Anda di halaman 1dari 1

Pengobatan

Protokol pengobatan terbaik adalah dengan menggunakan prostaglandin (PGF2 atau


sintetis yang analog) injeksi karena adanya korpus luteum (CL) persisten. Regresi CL
memungkinkan perkembangan folikel dominan pada ovary yang menghasilkan berahi dan
ovulasi 72-96 jam setelah administrasinya (Wulster et al. 2003). Untuk mencegah terjadinya
pengulangan kasus pengobatan prostaglandin dianjurkan untuk diulangi 12 sampai 14 hari
kemudian . Pemakaian PGF2 menyebabkan relaksasi serviks dan pengeluaran leleran dari
uterus (Hirsbruner et al. 2000). Selain itu penggunaan PGF2 dapat menyediakan lingkungan
uterus yang resisten terhadap kuman (mikrobial) dan meningkatkan aktivitas pertahanan tubuh
pada mekanisme fagositosis (Wulster et al. 2003). Antibiotik yang dapat diberikan adalah
intrauterin Penisilin bersama-sama dengan streptomisin yang dilarutkan kedalam aquades atau
oksitetrasiklin (tertramisin) dilarutkan kedalam NaCl 0.9% dimasukkan kedalam uterus dengan
kateter. Penggunaan antibiotika diterapkan setelah semua nanah dalam uterus dikeluarkan semua
melalui irigasi dengan antiseptic (Susanti 2011). Cara pengobatan pyometra yang lain adalah
dengan pembedahan, yaitu mengangkat seluruh uterus yang terkena pyometra
(ovariohysterektomi). Operasi ini lazim dilakukan pada kasus pyometra anjing dan kucing.
Namun jarang dilakukan pada sapi karena melihat sisi ekonomisnya yang kurang
menguntungkan.

Hisbruner, G., R. Ficher, U. Kupfer, H. Burkhardt, and A. Steiner. 2000. Effect of different doses
of prostaglandin F2a on intrauterine pressure and uterine motility during diestrus in
experimental cows. Theriogenology 54(2):291-303.
Susanti AE. 2011. Penanganan pyometra pada sapi [internet]. [diacu 2015 Januari 30]. Tersedia
dari: http://sumsel.litbang.deptan.go.id/ index.php/ program/psds/ kesehatan-hewan/201pyometra-pada-sapi.
Wulster, R. M. C., R. C. Seals and G. S. Lewis. 2003. Progesterone increases susceptibility of
gilts to uterine infections after intra uterine inoculation with infectious bacteria. J. Anim.
Sci., 81:1242-1252