Anda di halaman 1dari 3

Tugas dr Dwi Astuti Chandra Kirana

Nama : Novasiska Indriyani Hutajulu


NIM : 1008112295

Reaksi Kusta
Reaksi kusta atau reaksi lepra adalah suatu episode dalam perjalanan kronis penyakit
kusta yang merupakan suatu reaksi kekebalan (seluler respon) atau reaksi antigen-antibodi
(humoral respon) dengan akibat merugikan penderita, terutama pada saraf tepi yang
menyebabkan gangguan fungsi (cacat). Reaksi ini dapat terjadi pada penderita sebelum mendapat
pengobatan maupun sesudah pengobatan. Namun sering terjadi pada 6 bulan sampai 1 tahun
sesudah memulai pengobatan.
Hal-hal yang mempermudah terjadinya reaksi kusta, misalnya :
1. Penderita dalam kondisi lemah
2. Kurang gizi
Relaps / kekambuhan Kusta
Definisi relaps hanya dapat dipahami dalam konteks definisi sembuh. Dalam era
monoterapi Dapsone, seorang penderita penyakit multibacillary [MB] dinyatakan mengidap
penyakit laten jika lesi kulit telah sembuh dan apusan kulit selama 3 bulan berturut-turut
menunjukkan hasil negatif terhadap acid-fast bacilli [AFB], kemudian pengobatan anti-lepra
dilanjutkan selama 5-10 tahun mendatang atau bahkan seumur hidup. Penderita paucibacillary
[PB] dinyatakan bebas-penyakit jika semua lesi kulit telah sembuh, tanpa infiltrasi atau eritema,
dan saraf tidak lagi menimbulkan rasa sakit atau bengkak, kemudian perawatan anti-lepra
dilanjutkan selama 3-5 tahun. Seiring perkembangan terapi multidrug [MDT], kriteria klinis
kesembuhan yang kaku tersebut telah kehilangan manfaatnya. WHO mendefinisikan penderita
lepra sebagai seseorang yang memiliki tanda dan gejala penyakit ini dan membutuhkan
kemoterapi. Pada tahun 1995, WHO merekomendasikan 1 tahun MDT bagi pasien MB [12 pulse
dalam 18 bulan] dan 6 bulan [6 pulse dalam 9 bulan] bagi pasien PB. Sepanjang masa terapi,
pasien harus mengkonsumsi dua pertiga pulse sampai waktu tersebut. Untuk tujuan operasional,
setelah pasien menjalani kemoterapi yang adekuat, ia dinyatakan sembuh. Gambaran
histopatologis lesi dan kesembuhan klinis penyakit membutuhkan waktu beberapa bulan atau
tahun setelah perawatan anti-lepra dihentikan.
Terdapat beberapa definisi relaps dalam penyakit lepra.
1. Guide to Leprosy Control [WHO 1988]:
Seorang pasien yang telah menyelesaikan MDT secara adekuat, namun tanda dan gejala
penyakit muncul kembali, baik selama periode pengawasan [2 tahun untuk PB dan 5 tahun untuk
MB] ataupun setelah periode tersebut.
2. Becx-Bleumink membuat daftar beberapa kriteria relaps, yaitu:
a. Lesi kulit baru
b. Aktivitas baru dalam lesi kulit yang pernah timbul
c. Indeks bakteriologis [BI] 2+ atau lebih pada dua set apusan kulit
d. Terjadi kehilangan fungsi saraf lagi
e. Pemeriksaan histologis menemukan terjadinya relaps dalam biopsi kulit atau saraf

f. Aktivitas lepromatosa dalam mata


3. Relaps pada penderita PB:
a. Beorrigter dkk, -- munculnya lesi kulit baru atau bertambahnya ukuran lesi yang ada,
menunjukkan adanya gambaran klinis atau histopatologis definitif [atau keduanya] penyakit
lepra dalam lesi semacam itu.
b. Pandian dkk, membuat beberapa kriteria untuk mendefinisikan relaps dalam PB
perluasan lesi, infiltrasi, eritema, munculnya lesi baru, nyeri dan pembengkakan saraf, paralisis
otot baru dan positivitas bakteriologis.
Apapun definisi yang digunakan dalam kasus relaps, harus diingat bahwa relaps dalam kasus MB
relatif mudah dikenali, sedangkan relaps dalam kasus PB sulit untuk dibedakan secara klinis
dengan reaksi reversal yang terjadi setelah terapi selesai.
KECEPATAN RELAPS
Terdapat berbagai macam metode penghitungan kecepatan relaps di berbagai daerah. Hal ini
mungkin disebabkan oleh variasi definisi relaps, proporsi pasien dengan/tanpa terapi Dapsone,
kisaran positivitas apusan kulit dalam kasus MB, dan perbedaan durasi follow up. Setelah MDT
dihentikan, resiko relaps pasien PB dan MB sangat rendah, yaitu kurang lebih 10 kali lebih
rendah dibandingkan dengan monoterapi Dapsone.
WHO memperkirakan resiko relaps untuk pasien MB sebesar 0,77% dan 1,07% untuk
pasien MB, 9 tahun setelah MDT dihentikan. Berbagai penelitian lainnya yang mengobservasi
individu-orang mengestimasi kecepatan relaps mulai dari 0,65 sampai 3% pada PB dan 0,02
sampai 0,8% pada MB leprosy. Salah satu data retrospektif dari the Central Leprosy Teaching
and Research Institute, Chengalpattu, Tamil Nadu, menyertakan 3248 penderita lepra yang
menyelesaikan MDT WHO selama periode 1987-2003. Kecepatan relaps keseluruhan untuk
kasus MB dan PB leprosy, masing-masing, adalah 0,84 dan 1,9%, sedangkan kecepatan pada
follow up individu-tahun, masing-masing, adalah 0,86 dan 1,92/1000. Sebagian besar relaps
terjadi pada 3 tahun pertama setelah perawatan dihentikan. Jika seorang individu tidak
mengalami relaps dalam waktu 5-6 tahun, resiko terjadi relaps pada individu tersebut dapat
diabaikan. Baru-baru ini, dalam analisis retrospektif kecepatan relaps di Cina 24 bulan setelah
MB-MDT WHO pada 2374 penderita MB yang menjalani follow up selama durasi rata-rata 8,27
tahun, ditemukan 5 pasien mengalami relaps dengan kecepatan relaps akumulasi sebesar
0,21/1000 orang-tahun, angka tersebut cukup rendah.
Namun, dalam salah satu penelitian deskriptif penyakit lepra di Etiopia, yaitu kohort
AMFES [ALERT MDT Field Evaluation Study] tidak ditemukan relaps yang definitif pada 502
pasien yang menyelesaikan fixed-duration MDT, selama periode follow up 8 tahun setelah
perawatan selesai, meskipun dalam 57 kasus yang memiliki rata-rata BI awal > 4, 20 diantaranya
menjalani follow up selama lebih dari 5 tahun setelah MDT dihentikan. Hal ini menunjukkan
bahwa kecepatan relaps setelah MDT rendah.
Sembuh Kusta
Setelah pengobatan dihentikan (Release from Treatment/RFT) sesuai dengan paket
pengobatan kusta menurut WHO, penderita masuk dalam masa pengamatan (control) yaitu:
penderita dikontrol secara klinik dan bakterioskopik minimal sekali setahun selama 5 tahun
untuk penderita kusta multibasiler dan dikontrol secara klinik sekali setahun selama 2 tahun
untuk penderita kusta pausibasiler. Bila pada masa tersebut tidak ada keaktifan, maka penderita
dinyatakan bebas dari pengamatan (Release from Control /RFC).

Batas pengobatan DO pada kusta PB dan MB : Penderita drop out (DO), jika bolos
pengobatan lebih dari 3 bulan (untuk PB) atau 6 bulan (untuk MB). Penderita harus mulai
pengobatannya lagi dari awal (0). DO pengobatan, jika pasien tidak menyelesaikan minum obat
dalam jangka waktu tertentu. Untuk tipe PB 6 dosis dalam 9 bulan, dan untuk tipe MB 12 dosis
dalam 18 bulan.
Kusta Reaktif
Reasi kusta reversal muncul umumnya 6 (enam) bulan setelah pengobatan dengan obat
anti kusta, sedangkan obat lain seperti progesterone, vitamin A, Mycobacterium leprae yang mati
dan hancur menjadi banyak fragmen artinya banyak sekali antigen yang dilepaskan dan bereaksi
dengan antibodinya serta mengaktifkan sistem komplemen membentuk kompleks imun.
Potassium idide merupakan faktor presipitasi, pada tipe ENL lebih banyak terjadi pada
pengobatan tahun kedua.
Kompleks imun terus beredar di dalam sirkulasi darah yang akhirnya dapat bersarang
diberbagai organ seperti kulit dan timbul gejala klinis yang berupa nodul, eritema dan nyeri
dengan predileksi di lengan dan tungkai. Pada organ mata akan menimbulkan gejala iridosiklitis,
pada saraf perifer gejala neuritis akut, pada kelenjar getah bening gejala limfadenitis, pada sendi
nefritid yang akut dengan adanya protein urin.
Tipe reversal dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan destruksi saraf yang bersifat
irreversibel, sehingga mengalami ketidakmampuan dalam fungsi organ normal, kondisi
diperberat dengan cell mediated immunity gagal menghadapi antigen Mycobacterium leprae.