pemakainya.
Yang termasuk dalam NAPZA adalah : Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya.
Istilah "narkotika" ada hubungannya dengan kata "narkan" (bahasa Yunani) yang
berarti menjadi kaku. Umumnya, narkotika sering digunakan untuk mengatasi rasa sakit.
Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu
pengetahuan, akan tetapi kenyataannya zat-zat tersebut banyak yang disalahgunakan.

TUJUAN
Belajar mandiri pada blok Emergency Medicine I ini mendiskusikan tentang seorang
laki-laki 20 tahun, ingin bunuh diri dalam keadaan gaduh gelisah karena kecanduan putau
sejak 1 tahun yang lalu. Pada PBL 1, kami telah mendiskusikan bersama-sama tentang sasaran
pembelajaran kami yaitu anamnesis, gejala putus obat, penatalaksanaan pada pertolongan
pertama. Selain itu ialah kondisi pasien, rehabilitasi, prognosis dan preventif. Diharap dengan
hasil belajar mandiri saya ini dapat menambahkan lagi ilmu-ilmu saya berkenaan dengan blok
29 ini.

ISI
ANAMNESIS
Penegakkan diagnosis pada penderita/penyalahgunaan NAPZA sering kali tidak
mudah dilakukan oleh kerena adanya stigma di masyarakat terhadap penyalahguna. Hal ini
membuat pasien bersifat tertutup dan menghindar untuk mengatakan keadaan yang

sebenarnya. Oleh karena itu diperlukan ketrampilan khusus untuk membuat pasien percaya
dan berterus terang.1
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menegakkan diagnosis :
A. SIKAP MENTAL DOKTER

Bersikap positif, penuh perhatian dan menerima pasien apa adanya.


Berempati (dapat memahami dan meraba rasakan masalahnya)
Tidak menghina, mengkritik, menertawakan, mengejek, menyalahkan, karena hal ini
akan menyebabkan pasien tertutup sehingga akan mengganggu proses autoanamnesis.1

Sikap mental diatas diharapkan dapat menciptakan suasana hubungan terapeutik Dokter
dan pasien.
B. TEKNIK WAWANCARA
Wawancara dapat dilakukan secara alloanamnesis maupun autoanamnesis. Urutan
pelaksanaannya dapat dilakukan alloanamnesis terlebih dahulu atau sebaliknya dan dapat juga
bersamaan tergantung situasi dan kondisi.
1. Alloanamnesis dilakukan sebelum autoanamnesis

Dokter telah memperoleh informasi tentang pasien, sehingga autoanamnesis lebih

terarah
Kemungkinan pasien lebih terbuka dan tidak menyangkal lagi
Pasien menyangkal dan bertahan mengatakan tidak menggunakan NAPZA
Pasien menyatakan sudah berhenti menggunakan
Dokter terpengaruh orang tua/guru yang terlalu kuatir, pada hal pasien tidak

menggunakan
Pasien mencurigai Dokter sudah terpengaruh dengan orang tua/guru yang mengantar,
sehingga tidak kooperatif.1

2. Alloanamnesis dilakukan sesudah Autoanamnesis

Dokter belum dipengaruhi oleh keterangan yang diberikan orang tua/pengantar lain.
Pasien tidak berprasangka bahwa Dokter telah dipengaruhi orang tua/guru atau

berpihak pada orang tua/guru yang menyalahkan pasien


Kemungkinan pasien membohongi atau tidak terbuka pada Dokter.1

3. Autoanamnesis dan Alloanamnesis dilakukan bersamaan


2

Pasien tidak dapat berbohong mengenai hal-hal yang diketahui orang tua/guru
Pada pasien yang bersikap tertutup, menanyakan langsung perihal penggunaan
NAPZA biasanya tidak membawa hasil.1

Sebaiknya anamnesis dilakukan secara tidak langsung misalnya dengan pertanyaan


sebagai berikut :
Apakah ada yang bisa dibantu ?

Apakah ada masalah dengan orang tua,guru,teman pacar?


Apakah ada kesulitan belajar,malas kerja,sulit tidur?
Apakah sering tidak betah dirumah,sering begadang?
Apakah sering mengalami stres,kegelisahan,kesedihan?
Apakah untuk mengatasi kegelisahan atau kebosanan merokok lebih banyak dari

biasa?
Bila sedang frustasi,lalu minum minuman keras,apakah pernah mabok atau teler ?
Bila minum minuman keras apakah dicampur obat tidur,masing-masing berapa banyak
dan berapa sering ?

Pada pasien sudah bersikap terbuka, anamnesis/pertanyaan mengenai NAPZA meliputi:

Keluhan pasien dan riwayat perjalanan penyakit terdahulu yang pernah diderita
Riwayat penyalahgunaan NAPZA
1) Jenis NAPZA yang dipakai
2) Lamanya pemakaian
3) Dosis,Frekuensi dan cara pemakaian
4) Riwayat/gejala intoksikasi/gejala putus zat
5) Alasan penggunaan
6) Waktu menelan NAPZA terakhir

Ditanyakan juga taraf fungsi sosial


1. Riwayat pendidikan
2. Latar belakang kriminal
3. Status keluarga
4. Kegiatan sosial lain
3

Evaluasi keadaan psikologis


1.
2.
3.
4.

Keadaan emosi
Kemampuan pengendalian impuls
Kemungkinan tindak kekerasan,bunuh diri
Riwayat perawatan terdahulu

Selain mendokumentasikan keluhan penyajian, unsur-unsur penting dari sejarah termasuk


jenis obat tertelan dalam jangka panjang, durasi kecanduan, waktu menelan terakhir, alasan
untuk berhenti pasien obat, pengobatan alternatif digunakan untuk meringankan gejala putus
obat, dan sebelum gejala makin parah.1,2
Kondisi komorbiditas serius dapat menghasut acara untuk alasan untuk berhenti dari
narkoba dan harus diselidiki secara menyeluruh.
Memperoleh riwayat narkoba dan penyalahgunaan alkohol adalah penting dan dapat
membantu dengan antisipasi dan pengobatan pada pasien mengaku untuk alasan lain selain
gejala putus obat (misalnya, infark miokard, trauma multipel).
PEMERIKSAAN
Penampilan pasien, sikap wawancara, gejolak emosi dan lain-lain perlu diobservasi.
Dokter harus cepat tanggap apakah pasien perlu mendapatkan pertolongan kegawat darurat
atau tidak, dengan memperhatikan tanda-tanda dan gejala yang ada.
Pemeriksaan Fisik
Gejala Fisik
Timbulnya gejala-gejala fisik maupun mental sesudah penggunaan zat psikoaktif yang
berlangsung secara terus-menerus, dalam jangka waktu yang lama, dan/atau dosis
tinggi.
Bentuk dan keparahan gejala tersebut tergantung dari jenis dan dosis zat psikoaktif
yang digunakan sebelumnya.
Gejala tersebut akan mereda dengan meneruskan penggunaan zat itu.
Salah satu indikator dari sindrom ketergantungan.
4

Adanya bekas suntikan sepanjang vena di lengan,tangan kaki bahkan pada tempattempat tersembunyi misalnya dorsum penis.Pemeriksaan fisik terutama ditijikan untuk
menemukan gejala intoksikasi/overdosis/putus zat dan komplikasi medik seperti Hepatitis,
Eudokarditis, Bronkoneumonia, HIV/AIDS dan lain-lain.
Menemukan tanda/kelainan akibat keracunan.
Perhatikan terutama : Tanda-tanda vital (kesadaran, pernafasan, tensi, nadi), ukuran pupil,
cara jalan, sklera ikterik, conjunctiva anemis, perforasi septum nasi, caries gigi, aritmia
jantung, edema paru, pembesaran hepar dan lain-lain.
Gejala Fisik : Menguap, diaphoresis, mengeluarkan air mata, rinorea, pin point dilatasi pupil,
piloereksi,kedutan pada otot dan hot flushes (perasaan panas dan merah pada wajah).
Selanjutnya terdapat mual dan muntah, demam ,hipertensi, takikardi, diare dan kram perut.
Kejang terjadi pada putus zat meperidin.2

Tanda-tanda fisik lain yang harus diperhatikan juga adalah seperti berikut:
Kesadaran: somnolen pada intoksikasi opioida, sopor-koma pada keadaan kelebihan
dosis
Denyut nadi: bertambah cepat pada putus zat, lambat pada intoksikasi opioida
Suhu badan: turun pada intoksikasi opioida
Pernafasan lambat: pada pemakaian opioid
Tekanan darah turun: pada putus zat opioid, walaupun pada awalnya tekanan darah naik
Mata: palpebra setengah menutup pada intoksikasi opioida, pupil: pin point pada
intoksikasi opioida, lakrimasi pada putus zat opioida
Hidung: rinore pada putus zat opioida
Jantung: takikardia: pada zat putus zat opioida
Dinding perut: kejang pada putus zat opioida.2
5

Gejala Psikologis
Gangguan psikotik

Sekelompok gejala psikotik yang terjadi selama atau segera sesudah penggunaan zat
psikoaktif.

Gejalanya yaitu halusinasi, kekeliruan identifikasi, waham, dan/atau ideas of reference


(gagasan tentang dirinya sebagai acuan) yang seringkali bersifat kecurigaan atau
kejaran, gangguan psikomotor (excitement atau stupor) dan afek yang abnormal antara
ketakutan yang mencekam hingga kesenangan yang berlebihan.

Umumnya kesadarannya masih jernih

Variasi gejala dipengaruhi jenis zat yang digunakan dan kepribadian penggunanya.

Gejala psikologis : pada awalnya seringkali merasa menginginkan obat sedemikian kuat yang
diikuti dengan ansietas berat, kegelisahan, mudah marah, insomnia dan nafsu makan
menurun.2

Derajat kesadaran

Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan
dari lingkungan, tingkat kesadaran dibedakan menjadi :
1

Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat


menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya..

Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya,
sikapnya acuh tak acuh.

Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriakteriak, berhalusinasi, kadang berhayal.

Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang


lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah
dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.

Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap
nyeri.

Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap
rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga
tidak ada respon pupil terhadap cahaya).3,4
Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor, termasuk

perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena
berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala.
Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemiparese serebral atau sistem
aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan
peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas(kematian).
Jadi sangat penting dalam mengukur status neurologikal dan medis pasien. Tingkat
kesadaran ini bisa dijadikan salah satu bagian dari vital sign.

Pemeriksaan status mental (penampilan & perilaku, bicara/bahasa, status kognitif

(kesadaran).
gangguan pada alam perasaan (misal cemas, gelisah, marah, emosi labil, sedih,

depresi, euforia)
gangguan pada proses pikir (misalnya waham, curiga, paranoid, halusinasi)
gangguan pada psikomotor (hipperaktif/ hipoaktif, agresif gangguan pola tidur, sikap
manipulatif dan lain-lain).1,2

Pemeriksaan penunjang
Diperlukan berdasarkan skala prioritas dan pada keadaan yang memerlukan observasi
pemeriksaan fisik harus berulang.
7

a. Analisa Urin

Bertujuan untuk mendeeteksi adanya NAPZA dalam tubuh (benzodiazepin, barbiturat,

amfetamin, kokain, opioida, kanabis)


Pengambilan urin hendaknya tidak lebih dari 24 jam dari saat pemakaian zat terakhir.
Pada pemeriksaan urin harus dipastikan bahwa urin yang diperiksa adalah urin pasien,
tidak ditukar atau dicampur zat tertentu.3

PEMERIKSAAN LABORATORIUM NARKOBA


Managemen laboratorium tes Narkoba meliputi :
1. Skrining test melihat ada/tidaknya zat/metabolit
2. Mengetahui jenis zat/metabolit yang terkandung
3. Menetapkan ada/tidak komplikasi akibat pemakaian narkoba

Metode pemeriksaan laboratorium untuk skrining narkoba dan metabolitnya harus


mempunyai syarat :
SENSITIVITAS dan SPESIFITAS TINGGI
SENSITIF : Mampu mendeteksi ada/tidaknya zat/metabolit jenis narkoba dalam urin
SPESIFIK : Alat/reagen tersebut mampu mengenali jenis narkoba yang ada di urin
Metode yang memenuhi ke-2 syarat ini adalah : EIA (Enzyme immunoassay) dan
Imunokromatografi
Selain itu kedua metode ini memiliki teknik yang sederhana umum dilakukan untuk
screening.3
Namun saat ini penggunaan metode Imunokromatografi kompetitif kualitatif yang paling
umum dilakukan.
Keuntungan penggunaan teknik imunokromatografi :
1.

Mudah dilakukan
8

2. Hasil cepat (3-10 menit)


3. Spesifik (memenuhi standar National Institude of

Drug Abuse NIDA, sekarang

SAMHSA)
4. Sensitifitas sampai 99,7%
Dasar teknik Imunokromatografi :
Adanya kompetisi penjenuhan Ig G anti narkoba yang mengandung substrat enzim (antibodi)
dengan enzim pada urin narkoba sample yang mau diperiksa (antigen).
Tes ini bersifat kualitatif
Sample urin (+) terjadi penjenuhan artinya Ig G anti narkoba yang mengandung
enzim tidak dapatberikatan dengan enzim dari narkoba yang diperiksa tidak
terjadi perubahan warna
Sample urin (-) atau kadar narkoba kurang dari nilai ambang tidak terjadi
penjenuhan (tidak jenuh) artinya Ig G anti narkoba yang mengandung enzim dapat
berikatan penuh atau sebagian dengan enzim dari narkoba yang diperiksa terjadi
perubahan warna
Sample untuk pemeriksaan narkoba dan metabolitnya : URIN
Karena urin mengandung kadar metabolit dalam jumlah tinggi dan pengambilan sample
mudah dan tidak menyakiti pasien.3
Narkoba dan metabolitnya terdapat dalam waktu singkat dalam darah.

Syarat urin sample :


1. Jernih (bila keruh harus disentrifuse)
2. Tanpa pengawet

3. Tempat penampungan : wadah kaca dan plastik yang bersih


4. Bila urin tidak langsung dipakai disimpan 2-8 derajat selama 48 jam atau dibekukan
Tes disimpan dalam suhu 2-25 derajat, jangan sampai beku dan perhatikan tanggal
kadaluarsa.
Menilai validitas hasil pemeriksaan
Pada alat/reagen pemeriksaan terdapat tiga zona yaitu : zona T(test), C(control),
S(sample)
Zona C adalah zona kontrol menilai valid dan tidaknya test tersebut
Pada saat pemeriksaan, pada zona C akan selalu muncul warna pink dibuat
sedemikian rupa, sehingga hanya memerlukan H2O untuk dapat menimbulkan reaksi
perubahan warna. Jadi tidak tergantung ada/tidaknya narkoba di dalam urin.3
Sehingga :
Warna pink pada zona C hasil valid (hasil dapat dipercaya)
Tidak ada warna pink pada zona C hasil invalid (tidak dapat dipercaya) ulangi
dengan kit yang baru

Gambar menilai validitas.3

b. Penunjang lain
Untuk menunjang diagnosis dan komplikasi dapat pula dilakukan pemeriksaan

Laboratirium rutin darah,urin


10

EKG, EEG
Foto toraks
Dan lain-lain sesuai kebutuhan (HbsAg, HIV, Tes fungsi hati, Evaluasi Psikologik,
Evaluasi Sosial).1,3

GEJALA PUTUS OBAT


Heroin atau Putau adalah adalah sejenis opioid alkaloid. Heroin berasal dari bunga
Papaver somniferum, sejenis bunga di iklim panas dan kering. Bunga tersebut menghasilkan
zat lengket yang kemudian dapat dijadikan heroin, opium, morfin dan kodein. Menurut
Undang - Undang No.22 tahun 1997 tentang Narkotika, heroin merupakan Narkotika
golongan I sama dengan kokain dan ganja. Heroin atau diasetilmorfin adalah obat semi
sintetik dengan kerja analgetis yang 2 kali lebih kuat tetapi mengakibatkan adiksi yang cepat
dan hebat sekali sehingga tidak digunakan dalam terapi, tetapi sangat disukai oleh
penyalahguna NAPZA. Resorpsinya dari usus dan selaput lendir baik dan di dalam darah,
heroin dideasetilasi menjadi 6-monoasetilmorfin dan menjadi morfin.6
Ketagihan adalah perbuatan kompulsif (yang terpaksa dilakukan) dan keterlibatan
yang berlebihan terhadap suatu kegiatan tertentu berupa penggunaan berbagai zat, seperti
obat-obatan.Obat-obatan dapat menyebabkan ketergantungan psikis saja atau ketergantungan
psikis dan fisik.6
Ketergantungan psikis merupakan suatu keinginan untuk terus meminum suatu obat
untuk menimbulkan rasa senang atau untuk mengurangi ketegangan dan menghindari
ketidaknyamanan. Obat-obatan yang menyebabkan ketergantungan psikis biasanya bekerja di
otak dan memiliki satu atau lebih dari efek berikut ini :

mengurangi kecemasan dan ketegangan


menyebabkan kegembiraan, euforia (perasaan senang yang berlebihan) atau perubahan

emosi yang menyenangkan lainnya


menyebabkan perasaan meningkatnya kemampuan jiwa dan fisik
merubah persepsi fisik.
Ketergantungan psikis dapat menjadi sangat kuat dan sulit untuk diatasi. Hal ini terjadi

terutama pada obat-obatan yang merubah emosi dan sensasi, yang mempengaruhi sistim saraf
pusat.Untuk para pecandu, aktivitas yang berhubungan dengan obat menjadi bagian yang
penting dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga suatu bentuk ketagihan biasanya

11

mempengaruhi kemampuan bekerjanya, proses belajarnya atau mempengaruhi hubungannya


dengan keluarga dan teman.3,6
Pada ketergantungan yang berat, sebagian besar fikiran dan aktivitas pecandu, tertuju
pada bagaimana memperoleh dan menggunakan obat. Seorang pecandu dapat menipu,
berbohong dan mencuri untuk bisa memuaskan ketagihannya. Pecandu memiliki kesulitan
untuk berhenti menggunakan obat dan seringkali kembali kepada kebiasaannya setelah
beberapa saat berhenti.
Beberapa obat-obatan menyebabkan ketergantungan fisik, namun ketergantungan fisik
tidak

selalu

menyertai

ketergantungan

psikis.Pada

obat-obat

yang

menyebabkan

ketergantungan fisik, tubuh menyesuaikan diri terhadap obat yang dipakai secara terus
menerus dan menyebabkan timbulnya toleransi; sedangkan jika pemakaiannya dihentikan,
akan timbul gejala putus obat.
Toleransi adalah kebutuhan untuk meningkatkan secara progresif dosis obat untuk
menghasilkan efek yang biasanya dapat dicapai dengan dosis yang lebih kecil.3,6
Gejala putus obat terjadi jika pemakaian obat dihentikan atau jika efek obat dihalangi
oleh suatu antagonis. Seseorang yang mengalami gejala putus obat, merasa sakit dan dapat
menunjukkan banyak gejala, seperti sakit kepala, diare atau gemetar (tremor). Gejala putus
obat dapat merupakan masalah yang seirus dan bahkan bisa berakibat fatal. Efek yang
dirasakan para pecandu putau adalah seperti berikut:

Pada saat tidak menggunakan zat, akan merasa sakit atau tidak nyaman
Zat membantu mereka untuk merasa sakit atau tidak nyaman
Pengguna tidak merasa euphoria pada tahap ini
Kemungkinan ada perasaan ingin bunuh diri
Merasa bersalah, malu, ditolak
Merasa adanya perubahan emosi, seperti depresi, agresif, cepat tersinggung, dan
apatis.6

Gejala putus obat


Jika pecandu menghentikan peggunaan morfin secara tiba-tiba timbullah gejala putus
obat atau gejala abstinensi. Gejala putus obat dimulai dalam enam sampai delapan jam setelah
dosis terakhir. Biasanya setelah suatu periode satu sampai dua minggu pemakaian kontinu
12

atau pemberian antagonis narkotik. Sindroma putus obat mencapai puncak intensitasnya
selama hari kedua atau ketiga dan menghilang selama 7 sampai 10 hari setelahnya. Tetapi
beberapa gejala mungkin menetap selama enam bulan atau lebih lama.5,6
Gejala putus obat dari ketergantungan opiod
Menjelang saat dibutuhkan morfin, pecandu tersebut merasa sakit, gelisah, dan
iritabel; kemudian tertidur nyenyak. Sewaktu bangun ia mengeluh seperti akan mati dan lebih
gelisah lagi. Pada fase ini timbul gejala tremor, iritabilitas, lakrimasi, berkeringat, menguap,
bersin, mual, midriasis, demam dan nafas cepat. Gejala ini makin hebat disertai timbulnya
muntah, kolik dan diare. Frekuensi denyut jantung dan tekanan darah meningkat. Pasien
merasa panas dingin disertai hiperhidrosis. Akibatnya timbul dehidrasi, ketosis, asidosis, dan
berat badan pasien menurun. Kadang-kadang bisa timbul kolaps kardiovaskular yang bisa
berakhir dengan kematian. Gejala residual seperti insomnia, bradikardia, disregulasi
temperatur, dan kecanduan opiat mungkin menetap selama sebulan setelah putus zat. Pada
tiap waktu selama sindroma abstinensi, suatu suntikan tunggal morfin atau heroin
menghilangkan semua gejala. Gejala penyerta putus opioid adalah kegelisahan, iritabilitas,
depresi, tremor, kelemahan, mual, dan muntah.5

PENATALAKSANAAN (PERTOLONGAN PERTAMA)


Terapi dan Rehabilitasi ketergantungan NAPZA tergantung kepada teori dan filosofi
yang mendasarinya. Dalam nomenklatur kedokteran ketergantungan NAPZA adalah suatu
jenis penyakit atay dusease entity yang dalam International classification of diseases and
health related problems-tenth revision 1992 (ICD-10) yang dikeluarkanoleh WHO
digolongkan dalam Mental and behavioral disorders due to psychoactivesubsstance use.4
Ketergantungan NAPZA secara klinis memberikan gambaran yang berbeda-beda
dantergantung banyak faktor,antara lain :

Jumlah dan jenis NAPZA yang digunakan


Keparahan (severrity) gangguan dan sejauh mana level fungsi keperibadianterganggu
Kondisi psiikiatri dan medis umum
Konteks
sosial
dan
lingkungan
pasien
dimana
dia
tinggal
dan
diharapkankesembuhannya

13

Sebelum

dilakukan

intervensi

medis,

terlebih

dahulu

harus

dilakukan

assesmentterhadap pasien dan kemudian baru menentukan apa yang menjadi sasaran
dariterapi yang akan dijalankan
Tatalaksana Terapi dan Rehabilitasi NAPZA terdiri dari :

Outpatient (rawat jalan)


Inpatient (rawat inap)
Residency (Panti/Pusat Rehabilitasi)

Gawat Darurat yang berkaitan dengan penyalahgunaan NAPZA terjadi meliputi berbagai
gejala klinis berikut :
a.
b.
c.
d.

Intoksikasi
Overdosis
Sindrom putus NALZA
Berbagai macam komplikasi medik (fisik dan psikiatrik)

Penting dalam kondisi Gawat Darurat adalah ketrampilan menentukan diagnosis,sehingga


dengan cepat dan akurat dapat dilakukan intervensi medik.2,4
Terapi pada sindrom putus zat
Terapi putus zat opioida ini sering dikenal dengan istilah detoksifikasi. Terapi
detoksifikasi dapat dilakukan dengan cara berobat jalan maupun rawat inap.Lama program
terapi detoksifikasi berbeda-beda, 1-2 minggu untuk detoksifikasi konvensional dan 24-48
jam untuk detoksifikasi opioid dalam anestesi cepat (Rapid Opiate Detoxification Treatment)
Detoksifikasi hanyalah merupakan langkah awal dalam proses penyembuhan dari
penyalahgunaan/ketergantungan NAPZA. Beberapa jenis cara mengatasi putus opioida :

Tanpa diberi terapi apapun,putus obat seketika (abrupt withdrawalatau cold turkey).
Terapi hanya simptomatik saja :
a. Untuk nyeri diberi analgetika kuat seperti :Tramadol, Analgrtik non-narkotik,

asam mefenamat dan sebagainya


b. Untuk rhinore beri dekongestan,misalnya fenilpropanolamin
c. Untuk mual beri metopropamid
d. Untuk kolik beri spasmolitik
e. Untuk gelisah beri antiansietas
f. Untuk insomnia beri hipnotika,misalnya golongan benzodiazepin
Terapi putus opioida bertahap (gradual withdrawal)
a. Dapat diberi morfin,petidin,metadon atau kodein dengan dosisdikurangi sedikit
demi sedikit. Misalnya yang digunakan di, diberi kodein 3 x 60 mg 80

mgselanjutnya dikurangi 10 mg setiap hari dan seterusnya.


b. Disamping itu diberi terapi simptomatik
Terapi putus opioida dengan substitusi non opioda

14

a. Dipakai Clonidine dimulai dengan 17 mikrogram/kg BBperhari dibagi dalam


3-4 kali pemberian. Dosis diturunkanbertahap dan selesai dalam 10 hari
b. Sebaiknya dirawat inap (bila sistole < 100 mmHg atau diastole< 70 mmHg),

terapi harus dihentikan.


Terapi putus opioida dengan metode Detoksifikasi cepat dalamanestesi (Rapid Opioid
Detoxification).Prinsip terapi ini hanya untuk kasus single drug opiat saja,dilakukan di
RS dengan fasilitas rawat intensif oleh TimAnestesiolog dan Psikiater , dilanjutkan
dengan terapimenggunakan anatagonist opiat (naltrekson) lebih kurang 1 tahun.2,4

Terapi terhadap komorbiditas


Setelah keadaan intoksikasi dan sindroma putus NAPZA dapat teratasi,maka perlu
dilanjutkan dengan terapi terhadap gangguan jiwa lain yangterdapat bersama-sama dengan
gangguan mental dan perilaku akibatpenggunaan zat psikoaktif (co-morbid psychopathology),
sebagai berikut :

Psikofarmakologis yang sesuai dengan diagnosis


Psikoterapi individual
Konseling : bila dijumpai masalah dalam komunikasi interpersonal
Psikoterapi asertif : bila pasien mudah terpengaruh dan mengalamikesulitan dalam
mengambil keputusan yang bijaksana
Psikoterapi kognitif : bila dijumpai depresi psikogen
a. Psikoterapi kelompok
b. Terapi keluarga bila dijumpai keluarga yang patologik
c. Terapi marital bila dijumpai masalah marital
d. Terapi relaksasi untuk mengatasi ketegangan
e. Dirujuk atau konsultasi ke RS Umum atau RS Jiwa

KONDISI PASIEN
Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan faktor yang paling sering menjadi penyebab seseorang menjadi
pengguna narkoba. Berdasarkan hasil penelitian tim UKM Atma Jaya dan Perguruan Tinggi
Kepolisian Jakarta pada tahun 1995, terdapat beberapa tipe keluarga yang berisiko tinggi
anggota keluarganya terlibat penyalahgunaan narkoba, yaitu:
1. Keluarga yang memiliki riwayat (termasuk orang tua) mengalami ketergantungan
narkoba.
15

2. Keluarga dengan manajemen yang kacau, yang terlihat dari pelaksanaan aturan yang
tidak konsisten dijalankan oleh ayah dan ibu (misalnya ayah bilang ya, ibu bilang
tidak).
3. Keluarga dengan konflik yang tinggi dan tidak pernah ada upaya penyelesaian yang
memuaskan semua pihak yang berkonflik. Konflik dapat terjadi antara ayah dan ibu,
ayah dan anak, ibu dan anak, maupun antar saudara.
4. Keluarga dengan orang tua yang otoriter. Dalam hal ini, peran orang tua sangat
dominan, dengan anak yang hanya sekedar harus menuruti apa kata orang tua dengan
alasan sopan santun, adat istiadat, atau demi kemajuan dan masa depan anak itu
sendiri

tanpa

diberi

kesempatan

untuk

berdialog

dan

menyatakan

ketidaksetujuannya.
5. Keluarga yang perfeksionis, yaitu keluarga yang menuntut anggotanya mencapai
kesempurnaan dengan standar tinggi yang harus dicapai dalam banyak hal.
6. Keluarga yang neurosis, yaitu keluarga yang diliputi kecemasan dengan alasan yang
kurang kuat, mudah cemas dan curiga, sering berlebihan dalam menanggapi sesuatu.2,6

Lingkungan sosial dan ekonomi


Kelompok teman sebaya dapat menimbulkan tekanan kelompok, yaitu cara temanteman atau orang-orang seumur untuk mempengaruhi seseorang agar berperilaku seperti
kelompok itu. Peer group terlibat lebih banyak dalam delinquent dan penggunaan obatobatan. Dapat dikatakan bahwa faktor-faktor sosial tersebut memiliki dampak yang berarti
kepada keasyikan seseorang dalam menggunakan obat-obatan, yang kemudian mengakibatkan
timbulnya ketergantungan fisik dan psikologis. Sinaga (2007) melaporkan bahwa faktor
penyebab penyalahgunaan NAPZA pada remaja adalah teman sebaya (78,1%). Hal ini
menunjukkan betapa besarnya pengaruh teman kelompoknya sehingga remaja menggunakan
narkoba. Hasil penelitian ini relevan dengan studi yang dilakukan oleh Hawari (1990) yang
memperlihatkan bahwa teman kelompok yang menyebabkan remaja memakai NAPZA mulai
dari tahap coba-coba sampai ketagihan.6
Penyalahgunaan narkoba juga sering terjadi kepada golongan remaja yang mempunyai
taraf sosioekonomi yang rendah. Sebagian besar obat-obat untuk penyalahgunaan misalnya
heroin, didapatkan secara ilegal di jalanan dan terutama digunakan oleh anak muda atau
orang usia paruh baya dari populasi dengan sosioekonomi rendah (walaupun saat ini heroin
menjadi trend pada kelas sosial yang lebih tinggi).2
16

Keperibadian
Tiap individu memiliki perbedaan tingkat resiko untuk menyalahgunakan NAPZA. Faktor
yang mempengruhi individu terdiri dari faktor kepribadian dan faktor konstitusi. Alasanalasan yang biasnya berasal dari diri sendiri sebagai penyebab penyalahgunaan NAPZA antara
lain:

Keingintahuan yang besar untuk mencoba,

mengenai akibatnya
Keinginan untuk bersenang-senang
Keinginan untuk mengikuti trend atau gaya
Keinginan untuk diterima oleh lingkungan atau kelompok
Lari dari kebosanan, masalah atau kesusahan hidup
Pengertian yang salah bahwa penggunaan sekali-sekali tidak menimbulkan ketagihan
Tidak mampu atau tidak berani menghadapi tekanan dari lingkungan atau kelompok

pergaulan untuk menggunakan NAPZA


Tidak dapat berkata TIDAK terhadap NAPZA

tanpa sadar atau berpikir panjang

Kepribadian seseorang turut berperan dalam perilaku ini. Hal ini lebih cenderung
terjadi pada usia remaja. Remaja yang menjadi pecandu biasanya memiliki konsep diri yang
negatif dan harga diri yang rendah. Perkembangan emosi yang terhambat, dengan ditandai
oleh ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara wajar, mudah cemas, pasif, agresif,
dan cenderung depresi, juga turut mempengaruhi. Selain itu, kemampuan untuk memecahkan
masalah secara adekuat berpengaruh terhadap bagaimana ia mudah mencari pemecahan
masalah dengan cara melarikan diri.6

REHABILITASI
Setelah selesai detoksifikasi, penyalahguna NAPZA perlu menjalani rehabilitasi.
Kenyataan menunjukkan bahwa mereka yang telah selesai menjalani detoksifikasi sebagian
besar akan mengulangi kebiasaan menggunakan NAPZA, oleh karena rasa rindu (craving)
terhadap NAPZA yang selalu terjadi. Dengan Rehabilitasi diharapkan pengguna NAPZA
dapat :

Mempunyai motivasi untuk tidak menyalahgunakan NAPZA lagi


Mampu menolak tawaran penyalahgunakan NAPZA
17

Pulih kepercayaan dirinya,hilang rasa rendah dirinya


Mampu mengelola waktu dan berubah perilaku sehari-hari dengan baik
Dapat berkonsentrasi untuk belajar atau bekerja
Dapat diterima dan dapat membawa diri dengan baik dalam pergaulan
dilingkungannya.

Beberapa Bentuk Program/Pendekatan Rehabilitasi yang ada,antara lain :


a. Program Antagonis Opiat (Naltrexon)
Setelah

detoksifikasi

(dilepaskan

dari

ketergantungan

fisik)

terhadap

opioid

(heroin/putauw/PT) penderita sering mengalami keadaan rindu yang sangat kuat (craving,
kangen, sugesti) terhadap efek heroin. Antagonis opiat (Naltrexon HCI,) dapat mengurangi
kuatnya dan frekuensi datangnya perasaan rindu itu. Apabila pasien menggunakan opieat lagi,
ia tidak merasakan efek euforiknya sehingga dapat terjadi overdosis. Oleh karena itu perlu
seleksi dan psikoterapi untuk membangun motivasi pasien yang kuat sebelum memutuskan
pemberian antagonis. Antagonis opiat diberikan dalam dosis tunggal 50 mg sekali sehari
secara oral, selama 3- 6 bulan. Karena hepatotoksik, perlu tes fungsi hati secara berkala.4
b. Program Metadon
Metadon adalah opiat sintetik yang bisa dipakai untuk menggantikan heroin yang dapat
diberikan secara oral sehingga mengurangi komplikasi medik. Program ini masih
kontroversial, di Indonesia program ini masih berupa uji coba di RSKO.

c. Program yang berorientasi psikososial


Program ini menitik beratkan berbagai kegiatannya pada terapi psikologik (kognitif,
perilaku, suportif, asertif, dinamika kelompok, psikoterapi individu, desensitisasi dan lainlain) dan keterampilan sosial yang bertujuan mengembangkan keperibadian dan sikap mental
yang dewasa, serta meningkatkan mutu dan kemampuan komunikasi interpersonal.
Berbagai variasi psikoterapi sering digunakan dalam setting rehabilitasi. Tergantung pada
sasaran terapi yang digunakan. Psikoterapi yang berorientasi analitik mengambil
keberhasilanmendatangkan

insight

sebagai

parameter

keberhasilan.Psikoterapi

yang

menggunakan sasaran pencegahan relaps seperti :

d.

Cognitivi Behaviour Therapy dan Relaps Prevention Training


Supportive Expressive Psychotherapy
Psychodrama,art-therapy adalah psikoterapi yang dijalankan secaraindividual
Therapeutic Community

18

Berupa program terstruktur yang diikutu olehmereka yang tinggal dalam sutu tempet.
Dipimpin oleh bekas penyalahguna yang dinyatakan memenuhi syarat sebagai konselor,
setelah melalui pendidikan dan latihan. Tenaga profesional hanya sebagai konsultan
saja.Disini penderita dilatih keterampilan mengelola waktu dan perilakunya secara efektif
serta kehidupannya sehari-hari, sehingga dapat mengatasi keinginan memakai NAPZA atau
sugesti (craving) dan mencegah relap. Dalam komonitas ini semua ikut aktif dalam proses
terapi. Ciri perbedaananggota dihilangkan. Mereka bebas menyatakan perasaan dan
perilakusejauh tidak membahayakan orang lain. Tiap anggota bertanggung jawab terhadap
perbuatannya,ganjaran bagi yang berbuat positif dan hukuman bagi yang berperilaku negatif
diatur oleh mereka sendiri.4
e. Program yang berorientasi Sosial
Program ini memusatkan kegiatan pada keterampilan sosial, sehingga mereka dapat
kembali kedalam kehidupan masyarakat yang normal,termasuk mampu bekerja.
f. Program yang berorientasi kedisiplinan
Program ini menerapkan modifikasi behavioral atau perilaku dengan cara melatih hidup
menurut aturan disiplin yang telah ditetapkan.
g. Program dengan Pendekatan Religi atau Spiritual
Pesantren dan beberapa pendekatan agama lain melakukan trial and error untuk
menyelenggarakan rehabilitasi ketergantungan NAPZA

h. Lain-lain
Beberapa profesional bidang kedokteran mencoba menggabungkan berbagai modalitas
terapi dan rehabilitasi. Hasil keberhasilan secara ilmiah dan dapat dipertanggungj jawabkan
masih ditunggu. Beberapa bentuk terapi lainnya yang saat ini dikembangkan di Indonesia
adalah penggunaan tenaga dalam prana dan meditasi. Terapi yang mengandalkan adanya
kekuatan spiritual baik dalam arti kata kekuatan diri maupun Keagungan Allah telah
dikembangkan hampir diseluruh dunia. Dikenal The 12 step Recovery Philosophy, Rational
Recovery dan lain-lain.4,8
Program Pasca Rawat (After Care)
Setelah selesai mengikuti suatu program rehabilitasi, penyalahguna NAPZA masih
harus mengikuti program pasca rawat (After care) untuk memperkecil kemungkinan relaps
(kambuh). Setiap tempat/panti rehabilitasi yang baik mempunyai program pasca rawat ini.4
19

Narcotics Anonymous
NA adalah kumpulan orang,baik laki-laki maupun perempuan yang saling berbagi rasa
tentang pengalaman, kekuatan, dan harapan untuk menyelesaikan masalah dan saling
menolong untuk lepas dari NAPZA (khususnya Narkotika). Satu-satunya syarat untuk
menjadi anggota NA adalah keinginan untuk berhenti memakai Narkotika. NA tidak terikat
pada agama tertentu,pahak politik tertentu maupun institusi tertentu. Mereka mengadakan
pertemuan seminggu sekali. Pertemuan ini biasanya tertutup,hanya bagi anggota saja atau
terbuka dengan mengundang pembicara dari luar. Mereka menggunakan beberapa prinsip
yang terhimpun dalam 12 langkah (the twelve steps).4,6,7

PROGNOSIS
Prognosis bagi withdrawal syndrome adalah baik jika direhabilitasi dan dicegah dengn
tepat dan cepat. Jika rehabilitasi gagal, pasien bisa kembali kepada penyalahgunaan narkoba
dan dapat terjadi komplikasi pada otak, susunan saraf pusat, hati dan saluran pernafasan.7

PREVENTIF
Pencegahan masalah withdrawal syndrome dapat dilakukan, misalnya dengan:
a

penyuluhan tentang penyalahgunaan NAPZA

Deteksi dini perubahan perilaku

kampanye (Say no to drugs) atau Katakan tidak pada narkoba

A. DASAR- DASAR PENYULUHAN


Penyuluhan pencegahan penyalahgunaan NAPZA adalah semua usaha secara sadar
dan berencana yang dilakukan untuk memperbaiki perilaku manusia, sesuai prinsip-prinsip
pendidikan, yakni pada tingkat sebelum seseorang menggunakan NAPZA, agar mapu
menghindar dari penyalah-gunaanya.7,8
20

1. TUJUAN
Tujuan penyuluhan NAPZA adalah :

Meningkatkan Pengetahuan (Knowledge)


Merubah Sikap (Attitude)
Mendorong Motivasi
Memberikan Support

2. MATERI
Materi Penyuluhan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA
diarahkan pada masalah penyalahgunaan NAPZA (bahaya serta akibat-akibatnya) dan
ditujukan juga pada pemahaman nilai-nilai, kemampuan pengambilan keputusan, kemampuan
menyesuaikan diri, tanggung jawab dan pengembangan keperibadian secara menyeluruh.
Penyuluhan NAPZA ini bersifat spesifik, berbeda dengan beberapa penyuluhan kesehatan
masyarakat lainnya. Misalnya : penyuluhan pada kelompok anak, remaja, dewasa, orang tua,
guru berbeda pada materi dan metodanya.
3. SASARAN
Seluruh lapisan masyarakat yaitu individu (anak, remaja, dewasa, orang tua), keluarga,
sekolah, kelompok masyarakat. Sasaran prioritas adalah : Remaja dan kelompok risiko tinggi
(high-risk group).
a. Anak dan remaja
Mampu memahami diri sendiri dan mampu mengelola perilaku,emosi dan waktu seharihari secara efektif
Memahami diri sendiri,bersikap positif terhadap keberadaan dirinya dan orang lain.
Mengembangkan citra diri yang positif,daya nalar dan kemampuan mengelola
pikiran,emosi dan perilaku.
Melatih kemampuan mengatasi masalah atau stres.
Meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara efektif terhadap teman sebaya dan orang
dewasa.
Menyadari bahwa semua orang harus mampu menghasilkan karya yang bermanfaat bagi
dirinya, keluarga dan lingkungan.
Meningkatkan kemampuan mengelola waktu secara efektif yang bermanfaat dan produktif.
Mampu memahami fakta penyalahgunaan NAPZA alasan mengapa berbahaya dan cara
menolak tawaran untuk menggunakannya :
Menyadari bahwa sikap dan perilaku yang sengaja mau coba-coba dan penasaran adalah
tidak bertanggung jawab
21

Mengetahui gejala penyalahgunaan


Memiliki nilai atau norma baik dan buruk dalam penyalahgunaan NAPZA
Memahami adanya pengaruh teman sebaya untuk menyalahgunakan NAPZA, mengerti dan
trampil menolaknya
Mampu membantu menolong remaja lainnya menghindari penyalahgunaan NAPZA dan
mendorong mereka menolak tawaran. Memujuk mereka yang menyalahgunakan untuk
mencari pertolongan dan melaporkan mereka yang menjual NAPZA kepada orang tua,
kepala sekolah atau penegak hukum
Berpartisipasi dalam diskusi yang membahas besar dan luasnya masalah NAPZA disekolah
atau lingkungannya
Mendukung upaya sekolah/lingkungan dalam membangun budaya anti penyalahgunaan
NAPZA,anti kekerasan,
Mengajarkan apa yang diketahui pada remaja lain dan mendorong untuk menolak tawaran
penyalahgunaan NAPZA,serta membujuk mereka yang telah menjadi penyalahguna untuk
mencari pertolongan,
Mengetahui nama-nama lembaga pelayanan atau orang-orang yang bergerak dalam
penanggulangan yang dapat dihubungi,jika membutuhkan suatu saat,
Melaporkan mereka yang terlibat dalam peredaran dan penjualan NAPZA kepada orang tua
masing-masing,kepala sekolah atau penegak hukum (polisi)
Mampu meningkatkan disiplin diri, tanggung jawab dan hubungan interpersonal dengan
orang tua,anggota keluarga lain dan sesama sebaya, sehingga terbentuk ketahanan diri pada
setiap individu
Menghormati otoritas dalam keluarga atau masyarakat (orang tua,guru,tokoh masyarakat,
pemerintah, peraturan)
Menghormati saran,pendapat dan hak-hak orang lain
Menyadari adanya konsekuensi,risiko,tanggung jawab atas setiap perbuatannya demi hari
depan yang cerah dan nilai-nilai luhur yang harus dicapai
Meningkatkan

kehidupan

berdisiplin

dalam

perilaku

sehari-hari

dilingkungan

keluarga,sekolah, pekerjaan dan masyarakat.


Mampu menyatakan kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama,serta keterlibatan
dengan kejadian-kajadian dilingkungan
Mampu bersikap adil dan bertoleransi
Mengembangkan kehidupan beriman dan bertaqwa

22

b. Orang tua
Mampu mengembangkan kemampuan membina keluarga harmonis dengan komunikasi
efektif,
Mengembangkan kemampuan mengatasi masalah,
Memahami pengaruh dan akibat penyalahgunaan NAPZA
Memahami situasi dimana penyalahgunaan terjadi,
Mengenali gejala dini penyalahgunaan,
Memahami cara pencegahan dirumah,
Mengerti dan mampu bersikap bila menghadapi kemungkinan anak menyalahgunakan
NAPZA,
Memantau perilaku anak sehari-hari dan melaporkan kepada sekolah jika ada
penyimpangan,
Menjalin kerjasama yang baik dengan sekolah.

c. Guru,Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama


Mampu memberikan penyuluhan dan informasi pada guru, tokoh masyarakat dan tokoh
agama bahwa penyalahguna sebenarnya adalah seorang penderita penyakit yang
memerlukan bantuan medis.
Memahami masalah penyalahgunaan NAPZA, upaya penanggulangan di masyarakat dan
sekolah,
Mampu

mengamati

situasi

dan

kondisa

lingkungan

diwilayahnya

mengenai

penyalahgunaan NAPZA,
Mengenali gejala dan merujuknya,
Mampu menggalang potensi yang ada di masyarakat yang dapat membantu pelaksanaan
penanggulangan di sekolah/lingkungan.7,8
4. CARA/METODA :
i

Bagi anak dan remaja


Ceramah,diskusi
Pemberian tugas dan peran (termasuk peragaan dan simulasi)
23

Pembinaan kelompok (termasuk dinamika kelompok)


Pembinaan Keperibadian (termasuk Outbound activity-aktivitas diluar gedung dialam
bebas)
Poster, leaflet, brosur, buku pedoman, Film, VCD
Pesan melalui seni
ii

Bagi orang tua,guru,tokoh masyarakat,tokoh agama


Penyuluhan,Pelatihan (misalnya Kursus Menjadi Orang Tua Efektif)
Bimbingan dan Konseling
Poster, leaflet, buku panduan

5. MATERI
1. Bagi anak dan remaja
-

Pengetahuan tentang prinsip hidup sehat

Pengetahuan

dan

ketrampilan

untuk

mengmbil

keputusan

dan

menolak

bujukan/tawaran yang merugikan kesehatan


-

Pengetahuan mengenai jenis-jenis dan bahaya NAPZA

Perkembangan keperibadian dan permasalah remaja

Stres dan cara mengatasinya

Cara mengelola waktu dan pemanfaatan waktu senggang

Cara berkomunikasi yang efektif dan membina hubungan dengan orang lain

Masalah penyalahgunaan NAPZA pada remaja

Pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA disekolah/ lingkungan

Nama-nama lembaga dan orang yang bergerak dalam upaya penyalahgunaan NAPZA

Syarat dan teknik sebagai penyuluh kelompok sebaya

Undang-undang Narkotika dan Psikotropiks

2. Bagi orang tua,guru,tokoh masyarakat,tokoh agama


Membina hubungan dalam keluarga
Membina keluarga yang harmonis
Informasi NAPZA yang sering disalahgunakan
Gejala dini penyalahgunaan NAPZA dan cara merujuknya.
Sikap orang tua,guru,tokoh masyarakat,tokoh agama jika mengetahui seorang
anak menyalahgunakan NAPZA.
24

Membina komonikasi yang baik antara murid, orang tua dan guru
Daftar nama/alamat pusat-pusat terapi dan rehabilitasi.
B. DETEKSI DINI PERUBAHAN PERILAKU
Deteksi dini penyalahgunaan NAPZA bukanlah hal yang mudah,tapi sangat penting
artinyauntuk mencegah berlanjutnya masalah tersebut. Beberapa keadaan yang patut dikenali
atau diwaspadai adalah Kelompok Risiko Tinggi yaitu adalah orang yang belum menjadi
pemakai atau terlibat dalam penggunaan NAPZA tetapi mempunyai risiko untuk terlibat hal
tersebut, mereka disebut juga Potential User (calon pemakai, golongan rentan). Sekalipun
tidak mudah untuk mengenalinya, namun seseorang dengan ciri tertentu (kelompok risiko
tinggi) mempunyai potensi lebih besar untuk menjadi penyalahguna NAPZA dibandingkan
dengan yang tidak mempunyai ciri kelompok risiko tinggi.7,8
Mereka mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1. ANAK :
Ciri-ciri pada anak yang mempunyai risiko tinggi menyalahgunakan NAPZA antara lain :

Anak yang sulit memusatkan perhatian pada suatu kegiatan (tidak tekun)
Anak yang sering sakit
Anak yang mudah kecewa
Anak yang mudah murung
Anak yang sudah merokok sejak Sekolah Dasar
Anak yang sering berbohong,mencari atau melawan tatatertib
Anak dengan IQ taraf perbatasan (IQ 70-90)

2. REMAJA :
Ciri-ciri remaja yang mempunyai risiko tinggi menyalahgunakan NAPZA :

Remaja yang mempunyai rasa rendah diri, kurang percaya diri dan mempunyai citra

dirinegatif
Remaja yang mempunyai sifat sangat tidak sabar
Remaja yang diliputi rasa sedih (depresi) atau cemas (ansietas)
Remaja yang cenderung melakukan sesuatu yang mengandung risiko tinggi/bahaya
Remaja yang cenderung memberontak
Remaja yang tidak mau mengikutu peraturan/tata nilai yang berlaku
Remaja yang kurang taat beragama
Remaja yang berkawan dengan penyalahguna NAPZA
Remaja dengan motivasi belajar rendah
Remaja yang tidak suka kegiatan ekstrakurikuler

25

Remaja

dengan

hambatan

atau

penyimpangan

dalam

perkembangan

psikoseksual(pepalu,sulit bergaul, sering masturbasi,suka menyendiri, kurang bergaul

dengan lawan jenis).


Remaja yang mudah menjadi bosan,jenuh,murung.
Remaja yang cenderung merusak diri sendiri

3. KELUARGA
Ciri-ciri keluarga yang mempunyai risiko tinggi,antara lain:

Orang tua kurang komunikatif dengan anak


Orang tua yang terlalu mengatur anak
Orang tua yang terlalu menuntut anaknya secara berlebihan agar berprestasi diluar

kemampuannya
Orang tua yang kurang memberi perhatian pada anak karena terlalu sibuk
Orang tua yang kurang harmonis,sering bertengkar,orang tua berselingkuh atau ayah

menikah lagi
Orang tua yang tidak memiliki standar norma baik-buruk atau benar-salah yang jelas
Orang tua yang tidak dapat menjadikan dirinya teladan
Orang tua menjadi penyalahgunaan NAPZA

c. kampanye (Say no to drugs) atau Katakan tidak pada narkoba


Selain dua langkah yang telah disebut tadi, dapat juga dilakukan kampanye say no to
drug terutama pada tingkat SMA, SMP maupun di universitas dan kolej-kolej. Kampanye ini
harus melibatkan pihak pengurusan sekolah atau universitas dengan para pelajar dan
mahasiswa untuk memastikan sedikit sebanyak kampanye ini dapat menurunkan angka
penyalahgunaan NAPZA sejak dari bangku sekolah lagi.7,8

26

KESIMPULAN

27

DAFTAR PUSTAKA
1. Jonathan Gleadle. At a Glance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Penerbit Erlangga;
2007; h. 47-50.
2. David A. Tomb. Buku Saku Psikiatri. Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2004;
h. 184-90
3. Withdrawal Syndromes. Diunduh dari:
http://emedicine.medscape.com/article/819502-clinical. Pada 14 Nopember 2011.
4. Joewana S. Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penggunaan Zat Psikoaktif.
Penyalahgunaan NAPZA/Narkoba. Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2003: 3. Jakarta;
h. 257-65.
5. Sulistia Gan Gunawan. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 5. Departemen Farmakologi
dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007; h. 210-7.
6. Catherine. Panti Rehabilitasi Ketergantungan NAPZA. Diunduh
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30086/3/Chapter%20II.pdf.

dari

Diunduh

pada 14 Nopember 2011.


7. Satya Joewana. Gangguan Mental Dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif.
Penerbit Buku Kedokteran EGC,2005. Hal 249-53.
8. Lydia Harlina Martono, Satya Joewana. Peran Orang Tua Mencegah Narkoba.

Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka, 2006. Hal 47-60.

28