Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI DAN FISIOLOGI

MANUSIA
Alat Penglihatan dan Alat Pendengaran

Disusun Oleh :

Vita Istiqomah

3415110315

Anggi Dyah Aristi

3415111375

Ria Lestari

3415111382

Shelena Nugraha R Dewi

3415111389

Irma Fitriyani

3415111390

PENDIDIKAN BIOLOGI REGULER 2011


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2013

KAJIAN TEORI
I.

Alat Penglihatan
Cahaya
yang masuk

melalui

kornea

diteruskan ke

pupil. Pupil

merupakan lubang bundar anterior di bagian tengah iris yang mengatur jumlah cahaya
yang masuk ke mata. Jika intensitas cahaya tinggi, maka pupil akan mengecil. Reaksi ini
dikenal dengan refleks cahaya pupil. Jarak saraf untuk refleks ini diperlihatkan oleh dua
jalur hitam pada gambar. Bila cahaya mengenai retina, terjadi beberapa impuls yang
mula-mula berjalan melalui nervus optikus menuju nervus pretektalis. Dari sini, impuls
berjalan ke nukleus Edinger-Westphal dan akhirnya kembali melalui saraf parasimpatik
untuk mengkonstriksikan sfingter iris. Sebaliknya dalam keadaan gelap, refleks ini
dihambat oleh saraf simpatis yang menyebabkan dilatasi pupil (Guyton, 2007: 679).
Dengan keadaan pupil yang berdilatasi ini, cahaya dapat masuk ke dalam mata dengan
intensitas yang lebih, sehingga objek dapat dilihat. Pupil adalah lubang di pusat iris mata.
Lubang itu bisa mengembang dan menguncup seiring dengan aktivitas muskulus
dilatator dan musculus sfingter pupilae. Kedua otot itu ialah otot polos yang disarafi oleh
serabut parasimpatetik dan serabut ortosimpatetik. Diameter pupil ditentukan oleh
keseimbangan aktivitas parasimpatetik dan ortosimpatetik. Pupil yang normal
1
mempunyai diamter yang berkisar antara 2-6 mm. Rata-rata diamtere pupil adalah 3 2
mm. Tidak semua individu sehat mempunyai diameter pupil yang sama. Diantaranya
17% menunujukkan anisokoria dengan selisih sampai 1 mm dalam diameternya.
Anisokoria dianggap tidak patologis selama kedua pupil bereaksi terhadap penyinaran
dengan sama cepatnya (Arif Muttaqin, 2008)
Pupil yang sempit disebut miosis dan pupil yang lebar disebut midriasis. Pada
keadaan nyeri, ketakutan, dan cemas terjadi midriasis. Dalam keadaan tidur, koma yang
dalam dan tekanan intrakranial yang meningkat terjadi miosis. Midriasis dan miosis
unilateral adalah patologis.
Dalam suatu eksperimen mengenai konstriksi pupil digunakan gambar sebagai
modulator untuk mengetahui respon pupil terhadap cahaya, kontras gambar, inversi ,dan
kecerahan warna dalam gambar, didapatkan hasil bahwa gambar tegak menginduksi
kontriksi lebih besar pada diameter pupil daripada gambar terbalik, perbedaan dalam
pencahayaan memperkirakan pada konten gambar tingkat tinggi akan memicu pupil
dilatasi, ukuran pupil menyesuaikan terhadap perubahan persepsi di kecerahan dan

kontras. (Marnix Naber & Ken Nakayama, 2013). Respon pupil juga dapat disebabkan
karena pengolahan adegan atau kejadian, dapat dikaitkan dengan perubahan kognitif lain
dari stimulasi simpatis (Steinhauer, Siegle, Condray, & Pless, 2004 dalam Journal of
Vision (2013) 13(6):7, 18).
Pada umumnya pupil adalah bundar dan batasnya rata dan licin. Ukuran kedua pupil
dapat berubah-ubah setiap saat, karena terjadi konstriksi dan dilatasi pupil secara
berselingan menurut irama tertentu. Gejala tersebut dikenal sebagai hipus. Pada ekspirasi,
terjadi sedikit konstriksi pupil yang mengembang kembali sewaktu inspirasi.
Refleks Pupil
Ukuran pupil dikendalikan oleh keseimbangan antara tonus parasiompatis
(konstriktor) dan simpatis (dilator).
a. Konstriksi pupil sebagai respon terhadap cahaya.
Refleks cahaya pada pupil adalah refleks yang mengontrol diameter pupil,
sebagai tanggapan terhadap intensitas (pencahayaan) cahaya yang jatuh pada retina
mata. Intensitas cahaya yang lebih besar menyebabkan pupil menjadi lebih kecil
(kurangnya cahaya yang masuk), sedangkan intensitas cahaya yang lebih rendah
menyebabkan pupil menjadi lebih besar ( banyak cahaya yang masuk). Jadi, refleks
cahaya pupil mengatur intensitas cahaya yang memasuki mata.Cahaya diteruskan
melalui nervus optikus, nukleus genikulatum lateral, nukleus Edinger-Westphal dari
N. III dan ganglion siliaris. Korteks tidak terlibat
b. Refleks konsensual atau refleks cahaya tak langsung.
Penyinaran terhadap pupil sesisi akan menimbulkan miosis pada pupil kedua
sisi. Miosis pada pupil yang tidak disinari, yang terjadi karena pupil sisi yang lain
disoroti sinar lampu, dikenal sebagai reaksi pupil konsensi atau reaksi cahaya tak
langsung.
c. Refleks pupil akibat akomodasi
Menurut David,dkk:2007, Konvergensi terjadi dalam korteks dan diteruskan
ke pupil melalui nukleus genikulatum laterale tidak terlibat. Maka :
Jika refleks cahaya langsung negatif dan refleks konvergen positif, menunjukkan
adanya lesi lokal pada batang otak atau ganglion siliaris, kemungkinan akibat

degenerasi ganglion siliaris, misalnya pupil Argyll-Robertson pada sifilis;


Jika refleks langsung positif, menunjukkan adanya lesi korteks serebri, misalnya
kebutaan kortikal.
Pemeriksaan refleks pupil harus dilakukan pada ruangan dengan penerangan

rendah. Bentuk pupil harus diamati dengan teliti untuk mencari iregularitas. Senter

disorotkan dua kali pada tiap mata ( satu untuk respons langsung dan satu lagi untuk
respons konsensual), sebaiknya dari arah samping sehingga pasien tidak memfokuskan
pandangan ke arah cahaya ( sehingga timbul refleks akomodasi-konvergensi). Pupil juga
akan berkontriksi jika fokus suatu benda dipindahkan dari jarak jauh ke dekat. Pada
orang usia lanjut, saat lensa tidak mampu lagi berakomodasi (mengubah ketebalan lensa
untuk penglihatan jauh dan dekat), maka konstriksi pupil akan tetap terjadi disertai oleh
konvergensi mata yang dirangsang dengan menfokuskan pandangan ke objek yang dekat.
Gangguan Fungsi Pupil
Lesi pada jaras refleks pupil secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi
defek aferen dan defek eferen. Defek aferen seringkali tidak lengkap, yaitu satu mata
yang terkena dapat tetap merespons secara langsung (direk) terhadap cahaya, tetapi tidak
demikian pada mata lainnya. Defek pupil aferen relatif merupakan tanda penting neuritis
optik. Hal paling baik diperlihatkan dengan menggunakan tes swinging torch/cahaya
berayun, yaitu penyinaran cahaya diberikan secara berulang pada mata yang terkena
bergantian pada mata yang sehat. Ketika cahaya mengenai mata yang sehat, maka kedua
pupil berkonstriksi. Ketika cahaya disinarkan pada mata yang terkena, maka terjadi
dilatasi kedua pupil. Hal ini disebabkan oleh refleks cahaya langsung yang lemah pada
mata yang sakit akan lebih diimbangi oleh penghentian stimulus dari mata normal yang
akan menyebabkan dilatasi konsensual.
Terdapat 2 sindrom pupil yang sering dikenal, (Lionel, 2005) :

Pupil Argyll Robertson, tanda klasik dari neurosifilis yang saat ini sudah jarang
ditemukan. Pupil iregular, dengan respons akomodasi yang masih baik, tetapi refleks

cahaya menurun atau tidak ada.


Pupil Miotonik, pupil yang terganggu berdilatasi, refleks cahaya terganggu, tetapi
berkonstriksi sangat lambat pada penglihatan dekat. Refleks akomodasi untuk
penglihatan dekat dapat menjadi tonik dan menunjukkan perlambatan redilatasi.

Visus
Visus (ketajaman penglihatan) adalah nilai kebalikan sudut (dalam menit) terkecil di
mana sebuah benda masih kelihatan dan dapat dibedakan (Gabriel, 1996). Menurut Edi S.
Affandi (2005) , tajam penglihatan adalah kemampuan untuk membedakan antara dua
titik yang berbeda pada jarak tertentu.

Ketajaman penglihatan seseorang dapat berkurang. Hal ini disebabkan antara lain oleh
faktor-faktor sebagai berikut:
1. Kuat Penerangan atau Pencahayaan
Mata manusia sensitif terhadap kekuatan pencahayaan, mulai dari beberapa
lux di dalam ruangan gelap hingga 100.000 lux di tengah terik matahari. Kekuatan
pencahayaan ini aneka ragam yaitu berkisar 2000-100.000 di tempat terbuka
sepanjang siang dan 50-500 lux pada malam hari dengan pencahayaan buatan.
Penambahan kekuatan cahaya berarti menambah daya, tetapi kelelahan relatif
bertambah pula. Kelelahan ini diantaranya akan mempertinggi kecelakaan.
Namun meskipun pencahayaan cukup, harus dilihat pula aspek kualitas
pencahayaan, antara lain faktor letak sumber cahaya. Sinar yang salah arah dan
pencahayaan yang sangat kuat menyebabkan kilauan pada obyek. Kilauan ini dapat
menimbulkan kerusakan mata. Begitu juga penyebaran cahaya di dalam ruangan
harus merata supaya mata tidak perlu lagi menyesuaikan terhadap berbagai kontras
silau, sebab keanekaragaman kontras silau menyebabkan kelelahan mata. Sedangkan
kelelahan mata dapat menyebabkan:
Iritasi, mata berair dan kelopak mata berwarna merah (konjungtivitis)
Penglihatan rangkap
Sakit kepala
Ketajaman penglihatan merosot, begitu pula kepekaan terhadap perbedaan

(contrast sensitivity) dan kecepatan pandangan


Kekuatan menyesuaikan (accomodation) dan konvergensi menurun

(Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat, 1990 ).


2. Waktu Papar

Pemaparan terus menerus misalnya pada pekerja sektor perindustrian yang


jam kerjanya melebihi 40 jam/minggu dapat menimbulkan berbagai penyakit akibat
kerja. Yang dimaksud dengan jam kerja adalah jam waktu bekerja termasuk waktu
istirahat (Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat, 1990 ). Meskipun terjadi
keanekaragaman jam kerja, umumnya pekerja informal bekerja lebih dari 7 jam/hari.
Hal ini menimbulkan adannya beban tambahan pada pekerja yang pada akhirnya
menyebabkan kelelahan.mental dan kelelahan mata.
3. Umur
Ketajaman penglihatan berkurang menurut bertambahnya usia. Pada tenaga
kerja berusia lebih dari 40 tahun, visus jarang ditemukan 6/6, melainkan berkurang.
Maka dari itu, kontras dan ukuran benda perlu lebih besar untuk melihat dengan
ketajaman yang sama (Sumamur, 1996). Makin banyak umur, lensa bertambah besar

dan lebih pipih, berwarna kekuningan dan menjadi lebih keras. Hal ini mengakibatkan
lensa kehilangan kekenyalannya, dan karena itu, kapasitasnya untuk melengkung juga
berkurang. Akibatnya, titik-titik dekat menjauhi mata, sedang titik jauh pada
umumnya tetap saja.
4. Kelainan Refraksi

Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang
terdiri atas kornea, cairan mata, lensa, benda kaca, dan panjangnya bola mata. Pada
orang normal susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjangnya bola mata
demikian seimbang sehingga bayangan benda selalu melalui media penglihatan
dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Mata yang normal disebut sebagai mata
emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan
mata tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh (Ilyas, 2004).
Pada penentuan visus, para ahli mata mempergunakan kartu Snellen, dengan
berbagai ukuran huruf dan jarak yang sudah ditentukan. Misalnya mata normal pada
waktu diperiksa diperoleh 20/40 berarti penderita dapat membaca huruf pada 20 ft
sedangkan bagi mata normal dapat membaca pada jarak 40 ft, (20 ft = 4 meter).
Dengan demikian dapat ditulis rumus :
V=

d
D

Keterangan :
d = Jarak yang dapat dilihat oleh OP
D = Jarak yang dapat dilihat oleh maa normal.
Penggunaan kartu Snellen ini, kualitasnya terkadang meragukan karena huruf
yang sama besarnya mempunyai derajat kesukaran yang berbeda, demikian pula huruf
dengan ukuran berbeda kadang-kadang tidak sama bentuknya.
Buta Warna
Terjadi akibat disfungsi atau ketiadaan subtipe (konus) fotoreseptor yang distimulasi
oleh cahaya merah, hijau atau biru yang menyebabkan kesulitan membedakan warna
tertentu. Buta warna yang disebabkan oleh defisiensi salah satu subtipe konus ini sering
kali mengenai konus merah atau hijau, (Chris Brooker, 2008)
Pemeriksaan penglihatan warna digunakan untuk mendeteksi adanya defek dalam
fungsi ketiga subtipe ( hijau,biru, atau merah) sel konus. Diduga bahwa 7% populasi pria
mengalami buta warna, banyak dari mereka yang tidak menyadari bahwa ada sesuatu

yang salah. Sensitivitas warna berkurang di beberapa kondisi okular, termasuk neuritis
opik dan beberapa gangguan makular.
Metode umum dalam pemeriksaan penglihatan warna adalah dengan uji Ishihara yang
meminta individu melihat serangkaian lempeng warna dengan nomor atau hruf yang
terdapat di dalamnya. OP diminta untuk mengatakan huruf atau nomor yang tertera.
Individu yang normal mampu melihat nomor atau huruf pada setiap lempeng, sementara
individu yang mengalami defek penglihatan warna tidak dapat melihat satupun nomor
atau huruf tersebut (defek monokromatik), atau hanya dapat mengidentifikasi beberapa di
antaranya, bergantung pada tipe konus yang mengalami defek.
II.

Alat Pendengaran
Anatomi Sistem Pendengaran
Pendengaran adalah persepsi terhadap rangsangan bunyi atau persepsi saraf
mengenai energi suara. Organ yang berperan dalam sistem pendengaran adalah telinga.
Telinga merupakan organ pendengaran dan juga memainkan peran penting dalam
mempertahankan keseimbangan. Peran telinga itu sendiri dalam sistem pendengaran
yaitu menerima gelombang suara, membedakan frekuensinya dan akhirnya mengirimkan
informasi suara ke dalam sistem saraf pusat. Bagian-bagian yang berperan dalam
pendengaran : bagian luar, bagian tengah, dan koklea. Bagian-bagian yang berperan
dalam keseimbangan : kanal semisirkular, utrikel, dan sakulus. (Roger Watson, 2002).
Telinga terdiri dari tiga bagian yaitu telinga luar, tengah, dan dalam. Bagian luar dan
tengah telinga menyalurkan gelombang suara dari udara ke telinga dalam yang berisi
cairan, untuk memperkuat energi suara dalam proses tersebut. Telinga dalam dua sistem
sensorik yang berbeda: koklea yang mengandung reseptor-reseptor untuk mengubah
gelombang suara menjadi impuls-impuls saraf, sehingga kita dapat mendengar; dan
aparatus vestibularis yang penting untuk sensasi keseimbangan (Sherwood, 2001).
Telinga luar terdiri dari atas aurikula (daun telinga) dan liang telinga luar (meatus
akustikus eksternus). Meatus akustikus eksternus terdapat di antara daun telinga dan
membrana timpani (Junqueira, 2009). Seluruhnya dilapisi kulit, denan rambut, kelenjar
sebasea dan kelenjar apokrin yang telah dimodifikasi disebut kelenjar seruminosa.
Kelenjar ini mensekresi serumen atau tahi telinga. Normalnya harus basah, sesuai
fungsinya untuk menangkap benda asing dan mencegah serangga masuk. Telinga luar
dipisahkan dari telinga luar oleh membrana timpani.
Telinga bagian tengah merupakan merupakan ruang kecil dalam tulang temporal,
dipisahkan oleh membran timpani dari telinga bagian luar, dinding selanjutnya dibentuk
oleh dinding bagian lateral telinga dalam. Rongga tersebut dikelilingi membran mukosa

dan berisi udara yang masuk dari faring melalui saluran pendengaran. Hal ini membuat
tekanan udara di kedua sisi membran timpani sama. Telinga tengah terdiri dari tiga
tulang tipis, yang disebut osikel, yang menghantarkan getaran ke membrana timpani
melalui telinga dalam. Membran timpani tipis dan semitransparan dan tempat
melekatnya malleus, osikel pertama, melekat dengan kuat ke permukaan dalam. Inkus
berartikulasi dengan malleus dan stapes, bagian dasar osikel, yang menempel pada
fenestra vestibuli dan mengarah ke bagian dalam telinga. Dinding posterior telinga
tengah terbuka tidak beraturan, mengarah ke mastoid antrum dan membelok ke
sekolompok sel udara mastoid, seperti sinus nasal yang terinfeksi.
Telinga dalam (disebut juga labirin) terdiri atas sebuah sistem saluran yang tak
beraturan (labirin membranosa) yang dibatasi oleh tulang (labirin tulang). Labirin tulang
dapat dibagi dalam tiga bagian yang secara struktural dan fungsional berbeda, yaitu
vestibulum, koklea dan kanalis semisirkularis (Junqueira, 2009). Labirin tulang ini
berisikan prelimfe. Labirin membranosa, yang dikelilingi dan berenang dalam prelimfe,
berisikan endolimfe. Terdapat keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan
endolimfe dalam telinga dalam; banyak kelainan telinga dalam terjadi bila keseimbangan
ini terganggu (Setiadi, 2008).
Di dalam vestibulum terdapat dua kantong labirin bermembran, yaitu sakulus dan
utrikulus. Sakulus, yang lebih kecil, berhubungan dengan duktus koklearis melalui
saluran kecil, sedangkan utrikulus berhubungan dengan kanalis semisirkularis. Pada
sakulus dan utrikulus terdapat reseptor keseimbangan yang disebut makula, untuk
memantau perubahan posisi kepala.
Terdapat tiga kanalis semisirkularis, yang tersusun dalam tiga bidang berbeda
(anterior, posterior dan lateral). Di dalam kanalis semisirkularis tulang terdapat tiga
duktus semisirkularis. Masing-masing duktus memiliki satu ujung yang melebar disebut
ampula, yang berisikan reseptor keseimbangan disebut krista ampularis. Reseptor ini
berespons terhadap gerak anguler (rotasi) dari kepala.
Koklea adalah saluran tulang berpilin konis (rumah siput). Meluas dari bagian
anteroir vestibulum dan berpilin 2 kali mengelilingi tulang yang disebut modiolus. Di
dalamnya terdapat duktus koklearis, yang berakhir buntu di apeks koklea. Di dalam
duktus koklearis terdapat organ corti, reseptor pendengaran. Duktus koklearis bersama
lamina spiralis membagi rongga koklea menjadi tiga bagian (skala) terpisah, yaitu skala
vestibuli (atas), skala media atau duktus koklearis (tengah) dan skala timpani (bawah).
Dua bagian labirin tulang yang terletak di atas dan di bawah skala media adalah
skala vestibuli dan skala timpani. Kedua skala tersebut mengandung cairan prelimfe dan

terus memanjang melalui lubang pada apeks koklea, yang disebut helikotrema. Membran
reissner memisahkan skala media dari skala vestibuli, yang berhubungan dengan fenestra
vestibuli. Membran basilar memisahkan skala media dari skala timpani, yang
berhubungan dengan fenestra cochleae (Ethel Sloane, 2004).
Gelombang Suara
Suara adalah sensasi yang timbul apabila getaran longitudinal molekul di lingkungan
eksternal, yaitu masa pemadatan dan pelonggaran molekul yang terjadi berselang seling
mengenai membran timpani. Plot gerakan-gerakan ini sebagai perubahan tekanan di
membran timpani persatuan waktu adalah satuan gelombang, dan gerakan semacam itu
dalam lingkungan secara umum disebut gelombang suara (Ganong, 2005).
Suara adalah sensasi yang dihasilkan karena gerakan longitudinal molekul-molekul
dari lingkungan luar, berupa pemadatan dan perenggangan molekul, secara silih berganti
mengenai membran timpani. Pola gerakan ini digambarkan sebagai perubahan tekanan
pada membran timpani tiap unit waktu yang berupa sederetan gelombang yang disebut
gelombang suara (Tri Murtiati, 2012).
Gelombang suara adalah getaran udara yang merambat dan terdiri dari daerahdaerah bertekanan tinggi karena kompresi (pemampatan) molekul-molekul udara yang
berselang-seling

dengan

daerah-daerah

bertekanan

rendah

karena

penjarangan

(rarefaction) molekul tersebut (Sherwoood, 2001).


Setiap alat yang mampu menghasilkan pola gangguan molekul udara seperti itu
adalah sumber suara. Suatu contoh sederhana adalah garpu tala. Sewaktu dipukulkan,
gigi garpu tala bergerak satu arah, molekul-molekul udara didepannya terdorong
bersama, atau tertekan, sehingga terjadi peningkatan tekanan di daerah ini. Secara
bersamaan, molekul-molekul udara di belakang gigi garpu tala menyebar atau
mengalami penjarangan sewaktu gigi bergerak ke depan, sehingga terjadi penurunan
tekanan di daerah ini. Pada saat gigi garpu tala bergerak ke arah yang berlawanan,
tercipta gelombang pemampatan dan penjarangan yang berlawanan. Walaupun setiap
molekul udara bergerak hanya dalam jarak pendek sesuai getaran gig garpu, gelombang
penempatan dan penjarangan yang berganti-ganti tersebut menyebar dalam jarak yang
cukup jauh seperti riak air. Molekul-molekul udara yang terganggu akan mengganggu
molekul-molekul lain didekatnya, sehingga tercipta daerah baru penekanan dan
pengembangan, demikian seterusnya. Energi suara secara berangsur-angsur mereda
ketika gelombang suara bergerak menjauhi sumber suara semula. Intensitas gelombang

suara berkurang, sampai akhirnya lenyap ketika gelombang suara terakhir terlalu lemah
untuk menimbulkan gangguan-gangguan pada moleku-molekul udara di sekitarnya
(Sherwood, 2001).
Gelombang suara juga dapat berjalan melalui medium selain udara, misalnya air.
Namun, perjalanan gelombang suara dalam media tersebut kurang efisien, diperlukan
tekanan yang lebih besar untuk menimbulkan pergerakan cairan daripada pergerakan
udara karena inersia (resistensi terhadap perubahan) cairan yang lebih besar (Sherwood,
2001).
Secara umum kekerasan suara berkaitan dengan amplitudo gelombang suara dan
nada berkaitan dengan frekuensi (jumlah gelombang persatuan waktu). Semakin besar
suara semakin besar amplitudo, semakin tinggi frekuensi dan semakin tinggi nada.
Namun nada juga ditentukan oleh faktor - faktor lain yang belum sepenuhnya dipahami
selain frekuensi dan frekuensi mempengaruhi kekerasan, karena ambang pendengaran
lebih rendah pada frekuensi dibandingkan dengan frekuensi lain. Gelombang suara
memiliki pola berulang, walaupun masing - masing gelombang bersifat kompleks,
didengar sebagai suara musik, getaran apriodik yang tidak berulang menyebabakan
sensasi bising. Sebagian dari suara musik bersala dari gelombang dan frekuensi primer
yang menentukan suara ditambah sejumla getaran harmonik yang menyebabkan suara
memiliki timbre yang khas. Variasi timbre mempengaruhi mengetahhi suara berbagai
alat musik walaupun alat tersebut memberikan nada yang sama (Ganong, 2005).
Ketajaman pendengaran secara kasar dapat diukur dengan menggunakan nilai
ambang pendengaran. Suara yang terdengar dipengaruhi oleh amplitudo gelombang
suara, intensitas suara dan waktu berlangsungnya nada suara. Koklea berfungsi untuk
menentukan tinggi rendahnya nada. Telinga manusia dapat mendengar nada yang berbeda
pada rentang antara 20 20.000 Hz (Tri Murtiati, 2012).
Suara ditandai oleh nada (tone, tinggi-rendahnya suara), intensitas (kekuatan,
kepekaan, loudness), dan timbre (kualitas, warnanada) (Shwerood, 2001).

Nada suatu suara ditentukan oleh frekuensi getaran. Semakin tinggi frekuensi
getaran, semakin tinggi nada. Telinga manusia dapat mendeteksi gelombang suara
dengan frekuensi dari 20 20.000 siklus per detik, tetapi paling peka terhadap

frekuensi antara 1.000 dan 4.000 siklus per detik.


Intensitas atau kepekaan (kekuatan) suatu suara bergantung pada amplitudo
gelombang suara, atau perbedaan tekanan antara daerah penempatan yang
bertekanan tinggi dan daerah penjarangan yang bertekanan rendah. Dalam rentang

pendengaran, semakin besar amplitudo, semakin keras (pekak) suara. Telinga


manusia dapat mendeteksi intensitas suara dalam rentang yang luas, dari suara
bisikan terhalus sampai suara jet lepas landas yang memekakan. Kepekakan
dinyatakan dalam desibel (dB), yaitu ukuran logaritmik intensitas dibandingkan
dengan suara teredam (terhalus) yag dapat terdengar ambang pendengaran.
Kualitas suara atau warna nada (timbre) bergantung pada nada tambahan

(overtone), yaitu frekuensi tambahan yang menimpa nada dasar. Garpu tala
memiliki nada yang murni, tetapi sebagian besar suara tidak murni. Nada-nada
tambahan juga merupakan penyebab perbedaan khas suara manusia. Warna nada
memungkinkan pendengar membedakan sumber gelombang suara, karena setiap
sumber suara menghasilkan pola nada-nada tambahan yang berlainan.
Telah diketahui bahwa adanya suatu suara akan menurunkan kemampuan seseorang
mendengar suara lain. Fenomena ini dikenal sebagai masking (penyamaran). Fenomena
ini diperkirakan disebabkan oleh refrakter relative atau absolute pada reseptor dan urat
saraf pada saraf audiotik yang sebelumnya teransang oleh ransangan lain. Tingkat suatu
suara menutupi suara lain berkaitan dengan nadanya. Kecuali pada lingkungan yang
sangat kedap suara, Efek penyamaran suara lata akan meningkatan ambang pendengaran
dengan besar yang tertentu dan dapat diukir.
Penyaluran suara prosesnya adalah telinga mengubah gelombang suara di
lingkungan eksternal menjadi potensi aksi di saraf pendengaran. Gelombang diubah oleh
gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran menjadi gerakan-gerakan lempeng kaki
stapes. Gerakan ini menimbulkan gelombang dalam cairan telinga dalam. Efek
gelombang pada organ Corti menimbulkan potensial aksidi serat-serat saraf. (Ganong,
2005).
Mekanisme Pendengaran
Gelombang suara yang ditangkap oleh telinga dialirkan ke telinga melalui meatus
acusticus externa kemudian gelombang tersebut akan mengenai membran timpani,
sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini akan diteruskan oleh ketiga tulang
dengar ke jendela oval. Getaran struktur koklea pada jendela oval diteruskan ke cairan
limfe yang ada di dalam saluran vestibulum. Getaran cairan tadi akan menggerakkan
membran reissmer dan menggetarkan cairan limfe dalam saluran tengah. Perpindahan
getaran cairan limfe di dalam saluran tengah menggerakkan membran basher yang
dengan sendirinya akan menggetarkan cairan dalam saluran timpani. Perpindahan ini

menyebabkan melebarnya membran pada jendela bundar. Getaran dengan frekuensi


tertentu akan menggetarkan selaput-selaput basilar, yang akan menggerakkan sel-sel
rambut ke atas dan ke bawah. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion
kalium dan ion Na menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang N.VIII yang
kemudian meneruskan ransangan ke pusat sensori pendengaran di otak melalui saraf
pusat yang ada di lobus temporalis (Guyton, 2007).
Gangguan/ Kelainan Fisiologi Telinga

Tuli konduktif
Terjadi apabila gelombang suara tidak secara adekuat dihantarkan melalui telinga
luar dan tengah untuk menggetarkan cairan di telinga dalam. Tuli konduktif
mungkin disebabkan oleh sumbatan fisik saluran telinga oleh kotoran telinga, ruptur
gendang telinga, infeksi telinga tengah disetai penimbunan cairan, atau retriksi

gerakan osikula karena adhesi antara stapes dan jendel oval.


Tuli perseptif
Disebabkan oleh kerusakan koklea (N. audiotorius) atau kerusakan pada sirkuit
sistem saraf pusat dari telinga. Orang tersebut mengalami penurunan atau
kehilangan kemampuan total untuk mendengar suara dan akan terjadi kelainan

pada:
a. Organo corti
b. Saraf : N.coclearis dan N.vestibularais
c. Pusat pendengaran otak
Tuli campuran
Terjadi karena tuli konduksi yang pada pengobatannya tidak sempurna sehingga
infeksi skunder (tuli persepsi juga).

Gangguan-gangguan lain diantaranya, yaitu:


a. Suara berdenging (tinnitus)
Keluhan telinga berdenging dapat dirasakan dikepala atau ditelinga, pada satu sisi
atau kedua sisi telinga.
b. Rasa pusing berputar (Vertigo)
Dapat sebagai keluhan gangguan keseimbangan dan rasa ingin jatuh.
c. Nyeri dalam Telinga (Otalgia)
Bila ada keluhan nyeri didalam telinga, perlu ditanyakan apakah pada telinga kiri
atau kanan dan sudah berapa lama. Nyeri alih ke telinga dapat berasal dari nyeri di
gigi molar atas, sendi mulut, dasar mulut, tonsil atau tulang servikal karena telinga
dipersarafi oleh saraf sensoris yang berasal dari organ tersebut.
d. Keluar cairan dari dalam telinga (Otorea)
Apakah secret ini keluar dari satu atau kedua telinga, disertai rasa nyeri atau tidak
dan sudah berapa lama. Secret yang sedikit biasanya berasal dari infeksi telinga luar

dan secret yang banyak dan bersifat mukoid umumnya berasal dari telinga tengah.
Bila bercampur darah, harus dicurigai tumor. Bila bau busuk, curigai kolesteatoma.
Kekurangan Pendengaran
Yang dimaksud dengan kekurangan pendengaran adalah keadaan dimana seorang
kurang dapat mendengar dan mengerti suara atau percakapan yang didengar untuk
mendiagnosis kurang pendengaran. Aspek yang diperhatikan yaitu:
o Penentuan pada penderita apakah ada kurang pendengaran atau tidak.
Dalam penentuan apakah ada KP atau tidak pada penderita hal penting yang harus
diperhatiakan adalah umur penderita. Respon manusia terhadap suara atau
percakapan yang didengranya tergantung pada umur pertumbuhannya. Usia 6
tahun diambil sebagai batas, kurang dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau
percakapan berbeda-beda tergantung umurnya, sedangkan lebih dari 6 tahun
respon anak terhadap suara atau percakapan yang didengar sama dengan orang
dewasa karena luasnya aspek diagnostik KP. Pad kedua golongan umur tersbut,
maka dalam makalah ini yang diuraikan hanya diagnosis KP pada anak-anak umur
6 tahun keatas dan dewasa.
o Jenis kurang pendengaran
Jenis kurang pendengaran (KP) berdasarkan lokalisasi lesi :
a. KP jenis hantaran
Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga luar dan atau telinga
tengah.
b. KP jenis sensorineural
Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga dalam (pada koklea dan
N.VIII)
c. KP jenis campuran
Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga tengah dan telinga dalam.
d. KP jenis sentral
Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada nucleus auditorius dibatang otak
sampai dengan korteks otak.
e. KP jenis fungsional
Pada KP jenis ini tidak dijumpai adanya gangguan atau lesi organiK pada
sIstem pendengaran baik perifer maupun sentral, melainkan berdasarkan
adanya masalah psikologis atau omosional.
o Derajat kurang pendengaran
o Menentukan penyebab kurang pendengaran
Menetukan penyebab KP merupakan hal yang paling sukar diantara kempat
batasan atau aspek tersebut diatas, untuk itu diperlukan :
a. Anamnesis yang luas dan cermat tentang riwayat terjadinya KP tersebut

b. Pemeriksaan umum dan khusus (telinga, hidung dan tenggorokan ) yang teliti.
c. Pemeriksaan penunjang (bila diperlukan seperti foto laboratorium)
Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran
penderita, yaitu :
a. Tes bisik
b. Tes bisik modifikasi
c. Tes garputala
d. Pemeriksaan audiometri

Tes Fungsi Pendengaran


1. Pemeriksaan Audiometri
Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. Alat ini
menghasilkan nada-nada murni dengan frekuensi melalui aerphon. Pada sestiap
frekuensi ditentukan intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai
prsentasi dari pendengaran normal. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif
derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh.
Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan
mengukur (uji pendengaran). Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur
ketajaman pendengaran, tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi
kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran.
Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level
pendengaran seseorang. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan
audiometri, maka derajat ketajaman pendengaran seseorang da[at dinilai. Tes
audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan pendengeran
atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman
pendengaran. Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara,
audiologis dan pasien yang kooperatif. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah :
o Audiometri nada murni
Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat
menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500, 10002000, 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB). Bunyi yang
dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga
orang yang diperiksa pendengarannya. Masing-masing untuk menukur
ketajaman pendengaran melalui hntaran udara dan hantran tulang pada tingkat

intensitas nilai ambang, sehingga akan didapatkankurva hantaran tulang dan


hantaran udara. Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan
derajat kurang pendengaran seseorang. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah
orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan
nilai ambang baku pendengaran untuk nada murni.
Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran
frekwuensi 20-20.000 Hz. Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting
untuk memahami percakapan sehari-hari. Tabel berikut memperlihatkan
klasifikasi kehilangan pendengaran
Kehilangan dalam
Desibel
0-15
>15-25
>25-40
>40-55
>55-70

Klasifikasi
Pendengaran normal
Kehilangan pendengaran kecil
Kehilangan pendengaran ringan
Kehilangan pendengaran sedang
Kehilangan
pendenngaran
sedang
sampai berat
Kehilangan pendengaran berat
Kehilangan pendengaran berat sekali

>70-90
>90
o Audiometri tutur
Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan katakata terpilih yang telah dibakukan, dituturkan melalui suatu alat yang telah
dikaliberasi, untuk mengukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. Prinsip
audiometri tutur hampir sama dengan audiometri nada murni, hanya disni
sebagai alat uji pendengaran digunakan daftar kata terpuilih yang dituturkan
pada penderita. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa
melalui mikropon yang dihubungkan dengan audiometri tutur, kemudian
disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya,
atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman,
kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur.
Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setip kata yang didengar,
dan apabila kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena intensitasnya
makin dilemahkan, pendengar diminta untuk mnebaknya. Pemeriksa mencatata
presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap
intensitas. Hasil ini dapat digambarkan pada suatu diagram yang absisnya
adalah intensitas suara kata-kata yang didengar, sedangkan ordinatnya adalah

presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan benar. Dari audiogram tutur


dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu :
Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah katakata yang dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar, yang
lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT, dan dinyatakan dengan satuan
de-sibel (dB).
Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap
satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan
dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT. Satuan pengukuran NDT itu
adalah persentasi maksimal kata-kata yang ditirukan dengan benar,
sedangkan intensitas suara barapa saja. Dengan demikian, berbeda
dengan audiometri nada murni pada audiometri tutur intensitas
pengukuran pendengaran tidak saja pada tingkat nilai ambang (NPT),
tetapi juga jauh diatasnya.
Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar kata-kata
yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50%
tidak dapat menirukan kata-kata dengan tepat.
Kriteria orang tuli :
Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB
Sedang masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB
Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB
Berat sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB
Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi, apabila
seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat
bantu dengar (ABD/ hearing AID) suara yang ada diamplifikasi, dikeraskan
oleh ABD sehingga bisa terdengar. Prinsipnya semua tes pendengaran agar
akurat hasilnya, tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. Karena
kita memberikan tes pada frekuensi tertetu dengan intensitas lemah, kalau ada
gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian.
2. Tes Rinne
Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan antara hantaran
tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien.
Ada 2 macam tes rinne , yaitu :
o Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya
tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus).
Setelah pasien tidak mendengar bunyinya, segera garpu tala kita pindahkan
didepan meatus akustikus eksternus pasien. Tes Rinne positif jika pasien masih

dapat mendengarnya. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat
mendengarnya
o Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya
secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Segera pindahkan garputala
didepan meatus akustikus eksternus. Kita menanyakan kepada pasien apakah
bunyi garputala didepan meatus akustikus eksternus lebih keras dari
pada dibelakang meatus akustikus eksternus (planum mastoid). Tes rinne positif
jika pasien mendengar didepan maetus akustikus eksternus lebih keras.
Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus akustikus
eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang.
Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne :
a. Normal : tes rinne positif
b. Tuli konduksi: tes rinne negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih
lama)
c. Tuli persepsi, terdapat 3 kemungkinan :
Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala.
Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-)
Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada
posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mulamula timbul.
3. Tes Weber
Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran
tulang antara kedua telinga. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan
garpu tala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal.
Menurut pasien, telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. Jika
telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi
lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Jika kedua pasien sama-sama tidak mendengar
atau sama-sama mendengar maka berarti tidak ada lateralisasi.
4. Tes Schwabach
Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa
(normal) dengan probandus. Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah
digetarkan pada puncak kepala probandus. Probandus akan mendengar suara
garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar suara
garputala lagi. Pada saat garputala tidak mendengar suara garpu tala, maka
penguji akan segera memindahkan garputala itu, ke puncak kepala orang yang
diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding). Bagi pembanding

dua kemungkinan dapat terjadi: akan mendengar suara, atau tidak mendengar
suara. (Ganong, 2005)
METODOLOGI
II.

Alat Penglihatan
A. Alat dan Bahan
1. Pemeriksaan Refleks Pupil
Senter
Cermin Datar
2. Pemeriksaan Visus
Alat Optotype dari Snellen
3. Pemeriksaan Buta Warna
Buku Pemeriksaan warna oleh Ishihara-Stilling
B. Cara Kerja
1. Pemeriksaan Refleks Pupil
a) Pemeriksaan reflek cahaya
1) Sinari satu mata dengan lampu senter dari arah samping mata. Perhatikan
reaksi pupil
2) Singkirkan cahaya tersebut, perhatikan reaksi pupil
3) Catat hasil pengamatan
b) Pemeriksaan refleks konsensual
1) Dengan kedua mata OP terbuka, berilah batas antara kedua mata, misalnya
dengan telapak tangan. Satu mata disinari dengan lampu senter dan
seorang teman bertugas mengawasi mata lain yang tidak diberi penyinaran.
Perhatukan reaksi pupil.
2) Catat hasil pengamatan
c) Pemeriksaan refleks pupil mata akibat akomodasi
1) Minta OP untuk melihat tempat yang jauh tak terhingga dan perhatikan
reaksi pupil.
2) Kemudian dengan tiba-tiba minta OP untuk melihat benda yang dekat dan
perhatikan reaksi pupil.
3) Catat hasil pengamatan
2. Pemeriksaan Visus
a) Alat optotype dari Snellen diletakkan pada jarak 6 meter (d = 6 m) dari tempat
duduk OP. Dengan menggunakan dua mata, baca huruf satu demi satu dalam
tiap deret hingga diketahui nilai D. Tentukan nilai visusnya dan catat hasil
pengamatan.
b) Alat optotype dari Snellen diletakkan pada jarak 6 meter (d = 6m) dari tempat
duduk OP. Dengan menggunakan satu mata tertutup (mata ditutup dengan
telapak tangan tetapi tidak boleh ditekan). Baca huruf satu demi satu dalam tiap

deret hingga diketahuinila D. Tentukan nilai visusnya dan cata hasil


pengamatan.
c) Lakukan modifikasi dnegan meletakkan alat optotype dari Snellen pada jarak 5
meter ( d = 5 m) dari tempat duduk OP. Dengan menggunakan dua mata, baca
huruf satu demi satu dalam tiap deret hingga diketahui nilai D. Tentukan nilai
visusnya dan catat hasil pengamatan.
3. Pemeriksaan Buta Warna
a) Letakkan gambar-gambar pseudo-isokromatik pada jarak kurang lebih 1 meter.
b) Minta OP untuk melihatnya satu persatu. Cocokkan interpretasi OP terhadap

III.

gambar-gambar tersebut dengan interpretasi gambar menurut Ishihara-Stilling.


c) Catat hasil pemeriksaan
Alat Pendengaran
A. Alat dan Bahan
1. Uji Pendengaran Dengan Suara (Voice Test)
Pengukur jarak
2. Pemeriksaan Dengan Garpu Tala
Garpu tala
B. Cara Kerja
1. Uji Pendengaran dengan Suara (Voice Test)
a. Pemeriksaan dengan suara berbisik
1) Minta OP duduk berhadapan dengan pemeriksa pada jarak 6 meter. Telinga
yang diperiksa menghadap pemeriksa (OP tidak dapat melihat pada
pemeriksa)
2) Tutup rapat telinga yang lain dengan ujung jari atau kapas
3) Minta OP menirukan suara berbisik dengan kata-kata pendek, misalnya
nama-nama kota, warna, dll.
4) Bila OP tidak dapat mendengar atau menirukan dengan baik, maka jarak
duduk antara OP dengan pemeriksa diperpendek secara bertahap sampai OP
dapat mendengar atau menirukan kata-kata yang diucapkan oleh pemeriksa
dengan baik.
5) Periksa telinga yang lain dengan cara yang sama
6) Catat hasil pemeriksaan
b. Pemeriksaan dengan suara biasa
Dilakukan dengan cara seperti diatas tetapi jarak antara OP dengan peeriksa
30 meter.
c. Pemeriksaan dengan suara keras
Dilakukan dengan cara seperti diatas tetapi jarak antara OP dengan
pemeriksa 30 meter.
2. Pemeriksaan dengan Garpu Tala
a. Tes Rinne
1) Getarkan garpu tala (frekuensi 288) dengan salah satu ujungnya pada tepi
telapak tangan. Jangan sekali-kali memukulkan pada benda yang keras.

2) Tekan ganggang penala yang bergetar itu pada Processus Mastoideus salah
satu telinga OP.
3) Tanyakan pada OP apakah ia mendengar suara penala mendengung pada
telinga yang diperiksa. Bila demikian, minta OP untuk memberi tanda segera
bila dengungan itu menghilang.
4) Pada saat itu pemeriksa mengangkat penala dari Processus Mastoideus dan
mendekatkan ujung penala sedekat mungkin di depan telinga yang sedang
diperiksa.
5) Tanyakan pada OP apakah ia sekarang mendengar kembali untuk beberapa
saat suara dengungan penala. Bila ia mendengar kembali, maka hasil
pemeriksaan dituliskan R (+), bila tak mendengar kembali dituliskan R (-).
6) Ulangi percobaan seperti di atas untuk telinga yang lain
7) Catat hasil pemeriksaan
b. Tes Weber
1) Getarkan garpu tala (frekuensi 512) dengan salah satu ujungnya pada tepi
telapak tangan. Jangan sekali-kali memukulkan pada benda yang keras.
2) Tekan ganggang penela yang bergetar itu pada dahi OP di garis meridian.
3) Tanyakan pada OP apakah ia mendengar suara penala mendengung sama
kuat pada kedua telinga. Hasil normal menunjukkan bila dengungan
terdengar sama kuat di kedua telinga, dikatakan tak ada lateralisasi. Bila
dengungan terdengar lebih kuat pada salah satu telinga, dikatakan
lateralisasi ke arah telingan yang terdengar lebih keras (lateralisasi kanan
atau kiri).
4) Bila pada OP tak terdapat lateralisasi, maka untuk menimbulkan lateralisasi
buatan, tutup salah satu telinga dengan kapas dan ulangi pemeriksaan seperti
di atas.
5) Catat hasil pemeriksaan.
c. Tes Schwabach
1) Getarkan garpu tala (frekuensi 128) dengan salah satu ujungnya pada tepi
telapak tangan. Jangan sekali-kali memukulkan pada benda yang keras.
2) Tekan ganggang penala yang bergetar itu pada Processus Mastoideus.
3) Minta OP mengcungkan tangan pada saat dengungan menghilang.
4) Pada saat itu, segera pindahkan penala dari Processus Mastoideus OP ke
Processus Mastoideus pemeriksa. Pada pemeriksaan ini telingan pemeriksa
dianggap normal. Nilai normal pengukuran ini adalah schwabach normal
(tidak memendek atau memanjang). Bila dengungan setelah dinyatakan
berhenti oleh OP ternyata masih terdengar oleh pemeriksa maka kondisi ini
disebut Schwabach memendek. Bila pemeriksa tak mendengar, ulangi
percobaan sebagai berikut: letakkan garpu tala yang sudah digetarkan pada

Processus Mastoideus sendiri. Setelah pemeriksa tak mendengar lagi segera


pindahkan ke Processus Mastoideus OP. Bila ternyata OP masih mendengar,
maka kondisi ini disebut Schwabach memanjang.
d. Tes Bing
1) Getarkan garpu tala (frekuensi 288 atau 512) dengan salah satu ujungnya
2)
3)
4)
5)
6)

pada tepi telapak tangan. Jangan sekali-kali memukulkan pada benda keras.
Tekan ganggang penala yang bergetar itu pada Processus Mastoideus OP.
Tanyakan telinga mana yang mendengar degungan paling keras.
Tutp lubang telinga yang lain dengan jari.
Tanyakan lagi telinga mana yang mendengar degungan paling keras.
Catat hasil pemeriksaan
HASIL

I.

Alat Penglihatan
1. Pemeriksaan Refleks Pupil
No.

Nama
OP

Cahaya

1
2
3
4
5
6
7
8

Tresna
Okta
Indriya
Rizki
Fairus
Azizah
Irma
Rita

Refleks Pupil
Refleks Konsensual

Refleks Cahaya
(kedua mata)

Mengecil
Mengecil
mengecil
Mengecil
Mengecil
Mengecil
Mengecil
mengecil

Tanpa

Satu

Satu

cahaya

mata

mata

Membesar
Membesar
Membesar
Membesar
Membesar
Membesar
Membesar
membesar

dengan
mengecil
Mengecil
Mengecil
Mengecil
Mengecil
Mengecil
Mengecil
mengecil

tanpa
mengecil
mengecil
mengecil
mengecil
mengecil
mengecil
mengecil
mengecil

Refleks Akibat
Akomodasi
Jauh
Dekat

membesar
Mengecil
Membesar
Membesar
Membesar
Mengecil
Membesar
membesar

mengecil
membesar
mengecil
mengecil
mengecil
membesar
mengecil
mengecil

2. Pemeriksaan Visus
No

Nama OP

.
1
Indriya
2
Nisak
3
Rizki
4
Etih
5
Irma
6
Qori
7
Rita
8
Fairus
3. Pemeriksaan Buta Warna
No

Nama OP

Ketajaman Penglihatan (Visus)


d=6m
d=5m
2 mata
1 mata
2 mata
1 mata
6/6
6/6
6/6
6/6
4/5
4/5

4/5
4/5
4/5
4/5
6/6
6/6
6/6
6/6
6/6
6/6
6/6
6/6
6/6
6/6
6/6
6/6
6/6
6/6
6/6
6/6
4/5
6/6
4/5
6/6
Jenis Kelamin

Usia

Interpretasi Gambar

.
1
2
3
4
5
6
7
8
II.

Indriya
Tresna
Disa
Rita
Irma
Nisak
Yusri

P
P
P
P
P
P
P

20
20
20
20
20
19
20

Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Alat Pendengaran
1. Uji Pendengaran dengan Suara (Voice Test)
No
1.
2.
3.

Nama OP
Arsita
Tresna
Intan

Usia
(thn)
20
20
20

Berbisik (6 m )

Uji Suara
Biasa (30 m)

Keras (30 m)

Terdengar (5m)

Terdengar (28m) Terdengar

Terdengar (4m)

(30m)
Terdengar (30m) Terdengar

Terdengar (6m)

(30m)
Terdengar (30m) Terdengar

4.

Ria

20

Terdengar (6m)

(30m)
Terdengar (30m) Terdengar

5.

Liza

20

Terdengar (4,5m)

(30m)
Terdengar (30m) Terdengar

Kiri Terdengar

(30m)
Terdengar (30m) Terdengar

6.

Gita

19

(5m)
Kanan Terdengar

(30m)

7.

Disa

20

(4m)
Terdengar (4,5m)

Terdengar (30m) Terdengar

8.

Putri

20

Terdengar (6m)

(30m)
Terdengar (30m) Terdengar
(6m)

2. Pemeriksaan dengan Garpu Tala


No
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nama OP
Arsita
Intan
Liza
Disa
Putri
Ria

Rinne
R (-)
R (-)
R (+)
R (-)
R (+)
R (+)

Tes Garpu Tala


Weber
Schwabach
Normal
Normal
Normal
Normal
L Kanan
Normal
L Kiri
Normal
L Kanan
Normal
L Kiri
Normal

Bing
Normal
Normal
Kanan
Kiri
Normal
Kiri

7.
8.

Tresna
Gita

R (+)
R (+)

Normal
L Kiri

Normal
Normal

Kanan
Kiri

PEMBAHASAN
I.

Alat Penglihatan
1. Pemeriksaan Refleks Pupil
a. Refleks cahaya
Pada percobaan refleks cahaya ini, praktikan menyinari mata OP dengan
lampu senter dari arah samping dan ternyata dari perlakuan tersebut diperoleh data
bahwa semua OP mengalami pengecilan pada pupilnya. Pengecilan pupil ini
bertujuan untuk mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke mata.
Pengecilan pupil ini di karenakan oleh variasi kontraksi otot-otot iris untuk
memungkinkan lebih banyak atau sedikit cahaya masuk sesuai kebutuhan. Selain itu
juga serat-serat otot memendek jika berkontraksi sehingga menyebabkan pupil akan
mengecil. Refleks kontraksi pupil ini terjadi pada cahaya terang untuk mengurangi
jumlah cahaya yang masuk ke mata dan apabila otot radialis memendek maka
ukuran pupil pun akan meningkat. Otot-otot iris ini dikontrol oleh sistem saraf
otonom sedangkan apabila tidak diberikan rangsangan cahaya, maka pupil akan
normal. Dan kesemua OP ketika cahaya dijauhkan maka pupil kembali ke keadaan
normal atau membesar.
b. Refleks Konsensual
Untuk percobaan refleks konsensual, praktikan mengamati dengan cara
membuka kedua mata OP kemudian memberinya batas dengan telapak tangan. Satu
mata disinari lampu senter sedangkan yang satunya tidak. Reaksi pupil yang terjadi
ternyata semua OP menunjukkan bahwa mata yang terkena cahaya mengecil
sedangkan mata yang tidak terkena cahaya ikut mengecil.
Menurut teori ketika satu mata disinari dengan flash light terlihat bahwa tidak
hanya mata yang disinari cahaya, pupilnya mengecil tetapi pupil yang tidak disinari
juga ikut mengecil. Di dalam mata yang disinari terjadi refleks pupil, sedangkan di
dalam mata yang tidak disinari terjadi refleks konsensual.
c. Refleks Akibat Akomodasi
Pada refleks akibat akomodasi, hal yang dilakukan untuk mengamati refleks
pupilnya yaitu dengan cara meminta OP untuk melihat tempat yang jauh tak
terhingga kemudian praktikan memperhatikan reaksi pupil. Kemudian dengan tibatiba, OP melihat tempat yang dekat dan praktikan memperhatikan reaksi pupilnya.

Pada pengamatan ini hanya 6 OP reaksi pupil mengecil ketika melihat tempat
yang dekat sedangkan untuk 2 OP yang lain membesar. Kemudian ketika melihat
tempat jauh, hanya 6 OP pupil membesar, sedangkan yang lainnya mengeccil.
Saat merespon jauh pupil mata mengecil karena serat-serat otot memendek.
Pengecilan pupil ini terjadi apabila otot sirkuler atau konstriktor berkontraksi
membentuk cincin yang lebih kecil. Hal ini terjadi untuk merespon cahaya terang.
Akibat melihat benda jauh yang berada di luar ruangan, pupil mengecil untuk
mengurangi jumlah cahaya yang masuk dan pupil membesar saat melihat benda
dekat di tempat teduh. Pembesaran daya akomodasi mata juga diatur melalui syaraf
parasimpatis, perangsangan syaraf parasimpatis menimbulkan kontraksi otot siliaris
yang menyebabkan pupil mata mengecil, yang selanjutnya kan mengendurkan
gligamen lensa dan meningkatkan daya bias. Dengan meningkatkan daya bias, mata
mampu melihat objek lebih dekat dibanding waktu daya biasnya rendah. Akibatnya
dengan mendekatnya objek ke arah mata, frekuensi impuls parasimpatis ke otot
siliaris progresif ditingkatkan agar objek tetap melihat dengan jelas (mampu melihat
benda jarak jauh). Begitupun sebaliknya pada saat OP diminta tiba-tiba melihat
benda jarak dekat, otot siliaris akan berdilatasi sehingga pupil mata melebar.Pada
hasil pengamatan, semua hasil pada semua OP tidak sama dengan teori yang
dikemukakan,hal ini dapat disebabkan mungkin karena kekurang telitian pengamat
karena pupil yang memuliki warna yang hampir sama dengan iris,sehingga garis
batas pupil tidak terlihat sehingga membesar dan mengecilnya pupil tidak dapat
diamati.
Untuk kedua OP yang hasilnya tidak sesuai hal ini dikarenakan kesalahan
dalam melakukan tahap-tahap praktikum tidak sesuai, atau dikarenakan kurang
cermat dalam mengamati perubahan pupil.
2. Pemeriksaan Visus
Berdasarkan data hasil pengamatan, diperoleh bahwa hampir semua OP masih
memiliki ketajaman mata (visus) yang normal.OP yang memiliki nilai visus yang
benar-benar normal adalah OP Indriya, Etih, Irma, Qori, dan Rita. Kelima OP tersebut
memiliki nilai visus 6/6 untuk penglihatan dengan dua mata. Apabila dibuat
persentase maka didapatkan bahwa OP tersebut memiliki ketajaman mata senilai
dengan 100%, artinya OP tersebut masih dapat melihat objek dengan jelas pada jarak
20 kaki atau 6 meter. Nilai visus ini masih termasuk pada nilai visus normal, karena
saat menjadi nilai persentase memberikan hasil 100%, yang artinya OP tersebut masih

memiliki 100% ketajaman mata (visus) dalam melihat objek. Pada saat penglihatan
menggunakan 1 mata Indriya, Etih, Irma Qori, Rita dan Fairus masih memiliki
ketajaman 100%. Sedangkan untuk yang lain baik dengan mnggunakan kedua mata
atau salah satu mata tidak mencapai 100% hal ini mungkin disebabkan adanya
gangguan pada salah satu mata atau keduanya. Pada jarak 5 meter sebagian besar
masih memiliki tingkat ketajaman (visus) 100% hanya 3 orang OP yang memiliki
tingkat ketajaman kurang, hal ini dimungkinkan pada ketiga OP memiliki kelainan
pada matanya.
Pada kasus ini, bayangan yang diterima tidak tepat jatuh pada fovea dan retina
sehingga persepsi yang ditimbulkan tidak lengkap yang menyebabkan objek tersebut
terlihat buram atau bahkan tidak terlihat sama sekali. Berkurangnya ketajaman mata
atau nilai visus mata seseorang dapat disebabkan oleh beberapa factor diantaranya
seperti yang telah disebutkan dalam teori yakni kekerapan reseptor pada retina,
ukuran pupil, penerangan, waktu pajanan terhadap objek, area retina yang terstimulasi
dan pergerakan bola mata.
3. Pemeriksaan Buta Warna
Berdasarkan hasil pengamatan semua OP merupakan orang yang normal dan
tidak terjangkit buta warna. Simulasi citra Ishihara adalah simulasi yang dilakukan
terhadap OP. OP akan diperlihatkan 48 plates citra Ishihara dan diminta untuk
mengenali objek yang terdapat didalamnya. Citra yang ditampilkan oleh masingmasing koresponden akan berbeda-beda urutannya karena dicoba secara acak atau
random. OP akan diberi pilihan untuk masing-masing citra dimana OP akan
menjawab pertanyaan utama yaitu angka dan warna. Ketika OP diberi plate ia melihat
angka pada citra, maka OP harus memberikan jawaban atas angka yanng tertera. Bila
OP tidak melihat angka atau tidak sesuai dengan kunci jawaban maka OP termasuk
kedalam penderita buta warna. Dalam proses mengimplementasikan warna sel-sel
yang berfunngsi membedakannya adalah sel kerucut.
Sel kerucut akan mempunyai kepekaan yang selektif terhadap berbagai warna
seperti warna biru, hijau dan merah. Masing-masing pigmen warna ini disebut pigmen
peka warna biru, pigmen peka warna hijau dan pigmen peka warna merah.
Bila OP merupakan penderita buta warna biasanya akan sulit membedakan
warna merah dan hijau namun ada juga kasus buta warna parsial yang hanya bsa
melihat warna putih dan hitam. Dari kesemua OP yang diuji, ternyata kesemua OP
termasuk normal dan dapat menjawab warna sesuia dengan kunci jawaban.
Berdasarkan uji penglihatan warna, sensivitas spektrum ketiga tipe pigmen yang

ditemukan dalam sel kerucut. Mekanisme terlihatnya warna merah adalah cahaya
monokromatik warna jingga tua dengan panjang gelombang 500nm.
Orang yang menderita buta warna umumnya tidak menerima sel kerucut
penerima warna tertentu. Misalnya orang yang kehilangan sel kerucut merah atau
hijau maka orang tersebut tidak dapat lagi menggunakan mekanisme membaca warna
untuk membedakan warna merah atau hijau. Sehingga orang tersebut termasuk orang
buta warna merah-hijau. Buta warna merah-hijau adalah buta warna genetik yanng
timbul hampir hanya pada anak laki-laki. Gen-gen pada kromosom x perempuan
menyandi untuk masing-masing sel kerucut namun buta warna hampir tidak pernah
terjadi pada perempuan karena setidaknya satu dari dua kromosom x akan selalu
memiliki gen normal untuk setiap sel kerucut. Karena laki-laki hanya memiliki satu
kromosom x maka kemungkinan laki-laki yang terkena lebih besar.
II.

Alat Pendengaran
1. Uji Pendengaran dengan Suara (Voice Test)
Pada praktikum ini dilakukan untuk mengetahui ketajaman pendengaran OP
dengan suara berbisik, suara biasa dan suara keras pada jarak tertentu (suara
berbisik dengan jarak 6 m; suara biasa dan keras pada jarak 30 m) di lingkungan
yang cukup hening. Secara umum kekerasan suara berkaitan dengan amplitudo
gelombang suara dan nada berkaitan dengan frekuensi (jumlah gelombang
persatuan waktu). Semakin besar suara semakin besar amplitudo, semakin tinggi
frekuensi dan semakin tinggi nada. Namun nada juga ditentukan oleh faktor - faktor
lain

yang

belum

sepenuhnya

dipahami

selain

frekuensi

dan

frekuensi

mempengaruhi kekerasan, karena ambang pendengaran lebih rendah pada frekuensi


dibandingkan dengan frekuensi lain. Gelombang suara memiliki pola berulang,
walaupun masing - masing gelombang bersifat kompleks, didengar sebagai suara
musik, getaran apriodik yang tidak berulang menyebabakan sensasi bising.
Sebagian dari suara musik berasal dari gelombang dan frekuensi primer yang
menentukan suara ditambah sejumlah getaran harmonik yang menyebabkan suara
memiliki timbre yang khas (Ganong, 2005).
Dengan melakukan pemeriksaan voice test ini, pemeriksa dapat mengetahui
ketajaman pendengaran OP dan penyebab dari keras lemahnya suara yang didengar
oleh OP. Telinga OP dihadapkan ke pemeriksa agar suara yang dipancarkan oleh
pemeriksa tidak terhalang oleh apapun sehingga gelombang suara langsung diterima
telinga OP. Penyaluran suara prosesnya adalah telinga mengubah gelombang suara
di lingkungan eksternal menjadi potensi aksi di saraf pendengaran. Gelombang

diubah oleh gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran menjadi gerakangerakan lempeng kaki stapes. Gerakan ini menimbulkan gelombang dalam cairan
telinga dalam. Efek gelombang pada organ Corti menimbulkan potensial aksi
diserat-serat saraf (Ganong, 2005).
Untuk tes suara berbisik, untuk OP Ria, Intan, dan Putri dapat mendengar
suara pada jarak 6 m. Sedangkan pada OP Arsita suara terdengar pada jarak 5
m,Liza dan Disa pada jarak 4,5 m dan Tresna pada jarak 4 m. Untuk OP Gita terjadi
perbedaan jarak yang terdengar pada telinga kiri yaitu 5m dan kanan 4m. Pada tes
suara biasa, Ria, Intan, Tresna dapat mendengar suara pada jarak 30 m sedangkan
pada Arsita suara baru terdengar pada jarak 28 m. Dan untuk tes suara keras, ratarata semua OP dapat mendengar suara tersebut dengan jelas pada jarak yang
ditentukan yaitu 30 m.
Pendengaran dapat dimasukan ke dalam kategori normal apabila OP dapat
mendengar suara bisikan dengan jelas dan menirukan suara tersebut dengan benar
pada jarak 6 m atau 5 m. Apabila OP tidak dapat mendengar suara bisikan maka OP
jarak OP diperpendek dengan pemeriksa sampai OP dapat mendengar suara
tersebut. Untuk OP yang dapat mendengar suara berbisik pada jarak kurang dari 5-6
m maka dapat dimasukkan ke dalam kategori tuli. untuk jarak >4 m - <5 m masuk
ke dalam kategori tuli ringan, jarak >1 - <4 m tuli sedang dan tuli berat pada jarak
< 1 m. Tidak terdengarnya suara bisikan oleh OP, bisa saja disebabkan oleh adanya
gangguan misalnya suara-suara lain yang mengganggu konsentrasi OP untuk
mendengar suara bisikan dari pemeriksa, kurang jelasnya kata-kata yang
disampaikan oleh OP, dan kurangnya konsentrasi OP dalam mendengar suara
bisikan yang diberikan oleh pemeriksa.
Pada tes pendengaran dengan suara biasa dapat dilakukan oleh OP dengan
baik, tetapi masih ada OP yang belum bisa mendengar suara pada jarak yang
ditentukan yaitu 30 m. Hampir semua OP dapat mendengar suara pada jarak 30 m,
sedangkan pada arsita, suara baru terdengar dengan jelas pada jarak 28 m. Hal ini
mungkin dikarenakan adanya gangguan dari luar seperti suara-suara lain yang dapat
mengganggu konsentrasi OP dalam mendengar suara yang diberikan oleh
pemeriksa.
Untuk tes pendengaran suara keras, dapat didengar oleh semua OP dengan
baik pada jarak 30 m yang menandakan bahwa pendengaran OP masuk ke dalam
kategori normal.
2. Pemeriksaan dengan Garpu Tala

Pada pemeriksaan dengan garpu tala digunakan untuk mengetahui ada


tidaknya gangguan fungsi pendengaran pada OP. Tes yang digunakan pada
pemeriksaan garpu tala ini adalah dengan menggunakan tes Rinne, tes Weber, tes
Schwabach, dan tes Bing dengan menggunakan frekuensi garpu tala 288, 512, dan
128.
Tes Rinne bertujuan untuk membandingkan antara getaran yang dihantarkan
oleh udara dengan yang dihantarkan oleh tulang. Tes ini dilakukan dengan
menggetarkan garpu tala frekuensi 288 dan meletakkan ujung ganggang penala
yang bergetar tersebut ke Processus mastoideus pada telinga OP. Setelah OP
menandakan bahwa getaran yang didengar sudah menghilang sesegera mungkin
ujung penala didekatkan ke telinga OP. Jika getaran masih terdengar maka R(+)
tetapi bila tidak terdengar maka R(-). OP dapat mendengar dengan baik suara yang
menghilang saat garpu tala ditempelkan pada Processus Mastoideus dan
mendengar kembali suara tersebut saat didekatkan dengan telinga. Ini terjadi
karena saat suara menghilang di Processus Mastoideus sebenarnya garpu tala itu
masih bergetar, hanya karena intensitas terlalu halus maka tidak dapat terdengar
oleh telinga OP. Sehingga perlu didekatkan ke telinga OP untuk mendengar suara
yang halus itu. Pada OP yang pendengarannya masih baik (normal) maka setelah
getaran yang ada di processus mastoideus hilang, masih terdengar bila ujung
penala diletakkan di depan telinga OP.
Pada OP Liza, Putri, Ria, Tresna, dan Gita masih dapat mendengar getaran
pada telinganya walaupun getaran suara pada saat ganggang garpu tala di letakkan
pada processus mastoideus sudah menghilang. Maka dapat dikatakan Rinne positif
atau pendengaran OP masih baik (normal). Sedangkan pada OP Arsita, Intan, dan
Disa didapatkan Rinne negatif, yang menunjukkan bahwa mereka tidak dapat
mendengar getaran suara pada saat ujung penala didekatkan ke telinga mereka.
Interpretasi dari Rinne negatif adalah tuli konduksi, yang artinya adanya gangguan
pada transmisi suara di telinga luar atau telinga tengah. Hasil tersebut bisa juga
terjadi karena adanya kesalahan pemeriksaan, misalnya kesalahan meletakkan
ganggang garpu tala yang tidak tegak, tidak tepat dalam meletakkan garpu tala ke
processus mastoideus, tangkai/ ganggang garpu tala terhalang oleh benda lain
seperti rambut atau jilbab yang digunakan oleh OP, dan mungkin juga dikarenakan
oleh banyaknya jaringan lemak pada processus mastoideus OP.
Pada tes Weber bertujuan untuk membandingkan getaran yang dihantarkan
tulang oleh kedua telinga OP. Tes ini dilakukan dengan menggetarkan garpu tala

frekuensi 512 dan meletakkan ganggang garpu tala tegak lurus pada dahi di garis
meridian. Pendengaran OP dapat dikatakan normal apabila getaran yang didengar
pada kedua telinga sama kuat. Tidak adanya perbedaan kuatnya getaran/
dengungan diantara kedua telinga kiri dan kanan maka dapat dikatakan tidak ada
lateralisasi pada OP. Tetapi apabila getaran atau dengungan terdengar lebih kuat
pada salah satu telinga (kanan atau kiri), maka terjadi lateralisasi pada sisi telinga
tersebut.
Pada OP Arsita, Intan, Tresna tidak ada lateralisasi yang artinya dengungan
yang didengar pada kedua telinga sama kuat. Hal ini menunjukkan bahwa
pendengaran pada OP tersebut normal. Pada Liza dan Putri terjadi lateralisasi ke
kanan, sedangkan pada Disa, Ria, dan Gita terjadi lateralisasi ke kiri.
Pada tes ini, dianggap memiliki pendengaran normal apabila tidak terjadi
lateralisasi. Sedangkan apabila terjadi lateralisasi pada telinga yang normal maka
dinamakan tuli sensorineural. Dan apabila terjadi lateralisasi pada telinga yang
sakit maka dinamakan tuli konduksi.
Tes Schwabach dilakukan untuk membandingkan getaran yang dihantarkan
tulang pada pemeriksa (normal) dengan OP. Tes ini menggunakan garpu tala
frekuensi 128. Pemeriksaan dilakukan dengan cara menggetarkan garpu tala
kemudian meletakkan ganggang garpu ke processus mastoideus OP, ketika OP
mengatakan getaran sudah hilang, maka ganggang garpu tersebut segera
dipindahkan ke processus mastoideus pemeriksa. Pemeriksa disini harus memiliki
pendengaran yang normal agar dapat dibandingkan hasilnya dengan OP. Pada
pemeriksaan dengan tes schwabach, rata-rata semua OP dikatakan normal. Hasil
tes dikatakan normal apabila baik OP maupun pemeriksa sama-sama tidak
mendengar lagi getaran garpu tala pada processus mastoideusnya setelah OP
memberi tanda getaran sudah hilang.
Tetapi apabila pemeriksa masih mendengar getaran pada processus
mastoideusnya setelah OP meberikan tanda bahwa getaran sudah hilang maka hal
ini dikatakan sebagai schwabach memendek. Kondisi ini dapat terjadi dikarenakan
kekurangpekaan OP ataupun pemeriksa terhadap getaran yang dihasilkan.
Pada tes Bing, ujung garpu digetarkan dan diletakkan pada processus
mastoideus telinga OP. Kemudian ditanyakan telinga bagian mana yang mendengar
getaran atau dengungan paling keras (kanan atau kiri). Pada pemeriksaan tes Bing,
OP Arsita, Intan, dan Putri normal artinya kedua telinga mendengarkan suara
dengungan sama kuat tidak ada perbedaannya. Pada OP Liza dan Tresna suara

dengungan terdengar lebih keras pada sisi telinga kanan, sedangkan OP Disa, Ria,
dan Gita mendengar dengungan lebih keras pada telinga bagian kiri. Tes ini hampir
sama dengan tes Weber. Tidak ada lateralisasi atau kedua telinga mendengar
getaran yang sama (tidak ada yang lebih keras pada salah satu telinga) maka
dikatakan normal. Tetapi apabila terjadi lateralisasi pada salah satu sisi telinga
maka dapat dikatakan terjadi gangguan pendengaran/ tuli konduksi.
KESIMPULAN
1. Pemeriksaan refleks pada pupil terdapat beberapa jenis yaitu pemeriksaan refleks cahaya,
pemeriksaan refleks konsensual, dan pemeriksaan refleks pupil mata akibat akomodasi.
2. Ukuran pupil dikendalikan oleh keseimbangan antara tonus parasiompatis (konstriktor)
dan simpatis (dilator).
3. Refleks kontraksi pupil terjadi pada cahaya terang untuk mengurangi jumlah cahaya yang
masuk ke mata dan saat otot radialis memendek maka ukuran pupil akan meningkat. Otototot iris dikontrol oleh sistem saraf otonom. Bila tidak diberikan rangsangan cahaya,
maka pupil akan normal.
4. Saat satu mata disinari dengan flash light, maka pupil yang terkena sinar akan mengecil
dan hal ini juga berpengaruh terhadap pupil mata yang tidak disinari. Pada mata yang
disinari terjadi kontraksi pupil dan pada mata yang tidak disinari terjadi refleks
konsensual.
5. Pupil akan berkontriksi jika fokus suatu benda dipindahkan dari jarak jauh ke dekat.
6. Visus adalah ukuran, berapa jauh, dan detail suatu benda dapat tertangkap oleh mata.
Visus orang yang normal adalag 6/6.
7. Buta warna merupakan kelemahan atau ketidakmampuan mengenal warna tertentu.
8. Pemeriksaan pendengaran dengan suara dapat dilakukan dengan suara berbisik pada jarak
6 meter, suara biasa pada jarak 30 m dan suara keras pada jarak 30 meter.
9. Faktor-fakrot yang mempengaruhi kuat atau lemahnya suara adalah nada atau frekuensi,
intensitas atau kekuatan, dan warna suara atau kualitas.
10. Untuk suara berbisik OP dikatakan normal apabila dapat mendengar suara pada jarak
antara 5 sampai 6 meter. Sedangkan suara baru terdengar pada jarak kurang dari 5 meter
maka OP dikatakan mengalami gangguan pendengaran/ ketulian.
11. Untuk mengetahui ketajaman pendengaran dapat dilakukan tes sederhana yaitu dengan
menggunakan garpu tala
12. Cara memeriksa ketajaman pendengaran seseorang dengan menggunakan garpu tala yaitu
dengan tes Rinne, tes Weber, tes Schwabach, dan tes Bing.
13. Tes Rinne digunakan untuk membandingkan getaran yang dihantarkan oleh udara dengan
yang dihantarkan oleh tulang

14. Tes Weber digunakan untuk membandingkan getaran yang dihantarkan tulang oleh kedua
telinga OP. Dikatakan normal apabila tidak ada perbedaan kerasnya suara yang terdengar
pada kedua telinga. Terjadi lateralisasi jika terdapat perbedaan kerasnya suara yang
didengar pada salah satu telinga.
15. Tes Schwabach digunakan untuk membandingkan getaran yang dihantarkan tulang pada
pemeriksan (normal) dengan OP. Dikatakan normal apabila OP dan Pemeriksa tidak
mendengar getaran lagi setelah OP memberi tanda bahwa getaran atau dengungan sudah
hilang pada saat diletakkan ganggang penala di processus mastoideus.
DAFTAR PUSTAKA
Brooker, Chris. 2008. Ensiklopedia Keperwatan. EGC: Jakarta
Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat. 1990. Upaya Kesehatan Kerja Sektor Informal di
Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta
Edi S.Affandi. 2005. Sindrom Penglihatan Komputer. Majalah Kedokteran Indonesia, No.
03/Vol. 55/Februari 2005.
Gabriel. 1996. Fisika Kedokteran. EGC : Jakarta
Ganong, William. 2005. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Ginsberg, Lionel. 2005. Neurologi, edisi kedelapan. Erlangga : Jakarta.
Guyton & Hall, 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 9. EGC: Jakarta
Mescher, Anthony L. 2009. Histologi Dasar Junqueira Teks & Atlas. Alih Bahasa: Frans
Dany. Jakarta: EGC.
Murtiati, Tri. dkk. 2012. Penuntun Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia. Jakarta: UNJ.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Salemba Medika: Jakarta
Naber, Marnix & Ken Nakayama. 2013. Pupil Responses to High-level Image Content.
Journal of Vision (2013) 13(6):7, 18 : http://www.journalofvision.org/content/13/6/7
Rubenstein, David,dkk. 2007. Kedokteran Klinis. Erlangga : Jakarta
Setiadi. 2008. Anatomi Fisiologi Manusia. Jakarta : Gramedia.
Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC.
Sidarta, Ilyas. 2004. Katarak ( Lensa Mata Keruh). Balai Penerbit FKUI : Jakarta
Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta : EGC.
Sumamur P.K. 1996. Higene Perusahaaan dan Kesehatan Kerja. Gunung Agung: Jakarta
Watson, Roger. 2002. Anatomi Fisiologi untuk Perawat. Jakarta : EGC.