Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Reaksi-reaksi kimia berlangsung antara dua campuran zat, bukannya
antara dua zat murni. Salah satu bentuk yang umum dari campuran ialah larutan.
Larutan memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Di alam
kebanyakan reaksi berlangsung dalam air. Tubuh menyerap mineral, vitamin dan
makanan dalam bentuk larutan. Dan dapat disimpulkan bahwa kebanyakan reaksi
berlangsung dalam larutan.
Kuantitas relatif suatu zat terlarut dalam larutan disebut konsentrasi.
Konsentrasi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan cepat atau
lambatnya reaksi berlangsung. Juga dalam beberapa hal konsentrasi juga
menentukan hasil reaksi yang terbentuk. Untuk meramalkan sifat larutan, tidak
dapat langsung dari sifat komponen penyusunnya. Oleh sebab itu, perlu dibuat
suatu model larutan sebagai standar untuk mengungkapkan hubungan antara
komposisi dengan sifat larutan. Dalam pembentukan larutan apabila zat padat atau
cairan larut dalam cairan, maka dalam campuran terjadi gaya tarik-menarik antar
molekul (intermolekul) zat terlarut dan pelarut. Selain itu juga terdapat gaya tarik
di dalam molekul (intramolekul) itu sendiri yang menyebabkan molekul atau
ionnya masih tetap bersatu.
Alasan dilakukannya pembuatan larutan ini untuk pereaksi atau sebagai
reagent. Pembuatan larutan ini juga didasari untuk pembuatan larutan standar atau
larutan pereaksi. Pembuatan larutan standar biasanya dibutuhkan dalam analisa
kuantitatif atau larutan pereaksi biasanya sebagai reagent untuk sutu metode
analisa percobaan. Disamping itu pembuatan larutan ini bertujuan untuk membuat
larutan yang baru dan menggantikan larutan yang lama atau yang telah kadaluarsa
(tidak layak pakai).

1.2 Tujuan Percobaan


-

Untuk mengetahui sifat-sifat pada larutan

Untuk mengetahui reaksi apa yang terjadi pada saat pembuatan larutan

Untuk mengetahui jenis-jenis konsentrasi pada larutan

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Larutan dapat didefinisikan sebagai campuran homogen dari dua zat atau
lebih yang terdispersi sebagai molekul ataupun ion yang komposisinya dapat
bervariasi. Disebut homogen karena komposisi dari larutan begitu seragam (satu
fasa) sehingga tidak dapat diamati bagian-bagian komponen penyusunnya
meskipun dengan mikroskop ultra. Dalam campuran heterogen permukaanpermukaan tertentu dapat diamati antara fase-fase yang terpisah.
Suatu larutan terdiri dari dua komponen yang penting. Biasanya salah satu
komponen yang mengandung jumlah zat terbanyak disebut sebagai pelarut
(solven). Sedangkan komponen lainnya yang mengandung jumlah zat sedikit
disebut zat terlarut (solut). Kedua komponen dalam larutan dapat sebagai pelarut
atau zat terlarut tergantung komposisinya. Misalnya, dalam alkohol 70% (70:30),
maka alkohol merupakan pelarut dan air sebagai zat terlarut. Sedangkan dalam
keadaan yang sukar ditentukan seperti alkohol 50% (50:50), karena jumlah kedua
zat dalam larutan sama, maka baik alkohol maupun air dapat dianggap pelarut
atau zat terlarut. Untuk campuran zat padat dalam air sirup 60% (60:40),
kebanyakan orang memilih air sebagai pelarut karena air tetap mempertahankan
keadaan fisiknya dan gula sebagai zat terlarut karena berubah keadaan fisiknya.
Pada umumnya larutan yang dimaksud adalah campuran yang berbentuk
cair, meskipun ada juga yang berfase gas maupun padat. Larutan yang berbentuk
gas adalah udara yang merupakan campuran dari berbagai jenis gas seperti
nitrogen dan oksigen. Sedangkan yang berbentuk padat adalah emas 22 karat yang
merupakan campuran homogen dari emas dengan perak atau logam lain.
Dalam pembentukan larutan apabila zat padat atau cairan larut dalam
cairan, maka dalam campuran terjadi gaya tarik-menarik antar molekul
(intermolekul) zat terlarut dan pelarut. Selain itu juga terdapat gaya tarik di dalam
molekul (intramolekul) itu sendiri yang menyebabkan molekul atau ionnya masih
tetap bersatu.

Dua senyawa dapat bercampur (miscible) lebih mudah bila gaya tarik
antara molekul solut dan pelarut semakin besar. Besarnya gaya tarik ini ditentukan
oleh jenis ikatan pada masing-masing molekul. Bila gaya tarik antara molekulnya
termasuk dalam kelompok yang sama (misalnya : air dan etanol), maka keduanya
akan saling melarutkan. Sedangkan bila kekuatan gaya tarik antara molekulnya
berbeda jenis (misalnya : air dan heksana), maka tidak saling melarutkan.
Pada pembentukan larutan antara air dan etanol (alkohol), maka keduanya
saling melarutkan dalam berbagai perbandingan. Baik molekul air maupun
alkohol masing-masing antara molekulnya terjadi interaksi yang begitu kuat
berdasarkan ikatan Hidrogen. Ketika keduanya dicampur, maka tidak ada
halangan bagi keduanya untuk saling menggantikan. Kedua zat akhirnya mudah
untuk bercampur.
Dalam ilmu kimia dikenal suatu ungkapan like dissolves like, yaitu jika
molekul solute dan pelarut mirip, maka akan mudah bagi keduanya untuk saling
menggantikan sehingga mudah untuk bercampur. Secara umum, terdapat
kecenderungan kuat bagi senyawa non polar untuk larut dalam pelarut yang
bersifat non polar, dan senyawa kovalen polar atau senyawa ion larut ke dalam
pelarut polar.
Suatu zat dikatakan tak larut (insoluble), jika zat tersebut larut sangat
sedikit, misalnya kurang dari 0,1 gr zat terlarut dalam 1000 gr pelarut.
Kebanyakan zat padat yang terbentuk dengan ikatan kuat seperti logam-logam,
kaca, plastik, batuan silikat, dan mineral praktis tidak larut dalam cairan biasa.
Bila dua cairan tak dapat larut sama satu sama lain, maka keduanya dikatakan tak
dapat campur (immiscible). Contohnya air dan minyak. Molekul-molekul lain
dapat larut baik dengan air bila sama-sama bersifat polar atau ionik. Paling tidak
molekul tersebut harus mempunyai atom Hidrogen yang terikat pada atom yang
sangat elektronegatif (F, O, dan N) seperti asam florida (HF), amoniak (NH 3) dan
etanol (C2H5OH).
Pada proses terbentuknya larutan, selalu terjadi dua hal yang bersamaan.
Pertama, molekul solute terpisahkan atau terjadi penguraian dimana prosesnya

membutuhkan energi (endotermik). Kedua, molekul solut bergabung dengan


molekul pelarut dengan melepaskan energi (eksotermik).
Penggabungan molekul pelarut dengan molekul solut untuk membentuk
gugusan (agregat), sehingga molekul-molekul pelarut menyelubungi molekul
solut disebut solvasi. Jika pelarutnya air, proses itu disebut hidrasi. Untuk melarut
suatu kristal zat berion membutuhkan energi yang disebut energi kisi, yaitu energi
yang diperlukan untuk memutuskan ikatan antara ion positif dan negatif. Jadi
penguraian kristal merupakan proses endoterm. Sedangkan proses hidrasi
(solvasi) termasuk eksoterm, karena terjadinya pembentukan ikatan antara ion-ion
yang terhidrasi dengan molekul pelarut melepaskan energi. Pada kebanyakan
larutan garam seperti KCl, KBr, dan KI energi kisi lebih besar daripada energi
hidrasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan merupakan hubungan
kelarutan, diantaranya :
1.

Kelarutan
Suatu zat dapat larut dalam pelarut tertentu, tetapi jumlahnya selalu terbatas.
Batas itu disebut kelarutan. Kelarutan adalah jumlah zat terlarut yang dapat
larut dalam sejumlah pelarut pada suhu tertentu sampai membentuk larutan
jenuh.
Kelarutan suatu zat dapat ditentukan dengan menimbang zat yang akan
ditentukan kelarutannya kemudian dilarutkan, misalnya dalam 100 ml pelarut.
Jumlah zat yang ditimbang harus diperkirakan dapat membentuk larutan lewat
jenuh yang ditandai masih terdapatnya zat yang tidak larut di dasar wadah
setelah dilakukan pengocokan dan didiamkan.

2.

Larutan Jenuh
Larutan jenuh adalah larutan yang telah mengandung zat terlarut dalam jumlah
maksimal, sehingga tidak dapat ditambahkan lagi zat terlarut. Pada keadaan
ini terjadi kesetimbangan antara solut yang larut dan yang tak larut atau
kecepatan pelarutan sama dengan kecepatan pengendapan.

3.

Larutan Tak Jenuh dan Lewat Jenuh

Larutan tak jenuh (unsaturated) adalah suatu larutan yang mengandung jumlah
solut dalam lebih sedikit (encer) daripada larutan jenuhnya. Sedangkan larutan
lewat jenuh (supersaturated), mengandung solut labih banyak (pekat) daripada
yang ada dalam larutan jenuhnya pada suhu sama.
Daya larut cairan dalam cairan lain sangat berbeda-beda mulai dapat
bercampur sempurna, bercampur sebagian, sampai tidak bercampur sama sekali.
Demikian pula zat padat dalam cairan, mulai ada yang larut sempurna sampai
dengan yang tidak larut. Kelarutan zat selain bergantung dari sifat solut dan
pelarutnya juga dipengaruhi oleh suhu dan tekanan.
Pengaruh suhu pada kelarutan zat berbeda-beda antara satu dengan
lainnya. Tetapi pada umumnya kelarutan zat padat bertambah dengan naiknya
suhu. Karena kebanyakan proses pembentukan larutannya bersifat endoterm.
Sebagai perkecualian ada beberapa zat yang kelarutannya menurun dengan
naiknya suhu seperti CeSO4 (Cesium Sulfat) dan Na2SO4 (Natrium Sulfat) karena
proses pelarutannya bersifat eksoterm. Bahkan ada zat yang hampir tidak
dipengaruhi oleh suhu seperti NaCl (natrium klorida)
Perubahan tekanan mempunyai pengaruh yang kecil terhadap kelarutan
suatu zat cair atau zat padat dalam pelarut cair. Tetapi kelarutan gas selalu
bertambah dengan bertambahnya tekanan. Suatu minuman yang mengandung
karbonat, dibotolkan dengan tekanan tinggi dibawah 3,4 atm supaya CO 2 yang
larut di dalamnya besar. Jika tutup botol dibuka tekanan di dalam botol turun
sampai 1 atm dan gelembung CO 2 lepas. Ini menunjukkan kelarutan CO 2 turun
dengan turunnya tekanan tersebut.
Secara kuantitatif pengaruh tekanan pada kelarutan gas dinyatakan oleh
William Henry (1804), yang dikenal dengan Hukum Henry.
kelarutan suatu gas dalam larutan cair, berbanding lurus dengan tekanan gas di
atas larutan tersebut.
Secara sistematis ditulis :
Cg = kg Pg
dimana :

Cg = konsentrasi atau kelarutan gas dalam cairan


Kg = Tetapan Henry
Pg = Tekanan parsial gas

Dari persamaan diatas, kelarutan gas pada tekanan tertentu dapat dihitung. Bila
kelarutan gas pada tekanan, sebelumnya diketahui.
Sifat-sifat fisik larutan ditentukan oleh konsentrasi dari berbagai
komponennya. Konsentrasi larutan menyatakan banyaknya zat terlarut yang
terdapat dalam suatu pelarut atau larutan. Larutan yang mengandung sebagian
besar solut relatif terhadap pelarut, berarti larutan tersebut konsentrasinya tinggi
(pekat). Sebaliknya jika mengandung sejumlah kecil solut, maka konsentrasinya
rendah (encer).
Terdapat beberapa cara yang umum dipakai dalam menyatakan konsentrasi
larutan, yaitu :
1.

Persen berat (% berat/berat)


Persen berat adalah jumlah gram zat terlarut dalam 100 gram larutan. Persen
berat biasanya digunakan untuk menyatakan kadar komponen yang berupa zat
padat.
gr zat terlarut
100%
gr laru tan

Persen berat (%b/b) =


2.

Persen Volume (% volume/volume)


Persen volume adalah jumlah volume (ml) zat terlarut dalam 100 ml larutan.
Persen volume biasanya digunakan untuk menyatakan kadar komponen
berupa zat cair atau gas.
ml zat terlarut
100%
ml laru tan

Persen Volume (%v/v) =


3.

Persen Berat per volume (% b/v)

Persen berat per volume menyatakan banyaknya gram zat terlarut dalam 100
ml larutan. Cara ini biasanya dipakai untuk menyatakan kadar zat padat dalam
suatu cairan atau gas.

gram zat terlarut


100%
ml laru tan

Persen berat volume (% b/v) =


Persen berat sering digunakan, karena tidak tergantung pada suhu larutan yang
dijumpai dalam perdagangan biasanya dinyatakan dalam satuan persen berat.
4.

Bagian per sejuta (bpj/ppm)


Bagian per sejuta (bpj) atau part per million (ppm) adalah satu bagian zat
terlarut dalam satu juta bagian larutan.
Satuan ppm sering dipakai untuk menyatakan konsentrasi zat yang sangat
kecil dalam larutan gas, cair, atau padat.

1 ppm

5.

1 mg zat terlarut
1 L laru tan

Molalitas (m)
Molalitas adalah jumlah mol zat terlarut dalam 1000 gr (1 kg) zat pelarut.
Satuan molal pada suhu dan biasanya digunakan untuk menyatakan
banyaknya partikel zat terlarut dalam sejumlah tertentu pelarut.

mol zat terlarut


kg pelarut

atau
6.

W 1000

BM
P

Fraksi Mol
Fraksi mol adalah perbandingan jumlah mol zat terlarut terhadap jumlah mol
seluruh zat dalam larutan. Jika dalam larutan terdapat n1 mol zat A dan n2 mol
zat B, maka fraksi mol (X) masing-masing zat dirumuskan :
XA

n
n1 n

XB

n2
n1 n2

dan
8

Hubungan fraksi mol kedua zat dalam larutan, berlaku :

XA XB 1
7.

Normalitas (N)
Normalitas adalah jumlah gram ekuivalen (gr ek) zat terlarut dalam satu liter
larutan. Satuan konsentrasi normalitas sering digunakan untuk analisa
volumetri terutama dalam reaksi-reaksi asam-basa dan reduksi-oksidasi
(redoks).
Jika W gram senyawa asam-basa dilarutkan dalam V ml larutan maka:
N

W
1000

BE
V

BE

dengan

BM
a

Hubungan normalitas (N) dengan larutan yang mempunyai konsentrasi K%


dan kerapatan (BJ), berlaku :
N

8.

10 k BJ
BM

Molaritas (M)
Molaritas adalah jumlah mol dibagi volume 1 liter larutan.
Satuan konsentrasi ini juga banyak digunakan, pada umumnya satuan ini
digunakan dalam pembuatan reagent.
M

mol
L

atau

gr / Mr
M At
L

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat-alat
-

Neraca Analitik

Labu Takar 100 ml

Pipet Tetes

Pipet ukur 10 ml

Batang Pengaduk

Gelas kimia 100 ml

Corong kaca

Beaker glass 100 ml

Kaca arloji

Spatula

3.1.2 Bahan-bahan
-

NH4Cl

CH3COONa

HCl

Aquades

3.2 Prosedur Percobaan


A.

Pembuatan Larutan NH4Cl 0,1M


-

Ditimbang dengan tepat 0,27 gram NH 4Cl, lalu dipindahkan ke


dalam beaker glass dan ditambahkan aquadest

Diaduk hingga larut sempurna sampai homogen

10

Dipindahkan ke dalam labu ukur 100 ml dengan menggunakan


corong kaca

Dibilas beaker glass, batang pengaduk, dan corong kaca dimana labu
ukur tersebut dimasukkan hasil bilasan aquadest tersebut

Dimasukkan aquadest sampai tanda batas labu ukur dan ditutup dan
diguncang hingga homogen

Diamati larutan tersebut

B.

Pembuatan Larutan CH3COONa 0,1M


-

Ditimbang dengan tepat 0,41 gram CH3COONa, lalu dipindahkan ke


dalam beaker glass dan ditambahkan aquadest

Diaduk hingga larut sempurna sampai homogen

Dipindahkan ke dalam labu ukur 100 ml dengan menggunakan


corong kaca

Dibilas beaker glass, batang pengaduk, dan corong kaca dimana labu
ukur tersebut dimasukkan hasil bilasan aquadest tersebut

Dimasukkan aquadest sampai tanda batas labu ukur dan ditutup dan
diguncang hingga homogen

C.

Diamati larutan tersebut


Pembuatan Larutan HCl 0,01M

Dimasukkan aquadest secukupnya ke dalam labu ukur 100 ml

Dipipet 5 ml HCl 0,1M menggunakan pipet ukur, lalu dimasukkan ke


dalam labu ukur 100 ml

Ditambahkan aquadest hingga tanda tera pada labu ukur

Diamati larutan tersebut

11

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
No
1

Perlakuan
Ditimbang

Hasil Pengamatan
0,27

gr

NH4Cl, dimana 0,27 gr NH4Cl


didapat dari :
gr 1000

Mr V
gr 1000
0,1

53,5 50
gr 0,27

Masukkan

padatan

NH4Cl ke dalam beaker glass, lalu


tambah aquades
-

Aduk

hingga

larut

warna

tetap

bening
-

reaksi endoterm

tak ada endapan

tak berbau

warna

sempurna dan amati

2
-

Ditimbang
CH3COONa,

dimana

0,41
0,41

gr
gr

CH3COONa didapat dari :


gr 1000

Mr V
gr 1000
0,1

82 50
gr 0,41

Masukkan

padatan

tetap

bening

12

No

Perlakuan
CH3COONa ke dalam beaker

Hasil Pengamatan
reaksi endoterm

glass, lalu tambah aquades

tak ada endapan

tak berbau

larutan homogen

Tuangkan larutan HCl 50

reaksi eksoterm

ml ke dalam labu takar dan

tak berbau

tambahkan aquades sampai tanda

larutan berwarna

Aduk

hingga

larut

sempurna dan amati


-

Hitung
0,1M

yang

volume

HCl

diperlukan

untuk

membentuk HCl 0,01M dalam 50


ml
-

Masukkan larutan HCl ke


dalam gelas ukur sebanyak 50 ml

garis lalu dihomogenkan

bening

4.2 Perhitungan
1) Menghitung massa NH4Cl 0,1M, V=50 ml
Dik:

M = 0,1M
V = 50 ml = 0,05 l
Mr NH4Cl = 53,5

Dit:

gr?

Jawab :
mol
L
gr / Mr
0,1
L
gr / 53,5
0,1
0,05
M

13

gr
1

53,5 0,05
gr
0,1
2,675
gr 0,1 . 2,675
0,27 gram
0,1

2) Menghitung massa CH3COONa 0,1M, V=50 ml


Dik:

M = 0,1M
V = 50 ml = 0,05 l
Mr CH3COONa = 82

Dit:

gr?

Jawab :
mol
L
gr / Mr
0,1
L
gr / 82
0,1
0,05
M

gr
4,1
gr 0,41 gram

0,1

3) Menghitung volume HCl 0,1M yang diperlukan untuk membentuk


HCl 0,01M dalam 50 ml
Dik:

M1 = 0,1M
M2 = 0,01M
V2 = 50 ml

Dit:

V1 = ?

Jawab :

14

V1 . M 1 V2 . M 2
n . 0,1 50 . 0,01
n 5 ml

4.4 Pembahasan
Larutan adalah campuran homogen antar dua zat atau lebih zat yang
berbeda jenis dan tersusun dari zat terlarut (solut) dan pelarutnya (solvent). Kedua
komponen dalam larutan dapat sebagai pelarut atau zat terlarut tergantung
komposisinya.
Di dalam larutan terdapat reaksi, yaitu reaksi eksoterm dan reaksi
endoterm. Yang dimaksud reaksi endoterm ialah reaksi yang menyerap energi atau
kalor dari lingkungan ke dalam sistem atau ke dalam larutan tersebut, sedangkan
reaksi eksoterm ialah reaksi yang mengeluarkan energi atau kalor dari dalam
sistem atau larutan ke lingkungan.
Suatu larutan dapat dikelompokkan berdasarkan fase atau komposisinya.
Larutan homogen ialah larutan yang komposisinya seragam sehingga tidak dapat
diamati komponen-komponen penyusunnya sedangkan larutan heterogen ialah
larutan yang permukaan-permukaan tertentunya dapat diamati antara fase-fase
yang terpisah.
Dalam larutan, jumlah zat terlarut terhadap pelarutnya mempunyai tingkat
kepekatan. Tingkat kepekatan larutan ini disebut konsentrasi larutan. Macammacam konsentrasi larutan ialah persen berat, molalitas, fraksi mol, persen mol,
molaritas, normalitas, persen berat, dan persen berat/volume.
Persen berat ialah jumlah gram zat terlarut dalam 100 gram larutan.
Molalitas ialah adalah jumlah mol zat terlarut dalam 1000 gr (1 kg) zat pelarut.
Fraksi mol ialah perbandingan jumlah mol zat terlarut terhadap jumlah mol
seluruh zat dalam larutan. Persen mol ialah jumlah mol dalam setiap 100 gram
pelarut. Molaritas ialah jumlah mol dibagi volume satu liter larutan. Normalitas
ialah jumlah gram ekuivalen (gr ek) zat terlarut dalam satu liter larutan. Persen
berat ialah jumlah gram zat terlarut dalam 100 gram larutan. Persen berat/volume
ialah banyaknya gram zat terlarut dalam 100 ml larutan.

15

Di samping itu larutan yang sudah diketahui konsentrasinya harus


distandarisasi agar konsentrasi larutan dapat diketahui secara pasti agar
penggunaannya dalam analisis, hasilnya lebih akurat dan teliti.
Biasanya, penggunaan larutan standar digunakan pada analisa kuantitatif
yaitu analisa volumetri, analisa instrumental yang modern dan lainnya. Pada
analisa tersebut harus menggunakan larutan standar. Larutan standar terdiri dari
larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Yang dimaksud larutan
standar primer ialah larutan yang konsentrasinya tetap dan tidak berubah-ubah
sehingga tidak perlu distandarisasi lagi sedangkan larutan standar sekunder ialah
larutan yang konsentrasinya tidak tetap dan dapat berubah-ubah sehingga larutan
ini jika akan digunakan harus distandarisasi terlebih dahulu.
Pada pembuatan larutan, khususnya dalam pelarutan mulai dari
pengadukan pada beaker glass, harus diaduk hingga homogen ini bertujuan untuk
meratakan zat terlarut agar semuanya dapat terlarut dengan sempurna pada
aquadest. Pembilasan beaker glass, batang pengaduk harus dilakukan secara hatihati agar hasil bilasan tidak tumpah ke luar karena hal ini dapat mengurangi
ketepatan konsentrasi larutan tersebut. Dalam pemindahan larutan ini dari beaker
glass ke dalam labu ukur harus menggunakan corong kaca. Kemudian
penambahan aquadest hingga tanda garis harus dilakukan secara teliti dan hatihati agar tidak melewati tanda garis. Pengocokan dan penghomogenan larutan
pada labu ukur harus dilakukan dengan benar, dengan menutup menggunakan
tutup labu ukur yang sesuai.
Fungsi larutan NH4Cl, CH3COONa, dan HCl yang dibuat mempunyai
banyak fungsi dalam analisa tertentu pada suatu percobaan. NH 4Cl yang berasal
dari hasil reaksi basa lemah dan asam kuat merupakan garam. Biasanya digunakan
sebagai pereaksi saja. CH3COONa yang berasal dari hasil reaksi asam lemah dan
basa kuat juga merupakan garam. Biasanya juga digunakan sebagai pereaksi saja.
Sedangkan HCl berfungsi sebagai asam kuat, dan paling banyak
dibutuhkan dalam suatu analisa baik volumetri, gravimetri, kation dan anion,
analisis instrumental modern dan masih banyak fungsi lainnya yang dipunyai oleh

16

HCl. Disamping itu HCl juga digunakan sebagai zat pelarut dalam suatu analisa
tertentu.
Fungsi dari masing-masing alat ialah neraca analitik, labu takar 100 ml,
pipet tetes, pipet ukur 10 ml, batang pengaduk, gelas kimia 100 ml, corong kaca,
beaker glass dan cawan timbang. Fungsi dari neraca analitik adalah tempat untuk
menimbang suatu sample yang akan ditimbang dalam hal ini untuk mengetahui
dan mendapatkan bobot sampel yang akan ditimbang. Labu takar berfungsi untuk
tempat menerakan atau menempatkan volume hingga tanda garis, labu takar
merupakan alat terakhir yang digunakan dalam pembuatan larutan, biasanya
dalam labu takar ini juga sebagai tempat penghomogenan larutan. Penggunaan
labu takar harus disesuaikan dengan volume larutan yang akan dipakai atau
digunakan. Fungsi dari pipet tetes ialah alat untuk menambahkan volume aquadest
hingga tanda garis, dalam hal ini ialah pembuatan larutan pada labu takar. Fungsi
dari pipet ukur ialah alat untuk mengambil volume tertentu larutan senyawa yang
akan dibuat, volume yang diambil harus disesuaikan dengan kebutuhan. Fungsi
dari batang pengaduk ialah alat untuk mengaduk dan menghomogenkan larutan.
Fungsi dari gelas kimia dan beaker glass ialah sebagai wadah atau tempat
penghomogenan larutan menggunakan batang pengaduk tadi. Dapat juga
digunakan sebagai wadah aquadest. Fungsi corong ialah alat untuk memindahkan
larutan dari beaker glass ke dalam labu takar agar mempermudah pemindahan
tersebut. Dalam hal ini bertujuan untuk menghindari adanya pengurangan volume
akibat tumpahnya larutan sehingga digunakan corong untuk mempermudah
pemindahan larutan. Fungsi kaca arloji ialah sebagai wadah atau tempat sampel
yang digunakan pada saat penimbangan. Pipet tetes berfungsi untuk mengambil
suatu volume larutan tertentu dalam bentuk tetesan.

17

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dalam percobaan ini dapat disimpulkan bahwa:
-

Dalam larutan mempunyai sifat homogen dan heterogen. Larutan


homogen ialah larutan yang komponennya tidak dapat terlihat lagi, dimana
fase dispersi dan fase terdispersinya tidak dapat dibedakan. Larutan
heterogen ialah larutan yang komponennya masih terlihat antara fase
dispersi dan fase terdispersinya. Dalam praktikum ini larutan NH 4Cl,
CH3COONa, dan HCl merupakan larutan homogen.

Dalam pembuatan larutan terjadi reaksi endoterm dan reaksi eksoterm.


Reaksi endoterm ialah reaksi yang menyerap energi atau kalor dari
lingkungan ke dalam sistem, reaksi eksoterm ialah reaksi yang melepas
kalor atau energi dari dalam sistem atau larutan ke lingkungan. Dalam
praktikum ini yang termasuk reaksi endoterm ialah pembuatan larutan
NH4Cl dan CH3COONa sedangkan yang termasuk reaksi eksoterm ialah
pembuatan larutan HCl

Dalam larutan terdapat macam-macam konsentrasi misalnya molaritas dan


normalitas. Dalam hal ini juga terdapat macam-macam konsentrasi larutan
yang dipakai dalam suatu analisa tertentu atau pada metode tertentu,

18

misalnya persen berat, persen volume, persen berat per volume, bagian per
sejuta (ppm), molalitas (m), dan fraksi mol (x).
5.2 Saran
Dalam percobaan ini saya mempunyai saran bahwa :
-

Dalam pembuatan larutan yaitu pada saat pemipetan larutan hendaknya


menggunakan pipet gondok atau pipet volume. Agar volume yang dipipet
tepat dan akurat, pipet gondok dan pipet volume disesuaikan dengan
kebutuhan volume larutan yang akan dipipet.

Lebih berhati-hati lagi dalam pembuatan larutan, terutama dalam


penambahan aquadest hingga tanda garis.

19

DAFTAR PUSTAKA
Sadiono, Sri. 2004. Kimia Fisika. Intan Pariwara : Yogyakarta
Stryer, Lubert. 1995. Biokimia. Buku Kedokteran EGC : Jakarta
Yasid, Estien. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Andi : Yogyakarta

20