Anda di halaman 1dari 22

ANALISIS PENCEMARAN UDARA AKIBAT KEMACETAN LALU

LINTAS DI KOTA SURABAYA


disusun guna memenuhi tugas mata kuliah pencemaran lingkungan

ARTIKEL

Oleh
OKSI TRIPRADANTI
102110101145

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS JEMBER
2013

ABSTRACT
Air pollution from the transport sector in the city of Surabaya has reached a
dangerous tipping point, where the city of Surabaya is one of the cities in
Indonesia which has a fairly high level of air pollution. Unequal width of the road
with a number of vehicles and poor transport systems caused jam almost every
road in Surabaya. The traffic congestion will eventually trigger caused air
pollution. Air pollution in Surabaya as a result of traffic congestion can interfere
with the balance of the environment and cause adverse effects on public health.
Keywords: air pollution, transportation, congestion, negative impact.
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Udara sebagai atmosfir bumi merupakan media lingkungan yang sangat

diperlukan. Setiap makhluk hidup dipermukaan bumi memerlukan udara dan


dapat memperolehnya dengan bebas tanpa kesulitan. Udara juga merupakan
pelindung kehidupan di bumi dari radiasi matahari di siang hari dan pencegah
hilangnya panas ke ruang angkasa pada malam hari (Rini,2005). Metabolisme di
dalam tubuh makhluk hidup tak mungkin berlangsung tanpa oksigen yang berasal
dari udara. Setiap orang dewasa memerlukan pergantian udara paling sedikit 33
m3/jam (Umar, 1989).
di Indonesia, kendaraan bermotor merupakan sumber utama polusi udara
di perkotaan. 70% sumber pencemar udara berasal dari emisi gas buang kendaraan
bermotor. Menurut World Bank, dalam kurun waktu 6 tahun sejak 1995 hingga
2001 terdapat pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sebesar
hampir 100%. Sebagian besar kendaraan bermotor itu menghasilkan emisi gas
buang yang buruk, baik akibat perawatan yang kurang memadai ataupun dari
penggunaan bahan bakar dengan kualitas kurang baik (misal: kadar timbal/Pb
yang tinggi). dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang tinggi

menyebabkan pencemaran udara di Indonesia menjadi sangat serius. di tahun


2007 jumlah kendaraan bermotor meningkat tajam
Masalah kemacetan yang terjadi dan semakin meningkat, memberikan
dampak lain bagi lingkungan yaitu polusi yang semakin membuat Surabaya
semakin panas dan memiliki udara yang tidak sehat. Menurut Kepala Badan
Lingkungan Hidup Propinsi Jawa Timur, Dewi J. Putriatni, Surabaya menduduki
peringkat ketiga sebagai kota di kawasan Asia yang memiliki polusi udara
tertinggi setelah Bangkok dan Jakarta. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan
mengingat Surabaya merupakan kota yang hampir setiap tahun mendapatkan
anugerah Adipura dari Departemen Lingkungan Hidup (Fitriana dan Rasetyawan,
tanpa tahun).
Saat ini meningkatnya kegiatan industri dan kegiatan pada area
transportasi telah menjadi permasalahan tersendiri bagi kualitas udara di Kota
Surabaya. Masalah pencemaran udara pada area transportasi menjadi lebih
dominan, dan sudah saatnya mendapat perhatian yang serius. Perkembangan
transportasi yang pada awalnya hanya merupakan gengsi namun sekarang telah
berubah menjadi suatu kebutuhan yang dapat disejajarkan dengan kebutuhan
primer seperti pangan maupun papan. Fenomena transportasi ini bisa dilihat dari
pertumbuhan transportasi yang selalu naik setiap tahunnya, dimana menurut
walikota Surabaya, Bambang DH, untuk kendaraan roda empat mencapai 9%
sedangkan roda dua sebanyak 23%. Hingga tahun 2008, kendaraan roda dua di
Surabaya sebanyak 930.000 unit sedangkan roda empat sebanyak 219.000 unit
(Fitriana dan Rasetyawan, tanpa tahun).
Terjadinya kemacetan lalu lintas di kota Surabaya merupakan salah satu
permasalahan yang penting karena dapat memberikan dampak yang cukup besar
terhadap lingkungan, dan kesehatan masyarakat terutama akibat penggunaan
bahan bakar fosil yang menjadi penyebab utama terjadinya pencemaran udara.
Pencemaran udara akibat lalu lintas dipengaruhi oleh volume lalu lintas, proporsi
kendaraan berat, kecepatan, dan jarak antara sumbu jalan dengan titik yang di
tinjau. Saat kemacetan terjadi, polusi otomatis meningkat. Hal ini dikarenakan

kendaraan yang merayap menghasilkan emisi gas buang 12 kali lipat dibanding
saat kendaraan berjalan normal.
. Salah satu kebutuhan dasar masyarakat Surabaya adalah pemenuhan
terciptanya kualitas lingkungan perkotaan yang bersih dan sehat, termasuk dalam
hal ini adalah kualitas udara emisi dan ambient. Perwujudan kualitas lingkungan
yang sehat merupakan bagian pokok di bidang kesehatan. Udara sebagai
komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu dipelihara dan
ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukungan bagi mahluk
hidup untuk hidup secara optimal
1.2 Tujuan Kajian
1. Untuk mengetahui gambaran umum kemacetan lalu lintas di Surabaya
2. Untuk mengetahui pengaruh kemacetan lalu lintas terhadap kualitas udara di
Surabaya
3. Untuk menegetahui bahan pencemar yang timbul akibat kemacetan lalu lintas
di Surabaya
4. Untuk mengetahui dampak yang timbul dari turunnya kualitas udara akibat
kemacetan di Surabaya.
5. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan untuk mengatasi penurunan kualitas
udara akibat kemacetan di Surabaya

BAB 2. METODE PENULISAN


Metode yang digunakan dalam penyusunan artikel ini adalah dengan
menggunakan studi literatur. Metode Studi literatur dilakukan untuk mendapatkan
informasi dan teori-teori yang penunjang yang berkenaan dengan permasalahan
yang akan dibahas. Hal ini dilakukan dengan mengumpulkan informasi yang
ditulis oleh para peneliti atau ilmuan dari berbagai sumber pustaka, baik berupa
referensi buku, literatur maupun jurnal yang membahas tentang permasalahan
tentang pencemaran udara terutama yang berhubungan dengan kemacetan lalu
lintas.
Langkah-langkah penulisan yang telah ditempuh pada artikel ini adalah
sebagai berikut:
1. Pengumpulan Data dan Informasi
Pada tahap ini penulis mengumpulkan berbagai sumber data baik dari buku, jurnal
ilmiah, berita, dan google search. Tujuannya yaitu untuk menambah referensi
tentang materi yang berkaitan dengan masalah pencemaran udara akibat
kemacetan lalu lintas di Surabaya
2. Pengolahan Data dan atau Informasi
Beberapa data dan informasi yang diperoleh pada tahap pengumpulan data
kemudian diolah dengan menggunakan metode analisis deskriptif
3. Analisis Data
Analisis

data

dilakukan

sebagai

suatu

proses

pengklasifikasian

dan

pengelompokan data yang selalu didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai.
4. Simpulan
Hasil

analisis

ditarik

kesimpulan

mengenai

gagasan

yang

akan

diimplementasikan.
5. Saran
Hasil analisis, alternatif solusi, dan kesimpulan membutuhkan saran dengan
pihak-pihak yang terkait.

BAB 3. HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN


3.1 Gambaran Umum Kemacetan Lalu Lintas di Kota Surabaya
Perkembangan transportasi yang pada awalnya hanya merupakan gengsi
namun sekarang telah berubah menjadi suatu kebutuhan yang dapat disejajarkan
dengan kebutuhan primer seperti pangan maupun papan. Fenomena transportasi
ini bisa dilihat dari pertumbuhan transportasi yang selalu naik setiap tahunnya,
dimana menurut walikota Surabaya, Bambang DH, untuk kendaraan roda empat
mencapai 9% sedangkan roda dua sebanyak 23%. Hingga tahun 2008, kendaraan
roda dua di Surabaya sebanyak 930.000 unit sedangkan roda empat sebanyak
219.000 unit (Fitriana dan Rasetyawan, Tanpa Tahun).
Tidak seimbangnya lebar jalan dengan jumlah kendaraan bermotor serta
buruknya sistem transportasi menyebabkan kemacetan hampir disetiap ruas jalan
di Surabaya, terutama wilayah-wilayah yang strategis seperti pusat perbelanjaan,
perkantoran, daerah industri. Dengan kepadatan penduduk baik asli maupun
pendatang (urban), semakin menambah kesemrawutan kota Surabaya Kemacetan
adalah kondisi dimana terjadi penumpukan kendaraan di jalan. Penumpukan
tersebut disebabkan karena banyaknya kendaraan tidak mampu diimbangi oleh
sarana dan prasana lalu lintas yang memadai. Akibatnya, arus kendaraan menjadi
tersendat dan kecepatan berkendara pun menurun (Bergkamp, 2011).
Keadaan lalu lintas dan polusinya di Kota Surabaya pada jam-jam sibuk,
yaitu 07.00 dan 16.00 WIB, kemacetan lalu lintas tidak dapat dihindari karena
pada jam-jam tersebut para warga siap melakukan berbagai aktivitas di antaranya
berangkat kerja, berangkat sekolah, dan keperluan lainnya. Sebaliknya pada 16.00
WIB, saat para warga pulang dari kerja kembali memadati arus lalu luntas.
Rutinitas ini menimbulkan kemacetan lalu lintas dan polusi/pencemaran udara
akibat pembuangan asap melalui knalpot kendaraan bermotor (Boediningsih,
2011). Masalah kemacetan yang terjadi di Surabaya, memberikan dampak lain
bagi lingkungan yaitu polusi yang semakin membuat Surabaya semakin panas dan
memiliki udara yang tidak sehat.

3.2

Pengaruh Kemacetan Lalu Lintas terhadap Kualitas Udara di

Surabaya
Polusi udara sebagai akibat kemacetan lalu lintas, turut andil mencemari
lingkungan hidup, sebab di kota-kota metropolitan di Indonesia seperti Surabaya
akibat tingginya volume kesibukan dari warga kotanya tentunya tidak terlepas
dengan pemakaian jalan-jalan untuk keperluan atau aktivitas sehari-hari. Sejalan
pula dengan kemajuan teknologi terutama yang berkaitan dengan bidang otomotif
mengangkut kendaraam bermotor yang menggunakan Bahan Bakar Minyak
(BBM) seperti premix, premium, dan solar tentunya mengakibatkan pembuangan
asap (emisi) yang tidak mungkin terelakkan lagi di jalan-jalan Kota Surabaya
(Boediningsih, 2011).
Kepadatan lalu lintas di Surabaya mengalami peningkatan. Pertumbuhan
ekonomi pun menjadi penyebab mobilitas seseorang meningkat sehingga
kebutuhan pergerakkannya pun meningkat melebihi kapasitas sistem prasarana
transportasi yang ada dan hal ini akan meyebabkan transportasi tidak berfungsi
secara efisien (Tamin, 2005). Dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan
berdampak pula terhadap meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat. hal ini
membuat semakin banyak orang yang menggunakan kendaraan bermotor baik itu
mobil maupun motor dalam menjalankan aktivitas. Untuk pergi ke sekolah,
pelajar sudah umum menggunakan kendaraan baik kendaraan umum (angkot)
maupun kendaraan pribadi, orang-orang yang akan pergi bekerja ke kantor, ke
pabrik maupun ke tempat-ternpat lainnya (pasar) untuk mengefisienkan waktu
maka menggunakan kendaraan adalah pilihan yang tepat. Namun demikian, satu
sisi penggunaan kendaraan bermotor sangat diperlukan untuk menunjang
mobilitas sosial masyarakat kota, tetapi disisi lain penggunaan kendaraan
bermotor seringkali menyebabkan kemacetan lalu lintas..
Kemacetan lalu lintas pada akhirnya akan berdampak negatif sebab
pembakaran bensin dalam kendaraan bermotor merupakan lebih dari separuh
penyebab terjadinya polusi udara. Pada daerah-daerah yang rawan terjadi
kemacetan akan semakin tinggi tingkat pencemaran udara yang timbul di daerah

tersebut, Ketika arus lalu lintas padat maka terjadilah kemacetan lalu lintas.
Dalam kondisi lalu lintas macet, pembakaran bahan bakar (bensin, solar) pada
mesin kendaraan bermotor tetap berlangsung. Pada proses pembakaran ini maka
akan dikeluarkan senyawa-senyawa berbahaya dimana senyawa tersebut selalu
terdapat dalam bahan bakar dan minyak pelumas mesin. Pembakaran bensin
maupun solar akan lebih efisien jika mobil atau motor dilarikan dengan kecepatan
yang konstan, dan mengurangi frekuensi pengereman dan menstarter. Sebaliknya
dalam kondisi jalanan macet maka pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor
tidak akan efisien lagi dan tidak sempurna. Pembakaran tidak sempurna terjadi
karena udara untuk pembakaran tidak mencukupi. Ketidak sempurnaan
pembakaran akan membentuk karbon monoksida dan uap air. Selain mengurangi
efisiensi bahan bakar, ketidak sempurnaan pembakaran juga menghasilkan asap
yang mengandung gas-gas karbon dioksida, karbon monoksida (CO), nitrogen
dioksida, partikel karbon, dan sisa bahan bakar lainnya, yang mayoritas bersifat
racun. Oleh karena itu, pembakaran tak sempurna akan mencemari udara.
Dalam kondisi macet, kendaraan yang merayap menghasilkan emisi gas
buang 12 kali lipat dibanding saat kendaraan berjalan normal dan pada saat itu
yang terjadi adanya pengumpulan senyawa-senyawa yang dikeluarkan oleh
kendaraan bermotor pada satu tempat. Bisa kita lihat bagaimana kepulan asap
hitam kendaraan bermotor terutama kendaraan jenis truk, bus (yang menggunakan
bahan bakar solar) yang mengakibatkan sesak nafas dan mata menjadi pedih.
Tanpa disadari, kemacetan selama ini telah berkontribusi terhadap polusi udara.
Pasalnya, pembakaran bahan bakar dalam mesin kendaraan yang terjebak
kemacetan tidak pernah terbakar dengan sempurna.
.2 Bahan Pencemar Udara yang Timbul Akibat Kemacetan Lalu Lintas di
Surabaya
Adapun bahan - bahan pencemar yang timbul akibat kemacet lalu lintas di
Surabaya adalah:
A. Karbon Monoksida (CO)

CO adalah suatu gas yang tak berwarna, tidak berbau dan juga tidak
berasa. Gas CO dapat berbentuk cairan pada suhu dibawah -192C. Gas CO
sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dengan udara, berupa
gas buangan. Selain itu, gas CO dapat pula terbentuk karena aktivitas industri.
Sedangkan secara alamiah, gas CO terbentuk sebagai hasil kegiatan gunung
berapi, proses biologi dan lain-lain walaupun dalam jumlah yang sedikit.
CO yang terdapat di alam terbentuk melalui salah satu reaksi berikut:
1) Pembakaran tidak lengkap terhadap karbon atau komponen yang
mengandung karbon.
2) Reaksi antara CO2 dengan komponen yang mengandung karbon pada suhu
tinggi.
3) Penguraian CO2 menjadi CO dan O.
Berbagai proses geofisika dan biologis diketahui dapat memproduksi CO,
misalnya aktivitas vulkanik, pancaran listrik dari kilat, emisi gas alami, dan lainlain. Sumber CO lainnya yaitu dari proses pembakaran dan industri.
Sebagian besar gas CO yang ada di Surabaya berasal dari kendaraan
bermotor dan ini menunjukkan korelasi yang positif dengan kepadatan lalu lintas.
Semakin lama rotasi atau putaran roda kendaraan per menit, semakin besar kadar
CO yang diemisikan.
B. Nitrogen Oksida (NOx)
Nitrogen oksida sering disebut dengan NOx

karena oksida nitrogen

mempunyai dua bentuk yang sifatnya berbeda, yaitu gas NO2 dan gas NO.
Walaupun ada bentuk oksida nitrogen lainnya, tetapi kedua gas tersebut yang
paling banyak diketahui sebagai bahan pencemar udara. Nitrogen dioksida (NO2)
berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam. Reaksi pembentukan NO2 dari NO
dan O2

terjadi dalam jumlah relatif kecil, meskipun dengan adanya udara

berlebih. Kecepatan reaksi ini dipengaruhi oleh suhu dan konsentrasi NO. Pada
suhu yang lebih tinggi, kecepatan reaksi pembentukan NO2 akan berjalan lebih
lambat. Selain itu, kecepatan reaksi pembentukan NO2 juga dipengaruhi oleh
konsentrasi oksigen dan kuadrat dari konsentrasi NO. Hal ini berarti jika
konsentrasi NO bertambah menjadi dua kalinya, maka kecepatan reaksi akan naik

empat kali. Namun, jika konsentrasi NO berkurang setengah, maka kecepatan


reaksi akan turun menjadi seperempat.
Nitrogen monoksida (NO) tidak berwarna, tidak berbau, tidak terbakar,
dan sedikit larut di dalam air. NO terdapat di udara dalam jumlah lebih besar
daripada NO2. Pembentukan NO dan NO2 merupakan reaksi antara nitrogen dan
oksigen di udara sehingga membentuk NO, yang bereaksi lebih lanjut dengan
lebih banyak oksigen membentuk NO2.
Kadar NOx di udara daerah perkotaan yang berpenduduk padat akan lebih
tinggi dibandingkan di pedesaan karena berbagai macam kegiatan manusia akan
menunjang pembentukan NOx, misalnya transportasi, generator pembangkit
listrik, pembuangan sampah, dan lain-lain. Namun, pencemar utama NOx berasal
dari gas buangan hasil pembakaran bahan bakar gas alam. Kadar NOx di Jakarta
yang timbul akibat kegiatan transportasi sebesar 54%. Kadar NOx di udara
dalam suatu kota bervariasi sepanjang hari tergantung dari intensitas sinar
matahari dan aktivitas kendaraan bermotor. Dari perhitungan kecepatan emisi
NOx diketahui bahwa waktu tinggal rata-rata NO2 di atmosfer kira-kira 3 hari,
sedangkan waktu tinggal NO adalah 4 hari dan gas ini bersifat akumulasi di udara
yang bila tercampur dengan air akan menyebabkan terjadinya hujan asam.
C. Hidrokarbon (HC)
Hidrokarbon terdiri dari elemen hidrogen dan karbon.

HC dapat

berbentuk gas, cairan maupun padatan. Semakin tinggi jumlah atom karbon
pembentuk

HC, maka molekul HC cenderung berbentuk padatan. HC yang

berupa gas akan tercampur dengan gas-gas hasil buangan lainnya. Sedangkan bila
berupa cair maka HC akan membentuk semacam kabut minyak, bila berbentuk
padatan akan membentuk asap yang pekat dan akhirnya menggumpal menjadi
debu.
Sumber HC antara lain transportasi, sumber tidak bergerak, proses
industri dan limbah padat. Sebesar 88% hidrokarbon di Jakarta dihasilkan dari
kegiatan transportasi sebesar. HC merupakan sumber polutan primer karena
dilepaskan ke udara secara langsung. Molekul ini merupakan sumber fotokimia
dari ozon. Bila pencemaran udara oleh HC disertai dengan pencemaran oleh

nitrogen oksida (NOx), maka akan terbentuk Peroxy Acetyl Nitrat dengan bantuan
oksigen
D. Timbal (Pb)
Timah hitam ( Pb ) merupakan logam lunak yang berwarna kebiru-biruan
atau abu-abu keperakan dengan titik leleh pada 327,5C dan titik didih 1.740C
pada tekanan atmosfer. Senyawa Pb-organik seperti Pb-tetraetil dan Pb-tetrametil
merupakan senyawa yang penting karena banyak digunakan sebagai zat aditif
pada bahan bakar bensin dalam upaya meningkatkan angka oktan secara ekonomi.
Pembakaran Pb-alkil sebagai zat aditif pada bahan bakar kendaraan
bermotor merupakan bagian terbesar dari seluruh emisi Pb ke atmosfer
berdasarkan estimasi skitar 8090% Pb di udara ambien berasal dari pembakaran
bensin tidak sama antara satu tempat dengan tempat lain karena tergantung pada
kepadatan kendaraan bermotor dan efisiensi upaya untuk mereduksi kandungan
Pb pada bensin. Kadar Pb akibat aktifitas trasportasi ini di Jakarta mencapai 90%.
E. Sulfur Oksida (SOx)
Ada dua macam gas sulfur oksida (SOx), yaitu SO2 dan SO3. Gas SO2
berbau tajam dan tidak mudah terbakar, sedangkan gas SO3

sangat reaktif.

Konsentrasi SO2 di udara mulai terdeteksi oleh indra penciuman manusia ketika
konsentrasinya berkisar antara 0,3-1 ppm. Gas hasil pembakaran umumnya
mengandung lebih banyak SO2 dari pada SO3. Pencemaran SOx di udara
terutama berasal dari pemakaian batubara pada kegiatan industri, transportasi dan
lain sebagainy. Pada dasarnya semua sulfur yang memasuki atmosfer diubah
dalam bentuk SO2 dan hanya 1-2% saja sebagai SO3. Pencemaran SO2 di udara
berasal dari sumber alamiah maupun sumber buatan. Sumber alamiah adalah
gunung berapi, pembusukan bahan organik oleh mikroba, dan reduksi sulfat
secara biologis. Proses pembusukan akan menghasilkan H2S yang akan berubah
menjadi SO2. Sedangkan sumber SO2 buatan yaitu pembakaran bahan bakar
minyak, gas, dan terutama batubara yang mengandung sulfur tinggi. Di Jakarta
sendiri kadar sulfur oksida sebesar 35%, dimana banyak disumbangkan oleh
kendaraan bus, truk, dan kendaraan berbahan solar lainnya.
F. Partikel

Partikel adalah pencemar udara yang dapat berada bersama-sama dengan


bahan atau bentuk pencemar lainnya. Partikel dapat diartikan secara murni atau
sempit sebagai bahan pencemar yang berbentuk padatan. Partikel merupakan
campuran yang sangat rumit dari berbagai senyawa organik dan anorganik yang
terbesar di udara dengan diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1 mikron
sampai dengan maksimal 500 mikron. Partikel debu tersebut akan berada di udara
dalam waktu yang relatif lama dalam keadaan melayang-layang di udara dan
masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan. Partikel pada
umumnya mengandung berbagai senyawa kimia yang berbeda dengan berbagai
ukuran dan bentuk yang berbeda pula, tergantung dari mana sumber emisinya.
Dengan seringnya terjadi kemacetan di Jakarta maka tingkat pencemaran udara
oleh partikel juga semakain besar.
3.3 Dampak Turunnya Kualitas Udara Akibat Kemacetan Lalu Lintas di
Surabaya
Sektor transportasi memberikan kontribusi yang signifikan terhadap
pencemaran udara perkotaan. Kegiatan transportasi mengeluarkan zat-zat
pencemar udara yang memberikan dampak negatif terhadap kesehatan dan
kesejahteraan manusia, serta lingkungan hidup. Sumber pencemar ini juga
menimbulkan dampak terhadap lingkungan atmosfer yang lebih besar seperti
hujan asam, dan pemanasan global.
A. Hujan Asam
Hujan asam adalah hujan yang memiliki kandungan pH (derajat
keasaman) kurang dari 5,6. SO2 dan NOx (NO2dan NO3) yang dihasilkan dari
proses pembakaran bahan bakar fosil (kendaraan bermotor) dan pembakaran
batubara (pabrik dan pembangkit energi listrik) akan menguap ke udara. Sebagian
lainnya bercampur dengan O2 yang dihirup oleh makhluk hidup dan sisanya akan
langsung mengendap di tanah sehingga mencemari air dan mineral tanah. SO2
dan NOx (NO2 dan NO3) yang menguap ke udara akan bercampur dengan
embun. Dengan bantuan cahaya matahari, senyawa tersebut akan diubah menjadi
tetesan-tetesan asam yang kemudian turun ke bumi sebagai hujan asam. Namun,
bila H2SO2 dan HNO2 dalam bentuk butiran-butiran padat dan halus turun ke

permukaan bumi akibat adanya gaya gravitasi bumi, maka peristiwa ini disebut
dengan deposisi asam
B. Pemanasan Global
Kadar CO2 yang tinggi di lapisan atmosfer dapat menghalangi pantulan
panas dari bumi ke atmosfer sehingga permukaan bumi menjadi lebih panas.
Peristiwa ini disebut dengan efek rumah kaca (green house effect). Efek rumah
kaca ini mempengaruhi terjadinya kenaikan suhu udara di bumi (pemanasan
global). Pemanasan global adalah kenaikan suhu rata-rata di seluruh dunia dan
menimbulkan dampak berupa berubahnya pola iklim. Permukaan bumi akan
menyerap sebagian radiasi matahari yang masuk ke bumi dan memantulkan
sisanya. Namun, karena meningkatnya CO2 di lapisan atmosfer maka pantulan
radiasi matahari dari bumi ke atmosfer tersebut terhalang dan akan kembali
dipantulkan ke bumi. Akibatnya, suhu di seluruh permukaan bumi menjadi
semakin panas (pemanasan global). Peristiwa ini sama dengan yang terjadi di
rumah kaca. Rumah kaca membuat suhu di dalam ruangan rumah kaca menjadi
lebih panas bila dibandingkan di luar ruangan. Hal ini dapat terjadi karena radiasi
matahari yang masuk kedalam rumah kaca tidak dapat keluar.
Sedangkan dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh sektor transportasi
berdasarkan zat pencemar antara lain
A. Karbon Monoksida (CO)
Keracunan gas monoksida (CO) dapat ditandai dari keadaan ringan,
berupa pusing, sakit kepala, dan mual. Keadaan yang lebih berat berupa
menurunnya kemampuan gerak tubuh, gangguan pada sistem kardiovaskuler,
serangan jantung hingga kematian. Karakteristik biologik yang paling penting dari
CO adalah kemampuannya untuk berikatan dengan haemoglobin, pigmen sel
darah merah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Sifat ini menghasilkan
pembentukan karboksihaemoglobin (HbCO) yang 200 kali lebih stabil
dibandingkan oksihaemoglobin (HbO2). Penguraian HbCO yang relatif lambat
menyebabkan terhambatnya kerja molekul sel pigmen tersebut dalam fungsinya
membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kondisi seperti ini bisa berakibat serius,
bahkan fatal, karena dapat menyebabkan keracunan. Selain itu, metabolisme otot

dan fungsi enzim intra-seluler juga dapat terganggu dengan adanya ikatan CO
yang stabil tersebut. Dampak keracunan CO sangat berbahaya bagi orang yang
telah menderita gangguan pada otot jantung atau sirkulasi darah periferal yang
parah.
Dampak dari CO juga bervasiasi tergantung dari status kesehatan
seseorang pada saat terpajan. Pada beberapa orang yang berbadan gemuk dapat
mentolerir pajanan CO sampai kadar HbCO dalam darahnya mencapai 40% dalam
waktu singkat. Tetapi seseorang yang menderita sakit jantung atau paru-paru akan
menjadi lebih parah apabila kadar HbCO dalam darahnya sebesar 510%. CO
juga bisa mempengaruhi janin. Pengaruh terhadap janin pada prinsipnya adalah
karena pajanan CO pada kadar tinggi dapat menyebabkan kurangnya pasokan
oksigen pada ibu hamil yang konsekuensinya akan menurunkan tekanan oksigen
di dalam plasenta dan juga pada janin dan darah. Hal ini dapat menyebabkan
kelahiran prematur atau bayi lahir dengan berat badan lebih rendah dibandingkan
keadaan normal.
B. Nitrogen Oksida (NOx)
Kedua bentuk nitrogen oksida, NO dan NO2, sangat berbahaya bagi
manusia. NO2 merupakan gas yang toksik bagi manusia dan pada umumnya gas
ini dapat menimbulkan gangguan sistem pernapasan. NO2 dapat masuk ke paruparu dan membentuk Asam Nitrit (HNO2) dan Asam Nitrat (HNO3) yang
merusak jaringan mukosa. NO2 dapat meracuni paru-paru. Jika terpapar NO2
pada kadar 5 ppm setelah 5 menit dapat menimbulkan sesak nafas dan pada kadar
100 ppm dapat menimbulkan kematian. Gangguan sistem pernapasan yang terjadi
dapat menjadi empisema. Bila kondisinya kronis dapat berpotensi menjadi
bronkitis serta akan terjadi penimbunan nitrogen oksida (NOx) dan dapat menjadi
sumber karsinogenik atau penyebab timbulnya kanker.
C. Hidrokarbon
Hidrokarbon diudara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan
membentuk ikatan baru yang disebut plycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) yang
banyak dijumpai di daerah industri dan padat lalulintas. Bila PAH ini masuk
dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan merangsang terbentuknya sel-sel

kanker.Pengaruh hidrokarbon terhadap kesehatan manusia dapat dilihat pada tabel


dibawah ini :
Tabel 1.2 JenisJenis Hidrokarbon Aromatik dan Pengaruhnya pada Kesehatan
Manusia
Jenis Hidrokarbon

Konsentrasi

Benzene (C6H6)

Toluena (C7H8)

Dampak Kesehatan

(ppm)
100
3.000
7.500

Iritasi membrane mukosa


Lemas setelah - 1 jam
Pengaruh sangat berbahaya

20.000
200

pemaparan 1 jam
Kematian setelah pemaparan 5-10 menit
Pusing, lemah, dan berkunang-kunang

600

setelah pemaparan 8 jam


Kehilangan koordinasi,

bola

setelah

mata

terbalik setelah pemaparan 8 jam


Sumber: Ebenezer, dkk (2006). Pengaruh Bahan Bakar Transportasi
terhadap Pencemaran Udara dan Solusinya.
D. Timbal
Gejala klinis keracunan timah hitam pada individu dewasa tidak akan
timbul pada kadar Pb yang terkandung dalam darah dibawah 80 mg Pb/100 g
darah namun hambatan aktivitas enzim untuk sintesa haemoglobin sudah terjadi
pada kandungan Pb normal (3040 mg). Gangguan kesehatan adalah akibat
bereaksinya Pb dengan gugusan sulfhidril dari protein yang menyebabkan
pengendapan protein dan menghambat pembuatan haemoglobin, Gejala keracunan
akut didapati bila tertelan dalam jumlah besar yang dapat menimbulkan sakit perut
muntah atau diare akut. Gejala keracunan kronis bisa menyebabkan hilang nafsu
makan, konstipasi lelah sakit kepala, anemia, kelumpuhan anggota badan, Kejang
dan gangguan penglihatan.
E. Sulfur Oksida (Sox)
Gas SO2 yang ada di udara dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan
dan kenaikan sekresi mukosa. Dengan konsentrasi 500 ppm SO2

dapat

menyebabkan kematian pada manusia. Kadar SO2 yang berpengaruh terhadap


gangguan kesehatan adalah sebagai berikut :

Tabel 1.1 Pengaruh Konsentrasi SO terhadap Kesehatan


No
1
2

Konsentrasi
(ppm)

Efek

3-5
8 -12

Jumlah terkecil yang dapat dideteksi dari baunya


Jumlah terkecil yang segaera mengakibatkan iritasi

20

tenggorokan
- Jumlah terkecil yang akan mengakibatkan iritasi

50 - 100

mata dan batuk


Jumlah maksimum yang diperbolehkan untuk

konsentrasi dalam waktu lama


Maksimum yang diperbolehkanuntuk kontak singkat (30

menit)
5
400 - 500
Berbahaya meskipun kontak secara singkat
Sumber: www.depkes.go.id
Selain berpengaruh terhadap kesehatan manusia, SO2 juga berpengaruh
terhadap tanaman dan hewan. Pengaruh SO2 terhadap hewan hampir menyerupai
pengaruh SO2 terhadap manusia. Sedangkan pada tumbuhan, SO2 dapat
menyebabkan terjadinya perubahan warna pada daun dari hijau menjadi kuning
atau terjadinya bercak-bercak putih pada daun tanaman.
F. Partikel
Pengaruh partikel debu bentuk padat maupun cair yang berada di udara sangat
tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikel debu yang membahayakan
kesehatan umumnya berkisar antara 0,1 mikron sampai dengan 10 mikron. Pada
umumnya ukuran partikel debu sekitar 5 mikron merupakan partikel udara yang
dapat langsung masuk ke dalam paru-paru dan mengendap di alveoli. Namun,
bukan berarti bahwa ukuran partikel yang lebih besar dari 5 mikron tidak
berbahaya karena partikel yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan
bagian atas dan menyebabkan iritasi. Keadaan ini akan lebih bertambah parah
apabila terjadi reaksi sinergistik dengan gas SO2 yang terdapat di udara juga.
Selain dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan, partikel debu juga dapat
mengganggu daya tembus pandang mata dan juga mengadakan berbagai reaksi
kimia di udara.

Partikel udara dalam wujud padat yang berdiameter kurang dari 10 m


yang biasanya disebut dengan PM10 (particulate matter) sebagai pemicu
timbulnya infeksi saluran pernafasan, karena partikel padat PM10 dapat
mengendap pada saluran pernafasan daerah bronki dan alveoli. PM10 sangat
memprihatinkan karena memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menembus
ke dalam paru. Sedangkan rambut di dalam hidung hanya dapat menyaring debu
yang berukuran lebih besar dari 10 m.
.4 Upaya-Upaya yang Bisa dilakukan Untuk Mengatasi Pencemaran Udara
Akibat Kemacetan Lalu Lintas di Surabaya
Adapun upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi penurunan udara
akibat kemacetan lalu lintas di Jakarta adalah sebagai berikut:
A. Penempatan petugas pada jam-jam sibuk
Hal ini dilakukan dalam rangka penertiban dan mengatur arus lalu lintas
sebagai solusi untuk mengatasi kemacetan lalu lintas serta untuk mewujudkan
budaya tertib lalu lintas bagi warga Jakarta.
B. Pengendalian Emisi Kendaraan Bermotor
1) Mengembangkan substitusi bahan bakar dengan tujuan untuk mengurangi
polutan (substitusi ini bisa berupa bahan bakar tanpa timbal ataupun gas).
2) Mengembangkan sumber tenaga alternatif yang rendah polusi (sumber
tenaga bisa berupa tenaga listrik, tenaga surya, ataupun tenaga angin).
3) Memodifikasi mesin untuk mengurangi jumlah polutan yang terbentuk
(modifikasi mesin bisa dilakukan baik dengan menggunakan turbo
cyclone, memperbaiki sistem pencampuran bahan bakar, maupun dengan
mengatur pendinginan di dalam ruang bakar).
4) Mengembangkan sistem pembuangan yang lebih sempurna (sistem
pembuangan dari gas buang bisa disempurnakan dengan menggunakan
semacam reheater, ataupun dengan menggunakan catalytic converter
yang biasanya dipasang pada kendaraan mewah).
5) Memperbaiki sistem pengapian (sistem pengapian kendaraan dapat
diperbaiki dengan mengatur ignition time dan delay period dari motor
bakar salah satunya adalah dengan menggunakan power ignition, EFI
(Electronic Full Injection).
6) Menghindari cara pemakaian yang justru menghasilkan polutan yang
tinggi (beberapa cara pemakaian yang salah adalah dengan mengerem

mendadak, melakukan balapan di jalan raya, menambahkan pelumas pada


knalpot kendaraan sehabis diservis, dan beban angkut yang melebihi
kapasitas daya angkut motor).
C. Melakukan penanaman pohon di pinggir-pinggir jalan
Dengan melakukan penanaman pohon di pinggir-pinggir jalan maka akan
menghasilkan oksigen yang kita perlukan sementara karbondioksida yang
dihasilkan dari mesin-mesin kendaraan bermotor maupun sarana transportasi
lainnya akan diserap oleh tumbuhan tersebut. Selain itu tumbuh-tumbuhan yang
rindang dapat mengatasi panasnya suhu yang diakibatkan oleh pembakaran pada
mesin kendaraan bermotor terutama pada saat lalu lintas macet.

BAB 4. PENUTUP
.1 Kesimpulan
Kemacetan lalu lintas di Surabaya merupakan salah satu pemicu timbulnya
polusi udara. Saat kondisi lalu lintas macet, pembakaran bahan bakar (bensin,
solar) pada mesin kendaraan bermotor tetap berlangsung. Pada proses pembakaran
ini maka akan dikeluarkan senyawa-senyawa berbahaya dimana senyawa tersebut
selalu terdapat dalam bahan bakar dan minyak pelumas mesin. Kendaraan yang
merayap menghasilkan emisi gas buang 12 kali lipat dibanding saat kendaraan
berjalan normal, akibatnya udara menjadi tercemar sehingga kualitas udara di
Surabayapun menurun. Bahan - bahan pencemar yang timbul akibat kemacet lalu
lintas di Surabaya adalah karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx),
hidrokarbon (HC), timbal (Pb) dan zat pencemar lain yaitu sulfur oksida (SOx)
serta partikel-partikel kecil seperti bedu.
Turunnya kualitas udara di Surabaya menimbulkan dampak terhadap
lingkungan atmosfer yang lebih besar seperti hujan asam, dan perubahan iklim
global. Kualitas udara yang buruk juga berpengaruh terhadap kesehatan
masyarakat, terutama terhadap sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler. Zat
pencemar tersebut menimbulkan reaksi yang berbeda tiap individu,tergantung
jenis polutan, tingkat paparan, status kesehatan individu dan genetik. Banyak
upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi penurunan kualitas udara Surabaya
yaitu seperti penempatan petugas pada jam-jam sibuk, pengendalian emisi
kendaraan bermotor, penanaman pohon-pohon dipinggir jalan.
4.2 Saran
1 jalan yang sempit dan rawan macet jika memungkinkan bisa dilebarkan,
sebaiknya juga dilakukan pelebaran jalan untuk mengurangi kemacetan lalu
lintas karena jalan yang sudah ada memang sudah tidak mungkin lagi
2

menampung mobil/kendaraan bermotor yang ada


Aparat petugas/polisi lebih meningkatkan semangat kerja, kejujuran, dan
kedisiplinan dalam melaksanakan tugas sehingga petugas selalu ada di tempat
tugas terutama pada jam-jam sibuk untuk mengatur kemacetan lalu lintas dan
menindak tegas bagi siapa saja yang melanggar rambu-rambu lalu lintas tanpa
pengecualian dan tidak memungut/menerima uang damai dari pelanggar

lalu lintas sehingga bagi pelanggar lalu lintas akan berpikir panjang apabila
3

melakukan pelanggaran lalu lintas karena sanksinya jelas.


Dalam hal ini pemerintah harus membuat sarana untuk meminimalisir
pencemaran udara tersebut misalnya dengan pembuatan paru-paru kota
berupa taman di tengah kota, penyuluhan kepada masyarakat agar mau

menanam tumbuh-tumbuhan disekitar pekarangan rumah.


Untuk masyarakat yang mempunyai kendaraan bermotor agar memeriksakan
kendaraannya jangan sampai kadar emisi gas buang melebihi ambang batas,
terutama dengan pemeliharaan kendaraan yang baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA
Arya Wardhana ,W. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta :
Penerbit Andi
Bergkamp, Dennis. 2011. Kemacetan Lalu Lintas DKI Jakarta.[Serial Online].
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/11/15/kemacetan-lalu-lintasdki-jakarta-410483.html. [24 Februari 2013].
Boediningsih, Widyawati. 2011. Dampak Kepadatan Lalu Lintas Terhadap Polusi
Udara. Jurnal Fakultas Hukum. Vol. XX. (20) : Hal 119-138
Chandra, Budiman. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. EGC. Jakarta
Fardiaz, Srikandi. 1992. Polusi Air dan Udara. Yogyakarta: Karnisius
Fitriana, Irna dan Prasetyawan, Yudha. Tanpa Tahun. Analisis Dampak Rencana
Pembangunan Busway Terhadap Kemacetan Lalu Lintas Pada Jalur Utara
Selatan Dengan Pendekatan Sistem Dinamik. Jurnal Teknik Industri: Hal
1-10. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Kepmenkes RI no 1407 tahun 2002 Tentang Pedoman Pengendalian Dampak
Pencemaran Udara
Mukono,H.J. 2008. Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan
Saluran Pernapasan. Surabaya: Airlangga University Press.
PP RI nomor 41 tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara
Rini, Titien Setiyo. 2005. Kebijakan Sistem Transportasi Kota Surabaya Dalam
Rangka Pengendalian Pencemaran Udara Area Transportasi. Jurnal
Rekayasa Perencanaan. Vol. I. (2) : Hal 1-14
Soedomo, Moestikahadi. 2001. Pencemaran Udara (Kumpulan Karya Ilmiah).
Bandung: Penerbit ITB
Suyono, Budiman. 2010. Ilmu Kesehatan Masyarakat dalam Konteks Kesehatan
Lingkungan. Jakarta: EGC .
Tamin, Ofyar Z. 2000. Perencanaan dan Pemodelan Transportasi. Bandung: ITB

Umar, Fahmi Ahmadi.1989.Analisis Resiko Efek Pencemaran Udara (Co dan Pb)
Terhadap Penduduk Jakarta. Jakarta:FKM UI.