Anda di halaman 1dari 11

BAB II

LAPORAN KASUS

I. Identitas
Nama

: MB

Umur

: 12 tahun

Jenis Kelamin

: Laki Laki

Suku/Bangsa

: Sangihe/Indonesia

Alamat

: Jl. Ari Lasut Lingkungan 5, No 76, Kairagi I

Agama

: Kr. Protestan

Pekerjaan

: Siswa SD kelas 1 SMP

Anamnesis
Keluhan Utama:
Benjolan di punggung kiri sejak 2 bulan yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Benjolan di punggung kiri berwarna putih seperti lilin sejak 2 bulan yang lalu, awalnya
benjolan timbul di punggung kiri dengan batas tegas, nyeri (-), gatal (-), ukuran milier
lentikuler, berwarna putih seperti lilin , berbentuk kubah yang ditengahnya terdapat
lekukan (delle) kemudian benjolan yang yang sama timbul dibagian lengan kiri, dan paha
kiri. Ibu pasien pernah mencoba untuk memecahkan benjolan sebelumnya dan keluar
massa padat seperti nasi. Pasien sudah pernah berobat ke dokter umum dan mendapat
obat minum, tapi tidak ada perubahan. Pasien sering mandi di sungai dekat rumah pasien.
Riwayat alergi obat disangkal, riwayat demam dan batuk beringus disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien baru kali ini menderita sakit seperti ini.
Riwayat Penyakit Keluarga:
Disangkal

Riwayat Alergi:
Disangkal
Riwayat Kebiasaan
Mandi 2-3 x/Hari
Memakai Sabun (Cair)
Handuk dipakai sendiri
Riwayat Sosial
Rumah Permanen, WC dan Kamar Mandi berada dalam 1 Ruangan
II. Pemeriksaan Fisik
STATUS GENERALISATA
Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran
: Compos Mentis
Nadi : 82x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu Badan : 36,1 0C
Berat Badan : 29 Kg
Kepala : Konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik,
Pupil Bulat, Isokor, Diameter 3 mm. Refleks Cahaya +/+ Normal
Leher

: Pembesaran KGB tidak ada

Thoraks : Inspeksi : Pergerakan Napas Simetris Kiri = Kanan


Auskultasi : Suara Napas Bronkovesikular
Cor : S I-II normal. Gallop (-). Murmur (-)
Palpasi : Stem Fremitus Kiri = Kanan
Perkusi : Sonor Kiri = Kanan
Abdomen : Inspeksi : Datar.
Auskultasi : Bising Usus (+) Normal
Palpasi : Lemas
Hepar dan Lien tidak teraba membesar.
Perkusi : Timpani
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-). CRT < 2

STATUS DERMATOLOGI

Regio Brachi et Antebrachi sinistra, Lumbal, Femoralis Sinistra : Papul Multipel,


berwarna putih seperti lilin, berbatas tegas, bentuk seperti kubah ditengah terdapat
lekukan (delle), ukuran milier lentikuler.

III.

Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan peeriksaan Histopatologi ( pada kasus ini tidak dilakukan pemeriksaan
penunjang )

IV.

Diagnosis Kerja
Moluskum Contangiosum

V. Diagnosis Banding
Veruka Vulgaris
VI.

Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan adalah mengeluarkan massa yang mengandung badan
moluskum. Dilakukan tindakan ekskokleasi dapat dipakai alat seperti ekstraktor komedo,
jarum suntik atau kuret, sebelumnya dilakukan anastesi terlebih dahulu. Kemudian
diberikan Asam Fusidat cream 2 % 2x1app setelah selasai dilakukan ekskokleasi.

VII.

Prognosis
Dengan menghilangkan semua lesi yang ada, maka jarang atau tidak akan residif.

BAB III
PEMBAHASAN
MOLUSKUM KONTAGIOSUM
I. DEFINISI
Moluskum kontagiosum merupakan suatu penyakit infeksi virus pada kulit yang
disebabkan oleh virus golongan poxvirus genus Molluscipox dengan wujud klinis berupa
benjolan pada kulit atau papul-papul multiple yang berumbilikasi di tengah, mengandung
badan moluskum, serta dapat sembuh dengan sendirinya. 1
II. EPIDEMIOLOGI
Moluskum kontagiosum dapat ditemukan di seluruh dunia, terutama di negara
tropis. Penyakit ini terutama menyerang anak-anak. Biasanya pada dewasa oleh karena
hubungan seksual. Media penularan penyakit ini melalui kontak langsung. Penyakit ini

menyebar dengan cepat pada suatu komunitas yang padat dengan higienitas yang kurang.
2

Pada negara tropis, insiden paling tinggi pada anak-anak dengan rentang usia 2
dan 3 tahun. Sedangkan pada negara maju, biasanya pada anak-anak sekolah karena
penggunaan kolam renang yang bersama-sama. Studi di Jepang pada tahun 2008,
menyatakan bahwa terdapat 7000 anak terserang moluskum kontagiosum dengan 75% di
antaranya memiliki riwayat penggunaan kolam renang bersama.

2,3

Di Amerika Serikat,

pada tahun 2003, hanya ditemukan 5% anak-anak yang terkena moluskum kontagiosum,
dan kira-kira antara 5-20% menyerang dewasa dengan AIDS. 1
III. ETIOLOGI
Moluskum kontagiosum disebabkan oleh suatu virus dari golongan poxvirus.
Dalam taksonomi, virus ini termasuk dalam ordo Poxviridae, famili Chordopoxvirinae,
genus Molluscipox virus, spesies Molluscum contagiosum virus (MOCV). Virus ini
termasuk golongan double strained DNA (dsDNA).
Virion dari MOCV ditemukan dengan struktur beramplop, berbentuk seperti bata
dengan ukuran 320x250x200 nm. Partikel virus ini terdiri dari 2 bentuk infeksius yang
berbeda, yaitu internal mature virus (IMV) dan external enveloped virus (EEV).
Gambar 1. MOCV Dilihat Melalui Mikroskop Elektron
Gambar 2. Virion MOCV
Virus ini memiliki struktur genome linier, dengan dsDNA kira-kira 190 kB,
genome linier diapit degan sekuens inverted terminal repeat (ITR) yang secara kovalen
saling terikat pada ujung-ujungnya.
Proses replikasi virus ini terjadi di sitoplasma. Virus akan menyisip ke
glycosaminoglycans (GAGs) pada permukaan sel target atau oleh komponen matriks
ekstraseluler, kemudian memicu fusi membran, dan melepaskan inti virus ke dalam
sitoplasma. Pada fase awal, gen awal ditranskripsi di sitoplasma oleh polymerase RNA
virus, ekspresi gen awal akan terbentuk 30 menit pascainfeksi. Ekspresi paling akhir
adalah tidak terselubungnya inti virus dan genom virus sekarang sudah benar-benar

bebas di sitoplasma. Fase intermediet, gen intermediet akan diekspresikan di sitoplasma,


memicu terjadinya replikasi DNA genom kira-kira 100 menit pascainfeksi. Dan yang
terakhir adalah fase akhir, gen akhir diekspresikan dalam waktu 140 menit sampai
dengan 48 jam pascainfeksi, memproduksi struktur protein virus lengkap.
Pembentukan virion progenik dimulai saat terdapat penyatuan antara membran
internal sel yang terinfeksi, dan menghasilkan partikel sferis imatur. Partikel ini
kemudian menjadi matur dengan menjadi struktur IMV yang menyerupai bata. Virion
IMV dapat dilepas melalui lisisnya sel, kemudian dapat memperoleh membran dobel
kedua dari trans-Golgi dan tunas yang kemudian dikenal sebagai EEV. 4
Menurut subtipe MOCV, terdapat 4 subtipe, yaitu MOCV I, MOCV II, MOCV
III, dan MOCV IV. Subtipe MOCV I yang lebih sering menyebabkan infeksi, kira-kira
sekitar 75-90%. Sedangkan MOCV II, III, dan IV akan menyebabkan moluskum
kontagiosum jika pada orang-orang dengan keadaan imunitas immunocompromised. 1
IV. PENULARAN
Secara umum, memang penularan moluksum kontagiosum adalah melalui kontak
langsung dari orang ke orang melalui barang-barang, seperti misalnya pakaian, handuk,
alat cuci atau alat mandi. Selain itu, moluskum kontagiosum juga dapat ditularkan
melalui kontak olahraga. Saat seseorang menyentuh lesi di suatu bagian tubuh, kemudian
dia menyentuhkannya ke bagian tubuh lainnya, makanya akan dapat menyebarkan
MOCV juga, proses ini disebut sebagai autoinokulasi. Jika yang terkena adalah daerah
wajah, saat mencukur kumis atau jenggot juga dapat menyebarkan virus. Meskipun
penularannya secara umum tergolong rendah, tetapi tidak diketahui berapa lama
seseorang yang terinfeksi dapat menularkan atau menyebarkan virus tersebut. 3 Tungau
juga bisa menjadi kemungkinan penyebaran virus penyebab moluskum kontagiosum. 1
Jika terdapat suatu kejadian luar biasa atau wabah moluskum kontagiosum, maka
perlu diperhatikan beberapa kemungkinan penularannya, yaitu :
1. Kolam renang
2. Kontak saat olahraga (misalnya gulat)
3. Proses pembedahan (tangan seorang ahli bedah yang terkena moluskum
kontagiosum)

4. Proses tato (jarang)


5. Hubungan seksual; lesi moluskum kontagiosum oleh karena hubungan seksual
biasanya berkembang dalam jangka waktu 2-3 bulan setelahnya. Jika ada
anak-anak dengan lesi moluskum kontagiosum di daerah genital, maka bisa
curiga ke arah kekerasan seksual pada anak.
V. PATOGENESIS
Inkubasi rata-rata moluskum kontagiosum adalah 2-7 minggu, dengan kisaran
ekstrim sampai 6 bulan. Infeksi dan infestasi MOCV menyebabkan hyperplasia dan
hipertrofi epidermis. Inti virus bebas dapat ditemukan pada epidermis. Jadi pabrik
MOCV berlokasi di lapisan sel granular dan malphigi. Badan moluskum banyak
mengandung virion MOCV matur yang banyak mengandung struktur collagen-lipid-rich
saclike intraseluler yang diduga berperan penting dalam mencegah reaksi sistem imun
host untuk mengenalinya. Ruptur dan pecahnya sel yang mengandung virus terjadi pada
bagian tengah lesi. MOCV menimbulkan tumor jinak selain juga menyebabkan lesi pox
nekrotik. 1
VI. MANIFESTASI KLINIS
Pada kulit akan tampak lesi umbilikata yang multipel. Lesi tersebut papul
berbatas tegas, licin, dan berbentuk kubah (dome shaped) sewarna kulit. Ukuran papul
bervariasi dari 2-6 milimeter. Di bagian tengah lesi, biasanya terdapat lekukan (delle)
kecil, berisi bahan seperti nasi dan berwarna putih yang merupakan cirri khas dari
moluskum kontagiosum.
Gambar 3. Moluskum Kontagiosum pada Lengan dan Badan
Gambar 4. Moluskum Kontagiosum pada Penis
Benjolan biasanya tidak terasa gatal, tidak terasa nyeri. Namun papul bisa
meradang, misalnya karena garukan, sehigga teraba hangat dan berwarna kemerahan.
Jika terjadi infeksi sekunder, bisa terjadi supurasi. Lokasi bisa di wajah, badan, kadangkadang pada perut, bagian bawah perut, dan genitalia. 1

Pasien anak dengan dermatitis atopik, 10% mengalami moluskum kontagiosum,


dan bisa mengalami perluasan. Namun, prevalensi moluskum kontagiosum pada anak
dengan dermatitis atopik, memiliki hubungan langsung yang rendah. Walaupun luas
daerah yang terkena moluskum kontagiosum pada anak dengan dermatitis atopik lebih
besar dibandingkan dengan anak tanpa dermatitis atopik, tetapi dalam suatu penelitian
Seize, dkk tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik. 5
VII. DERMATOPATOLOGI
Gambaran histopatologi pada sediaan kulit dengan moluskum kontagiosum
adalah proliferasi sel-sel stratum spinosum membentuk lobuli. Lobuli dipisahkan oleh
septa jaringan ikat, di dalamnya terdapat badan moluskum berupa sel-sel bulat atau
lonjong yang berbentuk seperti telur, berdinding licin homogen. Sediaan diambil pada
inti sentral yang paling tebal, kemudian diwarnai dengan Giemsa, Gram, atau Wright,
atau Papanicolaou. 1
Gambar 5. Gambaran Histopatologi Moluskum Kontagiosum
VIII. DIAGNOSIS BANDING
1. Veruka vulgaris : vegetasi lentikular, permukaan kasar, kering, warna keabuabuan, kulit di sekitarnya tidak meradang
2. Keratoakantoma : biasanya nodula-nodula keras, pada bagian tengah didapati
sumbatan keratin, bisa ditemukan di wajah, telinga, punggung, dan tangan

IX. TERAPI
Terapi yang diberikan intinya adalah mengeluarkan massa yang mengandung
badan moluskum. Bisa menggunakan teknik cryosurgery, evisceration, curettage,
elektrokauterisasi, adhesive tape stripping.
Selain itu bisa juga dicoba obat-obatan, seperti misalnya podophyllin dan
podofilox. Berupa suspensi 25% dalam bentuk larutan benzoin atau alkohol dapat
diterapkan seminggu sekali. Pengobatan ini memerlukan beberapa tindakan pencegahan.
Mengadung dua mutagen, quercetin dan kaempherol. Beberapa efek samping termasuk
kerusakan erosif parah pada kulit normal yang berdekatan yang dapat menyebabkan

jaringan parut dan efek sistemik seperti neuropati perifer, kerusakan ginjal, illeus,
leukopenia, dan trombositopenia, terutama jika digunakan pada permukaan mukosa.
Podofilox adalah alternatif yang lebih aman untuk podofilin dan dapat digunakan oleh
pasien di rumah. Penggunaan yang direkomendasikan biasanya terdiri dari penerapan
0,05 ml podofiloks 5% dalam etanol berbufer laktat dua kali sehari selama 3 hari. Agen
aktif ini mutlak dikontraindikasikan pada kehamilan.
Cantharidin (larutan 0,9% dari collodian dan aseton) telah digunakan dengan
sukses dalam pengobatan moluskum kontagiosum. Agen ini diterapkan hati-hati ke
kubah dari lesi dengan atau tanpa oklusi dan dibiarkan di tempatnya selama sedikitnya 4
jam sebelum dicuci. Cantharidin bisa menyebabkan pelepuhan parah. Ini harus diuji pada
satu lesi dahulu sebelum mengobati sejumlah besar lesi. Tidak boleh digunakan pada
wajah. Ketika dapat ditoleransi, pengobatan ini diulang setiap minggu. Biasanya
diperlukan perawatan 1-3 kali.
Iodine solution dan salicylic acid plaster, berupa sebuah larutan iodin 10%
ditempatkan pada papula moluskum dan, saat kering, ditutupi dengan potongan-potongan
kecil dari plester asam salisilat 50% dan tape. Proses ini diulang setiap hari setelah
mandi. Setelah lesi telah menjadi eritematosa dalam 3-7 hari, hanya larutan iodin yang
diterapkan. Hasil telah dilaporkan rata-rata 26 hari. Dapat mengakibatkan maserasi dan
erosi.
Krim tretinoin 0,1% telah digunakan dalam pengobatan moluskum kontagiosum.
Hal ini diterapkan dua kali sehari ke lesi. Hasil telah dilaporkan rata-rata 11 hari. Efek
samping berpa eritema. Tretinion krim 0,05% juga telah digunakan dengan sukses dan
terdapat penurunan iritasi.
Cidofovir. Sidofovir adalah analog nukleosida yang memiliki sifat antiviral yang
manjur. Beberapa studi kecil dan laporan kasus menggambarkan keberhasilan
penggunaan sidofovir yang dioleskan atau dengan injeksi intralesi di beberapa penyakit
kulit virus. Krim sidofovir 3% telah berhasil digunakan untuk mengobati moluskum
kontagiosum dalam studi, dengan rentang waktu dalam 2-6 minggu. Namun biaya tinggi,
butuh banyak persiapan, dan karsinogenik dalam hasil dari beberapa studi. telah
membatasi penggunaannya.1

Imiquimod krim 5% telah digunakan secara topikal untuk mengobati moluskum


kontagiosum dengan menginduksi tingkat tinggi IFN- dan sitokin lain secara lokal.
Diterapkan ke area tiap malam selama 4 minggu. Hasil yang diperoleh dapat tercapai
hingga 3 bulan. 6
X. PROGNOSIS
Dengan menghilangkan semua lesi yang ada, maka jarang atau tidak akan residif.