Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hiperbillirubin ialah suatu keadaan dimana kadar billirubinemia mencapai suatu
nilai yang mempunyai potensi menimbulkan ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan
baik (Prawirohardjo, 1997). Kasus ikterus ditemukan pada ruang neonatus sekitar
60% bayi aterm dan pada 80 % bayi prematur selama minggu pertama kehidupan.
Ikterus tersebut timbul akibat penimbunan pigmen bilirubin tak terkonjugasi dalam
kulit. Bilirubin tak terkonjugasi tersebut bersifat neurotoksik bagi bayi pada tingkat
tertentu dan pada berbagai keadaan. Ikterus pada bayi baru lahir dapat merupakan
suatu gejala fisiologis atau patologis. Ikterus fisiologis terdapat pada 25-50%
neonatus cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada neonatus kurang bulan sebesar 80%.
Untuk itu, diharapkan perawat dapat memberikan pelayanan-pelayanan
kesehatan yang optimal sehingga dapat membantu meningkatkan kesehatan pasien.
Misalnya, memantau kondisi pasien dan juga menjauhkan pasien dari hal-hal yang
dapat membuat penyakit hiperbilirubin yang pasien derita bertambah parah. Oleh
karena itu, kami akan membahas dengan jelas mengenai hiperbilirubin dan asuhan
keperawatan hiperbilirubin.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana anatomi,fisiologi sistem pencernaan?
2. Apakah definisi dari hiperbilirubin ?
3. Bagaimanakah etiology dari hiperbilirubin ?
4. Bagaimanakah manifestasi klinik hiperbilirubin ?
5. Bagaimanakah pemeriksaan diagnostik hiperbilirubin ?
6. Bagaimanakah penatalaksanaan medis hiperbilirubin ?
7. Bagaimanakah asuhan keperawatan yang diberikan pada hiperbilirubin ?
1.3 Tujuan
1. Mampu menjelaskan anatomi,fisiologi sistem pencernaan.
2. Mampu menjelaskan definisi dari hiperbilirubin.
3. Mampu menjelaskan etiology dari hiperbilirubin.
Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 1

4. Mampu menjelaskan manifestasi klinik hiperbilirubin.


5. Mampu menjelaskan pemeriksaan diagnostik hiperbilirubin.
6. Mampu menjelaskan penatalaksanaan medis hiperbilirubin.
7. Mampu menjelaskan asuhan keperawatan yang diberikan pada hiperbilirubin.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Anatomi dan Fisiologi Hiperbilirubin
Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai
anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan,

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 2

mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran
darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa
proses tersebut dari tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan
(faring), kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem
pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu
pankreas, hati dan kandung empedu. Untuk anatomi dan fisiologi dari penyakit
hiperbilirubin ada 3 organ yang berpengaruh, yaitu pankreas dan hati dan kandung
empedu.

Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi
utama yaitu menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting seperti
insulin. Pankreas terletak pada bagian posterior perut dan berhubungan erat dengan
duodenum (usus dua belas jari). Pankraes terdiri dari 2 jaringan dasar yaitu : Asini
yang menghasilkan enzim-enzim pencernaan; Pulau pankreas yang menghasilkan
hormon. Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan
melepaskan hormon ke dalam darah. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan
mencerna protein, karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah protein ke
dalam bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk inaktif.
Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran pencernaan. Pankreas juga
melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi melindungi duodenum
dengan cara menetralkan asam lambung.

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 3

Hati merupakan sebuah organ yang terbesar didalam badan manusia dan
memiliki berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan.
Organ ini memainkan peran penting dalam metabolisme dan memiliki beberapa
fungsi dalam tubuh termasuk penyimpanan glikogen, sintesis protein plasma, dan
penetralan obat. Dia juga memproduksi bile, yang penting dalam pencernaan. Istilah
medis yang bersangkutan dengan hati biasanya dimulai dalam hepat- atau hepatik dari
kata Yunani untuk hati, hepar. Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding
usus yang kaya akan pembuluh darah yang kecil-kecil (kapiler). Kapiler ini
mengalirkan darah ke dalam vena yang bergabung dengan vena yang lebih besar dan
pada akhirnya masuk ke dalam hati sebagai vena porta. Vena porta terbagi menjadi
pembuluh-pembuluh kecil di dalam hati, dimana darah yang masuk diolah. Hati
melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah darah diperkaya dengan
zat-zat gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum. Hati adalah organ yang
terbesar di dalam badan manusia.
Kandung empedu (Bahasa Inggris: gallbladder) adalah organ berbentuk buah
pir yang dapat menyimpan sekitar 50 ml empedu yang dibutuhkan tubuh untuk proses
pencernaan. Pada manusia, panjang kandung empedu adalah sekitar 7-10 cm dan
berwarna hijau gelap bukan karena warna jaringannya, melainkan karena warna
cairan empedu yang dikandungnya. Organ ini terhubungkan dengan hati dan usus dua
belas jari melalui saluran empedu. Empedu memiliki 2 fungsi penting yaitu:
Membantu pencernaan dan penyerapan lemak; Berperan dalam pembuangan limbah
tertentu dari tubuh, terutama haemoglobin (Hb) yang berasal dari penghancuran sel
darah merah dan kelebihan kolesterol.

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 4

Bilirubin adalah pigmen kristal berbentuk jingga ikterus yang merupakan


bentuk akhir dari pemecahan katabolisme heme melalui proses reaksi oksidasireduksi.1 Bilirubin berasal dari katabolisme protein heme, dimana 75% berasal dari
penghancuran eritrosit dan 25% berasal dari penghancuran eritrosit yang imatur dan
protein heme lainnya seperti mioglobin, sitokrom, katalase dan peroksidase.
Metabolisme bilirubin meliputi pembentukan bilirubin, transportasi bilirubin, asupan
bilirubin, konjugasi bilirubin, dan ekskresi bilirubin. Langkah oksidase pertama
adalah biliverdin yang dibentuk dari heme dengan bantuan enzim heme oksigenase
yaitu enzim yang sebagian besar terdapat dalam sel hati, dan organ lain. Biliverdin
yang larut dalam air kemudian akan direduksi menjadi bilirubin oleh enzim biliverdin
reduktase. Bilirubin bersifat lipofilik dan terikat dengan hidrogen serta pada pH
normal bersifat tidak larut.

Pembentukan bilirubin yang terjadi di sistem retikuloendotelial, selanjutnya


dilepaskan ke sirkulasi yang akan berikatan dengan albumin. Bilirubin yang terikat
dengan albumin serum ini tidak larut dalam air dan kemudian akan ditransportasikan
ke sel hepar. Bilirubin yang terikat pada albumin bersifat nontoksik. Pada saat
kompleks bilirubin-albumin mencapai membran plasma hepatosit, albumin akan
terikat ke reseptor permukaan sel. Kemudian bilirubin, ditransfer melalui sel
membran yang berikatan dengan ligandin (protein Y), mungkin juga dengan protein
ikatan sitotoksik lainnya. Berkurangnya kapasitas pengambilan hepatik bilirubin yang
tak terkonjugasi akan berpengaruh terhadap pembentukan ikterus fisiologis.
Bilirubin yang tak terkonjugasi dikonversikan ke bentuk bilirubin konjugasi
yang larut dalam air di retikulum endoplasma dengan bantuan enzim uridine
diphosphate

glucoronosyl

transferase

(UDPG-T).

Bilirubin

ini

kemudian

diekskresikan ke dalam kanalikulus empedu. Sedangkan satu molekul bilirubin yang


Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 5

tak terkonjugasi akan kembali ke retikulum endoplasmik untuk rekonjugasi


berikutnya.
Setelah mengalami proses konjugasi, bilirubin akan diekskresikan ke dalam
kandung empedu, kemudian memasuki saluran cerna dan diekskresikan melalui feces.
Setelah berada dalam usus halus, bilirubin yang terkonjugasi tidak langsung dapat
diresorbsi, kecuali dikonversikan kembali menjadi bentuk tidak terkonjugasi oleh
enzim beta-glukoronidase yang terdapat dalam usus. Resorbsi kembali bilirubin dari
saluran cerna dan kembali ke hati untuk dikonjugasi disebut sirkulasi enterohepatik.
Nilai Normal Bilirubin
Pria:
Bilirubin total : 0.2 1 (mg %)
Bilirubin direk : 0 0.2 (mg %)
Bilirubin indirek : 0.2 0.8 (mg %)
Wanita:
Bilirubin total : 0.2 1 (mg %)
Bilirubin direk : 0 0.2 (mg %)
Bilirubin indirek : 0.2 0.8 (mg %)
75%dari bilirubin yang ada pada BBL (Bayi Baru Lahir) yang berasal dari
penghancuran hemoglobin ,dan 25%dari mioglobin ,sitokrom ,katalase dan tritofan
pirolase.
Satu gram bilirubin yang hancur menghasilkan 35 mg bilirubin .bayi cukup
bulan akan menghancurkan eritrosit sebanyak satu gram/hari dalam bentuk bilirubin
indirek yang terikat dengan albumin bebas (1 gram albumin akan mengikat 16 mg
bilirubin). Bilirubin indirek larut dalam lemak dan bila sawar otak terbuka, bilirubin
akan masuk kedalam otak dan terjadilah kernikterus. yang memudahkan terjadinya
hal tersebut ialah imaturitas, asfiksia/hipoksia, trauma lahir, BBLR (kurang dari 2500
gram), infeksi, hipoglikemia, hiperkarbia.didalam hepar bilirubin akan diikat oleh
enzim glucuronil transverse menjadi bilirubin direk yang larut dalam air, kemudian
diekskresi kesistem empedu, selanjutnya masuk kedalam usus dan menjadi
sterkobilin. sebagian di serap kembali dan keluar melalui urin sebagai urobilinogen.
Pada BBL bilirubin direk dapat di ubah menjadi bilirubin indirek didalam usus
karena disini terdapat beta-glukoronidase yang berperan penting terhadap perubahan

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 6

tersebut. bilirubin indirek ini diserap kembali oleh usus selanjutnya masuk kembali ke
hati (inilah siklus enterohepatik).
2.2 Definisi Hiperbilirubin
Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar
nilainya lebih dari normal (Suriadi, 2001).
Hiperbillirubin ialah suatu keadaan dimana kadar billirubinemia mencapai
suatu nilai yang mempunyai potensi menimbulkan ikterus kalau tidak ditanggulangi
dengan baik (Prawirohardjo, 1997).
Hiperbilirubinemia (ikterus bayi baru lahir) adalah meningginya kadar
bilirubin di dalam jaringan ekstravaskuler, sehingga kulit, konjungtiva, mukosa dan
alat tubuh lainnya berwarna kuning (Ngastiyah, 2000).
Hiperlirubin adalah akumulasi berlebihan dari bilirubin didalam darah (Wong,
hal 432 ). Peningkatan kadar serum bilirubin disebabkan oleh deposisi pigmen
bilirubin yang terjadi waktu pemecahan sel darah merah.
Hiperbilirubinemia adalah ikterus dengan konsentrasi bilirubin serum yang
menjurus ke arah terjadinya kern ikterus atau ensefalopati bilirubin bila kadar
bilirubin tidak dikendalikan(Mansjoer,2008).
Hiperbilirubin merupakan gejala fisiologis (terdapat pada 25 50% neonatus
cukup bulan dan lebih tinggi pada neonatus kurang bulan). (IKA II, 2002).
Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek
pathologis. (Markum, 1991:314).
Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah
melebihi batas atas nilai normal bilirubin serum. Hiperbilirubin adalah suatukeadaan
dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan joundice
pada neonatus (Dorothy R. Marlon, 1998)
Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah
yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus
ditandai joudince pada sclera mata, kulit, membrane mukosa dan cairan tubuh (Adi
Smith, G, 1988).
Hiperbilirubin adalah peningkatan kadar bilirubin serum (hiperbilirubinemia)
yang disebabkan oleh kelainan bawaan, juga dapat menimbulkan ikterus. (Suzanne C.
Smeltzer, 2002)

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 7

(Kadar serum bilirubin terhadap usia neonatus >95% menurut Normogram Bhutani)
2.3 Etiology Hiperbilirubin
1. Faktor produksi yang berlebihan melampaui pengeluaran nya terdapat pada hemolisis
yang meningkat seperti pada ketidakcocokan golongan darah (Rh, ABO antagonis,
dan sebagai nya).
2. Gangguan dalam uptake dan konjugasi hepar di sebabkan imaturitas hepar, kurangnya
substrat untuk konjugasi (mengubah) bilirubin, gangguan fungsi hepar akibat
asidosis,hipoksia, dan infeksi atau tidak terdapat enzim glukuronil transferase (G-6PD).
3. Gangguan tranportasi bilirubin dalam darah terikat oleh albumin kemudian di angkut
oleh hepar. Ikatan ini dapat di pengaruhi oleh obat seperti salisilat dan lain-lain.
Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak bilirubin indirek yang bebas dalam
darah yang mudah melekat pada otak (terjadi krenikterus).
4. Gangguan dalam ekskresi akibat sumbatan dalam hepar atau di luar hepar. Akibat
kelainan bawaan atau infeksi, atau kerusakan hepar oleh penyebab lain.

2.4 Patofisiologi Hiperbilirubin

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 8

Bilirubin adalah produk penguraian heme. Sebagian besar(85-90%) terjadi


dari penguraian hemoglobin dan sebagian kecil(10-15%) dari senyawa lain seperti
mioglobin. Sel retikuloendotel menyerap kompleks haptoglobin dengan hemoglobin
yang telah dibebaskan dari sel darah merah. Sel-sel ini kemudian mengeluarkan besi
dari heme sebagai cadangan untuk sintesis berikutnya dan memutuskan cincin heme
untuk menghasilkan tertapirol bilirubin, yang disekresikan dalam bentuk yang tidak
larut dalam air(bilirubin tak terkonjugasi, indirek). Karena ketidaklarutan ini,
bilirubin dalam plasma terikat ke albumin untuk diangkut dalam medium air. Sewaktu
zat ini beredar dalam tubuh dan melewati lobulus hati ,hepatosit melepas bilirubin
dari albumin dan menyebabkan larutnya air dengan mengikat bilirubin ke asam
glukoronat(bilirubin terkonjugasi, direk). (Sacher,2004).
Dalam bentuk glukoronida terkonjugasi, bilirubin yang larut tersebut masuk
ke sistem empedu untuk diekskresikan. Saat masuk ke dalam usus ,bilirubin diuraikan
oleh bakteri kolon menjadi urobilinogen. Urobilinogen dapat diubah menjadi
sterkobilin dan diekskresikan sebagai feses. Sebagian urobilinogen direabsorsi dari
usus melalui jalur enterohepatik, dan darah porta membawanya kembali ke hati.
Urobilinogen daur ulang ini umumnya diekskresikan ke dalam empedu untuk kembali
dialirkan ke usus, tetapi sebagian dibawa oleh sirkulasi sistemik ke ginjal, tempat zat
ini diekskresikan sebagai senyawa larut air bersama urin(Sacher, 2004).
Pada dewasa normal level serum bilirubin <1mg/dl. Ikterus akan muncul pada
dewasa bila serum bilirubin >2mg/dl dan pada bayi yang baru lahir akan muncul
ikterus bila kadarnya >7mg/dl(Cloherty et al, 2008).
Hiperbilirubinemia dapat disebabkan oleh pembentukan bilirubin yang
melebihi kemampuan hati normal untuk ekskresikannya atau disebabkan oleh
kegagalan hati(karena rusak) untuk mengekskresikan bilirubin yang dihasilkan dalam
jumlah normal. Tanpa adanya kerusakan hati, obstruksi saluran ekskresi hati juga
akan menyebabkan hiperbilirubinemia. Pada semua keadaan ini, bilirubin tertimbun
di dalam darah dan jika konsentrasinya mencapai nilai tertentu(sekitar 2-2,5mg/dl),
senyawa ini akan berdifusi ke dalam jaringan yang kemudian menjadi kuning.
Keadaan ini disebut ikterus atau jaundice(Murray et al,2009).
Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan .
Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban Bilirubin
pada sel Hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan
penghancuran Eritrosit, Polisitemia. Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga
dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila
kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi Hipoksia, Asidosis. Keadaan lain
Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 9

yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila ditemukan


gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi
misalnya sumbatan saluran empedu. Pada derajat tertentu Bilirubin ini akan bersifat
toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada Bilirubin
Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. sifat ini
memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila Bilirubin tadi dapat
menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus.
Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin akan
timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg/dl. Mudah tidaknya kadar
Bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan
neonatus. Bilirubin Indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi
terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah , Hipoksia, dan Hipoglikemia ( AH,
Markum,1991).
Menurut Kimberly Bilotta (2009) patofisiologi dari hiperbilirubin adalah Saat
eritrosit hancur diakhir siklus neonatus, hemoglobin pecah menjadi fragmen globin
(protein) dan heme (besi). Fragmen heme membentuk bilirubin tidak terkonjugasi
(indirek), yang berikatan dengan albumin untuk dibawa ke sel hati agar dapat
berkonjugasi dengan glukuronid, membentuk bilirubin direk. Karena bilirubin tidak
terkonjugasi dapat larut dalam lemak dan tidak dapat diekskresikan didalam urine
atau empedu, bilirubin ini dapat keluar menuju jaringan ekstravaskuler, terutama
jaringan lemak dan otak, mengakibatkan hiperbilirubinemia Hiperbilirubinemia dapat
berkembang ketika:
Faktor tertentu mengganggu konjugasi dan merebut sisi yang mengikat albumin,
termasuk obat (seperti aspirin, penenang, dan sulfonamid) dan gangguan (seperti
hipotermia, anoksia, hipoglikemia, dan hipoalbuminemia)
Penurunan fungsi hati yang menyebabkan penurunan konjugasi bilirubin
Peningkatan produksi atau kehancuran eritrosit terjadi akibat gangguan hemolitik atau
inkompatibilitas Rh atau ABO
Obstruksi bilier atau hepatitis mengakibatkan sumbatan pada aliran empedu yang
normal
Enzim maternal yang terdapat dalam air susu ibu dapat menghambat aktivitas
konjugasi glukoronil-transferase pada bayi

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 10

2.5 WOC Hiperbilirubin


Sumsum tulang
Globin

Sel darah merah diproduksi

Hemoglobin
Heme
Sel retikuloendotel menyerap kompleks haptoglobin
Zat besi (Fe) + Co

Bilirubin

Hemoglobin dibebaskan dari sel darah merah

Ketidaklarutan bilirubin dalam plasma


Penambahan beban billirubin pada sel hepar
akibat penghancuran eritrosit

Terikat ke albumin

Hipoksia (kurang O2)


Diangkut dalam medium air

Anoreksia (tidak nafsu makan)

Saat beredar dalam tubuh dan melewati lobulus hati

Klien tampak pucat


BB klien menurun

Hepatosit melepas bilirubin dari albumin

MK: ketidakseimbangan nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh

Larutnya air dengan mengikat bilirubin

Gangguan konjugasi hepar

Bilirubin terkonjugasi

Kurangnya susbrak untuk


konjugasi (berubah) bilirubin

Gangguan transport bilirubin

Terdapat sumbatan saluran empedu

Pemecahan bilirubin berlebih

Bilirubin akan bersifat toksik

Suplai bilirubin memebihi kemampuan hepar

Merusak jaringan tubuh


Hepar tidak mampu melakukan konjugasi
MK: gangguan integritas kulit
Peneluaran meonium terlambat /
obstruksi usus

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin


Ikterus pada sklera, leher dan badan
MK: Ansietas

Klien tampak khawatir dengan kondisinya

Tinja berwarna pucat

Page 11

2.6 Manifestasi Klinik Hiperbilirubin


Tanda dan gejala yang jelas pada anak yang menderita hiperbilirubin adalah
Tampak ikterus pada sklera, kuku atau kulit dan membran mukosa. Ikterus adalah
akibat pengendapan bilirubin indirek pada kulit yang cenderung tampak kuning
terang atau orange, ikterus pada tipe obstruksi (bilirubin direk) kulit tampak berwarna
kuning kehijauan atau keruh. Perbedaan ini hanya dapat dilihat pada ikterus yang
berat.
Muntah, anoksia, fatigue, warna urin gelap dan warna tinja pucat.

Perut

membuncit dan pembesaran pada hati. Pada permulaan tidak jelas, yang tampak mata
berputar-putar. Lemas, kejang, tidak mau menghisap. Dapat tuli, gangguan bicara dan
retardasi mental. Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat disertai spasme otot,
kejang, stenosis yang disertai ketegangan otot. Terdapat 2 jenis ikterus yaitu yang
fisiologis dan patologis.

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 12

1.

Ikterus fisiologi
Ikterus fisiologi adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan hari ketiga serta
tidak mempunyai dasar patologi atau tidak mempunyai potensi menjadi karena
ikterus. Adapun tanda-tanda sebagai berikut :
1. Timbul pada hari kedua dan ketiga
2. Kadar bilirubin indirek tidak melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan.
3. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5% per hari.
4. Kadar bilirubin direk tidak melebihi 1 mg%.
5. Ikterus menghilang pada 10 hari pertama.
6. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologis.

2. Ikterus Patologi
Ikterus patologis adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar
bilirubin mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia. Adapun tandatandanya sebagai berikut :
1. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama.
2. Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12,5%
pada neonatus kurang bulan.
3. Pengangkatan bilirubin lebih dari 5 mg% per hari.
4. Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama.
5. Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg%.
6. Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik. (Arief ZR, 2009. hlm. 29)
Menurut Kimberly Bilotta (2009) Ikterus muncul ketika kapasitas hati untuk
mengkonversi dan mengekskresikan bilirubin sebagai asam empedu terlampaui. Hal
ini dapat terjadi akibat produksi bilirubin berlebihan dan reduksi kapasitas eliminasi
hati. Bilirubin merupakan produk hasil pecahan heme (dari hemoglobin dan
hemoprotein lainnya). Bilirubin berikatan dengan albumin di plasma, namun saat
memasuki membran hepatosit, bilirubin berdisosiasi dan memasuki hepatosit.
Selanjutnya, bilirubin berkonjugasi, terutama dengan asam glukuronat, dan
diekskresikan sebagai asam empedu.
Ikterus dapat dibagi berdasarkan tiga mekanisne utama (tabel 20.1) menurut
Kimberly Bilotta (2009) :
Prahepatik : peningkatan degradasi heme (karena hemolisis) mengarah pada
konsentrasi heme yang tidak dapat dibersihkan oleh mekanisme konjugasi normal,
yang mengakibatkan dominasi hiperbilirubinemia tidak terkonjugasi.
Hepatik : kerusakan dan atau inflamasi hati mempengaruhi kemampuan konjugasi
dan ekskresi hati, sehingga muatan bilirubin normal tidak dapat diekskresikan,
Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 13

mengakibatkan dominasi hiperbilirubinemia tidak terkonjugasi atau campuran dari


hiperbilirubinemia terkonjugasi dan tidak terkonjugasi.
Pascahepatik : obstruksi saluran pengeluaran bilier pada tingkat manapun,
menyebabkan ketidakmampuan untuk mengekskresikan bilirubin terkonjugasi di
empedu, mengakibatkan hiperbilirubinemia terkonjugasi.
Bilirubin tidak terkonjugasi bersifat tidak larut air, sehingga tidak
diekskresikan melalui urin. Bilirubin terkonjugasi diekskrsikan dari empedu yang
kemudian diubah bentuk menjadi urobilinogen di ileum terminalis, dan selanjutnya
mengalami reabsorbsi sebagai bagian dari sirkulasi enterohepatik, sebelum akhirnya
diekskresikan melalui urin. Sebagai bilirubin terkonjugasi yang tidak mengalami
reabsorbsi, kemudian akan diubah bentuk menjadi urobilin, lalu sterkobilin, yang
akan memberikan warna yang normal pada feses. Pemeriksaan pada produk degradasi
(by-product) dari ekskresi heme pada darah dan urin, serta observasi warna feses
dapat memberikan petunjuk penyebab terjadinya ikterus. Obstruksi sistem bilier
menyebabkan feses berwarna pucat (berkurangnya sterkobilin) dan urin yang gelap
(peningkatan jumlah bilirubin terkonjugasi, yang tidak dapat diekskresikan melalui
empedu, tetapi bukan urobilinogen).

Tabel 20.1 klasifikasi ikterus berdasarkan gambaran penyebab, gejala, dan


pemeriksaan
Tipe

Temuan laboratorium

ikterus

Manifestasi

Penyebab umun

klinik

Prahepatik

Darah:

(hemolisis)

hiperbilirubinemia tidak
terkojugasi.
Urin: tidak ditemukan
bilirubin,

Ikterik

Hemolisis

Urin normal

Penyakit ginjal (misalnya

Feses normal

pemingkatan

sindrom

hemolitik

uremikum).
Penyakit

urobilinogen.

dengan

peningkatan
(misalmya

hemolisis
anemia

sel

sabit, defisiensi G6PD,


malaria)
Hepatik

Darah:

Ikterik

hiperbilirubinemia tidak
Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Sering:

hepatitis

akut,

penyakit

hati

yang
Page 14

terkonjugasi

atau Urin gelap

gabungan konjugasi dan


tidak terkonjugasi.
Urin:
bilirubin,

Feses normal

ditemukan

berhubungan

dengan

alkohol, hepatotoksisitas
oleh obat.
Jarang:

sirosis

biller

urobilinogen

primer, sindrom gilbert

dapat meningkat namun

(kelainan genetik pada

bervariasi.

metabolisme

bilirubin

terdapat

pada

5%

populasi,

yang

dapat

muncul dengan ikterus


ringan),

karsinoma

metastasis.
Pasca-

Darah:

Ikterik

hepatik

hiperbilirubinemia

(obstruktif / terkonjugasi.
kolestatik)

Urin:
bilirubin

peningkatan

Gatal yang berat


Urin gelap

terkonjugasi, Feses pucat

tidak

terdapat

urobilinogen pada urin.

Penyakit

biller

ekstrahepatik
sering

(paling

akibat

empedu

di

ductus

choledochus,

dan

karsinoma
pancreatis:

batu

caput
yang

lebih

jarang yaitu pada struktur


ductus

choledochus,

atresia bilier, karsinoma


duktal, pankreatitis dan
pseudokista

pankreas,

parasit hati pada ductus


choledochus).
Kolestasis intrahepatik.

2.9 Pemeriksaan Diagnostik


1. Pemeriksaan fisik
Secara klinis, ikterus pada neonatus dapat dilihat segera setelah lahir atau
setelah beberapa hari. Amati ikterus pada siang hari dengan lampu sinar yang cukup.
Ikterus akan terlihat lebih jelas dengan sinar lampu dan bisa tidak terlihat dengan
penerangan yang kurang, terutama pada neonatus yang berkulit gelap. Penilaian

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 15

ikterus akan lebih sulit lagi apabila penderita sedang mendapatkan terapi sinar(Etika
et al, 2006).
Salah satu cara memeriksa derajat kuning pada neonatus secara klinis, mudah
dan sederhana adalah dengan penilaian menurut Kramer(1969). Caranya dengan jari
telunjuk ditekankan pada tempat-tempat yang tulangnya menonjol seperti tulang
hidung,dada,lutut dan lain-lain. Tempat yang ditekan akan tampak pucat atau kuning.
Penilaian kadar bilirubin pada masing-masing tempat tersebut disesuaikan dengan
tabel yang telah diperkirakan kadar bilirubinnya(Mansjoer et al, 2007). Waktu
timbulnya ikterus mempunyai arti penting pula dalam diagnosis dan penatalaksanaan
penderita karena saat timbulnya ikterus mempunyai kaitan erat dengan kemungkinan
penyebab ikterus tersebut(Etika et al, 2006).
2. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan bilirubin. Pemeriksaan serum bilirubin(direk dan indirek) harus
dilakukan pada neonatus yang mengalami ikterus. Terutama pada bayi yang tampak
sakit atau bayi-bayi yang tergolong resiko tingggi terserang hiperbilirubinemia berat.
Pemeriksaan tambahan yang sering dilakukan untuk evaluasi menentukan penyebab
ikterus antara lain adalah golongan darah dan Coombs test, darah lengkap dan
hapusan darah, hitung retikulosit, skrining G6PD dan bilirubin direk. Pemeriksaan
serum bilirubin total harus diulang setiap 4-24 jam tergantung usia bayi dan tingginya
kadar bilirubin. Kadar serum albumin juga harus diukur untuk menentukan pilihan
terapi sinar atau transfusi tukar(Etika et al, 2006).
b. Pemeriksaan radiology. Diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru
atau peningkatan diafragma kanan pada pembesaran hati, seperti abses hati atau
hepatoma.
c. Ultrasonografi. Digunakan untuk membedakan antara kolestatis intra hepatic dengan
ekstra hepatic.
d. Biopsy hati. Digunakan untuk memastikan diagnosa terutama pada kasus yang sukar
seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatic dengan intra hepatic selain itu
juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis, serosis hati, hepatoma.
e. Peritoneoskopi. Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto
dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit
ini.

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 16

f. Laparatomi. Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto


dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit
ini

2.10

Penatalaksanaan Medis

1. Fototherapi.
Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan Transfusi
Pengganti untuk menurunkan Bilirubin. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan
intensitas yang tinggi ( a boun of fluorencent light bulbs or bulbs in the blue-light
spectrum) akan menurunkan Bilirubin dalam kulit. Fototherapi menurunkan kadar
Bilirubin dengan cara memfasilitasi eksresi Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini
terjadi jika cahaya yang diabsorsi jaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi
menjadi dua isomer yang disebut Fotobilirubin. Fotobilirubin bergerak dari jaringan
ke pembuluh darah melalui mekanisme difusi. Di dalam darah Fotobilirubin berikatan
dengan Albumin dan dikirim ke Hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke Empedu
dan diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses tanpa proses
konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch, 1984).
Hasil Fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi Bilirubin dapat
dikeluarkan melalui urine. Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan
peningkatan kadar Bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab Kekuningan dan
Hemolisis dapat menyebabkan Anemia. Secara umum Fototherapi harus diberikan
pada kadar Bilirubin Indirek 4 -5 mg / dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan
kurang dari 1000 gram harus di Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg / dl.
2. Stimulasi proses konjugasi bilirubin menggunakan fenobarbital. Obat ini kerjanya
lambat, sehingga hanya bermanfaat apabila kadar bilirubinnya rendah dan ikterus
yang terjadi bukan disebabkan oleh proses hemolitik. Obat ini sudah jarang dipakai
lagi.
3. Menambahkan bahan yang kurang pada proses metabolisme bilirubin(misalnya
menambahkan glukosa pada hipoglikemi) atau (menambahkan albumin untuk
memperbaiki transportasi bilirubin). Penambahan albumin bisa dilakukan tanpa
hipoalbuminemia. Penambahan albumin juga dapat mempermudah proses ekstraksi
bilirubin jaringan ke dalam plasma. Hal ini menyebabkan kadar bilirubin plasma
meningkat, tetapi tidak berbahaya karena bilirubin tersebut ada dalam ikatan dengan
albumin. Albumin diberikan dengan dosis tidak melebihi 1g/kgBB.

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 17

4. Menghambat produksi bilirubin. Metalloprotoporfirin merupakan kompetitor inhibitif


terhadap heme oksigenase. Ini masih dalam penelitian dan belum digunakan secara
rutin.
5. Menghambat hemolisis. Immunoglobulin dosis tinggi secara intravena(5001000mg/Kg IV>2) sampai 2 hingga 4 jam telah digunakan untuk mengurangi level
bilirubin pada janin dengan penyakit hemolitik isoimun. Mekanismenya belum
diketahui tetapi secara teori immunoglobulin menempati sel Fc reseptor pada sel
retikuloendotel dengan demikian dapat mencegah lisisnya sel darah merah yang
dilapisi oleh antibody(Cloherty et al, 2008).

2.10

Asuhan Keperawatan dengan Hiperbilirubin

1. Pengkajian
a. Data biografi pasien
Hiperbilirubin umumnya banyak menyerang pada bayi baru lahir.
b. Keadaan umum
Klien merasa lemah, TTV tidak stabil terutama suhu tubuh (hipertermi).
Reflek hisap pada bayi menurun, BB turun, pemeriksaan tonus otot (kejang/tremor).
Hidrasi bayi mengalami penurunan. Kulit tampak kuning dan mengelupas (skin resh),
sclera mata kuning (kadang-kadang terjadi kerusakan pada retina) perubahan warna
urine dan feses.
a) Riwayat Kesehatan
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
Riwayat kesehatan sekarang pada penyakit hiperbiliruin

klien biasanya

lemah, lelah, kulit tampak kuning dan mata erwarna kuning (ikterik).
b). Riwayat Kesehatan Dahulu
Pada riwayat kesehatan dahulu pada klien dengan hiperbilirubin umumnya
menyerang pada ayi aru lahir, sehingga perlu dikaji adanya tanda-tanda hiperbilirubin
yaitu kulit tampak kuning, mata ikterik dan terlihat lemah.
2. Riwayat Kesehatan Keluarga

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 18

Dari riwayat kesehatan keluarga,

tanyakan apakah keluarga pernah

mengalami penyakit yang sama.


a. Pemerikasaan Fisik
1. Keadaan Umum
Keadaan umum pada penderita hiperbilirubin tampak lemah, kesadaran
bersifat composmentis selama belum terjadi komplikasi.
2. Tanda-Tanda Vital
Tekanan darah : tidak normal (TD normal 120/80 mmHg)
Nadi : takikardi
Suhu : meningkat jika terjadi infeksi
RR : Dispneu, takhipneu
3. Pemeriksaan fisik head to toe
a. Pemeriksaan kepala
Bentuk : perhatikan bentuk kepala apakah simetris atau tidak. Biasanya
pada penderita hiperbilirubin betuk kepala simetris.
Rambut: perhatikan keadaan rambut mudah dicabut atau tidak,warna,
hygiene
Nyeri tekan: palpasi nyeri tekan, ada atau tidak. Biasanya pada penderita
tidak ada nyeri tekan.
b. Pemeriksaan mata
Palpebra: perhatikan kesimetrisan kiri dan kanan
Konjungtiva : ikterik atau tidak. Pada penderita hiperbilirubin akan
ditemukan konjungtiva yang ikterik.
Sclera : ikterik atau tidak. Sclera penderita hiperilirubin akan terlihat
ikterik.
c. Pemeriksaan hidung
Inskpeksi kesimetrisan bentuk hidung, mukosa hidung, palpasi adanya
polip. Penderita hiperbilirubin memiliki pemeriksaan hidung yang normal.
d. Pemeriksaan mulut
Inspeksi apakah terdapat peradangan (infeksi oleh jamur atau bakteri ),
perdarahan gusi. Biasa papa penderita hiperbilirubin, ditemukan bibir
kuning, sudut-sudut bibir pecah-pecah.
e. Pemeriksaan telinga
Inspeksi simetris kiri dan kanan, sirumen. Palpasi nyeri tekan. Periksa
fungsi pendengaran dan keseimbangan. Pada penderita hiperbilirubin
biasanya tidak ditemukan kelainan dan bersifat normal.
f. Pemeriksaan leher
Inspeksi dan palpasi adanya pembesaran getah bening kelenjer tiroid, JVP,
normalnya 5-2. Penderita hiperilirubin tidak mengalami pembesaran
kelenjer tiroid.
g. Pemeriksaan thorak
Jantung
Inspeksi : iktus terlihat atau tidak, inspeksi kesimetrisan. Pada penderita
hiperiliruin, iktus terlihat
Palpasi : raba iktus kordis. Normalnya, iktus teraba.
Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 19

Perkusi : tentukan batas jantung.


Auskultasi : terdengar bunyi jantung 1 dan 2, normal.
Paru- paru
Inspeksi : kesimetrisan kiri dan kanan saat inspirasi dan ekspirasi,
biasanya normal.
Palpasi
: simetris kiri dan kanan.
Perkusi : adanya suara napas tambahan
Auskultasi : biasanya bunyi nafas vesikuler.
h. Pemeriksaan abdomen
Inspeksi : apakah dinding abdomen mengalami memar, bekas operasi, dsb.
Auskultasi : bising usus normal
Palpasi : palpasi apakah ada nyeri tekan, hepar teraba atau tidak. Biasaya
terdapat nyeri tekan, dan hepar akan teraba.
Perkusi : lakukan perkusi, biasa didapat bunyi tympani untuk semua
daerah abdomen
i. Pemeriksaan Ekstremitas
inspeksi kesemetrisan, palpasi adanya nyeri tekan pada ekstremitas atas
dan bawah. Biasanya pada penderita hiperilirubin akan mengalami nyeri
pada tulang dan persendian.
b. Pemeriksaan Penunjang
Menunjukkan adanya peningkatan bilirubin.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan menurutNANDA 2012 adalah :
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan.
2. Risiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan hiperbilirubinemia (jaundice).
3. Ansietas berhubungan dengan stres.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kehilangan nafsu makan.

6. Rencana Keperawatan
Rencana keperawatan yang dilakukan menurut NANDA 2012 adalah :
a. Untuk Diagnosis 1 :
1) Pantau warna, jumlah dan frekuensi kehilangan cairan
2) Observasi khususnya terhadap kehilangan cairan yang tinggi elektrolit
Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 20

3) Berikan terapi IV, sesuai program


4) Tentukan jumlah cairan yang amsuk dalam 24 jam, hitung asupan yang diinginkan
sepanjang sif siang, sore dan malam.
b. Untuk diagnosis 2 :
1) Kaji gungsi alat-alat , seperti alat penurunan tekanan, meliputi kasur udara statis,
terapi udara yang dicairkan
2) Inspeksi adanya kemerahan, pembengkakan atau tanda-tanda dehisensi atau eviserasi
pada area insisi.
3) Konsultasikan pada ahli gizi tentang makanan tinggi protein , mineral, kalori dan
vitamin
4) Lakukan perawatan pada area infusi IV atau jalur vena sentral, jika diperlukan.
c. Untuk diagnosis 3 :
1) Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien
2) Berikan obat untuk penurunan ansietas, jika perlu
3) Berikan penguatan positif ketika pasien mampu meneruskan aktivitas sehari-hari dan
aktivitas lainnya meskipun mengalami ansietas
4) Dorong pasien untuk mengepresikan kemarahan dan iritasi, serta izinkan pasien untuk
menangis
d. Untuk diagnosis 4 :
1) Tentukan motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan makan
2) Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
3) Diskusikan dengan ahli gizi dalam menentukan kebutuhan protein pasien yang
mengalami ketidakadekuatan asupan protein atau kehilangan protein.
4) Dukung anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan pasien dari rumah.

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 21

BAB III
APLIKASI TEORI
Seorang ibu masuk rumah sakit dengan membawa Bayi Baru Lahir berjenis
kelamin laki-laki, ibu mengatakan bayinya baru lahir 2 hari yang lalu, dengan BB
2000 gram, kulit anaknya kuning, mata kuning, pucat, anak rewel dan tidak mau
menyusu, BAB anaknya mencret . Pada pemeriksaan fisik didapatkan anak tampak
kuning, skelera ikterik, perut buncit, BB 1Kg, anak letargi, reflek menyusu lemah,
iritabilitas, pemeriksaan labor diperoleh kadar bilirubin 13 gram/dl
a.

Pengkajian

Tanggal pengkajian : 20 November 2014


1. Identitas anak:
Nama
: Anak B
Umur
: 2 hari
Jenis kelamin
: Laki-laki
Anak keberapa
:3
BB lahir
:2000 gr
Identitas orangtua
Ibu
:
Nama
: Ny. T
Umur
: 35 tahun
Pendidikan
: SMA
Agama
: Islam
Golongan darah
:O
Ayah
Nama
: Pak. T
Umur
: 45 tahun
Pendidikan
: S1
Agama
: Islam
Golongan darah / rhesus: O
2. Riwayat Kesehatan
1). Keluhan utama:
Ibu menyatakan; kulit anaknya kuning, mata kuning, anak rewel dan tidak
mau menyusu, BAB anaknya mencret.
Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 22

2). Riwayat penyakit sekarang:


kulit anak kuning, mata kuning, anak rewel dan tidak mau menyusu, BAB
anak seperti dempul.
3. Pemerikasaan Fisik
1). Keadaan Umum
Anak B tampak lemah, kesadaran bersifat composmentis, kulit kuning, sklera
ikterik dan perut buncit. BB 1Kg, Tinggi 40cm.
2). Tanda-Tanda Vital
Tekanan darah : 90/70 mmHg (TD normal 120/80 mmHg)
Nadi : 120/menit (takikardi)
Suhu : 360C
RR : 24x/menit
3). Pemeriksaan fisik head to toe
Pemeriksaan kepala
Inspeksi :
Bentuk : simetris
Rambut: warna rambut hitam dan beruban, tidak ada ketombe
Palpasi: tidak terdapat benjolan, dan nyeri tekan
Pemeriksaan mata
Inspeksi
Konjungtiva : berwarna kuning
Sclera : ikterus
Pemeriksaan hidung
Inskpeksi: bentuk hidung simetris, tidak ada polip maupun peradangan,
tidak ada sekret.
Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan.
Pemeriksaan mulut
Inspeksi : bibir kuning, sudut bibir pecah-pecah, gusi tidak berdarah.
Pemeriksaan telinga
Inspeksi : simetris kiri dan kanan
Palpasi : tidak ada nyeri tekan. Fungsi pendengaran normal.
Pemeriksaan leher
Inspeksi : tidak ada pembesaran getah bening
Palpasi : tidak ada pembesaran getah bening kelenjer tiroid
Pemeriksaan thorak
Jantung
Inspeksi : iktus terlihat
Palpasi : iktus teraba.
Perkusi : redup
Auskultasi : terdengar bunyi jantung 1 dan 2 normal.
Paru- paru
Inspeksi : simetris kiri dan kanan saat inspirasi dan ekspirasi
Palpasi
: vokal femoris teraba, simetris kiri dan kanan.
Perkusi : sonor
Auskultasi : bunyi nafas vesikuler.
Pemeriksaan abdomen
Inspeksi : tidak terdapat lesi, tidak ada luka bekas operasi.
Auskultasi : bising usus tidak normal 36 x / menit.
Palpasi : Terdapat nyeri tekan
Perkusi : bunyi tympani untuk semua daerah abdomen
Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 23

Pemeriksaan Ekstremitas
Ekstremitas atas: tangan kanan terpasang infus, pergerakan lemah.
Ekstremitas bawah : pergerakan lemah
Pemeriksaan Labor
Hemoglobin : 17 gram / dl (tinggi)
Bilirubin : 13 gram (tinggi)
2. Analisis Data
No
1

Ds
ibu

Data
Problem
Do
refleks menyusu Kurangnya volume

mengatakan

kurang,

bayinya tidak

mekonium

Etiologi
tidak adekuatnya

cairan

intake cairan

mau menyusu, tampak seperti


BAB mencret,

dempul, anak

rewel,

rewel, turgor
kulit jelek.

Ibu

Kulit bayi

Gangguan integritas

Hiperbilirubinemia

mengatakan

tampak ikterik,

kulit

(jaundice)

kulit anaknya

kadar bilirubin

kuning dan

13 gram / dl,

kering serta

skelera

keriput

ikterik,nturgor
kulit jelek, bayi
letargi, reflek

Ibu

menyusu lemah.
BB bayi rendah,
5. Ketidakseimbangan

mengatakan

terlihat tidak

nutrisi

bayinya tidak

mau menyusu

kebutuhan tubuh

kurang

kehilangan nafsu

dari makan.

mau menyusu, dan.


badan lemas.
Diagnosa Keperawatan
1) Kurangnya volume cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan
yang ditandai dengan bayi tidak mau menyusui
2) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan Hiperbilirubinemia (jaundice)
yang ditandai dengan kulit ikterik dan kering.
3) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kehilangan nafsu makan yang ditandai dengan bayi tidak mau menyusu, badan
lemas dan BB menurun.
Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 24

3. Intervensi
No.

NOC (Tujuan)

Dx
1

Setelah dilakukan

Pantau asupan dan haluaran

Pemantauan

tidakan keperawatan

setiap jam. Catat cairan per

semacam ini

selama 2x24 jam

intravena, nutrisi parenteral

memungkinkan

cairan tubuh

total, dan setiap pemberian

evaluasi

neonatus adekuat

makanan per oral atau

keseimbangan cairan

Kriteria Hasil :

melalui slang nosogastrik.

bayi dan kebutuhan

a. Bayi mampu

Timbang popok untuk

intervensi lebih

minum asi atau susu

mengukur jumlah urine dan

lanjut

botol

feses. Tingkatkan pemberian

b. Turgor kulit baik

cairan sesuai program.

c. Haluaran urine 12 ml/kg/jam


d. Waktu pengisian
kapiler 3-5 detik

NIC (Tindakan)

Rasional

Timbang bayi pada waktu

Perubahan berat

yang sama setiap hari,

badan dapat

menggunakan skala yang

mengindikasikan

sama untuk memperoleh

perubahan dalam

hasil pengukuran yang

keseimbangan cairan

akurat

bayi

Observasi adanya tanda-

Tanda dehidrasi

tanda dehidrasi (oliguri,

mengindikasikan

kulit kering, turgor kulit

perlunya intervensi

buruk, dan fontanel serta

segera untuk

mata cekung)

mengatasi
kekurangan cairan
pada anak
Asi merupakan

Berikan asi secara perlahanlahan, gunakan botol susu


apabila daya isapan bayi
kurang, dan beri air diantara
menyusui

makanan bayi yang


paling baik dan
mengandung
berbagai zat gizi
yang cukup bagi
bayi, dan pemberian
air dapat mencegah

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 25

bayi dehidrasi
dengan segera.
2

Setelah dilakukan

Kaji warna kulit tiap 8 jam

Perubahan warna

tindakan

kulit dapat

keperawatan selama

menunjukkan adanya

2x24 jam keutuhan

peningkatan kadar

kulit bayi dapat

bilirubin dalam darah

dipertahankan

dan juga tanda-tanda

Kriteria Hasil :

infeksi pada kulit

a. Ikterik pada kulit

Kulit yang bersih dan

bayi berkurang
b. Skelera tidak

Pertahankan kulit agar tetap

ikterik

bersih dan kering setiap

c. Turgor kulit baik

waktu

kering mencegah
kerusakan kulit
akibat kelembapan
dan debris

d. Kadar bilirubin
dalam batas normal

Pantau bilirubin direk dan

Kadar bilirubin

(< 10 gram/dl)

indirek

indirek
memperlihatkan
adanya peningkatan
bilirubin di bawah
permukaan kulit
sehingga kulit akan
tampak lebih kuning

Rubah posisi setiap 2 jam

Pengaturan posisi
secara teratur dapat
meningkatkan
sirkulasi udara pada
daerrah yang tertekan
lama, sehingga dapat
mengurangi
terjadinya keruskan
pada kulit

Setelah dilakukan

Pantau nilai laboratorium,

Dengan mengetahui

tindakan

khusunya bilirubin

kadar bilirubin, dapat

keperawatan selama

dilakukan intervensi

2x24 jam status gizi

yang tepat untuk

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 26

bayi adekuat dengan


kriteria hasil :
a. Memiliki nilai
bilirubin dalam batas

Pantau perilaku pasien yang

mengobati pasien
Pada bayi baru lahir

berhubungan dengan

dengan hiperbilirubin

penurunan berat badan

umumnya memiliki

normal
b. Tingkat energi

berat badan yang


kurang dari normal.
Kebutuhan protein

yang adekuat
Diskusikan dengan ahli gizi

penting untuk

dalam menentukan

menambah asupan

kebutuhan protein pasien

makanan yang sehat

yang mengalami

guna membantu

ketidakadekuatan asupan

memperkuat daya

protein atau kehilangan

tahan tubuh anak

protein.
Ajarkan orang tua mengenai

Orang tua adalah

nutrisi yang diperlukan pada

tempat anak

masing-masing tahap

menumbuhkan

perkembangan bayi.

kepercayaan,
sehingga mampu
untuk memberikan
asupan nutrisi yang
seimbang dengan
kebutuhan tubuh.

4. Implementasi
No

Tanggal dan Jam Pelaksanaan

Dx
1

21 November

memantau asupan dan

2014

haluaran setiap jam. Catat

Pukul 08.00
WIB

Evaluasi

Nama&

Tindakan/Respo

Paraf

n klien
Cairan seimbang

cairan per intravena, nutrisi


parenteral total, dan setiap
pemberian makanan per oral
atau melalui slang
nosogastrik. timbang popok
untuk mengukur jumlah urine
dan feses. Tingkatkan
pemberian cairan sesuai

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 27

program
1. menimbang bayi pada waktu

BB 2Kg

yang sama setiap hari,


menggunakan skala yang
sama untuk memperoleh hasil
pengukuran yang akurat
Observasi adanya tanda-tanda

Turgor kulit

dehidrasi (oliguri, kulit

normal

kering, turgor kulit buruk, dan


fontanel serta mata cekung)
Berikan asi secara perlahan-

Bayi menyusui

lahan, gunakan botol susu

dengan baik

apabila daya isapan bayi


kurang, dan beri air diantara
menyusui
2

21 November

Kaji warna kulit tiap 8 jam

2014

Warna kulit
terlihat sedikit
memerah

Pukul 08.30
WIB
1. Mempertahankan kulit agar
tetap bersih dan kering setiap

Kulit Lembab
dan debris

waktu
2. Memantau bilirubin direk dan
indirek

3. Merubah posisi setiap 2 jam

Kadar bilirubin
<10 gram/dl

Sirkulasi udara
baik

21 November

Pantau nilai laboratorium,

Nilai bilirubin

2014

khusunya bilirubin
Pantau perilaku pasien yang

<10gram/dl
BB 2Kg

Pukul 09.00

berhubungan dengan

WIB

penurunan berat badan


Diskusikan dengan ahli gizi

Memperoleh

dalam menentukan kebutuhan

pengetahuan

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 28

protein pasien yang

tentang protein

mengalami ketidakadekuatan

bayi

asupan protein atau


kehilangan protein.
Ajarkan orang tua mengenai

Orang tua

nutrisi yang diperlukan pada

mengerti tentang

masing-masing tahap

nutrisi bayi

perkembangan bayi.
5. Evaluasi
No.
Dx
1

Tanggal/Jam
23 November 2014

Catatan Perkembangan

Nama
& paraf

S:Ibu mengatakan bayi dapat menyusu


dengan baik
O: Turgor kulit normal
A:Masalah Teratasi
P:Pasien diperbolehkan pulang dan

23 November 2014

diberikan HE
S: Ibu mengatakan kulit bayi bersih dan
lembab
O: Kadar bilirubin <10 gram/dl
A:Masalah Teratasi
P:Pasien diperbolehkan pulang dan

23 November 2014

diberikan HE
S: Ibu mengatakan bayi sudah mau
menyusu dan BB 2Kg
O: Kadar bilirubin <10 gram/dl
A:Masalah Teratasi
P:Pasien diperbolehkan pulang dan
diberikan HE

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 29

BAB IV
PEMBAHASAN
Bayi Baru lahir masuk rumah sakit dengan keluhan kulit berwarna kuning,
pucat, dan tidak mau menyusu pada ibunya. Setelah pemeriksaan fisik ditemukan
anak dengan sklera ikterik dan BB 2000 gram dengan kadar bilirubin 13 gram/dl.
Kadar bilirubin yang tinggi menyebabkan kulit klien berwarna kuning dan tampak
pucat. Dimana kulit klien yang berwarna kuning bisa disebabkan oleh berbagai
faktor, diantaranya faktor produksi yang berlebihan melampaui pengeluaran nya
terdapat pada hemolisis yang meningkat seperti pada ketidakcocokan golongan darah
(Rh, ABO antagonis, dan sebagai nya), kemudian adanya gangguan dalam uptake dan
Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 30

konjugasi hepar di sebabkan imaturitas hepar, kurangnya substrat untuk konjugasi


(mengubah) bilirubin, gangguan fungsi hepar akibat asidosis,hipoksia, dan infeksi
atau tidak terdapat enzim glukuronil transferase (G-6-PD), bisa juga dikarenakan
gangguan tranportasi bilirubin dalam darah terikat oleh albumin kemudian di angkut
oleh hepar. Ikatan ini dapat di pengaruhi oleh obat seperti salisilat dan lain-lain.
Dari hasil pengkajian yang dilakukan, maka dapat ditegakkan diagnosa
keperawatan yang pertama untuk klien adalah kurangnya Kurangnya volume cairan
berhubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan yang ditandai dengan bayi tidak
mau menyusu, BAB cair dan turgor kulit jelek.
Diagnosa kedua untuk klien adalah Gangguan integritas kulit berhubungan
dengan Hiperbilirubinemia (jaundice) yang ditandai dengan kulit ikterik dan kering,
kemudian klien juga mengalami sklera ikterik, turgor kulit jelek dan reflek bayi
menyusui lemah.
Diagnosa untuk yang ketiga klien adalah nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh yang ditandai dengan kehilangan nafsu makan yang ditandai dengan bayi tidak
mau menyusu, badan lemas dan BB menurun. Dengan intervensi yang tepat, klien
bisa segera mendapatkan pengobatan untuk menyembuhkan penyakitnya.
Menurut pendapat kami, ketika bayi baru lahir, baik dikarenakan pada saat
dalam kandungan tidak mendapatkan nutrisi yang cukup atau karena gagalnya sel
membelah saat dikandung, imaturitas hati bisa menyebabkan terganggunya
konjungasi bilirubin sehingga kadar bilirubin meningkat dan menyebabkan ikterus
yang ditandai dengan kulit berwarna kuning, sklera berwarna kuning dan terlihat
lemah.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Hiperbilirubinemia adalah ikterus dengan konsentrasi bilirubin serum yang
menjurus ke arah terjadinya kern ikterus atau ensefalopati bilirubin bila kadar
bilirubin tidak dikendalikan. Faktor produksi yang berlebihan melampaui pengeluaran
nya terdapat pada hemolisis yang meningkat seperti pada ketidakcocokan golongan
darah (Rh, ABO antagonis, dan sebagai nya). Gangguan dalam uptake dan konjugasi
hepar di sebabkan imaturitas hepar, kurangnya substrat untuk konjugasi (mengubah)
bilirubin, gangguan fungsi hepar akibat asidosis,hipoksia, dan infeksi atau tidak
terdapat enzim glukuronil transferase (G-6-PD). Gangguan tranportasi bilirubin
Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 31

dalam darah terikat oleh albumin kemudian di angkut oleh hepar. Ikatan ini dapat di
pengaruhi oleh obat seperti salisilat dan lain-lain. Defisiensi albumin menyebabkan
lebih banyak bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat pada
otak (terjadi krenikterus). Gangguan dalam ekskresi akibat sumbatan dalam hepar
atau di luar hepar. Akibat kelainan bawaan atau infeksi, atau kerusakan hepar oleh
penyebab lain.
5.2 Saran
Diharapkan perawat mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat dan
benar sehingga klien dengan penyakit hiperbilirubin yang biasa terjadi pada bayi baru
lahir bisa segera ditangani dan diberikan perawatan yang tepat. Perawat juga
diharuskan bekerja secara profesional sehingga meningkatkan pelayanan untuk
membantu kilen dengan penyakit hiperbilirubin

DAFTAR PUSTAKA
Price, Sylvia A. 2002. Patofisiologi: Konsep klinis Proses-proses penyakit. Jakarta:
EGC
Brunner & Suddarth. Keperawatan Medikal Bedah Volume 2 ed.8. Jakarta: EGC
Sudoyo, Aru. Buku Ajar Ilmu Pernyakit Dalam. Edisi 5. Jakarta : InternaPublishing
Taylor, Cynthia M. 2003. Diagnosis Keperawatan dengan Rencana Asuhan edisi 10.
Jakarta: EGC.
Bilotta, Kimberly. 2009. Kapita Selekta Penyakit dengan Implikasi Keperawatan.
Edisi 2. Jakarta: EGC.

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 32

Emmanuel, Anton. 2002. Gastroenterologi dan Hepatologi. Jakarta: Penerbit


Erlangga.

Tugas Sistem Pencernaan Hiperbilirubin

Page 33