Anda di halaman 1dari 14

Nama

: Hans

NIM

: 0802045192

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM MENGATASI KENAIKAN BBM YANG


MENGAKIBATKAN LONJAKNYA HARGA PANGAN SERTA MEMPENGARUHI
KONDISI MASYARAKAT KECIL

PENDAHULUAN
Latar belakang
Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam melimpah. Kekayaan
alamnya membentang dari ujung pulau sumatera hingga pulau papua yang meliputi sumber
daya alam yang dapat diperbaharui dan juga yang tidak dapat diperbaharui. Para pendiri
bangsa (founding fathers) ketika merumuskan konstitusi negara (UUD 1945) menyadari betul
potensi kekayaan alam Indonesia. Oleh karena itu, dalam konstitusi secara khusus pasal 33
UUD 1945 ayat 3 dinyatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran
rakyat. Artinya, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki negara ini harus benar-benar
dikelola negara dengan sebaik-baiknya agar dapat dinikmati oleh segenap masyarakat dan
bukan hanya oleh segelintir orang.
Kontroversi kenaikan harga minyak ini bermula dari tujuan pemerintah untuk
menyeimbangkan biaya ekonomi dari BBM dengan perekonomian global. Meskipun
perekonomian Indonesia masih terseok mengikuti perkembangan perekonomian dunia,
akhirnya kebijakan kenaikan BBM tetap dilaksanakan mulai. Dengan berkembangnya
kontroversi yang ada terhadap kenaikan harga BBM tersebut, pemerintah berusaha
mengetahui dampak langsung peristiwa kenaikan BBM terhadap kondisi masyarakat kecil di
Indonesia. Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas yang memegang peranan
yang sangat vital dalam semua aktifitas ekonomiu, dengan kenaikan BBM tersebut akan
memperberat beban hidup masyarakat dan berdampak menurunnya daya beli masyarakat
secara keseluruhan.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) selalu menjadi kegaduhan politik dan
kontroversi di Indonesia, jika rata-rata sepanjang usia berdirinya Negara kesatuan Republik
Indonesia, setiap 1,5 Tahun harga BBm selalu naik.

Kenaikan harga BBM dari Presiden soekarno hingga SBY:


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Presiden soekarno: 12x menaikan harga BBM


Presiden Soeharto: 18x menaikan harga BBM
Presiden BJ. Habibie : tidak pernah menaikan harga BBM
Presiden Abdurrachman Wahid ( Gus Dur ) : 1x menaikan harga BBM
Presiden Megawati : 2x menaikan harga BBM
Presiden SBY : 3x menaikan harga BBM dan 3x pula beliau menurunkannya

Kenaikan Harga BBM Sejak 1980


Tahun

Harga Premium

Harga Solar

Masa Pemerintahan

1980

Rp 150

Rp 52,5

Soeharto

1991

Rp 550

Rp 300

Soeharto

1993

Rp 700

Rp 380

Soeharto

1998

Rp 1.200

Rp 600

Soeharto

2000

Rp 1.150

Rp 600

Gus Dur

2001

Rp 1.450

Rp 900

Gus Dur

2002

Rp 1.550

Rp 1.150

Megawati

2003

Rp 1.810

Rp 1.890

Megawati

Maret 2005

Rp 2.400

Rp 2.100

SBY

Oktober 2005

Rp 4.500

Rp 4.300

SBY

2008

Rp 6.000

Rp 5.500

SBY

2009-2012

Rp 4.500

Rp 4.500

SBY

Hingga saat ini, dari zaman pemerintahan Presiden Soekarno hingga Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono, BBM di Indonesia sudah 36 kali naik harga. Meski begitu, diterima
atau tidak harga BBM di Indonesia masih yang termurah di kawasan Asia Tenggara
(ASEAN).
Perbandingan harga BBM di negara negara ASEAN lain pada Tahun 2012 :
1. Indonesia (Ron 88) Harga BBM di Indonesia: Rp. 4.500 (disubsidi pemerintah).
2. Malaysia (Ron 95) Harga BBM di Malaysia: Rp. 5.753 (disubsidi pemerintah).
3. Philippines (unleaded) Harga BBM di Philippines: Rp. 12.147 (tidak disubsidi
pemerintah).
4. Thailand (Blue Gasoline 91) Harga BBM di Thailand: Rp. 12.453 (tidak disubsidi
pemerintah).
5. Singapore (Grade 92) Harga BBM di Singapore: Rp. 15.695 (tidak disubsidi
pemerintah).
Kenaikan harga BBM ditempuh untuk mengurangi beban subsidi yang sangat besar dalam
Anggaran Pendapatan Belanja Negara dan alokasi dari subsidi BBM akan dialihkan menjadi

alokasi bagi rakyat miskin artinya akan ada 11,6 triliun yang akan di alokasikan untuk BLSM
dan 6 triliun untuk program infrastruktur kemudian ada juga untuk raskin dan PKH.
Alasan Pemilihan Judul
Alasan pemilihan judul mengenai kebijakan pemerintah dalam mengatasi kenaikan
BBM yang mengakibatkan lonjaknya harga pangan serta mempengaruhi kondisi masyarakat
kecil, Yaitu :
1.
2.
3.
4.

Kenaikan harga BBM yang menyebabkan Inflasi yang berdampak bagi masyarakat kecil
Kurangkan perhatian dari pemerintah
Subsidi bebani APBN ( anggaran pendapatan belanja negara )
Mengetahui kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi lonjaknya harga

pangan atau BBM yang mengakibatkan masyarakat kecil menjadi korban.


5. Mengetahui dampak dari masyarakat kecil dengan kenaikan harga BBM yang
mempengaruhi lonjaknya harga pangan

KERANGKA TEORI
Kebijakan publik
Banyak defenisi yang dibuat oleh para ahli untuk menjelaskan arti kebijakan.
Kebijakan publik membahas soal bagaimana isu-isu dan persoalan disusun (constructed)
dan didefinisikan dan bagaimana kesemuanya itu diletakkan dalam agenda kebijakan dan
agenda politik. Atau, seperti yang diungkapkan oleh Dye, Thomas Dye menyebutkan
kebijakan sebagai pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu

(whatever government chooses to do or not to do). Sementara itu, istilah publik dalam
rangkaian kata public policy mengandung tiga konotasi: pemerintah, masyarakat, dan
umum. Ini dapat dilihat dalam dimensi subyek, obyek, dan lingkungan dari kebijakan.
Dalam dimensi subyek, kebijakan publik adalah kebijakan dari pemerintah. Maka itu
salah satu ciri kebijakan adalah what government do or not do. Kebijakan dari
pemerintahlah yang dapat dianggap kebijakan yang resmi dan dengan demikian
mempunyai kewenangan yang dapat memaksa masyarakat untuk mematuhinya. Dalam
dimensi lingkungan yang dikenai kebijakan, penegertian publik di sini adalah
masyarakat.
James Anderson mengemukakan beberapa ciri dari kebijakan, seperti berikut :
1. Public policy is purposive, goal-oriented behavior rather than random or chance
behavior. Setiap kebijakan mesti ada tujuannya. Artinya, pembuatan suatu kebijakan
tidak boleh sekedar asal buat atau karena kebetulan ada kesempatan membuatnya.
Bila tidak ada tujuan, tidak perlu ada tujuan.
2. Public policy consists of courses of action rather than separate, discrete decision or
actions performed by government officials. Maksudnya, suatu kebijakan tidak berdiri
sendiri, terpisah dari kebijakan lain, tetapi berkaitan dengan berbagai kebijakan dalam
masyarakat, dan berorientasi pada pelaksanaan, interpretasi dan penegakan hukum.
3. Policy is what government do not what they say will do or what they intend to do.
Kebijakan adalah apa yang dilakukan pemerintah, bukan apa yang ingin atau
diniatkan akan dilakukan pemerintah.
4. Public policy may be either negative or positive. Kebijakan dapat berbentuk negatif
atau melarang dan juga dapat berupa pengarahan untuk melaksanakan atau
menganjurkan.
5. Public policy is based on law and is authoritative. Kebijakan didasarkan pada hukum,
karena itu memiliki kewenangan untuk memaksa masyarakat untuk mematuhinya.
Sebagai sebuah sistem yang terdiri dari sub-sistem atau elemen, komposisi dari
kebijakan dapat dilihat dari dua perspektif : dari proses kebijakan dan dari struktur
kebijakan. Dari sisi proses kebijakan, ada beberapa tahapan diantaranya: identifikasi
masalah dan tujuan, formulasi kebijakan, pelaksanaan, dan evaluasi kebijakan. Sementara
jika dilihat dari segi struktur, terdapat lima unsur kebijakan. Unsur pertama, tujuan
kebijakan. Seperti penjelasan sebelumnya, suatu kebijakan dibuat karena ada tujuan yang
ingin dicapai. Tanpa ada tujuan, tidak perlu ada kebijakan. Kebijakan yang baik
mempunyai tujuan yang baik. Tujuan yang baik sekurang-kurangnya memenuhi empat

kriteria yaitu; diinginkan untuk dicapai, rasional atau realistis, jelas, dan berorientasi ke
depan. Unsur kedua, masalah. Masalah merupakan unsur yang sangat penting dalam
kebijakan. Kesalahan dalam menentukan masalah secara tepat dapat menimbulkan
kegagalan total dalam seluruh proses kebijakan. Dengan kata lain, jika suatu masalah
telah dapat diidentifikasikan secara tepat berarti sebagian pekerjaan dapat dianggap sudah
dikuasai. Unsur ketiga, tuntutan. Tuntutan muncul antara lain karena salah satu dari dua
sebab : Pertama, karena terabaikannya kepentingan suatu golongan dalam proses
perumusan kebijakan, sehingga kebijakan yang dibuat pemerintah dirasakan tidak
memenuhi atau merugikan kepentingan mereka. Kedua, karena munculnya kebutuhan
baru setelah suatu tujuan tercapai atau suatu masalah terpecahkan. Unsur keempat,
dampak. Dampak merupakan tujuan lanjutan yang timbul sebagai pengaruh dari
tercapainya suatu tujuan. Seberapa besar dampak yang terjadi untuk tiap jenis kebijakan
sulit diperhitungkan karena : tidak tersedianya informasi yang cukup, dalam bidang sosial
pengaruh dari satu kebijakan sulit dipisahkan dari pengaruh kebijakan lain, proses
berjalannya pengaruh dari sesuatu kebijakan di bidang sosial sulit untuk diamati. Unsur
kelima, sarana atau alat kebijakan. Suatu kebijakan dilaksanakan dengan menggunakan
sarana yang dimaksud. Beberapa dari sarana ini antara lain : kekuasaan, insentif,
pengembangan kemampuan, simbolis, dan perubahan kebijakan itu sendiri.

PEMBAHASAN
Bahan

Bakar

Minyak

(BBM)

merupakan

komoditas

penentu

kelangsungan

perekonomian suatu negara. Hal ini disebabkan oleh berbagai sektor dan kegiatan ekonomi di
Indonesia mengandalkan BBM sebagai sumber energi dalam beraktivitas. Setiap aktivitas
yang dilakukan oleh entitas ekonomi tidak lepas dari penggunaan BBM, mulai dari kegiatan
yang dilakukan oleh rumah tangga hingga perusahaan yang memproduksi barang dan jasa.
Ditinjau dari segi transportasi, keberadaan BBM sangat penting adanya karena kemajuan

suatu bangsa ditentukan oleh kemudahan dan akses transportasi yang baik. Oleh karena itu,
BBM berkaitan erat dengan sistem transportasi sebagai sumber tenaga penggerak. Sejak
tahun 2002, Indonesia telah melakukan impor minyak mentah terkait dengan penurunan
produksi minyak dalam negeri. Di samping itu, Indonesia juga menerapkan kebijakan subsidi
BBM untuk menekan beban masyarakat akan tingginya harga minyak dunia. Besarnya
jumlah pemberian subsidi ini akan mengalami fluktuasi selaras dengan perubahan harga
minyak dunia. Secara tentatif dan tertuang dalam Blueprint Pengelolaan Energi Nasional
2005-2025, Indonesia memberikan subsidi BBM dalam beberapa jenis, yakni subsidi untuk
minyak tanah, premium dan solar. Subsidi yang paling besar memakan dana adalah subsidi
BBM jenis premium.
Rendahnya harga BBM merupakan salah satu sumber defisit APBN yang sangat
dominan namun hal ini memaksa pemerintah menaikkan harga BBM dengan rata-rata 30
persen pada tahun 2001. Jika pemerintah tidak menaikkan harga BBM sebesar 30 persen,
subsidi BBM akan melonjak menjadi Rp 66 triliun pada tahun tersebut. BBM merupakan
bahan dasar untuk melakukan kegiatan di segala sektor dan kehidupan, maka kenaikan harga
BBM yang sangat drastis akan menaikkan harga barang dan jasa termasuk harga kebutuhan
sehari-hari bagi masyarakat walaupun pada kenyataannya biaya BBM hanya mencakup
sekitar 6 persen dari rata-rata biaya produksi industri pengolahan. Sementara itu bagi rumah
tangga, pengeluaran untuk BBM hanya meliputi sekitar 1,07 persen untuk kelompok miskin
dan 0,15 persen untuk rumah tangga kelompok tidak miskin, atau total 0,21 persen dari
anggaran belanja keluarga. Namun untuk pengeluaran transportasi rata-rata rumah tangga
miskin dan tidak miskin mengeluarkan sekitar 2,60 persen dari seluruh anggaran belanja
rumah tangga. Oleh karena itu, kelompok rumah tangga miskinlah yang paling terbebani
oleh kenaikan harga BBM, karena di samping kebutuhan bahan bakar dan transportasi,
kebutuhan- kebutuhan lainnya pasti naik juga harganya, sedangkan penghasilan mereka
relatif kecil.
Berdasarkan kajian Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas, ketidaktepatan sasaran dari
subsidi BBM dikarenakan oleh ketiadaan pengawasan dalam pendistribusian, baik BBM
bersubsidi maupun BBM tidak bersubsidi. Lemahnya pengawasan ini terjadi karena tidak
adanya koordinasi lintas sektoral antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Kurang
efektifnya komunikasi ini menyebabkan kelangkaan BBM dan penyalahgunaan BBM
bersubsidi. Jika masalah ini terus berlanjut maka masalah-masalah di sektor BBM dapat
menghambat pertumbuhan ekonomi lintas sektoral.

Peranan pemerintah dalam bidang

alokasi adalah untuk menjamin tercapainya penggunaan sumber ekonomi yang efisien, yang

tidak dapat dicapai melalui mekanisme pasar bebas. Ekonomi membedakan efisiensi menjadi
dua, yaitu efisiensi alokasi dan x-efficiency. Efisiensi alokasi adalah alokasi sumber- sumber
ekonomi sesuai dengan kendala anggaran konsumen barang dan jasa. X- efficiency
menunjukkan kondisi pada sisi penawaran, yaitu apakah penyediaan suatu barang dan jasa
sudah dilaksanakan dengan biaya minimum. Selain berperan dalam bidang alokasi sumber
daya, pemerintah juga berperan dalam distribusi. Pemerintah dapat memengaruhi distribusi
pendapatan secara tidak langsung dengan kebijaksanaan pengeluaran pemerintah misalnya
dengan subsidi BBM jenis premium.
Besarnya subsidi BBM yang dikeluarkan oleh pemerintah bergantung pada harga
minyak dunia yang sering tidak stabil. Semakin tinggi harga minyak dunia maka pemerintah
akan menganggarkan dana yang makin banyak untuk dana subsidi. Alternatif untuk menekan
pengeluaran pemerintah adalah dengan menaikkan harga BBM, khususnya jenis premium
yang merupakan konsumsi energi tertinggi.
Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat di tarik suatu permasalahan yang ada
terhadap kenaikan harga BBM yang mengakibatkan lonjaknya harga pangan yang
mempengaruhi kondisi masyarakat kecil. Permasalahan tersebut seperti :
1. Tidak efektifnya kebijakan subsidi dalam mengatasi kenaikan harga BBM
Setelah setahun kebijakan subsidi BBM dijalankan, timbul berbagai kontravensi
untuk segera menghentikan kebijakan subsidi bbm, karena setelah di lihat-lihat ternyata
kebijakan subsidi ini tidak berjalan efektif dan jauh dari tujuan semula. Kebijakan ini
justru membuat perekonomian indonesia semakin parah. Ini karena pada awalnya
subsidi bbm diperuntukan kepada warga negara yang kurang mampu, namun
kenyataannya disalahgunakan oleh kalangan kelas menengah keatas. Hal ini
menyebabkan subsidi BBM salah sasaran dalam penyalurannya, karena subsidi yang
tujuannya diberikan oleh kelompok yang kurang mampu tapi ternyata lebih banyak
dinikmati oleh golongan masyarakat kelas atas. 40 persen kelompok pendapatan rumah
tangga terkaya justru menikmati 70 persen subsidi tersebut, sedangkan 40 persen
kelompok pendapatan terendah hanya menikmati sekitar 15 persen.
Penghematan subsidi BBM memberikan dampak positif bagi perekonomian dan
pendidikan masyarakat. Alokasi dana dari penghematan subsidi yang mencapai Rp
38,18 Triliun (dari 2011-2013) akan dapat menunjang program percepatan
pembangunan infrastruktur transportasi dan pendidikan, Alokasi dana tersebut juga
akan dapat digunakan untuk membuat konsep pendidikan gratis secara menyeluruh
untuk seluruh siswa .

Oleh karena itu perlu adanya penghematan dan pengawasan agar sasarannya tidak
melenceng dari yang seharusnya. Karena dengan semakin besarnya subsidi BBM,
kemampuan pemerintah untuk membiayai berbagai program yang berorientasi pada
perbaikan kesejahteraan masyarakat miskin seperti pendidikan, kesehatan, Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan
penyediaan infrastruktur menjadi terancam dikurangi.
Setelah sekian lama masyarakat difasilitasi oleh pemerintah dengan subsidi BBM,
akhirnya di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diberlakukan gebrakan yang
sangat sensasional. Mulai dari menaikkan BBM industri di tahun 2007, pengurangan
subsidi di awal 2008 dan akhirnya dihapus pada akhir 2009.
Pada permasalahan ini, saya akan mencoba untuk menganalisis sejumlah alasan
yang mendukung penghapusan kebijakan subsidi BBM. Dan usaha-usaha apa saja yang
dapat di tempuh untuk menghemat pemakaian BBM.
Berikut adalah hasil analisis saya mengenai sejumlah alasan yang mendukung
penghentian kebijakan subsidi adalah :
a. subsidi itu kini diragukan manfaat ekonominya. konsumsi BBM kita pada sektor
transportasi sangat boros.
b. subsidi BBM kita tidak tepat sasaran. Lebih banyak dinikmati golongan orang kaya.
c. harga BBM yang rendah, selain tidak mendorong efisiensi, rawan terhadap
penyelundupan
d. penyediaan BBM oleh perusahaan monopoli tidak transparan dan tidak efisien.
e. subsidi menghasilkan ketergantungan sangat tinggi pada BBM, padahal indonesia
mempunyai sumber energi cadangan gas dan batu bara lebih besar daripada minyak
bumi. Jadi subsidi bbm tidak mendorong perkembangan sumber energi non-BBM
tersebut.
Dari alasan-alasan diatas kita dapat mengetahui jika kebijakan subsidi BBM
ternyata tidak berjalan efektif dan jauh dari tujuan semula. Oleh karena itu menurut
saya jalan yang terbaik untuk menstabilkan APBN kita adalah dengan menghentikan
pemberian subsidi BBM dan menempuh cara lain untuk mengatasi masalah ini.
Pemerintah harus memikirkan cara lain untuk efisiensi konsumsi bahan bakar minyak
negara kita.
2. Terjadinya inflasi

Inflasi terjadi apabila tingkat harga dan biaya umum naik; harga bahan pokok,
harga bahan bakar, tingkat upah, harga tanah, sewa barang-barang modal juga naik.
Selain itu, inflasi juga diakibatkan oleh :
a.
b.
c.
d.

Pengeluaran pemerintah lebih banyak dari permintaan,


Adanya tuntutan upah yang tinggi,
Adanya lonjakan permintaan barang barang dan jasa-jasa,
Adanya kenaikan dalam biaya produksi.
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan

likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan (tekanan) produksi dan
distribusi (kurangnya produksi (product or service) juga termasuk kurangnya
distribusi). Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan
moneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari peran
negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh Pemerintah
(Government) seperti kebijakan fiskal (perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif),
kebijakan pembangunan infrastruktur dan regulasi.
Inflasi tarikan permintaan (demand pull inflation) terjadi akibat adanya
permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas
di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat
harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan
terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktorfaktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu
kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena
suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan
dalam situasi full employment, dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan
volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga
disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral
dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai
dengan

aksi

spekulasi

yang

terjadi

di

sektor

industri

keuangan.

Inflasi desakan biaya (cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksi
dan juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, meskipun permintaan secara umum
tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran
distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal
dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan dan
penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap
produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi

sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber
produksi, bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan
produksi, aksi spekulasi (penimbunan), sehingga memicu kelangkaan produksi yang
terkait tersebut di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi,
dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.
Jika dihubungkan dengan kenaikan harga BBM, inflasi yang terjadi disebabkan oleh
adanya tekanan dalam proses produksi dan distribusi. Para produsen akan mengurangi
jumlah barang yang akan diproduksi atas pertimbangan biaya produksi yang melonjak.
Kalaupun proses produksi tetap lancar, proses distribusi lah yang akan menghambatnya.
Akibat dari kenaikan harga BBM biaya atau ongkos untuk mendistribusikan barang
hasil produksi akan mengalami kenaikan.
3. Dampak kenaikan harga BBM
Dalam situasi ekonomi masyarakat yang sulit, maka kenaikan BBM bisa
kontraproduktif. Kenaikan harga BBM akan menimbulkan kemarahan masal, sehingga
ketidakstabilan dimasyarakat akan meluas. Sebagian masyarakat merasa tidak siap
untuk menerima kenaikan harga BBM. Kenaikan BBM ini merupakan tindakan
pemerintah yang beresiko tinggi. Meskipun demikian, kenaikan harga BBM juga dapat
menimbulkan dampak yang positif dan dampak negatif.
a) Dampak Positif
I.
Munculnya bahan bakar dan kendaraan alternatif seiring dengan lonjaknya harga
minyak dunia, muncul berbagai bahan bakar alternatif baru yang sudah dikenal
oleh masyarakat luas BBG ( bahan Bakar Gas ). Harga juga lebih murah
dibandingkan dengan harga BBM bersubsidi. Ada juga bahan bakar yang terbuat
dari kelapa sawit. Tentunya bukan hal sulit untuk menciptakan bahan bakar
alternatif mengingat Indonesia adalah Negara yang kaya akan Sumber Daya
Alam. Selain itu, akan muncul juga berbagai kendaraan pengganti yang tidak
menggunakan BBM, misalnya saja mobil listrik, mobil yang berbahan bakar gas,
II.

dan kendaraan lainnya.


Pembangunan nasional akan lebih pesat karena dana APBN yang awalnya
digunakan untuk memberikan subsidi BBM, jika harga BBM naik, maka subsidi
dicabut dan dialihkan untuk digunakan dalam pembangunan di berbagai wilayah

III.

hingga ke seluruh daerah.


Hematnya
APBN
(Anggaran

Pendapatan

dan

Belanja

Negara)

Jika harga BBM mengalami kenaikan, maka jumlah subsidi yang dikeluarkan

oleh pemerintah akan berkurang. Sehingga Anggaran Pendapatan dan Belanja


IV.

Negara dapat diminimalisasi.


Mengurangi pencemaran Udara, Jika harga BBM mengalami kenaikan,
masyarakat akan mengurangi pemakaian bahan bakar. Sehingga hasil
pembuangan dari bahan bakar tersebut dapat berkurang, dan akan berpengaruh

pada tingkat kebersihan udara.


b) Dampak Negatif
1. Harga
barang-barang
dan

jasa-jasa

menjadi

lebih

mahal.

Harga barang dan jasa akan mengalami kenaikan disebabkan oleh naiknya biaya
produksi sebagai imbas dari naiknya harga bahan bakar.
2. Apabila harga BBM memang dinaikkan, maka akan berdampak bagi
perekonomian khususnya UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah)
3. Meningkatnya biaya produksi yang diakibatkan oleh: misalnya harga bahan,
beban transportasi dll.
4. Kondisi keuangan UMKM menjadi rapuh, maka rantai perekonomian akan
terputus.
5. Terjadi Peningkatan jumlah pengangguran. Dengan meningkatnya biaya operasi
perusahaan, maka kemungkinan akan terjadi PHK.
6. Inflasi akan terjadi jika harga BBM menglami kenaikan. Inflasi yang terjadi
karena meningkatnya biaya produksi suatu barang atau jasa.

PENUTUP
1. KESIMPULAN
Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) akan berdampak bagi masyarakat.
Baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Dampak yang signifikan akan terjadi
pada tingkat inflasi dan pada kondisi perekonomian nasional. Dampak kenaikan harga
BBM terhadap inflasi adalah akan terjadi kenaikan pada tingkat persentase inflasi.
Jumlah uang yang beredar di masyarakat akan bertambah, dan akan berdampak pula
pada harga berbagai jenis barang dan jasa. Kondisi perekonomian akan mengalami
goncangan, ketidakstabilan akan terjadi. Iklim investasi akan menurun, sehingga
berpengaruh pada jumlah pendapatan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan
pemerintah untuk mengatasi inflasi adalah dengan kebijakan moneter. Seluruh
instrumen kebijakan moneter efektif dalam mengurangi dan mengatasi inflasi.

Jika semua masyarakat meningkatkan konsumsinya terhadap BBM, maka tidak


heran jika terjadi kenaikan harga BBM, Ini dikarenakan permintaan yang membubung
tinggi sementara penyediaan barang mengalami kekurangan akan membuat harga
barang tersebut menjadi naik dan timbulnya inflasi.
Apabila harga suatu barang mengalami penurunan, maka daya beli masyarakat
dan permintaan masyarakat akan barang tersebut menjadi naik. Sebaliknya jika harga
suatu barang mengalami kenaikan, maka daya beli masyarakat akan mengalami
penurunan. Sebagaimana yang tercantum dalam hukum permintaan. Berbanding
terbalik dengan penawaran, jika harga suatu barang sedang mengalami penurunan,
maka penawaran barang tersebut akan menurun pula, tetapi jika harga barang tersebut
sedang mengalami kenaikan, maka penawaran akan barang tersebut juga akan
meningkat. Sesuai dengan hukum penawaran.
Terjadinya inflasi tergantung pada sejumlah faktor yang mempengaruhi naik
turunnya tingkat harga, juga tergantung pada kebutuhan masyarakat akan barang
tersebut.

2. SARAN
Sesuai dengan kesimpulan diatas, penulis merumuskan saran sebagai berikut :
a. Pemerintah hendaknya memilih waktu yang tepat untuk mengeluarkan kebijakan
menaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
b. Jika inflasi terjadi akibat dampak dari kebijakan pemerintah, diperlukan suatu
langkah yang tepat dalam mengatasi inflasi yang terjadi.
Pemerintah Indonesia harus segera mengambil suatu tindakan yang bijak, lebih
memperhatikan masyarakat dan harus melindungi masyarakat dari inflasi. Karena
inflasi dapat menurunkan daya beli masyarakat dan juga sangat menyengsarakan
masyarakat miskin. Dengan terus menaiknya inflasi kesejahteraan masyarakat
Indonesia pun kian berkurang. Namun tidak hanya pemerintah yang berusaha untuk
mengatasi masalah inflasi ini tapi masyarakat juga harus mendukung pemerintah
dengan ikut serta dalam penghematan pemakaian bahan bakar minyak dengan
melakukan efisiensi energi pada sektor transportasi.

DAFTAR PUSTAKA

Buku
Said Zainal Abidin. 2002. Kebijakan Publik edisi Revisi. Jakarta. Yayasan Pancur Siwah. Hal
20
Charles O Jones. 1994. Pengantar Kebijakan Publik. Jakarta. Rajawali Press. Hal 52
Blueprint BPH Migas 2005-2025, Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia, 2005

Media Internet
KENAIKAN BBM, terdapat di http://prasetyokoko.blogspot.com/2012/03/bab-ipendahuluan.html, di akkses pada tanggal 24 Agustus 2013
Anailisis kebijakan kenaikan harga BBM pada masa SBY-JK, terdapat di
repository.usu.ac.id/bitstream/.../4/Chapter%20I.pdf , diakses pada tanggal 24 Agustus
2013
Kenaikan harga BBM disetujui meskipun diprotes, terdapat di
http://www.bbc.co.uk/indonesia/forum/2013/06/130617_forum_kenaikan_bbm.shtml,
diakses pada tanggal 24 agustus 2013

Naik Turun Harga BBM Sejak Soekarno Hingga SBY terdapat di,
http://ekonomibisnis.suarasurabaya.net/news/2013/117775-Naik-Turun-Harga-BBMSejak-Soekarno-Hingga-SBY, diakses pada tanggal 25 agustus 2013
Soekarno Ke SBY: BBM Di Indonesia Sudah 36 Kali Naik Harga, terdapat di
http://www.memobee.com/dari-soekarno-ke-sby-bbm-di-indonesia-sudah-36-kali-naikharga-9702-eij.html , diakses pada tanggal 25 agustus 2013
Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Terhadap Tingkat Inflasi dan
Perekonomian Indonesia", terdapat di,
http://anaokta.blogspot.com/2013/05/tugas4dampak-kenaikan-harga-bahan-bakar.html,
diakses pada tanggal 25 agustus 2013
MASALAH INFLASI INDONESIA TERHADAP KENAIKAN HARGA BBM, terdapat di
http://thytia.wordpress.com/2011/04/05/masalah-inflasi-indonesia-terhadap-kenaikanharga-bbm/, diakses pada tanggal 26 agustus 2013