Anda di halaman 1dari 42

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Keluarga


2.1.1.

Pengertian Keluarga
Pengertian Keluarga akan berbeda satu dengan yang lainnya, hal

ini bergantung kepada orientasi dan cara pandang yang digunakan


seseorang dalam mendefinisikan. Keluarga adalah suatu sistem
interaksi emosional yang diatur secara kompleks dalam posisi peran
dan norma yang lebih diatur dalam subsistem di dalam keluarga,
subsistem ini menjadi dasar struktur atau organisasi keluarga
(Friedman, 2003) . Keluarga adalah sekumpulan orang yang
dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adaptasi dan kelahiran yang
bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum,
meningkatkan perkembangan fisik, mental dan emosional serta sosial
individu yang ada didalamnya, dilihat dari interaksi yang reguler dan
ditandai dengan adanya ketergantungan dan hubungan untuk mencapai
tujuan umum (Duval, 1972 dalam Ali, 2009). Menurut Friedman
(2010) keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup
bersama dengan atau tidak adanya ikatan perkawinan darah atau
adopsi dan anggota keluarga saling berinteraksi dan berkomunikasi
serta memiliki peran masing-masing dalam keluarga. Menurut
Friedman (1998) dalam Rini, Rahmalia dan Dewi (2012) menyatakan

bahwa ikatan kekeluargaan yang kuat sangat membantu ketika pasien


menghadapi masalah, hal ini dikarenakan keluarga adalah orang yang
peling dekat hubungannya dengan pasien. Keluarga menempati posisi
diantara individu dan masyarakat, oleh karena itu betapa pentingnya
peran dan fungsi keluarga dalam mendukung kepatuhan pasien CKD
dalam pembatasan asupan cairan dan nutrisi.
2.1.2.

Fungsi Keluarga
Friedman (2010) menjelaskan bahwa fungsi dasar keluarga adalah

untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarganya dan masyarakat


yang lebih luas, terdapat lima fungsi keluarga yang harus dijalankan
dalam suatu keluarga untuk menciptakan keluarga yang harmonis
yaitu :
1) Fungsi Efektif adalah fungsi keluarga yang berhubungan dengan fungsi
internal keluarga dalam memberikan perlindungan psikososial dan
dukungan terhadap anggota keluarga. Keluarga sebagai sumber cinta,
pengakuan, penghargaan dan sumber dukungan primer. Satir (1972, dalam
friedman 2010) menjelaskan bahwa fungsi afektif keluarga merupakan
aspek dasar dalam pembentukan dan tercapainya keharmonisan keluarga.
2) Fungsi Sosialisasi adalah keluarga berfungsi memberikan pengalaman
belajar pada anggota keluarga. Pengalaman ini ditunjukan untuk
mengajarkan pada anak bagaimana mengemban peran sebagai orang
dewasa di dalam masyarakat, sebelum anak keluar dari rumah untuk hidup

mandiri dimasyarakat.keluarga membentuk norma-norma tingkah laku


sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
3) Fungsi Perawatan Kesehatan yaitu fungsi keluarga dalam menjaga dan
merawat kesehatan anggota keluarganya agar tetap memiliki produktifitas
yang tinggi. Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga dibidang
kesehatan.
4) Fungsi Ekonomi keluarga berfungsi sebagai pencari sumber penghasilan
untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan sebagai tempat untuk
mengembangkan kemampuan individu dalam meningkatkan penghasilan
untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Keluarga sebagai tepat
perencana akan kebutuhan dimasa yang akan datang melalui menabung.
5) Fungsi Reproduksi yaitu keluarga bertugas meneruskan keturunan,
memelihara dan membesarkan anak, memenuhi kebutuhan gizi keluarga,
serta menjaga kelangsungan hidup keluarga.
2.1.3.

Tugas-Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan


Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan,

keluarga

mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan


dilakukan (Friedman, 2010) yang meliputi :
1. Mengetahui kemampuan keluarga untuk mengenal masalah
kesehatan keluarga. Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga
yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala susuatu
tidak akan berarti dan karena kesehatanlah kadang seluruh
kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu
mengenal keadaan kesehatan

dan perubahan-perubahan yang

dialamai anggota keluarga. Perubahan sekecil apupun yang alami


anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian

orangtua atau keluarga. Apabila menyadari adanya perubahan


keluarga, perlu dicatat kapan terjadinya, perubahan apa yang
terjadi dan seberapa besar perubahannya.
2. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga. Tugas
ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari
pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan
pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan
pertimbangan siapa di antara keluarga yang mempunyai
kemapuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga.
Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan
tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi.
Jika keluarga mempunyai keterbatasan dapat meminta bantuan
kepada orang di lingkungan tinggal keluarga agar memperoleh
bantuan.
3. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. Sering
kali keluarga telah mengambil tindakan yang tepat dan benar,
tetapi keluarga memiliki keterbatasan yang telah diketahui oleh
keuarga sendiri. Jika demikian, anggota keluarga yang mengalami
gangguan kesehatan perlu memperoleh tindakan lanjutan atau
perawatan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi. Perawatan
dapat dilakukan di institusi pelayanan kesehatan atau dirumah
apabila keluarga telah memiliki kemapuan melakukan tindakan
untuk pertolongan pertama.
4. Mengetahui kemampuan

keluarga

dalam

memodifikasi

lingkungan, yang perlu dikaji adalah pengetahuan keluarga

tentang

sumber-sumber

yang

dimiliki

keluarga

dalam

memodifikasi lingkungan khususnya dalam merawat keluarag


yang

terdiagnosa

CKD,

kemampuan

memanfaatkan lingkungan asertif.


5. Mengetahui kemampuan keluarga

keluarga

menggunakan

dalam
fasilitas

pelayanan kesehatan yang berada di masyarakat, yang perlu dikaji


pengetahuan keluarga tentang fasilitas keberadaan pelayanan
kesehatan dalam perawatan pasien yang terdiagnosa CKD.
Pemahaman keluarga tentang manfaat fasilitas pelayanan yang
berada dimasyarakat, tingkat kepercayaan keluarga terhadap
fasilitas pelayanan kesehatan, apakah keluarga mempunyai
pengalaman yang kurang tentang fasilitas pelayanan kesehatan,
apakah kelurga dapat menjangkau pelayanan kesehatan yang ada
dimasyarakat.
2.1.4.

Dukungan Keluarga
Dukungan sosial adalah suatu keadaan yang bermanfaat bagi

individu yang diperoleh dari orang lain yang dapat dipercaya,


sehingga seseorang akan tahu bahwa ada orang lain yang
memperhatikan, menghargai dan mencintainya (cohen & Sme, 1998:
241 dalam Harnilawati,2013). Dukungan sosial keluarga adalah
sebagai suatu proses hubungan antara keluarga dengan lingkungan
sosial (friedman, 1998 dalam harnilawati, 2013).
Dalam semua tahap, dukungan sosial keluarga menjadikan
keluarga mampu berfungsi dengan berbagai kepandaian dan akal,
sehingga akan meningkatkan kesehatan dan adaptasi mereka dalam

kehidupan.

Studi-studi

tentang

dukungan

keluarga

telah

mengkonseptualisasi dukungan sosial sebagi koping keluarga, baik


dukungan-dukungan yang bersifat eksternal maupun internal terbukti
sangat bermanfaat. Dukungan sosial keluarga eksternal antara lain
sahabat, pekerjaan, tetangga, sekolah, keluarga besar, kelompok sosial,
kelompok rekreasi, tempat ibadah dan praktisi kesehatan. Dukungan
sosial keluarga internal antara lain dukungan dari suami atau istri, dari
saudara kandung dari anak (friedman, 1998: 196 dalam harnilawati,
2013).
Dalam hal ini keluarga berpengaruh dalam menyelsaikan masalah
kehidupan, nilai kesehatan individu dan menentukan program
pengobatan yang mereka terima. Sumber dukungan yang ada dapat
dilakukan oleh keluarga dengan cara mengenal adanya gangguan
kesehatan sedini mungkin seperti pada saat anggota keluarga yang
menderita penyakit. Individu yang memiliki dukungan keluarga yang
lebih kecil, lebih memungkinkan akan mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan masalah dan penilaian negatif terhadap masalah,
sehingga merasa terbebani. Keuntungan individu yang memperoleh
dukungan keluarga yang tinggi akan menjadi individu lebih optimis
dalam menghadapi kehidupan saat ini maupun masa yang akan
datang, lebih terampil dalam memenuhi kebutuhan psikologis dan
memiliki sistem yang lebih tinggi, serta tingkat kecemasan yang lebih
rendah, mempertinggi interpersonal skill (keterampilan interpersonal),
memiliki kemampuan untuk mencapai apa yang diinginkan dan lebih

dapat membimbing individu untuk beradaptasi. Keluarga dapat saling


membantu untuk memberikan perawatan. Dukungan keluarga menurut
friedmann (2010) menerangkan bahwa keluarga memiliki empat
fungsi dukungan keluarga, yaitu sebagai berikut :
1. Dukungan Informasional
Menurut Hause dan Newman (1997, dalam Friedman, 2010)
dukungan informasi adalah dukungan dalam bentuk komunikasi
tentang opini atau kenyataan yang relevan tentang kesulitankesulitan pada saat ini, misalnya nasehat dan informasi-informasi
yang

dapat

menjadikan

individu

lebih

mampu

untuk

menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dukungan informasi


keluarga merupakan suatu dukungan atau bantuan yang diberikan
oleh keluarga dalam bentuk memberikan saran atau masukan,
nasehat atau arahan, dan memberikan informasi-informasi penting
yang sangat dibutuhkan keluarga dalam upaya meningkatkan
satatus kesehatannya (Bomar, 2004) manfaat dari dukungan ini
adalah dapat menekan munculnya suatu stressor karena informasi
yang diberikan dapat menyumbang aksi sugesti yang khusus pada
individu. Aspek-aspek dalam dukungan ini adalah nasehat, saran,
petunjuk dan pemberian informasi. Untuk pasien CKD diberikaan
informasi oleh keluarganya tentang :
penangannya

dalam

meningkatkan

penyakit CKD serta


kualitas

mematuhi pembatasan asupan cairan dan nutrisi.


2. Dukungan Emosional

hidup

dengan

Menurut Cabb (Nindra, 2003) menyatakan bahwa dukungan


emosional merupakan bantuan emosional, pernyataan tentang
cinta, perhatian, penghargaan, dan simpati dan menjadi bagian dari
kelompok yang berfungsi untuk memperbaiki perasaan negatif
yang khususnya disebabkan oleh stress. Keluarga sebagai tempat
yang aman dan damai untuk istirahat dan belajar serta membantu
penguasaan terhadap emosi. Diantaranya menjaga hubungan
emosional, meliputi dukungan yang diwujudkan dalam bentuk
kasih sayang, adanya kepercayaan, perhatian, mendengarkan dan
didengarkan. Dukungan emosional merupakan fungsi afektif
keluarga yang harus diterapkan kepada seluruh anggota keluarga
termasuk anggota keluarga yang terdiagnosa CKD. Fungsi afektif
merupakan fungsi internal keluarga dalam memenuhi kebutuhan
psikososial anggota keluarga dengan saling mendukung dan
menghargai antar anggota keluarga (Friedman, 1998). Bentuk
dukungan atau bantuan yang dapat memberikan cinta kasih,
membangkitkansemangat, rasa aman, mengurangi putus asa, rasa
rendah diri, rasa keterbatasan sebagai akibat dari ketidakmampuan
yang dialaminya. Pada klien dengan CKD sangat dibutuhkan
dukungan emosional untuk mengontrol pola makan sehari-hari
dalam pembatasan asupan cairan dan nutrisi dalam upaya
meningkatkan status kesehatannya.
3. Dukungan Instrumental

Menurut Bomar (2004) dalam Nuraenah (2011) dukungan


instrumental keluarga adalah dukungan atau bantuan penuh dalam
bentuk memberikan bantuan tenaga, dana, maupun meluangkan
waktu untuk membantu dan melayani serta mendengarkan klien
dengan CKD dalam menyampaikan perasaannya. Dukungan
instrumental keluarga merupakan fungsi ekonomi dan fungsi
perawatan kesehatan yang diterapkan keluarga terhadap anggota
keluarga yang sakit.
Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan
konkrit, diantaranya keteraturan menjalani terapi, kesehatan
penderita dalam hal kebutuhan makan dan minum, istirahat, dan
terhindarnya penderita dari kelelahan. Menurut Hause (Nindra,
2003), bantuan instrumental keluarga merupakan sebuah sumber
pertolongan praktis dan konkrit seperti bantuan langsung dari
orang yang diandalkan berupa materi, tenaga dan sarana. Salah satu
dukungan instrumental adalah memenuhi kebutuhan ekonomi
keluarga yang harus dipenuhi oleh keluarga dalam memenuhi
semua

kebutuhan

kesehatan

keluarga

anggota

keluarganya.

merupakan

fungsi

Fungsi

perawatan

keluarga

dalam

mempertahankan kesehtan anggota keluarganya diantaranya


merawat anggota keluarga yang terdiagnosa CKD (Friedman,
2010). Dari hasil penelitian Suwardiman (2011) semakin
bertambah dukungan keluarga instrumental semakin berkurang
beban keluarga, keluarga menyatakan turut bertanggung jawab

dalam perawtan klien, memotivasi klien dalam kegiatan ADL,


keluarga membantu klien dalam minum obat dan keluarga
membimbing klien untuk rutin menjalani hemodialisis untuk
meningkatkan kualitas hidupnya.
4. Dukungan penilaian
Dukungan penilaian adalah dukungan dari keluarga dalam bentuk
memberikan

umpan

balik,

membimbing

dan

memberikan

penghargaan melalui respon positif dalam memecahkan masalah,


sebagai sumber dan validator identitas anggota kepada klien CKD
dengan menunjukan respon positif yaitu memberikan support,
penghargaan dan penilaian yang positif. Dukungan penilaian
keluarga merupakan bentuk fungsi afektif keluarga terhadap klien
CKD
Dengan

yang dapat meningkatkan status kesehatan pasien CKD.


dukungan

penghargaan

ini,

pasien

CKD

akan

mendapattkan penghargaan atau pengakuan atas kemampuannya


walaupun sifatnya kecil dan sedikit berpengaruh (Friedman, 1998).
Sumber dukungan keluarga mengacu kepada dukungan yang
dipandang sebagai sesuatu yang dapat diakses atau diadakan untuk
keluarga, tetapi anggota keluarga memandang bahwa orang yang
bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan
bantuan jika diperlukan.

2.1.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga

Dalam keluarga kelas menengah, suatu hubungan yang lebih


demokratis dan adil mungkin ada, sementara dalam keluarga kelas
bawah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan meliputi:

1. Usia
Faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga menurut
feiring dan lewis (1984) dalam friedman (1998) adalah bukti kuat
dari hasil penelitian yang menyatakan bahwa keluarga besar dan
keluarga kecil secara kualitatif menggambarkan pengalamanpengalaman perkembangan. Dukungan keluarga dapat ditentukan
oleh faktor usia dalam hal ini pertumbuhan dan perkembangan,
dengan demikian setiap rentang usia (bayi-lansia) memiliki
pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan yang
berbeda-beda. Jadi dukungan keluarga yang diberikan anggota
keluarga klien dengan CKD yang menjalani hemodialisis sangat
dipengaruhi oleh faktor usia, usia yang lebih dewasa atau orang tua
akan memberikan dukungan keluarga yang berkualitas. Friedman
(1998) menjelaskan bahwa ibu yang masih muda cenderung untuk
lebih tidak bisa merasakan atau mengenali kebutuhan anakanya
dan juga lebih egosentris dibandingkan ibu-ibu yang lebih tua.
Salah satu faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga
adalah faktor usia, usia yang dianggap optimal dalam mengambil
keputusan adalah usia yang diatas umur 20 tahun keatas, usia
tersebut akan memberikan dukungan kepada anggota keluarganya

yang mengalami riwayat perialaku kekerasan (Notoadmojo, 2003


dalam nuraenah 2012) Menurut penelitian gierveld dan dykstra
(2008) dalam nuraenah (2012) bahwa orang dewasa tidak hanya
menjadi penerima dukungan tetapi juga memberikan dukungan
kepada keluarga.
2. Jenis kelamin
Faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga ialah jenis
kelamin, jenis kelamni memiliki pengaruh besar terhadap beban
keluarga dalam mendukung keluarga dengan CKD yang menjalani
hemodialisa, dimana perempuan memiliki beban yang lebih berat
jika dibandingkan dengan laki-laki. Misrha, Trivendi dan Sinha
(2005) dan nuraenah (2012) juga melaporkan bahwa tingkat stress
keluarga lebih tinggi jika penderita adalah laki-laki. Dimana lakilaki merupakan salah satu tulang punggung pada keluarga, apabila
berperan sebagai suami atau bapak, ini akan berdampak pada
beban ekonomi keluarga apabila peran sebagi pencari nafkah tidak
lagi produktif akibat mengalami penyakit yang parah.
3. Sosial ekonomi
Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga
lainnya adalah faktor ekonomi keluarga pasien CKD yang
menjalani hemodialisa. Faktor sosial ekonomi disini meliputi
tingkat pendapatan atau pekerjaan keluarga klien, semakin tingti
tingkat ekonomi keluarga akan lebih memberikan dukungan dan
pengambilan keputusan dalam merawat anggota keluarga dengan
CKD yang menjalani hemodialisa. Selain itu keluarga dengan kelas

sosila ekonomi yang berlebih secra finansial mempunyai tingkat


dukungan keluarga dengan kelas sosial ekonomi kurang secara
finansial (friedman, 2010).
Berdasarkan hasil penelitian dari suwardiman (2011) dan
nuraenah (2012) bahwa hubungan dukungan sosial ekonomi
dengan beban keluarga menunjukan hubungan yang kuat dan ada
hubungan yang signifikan antara dukungan sosial ekonomi dengan
beban keluarga, semakin bertambah dukungan sosial ekonomi
semakin berkurang beban keluarga.
4. Pendidikan
Salah satu faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga
terbentuk oleh variabel pengetahuan, latar belakang pendidikan dan
pengalaman masa lalu. Tingkat pendidikan merupakan indikator
bahwa seseorang telah mencapai jenjang pendidikan formal
tertentu, seseorang dengan pendidikan yang baik akan memiliki
pemahaman yang baik terhadap suatu permasalahan, sehingga akan
lebih mudah untuk menerima pengaruh dari luar baik yang positif
maupun negatif, obyektif dan lebih terbuka terhadap berbagai
informasi termasuk informasi kesehatan dalam memberikan
dukungan keluarga (Notoadmodjo, 2003)
Pendidikan keluarga sangat menujang dalam memberikan
dukungan keluarga, pendidikan keluarga yang tinggi dapat
mengetahui kebutuhan anggota keluarganya sehingga keluarganya
akan memberikan dukungan support, masukan, memberikan
bimbingan dan saran yang berkualitas (puspitasari, 2009).
5. Hubungan keluarga dengan klien

Faktor dukungan keluarga dipengaruhi oleh hubungan klien


dengan kelurga, keluarga inti akan memberikan dukungan terhadap
anggota keluarga, dengan klien CKD yang menjalani hemodialisis.
Salah satu fungsi keluarga adalah memberi pelayanan kesehatan
didalam

keluarganya,

sehingga

keluarga

kan

memberikan

dukungan dalam menangani perawatan anggota keluarganya


dengan CKD yang menjalani hemodialisa (friedman, 2010).

2.2 Konsep Kepatuhan


Kepatuhan merupakan suatu permasalahan bagi semua disiplin perawatan
kesehatan. Kepatuhan (adherence) secara umum didefinisikan sebagai tingkatan
perilaku seseorang yang mendapatkan pengobatan, mengikuti diet, dan atau
melaksanakan gaya hidup sesuai dengan rekomendasi pemberi pelayanan
kesehatan (WHO, 2003).
Terdapat dua karakteristik yang berbeda mengenai kepatuhan pada pasien
dengan model perawatan akut dan model perawatan kronik. Pada model
perawatan akut, intervensi cenderung berfokus pada gejala dengan tujuan
menyembuhkan atau mengobati. Dalam model ini pengetahuan terutama dikuasai
dari pemberi pelayanan kesehatan. Sedangkan pada model perawatan kronis
berfokus pada upaya pengendalian perkembangan

kondisi, meningkatkan

kelangsungan hidup serta meningkatkan kualitas hidup. Pada model perawatan


kronis mengharuskan para profesional perawatan kesehatan, pasien dan keluarga
berbagi pengetahuan untuk mengatasi berbagai masalah kronis secara efektif

(kamerrer, 2007 dalam syamsiah, 2011). Definisi kepatuhan WHO cenderung


menggambarkan kondisi untuk penyakit kronis sehingga sangat tepat diterapkan
pada pasien hemodialisis.
Pada banyak orang dengan penyakit kronis kepatuhan memainkan peranan
penting dalam kelangsungan hidup pasien. Untuk mengelola keberhasilan
penyakit kronis, individu harus bertanggung jawab dalam banyak aspek
pengobatan mereka sendiri secara teratur dan jangka panjang. Sehingga untuk
mewujudkan kepatuhan, pasien perlu menggabungkan perubahan gaya hidup dan
perubahan prilaku lainnya menjadi rutinitas mereka sehari-hari.
Menurut Eraker (1984) dan Levanthal dan Cameron (1987) dalam (Nurse
of educator; Susan B.Bactable, 2002) kepatuhan pasien program kesehatan dapat
ditinjau dari berbagai segi perspektif teoritis yaitu : biomedis yang mencakup
demografi pasien, keseriusan penyakit dan kompleksitas program pengobatan.
Teori perilaku atau pembelajaran sosial yang menggunakan pendekatan perilaku
pasien dalam petunjuk, kontrak dan dukungan sosial karena perputaran umpan
balik komunikasi dalam hal mengirim, menerima, memahami, menyimpan dan
penerimaan. Kepatuhan merupakan suatu permasalahan bagi semua disiplin
perawatan kesehatan (Bactable, 2002 dalam Nurjanah, 2013).

2.2.1.

Kepatuhan pasien CKD terhadap pembatasan cairan


Ginjal sebagai organ utama dalam menjaga balance cairan harus

bekerja secara normal. Penyakit gagal ginjal yang sering diderita oleh
klien baik karena penyebab primer maupun sekunder akan mengubah

keseimbangan cairan dan elektrolit pada kondisi ini terjadi retensi


abnormal dari natrium, klorida, kalium dan air dalam cairan ekstrasel. Jika
fungsi ginjal sudah rusak, maka keseimbangan cairan dan elektrolit akan
berubah. Jumlah cairan yang dikonsumsi sangat beragam, Pada kondisi
normal 30-35ml/kg berat badan dibutuhkan satiap hari. Pada beberapa
kondisi penyakit, penyakit jantung, hati dan ginjal mungkin perlu untuk
membatasi asupan cairan untuk mencegah kelebihan muatan cairan.
kegiatan yang dilakukan dalam upaya mengatur keseimbangan
cairan, dilakukan kegiatan memonitor penambahan berat badan setiap hari,
mencatat asupan dan keluaran cairan secara akurat, memonitor distensi
vena leher, bunyi ronkhi pada paru, adanya edema perifer, membatasi dan
mengatur asupan cairan dan melakukan dialisis.
1. Natrium
Natrium sebagai elektrolit ekstrasel memfasilitasi pengaturan
keseimbangan cairan. Seorang pria dewasa (70kg) memiliki Na total
dalam tubuh sebesar 4 mmol (92 g) 2.000 mmol berada di dalam
cairan ekstraselular, 1.500 di dalam tulang, dan 500 mmol di dalam
cairan intraselular. Pembatasan natrium hingga mencapai tingkat tidak
ada tambahan garam harus diterapkan pada pasien yang menunjukan
edema atau hipertensi. Pada CKD tahap akhir, seiring berkurangnya
keluaran urine, filtrasi natrium juga berkurang sehingga asupan
natrium harus dibatasi hingga 2000-2300 mg/hari (80-100mmol).
Pembatasan natrium pada kelompok pasien ini membuat asupan cairan
dapat dikendalikan dengan lebih baik dengan mengurangi rasa haus.
Namun, jika pasien dehidrasi, asupan natrium harus ditingkatkan

sementara waktu. Beberapa kondisi penyakit misalnya penyakit ginjal,


mengharuskan pembatasan Na. Kadar pembatasan dapat dikelompokan
:

Tanpa garam
Rendah garam
Rendah Na

: 80-100 mmol/hari
: 40 mmol Na/hari
: 22 mmol Na/hari

2. Fosfor dan Kalsium


Hiperfosfatemia adalah maslaah yang sering dihadapi penderita
CKD tahap akhir. Retensi fosfor berkaitan langsung dengan timbulnya
hiperparatiroidisme sekunder yang menyebabkan osteodistrofi ginjal.
Menurut panduan NKF KDOQI, fosfat serum harus dipertahankan
dalam rentang 2,7 hingga 4,6 mg/hari (0,87-1,49 mmol/L) pada pasien
dengan GFR antara 15 hingga 59 ml/menit (pasie-pasien tahap 3 dan
4). Sementara bagi penderita CKD tahap 5 dan yang menjalani dialisis,
kadar fosfat serum harus mencapai 1,1-1,8 mmol/L. Jika nilai
laboratorium untuk fosfat serum ditemukan abnormal, asupan fosfor
dalam diet harus dibatasi. Namun, perlu ditekankan bahwa pembatasan
fosfor mudah dicapai pada penderita yang asupan proteinnya dibatasi,
karena mereka disarankan untuk mebatasi asupan asupan makananmakanan yang menjadi sumber utama mineral ini (misalnya produkproduk olahan susu, daging dan protein hewani). Sebaliknya, ketika
pasien menjalani dialisis, pembatasan fosfat dari diet lebih sulit
dilaksanakan karena kebutuhan protein pasien meningkat. Menurut
panduan NKF KDOQI dan panduan eropa, asupan fosfat harus dibatasi

hingga 800-1000 mg/hari. Makanan-makanan kaya protein tetapi


rendah fosfat harus diberikan guna memastikan agar asupan protein,
disertai dengan strategi non-diet (misalnya, obat pengikat fosfat dan
prosedur dialisis yang optimal).
Ketidakseimbangan fosfor dan kalsium dapat memperparah
klasifikasi jaringan lunak dan vaskular sehingga meningkatkan angka
kejadian penyakit kardiovaskular dan mortalitas pada penderita CKD
tahan 3 sampai 5. Dengan demikian, panduan KDOQI terkini
menekankan keseimbangan antara fosfat dan kalsium. Lebih spesifik
lagi, produk fosfat kalsium (fosfat X kalsium terkoreksi) harus
mencapai <4,4 mmol2/L2 pada kelompok pasien ini.
Mengenai asupan kalsium dari diet pada penderita CKD, besaranya
tidak boleh melampaui 2000 mg per hari, ini sudah harus termasuk
kalsium yang diperoleh dari pengikat fosfat berbahan dasar kalsium
guna menatalaksana metabolisme dan penyakit tulang akibat kelainan
ginjal.
3. Kalium
Hiperkalemia sering terjadi pada penderita penyakit ginjal tahap lanjut
(CKD tahap 4 dan 5) sehingga meningkatkan resiko kematian jantung
mendadak. Insufisiensi ginjal, asidosis metabolik, katabolisme mssa
tubuh kering dan dialisis yang tidak optimal merupakan beberapa
penyebab hiperkalemia pada pasien-pasien ini. Selain itu, berbagai
obat-obatan seperti penghambat ACE,ARB, penyekat-beta, diuretik
hemat kalium, obat-obatan anti-inflamasi non-steroid, kortikosteroid
dan siklosporin, juga dapat meningkatkan kadar kalium didalam darah.

Di tahap-tahap awal CKD, kadar kalium serum biasanya berada


dalam nilai normal, sementara pada penderita tahap 3 sampai 5, kadar
kalium harus dipantau dan asupan kalium harus dibatasi ketika terlihat
ada kecenderungan meningkatnya kadar kalium serum atau terjadi
hiperkalemia (.5,5 mol/L). Kadar kalium serum dikatakan meningkat
pada pasien dialisis, jika kadarnya >6 mmol/L. Asupan kalium diet
harus dibatasi sebesar 51-77 mmol/2000-3000 mg/hari (8-17 mg atau 1
mmol/kg/kg BBI/hari).

2.2.2.

Kepatuhan pasien CKD terhadap pembatasan nutrisi

Kebutuhan nutrisi merupakan kebutuhan dasar fisiologis bagi manusia


yang tidak bisa terlepas dari banyak faktor yang mempengaruhinya, serta
implikasinya kepada kebutuhan dasar lain apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi.
Pemenuhan kebutuhan nutrisi merupakan hasil kerja system pencernaan yang tak
terlepas dari system lainnya sebagai suatu proses yang saling berkaitan. Nutrisi
(makanan) menyediakan energi untuk pemeliharaan fungsi-fungsi vital tubuh,
memproduksi panas, aktivitas sel-sel,, pergerakan otot, berfikir, kerja nervus
system, pertumbuhan, perbaiakan jaringan yang rusak dan lain-lain. Pada pasien
CKD sering terjadi mual, muntah, anoreksia dan gangguan lain yang
menyebabkan asupan gizi tidak adekuat atau tidak mencukupi. Kebutuhan energi
normal nya 30-40kkal/kg berat badan ideal/hari.
1. Protein
Asupan protein disesuaikan dengan derajat gangguan fungsi ginjal atau
laju filtrasi glomerulus kurang dari 25%, berdasarkan berbagai hasil-hasil

penelitian didapatkan bahwa pada CKD diperlukan peranan asupan protein


sampai 0,5-0,6 gr/kg BB/hari, rata-rata 0,5 gr/kg BB/hari agar tercapai
keseimbangan metabolisme protein yang optimal. Dari protein 0,5 gr/kg
BB /hari ini hendaknya diusahakan sekurang-kurangnya 60% atau 0,35
gr/kg BB/hari berupa protein dengan nilai biologik tinggi. Protein dengan
nilai biologik tinggi adalah protein dengan susunan asam amino yang
menyerupai aturan amino essensial dan pada umunya berasal dari protein
hewani (susu, telur, ikan, ungga, dagingg tidak berlemak).
2. Kalori / energi
Kebanyakan pasien CKD menunjukan kurang gizi. Hal ini disebabkan
oleh berbagai faktor metabolisme dan kurangnya asupan kalori. Kalori
cukup tinggi dihasilkan dari sumber karbohidrat dan lemak merupaka hal
penting bagi pasien CKD. Pembatasan masukan protein yang diperlukan
untuk memperbaiki keseimbangan nitrogen, guna mencegah oksidasi
protein. Untuk memproduksi energi disarankan masukan kalori paling
sedikit 35 kkal/kg BB/hari, kebutuhan asupan kalori pasien CKD yang
stabil adalah 35 kkal/kg BB/hari. Kebutuhan kalori harus dipenuhi guna
mencegah terjadinya pembakaran protein tubuh dan merangsang
pengeluaran insulin.
3. Lemak
Lemak terbatas, diutamakan penggunaan lemak tak ganda. Lemak normal
untuk pasien dialisis 15-30% dari kebutuhan energi total.
4. Vitamin
Defisiensi asam folat, pridoksin dan vitamin C dapat terjadi sehingga perlu
suplemen vitamin tersebut. Vitamin yang diperlukan diantaranya vitamin
larut lemak. Kadar vitamin A meningkat sehingga harus dihindari

pemberian vitamin A pada CKD. Bitamin E dan K tidak membutuhkan


suplementasi.
Syarat pemberian diet pada CKD adalah (Almatsier, 2006 dalam
Syamsiah, 2011 ) :
a) Energi cukup, yaitu 35 kkal/kg BB
b) Protein rendah, yaitu 0,6-0,75 gr/kg BB. Sebagian harus bernilai
biologik tinggi.
c) Lemak cukup, yaitu 20-30% dari kebutuhan total energi,
diutamakan lemak tidak jenuh ganda.
d) Karbohidrat cukup, yaitu : kebutuhan energi total dikurangi yang
berasal dari protein dan lemak.
e) Natrium dibatasi apabila ada hipertensi, edema, acites, oliguria atau
anuria, banyak natrium yang diberikan anatara 1-3 g.
f) Kalium dibatasi (60-70 mEq) apabila ada hiperkalemia (kalium
darah . 5,5 mEq) oliguria atau anuria.
g) Cairan dibatasi yanitu sebanyak jumlah urine sehari ditambah
dengan pengeluaran cairan melalui keringat dan pernapasan
(500ml).
h) Vitamin cukup, bila perlu berikan suplemen piridoksin, asam folat,
vitamin C dan vitamin D.
2.2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien hemodialisa
Beberapa faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien
CKD

dengan hemodialisis seperti dikemukakan diatas akan diuraikan

sebagiannya yaitu :
1.

Usia
Menurut Siagian (2001 dalam Rohman 2007) menyatakan bahwa
umur berkaitan erat dengan tingkat kedewasaan atau maturitas,

yang

berarti bahwa semakin meningkat umur seseorang, akan

semakin meningkat pula kedewasaannya atau kematangannya baik


secara teknis, psikologis maupun spiritual, serta akan semakin
mampu melaksanakan tugasnya. Umur yang semakin meningkat
akan meningkatkan pula kemampuan seseorang dalam mengambil
keputusan, berfikir rasional, mengendalikan emosi, toleran dan
semakin terbuka terhadap pandangan orang lain termasuk pula
keputusannya untuk mengikuti program-program terapi yang
berdampak pada kesehatan.
2.

Jenis kelamin
Laki-laki dan perempuan sudah pasti berbeda. Berbeda dalam
cara berespon, bertindak, dan bekerja di dalam situasi yang
mempengaruhi setiap segi kehidupan. Misalnya dalam hubungan antar
manusia, intuisi perempuan cenderung ditampakkan dengan nada
suara dan air muka yang lembut, sedangkan laki-laki cenderung tidak
peka terhadap tanda-tanda komunikasi tersebut. Laki-laki dan
perempuan memperlihatkan budaya sosial yang berbeda satu sama
lain. Mereka menggunakan symbol, system kepercayaan, dan cara-

3.

cara yang berbeda untuk mengekspresikan dirinya


Pendidikan
Pendidikan merupakan pengalaman yang berfungsi

untuk

mengembangkan kemampuan dan kualitas pribadi seseorang, dimana


semakin tinggi tingkat pendidikan
kemampuannya

untuk

akan

memanfaatkan

semakin
pengetahuan

keterampilannya (Siagian, 2001 dalam Rohman, 2007).

besar
dan

4.

Lamanya HD
Periode sakit dapat mempengaruhi kepatuhan. Beberapa penyakit
yang tergolong penyakit kronik, banyak mengalami masalah
kepatuhan. Pengaruh sakit yang lama, belum lagi perubahan pola
hidup yang kompleks serta komplikasi-komplikasi yang sering muncul
sebagai dampak sakit yang lama mempengaruhi bukan hanya pada
fisik pasien, namun lebih jauh emosional, psikologis dan social pasien.
Pada pasien hemodialisis didapatkan hasil riset yang memperlihatkan
perbedaan kepatuhan pada pasien yang sakit kurang dari 1 tahun
dengan

yang lebih dari 1 tahun. Semakin lama sakit yang

diderita, maka resiko terjadi penurunan tingkat kepatuhan semakin


5.

tinggi (Kamerrer, 2007 dalam Syamsiah, 2011).


Kebiasaan merokok
Leggat et al (1998 dalam Kamerrer, 2007) adalah orang pertama yang
mempertimbangkan bahwa merokok sebagai prediktor potensial dari
ketidakpatuhan. Kutner et al (2002 dalam Kamerrer, 2007) juga
menunjukkan bahwa merokok saat ini memiliki hubungan yang
bermakna dengan ketidakpatuhan (melewatkan sesi hemodialisis)

6.

dengan P = 0,04.
Pengetahuan
Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting terbentuknya
prilaku seseorang. Prilaku didasarkan atas pengetahuan, walaupun
pengetahuan yang mendasari sikap seseorang masih dipengaruhi oleh
banyak faktor lain yang sangat kompleks sehingga terbentuk prilaku

7.

yang nyata (Notoadmodjo, 2003 dalam sari 2009)


Motivasi

Motivasi seringkali diartikan dengan istilah dorongan. Dorongan atau


tenaga tersebut merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat.
Jadi

motif

tersebut

merupakan

suatu

driving force

menggerakkan

manusia

untuk bertingkahlaku, dan

8.

perbuatanya itu mempunyai tujuan tertentu.


Akses pelayanan kesehatan
Faktor akses pelayanan kesehatan meliputi

di

fasilitas

yang
dalam

unit

hemodialisis, kemudahan mencapai pelayanan kesehatan (termasuk


didalamnya biaya, jarak, ketersediaan transportasi, waktu pelayanan
dan keterampilan petugas). Fasilitas ukuran besar (10 atau lebih pasien
di HD) dihubungkan dengan reaksi melewatkan dan memperpendek
waktu pengobatan dialysis, serta kelebihan IDWG.
Persepsi pasien terhadap pelayanan perawat
Perawat merupakan salah satu petugas kesehatan yang berinteraksi

9.

paling lama dengan pasien hemodialisis, mulai dari persiapan, Pre


Hemodialisis, Intra Hemodialisis sampai post dialysis. Riset
membuktikan bahwa keberadaan
terlatih

dan

professional

tenaga-tenaga

perawat

yang

dan kualitas interaksi perawat dengan

pasien memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat kepatuhan


pasien hemodialisis.
2.3 Konsep Hemodialysis
2.3.1 Definisi Hemodialisis
Hemodialisis

berasal

dari

kata

hemo=darah,

dan

dialisis=pemisahan atau filtrasi. Hemodialisis adalah suatu metode terapi


dialisis yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah

dari dalam tubuh ketika secara akut ataupun secara progresif ginjal tidak
mampu melaksanakan proses tersebut. Terapi ini dilakukan dengan
menggunakan sebuah mesin yang dilengkapi dengan membran penyaring
semipermiabel (ginjal buatan). Hemodialisis dapat dilakukan pada saat
toksin pada saat toksin atau zat racun harus segera dikeluarkan untuk
mencegah kerusakan permanen atau menyebabkan kematian. Tujuan dari
hemodialisis adalah untuk memindahkan produk-produk limbah yang
terakumulasi dalam sirkulasi klien dan dikelurkan kedalam mesin dialisis
(Muttaqin dan Sari, 2011).

2.3.2 Prinsip Kerja Hemodialisis


Hemodialisis dilakukan dengan mengalirkan darah ke suatu tabung
ginjal buatan (dializer) yang terdiri dari dua kompartemen terpisah. Darah
pasien dipompa dan di alirkan ke kompartemen darah yang dibatasi oleh
selaput semipermiabel buatan (artifisial) dengan kompartmen (artifisial)
dengan kompartmen dialisat dialiri cairan dialisis yang bebas pirogen,
berisi larutan dengan komposisi elektrolit mirip serum normal dan tidak
mengandung sisa metabolisme nitrogen. Cairan dialisat dan darah yang
terpisah akan mengalami perubahan konsentrasi yaang tinggi kearah
konsentrasi yang rendah sampai konsentrasi zat terlarut sama dikedua
kompartmen (difusi). Pada proses dialisis, air juga dapat berpindah dari
kompartmen darah ke kompartmen cairan dialisat dengan cara menaikan

tekanan hidrostatik negatif pada kompartmen dialisat. Perpindahan ini


disebut ultrafiltrasi (Sudoyo, 2009).
Difusi merupakan proses perpindahan molekul dari larutan dengan
konsentrasi tinggi ke daerah dengan larutan berkonsentrasi rendah sampai
tercapai kondisi seimbang. Proses terjadinya difusi dipengaruhi oleh suhu,
visikositas dan ukuran dari molekul. Saat darah dipompa melalui dialyser
maka membran akan mengeluarkan tekanan positifnya, sehingga tekanan
diruangan yang berlawanan dengan membran menjadi rendah. Hal ini
mengakibatkan cairan dan larutan dengan ukuran kecil bergerak dari
daerah yang bertekanan tinggi menuju daerah yang bertekanan rendah
(tekanan hidrostatik). Karena adanya tekanan hidrostatik tersebut maka
cairan dapat bergerak menuju membran semipermeabel. Proses ini disebut
dengan ultrafiltrasi.

2.3.3. Persiapan Pasien Hemodialysis


Periode waktu dari mulai dialysis sampai memulai terapi pengganti
ginjal atau Renal Replacement Therapy (RRT), biasanya hanya dalam
waktu yang pendek, tetapi sering ada periode waktu dari beberapa bulan
sampai beberapa tahun ketika pasien harus diberikan waktu untuk
menyesuaikan gaya hidup mereka dan mempersiapkan apapun bentuk
dialysis yang sesuai. Keperluan penanganan predialysis meliputi bantuan
psikologis, termasuk monitor klinis tentang kondisi gangguan ginjal.

Semua pasien dengan kondisi CKD dengan creatinine plasma


diatas 150 mmol L-1 dan /atau signifikansi proteinuria (<1 g 24 h-1)
sebaiknya dirujuk kepada ahli nephrologis. Pasien dengan kreatinin di atas
300 mmol L-1 sebaiknya dirujuk secepat mungkin. Struktur pendidikan
dan konseling bagi gangguan ginjal tahap akhir ini harus diberikan oleh
tim multi disiplin ilmu (Kidney alliance 2001).

2.3.3.1 Dosis, Adekuasi dan Durasi Hemodialysis (Rahardjo, 2006 dalam


Syamsiah, 2011)
a. Dosis Hemodialisis
Dosis HD yang diresepkan yaitu :
Tentukan tinggi badan dan berat badan pasien untuk mengukur

volume
Tentukan volume yang mengacu pada normogram
Tentukan klirens urea dari dializer yang dipakai sesuai dengan

laju aliran darah (Qb). Lihat petunjuk pada kemasan dializer.


Lama dialisis yang diinginkan dalam jam (T) : KT/V = 1,2
(untuk HD 3X seminggu).

Dosis HD yang sebenarnya dapat ditentukan setelah hemodialisis,


dengan rumus :
KT/V = -ln(R 0,008t) + (4 3,5R) X (BB pradialisis BB pasca
dialisis) BB pasca dialisis
Ket : ln = logaritma natural
R = Ureum pasca dialisis/ureum pra dialisis
t = Lama dialisis (jam)

b. Adekuasi Hemodialisis
Kecukupan dosis hemodialysis yang diberikan diukur dengan istilah
adekuasi dialisis. Terdapat korelasi yang kuat antara adekuasi dialisis
dengan angka morbiditas dan mortalitas. Adekuasi dialisis diukur
dengan menghitung Urea reduction Ratio (URR) dan KT/V. URR
dihitung dengan rumus yaitu : URR = 100 X (1 Ct/Co)
Ket: Ct : ureum post dialisis, Co : ureum predialisis
Rumus lain dalam menghitung dosis dialisis yaitu : KT/V
Ket : K : bersihan ureum dialyser T : waktu pemberian dialysis
V : jumlah ureum yang terdistribusi dalam cairan tubuh
Target KT/V yang ideal adalah 1,2 (URR 65%) untuk HD
3X perminggu selama 4 jam perkali HD dan 1,8 untuk HD 2X
perminggu selama 4 5 jam perkali HD. Frekuensi pengukuran
adekuasi HD sebaiknya dilakukan secara berkala (idealnya 1 kali
tiap bulan) minimal tiap 6 bulan. (Konsensus Dialisis Pernefri,
2003).

c. Durasi Hemodialisis
Berdasarkan pengalaman selama ini tentang durasi HD, frekuensi 2X
perminggu telah menghasilkan nilai KT/V yang mencukupi (> 1,2) dan
juga pasien merasa lebih nyaman. Selain itu, dana asuransi kesehatan
yang tersedia juga terbatas dan hanya dapat menanggung HD dengan
frekuensi rata-rata 2X perminggu. Oleh karena itu di Indonesia biasa
dilakukan HD 2X/minggu selama 4 5 jam dengan memperhatikan
kebutuhan individual (Konsensus Dialisis Pernefri, 2003).

2.3.4. Pre Hemodialysis


Pada saat pasien datang ke pelayanan hemodialysis, maka terdapat
beberapa persiapan yang harus dilakukan oleh perawat diantaranya :

2.3.4.1. Informed consent


Perawat

memastikan

bahwa

pasien

telah

menandatangani

persetujuan untuk dilakukan tindakan hemodialysis.

2.3.4.2. Penimbangan berat badan dan Pengukuran tinggi badan


Latihan reguler tentang dry weight sangat penting untuk
memungkinkan perawat dan pasien menentukan jumlah cairan yang
dibuang yang dibutuhkan selama dialysis. Satu Kg sama dengan 1 L
cairan, artinya berat pasien merupakan metode yang sederhana dan akurat
untuk menentukan penambahan dan pengurangan cairan selama dialysis.
Istilah dry weight merujuk pada berat dimana tidak ada bukti klinis
oedema, nafas yang pendek, peningkatan tekanan nadi leher atau
hipertensi. Penentuan dry weight harus berdasarkan hasil pemeriksaan
perawat, dokter dan ahli diet. Bagaimanapun juga, dari hari ke hari
menjadi tanggung jawab perawat dan sudah banyak perawat yang dilatih
dalam hal skill klinis rutin tentang latihan cairan
Tujuan dari dialysis adalah untuk membuang kelebihan volume
cairan. Untuk menghitung ini, digunakan ilustrasi sebagai berikut :
Berat sebenarnya : 68,5 Kg

Dry weight : 66 Kg
Berat yang akan dicapai : 2,5 Kg
Penambahan cairan selama
Tindakan : washback salin (300mL)
Dua minuman (300mL)
Total cairan yang harus dibuang : 2,5 + 0,3 + 0,3 = 3,1 L

2.3.4.3. Pengukuran tanda-tanda vital


Tekanan darah harus dicatat sebagai dasar untuk mengukur
perubahan yang signifikan selama tindakan. Jika pasien terlalu berat
sebelum dialysis, tekanan darah mungkin naik sehubungan dengan
peningkatan volume sirkulasi. Pasien dengan hipertensi sebagai akibat dari
penyakit ginjal mungkin diresepkan obat anti hipertensi. Jika pasien
menjadi hipertensi pada saat dialysis, mungkin perlu mengurangi dosis
sebelum sesi dialysis berikutnya. Disarankan tekanan darah sebaiknya
<140/90 mmHg bagi pasien yang berumur kurang dari 60 tahun dan
<160/90 mmHg bagi yang berumur diatas 60 tahun (persatuan ginjal
1997). Temperatur pasien harus secara rutin dicatat. Pyrexia sebelum
dialysis harus diperiksa secepatnya. Denyut nadi harus dicatat pada semua
pasien.

2.3.4.4. Kontrol infeksi

Laporan Rosenheim (1972) membuat standar untuk mengontrol


infeksi hepatitis B di unit ginjal. Saat ini pasien dan staf di unit ginjal
harus waspada terhadap resiko tertular, tidak hanya dengan Hepatitis B
tetapi juga dengan virus darah lain (BBV) seperti Hepatitis C dan HIV.
Ulasan laporan Rosenheim menyatakan bahwa pasien pembawa hepatitis
B harus di dialisis terpisah pada mesin khusus dan pasien pembawa
hepatitis C harus di dialisis pada shift tersendiri pada mesin khusus tetapi
tidak pada ruangan yang terpisah. Isolasi dibutuhkan untuk pasien BBV,
sedangkan skrining pasien HIV masih kontroversi. Bagi hepatitis B
dianjurkan tes sekali 3 bulan (HbsAg), sekali 6 bulan untuk hepatitis C dan
setiap tahun bagi HIV.
Fasilitas MRSA pada unit ginjal harus tersedia dan harus
dilengkapi dengan tim kontrol infeksi lokal. Pasien dengan koloni MRSA
harus dipisah dari pasien yang lain. Pencegahan universal harus diterapkan
sebagai standar praktek pada unit hemodialisis untuk melindungi pasien
dan staf. Pencegahan universal diperlukan antara lain dengan cuci tangan,
pakaian pelindung, pelindung mata dan mesin yang tidak terinfeksi harus
dipastikan sebelum perawat kontak dengan pasien. Jika prosedur ini
dilakukan, tidak diperlukan isolasi pasien.

2.3.4.5. Pemasangan kanula


Pemasangan kanula sesuai dengan akses yang telah dibuat
sebelumnya. Perawat menentukan lokasi inlet dan outlet. Biasanya kanula

inlet dimasukkan melalui pembuluh darah arteri sehingga darah masuk ke


dialyser mesin. Setelah darah diproses di mesin hemodialysis maka darah
yang telah bersih mengalir melalui kanula outlet yang dipasang di
pembuluh darah vena, kemudian mengalir ke dalam tubuh. Pemasangan
kanula inlet atau outlet berjarak kurang lebih 10 cm dengan tujuan yaitu
mencegah terjadinya percampuran darah.

2.3.5 Intra Hemodialysis


Pada periode ini perawat harus melakukan monitoring terhadap
kemungkinan terjadinya komplikasi pada saat hemodialysis dilaksanakan.
Komplikasi yang umum terjadi pada tahap intra hemodialysis yaitu :

2.3.5.1.Hipotensi
Hipotensi akan terjadi bila tingkat cairan yang dibuang melebihi
pengisian kembali plasma pada pasien. Beberapa ukuran dapat membantu
untuk mengurangi resiko hipotensi, termasuk menyarankan pasien bahwa
pencapaian berat interdialitik tidak terlalu berlebihan. Cairan yang masuk
menyulitkan pasien untuk mengontrol. Untuk minuman, air yang ada
dalam makanan harus ikut diperhitungkan. Profil sodium bisa membantu
mengurangi resiko hipotensi. Cara lain untuk mengantisipasi hipotensi
sehubungan dengan lambatnya pengisian kembali plasma adalah dengan
memonitor hematokrit dan monitor volume darah. Perubahan dalam

volume darah diukur melalui hematokrit dan penjenuhan oksigen darah.


Monitor akan berbunyi bila pasien terkena resiko hipotensi.

2.3.5.2.Mual muntah
Mual dan muntah bisa berhubungan dengan hipotensi. Ini bisa
terjadi sebelum hipontensi, misalnya pasien merasakan mual, muntah dan
kemudian menjadi hipotensi atau sebaliknya pasien hipotensi pada
awalnya, yang ditimbulkan dengan cairan intravena dan kemudian muntah.
Sehingga diminta kepada pasien untuk menahan diri untuk tidak makan
sampai dialisis selesai.

2.3.5.3.Kramp
Kram adalah efek samping lain dari hemodialisis. Kram
sebagaimana hypotensi, disebabkan oleh ultrafiltrate terlalu tinggi karena
kecepatan pertukaran cairan. Pasien yang kram di kaki bisa berdiri dan
mendorongkan kaki ke lantai untuk mengurangi rasa sakit. Hal ini harus
dihindari bila ada kemungkinan hypotensi simultan karena mengakibatkan
pasien jatuh ke lantai. Pemberian tekanan dapat dilakukan ke kaki dengan
membiarkan pasien mendorong kaki ke perawat. Penggunaan alat pemanas

dan atau dengan menggosok area yang sakit dengan penuh semangat juga
bisa membantu.

2.3.5.4.Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit


Tingkat difusi harus sama untuk mempertahankan keseimbangan.
Jika difusi

pasien tinggi akan menyebabkan ketidakseimbangan pada

komponen tubuh. Hal ini akan menyebabkan pergantian osmotik cairan


dari daerah yang konsentrasinya rendah ke daerah yang konsentrasinya
tinggi terutama pada cairan serebrospinal dan sel otak. Pada akhirnya,
pergantian yang cepat pada pH cairan serebrospinal yang akan
mempengaruhi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
Tanda

ketidakseimbangan

dapat

ringan

atau

berat.

Ketidakseimbangan ringan diantaranya seperti sakit kepala, pusing, mual,


dan muntah. Sedangkan ketidakseimbangan yang berat seperti penyakit
saraf, koma, dan potensi kematian. Pasien dengan penyakit akut, atau
dialisis

untuk

pertama

kali

dianggap

beresiko

untuk

terjadi

ketidakseimbangan.

2.3.5.5.Reaksi pasien (sindrom membran/ syndrom pertama)


Respon allergi mungkin muncul ketika darah pasien terpapar
terhadap benda asing. Contoh membran pasien, kimia steril spt ETO dan
bakteri atau endotoxin. Reaksi alergi bisa tipe A atau tipe B. Tipe A adalah
reaksi anaphylatic berat yang muncul pada 5 menit pertama, tandanya bisa

mulai dengan gatal dan menjadi gatal yang hebat termasuk dyspnea dan
perasaan panas pada seluruh tubuh. Tindakan yang dilakukan adalah
segera hentikan dialysis. Darah sebaiknya tidak masuk lagi ke tubuh
pasien. Pasien tipe ini harus didialysis terhadap membran yang sudah di
steam sterilkan. Pembilasan ekstra sirkuit dialysis juga disarankan. Reaksi
Tipe B kurang berat, termasuk nyeri dada. Terjadi 1 jam setelah dialysis
dimulai. Penyebab tidak diketahui tetapi disarankan untuk menggunakan
membran sintetik.

2.3.5.6.Hemolisis
Hemolisis adalah gangguan pada sel darah merah. Hemolisis besarbesaran dapat cepat menimbulkan hyperkalemia dan penahanan kardiak.
Hemolisis bisa disebabkan oleh dialisis terhadap dialisat yang terlalu
panas atau dialising terhadap air atau hypotonic dialysate.
Pompa darah yang modern memiliki tekanan yang rendah dan
tidak menimbulkan hemolisis, tetapi bila salah menyesuaikan, roler pompa
darah dapat menyebabkan kerusakan pada sel. Tekanan vena yang tinggi
dihasilkan dari hambatan akses venous atau aliran darah yang
menyebabkan kerusakan sel darah merah. Pasien akan mengeluh dada
nyeri, dyspnea dan mungkin perasaaan mau pingsan. Jika ada indikasi
hemolisis, dialisis harus dihentikan dan darah harus tidak dialirkan ke
pasien, sementara mesin yang lain harus di standby kan.

2.3.5.7.Emboli udara
Peralatan ultrasonik detektor udara memberikan kepastian kepada
pasien dan perawat untuk pencegahan emboli udara. Detektor udara harus
diaktifkan selama prosedur priming. Jika pasien mengalami emboli udara,
perawat harus menghentikan dialysis. Baringkan pasien pada sisi kiri
dengan posisi kepala lebih rendah dari badan.

2.3.5.8. Pembekuan aliran darah


Pembekuan terjadi jika anti koagulasi tidak cukup, jika aliran darah
tidak cukup atau berhenti atau jika ada udara dalam sirkuit. Pertukaran
tekanan pada sirkuit akan terjadi sebagai akibat dari pembekuan. Jika
terjadi pembekuan tindakan harus dihentikan, dengan tidak mengalirkan
lagi darah ke pasien.

2.3.6.Post Hemodialysis
Pada post hemodialisis, perawat harus melakukan observasi
terhadap tanda-tanda vital seperti tekanan darah, nadi, suhu dan
pernapasan dalam rentang nilai normal. Observasi lokasi penusukan,
perawat dapat mengobservasi ada tidaknya hematom, edema atau
perdarahan, untuk mencegah hal ini perawat dapat menyarankan untuk
menekan daerah tusukan. Perawat juga melakukan monitoring hasil
laboratorium kimia darah seperti ureum- kreatinin yang hasilnya dapat
digunakan untuk menetukan frekuensi hemodialysis. Perawat juga

melakukan penimbangan berat badan untuk memantau perubahan berat


badan pasca hemodialisis.

2.3.6.1. Dampak Prosedur hemodialisis kepada pasien antara lain sebagai


berikut :
a) Gangguan Hemodinamik
Gangguan Hemodinamik pada pasien HD paling sering adalah Hypotensi.
Gangguan Hemodinamik pada pasien HD terkait dengan kadar Natrium
dalam cairan Dialisat. Secara teori kadar Na dalam cairan dialisat berkisar
135 145 meq/L. Bila kadar Na lebih rendah maka risiko gangguan
hemodinamik selama hemodialisis akan bertambah. Tetapi bila kadar Na
lebih tinggi gangguan hemodinamik memang berkurang hanya saja kadar
Na pascadialisis akan meningkat sehingga keadaan ini akan menimbulkan
rasa haus dan pasien akan cenderung minum lebih banyak. Tetapi pada
pasien dengan komplikasi hipotensi selama HD yang sulit ditanggulangi,
kadar Na dialisat dibuat lebih tinggi.
Gangguan Hemodinamik pada pasien HD juga bisa disebabkan masalah
yang terkait dengan berat kering pasien. Pasien HD yang pola nutrisinya
membaik maka berat keringnya akan naik, bila hal ini luput dari perhatian
perawat dan mesin HD diprogram sesuai dengan berat kering pasien
terdahulu maka cairan yang tertarik akan lebih banyak dan ini bisa
menyebabkan pasien mengalami gangguan hemodinamik. Selain itu pasien
dengan pengobatan hipertensi selama HD cenderung juga mengalami
gangguan hemodinamik saat program hemodialisis. Infeksi yang dialami

pasien saat terapi HD akan menyebabkan perubahan toleransi pasien


terhadap peralatan HD, ini juga akan berisiko menimbulkan gangguan
hemodinamik pada pasien demikian juga kondisi pasien yang anemia.
Penggunaan dialisat acetat juga diduga mengakibatkan komplikasi
gangguan hemodinamik oleh karena itu sekarang jarang digunakan.
b) Anemia
Penurunan kadar Hb pada pasien CKD sebenarnya telah terjadi akibat
proses penyakitnya sendiri dengan menurunnya produksi Eritropoetin
(EPO) oleh ginjal, tubuh tidak mampu menyerap zat besi, dan kehilangan
darah karena sebab lain misalnya perdarahan gastrointestinal. Tapi pada
pasien CKD dengan HD, anemia bisa bertambah berat karena hampir tidak
mungkin semua darah pasien dapat kembali seluruhnya setelah terapi HD.
Pasti ada sebagian sel darah merah yang tertinggal di dializer ataupun
bloodline meskipun jumlahnya tidak signifikan.
c) Mual dan lelah (Letargy)
Ada beberapa faktor yang menyebabkan pasien merasa mual (nausea) atau
merasa sangat lelah (lethargy) setelah terapi hemodialysis (HD). Kondisi
tersebut biasanya akan berangsur membaik beberapa jam setelah terapi
berlangsung dan akan makin membaik pada hari berikutnya. Namun ada
pula yang kondisi mual atau lelah tersebut dirasakan terus dan hal ini dapat
merupakan tanda adanya problem medis lain yang perlu mendapat
perhatian serius. Untuk itu penting bagi pasien untuk memberitahukan
kepada tim medis mengenai problem yang dirasakannya. Seringkali
problem tersebut dapat diatasi dengan melakukan beberapa penyesuaian

pada terapi pasien ataupun yang menyangkut pola hidup pasien yang
bersangkutan. Untuk itu mengetahui kemungkinan penyebab dari problem
tersebut akan membantu pasien mengatasi secara mandiri atau paling tidak
mengurangi problem yang muncul pasca terapi hemodialisis. Berikut ini
beberapa penyebab timbulnya mual dan rasa lelah setelah terapi
hemodialisis yaitu :
Hypotensi
Kelebihan Asupan Cairan diantara dua Terapi dialysis.
Problem terkait berat kering.
Reaksi alergi.
Infeksi.
Obat Hipertensi.
Dialysis disequilibrium.
Anemia .
Penggunaan Acetate pada Terapi Dialysis.
Penyebab lain.

d) Alergi Dispossable Set


Pada kasus tertentu, timbulnya rasa lemas dan mual dapat disebabkan
alergi pada dialyzer. Apabila hal ini terjadi solusi yang paling baik adalah
dengan mengganti jenis dialyzer dengan jenis lain.
e) Infeksi
Respon tubuh terhadap infeksi selain dapat menyebabkan tekanan darah
rendah, juga dapat menyebabkan nausea dan rasa lelah yang berlebihan.
Hal ini dapat terjadi apabila infeksi muncul saat terapi berlangsung atau
timbulnya infeksi kronis yang merubah toleransi tubuh terhadap terapi
dialisis yang dijalankan.
f) Dialysis Disequilibrium Syndrome

Masalah dapat timbul apabila terlalu banyak racun ureum dan kreatinin
yang menumpuk dalam tubuh yang kemudian di buang terlalu cepat saat
terapi berlangsung. Hal ini dapat terjadi apabila jumlah racun yang
menumpuk sangat banyak merupakan akumulasi penumpukan lebih dari 45 hari dan kemudian dipaksa dibuang seluruhnya dalam satu kali terapi
sehingga muncul masalah nausea, pusing, dan lemas. Hal ini biasanya
terjadi apabila pasien bolos satu atau lebih terapi. Pada kondisi tersebut
biasanya dilakukan modifikasi pada terapi dengan cara mengurangi jumlah
urea yang dibuang dalam jumlah terbatas secara bertahap pada 2-3 terapi
berturut turut.
g) Gangguan Kulit
Sebagian besar pasien dialisis mengalami perubahan atau gangguan pada
kulit yaitu :
Gatal gatal (pruritus)
Sebagian besar pasien hemodialysis pernah atau masih mengalami
gatal gatal di beberapa bagian tubuh. Beberapa mengalami gatal
gatal yang terus menerus, sementara yang lain tingkat gatal
gatalnya bersifat sementara. Ada yang mengalami gatal gatal
yang parah sebelum dialysis ada juga yang setelah dialysis. Sampai
saat ini penyebab pasti gatal gatal pada pasien dialysis belum
diketahui,

namun

kemungkinan

besar

menurut

para

ahli

penyebabnya adalah multifaktor yaitu kulit kering, tingginya kadar


vit A dalam darah, tingginya kadar kalsium, fosfat, hormon
parathyroid dalam darah, serta meningkatnya kadar histamin dalam
kulit.

Kulit Kering (xerosis)


Kulit kering juga merupakan kondisi yang sering ditemui pada
pasien gagal ginjal terminal. Kegagalan ginjal dapat menyebabkan
perubahan pada kelenjar keringat (sweat glands) dan kelenjar
minyak (oil glands) yang menyebabkan kulit menjadi kering. Kulit
kering akan menyebabkan infeksi dan apabila terluka akan
membuat proses penyembuhannya lebih lambat. Selain itu kulit
kering menjadi penyebab gatal gatal.

Kulit Belang (skin discoloration)


Kulit belang atau skin discoloration banyak terjadi terhadap pasien
gagal ginjal terminal. Salah satu penyebabnya terkait dengan
pigment urochromes yang biasanya pada ginjal yang sehat dapat
dibuang namun sekarang ini menumpuk pada kulit, Akibatnya
adalah kulit akan terlihat kuning kelabu. Penyebab kulit belang
lainnya adalah yang lazim disebut uremic frost yaitu munculnya
semacam serbuk putih seperti lapisan garam pada permukaan kulit
dimana hal itu merupakan tumpukan ureum yang keluar bersama
keringat.

2.4 Kerangka Teori


Dari teori yang telah dijelaskan sebelumnya, adapun gambar kerangka
teorinya sebagai berikut :

Pembatasan Cairan :
Dukungan Keluarga :

Informasional
Emosional
Instrumental
Penilaian

( Friedman 2010 )

Kepatuhan
pasien CKD
dalam
pembatasan
asupan Cairan
dan Nutrisi

Faktor-faktor yang
mempengaruhi
dukungan keluarga

Usia
Jenis Kelamin
Sosial Ekonomi
Pendidikan
Hubungan
keluarga dgn
pasien

(Nuraenah, 2011 )

(Rini,dkk, 2012
; Syamsiah,
2011 )

Natrium
2000-2300
mg/hari (80100/mmol)
Fosfor
(1,2-1,8 mmol/L)
Kalsium
(<2000 mg/hari)
Kalium
51-77 mmol/
2000-3000
mg/hari
(8-17 mg atau 1
mmol/kg/kg
BBI/hari)

(katsilambros, 2013)

Pembatasan Nutrisi :

Protein
(0,5-0,6 gr/kg
BB/hari)
Kalori / energi
(35 kkal/kg
BB/hari)
Lemak
(15-30% dari keb
tubuh)
Vitamin
(vitamin larut
lemak)

(Syamsiah, 2011)

Anda mungkin juga menyukai