Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIKA TERAPAN
DIAGRAM TERNER

Sukma Hudhori
KA02
1513058
Email :sukmahudhori@gmail.com
Sekolah Tinggi Manajemen Industri
(STMI Jakarta)
Jl. Letjen Suprapto 26 Cempaka Putih Timur, Cempaka Putih. Jakarta Pusat,
DKI Jakarta.

I.

TUJUAN PERCOBAAN
- Membuat kurva kelarutan suatu zat cairan yang terdapat dalam campuran dua
-

II.

cairan tertentu.
Mengetahui jumlah derajat kebebasan untuk system tiga komponen.

TEORI
Sistem adalah suatu zat yang dapat diisolasikan dari zat-zat lain dalam suatu
bejana inert, yang menjadi pusat perhatian dalam mengamati pengaruh perubahan
temperature, tekanan serta konsentrasi zat tersebut.Sedangkan komponen adalah
yang ada dalam system, seperti zat terlarut dan pelarut dalam senyawa
biner.Banyaknya komponen dalam system C adalah jumlah minimum spesies bebas
yang diperlukan untuk menentukan komposisi semua fase yang ada dalam
system.Definisi ini mudah diberlakukan jika spesies yang ada dalam system tidak
bereaksi sehingga kita dapat menghitung banyaknya.
Fasa merupakan keadaan materi yang seragam diseluruh bagiannya, tidak hanya
dalam komposisi kimianya tetapi juga dalam keadaan fisiknya.Sifat suatu fasa
dinyatakan dengan properti-properti intensif, dan biasanya properti-properti intensif
yang diperhatikan adalah temperatur, tekanan, dan konsentrasi.Banyaknya properti
intensif yang harus ditetapkan atau harus dinyatakan agar keadaan setimbang tidak
menjadi samar-samar bisa dihitung dengan menggunakan aturan fasa (Phase
Rule).Aturan fasa untuk pertama kali diperkenalkan oleh J. Willard Gibbs (tahun
1875), tetapi baru dipublikasikan 20 tahun kemudian.
Misalkan pada sebuah sistem terdapat p buah fasa dan C buah komponen yang
tersebar ke dalam setiap fasa, maka derajat kebebasan (degree of Freedom) atau
biasanya juga disebut Varian (f). Derajat kebebasan (degree of Freedom) adalah
banyaknya variabel intensif yang dapat secara bebas divariasikan tanpa mengubah
banyaknya fasa yang ada pada sistem, atau banyaknya variabel intensif yang harus
ditentukan agar nilai semua variabel yang tersisa dapat diketahui, atau banyaknya
variabel intensif yang digunakan untuk mencirikan suatu sistem, dikurangi dengan
banyaknya hubungan-hubungan atau batasan-batasan yang menghubungkan setiap
fasa.

Contohnya: dalam system terdapat fasa padat, cair, dan gas. Banyaknya fasa
dalam system diberi notasi P. gas atau campuran gas adalah fasa tunggal ; Kristal
adalah fasa tunggal dan dua cairan yang dapat bercampur secara total membentuk
fasa tunggal. Campuran dua logam adalah system dua fasa (P=2), jika logam-logam
itu tidak dapat bercampur, tetapi merupakan system satu fasa (P=1), jika logamlogamnya dapat dicampur.
Pada perhitungan dalam keseluruhan termodinamika kimia, J.W Gibbs menarik
kesimpulan tentang aturan fasa yang dikenal dengan hokum fasa Gibbs : Jumlah
terkecil perubahan bebas yang diperlukan untuk menyatakan keadaan suatu system
dengan tepat pada kesetimbangan diungkapkan sebagai :
F=CP+2
Dengan :
F = jumlah derajat kebebasan.
C = jumlah komponen.
P = jumlah fasa.
Kesetimbangan dipengaruhi oleh suhu, tekanan, dan komposisi system. Jumlah
derajat kebebasan untuk system tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap dapat
dinyatakan sebagai :
F=3P
Jika dalam system hanya terdapat satu fasa maka V=2 berarti untuk menyatakan
suatu system dengan tepat perlu ditentukan konsentrasi dari dua komponennya.
Sedangkan bila dalam system terdapat dua fasa dalam kesetimbangan, V=1 berarti
hanya satu komponen yang harus ditentukan konsentrasinya dan konsentrasi
komponen yang lain sudah tertentu berdasarkan diagram fasa untuk diagram fasa
system tersebut. Oleh karena itu system tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap
punya derajat kebebasan maksimum=2 (jumlah fasa minimum = 1), maka diagram
fasa system ini dapat digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu segitiga
tersebut menggambarkan suatu komponen murni.
Cara terbaik untuk menggambarkan system tiga komponen adalah dengan
mendapatkan suatu kertas grafik segitiga. Konsentrasinya dapat dinyatakan dengan
istilah persen berat atau fraksi mol. Fraksi mol tiga komponen dari system terner
( C=3 ) sesuai dengan : XA + XB + XC = 1. Diagram fasa yang digambarkan
segitiga sama sisi, menjamin dipenuhinya sifat ini secara otomatis, sebab jumlah

jarak ke sebuah titik di dalam segitiga sama sisi yang diukur sejajar dengan sisisisinya sama dengan panjang sisi segitga itu, yang dapat diambil sebagai satuan
panjang. Puncak-puncak dihubungi ke titik tengah dari sisi yang berlawanan yaitu :
Aa, Bb, Cc. Titik nol mulai dari titik a, b, c dan A, B, C menyatakan komposisi
adalah 100% atau 1, jadi garis Aa, Bb, Cc merupakan konsentrasi A,B,C.
Jumlah fasa dalam system zat cair tiga komponen bergantung pada daya asing
larut antara zat cair tersebut dan suhu percobaan. Apabila pada suhu dan tekanan
yang tetap digunakan kurva bimodal untuk menentukan kelarutan C dalam berbagai
komposisi A dan B. Kurva Bimodal adalah kurva yang berada pada daerah
lengkungan pada daerah di dalam kurva merupakan daerah dua fasa, sedangkan yang
diluarnya adalah daerah satu fasa. Untuk menentukan kurva bimodal yaitu dengan
menambahkan zat B ke dalam campuran A dan C.

Air dan asam asetat dapat bercampur seluruhnya, demikian juga dengan
kloroform dan asam asetat.Air dan kloroform hanya dapat campur sebagian. Asam
asetat , asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang
dikenal sebagai pemberi rasa aroma dalam makanan. Asam cuka memilih rumus
empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH 3-COOH,CH3COOH
atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan
higroskopis tak berwarna dan memiliki titik beku 16,70C.Asam asetat merupakan
salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam formal.
Asam asetat lebih suka pada air dibandingkan kepada kloroform oleh karenanya
bertambahnya kelarutan kloroform dalam air lebih cepat dibandingkan kelarutan air
dalam kloroform. Penambahan asam asetat berlebih lebih lanjut akan membawa
sistem bergerak kedaerah satu fase (fase tunggal). Namun demikian, saat komposisi
mencapai titik a3, ternyata masih ada dua lapisan walaupun sedikit.
Adanya suatu zat terlarut mempengaruhi kelarutan zat terlarut lainnya.Efek
garam-keluar (setting-out) adalah berkurangnya kelarutan suatu gas (atau zat bukanion lainnya) di dalam air jika suatu garam ditambahkan.Efek garam ke dalam
(setting-in) juga dapat terjadi, dimana sistem terner lebih pekat (dalam arti

mempunyai air lebih sedikit) dari pada sistem biner. Garam juga dapat
mempengaruhi kelarutan elektrolit lain, seperti amonium klorida, aluminium sulfat
dan air. Titik b menunjukkan kelarutan klorida dalam air: campuran denagn
komposisi b1 terdiri atas klorida yang tak larut dan larutan jenuh dengan komposisi
b.

III.

ALAT DAN BAHAN


a) Alat-alat :
1. Corong pemisah.
2. Labu erlenmayer 250 ml.
3. Buret.
4. Beaker glass.
5. Statif dan klem.
6. Corong kaca.
7. Botol semprot.
8. Picnometer.
9. Gelas ukur.
b) Bahan bahan :
1. Asam asetat 100 ml.
2. Aquadest.
3. CHCl3 100 ml.
4. KOH.
5. Asam oksalat.

IV.

PROSEDUR KERJA
1. Tentukan berat jenis CHCl3, CH3COOH dan H2O.
2. Buat 100 ml larutan 17%, 22%, 27% CH 3COOH dalam H2O (10 gram dalam 90
ml air).
3. 25 ml larutan ini kemudian di titrasi dengan CHCl3 di buret. Selama di titrasi
pada setiap penambahan harus dikocok secara kuat. Titrasi diakhiri bila pada
permukaan timbul kabut.
4. Hal yang sama dilakukan untuk larutan 17%, 22%, 27%.

5. Buat larutan 17%, 22%, 27% CH3COOH dalam CHCl3 kemudian dititrasi
dengan H2O sampai timbul kabut.
6. Hal yang sama dilakukan untuk larutan 17%, 22%, 27%.
7. Buatlah 100 ml larutan yang terdiri dari CH3COOH, CHCl3, dan H2O dengan
perbandingan sebagai berikut 30 gr:20 gr:50 gr. Kemudian pisahkan kedua
lapisan menggunakan corong pemisah dikocok selama 20 menit. Hitung berat
jenis masing-masing lapisan dengan picnometer, kemudian diambil 2 ml lapisan
bawah untuk dititrasi dengan KOH + PP sampai merah muda seulas. Ambil
lapisan atas 5 ml kemudian dititrasi.
V.

DATA PENGAMATAN
1. Pembuatan zat
KOH
Asam Oksalat
Asam Asetat
2. Berat Jenis (BJ = picno isi picno kosong/volume)
- BJ CH3COOH = 49,98 25,05/25 = 0,9972 ml
- BJ H2O = 49.74 25,05/25 = 0,988 ml
- BJ CHCl3 = 61,12 25,05/25 = 1,42 ml
3. Pembuatan asam asetat dalam H2O (konsentrasi dalam volume)
Asam Asetat = % Asam Asetat x Volume/BJ Asam Asetat
H2O = % H2O x Volume/BJ H2O
-

Asam Asetat 17 % = 0,17 x 25/0,997 = 4,263 ml


Air 83% = 0,83 X 25/0,988 = 21,002 ml
Asam Asetat 22 % = 0,22 x 25/0,997 = 5,516 ml
Air 78% = 0,78 x 25/0,988 =19,737 ml
Asam Asetat 27% = 0,27 x 25/0,997 = 6,770 ml
Air 73% = 0,73 x 25/0,988 = 18,472 ml

4. Titrasi dengan CHCl3


Konsentrasi
I
II
III

Vol. As.
Asetat
4.623
5,516
6,770

Vol. Air

Vol. CHCl3

21,002
19,737
18,472

3
1,6
2,8

5. Menghitung % berat dari masing-masing konsentrasi


Berat Larutan = Vol. Larutan x BJ Larutan

Konsentrasi I
- Berat As.Asetat = 4,263 x 0,997 = 4,25 gr
- Berat CHCl3 = 3 x 1,442 = 4,33 gr
- Berat Air = 21,002 x 0,988 = 20,45 gr
Berat total = 4,25 + 4,33 + 20,45 = 29,03 gr
% Berat Larutan = Berat Larutan/Berat total x 100%
- % Berat As. Asetat = 4,25/29,03 x 100% = 14,64 %
- % Berat CHCl3 = 4,33/29,03 x 100% = 14,92 %
- % Berat Air = 20,45/29,03 x 100% = 70,44 %
Konsentrasi II
- Berat As.Asetat = 5,516 x 0,997 = 5,499 gr
- Berat CHCl3 = 1,6 x 1,442 = 2,307 gr
- Berat Air = 19,737 x 0,988 = 19,5 gr
- Berat total = 5,499 + 2,307 + 19,5 = 27,306 gr
% Berat Larutan = Berat Larutan/Berat total x 100%
- % Berat As. Asetat = 5,499/27,306 x 100% = 20,14 %
- % Berat CHCl3 = 2,307/27,306 x 100% = 8,45 %
- % Berat Air = 19,5/27,306 x 100% = 71,41 %
Konsentrasi III
- Berat As.Asetat = 6.76 x 0,9972 = 6,74 gr
- Berat CHCl3 = 2,8 x 1,44 = 4,032 gr
- Berat Air = 18,50 x 0,986 = 18,241 gr
Berat total = 6,74 + 4,032 + 18,241 = 29,013 gr
% Berat Larutan = Berat Larutan/Berat total x 100%
-

% Berat As. Asetat = 6,74/29,013 x 100% = 23,23 %


% Berat CHCl3 = 4,032/29,013 x 100% = 13,897 %
% Berat Air = 18,241/29,013 x 100% = 62,87 %

6. Pembuatan asam asetat dalam CHCl3 (konsentrasi dalam volume)


Asam Asetat = % Asam Asetat x Volume/BJ Asam Asetat
CHCl3= % CHCl3 x Volume/BJ CHCl3
-

Asam Asetat 17 % = 0,17 x 25/0,997 = 4,263 ml


CHCl3 83% = 0,83 X 25/1,442 = 14,390 ml
Asam Asetat 22 % = 0,22 x 25/0,997 = 5,516 ml
CHCl3 78% = 0,78 x 25/1,442 =13,523 ml
Asam Asetat 27% = 0,27 x 25/0,997 = 6,770 ml
CHCl3 73% = 0,73 x 25/1,442 = 12,656 ml

7. Titrasi dengan CHCl3


Konsentrasi

Vol. As.

Vol. Air

Vol. CHCl3

I
II
III

Asetat
4.623
5,516
6,770

8,9
5,7
6,3

8. Menghitung % berat dari masing-masing konsentrasi


Berat Larutan = Vol. Larutan x BJ Larutan
Konsentrasi I
- Berat As.Asetat = 4,263 x 0,997 = 4,25 gr
- Berat CHCl3 = 14,390 x 1,442 = 20,750 gr
- Berat Air = 8,9 x 0,988 = 8,793 gr
Berat total = 4,250 + 20,750 + 8,793 = 33,79 gr
% Berat Larutan = Berat Larutan/Berat total x 100%
- % Berat As. Asetat = 4,25/33,79 x 100% = 12,58 %
- % Berat CHCl3 = 20,75/33,79 x 100% = 61,41 %
- % Berat Air = 8.79/33,79 x 100% = 26,01 %
Konsentrasi II
- Berat As.Asetat = 5,516 x 0,997 = 5,499 gr
- Berat CHCl3 = 13,523 x 1,442 = 19,5 gr
- Berat Air = 5,7 x 0,988 = 5,632 gr
- Berat total = 5,499 + 19,5 + 5,632 = 30,631 gr
% Berat Larutan = Berat Larutan/Berat total x 100%
- % Berat As. Asetat = 5,499/30,631 x 100% = 17.95 %
- % Berat CHCl3 = 19,5/30,631 x 100 % = 63,66 %
- % Berat Air = 5,632/30,631 x 100 % = 18,39 %
Konsentrasi III
- Berat As.Asetat = 6.76 x 0,9972 = 6,74 gr
- Berat CHCl3 = 12,656 x 1,442 = 18,250 gr
- Berat Air = 6,3 x 0,988 = 6,22 gr
Berat total = 6,74 + 18,250 + 6,22 = 31,22 gr
% Berat Larutan = Berat Larutan/Berat total x 100%
-

% Berat As. Asetat = 6,74/31,22 x 100% = 21,62 %


% Berat CHCl3 = 18,25/31,22 x 100% = 58,46 %
% Berat Air = 6,22/31,22 x 100% = 19,92 %

14,390
13,523
12,656

9. Standarisasi KOH As. Oksalat


Pengenceran As. Oksalat
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 0,1 = 100 x 0,05
V1 = 50 ml

standarisasi KOH
VKOH x NKOH = VAs.Ok x NAs.Ok
25 x NKOH = 100 x 0,05
NKOH = 5/25 = 0,2 NKOH

Titrasi dengan As. Oksalat


Titrasi

As.

I
II
Rata-rata

Oksalat
0,4
0,2
0,3

10. Mencari berat lapisan atas & lapisan bawah dengan Picnometer
Lapisan atas = 36,47
Lapisan bawah = 45,50
11. Mengitung BJ Lapisan atas & Lapisan bawah
BJ lapisan bawah = 36,47 25,05/25 = 0,456 gr
BJ lapisan atas = 45,50 25,05/25 = 1,025 gr
12. Titrasi Lapisan bawah & lapisan atas
Vol.

Vol

Lap.

KOH

Atas
5ml

0,2 ml

Vla x Nla = VKOH x NKOH


5x Nla = 0,2 x 0,2
Nla = 0,008 N

Vol.

Vol

Lap.

KOH

bawah
2 ml
0,1 ml
Vlb x Nlb = VKOH x NKOH
2 x Nlb = 0,1 x 0,2
Nlb = 0,01 N
13. Menghitung berat lapisan atas & lapisan bawah
- Untuk lapisan bawah
Berat As. Asetat lapisan bawah = 0,01 x 2 x 60/1000 = 0,0029 gr

VI.

Berat Lapisan bawah = 2 x 0,456 = 0,912 gr


Untuk lapisan atas
Berat As. Asetat lapisan atas = 0,008 x 5 x 60/1000 = 0,0024gr
Berat lapisan atas = 5 x 1,025 = 5,125 gr

PEMBAHASAN
Pada percobaan ini dilakukan percobaan mengenai diagram terner sistem zat cair
tiga komponen dengan metode titrasi. Percobaan ini bertujuan untuk membuat kurva
kelarutan suatu cairan yang terdapat dalam campuran dua cairan tertentu.Prinsip dasar
dari percobaan ini adalah reaksi penggaraman dan reaksi netralisasi.Cairan yang
digunakan dalam percobaan ini adalah air (aquadest), CHCl3, asam asetat. Metode
titrasi ini dapat digunakan untuk memisahkan campuran yang terdiri dari dua cairan
yang saling melarut sempurna yaitu air dan asam asetat dititrasi dengan zat yang tidak
larut dengan campuran tersebut yaitu CHCl 3. Selain itu juga digunakan CHCl3 dan
asam asetat yang saling melarut yang kemudian dititrasi dengan zat yang tidak larut
dengan campuran tersebut yaitu air aquadest.
Dari hasil perhitungan tersebut dapat dibuat diagram fasa sistem untuk masing
masing percobaan yang digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu segitiga
sama sisi yang disebut diagram terner.
Berdasarkan percobaan pertama yang telah dilakukan terlihat bahwa semakin
banyak asam asetat yang digunakan dan volume CHCl3 yang digunakan semakin
banyak maka volume air yang digunakan semakin sedikit untuk memisahkan larutan
tersebut. Sedangkan pada percobaan kedua bahwa semakin banyak asam asetat yang
digunakan dan volume air yang diperlukan semakin banyak dan CHCl 3 yang
digunakan semakin sedikit. Larutan yang mengandung dua komponen yang saling
larut sempurna akan membentuk daerah berfase tunggal, sedangkan untuk komponen
yang tidak saling larut sempurna akan membentuk daerah fase dua. Semakin kecil
perbandingan volume asam asetat maka konsentrasinya makin kecil.

VII.

KESIMPULAN
a. Asam asetat,kloroform, dan air merupakan sistem 3 komponen yang dapat campur
sebagian dan dapat digambarkan dalam diagram terner

b. asam asetat dan air dapat campur seluruhnya begitu juga asam asetat dan
kloroform, tetapi air dan kloroform tidak dapat campur seluruhnya,hanya campur
sebagian saja
c. Titik akhir titrasi asam asetat (CH 3COOH) dan kloroform (CHCl3) dengan
aquadest (H2O) di tandai dengan timbulnya kekeruhan
d. Semakin banyak volume asam asetat dan semakin sedikit volume kloroform maka
semakin banyak volume aquadest yang dperlukan untuk menitrasi larutan tersebut
e. Penambahan aquadest pada larutan asam asetat pekat dan kloroform pada
komposisi yang berbeda menyebabkan perubahan daya saling larut antara kedua
zat tersebut.
VIII.

PERTANYAAN
1. Apa yang dimaksud dengan tie line, plat point dan kurva binodal?
Tie line adalah garis yang menunjukkan keadaan kesetimbangan dimana
komponen komponen bercampur. Plat point adalah titik jalin yang terdapat pada
diagram fase, atau semacam titik kritis. Kurva binodal adalah kurva yang terdiri
dari garis lengkung yang diperoleh dari beberapa titik dengan menarik sebuah
garis kesetimbangan dari susunan masing masing larutan untuk menentukan
kelarutan C dalam komposisi A dan B.

2. Gambarkan kurva binodal untuk jenis-jenis system 3 komponen yang diketahui!

C(CH3Cl)

10

90

20

800

30

70

40

60
XC

XA

50

50
40

60

30

70

20

800

10

90

A
10
(CH3COOH)

20

30

40

50

60

70

800

90

XB

3. Pecobaan yang dilakukan diatas termasuk jenis yang mana?


Percobaan di atas termasuk ke dalam system tiga komponen.
IX.

DAFTAR PUSTAKA
1. Modul Praktikum Fisika Terapan Universitas Muhammadiyah Jakarta

B
(H2O)

2. http://mutmainnahlatief.wordpress.com/2012/06/08/sistem-tiga-komponendiagram-fasa-sistem-terner
3. http://herirustamaji.wordpress.com/2012/05/22/fasa-dan-aturan-fasa