Anda di halaman 1dari 6

PERATURAN CHIEF EXECUTIVE OFFICER RUMAH SAKIT SEHAT SEJAHTERA

NO : 1/Dir-RSSS/2014
TENTANG
PANDUAN PENGELOLAAN KESELAMATAN KEBAKARAN
RUMAH SAKIT SEHAT SEJAHTERA
CHIEF EXECUTIVE OFFICER RUMAH SAKIT SEHAT SEJAHTERA
Menimbang

1.

2.

3.

Mengingat

1.
2.
3.
4.

bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit Sehat


Sejahtera , maka diperlukan pengelolaan keselamatan kebakaran rumah
sakit yang bermutu tinggi;
bahwa agar pengelolaan keselamatan kebakaran di Rumah Sakit Sehat
Sejahtera dapat terlaksana dengan baik, perlu adanya panduan Chief
Executive Officer Rumah Sakit Sehat Sejahtera sebagai landasan bagi
penyelenggaraan pengelolaan keselamatan kebakaran di Rumah Sakit
Sehat Sejahtera ;
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam 1 dan 2,
perlu ditetapkan dengan Keputusan Chief Executive Officer Rumah Sakit
Sehat Sejahtera.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah
Sakit
Permen 04-1980, Tentang Pemasangan dan Pemeliharaan APAR
Kepmenpu No.10/KPPTS/2000, Tentang : Ketentuan Teknis Pengamanan
Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung & Lingkungan
Surat Keputusan Nomor:401/SC-RSSS/2008 tentang Visi, Misi, Moto, dan
Core Values RS Sehat Sejahtera
MEMUTUSKAN

Menetapkan
Kesatu

Kedua

Ketiga

Keempat

PERATURAN CHIEF EXECUTIVE OFFICER RUMAH SAKIT SEHAT


SEJAHTERA TENTANG PEMBERLAKUAN PANDUAN PENGELOLAAN
KESELAMATAN KEBAKARAN RUMAH SAKIT SEHAT SEJAHTERA
Memberlakukan Panduan pengelolaan keselamatan kebakaran Rumah
Sakit Sehat Sejahtera sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan
ini terhitung mulai tanggal 1 Februari 2014.
Dengan dikeluarkannya Peraturan Chief Executive Officer ini, maka apabila
terdapat peraturan yang bertentangan dengan Peraturan Chief Executive
Officer ini maka peraturan-peraturan yang terdahulu dinyatakan tidak
berlaku.
Apabila dikemudian hari terdapat kekurangan dan/atau kekeliruan dalam
Peraturan Chief Executive Officer ini maka akan diadakan perubahan dan
perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan
: Di Jakarta
Pada tanggal : 9 Januari 2014
RS SEHAT SEJAHTERA

Dr. Makmur Sejahtera


Chief Executive Officer

dr. Taufik Santoso www.lean-indonesia.blogspot.com

LAMPIRAN
PERATURAN CHIEF EXECUTIVE OFFICER RUMAH SAKIT SEHAT SEJAHTERA
NOMOR
: 1/Dir-RSSS/2014
TANGGAL
: 9 Januari 2014

1.

PENDAHULUAN
Salah satu hal yang paling serius dihadapi oleh RS Sehat Sejahtera adalah ancaman kebakaran.
Hal ini terjadi karena pasien-pasien yang dirawat di RS Sehat Sejahtera berada dalam kondisi
yang tidak dapat menyiapkan diri mereka sendiri ketika terjadi kebakaran. Oleh karena itu,
dibutuhkan suatu perencanaan manajemen keselamatan kebakaran.

2.

PERNYATAAN KEBIJAKAN
RS Sehat Sejahtera harus memiliki Perencanaan Keselamatan Kebakaran.

3.

CAKUPAN
Perencanaan manajemen keselamatan kebakaran menjelaskan proses-proses dimana RS
Sehat Sejahtera menyediakan lingkungan yang aman terhadap kebakaran bagi pasien,
pengunjung, staf, dan melindungi sarana dan prasarana rumah sakit dari kerusakan akibat api
dan asap. Perencanaan ini mencakup seluruh fasilitas dan area RS Sehat Sejahtera

4.
4.1.

TANGGUNG JAWAB
Chief Operating Officer (COO) melakukan koordinasi atas seluruh aktifitas kedaruratan selama
kebakaran terjadi

4.2.

Manager Environmental Service Department (ESD)


Manager ESD mempunyai kewenangan untuk menerapkan perencanaan keselamatan
kebakaran, menyiapkan bantuan teknis bagi staf, pimpinan, dan staf medis. Manager ESD
berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana untuk
perencanaan ini.

4.3.

Manager Medis bertanggung jawab untuk koordinasi perawatan medis saat terjadinya
kebakaran.

4.4.

Manager Hospitality (HSD) bertanggung jawab memastikan security menyediakan bantuan bagi
pemadam kebakaran dalam mengendalikan lalu lintas, kerumunan massa, dan keamanan saat
terjadi kebakaran

4.5.

Setiap karyawan bertanggung jawab untuk memahami prosedur kebakaran dan akan
menanggapi dengan segera pada saat latihan dan keadaan kebakaran.

5.

PENURUNAN RISIKO KEBAKARAN


Upaya penurunan resiko kebakaran di RS Sehat Sejahtera antara lain dilakukan dengan cara
penyimpanan dan penanganan yang aman dari bahan-bahan berbahaya yang berpotensi
terbakar, termasuk bahan bakar dan gas yang mudah terbakar, misalnya solar dan gas oksigen.
Seluruh bahan berbahaya yang mudah terbakar dikelola dengan cara :
Membatasi jumlah bahan-bahan mudah terbakar
5.1.1. Hanya menyimpan bahan mudah terbakar sesuai kebutuhan
5.1.2. Menyimpan bahan mudah terbakar, termasuk limbahnya, dalam gudang dan kontainer
yang sesuai
5.1.3. Tidak membiarkan penumpukan sampah yang mudah terbakar di lokasi kerja

5.1.

5.2.

Menyediakan ventilasi yang mencukupi sehingga uap dari bahan mudah terbakar tidak
terakumulasi
5.2.1. Memasang ventilasi dengan design yang sesuai di area penyimpanan

Hal 2 dari 6

dr. Taufik Santoso www.lean-indonesia.blogspot.com

5.2.2. Pemeliharaan sistem ventilasi secara teratur


5.3.

Mengendalikan sumber penyalaan


5.3.1. Memastikan bahwa tidak ada yang merokok di area-area dimana bahan-bahan mudah
terbakar disimpan dan digunakan
5.3.2. Tidak menyimpan bahan-bahan mudah terbakar dekat peralatan yang panas dan api
terbuka.
5.3.3. Pemakaian peralatan yang aman dan tidak memicu api.

6.

PENILAIAN RESIKO KEBAKARAN SAAT KONSTRUKSI


Penilaian resiko kebakaran saat konstruksi mengunakan table di bawah ini :
KRITERIA
Lama
Pekerjaan
Dampak bagi
perawatan
pasien
Bahaya
bahan
bangunan

>3 bulan
(40)
Area rawat
inap
(40)
Bahan
mudah
terbakar
(50)

1-3 bulan
(25)
Area rawat
jalan
(30)
Bahan dapat
terbakar
(40)

Bahaya
metode
konstruksi

Pengelasan
dengan api
terbuka
(50)

Memproduksi
panas
(40)

Pemisah api
dan asap

Pemisah
tidak ada
(40)
>2 jalan
keluar
tertutup
(50)
Berbagai
zona atau
sistim tidak
berfungsi
(40)

Lubang atau
jarak besar
(30)
2 jalan keluar
tertutup
(35)

Partisi tidak
tahan asap
(50)
Berbagai
tempat
penyimpanan
di zona
(40)

Banyak
partisi
(40)
Satu tempat
penyimpanan
di zona
(25)

Jalan keluar
tertutup
(50)

Satu jalan
keluar
tertutup
(50)

Jalan keluar

Dampak
terhadap
alarm
kebakaran
dan sistim
sprinkler
Partisi
konstruksi
sementara
Area
penyimpanan

Akses ke
gedung dan
eksterior

Total Point :

< 50

< 1 bulan
(15)
Area staf dan
pengunjung
(25)

Lubanglubang kecil
(20)
1 jalan keluar
tertutup
(25)

1-2 lubang
kecil
(10)
Tangga
keluar
terhambat
(10)
Bekerja pada
sistim alarm
tidak
berfungsi
(10)

Satu partisi
(30)

celah kecil
(25)

Satu zona
tidak
berfungsi
(25)

Dievaluasi oleh :

< 2 minggu
(10)
Hanya area
staf
(10)

Tempat
penyimpanan
di tempat
yang
berdekatan
(25)
Eksterior
Gedung
tertutup >75
(35)

< 1 minggu
(0)
Tidak dipakai
(0)
Bahan
dengan
bahaya
rendah
(0)
Hanya
metode
bahaya
rendah
(0)
Pemisah
tahan 1 jam
(0)
Tak ada
gangguan
jalan keluar
(0)
Sistim
berfungsi
penuh
(0)

Tidak ada
bukaan 1 jam
(0)
Tidak ada
tempat
penyimpanan
di zona
(0)
Tidak ada
hambatan di
seluruh
gedung
(0)

Tanggal :

: Tak perlu pengawasan khusus

Hal 3 dari 6

dr. Taufik Santoso www.lean-indonesia.blogspot.com

50 95
: Perlu pengawasan kebakaran harian
100 245 : Perlu pengawasan api tiap jam
>250
: Perlu pengawasan api terus menerus 24/7
Sumber : Elmhurst Memorial Healthcare

7.
7.1.

DETEKSI DINI KEBAKARAN DAN ASAP


Deteksi dini kebakaran di RS Sehat Sejahtera dilakukan dengan metode sistem proteksi aktif,
yakni alarm dengan sensor panas maupun asap. Alarm dihubungkan dengan sentral monitor
sehingga lokasi alarm yang berbunyi dapat diketahui oleh sistem deteksi di RS Sehat Sejahtera.

7.2.

Deteksi dini dapat juga dilakukan secara manual dengan cara pengaktifan manual alarm
kebakaran yang ada di setiap lantai pada box hydrant, sehingga setiap staf yang melihat adanya
kebakaran skala kecil dapat mengaktifkan secara manual sistem alarm kebakaran yang memacu
aktivasi sistem penanggulangan kebakaran.

8.
8.1.

PENGURANGAN KEBAKARAN DAN PENAHANAN ASAP


Sistim Perlindungan Pasif
Sistem Perlindungan kebakaran pasif adalah kontruksi atau rakitan yang mempunyai sifat
menahan api atau asap yang dimaksudkan untuk:
8.1.1. Mengurung atau membatasi pergerakan api dan atau asap ke daerah spesifik di dalam
bangunan.
8.1.2. Mengendalikan penjalaran api dan asap di dalam bangunan
8.1.3. Meminimalkan bahaya atau memperlambat kegagalan dan distorsi komponen struktur
bangunan dan menyediakan jalan ke luar yang aman
8.1.4. Suatu sarana/bahan tahan api yang berfungsi untuk melindungi struktur bangunan
terutama konstruksi baja dari bahaya deformasi struktur akibat panas api tanpa perlu
diaktifkan/dioperasikan
8.1.5. Difungsikan untuk memberikan waktu yang cukup pada saat terjadinya kebakaran,
sehingga evakuasi korban dan penghuni dapat diselamatkan
8.1.6. Memperkecil resiko penyebaran/penjalaran api sehingga tidak menimbulkan
kerusakan/kerugian yang lebih besar ataupun melokalisir kebakaran diarea tersebut

8.2.

Proteksi kebakaran pasif tidak memerlukan suatu intervensi baik manual atau otomatik dari
operasi normal bangunan.
Proteksi kebakaran pasif meliputi:
8.2.1. Sistem/ rakitan langit-langit.
8.2.2. Dinding kompartemen.
8.2.3. Dinding dan partisi tahan api.
8.2.4. Tangga kebakaran, lantai, damper kebakaran, cerobong udara.
8.2.5. Proteksi rangka struktur bangunan, membran atau partisi horizontal.
8.2.6. Pintu tahan api ( pintu dan perlengkapan seperti kaca tahan api, daun pintu, rangka,
engsel, pengunci dan penutup pintu otomatik ), ditempatkan di setiap pintu menuju tangga
darurat dan di koridor ruang perawatan pasien.

8.3.

Sistim Perlindungan Aktif


Sistem perlindungan kebakaran aktif, sistem mekanikal atau elektrikal yang memerlukan
intervensi manual atau secara otomatik untuk mendeteksi dan memadamkan atau
mengendalikan kebakaran atau asap. Sistem proteksi aktif meliputi :
8.3.1. Sistim Deteksi & Alarm
Detektor panas dan detektor asap menggunakan system addressable yaitu setiap titik
detector bila terjadi indikasi kebakaran akan termonitor posisi detector yang sedang aktif
sesuai ruangan terpasang. Total digedung yang terpasang berjumlah 973 titik smoke dan
10 heat detector & 65 konvensional. Sistem deteksi alarm dapat dimonitor di Fire Control
Central dan Posko Keamanan. Saat terjadi General alarm system terintegrasi sarana
gedung meliputi : Lift stand by semua di lantai 1 tidak bisa dioperasional saat terjadi
kebakaran. Menonaktifkan AC Central, mengaktifkan Pressurize Air Fan, mengaktifkan
smoke extrak fan, membuka semua pintu access card public area, membuka pintu kaca

Hal 4 dari 6

dr. Taufik Santoso www.lean-indonesia.blogspot.com

di emergency dan lobby utama dan mengaktifkan paging seluruh gedung dengan
pengumumuman perintah evakuasi seluruh gedung.
8.3.2. Sistim Pemadam Api
i.
Water Base
Hydrant berjumlah 44 buah, dilayani oleh pompa kebakaran terdiri dari Pompa
Pacu, Pompa Elektrik dan Pompa Diesel. Ketersediaan air pemadam kebakaran
berfungsi untuk menyediakan air pemadam kebakaran selama 60 menit. Tanki
air pemadam kebakaran ini berkombinasi dengan tangki air bersih berlokasi
menjadi satu dengan pompa kebakaran yaitu di basement 1,2 dan 3 sebagai
utility area.
Sprinkler jenis Glass Bulb type: pendant, Up right, Concead dengan derajat
panas 68 C, total terpasang 3088 titik.
ii. Chemical Base
Alat Pemadam Api Ringan (APAR)/ Fire Extinguisher diletakkan di setiap selasar
dan public area dan area-area beresiko tinggi, seperti kitchen, area-area listrik,
area bahan bakar, housekeeping, sentral gas medik dan LPG, ruang pompa.
Tersedia 2 jenis bahan yaitu powder dan CO2 dan total tersedia siap pakai 150
tabung APAR
Ansul inert gas system, yang terdapat di kitchen umum, kitchen cafeteria, IT,
Electric Room.

9.
9.1.

9.2.

JALAN KELUAR YANG AMAN DARI FASILITAS


RS Sehat Sejahtera telah merencanakan jalan keluar yang aman dari fasilitas. Setiap area di
RS Sehat Sejahtera dilengkapi dengan rambu-rambu jalur evakuasi menuju pintu darurat yang
dapat menyala dalam kegelapan. Koridor dirancang menggunakan kompartemen dan pintu
darurat dirancang tahan api selama 2 jam sehingga aman untuk proses evakuasi. Tangga
darurat dilengkapi jalur evakuasi menuju area berkumpul dan lampu darurat dengan tenaga
baterai, sehingga dapat tetap menyala dalam kondisi arus listrik terputus dengan durasi waktu 1
s/d 2 jam nyala. Hal ini sesuai dengan KEPMENNEG Pekerjaan Umum No. 10/KPTS/2000
Tentang: Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung
Dan Lingkungan.
Terdapat 4 tempat titik kumpul evakuasi yang tersedia saat dilakukan evakuasi seluruh gedung
yaitu di taman belakang & halaman depan main hall.

INSPEKSI, PENGUJIAN, DAN PEMELIHARAAN SISTIM DETEKSI DAN PENGURANGAN


KEBAKARAN
10.1. Program inspeksi, pengujian, dan pemeliharaan sistim deteksi dan pengurangan kebakaran
dilakukan secara teratur. Seluruh kegiatan dilakukan sesuai waktu yang telah ditentukan dan
hasilnya dicatat dan disimpan untuk evaluasi dan peningkatan.
10.

10.2. Perizinan sarana dan prasarana kebakaran ditinjau instansi Pemerintah Depnakertrans 1 tahun

sekali untuk ketentuan kelayakan.

11.

KEBIJAKAN / PROSEDUR DILARANG MEROKOK


Kebijakan Kawasan Dilarang Merokok No.: POL-RSSS-COS-005. RS Sehat Sejahtera adalah
area / lingkungan bebas tembakau / rokok baik di dalam maupun di luar rumah sakit. Merokok
dilarang di mana saja di area RS Sehat Sejahtera, termasuk di depan dan di trotoar sekeliling
bangunan rumah sakit. Merokok juga dilarang di bangunan yang disewakan. Sebagai pengawas
dan pelaksana kebijakan ini dilakukan oleh Satgas yang berasal dari keamanan gedung untuk
melakukan patroli dengan identitas tersendiri sesuai standard BPLHD setempat.

12.

EDUKASI DAN PELATIHAN


Pelatihan staf dan tenaga outsource yang berhubungan dengan pencegahan dan
penanggulangan kebakaran dilakukan pada saat orientasi karyawan baru dan secara periodik
setiap tahun untuk staf dan tenaga outsource lama. Materi yang diberikan meliputi:

Hal 5 dari 6

dr. Taufik Santoso www.lean-indonesia.blogspot.com

12.1. Apa yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran (R = Rescue, A = Alarm, C = Confine by closing

door, E = Extinguish or evacuate)


12.2. Upaya-upaya pencegahan kebakaran, termasuk larangan merokok dan penanganan bahan

mudah terbakar/ mudah meledak.


12.3. Deteksi dini dan penanggulangan dini kebakaran, termasuk cara penggunaan APAR (P = Pull

the pin, A = Aim the nozzle, S = Squeze the handle, S = Sweep from side to side)
12.4. Jalur evakuasi kebakaran dan assembly area.

13.

PEMANTAUAN DAN KEPATUHAN


Kinerja departemen dan karyawan dipantau pada saat ronde lingkungan dan audit. Pada saat
ronde lingkungan, dilakukan juga pengujian secara acak kepada staf dan outsource perihal apa
yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran (R.A.C.E. dan P.A.S.S.). Kepatuhan dengan
kebijakan dan prosedur dinilai dan dilaporkan kepada Health & Safety Committee.

14.
14.1.
14.2.
14.3.
14.4.

REFERENSI
University of Kentucky Hospital Fire Safety Management Plan 2004
Elmhurst Memorial Healthcare construction risk assessment
Permen 04-1980, Tentang Pemasangan dan Pemeliharaan APAR
Kepmenpu No. 10/KPPTS/2000, Tentang : Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya
Kebakaran Pada Bangunan Gedung & Lingkungan

Hal 6 dari 6

dr. Taufik Santoso www.lean-indonesia.blogspot.com