Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengamatan suatu gejala umumnya tidak lengkap bila tidak menghasilkan
informasi kuantitatif. Pengukuran suatu sifat fisis dibutuhkan untuk memperoleh
informasi semacam ini, karena itu pengukuran merupakan bagian besar dari kegiatan
rutin para ilmuan. Pernyataan suatu sifat fisis dalam bilangan membutuhkan tidak
hanya penggunaan matematika untuk menunjukkan hubungan antara berbagai
besaran, tetapi juga untuk mengolah hubungan ini.
Kerapatan adalah perbandingan antara bobot zat pada suhu tertentu dan pada
volume tertentu dengan bobot air pada suhu 4 C dengan volume yang sama
(Taba, dkk., 2014). Bobot jenis adalah perbandingan antara bobot zat pada volume
tertentu dengan bobot air pada suhu tertentu dengan volume yang sama. Bobot jenis
dapat juga disebut dengan gravitasi spesifik (Burns, 1995). Dalam praktikum,
kerapatan dan bobot jenis suatu fluida pada suhu tertentu dapat diukur menggunakan
beberapa alat antara lain neraca Mohr (Westphal), aeromoter, piknometer, densimeter
dan lain-lain.
Massa dan volume adalah sifat yang besarnya tergantung jumlah zat yang
diselidiki sifat ini disebut sifat ekstensif. Kerapatan merupakan salah satu sifat
intensif, yaitu sifat yang tidak tergantung pada jumlah zat. Hal ini berarti berapapun
jumlah suatu zat, kerapatan zat tersebut akan tetap sama dalam kondisi yang sama.
Berdasarkan teori di atas maka percobaan penentuan kerapatan dan bobot jenis ini
dilakukan dengan menggunakan akuades, metanol dan gliserol 10 % sebagai sampel
serta piknometer dan neraca Westphal sebagai alat untuk mengukur bobot jenis.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1

Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari cara

penentuan kerapatan dan bobot jenis suatu zat dengan menggunakan beberapa
metode pengukuran.
1.2.2

Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan ini adalah untuk menentukan kerapatan dan bobot jenis dari

akuades, aseton, dan gliserol 10 % dengan menggunakan neraca Westphal dan


piknometer.
1.3 Prinsip Percobaan
1.3.1 Neraca Westphal
Prinsip percobaan ini adalah mengukur dan menghitung kerapatan dan bobot
jenis sejumlah volume akuades, metanol, dan gliserol 10 % dengan memasukkan
penyelam ke dalam gelas ukur yang berisi larutan, kemudian menambahkan anting
pada lengan neraca sampai seimbang dan membaca skala anting-anting pada neraca
Westphal, sehingga dapat ditentukan bobot jenis dan kerapatan larutan.
1.3.2

Piknometer
Prinsip percobaan ini adalah mengukur kerapatan dan bobot jenis sejumlah

volume akuades, metanol dan gliserol 10 % dengan menghitung selisih antara bobot
penimbangan piknometer kosong dan piknometer yang berisi larutan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengukuran
Nilai kuantitatif dalam suatu penelitian ilmiah sangat diutamakan dibanding
pernyataan kualitatif. Sejak jaman dahulu pengukuran yang dinyatakan secara
kuantitatif dengan satuan-satuan yang sesuai telah digunakan. Ketetapan dari
pengukuran mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Suatu satuan pengukuran
yang tepat akan digunakan dalam pengukuran ilmiah (Petrucci 1999).

Alonso dan Finn (1992) mendefinisikan pengukuran sebagai suatu teknik


untuk mengkaitkan suatu bilangan pada suatu sifat fisis dengan membandingkannya
dengan suatu besaran standar yang telah diterima sebagai suatu satuan. Pengukuran
sedikit banyak dipengaruhi oleh kesalahan eksperimental karena ketidaksempurnaan
yang tak terelakkan dalam alat ukur atau karena batasan yang ada pada indera yang
harus merekam informasi tadi. Oleh karena itu, seorang ilmuan merancang suatu
teknik pengukuran sehingga gangguan pada besaran yang diukur lebih kecil dari pada
kesalahan eksperimental.
Pengukuran yang dilakukan oleh seorang ilmuan haruslah presisi dan akurat.
Presisi menjelaskan mengenai kedekatan dari beberapa pengukuran kuantitas satu
sama lain. Akurasi menjelaskan mengenai kedekatan pengukuran atau rata-rata dari
beberapa pengukuran terhadap nilai sebenarnya. Presisi dari suatu pengukuran
berhubungan langsung dengan alat yang digunakan langsung dalam pengukuran,
berarti presisi adalah sifat dari suatu alat ukur. Berbeda dengan presisi, akurasi tidak
hanya bergantung pada alat ukur yang digunakan, tetapi juga pada kepada
kemampuan dari pengukur. Seberapa baik orang tersebut dapat membaca skala dari
alat ukur dan seberapa baik orang tersebut dapat mengkalibrasi alat sebelum
digunakan (Stoker, 1990).
2.2 Kerapatan
Kerapatan adalah sifat karakteristik yang penting dari suatu materi. Kerapatan
didefinisikan sebagai massa per satuan volume. Kerapatan zat padat ditunjukkan
dalam gram per sentimeter kubik (g/cm3) dan kerapatan zat cair ditunjukkan dalam
gram per mililiter (g/mL). Sementara kerapatan gas ditunjukkan dalam gram per liter
(Burns, 1995).

Menurut Tipler (1998), kerapatan air dalam satuan cgs adalah 1 g/cm3 karena
gram didefinisikan sebagai massa satu centimeter kubik air. Berdasarkan satuan SI,
kita dapat mengubah satuan g/cm3 menjadi kg/m3, sehingga didapatkan kerapatan air,

1g
kg 100 cm

3
m
cm 10 g

10 3 kg/m 3

kerapatan air berubah dengan berubahnya temperatur. Persamaan di atas


menunjukkan nilai maksimum dari kerapatan air yang terjadi pada 4 oC. Bila
kerapatan suatu benda lebih besar dari air, maka benda akan tenggelam dalam air
Fakta yang penting tentang kerapatan adalah suatu zat mengembang ketika
dipanaskan. Oleh karena itu, ketika suatu zat dalam massa tertentu panas, ia akan
menempati volume yang lebih besar dibanding ketika dingin. Hal ini menjelaskan
bahwa kerapatan suatu zat berkurang ketika dipanaskan (Sherman dkk., 1992).
Menurut Sutiah dkk., (2008), kerapatan adalah salah satu parameter mutu dari
minyak goreng. Kerapatan suatu minyak akan berkurang bersama dengan
penggunaan minyak untuk menggoreng. Minyak goreng yang sudah dipakai
memiliki nilai kerapatan lebih kecil dibanding kerapatan minyak yang belum pernah
dipakai, hal ini disebabkan karena minyak yang sudah digunakan telah mengalami
pemanasan sehingga ikatan antar molekulnya berkurang dan menyebabkan kerapatan
minyak berkurang.
2.3 Bobot Jenis
Bobot jenis didefinisikan sebagai perbandingan massa dari suatu zat dengan
massa yang setara dengan volume air pada kondisi yang sama. Perbandingan ini juga
sama dengan kerapatan suatu zat dibagi dengan kerapatan air. Bobot jenis air itu
sendiri adalah 1. Bobot jenis adalah nilai tanpa satuan. Hal ini disebabkan karena dua

nilai dengan satuan yang sama dibagi dan menghasilkan nilai tanpa satuan. Adapun
bobot jenis suatu zat dapat dihitung dengan rumus (Burns, 1995):
Bobot jenis suatu zat

kerapatan zat
kerapatan air

Menurut Harimurti dkk., (2012), bobot jenis merupakan


kriteria yang cukup penting dalam menentukan kemurnian senyawa
organik. Bobot jenis dikaitkan dengan fraksi berat komponenkomponen yang terkandung dalam minyak nilam.
Menurut Ajala dan Ogunsanwo (2011), bobot jenis dari kayu
Aningeria Robusta dapat ditentukan dengan memindahkan kubus
berukuran 20 x 20 x 20 mm dari bagian atas setiap spesimen uji.
Setiap kubus dipindahkan dari air, kemudian dikeringkan untuk
menghilangkan kelebihan air, berat dan pengeringan oven untuk
berat tetap pada 103 oC. Bobot jenis ditentukan dengan rumus:
SG

1
Wo - Ws
1

Wo
1,53

Dimana, SG adalah bobot jenis; Ws adalah berat jenuh kayu; Wo


adalah berat kering oven kayu dan 1,53 adalah konstanta berat
kayu.
Bobot jenis dari suatu cairan sering diukur menggunakan
suatu alat yang disebut hidrometer. Ketika hidrometer dimasukkan
ke dalam suatu cairan, alat tersebut akan tenggelam sesuai dengan
kerapatan cairan tersebut. Hidrometer di kalibrasi sehingga bobot
jenis dapat ditentukan langsung dengan membaca angka yang

tertera pada batang hidrometer pada permukaan cairan (Burns,


1995).
2.4 Neraca Westphal
Menurut Taba dkk., (2014), neraca Westphal yang juga dikenal sebagai neraca
Mohr adalah alat yang digunakan untuk mengukur bobot jenis suatu zat. Neraca
mohr memiliki lengan tunggal dengan skala 0-10. Penentuan bobot jenis zat dengan
neraca westphal dilakukan dengan menggunakan empat macam anting dengan urutan
bobot yang terbesar hingga yang terkecil. Bobot anting dari yang terbesar hingga
yang terkecil adalah 0,1 hingga 0,0001.
2.5 Piknometer
Penentuan kerapatan suatu zat cair dengan menggunakan piknometer adalah
metode yang paling sering digunakan. Pada metode ini, diukur massa dari
piknometer kosong (m0), massa piknometer berisi cairan (m1), dan massa piknometer
yang berisi sampel (ms). Jika kerapatan dari zat cair (1) diketahui, maka kerapatan
sampel (s) dapat ditentukan menggunakan piknometer (Masuda dkk., 2006).
Piknometer adalah peralatan gelas yang digunakan untuk mengukur massa
jenis zat cair dan tersedia dalam berbagai ukuran. Piknometer umumnya terbuat dari
gelas dengan bentuk bulat silinder. Piknometer disertai dengan penutup yang terdapat
rongga kapiler yang berguna untuk menghilangkan gelembung udara yang berada di
dalam botol pada saat piknometer diisi dengan zat cair (Khamidinal, 2009).
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Bahan Percobaan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu akuades, gliserol 10%,

metanol, dan tissue roll.


3.2 Alat Percobaan
Alat-alat yang digunakan pada percobaan yaitu 1 set neraca Westphal,
piknometer 25 mL, neraca analitik, termometer 110 C, pinset, pipet tetes, gelas
kimia 100 mL, dan gelas kimia 250 mL.
3.3 Prosedur percobaan
3.3.1 Penentuan Kerapatan dan Bobot Jenis dengan Menggunakan Neraca
Westphal
Neraca Westphal dirangkai, selanjutnya gelas ukur diisi dengan akuades
sampai batas skala atas. Suhu akuades diukur dengan menggunakan termometer lalu
dicatat suhunya. Penyelam dimasukkan ke dalam gelas ukur yang berisi akuades
kemudian lengan neraca diatur sehingga penyelam kurang lebih 2 cm dari permukaan
cairan. Diusahakan penyelam tidak menempel atau bersetuhan dengan dinding gelas
piala. Anting diletakkan pada skala lengan neraca sedemikian rupa sehingga neraca
Westphal setimbang, peletakan anting dimulai dari anting terbesar hingga anting
yang terkecil. Bobot jenis dari akuades ditentukan dengan membaca angka skala
yang ditunjukkan oleh anting, pembacaan dilakukan dari anting yang terbesar sampai
anting yang terkecil. Penyelam dan gelas ukur kemudian dibersihkan dan
dikeringkan dengan tissue. Isi dari gelas ukur diganti dengan sampel secara
berturut-turut dengan metanol dan gliserol 10 %, kemudian dilakukan pengerjaan
dengan prosedur yang sama.
3.3.2

Penentuan Kerapatan
Piknometer

dan

Bobot

Jenis

dengan

Menggunakan

Piknometer yang telah bersih dan kering ditimbang, kemudian piknometer


diisi dengan akuades sampai penuh lalu ditutup. Bagian luar piknometer dibersihkan
dan dikeringkan dengan menggunakan tissue. Setelah itu, piknometer yang berisi
akuades ditimbang dengan menggunakan neraca analitik dan dicatat bobotnya. Suhu

akuades di dalam piknometer diukur dengan termometer kemudian dicatat.


Piknometer dibersihkan, prosedur yang sama dilakukan untuk metanol kemudian
gliserol 10 %.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Penentuan Kerapatan dan Bobot Jenis Menggunakan Neraca Westphal


Tabel 1. Hasil pengukuran dengan neraca Westphal
Pembacaan Skala
Suhu (C)
No
Anting
Nama Contoh
.
IA IIA IIIA IVA
1.

Akuades

29

Bobot Jenis

0,6039

a.

2.

Metanol

28

0,5123

3.

Gliserol 10 %

29

0,6289

Akuades
Anting I A

: 6 x 0,1

= 0,6

Anting III A : 3 x 0,001

= 0,003

Anting IV A : 9 x 0,0001

= 0,0009

S gt
= 0,6039
t
d aq

(29 oC)

d t4

= 0,995944 g/cm3

t
Sgt x d aq

(29 oC)

= 0,6039 x 0,995944 g/cm3 = 0,6015 g/cm3

b. Metanol
Anting I A

: 5 x 0,1

= 0,5

Anting II A

: 1 x 0,01

= 0,01

Anting III A : 2 x 0,002

= 0,002

Anting IV A : 3 x 0,0001

= 0,0003

S gt
= 0,5123
t
d aq

(28 oC)

d t4

= 0,996232 g/cm3

t
Sgt x d aq

(28 oC)

= 0,5123 x 0,996232 g/cm3


= 0,5104 g/cm3

c.

Gliserol 10 %
Anting I A

: 6 x 0,1

= 0,6

Anting II A

: 2 x 0,01

= 0,02

Anting III A : 8 x 0,001

= 0,008

Anting IV A : 9 x 0,0001

= 0,0009

S gt
= 0,6289

t
aq

(29 oC)

d t4

= 0,995944 g/cm3

t
Sgt x d aq

(29 oC)

= 0,6289 x 0,995944 g/cm3


= 0,6263 g/cm3

Kerapatan adalah sifat karakteristik yang penting dari suatu materi. Kerapatan
didefinisikan sebagai massa per satuan volume. Kerapatan zat cair ditunjukkan dalam
gram per mililiter (g/mL). Bobot jenis adalah suatu istilah yang hampir sama dengan
kerapatan. Bobot jenis didefinisikan sebagai perbandingan massa dari suatu zat
dengan massa yang setara dengan volume air pada kondisi yang sama. Perbandingan
ini juga sama dengan kerapatan suatu zat dibagi dengan kerapatan air (Burns, 1995).
Neraca Westphal atau yang dikenal juga dengan nama neraca Mohr adalah
alat ukur yang digunakan untuk menentukan bobot jenis suatu zat cair. Hukum yang
berlaku pada neraca Westphal adalah hukum Archimedes yang mengatakan bahwa
apabila penyelam dimasukkan ke dalam suatu cairan, maka penyelam tersebut akan
mengalami gaya angkat yang sesuai dengan bobot jenis zat cair tersebut. Pada
percobaan penentuan bobot jenis dengan neraca Westphal ini menggunakan 3 sampel
yaitu akuades, metanol dan gliserol 10%. Pada percobaan penentuan bobot jenis

dengan neraca Westphal pertama-tama alat dirangkai sedemikian rupa sehingga


penyelam berada kurang lebih 2 cm di atas permukaan cairan. Selanjutnya penyelam
juga diatur agar tidak menyentuh dinding gelas ukur, agar tidak mempengaruhi
keseimbangan neraca pada saat pembacaan skala pada neraca Westhphal. Kemudian
anting diletakkan pada skala lengan tunggal sehingga neraca Westphal setimbang.
Penambahan anting dilakukan dari anting yang terbesar hingga terkecil. Bobot anting
yang digunakan adalah 0,1 untuk anting I, 0,01 untuk anting II, 0,001 untuk anting
III dan 0,0001 untuk anting IV. Setelah digunakan, penyelam harus dibersihkan dan
dikeringkan dengan tissue agar tidak mempengaruhi bobot jenis sampel yang akan
diukur selanjutnya.
Hasil yang diperoleh dari pengukuran bobot jenis dan kerapatan dengan

S gt
neraca Westphal adalah akuades pada suhu 29 oC memiliki

d t4

d t4

= 0,6039 dan

Sgt
= 0,6015 g/cm3; metanol pada suhu 28 oC memiliki

= 0,5123 dan

Sgt
= 0,5104 g/cm3; dan gliserol 10 % pada suhu 29 oC memiliki

0,6289 dan

d t4

= 0,6263 g/cm3. Berdasarkan teori kerapatan air pada

suhu 29 oC adalah

0.9959 g/cm3, kerapatan metanol pada suhu 28 oC adalah

0,7826 g/cm3 dan kerapatan gliserol 10 % pada suhu 29 oC adalah 1,0190 g/cm3
(Mulyono, 2011). Dengan membandingkan hasil pengukuran dengan teori terdapat
perbedaan bobot jenis pada masing-masing sampel, hal ini mungkin disebabkan

karena kesalahan dalam pembacaan skala, bobot anting yang tidak sesuai ataupun
kesalahan dalam kalibrasi alat.

4.2 Penentuan Kerapatan dan Bobot Jenis dengan Menggunakan Piknometer


Tabel 2. Hasil pengukuran dengan piknometer
Bobot (gram)
No
Nama
Piknomete Piknomete
Contoh
Contoh
.
r Kosong
r + Contoh
1.
Akuades
19,1238
44,0128
24,8890
2.
Metanol
19,1238
38,9538
19,8300
3.
Gliserol
19,1238
44,4265
23,3027
a.

Akuades
Bobot akuades + piknometer = 44,0128 gram
Bobot piknometer kosong

= 19,1238 gram

Bobot akuades

= 24,8890 gram

Sgt

bobot akuades 24,8890 gram

1,0000
bobot akeades 24,8890 gram

t
d aq
(29,5 o C) 0,995796 g/cm 3

t
d t4 S gt x d aq
(29,5 o C) 1,0000 x 0,995796 g/cm 3

0,9958 g/cm 3

b. Metanol
Bobot metanol + piknometer = 38,9538 gram
Bobot piknometer kosong

= 19,1238 gram

Bobot metanol

= 19,8300 gram

Bobot akuades

= 24,8890 gram

Suhu
(C)

Bobot
Jenis

29,5
26
28

1,0000
0,7967
1,0166

S gt

bobot akuades 19,8300 gram

0,796737514
bobot akeades 24,8890 gram

t
d aq
(26 o C) 0,996783 g/cm 3

t
d 4t S gt x d aq
(26 o C) 0,796737514 x 0,996783 g/cm 3

0,79417441 g/cm 3 0,7942 g/cm 3

c.

Gliserol 10 %
Bobot gliserol + piknometer

= 44,4265 gram

Bobot piknometer kosong

= 19,1238 gram

Bobot gliserol

= 25,3027 gram

Bobot akuades

= 24,8890 gram

S gt

bobot akuades 25,3027 gram

1,016621801
bobot akeades 24,8890 gram

t
d aq
(28 o C) 0,996232 g/cm 3

t
d 4t S gt x d aq
(28 o C) 1,016621801 x 0,996232 g/cm 3

1,01279117 g/cm 3 1,0128 g/cm 3


Piknometer adalah peralatan gelas yang digunakan untuk mengukur bobot
jenis zat cair. Piknometer terdiri atas badan piknometer yang berbentuk bulat silinder
dan penutup yang memiliki rongga kapiler. Sama seperti penentuan bobot jenis dan
kerapatan dengan neraca Westphal, sampel yang digunakan pada percobaan
penetapan bobot jenis dan kerapatan dengan piknometer adalah akuades, metanol dan
gliserol 10 %. Pengukuran massa jenis dengan piknometer dilakukan dengan

pertama-tama menibang piknometer kosong dan kering. Kemudian piknometer diisi


dengan sampel hingga penuh lalu ditutup. Piknometer yang telah berisi penuh sampel
kemudian ditimbang kembali. Perlu diperhatikan pada saat menambahkan sampel ke
dalam piknometer diusahakan tidak ada gelembung, serta bagian luar piknometer
harus betul-betul kering, hal ini bertujuan agar bobot piknometer dan sampel tidak
dipengaruhi oleh sisa sampel yang tertinggal di bagian luar piknometer. Hal lain yang
perlu diperhatikan adalah sebelum piknometer digunakan untuk sampel berikutnya,
piknometer tersebut harus dibilas terlebih dahulu dengan sampel yang akan
dimasukkan untuk mencegah pengaruh dari sampel sebelumnya terhadap hasil yang
akan diperoleh.
Hasil yang diperoleh dari pengukuran bobot jenis dan kerapatan dengan

Sgt
piknometer adalah akuades pada 29,5 oC memiliki

= 1 dan

d t4

Sgt
o

metanol pada suhu 26 C memiliki

= 0,796737514 dan

d 4t

= 0,9958 g/cm3;

= 0,7942 g/cm3;

Sgt
dan gliserol 10 % pada suhu 28 oC memiliki memilik

dan

d t4

= 1,016621801

= 1,0128 g/cm3. Berdasarkan teori kerapatan air pada

suhu 29,5 oC adalah

0.9958 g/cm3, kerapatan metanol pada suhu 26 oC adalah

0,7845 g/cm3 dan kerapatan gliserol 10 % pada suhu 28 oC adalah 1,0207 g/cm3
(Mulyono, 2011). Dengan membandingkan hasil pengukuran dengan teori terdapat
perbedaan kerapatan pada metanol dan gliserol 10 %. Hal ini mungkin disebabkan

karena piknometer yang masih berisi sisa sampel pada saat piknometer diisi dengan
metanol dan gliserol atau karena bagian luar piknometer belum betul-betul kering
pada saat ditimbang sehingga mempengaruhi hasil penimbangan.
Setelah membandingkan hasil penntuan bobot jenis dan kerapatan akuades,
metanol dan gliserol 10 % dengan neraca Westphal dan piknometer dapat dilihat
bahwa hasil pengukuran kerapatan dan bobot jenis menggunakan piknometer lebih
teliti dibanding penentuan dengan neraca Westphal. Hal ini dapat dilihat dari
perbandingan kerapatan secara teori dan pratikum. Serta urutan kerapatan dan bobot
jenis sampel adalah gliserol 10 %, akuades dan metanol (Mulyono, 2011).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil pengukuran bobot jenis dan kerapatan akuades,
metanol, dan gliserol 10 % dengan menggunakan neraca Westphal diperoleh bahwa
pada suhu 29 oC akuades memiliki kerapatan 0,6015 g/cm3 dan bobot jenis 0,6039;
pada suhu 28 oC metanol memiliki kerapatan 0,5104 g/cm3 dan bobot jenis 0,5123;
dan pada suhu 29 oC gliserol memiliki kerapatan 0,6263 g/cm3 dan bobot jenis
0,6289. Sedangkan dengan metode Piknometer diperoleh, pada suhu 29,5 oC akuades
memiliki kerapatan 0,9958 g/cm3 dan bobot jenis 1 pada; pada suhu 26 oC metanol
memiliki kerapatan 0,7845 g/cm3 dan bobot jenis 0,7967; dan pada suhu 28 oC
gliserol 10 % memiliki kerapatan 1,0128 g/cm3 dan bobot jenis 1,0166.
5.2 Saran
Saran untuk laboratorium yaitu diharapkan agar kondisi alat dan bahan lebih
diperhatikan, agar proses praktikum dapat berjalan lancar. Serta diharapkan agar
setiap meja praktikum memiliki bak cuci sendirir agar praktikan tidak harus

menggunakan bak cuci pada meja praktikan lain.


Saran untuk percobaan yaitu alat yang digunakan dalam percobaan lebih
diperhatikan. Terutama anting pada neraca westphal yang sudah tidak lengkap agar
kesalahan dalam praktikum dapat diperkecil.

DAFTAR PUSTAKA
Ajala, O.O., dan Ogunsanwo, O.Y., 2011, Specific Grafity and Mechanical Properties
of Aningeria Robusta Wood From Nigeria, Journal of Tropical Forest
Science, 23 (4): 389-395.
Alonso, M., dan Finn, E.J., 1992, Dasar-dasar Fisika Universitas, Edisi Kedua, Jilid
Pertama, diterjemahkan oleh Lea Prasetio, 1992, Erlangga, Jakarta.
Burns, R.A., 1995, Fundamentals of Chemistry Second Edition, Prentice Hall, New
Jersey.
Castellan, G.W., 1983, Physical Chemistry Third Edition, Addison-Wesley
Publishing Company, California.
Harimurti, N., Soerawidjaja, T.H., Sumangat, D., dan Risfaheri, 2012, Ekstraksi
Minyak Nilam (Pogostemon Cablin BENTH) Dengan Teknik Hidrodifusi
pada Tekanan 1-3 Bar, Jurnal Pascapanen, 9 (1): 1-10.
Khamidinal, 2009, Teknik Laboratorium Kimia, Pustaka Pelajar, Jakarta.
Masuda, H., Higashitani, K., dan Yoshida, H., 2006, Powder Technology Handbook,
Third Edition, CRC Press, USA.
Petrucci, R.H, 1999, Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern, Edisi Keempat, Jilid
I, diterjemahkan oleh Suminar Achmadi, Ph.D, 1999, Erlangga, Jakarta.
Sherman, A., Sherman, S.J., dan Russikoff, L., 1992, Basic Concepts of Chemistry
Fifth Edition, Houghton Mifflin Company, Boston.
Stoker, H.S., 1990, Introduction to Chemical Principles Fourth Edition, Macmillan
Publishing Company, New York.
Sutiah, Firdausi, K.S., dan Budi, W.S., 2008, Studi Kualitas Minyak Goreng dengan
Parameter Viskositas dan Indeks Bias, Berkala Fisika, 11 (2): 53-58.
Taba, P., Kasim, A.H., Zakir, M., dan Anshar, A.M., 2014, Penuntun Praktikum
Kimia Fisika, Laboratorium Kimia Fisika Jurusan Kimia Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin, Makassar.

Tipler, P.A., 1998, Fisika Untuk Sains dan Teknik, Edisi Ketiga, Jilid Pertama,
diterjemahkan oleh Lea Prasetio dan Rahmad W. Adi, 1998, Erlangga,
Jakarta.
LEMBAR PENGESAHAN

Makassar, 28 April 2014


Asisten

Praktikan

FAUZI ABDILAH
NIM. H311 10 010

RACHMA SURYA M.
NIM. H311 11 014
LAMPIRAN

Lampiran 1. Bagan Kerja


A. Penentuan Bobot Jenis dengan Neraca Westphal
Akuades
Diisi gelas ukur sampai batas skala atas.
Diukur suhunya dengan menggunakan termometer dan dicatat
suhunya.
Dimasukkan penyelam dari neraca Westphal yang telah
dirangkai dan diseimbangkan ke dalam gelas ukur.
Diatur lengan neraca sampai penyelam kurang lebih 2 cm dari
permukaan cairan.
Diletakkan anting-anting pada skala lengan tunggal sehingga
neraca Westphal kembali seimbang.
Dibaca angka skala dari anting terbesar sampai anting terkecil
kemudian ditentukan bobot jenis zat.
Penyelam dan gelas ukur dibersihkan dan dikeringkan.
Diisi gelas ukur dengan contoh lain yaitu aseton lalu
gliserol 10 %.
B.

Hasil

B. Penentuan Kerapatan dan Bobot Jenis dengan Piknometer


Akuades
Dimasukkan ke dalam piknometer yang telah diketahui bobot
kosongnya.
Diisi piknometer dengan akuades sampai penuh.
Piknometer ditutup dan dibersihkan dinding bagian luarnya.
Ditimbang piknometer yang telah berisi akuades tersebut dengan
menggunakan neraca analitik dan catat bobotnya.
Diukur suhu akuades dengan menggunakan termometer dan dicatat
suhunya.
Dibersihkan piknometer dan dikeringkan lalu diisi dengan sampel
yang akan diukur yaitu aseton lalu gliserol 10 %.
Dicatat hasil pengamatan.

Hasil

Lampiran 2.
Tabel 1. Densitas Air (g/cm3) pada Suhu 0 0C sampai 32 0C
0.0
0

0.999841

0.1
0.999847

0.2
0.999854

0.3
0.999860

0.4
0.999866

0.5
0.999872

0.6
0.999878

0.7
0.999884

0.8
0.999889

0.9
0.999895

0.999900

0.999905

0.999909

0.999914

0.999918

0.999923

0.999927

0.999930

0.999934

0.999938

0.999941

0.999944

0.999947

0.999950

0.999953

0.999955

0.999958

0.999960

0.999962

0.999964

0.999965

0.999967

0.999968

0.999969

0.999970

0.999971

0.999972

0.999972

0.999973

0.999973

0.999973

0.999973

0.999973

0.999972

0.999972

0.999972

0.999970

0.999969

0.999968

0.999966

0.999965

0.999963

0.999961

0.999959

0.999957

0.999955

0.999952

0.999950

0.999947

0.999944

0.999941

0.999938

0.999935

0.999931

0.999927

0.999924

0.999920

0.999916

0.999911

0.999907

0.999902

0.999898

0.999893

0.999888

0.999883

0.999877

0.999872

0.999866

0.999861

0.999855

0.999849

0.999843

0.999837

0.999830

0.999824

0.999817

0.999810

0.999803

0.999796

0.999789

0.999781

0.999774

0.999766

0.999758

0.999751

0.999742

0.999734

0.999726

0.999717

0.999709

10

0.999700

0.999691

0.999682

0.999673

0.999664

0.999654

0.999645

0.999635

0.999625

0.999615

11

0.999605

0.999595

0.999585

0.999574

0.999564

0.999553

0.999542

0.999531

0.999520

0.999509

12

0.999498

0.999486

0.999475

0.999463

0.999451

0.999439

0.999427

0.999415

0.999402

0.999390

13

0.999377

0.999364

0.999352

0.999339

0.999326

0.999312

0.999299

0.999285

0.999272

0.999258

14

0.999244

0.999230

0.999216

0.999202

0.999188

0.999173

0.999159

0.999144

0.999129

0.999114

15

0.999099

0.999084

0.999069

0.999054

0.999038

0.999023

0.999007

0.998991

0.998975

0.998959

16

0.998943

0.998926

0.998910

0.998893

0.998877

0.998860

0.998843

0.998826

0.998809

0.998792

17

0.998774

0.998757

0.998739

0.998722

0.998704

0.998686

0.998668

0.998650

0.998632

0.998613

18

0.998595

0.998576

0.998558

0.998539

0.998520

0.998501

0.998482

0.998463

0.998444

0.998424

19

0.998405

0.998385

0.998365

0.998345

0.998325

0.998305

0.998285

0.998265

0.998244

0.998224

20

0.998203

0.998183

0.998162

0.998141

0.998120

0.998099

0.998078

0.998056

0.998035

0.998013

21

0.997992

0.997970

0.997948

0.997926

0.997904

0.997882

0.997860

0.997837

0.997815

0.997792

22

0.997770

0.997747

0.997724

0.997701

0.997678

0.997655

0.997632

0.997608

0.997585

0.997561

23

0.997538

0.997514

0.997490

0.997466

0.997442

0.997418

0.997394

0.997369

0.997345

0.997320

24

0.997296

0.997271

0.997246

0.997221

0.997196

0.997171

0.997146

0.997120

0.997095

0.997069

25

0.997044

0.997018

0.996992

0.996967

0.996941

0.996914

0.996888

0.996862

0.996836

0.996809

26

0.996783

0.996756

0.996729

0.996703

0.996676

0.996649

0.996621

0.996594

0.996567

0.996540

27

0.996512

0.996485

0.996457

0.996429

0.996401

0.996373

0.996345

0.996317

0.996289

0.996261

28

0.996232

0.996204

0.996175

0.996147

0.996118

0.996089

0.996060

0.996031

0.996002

0.995973

29

0.995944

0.995914

0.995885

0.995855

0.995826

0.995796

0.995766

0.995736

0.995706

0.995676

30

0.995646

0.995616

0.995586

0.995555

0.995525

0.995494

0.995464

0.995433

0.995402

0.995371

31

0.995340

0.995309

0.995278

0.995247

0.995216

0.995185

0.995154

0.995122

0.995090

0.995058

32

0.995026

0.994994

0.994962

0.994930

0.994898

0.994866

0.994834

0.994801

0.994768

0.994735

Tabel 2. Densitas Metanol

Table 3. Densitas Glicerol

Lampiran 3. Gambar Alat beserta Fungsinya


7
8

4
6

2
5
Gambar 1. Rangkaian alat Neraca Westphal

Keterangan:
1. Anting berfungsi sebagai pemberat yang menyeimbangkan neraca setelah
penyelam dimasukkan serta menunjukkan bobot jenis zat dari pembacaan
skala letak anting.
2. Gelas ukur berfungsi sebagai wadah cairan yang akan diukur.
3. Penyelam berfungsi sebagai alat pengukur bobot jenis yang dibaca
berdasarkan kesetimbangan lengan neraca.
4. Lengan tunggal sebagai tempat anting sehingga neraca seimbang, nilai skala
yang menunjukan nilai bobot jenis dari zat tersebut.
5. Dasar statif, berfungsi sebagai dasar neraca.
6. Tiang statif, berfungsi untuk menyesuaikan tinggi neraca terhadap. wadah
yang diukur bobot jenisnya
7. Pemberat (beban penyeimbang), berfungsi sebagai penyeimbang neraca
sebelum penyelam dimasukkan.
8. Penyeimbang, berfungsi untuk menyeimbangkan neraca.

3
1
2

Gambar 2. Alat Piknometer


Keterangan :
1. Penutup, berfungsi untuk menutup lubang pada piknometer dan mempertahankan
suhu pada piknometer.
2. Tabung piknometer, berfungsi sebagai wadah cairan sekaligus untuk mengukur
volume tetap sejumlah massa cairan yang ingin ditentukan densitasnya.

3. Rongga kapiler, berfungsi untuk mengeluarkan udara yang berada dalam

piknometer.
Lampiran 4. Foto Percobaan

Gambar 3. Pengukuran kerapatan dengan neraca Westphal

Gambar 4. Pengukuran kerapatan dengan PiknometerLAPORAN PRAKTIKUM


KIMIA FISIKA
PERCOBAAN I
PENENTUAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS
NAMA
NIM
KELOMPOK
HARI / TANGGAL PERCOBAAN
ASISTEN

: RACHMA SURYA M.
: H311 12 267
: IV (EMPAT)
: SENIN / 10 MARET 2014
: FAUZI ABDILAH

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR

2014