Anda di halaman 1dari 24

USULAN PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM
PENGEMBANGAN MEDIA STEREOSKOP DENGAN PEMAKSIMALAN
FUNGSI LENSA DAN RANCANG BANGUN RANGKA KAYU
UNTUK MENGANALISIS CITRA QUICKBIRD

BIDANG KEGIATAN:
PKM PENELITIAN

Diusulkan Oleh :
1. Ahmad Rudi Hartono

( 3201411018/ 2011 )

2. Desty Arimurti Kurnianingtyas

( 3201411015/ 2011 )

3. Athika Mustafa Dewi

( 3201412054 / 2012 )

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


SEMARANG
2013

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL................................................................................ ...............i


HAL PENGESAHAN................................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................iii
RINGKASAN............................................................................................................iv
BAB I. PENDAHULUAN.........................................................................................1
1.1. Latar Belakang.1
1.2. Perumusan Masalah ... .3
1.3. Tujuan. ... .3
1.4. Manfaat... .3
1.5. Luaran Yang Diharapkan .3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ........................... ..............................................4
BAB III. METODE PENELITIAN ...................................................................... 8
BAB IV. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN..................................................10
4.1. Anggaran Biaya.. 10
4.2. Jadwal Kegiatan.. 10
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ ..11
LAMPIRAN.............................................................................................................12
LAMPIRAN 1. Biodata Ketua dan Anggota. ..12

LAMPIRAN 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan ..15


LAMPIRAN 3. Susunan Organisai Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas... 17
LAMPIRAN 4. Surat Pernyataan Ketua Pelaksana. 18

iii

PENGEMBANGAN MEDIA STEREOSKOP DENGAN PEMAKSIMALAN


FUNGSI LENSA DAN RANCANG BANGUN RANGKA KAYU UNTUK
MENGANALISIS CITRA QUICKBIRD
Ahmad Rudi Hartono,Desty Arimurty Kurnianingtyas,Atikha Mustafa Dewi
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Stereoskop Cermin pada dasarnya adalah sebuah alat yang di rancang khusus untuk
dapat melihat suatu obyek yang awalnya berbentuk 2D menjadi 3D dengan cara cermin
menerapkan sistem fusi dua gambar. Fusi tersebut berlangsung pada saat bayangan yang
pada sebagian diterima dari mata kiri sehingga akan muncul satu kesimpulan berupa
gambaran suatu obyek yang memiliki suatu belahan komposisi yang utuh dan kompleks
Stereoskop cermin merupakan jenis baku yang banyak digunakan interpretasi citra.
Terdiri dari sepasang lensa, sepasang prisma atau cermin. Tiap dua kakinya dipasang
satu cermin. Stereoskop ini dirancang untuk pengamatan stereoskop bagi pasangan foto
stereo berukuran baku yang daerah pertampalan luasnya 60 % atau lebih. Jarak stereo
dibuat jauh lebih besar dari jarak pupil mata, yaitu sekitar 25 cm. Kelebihan dari
stereoskop ini adalah dilengkapi dengan binokuler dan batang paralaks atau stereometer.
Kekurangan yang dimiliki adalah harga yang mahal, perawatan yang sulit, dan tidak
praktis untuk dibawa ke lapangan. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk
mengembangkan media stereoskop bedasarkan pemaksimalan fungsi lensa. Untuk
memodifikasi rancang bangun rangka kayu stereoskop agar lebih efektif dan efisien.
Dengan melekukan modifikasi pada rangka dan lensa diharapkan saat melakukan
intrpretasi citra penguna tidak kebingungan.

iv

BAB I
PENDAHULUAN

Stereoskop merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk pengamatan tiga
dimensional atas foto udara yang bertampalan depan (dengan syarat tampalan minimal
50%). Alat ini merupakan alat yang sangat penting dalam interpretasi citra, terutama bagi
foto udara atau citra tertentu yang daripadanya dapat ditimbulkan perwujudan tiga
dimensional. Pada dasarnya alat ini terdiri dari lensa atau kombinasi antar lensa, cermin,
dan prisma.
Stereoskop cermin merupakan jenis baku yang banyak digunakan interpretasi
citra. Terdiri dari sepasang lensa, sepasang prisma atau cermin. Tiap dua kakinya
dipasang satu cermin. Stereoskop ini dirancang untuk pengamatan stereoskop bagi
pasangan foto stereo berukuran baku yang daerah pertampalan luasnya 60 % atau lebih.
Jarak stereo dibuat jauh lebih besar dari jarak pupil mata, yaitu sekitar 25 cm. Kelebihan
dari stereoskop ini adalah dilengkapi dengan binokuler dan batang paralaks atau
stereometer. Kekurangan yang dimiliki adalah harga yang mahal, perawatan yang sulit,
dan tidak praktis untuk dibawa ke lapangan.
Stereoskop Cermin pada dasarnya adalah sebuah alat yang di rancang khusus
untuk dapat melihat suatu obyek yang awalnya berbentuk 2D menjadi 3D dengan cara
cermin menerapkan sistem fusi dua gambar. Fusi tersebut berlangsung pada saat
bayangan yang pada sebagian diterima dari mata kiri sehingga akan muncul satu
kesimpulan berupa gambaran suatu obyek yang memiliki suatu belahan komposisi yang
utuh dan kompleks
Stereoskop cermin
1. Lebih berat daripada stereoskop kayu
2. Daerah yang dapat dilihat secara stereoskop lebih luas jika dibandingkan dengan
menggunakan stereoskop lensa.
3. Karena bentuknya agak besar maka agak lebih sukar dibawa ke lapangan
1

4. Harganaya lebih mahal


Stereoskop cermin dari kayu
1. Lebih murah daripada stereoskop cermin
2. Lebih ringan karena terbuat dari kayu
3. Mempunyai factor perbesaran yang cukup besar yaitu 3x
4. Lebih mudah dalam interpretasi penggunaan lahan

Sketsa Stereoskop Cermin

Salah satu spesifikasi stereoskop cermin sebagai berikut :


1.

Kerangka
a.

Jarak antar pusat medan pandang = 260 mm

b.

Jarak pandang stereoskopik :


1.Dengan mata biasa = 170 x 230 mm
2.Dengan pembesaran = 126 mm - 220 mm
3.Penyesuaian panjang kaki penyangga = 3 mm

2.

Kotak prisma dan pembesar


a. Pembesar 3 x = 70 mm
2

b. Pembesar 6 x = 35 mm
c. Jarak penyesuaian dioptri = + 5d
d. Jarak antar pupil mata = 65 + 10 mm
3.

Berat
a. Kerangka = 2,6 kg
b. Kotak prisma = 0,6 kg
c. Pembesar 3 x 200 g
d. Pembesaar 6 x 120 g

4.

Dimensi
a. Kerangka = 250 x 630 x 225 mm
b. Pembesar 3 x = 250 x 630 x 285 mm
c. Pembesar 6 x = 250 x 630 x 275 mm

1.1 Perumusan masalah


Dari latar belakang masalah diatas ada beberapa masalah yang teridentifikasi:.
1. Bagaimana mengembangkan media stereoskop berdasarkan pemaksimalan fungsi
lensa.
2. Bagaimana modifikasi rancang bangun rangka kayu stereoskop agar lebih efektif dan
efisien.
1.2 Tujuan penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam program ini antara lain:
1. Untuk mengembangkan media stereoskop bedasarkan pemaksimalan fungsi lensa.
2. Untuk memodifikasi rancang bangun rangka kayu stereoskop agar lebih efektif dan
efisien.
1.3 Kontribusi Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan produk penelitian berupa alat
sakaligus media pembelajara yang dapat memberikan gambaran yang kongkrit kepada
siswa dari pengatahuan yang abstrak. Selain itu rangka stereoskop juga dapat ditekuk
agar lebih efisien dan tidak memakan tempat waktu disimpan. setreoskop ini juga
mneggunakan pembesaran lensa 3 kali sehingga gambar labih tampak jelas. Stereoskop
3

ini mengunakan bahan dari kayu yang lebih murah dan lebih ringan dibandingkan dengan
mengunakan rangka dari baja yang tentunya mahal dan tentunya lebih berat. Stereoskop
berfungsi sebagai alat bantu untuk membaca citra foto udara secara 3D. Dengan
Stereoskop kita dapat mengetahui dengan jelas kenampakan geologi suatu wilayah
contohnya kontur. Stereoskop mempermudah kita untuk membayangkan kondisi geologi
daerah yang kita amati tanpa perlu bantuan maket penampang kontur

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Interpetasi merupakan kegiatan mengkaji obyek dan fenomena pada permukan


bumi melalui gambar / citra yang dibuat dengan kamera (dengan film sabagi perekam)
yang berada jauh ( tanpa persentuhan langsung dengan obyek/ fenomena tersebut) dan
mengambil maknanya sesuai dengan interpretasi yang dilakukan. Agar dapat melakukan
interpretasi foto udara secara tepat dan akurat , maka pengetahuan tetntang foto udra dan
peralatan yang digunakan untuk interpretasi perlu dipahami terlabih dahulu.
Peralatan yang penting dalam interpretasi foto udara adalah stereoskop. Alat ini
terdiri dari 2 lensa (serta kombinasinya) yang dapat digunkan untuk melihat kombinasi
pasangan stereo (dua lembar foto udara yang dibuat berurutan pada satu garis yang sama)
sahingga dapat menampakan gambar 3 dimensi. Kedua citra yang bertampalan diatur
sedemikian rupa sehingga dua titik yang terpisah akan tampak menjadi satu, kemudian
saya amati foto tersebut secara visual dengan bantuan stereoskop cermin, akan terlihat
gambar tiga dimensi pada daerah yang tampak di citra foto udara yaitu konturnya terlihat
sangat nyata. Dari foto udara tersebut dapat dibuat peta topografi dengan menggunakan
plastik transparan dan spidol OHP dengan cara memperhatikan kontur kemudian mulai di
jiplak di atas plastic transparan dengan OHP,tentunya dengan bantuan stereoskop cermin
Stereoskop cermin menggunakan paduan prisma dan cermin untuk memisahkan
garis pengliatan dai tiap mata pengamat. Setereoskop cermin mempunyai jarak antara dua
sayap cermin yang jauh lebih besar dari pada jarak pengamatan, sehingga pasangan foto
udara yang berukuran 240 mm dapat diletakan untuk di amati tanpa saling menutupi.
Untuk menghasilkan penbesaran hingga empat kali, dapat di gunakan binokuler pada
lensa pengamatan tetapi cakupan daerah yang di amati menjadi berkurang. Dengan
menggunakan stereoskop cermin yang tanpa atau dengan pembesaran kecil, penafsir
dapat mengamati semua atau hampir semua bagian yang stereoskopik dari pasangan foto
udara 24 mm, tanpa memindah foto udara atau stereoskopik. Stereoskop cermin pada
umumnya dilengkapi dengan paralaks meter untuk pengukuran paralaks.
5

Stereoskop Cermin adalah alat untuk melihat gambar 3 Dimensi


dari bentuk permukaan lahan yang ada pada foto udara berukuran
21 X 21 cm
Stereoskop Cermin terdiri dari :
a. Kerangka stereoskop
b. Cermin kanan dan kiri
c. Teleskop Binokuler
d. Penggaris Paralak Bar
e. Tutup cermin kanan dan kiri
f. Pembersih kaca
g. Tempat / Kotak stereoskop
h. Pegangan samping kiri dan kanan
Stereoskopis adalah merupakan ilmu yang sekaligus juga seni dalam penggunaan
tampilan binokuler untuk pengamatan fotografi yang bertampalan atau tampilan
perspektif lainnya. Penginderaan jauh sistem foto udara memanfaatkan teknik
stereoskopis ini untuk mendapatkan informasi turunan dari serangkaian data foto udara
seperti ketinggian, jarak, volume dan lain-lain. Untuk menghasilkan pandangan
stereoskopis ini, digunakan alat pengamatan yang mampu menghasilkan pandangan
stereoskopis pada foto udara bertampalan yaitu stereoskop. Melalui stereoskop ini,
obyek-obyek yang terdapat pada area tampalan foto akan nampak seperti gambar tiga
dimensi yang dapat diukur ketinggian atau kedalaman obyek tersebut.
Pandangan tiga dimensi dari hasil pengamatan stereoskopis ini muncul dalam otak
sebagai akibat adanya perpaduan dua gambar dengan sudut pandang yang berbeda.
Masing-masing mata pengamat (observer) akan mendapatkan informasi dari gambar yang

berada dibawahnya. Informasi dari kedua gambar tersebut diterima oleh otak manusia
dan diterjemahkan sebagai gambar yang tiga dimensi.
Serangkaian foto udara akan nampak menjadi tampilan tiga dimensi dalam proses
pengamatan stereoskopis jika :
a. Foto udara tersebut memiliki tampalan
b. Gambar dari foto udara tersebut memiliki sudut pengambilan yang berbeda dalam
satu jalur terbang yang sama.
c. Foto yang diamati hendaklah memiliki skala yang sama.
d. Kemampuan dari setiap orang dalam menghasilkan efek tiga dimensional
Tidak setiap pengamat memiliki kemampuan yang sama dalam menghasilkan sebuah
gambaran tiga dimensional pada serangkaian foto udara yang sama. Berberapa faktor
seperti jarak pupil mata, jauh dekat kemampuan fokus pandang, dan lain-lain adalah
sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang menghasilkan gambaran tiga
dimensional. Pertambahan usia seorang pengamat juga memungkinkan perubahan
kemampuan pengamat tersebut dalam menghasilkan pandangan tiga dimensional.
Dengan demikian seorang ahli fotogrametris yang bekerja dengan gambaran stereoskopis
juga memiliki kemungkinan mengalami kesulitan pembentukan gambaran tiga dimensi
pada masa tertentu.
Untuk dapat melihat sepasang foto yang saling overlap secara streoskopis tanpa
bantuan perlengkapan optis, sangat dirasakan sekali kesulitannya.
Hal ini disebabkan karena :
a. Melihat sepasang foto dari jarak yang dekat akan menyebabkan ketegangan pada
otot-otot mata.
b. Mata difokuskan pada jarak yang sangat pendek 15 cm dari foto yang terletak
diatas meja, sedangkan pada saat itu otak kita mengamati atau melihat sudut
paralaktis dengan tujuan dapat membentuk stereo model pada suatu jarak atau
kedalaman.

Keadaaan yang demikian sangat mengacaukan pandangan stereoskop.


Karena kesukaran-kesukaran itulah diperlukan suatu stereoskop untuk membantu kita
dalam pengamatan.
Menurut paine (1993) stereoskopi adalah ilmu pengetahuan tentang stereoskop
yang menguraikan penggunaan penglihatan binocular untuk mendapatkan efek 3 dimensi
(3D). penglihatan stereoskopi memungkinkan kita untuk melihat suatu obyek secara
simultan dari dua perspektif yang berbeda, seperti dua foto udara yang diambil dari
kedudukan kamera yang berbeda, untuk memperoleh kesan mental suatu model tiga
dimensi. Perwujudan penglihatan stereoskopis meliputi azas-azas mekanis maupun
fisiologis. Pandangan mata normal manusia sebenarnya secara alamiah dapat merekam
obyek secara stereoskopik. Hanya saja sering kali kita tidak memperhatikan kemampuan
tersebut. Juga tidak semua manusia dapat melakukannya, terutama bagi mereka yang
kemampuan matanya tidak seimbang.
Kesan kedalaman (depth perception) dalam stereoskopi terjadi karena titik titik
yang terletak pada elevasi elevasi yang berbeda telah mengalami pergeseran secara
topografis dengan besaran dan arah yang berbeda pada foto-foto yang berurutan. Selisih
didalam pergeseran disebut paralaks mutlak. Menurut Paine (1993) paralaks mutlak dalah
selisih aljabar, diukur sejajar garis terbang (sumbu x) dan sumbu-sumbu y yang berkaitan
untuk dua gambar dari suatu titik pada sepasang foto udara yang stereoskopis.
Untuk mengetahui besarnya paralaks mutlak dapat dilakukan dengan meletakkan
jalur terbang pada foto. Sumbu x dari suatu titik adalah sejajar dengan arah jalur terbang.
Setiap jalur terbang menjadi titik tengah dari foto-foto yang dihasilkan. Karena tampalan
depan foto udara minimal 50%, maka setiap titik tengah foto udara akan terganbar pada
foto berikutnya sebagai titi pindahan. Dengan menarik suatu garis dari titik tengah foto ke
titik tengah pindahan berarti jalur terbang telah ditetapkan.
Menurut La prade, stereoskop wheatstoneterdiri dari dua cermin untuk mengamati
pasangan foto stereo agar tampak tiga dimensional. Dalam perkembanganya, stereoskop
ini meliputi 3 jenis, yakni stereoskop lensa (ada yang menyebutnya stereoskop saku,
karena mudahnya dimasukkan kedalam saku sehingga mudah di bawa kelapangan),
stereokop cermin (ada yang menyebutnya stereoskop meja, karena hanya dapat
8

digunakan diatas meja), dan stereoskop mikroskopik (disebut demikian karena


pembesarannya yang sangat besar sehingga fungsinya mirip dengan mikroskop).
Stereoskop mikroskop ini terdiri dari dua jenis mikroskop, yakni zoom stereoskop dan
interpretoskop.
3 dimensi atau biasa disingkat 3D atau disebut ruang, adalah bentuk dari benda
yang memiliki panjang, lebar, dan tinggi. Istilah ini biasanya digunakan dalam bidang
seni, animasi, komputer dan matematika.
Pandangan tiga dimensi dari hasil pengamatan stereoskopis ini muncul dalam otak
sebagai akibat adanya perpaduan dua gambar dengan sudut pandang yang berbeda.
Masing-masing mata pengamat (observer) akan mendapatkan informasi dari gambar yang
berada dibawahnya. Informasi dari kedua gambar tersebut diterima oleh otak manusia
dan diterjemahkan sebagai gambar yang tiga dimensi. Serangkaian foto udara akan
nampak menjadi tampilan tiga dimensi dalam proses pengamatan stereoskopis jika :
a. Foto udara tersebut memiliki tampalan
b. Gambar dari foto udara tersebut memiliki sudut pengambilan yang berbeda dalam
satu jalur terbang yang sama
c. Foto yang diamati hendaklah memiliki skala yang sama
Selain dari syarat dari foto udara tersebut diatas, kemampuan dari setiap orang dalam
menghasilkan efek tiga dimensional juga sangat bervariasi. Tidak setiap pengamat
memiliki kemampuan yang sama dalam menghasilkan sebuah gambaran tiga dimensional
pada serangkaian foto udara yang sama. Berberapa faktor seperti jarak pupil mata, jauh
dekat kemampuan fokus pandang, dan lain-lain adalah sangat berpengaruh terhadap
kemampuan seseorang menghasilkan gambaran tiga dimensional. Pertambahan usia
seorang pengamat juga memungkinkan perubahan kemampuan pengamat tersebut dalam
menghasilkan pandangan tiga dimensional. Dengan demikian seorang ahli fotogrametris
yang bekerja dengan gambaran stereoskopis juga memiliki kemungkinan mengalami
kesulitan pembentukan gambaran tiga dimensi pada masa tertentu.

BAB III
METODE PENELITIAN

1. Penjelasan tentang stereoskop


Stereoskop merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk pengamatan tiga
dimensional atas foto udara yang bertampalan depan (dengan syarat tampalan
minimal 50%). Alat ini merupakan alat yang sangat penting dalam interpretasi citra,
terutama bagi foto udara atau citra tertentu yang daripadanya dapat ditimbulkan
perwujudan tiga dimensional. Pada dasarnya alat ini terdiri dari lensa atau kombinasi
antar lensa, cermin, dan prisma.
Stereoskop cermin merupakan jenis baku yang banyak digunakan interpretasi
citra. Terdiri dari sepasang lensa, sepasang prisma atau cermin. Tiap dua kakinya
dipasang satu cermin. Stereoskop ini dirancang untuk pengamatan stereoskop bagi
pasangan foto stereo berukuran baku yang daerah pertampalan luasnya 60 % atau
lebih. Jarak stereo dibuat jauh lebih besar dari jarak pupil mata, yaitu sekitar 25 cm.
Kelebihan dari stereoskop ini adalah dilengkapi dengan binokuler dan batang paralaks
atau stereometer. Kekurangan yang dimiliki adalah harga yang mahal, perawatan
yang sulit, dan tidak praktis untuk dibawa ke lapangan.
2. Modifikasi steroskop
Modifikasi bagian bodi
a. Rangka lipat
rangka ini memgkinkan stereoskop untuk ditekuk sahingga saat
penyimpanan tidak memekan banyak tampat. Karena dapat ditekuk
steroskop ini dpat lebih efisiean dan sfektif.
b. Modifikasi bentuk wadah lensa mengunakan pembesaran 3x
Pembesaran 3 kali digunakan untuk memperjalas daerah dilihat dengan
stereoskop untuk interpretasi citra google earth, terutama untuk intrtpretasi
penggunaan lahan.
c. Memperluas wilahay cakupan stereoskopis dengan modifikasi peletakan
cermin
10

Digunakan cermin sedikit lebih besar untuk memperluas daerah cakupan


stereoskop dan memodifikasi penempatan cermin.
d. Rangka terbuat dari kayu untuk menekan harga
Supaya lebih murah digunakan kayau untuk menekan haraga agar
stereoskop lebih murah dan labih ringan.
Modifikasi pada lensa
a.Penyesuaian perbesaran
b.Model lensa
c.Pemaksilaman fungsi lensa pada stereoskop
3. Fitur tambahan box untuk tempat stereoskop
Box digunakan untuk tempat penyimpanan stereoskop agar lebih praktis, tidak
memakan tempat, tidak mudah kotor, mudah untuk disimpan.

11

BAB IV
BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1 Anggaran Biaya


NO

Jenis Pengeluaran

Biaya (Rp.)

Peralatan Penunjang

3.950.000

Bahan Habis Pakai

3.960.000

Perjalanan

600.000

Lain-lain

1.700.00
Jumlah

10.310.000

4.2 Jadwal Kegiatan


Secara keseluruhan kegiatan ini akan dilaksanakan selama 4 bulan dengan rincian
kegiatan sebagai berikut:
bulan
Rincian kegiatan
Persiapan bahan-bahan yang akan digunakan dalam pembuatan
media
Pembuatan media pembelajaran
Melakukan pengujian
Pembuatan laporan akhir

12

DAFTAR PUSTAKA

Budi Cahyono, Agung dan Hapsari, Hepi. 2005. Petunjuk Praktikum Fotogrametri I.
Surabaya: Program Studi Teknik Geodesi ITS
Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Haryanto, Teguh. 2003. Photogrametri I. Surabaya: Program Studi Teknik geodesi ITS
Panduan Praktikum- Survey Tanah Dan Evaluasi Lahan TA 2009/2010- JUR TANAHFRAPERTA-UNIV BRAWIJAYA
Sutanto.1987.Penginderaan Jauh Jilid 2.Yogyakarta:Gadjah Mada University
http://developer.nvidia.com/object/3d_stereo_dev.html diakses pada pukul 19.30 WIB.
selasa. 10 september 2013.
http://developer.nvidia.com/object/nvapi.html diakses pada pukul 19.30 WIB. selasa. 10
september 20213.
http://oxforddictionaries.com diakses pada pukul 22.30 WIB. selasa. 24 september 20213.
http://id.wikipedia.orgdiakses pada 22.30WIB. selasa. 24 september 20213.

13

14

15

16

LAMPIRAN 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan


1. Peralatan Penunjang
No

Material

1
2
3
4

Citra quikbird
Engsel
Kotak box
Paku Reng

Lem Kayu

Lensa

Cermin/ Kaca

Kayu

Justifikasi
Pemakaian
Bahan
Alat Pembuatan
Alat Pembuatan
Bahan
Pembuatan
Bahan
Pembuatan
Bahan
Pembuatan
Bahan
Pembuatan
Bahan
Pembuatan
SUB TOTAL

2. Bahan Habis Pakai


No Material
Justifikasi
.
Pemakaian
1.
Snack
Makanan ringan
2.

Makan

Makan

Kuantitas

2 Buah
2 Buah
1 Buah
1 Kg
2 Bungkus

Harga
Satuan
(Rp)
350.000,00
150.000,00
500.000,00
20.000,00

1.

2.

SemarangRembang
pulang pergi
Pembelian alat

Justifikasi
Pemakain
Perjalanan
pembuatan
stereoskop
Perjalanan
Kegiatan

Rp. 700.000,00
Rp. 300.000,00
Rp. 500.000,00
Rp. 20.000,00

15.000,00 Rp. 30.000,00

2 Buah

200.000,00 Rp. 400.000,00

2 Buah/ 1
m
10 Buah

250.000,00 Rp. 500.000,00


150.000,00 Rp. 1.500.000,00
Rp. 3.950.000,00

Kuantitas
3 orang

Harga
Satuan (Rp)
7.000,00

3 orang

15.000,00

Kuantitas

Harga
Satuan (Rp)
100.000,00
(PulangPergi)
100.000,00
(PulangPergi)

SUB TOTAL

3. Perjalanan
No Material

Keterangan

2 kali

4 kali

SUB TOTAL

Keterangan
Rp. 21.000,00 x
60 pertemuan
Rp. 45.000,00 x
60 pertemuan
Rp. 3.960.000,00

Keterangan
Rp. 200.000,00

Rp. 400.000,00

Rp. 600.000,00
17

4. Lain-lain
No.

1.

Material

Justifikasi
Pemakaian

Sewa camera
digital

Dokumentasi

Sewa
handycam

Dokumentasi

3.

Kaset video

Penyimpanan

Penyusunan
laporan

5.

2.

Kuantitas

Harga
Satuan
(Rp)

1 buah

Keterangan

Rp. 200.000,00
200.000,00

1 buah

Rp. 250.000,00
250.000,00

2 buah

25.000,00

Rp. 50.000,00

Fotocopy
dan 5 eksemplar
mengeprint

50.000,00

Rp. 250.000,00

Penggandaan
arsip

Fotocopy

5 eksemplar

50.000,00

Rp. 250.000,00

Publikasi

Publikasi

200.000,00 Rp. 200.000,00

Seminar

Seminar

500.000,00 Rp.500.000,00

SUB TOTAL

Rp.1. 700.000,00

18

LAMPIRAN 3. Susunan Organisasi Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas

No.

Nama/NIM

Program
studi

Bidang
Ilmu

Alokasi
Waktu
(jam/mingg
u)

Uraian Tugas

1.

Ahmad Rudi
Hartono /
3201411018

Pendidikan
Geografi

Geografi 5
jam/minggu

1. Mengkoordinasi
seluruh jalannya
kegiatan.
2. Menyiapkan
konsep pembuatan
Stereoskop dan
Penggunaannya
untuk Identifikasi
Citra Quickbird
3. Pembuatan media
pembelajaran

2.

Desty Arimurty
Kurnianingtyas /
3201411015

Pendidikan
Geografi

Geografi 4
jam/minggu

1. Melakukan
pengujian media
2. Melakukan
Pembuatan laporan
akhir

3.

Atikha Mustafa
dewi /
3201412054

Pendidikan
Geografi

Geografi 4
jam/minggu

19

1. Menyiapkan
peralatan yang
dibutuhkan
selama
kegiatan.
2. Mengurus
dokumentasi
kegiatan.

20