Anda di halaman 1dari 42

1.

Dislokasi Sendi Panggul


Sabtu, 20 April 2013 - 22:23:36 WIB
Diposting oleh : Administrator | Kategori: Hip - Dibaca: 4823 kali
Share on facebook Share on twitter Share on email Share on print More Sharing Services 6

DISLOCASI SENDI PANGGUL


( HIP JOINT DISLOCATION )
Oleh Dr H Subagyo SpB - SpOT
BAB I
PENDAHULUAN
Dislocasi panggul adalah suatu keadaan dimana terjadi perpindahan permukaan caput femoris
terhadap acetabulum. Dislocasi terjadi ketika caput femoris keluar dari acetabulum. Kondisi ini
dapat congenital atau didapat (acquired). Dari kedua dislocasi ini, dislocasi yang paling sering
ditemukan adalah dislocasi panggul yang didapat akibat trauma (dislocasi panggul traumatika).
Dislocasi panggul traumatika ini dapat terjadi pada semua kelompok usia dan angka kejadiannya
meningkat seiring dengan meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas; dan dislocasi panggul ini
merupakan suatu kegawatdaruratan ortopedik yang membutuhkan tata laksana segera, sehingga
makalah ini akan membahas lebih dalam mengenai dislocasi panggul traumatika.
Seringkali cedera panggul disertai dengan cedera berat yang membutuhkan tatalaksana segera.
Cedera panggul harus segera direduksi karena semakin lama caput femoris berada di luar
acetabulum, maka semakin tinggi angka kejadian necrosis avaskular. Hanya sedikit caput
femoris yang dapat bertahan jika tetap mengalami dislocasi selama lebih dari 24 jam.16
Reduksi dapat dilakukan secara tertutup maupun terbuka. Sebelum
diingat bahwa harus dilakukan pemeriksaan neurovaskular terlebih
harus dilakukan di bawah anestesi umum, dilakukan secara lembut,
diperlukan untuk mencapai reduksi atraumatik. Jika reduksi tertutup
maka dapat dilakukan reduksi terbuka.16

melakukan reduksi perlu


dahulu. Reduksi tertutup
dan relaksasi otot sangat
tidak membuahkan hasil,

Makalah ini akan membahas mengenai anatomi sendi panggul, definisi, epidemiologi, tipe
dislocasi panggul, mekanisme cedera, gambaran klinis, pemeriksaan untuk menegakkan
diagnosis, tatalaksana non-operatif dan operatif, complicasi, dan prognosis. Hal ini penting untuk
mendapatkan diagnosis dislocasi panggul dengan cepat dan tepat sehingga dapat dilakukan
pemilihan tatalaksana yang tepat dan efektif.

BAB II
ANATOMI SENDI PANGGUL disini tidak dibahas
BAB III
DISLOCASI PANGGUL
3.1. DEFINISI
Dislocasi panggul adalah suatu keadaan dimana terjadi perpindahan permukaan sentuh caput
femoris terhadap acetabulum. Dislocasi terjadi ketika caput femoris keluar dari acetabulum.
Kondisi ini dapat congenital atau didapat (acquired).12
3.2. DISLOCASI PANGGUL CONGENITAL
Terminologi dislocasi panggul congenital sebenarnya telah diganti dengan terminologi
developmental dysplasia of the hip (DDH). Kelainan yang tercakup di dalamnya meliputi
displasia asetabulum, subluksasi, dan dislocasi. Dislocasi congenital adalah suatu fase dari
berbagai ketidakstabilan panggul pada bayi-bayi yang baru lahir. Biasanya pada saat kelahiran,
panggul benar-benar stabil dan dipertahankan berflexi sebagian, tetapi kadang-kadang, sendi
tidak stabil dalam arti bahwa sendi itu berdislocasi atau dapat berdislocasi.5
3.2.1. Epidemiologi
Insidensi ketidakstabilan yang dilaporkan adalah 5 20 per 1000 kelahiran hidup (Palmen, 1961;
Barlow, 1962; Wilkinson, 1972); tetapi kebanyakan panggul ini menjadi stabil secara spontan,
dan pada pemeriksaan ulang 3 minggu setelah kelahiran, insidensi ketidakstabilan hanya 1 atau 2
per 1000 bayi. Biasanya anak perempuan lebih sering terkena daripada anak laki-laki, rasionya
kira-kira 7:1. Panggul sebelah kanan lebih sering terkena daripada yang sebelah kanan; 1 dalam
5 kasus ini bersifat bilateral.6
3.2.2. Etiologi dan Patogenesis
Faktor genetik pasti berperan pada etiologi, karena dislocasi congenital cenderung berlangsung
dalam keluarga atau bahkan seluruh populasi (misalnya masyarakat yang tinggal di negara
pesisir pantai utara dan timur Mediterania).10

Faktor hormonal (yaitu tingginya kadar estrogen, progesteron, dan relaksin pada ibu dalam
beberapa minggu terakhir kehamilan) dapat memperburuk kelonggaran ligamentum pada bayi.
Hal ini dapat menerangkan jarangnya terjadi ketidakstabilan panggul pada bayi prematur, yang
lahir sebelum hormon-hormon ini mencapai puncaknya. 10
Malposisi intrauterin (terutama posisi sungsang dengan kaki yang berextensi) dapat
mempermudah terjadinya dislocasi; ini berhubungan dengan lebih tingginya insidensi pada bayi
yang merupakan anak sulung; dimana versi spontan lebih sedikit kemungkinannya untuk terjadi.
Dislocasi unilateral biasanya mempengaruhi panggul kiri; hal ini sesuai dengan presentasi
verteks (oksiput anterior kiri) dimana panggul kiri berdekatan dengan sakrum ibu, sehingga
posisinya beradduksi.10
Faktor postnatal dapat berperan dalam menetapnya ketidakstabilan neonatal dan gangguan
perkembangan asetabulum. Dislocasi sering terjadi pada orang Indian Amerika Utara yang
membedong bayinya dan menggendongnya dengan posisi kaki bayi rapat, panggul dan lutut
sepenuhnya berextensi, dan masyarakat Cina Selatan dan Afrika menggendong bayi di
punggungya dengan posisi kaki bayi berabduksi lebar. Terdapat juga bukti dari percobaan bahwa
extensi lutut dan panggul secara serentak menyebabkan dislocasi panggul selama perkembangan
awal (Yamamuro dan Ishida, 1984).11
3.2.3. Patologi
Saat kelahiran, meskipun tidak stabil, bentuk panggul mungkin normal, namun kapsulnya
biasanya teregang secara berlebihan.5
Ketika masa bayi, beberapa perubahan terjadi, beberapa di antaranya mungkin menunjukkan
displasia primer pada asetabulum dan/atau femur proximal, tetapi kebanyakan di antaranya
muncul karena adaptasi terhadap ketidakstabilan menetap dan pembebanan sendi secara
abnormal.5
Caput femoris mengalami dislocasi di bagian posterior, tetapi dengan extensi panggul, caput
tersebut awalnya berada di posterolateral dan kemudian superolateral dari acetabulum. Soket
tulang rawan terletak dangkal dan anteversi. Caput femoris yang bertulang rawan berukuran
normal, namun inti tulangnya muncul terlambat dan osifikasi tertunda selama masa kanakkanak.5
Kapsul teregang dan ligamentum teres menjadi panjang dan hipertrofi. Di bagian superior,
acetabulum labrum dan tepi kapsul dapat didorong ke dalam soket oleh caput femoris yang
mengalami dislocasi. Limbus fibrocartilaginosa ini dapat menghalangi usaha reduksi tertutup
caput femoris.
Setelah mulai menyangga tubuh, perubahan-perubahan ini terjadi lebih hebat. Acetabulum dan
collum femoris tetap anteversi dan tekanan dari caput femoris menyebabkan terbentuknya soket
palsu di antara tepi acetabulum dan otot psoas, memberikan gambaran jam pasir (hourglass).
Seiring waktu, otot-otot yang berada di sekelilingnya akan beradaptasi dengan cara memendek.

3.2.4. Gambaran Klinis dan Pemeriksaan Fisik


Sangatlah penting untuk mendiagnosis dislocasi panggul pada setiap kelahiran. Bayi yang baru
lahir harus diperiksa untuk mencari tanda-tanda ketidakstabilan panggul. Bila terdapat riwayat
ketidakstabilan congenital dalam keluarga, yang disertai dengen presentasi bokong atau kelainan
congenital lain, maka kita harus sangat berhati-hati dan pemeriksaan harus dilakukan lebih dari
satu kali.6,7,9
Pada neonatus. Terdapat beberapa cara untuk menguji ketidakstabilan panggul. Dalam uji
Ortolani, pemeriksa memegang paha bayi dengan posisi ibu jari berada di sisi medial paha dan
jari-jari lainnya diletakkan pada trochanter major, kemudian panggul diflexikan hingga 900 dan
diabduksi secara perlahan-lahan. Normalnya, abduksi berjalan lancar hingga 90 0. Pada dislocasi
congenital, pergerakan biasanya terhambat, namun jika trochanter major diberikan tekanan,
maka akan terdengar bunyi halus ketika dislocasi tereduksi dan kemudian panggul akan
berabduksi penuh (sentakan ke dalam). Jika abduksi berhenti di tengah jalan dan tidak ada
sentakan ke dalam, maka kemungkinan terdapat suatu dislocasi yang tidak dapat tereduksi.
Uji Barlow dilakukan dengan cara yang sama dengan uji Ortolani, namun pada uji ini, ibu jari
pemeriksa ditempatkan pada lipat paha dan kemudian dilakukan usaha untuk mengungkit caput
femoris masuk dan keluar dari acetabulum ketika abduksi dan adduksi. Jika caput femoris
normalnya berada dalam posisi reduksi, tetapi dapat keluar dari sendi dan dapat masuk lagi,
maka panggul tersebut digolongkan sebagai panggul yang dapat mengalami dislocasi (tidak
stabil). 6,7

Gambar 21. A) Uji Ortolani dan B) Uji Barlow


(Diunduh dari: http://www.aafp.org/afp/2006/1015/p1310.html)
Setiap panggul yang memiliki tanda-tanda ketidakstabilan, walaupun sedikit, sebaiknya
dilakukan pemeriksaan ultrasonografi. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan bentuk soket tulang
rawan dan posisi caput femoris. Jika terdapat kelainan, bayi dibebat dengan dengan panggul

berflexi dan berabduksi, dan diperiksa kembali 6 minggu kemudian. Pada saat tersebut mungkin
perlu dinilai apakah panggul berhasil direduksi dan stabil, tereduksi tapi tidak stabil, mengalami
subluksasi atau dislocasi. 6,7,9
Pada kasus yang terlambat dikenali. Seorang ibu yang jeli akan melihat ketidaksimetrisan,
panggul yang berbunyi klik, atau kesulitan ketika memakaikan popok karena terbatasnya
abduksi. Bila dislocasi bersifat unilateral, lipatan kulit akan tampak asimetris dan kaki sedikit
pendek dan berexorotasi; ibu jari yang diletakkan di lipat paha dapat merasakan ketiadaan caput
femoris. Bila dislocasi bersifat bilateral, maka terdapat celah perineal abnormal yang lebar dan
abduksi berkurang. 6,7,9

Gambar 22. Dislocasi panggul kiri


Panggul kiri tidak dapat abduksi penuh.
(Diambil dari: Salomon L, Warwick D, Nayagam S. Apleys System of Orthopaedic and
Fractures. Edisi ke-9. London; 2010. Hal 500)
Berbeda dengan kepercayaan yang beredar di masyarakat, terlambatnya berjalan bukanlah
gambaran khas dislocasi, walau demikian anak-anak yang belum dapat berjalan pada usia 18
bulan, diagnosis dislocasi harus disingkirkan. Pincang atau gaya berjalan Trendelenburg atau
waddling (gaya berjalan dimana langkah pendek-pendek dan bergoyang ke kanan-kiri seperti
bebek) dapat menjadi tanda dislocasi yang terlewatkan. 6,7,9

Gambar 23. Dislocasi unilateral (panggul kiri)


(Diambil dari: Salomon L, Warwick D, Nayagam S. Apleys System of Orthopaedic and
Fractures. Edisi ke-9. London; 2010. Hal 500)
3.2.5. Pencitraan
Ultrasonografi secara luas telah menggantikan radiografi untuk pencitraan panggul neonatus.
Pada saat kelahiran, acetabulum dan caput femoris merupakan tulang rawan, sehingga tidak
terlihat pada pemeriksaan X-ray biasa. Pemeriksaan X-ray berguna setelah bayi berusia lebih dari
6 bulan dan penilaian dilakukan dengan menggambar garis untuk menetapkan tiga indeks
geometrik.8
3.2.6. Tata Laksana

3-6 BULAN PERTAMA

Jika tersedia fasilitas ultrasonografi, semua bayi baru lahir dengan latar belakang berisiko tinggi
untuk mengalami ketidakstabilan panggul harus diperiksa menggunakan USG. Jika pemeriksaan
menunjukkan bahwa panggul telah tereduksi dan memiliki garis cartilago yang normal, tidak
diperlukan tata laksana, namun anak tersebut tetap harus diawasi selama 3-6 bulan. Jika terdapat
displasia acetabulum atau ketidakstabilan panggul, maka panggul dibebat dalam posisi flexi dan
abduksi. Pemeriksaan ultrasonografi diulang hingga panggul stabil dan anatomi kembali normal
atau telah diputuskan untuk dilakukan terapi yang lebih agresif.5,6
Jika tidak tersedia fasilitas ultrasonografi, kebijakan yang paling sederhana adalah menganggap
semua bayi dengan latar belakang berisiko tinggi (riwayat keluarga atau kelahiran sungsang
dengan extensi), atau dengan uji Ortolani atau uji Barlow positif, harus dicurigai dan
merawatnya dengan popok dobel atau abduction pillow selama 6 minggu pertama. Pada stadium
tersebut, mereka diperiksa kembali: bayi yang panggulnya stabil diperbolehkan bebas namun
tetap dalam pengawasan sekurang-kurangnya selama 6 bulan; bayi yang mengalami

ketidakstabilan menetap diterapi dengan pembebatan abduksi yang lebih formal sekurangkurangnya selama 6 bulan hingga panggul stabil dan pemeriksaan X-ray memperlihatkan bahwa
acetabular roof berkembang dengan memuaskan (biasanya 3-6 bulan). 5,6
Terdapat dua kelemahan untuk pendekatan ini: 1)sensitivitas uji klinis tidak cukup tinggi untuk
meyakinkan bahwa semua kasus dapat dikenali (Jones, 1994); dan 2) dari panggul yang tidak
stabil saat lahir, 80-90% akan stabil secara spontan dalam 2-3 minggu, sehingga lebih bijaksana
untuk tidak memulai pembebatan. Hal ini mengurangi sedikit risiko (namun bermakna) akan
terjadinya necrosis epifisis yang menyertai setiap bentuk pembebatan pada neonatus. Maka, jika
panggul dapat mengalami dislocasi, tetapi tidak mengalami dislocasi, bayi tidak diberi terapi,
melainkan diperiksa ulang setiap minggu; jika setelah 3 minggu panggul tetap tidak stabil, maka
bebat abduksi dipasang. 5,6
Jika panggul telah mengalami dislocasi pada pemeriksaan yang pertama, dengan hati-hati
panggul ditempatkan pada posisi reduksi dan dilakukan pembebatan abduksi. Reduksi
dipertahankan hingga panggul stabil; ini dapat berlangsung hanya beberapa minggu, namun
tindakan yang paling aman adalah mempertahankan bebat hingga pemeriksaan X-ray
menunjukkan acetabular roof yang baik. 5,6
Tujuan pembebatan adalah mempertahankan panggul agar berflexi dan berabduksi; posisi
ekstrim dihindari dan sendi-sendi harus dimungkinkan untuk melakukan sedikit gerakan dalam
bebat. Untuk bayi yang baru lahir, popok dobel atau abduction pillow yang empuk cukup
membantu.
Von Rosen harness adalah suatu bebat lunak yang berbentuk H yang bermanfaat karena mudah
digunakan (kelemahannya adalah mudah terlepas). Pavlik harness lebih sulit dipakaikan tetapi
lebih banyak memberi kebebasan bagi pemakainya. 5,6

(A)

(B)

Gambar 24. A) Pavlik Harness dan B) Von Rosen Harness

(Diambil dari: Salomon L, Warwick D, Nayagam S. Apleys System of Orthopaedic and


Fractures. Edisi ke-9. London; 2010. Hal 501)
Tiga peraturan utama dari pembebatan adalah 1) Panggul harus benar-benar tereduksi sebelum
dibebat; 2) posisi ekstrim harus dihindari; 3) panggul harus bisa bergerak. Apapun tindakan yang
diambil harus tetap ditindak-lanjuti hingga anak dapat berjalan. Kadang-kadang, sekalipun
dengan terapi yang paling hati-hati, panggul dapat memperlihatkan tingkat displasia acetabulum
tertentu di kemudian hari. 5,6

Gambar 25. X-Ray menunjukkan hasil dari pembebatan pada panggul kanan pada usia 3
bulan dan 18 bulan
(Diambil dari: Salomon L, Warwick D, Nayagam S. Apleys System of Orthopaedic and
Fractures. Edisi ke-9. London; 2010. Hal 501)

DISLOCASI PERSISTEN: 6-18 BULAN

Jika setelah terapi dini panggul belum sepenuhnya tereduksi, atau jika anak tersebut di kemudian
hari menunjukkan adanya dislocasi yang tersembunyi, panggul tersebut harus direduksi terutama dengan metode tertutup, jika perlu dengan operasi dan tetap direduksi hingga
perkembangan acetabulum memuaskan. 5,6
Reduksi tertutup. Cara ini cocok untuk anak di atas usia 3 bulan dan dilakukan di bawah
anestesi umum, disertai dengan arthrogram untuk mengkonfirmasi reduksi konsentrik. Reduksi
tertutup merupakan cara ideal, namun memiliki risiko rusaknya pasokan darah pada caput
femoris dan menyebabkan terjadinya necrosis. Untuk memperkecil risiko ini, reduksi dilakukan
bertahap; traksi dilakukan pada kedua kaki. Jika panggul tidak tereduksi, maka cara ini harus
ditinggalkan dan pendekatan operasi harus dipilih pada usia kira-kira 1 tahun. 5,6
Pembebatan. Pembebatan panggul yang direduksi secara konsentrik ditahan dalam plaster spica
(gips) dalam keadaan 600 flexi, 400 abduksi, dan 200 endorotasi. Setelah 6 minggu, spica diganti
dan stabilitas panggul dinilai di bawah anestesi umum. Jika posisi dan stabilitas memuaskan,
maka spica dipertahankan hingga 6 minggu berikutnya. Setelah plaster spica dilepas, panggul
dibiarkan tidak terbebat atau dipakaikan bebat abduksi yang dapat dilepas-pasang yang
dipertahankan hingga 6 bulan, bergantung hasil pemeriksaan radiologi yang menunjukkan
perkembangan acetabulum yang memuaskan. 5,6

Operasi. Jika di setiap tahap reduksi konsentrik masih belum tercapai, maka diperlukan operasi
terbuka. Tendon psoas dibagi; lapisan yang menghambat (kapsul yang berlebihan atau
ligamentum teres yang menebal) dibuang dan panggul direduksi. Biasanya panggul stabil pada
600 flexi, 400 abduksi, dan 200 endorotasi. Spica dipasang dan panggul dibebat seperti yang
dijelaskan di atas. Jika stabilitas hanya dapat dicapai dengan melakukan endorotasi, maka
osteotomi korektif subtrochanter perlu dilakukan baik pada saat reduksi terbuka atau 6 minggu
kemudian. Pada anak yang lebih muda biasanya hal ini memberi hasil yang baik (Gibson dan
Benson, 1982).

DISLOCASI PERSISTEN: 18 BULAN 4 TAHUN

Pada anak yang lebih tua, reduksi tertutup kemungkinan kurang berhasil; banyak ahli bedah
langsung melakukan artrografi dan reduksi terbuka.
Traksi. Meskipun reduksi tertutup tidak berhasil, suatu periode traksi (jika perlu dikombinasi
dengan tenotomi psoas dan adductor) akan membantu melonggarkan jaringan dan membawa
caput femoris ke bawah ke arah acetabulum.
Artrografi. Suatu artrogram pada tahap ini akan memperjelas anatomi panggul dan
memperlihatkan apakah terdapat suatu limbus atau displasia acetabulum yang nyata.
Operasi. Kapsul sendi dibuka di bagian anterior, setiap limbus yang berada di dalam dibuang
dan caput femoris ditempatkan pada acetabulum. Biasanya diperlukan osteotomi derotasi yang
dipertahankan dengan plate dan screw. Pada saat yang bersamaan, segmen kecil dari femur
proximal dapat dibuang untuk mengurangi tekanan pada panggul (Klisic dan Jankovic, 1976).12
Jika terdapat displasia acetabulum yang nyata, maka diperlukan juga beberapa bentuk
acetabuloplasty baik rekonstruksi perikapsular pada acetabular floor (operasi Pemberton) atau
suatu osteotomi inominata yang memposisikan kembali seluruh tulang inominata dan
acetabulum (Salter). 5,6

(A)

(B)
Gambar 26. A) Osteotomi derotasi dan B) Osteotomi inominata

(Diambil dari: Salomon L, Warwick D, Nayagam S. Apleys System of Orthopaedic and


Fractures. Edisi ke-9. London; 2010. Hal 501)
Pembebatan. Setelah operasi, panggul ditahan dalam plaster spica selama 3 bulan dan
kemudian dibiarkan bebas untuk pemulihan pergerakan. Anak tersebut tetap berada di bawah
pengawasan klinis dan radiologi untuk memastikan panggul tersebut telah tereduksi dan sedang
berkembang dengan memuaskan.5,6

DISLOCASI PADA ANAK > 4 TAHUN

Reduksi dan stabilisasi akan lebih sulit pada usia yang lebih tua. Namun, pada anak-anak yang
berusia di antara 4-8 tahun terutama jika dislocasi bersifat unilateral harus tetap dipikirkan
bahwa risiko necrosis avaskular dan kekakuan panggul dilaporkan terjadi > 25%. Prinsip tata
laksananya sama seperti yang telah dijelaskan di atas.
Dislocasi unilateral pada anak-anak yang berusia > 8 tahun seringkali memperlihatkan panggul
yang mobile dan sedikit nyeri. Hal ini merupakan alasan untuk tidak melakukan intervensi,
meskipun pada kasus tersebut anak ini harus menerima kenyataan bahwa gaya berjalannya
abnormal. Jika reduksi ingin dilakukan, maka diperlukan operasi terbuka dan rekonstruksi
acetabulum. 5,6
Dislocasi bilateral memberikan deformitas dan gaya berjalan waddling yang simetris sehingga
tidak terlalu mencolok; risiko intervensi operasi juga meningkat karena kegagalan pada satu
sendi akan membuat deformitas yang asimetris.
Oleh karena itu, pada kasus ini, sebagian besar ahli bedah menghindari operasi pada anak usia di
atas 6 tahun, kecuali jika panggul terasa sangat sakit atau deformitas berat. Pasien yang tidak
diterapi berjalan dengan bergoyang-goyang namun tidak ada keluhan. 5,6

DISLOCASI PERSISTEN PADA ORANG DEWASA

Orang dewasa, yang tampaknya telah beradaptasi dengan sangat baik selama bertahun-tahun,
pada usia 30-an atau 40-an dapat mengalami rasa tidak nyaman yang semakin meningkat akibat
dislocasi congenital yang tidak direduksi. Berjalan akan semakin melelahkan dan seringkali
disertai dengan nyeri punggung. Bila dislocasinya bilateral, hilangnya abduksi dapat benar-benar
menghambat hubungan seksual pada wanita.
Ketidakmampuan dapat menjadi sangat berat sehingga menjadi alasan untuk
melakukan penggantian sendi keseluruhan (total hip replacement). Operasi ini sulit dilakukan
pada kelompok pasien ini dan tidak boleh dilakukan sembarangan. Caput femoris didudukkan di
atas acetabulum yang dangkal atau lenyap. Soket baru harus dibuat di lokasi anatomi yang
normal; namun, dinding pelvis biasanya tipis dan mungkin diperlukan untuk membuat atap soket
dengan bone graft. Kemudian akan sulit untuk membawa caput femoris ke bawah, sejajar dengan
soket tanpa risiko kerusakan nervus ischiadicus; jika perlu, osteotomi dilakukan dan segmen
kecil dari tulang femur dibuang agar pas. Femur proximal biasanya sempit dan collum femoris

dapat anteversi; hal ini juga membutuhkan koreksi ketika sedang dilakukan osteotomi, dan
implan spesial tersedia untuk medullary canal yang kecil. 5,6

3.2.7. Complicasi
Gagal reduksi. Banyak usaha yang gagal untuk mencapai reduksi konsentrik lebih baik jika
dibandingkan tanpa terapi sama sekali. Acetabulum tetap tidak berkembang, caput femoris dapat
mengalami deformitas, collum femoris biasanya anterversi, dan kapsul menebal. Sangatlah
penting untuk bertanya-tanya mengapa reduksi gagal: apakah dislocasi merupakan bagian dari
kondisi umum atau gangguan neuromuskular yang disertai dengan ketidakseimbangan otot? 5,6
Necrosis avaskular. Complicasi yang paling ditakuti dari terapi adalah iskemia dari
caput femoris yang imatur. Hal ini dapat terjadi pada setiap tingkatan usia dan terapi dan
mungkin disebabkan oleh cedera vaskular atau obstruksi dari reduksi dan pembebatan yang
terlalu kuat. Pencegahan adalah terapi yang terbaik: reduksi manipulatif yang dipaksa tidak
diperbolehkan; traksi harus dilakukan dengan lembut dan pada posisi netral; posisi abduksi yang
ekstrim harus dihindari; tenotomi adductor harus mendahului reduksi tertutup; jika kesulitan
maka reduksi terbuka lebih dipilih. 5,6
Ketika terjadi necrosis avaskular, maka tidak ada tata laksana yang efektif kecuali
menghindari manipulasi dan menopang berat tubuh hingga epifisis pulih. Pada kasus yang
ringan, tidak terjadi deformitas residual, atau seburuk-buruknya dapat terjadi deformitas collum
femoris yang dapat dikoreksi dengan osteotomi. Pada kasus yang berat, dapat terjadi displasia
acetabulum, pemendekkan collum femoris, dan permukaan caput femoris menjadi rata sehingga
diperlukan koreksi bedah. 5,6

3.3. DISLOCASI PANGGUL TRAUMATIKA (ACQUIRED)


3.3.1. Epidemiologi
Dengan meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas, dislocasi panggul traumatik makin sering
ditemukan. Dislocasi panggul ini dapat terjadi pada semua kelompok usia. Dislocasi panggul
posterior merupakan dislocasi yang paling sering terjadi. Dislocasi panggul posterior terjadi
sebanyak 90% dari kasus, sedangkan dislocasi panggul anterior terjadi sebanyak 10% dari
seluruh kasus dislocasi panggul traumatik.12

3.3.2. Klasifikasi
Berdasarkan arah dislocasi, dislocasi panggul dibagi menjadi 3, yaitu dislocasi posterior,
dislocasi anterior, dan dislocasi pusat (central).28

3.3.2.1. DISLOCASI POSTERIOR


Mekanisme Cedera
Empat dari lima dislocasi panggul traumatik adalah dislocasi posterior. Biasanya dislocasi ini
terjadi dalam kecelakaan lalu lintas bila seseorang yang duduk di dalam mobil terlempar ke
depan sehingga lutut terbentur pada dashboard. Femur terdorong ke atas dan caput femoris
keluar dari acetabulum, seringkali terjadi fracture pada acetabulum (fracture-dislocasi).12,22
(Gambar ilustrasi dapat dilihat di halaman berikutnya)

Gambar 27. Mekanisme cedera pada dislocasi panggul posterior


(Diunduh dari: http://www.ota.org/res_slide/L01_Hip_Disloc_Fem_Hd_Fxs.ppt)

Gambaran Klinis dan Pemeriksaan Fisik


Caput femoris dapat berada di posisi yang tinggi (iliac) atau rendah (ischiatic), tergantung dari
posisi flexi paha ketika terjadi dislocasi.12

Dislocasi tipe iliac:

Panggul flexi, adduksi, endorotasi.

Extremitas yang terkena tampak memendek.

Trochanter major dan bokong di daerah yang mengalami dislocasi terlihat menonjol.

Lutut extremitas yang mengalami dislocasi tampak menumpang di paha sebelahnya.

Dislocasi tipe ischiatic:


Panggul flexi.

Panggul sangat beradduksi sehingga lutut di extremitas yang mengalami dislocasi tampak
menindih di paha sebelahnya.
-

Extremitas bawah tampak dalam posisi endorotasi yang ekstrim.

Trochanter major dan bokong di daerah yang mengalami dislocasi terlihat menonjol.

Gambar 28. Posisi sendi pada dislokasi pinggul posterior


(Diunduh dari:
http://www.fammed.washington.edu/network/sfm/ Orthorama/Ortho4discuss.htm)

Jika salah satu tulang panjang mengalami fracture (biasanya femur), dislocasi panggul seringkali
tidak terdiagnosis. Pedoman yang baik adalah dengan pemeriksaan pelvis dengan pemeriksaan

radiologis. Tungkai bawah juga harus diperiksa untuk mencari apakah terjadi cedera syaraf
ischiadicus.
Cedera neurovaskular pada dislocasi panggul posterior dapat memberikan gambaran sebagai
berikut:19

Nyeri di panggul, bokong, dan tungkai bawah bagian posterior.

Hilangnya sensasi di tungkai bawah dan kaki.

Hilangnya kemampuan dorsoflexi (cabang peroneal) atau plantarflexi (cabang tibial).

Hilangnya deep tendon reflex di pergelangan kaki.

Hematoma lokal.

Klasifikasi
Epstein dan Thompson (1951) menganjurkan suatu klasifikasi yang dapat membantu perencaan
tata laksana. Klasifikasi ini dibuat sebelum ditemukannya CT-scan.14
Berikut ini adalah klasifikasi dislocasi panggul posterior menurut Epstein dan Thompson:

Tipe I

Dislocasi sederhana, dengan atau tanpa fragmen


di dinding posterior acetabulum.

Tipe II

Dislocasi dengan fragmen besar di dinding posterior acetabulum.

Tipe

Dislocasi dengan kominusi dinding posterior acetabulum.

Tipe IV

Tipe V
: Dislocasi dengan fracture caput femoris, yang diklasifikasikan menurut
Pipkin (1957).

Dislocasi dengan fracture dasar (lantai) acetabulum.

(Gambar klasifikasi menurut Pipkin dapat dilihat di halaman


berikutnya)

Gambar 29. Klasifikasi FractureCaput FemorisMenurut Pipkin


A) Tipe I: Garis fracture berada di bawah fovea, B) Fragmen fracture meliputi fovea,
C) Sama seperti tipe I dan II, namun disertai dengan fracture collum femoris, D) Fracture
caput femoris dan acetabulum dalam bentuk apapun.
(Diambil dari: DeLee JC: Fractures and dislocations of the hip. Dalam: Rockwood CA Jr, Green
DP, Bucholz RW, et al, eds: Rockwood and Greens fractures in adults. Edisi ke-4. Philadelphia:
Lippincott-Raven;1996)
Pemeriksaan Radiologi
Pada foto anteroposterior (AP), caput femoris terlihat keluar dari acetabulum dan berada di atas
acetabulum. Segmen atap acetabulum atau caput femoris dapat ditemukan patah dan bergeser.
Foto oblik dapat digunakan untuk mengetahui ukuran fragmen. CT scan adalah cara terbaik
untuk melihat fracture acetabulum atau setiap fragmen tulang.17

1. Pasien ditempatkan di atas


meja dalam posisi telungkup.
2. Tungkai yang mengalami
dislokasi digantungkan ke
bawah dan lutut difleksikan.
3. Seorang asisten memegang
tungkai yang sehat secara
horizontal.
4. Operator memberi tekanan ke
bawah secara mantap pada
Gambar 30. Gambaran radiologi dislocasi panggul posterior
lutut yang fleksi.
5. Posisi ini tetap dipertahankan (Diunduh dari: http://radiopaedia.org/cases/posterior-hiphingga otot-otot relaksasi dan dislocation?fullscreen=true)
caput femoris turun ke
acetabulum.
Kadang-kadang dengan sedikit
mengayunkan paha dapat
mempercepat reduksi.
Tata Laksana
Dislocasi harus direduksi secepat mungkin di bawah anestesi umum. Reduksi harus dilakukan
dalam waktu 12 jam sejak terjadinya dislocasi.41 Pada sebagian besar kasus dilakukan reduksi
tertutup, namun jika reduksi tertutup gagal sebanyak 2 kali maka harus dilakukan reduksi terbuka
untuk mencegah kerusakan caput femoris lebih lanjut.13 Sebelum melakukan reduksi, sebaiknya
dilakukan pemeriksaan neurovaskular.
Indikasi reduksi tertutup:
- Dislocasi dengan atau tanpa defisit neurologis jika tidak ada fracture.
- Dislocasi yang disertai fracture jika tidak terdapat defisit neurologis.
Kontraindikasi reduksi tertutup:
- Dislocasi panggul terbuka.
Berikut ini adalah beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mereduksi dislocasi panggul
posterior sederhana (tipe I Epstein).16,35

1. Pasien
berbaring
dalam posisi
supine.

2. Seorang
3. Operator
asisten
memegang
menekan spina tungkai yang
iliaca anterior mengalami
superior.
dislokasi pada
pergelangan kaki
menggunakan
satu tangan.

4. Lengan bawah 5. Paha dalam


operator
posisi adduksi dan
diletakkan di
endorotasi , lalu
bawah lutut, lalu difleksikan 900.
lakukan traksi Tindakan ini
longitudinal
merelaksasikan
sejajar
ligamen
deformitas.
iliofemoral.

6.Setelah traksi
dipertahankan,
caput femoris
diungkit ke dalam
acetabulum
dengan abduksi,
rotasi eksternal,
dan ekstensi
pinggul.

Manuver Stimson
Manuver ini menggunakan berat tungkai bawah dan gravitasi untuk mengurangi dislocasi.

1. Pasien ditempatkan di atas meja dalam posisi telungkup.


2. Tungkai yang mengalami dislokasi digantungkan ke
bawah dan lutut difleksikan.
3. Seorang asisten memegang tungkai yang sehat secara
horizontal.
4. Operator memberi tekanan ke bawah secara mantap
pada lutut yang fleksi.
5. Posisi ini tetap dipertahankan hingga otot-otot relaksasi
dan caput femoris turun ke acetabulum.
Kadang-kadang dengan sedikit mengayunkan paha dapat
mempercepat reduksi.

1. Pasien dibaringkan di lantai 2. Seorang asisten menekan 3. Angkat tungkai yang


dalam posisi supine.
spina iliaca anterior
mengalami dislokasi dan
superior.
fleksikan sendi pinggul dan
lutut.

4. Rotasikan tungkai ke posisi 5. Buat traksi


netral.
pada tungkai
atas, angkat c
dalam acetab

Teknik Whistler
Panggul yang mengalami dislocasi direlokasikan menggunakan lengan operator untuk
mengangkat dan memanuver tungkai yang mengalami dislocasi ketika bahu operator diangkat.
Tangan operator bertumpu pada paha kontralateral. Seorang asisten atau tangan lain operator
melakukan kontratraksi pada tibia atau fibula.

Gambar 31. Teknik Whistler


(Diunduh dari: http://www.accessemergencymedicine.com)
Gambar 32. Traksi longitudinal
(Diunduh dari: http://www.accessemergencymedicine.com)
Traksi longitudinal
Pasien dibaringkan dalam posisi supine, kemudian seorang asisten melakukan traksi lateral,
sementara operator melakukan traksi longitudinal. (Gambar dapat dilihat di halaman berikutnya)
Leg-crossing maneuver
Kadang-kadang dislocasi dapat direduksi dengan cara membujuk pasien untuk perlahan-lahan
menyilangkan tungkai yang mengalami dislocasi ke arah tungkai sebelahnya (adduksi) dan
kemudian lakukan traksi lembut ketika asisten memandu caput femoris kembali ke posisi semula
dengan melakukan tekanan di sebelah anterior.
Teknik fulcrum
Pasien dibaringkan dalam posisi supine, lalu lutut operator diletakkan di bawah lutut pasien di
sisi yang mengalami dislocasi. Lutut operator digunakan sebagai titik tumpu untuk mengungkit
caput femoris agar kembali masuk ke acetabulum.

Gambar 33. Teknik fulcrum


(Diunduh dari: http://www.accessemergencymedicine.com)

Manuver East Baltimore Lift


Pasien dibaringkan dalam posisi supine. Operator berdiri di sisi panggul yang mengalami
dislocasi. Extremitas bawah pasien diflexikan hingga panggul dan lutut membentuk sudut 900.
Kemudian operator menempatkan lengannya yang lebih dekat dengan kepala pasien di bawah
lutut pasien, menopang tungkai pasien dengan cara menumpukan tangannya di bahu seorang
asisten yang berdiri di seberangnya, sedangkan tangan lain operator memegang pergelangan kaki
pasien.
Kemudian asisten meletakkan tangannya di bahu operator dengan cara melewati bagian bawah
lutut pasien (serupa dengan yang dilakukan oleh operator). Operator dan asisten kemudian
berdiri dengan posisi lutut sedikit flexi dan secara bersama-sama berdiri tegak tanpa merubah
posisi bahu untuk memberikan traksi. Operator merotasikan tungkai bawah pasien di bagian
pergelangan kaki, sedangkan asisten yang kedua menstabilkan pelvis.34

Gambar 34. Manuver East Baltimore Lift

(Diambil dari: Schafer SJ, Anglen JO: The East Baltimore Lift: a simple and effective method for
reduction of posterior hip dislocations, J Orthop Trauma. 1999. 13:56)

Pemeriksaan X-Ray sangat diperlukan untuk memastikan reduksi dan untuk menyingkirkan
fracture. Bila terdapat sedikit kecurigaan saja bahwa fragmen tulang telah terperangkap di dalam
sendi, maka diperlukan pemeriksaan CT-scan.16
Reduksi biasanya stabil, panggul yang telah mengalami cedera harus diistirahatkan. Cara yang
paling sederhana untuk mengistirahatkan panggul adalah dengan memasang traksi dan
mempertahankannya selama 3 minggu. Gerakan dan latihan dimulai segera setelah nyeri mereda.
Pada akhir minggu ketiga pasien diperbolehkan berjalan dengan kruk penopang. 24
Jika pemeriksaan X-Ray atau CT-scan pasca reduksi memperlihatkan adanya fragmen intraarticular, fragmen itu harus dibuang dan sendi dibilas melalui posterior approach. Hal ini
biasanya ditunda hingga keadaan pasien stabil. 17
Fracture-dislocasi tipe II Epstein sering diterapi dengan reduksi terbuka segera dan fiksasi
anatomis pada fragmen yang terlepas. Namun, jika keadaan umum pasien meragukan atau tidak
tersedia ahli bedah yang terampil di bidang ini, panggul direduksi tertutup seperti diuraikan di
atas. Jika sendi tidak stabil atau fragmen besar tetap tidak tereduksi, maka reduksi terbuka dan
fiksasi internal tetap diperlukan. Pada kasus tipe II, traksi dipertahankan selama 6 minggu.26
Fracture-dislocasi tipe III diterapi secara tertutup, tetapi mungkin terdapat fragmen yang
bertahan dan fragmen-fragmen ini harus dibuang dengan operasi terbuka. Traksi dipertahankan
selama 6 minggu. 26
Fracture-dislocasi tipe IV dan V pada awalnya diterapi dengan reduksi tertutup. Fragmen caput
femoris dapat secara otomatis berada pada tempatnya, dan ini dapat dipastikan dengan CT-scan
pasca reduksi. Jika fragmen tetap tidak tereduksi, terapi operasi diindikasikan: fragmen yang
kecil dibuang, namun fragmen yang besar harus diganti; sendi dibuka, caput femoris
didislocasikan dan fragmen diikat pada posisinya dengan countersunk screw. Pasca operasi,
traksi dipertahankan selama 4 minggu dan pembebanan penuh ditunda selama 12 minggu. 26
Dislocasi Panggul yang Tidak Tereduksi
Kadang-kadang dislocasi panggul posterior tanpa fracture acetabulum atau caput femoris tidak
dapat direduksi dengan metode reduksi tertutup.
Pada dislocasi posterior, caput femoris keluar ke arah posteroinferior dari kapsul dan dapat
menembus otot-otot exorotasi. Jaringan lunak yang mengelilingi collum femoris dapat mencegah
relokasi dari caput femoris.18,33
Sebagai contoh, labrum acetabulum dapat terlepas dari tempat melekatnya, dengan atau tanpa
fragmen tulang, ketika reduksi, labrum mungkin tertarik masuk ke dalam sendi di depan caput

femoris sehingga mencegah kembalinya posisi caput


acetabulum.18,33(Gambar dapat dilihat di halaman berikutnya)

secara

konsentris

ke

dalam

Gambar 35. Robekan labrum acetabulum


(Diunduh dari: http://www.mendmyhip.com/hip-strain-tendinitis-tear-injuries/acetabular-hiplabral-tear.php)
Tata laksana untuk dislocasi yang tidak tereduksi ini adalah dengan reduksi operatif (terbuka).
Posterior approach sendi panggul (Kocher-Langenbeck)12
Pasien dibaringkan dalam posis lateral.

Mulai dengan insisi kulit pada daerah trochanter major dan perluas ke arah proximal
sepanjang 6 cm dari spina iliaca posterior (Gambar 35A). Insisi dapat diperluas ke arah
distal sepanjang permukaan lateral paha sepanjang 10 cm atau seperlunya.

Pisahkan fasciae latae sejajar dengan insisi kulit dan pisahkan gluteus maximus secara
tumpul sejajar dengan arah seratnya (Gambar 35B). Lindungi cabang dari nervus gluteus
inferior ke arah anterosuperior dari gluteus maximus.

Kenali dan lindungi nervus ischiadicus yang berada di atas quadratus femoris (Gambar
35C).

Pisahkan tendon M. Piriformis, gemellus, dan obturatorius internus sejajar dengan


insersinya pada trochanter major dan kemudian otot-otot exorotasi tersebut ditarik ke
arah medial untuk melindungi nervus ischiadicus. M. qudratus femoris tetap dibiarkan
intak untuk melindungi cabang arteri circumflexa femoris medialis (Gambar 35D).
Tempat melekatnya tendon M. gluteus maximus pada femur dapat diinsisi untuk
memperluas daerah paparan.

Gambar 36. Posterior Approach Sendi Panggul


(Diambil dari: Canale ST, Beaty JH. Campbells Operative Orthopaedics. Edisi ke-11.
Philadelphia: Elsevier; 2009. Hal 80)

Identifikasi kapsul yang mengelilingi collum femoris dan jika perlu perbesar robekan ke
arah proximal dan distal untuk membebaskan collum dan caput femoris.

Reduksi:

Traksi paha sepanjang aksis longitudinalnya.

Panggul diflexikan 900 dan diadduksi.

Dislocasikan caput femoris ke arah posterior dengan mengendorotasikan paha.

Buat traksi longitudinal pada femur dengan kuat.

Cari gambaran cartilago labrum di dalam acetabulum.

Tarik labrum keluar dari acetabulum dengan kait tumpul.

Potong bagian yang tidak melekat dari labrum.

Eratkan caput femoris dengan membuat traksi longitudinal pada femur yang diflexikan
dan diadduksi.

Setelah reduksi terbuka, dilakukan pemasangan skin traction di tungkai bawah. Panggul dalam
posisi extensi dan extremitas sedikit abduksi.24
Traksi dipertahankan selama 3 minggu. Beberapa hari setelah reduksi, gerakan aktif dan pasif
sendi panggul dapat dimulai. Pada akhir minggu ketiga, pasien diperbolehkan jalan
menggunakan kruk penopang. Pasien diperbolehkan menopang berat badan pada akhir minggu
ke 12-14 dan diperbolehkan kembali beraktivitas seperti biasa 6-10 bulan setelah operasi. Ikuti
perkembangan pasien selama 2 tahun (setiap 3 bulan), setiap pemeriksaan rekam perkembangan
range of motion dari sendi panggul dan lakukan pemeriksaan X-ray untuk mengetahui ada
tidaknya necrosis avaskular dari caput femoris.24

Complicasi
DINI16,29
Cedera nervus ischiadicus. Syaraf ini kadang-kadang mengalami cedera, namun biasanya
membaik lagi. Jika setelah mereduksi dislocasi, lesi nervus ischiadicus dan fracture acetabulum
yang tidak tereduksi terdiagnosis, maka nervus harus dieksplorasi dan fragmennya dikoreksi ke
tempat asalnya (disekrupkan pada posisinya). Penyembuhan sering membutuhkan waktu
beberapa bulan, dan sementara itu tungkai harus dihindarkan dari cedera dan pergelangan kaki
harus dibebat untuk menghindari kaki terkulai (foot drop).

Cedera pembuluh darah. Kadang-kadang arteri gluteus superior robek dan mungkin terdapat
banyak perdarahan. Jika keadaan ini dicurigai, maka harus dilakukan arteriogram. Pembuluh
darah yang robek mungkin perlu diligasi.
Fracture corpus femoris. Bila ini terjadi bersamaan dengan dislocasi panggul, dislocasi
biasanya terlewatkan. Maka harus digunakan pedoman bahwa pada setiap fracture corpus
femoris, bokong dan trochanter per palpasi, dan panggul harus dilakukan pemeriksaan X-ray.
Sekalipun tindakan pencegahan ini tidak dilakukan, suatu dislocasi harus dicurigai bila fragmen
proximal pada fracture melintang pada batang terlihat beradduksi. Reduksi dislocasi ini jauh
lebih sulit, tetapi manipulasi tertutup yang perlahan harus tetap dicoba. Jika cara ini gagal, maka
reduksi terbuka harus dicoba, dan pada saat yang sama, femur dapat difiksasi dengan
intramedullary nail.

Necrosis avaskular. Persediaan darah pada caput femoris sangat terganggu sekurang-kurangnya
pada 10% dislocasi panggul traumatik. Jika reduksi ditunda lebih dari beberapa jam, angkanya
meningkat menjadi 40%. Necrosis avaskular terlihat pada pemeriksaan X-Ray sebagai
peningkatan kepadatan caput femoris, tetapi perubahan ini tidak ditemukan sekurang-kurangnya
selama 6 minggu, dan kadang-kadang jauh lebih lama (sampai 2 tahun), tergantung pada
kecepatan perbaikan tulang. Jika caput femoris menunjukkan tanda-tanda fragmentasi, mungkin
diperlukan operasi. Jika terdapat segmen nekrotik yang kecil, osteotomi penjajaran tulang
(realigment) merupakan metode terpilih. Sebaliknya, pada pasien yang lebih muda, pilihannya
adalah antara penggantian caput femoris dengan prostesis bipolar atau artrodesis panggul. Pada
pasien berusia di atas 50 tahun, penggantian panggul keseluruhan adalah pilihan yang lebih baik.
Miositis osifikans. Complicasi ini jarang terjadi, mungkin berhubungan dengan beratnya cedera.
Karena sulit diramalkan, complicasi ini sulit dicegah. Gerakan tidak boleh dipaksa dan pada
cedera yang berat, masa istirahat dan pembebanan mungkin perlu diperpanjang.
Dislocasi yang tak tereduksi. Setelah beberapa minggu, dislocasi yang tak diterapi jarang dapat
direduksi dengan manipulasi tertutup dan diperlukan reduksi terbuka. Insidensi kekakuan atau
necrosis avaskular sangat meningkat dan di kemudian hari pasien dapat memerlukan
pembedahan rekonstruktif.33
Osteoartritis. Osteoartritis sekunder sering terjadi dan diakibatkan oleh (1) kerusakan cartilago
pada saat dislocasi, (2) adanya fragmen yang bertahan dalam sendi, atau (3) necrosis iskemik
pada caput femoris.

3.3.2.2 DISLOCASI ANTERIOR

Dislocasi anterior jarang terjadi jika dibandingkan dengan dislocasi posterior. Dislocasi ini
terjadi sebanyak 10-12 % dari keseluruhan kejadian dislocasi panggul traumatik. Penyebab yang
lazim adalah kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan penerbangan. Caput femoris didorong
dengan paksa ke arah anteroinferior dan berpindah ke foramen obturatorium atau pubis.16,20
Mekanisme Cedera
Dislocasi ini dapat terjadi dalam kecelakaan lalu lintas ketika lutut terbentur dashboard ketika
paha dalam posisi abduksi. Dislocasi pada satu atau bahkan kedua panggul dapat terjadi jika
seseorang tertimpa benda berat pada punggungnya saat posisi kaki merentang, lutut lurus, dan
punggung ke depan.16
Caput femoris didorong dengan paksa ke arah anteroinferior dan berpindah ke foramen
obturatorium atau pubis.
Dislocasi obturator dapat terjadi akibat 3 dorongan yang berbeda:39

1. Ekstremitas bawah
abduksi, eksorotasi, dan
fleksi.
2. Dorongan mengenai sisi
belakang paha
3. Caput femoris keluar dari
acetabulum.

1. Ekstremitas bawah dalam posisi


abduksi, eksorotasi, dan fleksi.
2. Dorongan terjadi pada paha bagian
dalam, memaksa ekstremitas bawah
untuk berabduksi dan eksorotasi.
Dalam mekanisme ini, ekstremitas
bawah juga dipaksa untuk

berekstensi.
3. Caput femoris keluar dari sendi.

1. Extremitas dalam posisi


abduksi, eksorotasi, dan
fleksi.
2. Dorongan mengenai
bagian posterior paha.
3. Caput femoris keluar
dari sendi.

Dislocasi pubis jarang terjadi jika dibandingkan dengan dislocasi obturator dan sangat sulit untuk
direduksi. Mekanisme dislocasi ini adalah hiperextensi dan exorotasi yang berlebihan sehingga
memaksa caput femoris keluar dari sendi melalui robekan kapsul sendi di bagian anterior.
Gambaran Klinis dan Pemeriksaan Fisik
Kaki berada dalam posisi exorotasi, abduksi, dan sedikit flexi. Kaki tidak memendek karena
perlekatan rektus femoris mencegah caput femoris bergeser ke atas. Bila dilihat dari samping,
tonjolan anterior pada caput yang mengalami dislocasi tampak jelas. Kadang-kadang kaki
berabduksi hampir membentuk sudut siku-siku. Caput yang menonjol mudah diraba. Gerakan
panggul tidak dapat dilakukan.16,20,23

Gambar 37. Posisi sendi pada dislocasi panggul anterior


(Diunduh dari: http://boneandspine.com/muculoskeletal-radiology/anterior-dislocation-of-hiptreated-by-closed-reduction/)
Cedera neurovaskular dapat terjadi.19 Berikut ini adalah tanda-tanda terjadinya cedera
neurovaskular pada dislocasi panggul anterior:

Paresis di extremitas bawah

Rasa nyeri tumpul di extremitas bawah

Refleks patella melemah atau hilang

Extremitas bawah tampak pucat dan dingin

Parestesia di extremitas bawah

Pemeriksaan Radiologi

Pada foto anteroposterior, dislocasi biasanya jelas, tetapi kadang-kadang caput hampir berada di
depan posisi normalnya sehingga jika meragukan dapat dilakukan foto lateral.17

Gambar 38. Gambaran radiologi dislocasi panggul anterior


(Diunduh dari: http://mskcases.com/index.php? module=article&view=137)

Tata laksana
Dislocasi harus direduksi secepat mungkin di bawah anestesi umum. Reduksi harus dilakukan
dalam waktu 12 jam sejak terjadinya dislocasi. Sebelum melakukan reduksi, sebaiknya dilakukan
pemeriksaan neurovaskular.26
Manuver yang digunakan hampir sama dengan yang digunakan untuk mereduksi dislocasi
posterior, kecuali bahwa ketika paha yang berflexi ditarik ke atas, paha harus diadduksi. Tata
26,41
laksana berikutnya mirip dengan tata laksana pada dislocasi posterior. 16,

Gambar 39. Manuver Reduksi Tertutup Dislocasi Panggul Anterior


(Diunduh dari: http://ps.cnis.ca/wiki/index.php/77._Hip)
Setelah reduksi, panggul diistirahatkan dengan pemasangan skin traction selama tiga minggu.
Beberapa hari setelah reduksi, gerakan aktif dan pasif sendi panggul dapat dimulai. Pada akhir
minggu ketiga, pasien diperbolehkan jalan menggunakan kruk penopang tanpa bertumpu pada
sisi yang mengalami dislocasi. Selama periode ini dapat dilakukan latihan aktif terkontrol untuk
mengembalikan fungsi sendi dan perkembangan tonus dan kekuatan otot. Kerja ringan dapat
dilanjutkan pada minggu ke 14-16 dan aktivitas penuh dapat dilakukan 6-10 bulan setelah
cedera.26
Ikuti perkembangan pasien selama minimal 2 tahun, setiap pemeriksaan rekam perkembangan
range of motion dari sendi panggul dan lakukan pemeriksaan X-ray setiap 4-6 bulan untuk
mengetahui ada tidaknya necrosis avaskular dari caput femoris. 26
Dislocasi Panggul yang Tidak Tereduksi
Pada kasus yang jarang, manuver reduksi tertutup dapat gagal dalam mereduksi dislocasi
panggul anterior. Jika hal ini terjadi, maka reduksi tertutup tidak boleh dipaksakan dan hal ini
merupakan indikasi untuk dilakukannya reduksi terbuka.
Kegagalan reduksi tertutup ini dapat disebabkan oleh 1)Penetrasi caput femoris ke
dalam otot iliopsoas dan 2) ekstrusi caput femoris ke dalam lubang (buttonhole) di kapsul
anterior.
Anterolateral approach sendi panggul (Smith-Petersen)13
1. Buat insisi kulit sepanjang 1/3 anterior crista iliaca dan sepanjang tepi anterior M. tensor
fasciae latae, kemudian insisi dibelokkan ke arah posterior melewati insersio otot
tersebut di region subtrochanterica (biasanya 8-10 cm di bawah dasar trochanter major).

2. Insisi fasia sepanjang tepi anterior M. tensor fasciae latae. Kenali dan lindungi nervus
cutaneous femoris lateralis, yang biasanya berada di bagian medial M. tensor fasciae
latae dan lateral dari M. sartorius.
3. Insisi perlekatan otot di aspek lateral ilium sepanjang crista iliaca. Pisahkan perlekatan
otot di antara spina iliaca anterior superior dan acetabulum labrum, lalu tampak M.
tensor fasciae latae, M. gluteus minimus, dan bagian anterior M.gluteus medius.
4. Insisi fasia kemudian dilanjutkan ke arah insersio M. tensor fasciae latae ke ikatan
iliotibial dan paparkan bagian lateral M. rectus femoris dan bagian anterior M. vastus
lateralis.
5. Mulai insisi kapsular di aspek inferior kapsul, lateral dari acetabulum labrum; dari titik
ini, perluas ke arah proximal, paralel dengan acetabulum labrum dan belokkan ke arah
lateral.
6. Lakukan traksi longitudinal pada tungkai bawah. Ketika traksi dipertahankan, tungkai diendorotasi-kan dan berikan tekanan pada caput femoris secara langsung untuk
menimbulkan efek reduksi.
(Gambar dapat dilihat di halaman berikutnya)

Gambar 40. Smith-Petersen Approach


(Diunduh dari: http://www.netterimages.com/image/57794.htm)
Setelah reduksi, panggul diistirahatkan dengan pemasangan skin traction selama tiga minggu.
Beberapa hari setelah reduksi, gerakan aktif dan pasif sendi panggul dapat dimulai. Pada akhir
minggu ketiga, pasien diperbolehkan jalan menggunakan kruk penopang tanpa bertumpu pada
sisi yang mengalami dislocasi. Selama periode ini dapat dilakukan latihan aktif terkontrol untuk
mengembalikan fungsi sendi dan perkembangan tonus dan kekuatan otot. Kerja ringan dapat
dilanjutkan pada minggu ke 14-16 dan aktivitas penuh dapat dilakukan 6-10 bulan setelah
cedera.31,47
Ikuti perkembangan pasien selama minimal 2 tahun, setiap pemeriksaan rekam perkembangan
range of motion dari sendi panggul dan lakukan pemeriksaan X-ray setiap 4-6 bulan untuk
mengetahui ada tidaknya necrosis avaskular dari caput femoris.
Complicasi
Necrosis avaskular adalah complicasi yang dapat terjadi pada dislocasi panggul anterior dan
terjadi pada 10% kasus. Persediaan darah pada caput femoris sangat terganggu sekurangkurangnya pada 10% dislocasi panggul traumatik. Jika reduksi ditunda lebih dari beberapa jam,
angkanya meningkat menjadi 40%. Necrosis avaskular terlihat pada pemeriksaan X-Ray sebagai
peningkatan kepadatan caput femoris, tetapi perubahan ini tidak ditemukan sekurang-kurangnya
selama 6 minggu, dan kadang-kadang jauh lebih lama (sampai 2 tahun), tergantung pada
kecepatan perbaikan tulang. Dalam minggu-minggu awal, radiosintigrafi dapat memperlihatkan
tanda-tanda iskemia tulang. Jika caput femoris menunjukkan tanda-tanda fragmentasi, mungkin
diperlukan operasi. Jika terdapat segmen nekrotik yang kecil, osteotomi penjajaran tulang
(realigment) merupakan metode terpilih. Sebaliknya, pada pasien yang lebih muda, pilihannya
adalah antara penggantian caput femoris dengan prostesis bipolar atau artrodesis panggul. Pada
pasien berusia di atas 50 tahun, penggantian panggul keseluruhan adalah pilihan yang lebih
baik.29

3.3.2.3. Dislocasi Central (Pusat)


Mekanisme Cedera
Dislocasi ini dapat terjadi jika seseorang jatuh dari ketinggian, terjatuh satu sisi, atau pukulan
pada trochanter major. Pukulan ini dapat mendorong caput femoris ke lantai acetabulum dan
menyebabkan fracture pelvis.16,31
Gambaran Klinis dan Pemeriksaan Fisik

Terdapat luka lecet atau memar pada paha, namun kaki terletak pada posisi normal. Trochanter
dan daerah panggul terasa nyeri. Gerakan minimal masih dapat dilakukan. Pasien harus diperiksa
dengan cermat untuk mencari ada tidaknya cedera pelvis dan abdomen.16,31

Pemeriksaan Radiologi
Pada foto anteroposterior, caput femoris tampak bergeser ke medial dan lantai acetabulum
mengalami fracture.17 (Gambar dapat dilihat di halaman berikutnya)

Gambar 41. Gambaran radiologi dislocasi panggul central (kanan)


(Diunduh dari: http://onradiology.blogspot.com/2011/01/central-dislocation-of-hip-joint.html)
Klasifikasi
Klasifikasi fracture acetabulum dideskripsikan oleh Letournel dan Judet. Mereka membagi
fracture acetabulum menjadi 2 kelompok dasar: fracture sederhana dan fracture kompleks.
Fracture sederhana adalah fracture terisolasi pada satu columna atau dinding bersamaan dengan
fracture melintang; fracture tipe ini meliputi fracture dinding posterior, columna posterior,
dinding anterior, atau columna anterior dan fracture melintang. Fracture kompleks memiliki
geometri fracture lebih kompleks dan meliputi fracture berbentuk T (T-shaped), kombinasi
fracture dinding dan columna posterior, kombinasi fracture melintang dan dinding posterior,
fracture columna anterior dengan fracture posterior hemitransverse, dan fracture kedua
columna.47

Gambar 42. Klasifikasi Letournel dan Judet


A)
Fracture dinding posterior, B) Fracture columna posterior, C) Fracture dinding anterior,
D) Fracture columna anterior, E) Fracture melintang, F) Fracture columna dan dinding posterior,
G) Fracture melintang dan fracture dinding posterior, H) Fracture berbentuk T, I) Fracture
columna anterior dengan fracture posterior hemitransverse, J) Fracture komplit kedua columna.

Tata Laksana
Pada kasus dislocasi panggul central tetap harus diusahakan untuk melakukan reduksi dan
memulihkan bentuk lazim panggul. Meskipun osteoartritis sekunder tidak dapat dielakkan,
paling tidak anatomi yang normal akan memudahkan pembedahan rekonstruktif. 13,31,48
Dislocasi central yang disertai dengan fracture kominusi pada lantai acetabulum kadang-kadang
dapat direduksi dengan manipulasi di bawah anestesi umum. Ahli bedah menarik paha dengan
kuat dan kemudian mencoba mengungkit keluar caput dengan mengadduksi paha, menggunakan
bantalan keras sebagai titik tumpu. Jika cara ini berhasil, traksi longitudinal dipertahankan
selama 4-6 minggu dengan pemeriksaan X-ray untuk memastikan bahwa caput femoris tetap
berada di bawah bagian acetabulum yang menahan beban.31

Jika manipulasi gagal, kombinasi traksi longitudinal dan lateral dapat mereduksi dislocasi selama
2-3 minggu. Pada semua metode ini, gerakan perlu dimulai secepat mungkin. Bila traksi dilepas,
pasien diperbolehkan bangun dengan kruk penopang. Penahanan beban diperbolehkan setelah 8
minggu. Hasilnya terhadap fungsi lebih baik daripada yang ditunjukkan pada penampilan X-ray,
tetapi semua gerakan kecuali flexi dan extensi tetap sangat terbatas, dan pada akhirnya terjadi
artritis degeneratif, kecuali jika pergeseran hanya terjadi sedikit.31
Indikasi Operasi13,48,49
-

Fracture acetabulum dengan pergeseran > 2 mm di dalam kubah acetabulum.

Fracture dinding posterior dengan > 50% keterlibatan permukaan artikulasi sendi pada
dinding posterior.
-

Ketidakstabilan klinis pada flexi 900.

Fragmen yang terjebak di dalam acetabulum setelah reduksi tertutup.

Beberapa penulis menganjurkan operasi dilakukan 2-3 hari setelah cedera untuk menunggu
kondisi pasien agar stabil. Idealnya reduksi terbuka dan fiksasi internal fracture acetabulum
seharusnya dilakukan dalam 5-7 hari setelah cedera. Reduksi anatomis akan menjadi lebih sulit
setelah melewati waktu tersebut karena pembentukan hematoma, kontraktur jaringan lunak, dan
pembentukan callus awal.49

Gambar 43. Alat-alat yang digunakan dalam operasi fracture acetabulum


(Diambil dari: Canale ST, Beaty JH. Campbells Operative Orthopaedics. Edisi ke-11.
Philadelphia: Elsevier; 2009. Hal 3324)

Fracture Dinding Posterior


Pada fracture ini digunakan posterior approach (Kocher-Langenbeck). Untuk mencegah
osteonecrosis dinding posterior, fragmen dinding posterior tidak boleh dilepaskan dari kapsul
posterior selama paparan.
Jika fracture meluas ke superior ke arah kubah (dome), osteotomi trochanterica dapat dilakukan
untuk mempeluas daerah paparan.43 Siebenrock dkk. mendeskrispsikan trochanteric flip
osteotomy, meninggalkan M. vastus lateralis terikat pada fragmen trochanterica. Fragmen
tersebut digeser ke arah anterior untuk memperlihatkan permukaan supraacetabular dari ilium.
Panggul digerakkan untuk membersihkan fragmen yang terperangkap sebelum dilakukan reduksi
fragmen. Setelah reduksi fragmen, fiksasi sementara dapat menggunakan kawat (wire) Kirschner,
sedangkan fiksasi tetap menggunakan lag screw dan contoured reconstructive plate yang
diletakkan di ischium, di atas permukaan retroacetabular dan lateral ilium.50
Fracture Columna Posterior
Fracture columna posterior jarang terjadi dan jika terjadi pergeseran yang signifikan maka
diperlukan reduksi operatif dan fiksasi internal. Pada operasi ini digunakan posterior approach
(Kocher-Langenbeck).51 Deformitas rotasional yang menyertai pergeseran harus dikoreksi
dengan pemasangan Schanz screw pada ischium untuk mengontrol rotasi ketika fracture
direduksi dengan klem reduksi. Fiksasi khusus dapat dilakukan dengan pemasangan lag screw
yang dikombinasi dengan contoured reconstructive plate di sepanjang columna posterior. 42
Fracture dinding dan columna anterior
Kedua fracture ini jarang terjadi dan biasanya menyertai dislocasi panggul anterior. Fracture ini
memerlukan terapi operasi dan menggunakan ilioinguinal atau iliofemoral approach. Fracture
columna anterior difiksasi menggunakan contoured reconstructive plate yang dipasang di
sepanjang pinggir pelvis. 42
Fracture melintang
Reduksi untuk fracture tipe ini menggunakan posterior approach dengan posisi pasien berbaring
terlentang. Biasanya digunakan Jungbluth clamp untuk mengurangi fracture dan rotasi dikontrol
oleh Schanz screw yang terpasang di ischium. Fiksasi posterior menggunakan plate penopang di
sepanjang columna posterior dengan fiksasi anterior, menggunakan lag screw 3,5 mm yang
dipasang di columna anterior dengan posisi di atas acetabulum.42

Gambar 44. A) Fracture dinding posterior multifragmen dengan kominusi intraarticular,


B) Fracture columna posterior dengan lag screw, C) Fracture melintang dengan lag screw,
D) Fracture melintang dan fracture dinding posterior.
(Diambil dari: Canale ST, Beaty JH. Campbells Operative Orthopaedics. Edisi ke-11.
Philadelphia: Elsevier; 2009. Hal 3325)

Setelah dilakukan reduksi terbuka, dilakukan pemasangan skeletal traction. Pemasangan ini
dilakukan dengan cara:
1. Masukkan threaded wire di bawah tibial tubercle.
2. Pasang bebat Thomas dengan Pearson attachment balanced dari rangka di atas kepala.
3. Panggul dan lutut sedikit diflexikan
4. Berikan beban seberat 20-25 lbs.

Gambar 45. Skeletal Traction


Complicasi
DINI13,16
Seperti halnya pada fracture pelvis lain, dapat terjadi cedera viseral dan syok hebat.
Cedera nervus ischiadicus dapat terjadi ketika terjadinya fracture atau pada saat operasi.
Meskipun pada saat operasi, syaraf ini dilindungi, namun tidak ada kepastian mengenai
prognosisnya.
Trombosis vena iliofemoral dapat terjadi dan bersifat serius dan beberapa klinik menggunakan
profilaksis antikoagulan.

Kekakuan sendi, dengan atau tanpa osteoartritis sering terjadi. Jika penggantian panggul
keseluruhan dipertimbangkan, perlu dipastikan bahwa fracture acetabulum telah menyatu, jika
tidak maka mangkuk dapat terlepas Pada pasien muda, lebih baik dilakukan artrodesis.35
Necrosis avaskular pada caput femoris dapat terjadi meskipun caput femoris tidak benar-benar
mengalami dislocasi.
Formasi tulang heterotropik. Osifikasi periarticular biasa terjadi pada cedera jaringan lunak yang
berat. Antisipasi dapat dilakukan dengan pemberian profilaksis indometasin.45
3.3.3. Prognosis
Setelah dislocasi panggul, fungsi panggul yang baik masih dapat kembali asalkan tidak terjadi
necrosis avaskular atau artritis traumatik dari caput femoris. Reduksi awal telah terbukti sebagai
cara terbaik untuk mencegah necrosis avaskular dengan cara mempersingkat waktu terganggunya
sirkulasi caput femoris. Dalam tinjauan Stewart dan Milford dalam 128 kasus fracture-dislocasi,
mereka tidak mendapatkan hasil yang baik pada kasus dislocasi yang direduksi lebih dari 24 jam.
Mereka melaporkan necrosis avaskular pada 15,5% kasus yang diterapi dengan reduksi tertutup
dan pada 40% kasus yang diterapi dengan reduksi terbuka. 36 Dalam laporannya mengenai 262
kasus dislocasi dan fracture-dislocasi, Brav menemukan kejadian necrosis avaskular sebesar
17,6% pada panggul yang direduksi dalam waktu 12 jam setelah cedera dan 56,9% pada panggul
yang direduksi setelah 12 jam. Hougard dan thomsen melaporkan necrosis avaskular sebesar 4%
pada panggul yang direduksi dalam waktu 6 jam dan 58% pada panggul yang tetap mengalami
dislocasi selama lebih dari 6 jam.30
Penundaan weight bearing memberikan dampak yang kecil dalam perkembangan necrosis
avaskular. Brav, dalam laporan mengenai 523 pasien, menemukan insiden necrosis avaskular
sebesar 25,7% pada kelompok pasien yang memulai menopang berat tubuh sebelum 12 minggu
dan 26,6% pada kelompok pasien memulai menopang berat tubuh setelah 12 minggu.53

DAFTAR PUSTAKA
1. Drake RL, Vogl W, Mitchell A. Grays Anatomy for Student. Edisi ke-1. Philadelphia:
Elsevier; 2005. Hal 48-58.
2. Platzer, Werner. Color Atlas of Human Anatomy, Vol. 1: Locomotor System. Edisi ke-5.
2004. Hal 198.
3. Salomon L, Ganz R, Leunig M, Monsell F, Learmonth I. The hip. Dalam: : Salomon L,
Warwick D, Nayagam S. Apleys System of Orthopaedic and Fractures. Edisi ke-9.
London; 2010. Hal 498-503.
4. Barlow TG. Early diagnosis and treatment of congenital dislocation of the hip. J Bone
Joint Surg;1962. 44B: 292301.
5. Catterall A. Assessment of adolescent acetabular dysplasia. In Recent Advances in
Orthopaedics 6 (ed. A. Catterall), Churchill Livingstone, Edinburgh; 1992.
6. Harcke T, Kumar J. The role of ultrasound in the diagnosis and management of
congenital dislocation and dysplasia of the hip. J Bone Joint Surg; 1993. 73A: 6228.
7. Jones DA. Principles of screening and congenital dislocation of the hip. Ann R Coll Surg
Engl; 1994. 76: 24550.
8. Wynne-Davies R. Acetabular dysplasia and familial joint laxity: two aetiological factors
in congenital dislocation of the hip. J Bone Joint Surg; 1970. 52B: 70416.
9. Yamamuro T, Ishida K. Recent advances in the prevention, early diagnosis and treatment
of congenital dislocation of the hip in Japan. Clin Orthop Relat Res; 1984. 184: 3440.
10. Lavelle DG. Fractures and dislocations of the hip. Dalam: Canale ST, Beaty JH.
Campbells Operative Orthopaedics. Edisi ke-11. Philadelphia: Elsevier; 2009. Hal 328698.
11. Guyton JL, Perez EA. Fractures of acetabulum and pelvis. Dalam: Canale ST, Beaty JH.
Campbells Operative Orthopaedics. Edisi ke-11. Philadelphia: Elsevier; 2009. Hal 330930.
12. Thompson VP, Epstein VP. Traumatic dislocation of the hip. J Bone Joint Surg; 1951.
33A: 74678.
13. Tornetta P III, Mostafavi HR. Hip Dislocation: Current Treatment Regimens. J Am Acad
Orthop Surg; 1997. 5(1): 2736.
14. Nayagam S. Injuries of the hip and femur. Dalam: Salomon L, Warwick D, Nayagam S.
Apleys System of Orthopaedic and Fractures. Edisi ke-9. London; 2010. Hal 843-47.

15. Brooks RA, Ribbans WJ: Diagnosis and imaging studies of traumatic hip dislocations in
the adult, Clin Orthop Relat Res 377:15, 2000.
16. Canale ST, Manugian AH: Irreducible traumatic dislocations of the hip, J Bone Joint
Surg; 1979. 61A:7.
17. Cornwall R, Radomisli TE: Nerve injury in traumatic dislocation of the hip, Clin Orthop
Relat Res 377:84, 2000.
18. DeLee JC, Evans JA, Thomas J: Anterior dislocation of the hip and associated femoralhead fractures, J Bone Joint Surg;1980. 62A:960.
19. Dreinhofer KE, Schwarzkopf SR, Haas NP, et al: Isolated traumatic dislocation of the
hip: long-term results in 50 patients, J Bone Joint Surg; 1994. 76B:6.
20. Epstein HC: Posterior fracture-dislocations of the hip, J Bone Joint Surg; 1961.
43A:1079.
21. Epstein HC: Traumatic anterior and simple posterior dislocations of the hip in adults and
children, Instr Course Lect 22:115, 1973. Epstein HC: Traumatic dislocations of the hip,
Clin Orthop Relat Res; 1973. 92:116.
22. Epstein HC: Posterior fracture-dislocation of the hip: long-term follow-up, J Bone Joint
Surg 56A:1103, 1974.
23. Epstein HC: Traumatic dislocation of the hip, Baltimore, 1980, Williams & Wilkins.
24. Epstein HC, Harvey JP: Traumatic anterior dislocations of the hip, management and
results: an analysis of fifty-five cases, J Bone Joint Surg; 1972. 54A:1561.
25. Epstein HC, Wiss DA, Cozen L: Posterior fracture dislocation of the hip with fractures of
the femoral head, Clin Orthop Relat Res; 1985201:9.
26. Goddard NJ: Classification of traumatic hip dislocation, Clin Orthop Relat Res; 2000.
377:11.
27. Gregory CF: Early complications of dislocation and fracture dislocations of the hip joint,
Instr Course Lect; 1973.22:105.
28. Hougaard K, Thomsen PB: Traumatic posterior fracture-dislocation of the hip with
fracture of the femoral head or neck, or both, J Bone Joint Surg;1988. 70A:233.
29. Salomon L. Injuries of the pelvis. Dalam: Salomon L, Warwick D, Nayagam S. Apleys
System of Orthopaedic and Fractures. Edisi ke-9. London; 2010. Hal 837-41.

30. Letournel E, Judet R: Fractures of the acetabulum. Edisi ke-2. New York: SpringerVerlag; 1993.
31. McKee MD, Garay ME, Schemitsch EH, et al: Irreducible fracture- dislocation of the hip:
a severe injury with a poor prognosis, J Orthop Traum;1998. 12:223.
32. Robinson MK: The East Baltimore Lift: a simple and effective method for reduction of
posterior hip dislocations, J Orthop Trauma; 1999. 13:461.
33. Rodriguez-Merchan EC: Coxarthrosis after traumatic hip dislocation in the adult, Clin
Orthop Relat Res; 2000. 377:92 .
34. Stewart MJ, Milford LW: Fracture-dislocation of the hip: an end-result study, J Bone
Joint Surg;1954. 36A:315.
35. Szpalski M, Descamps PY, Hayez JP, et al: Prevention of hip lag screw cut out by cement
augmentation: description of a new technique and preliminary clinical results, J Orthop
Trauma; 2004. 18:34.
36. Thompson VP, Epstein HC: Traumatic dislocation of the hip: a survey of two hundred
and four cases covering a period of twenty-one years, J Bone Joint Surg; 1951.33A:746.
37. Toms AD, Williams S, White SH: Obturator dislocation of the hip, J Bone Joint Surg;
2001.83B:113.
38. Upadhyay SS, Moulton A: The long-term results of traumatic posterior dislocation of the
hip, J Bone Joint Surg; 1981. 63B:548.
39. Yang EC, Cornwall R: Initial treatment of traumatic hip dislocations in the adult, Clin
Orthop Relat Res; 2000. 277:24.
40. Bosse MJ: Posterior acetabular wall fractures: a technique for screw placement, J Orthop
Trauma; 1991.5:167.
41. Bray TJ, Esser M, Fulkerson L: Osteotomy of the trochanter in open reduction and
internal fixation of acetabular fractures, J Bone Joint Surg; 1987. 69A:711.
42. Helfet DL, Schmeling GJ: Somatosensory-evoked potential monitoring in the surgical
treatment of acute, displaced acetabular fractures: results of a prospective study, Clin
Orthop Relat Res;1994. 301:213.
43. Johnson EE, Kay RM, Dorey FJ: Heterotopic ossification prophylaxis following
operative treatment of acetabular fracture, Clin Orthop Relat Res; 1994. 305:88.
44. Kebaish AS, Roy A, Rennie W: Displaced acetabular fractures: long-term follow-up, J
Trauma; 1991. 31:1539.

45. Letournel E: Acetabulum fractures: classification and management, Clin Orthop Relat
Res; 1980. 151:81.
46. Mayo KA: Open reduction and internal fixation of fractures of the acetabulum: results in
163 fractures, Clin Orthop Relat Res; 1994. 301:31.
47. Siebenrock KA, Gautier E, Ziran BH, et al: Trochanteric flip osteotomy for cranial
extension and muscle protection in acetabular fracture fixation using a KocherLangenbeck approach, J Orthop Trauma; 2006. 20:S52.
48. Templeman DC, Olson S, Moed BR, et al: Surgical treatment of acetabular fractures,
Instr Course Lect; 1999. 48:481.
49. Tile M, Helfet DL, Kellam JF, eds: Fractures of the pelvis and acetabulum. Edisi ke-3.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2003.
50. 50.
Brav EA: Traumatic dislocation of the hip: army experience and results over a
twelve-year period, J Bone Joint Surg;1962. 44A:1115.