Anda di halaman 1dari 29

BAB I

LAPORAN KASUS
A. ANAMNESIS
1. IDENTITAS PENDERITA
Nama

: Bayi Ny.N

Jenis Kelamin

: Laki-laki

No RM

: 063576-2014

BBL

: 1450 gram

Tanggal Lahir

: 14 Agustus 2014

Alamat

: Bawen

Bangsal

: Seruni

IDENTITAS IBU
Nama Ibu

: Ny N

Umur

: 16 th

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

2. DATA DASAR
a.

Keluhan Utama : Bayi lahir dengan berat badan 1450 gr

b. Riwayat Penyakit Sekarang:


Seorang bayi laki-laki lahir tanggal 14 Agustus 2014, lahir spontan dengan
bantuan bidan, dengan kepala yang terlebih dahulu keluar. Berat badan lahir
1450 gr. Setelah lahir, bayi tidak langsung menangis. Warna ketuban jernih.
Warna kulit setelah lahir pucat kebiru-biruan (+), dengan gerakan kurang aktif.
Apgar skor 5/6/7
c.

Riwayat Ibu

Rujukan dari bidan dengan G1PoAo, usia kehamilan 30 minggu dengan


keluhan kencang-kencang pada perut, keluar lendir dan darah (+) di
rasakan setelah coitus.

Riwayat hipertensi (-), DM (-), perdarahan selama kehamilan (-), penyakit


jantung (-) merokok (-), asma (-), muntah-muntah saat hamil (-), alergi (-)

Riwayat Menstruasi : menarche 12 th, lama 7 hari, siklus 28 hari. HPHT :


07-01-2014, HPL : 14-10-2014

R iwayat Kehamilan: Periksa kehamilan teratur di bidan. Selama hamil ini


ibu menyangkal konsumsi obat tertentu ataupun sakit tertentu.

d.

Riwayat nutrisi : ASI keluar sedikit, ibu di rawat R. Bougenville. Susu


formula BBLR (+) menggunakan dot dan NGT

i.

PEMERIKSAAN FISIK
A. Keadaan umum: Gerakan kurang aktif, tangisan lemah
B. Vital Sign
:
- Nadi :150x/menit reguler, isi dan tegangan cukup
- RR : 45x/menit, reguler
- Suhu : 37,3 C , Axiller
BBL : 1450 gr
PB

: 39 cm

LK

: 26 cm

LL : 8,5 cm
LD

: 28 cm

C. Kulit

: licin, tipis,lanugo banyak, kemerahan (+), pucat (-),


sianosis (-), ikterus (-)

D.

Kepala

: Mesocephal, UUB (+) belum menutup, Suturae:

tidak melebar, Fontanel belum menutup, Caput succedaneum (+),


Sephal hematom (-), Rambut hitam, lanugo (+) di pipi,kening
E. Mata

: Pupil bulat isokor, reflek cahaya +/+, Ca(-/-),SI (-/-),

F. Hidung

: Simetris, nafas cuping hidung (-), deformitas (-), secret (-)

G. Telinga : Lentur, secret (-/-), septum deviasi (-) , terdapat tulang rawan
pada pinggir pinna, cepat rekoil.
H. Mulut

: Bibir kering (-), sianosis (-), labioschisis (-), palatoschicic (-)

I. Leher

: Pembesaran limfonodi (-)

J. Thorak

: Aerola datar, diameter < 0,75 cm dan pinggir rata

Pulmo
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Dinding dada simetris, retraksi dinding dada (-)


: Fremitus Taktil Kiri = Kanan,
: tidak dilakukan
: Suara nafas vesikular +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-

Cor

Inspeksi

Palpasi : Ictus cordis teraba, tidak kuat angkat

Perkusi

: tidak dilakukan

Auskultasi

: S1 > S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

: Ictus cordis tidak tampak

K. Abdomen:

Inspeksi
Auskultasi
Palpasi

Perkusi

: Datar, tali pusat (+) basah, vena membayang


: Bising usus (+) normal
: Supel, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-),
turgor baik
: tidak dilakukan

L. Ekstremitas
Superior
-/-/-/< 2 detik

Inferior
-/-/-/< 2 detik

Deformitas
Akral dingin
cyanosis
Capilary refil
Tonus otot lemah

Kedua lengan dan tungkai dalam posisi semi fleksi, Garis lipatan telapak
kaki jelas pada 2/3 anterior

M. Punggung : Spina bifida (-), meningokel ()


N. Genitalia : Anus (+),testis belum turun, rugae scrotum sedikit meliputi
seluruh scrotum
O. Refleks Neonatal
-

Moro -/-

Rooting (+)

Isap (-) belum baik

Menggenggam +/+

C. RESUME
By. NY. N, laki-laki, G1P0A0, UK 30 minggu, lahir spontan, Apgar Score:
5/6/7, usia 0 hari, BBL 1450 gr, PB 39 cm, LK 26 cm, LD 28 cm, LL 8,5 cm.
Keadaan umum gerakan kurang aktif, tangisan lemah, tanda vital: HR 150
x/menit,RR 45 x/menit, Suhu 37,3 C, kulit licin, tipis,lanugo banyak, Kepala:
Caput succedaneum (+), lanugo (+) di pipi,kening. Mata dan hidung dalam batas
normal, telinga lentur, terdapat tulang rawan pada pinggir pinna, mudah rekoil.
Thorak: aerola datar, diameter < 0,75 cm dan pinggir rata, pulmo dan cor dalam
batas normal. Abdomen: vena membayang, dalam batas normal. Genitalia anus

(+), testis belum turun, rugae scrotum sedikit. Ekstremitas: garis lipatan telapak
kaki jelas pada 2/3 anterior. Ballard score 15.
D. DIAGNOSA DIFFERENSIAL:
BBLSR (prematuritas murni), Neonatus Preterm, Asfiksia Sedang
E. PEMERIKSAAN LAB :

Hb

Leukosit : 10,6 ribu

Eritrosit

: 4,12 juta

Ht

: 41,8 %

MCV

: 101,5 mikro m3

MCH

: 35 pg

MCHC

: 34,2 %

RDW-CV : 14,9 %

Trombosit : 222.000/mm3

: 14,3 g/dL

F. ASSESMENT :
BBLSR (prematuritas murni), Neonatus Preterm, Asfiksia Sedang
G. PENATALAKSANAAN
Non Farmakologi:

Jaga kehangatan : pertahankan suhu tubuh 36,5-37,5 C

Rawat incubator

Pijat bayi

ASI

Edukasi ketika pulang :


-

Jaga kehangatan, nest, metode kanguru

Pijat bayi

Cara pemberian ASI jangan sampai bayi tersedak, diberikan ASI


setiap 2 jam sekali atau ketika bayi lapar, selesai di beri susu bayi
di tepuk bagian punggung sampai sendawa dan posisi bayi
dimiringkan

Jika ada keluarga yang sedang flu atau batuk agar menggunakan
masker, bayi jangan di cium

Timbang berat badan bayi setiap minggu

Jika terdapat tanda bahaya pada bayi atau bayi malas minum susu
segera bawa ke dokter

Farmakologi:

O2 1 tpm

Kebutuhan cairan hari 1: 80 cc/kg/hari +10% 130 cc/hari

NGT: 8x2,5 cc

Infus D10% 130 cc/24 jam

Cefotaxim 2x75 mg

Gentamisin 2 x 8 mg

Aminofilin 3x6 mg

Monitoring
Monitoring keadaan umum,nutrisi, tanda vital, tanda hipoglikemik, hipotermi,
masalah pernapasan, infeksi neonatus, masalah nutrisi, komplikasi oftalmologi

H. HASIL FOLLOW UP PASIEN

tanggal
15

/ 8 /14 Tangisan lemah

Termoregulasi

Preterm,

Pijat bayi

Riwayat

O2 1 lpm

hisap kurang kuat (+),

Asfiksia

hari ke2:

cuping hidung (-)

Sedang

kemerahan

Menyusu (+), muntah Mata cekung (-), Reflex


(-)
Bak dan mekonium (+)
BB: 1400 GR

kebutuhan cairan 90
ml/kg/hari +10% = 140

Vital sign :

PB: 39,1 CM

N : 144 x/menit

LK: 26 CM

RR : 40 x/menit

LD: 28 CM

T : 37,1 (Axiller)

LL: 8,5 CM

BBLSR,

Ku : lemah, warna

Gerak krurang aktif

ml

D10% 140 cc/24


jam

Thorak : vesikuler (+/+),

Intake (NGT)
8x2,5 cc

retraksi (-)

Abd : turgor baik

Aminofilin 3x6
mg

Kelamin : testis belum


turun, mekonium (+)
16/ 8 /14

Tangisan lemah

Ku : lemah, warna BBLSR,

Termoregulasi

Preterm,,

Pijat bayi

Riwayat

Kebutuhan cairan

Gerak kurang aktif kemerahan

Menyusu, muntah

Reflex hisap kurang kuat Asfiksia

(-)

Mata cekung (-),


(+), cuping hidung (-)

Bak dan
mekonium (+)

Vital sign :

BB: 1250 GR

N : 160 x/menit

PB: 39,1 CM

RR : 50 x/menit

LK: 26 CM

T : 36,8 (Axiller)

LD: 28 CM

Thorak : vesikuler

hari 3: 100 ml/kg/hari +

Sedang

10%= 140 ml

Intake 8x3,5 cc

Infus D10%
140cc/24 jam

O2 1 lpm

Aminofilin 3x6
mg

(+/+), retraksi suprasternal

LL: 8,5 CM

(+)

mg

Abd : turgor baik,

tali pusat (+) basah


Kelamin : testis

Cefotaxim 2x75

Gentamisin 2x8
mg

belum turun, mekonium


(+)

tanggal

17/ 8 /14 Tangisan cukup kuat


Gerak aktif
Menyusu (+), muntah (-)
Bak dan bab (+)
BB: 1250 GR
PB: 39,1 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM
LL: 8,5 CM

Ku : lemah, warna
kemerahan

Mesocephal, Mata
cekung (-), cuping
hidung (-)

Vital sign :
N : 160 x/menit
RR : 50 x/menit
T : 36,8 (Axiller)

Thorak :
vesikuler (+/+), retraksi
suprasternal (+)

Abd : turgor baik,


tali pusat (+) basah

Kelamin : testis
belum turun, mekonium
(+)

Ekstremitas :akral
hangat (+), cyanosis (-)

BBLSR,
Preterm,,
Riwayat
Asfiksia
Sedang

18/ 8 /14

Ku : lemah, warna
kemerahan

Mesocephal, Mata
cekung (-), cuping
hidung (+)

Vital sign :
N : 154 x/menit
RR : 36 x/menit
T : 38,6 (Axiller)

Thorak :
vesikuler (+/+), retraksi
suprasternal (+)

Abd : turgor baik,


tali pusat (+) basah

Kelamin : testis
belum turun, mekonium
(+)

Ekstremitas :

akral hangat (+),


cyanosis (-), sklerem (+)

BBLSR,
Preterm,,
Riwayat
Asfiksia
Sedang
Neonatus
infeksi

Termoregulasi

Pijat bayi

hari ke 5 :
120 ml/kg/hari 165 ml

I ntake 8x12,5 cc

Infus D10%
165cc/24 jam

O2 1 lpm

Aminofilin 3x6
mg

Cfotaxim 2x75
mg

Gentamisin 2x8
mg

PO: Apialis syr


1x0,5 cc

Tangisan lemah
Gerak tidak aktif,
demam

Menyusu kurang ,
muntah (-)

Bak dan bab (+)


BB: 1250 GR
PB: 39,1 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM
LL: 8,5 CM

tanggal

Termoregulasi
Pijat bayi
Hari k 4 : 110
ml/kg/bb +10% =150
ml/hari

Intake 8x3,5 cc

Infus D10%
150cc/24 jam

O2 1 lpm

Aminofilin 3x6
mg

Cfotaxim 2x75
mg

Gentamisin 2x8
mg

19/ 8 /14

Tangisan kurang

kuat

Gerak kurang aktif

Menyusu (+)

Bak dan bab (+)


BB: 1100 GR
PB: 39,1 CM
LK: 26 CM

LD: 28 CM
LL: 8,5 CM

20/ 8 /14

Tangisan kurang

Gerak kurang

kuat

aktif

Menyusu (+)

Bak dan bab (+)


BB: 1150 GR
PB: 39,1 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM
LL: 8,5 CM

tanggal

Ku : lemah, warna BBLSR,


Preterm,
kemerahan
Mata cekung (-), Riwayat
Asfiksia
cuping hidung (+)
Sedang
Vital sign :
Neonatus
N : 154 x/menit
infeksi
RR : 36 x/menit
T : 38,1 (Axiller)
Thorak :
vesikuler (+/+), retraksi
suprasternal (+)
Abd : turgor baik,
tali pusat (+) mengering
Ekstremitas :akral
hangat (+), cyanosis (-)
sklerem (+)

Ku : lemah, warna BBLSR,


Preterm,
kemerahan
Mata cekung (-), Riwayat
Asfiksia
cuping hidung (+)
Sedang
Vital sign :
Neonatus
N : 154 x/menit
infeksi
RR : 36 x/menit
T : 37,8 (Axiller)
Thorak :
vesikuler (+/+), retraksi
suprasternal (+)
Abd : turgor baik,
tali pusat (+) mengering
Ekstremitas :akral
hangat (+), cyanosis (-)
sklerem (+)

Termoregulasi
Pijat bayi
Intake 8x15
Infus D10%
170cc/24 jam
O2 1 lpm
Aminofilin 3x6
mg
Cfotaxim 2x75
mg
Gentamisin 2x6
mg
PO: Apialis syr
1x0,5 cc

Termoregulasi
Pijat bayi
Intake 12x12,5
cc

Infus D10% 200


cc/24 jam
O2 off
Aminofilin 3x6
mg
Cfotaxim 2x75
mg
Gentamisin 2x6
mg
PO: Apialis syr
1x0,5 cc

21/ 8 /14

Tangisan kuat
Gerak kurang

aktif

Menyusu (+)
NGT

Bak dan bab (+)


BB: 1150 GR
PB: 39,1 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM
LL: 8,5 CM

22/ 8 /14

Tangisan kuat
Gerak kurang

aktif

Menyusu (+)
NGT

Bak dan bab (+)


BB: 1250 GR
PB: 39,1 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM
LL: 8,5 CM

tanggal

Ku : lemah, warna
kemerahan

Mata cekung (-),


cuping hidung (-)

Vital sign :
N : 144 x/menit
RR : 32 x/menit
T : 37,1 (Axiller)

Thorak :
vesikuler (+/+), retraksi
suprasternal (+)

Abd : turgor baik,


tali pusat (+) mengering

Ekstremitas :akral
hanga t (+), cyanosis (-)
sklerem (-)

BBLSR,
Preterm,
Riwayat
Asfiksia
Sedang
Post Neonatus
infeksi

Ku : lemah, warna
kemerahan

Mata cekung (-),


cuping hidung (-)

Vital sign :
N : 144 x/menit
RR : 32 x/menit
T : 37,1 (Axiller)

Thorak :
vesikuler (+/+), retraksi
suprasternal (+)

Abd : turgor baik,


tali pusat (+) mengering

Ekstremitas :akral
hangat (+),cyanosis (-)
sklerem (-)

BBLSR,
Preterm,
Riwayat
Asfiksia
Sedang
Post Neonatus
infeksi

Termoregulasi
Pijat bayi
Intake 12x15
cc NGT
Aminofilin 3x6
mg
PO: Apialis syr
1x0,5 cc

Termoregulasi
Pijat bayi
Intake 12x20
cc NGT
Aminofilin 3x6
mg
PO: Apialis syr
1x0,5 cc

10

23/ 8 /14

Tangisan kuat
Gerak kurang

aktif

Menyusu (+)
NGT

Bak dan bab (+)


BB: 1300 GR
PB: 40 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM
LL: 8,5 CM

24/ 8 /14

Tangisan kuat
Gerak kurang

aktif

Menyusu (+)
NGT 155 cc sejak
kemarin

Bak dan bab (+)


BB: 1300 GR
PB: 40 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM
LL: 8,5 CM

tanggal

Ku : lemah, warna
kemerahan

Mata cekung (-),


cuping hidung (-)

Vital sign :
N : 154 x/menit
RR : 52 x/menit
T : 37,1 (Axiller)

Thorak :
vesikuler (+/+), retraksi
suprasternal (+)

Abd : turgor baik,


tali pusat (+) mengering

Ekstremitas :akral
hangat (+), cyanosis (-)
sklerem (-)

BBLSR,
Preterm,
Riwayat
Asfiksia
Sedang
Neonatus
preterm

Ku : lemah, warna
kemerahan

Mata cekung (-),


cuping hidung (-)

Vital sign :
N : 144 x/menit
RR : 32 x/menit
T : 37,1 (Axiller)

Thorak :
vesikuler (+/+), retraksi
suprasternal (+)

Abd : turgor baik,


tali pusat (+) mengering

Ekstremitas :akral
hangat (+),cyanosis (-)
sklerem (-)

BBLSR,

Termoregulasi
Preterm,,

Pijat bayi
Riwayat

Intake 12x20
Asfiksia
cc NGT
Sedang

Aminofilin 3x6
Post Neonatus mg
infeksi

PO: Apialis syr


1x0,5 cc

Termoregulasi
Pijat bayi
Intake 12x20
cc NGT

Aminofilin 3x6
mg

PO: Apialis syr


1x0,5 cc

11

25/ 8 /14

Tangisan kuat
Gerak kurang

aktif
Menyusu (+)
NGT 205 cc sejak
kemarin

Bak dan bab (+)


BB: 1150 GR
PB: 40 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM
LL: 8,5 CM

26/ 8 /14

Tangisan kuat
Gerak kurang

aktif
Menyusu (+)
NGT

Bak dan bab (+)


BB: 1100 GR
PB: 40 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM
LL: 8,5 CM

tanggal

Ku : lemah, warna BBLSR,

Termoregulasi
Preterm,

Pijat bayi
kemerahan

Intake 12x20
Mata cekung (-), Riwayat
Asfiksia
cc
NGT
cuping hidung (-)
Sedang

Aminofilin 3x6
Vital sign :
Post Neonatus mg
N : 102x/menit
infeksi

PO: Apialis syr


RR : 44 x/menit
1x0,5
cc
T : 36,7 (Axiller)

Interlac 1x2 tetes


Thorak :
vesikuler (+/+), retraksi
suprasternal (+)
Abd : turgor baik,
tali pusat (+) mengering
Ekstremitas :akral
hangat (+), cyanosis (-)
sklerem (-)
Ku : lemah, warna BBLSR,

Termoregulasi
Preterm,,

Pijat bayi
kemerahan
Riwayat

Intake 12x20
Mata cekung (-),
Asfiksia
cc
NGT
cuping hidung (-)
Sedang

Aminofilin 3x6
Vital sign :
Post
Neonatus
mg
N : 102x/menit
infeksi

PO: Apialis syr


RR : 44 x/menit
1x0,5
cc
T : 36,8 (Axiller)

Interlac 1x2 tetes


Thorak :
vesikuler (+/+), retraksi
suprasternal (+)
Abd : turgor baik,
tali pusat (+) mengering
Ekstremitas :akral
hangat (+), cyanosis (-)
sklerem (-)

12

27/ 8 /14

Tangisan kuat
Gerak kurang
aktif

Menyusu (+)
NGT 220 cc sejak
kemarin

Bak dan bab (+)


BB: 1110 GR
PB: 40 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM
LL: 8,5 CM

28/ 8 /14

Tangisan kuat
Gerak kurang
aktif

Menyusu (+)
NGT 145 cc sejak
kemarin

Bak dan bab (+)


BB: 1100 GR
PB: 40 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM
LL: 8,5 CM

tanggal

Ku : lemah, warna
BBLSR,
Preterm,,
kemerahan
Mata cekung (-), cuping Riwayat
Asfiksia
hidung (-)
Sedang
Vital sign :
Post Neonatus
N : 102x/menit
infeksi
RR : 44 x/menit
T : 36,7 (Axiller)

Thorak : vesikuler
(+/+), retraksi
suprasternal (-)

Abd : turgor baik,


tali pusat (+) mengering

Ekstremitas :akral
hangat (+), cyanosis (-)
sklerem (-)

Ku : lemah, warna
kemerahan

Mata cekung (-),


cuping hidung (-)

Vital sign :
N : 102x/menit
RR : 44 x/menit
T : 37,3 (Axiller)

Thorak : vesikuler
(+/+), retraksi
suprasternal (-)

Abd : turgor baik,


tali pusat (+) mengering

Ekstremitas :akral
hangat (+), cyanosis (-)
sklerem (-)

BBLSR,
Preterm,,
Riwayat
Asfiksia
Sedang
Post Neonatus
infeksi

Termoregulasi
Pijat bayi
Intake 12x20
cc NGT

Aminofilin 3x6
mg

PO: Apialis syr


1x0,5 cc

Termoregulasi
Pijat bayi
Intake 12x15
cc NGT
Infus D10%
160cc/24 jam
Aminofilin 3x6
mg
PO: Apialis syr
1x0,5 cc
Konsul
fisioterapi
Cek lab darah

13

29/ 8 /14
Tangisan kuat
Trombost:
Gerak aktif
583

Menyusu (+)
Albumin
NGT 205 cc sejak
4,28
kemarin

Bak dan bab (+)


BB: 1100 GR
PB: 40 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM
LL: 8,5 CM

Ku : lemah, warna
kemerahan

Mata cekung (-),


cuping hidung (-)

Vital sign :
N : 102x/menit
RR : 44 x/menit
T : 36,7 (Axiller)

Thorak :
vesikuler (+/+), retraksi
suprasternal (-)

Abd : turgor baik,


tali pusat (+) mengering

Ekstremitas :akral
hangat (+), cyanosis (-)
sklerem (-)

BBLSR,

Termoregulasi
Preterm,,

Pijat bayi
Riwayat

Intake 12x20
Asfiksia
cc NGT
Sedang

Aminofilin 3x6
Post Neonatus mg
infeksi

PO: Apialis syr


1x0,5 cc

Hasil konsul
fisioterapi:
Gentle massage
Stimulasi oral refleks

Konsul Sp.Mata
evaluasi ROP

30/ 8 /14
Bb mulai
naik

Ku : lemah, warna
kemerahan

Mata cekung (-),


cuping hidung (-)

Vital sign :
N : 102x/menit
RR : 44 x/menit
T : 37,1 (Axiller)

Thorak :
vesikuler (+/+), retraksi
suprasternal (-)

Abd : turgor baik,


tali pusat (+) mengering

Ekstremitas :akral
hangat (+), cyanosis (-)
sklerem (-)

Hasil konsul mata:

Perdarahan retina

Kemungkinan ROP
belum dapat
disingkirkan-evaluasi
funduskopi 2 minggu

BBLSR,

Termoregulasi
Preterm,,

Pijat bayi
Riwayat

Intake 12x20
Asfiksia
cc NGT
Sedang

Aminofilin 3x6
Post Neonatus mg
infeksi

PO: Apialis syr


1x0,5 cc

Sulfaferosus 2x6
mg

Interlac 1x2 tetes

Tangisan kuat
Gerak aktif
Menyusu (+)
NGT 205 cc sejak
kemarin

Bak dan bab (+)


BB: 1200 GR
PB: 40 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM
LL: 8,5 CM

tanggal

14

31/ 8
/14

Tangisan kuat
Gerak kurang

aktif

Menyusu (+)
NGT 205 cc sejak
kemarin

Bak dan bab (+)


BB: 1150 GR

PB: 40 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM

LL: 8,5 CM

1/ 9/14

Tangisan kuat
Gerak kurang

aktif

Menyusu (+)
NGT 205 cc sejak
kemarin

Bak dan bab (+)


BB: 1250 GR

PB: 40 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM

LL: 8,5 CM

tanggal

Ku : lemah, warna
kemerahan
Mata cekung (-),
cuping hidung (-)
Vital sign :
N : 142x/menit
RR : 34 x/menit
T : 36,7 (Axiller)
Thorak :
vesikuler (+/+), retraksi
suprasternal (-)
Abd : turgor baik,
tali pusat (+) mengering
Ekstremitas :akral
hangat (+), cyanosis (-)
sklerem (-)

BBLSR,

Preterm,,

Riwayat

Asfiksia
Sedang

Post Neonatus
infeksi

Ku : lemah, warna
kemerahan
Mata cekung (-),
cuping hidung (-)
Vital sign :
N : 102x/menit
RR : 44 x/menit
T : 37 (Axiller)
Thorak :
vesikuler (+/+), retraksi
suprasternal (-)
Abd : turgor baik,
tali pusat (+) mengering
Ekstremitas :akral
hangat (+), cyanosis (-)
sklerem (-)

BBLSR,

Preterm,,

Riwayat

Asfiksia

Sedang

Post Neonatus
infeksi

ODS
perdarahan
retina

Termoregulasi
Pijat bayi
Intake 12x20 cc
NGT
Aminofilin 3x6
mg
PO: Apialis syr
1x0,5 cc
Sulfaferosus 3x6
mg
Interlac 1x2 tetes

Termoregulasi
Pijat bayi
Intake 12x20 cc
NGT off
Aminofilin 3x6
mg
Sulfaferosus 3x6
mg

15

2/ 9/14

Tangisan kuat
Gerak kurang

aktif

Menyusu (+)
NGT 205 cc sejak
kemarin

Bak dan bab (+)


BB: 1250 GR

PB: 40 CM
LK: 26 CM
LD: 28 CM

LL: 8,5 CM

Ku : lemah, warna
kemerahan
Mata cekung (-),
cuping hidung (-)
Vital sign :
N : 102x/menit
RR : 44 x/menit
T : 37 (Axiller)
Thorak :
vesikuler (+/+), retraksi
suprasternal(-)
Abd : turgor baik,
tali pusat (+) mengering
Ekstremitas :akral
hangat (+), cyanosis (-)
sklerem (-)

BBLSR,

Termoregulasi
Preterm,,

Pijat bayi
Riwayat

Intake 12x20 cc
Asfiksia

Aminofilin 3x6
Sedang
mg
Post Neonatus
Sulfaferosus 3x6
infeksi
mg
ODS
Usul pulang
perdarahan
retina

BAB II

16

TINJAUAN PUSTAKA
II.1. BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR)
II.1.1 Definisi
Bayi Berat Lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat
badannya saat lahir kurang dari 2.500 gram (sampai dengan 2499 gram). Berkaitan
dengan penanganan dan harapan hidupnya, bayi berat lahir rendah dibedakan:1

Bayi berat lahir rendah (BBLR), berat lahir 1.5002.500 gram.

Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), berat lahir < 1.500 gram.

Bayi berat lahir ekstrem rendah (BBLER), berat lahir < 1.000 gram.

Bayi berat lahir rendah mungkin prematur (kurang bulan), mungkin juga cukup
bulan (dismatur).
Untuk mendapat keseragaman, pada kongres European Perinatal Medicine
ke 2 di London (1970) telah diusulkan definisi sebagai berikut :

Bayi kurang bulan (pre-term) ialah bayi dengan masa


kehamilan kurang dari 37 minggu (kurang dari 259 hari).

Bayi cukup bulan (term) ialah bayi dengan masa kehamilan


mulai 37 minggu sampai 42 minggu (259293 hari).

Bayi lebih bulan (posterm) ialah bayi dengan masa kehamilan


mulai 42 minggu atau lebih (294 hari atau lebih). 1

II.1.2 Epidemiologi
Angka kejadian BBLR di RSCM pada tahun 1986 adalah 24%. Angka kematian
perinatal di rumah sakit dan tahun yang sama adalah 70% dan 73% dari seluruh kematian
yang disebabkan oleh BBLR.

Dibandingkan dengan bayi cukup bulan, BBLR

mempunyai insidens rawat inap di rumah sakit lebih tinggi selama satu tahun pertama
hidupnya, yang disebabkan premturitas, infeksi, neurologis, dan gangguan psikoilogis. 7

II.1.3 Klasifikasi

17

II.1.3.1 Dismaturitas
II.1.3.1 Definisi
Dismaturitas adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya kurang
dibandingkan dengan berat badan seharusnya untuk masa gestasi bayi itu (kecil
masa kehamilan = KMK). Batasan yang diajukan oleh Lubchenco (1963) adalah
setiap bayi yang berat lahirnya sama dengan atau lebih rendah dari 10th
percentile untuk masa kehamilan pada Denver intrauterine growth curves atau di
bawah 2SD menurut kurva pertumbuhan intrauterine Usher dan Mc lean. Ada 2
bentuk menurut renfield (1975), yaitu : 7
1.

Proportionate IUGR: Janin menderita distress lama, gangguan pertumbuhan


terjadi berminggu-minggu sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir,
sehingga berat, panjang dan lingkar kepala dalam proporsi seimbang, tetapi
secara keseluruhan masih di bawah masa gestasi yang sebenarnya. Bayi ini
tidak menunjukkan adanya wasted, karena retardasi pada janin terjadi
sebelum pembentukan jaringan adiposa

2.

Disproportionate IUGR: Terjadi akibat distress subakut. Gangguan terjadi


beberapa hari sampai minggu sebelum lahir. Panjang dan lingkaran kepala
normal, tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi. Bayi tampak wasted
dengan tanda-tanda bayi kurus dan lebih panjang, jaringan lemak di bawah
kulit sedikit, kulit kering keriput dan mudah diangkat.
Pada bayi IUGR terjadi juga perubahan organ-organ tubuh, dimana

perkembangan dari otak, ginjal dan paru sesuai dengan masa gestasinya. 7
II.1.3.1.2. Etiologi
1.

Faktor ibu, seperti hipertensi dan penyakit ginjal kronik, diabetes melitus
berat,

toksemia,

hipoksia

ibu

(tinggal

di

daerah

pegunungan,

hemoglobinopati, penyakit paru kronik), gizi buruk, drug abuse, alkoholisme.


2.

Faktor uterus dan plasenta, seperti kelainan pembuluh darah (hemangioma),


insersi tali pusat yang tidak normal, uterus bikornis, infark plasenta, transfusi
dari kembar yang satu ke kembar yang lain,sebagian plasenta lepas.

3.

Faktor janin, seperti ganda, kelainan kromosom, cacat bawaan, infeksi dalam
kandungan (TORCH, sifilis).

18

4.

Penyebab lain, seperti keadaan sosial ekonomi yang rendah, idiopatik.

II.1.3.1.3. Gambaran klinis


Bayi dengan berat badan kurang dari 2.500 gr, karakteristik fisis sama
dengan bayi prematur dan mungkin ditambah dengan retardasi pertumbuhan dan
wasting. Pada bayi cukup bulan dengan dismaturitas, gejala yang menonjol ialah
wasting demikian pula pada post-term dengan dismaturitas.8
Bayi dismatur dengan tanda wasting atau insufisiensi plasenta dapat dibagi
dalam 3 stadium menurut berat ringannya wasting tersebut (Clifford), yaitu :
1.

Stadium pertama. Bayi tampak kurus dan lebih panjang, kulitnya longgar,
kering seperti perkamen tetapi belum terdapat noda mekonium.

2.

Stadium kedua. Tanda stadium pertama ditambah dengan warna kehijauan


pada kulit, plasenta dan umbilikus. Hal ini disebabkan oleh mekonium yang
tercampur dengan amnion yang kemudian mengendap ke dalam kulit,
umbilikus dan plasenta akibat anoksia intrauterin.

3.

Stadium ketiga. Tanda stadium kedua ditambah dengan kulit, kuku, dan
tali pusat yang berwarna kuning serta anoksia intrauterin yang lama.

II.1.3.2

Prematuritas murni

II.1.3.2.1 Definisi
Masa gestasi kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat
badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk
masa kehamilan (NKB-SMK). 9
Usher (1975) menggolongkan bayi tersebut dalam tiga kelompok :
1.

Bayi yang sangat prematur (extremely premature) : Masa gestasi 2430


minggu.

2.

Bayi prematur derajat sedang (moderately premature) : Masa gestasi 3136


minggu.

3.

Borderline premature : Masa gestasi 3738 minggu. Bayi ini mempunyai


sifat-sifat prematur dan matur. Biasanya beratnya seperti bayi matur dan
dikelola seperti bayi matur, akan tetapi sering timbul problematika seperti
yang dialami bayi prematur, seperti sindrom gangguan pernapasan,

19

hiperbilirubinemia, daya isap yang lemah dan sebagainya, sehingga bayi ini
harus diawasi dengan seksama.
II.1.3.2.2 Etiologi
1.

Faktor ibu

Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan,


misalnya toksemia gravidarum, perdarahan antepartum, kelainan uterus,
hidarmnion, penyakit jantung atau penyakit infeksi atau kronik lainnya,
hipertensi, nefritis akut, diabetes melitus, tindakan operatif, trauma psikis
dan psikologis.

Usia. Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
Jarak dua kehamilan terlalu dekat.

2.

Riwayat kelahiran prematur sebelumnya. 10


Faktor janin, seperti cacat bawaan, hidramnion, ketuban pecah dini dan

kehamilan ganda pada umumnya akan mengakibatkan lahir bayi BBLR.


3.

Keadaan sosial ekonomi yang rendah

4.

Kebiasaan, seperti pekerjaan yang melelahkan, merokok.

5.

Tidak diketahui.

II.1.3.2.3 Gambaran klinis


Tampak luar dan tingkah laku bayi prematur tergantung dari tuanya umur
kehamilan. Karakteristik untuk bayi prematur adalah berat lahir kurang dari atau
sama dengan 2.500 gr, panjang badan kurang dari atau sama dengan 45 cm, lingkar
dada kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm, umur kehamilan kurang
dari 37 minggu. 4
Kepala relatif lebih besar dari badannya, kulit tipis, transparan, lanugonya
banyak, lemak subkutan kurang, sering tampak peristaltik usus. Osifikasi tengkorak
sedikit, ubun-ubun dan sutura lebar, genitalia imatur. Desensus testikulorum
biasanya belum sempurna dan labia minora belum tertutup oleh labia major.
Pembuluh darah kulit banyak terlihat. Rambut biasanya tipis, halus dan teranyam
sehingga sulit terlihat satu-persatu. Tulang rawan dan daun telinganya belum
cukup, sehingga elastisitas daun telinganya masih kurang. Jaringan mammae belum
sempurna, demikian pula puting susu belum terbentuk dengan baik. Bayi kecil,
20

posisinya masih posisi fetal, yaitu posisi dekubitus lateral, pergerakannya masih
kurang dan lemah. Bayi lebih banyak tidur daripada bangun.

7,9

Tangisnya lemah dan jarang, pernapasan belum teratur dan sering terdapat
serangan apnea. Bila hal ini sering terjadi dan tiap serangan lebih dari 20 detik
maka kemungkinan timbulnya kerusakan otak yang permanen lebih besar. Otot-otot
masih hipotonik, sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua tungkai dalam
abduksi, sendi lutut dan sendi kaki dalam fleksi atau lurus dan kepala mengarah ke
satu sisi. 7,9
Refleks tonik-leher biasanya lemah dan refleks moro dapat positif. Refleks
mengisap dan menelan belum sempurna, demikian pula refleks batuk. Bayi yang
lapar akan menangis, gelisah dan mengerak-gerakkan tangannya. Bila dalam waktu
3 hari tanda-tanda lapar ini tidak terlihat, maka harus dicurigai adanya perdarahan
intraventrikuler atau infeksi. 7
Edema biasanya sudah terlihat segera setelah lahir dan makin bertambah jelas
dalam 2448 jam berikutnya. Kulit tampak mengkilat, licin, serta terdapat pitting
edema. Edema ini dapat berubah sesuai dengan perubahan posisi. Edema yang
hebat merupakan tanda bahaya bagi bayi tersebut. Edema ini seringkali
berhubungan dengan perdarahan antepartum, diabetes mellitus dan toksemia
gravidarum. 7
Frekuensi nadi berkisar antara 100140 kali/menit. Frekuensi pernapasan
bervariasi, terutama pada hari-hari pertama. Pada hari pertama frekuensi
pernapasan 4050 kali/menit. Pada hari berikutnya 3545 kali/menit. Bila frekuensi
pernapasan terus meningkat atau selalu di atas 60 kali/menit, harus waspada akan
kemungkinan terjadinya sindrom gangguan pernapasan, seperti membran hialin,
pneumonia, gangguan metabolik atau gangguan susunan saraf pusat. 9
II.1.3.2.4 Permasalahan
1.

Suhu tubuh tidak stabil. Karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang
disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibatnya kurangnya jaringan
lemak bawah kulit, permukaan tubuh yang relatif lebih luas dibandingkan
dengan berat badan, otot yang tidak aktif, produksi panas yang berkurang oleh

21

karena lemak coklat yang sedikit, serta pusat pengaturan suhu yang belum
sempurna fungsinya. 11
2.

Gangguan pernapasan. Disebabkan oleh kurangnya jumlah surfaktan (rasio


lesitin/sfingomielin kurang dari 2), pertumbuhan dan pengembangan paru yang
belum sempurna, otot pernapasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah
melengkung. Penyakit gangguan pernapasan yang sering diderita bayi prematur
adalah penyakit membrane hialin dan pneumonia aspirasi. Disamping itu sering
timbul pernapasan periodik dan apnea yang disebabkan oleh pusat pernapasan di
medulla oblongata belum matur. 6

3.

Gangguan pencernaan dan nutrisi. Terjadi distensi abdomen akibat dari motilitas
usus kurang, volume lambung berkurang sehingga waktu pengosongan lambung
bertambah, daya untuk mencerna dan mengabsorbsi lemak, laktosa, vitamin
yang larut lemak dan beberapa mineral tertentu berkurang. Kerja dari sfingter
kardio-esofagus yang belum sempurna memudahkan terjadinya regurgitasi isi
lambung ke esofagus dan mudah terjadi aspirasi.

4.

Hati imatur. Memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K.


Hiperbilirubinemia disebabkan faktor kematangan hepar kurang, sehingga
konjugasi bilirubin indirek menjadi bilirubin direk belum sempurna.

5.

Ginjal imatur. Baik secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urin yang
sedikit, urea clearance yang rendah, tidak sanggup mengurangi kelebihan air
tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudah terkadi edema dan asidosis
metabolik.

6.

Perdarahan. Mudah terjadi perdarahan karena pembuluh darah yang rapuh,


kekurangan faktor pembekuan seperti protrombin, faktor VII dan faktor
Chrismast.

7.

Gangguan imunologik. Daya tahan tubuh terhadap infeksi kurang, karena


rendahnya kadar IgG gamma globulin. Bayi prematur relatif belum mampu
membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan
masih belum baik

8.

Perdarahan intraventrikuler. Lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan


intraventrikuler. Hal ini disebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita

22

apnea, asfiksia berat dan sindroma gangguan pernapasan. Akibatnya bayi


menjadi hipoksia, hipertensi, dan hiperkapnia. Keadaan ini menyebabkan aliran
darah ke otak bertambah. Penambahan aliran darah ke otak akan lebih banyak
lagi karena tidak adanya autoregulasi serebral pada bayi premature, sehingga
mudah terjadi perdarahan dari pembuluh darah kapiler yang rapuh dan iskemia
di lapisan germinal yang terletak di dasar ventrikel lateralis antara nukleus
kaudatus dan ependim. Luasnya perdarahan intraventrikuler dapat didiagnosis
dengan USG atau CT-Scan.
9.

Fibroplasia retrolental. Penyakit ini ditemukan pada bayi prematur dan


disebabkan oleh penggunaan oksigen dengan konsentrasi tinggi (PaO2 lebih dari
115 mmHg = 15 kPa), maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah retina
yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru ke daerah yang iskemia
sehingga terjadi perdarahan fibrosis, distorsi dan parut retina sehingga bayi
menjadi buta. Stadium akut penyakit ini dapat terlihat pada umur 3 6 minggu
dalam bentuk dilatasi arteri dan vena retina. Kemudian dikuti oleh pertumbuhan
kapiler baru secara tidak teratur pada ujung vena. Kumpulan pembuluh darah
baru ini tampak sebagai perdarahan. Akhirnya sebagian kapiler baru ini tumbuh
kea rah korpus vitreum dan lensa. Selanjutnya akan terjadi edema pada retina
dan retina dapat terlepas dari dasarnya dan keadaan ini merupakan keadaan yang
irreversible. Pada stadium akhir akan terdapat massa retrolental yang terdiri dari
jaringan ikat. Keadaan ini dapat terjadi bilateral dengan mikroftalmus, kamar
depan menyempit, pupil mengecil dan tidak teratur, serta visus menghilang.
Selain itu dapat pula disertai retardasi mental dan cerebral palsy.
Pengobatan pada stadium dini dapat dicoba dengan memberikan ACTH atau
kortikosteroid. Hal yang paling penting ialah pencegahannya, yaitu : (1) Pada
BBLR penggunaan oksigen tidak melebihi 40% dan hal ini dapat dicapai dengan
memberikan oksigen 2 liter/menit, (2) , (3) Pemberian oksigen pada bayi yang
berat badannya kurang dari 2 kg, harus hati-hati dan sebaiknya PaO2 selalu
dimonitor.

3, 5

II.1.3.2.5 Penatalaksanaan

23

Karena belum sempurnanya kerja organ-organ tubuh yang diperlukan untuk


pertumbuhan, perkembangan dan penyesuaian diri dengan lingkungan di luar uterus,
maka perlu diperhatikan pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan, dan
pencegahan infeksi. 1,2,3
1. Pengaturan suhu
Untuk mencegah hipotermi, perlu diusahakan lingkungan yang cukup hangat
untuk bayi dan dalam keadaan istirahat konsumsi oksigen sedikit, sehingga suhu
tubuh bayi tetap normal. Bila bayi dirawat dalam inkubator, maka suhu untuk bayi
berat badan kurang dari 2 kg adalah 35 C, dan untuk bayi dengan berat badan 2
2,5 kg adalah 34 C. Kelembaban inkubator berkisar antara 5060%. Kelembaban
yang lebih tinggi diperlukan pada bayi dengan sindrom gangguan pernapasan.
Suhu inkubator dapat diturunkan 1 C perminggu untuk bayi dengan berat badan 2
kg, dan secara berangsur-angsur ia dapat diletakkan di tempat tidur bayi dengan
suhu lingkungan 2729 C. Bila tidak ada inkubator, pemanasan dapat dilakukan
dengan membungkus bayi dan meletakkan botol air hangat atau lampu petromak
didekat tempat tidur bayi. Bayi dalam inkubator hanya dipakaikan popok untuk
memudahkan pengawasan sehingga kelainan yang timbul dapat dikenal sedinidininya dan tindakan serta pengobatan dapat dilaksanakan secepat-cepatnya.
2. Makanan
Pada bayi premature refleks mengisap, menelan dan batuk belum sempurna,
kapasitas lambung sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase masih kurang,
di samping itu kebutuhan protein 35 gr/hari dan kalori tinggi (110 kal/kg/hari),
agar berat badan bertambah. Pemberian minum dimulai pada waktu bayi berumur
3 jam, agar bayi tidak mengalami hipoglikemia dan hiperbilirubunemia. Pada
umumnya bayi dengan

berat lahir 2.000 gr atau lebih dapat menyusu pada

ibunya. Bayi dengan berat kurang dari 1.500 gr kurang mampu mengisap ASI atau
susu botol, terutama pada hari-hari pertama. Dalam hal ini bayi diberi minum
melalui sonde lambung. Sesudah 5 hari bayi dicoba menyusu pada ibunya. Bila
daya isap cukup baik maka pemberian ASI diteruskan. Pemberian melalui susu
botol adalah dengan frekuensi pemberian yang lebih sering dalam jumlah susu
yang sedikit. Frekuensi pemberian minum makin berkurang dengan bertambahnya

24

berat bayi. Jumlah cairan yang diberikan pertama kali adalah 15 ml/jam dan
jumlahnya dapat ditambah sedikit demi sedikit setiap 12 jam. Banyaknya cairan
yang diberikan adalah 80 mL/kgBB/hari dan setiap hari dinaikkan sampai 180
mL/kgBB/hari pada akhir minggu kedua. Bila tidak ada ASI dapat diberikan susu
buatan yang mengandung lemak yang mudah dicerna bayi (middle chain
triglyserides) dan mengandung 20 kal/30 mL air atau sekurang-kurangnya 110
kal/kgBB/hari.
3. Pencegahan infeksi.
Bayi prematur mudah sekali diserang infeksi, hal ini disebabkan karena daya
tahan tubuh terhadap infeksi berkurang, relatif belum sanggup membentuk
antibodi dan daya tahan fagositosis serta reaksi terhadap peradangan belum baik.
II.1.4 Prognosis
Angka kematian bayi dianggap disebabkan oleh infeksi, kematian ini dapat
dicegah. Ada juga kenaikan insidens kegagalan untuk tumbuh, sindrom kematian
bayi mendadak, penyiksaan anak, dan tidak adequatnya ikatan antara ibu-bayi
prematur.
Pada umunya, semakin hebat tingkat prematuritasnya dan semakin
rendahnya berat badan lahir bayi, semakin besar pula kemungkinan timbulnya deficit
intelektual dan neurologis.
II.1.5 Pemulangan Pasien
Sebelum pemulangan, bayi premature harus dapat minum smua nutrisi melalui
putting atau botol. Pertumbuhan harus terjadi dengan penambahan yang stabil 10-30
g/hari. Suhu harus stabil dalam tempat tidur yang terbuka. Tidak terdapat apnea atau
bradikari dan pemberian obat parenteral harus sudah dihentikan. Bayi premature
dapat dipulangkan bila berat badan mendekati 1.800-2.000 gr. Vaksinasi standart
dengan dosis penuh harus dimulai sesudah bayi dipulangkan atau jika di rumah sakit,
dengan vaksin yang tidak mengandung virus hidup

BAB III
25

ANALISA KASUS
1. S: Pada pasien, berat lahir asien adalah 1450 termasuk dalam berat badan lahir sangat
rendah. Jika di lihat dari masa gestasi yaitu 30 minggu, maka pasien termasuk
prematuritas murni, di mana pada prematuritas murni masa gestasinya adalah kurang
dari 37 minggu atau 259 hari. Dan jika digolongkan berdasarkan Usher, termasuk
kelompok bayi yang sangat premature dengan masa gestasi 24 30 minggu. Apgar
skor bayi adalah5/6/7 merupakan asfiksia sedang.
2.

O: Keadaan umum gerakan kurang aktif, tangisan lemah, tanda vital: HR 150
x/menit,RR 45 x/menit, Suhu 37,3 C, kulit licin, tipis,lanugo banyak, Kepala: Caput
succedaneum (+), lanugo (+) di pipi,kening. Mata dan hidung dalam batas normal,
telinga lentur, terdapat tulang rawan pada pinggir pinna, mudah rekoil. Thorak:
aerola datar, diameter < 0,75 cm dan pinggir rata, pulmo dan cor dalam batas normal.
Abdomen: vena membayang, dalam batas normal. Genitalia anus (+), testis belum
turun, rugae scrotum sedikit. Ekstremitas: garis lipatan telapak kaki jelas pada 2/3
anterior. Berdasarkan pemeriksan fisik dan neurologis pada pasien maka didapatkan
Ballard score 15 yang sesuai dengan usia kehamilan. Hal tersebut sesuai dengan ciriciri bayi prematuritas murni yang semua organ nya belum matang perkembangannya

3.

A: BBLSR (prematuritas murni), Neonatus Preterm, Asfiksia Sedang

4. P:
Non Farmakologi:
Jaga kehangatan : pertahankan suhu

tubuh 36,5-37,5 C dan di Rawat

incubator dengan lingkungan yang cukup hangat untuk mencegah hipotermi


karena pada bayi prematur berisiko untuk hipotermi karena jaringan lemak
bawah kulitnya yang tipis.
Pijat bayi
ASI
Farmakologi:
O2 1 tpm karena belum berkembangnya fungsi paru yang sempurna dan
untuk mencegah terjadinya hipoksia pada bayi prematur.
Kebutuhan cairan hari 1: 80 cc/kg/hari +10% 130 cc/hari
26

Infus D10% 130 cc/24 jam


NGT: 8x2,5 cc, karena pada bayi dengan berat kurang dari 1.500 gr kurang
mampu mengisap ASI atau susu botol, terutama pada hari-hari pertama.
Dalam hal ini bayi diberi minum melalui sonde lambung. Sesudah 5 hari bayi
dicoba menyusu pada ibunya. Bila daya isap cukup baik maka pemberian ASI
diteruskan. Pemberian melalui susu botol adalah dengan frekuensi pemberian
yang lebih sering dalam jumlah susu yang sedikit.
Antibiotik : Cefotaxim 2x75 mg, Gentamisin 2 x 8 mg, karena Bayi prematur
mudah sekali diserang infeksi, hal ini disebabkan karena daya tahan tubuh
terhadap infeksi berkurang, relatif belum sanggup membentuk antibodi dan
daya tahan fagositosis serta reaksi terhadap peradangan belum baik sehingga
diberikan antibiotik sebagai profilaksis.
Aminofilin 3x6 mg, pada bayi < 34 minggu dapat terjadi masalah pernapasan
yaitu defisiensi surfaktan paru, risiko aspirasi, pengisapan dan penelanan
yang tidak terkorrdinasi serta risiko terjadinya apneu, sehingga diberikan
aminofilin

karena

memilik

efek

merangsang

pusat

napas

dengan

meningkatkan kepekaan terhadap CO2, meningkatkan frekuensi napas,


relaksasi otot polos bronkus, menurunkan hipoksia akibat depreai napas dan
meningkatkan aktivitas diafragma.
Ketika pulang pasien diberikan edukasi:

Jaga kehangatan bayi dengan nest, metode kanguru, jika bayi buang air agar
popok segera diganti dan melakukan pijat bayi

Cara pemberian ASI jangan sampai bayi tersedak, diberikan ASI setiap 2 jam
sekali atau ketika bayi lapar, selesai di beri susu bayi di tepuk bagian
punggung sampai sendawa dan posisi bayi dimiringkan

Jika ada keluarga yang sedang flu atau batuk agar menggunakan masker, bayi
jangan di cium

Timbang berat badan bayi setiap minggu

Jika terdapat tanda bahaya pada bayi atau bayi malas minum susu segera
bawa ke dokter

27

NEST

METODE KANGURU

PIJAT BAYI

DAFTAR PUSTAKA
28

1. Hasan R, Alatas H. 1985. Perinatologi. Dalam: Ilmu Kesehatan Anak 3; edisi ke4. Jakarta : FKUI
2. Gomella, TL, Cunningham MD. 2009. Management of the Extremely Low Birth
Infant During the First Weekof Life. In : Lange Neonatology; 5 th ed. New York :
Medical Publishing Division
3. Saifuddin, AB, Adrianz, G. 2000. Masalah Bayi Baru Lahir. Dalam : Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal; edisi ke-1. Jakarta :
yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
4. Behrman, RE, Kliegman RM. 2004. The Fetus and the Neonatal Infant, In :
Nelson Textbook of pediatrics; 17 th ed. California: Saunders.
5. Manley , J. Owen, L, dkk. 2013. High Flow Nasal Cannulae in Very Preterm
Infants

After

Extubation.

Di

unduh

tanggal

Oktober

2014.

http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa1300071
6. The boost II United Kingdom. 2013. Oxygen Saturation and Outcomes in
Preterm

Infants.

Di

unduh

tanggal

Oktober

2014.

http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa1302298
7. Markum, A.H. 2002. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jilid I Cetak Ulang. Balai
Penerbit FKUI : Jakarta.
8. Saifuddin AB, dkk.2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
Dan Neonatal. Edisi Ke 1. Cetakan Ke 3. Penerbit : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo : Jakarta
9. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Volume 3. Cetakan ke 7. Penerbit : Percetakan
Infomedika K : Jakarta
10. Wiknjosastro H. 2002.Ilmu Kebidanan. Edisi Ke 3. Cetakan Ke 6. Penerbit :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta
11. http://www.tempointerkatif.com/medika/arsip/022001/hor-1.com.

Horison.

Hipotermia Pada Neonatus. Bangun Lubis. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUSU/RSUP H. Adam Malik, Medan.

29