Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KEPANITERAAN PROSTODONSIA

GIGI TIRUAN LENGKAP

Disusun oleh :
Rizka Maulita Widyasari
10/305636/KG/08786

Dosen Pembimbing :
drg. Murti Indrastuti, M. Kes, Sp. Pros (K)
BAGIAN PROSTODONSIA
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015
1

I. Pendahuluan
Prostodonsia, menurut Glossary of Prosthodontics merupakan spesialisasi bidang
kedokteran gigi yang meliputi diagnosis, rencana perawatan, dan pertahanan fungsi oral,
kenyamanan, penampilan dan kesehatan kondisi klinis pasien terkait dengan penggantian gigi
atau jaringan maksilofasial yang hilang atau mengalami defisiensi menggunakan bahan yang
biokompatibel. Kayser (1996), menyatakan bahwa kehilangan satu atau lebih gigi posterior tanpa
penggunaan gigi tiruan dapat menyebabkan terjadinya migrasi gigi asli yang tersisa dalam
bentuk tipping atau rotasi, ekstrusi gigi antagonis, terbukanya kontak proksimal sehingga terjadi
impaksi makanan, resorbsi tulang alveolar pada tempat hilangnya gigi, gangguan keseimbangan
oklusal, kehilangan dimensi vertikal oklusal, beban berlebih pada regio anterior, gangguan fungsi
mastikasi berkaitan dengan mengunyah satu sisi atau mengunyah dengan gigi anterior dan
gangguan sendi temporomandibula. Walaupun disepakati bahwa geligi bukanlah bagian tubuh
terpenting untuk mempertahankan hidup, hilangnya gigi dapat menyebabkan banyak masalah
mulai dari resorbsi struktur tulang, hilangnya dukungan tulang wajah, menimbulkan keriput pada
wajah sehingga penampilan menjadi lebih tua, dan kerusakan geligi yang tersisa yang masih
harus menahan tekanan pengunyahan. Selanjutnya, bila seseorang telah menderita kesukaran
atau gangguan pencernaan, efisiensi mastikasi menjadi sangat penting dan perbaikan atas
kelainan ini menjadi sangat vital (Gunadi dan Setiabudi, 1995).
Ilmu prostodonsia adalah cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari cara
penggantian gigi yang hilang dengan suatu gigi tiruan. Berdasarkan jumlah gigi hilang yang akan
diganti dengan gigi tiruan, gigi tiruan dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu:
a)

Gigi Tiruan Sebagian Lepasan

b)

Gigi Tiruan Sebagian Cekat

c)

Gigi Tiruan Lengkap


Gigi tiruan lengkap (GTL) adalah bagian dari prostodonsia yang mencakup restorasi dan

prosedur yang dilakukan pada pasien yang kehilangan seluruh giginya. GTL dibuat untuk
mengganti semua gigi asli beserta jaringan pendukung gigi yang hilang. Seseorang yang telah
hilang semua gigi-geliginya dapat mengalami hambatan pada fungsi bicara, estetik dan fungsi
pengunyahannya.
2

Tujuan Pembuatan gigi tiruan lengkap adalah sebagai berikut:


1.

Merehabilitasi seluruh gigi yang hilang sehingga dapat


memperbaiki atau mengembalikan fungsi bicara, pengunyahan, estetis, dan psikis.

2.

Memperbaiki kelainan, gangguan, dan penyakit yang


disebabkan oleh keadaan edentulous.
Indikasi pembuatan gigi tiruan lengkap adalah sebagai berikut:

1.

individu yang kehilangan seluruh gigi karena dicabut atau tanggal

2.

individu yang masih mempunyai beberapa gigi yang harus dicabut karena
kerusakan gigi yang tidak mungkin diperbaiki

3.

bila dibuatkan GTS gigi yang masih ada akan mengganggu keberhasilannya

4.

keadaan processus alveolaris masih baik

5.

keadaan umum dan kondisi mulut pasien baik

6.

pasien bersedia dibuatkan gigi tiruan lengkap (berhubungan dengan waktu,


biaya, dan prognosa).
Seseorang yang telah kehilangan gigi-geliginya, prosesus alveolarisnya akan mengalami

penyusutan, disebut residual ridge. Bentuk dan kompresibilitas ridge dan jaringan di bawahnya
bervariasi. Penyusutan alveolaris biasanya berjalan 2-3 minggu, tetapi ada yang sampai
berbulan-bulan.
Pembuatan GTL akan mencegah pengerutan/ atropi prosesus alveolaris (residual ridge),
berkurangnya vertikal dimensi yang disebabkan turunnya otot-otot pipi karena tidak ada
penyangga, dan hilangnya oklusi sentrik. Selama berfungsi rahang bawah (RB) berusaha
berkontak dengan rahang atas (RA) sehingga dengan tidak adanya gigi-gigi RA dan RB akan
menyebabkan hilangnya oklusi sentrik sehingga mandibula menjadi protusi dan hal ini
menyebabkan malposisi temporo-mandibula joint.
Pembuatan gigi tiruan lengkap diharapkan dapat menggantikan fungsi dari gigi asli yang
telah hilang dan jaringan gigi. Keberhasilan pembuatan GTL tergantung dari retensi dan
dukungan dari jaringan sekitarnya sehingga dapat dipertahankan keadaan jaringan yang normal.
Hal ini mencakup:
3

1. Kondisi mulut edentulous berupa: prosesus alveolaris, saliva, batas mukosa bergerak dan tidak
bergerak, kompresibilitas jaringan mukosa, bentuk dan gerakan otot-otot muka, serta bentuk
dan gerakan lidah.
2. Ukuran, warna, bentuk gigi dan gingiva yang cocok
3. Penetapan/ pengaturan gigi yang benar, meliputi: a) posisi dan bentuk lengkung deretan gigi,
b) posisi individual gigi, dan c) relasi gigi yang terjadi dalam satu lengkung dan antara gigigigi RA dan RB
4. Sifat dan material yang hampir sama dengan kondisi mulut.
Jaringan yang tidak bergerak di dalam mulut akan dijadikan landasan bagi gigi tiruan
lengkap. Batas antara jaringan yang bergerak dan tidak bergerak disebut mucobuccal fold atau
fornik. Batas ini harus diteliti dengan seksama untuk mengetahui batas yang tepat dari gigi tiruan
lengkap yang akan dibuat.
Perawatan pada pengguna GTL dapat dikatakan berhasil apabila GTL tersebut
1.

enak dipakai dan nyaman

2.

dapat mengembalikan fungsi bicara dan pengunyahan

3.

tampak cukup estetis

4.

dapat memelihara keadaan jaringan mulut

5.

cukup kuat.
GTL secara perlahan-lahan pasti akan menjadi longgar sejalan dengan terjadinya resorbsi

tulang dengan perubahan-perubahan fisiologis yang merupakan penyebab terjadinya resorbsi


tulang yang menjadi lebih cepat apabila tidak segera mendapat penanggulangan yang tepat.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Gigi tiruan lengkap adalah suatu penggantian gigi-gigi asli dalam suatu lengkung dan
menggabungkan bagian-bagiannya dengan penggantian artifisial (The Academy of Prosthodontic,
1994). Soelarko dan Herman (1980) memakai istilah Full Denture atau Complete Denture yang
artinya suatu gigi tiruan yang menggantikan seluruh gigi pada suatu lengkung rahang sehingga
kemudian dikenal dengan istilah sehingga ada istilah :
a. Upper Full Denture yaitu geligi tiruan penuh rahang atas
b. Lower Full Denture yaitu geligi tiruan penuh rahang bawah.
Pasien yang tidak bergigi mempunyai kecenderungan untuk memajukan mandibulanya
secara tidak sengaja dan berusaha untuk berkontak dengan rahang atas, hal ini dikarenakan
adanya perubahan (pengurangan) vertikal dimensi dan tidak adanya sentrik posisi sehingga jika
pasien dibuatkan gigi tiruan lengkap maka vertikal dimensi dan physiological rest posisinya akan
kembali seperti pada saat gigi asli masih ada.
Faktor retensi dan stabilisasi adalah faktor yang penting dalam keberhasilan gigi tiruan
lengkap. Retensi dapat didefinisikan sebagai kekuatan menahan dari suatu gigi tiruan terhadap
daya lepas pada saat gigi tiruan tersebut dalam keadaan diam. Pemeriksaan retensi dilakukan
dengan memasangkan gigi tiruan kuat-kuat dalam mulut dan mencoba melepaskannya dengan
gaya tegak lurus terhadap bidang oklusal. Bila gigi tiruan dapat bertahan terhadap gaya-gaya
tersebut, berarti gigi tiruan mempunyai retensi yang cukup.
Gaya-gaya fisik yang berhubungan dengan retensi GTL adalah:
1. Tekanan permukaan, meliputi adhesi antara saliva dengan gigi tiruan serta saliva dengan
mukosa.
2. Gaya-gaya dalam cairan, seperti tegangan permukaan saliva, gaya-gaya kohesi dalam cairan
saliva (viskositas saliva) semua mempengaruhi retensi gigi tiruan
3. Tekanan atmosfer, hal ini dapat menahan gaya-gaya yang akan melepaskan gigi tiruan asalkan
ada peripherial seal yang utuh.
Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi GTL, khususnya untuk GTL rahang atas, yaitu:
1. Faktor fisis :
a) Peripherial seal (sepanjang tepi GTL)
5

Efektifitas peripherial seal sangat mempengaruhi efek retensi dari tekanan atmosfer.
Posisi terbaik peripherial seal adalah di sekeliling tepi gigi tiruan yaitu pada permukaan
bukal gigi tiruan atas, pada permukaan bukal gigi tiruan bawah.
Peripherial seal bersambung dengan postdam pada rahang atas menjadi sirkular seal.
Sirkular seal ini berfungsi membendung agar udara dari luar tidak dapat masuk ke dalam
basis gigi tiruan (fitting surface) dan mukosa sehingga tekanan atmosfer di dalamnya
tetap terjaga. Apabila pada sirkular seal terdapat kebocoran (seal tidak utuh/ terputus)
maka protesa akan mudah terlepas. Hal inilah yang harus dihindari dan menjadi penyebab
utama terjadi kegagalan dalam pembuatan protesa gigi tiruan lengkap.
b) Postdam area atau posterior palatal seal, diletakkan tepat di sebelah anterior garis getar
dari palatum molle dekat fovea palatine. Postdam berbentuk bead dengan kedalaman 1
1,5 mm dan lebar 2 mm.
2. Adaptasi yang baik antara gigi tiruan dengan mukosa mulut. Ketepatan kontak antara basis
gigi tiruan dengan mukosa mulut tergantung dari efektifitas gaya-gaya fisik dari adhesi dan
kohesi, yang bersama-sama dikenal sebagai adhesi selektif.
3. Luasnya permukaan basis gigi tiruan yang menempel pada mukosa (fitting surface). Retensi
gigi tiruan berbanding langsung dengan luas daerah yang ditutupi oleh basis gigi tiruan.
4. Residual ridge oleh karena tidak ada lagi gigi yang dapat dipakai sebagai pegangan terutama
pada rahang atas.
5. Faktor kompresibilitas jaringan lunak dan tulang dibawahnya untuk menghindari rasa sakit
dan terlepasnya gigi tiruan pada saat berfungsi.
Menurut Basker dkk. (1996), kekuatan retentif memberikan kekuatan terhadap
pengungkitan gigi tiruan dari mukosa pendukung dan bekerja melalui 3 permukaan gigi tiruan:
1.

Permukaan oklusal (occlusal surface): bagian permukaan gigi tiruan yang berkontak atau
hampir berkontak dengan permukaan yang sesuai pada gigi tiruan lawan atau gigi asli.

2. Permukaan poles (polishing surface): bagian permukaan gigi tiruan yang terbentang dari tepi
gigi tiruan ke permukaan oklusal, termasuk permukaan palatal. Bagian basis gigi tiruan
inilah yang biasanya dipoles, termasuk permukaan bukal dan lingual gigi-geligi, dan
permukaan ini berkontak dengan bibir, pipi, dan lidah.
6

3.

Permukaan cetakan (finishing surface): bagian permukaaan gigi tiruan yang konturnya
ditentukan oleh cetakan. Bagian ini mencakup tepi gigi tiruan yang terbentang ke permukaan
poles.

Tekanan retentif yang berperan terhadap semua permukaan adalah tekanan otot dan tekanan fisik.
Stabilisasi pada gigi tiruan lengkap merupakan kekuatan menahan dari suatu gigi tiruan
terhadap kekuatan daya lepas pada saat gigi tiruan berfungsi (adanya tekanan fungsional). Faktor
stabilisasi GTL didapat dari pemasangan gigi-gigi pada processus alveolaris, tekanan yang
merata, balanced occlution, relief area, sliding, over jet dan over bite (Soelarko dan Herman,
1980).
TAHAP KLINIS
Tahap awal dari perawatan adalah anamnese dan indikasi, kemudian baru dilakukan
pencetakan. Pencetakan dilakukan untuk mendapatkan bentuk negatif dari jaringan mulut yang
nantinya akan digunakan sebagai basal seal gigi tiruan. Setelah hasil pencetakan diisi dengan
stone gips, maka akan didapatkan replikasi positif yang sama dengan bentuk jaringan mulut
(Swenson, 1964).
Cetakan jaringan mulut diperoleh dengan melakukan 2 macam cetakan, yaitu :
1) Cetakan anatomis (dalam keadaan tidak berfungsi)
Sendok cetak yang dipakai adalah sendok cetak biasa (stock tray). Saat mencetak tidak
dihiraukan tertekan atau tidaknya mukosa mulut. Bahan yang dipakai adalah alginat.
2) Cetakan fisiologis (dalam keadaan berfungsi)
Disini diperhatikan batas jaringan yang bergerak dan tidak bergerak dan mukosa tidak boleh
tertekan. Sendok cetak yang digunakan adalah sendok cetak individual dari sellac atau self
curing acrylic resin. Bahan cetak yang digunakan adalah plaster (xanthano), Zn-Oxyd pasta
atau rubber base impression paste. Jarak pinggir sendok cetak dengan fornik dibuat 1-2 mm,
supaya tepi cetakan nanti tidak meruncing tetapi membulat. Hasil cetakannya digunakan
sebagai work model.
Kedua jenis cetakan tersebut dilakukan untuk mendapatkan hasil cetakan seakurat mungkin,
dikenal sebagai double impression.
Cara membuat sendok cetak individual (Itjiningsih, 1993):
7

Shellac dipanaskan pada model studi sambil ditekan. Lakukan pemotongan sesuai dengan
batas jaringan bergerak dan tidak bergerak. Bila dikehendaki dapat 1-2 mm lebih rendah untuk
memberi tempat pada bahan cetak asal jangan mudah lepas dari rahang pasien. Buatlah pegangan
sendok individual dan buat pula lubang dengan bur bulat no. 3 pada daerah palatum, berjarak 4-5
mm. Kegunaan lubang ini adalah untuk mengalirkan bahan cetak yang berlebih karena bila
tertahan akan menyebabkan tekanan yang berlebih dari geligi tiruan pada jaringan
pendukungnya.
TAHAP LABORATORIS
Pembuatan gigi tiruan di dalam mulut perlu memperhatikan keadaan jaringan di
sekitarnya, yaitu jaringan yang bergerak dan tidak bergerak. Jaringan yang tidak bergerak
dijadikan sebagai landasan gigi tiruan penuh, dengan membuat batas antara jaringan mulut
bergerak dan jaringan mulut tidak bergerak yang serapi-rapinya dan seakurat mungkin akan
mempengaruhi hasil dan suksesnya pembuatan gigi tiruan lengkap.
Selain itu pembuatan GTL perlu memperhatikan pendukung utama, yaitu residual ridge
karena tidak adanya gigi asli yang dapat digunakan sebagai pegangan. Agar tercapai hasil yang
baik juga diperlukan artikulator sebagai alat yang berguna untuk mendapatkan bentuk tiruan
rahang manusia yang menirukan gerakan rahang pada saat artikulasi.
Pembuatan base plate diklasifikasikan dalam 2 golongan (Jehl, 1959), yaitu:
1.

Temporer base, bila digunakan untuk perlekatan oklusal rim guna


merestorasi facial dari rahang atas dan rahang bawah.

2.

Permanent base, berguna untuk mencatat posisi relasi rahang dan


menempatkan gigi-gigi.

Baseplate adalah suatu bentuk sementara yang mewakili dasar gigi tiruan dan digunakan
untuk membuat Maxillo-Mandibular Record, menempatkan gigi-gigi dan untuk insersi ke dalam
mulut, sedangkan bite rim yang disebut juga tanggul gigitan dibuat diatas base plate yang telah
dihaluskan dengan menggunakan modelling wax (Swenson, 1964). Bite rim digunakan untuk
meletakkan gigi sebelum diganti dengan acrylic dan mencatat maxillo-mandibular relation pada
pasien. Bite rim atas harus sejajar dengan garis pupil dan bite rim harus kelihatan kira-kira 2 mm
8

di bawah garis bibir atas dan lehernya harus mengikuti general out line processus alveolaris
(Soelarko dan Wachijati, 1980).
Vertikal dimensi disebut juga tinggi gigitan, dapat dicari dengan pengukuran jarak pupil
dan sudut mulut akan sama dengan jarak hidung dengan dagu (PM=HD) dalam keadaan oklusi
sentrik (Soelarko dan Wachijati, 1980). Oklusi sentrik adalah hubungan kontak maksimal dari
gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah, terjadi ketika RA dan RB dalam relasi sentrik, yaitu
keadaan di mana processus condiloideus berada pada posisi paling belakang dari fossa glenoidea
(Swenson, 1964).
Artikulator mounting adalah memasang bite rim rahang atas dan rahang bawah dari mulut
pasien ke artikulator bersama modelnya setelah penentuan dimensi vertikal maupun oklusi
sentrik (Basker et al, 1996).
Pemasangan gigi geligi yang penting terutama untuk gigi anterior. Hal ini berhubungan
dengan estetis (ukuran, bentuk, warna), walaupun demikian tidak kalah pentingnya pemasangan
gigi posterior. Gigi posterior tidak harus sama ukurannya dengan gigi asli, tetapi lebih kecil,
tujuannya untuk mengurangi permukaan pengunyahan agar tekanan saat pengunyahan tidak
memberatkan jaringan pendukung
Untuk pemasangan gigi yang harus diperhatikan adalah personality expression, umur,
jenis kelamin yang mana nantinya akan berpengaruh dalam pemilihan ukuran, warna dan kontur
gigi. Disamping itu juga perlu diperhatikan keberadaan over bite, over jet, curve von spee, curve
manson, agar diperoleh suatu keadaan yang diharapkan pada pembuatan gigi tiruan lengkap.

III.LAPORAN KASUS
A. Identifikasi
Nama pasien

: Sutinah

Umur

: 59 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Wiraswasta

Bangsa

: Indonesia

Alamat

: Ngampilan

No. Kartu

: 123930

Tgl pemeriksaan :
B. Anamnesis
Pemeriksaan Subyektif
Motivasi : Pasien datang atas kemauan sendiri untuk dibuatkan gigi tiruan yang baru karena
gigi tiruan yang lama sudah tidak nyaman.
CC

: Merasa terganggu pengunyahannya karena gigi tiruan yang lama sudah longgar.

PI

: Kesulitan untuk mengunyah makanan dan berbicara

PDH

: Pernah mencabutkan gigi-gigi tanpa komplikasi. Sudah pernah memakai gigi


tiruan.

PMH

: Tidak dicurigai menderita penyakit sistemik tertentu

FH

: Ayah : Sudah meninggal, tidak mempunyai riwayat penyakit sistemik


Ibu

: Sudah meninggal, tidak mempunyai riwayat penyakit sistemik

Pemeriksaan Obyektif
Umum :
Jasmani : sehat, tak ada kelainan
Rohani

: komunikatif dan kooperatif

10

Lokal :
Ekstra oral : Wajah

Intra oral

: oval, simetris, tak ada kelainan

Profil

: lurus

Pipi

: simetris, tak ada kelainan

Bibir

: simetris, tak ada kelainan

Limfonodi

: tak ada kelainan

: Mukosa

: normal, tak ada kelainan

Palatum

: tinggi, tak ada kelainan

Rugae palatina : normal


Lidah

: normal, tak ada kelainan

Gingiva

: normal, tak ada kelainan

Keadaan gigi geligi : full edentulous


Pemeriksaan Processus Alveolaris:
a. Rahang Atas

: posterior kiri
anterior

: sedang
: tinggi

posterior kanan : sedang


b. Rahang Bawah

: posterior kiri
anterior

: rendah
: sedang

posterior kanan : rendah


Bentuk Lengkung
a. Maksila

: ovoid

b. Mandibula : square

11

Gambar Batas-batas Anatomis


Rahang Atas
Keterangan :
1. Frenulum labialis superior
2. Frenulum buccalis
3. Vibrating line
4. Hamular notch
5. Fornix
6. Sulkus bukal
7. Torus palatinus
8. Fovea palatina
9. Rugae palatina
10. Tuberositas maksilari

Rahang Bawah
Keterangan :
1. Frenulum labialis superior
2. Frenulum buccalis
3. Frenulum lingualis
4. Retromolar pad
5. Fornix
6. Sulkus lingual
7. Sulkus bukal

IV. RENCANA PERAWATAN


12

1. KUNJUNGAN I
Tahap Klinis
a)

Membuat cetakan studi model


Sendok cetak

: RA : edentulous stock tray no.3


RB : edentulous stock tray no.3

Bahan cetak
b)

: hydrocolloid irreversible (alginat)

Metode mencetak
mukostatik

c)

Cara mencetak
Mula-mula dibuat adonan sesuai perbandingan P/W yaitu 3:1, setelah dicapai konsistensi
tertentu, alginat dimasukkan ke dalam sendok cetak dengan merata, kemudian
dimasukkan ke dalam mulut dan ditekan pada prosesus alveolaris rahang atas dan atau
rahang bawah dengan otot-otot bibir dan pipi ditarik. Disamping itu dilakukan muscle
trimming agar bahan cetak mencapai lipatan mukosa. Posisi dipertahankan sampai
setting, kemudian sendok cetak diambil dan diamati bila ada kekurangan. Posisi operator
pada saat mencetak rahang atas adalah di kanan belakang pasien dan pada saat mencetak
rahang bawah adalah di kanan depan pasien. Selanjutnya hasil cetakan diisi dengan stone
gips.

Tahap Laboratoris
Membuat sendok cetak individual
Hasil cetakan diisi stone gips dan disebut model study. Kemudian dari model study dibuat
sendok cetak individual dari bahan sellac base plate, dengan batas 2 mm lebih pendek dari batas
GTL (sendok cetak posterior atas harus mencapai ahline atau >1mm), agar tersedia ruang yang
cukup untuk ketebalan bahan cetak pembentuk tepi (border material). Shellac dilunakkan
dengan cara dipanaskan di atas lampu spiritus lalu ditekan diatas study model (yang telah
dibasahi air/ diberi baby powder) dan ditekan dengan menggunakan handuk basah. Sellac
dipotong sesuai batas-batas yang telah digambar pada study model. Shellac dipotong dengan
menggunakan gunting saat masih lunak atau dengan bur bila sudah mengeras (Utari, 1994). Pada
13

daerah molar dan kaninus kanan dan kiri dibuat stop vertikal dari wax sebagai batas penekanan
saat mencetak sedangkan untuk rahang atas ditambah dengan pembuatan postdam area yang
juga dari wax untuk menahan bahan cetak agar tidak mengalir ke belakang. Selanjutnya dibuat
lubang-lubang pada sendok cetak untuk mengalirkan kelebihan bahan cetak, karena apabila
tertahan akan menyebabkan tekanan yang berlebihan pada gigi tiruan pada jaringan
pendukungnya, sehingga lubang dibuat pada daerah yang tidak menerima tekanan. Lubang
dibuat dengan mengunakan bur bulat no. 8 dengan jarak masing-masing lebih dari 5 mm. Pada
individual tray juga dibuat pegangan yang diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu pergerakan rahang saat pencetakan.

2. KUNJUNGAN II
Tahap Klinis
Membuat cetakan model kerja/Final Impression
a) Mencoba sendok individual
Stabilisasi : dengan menghindari muscular attachment
Relief area : tercakup semua pada rahang atas
b) Membuat cetakan model kerja
Rahang Atas
1. Sendok cetak

: Sendok cetak individual shellac base plate

2. Bahan cetak

: Elastomer (Exaflec) tipe monophase 7cm

3. Metode mencetak : mukodinamik


4. Cara mencetak
Bahan cetak diaduk, setelah mencapai konsistensi tertentu kemudian dimasukkan ke
dalam sendok cetak individual. Masukkan sendok cetak ke dalam mulut dengan posisi
operator di samping kanan belakang, kemudian sendok cetak ditekan ke processus alveolaris.
Dilakukan muscle triming supaya bahan cetak mencapai lipatan mukobukal. Caranya pada
saat sendok cetak di dalam mulut, dilakukan gerakan rahang bawah ke kiri dan ke kanan
kemudian pipi dan bibir ditarik ke atas kemudian ke bawah untuk mencetak lipatan
mucobuccal, mengucapkan oh untuk mencetak frenulum buccalis. Sedangkan untuk
14

mendapatkan cetakan frenulum labialis superior, pasien diinstruksikan untuk mengucapkan


huruf U. Untuk mendapatkan post dam area, pasien diinstruksikan mengucapkan ah
sehingga tampak batas antara pallatum durum dan pallatum molle yang disebut vibrating line.
Posisi dipertahankan sampai bahan cetak setting kemudian sendok cetak dilepas dan dicuci.
Garis ah pada batas tersebut digambar dengan pensil tinta kemudian dicetak/ dimasukkan
kembali ke rahang atas sehingga garis tinta akan luntur pada cetakan dan dapat digunakan
untuk menandai ah line. Mukodinamik RA adalah dengan menggerak-gerakan RB.
Rahang Bawah
1. Sendok cetak

: Sendok cetak individual shellac base plate

2. Bahan cetak

: Elastomer (Exaflec) tipe monophase 4cm

3. Metode mencetak : mukodinamik


4. Cara mencetak
Caranya sama seperti pada rahang atas, disini pasien diminta menjulurkan lidah. Bibir dan
pipi digerakkan agar bahan cetak dapat mencapai bukal flange. Mukodinamiknya dengan
menjulurkan lidah dan mecucu serta bilang u. Posisi dipertahankan sampai setting. Kemudian
sendok cetak dilepaskan dari mulut.
Setelah diperoleh cetakan yang akurat. Kemudian diisi dengan gips biasa dan gips stone
dengan perbandingan 1:1. Pekerjaan kemudian dilanjutkan dengan menentukan batas tepinya,
memperhatikan daerah mukosa yang bergerak dan tidak bergerak, kemudian ditentukan relief
area maupun non relief area. Ditentukan pula posterior palatal seal dan membuat seal. Setelah
model malam selesai, base plate diganti dengan resin akrilik.
Tahap Laboratoris
Membuat base plate
Setelah diperoleh cetakan yang akurat, kemudian diisi dengan stone gips. Setelah diperoleh
model kerja, ditentukan batas tepi, memperhatikan daerah mukosa yang bergerak dan tidak
bergerak, kemudian ditentukan relief area. Pada relief area dibuat postdam, ditentukan pula
posterior palatal seal dan membuat seal. Batas tepi untuk rahang atas adalah peripheral seal
dibatasi fornik dan posterior seal dibatasi oleh hamular notch dan 2 mm di belakang batas
15

palatum keras dan palatum lunak. Sedangkan batas tepi untuk rahang bawah adalah peripheral
seal dibatasi fornik, posterior seal dibatasi oleh 2/3 bagian trigonum retromolar dan
media/lingua dibatasi oleh linea mylohyoidea. Menurut batas-batas tersebut dibuat base plate
dari wax. Base plate harus benar-benar menempel pada work model.

3. KUNJUNGAN III
Tahap Klinis
1. Try in base plate
Retensi dan stabilisasi diperhatikan. Insersi base plate, retensi dan stabilisasi
diperhatikan. Retensi adalah daya tahan gigi tiruan terhadap upaya pelepasan, sedangkan
stabilisasi adalah daya tahan gigi tiruan untuk tetap di tempat ketika fungsi pengunyahan
berlangsung. Retensi yang baik diperoleh jika base plate tidak lepas dari tempatnya saat pasien
diam. Retensi dapat di amati dengan memberikan tekanan pada salah satu sisi gigi tiruan (jika
gigi tiruan terungkit, maka gigi tiruan tersebut tidak retentif) atau dengan memberikan usaha
pelepasan (gigi tiruan yang retentif adalah gigi tiruan yang sulit dilepas). Stabilisasi dicek dengan
menarik pipi dan bibir pasien agar dapat terlihat base plate terbebas dari muscular attachment
atau tidak. Stabilisasi dapat diamati dengan menggerakkan otot-otot pipi, lidah dan mengucapkan
ah. Gigi tiruan yang stabil merupakan gigi tiruan yang tidak berubah tempat ketika difungsikan.
Retensi gigi tiruan ditentukan oleh letak seal dan adhesi/kohesi saliva. Kesesuaian letak
seal dilakukan dengan menggerakkan otot pipi. Jika alat terjatuh ketika otot digerakkan, berarti
terdapat over extension plat. Solusi keadaan ini adalah dengan mengurangi plat. Sebaliknya, jika
seal pada plat under extension, maka kohesi dan adhesi saliva berkurang, dan alat menjadi tidak
retentif. Solusi keadaan ini adalah dengan membuat plat yang baru.

2. Membuat bite rim dan pencatatan Maxillo Mandibular Relationship (MMR)


Setelah diperoleh retensi dan stabilisasi base plate yang baik lalu base plate dihaluskan
dan diatasnya dibuat bite rim dari wax. Bite rim berbentuk tapal kuda dan diletakkan diatas

16

base plate untuk memperoleh tinggi gigitan pada keadaan oklusi sentrik yang nantinya akan
dipindahkan ke artikulator. Yang perlu diperhatikan dalam membuat bite rim yaitu:
Ukuran bite rim rahang atas : anterior lebar 4 mm dengan tinggi 2 mm di bawah bibir

atas, posterior lebar 6 mm. Bagian posterior pada oklusal dibagi dua oleh garis alveolar
ridge menjadi bagian bukal 4 mm dan palatinal 2 mm.
Ukuran bite rim rahang bawah sesuai dengan rahang atas tetapi bagian oklusal posterior

dibagi oleh garis alveolar ridge menjadi 3 mm untuk bagian bukal dan 3 mm untuk bagian
lingual.
Bite rim yang telah sesuai ukuran dicobakan ke mulut pasien untuk melihat profilnya
(seimbang, isotonus). Jika bibir pasien masih terlihat tertekan (masuk) maka bite rim anterior
dibuat lebih protrusif. Jika pipi pasien terlihat cekung maka bite rim di bagian bukal
ditambah dengan wax. Setelah itu dilakukan pencatatan MMR. Mula-mula pasien
dipersilakan duduk pada dental chair, dataran oklusal diusahakan sejajar dengan lantai.
Tentukan garis chamfer yang berjalan dari ala nasi ke tragus/ porion dari titik-titik berikut
ini:
13 mm dari meatus acusticus externus telinga kanan dan kiri ke arah chantus/ sudut mata
yang menjadi panduan letak kondilus
Spina nasalis anterior
kemudian ketiga titik tersebut ditandai dengan benang dan diisolasi. Selanjutnya bite rim RA
dipasang dengan posisi:
bite rim terlihat 2 mm di bawah garis bibir atas saat rest posisi
bila dilihat dari depan, bite rim RA tampak sejajar dengan garis pupil (dilihat dengan
bantuan occlusal guide plane)
bila dilihat dari samping, bite rim RA tampak sejajar dengan garis chamfer (dilihat dengan
bantuan occlusal guide plane)
Setelah diperoleh kesejajaran oklusal RA maka bite rim RB dipasang. Saat bite rim RB
dipasang, bite rim RA dan RB harus tertutup secara sempurna (tidak boleh ada celah dan
merupakan satu garis lurus).

17

Vertikal dimensi resposisi dicari dengan metode Willis, yaitu pengukuran jarak pupil dan
sudut mulut sama dengan jarak hidung dan dagu (PM = HD).
Dimensi vertical oklusi : physiologic rest position - freeway space = (PM=HD - 2 mm). Freeway
space 2 mm diperoleh dengan cara mengurangi bite rim rahang bawah. Ketepatan freeway space
ini dicek secara mekanik (diukur). Selain itu, diperlukan cek fonetik dengan pengucapan hurufhuruf tertentu yang pengucapannya memerlukan space, misalnya huruf s. Jika free way space
kurang, maka huruf S sulit terucap, demikian halnya jika free way space berlebihan (terasa
semburan saliva ketika pengucapan huruf S), dan pengecekan dimensi vertikal oklusi yaitu
dengan pengucapan huruf M. Kemudian dicek estetisnya, yang dikurangi bite rim RB.
3. Centric relation record
Centric relation record adalah suatu relasi mandibula terhadap maxilla pada suatu relasi
vertikal yang ditetapkan pada posisi paling posterior. Cara menentukan relasi sentrik dengan
metode Shanahan, yaitu dengan menginstruksikan pasien untuk menengadahkan kepala
kemudian membuka dan menutup mulut sampai lelah sampai pasien biasa dengan oklusi tersebut
sehingga mandibula akan menutup ke posisi normal. Pasien diminta nggeget, buka tutup, dan
menelan ludah. Setelah diperoleh relasi sentrik, bite rim diberi tanda pada 3 tempat, yaitu median
line dan garis kaninus kanan-kiri. Median line diambil sebagai terusan dari tengah lekuk bibir
atas (philtrum) pasien untuk menentukan garis tengah yang memisahkan insisivus kanan dan kiri.
Garis kaninus, yaitu tepat pada sudut mulut dalam keadaan rest posisi. Pasien diminta untuk
membuka dan menutup mulut lalu dilihat apakah garis tersebut sudah tepat dan tetap pada
kedudukannya dalam keadaan relasi sentrik. Incisal guide ditentukan untuk pemasangan gigi
anterior atas dan bawah serta agar memenuhi nilai estetis. Saat pemasangan gigi anterior harus
diingat high lip line, median line, dan caninus line.
4. Fiksasi
Setelah diperoleh relasi sentrik, dilakukan fiksasi pada bite rim rahang atas dan rahang
bawah dengan metode double Vgroove shape. Caranya:
a. groove berbentuk V dibuat pada kanan dan kiri bite rim RA (kira-kira pada bagian P1 dan
M1)

18

b. V-groove diolesi vaselin, bite rim RB dikurangi sesuai dengan letak V-groove, record block
rahang atas dan rahang bawah dimasukkan ke dalam mulut dan pasien diinstruksikan
melakukan oklusi sentrik lalu bite rim rahang bawah diberi tambahan wax. Mulut
dikatupkan lalu dilihat apakah V-groove dan kontranya sudah tepat. Lakukan buka tutup
mulut berulang-ulang.
Tahap Laboratoris
Pemasangan pada artikulator ( free plane articulator )
Setelah oklusal bite rim RA dan RB selesai difiksir, letakkan oklusal bite rim RA pada
mounting table dengan pedoman :
garis tengah bite rim dan model RA berhimpit dengan garis tengah mounting

table.

tepi luar bite rim RA menyinggung garis incisal edge dari mounting table.

jarum horizontal incisal guide pin ujungnya menyentuh tepi luar anterior bite
rim RA dan tepat pada garis tengah bite rim.
Oklusal bite rim RA difixir dengan cara :

1. Upper member digerakkan ke atas dan adonan gips dituang perlahan pada bagian atas model
kerja RA, kemudian upper member digerakkan ke bawah atau menutup sampai menekan gips
yang ada pada model kerja RA. Upper member dan lower member digerakkan ke bawah atau
menutupi sampai menekan gips yang ada pada model kerja RA.
2. Upper member dan lower member diikat dengan karet dan gips yang memfixir upper
member dengan model RA dirapikan.
3. Mounting table dilepas dari artikulator, kemudian artikulator dibalik.
4. Occlusal bite rim RB beserta model gips RB diletakkan kembali pada occlusal bite rim RA
sesuai dengan oklusinya.
5. Lower member diangkat ke atas dan adonan gips dituang pada model kerja RB, kemudian
lower member digerakkan ke bawah atau ditutup sampai menekan adonan gips.
6. Membuat garis median pada bite rim atas yang disesuaikan dengan garis median model kerja
dan incisal guide plane.
19

4.

KUNJUNGAN IV
Dalam kunjungan ini sudah dilakukan pemasangan gigi-gigi anterior. Urutan pemasangan

gigi adalah gigi anterior rahang atas kemudian gigi anterior rahang bawah. Setelah itu, try in
pada pasien.
Pemasangan gigi anterior:
1 1

: - axisnya bersudut 5 terhadap mid. line


- incisalnya menyentuh bite rim RB
- bagian 1/3 permukaan labial agak depresi

2 2

: - axisnya bersudut 100 terhadap mid. line


- incisalnya berja\rak 1-2 mm dari bite rim RB
- permukaan labial agak ke palatal dan mengikuti lengkung bite rim

3 3

: - axisnya tegak lurus/ hampir sejajar dengan median line


- incisalnya menyentuh bite RB
- bagian 1/3 labioservikal lebih prominent.

1 1

: - bagian servikal permukaan labial sedikit depresi


- axisnya tegak lurus dengan bidang insisal, sedikit ke labial
- perhatikan overjet dan overbite

2 2

: - axisnya sedikit miring ke mesial dengan permukaan labial tegak lurus


bidang insisal
- letaknya diantara 2 1 1 2

3 3

: - axisnya sedikit ke mesial


- bagian cervical permukaan labial lebih prominent
- letak tonjolnya di antara

3 2 2 3

Tahap Klinis
Setelah pemasangan gigi anterior, dilakukan try in. Kemudian periksa overbite dan overjet
(2-4 mm), garis caninus (pada saat rest posisi terletak pada sudut mulut) dan garis ketawa (batas
servikal gigi atas, gusi tidak terlihat pada saat ketawa), fungsi fonetik (pasien disuruh
mengucapkan huruf s, f, t, r, m).
20

Selanjutnya dilakukan sliding ke kanan dan ke kiri. Setelah gigi anterior dipasang maka
dilanjutkan pemasangan gigi posterior rahang atas kemudian gigi posterior rahang bawah.

5.

KUNJUNGAN V
Dalam kunjungan ini sudah dilakukan pemasangan gigi-gigi posterior. Urutan pemasangan

gigi adalah gigi posterior rahang atas kemudian gigi posterior rahang bawah. Setelah itu
dilakukan try in pada pasien
Pemasangan gigi posterior harus disesuaikan dengan :
1. Kurva anteroposterior yang terdiri dari :
a. Bidang horizontal tempat disusunnya gigi 5 4 4 5
b. Bidang oblik tempat disusunnya gigi 7 6 6 7
2. Kurva lateral yang terdiri dari :
a. Bidang tegak yang terbentuk dari garis singgung pada occlusal bite rim, dimana
permukaan bukal gigi premolar ditempatkan.
b. Bidang dengan sudut penyimpangan 6 dari bite rim ke arah palatal, dimana terletak
permukaan bukal gigi molar.
Pada kunjungan ini sudah dilakukan pemasangan gigi-gigi posterior. Urutan pemasangan adalah
gigi posterior RA kemudian RB. Setelah itu try in pada pasien.
4 4 : - axis tegak lurus bite rim RB dan bidang oklusal
- tonjol bukal dan lingual menyentuh bite rim RB, tonjol palatinal
menggantung 1 mm
5 5 : - axis tegak lurus bite rim RB
- kedua tonjol menyentuh bite rim RB
6 6 : - sumbu gigi condong ke distal
- tonjol mesiopalatinal menyentuh bite rim, tonjol lainnya menggantung
7 7 : - axis lebih miring daripada

6 6

- semua tonjol menggantung


Untuk pemasangan gigi-gigi postrior rahang atas ini harus diperhatikan:
21

3.

dataran orientasi jika dilihat dari sagital harus membentuk kurva Manson

4.

dataran orientasi jika dilihat dari arah lateral harus membentuk kurva Von
Spee

Gigi posterior RB yang harus dipasang pertama adalah gigi


6 6 : - tonjol mesiopalatinal
- relasi

6 6

6 6 tepat pada fossa central 6 6

6 6 terhadap 6 6 neutrooklusi (Klas I Angle)

4 4 : - axisnya tegak lurus bite rim


- letaknya diantara 3 4 dengan tonjol bukal terletak di fossa sentral antara
P1 dan Caninus RA
5 5 : - axisnya tegak lurus bite rim
- letaknya di antara 4 5 dengan tonjol bukal terletak di fossa sentral antara
P1 dan P2 RA
7 7 : - axisnya tegak lurus bite rim
- tonjol mesiobukal
tonjol mesio-bukal

7 7 berada di antara tonjol mesiodistal

6 6 dan

7 7

Setelah pemasangan gigi posterior dilakukan try in.


Urutan pemasangan gigi posterior rahang atas ini harus diperhatikan :
a. dataran orientasi jika dilihat dari sagital harus membentuk kurva Monson
b. dataran orientasi jika dilihat dari anteroposterior membentuk kurva Von Spee, yaitu kurva
imajiner anteroposterior dimana terdapat bidang horizontal yang merupakan tempat
disusunnya gigi premolar superior pertama dan premolar superior kedua, sedangkan tempat
disusunnya gigi molar superior pertama dan molar superior kedua dalam bidang oblik.
c. dataran orientasi jika dilihat dari lateral kanan dan kiri harus membentuk kurva Wilson.
6.

KUNJUNGAN VI
Try in seluruh gigi tiruan di atas malam dan kontur gusi tiruannya, lalu dilakukan

pengamatan pada :
a) Oklusinya
b) Retensi GTL, faktor yang mempengaruhi adalah
22

tepi GTL harus mengikuti batas forniks

jaringan keras harus dihindari utuk memberi kesempatan


bergerak

protesa harus berelief sesuai dengan keadaan mulut

c) Stabilisasinya dengan working side dan balancing side


d) Estetis dengan melihat garis kaninus dan garis ketawa
e) Pasien disuruh menyebut huruf-huruf p, b, t, th, d, f, v dan lain-lain sampai tidak ada
gangguan
7.

KUNJUNGAN VII
Setelah diganti dengan resin akrilik, protesa diinsersikan dalam mulut kemudian dilakukan

remounting. Tujuan remounting adalah:


a. untuk mengecek oklusi protesa pada sebelum dan sesudah dipasang
b. untuk mengetahui selective grinding
c. untuk mengetahui premature contact
Jadi, pada saat dilakukan insersi harus diperhatikan :
1. Retensi
Pengecekan dengan menggerak-gerakkan pipi dan bibir, protesa lepas atau tidak.
Perhatikan apakah tepi GTL mengikuti fornik, jaringan yang bergerak harus dihindari dari plat
GTL agar bebas bergerak dan tidak melepas GTL, protesa harus berelief sesuai dengan
keadaan mulut.
2. Oklusi
Pengecekan balancing side, working side, serta ada tidaknya kontak prematur. Apabila
oklusinya terganggu, dilakukan grinding atau penambahan. Pengecekan dilakukan dengan
articulating paper yang diletakkan pada oklusi, kemudian pasien diminta menggerakkan gigi
seperti mengunyah. Apabila ada traumatic oklusi dilakukan selective grinding, yaitu
penggrindingan permukaan oklusal gigi tiruan untuk mendapatkan suatu sentrik oklusi gigi
tersebut. Pengurangan menggunakan hukum BULL dan MUDL (pengurangan pada

23

permukaan bukal dan mesial pada rahang atas dan pengurangan permukaan lingual dan distal
pada rahang bawah).
3. Stabilisasi
Pengecekan saat mulut berfungsi, tidak boleh mengganggu mastikasi, penelanan, bicara,
ekspresi wajah dan sebagainya. Apabila sudah tidak ada gangguan, maka protesa dapat
dipolish.
Diberikan instruksi kepada pasien untuk:
1) Cara pemakaian protesa
2) Adaptasi, dengan menganjurkan pasien untuk memakai protesa secara terus menerus
selama 2x24 jam.
3) Cara pemeliharaan protesa:
a.

malam hari ketika tidur, protesa dilepas agar jaringan otot-otot dibawahnya dapat
beristirahat

b.

protesa direndam dalam air sewaktu dilepas

c.

protesa dibersihkan dengan sikat berbulu halus setiap kali sehabis makan

4) Kontrol
a.

apabila ada rasa sakit, gangguan bicara, protesa tidak stabil, pasien dianjurkan
untuk segera kembali ke klinik

b.

kontrol sesuai dengan waktu yang telah ditentukan guna pengecekan lebih lanjut
dan bila nantinya tidak ada gangguan, pasien bisa terus memakai protesa tersebut.

8.

KUNJUNGAN VIII
Setelah pemasangan GTL selama 1 minggu, pasien datang untuk kontrol. Hal-hal yang
perlu diperhatikan pada saat kontrol :
a) Pemeriksaan subyektif : Pasien ditanya apakah ada keluhan atau tidak, apakah ada
gangguan atau tidak, dan apakah ada rasa sakit.

b) Pemeriksaan obyektif : dilihat keadaan mukosa apakah ada peradangan atau perlukaan dan
diperiksa retensi dan stabilisasi

24

V. DISKUSI
Pasien wanita berusia 59 tahun datang ke poliklinik untuk membuatkan gigi tiruan yang
baru karena gigi tiruan yang lama sudah longgar. Kondisi pasien dan juga jaringan mulutnya
baik, sehingga memungkinkan untuk dilakukan perawatan dengan menggunakan GTL.
Pembuatan gigi tiruan lengkap perlu mempertimbangkan serta memperhatikan adanya
faktor retensi dan stabilisasi.
Untuk retensi yang baik, harus memperhatikan faktor-faktor :
1. Fitting surface
a. Model kerja harus berstruktur dan berelief sesuai dengan keadaan di dalam mulut.
b. Jaringan keras harus dihindari untuk memberi kesempatan gerak.
c. Tepi GTL harus mengikuti batas fornik.
2. Ketebalan GTL
Ketebalan GTL rahang atas dan rahang bawah tidak sama, yaitu protesa rahang bawah
lebih tebal disbanding protesa rahang atas.
Untuk menjaga stabilisasi yang baik harus diperhatikan :
a. Polishing surface
b. Occlusal surface
c. Penyusunan gigi-geligi tiruan
d. Artikulasi
Vertikal dimensi juga merupakan hal yang penting dalam pembuatan GTL. Apabila
vertical dimensi kurang, maka gigi-geligi tidak tampak dan bila terlalu tinggi maka gigigeligi terlihat panjang dan tidak baik.

25

VI. PROGNOSIS
Prognosa dari pembuatan gigi tiruan lengkap ini diperkirakan baik, dengan
mempertimbangkan :
1)

Oral hygiene pasien baik

2)

Jaringan pendukung sehat

3)

Kesehatan umum terkontrol

4)

Pasien kooperatif dan komunikatif

26

DAFTAR PUSTAKA
Basker, R.M., Davenport, J.C., and Tomlin, H.R., 1996, Perawatan Prostodontik bagi Pasien
Tak Bergigi ( terj.), Edisi III, EGC, Jakarta.
Boucher, C.O., 1964, Swensons Complete Denture, ed. V., CV. Mosby Company, St. Louis.
Gehl, D.H. and Dressen, O.M., 1959, Complete Denture Prothesis, 4th ed., W.B. Saunders Co.,
London.
Harshanur, I.W., 1993, Geligi tiruan Lepasan, Cetaka ke II, EGC, Jakarta.
Itjingningsih, W.H., 1996, Geligi Tiruan Lengkap Lepas, Cetakan III, EGC, Jakarta.
Soelarko, R.M. dan Wachijati, H., 1980, Diktat Prostodonsia Full Denture, FKG Unpad,
Bandung.
Swenson, M.G., 1960, Complete Denture, 5th ed., C.V. Mosby Co., Saint Louis.
Utari, R.I., 1994, Desain dan Tehnik Mencetak Pada Pembuatan Geligi Tiruan Lengkap, Cetakan
I, Hipokrates, Jakarta.

27