Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

IDENTIFIKASI KATION GOLONGAN I

Disusun oleh :
Nama

: Amalia Nurul Fauziah

Kelas

: Semester II Reguler A

NIM

: P07134112003

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN ANALIS KESEHATAN PROGRAM DIII

2012/2013

A. Waktu Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada :
1. hari
: Rabu
2. tanggal
: 27 Maret 2013
3. tempat
: Laboratorium Kimia Analitik Jurusan Analis Kesehatan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
B. Tujuan Praktikum
Mengidentifikasi kation golongan I dengan menggunakan pereaksi yang ditentukan.
C. Prinsip Kerja
Mengidentifikasi kation golongan I yang terdapat dalam suatu sampel dengan
mereaksikannya dengan berbagai pereaksi tertentu yang nantinya akan memberikan tanda
spesifik yang berupa terbentuknya endapan, perubahan warna, dan terbentuknya gas.
D. Dasar Teori
Untuk tujuan analisis kualitatif sistematik kation-kation diklarifikasikan dalam lima
golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu terhadap beberapa reagensia. Dengan memakai
reagensia golongan secara sistematik , dapat ditetapkan ada tidaknya golongan-golongan
kation dan dapat juga memisahkan golongan-golongan ini untuk pemeriksaan lebih
lanjut. Reagensia golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum
adalah asam klorida, hidrogen sulfida, amonium sulfida dan amonium karbonat.
Klasifikasi ini didasarkan pada apakah suatu kation bereaksi dengan reagensia-reagensia
ini dengan membentuk endapan atau tidak.
Secara prinsip, zat yang akan diidentifikasi dilarutkan kemudian ditambahkan
pereaksi tertentu yang sesuai, yang akan mengendapkan segolongan kation sebagai garam
yang sukar larut atau hidroksinya. Pereaksi haruslah sedemikian rupa sehingga
pengendapan kation golongan kation selanjutnya tidak terganggu atau sebelumnya dapat
dengan mudah dihilangkan dari larutan yang hendak dianalisis.
Kelima golongan kation dan ciri-ciri khas golongan-golongan ini adalah sebagai
berikut :
1. Golongan I

: kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida encer.

Ion-ion golongan ini adalah timbel, merkurium(I), dan perak.


2. Golongan II :kation golongan ini tidak bereaksi dengan asam klorida, tetapi
membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer.
Ion-ion golongan ini adalah merkurium(II), tembaga, bismut, kadmium, arsenik(III),
arsenik(V), stibium(III), stibium(V), timah(II), dan timah (III) (IV).

3. Golongan III :kation golongan ini tidak bereaksi dengan HCl encer, ataupun dengan
H2S dalam suasana asam mineral encer. Kation-kation golongan ini adalah kobalt(II),
nikel(II), besi(II), besi(III), kromium(III), aluminium, zink, dan mangan(II).
4. Golongan IV :kation golongan ini tak bereaksi dengan reagensia golongan I, II, dan
III. Kation-kation golongan ini adalah kalsium, strontium dan barium.
5. Golongan V :kation-kation yang umum, yang tidak bereaksi dengan reagensiareagensia golongan I, II, III dan IV, merupakan golongan kation yang terakhir, yang
meliputi ion-ion magnesium, natrium, kalium, amonium, litium dan hidrogen.
Pada percobaan kali ini lebih ditekankan pada pemisahan dan identifikasi kation
golongan I. Golongan kation I adalah timbel(II), merkurium(I), dan perak(I). Kation
golongan I membentuk klorida, yang tidak larut. Namun, timbal klorida sedikit larut
dalam air, dan karena itu timbal tidak pernah mengendap dengan sempurna bila
ditambahkan dengan HCl encer kepada suatu cuplikan ion timbal yang tersisa itu,
diendapkan secara kuantitatif dengan H2S dalam suasana asam bersama-sama golongan
II.
Untuk identifikasi senyawa organik, pada umumnya didasarkan atas kelarutannya
dalam air. Jika senyawa tidak larut dalam air, maka harus dilakukan destruksi. Cara
destruksi tergantung dari senyawa yang hendak dianalisis dan ditentukan dengan bantuan
percobaan pendahuluan. Prinsip destruksi ini terdiri dari pelelehan campuran senyawa
yang sukar larut dalam pereaksi yang sesuai dalam jumlah yang berlebih. Akibatnya
reaksi ini akan digeser sempurna ke arah reaksi.
Kation-kation golongan pertama, membentuk klorida-klorida yang tak larut.
Namun, timbel klorida sedikit larut dalam air, dan karena itu timbel tak pernah
mengendap dengan sempurna bila ditambahkan asam klorida encer kepada suatu
cuplikan: ion timbel yang tersisa itu, diendapkan secara kuantitatif dengan hidrogen
sulfida dalam suasana asam bersama-sama kation golongan II.
Nitrat dari kation-kation ini sangat mudah larut. Di antara sulfat-sulfat, timbel
sulfat praktis tidak larut, sedang perak sulfat larut jauh lebih banyak. Kelarutan
merkurium(I) sulfat terletak di antara kedua zat tersebut.
Bromida dan iodida juga tidak larut, sedangkan pengendapan timbel halida tidak
sempurna, dan endapan itu mudah sekali larut dalam air panas. Sulfida tidak larut. Asetatasetat lebih mudah larut, meskipun perak asetat bisa mengendap dari larutan yang agak
pekat.

Hidroksida dan karbonat akan diendapkan dengan reagensia yang jumlahnya


ekuivalen, tetapi kalau reagensia berlebihan, ia dapat bertindak dengan bermacam-macam
cara. Juga ada perbedaan dalam sifat zat-zat ini terhadap amonia.
E. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Tabung reaksi
b. Rak tabung reaksi
c. Pipet pasteur
d. Kertas saring
e. Mikroskop
f. Objek glass
g. Deck glass
2. Bahan
a. Pereaksi
1) HCl 2N
2) NH4OH 2N
3) Endapan AgCl
4) K2CrO4 5%
5) KI 0,1 N
6) KCN* 0,1 N
7) NaOH 1 N
8) Dithizon*
9) Benzidine*
10) NaOH 3N
11) Air Brom
12) NH4OH 1 : 1
13) KCN kristal
14) SnCl2 * 5% dalam HCl 10 N
15) Anilin murni
16) Diphenyl Carbazida** 1% dalam alkohol 96%
17) Asam oksalat 5%
18) NaNO2** jenuh
19) AgNO3 10%
20) Lempeng Al
21) Campuran MnSO4 0,1% + KMnO4 0.1N + HCl 10 N
Keterangan :
* menunjukkan bahwa reagensia mempunyai stabilitas yang terbatas dan tak
boleh disimpan selama lebih dari 1 bulan.
** menunjukkan bahwa reagensia harus baru dibuat dan dibuang setelah dipakai.
Reagensia tanpa tanda bintang dapat disimpan selama sedikitnya satu tahun
setelah pembuatan.
b. Bahan Uji
1) Ag+ dalam larutan AgNO3 5%
2) Hg22+ dalam larutan HgNO3 5%
3) Hg2+ dalam larutan HgCl2 5%
4) Pb2+ dalam larutan Pb(NO3)2 5%

F. Cara Kerja
1. Dengan pereaksi HCl 2N
Dimasukkan masing-masing 3 tetes bahan uji yang berbeda ke dalam 4 tabung reaksi.
Ditambahkan masing-masing 2 tetes pereaksi HCl 2 N ke dalamnya.
Diamati perubahan yang terjadi.
2. Dengan pereaksi NH4OH 2N
Endapan AgCl (pada no. 1) dicuci dengan cara didekantasi .
Ditambahkan pereaksi NH4OH 2N.
Diamati perubahan yang terjadi.
3. Dengan pereaksi K2CrO4 5%
Pada object glass ditetesi 2 tetes bahan uji ditambahkan 1 tetes reagen kemudian
dikeringkan. Diamati pada mikroskop dengan perbesaran 40x.
4. Dengan pereaksi KI 0,1 N
Dimasukkan 2 tetes bahan uji dan 2 tetes pereaksi kemudian diamati perubahan yang
terjadi. Untuk pengamatan pada mikroskop, diteteskan 2 tetes bahan uji pada object
glass dan 1 tetes pereaksi kemudian dikeringkan dan diperiksa pada mikroskop dengan
perbesaran 40x.
5. Dengan pereaksi KCN* 0,1 N
Dimasukkan 3 tetes bahan uji ditambahkan pereaksi tetes demi tetes sampai terbentuk
endapan. Kemudian ditambahkan reagen hingga berlebih.
6. Dengan pereaksi NaOH 1 N
Dimasukkan 3 tetes bahan uji ditambahkan pereaksi tetes demi tetes sampai terbentuk
endapan. Kemudian ditambahkan reagen hingga berlebih.
7. Dengan pereaksi Dithizon*
Dimasukkan 10 tetes bahan uji suasana netral/basa ditambahkan beberapa butir KCN
kristal ditambahkan 2 tetes Dithizon baru. Dikocok selama 30 detik dan ditunggu
hingga 3 menit. Diamati perubahan yang terjadi.
8. Dengan pereaksi Benzidine* (Tidak dilakukan pemeriksaan di laboratorium KA)
Pada kertas saring, ditambahkan 1 tetes bahan uji + 2 tetes NaOH 3 N + 1 tetes air
brom + 2 tetes NH4OH 1:1, kemudian dikibas-kibaskan dan ditambah 2 tetes
benzidine. Diamati perubahan yang terjadi.
9. Dengan pereaksi SnCl2 * 5% dalam HCl 10 N
Pada kertas saring, ditambahkan 1 tetes bahan uji + 1 tetes pereaksi + 1 tetes anilin
murni. Diamati perubahan yang terjadi.
10. Dengan pereaksi Diphenyl Carbazida** 1% dalam alkohol 96%
Pada kertas saring, ditambahkan 1 tetes reagensia + 1 tetes HNO 3 0,2 N + 1 tetes asam
oksalat 5% +1 tetes bahan uji. Diamati perubahan yang terjadi.
11. Dengan pereaksi NaNO2** jenuh
Pada kertas saring, ditambahkan 1 tetes bahan uji + 1 tetes AgNO 3 10% + 1 tetes
reagen baru. Diamati perubahan yang terjadi.
12. Dengan pereaksi Lempeng Al
Diteteskan 1 tetes bahan uji kemudian digosok-gosokkan dengan kertas saring kering.
Diamati perubahan yang terjadi.
13. Dengan pereaksi Campuran MnSO4 0,1% + KMnO4 0.1N + HCl 10 N
Diletakkan 1 tetes tiap reagen + 1 tetes bahan uji.

G. Hasil Praktikum
N
O
1

Pereaksi
HCl 2N

NH4OH 2N

K2CrO4 5%

Ag

Pengamatan
Hg2+

2+

Hg2

Putih

Larut
Kertas

Tdk

terbentuk

terbentuk

endapan
Putih

endapan
Putih

Tdk berubah

Panas :

Panas :

Kuning

Merah
cincin merah
Mikroskop : kristalin
Dingin :
Kristal
Coklat
merah jarum
KI 0,1 N

Kuning

Berlebihan :
Larut

KCN* 0,1 N

Putih

Berlebihan :

Merah
kristalin
Dingin :
Coklat

amorf
Merah

amorf
Merah

bata

bata
Berlebihan :

Berlebihan :
Larut

Putih

Tdk

saring :

Pb2+

Larut

Tidak ada

Tidak ada

endapan

endapan

Larut
6

NaOH 1 N

10

10 N
Diphenyl Carbazida**

kuning segi
6
Putih

Berlebihan :

Larut
Putih

Kuning

Kuning

Berlebihan :

Berlebihan :

Berlebihan :

Berlebihan :

Tak

Tak

Tak

Larut

Larut

Larut
Hijau reagen

Benzidine*
SnCl2 * 5% dalam HCl

Kristal

Tak

Dithizon*

8
9

Mikroskop :

Coklat

Larut
7

Kuning

Hitam

Hitam

Keabuan
Terbentuk

Keabuan
Terbentuk

berubah
merah bata
-

11

1% dalam alkohol 96%


NaNO2** jenuh
-

12
13

Lempeng Al
Campuran MnSO4 0,1%

Warna

+ KMnO4 0.1N + HCl

coklat

10 N

reagen

warna ungu
Tidak ada

warna ungu

perubahan

warna
Serbuk putih

Serbuk putih

hilang

Reaksi identifikasi adalah suatu reaksi kimia yang dimaksudkan untuk mengetahui
keberadaan suatu zat (ion) dalam suatu sampel tertentu. Untuk itu maka dibutuhkan
pengetahuan dasar tentang sifat zat/gejala atau perubahan di timbulkan apabila
ditambahkan suatu pereaksi.
Bahan uji yang akan dilakukan uji kation dalam percobaan kali ini adalah Ag +
dalam larutan AgNO3 5%, Hg22+ dalam larutan HgNO3 5%, Hg2+ dalam larutan HgCl2
5% dan Pb2+ dalam larutan Pb(NO3)25%. Bahan diuji dengan berbagai pereaksi yaitu
HCl 2N, NH4OH 2N, K2CrO4 5%, KI 0,1 N, KCN* 0,1 N, NaOH 1 N, Dithizon*,
Benzidine*, SnCl2 * 5% dalam HCl 10 N, Diphenyl Carbazida** 1% dalam alkohol 96%,

NaNO2** jenuh, Lempeng Al dan Campuran MnSO 4 0,1% + KMnO4 0.1N + HCl 10 N.
Namun, dari semua jenis pereaksi, yang dapat jelas membedakan antara kation golongan
I dengan kation golongan lain adalah HCl 2N, KI 0,1 N, NH 4OH 2N, KCN* 0,1 N ,
NaOH 1 N dan NaNO 2** jenuh. Pereaksi tersebut telah menunjukkan larutan/bahan uji
yang tidak terdapat kation golongan I yaitu larutan HgNO 3 5% dan larutan HgCl2 5%.
Sedangkan larutan AgNO3 5% dan larutan Pb(NO3)25% menunjukkan hasil yang positif
terhadap semua pereaksi yang digunakan.
Menurut dasar teori, kation yang termasuk golongan I yaitu Ag + , Hg22+ dan Pb2+ .
Namun dalam percobaan yang dilakukan, ion Hg22+ dalam larutan HgNO3 5% tidak
menunjukkan hasil positif terhadap pereaksi HCl 2N, KI 0,1 N, NH 4OH 2N, KCN* 0,1 N
, NaOH 1 N dan NaNO2** jenuh. Ion Hg22+ dalam larutan HgNO3 5% dan ion Hg2+ dalam
larutan HgCl2 5% dalam percobaan menunjukkan hasil yang seragam atau sama. Padahal
dengan pereaksi tersebut, seharusnya dapat jelas membedakan golongan I dengan
golongan lain khususnya membedakan antara ion Hg 22+ dan ion Hg2+ . Dari uji identifikasi
dapat diketahui bahwa terjadi kesalahan dalam pembuatan larutan uji atau bahan uji pada
larutan HgNO3 5%. Sehingga kation yang terdapat dalam larutan bukan merupakan
kation Hg22+ , melainkan kation Hg2+. Hal inilah yang menyebabkan hasil yang seragam
atau sama pada uji identifikasi kedua ion ini.
I. Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa kation yang
termasuk golongan I yaitu Ag+ , Hg22+ dan Pb2+ .
J. Referensi
Vogel. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro Jilid I dan
II. Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka
http://imamsamodra.files.wordpress.com/2008/02/reaksi-terhadap-kation.pdf (27 Maret
2013)
Pembimbing

Yogyakarta, 04 April 2013


Praktikan

Narendra Yoga, ST, M.Biotech

Amalia Nurul Fauziah

& Tim Praktikum