Anda di halaman 1dari 26

LEMBAR PENGESAHAN

Nama

: Melissa Rosari Hartono

NIM

: 030.09.150

Perguruan Tinggi

: Universitas Trisakti

Tingkat

: Program Profesi Kedokteran

Judul Referat

: Trakoma

Bagian

: Ilmu Penyakit Mata

Periode

: 28 April 2014 31 Mei 2014

Telah diterima dan disetujui pada tanggal : .., sebagai syarat untuk
mengikuti ujian akhir Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata Rumah Sakit Umum Daerah
Kota Semarang.

Mengetahui dan menyetujui,


Dokter Pembimbing,

dr. Irastri Anggraini, Sp. M

KATA PENGANTAR

1 Trakoma

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan berkatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat ini. Referat dengan
judul Trakoma ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti ujian akhir
Kepaniteraan Klinik di bagian Ilmu Penyakit Mata Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Semarang.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. dr. Irastri Anggraini, Sp. M selaku pembimbing dalam penyusunan referat ini.
2. Seluruh staf pengajar bagian Ilmu Penyakit Mata Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Semarang yang turut membantu dalam penyelesaian referat ini.
3. Kedua orang tua yang juga membimbing penulis, memberikan doa dan dorongan
secara materiil dan moril.
4. Semua teman yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan
bantuan, dorongan, semangat, dan saran sehingga referat ini dapat terselesaikan.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak.
Penulis berharap semoga referat ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan dalam
bidang kedokteran pada umumnya bagi para pembacanya.

Semarang, Mei 2014


Penulis,

Melissa Rosari Hartono

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN..1

2 Trakoma

KATA PENGANTAR......2
DAFTAR ISI.................3
BAB. I PENDAHULUAN........4
BAB. II ISI ..6
II. 1 Anatomi Konjungtiva ..6
II.2 Definisi .......11
II.3 Epidemiologi ......11
II.4 Etiologi .......13
II.5 Patofisiologi ........13
II.6 Manifestasi Klinis ...14
II.7 Klasifikasi........15
II.8 Diagnosis ........18
II.9 Diagnosis Banding......20
II.10 Penatalaksanaan ....21
II.11 Komplikasi ........23
II.12 Prognosis........24
BAB. III PENUTUP.......25
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................26

BAB. I
PENDAHULUAN

3 Trakoma

Konjungtivitis

merupakan

peradangan

pada

konjungtiva

yang

disebabkan

mikroorganisme (virus, jamur, bakteri, parasit, klamidia), alergi, iritasi bahan-bahan kimia,
idiopatik, penyakit sistemik. Konjungtivitis dibedakan dalam bentuk akut dan kronis.
Insidensi konjungtivitis di Indonesia pada tahun 2007 berkisar antara 2 75%. Data perkiraan
jumlah penderita penyakit mata di Indonesia adalah 10% dari seluruh golongan umur
penduduk per tahun dan pernah menderita konjungtivitis. Data lain menunjukkan bahwa dari
10 penyakit mata utama, konjungtivitis menduduki tempat kedua (9,7%) setelah kelainan
refraksi (25,35%). 1,2
Trakoma adalah suatu bentuk konjungtivitis folikular kronik yang disebabkan oleh
Chlamydia trachomatis serotipe A, B, Ba, dan C. Trakoma adalah suatu penyakit yang paling
tua dan terkenal di dunia sejak dahulu, mengenai 1/6 dari penduduk di dunia, keadaan ini
merupakan salah satu penyakit menahun yang paling banyak dijumpai. Penyakit ini dapat
mengenai segala umur tapi lebih banyak ditemukan pada orang muda dan anak-anak. Infeksi
mata ini banyak ditemukan di daerah Semenanjung Balkan. Ras yang banyak terkena
ditemukan pada ras Yahudi, penduduk asli Australia dan Indian Amerika atau daerah dengan
hygiene yang kurang. Penyakit ini termasuk 9 penyakit yang menular yang sedang
berkembang di berbagai belahan dunia. Prevalensi dan berat penyakit yang beragam per
regional bergantung pada variasi higiene individu dan standar kehidupan masyarakat dunia,
keadaan cuaca tempat tinggal, usia saat terkena, serta frekuensi dan jenis infeksi bakteri mata
yang sudah ada. 3,4
Cara penularan penyakit ini adalah melalui kontak langsung dengan sekret penderita
trakoma atau melalui alat-alat kebutuhan sehari-hari seperti handuk, alat-alat kecantikan, dan
lain-lain. Penularan terjadi terutama antara anak-anak dan orang tua, saudara kandungnya
dan orang yang merawatnya. Masa inkubasi rata-rata 7 hari (5-14 hari). Trakoma umumnya
bilateral. Vektor serangga, khususnya lalat, dapat berperan dalam transmisi. Bentuk akut
penyakit ini lebih infeksius daripada bentuk sikatriksnya. Penyebaran sering dihubungkan
dengan epidemi konjungtivitis bakterial dan musim kemarau di negara tropis dan subtropis.
Episode berulang dari reinfeksi dalam keluarga menyebabkan kronik folikular atau inflamasi
konjungtiva berat (trakoma aktif) yang menimbulkan scarring konjungtiva tarsal. Scarring
pada konjungtiva tarsal atas, pada sebagian individu, berlanjut menjadi entropion dan

4 Trakoma

trichiasis (cicatrical trachoma). Hasil akhirnya antara lain abrasi kornea, ulkus kornea, dan
opasifikasi dan akhirnya kebutaan. Pencegahan trakoma berkaitan dengan kebutaan, dan hal
ini membutuhkan banyak intervensi. WHO (World Health Organization) menerapkan
Surgical care, Antibiotics, Facial cleanliness, Environmental improvement (SAFE) untuk
penatalaksanaan trakoma. 4,5,6

BAB. II
ISI

II.1 ANATOMI KONJUNGTIVA

5 Trakoma

Konjungtiva adalah membran mukosa tipis dan transparan, yang membungkus


permukaan anterior dari bola mata dan permukaan posterior dari palpebra. Lapisan
permukaan konjungtiva, yaitu lapisan epitel berhubungan dengan epidermis dari palpebra dan
dengan lapisan permukaan dari kornea, yaitu epitel kornea. Konjungtiva berperan dalam
produksi mukus, yang penting dalam menjaga stabilitas tear film dan transparansi kornea.
Selain itu, konjungtiva juga mampu melindungi permukaan okular dari patogen, baik sebagai
barrier fisik, maupun sebagai sumber sel-sel inflamasi. 7,8
Konjungtiva dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu :
1. Konjungtiva palpebra
Pada sambungan mukokutaneus, lapisan epidermis dari kulit palpebra berubah
menjadi konjungtiva palpebra atau konjungtiva tarsal yang melapisi permukaan
posterior palpebra. Lapisan ini melekat secara erat dengan lempeng tarsus. Pada batas
superior dan inferior dari tarsus, konjungtiva berlanjut ke posterior dan melapisi
jaringan episklera sebagai konjungtiva bulbi. 3
2. Konjungtiva forniks
Dari permukaan dalam palpebra, konjungtiva palpebra melanjutkan diri ke arah bola
mata membentuk dua resesus, yaitu forniks superior dan inferior. Forniks superior
terletak kira-kira 8 10 mm dari limbus, dan forniks inferior terletak kira-kira 8 mm
dari limbus. Pada bagian medial, struktur ini menjadi karunkula dan plika semilunaris.
Di sisi lateral, forniks terletak kira-kira 14 mm dari limbus. Konjungtiva forniks
superior dan inferior melekat longgar dengan pembungkus otot rekti dan levator yang
terletak di bawahnya. Kontraksi otot-otot ini akan menarik konjungtiva sehingga ia
akan ikut bergerak saat palpebra maupun bola mata bergerak. Perlekatan yang longgar
tersebut juga akan memudahkan terjadinya akumulasi cairan.3
3. Konjungtiva bulbi
Konjungtiva bulbi meluas dari daerah limbus ke daerah forniks. Lapisan ini sangat
tipis dan transparan sehingga sklera yang terletak di bawahnya dapat terlihat.
Konjungtiva bulbi melekat secara longgar dengan sklera sehingga memungkinkan

6 Trakoma

bola mata bergerak bebas ke segala arah. Selain memberikan kebebasan bola mata
untuk bergerak, hal ini juga akan memperluas permukaan sekresi konjungtiva. 3
Ket. Gambar :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Limbus
Konjungtiva bulbi
Konjungtiva forniks
Konjungtiva palpebra
Pungtum lakrimalis
Konjungtiva marginalis

Gambar 1. Anatomi konjungtiva9


Konjungtiva seperti halnya membran mukosa lainnya, terdiri atas 2 lapisan, yaitu:
1. Lapisan epitel bertingkat
Ketebalan lapisan epitel konjungtiva bervariasi mulai dari 2-4 lapisan pada daerah
tarsal, 6-8 lapisan pada daerah pertemuan korneoskleral, hingga 8-10 lapisan pada
daerah tepi konjungtiva. Di daerah forniks, epitel konjungtiva berbentuk kolumnar
dan berubah menjadi epitel kuboid di daerah bulbar dan tarsal. Di limbus, epitel
berubah menjadi epitel skuamous bertingkat tak bertanduk yang akan melanjutkan diri
menjadi epitel kornea. 8,9
2. Lapisan stroma (substansia propria)
Stroma kunjungtiva dipisahkan dengan lapisan epitel konjungtiva oleh membrana
basalis. Lapisan ini dibagi atas lapisan adenoid yang terletak di permukaan dan
lapisan fibrosa yang terletak lebih dalam. Lapisan adenoid mengandung jaringan
limfoid dan pada beberapa area juga mengandung struktur mirip folikel. Lapisan
fibrosa tersusun atas jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah dan serabut
saraf dan melekat pada lempeng tarsus. Substansia propria mengandung sel mast
(6000/mm3), sel plasma, limfosit, dan netrofil yang memegang peranan dalam respons
imun seluler. Jenis limfosit yang paling banyak ditemukan adalah sel T, yaitu kira-kira
20 kali lebih banyak dibanding sel B. Selain itu ditemukan pula IgG, IgA, IgM yang
terletak ekstraseluler. 8,9

7 Trakoma

Permukaan epitel konjungtiva ditutupi oleh mikrovili. Mikrovili dibentuk oleh


penonjolan sitoplasma yang menonjol ke permukaan sel epitel. Ukuran diameter dan tinggil
mikrovili kira-kira 0,5 m dam 1 m. Fungsi mikrovili selain untuk memperluas daerah
absorpsi juga untuk menjaga stabilitas dan integritas tear film. Epitel konjungtiva
mengandung sejumlah kelenjar yang penting untuk mempertahankan kelembaban dan
menghasilkan lapisan air mata. Kelenjar lakrimal asesorius ditemukan pada konjungtiva
forniks dan sepanjang tepi superior lempeng tarsus. Kelenjar Krause ditemukan pada forniks
superior sebanyak kira-kira 20-40 buah, sedangkan pada forniks inferior hanya 6-8 kelenjar.
Kelenjar-kelenjar ini ditemukan pada jaringan ikat subkonjungtiva. Kelenjar Krause memiliki
struktur yang sama dengan kelenjar lakrimal utama yang terletak pada rongga orbita.
Kelenjar lakrimal asesorius lainnya adalah kelenjar Wolfring. Kelenjar ini ditemukan pada
sepanjang tepi superior lempeng tarsus sebanyak 2-5 buah. 8,9

Gambar 2. Kelenjar konjungtiva9


Vaskularisasi konjungtiva berasal dari 2 sumber, yaitu:
1.

Arteri palpebralis
Pleksus post tarsal dari palpebra, yang diperdarahi oleh arkade marginal dan perifer
dari palpebra superior akan memperdarahi konjungtiva palpebralis. Pembuluh darah
dari arkade perifer palpebra akan menembus otot Muller dan memperdarahi sebagian
besar konjungtiva forniks. Arkade ini akan memberikan cabang desenden untuk
menyuplai konjungtiva tarsal dan juga akan mengadakan anastomose dengan
pembuluh darah dari arkade marginal serta cabang asenden yang melalui forniks

8 Trakoma

superios dan inferior untuk kemudian melanjutkan diri ke konjungtiva bulbi sebagai
arteri konjungtiva posterior. 3,7
2.

Arteri siliaris anterior


Arteri siliaris anterior berjalan sepanjang tendon otot rektus dan mempercabangkan
diri sebagai arteri konjungtiva anterior tepat sebelum menembus bola mata. Arteri ini
mengirim cabangnya ke pleksus perikorneal dan ke daerah konjungtiva bulbi sekitar
limbus. Pada daerah ini, terjadi anastomose antara pembuluh darah konjungtiva
anterior dengan cabang terminal dari pembuluh darah konjungtuva posterior,
menghasilkan daerah yang disebut Palisades of Busacca. 3,7

Gambar 3. Arteri-Arteri Konjungtiva 9


3.

Vena-vena konjungtiva lebih banyak dibandingkan arteri konjungtiva. Diameter


vena-vena ini bervariasi dari 0,01 hingga 0,1 mm dan dapat diidentifikasi dengan
mudah. Drainase utama dari konjungtiva tarsalis dan konjungtiva bulbi langsung
mengarah ke vena-vena palpebralis. Beberapa vena tarsalis mengarah ke vena-vena
oftalmikus superior dan inferior, yang akan berakhir pada sinus kavernosus. 3,7

9 Trakoma

Gambar 4. Vena-Vena Konjungtiva 9


Aliran limfatik yang berasal dari lateral akan mengarah ke kelenjar limfe preaurikuler,
sementara aliran limfatik yang berasal dari medial akan mengarah ke kelenjar limfe
submandibular. Pembuluh limfe konjungtiva dibentuk oleh 2 pleksus, yaitu:
1.

2.

Pleksus superfisial, terdiri atas pembuluh-pembuluh kecil yang terletak di bawah


kapiler pembuluh darah yang menerima aliran limfatik dari area limbus.
Pleksus profunda, terdiri dari pembuluh-pembuluh yang lebih besar yang terletak di
substantia propria. 7

Gambar 5. Sistem limfatik konjungtiva9


Inervasi sensoris konjungtiva bulbi berasal dari nervus siliaris longus, yang merupakan
cabang dari nervus nasosiliaris, cabang dari divisi oftalmikus nervus trigeminus. Saraf ini
memiliki serabut nyeri yang relatif sedikit.

10 Trakoma

Sistem Pertahanan Konjungtiva Terhadap Infeksi 6


Selain bertanggung jawab terhadap produksi musin, konjungtiva juga memiliki
kemampuan yang besar dalam melawan infeksi. Hal ini dapat dipahami oleh karena:
1.
2.
3.
4.

Epitel konjungtiva yang intak mencegah invasi dari mikroba


Konjungtiva mengandung banyak immunoglobulin
Adanya flora bakteri normal di konjungtiva
Sekresi musin oleh sel goblet konjungtiva dapat mengikat mikroba untuk kemudian

dikeluarkan melalui sistem sekresi lakrimal


5. Aktivitas enzimatik konjungtiva memungkinkan jaringan ini dalam melokalisir dan
menetralisir partikel-partikel asing
6. Conjunctiva-Associated Lymphoid Tissue (CALT)

II.2 DEFINISI
Trakoma merupakan salah satu jenis penyakit mata yang menular yang disebabkan oleh
Chlamidia trachomatis serotipe A, B, Ba, atau C yang termasuk dari konjungtivitis folikular
kronik. Trakoma juga termasuk infeksi mata yang berlangsung lama yang menyebabkan
inflamasi dan jaringan parut pada konjungtiva dan kelopak mata serta kebutaan. 4

II.3 EPIDEMIOLOGI
Insidensi konjungtivitis di Indonesia pada tahun 2007 berkisar antara 2 75%. Data
perkiraan jumlah penderita penyakit mata di Indonesia adalah 10% dari seluruh golongan
umur penduduk per tahun dan pernah menderita konjungtivitis. Data lain menunjukkan
bahwa dari 10 penyakit mata utama, konjungtivitis menduduki tempat kedua (9,7%) setelah
kelainan refraksi (25,35%).1,2
Secara umum, trakoma diderita oleh sekitar 84 juta orang di 55 negara yang endemis,
dan sekitar 1,3 juta orang diantaranya buta karena penyakit mata ini. Penyakit ini ditunjukkan
pada hasil tertinggi nya yaitu pada usia 3-5 tahun. Infeksi mata ini banyak ditemukan di
daerah Semenanjung Balkan. Ras yang banyak terkena ditemukan pada ras Yahudi, penduduk
asli Australia dan Indian Amerika. Trakoma yang membutakan terdapat pada banyak daerah

11 Trakoma

Afrika, beberapa daerah Asia, diantara suku Aborigin Australia, dan di Brazil Utara. Trakoma
yang lebih ringan yang tidak membutakan terdapat di daerah yang sama dan di beberapa
daerah Amerika Latin dan Pulau Pasifik. 2,3
Trias epidemiologi trakoma terbagi menjadi 3 yaitu host, agent dan environment. Hostnya adalah manusia terutama pada remaja dan anak-anak yang berumur 3-5 tahun. Agent dari
penyakit trakoma ini yaitu Chlamidia trachomatis. Environment-nya adalah lingkungan sosial
dan ekonomi yaitu lingkungan yang higienenya kurang dan ekonomi bawah lebih rentan
terjangkit penyakit mata ini. Cara penularan dari penyakit ini yaitu melalui :

Melalui kontak langsung dengan sekret yang keluar dari mata yang terkena infeksi atau
dari discharge nasofaring.

Sejenis lalat, terutama jenis Musca sorbens di Afrika dan Timur Tengah dan spesies
jenis Hippelates di Amerika bagian selatan

Alat-alat kebutuhan sehari-hari yang telah terkontaminasi (misalnya handuk atau


saputangan) 6

Gambar 6. Cara Penularan Trakoma 6


II.4

ETIOLOGI

12 Trakoma

Trakoma disebabkan oleh Chlamidia trachomatis serotipe A, B, Ba, atau C. Masingmasing serotipe ditemukan di tempat dan komunitas yang berbeda beda. Chlamidia ini
termasuk bakteri gram negatif, Ordo Chlamydiales, family Chlamydiaceae dan Genus
Chlamydia. Spesies C trakomatis menyebabkan trakoma, sedangkan serotype D-K
menyebabkan infeksi kelamin dan limfogranulomavenerum (serotipe L1-L3). Serotipe D-K
biasanya menyebabkan konjungtivitis folikular kronis yang secara klinis sulit dibedakan
dengan trakoma, termasuk konjungtivitis folikular dengan pannus, dan konjungtiva scar.
Namun, serotipe genital ini tidak memiliki siklus transmisi yang stabil dalam komunitas.
Karena itu, tidak terlibat dalam penyebab kebutaan karena trakoma. 4,5

II.5

PATOFISIOLOGI
Infeksi menyebabkan inflamasi, yang predominan limfositik dan infiltrat monosit

dengan plasma sel dan makrofag dalam folikel. Gambaran tipe folikel dengan pusat germinal
dangan pulau- pulau proliferasi sel B yang dikelilingi sebukan sel T. Infeksi konjungtiva yang
rekuren menyebabkan inflamasi yang lama yang menyebabkan conjungtival scarring.
Scarring diasosiasikan dengan atrofi epitel konjungtiva, hilangnya sel goblet, dan pergantian
jaringan normal, longgar dan stroma vaskular subepitel dengan jaringan ikat kolagen tipe IV
dan V (Solomon et al, 2004). 10

II.6

MANIFESTASI KLINIS
Secara klinis, trakoma dapat dibagi menjadi fase akut dan fase kronis, tetapi tanda akut

dan kronis dapat muncul dalam waktu yang bersamaan dalam satu individu. Derajat
keparahan dari infeksi mata oleh Chlamidia trachomatis dapat ringan sampai dengan berat.
Banyak infeksinya bersifat asimptomatis. Sesuai dengan masa inkubasinya yaitu 5-14 hari,
infeksi konjungtiva menyebabkan iritasi, mata merah, dan discharge mukopurulen.
Keterlibatan kornea pada proses inflamasi akut dapat menimbulkan nyeri dan fotofobia. 4,5
Tanda awal infeksi yang kurang spesifik adalah vasodilatasi dari pembuluh darah
konjungtiva. Perubahan spesifik terjadi beberapa minggu setelah infeksi, yaitu dengan

13 Trakoma

munculnya folikel-folikel pada konjungtiva forniks, konjungtiva tarsal dan limbus. Folikel
terlihat sebagai massa abu-abu dengan diameter 0,2-3 mm. Papil juga dapat terlihat pada fase
ini, pada kasus ringan terlihat titik-titik merah kecil dengan mata telanjang. Dengan bantuan
slit lamp, papil terlihat sebagai pembengkakan kecil konjungtiva, dengan vaskularisasi di
tengahnya. Ketika inflamasi bertambah berat, reaksi papilar pada konjungtiva tarsal
diasosiasikan dengan penebalan konjungtiva, pertambahan vaskularisasi pembuluh tarsal, dan
kadang kadang edema palpebra. Bila kornea terlibat pada proses inflamasi, keratitis pungtata
superficialis dapat dideteksi dengan test flouresensi. 4,5
Infiltrat superfisial atau pannus (infiltrasi subepitel dari jaringan fibrovaskular ke
perifer kornea) mengindikasikan inflamasi kornea. Folikel, papil dan tanda kornea lain adalah
tanda dari fase aktif, namun pannus dapat bertahan setelah fase aktif. Resolusi dari folikel
ditandai dengan terjadinya scarring pada subepitel konjungtiva. Deposisi dari skar biasanya
di konjungtiva tarsal atas, walaupun konjungtiva bulbi dan daerah atas kornea dapat terkena.
Di daerah endemis trakoma, sikatrik pada daerah tarsal karena episode infeksi berulang
menjadi dapat terlihat secara makroskopis dengan mengeversi palpebra atas, nampak seperti
plester putih dengan latar konjungtiva yang eritematous. Di limbus, pergantian folikel
menjadi scar menghasilkan formasi depresi translusen pada corneoscleral junction yang
disebut Herberts pits. 4,5
Bila scar pada konjungtiva tarsal cukup banyak berkumpul, menyebabkan kelopak mata
atas menekuk ke dalam dan menyebabkan bulu mata mengenai bola mata (trikiasis) dan
ketika semua bagian kelopak mengarah ke dalam disebut entropion. Trikiasis sangat
mengiritasi. Penderita kadang mencabut sendiri bulumata atau memplester kelopak mata agar
menghadap ke luar. Selain nyeri, trikiasis juga mencederai kornea, sebagai efek abrasi kornea
dapat terjadi infeksi sekunder oleh jamur atau bakteri. Karena sikatrik bersifat opak maka
penglihatan dapat terganggu bila mengenai daerah sentral kornea. (Solomon et al, 2004) 4,5,10

14 Trakoma

Gambar 7. Pannus dan Herberts Pits 6


II.7

KLASIFIKASI
Menurut klasifikasi Mac Callan, trakoma dibagi menjadi 4 stadium yaitu :

Stadium 1 (hiperplasi limfoid) : terdapat hipertrofi papil dengan folikel yang kecilkecil pada konjungtiva tarsus superior, yang memperlihatkan penebalan dan kongesti
pada pembuluh darah konjungtiva. Sekret yang sedikit dan jernih bila tidak ada infeksi
sekunder. Kelainan kornea sukar ditemukan tetapi kadang-kadang dapat ditemukan
neovaskularisasi dan keratitis epitelial ringan.

Stadium 2 : terdapat hipertrofi papilar dan folikel besar yang matang pada konjungtiva
tarsus superior. Pada stadium ini dapat ditemukan pannus trakoma yang jelas. Terdapat
hipertrofi papil yang berat seolah-olah mengalahkan gambaran folikel pada konjungtiva
superior.

Stadium 3 : terdapat parut pada konjungtiva tarsus superior yang terlihat sebagai garis
putih yang halus sejajar dengan margo palpebra. Parut folikel pada limbus kornea
disebut cekungan Herbert. Gambaran papil mulai berkurang.

Stadium 4 : suatu pembentukan parut yang sempurna pada konjungtiva tarsus superior
sehingga menyebabkan perubahan bentuk pada tarsus yang dapat menyebabkan
entopion dan trikiasis. 3
Tabel 1. Klasifikasi dan strafikasi trakoma menurut Mc Callan 3

15 Trakoma

Pembagian menurut WHO Simplified Trachoma Grading Scheme adalah : 3

Trakoma Folikular (TF)


Trakoma dengan adanya 5 atau lebih folikel dengan diameter 0,5mm di daerah sentral
konjungtiva tarsal superior. Bentuk ini umumnya ditemukan pada anak-anak dengan
prevalensi puncak pada usia 3-5 tahun.

Gambar 8. Trakoma Folikular 6

Trakoma Inflamasi Berat (TI)


Ditandai konjungtiva tarsal superior yang menebal dan pertumbuhan vaskular tarsal. Papil
terlihat dengan pemeriksaan slit lamp.

16 Trakoma

Gambar 9. Trakoma Inflamasi Berat 6

Sikatrik Trakoma (TS)


Ditandai dengan adanya sikatrik yang mudah terlihat pada konjungtiva tarsal. Memiliki
resiko trikiasis ke depannya, semakin banyak sikatrik semkin besar resiko terjadinya
trikiasis.

Gambar 10. Sikatrik Trakoma 6

Trikiasis (TT)
Ditandai dengan adanya bulu mata yang mengarah ke dalam. Potensial untuk
menyebabkan opasitas kornea.

Gambar 11. Trikiasis 6

17 Trakoma

Opasitas Kornea (CO)


Ditandai dengan kekeruhan kornea yang terlihat di atas pupil. Kekeruhan kornea
menandakan prevalensi gangguan visus atau kebutaan akibat trakoma.

Gambar 12. Opasitas Kornea 6


II.8

DIAGNOSIS 3,4,10
Diagnosa trakoma ditegakkan berdasarkan :
a. Gejala Klinik :
Bila terdapat 2 dari 4 gejala klinik yang khas, sebagai berikut :
1) Adanya prefolikel di konjungtiva tarsalis superior
2) Folikel di konjungtiva forniks superior dan limbus kornea 1/3 bagian atas
3) Pannus aktif di 1/3 atas limbus kornea
4) Sikatrik berupa garis-garis atau bintang di konjungtiva palpebra / forniks
superior, Herberts pit di limbus kornea 1/3 bagian atas.
Riwayat Penyakit : Trakoma aktif biasanya ditemukan pada anak anak, dan
penduduk pada daerah endemis, hanya menimbulkan sedikit keluhan. Penderita
dengan trikiasis bisa simptomatis. Beratnya keluhan bergantung pada banyaknya
bulu mata yang menyentuh bola mata, ada atau tidaknya abrasi kornea, dan ada
tidaknya blefarospasme.
b. Kerokan konjungtiva, yang dengan pewarnaan giemsa dapat ditemukan badan
inklusi Halbert staedter Prowazeki. Diagnosa trakoma juga dapat ditegakkan bila

18 Trakoma

terdapat satu gejala klinis yang khas ditambah dengan kerokan konjungtiva yang
menghasilkan badan inklusi.
c. Biakan kerokan konjungtiva dalam yolk sac, menghasilkan badan inklusi dan badan
elementer dengan pewarnaan giemsa.
d. Tes serologis dengan :
1) Tes fiksasi komplemen, untuk menunjukkan adanya antibodi terhadap trakoma,
dengan menggunakan antigen yang murni. Melakukannya mudah, tak memerlukan
peralatan canggih, cukup mempergunkan antigen yang stabil, mudah didapat di
pasaran. Mempunyai nilai diagnostik yang tinggi.
2) Tes mikro-imunofluoresen, menentukan antibodi antichlamydial yang spesifik,
beserta sifat-sifatnya (IgM, IgA, IgG). Lebih sukar dan memerlukan peralatan
canggih.

II.9 DIAGNOSIS BANDING

Tabel 2. Diagnosis Banding Trakoma 3,5


Trakoma

Konjungtivitis
Folikularis

Vernal Katarrh

Gambaran lesi

(kasus awal) papula kecil


atau bercak merah
bertaburan dengan bintik
putih kuning (folikel
trakoma) pada konjungtiva
tarsal (kasus lanjut) granula
dan parut, terutama
konjungtiva tarsal atas

Penonjolan merah
muda pucat tersusun
teratur seperti deretan
beads

Nodul lebar datar dalam


susunan cobblestone pada
konjungtiva tarsal atas dan
bawah, diselimuti lapisan susu

Ukuran lesi

Penonjolan besar lesi

Penonjolan kecil

Penonjolan besar

Lokasi lesi

Konjungtiva tarsal atas dan


teristimewa lipatan
retrotarsal kornea pannus,

Terutama konjungtiva
tarsal bawah dan
forniks bawah.

Tipe tarsus atau palpebra :


konjungtiva tarsus terlibat,
forniks bebas

19 Trakoma

bawah infiltrasi abu abu


dan pembuluh.

Tarsus tidak terlibat

Tarsus terlibat

Tipe limbus atau bulbus:


limbus terlibat, forniks bebas,
konjungtiva tarsus bebas
Tipe campuran: tarsus tidak
terlibat

Tipe sekresi

Kotoran air berbusa atau


frothy pada stadium
lanjut

Mukoid atau purulen

Bergetah, bertali, seperti susu

Pulasan

Kerokan epitel dari


konjungtiva dan kornea
memperlihatkan eksfoliasi,
proliferasi, inklusi selular

Kerokan tidak
karakteristik (Koch
Weeks, Morax
Axenfeld, mikrokokus
kataralis stafilokokus,
pneumokokus)

Eosinofil karakteristik dan


konstan pada sekresi

Penyulit /
sekuele

Kornea: panus, kekeruhan


kornea, xerosis

Ulkus kornea

Infiltrasi kornea (tipe limbus)

Blefaritis

Pseodoptosis (tipe tarsal)

Konjungtiva: simblefaron

Ektropion

Palpebra: ektropion atau


enteropion, trikiasis

II.10 PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan trakoma untuk mendapatkan konjungtiva dalam keadaan licin
dengan jaringan sikatrik yang minimal. Hal ini dapat dicegah bila pengobatan diberikan
sedini mungkin, sehingga mengurangi kesempatan pembentukan jaringan sikatrik. Kunci
pentalaksanaan trakoma yang dikembangkan WHO adalah strategi SAFE (Surgical care,
Antibiotics, Facial cleanliness, Environmental improvement). 6
1.

Tindakan Bedah 3,6

Pembedahan kelopak mata untuk memperbaiki trikiasis sangat penting pada


penderita dengan trikiasis, yang memiliki resiko tinggi terhadap gangguan visus
dan penglihatan.

Rotasi kelopak mata membatasi perlukaan kornea. Pada beberapa kasus, dapat
memperbaiki visus, karena merestorasi permukaan visual dan pengurangan sekresi
okular dan blefarospasme.

2.

Terapi antibiotik 3,6,10

20 Trakoma

WHO merekomendasikan dua antibiotik untuk trakoma yaitu azitromisin oral dan salep
mata tetrasiklin.

Azitromisin lebih baik dari tetrasiklin namun lebih mahal.

Konsentrasi azitromisin di plasma rendah, tapi konsentrasi di jaringan tinggi,


menguntungkan untuk mengatasi organisme intraselular.

Azitromisin adalah drug of choice karena mudah diberikan dengan single dose.
Pemberiannya dapat langsung dipantau. Karena itu compliancenya lebih tinggi
dibanding tetrasiklin.

Azitromisin memiliki efikasi yang tinggi dan kejadian efek samping yang rendah.
Ketika efek samping muncul, biasanya ringan; gangguan GI danrash adalah efek
samping yang paling sering. Infeksi Chlamydia trachomatis biasanya terdapat juga
di nasofaring, maka bisa terjadi reinfeksi bila hanya diberi antibiotik topikal.
Keuntungan lain pemberian azitromisin termasuk mengobati infeksi genital, sistem
respirasi, dan kulit.

Resistensi

C.

Trachomatis

terhadap

azitromisin

dan

tetrasiklin

belum

dikemukakan.

Azitromisin : dewasa 1 gram per oral sehari; anak anak 20 mg/kgBB per oral sehari

Salep atau tetes topikal, termasuk preparat sulfonamide, tetrasiklin, erythromycin


dan rifampin, empat kali sehari selama enam minggu, sama efektifnya. Salep
tetrasiklin 1% : mencegah sintesis bakteri protein dengan binding dengan unit
ribosom 30S dan 50S. Gunakan bila azitromisin tidak ada. Efek samping sistemik
minimal.

Perbaikan klinik mencolok umumnya dicapai dengan tetrasiklin 1-1,5 g/ hari per os
dalam empat dosis selama 3-4 minggu ; doksisiklin 100 mg/ 2 kali sehari selama 3
minggu; atau eritromisin 1 gram / hari per os dibagi dalam empat dosis selama 3-4
minggu. Kadang-kadang diperlukan beberapa kali pengobatan agar benar-benar
sembuh. Tetrasiklin sistemik jangan diberi pada anak dibawah umur 7 tahun atau

21 Trakoma

untuk wanita hamil. Karena tetrasiklin mengikat kalsium pada gigi yang
berkembang dan tulang yang tumbuh dan dapat berakibat gigi menjadi kekuningan
dan kelainan tulang.

Saat mulai terapi, efek maksimum biasanya belum dicapai selama 10 12 minggu.
Karena itu, tetap adanya folikel pada tarsus superior selama beberapa minggu
setelah terapi berjalan jangan dipakai sebagai bukti kegagalan terapi.

3.

Kebersihan Wajah 3,6

Studi epidemiologi menunjukkan bahwa kebersihan wajah pada anak-anak


menurunkan resiko dan juga keparahan dari trakoma aktif.

Untuk mensukseskannya, pendidikan dan penyuluhan kesehatan harus berbasis


komunitas dan berkesinambungan.

4.

Peningkatan Sanitasi Lingkungan 3,6

Penyuluhan peningkatan sanitasi rumah dan sumber air, dan pembuangan feses
manusia yang baik.

Lalat yang bisa mentransmisikan trakoma bertelur di feses manusia yang ada di
permukaan tanah. Mengontrol populasi lalat dengan insektisida cukup sulit.

Kriteria kesembuhan berdasarkan pemeriksaan dengan mata telanjang adalah :


o

Folikel (-)

Infiltrat kornea (-)

Panus aktif (-)

Hiperemia (-)

Konjungtiva, meskipun ada sikatrik, tampak licin.

Pada kasus individual, kriteria penyembuhan harus ditambah :


o Pada pemeriksaan fluoresein, yang dilihat dengan slit lamp, menunjukkan
tidak ada keratitis epitelial di kornea.

22 Trakoma

o Pada pemeriksaan mikroskopis dan kerokan konjungtiva, tidak menunjukkan


adanya badan inklusi.
II.11 KOMPLIKASI 6,10

Ulkus kornea
Terjadi karena adanya destruksi epitel kornea oleh infiltrasi trakoma. Pada stadium
II atau III, dapat terjadi tarsitis, dengan akibatnya timbul penyulit entropion dan
trikiasis. Adanya entropion dengan trikiasis menimbulkan kerusakan kornea yang
dimulai dengan erosi kornea dari bila disertai infeksi sekunder, berubah menjadi
ulkus yang dalam. Ulkus kornea yang terkena infeksi sekunder, kemudian dapat
menimbulkan jaringan parut berupa nebula, makula, leukoma, dan bila terjadi
perforasi kornea menimbulkan leukoma adherens, stafiloma kornea bahkan ptisis
bulbi kalau perforasi kornea di ikuti endoftalmitis, panoftalmitis. Kebutaan dapat
terjadi dapat disebbakan oleh karena adanya jaringan parut di kornea yang hebat
sehingga menghalangi cahaya masuk ataupun disebabkan kerusakan seluruh
jaringan mata, sehingga penglihatan tidak dapat kembali lagi.

Xerosis konjungtiva dan epitel kornea


Parut di konjungtiva dalah komplikasi yang sering terjadi pada trakoma dan dapat
merusak kelenjar lakrimalis dan menutupi muara kelejar lakrimal. Hal ini secara
drastis mengurangi komponen air dalam film air mata pre- kornea, dan komponen
mukus film mungkin berkurang karena hilangnya sebagian sel goblet

Ptosis, obstruksi duktus nasolakrimalis, dakriosistitis, dan simblefaron


II.12 PROGNOSIS 6
Trakoma adalah penyakit menahun yang berlangsung lama. Dengan kondisi higiene
yang baik (khususnya mencuci muka pada anak-anak), penyakit ini sembuh atau bertambah
ringan sehingga sekuele berat terhindarkan. Sekitar 6 9 juta orang di dunia telah kehilangan
penglihatannya karena trakoma.

23 Trakoma

BAB. III
PENUTUP
Trakoma adalah suatu bentuk konjungtivitis folikular kronik yang disebabkan oleh
Chlamydia trachomatis serotipe A, B, Ba, dan C. Trakoma adalah salah satu penyakit
menahun yang paling banyak dijumpai, mengenai 1/6 dari penduduk di dunia. Penyakit ini
dapat mengenai segala umur tapi lebih banyak ditemukan pada orang muda dan anak-anak .
Prevalensi dan berat penyakit yang beragam per regional bergantung pada variasi higiene
individu dan standar kehidupan masyarakat dunia, keadaan cuaca tempat tinggal, usia saat
terkena, serta frekuensi dan jenis infeksi bakteri mata yang sudah ada. Cara penularan
penyakit ini adalah melalui kontak langsung dengan sekret penderita trakoma atau melalui
alat-alat kebutuhan sehari-hari seperti handuk, alat-alat kecantikan, dan lain-lain. 3,4,5
Grading trakoma menurut WHO adalah : trakoma folikular, trakoma inflamasi berat,
trakoma scarring, trikiasis, dan kekeruhan kornea. Klasifikasi trakoma menurut Mc Callan adalah
trakoma insipien, trakoma dengan hipertrofi papilar dan folikular yang menonjol, trakoma sikatrik,
dan trakoma sembuh. Diagnosa trakoma ditegakkan bila terdapat 2 dari gejala klinik yang khas,

1 gejala klinik dengan kerokan konjungtiva yang positif atau dengan test serologis. Banyak
infeksinya bersifat asimptomatis. Sesuai dengan masa inkubasinya yaitu 5-14 hari, infeksi

24 Trakoma

konjungtiva menyebabkan iritasi, mata merah, dan discharge mukopurulen. Keterlibatan


kornea pada proses inflamasi akut dapat menimbulkan nyeri dan fotofobia.3,4,5
WHO (World Health Organization) menerapkan Surgical care, Antibiotics, Facial
cleanliness,

Environmental

improvement

(SAFE)

untuk

penatalaksanaan

trakoma,

Azitromisin dan tetrasiklin adalah antibiotik yang direkomendasikan WHO untuk trakoma.
Peningkatan higiene individual dan sanitasi lingkungan mengurangi resiko penularan,
penyakit ini bisa sembuh atau bertambah ringan sehingga sekuele berat terhindarkan. Sekitar
6 9 juta orang di dunia telah kehilangan penglihatannya karena trakoma. Komplikasi yang
dapat terjadi adalah ulkus kornea, xerosis konjungtiva dan epitel kornea, ptosis, obstruksi
duktus nasolakrimalis, dakriosistitis, dan simblefaron. 3,6,10

DAFTAR PUSTAKA
1.

James B, Chew C, Bron A. Konjungtiva, Sklera, dan Kornea. Dalam : Oftalmologi. Edisi
9. Jakarta : Erlangga, 2005 : 61-65.

2.

American Optometric Association. Care of the Patient with Conjunctivitis. Available at :


http://www.aoa.org/documents/CPG-11.pdf, diunduh tanggal 08 Mei 2014.

3.

Wijana, Nana. Konjungtiva. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Abadi Tegal, 1993 :
40-69.

4.

Vaughan D, Asbury T. Konjungtiva. Dalam : Oftalmologi Umum. Edisi ke-17. Jakarta:


EGC, 2007 : 97-104.

5.

Ilyas, Sidarta. Mata Merah Dengan Penglihatan Normal. Dalam : Ilmu Penyakit Mata,
Cetakan ke-4. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2010 :
137-140.

6.

Anonim. Trachoma. Available at :


http://www.merckmanuals.com/professional/eye_disorders/conjunctival_and_scleral_dis
orders/trachoma.html, diunduh tanggal 09 Mei 2014.

7.

Vaughan D, Asbury T. Anatomi dan Embriologi Mata. Dalam : Oftalmologi Umum. Edisi
ke-17. Jakarta : EGC, 2007 : 1-22.

8.

Ilyas, Sidarta. Anatomi dan Fisiologi Mata. Dalam : Ilmu Penyakit Mata, Cetakan ke-4.
Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2010 : 1-10.

25 Trakoma

9.

O'Rahilly. Basic Human Anatomy. Available at :


http://www.dartmouth.edu/~humananatomy/figures/chapter_46/4610_files/IMAGE001.JPG, diunduh tanggal 11 Mei 2014.

10. Salomon, Anthony dan Hugh R Taylor. Treatment and Medication Trachoma. In :
eMedicine Ophtalmology. 2010 : 29-38.

26 Trakoma